Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 18 Oktober 2013 di Masjid Baitul Huda, Sidney, Australia.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

 

وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا (٥٣)

Terjemahan ayat ini adalah: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya syaithan menimbulkan perpecahan di antara mereka. Sesungguhnya syaithan bagi manusia adalah musuh yang nyata.” (QS. Bani Israil : 54).

Sebagaimana telah saudara-saudara dengar dari terjemahan tersebut, Allah Ta’ala berpesan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka mengucapkan perkataan yang paling baik. Ini hal yang pertama. Perkataan yang baik adalah [perkataan] yang baik menurut Allah Ta’ala. Oleh karena itu Allah Ta’ala menggunakan kata ‘ibaadii (hamba-hamba-Ku). Dia mengharuskan kita mengikuti hal ini, yakni “Barang siapa yang merupakan hamba-Ku, atau berusaha menjadi hamba-Ku, sekarang mereka tidak lagi memiliki kehendak pribadi. Mereka hendaknya melepaskan kehendak pribadinya dan mencari kehendak-Ku. Dan hendaklah mereka mencari amal-amal shalih dan perkataan-perkataan baik yang Aku ridhai.”

Penjelasan tambahannya, Allah Ta’ala berfirman dalam surat Al-Baqarah:

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan, apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah, “Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah: 187).

Hadhrat Masih Mau’ud menerangkan mengenai kata ’Ibaadii’ (hamba-hamba-Ku), yakni orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.[2]

Mereka itulah yang termasuk ke dalam ’Ibaadii (hamba-hamba-Ku), dan karena termasuk ke dalam ibaadii maka mereka dekat dengan Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang tidak beriman mereka jauh dari Allah Ta’ala.”

Alhasil, untuk menjadi ibaadii (hamba-hamba-Ku) yang sejati, Allah Ta’ala menyatakan bahwa kita harus menaati setiap perintah-Nya dan memperkuat keimanan. Ketika kondisi ini muncul, maka kita akan menjadi orang yang memperoleh segala macam kebaikan dan doa-doa akan dikabulkan.

Ketika Allah Ta’ala berfirman, “Hamba-hamba-Ku ucapkanlah perkataan [yang baik].” Maksudnya adalah kita harus melakukan hal yang disukai Allah, baik dengan lisan maupun amal perbuatan, niscaya keimanan kita akan meningkat. Kita harus mencari perintah-perintah Allah Ta’ala. Kerjakanlah amalan yang bagus dan baik serta elok dalam pandangan Allah Ta’ala. Amalan dan perkataan kita tidak boleh bertolak belakang. Tidak bisa amalan kita bertentangan dengan perintah-perintah Allah Ta’ala tetapi kita menasehati orang lain sesuai dengan perintah Allah dan Rasulullah saw. Allah Ta’ala menetapkan bahwa perkataan dan perbuatan yang bertolak belakang seperti itu sebagai dosa. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ ()كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ ()

“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan apa-apa yang kamu tidak kerjakan? Adalah sesuatu yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaf : 3-4).

Jadi, Allah Ta’ala sangat tidak menyukai perkataan yang bertolak belakang dengan perbuatan, bahkan itu merupakan dosa. Di satu sisi menyatakan keimanan tetapi di sisi lain bermuka dua. Kedua hal ini tidak bisa disatukan. Hadhrat Masih Mau’ud ‘as bersabda:

“Kalian dengarkanlah perkataanku dan ingatlah benar-benar bahwa jika perkataan seseorang tidak dengan kesungguhan hati dan tidak ada kekuatan amal di dalamnya, maka perkataan itu tidak akan memberikan pengaruh.”[3]

Yakni, hendaklah perkataan yang diucapkan itu benar, dan amalan pun harus sesuai dengan perkataan itu. Jika tidak demikian, maka tidak akan memberikan faedah. Jadi kalimat yaquulu al-latii hiya ahsan (mengatakan perkataan yang paling baik) ini maksudnya bukan baik sesuai dengan definisi seseorang, melainkan baik sesuai dengan definisi Allah Ta’ala. Perkataan yang menyebarkan kebaikan-kebaikan dan menghentikan keburukan.

Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia telah menjadi orang beriman karena antara perkataan dan perbuatannya tidak ada pertentangan atas dasar kesenangannya saja. Sebagai contoh, ada seorang pemabuk yang berkata, “Saya minum minuman keras, kalian juga minumlah. Apa yang saya katakan, saya melakukannya.” Ini bukanlah kebaikan dan tidak termasuk sebagai ahsan, melainkan dosa. Di sini, dalam masyarakat di sini (Inggris), kita melihat betapa banyak keburukan dilakukan atas nama kebebasan. Dan secara terbuka keburukan-keburukan itu dipublikasikan melalui televisi, internet, dan surat kabar-surat kabar. Pakaian-pakaian terbuka dipertontonkan atas nama fashion show dan dress show. Memang perkataan dan perbuatan mereka itu selaras, tetapi dalam pandangan Allah Ta’ala, ini merupakan hal yang dibenci dan dosa. Ini bertentangan dengan perintah-perintah Allah Ta’ala.

Beberapa orang dan para pemuda terpengaruh oleh orang-orang seperti itu dan mengatakan bahwa orang-orang [di Inggris] ini sangat berterus terang, apa yang nampak secara lahiriah, itu juga yang ada dalam hatinya, mereka tidak bermuka dua. Hendaklah diingat, bahwa tidak bermuka dua dalam hal ini bukanlah kebaikan, melainkan mempublikasikan hal yang tidak bermalu dan jauh dari Allah Ta’ala. Karena itu, anak-anak muda, laki-laki, dan perempuan-perempuan yang tinggal dalam masyarakat di sini hendaklah benar-benar berusaha untuk menghindari lingkungan yang seperti itu. Senantiasalah tunduk kepada Allah Ta’ala dan hendaklah berdoa untuk tetap berjalan di atas اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ — “tunjukilah kami pada jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah: 6).

Teruslah berdoa agar selamat dari [godaan] syaithan. Kita harus mencari apa saja yang Allah Ta’ala kehendaki dan perintahkan kepada seorang mukmin. Berusahalah untuk mencari hal-hal paling baik yang dengan itu Allah Ta’ala Allah Ta’ala menjadi sayang terhadap hamba-Nya dan memberi petunjuk cara untuk meraih kedekatan kepada-Nya. Hendaklah berjuang keras untuk itu. Dia mengajarkan cara untuk meraih keridhaan-Nya. Dia menjadi ridha terhadap amal baik hamba-hamba-Nya dan karena keselarasan antara perkataan dan perbuatan mereka, Dia menjadikan hamba-hamba-Nya berhak menerima ganjaran. Untuk mendapatkannya, seorang mukmin harus mencari apa yang diperintahkan Allah Ta’ala agar ia mengetahui perbedaan antara yang ahsan dengan yang tidak ahsan, mengetahui hakikatnya, dan agar ia termasuk ke dalam orang-orang yang diseru oleh Allah Ta’ala sebagai ‘ibaadii (hamba-hamba-Ku) serta diberi kabar suka tentang pengabulan doa-doanya.

Ini merupakan tanggung jawab sangat besar bagi kita sebagai orang Ahmadi di zaman ini, karena kita telah menerima Imam Zaman. Kita telah berjanji bahwa kita akan menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan kita, dan kita akan berusaha keras untuk mengerjakan setiap pekerjaan yang ahsan (paling baik) dalam pandangan Allah Ta’ala. Perkataan dan perbuatan kita akan selaras.

Untuk mengetahui perkataan-perkataan atau perkara-perkara yang dikatakan ahsan (paling baik) oleh Allah Ta’ala, kita akan kembali kepada Al-Quran yang di dalamnya terdapat beratus-ratus perintah. Di dalamnya dijelaskan perbedaan antara yang ahsan dan tidak ahsan. Dikatakan bahwa jika kita melakukan hal ini, maka kita akan menjadi orang yang menemukan jalan untuk meraih kedekatan kepada Allah Ta’ala. Jika kita tidak melakukan ini, maka kita akan menjadi sasaran kemurkaan Allah Ta’ala.

Di sini, saat ini saya akan menyoroti beberapa hal. Sebagai contoh, Allah Ta’ala berfirman ditujukan kepada orang Muslim: كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ”Kamu adalah umat terbaik, dibangkitkan demi kebaikan umat manusia; kamu menyuruh berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan, dan beriman kepada Allah Swt.” (QS. Ali-Imran : 111).

Dalam ayat ini Allah Ta’ala menyebut hamba-hamba-Nya atau jamaah orang-orang yang telah memperoleh kedudukan ‘ibaadur rahman (hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah) sebagai jamaah yang terbaik di antara manusia. Kenapa dikatakan yang terbaik? Sebab mereka menegakkan ahsan dengan perkataan dan perbuatannya sesuai dengan cara-cara yang telah diberitahukan Allah Ta’ala.

