Ramadhan, Puasa dalam Semua Agama

Khutbah Jumaah Hazrat Mirza Tahir Ahmad

tanggal 16-11-2001

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا كُتِبَ عَلَيكُمُ الصِّيامُ كَما كُتِبَ عَلَى الَّذينَ مِن قَبلِكُم لَعَلَّكُم تَتَّقونَ – أَيّامًا مَعدوداتٍ ۚ فَمَن كانَ مِنكُم مَريضًا أَو عَلىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِن أَيّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذينَ يُطيقونَهُ فِديَةٌ طَعامُ مِسكينٍ ۖ فَمَن تَطَوَّعَ خَيرًا فَهُوَ خَيرٌ لَهُ ۚ وَأَن تَصوموا خَيرٌ لَكُم ۖ إِن كُنتُم تَعلَمونَ

 

“Hai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa. Bilangan beberapa hari yang telah ditentukan,maka siapapun diantara kalian yang sakit atau dalam perjalanan maka hendaknya menyempurnakan puasanya pada hari-hari lain sebanyak itu; dan mereka yang mempunyai kekuatan atas mereka fidiyah, memberikan makan kepada orang  miskin. Jadi, siapa yang melakukan  kebaikan tambahan/nafal maka sangat baik untuknya.. Dan kamu berpuasa  lebih baik baagimu jika kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah 184-185)

Adapun pengumuman yang ada di dalam ayat ini bahwa “orang-orang yang berlalu sebelum kamu kepada merekapun puasa diwajibkan”. Ini hanya merupakan pengumuman Al-Quran dan selain ini di  kitab dunia manapun tidak ada disebutkan pengumuman semacam ini. Puasa  merupakan satu hal penting  di setiap kaum yang di lakukan  dalam satu dan lain cara. Dan (kitab-kitab) lain  tidak pernah berbicara mengenai mazhab  lain bahwa di agama  fulan  ada puasa. Jadi satu bukti besar  universilnya Al-Quran cukup hanya terdapat dalam hal  bahwa Al-Quran telah menyebut hal/perkara setiap mazhab yang lain dan berkenaan dengan orang-orang setiap agama berfirman bahwa di sana ada satu dan lain cara untuk berpuasa. Kini  orang-orang Hindu meskipun dianggap musyrik namun permulaannya  mulai dari tauhid, pada mereka pun  ada satu corak berpuasa. Orang-orang Budha dikatakan sebagai orang-orang yang mengingkari Tuhan, namun pada  merekapun  ada satu corak puasa. Satu pun agama di dunia ini tidak ada yang  tidak didapatkan satu corak lain puasa. Jadi, ini  merupakan kebaikan agung Al-Quran sebagai kalam Ilahi yang mana  ini pasti merupakan kitab universil dan tidak pernah kitab agama  lain   menyebut sampai puasa-puasa  dll.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Allah berfirman bahwa semua pekerjaan manusia adalah untuknya namun puasa  untuk Saya dan Saya sendiri akan menjadi ganjarannya. Allah berfirman bahwa puasa adalah prisai. Maka diantara kalian siapa yang tengah  berpuasa maka jangan berbicara yang sia-sia,  jangan buat keributan/berteriak-teriak dan jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar  maka hendaknya dia mengatakan bahwa saya  berpuasa”.

 Sebagai orang yang berpuasa sekalipun jika  mengucapkan  yang sia-sia maka itu hanya  lapar selain itu tidak ada apa-apa. Jadi, pada hakekatnya di dalam puasa  sangat perlu kehati-hatian untuk selalu mengontrol lidah/ucapan masing-masing.Jangan menampakkan kemarahan dan  jika ada yang mau bertengkar  maka katakanlah, saya tengah berpuasa, saya tidak siap untuk bertengkar.

Beliau bersabda:

Demi Zat yang di tangan-Nya berada jiwa Muhammad (saw) bau mulut orang yang berpuasa disisi Tuhan  lebih harum dari harumya kasturi.Untuk orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan yang darinya dia berbahagia. Pertama, ketika dia berbuka puasa maka dia  bahagia dan kedua, ketika dia akan berjumpa dengan Tuhannya maka dia akan bahagia karena puasanya”.

Kini, disini hendaknya diingat bahwa pada hakekatnya tidak hanya bau harum  seperti itu yang tercium oleh Tuhan bahkan setiap corak bau harum Allah  cium. Tapi, yang  bersabda bersbda bahwa bau harum mulut orang yang berpuasa  lebih harum dari kasturi, ini adalah hal yang membesarkan hati orang Islam yang berpuasa. Di mulut mereka sendiri mungkin ada bau dan mungkin mereka sendiri bimbang , maka untuk membahagiakan mereka, untuk menyenangkan hati mereka Allah berfirman bahwa Allah menyenangi bau mulut kamu.Yang dari ini semangat orang mu’min menjadi bertambah.

Dan diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda :

Puasa adalah perisai dan benteng kokoh untuk melindungi dari api neraka.

Diriwayatkan dari Hadhrat Sahal r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Di surga ada sebuah pintu yang disebut Rayyan.”

