Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 11 Juli 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

]شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ[ (البقرة: 186)

Terjemahan ayat ini ialah, “Al-Qur’an telah diturunkan di dalam bulan Ramadhan, untuk umat manusia sebagai hidayah yang agung, dan sebagai tanda-tanda yang terbuka yang didalamnya terdapat penjelasan, petunjuk-petunjuk secara rinci dan perkara-perkara yang membedakan diantara yang benar dan yang bathil. Maka, siapa saja dari antara kamu yang berada di bulan ini, ia harus berpuasa dan apabila diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan sebagai musafir maka puasa ini boleh diganti pada hari-hari lain setelah Ramadhan. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan Dia tidak ingin menyusahkanmu dan Dia ingin supaya dengan mudah kamu menyempurnakan bilangan puasa itu dan sesuai petunjuk yang telah diberikan, sanjunglah keagungan Allah supaya kamu menjadi orang-orang yang bersyukur kepada-Nya.” (Surah Al-Baqarah, 2:186)

Pentingnya Al-Qur’an, hukum-hukumnya, perlunya menerapkan dalam amal, bagaimana mengamalkannya dan bagi siapa Alquran menjadi sarana kehidupan, apa kesan-kesan terhadap kehidupan manusia, pendeknya banyak sekali penjelasan yang telah diberikan oleh Allah Ta’ala di dalam Al-Qur’an. Oleh sebab itu kita harus berusaha untuk menerapkan ajaran Syari’at Yang Agung ini dalam kehidupan kita sepanjang hayat untuk meningkatkan kemajuan rohaniah, iman, akhlaq bahkan harus meningkatkan kemajuan kehidupan duniawi kita juga. Di dalam ayat tersebut berkat-berkat Ramadhan telah dihubungkan dengan berkat-berkat Al-Qur’an dan dengan menghubungkan berkat-berkat Ramadhan dengan Al-Qur’anul Karim sungguh menambah gemilangnya makna Ramadhan.

Dengan firman شهررمضان الذي أُنزل فيه القرآن ‘syahru ramadhaana lladzii unzila fiihil Qur’aan’ dijelaskan bahwa Al-Qur’an ini sangat erat hubungannya dengan bulan suci Ramadhan. Dan orang yang ingin maju imannya, yang ingin menyebarluaskan Kitab Syari’at Terakhir dan Sempurna ini agar dunia memahaminya, orang yang ingin berusaha agar dirinya kembali seperti keadaan di zaman Hadhrat Rasulullah saw, orang yang ingin meraih qurb Ilahi dan dapat mendengar suara Tuhan “فإني قريب” yakni: Aku sangat dekat! Maka dia harus menyempurnakan hak-hak Ramadhan dan hak-hak Al-Qur’an. Dan ia harus memahami hubungan erat Ramadhan dengan Al-Qur’an itu. Di dalam bulan ini jarak yang nampaknya sangat jauh di dalam hari-hari biasa di dalam bulan-bulan yang lain, telah digabungkan menjadi sangat dekat di dalam bulan Ramadhan ini. Maka, orang mu’min sejati harus berusaha meraih faedah sebanyak mungkin di dalam bulan ini. Para Mufassir telah menjelaskan banyak sekali definisi pentingnya puasa Ramadhan di dalam ayat tersebut yang Al-Qur’an telah menerangkan secara khusus hukum-hukumnya tentang itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as juga menjelaskan, “Ayat شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ Artinya, ‘Bulan suci Ramadhan yang di dalamnya Al-Qur’an telah diturunkan’, menjelaskan keagungan bulan Ramadhan.”[2]

Beliau juga bersabda, karena keagungan bulan Ramadhan ini ganjaran puasanya juga sangat tinggi dan besar sekali.[3]

Namun, ganjaran itu bagi orang-orang yang memenuhi hak-hak puasa berkaitan dengan Al-Qur’anul Karim dan hak-hak itu adalah bersamaan dengan berpuasa harus banyak-banyak membaca Al-Qur’an, merenungkan dan menelaah arti dan tafsirnya. Sebab, sejauh yang saya ketahui dan sesuai dengan penelitian saya, banyak sekali orang yang tidak memenuhi hak-hak Al-Qur’an atau tidak membacanya dengan teratur dan sungguh-sungguh. Mereka tidak melakukan pembacaan Al-Qur’an dengan penuh perhatian sebagaimana seharusnya. Jika membacanya juga namun hanya sedikit saja. Maka, perlu mendapat perhatian kearah ini.

Selanjutnya, arti dari شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَنُ juga ialah bulan suci Ramadhan yang di dalamnya Al-Qur’an telah diturunkan artinya, Al-Qur’an telah mulai diturunkan di bulan ini. Hadhrat Aisyah r.a. meriwayatkan, “أَنَّ جِبْرِيلَ كَانَ يُعَارِضُنِي بِالْقُرْآنِ كُلَّ سَنَةٍ وَإِنَّهُ عَارَضَنِي الْعَامَ مَرَّتَيْنِ” bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersama-sama Malaikat Jibril setiap tahun mengulangi seberapa banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diturunkan dan pada tahun beliau wafat, beliau bersama Malaikat Jibril mengulanginya dua kali.[4]

Jadi, teladan Nabi saw dan sunnah beliau saw berdasarkan kehendak khas Allah Ta’ala kita harus menaruh perhatian pada jalan ini, yaitu berusaha minimal satu kali tamat membaca Al-Qur’an selama bulan Ramadhan dan merenungkannya juga, sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya. Barulah kita akan termasuk orang-orang yang mengamalkan firman Allah Ta’ala “هدى للناس” hudal linnaas – petunjuk bagi manusia yaitu tatkala kita merenungkannya, menelaahnya dan memahami pokok-pokok bahasannya, dan kita mengetahui bahwa Al-Qur’an itu adalah petunjuk bagi umat manusia. Dan kita menyadari, ia adalah petunjuk bagi mereka yang ingin mendapat petunjuk darinya. Dan petunjuk tidak akan diperoleh tanpa membacanya dan memahaminya. Pendek kata, membaca Al-Qur’an dan memahaminya adalah penting sekali. Sebab, Allah Ta’ala juga berfirman demikian, “Setiap petunjuk itu disertai dengan dalil-dalilnya. Maka, bacalah dan fahamilah kemudian terapkanlah ajarannya pada diri sendiri. Sebab sesuatu yang difahami berdasarkan dalil mudah diamalkan dengan pengertian yang timbul dari dalam lubuk hati yang dalam, dan petunjuk itu diamalkan dengan semangat setelah betul-betul difahaminya. Kemudian Allah berfirman “بيّنات من الهدى” bahwa dalil-dalil itu diberikan dengan bukti-bukti yang nyata sehingga hidayah itu dengan mudah dapat disampaikan kepada orang lain. Maka perintah jihad yakni tabligh dengan Al-Qur’an itu dapat terpenuhi.