Dikatakan yang terbaik karena mereka memberikan petunjuk kepada kebaikan, bukannya berjalan menuruti keinginan-keinginannya sendiri, mereka justru menekankan kepada petunjuk yang telah Allah Ta’ala berikan untuk meraih kedekatan kepada-Nya. Dia berfirman; “Kalian menjadi umat yang terbaik karena kalian melarang keburukan, kalian sendiri berhenti dari segala macam dosa dan keburukan serta menekankan kepada orang lain untuk berhenti juga, sehingga kalian terhindar dari kemurkaan Allah Ta’ala, dan karena keimanan kalian kepada Allah Ta’ala sangat kuat, karena itulah kalian menjadi umat yang terbaik. Berdirilah kalian dengan keyakinan bahwa Allah Ta’ala sedang melihat setiap perkataan dan perbuatan kalian. Berdirilah kalian dengan keyakinan bahwa tuhan-tuhan dunia yang sementara itu tidak akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kalian, melainkan Allah Ta’ala yang merupakan Rabbul ‘alamin-lah yang memenuhi keperluan-keperluan dan mendengar doa-doa kalian. Beritahukanlah kepada dunia, bahwa keberlangsungan kalian adalah karena menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala dan mengamalkan perintah-perintah-Nya. Bukan karena sarana-sarana dan kemewahan-kemewahan duniawi.”

Kemudian lebih rinci Allah Ta’ala menjelaskan mengenai perkataan yang ahsan (paling baik), amal shalih, dan keburukan, Dia berfirman: وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا “Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka melalui sesuatu hal yang sia-sia, mereka berlalu dengan sikap yang mulia.” (QS. Al-Furqon : 73).

Dalam ayat ini terdapat larangan terhadap dua hal. Yang pertama larangan berdusta, dan yang kedua larangan mengatakan hal yang sia-sia. Yakni jangan memberikan kesaksian dusta, dalam keadaan seperti apapun jangan memberikan kesaksian dusta. Bahkan di tempat yang lain Dia berfirman bahwa “Standar kesaksian kalian adalah sedemikian rupa, yakni seandainya kalian harus memberikan kesaksian yang bertentangan dengan orang tua kalian, atau keuarga yang kalian cintai, maka sampaikanlah kesaksian itu.”

Jadi, inilah standar untuk menegakkan kebenaran. Jika standar ini ditegakkan maka ini akan termasuk ke dalam ahsan seperti yang difirmankan Allah Ta’ala. Sebagai hasilnya, manusia akan memperoleh kedekatan dengan Allah Ta’ala, ia akan mengalami kemajuan dalam amalan-amalan baik, dan akan termasuk di antara orang-orang yang merupakan hamba sejati Allah Ta’ala.

Kemudian berkenaan dengan kejujuran, lebih jauh Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70).

Inilah ahsan (perkataan yang terbaik) untuk menegakkan standar kebenaran, dan Allah Ta’ala perintahkan untuk menyebarkannya. Tetapi jika kita menginstrospeksi diri kita, maka standar kebenaran ini tidak nampak [dalam diri kita]. Pada setiap langkah kita berdiri di atas keinginan-keinginan pribadi.

Jika kita menginstrospeksi diri, berapa banyakkah di antara kita yang ketika diperlukan siap untuk memberikan kesaksian yang bertentangan dengan dirinya sendiri, bertentangan dengan kedua orang tuanya, dan bertentangan dengan orang-orang yang dicintainya? Berapa banyakkah yang menegakkan standar ini dalam percakapannya sehari-hari, dalam urusan-urusan bisnis, dan urusan-urusan lainnya yang bebas dari perkataan-perkataan yang bermuka dua. Kadang-kadang keuntungan pribadi menjadi penghalang, keuntungan bagi orang-orang yang dicintai menjadi penghalang, atau ego pribadi menjadi penghalang sehingga seseorang tidak mau mengakui kesalahannya. Perkataan-perkataan itu dibuat ambigu (bermakna dua atau banyak) untuk menyelamatkan diri dan mendapatkan keuntungan pribadi.