Nah, inipun merupakan perumpamaan, yang  kalau tidak pada hakekatnya di surga tidak ada pintu. Akan tetapi secara perumpamaan orang-orang diberikan pengertian bahwa di surga ada sebuah jalan yang hanya khas untuk orang-orang yang berpuasa dan Allah hanya akan memasukkan orang-orang yang berpuasa dari jalan itu. Pada hari kiamat orang-orang yang berpusa akan masuk dari itu dan selain mereka tidak akan ada yang masuk dari jalan itu. Dan akan ditanyakan bahwa orang yang berpusa dimana?  Maka mereka akan berdiri, selain mereka tidak ada yang bisa masuk dari itu dan ketika mereka  masuk maka pintu akan ditutup maka tidak akan ada yang bisa masuk ke dalam surga dari itu. Dan hanya Allah yang lebih mengetahui bahwa orang yang berpuasa dari penganut agama lain  bagaimana kondisi mereka. Untuk mereka di dalam Al-Quran inilah syarat bahwa jika mereka beriman pada hari akherat dan mereka yakin akan perhitungan amal maka untuk mereka  pintu surga terbuka. Jadi, saya yakin bahwa puasa mereka pun akan dinyatakan diterima disisi-Nya.

Hadhrat Abu Amamah r.a.meriwayatkan bahwa beliau bertanya  “yaa Rasulullah, saw. beritahukanlah satu perkara  pada saya yang akan memasukkan saya ke surga. Beliau bersabda: Untuk kamu adalah  puasa. Jadi puasa  tidak ada gantinya. Atau bersabda: Tidak ada sesuatu serupa itu.”

Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Segala sesuatu ada zakatnya dan zakat badan  adalah puasa”.

Nah disini terdapat hikmah  besar yang diterangkan bahwa di dalam segala sesuatu terdapat zakat yang harus diberikan, maka badan juga hendaknya ada zakatnya. Manusia demi untuk Tuhan menahan diri dari barang-barang  yang  dilarang oleh-Nya  dan  menggunakan barang-barang  yang Dia izinkan. Maka dalam corak seperti ini seolah-olah dari jisim memperoleh zakat.

Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Betapa banyak orang  berpuasa yang  hanya mendapaat haus dari puasa dan betapa banyak orang yang bangun shalat   di malam hari yang hanya meraih jaga/bangun  dan maksud  hakiki  puasa dan shalat tengah  malam  dia tidak sempurnakan.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang berdusta dan tidak menghindar dari mengamalkan yang dusta Allah tidak memerlukan lapar dan dahaganya.”

Coba perhatikan dewasa ini, bagaimana kondisi para ulama-ulama Islam,  betapa banyak mereka berdusta,  mungkin tidak ada yang bisa menandingi mereka dalam hal dusta dan sungguh tidak akan bisa menadingi. Dan meskipun demikian mereka orang-orang yang berpuasa. Sangat mengherankan. Padahal Rasulullah saw. telah menasihatkan bahwa jika kamu berdusta maka puasa kamu tidak ada faedahnya.

Hadhrat Khalifatul Masih 1 menulis:

Ajaran agung  bulan suci Ramadhan  adalah bagaimanapun mendesaknya  keperluan, namun orang yang beriman pada Tuhan, demi untuk keridhaan Tuhan dia siap  mengurbankan hasil kerja kerasnya  diatas semuanya dan dia tidak menghiraukan itu.  Al-Quran sendiri mengisyarahkan pada hakekat dan  filsafat puasa  dan berfirman; yaa ayyuhalladziyna amanuw kutiba ‘alaikushshiyaamu kama kutiba alalladziyna min qablikum la a’llakum tattaquwn– Puasa untuk kamu adalah supaya kamu menjadi terbiasa mempelajari ketakwaan. Seorang yang berpuasa demi untuk Tuhan dia meninggalkan untuk suatu waktu semua benda-benda yang  syariat telah nyatakan halal dan telah izinkan untuk memakannya hanya karena kini tidak ada izin Majikan. Jadi,  bagaimana mungkin  orang itu juga  akan berusaha meraih benda-benda  yang syariat mutlak  tidak mengizinkan, dan mereka mulai meminum, memakan yang haram dan memenuhi keinginan hawa nafsunya dalam kejahatan dan dosa?

Dan ini merupakan hal nyata bahwa orang-orang bagaimanapun  memenuhi bulan suci ramadhan seperti tegukan minuman yang pahit dan kemudian kembali lari ke arah keburukan itu yang mana ramadhan telah memberikan pendidikan untuk tidak mengerjakannya.

Hadhrat Khalifatul Masih 1 selanjutnya menulis:

Sesudah semuanya jalan takwa itu  namanya adalah puasa, yang di dalam itu  manusia memenuhi keperkluan-keperluan peribadi dan berbagai keperluan lainnya demi untuk Tuhan untuk waktu tertentu manusia tinggalkan.Coba perhatikan, apabila  benda penting sampai  waktu tertentu manusia tinggalkan maka bagaiamana akan menggunakan sesuatu yang tidak perlu.Maksud dan tujuan puasa adalah didalam benda-benda yang tidak penting jangan menjadikan Tuhan marah.Oleh karena itu berfirman: la’allakum tattaquwn-supaya kamu bertakwa..