Disamping itu difirmankan bahwa di dalamnya mengandung yakni dalil-dalil itu demikian solid sehingga dengannya dapat dibedakan perkara yang benar dengan yang batil. Perangai orang yang mengamalkannya juga nampak jelas perbedaannya kepada orang lain. Siapapun yang mengamalkan ajaran Al-Qur’anul Karim perbedaan perangainya nampak jelas kepada orang yang melihatnya. Martabat rohaniahnya, amal perbuatannya dan martabat imannya juga nampak cemerlang dan lebih tinggi dari orang-orang lain. Apabila kita mengemukakan dalil-dalil Al-Qur’an kepada orang lain, kita tahu tidak ada kitab atau agama lain yang dapat menandingi Al-Qur’an. Sebab di dalamnya mengandung ajaran-ajaran, mengandung bukti-bukti sejarah, mengandung dalil-dalil yang dapat membandingkan dengan dalil agama-agama lain, dan membuktikan keunggulannya demikian terang laksana cemerlangnya sinar Matahari.

Al-Qur’an menyatakan bahwa ia dari awal sampai akhir merupakan firman Tuhan dan sampai sekarang terpelihara keadaannya secara utuh dan murni. Bahkan, Al-Qur’an mengumumkan bahwa ia akan senantiasa terpelihara secara kekal. Maka, Allah Ta’ala berfirman, “Di bulan Ramadhan ini bersamaan dengan berjuang melalui puasa kalian harus berusaha untuk membaca dan memahami khazanah ilmu pengetahuan di dalamnya. Jadikanlah ajaran-ajarannya itu bagian dari kehidupan kalian sepanjang masa, dan renungkan serta pahami hukum-hukumnya itu kemudian terapkanlah atas diri kalian. Di bulan ini, ulangi dan ingatlah kembali jika ada yang telah terlupakan, lakukanlah koreksi secara berulang-ulang di bulan ini sampai di mana kalian mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur’anul Karim.”

Demikianlah firman Allah Ta’ala kepada kita, sebab perkara-perkara itu-lah yang dapat menjamin kehidupan kita di dunia dan di akhirat nanti.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai firman هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان ‘petunjuk-petunjuk secara rinci dan perkara-perkara yang membedakan diantara haq (yang benar) dan yang bathil’, “Al-Qur’an mengandung tiga macam sifat. Pertama, memberi petunjuk kepada manusia tentang ilmu-ilmu Agama yang tidak mereka ketahui. Kedua, ilmu-ilmu Agama yang menjelaskan secara rinci tentang ilmu-ilmu yang telah diberikan secara ringkas. Ketiga, menjelaskan tentang perkara-perkara yang menimbulkan perselisihan dan beda pendapat sampai terungkap perbedaan antara yang benar dengan yang batil.”[5]

Pendeknya, Al-Qur’an adalah sebuah Kitab yang komprehensif (menyeluruh), sempurna dan sangat luas kandungannya, yang tidak ada tara bandingannya. Di dalamnya setiap perkara dijelaskan secara sempurna. Kesalahan-kesalahan yang ada di dalam Kitab-kitab terdahulu telah dikemukakan dan kekurangan-kekurangannya telah dilengkapi. Betapa besar ihsan Allah Ta’ala terhadap kita yang telah menciptakan kita di zaman ini kemudian memberi taufiq kepada kita untuk beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Dan melalui beliau as, Dia telah menyediakan sarana bagi kita untuk mengetahui pentingnya Al-Qur’an dan ma’rifatnya. Beliau as telah menyajikan khazanah ilmu dan ma’rifat Al-Qur’an kepada kita. Untuk memperoleh pemahaman yang tepat mengenai al-Qur’an terdapat dan hanya bisa didapat dengan membaca buku-buku beliau as. Hari ini saya hendak mengemukakan beberapa kutipan dari tulisan-tulisan beliau as perihal Al-Qur’an agar dapat diketahui apa kedudukan dan pentingnya Al-Qur’anul Karim. Dapat diketahui juga apa kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab yang harus kita laksanakan dengan penuh perhatian terhadap itu semua supaya dengan selalu mengingatnya kita menaruh perhatian kepada pembelajaran, pengajaran dan pengamalan al-Qur’an. Saya hanya menjelaskan sebagian saja mengenai ayat-ayat yang telah saya tilawatkan tadi.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Predikat Khatam-un-Nabiyyin yang disandangkan kepada Hadhrat Rasulullah saw menghendaki bahwa Kitab yang diwahyukan kepada beliau juga adalah merupakan Khatamul Kutub yakni Kitab yang paling sempurna dari antara semua Kitab dan mengandungi semua perkara yang paling sempurna dan dengan sesungguhnya semua kesempurnaan terdapat di dalamnya. Sebab, kaidah dan ketentuan umum turunnya Kalam Ilahi itu adalah, seberapa tingginya kekuatan ruhani dan kesempurnaan batin yang dimiliki orang yang menerima Kalam Ilahi itu, sama seperti itu pulalah tingginya martabat Kalam Ilahi itu. Karena itu, kekuatan rohaniah dan kesempurnaan batin Hadhrat Rasulullah saw adalah paling tinggi, yang tidak pernah dicapai oleh manusia di masa lampau dan oleh siapa pun di masa yang akan datang.

Pendeknya, martabat Alqur’nul Karim paling luhur dan paling tinggi dari semua Kitab dan Sahifah sebelumnya. Dan kemampuan serta kekuatan rohani Hadhrat Rasulullah saw paling tinggi dari semua dan semua puncak kesempurnaan serta kemuliaan telah berakhir pada wujud beliau saw. Oleh sebab itu puncak kesempurnaan dan kemuliaan Qur’an Syarif yang diturunkan kepada beliau saw juga telah sampai kepada titik terakhir yang paling tinggi. Sebagaimana puncak kesempurnaan Kenabian beliau telah sampai kepada peringkat terakhir, puncak kesempurnaan Al-Qur’an juga telah sampai kepada peringkat terakhir. Beliau menjadi Khatamun Nabiyyin dan Kitab beliau menjadi Khatam-ul-Kutub.

Dari sudut pandang setiap aspek Mu’jizat Kalam, Al-Qur’an adalah Kitab yang paling tinggi martabatnya. Dari segi kefasihan bahasa, dari segi keunggulan komposisi, dari segi keindahan objektif pokok-pokok pembicaraan, dari segi kesempurnaan ajaran dan natijah ajarannya, pendeknya ditinjau dari segi apapun akan nampak kelebihan dan keunggulan Al-Qur’an. Dan keistimewaannya dapat dibuktikan. Itulah sebabnya Al-Qur’an tidak memerlukan suatu perbandingan dari segi pandangan apapun, melainkan mempunyai tantangan terbuka untuk bertanding dalam segala segi pandangan, baik dari segi kefasihannya maupun dari segi segala objektifnya, seluruhnya merupakan mu’jizat.”[6]

Selanjutnya mengenai pentingnya Al-Qur’an Majid, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Jika kita tidak memiliki Al-Qur’an dan hanya memiliki kumpulan Hadis-hadis sebagai sumber rujukan utama untuk pedoman iman dan keyakinan kita maka tentu kita akan merasa malu menghadapi orang lain. Ketika saya sudah merenungkan lafaz Qur’an, maka tiba-tiba terbuka kepada saya bahwa di dalam lafaz yang berberkat itu terdapat sebuah nubuatan. Bahwa inilah Al-Qur’an sebuah Kitab yang layak untuk dibaca dan pada suatu waktu Kitab inilah yang akan patut dibaca ketika banyak Kitab-kitab lainnya juga ikut serta dibaca. Pada waktu itu hanya Kitab Suci inilah yang patut dibaca demi meningkatkan kehormatan Islam dan untuk menghapuskan segala kepalsuan dan kebohongan sehingga buku-buku lainnya pasti akan ditinggalkan. Itulah juga arti dari pada الفرقان yakni inilah sebuah Kitab untuk membedakan antara yang haq dengan yang batil dan tidak ada suatu Kitab Hadis atau kitab lain yang mempunyai suatu kedudukan khas.

