Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 27 Juli 2007/Wafa 1386 HS

Di Hadiqatul Mahdi, Hampshire, UK

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

 وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

 

Hari ini, dengan karunia Allah Ta’ala Jalsah Salanah tengah dimulai. Semoga Allah Ta’ala memberkati Jalsah ini dari segala segi. Karena kondisi cuaca, panitia penyelenggara merasa khawatir karena cuaca buruk terjadi di seluruh negeri, dan sebagian orang juga mungkin merasa khawatir, jangan sampai mereka menanggung ketidak-nyamanan atau anak-anak pun jangan mendapat kesulitan atau mereka yang belum datang menjadi merasa enggan, karena khawatir keadaan rumah-rumahnya, sehingga mereka saat ini belum sampai di tempat Jalsah. Maka hendaknya berdo’a, semoga Allahswt. menurunkan karunia-Nya dan menjauhkan kekhawatiran-kekhawatiran kedua belah pihak, baik kekhawatiran-kekhawatiran para panitia penyelenggara dan juga menjauhkan kecemasan-kecemasan para peserta Jalsah.

Hendaknya senantiasa diingat bahwa Hadhrat Masih Mau’uda.s. telah memulai Jalsah Salanah ini atas kehendak Allahswt., supaya orang-orang yang beriman kepada beliaua.s. setelah tinggal untuk beberapa hari didalam suatu suasana lingkungan yang khas dan setelah mendengarkan ceramah-ceramah yang membawa kepada kemajuan ilmu pengetahuan dan keruhanian, mereka menjadi orang-orang yang mempercantik agama, wawasan ilmu pengetahuan dan kondisi keruhanian mereka. Jadi, hari ini merupakan hari yang sangat beberkat dan apabila kita secara khas datang dengan hati yang tulus, untuk mengikuti program-program rohani yang telah dijalankan oleh Al Masih yang diutus Allah ini, maka pastilah hati kita akan cenderung tunduk bersujud di hadapan Allah Swt. dan di dalam doa-doa itu, doa inipun akan ikut serta didalamnya bahwa, “Wahai Tuhan-ku, Yang Maha Kuasa! Wahai Tuhan Pemilik langit dan bumi! Kami hadir didalam majlis ini demi menyambut seruan Al Masih utusan Engkau! Dimana dibuat dan ditekankan berbagai program dan rencana demi untuk ketinggian nama Engkau dan nama Rasul Engkau Muhammadsaw. Oleh sebab itu cuaca yang juga tunduk di bawah kuasa Engkau, cegahlah itu supaya jangan menimbulkan penghalang dalam bentuk apapun terhadap program-program kami.” Maka pastilah Allahswt sejalan dengan menyelamatkan kita dari dampak cuaca buruk ini, Dia akan memberi taufiq kepada kita untuk melaksanakan program-program kita dengan cara yang terbaik. Dan insya Allah, cuaca tidak akan menjadi faktor penghalang apapun dalam program-program kita. Semoga Allah menjadikannya demikian.

Saya teringat tatkala Jalsah-jalsah diselenggarakan di Rabwah. Jalsah tersebut diselenggarakan pada musim dingin di bulan Desember. Kadang-kadang hujan pun turun, sementara tempat Jalsah hanya beratapkan langit atau di tempat terbuka. Di bawah pun tidak ada apa-apa, hanya hamparan tanah semata atau jerami yang digelar atau dihamparkan dan langit yang terbuka. (Di sini ada rumput, lumpur tidak begitu banyak dan di atas anda tenda tersedia) Kendati demikian orang-orang duduk dengan sangat tenang untuk mendengarkan program-program Jalsah, cuaca tidak pernah menjadi halangan dalam panasnya keimanan mereka, ganasnya musim tidak pernah menjadi penghalang.

Di Qadian, dalam cuaca yang sangat dingin, orang-orang datang juga dari daerah Hindustan. Di sana tidak ada musim dingin. Iklim daerahnya senantiasa sedang dan mereka yang tidak terbiasa dengan cuaca dingin, karena itu tidak ada pakaian hangat pada mereka. Akan tetapi dalam kabut yang pekat sekalipun, kami telah melihat mereka duduk dengan tenang mendengarkan (ceramah-ceramah) jalsah dan mereka datang dengan senang hati untuk menghadiri Jalsah.

Saya teringat ketika Hadhrat Khalifatul Masih IIIr.h. mengadakan lawatan ke Ghana, maka ketika beliau sedang menyampaikan ceramah di hadapan Jama’at, hujan deras mulai turun. Tempat jalsah di lapangan terbuka, tidak dibuat tenda, tidak ada naungan diatasnya. Sedemikian deras hujannya sehingga kendati adanya payung kecil sekalipun, yang disiapkan atau diletakkan di atas Hadhrat Khalifatul Masih IIIrh, beliau pun basah kuyup. Payung pun tidak memberikan manfaat apa-apa dan orang-orang pun, tanpa menghiraukan hujan, terus berdiri dengan diam dan sekurang-kurangnya selama 20 atau 25 menit atau setengah jam mereka terus basah kuyup dalam hujan yang sangat deras. Tetapi satupun tidak ada yang kesana kemari, bahkan tempat mereka berdiri, di sana sedemikian rupa air menggenang hingga kaki-kaki mereka pun tenggelam hingga di atas mata kaki. Sepatu, kaos-kaos kaki, pakaian semuanya basah.