Ada satu lagi catatan Hadhrat Khalifatul Masih 1 tentang ‘Fidyatun tha’aamu miskiyn – Hendaknya dia memberikan makan kepada seorang miskin sebagai sedekah. Ini isyarah kepada sedekah fithir. Oleh karena itu, terbukti dari tha’aamun bahwa setiap orang yang berpuasa sebelum shalat Id memberikan sedekah makanan untuk seoorang miskin. Dan kesenangan pribadi saya  yang sesuai dengan jejak para ulama rabbani  adalah bahwa berpuasa sendiri dan makanan atau rotinya sendiri diberikan makan kepada seorang yang miskin.- Dan ini tentu tidak mungkin untuk setiap orang .Namun di dalam bulan Ramadhan sebelum shalat Id ada kebiasaan memberikan sedekah fithr dan ini adalah penting. Jadi, kali ini pun kalian sebelum ramadhan berakhir Imam Sahib akan mengumumkan berapa banyak zakat fitrah yang ditetapkan. Itu sesuai dengan zakat fitrah  untuk setiap orang adalah fardhu/wajib bahwa sebelum bulan suci Ramadhan berakhir harus membayarnya, supaya bisa diteruskan kepada orang-orang  miskin.

Kemudian bersabda:

Orang yang tidak mempunyai kemampuan maka bayarlah Fidyah. Di dalam –Fidyatu tho’aamu miskiyn- (Fidiah makanan pada orang miskin), sesuai  undang-undang bahasa Arab, ini juga bisa dengan terjemahan  alladziyna yuthiyquwnahu-  Yang mempunyai kekuatan, mereka yang memberikan fidyah. Dan inipun terbukti dari bahasa Arab bahwa kata yuthiyquwna digunakan juga dalam arti nafi-tidak (negatif). Orang-orang yang tidak mempunyai kekuatan. Jadi, untuk orang-orang yang wajib berpuasa  dan tidak mempunyai kekuatan yang tetap/stabil, mereka bahasannya  ada disebutkan bahwa merekapun  harus memberikan fidyah itu akan menjadi ganti puasa mereka.

Ada satu hal yang di dapatkan dari catatan Hadhrat Khalifatul Masih 1 adalah bahwa jika pada hari-hari biydh jika tidak bisa berpuasa maka pada hari itu hendaknya memberi makan pada orang  miskin. Maksudnya pernah ada  kebiasaan Rasulullah saw. bahwa pada tanggal 13-14-15 beliau  biasa berpuasa. Maka itu disebut hari-hari biydh, yakni tatkala waktu bulan terang. Jadi, orang yang tidak mendapatkan taufik  sedemikian rupa dengan kerja keras  bisa melakukan puasa  mereka hendaknya  di bulan Ramadhan itulah hendaknya  bersikap dermawan. Merupakan tradisi Rasulullah saw. bahwa di bulan Ramadhan sedemikin rupa beliau bersedekah ibarat badai  yang tambah  menjadi lebih cepat lagi (sudah cepat tambah lebih cepat lagi) dan tidak terhitung sedekah yang beliau lakukan.

Ada lagi catatan Hadhrat Khalifatul Masih 1:

Pada bulan Ramadhan memperbanyak doa, Dares Al-Quran dan  bangun beribadah di malam hari harus hendaknya diperhatikan”. Dan di tempat kita disini juga ada Dares Al-Quran dan pada setiap sabtu dan minggu akan terus ada juga giliran saya dan di waktu-waktu yang lain ulama-ulama yang lain yang  akan menyampaikan. Jadi berdoalah semoga Allah menganugerahi taufik kepada kita semua.

Kemudian beliau melanjutkan:

‘Man shaama ramadhaana iimaanan wa ihtisaaban gufira lahuw maa taqaddama min dzanbihi. Disini apa yang disebutkan bahwa dosa yang sebelum ramadhan juga menjadi dimaafkan, maka bersama itu Rasulullah saw. meletakkan satu syarat yaitu iimaanan wa ihtisaaban– Dia pada hakekatnya harus beriman juga pada ramadhan dan kemudian dia demi untuk ihtisaab/memawas diri dia berpuasa bahwa saya supaya bisa menghisab/mengintrospeksi diri saya, maka semua dosa sebelumnya menjadi dimaafkan.

Nah, sangat sayang sekali  orang mengatakan bahwa di dalam bulan ramadhan pengeluaran menjadi bertambah. Padahal hal ini adalah tidak benar. Pada dasarnya  orang-orang itu  tidak mengerti hakekat puasa. Pada waktu  sahur sedemian rupa mereka makan kenyang sehingga sampai siang terus menerus keluar pertanda rusaknya pencernaan dan belum sampai pada waktu makanan dapat hancur dengan baik di dalam perut maka pada waktu berbuka puasa dengan menyuruh menyiapkan makanan-makanan yang lezat,  mereka sedemikian rupa  memenuhi perut sekenyang-kenyangnya sehingga  seperti hewan-hewan buas yang diserang  oleh rasa kantuk dan malas. Sama sekali tidak terfikir bahwa puasa adalah perjuangan/penempaan  jiwa. Bukannya sebaliknya membelanjakan dengan sebanyak-banyaknya dan makan dengan sekenyang-kenyangnya. Ingatlah, bahwa di dalam bulan inilah Al-Quran diturunkan dan Al-Quran merupakan petunjuk dan nur untuk orang-orang. sesuai dengan petunjuk inilah hendaknya orang-orang beramal. Dengan puasa manusia terbebas dari kesibukan dan dan mendapat jalan untuk istirahat dari pekerjaan dunia. Istirahat/ketenangan diraih adalah  setelah mati atau setelah menghindari keburukan Oleh karena itu dengan puasa diperoleh ketenteraman dan dari itu manusia bisa meraih kedekatan.”