Oleh karena itu, sekarang tinggalkanlah semua kitab-kitab lain dan bacalah Kitab Allah ini siang dan malam. Sangat tidak beriman orang yang tidak menaruh hormat terhadap Al-Qur’an, jika setiap waktu cenderung perhatiannya hanya kepada kitab-kitab lain. Orang-orang Ahmadi harus berusaha keras menyibukkan diri dalam menyimak dan menela’ah Al-Qur’an Syarif dengan seksama dan sepenuh hati dan tinggalkan kebiasaan menaruh perhatian hanya kepada Kitab Hadis. Alangkah disesalkannya apabila perhatian terhadap daras-daras Al-Qur’an tidak dilakukan sedangkan daras-daras Hadis kerap dilakukan. Peganglah Al-Qur’an di tangan sebagai senjata untuk memperoleh kemenangan pada waktu ini. Kegelapan tidak akan mampu berhadapan dengan Nur ini !”[7]

Berkenaan dengan perbaikan amal Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Bagaimana dapat dilaksanakan perubahan dan perbaikan amal? Jawabnya tiada lain: Salat adalah do’a yang paling utama. Maka utamakanlah Salat. Simak dan renungkanlah Qur’an Syarif, di dalamnya terdapat segala jenis yang diperlukan, terdapat keterangan rinci mengenai kebaikan dan keburukan dan kabar-kabar ghaib tentang zaman yang akan datang.”[8]

Jadi, perkara utama yang harus diperhatikan adalah Salat, dan selama bulan Ramadhan ini perhatian khusus terhadap Salat berjama’ah harus diutamakan. Dan sebagaimana Al-Qur’an sangat erat sekali kaitannya dengan bulan Ramadhan ini, maka jika selama bulan ini kita membiasakan diri untuk membaca Al-Qur’an, membiasakan menela’ah dan merenungkan ajarannya kemudian berusaha menerapkannya pada diri sendiri, maka pasti membawa faedah untuk sepanjang kehidupan kita.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Penjelasan secara rinci mengenai kebaikan dan keburukan dan kabar-kabar mengenai masa yang akan datang dan lain-lain sebagainya hendaknya dipahami betul bahwa inilah Agama yang tidak menampilkan suatu keluhan atau kritikan sebab berkat-berkat dan buah-buah yang baru dan segar dari ajarannya selalu dapat diperoleh. Di dalam Injil Agama tidak ditampilkan secara sempurna. Ajarannya mungkin hanya sesuai bagi manusia di zaman itu, tetapi tidak sesuai untuk manusia segala zaman dan semua keadaan. Kebanggaan hanya terdapat di dalam Qur’an Majid bahwa Allah Ta’ala telah memberi tahukan obat penawar bagi semua jenis penyakit ruhani terdapat di dalamnya dan telah pula menjelaskan training bagi semua jenis kekuatan. Dan bagi keburukan yang zahir juga telah dijelaskan untuk menghindarinya. Oleh sebab itu bacalah selalu Qur’an Majid, berdo’alah selalu dan sesuaikanlah perilaku dengan ajaran yang terkandung di dalamnya.”[9]

Hadhrat Khalifatul Masih III r.h. sering bersabda, pada suatu ketika seorang Menteri Pakistan pergi ke China di zaman Mao Ze Dong. Menteri itu bertanya kepada Tn. Mao, “Mengapa sebuah revolusi telah dilancarkan di Negeri ini?” Mao Ze Dong menjawab, “Mengapa anda bertanya kepada saya? Pergi dan periksalah suri teladan Nabi anda dan bacalah Qur’an dan amalkanlah ajarannya, anda akan mendapatkan segala sesuatu di dalamnya!” Demikianlah, Non Muslim pun, baik dia percaya atau tidak, namun telah menyaksikan sebuah nur di dalam Al-Qur’an.

Dengan mengamalkan ajaran Qur’an Majid perobahan apa yang dapat diperoleh, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Mu’jizat kedua dari Qur’an Majid yang dapat kita pahami dan kita saksikan di zaman kita ini, adalah perobahan yang sangat menakjubkan pada diri para Sahabah berkat mengamalkan ajaran-ajaran Qur’an Majid dan berkat pergaulan dengan Hadhrat Rasulullah saw. Jika kita menyaksikan keadaan para Sahabat sebelum masuk Islam, bagaimana moral dan perilaku serta kebiasaan buruk yang mereka lakukan, serempak mereka tinggalkan itu semua, lalu masuk kedalam kondisi yang sangat suci bersih. Maka dengan menyaksikan kesan-kesan yang sangat agung dan luar biasa ini, mengubah keadaan mereka yang telah berkarat menjadi cahaya bersinar terang, kita harus mengakui dengan sesungguhnya bahwa mu’jizat perobahan ini sangat luar biasa. Dan hal itu disebabkan oleh kinerja Allah Ta’ala yang khas.”[10]

Selanjutnya beliau as bersabda, “Menjadi bukti yang sangat jelas bagi orang jujur, berapa banyak orang bodoh, buas, menonjolkan diri dan bertabiat jahat berobah menjadi sangat baik setelah masuk Islam dan menerima ajaran Qur’an Majid. Hal itu berkat indahnya kesan Kalam Ilahi dan berkat kesan-kesan indah pergaulan dengan Nabi Suci Muhammad saw dalam waktu relatif sangkat singkat telah meresap kedalam kalbu mereka sehingga merobah keadaan. Dan setelah dirundung kebodohan mereka mendapat limpahan ma’rifat pengetahuan Agama yang luar biasa. Setelah meninggalkan kecintaan terhadap dunia, mereka beralih membenamkan diri kedalam gelombang kecintaan terhadap Allah swt sehingga dengan penuh semangat mereka meninggalkan negeri tercinta, harta kekayaan, orang yang paling dicintai, kehormatan dan kesenangan semata-mata demi meraih ridha Allah Ta’ala. Maka kedua peristiwa kehidupan mereka yang dahulu dan yang baru mereka peroleh setelah masuk kedalam pangkuan Islam tercatat dengan jelas di dalam Kitab Suci Qur’an Majid sehingga orang saleh dan mukhlis apabila membaca kisah mereka itu tergugah hati mereka dan menangis sambil meneteskan air mata.