Kemudian dua tahun sebelumnya, ketika saya mengadakan kunjungan ke Tanzania, maka pada waktu saya sedang menyampaikan ceramah di depan Lajnah Immaillah, hujan turun dengan sangat lebat. Di sana tenda-tenda pun tidak begitu kuat dan di bagian bawahnya, dukungan tiang penyangga pun tidak begitu banyak. Hujan turun begitu deras, sehingga atap tenda yang tidak sepenuhnya berbentuk segi tiga, akibatnya air hujanpun tidak lancar mengalir ke bawah, dan air mulai terkumpul menggenang diatasnya. Akhirnya tiba saat dimana tenda pecah akibat beratnya volume air, dan air jatuh ke bawah dengan suara yang sangat keras. Tetapi perempuan-perempuan dan anak-anak tetap duduk dengan tenang. Padahal dikatakan bahwa tidak ada kesabaran di dalam diri perempuan-perempuan, mereka akan mondar mandir kesana-kemari. Orang-orang Afrika yang tinggal di tempat-tempat yang jauh, di antara mereka terdapat juga para mubayi’in baru/orang-orang yang baru baiat ‑yang datang baru pertama kali mendengarkan Jalsah‑ mereka tetap duduk dengan tenang. Mereka tidak menunjukkan tanda sikap resah di dalam diri mereka. Tanpa menzahirkan rasa gelisah, mereka mendengarkan semua ceramah dan sama sekali tidak terasakan oleh saya bahwa sedemikian rupa derasnya air hujan yang mengguyur dari atas mereka. Apabila air mengguyur, maka mereka bergeser ke satu arah. Sebagian dari mereka ada yang basah kuyup. Dan sesudah pecahnya tenda, maka –sebagaimana yang telah saya katakan‑ hujan terus menerus turun dengan derasnya. Dari berbagai tempat atau dimana–mana, tenda-tenda pecah dan air terus jatuh di atas mereka dan bukan sedikit, tetapi air jatuh dengan suara yang sangat keras ke bawah, tetapi perempuan-perempuan dan anak-anak tetap duduk dengan tenang/tidak berisik.

Jadi, cuaca atau musim tidak menimbulkan pengaruh pada gejolak iman seorang Ahmadi, baik dia sebagai penduduk Afrika, penduduk Asia ataupun penduduk Eropa. Di sini seseorang telah mengatakan kepada saya bahwa orang-orang yang datang dari luar tentu akan datang ke Jalsah, namun orang-orang asli di sini, disebabkan cuaca yang sangat buruk, mungkin saja mereka merasa ketakutan sehingga tidak datang. Tetapi dengan karunia Allahswt, kini pun di tenda sudah banyak orang-orang yang duduk dan akibat ramainya lalu lintas, mereka terjebak dalam kemacetan juga. Jadi, dengan karunia Allah, banyak orang-orang yang hadir; Dan buruknya cuaca tidak bisa menjadi penghalang atau berpengaruh terhadap iman kita di masa yang lalu, dan insya Allah, tidak juga di masa yang akan datang. Oleh karena itu, jika ini merupakan kehendak Allahswt. jika hujan akan terus menerus turun dan kita berada dalam cuaca atau musim seperti ini ketika mendengarkan (ceramah-ceramah) Jalsah, maka penyelenggaraan Jalsah tidak akan kacau-balau dan kalian semua akan bekerja dengan sepenuhnya. Dan sebagaimana telah saya katakan, jika ada beberapa orang yang tengah datang dan mungkin banyak di antara orang-orang yang sedang dalam perjalanan, dan mungkin banyak juga yang masih ada dalam perjalanan, dan ada lagi yang mempunyai program atau niat untuk datang; dan Insya Allah, tidak akan banyak pengaruhnya pada jumlah yang hadir. Tetapi do’a hendaknya dipanjatkan, semoga Allah Swt melindungi kita semua dari akibat buruk cuaca ini, dan hujan serta cuaca buruk ini jangan sampai membawa kemarahan Allah Taala.

Rasulullahsaw, jika Allah menghendaki, dalam musim-musim atau cuaca-cuaca seperti ini, apabila terjadi angin, badai, topan dan hujan lebat, maka beliau senantiasa memanjatkan do’a berikut ini:

اَللّهُمّ اِنىِّ اَسْئَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيْهَا وَخَيْرَ مَا اُرْسِلَتْ بِهِ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيْهَا وَشَرِّ مَا اُرْسِلَتْ بِهِ

Allâhumma innî asaluka khoirahâ wa khoiro mâ fîha wa khoiro mâ ursilat bihi wa a’ûdzubika min syarrihâ wa syarri ma fîmâ ursilat bihi.