          Disini secara sepintas saya menasehatkan bahwa ada satu tradisi bahwa sebagian orang demi untuk meraih ganjaran sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: Memberi orang berbuka puasa merupakan pahala, yang sesuai dengan itu disini diadakan undangan. Namun sangat perlu berhati-hati agar itu menjadi  sederhana. Menyiapkan undangan dengan  sangat menyusahkan  bukanlah maksud Rasulullah saw. dan tidak pula dari segi keuangan boleh menanggung  pengeluarkan yang sedemikian banyak. Tanggunglah buka puasa orang orang, siapkan dengan sederhana, supaya dapat meraih pahala memberikan berbuka pada orang-orang, namun jangan mendapat dosa membesarkan perutnya.

          Hadhrat Khalifatul Masih 1 menerangkan pokok bahasan  bahwa orang yang tidak kuat berpuasa Allah memberikan kekuatan kepadanya melakukan puasa bulan Ramadhan. Jadi, dengan puasa meraih kekuatan berpuasa.

           Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:

Ini adalah hari mubarak dan mubarik, yakni hari yang memperoleh berkah sendiri dari Allah/ diberkati  dan  hari yang menyampaikan  berkah-berkah seterusnya pada orang-orang. Hendaknya merupakan kewajiban manusia bahwa sesuai kemampuan melaksanakan kewajiban Tuhan . Berkenaan dengan puasa Tuhan berfirman wa antashuwmuw khairun lakum – Yakni, jika kamu berpuasa(nafal) maka untuk kamu merupakan kebaikan. Kini,  antashumuw khairun lakum , di satu pihak kutiba Dia firmankan. Jadi kalau demikian  apa maksud  khairun lakum. Maka maksudnya kurang lebih adalah puasa nafal. Bahwa jika kamu melakukan puasa nafal juga maka ini untuk kamu akan  lebih baik. Dan jika kamu  berpuasa maka untuk kamu merupakan  kebaikan  besar.

           Kini beberapa hadis-hadis berkenaan dengan masaalah-masaalah puasa.

Hadhrat Anas r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Makan sahurlah, di dalam makan sahur terdapat  berkah”.

Jadi, di dalam keluaga kita ada trsadisi bahwa anak-anak juga dibangunkan untuk makan sahur dan mereka diikutkan, dengan cara itu mereka akan menjadi biasa untuk  bangun waktu subuh dan di dalam sahur juga  dari segi ini sangat beberkah.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Pada waktu seseorang dari kamu mendengar azan dan mangkuk/piring  di tangannya maka janganlah meletakkan itu sehingga dia memenuhi keperluannya”.

Maksudnya adalah bahwa jika pada waktu azan  orang tengah makan, maka dengan anggapan bahwa saya  akan menjadi syirik jika tidak sampai di shalat, ini  tidak benar. Seorang yang mungkin lapar jika dia tidak menghilangkan  laparnya maka di dalam shalat juga laparlah yang akan mengganggunya. Oleh karena itu sebaiknya  makan yang telah dia mulai itu teruskan.

Ada juga sunnah Rasulullah saw. bahwa ketika tengah makan sahur dan telah datang waktu azan maka kadang-kadang makanan beliau pegang di tangan, lalu sambil jalan beliau makan. Oleh karena itu,  kesimpulan yang kita ambil ini sepenuhnya adalah benar bahwa makan sambil berdiripun boleh. Sebagian ulama  dalam hal ini mereka berlaku keras bahwa sama sekali jangan makan sambil berdiri. Namun, Rasulullah saw. lah yang memulai cara/ syareat ini, oleh karena itu sunnah beliau bagaimanapun  juga itu yang mengatur  kita. Bahwa jika terpaksa untuk makan sambil beradiri maka tidak ada salahnya. Oleh karena itu di dalam undangan-undangan kita ini merupakan teradisi bahwa banyak orang-orang yang tidak bisa disiapkan kursi-kursi untuk mereka ada persiapan untuk makan sambil berdiri.

Selanjutnya terkait orang berpuasa yang makan karena lupa, terkait hal itu Hadhrat Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Jika ada yang makan dan minum karena lupa dalam kondisi puasa, maka sempurnakanlah puasanya, karena Allah-lah yang memeberikan makan dan minum padanya.

Yakni, yang lupa, bukan membatalkan, namun karena lupa orang-orang makan. Ini adalah merupakan undangan makan dari Tuhan. Jadi menganggap bahwa karena makan saya ini, puasa saya menjadi batal, puasa itu hendaknya jangan ditinggalkan sempurnakanlah itu karena disisi Tuhan puasa itu menjadi sempurna. Sebagian orang menganggap bahwa jika ketika tengah makan ada yang melihat maka puasa menjadi batal. Maka satukali ada seorang anak perempuan yang sembunyi  makan Maka  saudaranya  melihat. Maka setelah melihat dia berkata: O…! sayang sekali,kamu ini telah membatalkan puasa saya”. Padahal  yang melihat adalah Tuhan. Orang yang membatalkan puasa itu jangan membatalkan puasa dengan sengaja. Jadi kalau makan karena lupa maka sama sekali bukanlah.