Maka, apa gerangan yang telah menarik mereka demikian cepat keluar dari satu alam ke alam yang lain? Hanya ada dua hal yang telah menarik mereka demikian cepat yaitu; Pertama, quwwat qudsiah (pengaruh kuat kesucian) Nabi Ma’shum Muhammad saw yang luar biasa mengesankan, yang tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi seperti itu kemudian. Kedua, pengaruh Kalam suci Tuhan Hayyu Qayyum yang sangat luar biasa yang telah membawa sejumlah besar manusia dari jurang kegelapan yang sangat pekat kedalam gelanggang cahaya yang terang benderang.

Tanpa ragu, itulah pengaruh Qur’an Majid yang merupakan mu’jizat, sebab tiada seorangpun di dunia ini yang mampu memberi contoh kitab lain sebagai tandingan yang mempunyai pengaruh atau kesan sangat mendalam seperti itu. Siapakah gerangan yang mampu memberi bukti bahwa suatu kitab lain telah membawa perobahan yang menakjubkan seperti yang dibawa oleh Qur’an Majid ?

Telah menjadi pengalaman ratusan ribu orang suci bahwa setelah mengikuti ajaran Qur’an Majid berkat-berkat Ilahi turun kedalam lubuk hati mereka dan telah menjalin-kan hubungan erat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Nur dan ilham suci Allah Ta’ala turun kedalam lubuk hati mereka. Dari mulut mereka tercetus rahasia dan ma’rifat Ilahi sejati, mereka menerima anugrah tawakkal yang kuat dari Allah Ta’ala dan mereka diberikan keyakinan sangat solid terhadap Tauhid Allah Ta’ala. Dan diberi sebuah kecintaan yang sangat lezat terhadap Allah Ta’ala yang mengayomi kelezatan pertemuan dengan-Nya yang ditanamkan di dalam kalbu mereka. Jika wujud mereka dicincang di dalam kancah musibah yang sangat dahsyat dan diracik-racik kedalam gilingan yang perkasa maka yang keluar dari mereka tidak lain hanyalah air kecintaan murni terhadap Ilahi.[11]

Bagaimanapun dahsyatnya gilingan dilakukan untuk memeras, seperti benda digiling di dalam sebuah gilingan untuk memeras, atau digiling seperti alat penggiling tebu yang perkasa untuk mengeluarkan airnya, maka apa gerangan hasil akhir dari orang yang selalu merenungkan ajaran Qur’an Karim dan mengamalkannya serta mencintai Hadhrat Rasulullah saw ? Tiada lain hanyalah air kecintaan Ilahi yang keluar dari padanya.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Dunia tidak mengenal hal seperti itu bahkan jauh dan semakin menjulang tinggi jauh terpisah dari perkara duniawi. Perlakuan Allah Ta’ala terhadap mereka itu merupakan mu’jizat dan terbuka kepada mereka bahwa Tuhan itu ada dan terbukti kepada mereka bahwa Tuhan adalah Tunggal Yang mendengar apabila orang berdo’a kepada-Nya, dan menjawab apabila orang berseru kepada-Nya. Apabila orang memohon perlindungan kepada-Nya Dia menyambut sambil berlari dan merangkulnya. Dan Dia mencintai hamba-Nya lebih dari seorang ayah mencintai anak kandungnya dan Dia menghujani rumah tinggal hamba-Nya dengan berkat-berkat-Nya yang melimpah. Maka, mereka dapat dikenal melalui pertolongan dan dukungan Ilahi yang turun kepada mereka. Tuhan siap menolong di dalam setiap urusan mereka sebab mereka adalah milik-Nya dan Dia adalah milik mereka. Semua perkara ini terjadi bukan tanpa bukti.”[12]

Rahasia keberhasilan adalah dengan mengamalkan ajaran Qur’an Karim, tidak cukup hanya mempercayainya. Beliau as bersabda:” Utamanya adalah, selama orang-orang Muslim tidak mengikuti dan menta’ati sepenuhnya apapun yang Allah Ta’ala telah ajarkan di dalam Qur’an Karim, mereka tidak akan memperoleh kemajuan apapun. Semakin mereka menjauh dari Qur’an Karim semakin jauh pula mereka dari jalan-jalan kearah kemajuan dan kejayaan. Dengan hanya mengamalkan ajaran Qur’an Karim, akan menjadi sarana untuk memperoleh kemajuan dan mendapat petunjuk.”

Dalam menasihati Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Maka waspadalah kalian, janganlah kalian bergerak satu langkahpun yang bertentangan dengan ajaran Tuhan dan petunjuk Qur’an Karim. Aku berkata dengan sesungguhnya kepada kalian. Barangsiapa yang mengabaikan salah satu perintah kecilpun dari 700 perintah Al-Qur’an, dia menutup pintu keselamatan dirinya dengan tangannya sendiri. Jalan najaat (keselamatan) hakiki dan sempurna telah dibukakan oleh Al-Qur’an dan semua jalan yang lainnya merupakan bayangannya.

Maka, pelajarilah Qur’an dengan seksama dan cintailah dengan sesungguhnya seolah-olah kalian tidak pernah mencintai sesuatu lebih dari padanya. Sebab, sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman kepadaku, “الخير كله في القرآن” Yakni segala macam kebaikan terdapat di dalam Al-Qur’an, itu sungguh benar. Alangkah disesalkan orang-orang yang lebih mengutamakan sesuatu selain Al-Qur’an. Sumber segala kebahagiaan dan keselamatan bagi kalian terdapat di dalam Al-Qur’an. Tiada satu pun keperluan agama kalian yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an. Saksi yang membenarkan maupun yang mendustakan iman kalian pada hari Kiamat adalah Al-Qur’an. Di bawah kolong langit ini tidak ada sebuah Kitab pun yang secara langsung dapat memberi petunjuk jalan keselamatan kepada kalian kecuali Al-Qur’an. Allah Ta’ala telah berkenan berbuat banyak kebajikan kepada kalian dengan menganugerahkan kepada kalian sebuah Kitab seperti Al-Qur’an.