Artinya: “Ya Allah! Aku memohon kepada Engkau kebaikan lahir dan batin dari hujan, angin, tofan dan badai ini dan kebaikan yang dikirim bersamanya. Dan saya berlindung dari keburukan lahir dan batinnya dan dari keburukan yang dibawa bersamanya.” Jadi sambil memohon perlindungan-Nya, kita hendaknya senantiasa tunduk di hadapan-Nya. Semoga dalam kondisi apapun, datang kebaikan dari sisi Allah kepada kita dan semoga Dia melindungi kita dari setiap keburukan.

Selama hari-hari ini, secara khusus, lebih giatlah dalam memanjatkan do’a, sebagaimana telah saya katakan bahwa Inggris Raya sedang dilanda hujan dan taufan yang sangat keras dan juga negara-negara di dunia lainnya. Oleh karena itu, Allahswt. telah memberi kesempatan kepada kita berkumpul di satu tempat untuk memanjatkan do’a, hendaknya kita mengambil faedah dari ini. Di hadapan Allah tidak ada sesuatu yang sulit, kendati adanya ramalan cuaca dari badan prakiraan cuaca menunjukkan bahwa hujan akan terus menerus mengguyur dua tiga hari mendatang, semoga Allahswt. melindungi kita dari hujan-hujan itu dan semoga Jalsah kita dapat berakhir dengan baik dan kita akan dapat duduk dengan mengambil berkat-berkat Jalsah. Semoga Allahswt selalu menjadikan kita menjadi pewaris-pewaris dari hadiah-hadiah dan karunia-Nya.

Pada saat ini, saya ingin sedikit menarik perhatian para tamu berkaitan dengan Jalsah. Ada banyak orang yang datang dari luar, baru pertama kali menghadiri Jalsah ini, dan kendati mayoritas merupakan orang-orang yang datang sejak beberapa tahun yang lalu, tetapi kepada yang mayoritas itu perlu juga diingatkan mengenai beberapa perkara. Begitu juga kepada para petugas, saya ingin mengingatkan walaupun sebelumnya saya juga telah mengingatkan terkait dengan banyak hal. Rasulullahsaw  dalam sebuah hadis telah mengingatkan kepada para tamu maupun kepada para penerima tamu atau para tuan rumah seperti ini, bahwa para tamu dan para penerima tamu hendaknya keduanya saling memperhatikan satu dengan yang lain.

Tertera dalam sebuah hadits bahwa beliau telah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka ia hendaknya menghormati tamunya.” Mengkhidmati tamu secara khusus adalah selama sehari-semalam. Sedangkan mengkhidmati tamu secara umum adalah sampai tiga hari. Dan melayani lebih dari tiga hari merupakan sedekah. Bagi seorang tamu, tidak benar tinggal pada rumah sang penerima tamu sekian lama, sehingga menyusahkan penerima tamu itu atau tuan rumahnya.[1]

Bagi seorang mukmin, kesediaan melayani tamu juga merupakan sebuah syarat untuk beriman kepada Allah dan hari akhirat. Beliausaw. menganjurkan kepada kita supaya menghormati tamu. Apakah penghormatan itu? Penghormatan itu adalah melayaninya dengan senang hati, menyambutnya dengan tangan terbuka; bawalah ke rumah, janganlah mengeluarkan kata-kata yang akan menyinggung perasaan di hadapannya. Berilah penghormatan kepadanya dan bukan hanya ucapan basa-basi belaka. Bahkan dengan setiap amal, perlakukanlah ia dengan setulus-tulusnya dan janganlah sampai terasa bahwa kedatangannya itu menyusahkan tuan rumah, kendati dengan sebuah isyarah sekalipun atau akibat suatu sikap. Sesuai dengan sarana-sarana/fasilitas yang ada, siapkanlah tempat tinggal dan makannya dengan cara yang terbaik, dan semua ini dilakukan seorang mu-min bagi tamunya, karena tujuannya ingin untuk meraih keridhoan Allahswt; dan setiap orang mempunyai sarana masing-masing dan mempunyai sejumlah keterpaksaan-keterpaksaan masing-masing, karena itu beliausaw bersabda bahwa jika satu hari dengan menahan/menanggung kesulitan pun, namun tamu harus dihormati, maka lakukanlah itu dan bersusah-susahlah secara khusus, inilah memuliakan tamu. Kemudian setelah menjelaskan mengenai kesediaan menerima tamu secara umum itu, beliau juga menasehatkan kepada para tamu bahwa kalianpun hendaknya memahami hakekat itu di hadapan kalian, bahwa janganlah menjadi beban yang berat bagi penerima tamu; dan untuk memberitahukan kepada mereka bahwa memberatkan tuan rumah lebih dari kemampuannya, itu merupakan perkara yang tidak disenangi oleh Allah dan Rasul-Nya, dan beliausaw bersabda bahwa pengkhidmatan terhadap tamu lebih dari tiga hari akan merupakan sedeqah. Sedangkan sedeqah hanya diberikan kepada orang yang sangat miskin dan kepada orang yang sangat memerlukan bantuan. Jadi, ini merupakan perintah yang sedemikian lengkap, yang menarik perhatian penerima tamu dan tamu kedua-duanya bahwa apa saja kewajiban-kewajiban dan hak-hak mereka, dan juga melindungi mereka dari keberpura-puraan yang tanpa sebab atau alasan. Demikian juga, sesuai dengan yang telah saya katakan untuk menarik perhatian penerima tamu dan juga tamu, supaya hubungan-hubungan cinta dan kasih sayang diantara mereka tetap terjaga dengan baik. Jadi, jika tamu selama bertamu, sambil memperhatian keadaan penerima tamu, dia tidak menaruh beban padanya (tidak memberatkan tuan rumah-Red) secara tidak benar, maka sampai waktu itu cinta dan kasih sayang akan tetap terpelihara. Jadi, ini beliau sabdakan kepada tamu bahwa jika kamu memberi beban yang tidak benar atau berat kepada tuan rumah dan pengkhidmatan terhadap tamu menjadi panjang/lama, maka ini bukan pengkhidmatan terhadap tamu lagi tetapi ini merupakan sedeqah dan sedekah pun merupakan sedekah dilakukan dengan terpaksa, yang kamu ambil dengan paksa dari tuan rumah.

