Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

Khalifatul Masih al-Khaamis Ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 2 Aman 1391 HS/Maret 2012

Di Mesji Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Pada hari ini saya akan membicarakan lagi mengenai kisah-kisah para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as yang berkaitan dengan semangat dan keberanian beliau-beliau setelah menerima Ahmadiyah. Dan dapat diketahui betapa semangat beliau-beliau itu berjuang untuk memahami agama dan memahami Alquranul Karim. Sekali telah memahami dan telah menerima kebenaran maka beliau-beliau itu bersabar dan bertahan dalam menghadapi setiap kesulitan dan penganiayaan. Sebuah register berisi nama-nama para Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as telah dipersiapkan dan disusun sedemikian rupa sesuai dengan tajuk masing-masing yang akan saya terangkan di berbagai kesempatan yang berbeda.

Ringkasnya sekarang akan saya terangkan beberapa kisah para Sahabat yang menzahirkan semangat dan keberanian beliau-beliau.

[1] Tuan Mian Abdul Aziz, lebih dikenal dengan Tuan Mughal radhiyallahu ‘anhu, beliau ra pernah menjelaskan, “Saya bersama Mirza Ayub Beg pergi ke rumah Maulwi Abdullah Tunki. Dan Mirza Ayyub Beg Shahib bertanya [kepada Maulwi Abdullah], ‘Mengapa tuan menyebut kami dan pemimpin kami Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai kafir?’ Tuan Maulwi adalah seorang profesor Bahasa Arab di Oriental College dan dia juga menunjukkan sikap benci dan sangat keras dengan fatwa kufurnya. Dalam menjawab pertanyaan Mirza Ayyub Beg Shahib dia berkata, ‘Oleh karena Maulwi Kasuri, Maulwi Muhammad Husain Batalwi, Maulwi Nazir Hussen Dehlwi dan Maulwi Abdul Jabbar Gaznawi telah mengeluarkan fatwa kufur terhadap Tuan Mirza[2] maka saya pun telah menulis demikian.’ Maka diatas jawaban itu Mirza Ayyub Beg Shahib berkata dengan berani sekali, ‘Jika mereka itu semua masuk ke dalam neraka jahannam apakah anda juga akan ikut masuk ke dalam jahannam itu?’ Professor itu berkata, ‘Sebetulnya saya sudah membuat kesalahan, tanpa membaca buku-buku Tuan Mirza saya telah berkata demikian.’ Mendengar alasannya demikian maka kami berdua pergi ke rumah dan membawa berapapun banyaknya buku-buku yang telah ditulis oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dan memberikannya kepada Profesor itu sambil berpesan agar membacanya semua dalam tempo paling lama tiga bulan harus selesai. Setelah tiga bulan kami pergi lagi ke rumahnya. Ia berkata kepada kami, ‘Anda berdua masih kanak-kanak.’ (Waktu itu mereka berdua masih muda, dianggapnya tidak akan dapat memahami apa yang telah ditulis didalam buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as) Mirza Ayyub Beg Shahib berkata, ‘Saya sudah lulus ujian BA. Jika anda mau belajar Bahasa Inggris belajarlah dari saya dan jika saya memerlukan Bahasa Arab saya akan belajar dari anda. Jika menurut pandangan anda kami masih kanak-kanak, tentu seharusnya tidak akan ada tuntutan apa-apa terhadap kanak-kanak. Apakah anda bisa memberi keterangan demikian mengenai kami?’ Lalu, untuk ketiga kalinya kami pergi bersama ayah mertua Khawajah Kamaluddin, Khalifah Rajabuddin Shahib yang sudah senior (tua). Kami membawa beliau untuk menjaga kalau-kalau ia berkata seperti itu lagi kepada kami, ‘Kamu berdua masih kanak-kanak!’ Jika berkata begitu lagi maka kami akan menghadapkan Khalifah Shahib kepadanya. Maulwi Abdullah mulai berkata kepada Khalifah Rajabuddin, ‘Sekarang keadaan sudah baik sekali orang-orang Muslim sudah mulai membuka kedai-kedai makanan, kedai-kedai perabot dan sebagainya.’ (profesor itu mulai berkata demikian untuk menghindar dari pertanyaan kami).” Selanjutnya Mian Abdul Aziz menulis, “Mirza Ayyub Beg Shahib sambil memegang tangan Maulwi Abdullah berkata, ‘Di hari kiamat nanti saya insya Allah akan memegang tangan Maulwi Abdullah seperti ini dan berkata kepada Allah Ta’ala, “Ya Allah, kami sudah tiga kali pergi ke rumah Maulwi ini dan dia tidak mau menjelaskan kepada kami mengapa kami disebut kafir?” Maulwi Abdullah Shahib berkata, ‘Saya tidak akan peduli masalah ini, apapun yang akan terjadi.’ Mirza Ayyub Shahib berkata, ‘Jika anda tidak peduli terhadap Allah Ta’ala juga maka sepanjang umur saya tidak akan mengucapkan assalamu ‘alaikum kepada anda.’ Kemudian kami pergi dari sana. Dan saya sempurnakan perkataan saya itu sampai akhir hayat Maulwi Abdullah saya tidak pernah mengucapkan salam kepadanya.” [3]

Kebiasaan buruk orang-orang yang menamakan diri terpelajar seperti itu berjalan semenjak waktu itu sampai sekarang. Mereka tidak mau membaca buku-buku Jemaat atau mereka hanya membaca sebagian kecil saja dari buku-buku itu kemudian tanpa menggunakan akal mereka mulai mengajukan kritikan dan tuduhan-tuduhan. Bahkan kebanyakan orang Arab juga yang telah menyaksikan kejadian-kejadian terhadap Jemaat Ahmadiyah berkata, “Perhatikanlah para Maulwi di Pakistan telah sepakat menyatakan kafir kepada orang-orang Ahmadiyah maka kami pun menganggap kafir kepada mereka tanpa perlu memeriksa atau menyelidiki lagi.” Demikianlah hal seperti itu telah berjalan semenjak Jemaat Ahmadiyah mulai berdiri dan terus berjalan sampai sekarang.

[2] Suatu kali Hadhrat Munshi Qazi Mahbub Alim Shahib radhiyallahu ‘anhu tidak bersekolah selama beberapa hari. Beliau menjelaskan hal ini, “Empat hari kemudian ketika sudah pergi ke sekolah seorang bernama Mirza Rahmat Ali Shahib dari Daskah yang bekerja di Anjuman Himayati Islam ini memanggil saya dan bertanya kepada saya, ‘Selama empat hari engkau tidak masuk sekolah pergi kemana saja?’ Saya jawab lurus saja kepadanya, ‘Selama itu saya pergi ke Qadian.’ Bertanya lagi, ‘Apakah engkau sudah baiat di sana?’ Saya jawab, ‘Ya saya sudah baiat di sana.’ Beliau berkata lagi, ‘Jangan beritahu siapapun di sini! Saya juga Ahmadi, sudah baiat dan bekerja di sini, namun siapapun tidak ada yang saya kasih tahu agar orang-orang jangan mengganggu saya.’ Namun saya katakan kepada beliau bahwa saya tidak akan sembunyikan kepada siapapun tentang baiat saya ini, apapun yang akan terjadi. Maka ustadz kami tuan Maulwi Zainul Abidin, keponakan tuan Maulwi Ghulam Rasul, beliau  mengajar kami Alqur’an dan Hadis. Saya memberitahukan kepada beliau bahwa saya sudah menjadi Ahmadi. Mendengar hal ini beliau sangat marah kepada saya dan berhari-hari beliau bersikap keras kepada saya sehingga beliau berkata, ‘Siapapun yang percaya kepada tuan Mirza, mereka ingkar kepada semua nabi.’ Dan beliau selalu berkata kepada saya, ‘Bertaubatlah kamu dan batalkanlah baiatmu!’ Namun dengan menggunakan dalil-dalil Alqur’an saya selalu mengadakan mubahasah dengan siapapun tentang wafat dan hidupnya Nabi Isa. Tidak ada yang dapat memberi jawaban. Beliau begitu keras menentang saya sehingga ketika lonceng sudah berbunyi beliau memanggil saya sambil berkata, ‘Hai Mirzai! Berdirilah kamu diatas bangku!’ Atas perintahnya sayapun berdiri diatas bangku dan bertanya, ‘Apa kesalahan saya?’ Dia menjawab, ‘Tidak ada kesalahan kamu selain kamu telah menjadi Mirzai (Ahmadi) dan kamu telah menjadi kafir.’ Setelah berhari-hari lamanya saya menahan kesusahan ini. Akhirnya pada suatu hari saya berpikir untuk melaporkan masalah ini kepada Principal (Kepala Sekolah). Beliau seorang yang baru menjadi Islam bernama Hakim Ali, saya katakan kepada beliau bahwa beberapa orang guru telah memperlakukan saya tidak baik karena saya sudah menjadi Ahmadi. Maka pada suatu hari beliau mengeluarkan sebuah surat surat edaran yang melarang memberi suatu hukuman kepada siapapun disebabkan perbedaan kepercayaan atau agama. Dampaknya, Maulwi Zainal Abidin yang selalu marah kepada saya dan guru-guru yang sependapat dengannya telah berubah tidak bersikap keras lagi kepada saya.” [4]