           Diriwayatkan dari Hadhrat Sahal r.a. meriwayatkan:

Orang-orang akan tetap dalam kebaikan selama mereka bersegera dalam melakukan berbuka puasa”

Inipun merupakan nasehat khusus. Pada umumnya ada tradisi orang-orang Syiah bahwa mereka sangat telat dalam berbuka dan itu mereka anggap kebaikan. Namun apabila dari Tuhan ada izin dan waktu berbuka telah tiba maka Rasulullah saw. selalu melakukan dengan cepat. Sedikitpun beliau tidak melambatkan Jadi inipun merupakan keredaan  Tuhan bahwa apabila diperoleh izin dari Tuhan maka dengan senang hati dengan segera terimalah, ini merupakan hadiah dari Tuhan. Oleh karena itu seperti orang-orang Syiah melambatkan berbuka puasa dalam bulan puasa tidak benar. Pada waktu tiba untuk berbuka,  pada waktu itu juga hendaknya berbuka puasa. Akan tetapi kadangkala dengan tidak disengaja awan menjadi penghalang dan tidak bisa diketahui dan sesudahnya matahari nampak. Maka berkenaan dengan waktu itu ada masaalah bahwa pada hakekatnya puasanya tidak batal. Mereka sesuai dengan petunjuk Rasul dia telah berbuka cepat, yang saya telah sebutkan. Oleh karena itu, puasanya sama sekali tidak batal. Apabila matahari kelihatan maka pada waktu itu berhentilah dan apabila telah datang waktu berbuka maka mulailah kembali makan.

          Diriwayatkan juga dari Hadrat Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah berfirman, hamba Saya yang cepat dalam berbuka puasa adalah yang paling dicintai”.Diriwayatkan dari Hadhrat Jabir r.a. bahwa Rasulullah saw. ketika dalam beperjalanan beliau melihat keramaian orang-orang  dan beliau melihat ada seorang yang tengah  dinaungi.Beliau bersabda: Apa yang terjadi dengan orang ini ? Orang-orang menjawab bahwa orang ini orang yang berpuasa. Beliau bersabda: Berpuasa dalam perjalanan  bukanlah kabaikan. Ini sama sekali dusta.

           Ini pula amal Hadhrat Masih Mauud a.s. bahwa kadangkala orang-orang sampai ke  Qadian sambil beperjalanan dan tinggal beberapa menit akan azan. Maka Hadhrat Masih Mauud a.s. demi untuk menyambut tamu beliau menyajikan sesuatu .Maka mereka mengatakan kepada Huzur bahwa kami adalah  berpuasa. Beliau bersabda: Di dalam perjalanan tidak ada perintah untuk berpuasa. Jika beberapa menit pun yang tertinggal maka tidak  apa-apa. Kini batalkanlah puasa karena sama sekali bukan puasa. Puasa yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, bagaimana itu menjadi puasa. Jadi, di dalam beperjalanan jangan hendaknya berpuasa.

Kini,timbul suatu masalah, apakah perjalanan  pendek atau panjang atau perjalanan dengan pesawat udara. Ini semuanya adalah perjalanan. Apabila manusia keluar dari rumah dengan niat perjalanan, maka bersama itu pula kesulitan-kesulitan perjalanan bersama itu akan  mulai. Apabila di pesawat juga mesin jalan maka akan mulai jet leg/keram(kesulitan mulai)  Ini merupakan kesalahfahaman bahwa seolah-olah dahulu Tuhan tidak mengetahui bahwa pada zaman yang akan datang (kini)   kapal terbang akan  berjalan dengan cepatnya  dan di dalam itu dalam beberapa jam urusan akan selesai oleh karena itu tidak perlu berpuasa. Masalahnya adalah bahwa (dahulupun apa yang akan terjadi kini) berada dalam pengetahuan Tuhan.  Di dalam Al-Quran ada nubuatan-nubuatan sepenuhnya  dengan jelas bahwa ketika akan ada jalan udara seperti ini dan langit  akan dzaatilhubuk- mempunyai jalur-jalur udara dan di dalam itu kapal/pesawat akan terbang dengan cepatnya. Jadi Allah tidak hanya sekedar mengetahui bahkan nubuatan-Nya ada dalam Al-Quran. Jadi, ini merupakan tuduhan terhadap Rasulullah saw. bahwa seolah-olah beliau memberi petunjuk karena ketidaktahuan. Perjalanan apakah itu pendek atau panjang, merupakan kebiasaan para sahabah r.a. bahwa apabila mereka keluar untuk perjalanan, maka begitu keluar dari batas kota,  perjalanannya menjadi mulai (mulai menjadi musafir) dan ketika mereka kembali tengah masuk  di batas kota  maka disana berhenti sebentar/istirahat – mereka memang tidak berpuasa, namun sedikit ada sesuatu yang mereka makan dan minum  supaya  dengan tenang masuk ke kota dan melakukan puasa.