Aku berkata dengan sesungguhnya kepada kalian semua, bahwa Kitab yang dibacakan kepada kalian itu seandainya dibacakan kepada kaum Kristen, mereka tidak akan binasa. Dan ni’mat serta petunjuk yang dilimpahkan kepada kalian itu, andaikan diberikan kepada kaum Yahudi sebagai pengganti kitab Taurat, maka sebagian firqah atau aliran mereka tidak akan mengingkari Hari Kiamat. Oleh karena itu hargailah ni’mat yang dilimpahkan kepada kalian. Ni’mat itu sungguh berharga sekali. Ni’mat kesayangan itu merupakan harta pusaka yang sangat besar nilainya. Jika Al-Qur’an tidak diturunkan, maka keadaan seluruh dunia ini laksana segumpal daging yang menjijikkan belaka. Al-Qur’an adalah sebuah Kitab agung, dan semua petunjuk tandingannya sama sekali tidak berarti.”[13]

Dalam menjelaskan pentingnya Al-Qur’an Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Al-Qur’an adalah sebuah Kitab Suci yang telah datang ke dunia pada waktu kekacauan yang sangat dahsyat sedang merebak dimana-mana. Dan banyak sekali kerusakan iman dan keburukan serta kejahatan telah menjadi adat kebiasaan manusia. Sebagian besar manusia telah terlibat di dalam berbagai macam keburukan moral dan dosa serta kerusakan iman. Kearah itulah Allah Ta’ala berfirman di dalam Qur’an Majid ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ Artinya, ‘Semua manusia, baik para ahli Kitab maupun yang lain, semuanya telah terlibat di dalam keburukan dan kejahatan serta dalam pelanggaran iman. Dan kerusuhan serta kekacauan yang sangat dahsyat telah melanda dunia.’ (Rum:42). Maka, pada zaman seperti itulah Allah Ta’ala telah menurunkan Al-Qur’anul Karim Kitab sempurna sebagai petunjuk untuk meluruskan iman dan pendirian serta untuk menyingkap semua keraguan dan kepalsuan. Di dalamnya mengandung penolakan terhadap semua tuduhan palsu agama, khususnya di dalam surah Al Fatihah yang dibaca lima kali setiap hari di dalam raka’at setiap Salat, sebagai isyarah untuk meluruskan semua akidah.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Janji-janji Allah Ta’ala untuk memberi kemenangan dalam perlawanan terhadap semua penentang, semua musuh, semua pemilik kekayaan, semua penyerang yang keras, semua penguasa yang perkasa, semua ahli filsafat, pengikut semua agama, terhadap seorang yang lemah, miskin, tidak terpelajar, tidak terlatih, namun telah sempurna di zaman mereka dan akan terus terpenuhi dengan sempurna. Tidak mungkin hal itu sebuah kinerja seorang manusia, sehingga seorang pencari kebenaran yang jujur sedikitpun tidak mempunyai suatu keraguan tentang itu.”[14]

Seseorang telah bertanya bagaimana cara membaca Qur’an Syarif. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Bacalah Alqur’anul Karim dengan tadabbur (penelitian), tafakkur (pemikiran) dan penuh perhatian. Terdapat riwayat dalam sebuah hadis, ’rubba qaarin yal’anuhul qur’aanu’ [15]– “Banyak sekali pembaca Alqur’an yang bersamaan dengan itu Alqur’an pun melaknatnya.” Barangsiapa yang membaca Alqur’an namun tidak mengamalkan ajarannya, maka Alqur’an mengirimkan laknat kepada mereka itu. Apabila sedang [mendengar atau membaca] tilawat Alqur’anul Karim terdapat ayat yang menjelaskan tentang rahmat maka mohonlah rahmat dari Allah Ta’ala dan jika menyebutkan tentang azab atas suatu kaum maka mohonlah perlindungan kepada Allah Ta’ala dari azab-Nya itu. Bacalah ia dengan tadabbur dan menaruh perhatian lalu beramallah sesuai hal itu.” [16]

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan bagaimana harus membaca Al-Qur’an. Beliau bersabda, ”Banyak orang membaca Al-Qur’an seperti burung Beo tanpa memikirkan dan memahami apa yang dibacanya, sebagaimana seorang Pandit membaca mantra cepat-cepat, dia sendiri tidak faham artinya orang lain pun tidak memahaminya. Begitu juga cara orang yang membaca Al-Qur’an, dibacanya beberapa juz dan tidak faham apa yang dibacanya itu. Mereka membaca sebanyak-banyaknya dan huruf qaf (ق) dan ‘ain (ع) diusahakan membacanya dengan betul dan tepat.”[17]

Hadis juga terdapat riwayat bahwa Al-Qur’an harus dibaca dengan suara merdu dan baik.[18]

“Tetapi, maksud utama membaca Al-Qur’an ialah berusaha memperoleh rahasia dan ma’rifatnya, dan manusia berusaha menghasilkan perbaikan dirinya. Dan ingatlah! Al-Qur’an memiliki falsafah yang sangat baik. Ia mempunyai nizam atau sistim namun tidak dihargai. Tujuan membaca Al-Qur’an tidak dapat terpenuhi jika nizam atau tertibnya tidak dihargai dan tidak diperhatikan sepenuhnya.”[19]

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan bahwa dengan tilawat Al-Qur’an terbit kecintaan terhadap Allah Ta’ala di dalam lubuk hati, ”Akar ibadah terletak dalam tilawat Qalam Ilahi. Sebab jika kalam Dzat Yang Tercinta dibaca atau didengar maka pasti menimbulkan kecintaan bagi orang yang mencintai-Nya dan menciptakan kelezatan dan keharuman baginya.”[20]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda lagi bahwa tilawat Al-Qur’an juga menjadi obat penawar bagi hati yang keras menjadi lembut, “Manusia harus banyak-banyak membaca Al-Qur’an. Di mana terdapat kesempatan berdo’a, di sana harus berdo’a, dan berdo’alah sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala di dalam ayat itu. Di mana berjumpa dengan kalimat tentang azab, di sana mohonlah perlindungan dari Allah Ta’ala dan hindarilah amal perbuatan buruk yang telah menyebabkan suatu kaum hancur binasa… Jika hati keras maka untuk membuatnya lembut tiada lain caranya harus berulang kali membaca Al-Qur’an. Kapan saja ia membaca tentang rahmat mohonlah agar rahmat itu juga turun kepadanya. Al-Qur’an adalah laksana sebuah taman, di mana berbagai jenis bunga-bunga mekar dengan indahnya. Manusia datang memilih sekuntum bunga, kemudian melangkah lagi untuk memetik sekuntum bunga lain. Maka, haruslah demikian untuk mencari manfaat dan faedah dari keindahan ajaran Al-Qur’an.”[21]

Beliau as bersabda, ”Tidak perlu suatu kitab lain lagi setelah Al-Qur’anul Karim. Ia sebuah Kitab yang betul-betul sempurna. Al-Qur’anul Karim turun pada zaman yang sangat tepat. Di mana sesuatu yang diperlukan tidak mungkin di diperoleh, terdapat jawaban yang tepat di dalamnya. Yakni, ketika semua perkara tentang akhlaq, iman, perkataan, amal perbuatan telah rusak dan prilaku manusia sudah sangat keji, setiap jenis perbuatan melampaui batas dan kejahatan moral serta kerusuhan sudah melampaui puncak keburukannya. Itulah sebabnya Al-Qur’an yang membawa ajaran sangat indah dan sangat luhur mutunya telah turun.