Salah satu standar qoulan sadida (perkataan yang benar) adalah perintah Allah Ta’ala untuk [berkata] yang ahsan (yang terbaik). Ahsan (yang terbaik) menurut Allah Ta’ala adalah mengatakan kebenaran tanpa berbelit-belit. Jika perintah ini diamalkan, maka mulai dari pertengkaran dalam keluarga sampai kepada pertengkaran yang terjadi di kalangan masyarakat akan berakhir. Kita tidak perlu pergi ke pengadilan, tidak perlu kita pergi kepada hakim, perdamaian dan kesucian akan tegak di mana-mana, standar kebenaran pada keturunan-keturunan yang akan datangpun akan menjadi tinggi.

Kemudian bersamaan dengan nasehat untuk meraih standar kebenaran, diperintahkan juga untuk segera pergi meninggalkan majlis-majlis yang di dalamnya tidak ada perkataan-perkataan yang benar dan banyak terdapat hal yang sia-sia. Jangan pergi ke pertemuan-pertemuan yang di dalamnya terdapat perkara-perkara yang bertentangan dengan ajaran Allah Ta’ala.

Sekarang ini, kadang secara tidak sadar perkataan yang sia-sia ini terjadi di rumah atau majlis kita sendiri. diperbincangkan perkara yang bertentangan dengan Nizam. Beberapa kali telah saya katakan, bahwa jika ada keberatan-keberatan berkaitan dengan para pengurus, apabila tidak bisa diperbaiki di level yang lebih rendah, maka sampaikanlah [laporan] itu kepada saya. Tetapi jika, hal ini dibicarakan dalam majlis-majlis maka akan menjadi hal yang sia-sia. Karena dengan itu tidak akan timbul perbaikan, justru akan timbul fitnah, kekacauan, dan pertengkaran yang lebih besar.

Saat ini banyak film-film kotor di televisi. Di internet juga banyak sekali film-film kotor. Tarian-tarian dan nyanyian-nyanyian. Dalam beberapa film India, terdapat nyanyian-nyanyian yang mengandung permohonan terhadap dewa dan dewi, atau dikemukakan mengenai kebesarannya, yang dengan begitu justru menyangkal Tuhan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Atau diperlihatkan bahwa dewa dan dewi ini, patung-patung ini merupakan sarana untuk menyampaikan kepada Tuhan. Ini juga merupakan hal yang sia-sia, dan syirik. Syirik dan dusta adalah sesuatu yang sama. Janganlah mendengarkan lagu-lagu seperti itu.

Kemudian melalui sarana facebook, twitter, chatting, komputer, dan lainnya diadakan pertemuan-pertemuan, kadang-kadang berlangsung pembicaraan yang tidak pantas dan asusila. Ketika terjadi perselisihan di antara mereka, maka sebagian pemuda menyampaikan hal itu kepada saya, yakni menceritakan kepada saya apa saja yang tengah terjadi. Mereka juga ikut terlibat di dalamnya. Terjadi hal-hal dimana orang-orang yang baik tidak akan sanggup melihat dan mendengarnya. Pemuda dan pemudi dari keluarga yang terhormat pun terlibat dalam hal itu dan membukakan aib mereka.

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi seorang Ahmadi untuk menghindari hal tersebut. Seorang Muslim Ahmadi diperintahkan untuk mencari perkataan yang terbaik. Carilah perkataan terbaik yang dapat mengembangkan amal kebajikan agar menjadi hamba Allah yang istimewa dan agar selamat dari laknat yang menimpa orang-orang seperti itu.

Bagaimanapun, banyak sekali perkataan terbaik (ahsan qoul) yang Allah Ta’ala beritahukan kepada kita. Menempuh jalan keshalehan dan memberitahukannya [kepada orang lain] merupakan ahsan, menghentikan dan berhenti dari keburukan merupakan ahsan. Allah Ta’ala berfirman kepada seorang Mukmin dan hamba yang sejati: وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ …Yakni, setiap orang memiliki suatu tujuan, yang kepadanya ia mengarahkan pandangannya. Karena itu berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan. (QS. Al-Baqarah: 149).

Jadi, jika kita berusaha untuk maju terus dalam kebaikan, maka baik perkataan maupun perbuatan, keduanya akan termasuk ke dalam ahsan, dan sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala kehendaki. Jika kita berusaha untuk maju terus dalam kebaikan, maka tentu kita juga akan berusaha untuk menghindarkan diri dari syaithan dan serangan-serangannya.