          Adat orang yang berpuasa sesuai dengan Hadhrat Aisyah r.a. adalah: Adat  terbaik orang yang berpuasa adalah bermiswak.” Jadi bermiswak pagi dan sore atau seperti hal nya cara dewasa ini adalah dengan sikat gigi atau dengan jenis odol manapun membersihkan gigi, ini adalah merupakan sunnah Rasul. Itu hendaknya diamalkan. Begitu juga menggunakan wewangian. Diriwayatkan dari Hadhrat Hasan bin Ali r.a. bahwa menggunakan minyak dan menggunakan wewangian adalah sebagai hadiah untuk orang yang berpuasa.

          Pertanyaan pun orang-orang aneh-aneh yang mereka tanyakan, mereka menanyakan pada Hadhrat Masih Mauud a.s. Apakah untuk orang yang berpuasa boleh tidak  melihat cermin? Ini hal yang jelas bahwa apa salahnya melihat cermin. Beliau bersabda:”Boleh”. Kemudian serupa  itu ada soal lain yang diajukan. Apakah dalam kondisi puasa boleh meminyaki jenggot dan kepala? “Boleh” sabda beliau. Dewasa ini memang tidak ada tradisi meminyaki janggut, namun pada zaman lalu orang-orang meminyaki  janggut. Ada pertanyaan: Apakah boleh bagi orang yang berpuasa memakai wangi-wangian atau tidak? Boleh, sabda beliau. Pertanyaan: Apakah boleh mencelak mata atau tidak? Beliau bersabda: ”Makruh, dan apa perlunya  di siang hari memakai celak mata. Pada malam hari boleh memakai celak”. Pertanyaan-pertanyaan juga perhatikan, bagaimana mengherankan dan orang-orang yang senang memakai celak, mereka juga tidak mengetahui bahwa kalau laki-laki yang pakai celak, mata tidak nampak bagus kelihatannya.. Namun pada zaman lalu ada kebiasaan mencelak mata tebal celaknya.

          Kini  surah Al-Baqarah ayat 186:

شَهرُ رَمَضانَ الَّذي أُنزِلَ فيهِ القُرآنُ هُدًى لِلنّاسِ وَبَيِّناتٍ مِنَ الهُدىٰ وَالفُرقانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهرَ فَليَصُمهُ ۖ وَمَن كانَ مَريضًا أَو عَلىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِن أَيّامٍ أُخَرَ ۗ يُريدُ اللَّهُ بِكُمُ اليُسرَ وَلا يُريدُ بِكُمُ العُسرَ وَلِتُكمِلُوا العِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلىٰ ما هَداكُم وَلَعَلَّكُم تَشكُرونَ

Bulan Ramadhan ialah bulan yang di dalamnya  Al-Quran  diturunkan sebagai petunjuk yang agung bagi ummat manusia. Dan satu terjemahnya adalah – dan itupun benar juga – unzila fiyhilquraanu – Berkenaan dengan Ramadhan Al-Quran diturunkan. Diturunkan juga di dalam bulan Ramadhan dan di dalam ini secara khusus disebutkan mengenai Ramadhan. Sebagai tanda-tanda, yang di dalamnya  perincian petunjuk-petunjuk dan perkara-perkara yang membedakan antara yanag hak dan yang batil. Jadi  siapapun diantara kalian yang melihat bulan ini maka berpuasalah di dalamnya Dan mereka yang sakit atau dalam perjalanan maka memenuhi hitungan pada hari-hari yang lain. Kini, disini maksud melihat bulan adalah melihat bulan di bulan Ramadhan. Dan besok-insyaallah Ramadhan akan mulai.

Dewasa ini telah ditemukan hitungan/hisab yang berkenaan dengan bulan dari sebelumnya telah dapat diketahui kapan akan keluar. Jadi, malam  ini – insyaallah- bulan bulan Ramadhan akan keluar. Maka jika dalam perjalanan atau sakit maka memenuhi hitungan pada hari-hari yang lain. Nah, inipun merupakan kemudahan dari Tuhan bahwa di  hari-hari lain tidak mesti bahwa jika puasa-puasa musim panas terlepas secara terpaksa maka untuk yang akan datang hanya di musim panaslah puasa dilakukan. Dia Jadi, sebagai perbandingannya/gantinya di hari-hari yang dinginpun puasa bisa dilakukan. Namun jangan karena alasan yang dibuat-buat. puasanya batal, namun hakekatnya karena suatu keterpaksaan puasanya lepas Sesuai dengan itu, di tempat itu  Allah berfirman:  Untuk kamu Dia menghendaki kemudahan. Allah menghendaki untukmu kemudahan dan Dia tidak menginginkan kesusahan untukmu dan Dia menginginkan supaya dengan kemudahan kamu memenuhi peritungan dan atas asas petunjuk ini sanjunglah kebesaran Tuhan yang memberikan kepada kamu dan supaya kamu bersyukur.

          Dalam sunan An-Nasai ada riwayat Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Ramadhan telah datang kepadamu, itu merupakan  bulan yang beberkah. Allah telah mewajibkan kepada kamu puasanya, yang di dalamnya pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Dan syaitan pembangkang diikat.