Kejadian-kejadian seperti itu bukan peristiwa seratus tahun yang sudah lalu, bahkan sekarang juga perlakuan seperti ini sedang terulang lagi di Pakistan. Sekarang juga di sana perlakuan seperti itu sedang berjalan terhadap anak-anak sekolah Ahmadi. Beberapa hari yang lalu seorang pelajar telah mengirim surat kepada saya; dia anak cerdas dan pandai telah lulus dengan hasil yang sangat baik dan mendapat prioritas masuk College. Ketika ia sedang membayar uang pendaftaran di College itu, petugas dan beberapa orang lainnya yang sedang duduk di sana bertanya kepadanya, “Kamu orang Ahmadi atau bukan?” Ia menjawab, “Ya, saya orang Ahmadi.” Petugas itu berkata lagi, “Ambillah lagi uang ini, pendaftaran kamu ditolak, tidak usah datang lagi ke sini, jika memaksa juga nanti kami pukul kaki kamu sampai patah.”

Beberapa hari kemudian diterima lagi sepucuk surat dari seorang anak perempuan. Dia telah lulus dengan hasil yang sangat baik, dia seorang perempuan cerdas dan pandai sekali. Ketika ia mulai mendaftarkan diri di sebuah College diterimanya sebuah formulir yang didalamnya terdapat sebuah pernyataan yang harus dijawab ‘Muslim atau Non Muslim’. Sebelum itu anak-anak kita selalu menulis ‘Ahmadi’ saja dan sekarang option ini sudah dihapus diganti dengan sebuah pernyataan baru, Muslim atau Non Muslim. Anak perempuan itu selanjutnya menulis, “Sekarang jika diisi sebagai ‘Muslim’ maka ia harus menanda tangani sebuah pernyataan lagi yang isinya hanya caci-maki terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as Jika tidak ditanda tangani maka pendaftaran dibatalkan.” Jadi, perlakuan tidak adil dan diskriminasi seperti ini terhadap anak-anak kita yang baik dan cerdas dengan perolehan nilai yang istimewa tengah berlaku sekarang juga. Di sana, di zaman para Sahabat seperti tersebut diatas, principal (kepala sekolah) berlaku adil dan dapat meredam sifat keras para guru waktu itu, akan tetapi sekarang di Pakistan berdasarkan undang-undang negara sedang berjalan perlakuan yang tidak adil terhadap anak-anak sekolah kita dan perlakuan mereka sudah keterlaluan dan melampaui batas. Banyak sekali anak-anak sekolah kita yang terkena imbas perlakuan tidak adil seperti itu. Namun sekalipun sekarang anak-anak muda kita menghadapi kezaliman yang terus berlaku seperti itu, dengan karunia Allah Ta’ala keimanan mereka tetap tangguh bahkan lebih kuat lagi.

[3] Demikian pula Hadhrat Mehr Ghulam Hasan Shahib radhiyallahu ‘anhu menjelaskan tentang peristiwa baiat beliau. “Suatu ketika saya bersama Maulwi Faiz Din sedang duduk-duduk. Kemudian seorang Maulwi bernama Tuan Rahim Bakhs datang kepada kami dan bertanya, ‘Maulwi Ghulam Shahib! Pikiran saya sedang kacau sekali.’ Ketika saya tanya apa sebabnya maka mulailah ia berkata, ‘Hamid Syah seorang manusia yang baik sekali sifatnya seperti Malaikat dan takut akan Tuhan. Orang-orang Hindu ataupun Muslim memuji kebaikannya. Semua memujinya baik Hindu ataupun Muslim. Hari ini dia telah berbuat sebuah kesalahan besar. Dia bertanya terhadap pamannya sendiri bernama Umar Syah, “Pamanda! Apa pendapat paman tentang ibnu Mayam?” Pamannya itu berkata, “Anakku, menurut kepercayaan paman adalah beliau (Nabi Isa ibnu Maryam) itu masih hidup diatas langit. Pada suatu zaman beliau akan turun ke bumi untuk memperbaiki keadaan umat Muhammad saw.” Hamid Syah Shahib berkata, “Pamanda! Mulai sekarang paman tidak bisa menjadi imam saya lagi! Sebab akidah paman ini sudah musyrik, seorang manusia sudah dipercayai sebagai Hayyul Qayyum kebal terhadap kematian. Keduanya, akidah ini sudah menghina sekali kepada Hadhrat Muhammad saw. Beliau saw telah berkubur didalam bumi sedangkan Isa as masih hidup dan duduk diatas beliau di langit.” Umar Syah berkata, “Baiklah anakku! Engkau maju ke depan menjadi imam paman akan berdiri di belakang engkau menjadi ma’mum.” Setelah mendengar semua uraiannya ini saya berkata, ‘Maulwi Rahim Shahib, saya sudah percaya bahwa Al-Masih ibnu Maryam sudah wafat. Jika Al-Masih masih hidup di langit maka akan timbul perbedaan yang sangat besar sekali dalam tauhid. Jangan kira saya ini sudah baiat masuk Ahmadiyah. Sampai sekarang belum menjadi Ahmadi, akan tetapi apa yang dikatakan oleh Tuan Mirza [Ghulam Ahmad] pasti benar. Saya tidak tahan apabila Hadhrat Muhammad saw dihina.’ Maulwi Rahim Bakhsy Shahib menutup mulut saya dengan tangannya. Saya berkata, ‘Tuan Maulwi, mengapa anda menutup mulut saya?’ Tuan Maulwi berkata, ‘Jika akidah anda Al-Masih sudah wafat, apa perlunya anda berbicara tentang itu sangat semangat dan berapi-api sekali?’ (Baiklah, jika anda sudah percaya demikian, diamlah dan duduklah dengan tenang!) Selanjutnya saya berkata, ‘Tuan Maulwi, setelah keluar dari Mesjid pun saya akan umumkan terus-menerus (akan terus saya umumkan kepada orang-orang) bahwa jika mempercayai Isa Ibnu Maryam masih hidup di langit tentu maknanya menghina Hadhrat Muhammad Rasulullah saw. Jiwa saya tidak dapat tahan.’ Ketika bertemu ayah saya langsung saya beri pengertian kepada beliau dan kepada abang saya Ghulam Husain, Amir Jemaat Arifwala (waktu itu keduanya bukan Ahmadi). Setelah saya jelaskan tentang wafat Nabi Isa as keduanya marah dan murka sekali dan memanggil saya mal’uun (yang terlaknat) dan dajjal.” Selanjutnya Mehr Ghulam Hasan Shahib berkata, “Kemudian saya pikir mungkin hari esok para Maulwi akan menyerang saya. Pada waktu malam orang Ahmadi yang kami tahan (cegah) datang ke Mesjid saya panggil melalui pembantu. (Sebetulnya beliau ini belum jadi Ahmadi, akan tetapi beliau menjelaskan pendiriannya).” Mehr Ghulam Hasan Shahib berkata lagi, “Ketika saya menjelaskan pendirian saya itu timbul pikiran bahwa saya sudah menerima cacian dan penghinaan dari ayah dan abang saya sendiri dan sekarang para Maulwi juga akan memusuhi saya, maka saya panggil orang Ahmadi itu yang karenanya telah kami usir dari Masjid. Saya bertanya kepadanya, ‘Apakah Tuan Mirza telah mengemukakan dalil tentang wafat Masih itu atau hanya bicara saja?’ Dia menjawab, ‘Beliau mengemukakan sebanyak 30 ayat Alqur’an sebagai dalil wafat Isa as.’ Saya terperanjat dan sangat heran mendengar jawabannya itu dan bertanya, ‘Kami siang malam membaca Alqur’an tapi kami tidak pernah tahu hal itu, apa sebabnya? Beritahulah satu ayat saja kepada kami.’ Dia membacakan ayat falamma tawaffaytani dengan menjelaskannya panjang lebar kepada saya. Saya bilang kepadanya, ‘Baiklah! Sekarang saya sudah merasa jelas dan puas, sekarang tidak akan ada seorang Maulwi pun yang dapat melawan saya.’ Di waktu fajar Maulwi Husain dan Maulwi Faiz Din bersama tiga orang lainnya datang bersama abang saya. Pada waktu itu saya sedang berdiri di pintu Mesjid. Maulwi Husain Shahib berkata kepada saya, ‘Mengapa engkau memusuhi Isa Al-Masih?’ Saya jawab, ‘Tuan Maulwi, saya tidak memusuhi beliau.’ Dia berkata, ‘Abang engkau berkata engkau telah percaya Isa Al-Masih sudah wafat.’ Saya berkata kepadanya, ‘Tuan Maulwi apa yang harus saya perbuat? Beliau (Isa ibnu Maryam) sendiri yang telah menyatakan sudah wafat.’ Tuan Maulwi bertanya, ‘Di mana tertulis bahwa Al-Masih telah mengakui kewatannya sendiri?’  Saya jawab, ‘Dalam Alqur’an!’ Beliau berkata, ‘Alqur’an yang mana, yang telah dibuat oleh Tuan Mirza?’ Saya menjawab kepadanya, ‘Tuan Maulwi! Berkatalah dengan akal sehat! Tanpa sadar Tuan Maulwi telah menyerang Tuhan sebab Tuhan telah berfirman tidak ada yang dapat menyamai Alqur’an. Sekarang Tuan Maulwi berkata bahwa Tuan Mirza telah membuat Alqur’anul Karim, sadarlah sedikit.’ Beliau bertanya, ‘Di mana ada tertulis dalam Alqur’an.’ Maka saya membaca ayat ini falamma tawaffaitani mendapat jawaban dari ayat 118 dari Surah Al-Maidah ini, “فلما توفيتني”   ‘falammaa tawaffaitani’ – “akan tetapi, setelah Engkau mewafatkan aku” Beliau berkata, ‘Sekarang kami beritahu hanya satu cara yaitu, janganlah bertukar pikiran dengan orang-orang tidak beriman yakni orang-orang Ahmadi barulah kamu akan selamat, tidak ada cara lain lagi. Bahkan janganlah saling pandang dengan mereka, jika tidak kamu nanti akan terkena pengaruh juga oleh mereka. Ingatlah kedua cara ini agar kamu selamat.’ Saya jawab, ‘Tuan Maulwi, kesan kebenaran itu demikianlah selalu. Cara-cara yang Tuan Maulwi beritahu itulah tanda bukti kebenaran Tuan Mirza.’ Tuan Maulwi pergi pulang sedangkan abang saya yang menentang telah pergi ke Nairobi, Afrika. Sayapun baiat kemudian saya jelaskan kepada ayah saya dan juga kepada isteri saya sendiri. Seakan-akan semuanya telah saya beri penjelasan. Abang saya setibanya di Nairobi telah mengerti dan memahaminya juga. Setelah tinggal di sana sepuluh bulan beliaupun kembali pulang. Setibanya di sini langsung beliau baiat. Sekarang dengan karunia Allah Ta’ala ditempat tinggal kami sudah ada seratus sampai seratus lima puluh orang yang telah baiat masuk Jemaat Ahmadiyah.”