Jadi, untuk menciptakan masyarakat yang cantik dan baik, perlu bagi kedua belah pihak untuk menjalankan aturan dengan mengenal hak masing-masing. Disini, di Jalsah, orang-orang datang dari negara lain. Akibat dari jauhnya jarak dan karena booking/pemesanan tempat-tempat duduk di pesawat, mereka terpaksa harus menunggu lama, ini merupakan sebuah keterpaksaan. Oleh karena itu, nizam Jama’at telah mengatur pelayanan untuk para tamu seperti itu selama lima belas hari. Maka semua tamu yang semata-mata murni datang untuk mengambil faedah dari Jalsah dan supaya menjadi pewaris dari do’a-do’a Hadhrat Masih Mau’udas. ‑yang beliau telah panjatkan secara khusus untuk para peserta Jalsah‑ perhatikanlah hal itu bahwa daripada nizam Jama’at atau rekan-rekan mereka mengungkapkan sesuatu yang karenanya pelayanan terhadap tamu menjadi ternodai, mereka sendiri hendaknya mensetting (menetapkan) program mereka sedemikian rupa, bahwa dalam jangka waktu lima belas hari atau berapa pun waktu yang mereka telah beritahukan kepada penerima tamu ketika mereka baru datang, sesuai dengan itu mereka harus kembali.

Para peserta yang datang dari Pakistan pun kebanyakan mereka berjumpa dengan saya, yang berkeinginan cepat pergi kembali dan datang dengan niat untuk Jalsah, tetapi sebagian dari mereka tinggal disini lalu terus saja bekerja dan memberikan beban pada Jama’at. Demikian juga ada beberapa orang yang datang dengan niat untuk mendapatkan suaka. Pada tahun yang lalu, ada juga beberapa orang yang datang untuk tujuan seperti itu, maka senantiasa saya jelaskan, kinipun saya jelaskan bahwa orang-orang yang datang untuk Jalsah ‑baik yang datang dari Hindustan, Bangladesh, dan Pakistan atau dari negara manapun juga, mereka datang ke sini. Kedutaan Inggris telah memberikan visa kepada mereka karena mereka akan menghadiri Jalsah. Jadi kepercayaan yang Kedutaan Inggris berikan kepada para anggota Jama’at, jangan seyogianya sampai kalian nodai, yang karenanya akan memberi kesan buruk bagi nama baik Jama’at. Dan untuk tahun berikutnya, bagi orang-orang yang ingin datang untuk Jalsah, kepada merekapun akan dikatakan bahwa –karena beberapa orang dari antara kalian pergi atas nama Jalsah dan tidak kembali– mereka akan tidak mau lagi memberikan izin, atau mereka akan menolak untuk memberikan visa. Sehubungan dengan ini, satu hal lagi harus diingat, bahwa mengenai beberapa orang yang pergi ke negara-negara Eropa lainnya untuk mendapatkan suaka, untuk itupun tidak ada izin. Jadi, ingatlah selalu bahwa niat datang ke Jalsah jagalah supaya tetap baik dan setelah meraih berkat-berkat dari Jalsah, seberapa bisa cepat kembali, kembalilah.

Kemudian satu perkara yang ingin saya ingatkan kepada para tamu atau pihak tuan rumah, bahwa dari antaranya ada juga tamu negara-negara yang datang dari luar, saya ingin menarik perhatian mereka. Dan kepada penduduk setempat yang ikut dalam Jalsah inipun saya ingatkan, bahwa dalam jalsah ini, yakni pondasi Jalsah yang Hadhrat Masih Mau’udas letakkan adalah murni semata-mata untuk memperoleh maksud-maksud agama. Di dalamnya, di setiap tempat dan pada setiap kesempatan hendaknya muncul penjabaran atau peragaan akhlak Islam.