Di dalam ayat yang telah saya tilawatkan di awal khotbah, Allah Ta’ala berfirman إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ innasy syaithaana yanzaghu bainahum (sesungguhnya syaithan menimbulkan perpecahan di antara mereka). Kata syaithan memiliki banyak makna. Sebagian besar kita telah mengetahuinya. Syaithan adalah ia yang mengatakan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Tuhan Yang Maha Rahmaan (Pemurah). Menghasut kepada perbuatan takabur, pemberontakan, dan menimbulkan kerugian. Yang menyalakan api kedengkian. Yang menimbulkan kerugian, menimbulkan keragu-raguan di dalam hati. Pendek kata, sebagai mana telah saya katakan, bahwa syaithan menghasut kepada hal yang bertentangan dengan segala perkara ahsan (yang terbaik) yang diperintahkan Allah Ta’ala untuk terpenuhinya haququlah (hak-hak Allah) dan huququl ‘ibaad (hak-hak hamba). Arti dari nazghun atau an-nazghu adalah “perkataan-perkataan syaithan” atau konspirasi yang tujuannya untuk mengobarkan pertentangan di antara orang-orang dan untuk menimbulkan kekacauan. Alhasil Allah Ta’ala berfirman, ‘aduwwam mubiina’ (musuh yang nyata).

“Jika kalian tidak menjadi hamba sejati-Ku dan mengucapkan serta mengerjakan yang terbaik, dan tidak beramal berdasarkan itu, maka kalian akan keluar dari penghambaan kepada Allah Ta’ala Yang Maha Rahmaan (Maha Pemurah) dan akan terjatuh ke dalam pangkuan syaithan. Kemudian syaithan akan menimbulkan kedustaan, takabur, dan rasa permusuhan di dalam diri kalian, juga akan membuat kalian cenderung untuk menimbulkan kerugian kepada orang lain. dia akan menimbulkan keragu-raguan di dalam hati, juga akan menyalakan api kedengkian.”

Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa “Sebelum kalian tidur pada waktu malam, maka biasakanlah membaca dua surat terakhir, yakni al-Falaq dan an-Naas sebanyak 3 kali, lalu meniupkannya ke atas [tubuh] kalian, agar kalian terjaga dari pikiran-pikiran syaithan, dan keragu-raguan, serta keburukan-keburukan. Hendaklah kalian memberikan perhatian kepada hal ini.“ Setelah membaca, hendaklah kita berpikir bahwa kita harus tetap terjaga dari hal-hal buruk tersebut. berdoalah kepada Allah Ta’ala agar Dia menjaga kita dari hal tersebut.

Jadi, perkataan yang terbaik, meningkatnya kebaikan, dan keadaan terjaga dari syaithan akan timbul ketika pertolongan Allah Ta’ala menyertai kita. Berdoalah untuk memohon petunjuk kepada-Nya sambil berusaha keras untuk mengamalkan perintah-Nya dan menyelamatkan diri dari syaithan. Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihi shalatu wa salam bersabda: “Syaithan senantiasa memata-matai untuk menyesatkan manusia dan menjadikan amalannya rusak. Bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan yang baik pun ia ingin menyesatkannya dan ada saja jenis kerusakan yang berusaha ia masukan. Ketika manusia shalat, maka ia ingin mencampuradukkan perasaan ria atau yang lain ke dalamnya.” — yakni syaithan memasukkan berbagai macam pikiran lain ke dalam hati orang yang shalat. “Karena itu janganlah hendaknya tidak merasa khawatir dengan serangan-serangannya ini. Karena serangannya sangatlah nyata terhadap orang-orang yang fasiq dan berdosa. Seolah-olah mereka itu merupakan korbannya. Tetapi tidak juga ia lewatkan untuk menyerang orang-orang yang beriman, ketika ia mendapatkan kesempatan sekecil apa pun ia gunakan untuk menyerang mereka.

Orang-orang yang berada di bawah naungan karunia Allah Ta’ala dan mengetahui halusnya keburukan-keburukan yang diterbarkan syaithan, mereka tentu berdoa kepada Allah Ta’ala agar selamat dari itu.

Tetapi orang yang bodoh dan lemah, mereka kadang-kadang terjerumus. Untuk menghindari riya dan sombong, ada satu firqah yang patut dicela. Mereka menutupi kebaikan mereka dan memperlihatkan keburukan-keburukan mereka.” Yakni ada juga segolongan yang mengatakan bahwa “Janganlah memperlihatkan kebaikan-kebaikan dan perlihatkanlah keburukan-keburukan kalian agar tidak ada orang yang mengatakan bahwa kalian sangat baik.”