Demikianlah pada Zaman sekarang juga telah diperingatkan kepada orang-orang, janganlah bertukar pikiran dengan orang-orang Ahmadi dan jangan juga saling memandang dengan mereka. Hal inipun bukan perkara baru bahkan semenjak 1400 tahun hal seperti itulah yang pernah diperingatkan oleh orang-orang Musyrik Mekkah ketika Hadhrat Rasulullah saw telah menda’wakan diri sebagai Rasul Allah Ta’ala. Terdapat sebuah riwayat yang sangat masyhur tentang Hadhrat Tufail ra bin Amr Dausi yang mengatakan, “Ketika saya sampai di Mekkah orang-orang Quraisy berkata kepada saya, ‘Engkau orang terhormat, seorang penyair yang cerdas dan pandai, karena engkau telah datang ke negeri ini kami ingin memberitahu anda bahwa di negeri ini ada seorang yang telah menda’wakan diri dan telah menimbulkan perpecahan di kalangan kami dan kami telah dibuatnya kacau-balau. Kata-katanya mengandung sihir sehingga membuat suami isteri dan bapak dengan anak sendiri berpisah. Kami takut jangan-jangan jika anda bersama kaum anda juga mendengar kata-katanya akan menjadi sasaran seperti keadaan saudara-saudara kami di sini. Oleh sebab itu janganlah bercakap-cakap dengan orang itu dan jangan pula mendengarkan kata-katanya.’ Orang-orang kuffar itu demikian mendesak saya sehingga saya telah memutuskan tidak akan mendengar kata-kata Hadhrat Rasulullah saw. Sehingga ketika saya sampai di Khana Ka’bah saya sumbat kedua belah kuping saya dengan kapas agar tidak mendengar suara Hadhrat Rasulullah saw. Sedangkan pada waktu itu Hadhrat Rasulullah saw sedang sibuk beribadah di Khana Ka’bah. Saya pergi mendekat kepada beliau dan berdiri di sana. Akan tetapi Tuhan mentaqdirkan saya untuk mendengar suara beliau yang sangat indah dan menarik hati saya. Maka saya berkata di dalam hati terhadap diri saya sendiri, ‘Engkau orang terhormat, seorang penyair yang cerdas dan pandai tahu mana yang baik mana yang buruk, mendengar kata-kata orang ini, jika baik ikutilah dan jika tidak baik tinggalkan.’ Saya tetap berdiri di tempat itu hingga Rasulullah saw selesai beribadah dan pulang menuju rumah beliau. Saya pun mengikuti beliau dari belakang. Ketika Hudhur saw sampai di rumah beliau sayapun hadir di hadapan beliau dan berkata kepada beliau, ‘Hai Muhammad (saw)! Kaum tuan telah memberitahu saya dan dengan keras mereka menakut-nakuti saya sehingga saya terpaksa menyumbat kedua belah kuping saya dengan kapas agar tidak mendengar suara tuan. Akan tetapi Tuhan mentaqdirkan saya untuk mendengar suara tuan yang sangat indah dan menawan hati saya. Sekarang saya ingin mendengar langsung kata-kata tuan.’ Kemudian Rasulullah saw memberitahu saya tentang Islam dan memperdengarkan Alqur’an. Demi Allah sebelum ini saya tidak pernah mendengar kalam (kata-kata) seindah itu. Maka setelah mendengar hal itu semua dan mempercayainya sayapun membaca dua kalimah syahadah dan masuk Islam.” [5]

Jadi, demikianlah cara-cara orang-orang yang menentang kebenaran berjalan dari dahulu sampai sekarang. Jika ada sihir, tentu dia datangnya dari para penentang tidak pernah timbul dari para Nabi. Allah Ta’ala telah memberi bukti sebagai dalil didalam Alqur’anul Karim bahwa sihir tidak pernah mendapat kemenangan. Jika sihir mendapat kemenangan menurut mereka, maka sesuai dengan dalil Alqur’anul Karim bukanlah sihir melainkan kebenaran yang harus dipercayainya juga.