Di dalam sebuah hadis tertera sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairahr.a. bahwa beliau hadir di hadapan Rasulullahsaw dan bertanya: “Ya Rasulullahsaw! Apabila saya melihat Hudhursaw., hati saya sangat senang dan timbul rasa sejuk/ketenangan di mata saya. Jadi Hudhursaw.! Beritahulah kepada saya mengenai setiap perkara yang harus saya lakukan!” Maka Hadhrat Rasulullahsaw bersabda: “Allah telah menciptakan segala sesuatu dari air.” Maka atas hal itu saya berkata lagi, “Ya Rasulullah! Beritahulah saya amalan sedemikian rupa yang jika itu saya lakukan, maka saya bisa masuk surga!” Rasulullahsaw menjawab: “Biasakanlah mengucapkan salam, berikanlah makan kepada orang lain, jalinlah hubungan silaturahmi dan tunaikanlah sembahyang diwaktu orang-orang sedang tidur, maka engkau akan masuk kedalam surga dengan selamat sejahtera.”[2]

Terdapat lagi riwayat lain yang juga seperti itu, dimana Rasulullahsaw bersabda, “Ucapkanlah salam, baik kepada yang kalian kenal maupun yang kalian tidak kenal!”

Jadi, inilah akhlaq Islam bahwa sebar luaskanlah tradisi mengucapkan salam, karena manakala kalian sedang menyampaikan salam, maka berarti kalian sedang menyebarkan keselamatan dan kedamaian kepada satu dengan yang lain dan amanat yang keluar dari lubuk hati yang dalam, maka dengan itu rasa iri dan rasa dengki akan menjadi jauh/bersih. Di kalangan sejumlah keluarga dan kerabat timbul kebencian karena hal-hal yang kecil-kecil (sepele) dan lama kelamaan sedemikian rupa memuncaknya, sehingga pada akhirnya perjumpaan antara satu dengan yang lainnyapun menjadi berakhir/terputus. Jangankan mengucapkan salam satu-sama lain, bahkan saling memandang muka satu dengan yang lainpun tidak mau. Allah dan Rasul-Nyasaw bersabda, sampaikanlah salam kepada satu sama lain. Jadi pada hari-hari ini, ambillah manfaat dari lingkungan ini. Bagi yang di dalam diri mereka tedapat rasa benci di antara mereka, rubuhkanlah (hilangkanlah) pembatas yang mereka buat sendiri di antara mereka, akhirilah kebencian-kebencian itu dan majulah kedepan serta mengucapkan salam di antara satu dengan yang lain, supaya yang kalian niatkan untuk datang meraih berkat dari lingkungan ruhani itu, kalian akan dapat mengambil faedah dari berkat-berkatnya yang hakiki.

Hadhrat Masih Mau’uda.s. telah menjelaskan bahwa salah satu tujuan dari maksud-maksud Jalsah ini adalah supaya para anggota yang baru masuk dan anggota yang sudah lama akan dapat melihat atau berjumpa antara satu dengan yang lain, dan dengan demikian jalinan kecintaan dan perkenalan akan menjadi berkembang atau memperloleh kemajuan. Jika di dalam ikatan-ikatan (kekeluargaan) yang lama timbul kerenggangan, maka ikatan-ikatan atau hubungan yang barupun tidak akan menjadi kuat. Pengaruhnya pun akan berdampak pada ikatan-ikatan atau jalinan-jalinan yang baru. Jadi sambil mengambil faedah dari peluang hari-hari ini dimana dengan memperoleh kesempatan untuk saling mengenal lalu kecintaan bertambah, di sana dengan berkah lingkungan ruhani ini, jalinlah kembali ikatan-ikatan yang terputus dan sebarkanlah salam dan jadilah kalian orang-orang yang menjadi orang yang berhasil meraih keridhoan Allahswt. Menyampaikan salam kepada satu sama lain hendaknya kebiasaan ini nampak secara umum dan meluas. Sebagaimana tertera di dalam hadits bahwa sampaikanlah salam kepada orang yang kalian kenal maupun kepada orang yang tidak kalian kenal. Dan inilah yang dapat menjadi faktor untuk menciptakan kasih-sayang dan menambah sarana saling mengenal satu sama lain, dan rasa kecintaan kalian akan bertambah di antara satu dengan yang lain. Dalam menyampaikan ucapan salam itu, orang-orang yang menjalankan tugas pun termasuk di dalamnya, dan untuk para peserta jalsah lainnya, perintah ini pun tertuju kepada mereka bahwa setiap orang hendaknya mendahului mengucapkan salam, supaya nuansa keselamatan ini menjadi sarana untuk menarik karunia Allahswt.. Berilah makan, cukupilah keperluan orang-orang yang memerlukan. Inipun merupakan perantara atau sarana untuk meningkatkan kasih-sayang antara satu dengan yang lain. Kemudian Rasulullahsaw bersabda, jalinlah hubungan silaturahmi. Hormatilah jalinan-jalinan atau ikatan-ikatan kekelurgaan di antara kalian dan kemudian beliausaw. bersabda bahwa berilah perhatian kepada penunaian shalat fardhu dan biasakanlah menunaikan shalat-shalat nafal/shalat tahajjud. Pada hari-hari ini, orang-orang yang tinggal di bawah pengaturan nizam Jama’at, mereka kebanyakan menaruh perhatian terhadap shalat-shalat nafal/tahajjud. Dalam jumlah besar, para peserta Jalsah yang tinggal di rumah-rumah, yang tidak tinggal di tempat-tempat yang sudah disediakan, dalam tiga hari ini perhatikanlah shalat-shalat fardhu dan juga shalat-shalat nafal/tahajjud; Daripada sampai larut malam duduk-duduk bercengkerama dengan kawan-kawan dan kerabat dekat dan tidak henti-hentinya membuat majlis-majlis/perkumpulan-perkumpulan pribadi dan tidak tidur pada waktunya, yang karenanya susah bangun di waktu Subuh. Maka berusahalah tidur pada waktunya dan laksanakanlah shalat-shalat nafal juga supaya kalian dapat mengambil faedah dalam arti yang sebenarnya dari lingkungan rohani Jalsah ini; Berkenaan dengan itu, Rasul Allah telah memberikan jaminan akan hal ini bahwa perkara-perkara ini yang akan membawa kalian masuk ke dalam surga.