Beliau bersabda lagi, “Dengan cara itu mereka menganggap bahwa mereka akan selamat dari serangan syaithan, tetapi menurut saya mereka pun tidak sempurna. Di dalam hati mereka juga tujuan yang lain. jika tidak ada tujuan lain, maka mereka mungkin bisa melakukan hal demikian. Seorang manusia akan sempurna dalam makrifat dan suluknya (jalannya/langkahnya) manakala di dalam hatinya tidak lagi terdapat hal yang lain dalam jenis dan corak apapun. Ini adalah kelompoknya para nabi. Ini adalah kelompok yang sedemikian rupa sempurna sehingga wujud yang lain di dalam hati mereka sama sekali hilang.”[4]

Bagaimanapun, janganlah menganggap bahwa para nabi mendapatkan maqam (kedudukan) itu tanpa perlu berusaha. Tanpa usaha seorangpun tidak bisa mendapatkannya. Hadhrat Masih Mau’ud ‘as sendiri pun dalam beberapa kesempatan bersabda: “Teruslah kalian berusaha untuk meninggikan standar kalian, jadilah kalian wali, dan jangan menjadi pemuja wali.”[5]

Kemudian Allah Ta’ala menampilkan Nabi Muhammad s.a.w. di hadapan kita sebagai contoh, bahwa “inilah uswah hasanah bagi kalian, berusahalah untuk berjalan di atas contoh itu.”

Jadi, untuk selamat dari serangan-serangan syaithan diperlukan kerja keras. Karena itu, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, bahwa ahsan qoul (perkataan yang terbaik) itu juga perlu. Dalam setiap perkara, kita harus melihat apa perintah Allah Ta’ala [mengenai itu]. Kemudian, Allah Ta’ala juga telah mengajarkan doa di dalam dua surah terakhir Al-Quran, yang di dalamya terdapat doa untuk selamat dari segala macam serangan syaithan. Allah Ta’ala berfirman: وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dan, jika suatu godaan dari syaithan menggoda engkau, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia adalah Yang maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Haa Miim As-Sajdah: 37). Perbanyaklah berdoa untuk mendapatkan perlindungan Allah Ta’ala. Bacalah a’udzubillaahi minasy-syaithoonir rojiim, bacalah laa haola wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil ‘adziim. Berharaplah kepada Allah Ta’ala Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, jika doa-doa dipanjatkan dengan niat yang benar, maka tentu doa itu akan didengar.

Disini, saya juga akan mengemukakan hal ini, bahwa api kedengkian syaithan — yang di dalamnya ia sendiri terbakar dan karena menolak untuk taat kepada Adam maka ia dikeluarkan, kemudian dia berjanji untuk membakar umat manusia di dalam api itu — ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Inilah api kedengkian yang menjadi penyebab timbulnya ketidak-amanan di dalam lingkungan masyarakat.

 “Mahabbat sab ke lie, nafrat kisi se nahin” (cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapapun).

Karena itulah, setiap Ahmadi harus berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya, dan berdoa secara khusus di hadapan Allah Ta’ala dengan penuh kekhusyuan agar selamat darinya. Syaithan menyerang dengan dua cara. Yang pertama, ia menyerang untuk memutuskan hubungan [manusia] dengan Allah Ta’ala, dan yang kedua, ia burusaha untuk memutuskan hubungan manusia dengan manusia lainya. Sedangkan ahsan qoul (perkataan yang terbaik) akan membawa ke arah kecintaan kepada Allah Ta’ala dan menciptakan kecintaan manusia terhadap manusia yang lainnya.

Yakni sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, bahwa huququllaah dan huququl ‘ibaad bisa ditegakkan dengan ahsan qoul (perkataan yang terbaik). Karena itu slogan yang kita dengungkan adalah, “Mahabbat sab ke lie, nafrat kisi se nahin” (cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapapun).

Slogan inipun memberikan pengaruh terhadap orang-orang ghair, jika mereka datang di pertemuan-pertemuan kita, maka tentu mereka menyebut tentang [slogan ini]. Tetapi jika di antara sesama kita sendiri kita tidak memperlihatkan itu, maka slogan ini tidak akan berfaedah.