[4] Hadhrat Khalifah Nuruddin Shahib Sakna Jammu radhiyallahu ‘anhu (beliau orang dari Sakna Jammu yang disebut Khalifah Nuruddin) menjelaskan, “Saya memberi penjelasan beberapa hal kepada Maulwi Abdullah Ghaznawi Shahib selama satu tahun. Pada suatu kali beliau berkata kepada saya, ‘Para ulama menyatakan kufur kepada Tuan Mirza.’ Saya berkata kepada beliau, ‘Ayah engkau juga dinyatakan kufur oleh para ulama.’ Setelah itu beliau berkata mengenai Maulwi Muhammad Yakub yang katanya menerima ilham juga dari Allah Ta’ala. Diapun telah menulis surat dan menanyakan kepadanya apakah perintah Allah Ta’ala mengenai penda’waan Tuan Mirza? Sebulan kemudian diterima jawaban dari Maulwi Muhammad Yakub itu, ‘Saya telah berdoa kepada Allah Ta’ala. Dengarlah apa yang dikatakan oleh Tuan Maulwi itu katanya, Saya telah berdoa kepada Allah Ta’ala dan jawaban yang saya terima adalah, ‘ Tuan Mirza kafir!’”

Saya pergi ke Jammu untuk suatu pekerjaan. Ketika saya kembali dari sana beliau memperlihatkan suratnya itu kepada saya. Saya berkata kepadanya, ‘Tuhan yang telah menurunkan ilham kepada Maulwi Muhammad Yaqub itu, na’udzubillah, Tuhan yang sangat penakut sekali. Dia mengatakan kafir juga kepada Tuan Mirza disamping itu dia mengatakan ‘Shahib’ (tuan yang terhormat, kata-kata penghormatan) juga. Beliau menunjukkan poin ini yaitu ‘Tuan Mirza kafir’ yakni satu fihak menggunakan kata ‘Shahib’ yang menunjukkan penghormatan dan satu fihak lagi menggunakan kata ‘kafir’ satu kata penghinaan.’ Bagaimana kami dapat mempercayai ilham yang penakut ini?”[6]

[5] Hakim Abdush Shamad Khan putra Hakim Abdul Ghani Shahib radhiyallahu ‘anhu berasal dari Delhi. Beliau baiat pada tahun 1905 dan menulis demikian, “Pada tahun 1891 saya belajar mempelajari Tafsir Jalalain kepada seorang Maulwi (ulama). Suatu hari, sampailah kami pada pembahasan ayat ini  “يا عيسى إني متوفيك ورافعك إليّ”

‘Yaa ‘iisaa innii mutawaffiika wa raafi’uka ilayya’ – “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkan engkau [mematikan engkau secara wajar], dan akan mengangkat engkau kepada-Ku [meninggikan derajat engkau di sisi-Ku]” (Surah Ali Imran, 3 : 56). Didalamnya terdapat tafsir ayat Inni mutawafiika wa rafiuka ilayya begini katanya: “رافعك إليّ من الدنيا من غير موت rafiuka ilayya – rafiuka minad dunya min ghairi mautin (Aku angkat engku dari dunia tanpa kematian). Saya heran dari mana datangnya [tafsir] ayat “من غير موت” min ghairi mautin (tanpa kematian), apakah ini matan tafsir atau matan yang menentang. Ketika saya sedang menelaahnya dengan tekun sekali pada malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 02.00. Tiba-tiba ayah saya bangun. Beliau bertanya kepada saya, ‘Mengapa sudah larut malam engkau belum juga tidur, ada apa?’ Saya jelaskan kepada beliau apa yang terjadi. Beliau berkata, ‘Anakku! Ustadz itu apa kerjanya? Nanti subuh tanyakan kepada Ustadz itu supaya dijelaskan.’ Maka pada waktu subuh saya pergi kepada pak Ustadz (Maulwi) kemudian saya ceritakan semua permasalahan yang tengah saya hadapi. Beliaupun berkata, ‘Mian (anakku)! Dari mutaqaddimin (para pakar pendahulu) sampai mutaakhkhirin (para pakar zaman sekarang) mempunyai mazhab (kepercayaan) seperti itu. Mazhab seperti itu terus berjalan. Janganlah bertengkar tentang itu. Yakni sejak permulaan mazhab seperti itu terus berlangsung. Biarkanlah ia jangan diusik-usik.’ Saya jawab, ‘Selama saya tidak memahaminya saya tidak akan tinggal diam saya akan usut terus.’ Ustadz itu sangat marah sekali atas jawaban saya ini kemudian ia panggil ayah saya juga. Maka ayah saya bilang kepada Ustadz itu, ‘Biarkanlah anak ini, engkau adalah Ustadz dan ini murid engkau. Saya sengaja kirim anak saya ini kepada engkau sebagai Ustadz. Engkau kerjakan pekerjaan sendiri biarkan dia mengerjakan pekerjaannya sendiri. Saya tidak akan ikut campur dalam urusan ini.’ Setelah berkata demikian ayah saya pun pergi. Ustadz itu bilang, ‘Bacalah terus!’ Saya berkata, ‘Selama Ustadz tidak menjelaskan ayat itu kepada saya bagaimana saya harus membaca terus.’ Ustadz itu sangat marah sekali atas jawaban saya itu. Kemudian beliau menampar pipi saya sambil berkata, ‘Jika kamu sudah gila maka sekarang kamu sudah gila sekarang dan yang kedua Tuan Mirza sudah gila.’ Saya heran mendengar Tuan Mirza. Pada waktu itu saya belum kenal siapa Tuan Mirza itu dan amanat beliaupun saya belum pernah mendengarnya. Tiba-tiba timbul pikiran di dalam hati saya bahwa diatas asas yang mana saya berdiri atau berpegang ini. Walhasil, pasti saya berada pada asas yang betul yang juga menjadi pegangan orang-orang. Saya tidak membuang-buang waktu begitu saja dan saya berkata kepada Tuan Maulwi (tuan Ustadz) itu, ‘Selama Ustadz belum menjelaskannya saya tidak akan meneruskan membacanya. Ini masalah agama dan didalam agama tidak ada paksaan. Ustadz hari ini sudah menampar saya dan saya tetap berpegang kepada mazhab saya sendiri. Besok akan ada Tuan Maulwi lain dan menampar dua kali kepada saya dan saya akan tetap menentangnya. Keesokan harinya lagi akan datang Maulwi dan menampar saya tiga kali dan saya akan tetap menentangnya juga. Jadi ini permainan apa sebenarnya. Sekali-kali saya tidak akan membacanya (tidak akan belajar).’ Dari kejadian ini nampaklah bahwa orang-orang tua tidak bersedia mempercayai setiap perkara, sekalipun mereka memahaminya sampai mendalam sekali. Pertentangan itu berjalan sampai pukul 11.00 siang, akan tetapi saya tetap bertahan tidak mau belajar dan tidak pula saya baca sedikitpun. Pada waktu petang saya pergi kepada Ustadz yang lain. Dia juga berkata kepada saya, ‘Pertama kamu sudah gila yang kedua Tuan Mirza sudah gila (na’udzu billaah).’ Kata-kata seperti itulah yang dia ulang-ulangi. Dengan kejadian itu semua hati saya semakin kuat dan keadaan saya tetap kuat tidak lemah. Setelah itu saya pergi kepada Ustadz yang ketiga Maulwi Abdul Wahab. Beliau berkata, ‘Ini sebuah kisah yang sangat besar untuk itu ada orang yang telah menda’wakan bahwa Isa as sudah wafat dan tentang Nabi Isa yang sedang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh manusia itu, katanya akulah orangnya. Saya bilang, pertama saya sudah paham perkara ini. Akan tetapi yang kedua sampai sekarang belum diketahui maksudnya.’ Saya pergi ke Punjab dan tinggal 22 hari di sana. Saya berjumpa dengan salah seorang murid Hadhrat Shahib bernama Maulwi Nuruddin. Dalam hikmah dan pengetahuan beliau tidak ada tandingannya. Dan saya telah mendengar juga daras-daras beliau tentang agama. Maulwi besar-besar tidak dapat melawan beliau. Beliau tidak menerangkan tentang baiatnya. Sekalipun beliau sedang melakukan baiat namun tidak diceritakan kepada siapapun. Sebab beliau takut dari para penentang. Beliau berkata kepada saya, ‘Jangan berkata keras-keras nanti terdengar oleh Maulwi Abdul Ghafur Shahib (pada waktu itu seorang Maulwi ghair bernama Abdul Ghafur sedang duduk di situ).’ Saya berkata kepada beliau, ‘Saya tidak peduli hal itu, saya tidak dapat menyembunyikan kebenaran.’ Baiklah, lama-kelamaan saya belajar sampai tahun 1905. Hadhrat Shahib pergi ke Dehli dan beliau tinggal di rumah yang luas milik Alif Khan Sahiwale. Ribuan orang datang untuk berjumpa dengan beliau as. Saya juga pergi bersama para Maulwi yang menentang. Di waktu itu kebanyakan para pelajar ikut. Pimpinan kita pada waktu itu bernama Maulwi Mushtaq Ali Shahib. Beliau mengajukan beberapa keberatan dan kritikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as karena itu Hadhrat Shahib as bersabda, ‘Tunggulah sebentar.’ Beliau mengambil pena dan kertas dari Hadhrat Mufti Sadiq Shahib kemudian menulis sebuah tulisan singkat kemudian diberikan kepada Maulwi Mushtaq Ali Shahib sambil bersabda kepada beliau, ‘Anda bacalah baik-baik. Jika ada kata-kata yang tidak mengerti harap tanyakan kepada saya dan tulislah jawabannya juga.’ Hadhrat Masih Mau’ud as di situ juga telah menulis sebuah karya singkat kemudian diberikan kepada Maulwi ghair Ahmadi sambil berkata, ‘Bacalah artikel itu. Jika ada sesuatu yang tidak paham tanyakanlah kepada saya dan apa yang saya tulis berilah jawabannya kepada saya. Setelah itu berkata kepada Maulwi Mushtaq Ali, ‘Pertama anda bacalah sendiri apa yang saya tulis kemudian anda bacakan juga apa jawaban yang anda tulis itu.’ Maka Tuan Maulwi tanpa memberikan jawaban mulailah membacakan apa yang telah ditulis oleh Hadhrat Shahib. Kemudian Hadhrat Shahib bersabda, ‘Alangkah baiknya jika jawabannya juga anda bacakan. Jika anda jawab sendiri tentu tidak akan membuang-buang waktu.’ Tuan Maulwi berkata, ‘Tidak begitu, akan saya jawab dengan lisan saja tidak perlu saya menulis jawabannya.’ Baiklah, apa yang telah ditulis oleh Hadhrat Shahib telah dibacakan semuanya, namun setelah itu lama sekali Tuan Maulwi terdiam sambil berdiri tidak dapat menjawabnya. Para pelajar yang hadir yang dibawa serta oleh Maulwi itu berkata kepadanya, ‘Jika kita tahu Tuan Maulwi tidak dapat menjawabnya, tentu kami akan memilih yang lain sebagai pemimpin kami di waktu ini. Tuan Maulwi telah membuat kami malu.’ Mendengar itu Tuan Maulwi marah kemudian menampar pelajar yang bercakap itu. Maulwi itu tidak dapat menjawab akhirnya sambil marah menampar seorang pelajar. Pelajar itu membalas dan memukul Tuan Maulwi dan yang ada di hadapannya juga mulai memukulnya. Terjadilah perkelahian. Mufti Muhammad Sadiq Shahib pun mulai melerai mereka yang sedang berkelahi itu. Setelah itu mulailah Hadhrat Masih Mau’ud as berpidato. Di waktu Hadhrat Shahib berpidato orang-orang  mulai gaduh. Orang-orang Jemaat mulai berjaga di sekeliling Hadhrat Shahib. Saya lihat ada tempat masih kosong tidak terjaga, lalu saya berdiri di situ. Di waktu itu saya belum menjadi Ahmadi. Seorang penjaga (keamanan) Ahmadi bernama Akbar Khan Shahib menganggap saya bukan orang Ahmadi, mendorong dan menghalau saya dari situ. Tidak lama kemudian saya berdiri kembali di situ dan di dalam hati nurani saya mulai timbul kecintaan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as oleh sebab itu melihat tempat kosong saya langsung berdiri di situ untuk menjaga jangan sampai ada yang menyerang beliau. Akbar Shahib datang lagi untuk mendorong dan menghalau saya dari tempat itu. Pada waktu itu Hadhrat Maulwi Nuruddin (khalifah awal) berkata kepada Akbar Shahib, ‘Mengapa engkau dorong dan halau orang ini?’ Akbar Shahib berkata, ‘Hudhur! Orang ini penentang Jemaat.’ Tuan Maulwi berkata kepadanya, ‘Apakah engkau telah membelah dadanya dan melihat keadaan hatinya? Yang datang mendekat biarkanlah mendekat.’ Setelah itu berdirilah Maulwi Chamria-wala dan mulailah ia mengeluarkan kata-kata buruk terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya berkata kepadanya, ‘Hai Chamria Wala! Jika engkau berkata tidak sopan seperti itu lagi aku tarik lidah engkau keluar.’ Maulwi Hafiz Abdul Majid Shahib berdiri dan melarangnya dan berkata, ‘Pada waktu ini lasykar pengawal sudah kalang kabut. Orang-orang kita harus diam jangan gaduh, jagalah kesopanan dan tetaplah berada di dalam ruangan jangan pergi keluar. Sebab orang-orang kita sedang mengalami kalang kabut, jangan-jangan kena pukul orang kita sendiri. Oleh sebab itu diamlah jangan gaduh.’ Hadhrat Shahib bersabda dalam pidato beliau, ‘Allah Ta’ala telah mengutus saya sebagai Masih Mau’ud. Barangsiapa yang tidak dapat memberi keputusan yang pasti tentang da’wa saya maka bacalah doa ini sebanyak-banyaknya yang telah diberitahu oleh Allah Ta’ala didalam shalat setiap hari lima waktu:

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

Ihdinas sirathal mustaqim sirathal ladzina an’amta ‘alaihim’“Tunjukilah kami pada jalan yang lurus, Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka,” (Surah Al-Fatihah, 1 : 6-7). Sambil berjalan sambil duduk, sambil berdiri bacalah sebanyak-banyaknya setiap waktu. Jika dibaca dengan niat yang baik sebanyak-banyaknya 40 hari lamanya maka Allah Ta’ala akan menampakkan kebenaran kepadanya.’ Saya pada waktu itu juga mulai membaca doa itu dan sebelum seminggu lewat kebenaran telah terbuka kepada saya. Saya melihat mimpi bahwa saya ada di Mahallah ‘Hamid’ (sebuah nama tempat di salah satu ruangan Masjid). Hadhrat Masih Mau’ud as datang ke sana. Ketika saya maju untuk berjabat tangan dengan Hadhrat Shahib tiba-tiba seorang Maulwi yang matanya buta telah menghalang-halangi saya. Ketika saya berusaha maju untuk kedua kalinya maka dari sanapun dia menghalangi saya. Dan ketiga kalinya saya maju untuk berjabatan tangan dengan beliau as maka diapun menghalangi saya lagi. Saya marah kepadanya dan saya angkat tangan untuk memukulnya. Selanjutnya Hadhrat Shahib bersabda didalam mimpi itu kepada saya, ‘Janganlah engkau marah kepadanya dan jangan pukul dia.’ Saya berkata, ‘Hudhur, saya ingin berjabat tangan dengan Hudhur dan orang ini menghalang-halangi saya.’ Kemudian bangunlah saya. Pagi-pagi saya ceritakan kisah mimpi ini kepada Mir Qasim Ali Shahib, Maulwi Mahbub Ahmad Shahib dan Mistri Qadir Bakhsh Shahib. Mir Shahib menyuruh saya untuk menulis kisah mimpi itu dan sayapun menulisnya. Beliau menyuruh saya untuk menulis dibawahnya kata-kata berikut ini, ‘Saya ingin menyatakan mimpi ini sebagai alasan untuk baiat kepada Hudhur.’ Saya menulisnya. Maulwi Mahbub Shahib yang ghair Ahmadi berkata kepada saya, ‘Apakah kamu tahu bagaimana tabiat ayah kamu? Jika kamu baiat dia tidak akan memberi izin kamu tinggal di rumahnya walaupun hanya satu jam.’ Saya berkata kepadanya, ‘Saya tidak peduli apapun yang akan terjadi.’ Alhamdu lillaah Hadhrat Shahib telah menyetujui baiat saya dan beliau menulis kepada saya, ‘Baiat engkau telah saya terima. Jika ada yang mencaci-maki sebesar gunung kepada engkau jangan engkau pecahkan. Jangan melemparkan pandangan kepadanya. Bagaimanapun kerasnya caci-maki kepada engkau sekali-kali jangan engkau jawab.’” Selanjutnya beliau menulis, “Setelah pidato Hadhrat Shahib selesai disusul dengan pidato Hadhrat Maulana Nuruddin Shahib. Selesai pidato saya berjabat tangan dengan beliau. Maulana Nuruddin Shahib bertanya kepada saya, ‘Mian, sampai dimana engkau belajar agama?’ Saya jawab, ‘Hudhur, saya telah membaca Kitab al-Misykat dan Tafsir al-Jalalain.’ Bertanya lagi, ‘Sampai dimana belajar Fiqih?’ [Saya jawab,] ‘Saya telah membaca buku al-Qaduri dan yang lain lagi saya tidak ingat lagi namanya dan buku-buku itu ditulis dengan tangan diantaranya susah sekali dibaca dan dipahami.’ Selanjutnya beliau bertanya lagi, ‘Sampai dimana belajar Mantiq (ilmu logika)?’ Saya jawab, ‘Saya telah membaca beberapa buah buku kecil.’ Kemudian saya bertemu dengan Hadhrat Shahib dan berjabatan tangan dengan beliau ketika kembali maka Maulwi Abdul Hakim (Penentang Ahmadiyah) berkata, ‘Kamu sudah berjabat tangan dengan Tuan Mirza tangan kamu kotor harus dibersihkan. Karena tangan kamu tidak dapat dibersihkan dengan air maka kulit tangan kamu harus dikupas jika tidak demikian tangan kamu tidak akan dapat dibersihkan lagi karena sudah berjabat tangan dengan Tuan Mirza.’ [7] , na’uzubillahi min dzaalik. Bagaimanapun akhirnya saya sudah baiat kepada Hadhrat Shahib.”