Dalam hubungan dengan membiasakan penyampaian ucapan salam, saya ingin menceritakan cara yang dilakukan oleh para sahabat. Terdapat dalam sebuah riwayat bahwa pada suatu hari, seorang sahabat pergi berjumpa ke rumah kawan sahabat lainnya, dia mengucapkan salam lalu berkata, marilah kita pergi ke pasar. Maka sahabat itu pun pergi bersama untuk menemaninya. Setelah beberapa lama berputar-putar di pasar, lalu beliau kembali dan dia tidak membeli suatu. Setelah beberapa hari kemudian, sahabat itu pergi lagi kepada kawan sahabatnya itu dan mengajaknya pergi kepasar lagi, yaitu mari kita pergi ke pasar. Maka sahabat pertama bertanya bahwa beberapa hari yang lalu anda pun pergi dan setelah berputar-putar lalu kembali lagi. Dan di pasar waktu itu tidak membeli apa-apa, maka hari ini jika ingin mengerjakan seperti itu, maka apa perlunya anda pergi ke pasar? Maka dia memberikan jawaban, bahwa saya pergi ke pasar karena ingin berjumpa dengan orang-orang lalu mereka mengucapkan salam kepada kita dan kitapun menjawabnya dengan ucapan salam. Dan dengan cara demikian, kita mendapat kesempatan untuk menyampaikan do’a-do’a keselamatan kepada satu sama lain, sehingga kecintaan dan kasih-sayang semakin bertambah di antara kita.

Jadi singkatnya, para sahabat seperti mereka membiasakan diri mengucapkan salam dan mereka selalu memikirkan berbagai macam cara untuk membiasakan ucapan salam itu. Jadi mendo’akan keselamatan satu dengan yang lain dan memperhatikan satu dengan yang lainpun dapat menjadi faktor yang menarik perhatian orang-orang untuk menunaikan ibadah kepada Allah Swt, yang untuk itu hendaknya orang-orang mukmin menaruh perhatian. Dan sebagaimana telah saya katakan bahwa Allah Swt telah menyediakan lingkungan ini untuk kalian dan hendaknya mengambil faedah dari itu.

Saya juga ingin menarik perhatian kalian pada hal-hal yang bersifat administratif, yang bersangkut paut dengan penyelenggaraan Jalsah. Semua peserta Jalsah hendaknya menaruh perhatian pada hal-hal itu. Sebagaimana telah saya katakan bahwa disebabkan hujan yang mengguyur bisa terjadi kesulitan-kesulitan di seksi tata penyelenggaraan atau pelaksanaan. Dan berkenaan dengan hujan lebat yang terjadi, ini bisa timbul masalah yang paling besar berupa pemarkiran kendaraan. Untuk itu, panitia penyelenggara Jalsah telah menyediakan tempat parkir sewaan yang permanen lagi luas, yang jauhnya dua sampai tiga mil (4-5 km) dari sini. Sebagian besar dari saudara-saudara tentu telah melihat lokasi itu ketika datang kemari. Jadi, dari tempat parkir ada pengaturan/layanan untuk transportasi antar-jemput dengan bus mini dari sana ke sini dan sebaliknya. Oleh karena itu, diharapkan semua peserta yang berada di sini supaya bekerja sama sepenuhnya dengan panitia penyelenggara dan janganlah keras hati/membandel atas hal itu, bahwa kami hanya ingin tetap mendapat tempat parkir kendaraan di Hadiqatul Mahdi, kecuali panitia penyelenggara sendiri memberikan izin kepada kalian. Mereka kini dalam batas tertentu telah mulai memberikan izin untuk parkir. Akibat hujan, tanah menjadi cukup lunak, karena itu diharapkan saudara-saudara bekerja-sama dengan panitia penyelenggara sepenuhnya, demikian juga penyediaan pelayanan antar-jemput dari tempat parkir dengan bus mini, tunggulah giliran masing-masing di sana dengan sabar dan dengan penuh semangat. Datang dan pergilah dengan penuh kedisiplinan. Pada tahun yang lalu, polisi dan masyarakat umum disini sangat terkesan menyaksikan tertibnya penanganan lalu lintas. Kesan baik itu dalam keadaan apapun jangan dibiarkan hilang, bahkan harus lebih baik dari sebelumnya, sambil menaati aturan itu kita membuktikan bahwa kita merupakan orang-orang yang berpegang teguh kepada kedisiplinan dan peraturan.