Maka, dalam makna inilah Al-Qur’an sebagai Syariat Furqani (yang membedakan antara hak dan batil) paling sempurna dan terakhir. Membuktikan kitab syariat sebelumnya tidak sempurna. Sebab pada zaman Kitab sebelumya diturunkan, semua kejahatan amal dan kejahatan moral dan lain-lain belum sampai kepada puncak klimaks-nya. Namun di zaman Al-Qur’an turun peringkat semua jenis kejahatan sudah mencapai puncak maximum. Sekarang perbedaan antara Kitab Al-Qur’anul Karim dengan Kitab-itab lainnya adalah, Kitab itu tidak dijaga dan tidak dipelihara dari setiap seginya, disebabkan ajarannya itu tidak sempurna. Maka sebuah kitab yang sempurna, yaitu Al-Qur’an sangat perlu diturunkan demi menutupi semua kekurangannya itu. Dan sekarang setelah Al-Qur’an tidak diperlukan kitab lain lagi, sebab diatas kedudukan sempurna tidak ada ruang kedudukan lain lagi yang lebih tinggi.

Iya, andai pada suatu waktu dasar-dasar ajaran Al-Qur’an dibuat berubah menjadi dasar-dasar yang penuh kemusyrikan seperti halnya Weda dan Bible; andai ajaran Tauhid Ilahi dirobah dan disesatkan; dan lagi andai di suatu zaman jutaan orang Muslim yang tangguh dalam Tauhid berjatuhan menjadi musyrik dan mulai menyembah makhluk, maka dalam keadaan demikian merupakan suatu keharusan bahwa syariat lain akan diwahyukan dan untuk itu Rasul lain (pembawa syariat baru) akan turun lagi. Tetapi, kedua hal tersebut tidak mungkin terjadi.”[22]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Ingatlah! Al-Qur’an asy-Syarif adalah sumber segala berkat hakiki dan sumber keselamatan yang sejati. Orang-orang yang tidak mengamalkan ajaran Al-Qur’an patut disesali. Kelompok orang-orang yang tidak mengamalkan itu diantaranya adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Al-Qur’an. Mereka tidak percaya bahwa Al-Qur’an Kalam Ilahi. Mereka itu telah jauh terpencil dan menyesatkan diri. Namun, orang-orang yang beriman bahwa Qur’an adalah Kalam Ilahi dan Kitab yang memberi keselamatan, jika mereka tidak mengamalkannya tentu sangat menakjubkan dan sangat disesalkan sekali. Diantara mereka banyak sekali orang-orang yang tidak pernah membacanya sepanjang hayatnya.

Maka, perumpamaan orang yang lengah dan tidak acuh terhadap Kalam Ilahi adalah seperti orang yang sudah tahu ada sebuah sumber mata air jernih dan sangat sejuk, airnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Sekalipun dia tahu hal itu semua dan sedang merasa dahaga namun dia malas, tidak mau pergi ke sana. Orang semacam itu sangat buruk nasibnya dan bodoh. Seharusnya ia meletakkan mulutnya keatas mata air itu dan minum sekenyangnya di sana. Tetapi, sekalipun sudah tahu namun tetap ia menjauh dari padanya seperti orang yang sama sekali tidak tahu. Ia tetap menjauh sampai akhir hayatnya. Sikap orang seperti itu menjadi pelajaran dan peringatan.

Sikap orang-orang Muslim sekarang persis seperti itu. Mereka tahu betul bahwa kunci semua sukses dan kemenangan adalah Qur’an Syarif yang harus diamalkan. Namun tidak mereka amalkan bahkan tidak mereka hiraukan. Seorang yang dengan perasaan cinta dan penuh simpati, bahkan atas perintah Allah Ta’ala mengajak rujuk kepada firman Allah Ta’ala, mereka menganggapnya sebagai seorang pendusta dan Dajjal. Betapa malang dan patut dikasihani keadaan kaum seperti itu! Perlu sekali bagi orang-orang Muslim, dan sekarang juga sangat diperlukan bahwa mereka harus menghargai dan menganggapnya sebagai ghanimat (anugerah). Mereka harus menghargainya. Caranya adalah mereka harus menyambutnya kemudian tunggulah bagaimana Allah Ta’ala segera akan menjauhkan semua musibah dan kesusahan yang mereka hadapi. Hanya jika orang-orang Muslim paham dan berpikir bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan jalan yang baik bagi mereka agar mereka mengambil faedah untuk melangkah diatas jalan baik dan lurus.”[23]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Benarlah bahwa kebanyakan orang-orang Muslim telah meninggalkan Al-Qur’an, namun sinar dan cahayanya masih terus memancar. Pengaruh dan kesan-kesannya masih terus hidup dan berjalan dengan segar. Aku diutus pada zaman ini sebagai bukti nyata tentang itu dan Allah Ta’ala telah mengirim secara berturut-turut hamba-hamba-Nya untuk memperkuat dan mendukung tujuan itu. Sebagaimana Dia berjanji dengan firman-Nya, {إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون} ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an ini dan Kami-lah pula yang menjaga dan memeliharanya.’ (Al Hijr:10) Janji Allah Ta’ala yang diberikan untuk menjaga dan memelihara Qur’an Syarif seperti itu, tidak diberikan kepada Taurat maupun kitab-kitab lainnya. Sebab, manusia telah melakukan perobahan dan kecurangan di dalam buku-buku itu. Penjagaan Qur’an Syarif ini adalah sebuah sarana hebat yang kesan-kesannya senantiasa baru dan segar. Karena orang-orang Yahudi telah betul-betul meninggalkan Taurat maka Taurat tidak memiliki suatu kekuatan dan kesan apapun, hal itu menunjukkan dalil kematiannya.”[24]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda lagi memberikan nasihat dengan penuh keperihan, ”Nasihat penting bagi kamu sekalian adalah; Janganlah kamu meninggalkan Al-Qur’an sebagai benda yang dilupakan; sebab, justru di dalam Al-Qur’anlah terdapat kehidupan-mu. Barangsiapa yang memuliakan Al-Qur’an dia memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa lebih mengutamakan Al-Qur’an dari segala Hadis dan dari segala ucapan lain, akan diutamakan di langit. Bagi umat manusia di atas permukaan bumi ini, tidak ada Kitab lain kecuali Al-Qur’an dan bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang Rasul juru syafa’at selain Muhammad Mustafa saw.”[25]

Demikianlah beberapa buah kutipan tentang pentingnya Qur’an Syarif, pentingnya tilawatnya dan pengamalan atas ajaran-ajarannya yang setiap orang harus menarih perhatian sepenuhnya dan meraih faidhnya di bulan Ramadhan ini. Seperti telah saya sampaikan sebelumnya, dan di bulan ini kita harus membaca al-Qur’an dan merenungkan maknanya serta mengulangi dan menghapalkan kembali bagian yang telah dihapal yang mungkin telah lupa lagi. Usahakan dan amalkanlah perintah-perintah yang masih belum dilaksanakan. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua. [Aamiin]