[6] Demikian pulalah Hadhrat Hafizh Ghulam Rasul Shahib radhiyallahu ‘anhu seorang penduduk Wazirabad suatu kali menulis sebuah peristiwa, “Di Wazirabad terdapat Tsuman Rajkan yang di bagian utaranya terdapat sebuah wilayah besar yang terdapat pemerintahan raja-raja Muslim Rajuri Kashmir; seseorang bernama Allah Wala Rajah pergi kepada Rajah Athaullah Shahib Marhum Safir (Duta) Kabul dan berkata, ‘Orang-orang telah memusuhi dan menentang Ghulam Rasul Shahib.’ (Beliau ini, Ghulam Rasul sudah menjadi Ahmadi.) Raja Khan Shahib berkata, ‘Mengapa? Panggillah Hafiz Ghulam Rasool Shahib ke sini untuk menjelaskan kepada kita tentang rafa’ (pengangkatan) Isa yang tercantum didalam Alqur’an, beritahu kepadanya bahwa kami juga percaya. Dan supaya dijelaskan juga Nuzulul Masih (turunnya Al-Masih) yang tersebut di dalam Hadis-hadis.’ Rencana ini telah diumumkan didalam kota sehingga ribuan orang datang dari berbagai golongan Islam untuk menghadiri pembahasan ini. Saya tahu betul apa yang akan saya katakan didalam pertemuan itu. Dan saya juga paham bahwa tidak akan ada orang yang paham terhadap apa yang akan saya terangkan itu, sebab saya akan berbicara dengan isyarah atau permisalan kecuali hanya satu orang yang bernama Hakim Sultan Ali dan beliau ini termasuk keluarga saya juga. Beliau inilah yang akan paham. Ketika saya sampai di tempat itu Raja Shahib (tuan Raja) berkata kepada saya, ‘Ada orang bernama Allah Wala berkata bahwa Hafiz Shahib percaya terhadap rafa’a dan nuzul Masih (kenaikan dan akan turunnya Al-Masih Isa ibnu Maryam), betulkah demikian?’ Saya menjawab, ‘Betul, tidak diragukan lagi. Apabila semua orang telah diam, saya akan menjelaskannya.’ Ketika semua sudah diam dan keadaan senyap, di tengah ribuan orang hanya saya sendirian sebagai Ahmadi, saya mulai berkata, ‘Dengarkanlah wahai orang-orang! Jika perkataan rafa’a terdapat didalam Alqur’an dan ada perkataan nuzul didalam Hadis Syarif maka saya wajib percaya. Barangsiapa yang tidak percaya saya anggap dia bukan orang beriman.’ Masih ada yang hendak dikatakan namun hadirin mulai gelisah, berteriak dan bersuara gemuruh akhirnya saya cepat keluar meninggalkan tempat itu. Setelah saya keluar dari sana, sesuai dengan apa yang telah saya perkirakan sebelumnya, Hakim Sultan Ali memberitahu Raja, ‘Kalian orang-orang yang tidak paham sedikitpun apa yang telah Hafiz Shahib terangkan. Sebetulnya Hafiz Shahib telah mengelabui dan mengacaukan pikiran hadirin kemudian beliau pergi dari sini, panggillah lagi beliau ke sini.’ Saya segera meninggalkan tempat itu. Beberapa orang keluar dari pintu mencari-cari saya dan memanggil saya agar kembali akan tetapi saya pulang ke rumah melewati jalan yang tidak biasa. Pagi-pagi sekali Raja telah mengirim seorang pesuruh bernama Babu Fazal Din untuk menyampaikan pesan bahwa Raja dan semua warga di kawasan kami tidak merasa puas dengan keterangan yang telah disampaikan tentang rafa’a dan nuzul itu. Saya tanya kepadanya, ‘Bagaimana agar merasa puas?’ Katanya, ‘Raja dan semua warga di kawasan itu tidak akan merasa puas dan tidak akan percaya kepada rafa’a dan nuzul jika Hakim Ghulam Rasul tidak mengatakan kafir kepada Tuan Mirza.’ Saya jawab, ‘Mengapa saya harus mengatakan kafir kepada beliau?’ Babu Fazal Din berkata, ‘Para Maulwi mengatakan kafir.’ Saya katakan, ‘Oleh karena para Maulwi mengatakan kafir kepada Tuan Mirza, saya juga mengatakan kafir (dalam hati saya kepada para Maulwi, bukan kepada Hadhrat Tuan Mirza).’ Sekarang ia pun sudah merasa puas kemudian pergi. Ketika Babu Shahib sampai di majlis ia berkata, ‘Sekarang Hafiz Ghulam Rasul Shahib sudah mengatakan kafir kepada Tuan Mirza.’ Maka Hakim Sultan Ali Shahib bangkit dan berkata, ‘Mian (Saudara)! Mata kamu pun sudah tertutupi debu (tertipu dan mengelabui orang) lagi. Dia telah mengatakan kafir kepada para Maulwi bukan kepada Tuan Mirza. Bukan begitu, sekarang pergilah lagi kepadanya dan mintalah ia menulis, ‘Saya menyatakan kafir terhadap Mirza Ghulam Ahmad Qadiani.’ (Na’uzubillah, saya berlindung kepada Allah) Kemudian dia datang lagi untuk meminta supaya saya berkata sesuai dengan kehendaknya. Akhirnya dua hari telah berlalu dan hati saya semakin kuat dan berani dan saya terang-terangan berkata kepadanya, ‘Saudara, Apa yang telah saya katakan di waktu itu tidak salah memang betul begitu. Saya menganggap kafir kepada siapa yang berkata kafir kepada Tuan Mirza.’ Dengan demikian mereka mengeluh dan menjadi putus harapan. Kemudian saya tuliskan untuk mereka ayat Alqur’an berikut ini.  الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ

“Hari ini orang-orang yang ingkar telah putus asa untuk merusak agamamu. Maka janganlah kamu takut kepada mereka melainkan takutlah kepada-Ku.” (Al Maidah ayat 5: 4)  Perkara ini diajukan ke Pengadilan dan sidangpun segera dimulai. Sehingga orang yang diharapkan tidak akan berkata dusta, demi mencelakakan saya mereka telah berdusta terangan-terangan di hadapan pengadilan demi menentang saya. Namun saya tidak peduli sedikit pun. Pendeknya, kejadian orang-orang yang mengatakan Tuan Mirza kafir saya anggap dia adalah kafir, saya ceritakan kepada Hadhrat Shahib (Masih Mau’ud as) dan beliau senang sekali dan tertawa mendengar hal itu. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Ingatlah katmaani iimaan (menyembunyikan iman) juga mempunyai satu derajat (yakni untuk menyembunyikan iman atau untuk menyelamatkan diri dari kejahatan, menyembunyikan diri adalah satu derajat/tingkatan), seperti tercantum didalam Surah Mu’min (Ghaafir) : 29, وَقَالَ رَجُلٌ مُؤْمِنٌ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ “‘wa qaala rojulum mu’minun min aali Fir’auna yaktumu iimaanahu’ – “Dan berkata seorang laki-laki yang beriman dari kaum Fir’aun, yang menyembunyikan imannya.” (Surah Al-Ghaafir/Al-Mu’min, 40 : 29). Anda telah mengambil langkah yang baik sekali dan dengan mengenal situasi anda telah menyelamatkan jiwa anda.’”[8]

Jadi, itulah kisah-kisah yang terjadi terhadap orang-orang Ahmadi, cerita tentang desakan terhadap mereka agar meninggalkan kebenaran, kisah tentang menakut-menakuti mereka; semua ini bukanlah perkara kuno; sekarang juga setelah 123 tahun berlalu perlakuan seperti itulah yang mereka lancarkan. Akan tetapi sekalipun banyak penentangan, kafilah Ahmadiyah tengah terus-menerus berderap maju dan insya Allah akan terus maju. Di berbagai negara di dunia para Ahmadi  menzahirkan iman mereka semakin kuat dan tangguh. Dan setelah beriman mereka sangat memperhatikan perintah Allah Ta’ala berikut ini yakni: فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِfalaa takhsauhum wakhsyaunii’ – “Maka janganlah kamu takut kepada mereka melainkan takutlah kepada-Ku.” Jika merasa takut maka takutlah hanya kepada Allah semata, bukan kepada sesuatu makhluk. (Surah Al-Baqarah, 2:151).

Semoga Allah Ta’ala semakin banyak memberi kekuatan kepada setiap anggota Jemaat dan bukan hanya tetap berdiri bahkan semakin maju dan meningkat terus.

Selanjutnya pada masa sekarang ada satu peristiwa seperti ini [peristiwa lain yang memperlihatkan keteguhan iman] bahwa seorang sesepuh Ahmadi di Nawabsyah, Chaudhry Muhammad Akram Shahib putra Mukarram Muhammad Yusuf  telah disyahidkan. Inilah orang-orang yang beriman kuat khususnya di Pakistan yang telah memperlihatkan keteladannya. Inna lillahi wa inna illaihi raji’un.

Keluarga Mukarram Chaudhry Muhammad Akram Shahib berasal dari Gokhowal, daerah Faisalabad. Yang pertama baiat menerima Ahmadiyah dari antara keluarga beliau adalah kakek beliau, Hadhrat Mian Ghulam Qadir Shahib radhiyallahu ‘anhu yang baiat langsung di tangan Hadhrat Masih Mau’ud as. Chaudhry Muhammad Akram Shahib lahir di Gokhowal, Faisalabad. Tatkala beberapa hari lalu beliau disyahidkan beliau telah berusia 80 tahun. Beliau bersama saudara-saudaranya yang lain dan juga dengan ayahnya mengelola sawah ladang di Jhul Khanpur, di sana mereka bertani kemudian setelah menjual tanah-tanahnya lalu pindah ke Nawabshah pada tahun 1960. Almarhum bersama istrinya lalu tinggal di Australia pada tahun 2005 karena di sana ada anak-anak mereka dan sejak November tahun lalu (November 2011) telah berada di Pakistan hingga peristiwa ini terjadi. Pada tanggal 29 November 2012 [hari peristiwa pensyahidan itu], beliau sedang dalam perjalanan pulang bersama cucu beliau saudara Munib Ahmad putra yang terhormat tuan Rafiq Ahmad sekitar siang tengah hari jam satu dari toko milik menantu beliau di Nawabsyah. Ketika sudah dekat rumah, tiba-tiba didatangi dua orang yang tidak dikenal sambil mengendarai sebuah sepeda motor menembaki beliau berdua. Beliau mengorbankan jiwanya di jalan Maula (Tuhan) dalam perjalanan ke rumah sakit. Inna lillahi wa inna illaihi raji’un.

Sedangkan cucu beliau mengalami luka-luka tertembus peluru di bagian atas pangkal paha menembus ke dalam perut. Tembusan peluru ini mempengaruhi usus beliau. Beliau telah dioperasi dan kini sedang dirawat di Ruang ICU. Semoga Allah menganugerahkan kesehatan dan keselamatan kepadanya.

Syahid Marhum (almarhum syahid) setelah tinggal di Nawabshah, bersamaan dengan kesibukan berbisnis juga banyak mengkhidmati Jemaat. Beliau mendapat taufik berkhidmat dalam waktu yang lama. Beliau menjadi Sekretaris Maal selama sekitar 35 tahun. Begitu pula beliau berkhidmat sebagai Naib Amir Daerah. Syahid Marhum memiliki akhlak yang tinggi. Melewati hidup dalam ibadah, menjaga shalat tahajjud dengan teratur, sekaligus juga suka membantu orang lain. Banyak orang yang menyampaikan kepada saya, “Ketika beliau bertugas sebagai sekretaris maal tidak pernah terjadi hal ini bahwa dimana saja ada orang yang menelpon, ‘Saya akan bayar candah!’ beliau menjawab, ‘Datanglah kemari tuan bayar candah tuan’ alih-alih (bukannya) melakukan demikian melainkan beliau sendiri yang mendatangi rumah orang itu dan menerima candahnya. Seorang yang memiliki gejolak kecintaan kepada Jemaat. Rajin dan giat bekerja dalam bidang pertanian. Pribadi yang sangat menyintai Khilafat, begitu memperhatikan khotbah-khotbah Khalifah, senantiasa teratur menyimak khotbah-khotbah tersebut.” Bapak Ketua Jemaat Nawabshah menjelaskan, “Beliau (almarhum) orang yang sangat menepati janji dan bersemangat untuk bersikap taat.” Bapak Ketua Jemaat Nawabshah menjelaskan, “Walaupun beliau berumur lanjut (jauh lebih tua dibanding ketua Jemaat) namun beliau memperlihatkan kesantunan dan ketaatan yang sangat. Tatkala beliau baru saja datang dari Australia [ke Pakistan] sempat meminta kepada saya agar mempersiapkan daftar orang yang tidak mampu dan miskin yang di dalamnya ada orang Ahmadi dan orang bukan Ahmadi diikutsertakan dan mereka yang tinggal tidak jauh dari situ beliau biasa membantu mereka secara teratur. Demikian pula setelah pusat di Nawabshah selama beberapa waktu telah ditutup, beliau berusaha mengaktifkan dengan penuh semangat yang kemudian beliau menyampaikan mengenai pembangunannya sebagai berikut, ‘Saudara-saudara! Mulailah merenovasi bangunan tersebut Sekembalinya ke Australia, saya akan mengirimkan sejumlah dana sumbangan untuk biaya renovasinya.” Allah Ta’ala tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk melakukan itu. Semoga Allah Ta’ala Jemaat sendiri yang sekarang dapat menyempurnakannya. Beliau memang mendambakan kesyahidan. Istri beliau menjelaskan, “Tatkala mendengar kesyahidan siapa saja beliau sering melontarkan ucapan, ‘Hal ini adalah merupakan suatu kemuliaan bagi insan-insan yang beruntung.’” Akhirnya Allah Ta’ala menyempurnakan keingingan Almarhum. Almarhum Akram Shahib meninggalkan seorang janda, lima anak laki-laki dan dua perempuan. Semua putra-putri beliau sudah menikah dengan karunia Allah. Seperti telah saya sampaikan, putra-putrinya (4 putra dan 1 putri) telah tinggal di Australia, satu putra dan satu putri tinggal di Nawabshah, Pakistan.