Nah, masalah inipun pelu direnungkan bahwa segala jenis keburukan-keburukan yang tengah terjadi di bulan Ramadhan, disana syaitan tidak diikat. Ini adalah untuk orang-orang mu’min. Hanya syaitan hati orang-orang mu’ min yang diikat dan mereka takut mulai dari sandungan yang sekecil-kecilnya. Jadi, syaitan-syaitan dan syaitan syaitan dunia  berkeliaran dengan bebas mereka itu tidak dirantai.

          Rasulullah saw. bersabda: Adapun kebaikan malam bulan Ramadhan, siapa  orang yang dimahrumkan dari itu maka dia dimahrumkan dari setiap kebaikan.

           Hadhrat Abdurrahman bin Auf r.a.meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. dalam menyebut bulan Ramadhan bersabda, dan beliau menyatakan itu yang terafdhal dari semua bulan-bulan dan bersabda:

Orang yang dalam kondisi iman dengan niat pahala dan sambil  mengintrospeksi dirinya dia  beribadah maka dia akan bersih dari dosa-dosanya sebagaimana pada hari ketika ibunya melahirkannya.

          Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bulan kamu untuk kamu sebagai naungan/penolong untuk orang mu’min tidak ada bulan berlalu yang lebih baik dari ini  dan untuk orang munafik tidak ada bulan lewat yang lebih buruk dari ini.

Jadi, untuk orang yang beriman Ramadhan sebagai naungan/pelindung meskipun  dari terik panas manusia kondisinya sangat buruk, namun  di atasnya Ramadhan merupakan naungan rahmat. Dan untuk orang munafik merupakan musibah yang besar,.dengan susah payah mereka melewaati hari-hari, bahwa kalau ramadhan lewat/berlalu  kami pun akan mendapat kebebasan apa yang bisa kami inginkan bisa kami  lakukan.

          Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal hadhrat Abu Hurairah menerangkan  bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Merugilah  orang yang nama  saya disebutklan dihadapannya, namun dia tidak mengirimkan shalawat kepada saya. Merugilah orang yang  Ramadhan datang dan berlalu, sebelum dosanya dimaafkan. Merugilah orang  yang ibu bapaknya yang tua tinggal bersamanya,dan keduanya tidak bisa memasukkannya ke dalam surga.

          Di dalam Sunan Addarmi Hadhrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Jika dari puasa  bulan Ramdahan satu puasa pun dia  tinggalkan  tanpa kerterpaksan yang benar, meskipun orang itu sepanjang umur terus melakukan puasa maka sepanjang umur dia melakukan puasapun, kaffarahnya tidak bisa dia bayar”. Jadi, tanpa penyakit dengan sengaja melakukan puasa. Dewasa ini dianggap bahwa jika puasa tertinggal meskipun berbulan-bulan ditinggalkan maka bisa di lakukan qadha untuk itu dan puasa bisa dilakukan secara terus menerus. Ini sama sekali salah. Puasa yang ditinggalkan dengan sengaja itu artinya sudah pergi/hilang, itu obatnya beristigfar dan untuk yang akan datang jangankan meninggalkan puasa dengan sengaja.

          Ini sebuah refrensi Hadhrat Khalifatul Masih 1:

“Syahru ramadhan alladziy unzila fiyhil qu’aan – Merupakan cara Al-Quran bahwa pertama mengajarakan karunia-karunia  umum, baru mengenai karunia-karunia khas Begitu juga pertama keburukan-keburukan  umum yang diperingatkan untuk dihindari kemudian  keburukan-keburukan yang paling berat. Pertama  perintah hal yang umum kemudian yang khusus. Misalnya, pertama disebutkan mengenai  umrah kemudian  haji. Pertama mengenai sedekah kemudian baru  zakat. Begitu juga disini pertama mengenai puasa nafal dan kemudian memerintahkan mengenai puasa Ramadhan. Pertama meneranangkan kelebihan-kelebihan Ramadhan bahwa di dalamnya diturunkan Al-Quran. Karena acuan Al-Quran bisa mengena pada juz dan surah juga, oleh karena itu bukanlah maksudnya bahwa semua Al-Quran turun pada bulan Ramadhan. Dalam bulan Ramadhan Al-Quran mulai turun. Al-Quran turun selama 23 tahun. Oleh karena itu point ini hendaknya diingat bahwa pada waktu itu adalah bulan Ramadhan ketika Al-Quran mulai turun. Jadi, bukanlah maksudnya bahwa semua Al-Quran turun pada bulan Ramdhan. Bahkan turunnya hanya satu juz/bagian Al-Quran juga sudah cukup. Saya yang telah meniliti dari itu dapat dimaklumi bahwa Rasulullah saw. pada hari –hari beliau di gua Hira beribadah hari itu adalah bulan Ramadhan dan disitulah bagian pertama surah turun.

          Hadhrat Khalifatul Masih 1 r.a. bersabda:

Al-Furqan dari  Al-Quran artinya yang saya ketahui  adalah bahwa Al-Furqan adalah nama  kemenangan yang sesudahnya  musuh menjadi putus asa dan ini adalah hari Badar dan Perang Badar pun terjadi pada bulan Ramadhan. Walhasil, Ramadhan yang diberkati apakah dari segi kemengan dunia ataukah dari segi awal turunnya Al-Quran.atau penegasan Al-Quran dari segala segi layak  dihormati.

          Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:

Jika Tuhan menghendaki maka seperti ummat-ummat yang lain di dalam ummat ini tidak menetapkan batasan. Namun batasan-batasan itu Dia tetapkan untuk kebaikan. Menurut saya merupakan kenyataan bahwa apabila manusia dengan tulus dan keikhlasan yang sempurna memohon di hadapan Tuhan bahwa di dalam bulan ini janganlah mahrumkan  saya maka Tuhan tidak akan memahrumkannya/menjauhkannya dan dalam  kondisi seperti itu jika manusia menjadi sakit di dalam  bulan Ramadhan  maka penyakit  untuknya  merupakan rahmat. Karena setiap amal bergantung pada niat. Orang mu’min hendaknya  dengan wujudnya sendiri buktikanlah diri kalian sendiri di jalan Tuhan  sebagai orang yang pemberani. Orang yang mahrum dari puasa, namun di dalam hatinya niat ini dengan penuh keperihan bahwa kiranya saya sehat maka saya akan berpuasa dan hatinya merintih untuk hal itu ,maka malaikat akan berpuasa untuknya dengan syarat dia jangan menjadi orang yang membuat-buat  alasan. Tuhan sama sekali tidak akan menjauhkannya dari ganjaran.

Ini adalah merupakan kutipan terakhir Hadhrat Masih Mauud a.s:

Pada dasarnya  mengamalkan izin/kebebasan Al-Quran juga adalah takwa. Allah telah mengizinkan kepada  orang yang beperjalanan dan yang sakit berpuasa di waktu yang lain. Oleh karena itu hendaknya juga mengamalkan perintah ini. Saya telah membaca bahwa kebanyakan orang-orang besar berpandangan bahwa jika ada  yang berpuasa dalam kondisi beperjalanan dan sakit maka ini merupakan ma’siat. Karena tujuan adalah ridha Ilahi bukan dengan keinginannya sendiri, bahkan di dalam keitaatan. Rasulullah saw. dengan tegas bersabda  bahwa kamu tidak bisa menjadikan Tuhan lelah. Kamu berpandangan  bahwa  dengan tampil lebih maju dalam kebaikan kamu bisa menjadikan Tuhan lelah. Jelasnya Tuhan  tidak pernah lelah, kamu sendiri yang akan kalah dan lelah. Oleh karena itu sebaiknya adalah bahwa demi untuk keridhaan Allah seberapa kemudahan-kemudahan  Dia berikan  terimalah itu dengan senang hati dan seberapa kesulitan Dia masukkan  itupun terimalah dengan senang hati. Dan sebaiknya jangan menanggapi/mengomentari sendiri atas hal itu. Dia jelasnya  telah memerintahkan man kaana minkum mariydhan au ‘aala safarin fa’iddatun min ayyamin ukhar-Dia di dalam ini tidak memasukkan batasan lagi bahwa seperti ini perjalanan  atau serupa ini penyakit. Saya pada waktu perjalanan  tidak berpuasa, begitu juga dalam kondisi sakit. Oleh karena itu hari ini juga tabiat saya tidak baik dan saya tidak berpuasa.”

Hadhrat Masih Mauud a.s. melakukan setiap pekerjaan tampa dibuat-buat. Sedikitpun di dalam itu tidak ada pamer. Pada masa  muda  selama 6 bulan beliau terus menerus berpuasa. Dan ketika tidak  puasa,  di suatu majlis  tanpa menghiraukan bahwa ini  bulan Ramadhan, yakni jika mulut beliau kering dan beliau ingin minum maka beliau minum. Pada suatu kesempatan timbul fitnah yang sangat besar dan orang-orang pun pada berteriak bahwa  Hadhrat Masih Mauud a.s.  tidak meyakini puasa/ tidak melakukan ibadah puasa. Padahal ini sama sekali adalah dusta pengada-ada. Di dalam tabiat beliau  tidak ada dibuat-buat dan tidak ada tabiat pamer dan sesuai dengan itu beliau sendiri jelasnya tidak meminta, namun setelah seseorang melihat beliau memerlukan  maka dia menyodorkan cangkir ke depan. Pada waktu itu beliau berfikir bahwa kalau saya kini meolaknya maka ini akan menjadi pamer. Yakni, lihatlah bahwa saya orang yang berpuasa. Maka atas dasar itu, beliau menerimanya. Jadi Allah tidak menyenangi pamer.

Sermoga Allah menganugerahi taufik pada kita bahwa Ramadhan yang beberapa hari yang akan mulai besok, kita dengan bersih dari semua macam riya, dari segenap macam  pertengkerangan dan dari segenap perselisihan  hawa nafsu  dan dari keterangan-keterangan yang salah dan dengan menghindari keterangan-keterangan yang sia-sia kita melewatkan Ramadhan kita. Ada beberapa hari, disini tidak ada keraguan dalam hal ini. Apabila satu kali sudah mulai maka kemudian akan  jalan seperti gasing dan tiba-tiba saja akan usai. Berdoalah semoga Allah menganugerahi  kita taufik untuk melakukan puasa yang benar.

 Qamaruddin Syahid