Satu lagi perkara penting adalah terkait dengan security (keamanan). Saya ingin ingatkan kepada para peserta Jalsah, para petugas segenap seksi-seksi dan semua peserta Jalsah; Mereka hendaknya cermat memperhatikan situasi di sekitarnya masing-masing. Situasi dan kondisi dunia sekarang ini, sedang dalam keadaan sedemikian rupa sehingga berbagai kemungkinan apapun sewaktu-waktu bisa terjadi; Ini tidak bisa diabaikan. Dalam kaitan ini saya ingin menyampaikan kepada kaum wanita yang mana dengan adanya pemeriksaan, mereka merasa tidak nyaman. Oleh karena itu mereka pun diharapkan untuk bekerja-sama. Jika ada pemerikasaan terhadap kalian di dalam aturan itu, tidak ada perkara yang melanggar etika kesopanan. Saya dengar ada sebagian yang mengadu dan mengatakan bahwa kami ini dari keluarga pengurus atau kami sendiri adalah pengurus, dan kendati demikian terhadap kami dilakukan pemeriksaan. Ingatlah bahwa setiap orang yang menjalankan tugas itu tidak mengenal setiap pengurus atau setiap keluarga. Kadangkala perempuan-perempuan membawa banyak koper, sehingga terpaksa harus diperiksa, ini merupakan satu keharusan. Saya menganggap bahwa jika kaum lelaki sekalipun yang diperiksa, maka hendaknya jangan menganggap buruk hal itu.

Saya teringat ketika berada di Rabwah, pada hari Jumat dan pada hari Id keduanya (Idul Fitri dan Idul Adhha) dilakukan pemeriksaan dan berulangkali saya pun pernah diperiksa, saya tidak pernah menganggap buruk hal itu, bahkan ketika setelah saya dipilih oleh Hadhrat Khalifatul Masih IVr.h. menjadi Amir setempat, maka pada saat itupun saya tetap diperiksa juga. Jadi, pemeriksaan jangan hendaknya dianggap buruk. Setiap khadim tidak memiliki pengenalan sepenuhnya terhadap kalian, sebagaimana saya telah katakan kepada kalian semua. Maka untuk itu hendaknya bekerja sama sepenuhnya dengan peraturan ini dan jangan timbul keberatan mengapa saya diperiksa.

Tertera sebuah kejadian terkait dengan Hadhrat Khalifatul Masih IIr.a. bahwa di Qadian, tatkala terjadi ancaman bahaya Ahrar, dimana terpikir bahwa jangan-jangan orang-orang menodai kehormatan makam Hadhrat Masih Mau’uda.s. dan kuburan-kuburan lainnya, maka Hadhrat Khalifatul Masih IIr.a. menempatkan beberapa anggota Khuddam untuk menjaga Bahisyti Maqbarah dan memberikan tanda kartu pengenal, bahwa bagaimanapun, barangsiapa yang berusaha masuk tanpa membawa kartu tanda pengenal, jangan diizinkan masuk. Maka pada satu kali untuk melakukan pemeriksaan, Hadhrat Khalifatul Masih IIr.a. sendiri masuk secara diam-diam. Kurang lebih waktu itu malam hari. Para Khuddam yang bertugas mencegah beliau. Beliau memberitahukan nama beliau. Khuddam mengatakan tidak, cara seperti itu tidak bisa mendapat izin selama tuan tidak membawa tanda pengenal, dan atas kejadian itu Hadhrat Khalifatul Masih IIr.a. menyatakan kegembiraan beliau dan menyatakan bahwa inilah Khuddam yang telah menjalankan tugasnya dengan benar. Jadi peraturan ini untuk faedah kita sendiri. Di dalam aturan itu tidak ada hal yang dapat dikatakan merupakan hal yang buruk. Akan tetapi, kepada para petugas perempuan dan para petugas laki-laki, kepada mereka pun saya ingin katakan bahwa dari sikap dan sepak terjang kalian, jangan hendaknya menzahirkan sikap keras, kasar atau perasaan bercorak apapun bahwa kalian tidak bersikap hormat kepada yang lainnya. Sebagian ada yang terkadang bertindak keras, pada tahun yang lalu pun pengaduan masih saya terima. Semoga Allahswt memberkati Jalsah ini dan semoga dari segala segi, Dia menempatkan setiap orang dalam perlindungan-Nya. Semoga tidak terjadi sesuatu yang dapat menyulitkan siapapun. Dan sebagaimana telah saya katakan, para peserta secara umum dan juga para petugas hendaknya mengawasi lingkungan sekitarnya masing-masing, karena ini merupakan sebuah perantara atau sarana security atau kemanan yang sangat besar. Apabila semua pihak benar-benar waspada, maka orang jahat yang ingin melakukan aksinya tidak dengan mudah dapat kesempatan melakukan aksi kejahatannya. Tapi dalam kaitan ini, satu hal hendaknya diingat bahwa jika kalian melihat ada laki-laki dan perempuan yang dicurigai atau gerak-geriknya meragukan, maka waspadailah mereka dan segera laporkan kepada seksi keamanan (security), kalian sendiri jangan secara langsung menginterogasi atau berurusan dengannya dan awasilah mereka hingga petugas keamanan datang. Setiap orang juga patuhilah hal itu, bahwa kartu tanda pengenal hendaknya senantiasa dibawa, bahkan letakkanlah di depan/dada sehingga kapan saja diminta untuk memperlihatkan kartu tanda pengenal, maka segera perlihatkanlah kepada mereka.