Cucu Tuan Akram, tuan Munib Ahmad yang terluka sebagaimana telah saya sampaikan berusia 18 atau 19 tahun dan ia mahasiswa tahun kedua kuliah. Semoga Allah Ta’ala selekasnya memberikan kesehatan yang sempurna. Dan saya akan mengimami Shalat Jenazah Gaib untuk Tuan Akram ini setelah shalat (Jum’at).     

Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri, Shahid

Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wafatnya Nabi Isa ‘alaihissalam

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ـ رضى الله عنهما ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏…، ثُمَّ يُؤْخَذُ بِرِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِي ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ فَأَقُولُ أَصْحَابِي فَيُقَالُ إِنَّهُمْ لَمْ يَزَالُوا مُرْتَدِّينَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ مُنْذُ فَارَقْتَهُمْ، فَأَقُولُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ ‏{‏وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ وَأَنْتَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ‏}‏ إِلَى قَوْلِهِ ‏{‏الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ‏}‏‏”‏‏.‏ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ ذُكِرَ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ عَنْ قَبِيصَةَ قَالَ هُمُ الْمُرْتَدُّونَ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَى عَهْدِ أَبِي بَكْرٍ، فَقَاتَلَهُمْ أَبُو بَكْرٍ ـ رضى الله عنه‏.‏

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumaa berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘…“Ada sekelompok laki-laki dari sahabat-sahabatku kelak (di akhirat) akan diambil dari golongan kanan dan digolongkan kepada kelompok kiri. Aku bertanya, ‘[Ya Tuhanku, mereka adalah sahabat-sahabatku, (selamatkan mereka, mengapa Engkau memasukkan mereka ke golongan kiri (masuk neraka)?) Allah menjawab, ‘Mereka berpaling dan murtad dari agama sejak engkau meninggalkan mereka.’ Maka aku berkata sebagaimana kata hamba yang saleh, Isa putra Maryam ‘wa kuntu ‘alaihim syahiidan maa dumtu fiihim falammaa tawaffaitani kunta antar Raqiiba ‘alaihim wa anta ‘alaa kulli syai-in syahiid’ hingga firman-Nya ‘al-‘Aziizul Hakiim’– “‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. Jika Engkau siksa, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Surah Al-Maaidah: 118) Ada keterangan di hadit itu bahwa mereka adalah orang-orang yang murtad pada masa Khalifah Abu Bakr ra (al-Bukhari, Kitab Ahaaditsil Anbiyaa, Bab wadzkur fil kitaabi Maryam..)

قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ، خَطِيبًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏”‏ مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ ‏”‏‏

Pada suatu kali Muawiyah sedang berkhotbah dan berkata, “Saya mendengar Nabi saw bersabda, ‘Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Dia menjadikannya amat memahami agama, sesungguhnya aku Qaasim (pembagi) dan Allah yang menganugerahkan…’

(Al-Bukhari, Kitabul ‘ilmi, bab man yuridillaahu bihi khairan yufaqqihhu bid diin)

[1] Semoga Allah yang Mahaluhur menolongnya dengan kekuatan yang Perkasa

[2] Panggilan penghormatan didalam bahasa Urdu dan Hindi ialah Shahib di akhir nama atau panggilan seseorang seperti Hadhrat Mirza Shahib (yang mulia tuan Mirza); Maulwi Shahib (tuan Maulwi) dan Ustad Shahib (tuan Ustadz).

[3] Register Riwaayaat Shahabah, ghair mathbu’ah, jilid number 9, hlmn 26-28

[4] Op.cit., halaman 127-129

[5] Dalaailun Nubuwwah (Dalil-Dalil Kenabian) karya al-Baihaqi, bab qishshah Daus wath Thufail bin Amr radhiyallahu ‘anhu.

عَنْ محمَّدٍ بْنِ إسْحاقَ بْنِ يَسَارٍ، قالَ: كانَ الطُّفَيْلُ بْنُ عَمْرٍو الدَّوْسِيُّ يُحَدِّثُ أَّنَّهُ قَدِمَ مَكَّةَ وَرَسُولُ اللهِ بِها فَمَشَى إِلَيهِ رِجالُ قُرَيشٍ، وَكانَ الطُّفَيلُ رَجُلاً شَرِيْفًا شاعِرًا لَبِيْبًا، فَقَالُوا لَهُ: إِنَّكَ قَدِمْتَ بِلاَدَنَا وَهَذا الرَّجُلُ الَّذِي بَيْنَ أَظْهُرِنَا فَرَّقَ جَماعَتَنَا، وَشَتَّتَ أَمْرَنَا، وَإِنَّمَا قَوْلُهُ كَالسِّحْرِ يُفَرِّقُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَبَيْنَ أَبِيهِ، وبَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ أَخِيهِ وَبَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ زَوْجَتِهِ، وَإِنَّا نَخْشَى عَلَيْكَ وَعَلَى قَوْمِكَ مَا قَدْ دَخَلَ عَلَيْنَا فَلا تُكَلِّمَنْهُ وَلا تَسْمَعَنْ مِنْهُ، قَالَ: فَوَاللهِ مَا زَالُوا بِيْ حَتَّى أَجْمَعْتُ أَنْ لا أَسْمَعَ مِنْهُ شَيْئًا وَلاَ أُكَلِّمَهُ حَتَّى حَشَوْتُ فِي أُذُنِي حِينَ غَدَوْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ كُرْسُفًا فَرَقًا مِنْ أَنْ يَبْلُغَنِي شَيءٌ مِنْ قَوْلِهِ. قَالَ : فَغَدَوْتُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَإِذَا رَسُولُ اللهِ قَائِمٌ يُصَلِّي عند الكعبة ، فقمت قريبا منه فأبى الله إلا أن يسمعني بعض قوله، فسمعت كلاما حسنا، فقلت في نفسي: واثكل أماه، والله إني لرجل لبيب شاعر، ما يخفى عليَّ الحسن من القبيح فما يمنعني من أن أسمع من هذا الرجل ما يقول، فإن كان الذي يأتي به حسنا قبلت وإن كان قبيحا تركت، قال : فمكثت حتى انصرف رسول الله إلى بَيْتِهِ، فَتَبِعْتُهُ حَتَّى إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ دَخَلْتُ عَلَيْهِ فَقُلْتُ: يَا مَحَمَّدُ، إِنَّ قَوْمَكَ قَدْ قَالُوا لِي كَذَا وَكَذَا، فَوَاللهِ مَا بَرِحُوا يُخَوِّفُونَنِي أَمْرَكَ حَتَّى سَدَدْتُ أُذُنَيَّ بِكُرْسُفٍ لِئَلَّا أَسْمَعَ قَوْلَكَ، ثُمَّ أَبَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلا أَنْ يُسْمِعَنِيهِ، فَسَمِعْتُ قَوْلا حَسَنًا، فَاعْرِضْ عَلّيَّ أَمْرَكَ، قَالَ: فَعَرَضَ رُسُولُ اللهُ عَلَيَّ الإِسْلَامَ وَتَلَا عَلَيَّ القُرآنَ. فَلا وَاللهِ مَا سَمِعْتُ قَوْلًا قَطُّ أَحْسَنَ مِنْهُ، وَلَا أَمْرًا أَعْدَلَ مِنْهُ، فَأَسْلَمْتُ وَشَهِدْتُ شَهَادَةَ الـحَقِّ. (دَلَائِلُ النُّبُوَّةِ لِلْبَيْهقِي باب قصة دوس والطفيل بن عمرو)

[6] Maksudnya, bukan Tuhannya yang penakut tetapi orang yang mengaku-aku dapat ilham itu yang berbohong. Sebab, isi ilhamnya penuh dusta dan pertentangan dengan sifat-sifat keagungan Tuhan.

[7] Register Riwaayaat Shahabah ghair mathbu’ah jilid 12 halaman 13-19

Keterangan: Al-Misykaatul Mashaabih ditulis oleh al-Hafizh Al-Khathib At-Tabrizi; Kitab Tafsir al-Qur’an al-Jalalain (Dua Jalal) ditulis oleh Jalaluddin as-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli; dan Abul Hasan Al-Qaduri, mujtahid tarjih dari Mazhab Hanafi yang menulis buku Fikih al-Mukhtashar al-Qaduri.

[8] Register Riwaayaat Shahabah ghair mathbu’ah jilid 12 hlmn 167, 170, 172