Ini merupakan perintah Allah Ta’ala dan berkali-kali telah saya kemukakan di hadapan para anggota jemaat, ruhamaa-u bainahum (kasih-sayang di antara mereka — QS. Al-Fath: 30), yakni perlakukanlah satu sama lain dengan kecintaan dan kasih-sayang. Orang yang melakukan hal itu, dialah yang merupkan mukmin sebenarnya. Ini adalah tanda seorang mukmin.

Dengan terus menerus mengemukakannya di dalam pidato-pidato, kita berusaha untuk membuktikan bahwa inilah slogan kita, yakni, “Mahabbat sab ke lie, nafrat kisi se nahin” (cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapapun). Dengan ini kita juga menampilkan salah satu contoh persatuan dan kesatuan dalam Jemaat.

Seberapa besarpun usaha kita, pengaruh sejatinya barulah akan ada ketika kita memperlakukan satu sama lain dengan kasih-sayang di lingkungan keluarga kita dan lingkungan masyarakat, serta saling memaafkan satu sama lain. Saling memaafkan juga merupakan amal shaleh yang secara istimewa ditekankan oleh Allah Ta’ala. Dia berfirman, Wal ya’fuu wal yashfahuu, (hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada — QS. An-Nur : 23).

Pendek kata, banyak sekali perintah Allah Ta’ala yang dengan mengamalkannya akan membawa kepada kedekatan dengan-Nya. Tetapi seperti inilah dunia, yakni di setiap langkah kita harus berhadapan dengan syaithan, yang dalam banyak kesempatan telah menimbulkan pertentangan antara perkataan dan perbuatan kita, kemudian ingin membawa kita jauh dari hal-hal yang untuk mengamalkannya telah Allah Ta’ala perintahkan kepada mukmin dan ‘ibadurrahman (hamba-hamba Yang Maha Pemurah) yang sejati.

Jadi, hendaklah kita ingat, bahwa syaithan terus-menerus melakukan pekerjaannya. Semenjak Adam diciptakan ia telah meminta tenggang waktu kepada Allah Ta’ala untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus. Dan mengatakan bahwa “akan aku sesatkan benyak orang dan mereka akan berjalan mengikutiku.” ‘ibadur rahman (hamba Allah Yang Maha Rahman) akan menjadi sedikit, dan hamba-hamba syaithan akan banyak. Allah Ta’ala berfirman, “Siapapun yang mengikuti engkau, maka Aku akan memasukannya ke dalam neraka jahanam.”

Pada zaman ini, sebagaimana telah saya contohkan juga, banyak sekali benda-benda yang membawa kepada kemurkaan Allah Ta’ala. Jika dipergunakan dengan baik maka tidak menjadi buruk, tetapi jika dipergunakan dengan keliru maka akan menjadi sarana yang sangat besar untuk menyebarnya keburukan-keburukan, menyebarkan kekotoran, dan dosa-dosa. Tetapi benda-benda ini pun merupakan sarana untuk menyebarkan kebaikan juga. Dalam televisi juga dibahas hal-hal yang berkaitan dengan ilmu dan pengetahuan, tetapi dengannya juga hal-hal yang tidak bermalu menjadi sesuatu yang lazim. Pada zaman ini, penggunaan televisi dengan cara yang paling baik dilakukan oleh Jemaat kita, Jemaat Ahmadiyah.

Pada hari-hari Jalsah pun saya telah mengingatkan, sebagian orang terpengaruh juga, mereka mengatakan bahwa sebelumnya mereka tidak terbiasa menyaksikan MTA, Mereka berkata, “Sekarang karena perkataan dan pengingat dari Anda, kami telah mulai menyaksikan MTA, kami sangat menyesal mengapa tidak dari sebelumnya kami melihat menghubungkan diri dengan MTA.” Sebagian lagi mengatakan bahwa “Dalam waktu satu minggu atau sepuluh hari, keruhanian dan standar ilmu di dalam diri kami mengalami penambahan. Kami menjadi tahu dengan benar mengenai Jemaat.” Saya ingatkan, berikanlah perhatian yang besar ke arah itu, jadikanlah rumah-rumah Saudara-saudara mendapatkan manfaat dari karunia yang telah Allah Ta’ala berikan untuk sarana tarbiyat bagi kita dan untuk menambah ilmu dan keruhanian kita, agar keturunan-keturunan kita tetap berdiri tegak di atas Ahmadiyah. Karena itu kita harus berusaha untuk menghubungkan diri sendiri dengan MTA.