Sebagaimana saya telah katakan sebelumnya bahwa pada tahun lalu kendati timbul berbagai kekhawatiran-kekhawatiran yang dihadapi, khalayak di sekitar sini sangat terkesan dengan disiplin dan pengaturan kita. Pada tahun ini juga, perhatikanlah hal itu. Semoga Allahswt memberi taufiq kepada semua pihak untuk menunjukkan akhlaq yang tinggi. Pada hari-hari ini, panjatkanlah banyak-banyak do’a untuk diri sendiri dan juga untuk keluarga yang ditinggalkan. Rasulullahsaw  pada saat dalam perjalanan, beliau memanjatkan do’a yang dari antaranya ada yang seperti demikian.

Hadhrat Abdullah Bin Sajidr.a. meriwayatkan bahwa apabila Rasulullahsaw berangkat menuju suatu perjalanan, maka beliau senantiasa memohon perlindungan kepada Allahswt supaya dijauhkan dari kesulitan-kesulitan selama perjalanan, dijauhkan dari kesedihan pada saat kembali, dijauhkannya dari berantakannya pekerjaan setelah diupayakan dengan rapi, dijauhkan dari doa buruk orang-orang teraniaya dan melihat pemandangan buruk dalam keluarga dan harta-benda yang ditinggalkan di belakang.

Semoga Allahswt melindungi setiap orang di antara kita dari kejahatan, semoga jangan ada keletihan perjalanan dan ganasnya cuaca sehingga merugikan mereka dan semoga semua kembali ke tempat masing-masing dengan selamat.

Dalam mendoakan para peserta Jalsah Salanah, Hadhrat Masih Mau’uda.s. bersabda: “Semoga berapa pun orang yang datang untuk menghadiri Jalsah dengan menanggung penderitaan, dan semata-mata untuk meraih keridhoan-Nya, maka Tuhan menganugerahi ganjaran kepada mereka, dan semoga Dia memberkati setiap langkah mereka. Âmîn tsumma âmîn.

Kemudian beliau bersabda: “Kemudian pada akhirnya saya mengakhiri ini dengan doa, bahwa setiap orang yang melakukan perjalananan untuk Allah semata, semoga Allah berserta mereka, menganugerahkan kepada mereka ganjaran yang besar, mengasihani mereka, memudahkan kesulitan-kesulitan dan kondisi keresahan-keresahan mereka, menjauhkan kesedihan-kesedihan mereka, menganugrahi kebebasan dari setiap penderitaan, membukakan kepada mereka jalan-jalan yang mudah bagi tujuan-tujuan mereka, membangkitkan mereka dengan hamba-hamba-Nya yang diatas mereka turun karunia Allah dan kasih sayang-Nya, semoga Dia menjadi khalifah/pelinduntg mereka hingga akhir perjalanan mereka. Wahai Tuhan! Yang Maha Agung dan Maha Pemberi, Maha Penyayang dan Wujud Yang memberikan pemecahan pada semua kesulitan, kabulkanlah semua do’a-do’a kami ini dan anugerahilah kemenangan kepada kami terhadap para penentang kami dengan tanda-tanda yang terang, karena semua kekuatan dan kekuasaan berada ditangan Engkau! Amin tsumma Amin!”

Semoga Allahswt menjadikan kita semua menjadi pewaris semua do’a-doa itu.

Qamaruddin Syahid

Khutbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑  عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‑ أُذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Alhamdulillâhi nahmaduhû wa nasta’înuhû wa nastaghfiruhû wa nu-minu bihî wa natawakkalu ‘alayhi wa na’ûdzubillâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluhû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûhu yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

Artinya:

 “Segala puji bagi Allah. Kami memuji Dia dan meminta tolong dan ampun kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, tak ada yang menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Kami menjadi saksi bahwa tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Kami menjadi saksi bahwa tidak ada yang berhak disembah selain dari Allah dan kami menjadi saksi bahwa Muhammadsaw. Itu hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah! Mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepadamu sekalian. Allah menyuruh supaya kamu berlaku adil dan berbuat baik (kepada manusia) dan memenuhi hak kerabat dekat. Dan Dia melarang kamu berbuat kejahatan (yang berhubungan dengan dirimu) dan kejahatan (yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari pemberontakan terhadap pemerintah. Dia memberi nasehat supaya kamu mengingat-Nya. Ingatlah Allah, Dia akan mengingatkanmu dan berserulah kepada Dia. Maka Dia akan menyambut seruanmu dan mengingat Allah (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).

[1] Abû Daud, Bâbul ath’imah, bâb fidh-dhiafati, Musnad Ahmad, bab 3, hal 37

[2] Tirmidzi, shifatul qoyyimah