Setelah salat Jumat saya akan mengimami shalat dua jenazah, pertama, jenazah Tn. Kalim Wasim yang telah ada di sini. Beliau seorang karyawan MTA, wafat tanggal 6 Juli 2014 karena serangan jantung pada umur 54 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna illaihi raji’un. Beliau adalah cucu Hadhrat Haji Muhammad Din Sahib, Darvish of Qadian dari pihak bapak dan cucu Syed Sadiq Ali Sahib of Saharanpur dari pihak ibu. Almarhum menantu Almarhum Tn. Mubarak Ahmad Saqi, Muballigh di sini dan Additional Vakilut Tabshir. Tn. Kalim aktif dalam pekerjaan Jemaat sejak kecil. Ketika berada di Karachi beliau menjadi anggota pengurus Jemaat lokal dan pengurus tingkat distrik. Di Abu Dhabi beliau berkhidmat sebagai Naib Sadr Jemaat. Pada 1989 pindah ke UK menjadi Qaid Majlis Regional London. Selanjutnya, berkhidmat dalam keuangan dan Khidmat Khalq selama Jalsa Salana. beliau salah seorang karyawan pertama sejak dimulainya MTA pada 1993 dan berkhidmat di bidang maintenance (pemeliharaan) dan teknisi di samping berkhidmat di bagian lainnya. Terakhir beliau bekerja sebagai in-charge terjemahan dan bekerja di MTA sampai akhir hayat beliau. Beliau juga sebagai pembaca berita pertama di MTA dan sebagai presenter.

Beliau sangat menyintai Khilafat dan berkhidmat dengan ikhlas dan jujur. Beliau mempunyai relasi yang sangat akrab dengan semua kerabat kerja dan sangat menghormati mereka. Ibunda beliau masih hidup. Beliau meninggalkan seorang isteri Sarah Wasim Sahiba serta dua orang putra dan seorang putri. Ibu beliau berkata, “Wasim sangat menghormati kedua orang tua dengan penuh kasih sayang dan sangat memperhatikan mereka serta mengkhidmati mereka dengan sangat baik. Juga memperhatikan saudara-saudarinya.

Istri beliau mengatakan, “Saya melihat suami saya, memiliki semangat berkhidmat kepada Jemaat dalam makna yang hakiki. Beliau senantiasa hadir setiap waktu dalam pekerjaan agama. Tugas apapun yang diserahkan kepada beliau oleh Khilafat, dilaksanakannya dengan penuh semangat dan tanggung jawab serta rasa gembira. Beriman sempurna sesuai dengan kehendak Allah. Beliau selalu memberi nasehat kepada yang lainnya agar bertawakkal kepada Allah, bekerja dan berdoa. Mehman nawazi (penghormatan dan pengkhidmatan kepada tamu) oleh beliau demikian tinggi. Beliau menghormati tamu tiap kali tamu datang ke rumah saya. Bahkan mengundang mereka ke rumahnya dan beliau banyak mengkhidmati mereka.”

Saudari perempuan almarhum menulis, “Saudara saya tidak pernah menyusahkan siapa pun. Beliau sangat cinta untuk menelaah buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as.”

Salah seorang karyawan MTA, Asim Shehzad yang telah bekerja selama 11 tahun bersama Kalim Sahib menulis, “Beliau sangat mukhlis dan jujur, pencinta sejati Khilafat. Sekalipun seorang karyawan senior, beliau tidak pernah memberi kesan kepada anak buah beliau sebagai karyawan senior dan berlaku sangat ramah dan hangat dalam persaudaraan terhadap anak buah beliau. Suatu kali Tn. Kalim sedang membersihkan kompleks MTA di Baitul Futuh. Ketika ditanya mengapa beliau sendiri membersihkannya, tidak menuruh orang lain. Beliau dengan bangga menjawab, ‘Ketika kompleks ini sedang diresmikan, nasihat yang Hudhur berikan kepada para karyawan adalah nasihat tentang menjaga kebersihan dan pada waktu itu Hudhur sedang menatap muka saya, oleh sebab itu saya menganggap nasihat itu khusus ditujukan kepada saya, maka saya selalu melakukan kebersihan kompleks MTA ini.’

Suatu kali sedang menyaksikan MTA menayangkan beberapa klip berisi kutipan-kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s dan para Khalifah beliau yang menjelaskan bahwa MTA adalah sebuah gerakan yang berperan sangat penting dan luas untuk menyebarkan misi Hadhrat Masih Mau’ud as. Sambil menyaksikan tayangan MTA itu beliau menangis tersedu-sedu sampai tidak terkontrol dan berkata; ‘Alangkah beruntungnya Kalim dengan karunia Allah Ta’ala telah dapat berkhidmat di MTA.’ Pada suatu ketika Kalim sahib masih mempunyai jatah untuk cuti, maka beliau memohon cuti. Namun Mln Ataul Mujeeb Rashid Sahib tidak mengabulkan dengan alasan banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan. Maka beliau segera mengambil surat itu kembali dan menyobeknya.”

Mln Ataul Mujeeb Sahib juga melaporkan kepada saya bahwa beliau menyobek surat itu dengan gembira tidak menunjukkan kegelisahan. Dikatakan bahwa beliau mampu bekerja dengan sangat baik dan penuh cinta terhadap tugas dan selalu mendahulukan tugas-tugas kepentingan Jemaat diatas tugas lainnya. Beliau sangat pakar di dalam bidang tugas beliau dan melaksanakannya dengan penuh semangat.

Tn. Khalid menulis, “Pada masa masih hidupnya Tn. Ravil (Russian Desk), beliau biasa datang ke MTA di waktu yang berbeda, saya pun berkata kepada Tn. Wasim Kalim agar membantu saya dalam menyiapkan program. Beliau berkata, ‘Baiklah. Ketika Tn. Ravil sedang waktu senggang, baik malam atau siang, saya akan datang ke MTA. Tinggal sampaikan kepada saya agar saya dapat mengaturnya sebelumnya.’ Beliau orang yang siap sedia berkhidmat.”

Saya juga sering perhatikan pada kesempatan mulaqat bersama isteri dan anak-anaknya, beliau selalu mendudukkan anak-anak di bagian depan dan beliau sendiri duduk di belakang mereka. Barangkali untuk mendidik agar anak-anak berani bercakap langsung dengan Khalifa-e-Waqt dan hubungan yang beliau miliki dengan Khilafat berlanjut kepada anak-anak beliau. Semoga Allah Ta’ala menyempurnakan keinginan beliau agar anak-anak beliau selalu mempunyai hubungan erat dengan Khilafat. Masya Allah, kedua suami istri ini telah mendidik anak-anak mereka dengan cara yang sangat baik. Semoga Allah Ta’ala menjadikan mereka wujud-wujud sangat berguna bagi Jemaat dan semoga Tuhan menjadi Penolong mereka. Semoga Allah Ta’ala memberi kesabaran dan ketabahan kepada isteri dan anak-anak beliau semua. [Aamiin]!

Yang kedua adalah jenazah ghaib AlHaaj Asim Zaki Bashir ud Din Sahib dari USA (Amerika Serikat). Beliau wafat tanggal 22 Juni 2014 setelah menderita penyakit kanker yang cukup lama. Beliau bertahan memerangi penyakit kankernya dengan berani dan sabar. Beliau lahir di tengah-tengah keluarga Kristen pada 26 Mei 1929 dan semenjak kecil tertarik kepada Agama. Beliau mengenal Jemaat melalui penelitian dan keinginan sendiri dan dengan karunia Allah Ta’ala beliau Bai’at masuk Jemaat Ahmadiyah pada umur 19 atau 20 tahun. Beliau mempunyai kekuatan iman yang tangguh terutama mengenai keyakinan beliau terhadap Tauhid Ilahi sangat kuat sekali. Beliau sangat mukhlis dan sabar sekali hati beliau penuh dengan perasaan syukur, sebagai penjelmaan seorang mu’min sejati. Beliau menjumpai banyak anggota terkemuka Jemaat seperti Hadhrat Choudri Zafrullah Khan Sahib r.a. yang pertama kali beliau jumpai pada tahun 1940. Beliau mendapat kehormatan mulaqat dengan Hadhrat Khalifatul Masih III r.h. Asim Sahib pernah menceritakan, ketika mulaqat dengan Hadhrat Khalifaul Masih III r.h. merasa seolah-olah di sekitar beliau memancar sebuah lingkaran cahaya. Pemandangan itu tidak dapat dilupakannya sepanjang hayat.

Beliau pernah menjadi anggota pengurus Nasional Jemaat Amerika Serikat dan pernah juga menjadi Sadr Local (ketua) Jemaat, sebagai Sekretaris Tabligh dan Zaim Ansarullah. Beliau bekerja di Pelabuhan di Seattle, USA, untuk itu beliau terpaksa harus berada di luar rumah selama 2-3 bulan. Beliau sangat teratur mengikuti kegiatan Jemaat. Beliau mendapat gaji cukup baik dan besar. Suatu ketika beliau menjalankan kendaraan cepat sekali karena sedang menuju ke tempat bekerja untuk Jemaat. Polisi menghentikan beliau karena kecepatan telah melampaui batas kecepatan. Polisi bertanya kepada beliau, “Apakah Anda sedang menuju gereja?” maksudnya Masjid, sebab beliau memakai peci shalat. “Ya,” jawab beliau. Kebetulan kepala Polisi di situ orang baik dan berkata, “Boleh dibebaskan dan pergilah, tapi uang denda yang diminta harus didermakan kepada Masjid.” Setibanya di Masjid beliau langsung membayarkan $85, uang denda itu sebagai canda (derma).

Ketika Masjid di Seattle dibangun beliau penyumbang dana terbesar untuk pembangunan Mesjid itu pada tahun 1970. Dikatakan bahwa besar sumbangan beliau itu sama dengan harga sebuah mobil baru pada waktu itu. Beliau sangat gemar bertabligh. Kemanapun pergi selalu membawa banyak literatur beserta sebuah meja lipat, kemudian kemanapun pergi beliau memasang meja itu dan menggelar tabligh di sana. Beliau sangat mencintai Jemaat dan selalu berpikir tentang bagaimana untuk memajukan Jemaat. Semoga Allah Ta’ala meninggikan kedudukan beliau dan menjadikan anak-anak beliau selalu menjalin hubungan erat dengan Jemaat. [aamiin] Alihbahasa Hasan Basri

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Al-Badr, jilid 1 nomor 7, 12-12-1902, halaman 52, kalam 1

[3] Malfuzhat, jilid 4, halaman 257

[4] Shahih al-Bukhari, Kitab fadhail al-Qur’an, bab kaana Jibrail ya’rudhul Qur’aana ‘alan nabiyyi saw.

[5] Barahin-e-Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in, Jld 1, hal. 223-227

[6] Malfuuzhaat, Jilid II, hal. 26-27, terbitan tahun 2003, edisi Rabwah.

[7] Malfuuzhaat, Jilid I, hal. 386, terbitan tahun 2003, edisi Rabwah.

[8] Malfuuzhaat, Jilid V, hal. 102, terbitan tahun 2003, edisi Rabwah.

[9] Malfuuzhaat, Jilid V, hal.102, terbitan tahun 2003, edisi Rabwah.

[10] Tiga Pertanyaan Sirajuddin Kristiani dan Jawabannya, Ruhani Khazain IV, h. 447

[11] Surma Chashm Ariya, Ruhani Khazain, Jld. 2, pp. 77-79.

[12] Surma Chashm Ariya, Ruhani Khazain, Jld. 2, hal. 79

[13] (Kishti Nuh, Ruhani Khaza’in, Jld. 19, Hal. 26-27)

[14] Barahin-e-Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in, Vol. 1 pp. 266-267, footnote 11

[15] Riwayat Anas bin Malik dalam ‘Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali ditemukan hadits dengan teks berikut, “رب تال للقرآن والقرآن يلعنه”. ’rubba taala lil qur’aani wal qur’anu yal’anuhu’. Riwayat hadits lain, “رُبَّ قارئ للقرآن والقرآن يلعنه” ’rubba qaari-in lil qur’aani wal qur’anu yal’anuhu’ terjemahan sama, Red.

[16] Malfuuzhaat jilid pancjam (V) halaman 157, edisi 2003, cetakan Rabwah.

[17] Malfuuzhaat, jilid I, h. 428-429, edisi 1984, terbitan London

[18] Sunan Abi Daud, Kitab Shalat, bab istihbab at-tartil fil qiraa’ah, 1468. Dari al-Barra bin Azib, Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ” زينوا القرآن بأصواتكم ” ‘Zayyinul Qur’aana bi-ashwaatikum!’ – “Hiasilah al-Qu’ran dengan suara-suara indah kalian!”

Dari Basyir bin Abdul Mundzir radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi saw bersabda, ” ليس منا من لم يتغن بالقرآن ” ‘laisa minna man lam yataghanna bil qur’aani’ – “Mereka yang tidak memperindahkan suara ketika membaca al-Qur’an bukan dari kalangan kami (tidak memiliki hubungan dengan kami, Nabi Muhammad saw).” Maka ditanyakan kepada Abi Mulaikah (perawi, pencerita hadits), “Wahai Abu Muhammad, tahukah engkau, bagaimana sekiranya seseorang itu suaranya tidak bagus?” Beliau menjawab, “Dia perlu berusaha memperbaiki suaranya sedaya-upaya.”

[19] Malfuuzhaat jilid awwal (I) halaman 428-429, edisi 1984, cetakan London

[20] Surma Chashm Ariya, Ruhani Khazain, Vol. 2, p. 283

[21] Malfuuzhaat, jilid III, h. 519, edisi 1984, terbitan London

[22] Barahin-e-Ahmadiyya, Ruhani Khaza’in, Jilid I, h. 101-102, cat. kaki 9

[23] Malfuuzhaat, jilid IV, h. 140-141, edisi 1984, terbitan London

[24] Malfuuzhaat, jilid 8, h. 116-117, edisi 1984, terbitan London.

[25] Kishti Nuh, Ruhani Khaza’in, Vol. 19, p. 13