Saat ini, disamping tayangan khotbah-khotbah, banyak lagi program live (langsung) lain yang menjadi sarana kemajuan dalam hal agama dan kerohanian, juga menjadi sarana kemajuan dalam ilmu pengetahuan. Untuk MTA ini tiap tahun Jemaat membelanjakan jutaan dolar agar para anggota jemaat mendapatkan tarbiyat. Jika para anggota Jemaat tidak benar-benar mengambil manfaat darinya, maka mereka memahrumkan (meluputkan) diri mereka sendiri.

Orang-orang ghair pun saat ini benar-benar mengambil manfaat dari MTA, dan kebenaran Jemaat menjadi jelas kepada mereka, mereka juga mengetahui tentang Tauhid Ilahi dan kebenaran agama Islam. Karena itu, para Ahmadi yang tinggal di sini, maupun yang tinggal di seluruh dunia hendaklah benar-benar mengambil manfaat dari MTA. Salah satu berkat lain dari MTA juga adalah ia menjadi sarana yang menghubungkan Jemaat dengan berkat-berkat Khilafat. Jadi, hendaklah mengambil manfaat darinya.

Allah Ta’ala telah memberikan akal kepada manusia, maka dengan menggunakan akalnya menusia telah menciptakan sarana-sarana kemudahan bagi dirinya. Allah Ta’ala berfirman: إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الأرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلا Sesungguhnya Kami telah menjadikan yang ada di bumi perhiasa baginya, supaya Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik amalnya. (QS. Al-Kahf : 8).

Jadi, ketika di sini (dalam ayat itu) disebutkan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini merupakan perhiasan maka dengan itu disebutkan juga kepentingannya. Segala penemuan baru yang kita temukan, itu pun disebutkan sebagai perhiasan. Dikemukakan juga mengenai keutamaannya. Dia berfirman bahwa segala benda pada tempatnya memiliki keutamaan, tetapi baru akan memberikan manfaat ketika digunakan dengan cara yang terbaik. Karena itu kita dinasehatkan agar mengambil manfaat dari penemuan-penemuan itu, tetapi dengan memperhatikan cara penggunaannya yang paling baik. Penemuan-penemuan ini akan menjadi elok ketika dipergunakan sesuai dengan keridhaan Allah Ta’ala, bukannya digunakan untuk menimbulkan fitnah dan kekacauan. Jika tidak dipergunakan dengan baik, maka penemuan-penemuan ini akan menjadi bencana.

Banyak sekali rumah tangga yang hancur karena internet dan chatting. Anak-anak menjadi rusak karena menggunakan benda-benda yang disediakan Allah Ta’ala, namun dengan cara yang tidak jaiz (tidak benar) dan mengatasnamakan kebebasan. Bagi para hamba yang hakiki diperintahkan untuk senantiasa mengedepankan ahsan qoul (perkataan yang terbaik) dan ahsan amal (amalan yang terbaik), serta menjadikan ridha Allah Ta’ala sebagai tujuan.

Bagaimanapun, di dalam Al-Qur’an al-Karim terdapat banyak sekali perintah-perintah, dan rincian dari perintah itu tidak dapat dijabarkan di sini. Satu hal yang saya ingin ingatkan, dan mengenai itu telah sedikit saya sampaikan juga di awal, yakni hendaklah menaruh perhatian kepada ahsan qoul (perkataan yang terbaik) sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala sangat menyukai hal ini. Dia berfirman: وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ Dan, siapakah yang lebih baik pembicaraanya dari orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal shaleh serta berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Ha Mim As-sajdah: 34).

Jadi, ini merupakan ajaran indah yang hendaknya dilakukan oleh seorang hamba yang sejati, sesuai dengan yang diharapkan. dalam ayat yang saya tilawatkan di awal difirmankan, يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ yaquulul latii hiya ahsan (ucapkanlah perkataan yang paling baik). Yang paling baik adalah perkara-perkara yang Allah Ta’ala perintahkan untuk melakukannya. Dalam ayat ini disebutkan, dengan menyatukan semua perkara yang baik ini akan menjadi satu hal, ringkasan dari ayat ini, dan merupakan ahsan qoul yang paling baik adalah menyeru [manusia] kepada Allah Ta’ala.

Sekarang, orang yang memanggil orang lain kepada Allah Ta’ala, ia juga harus menginstrospeksi dirinya sendiri, sudah sejauh mana ia mengamalkan perkara-perkara yang ke arah itu ia menyeru orang lain. Di awal pun telah saya katakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah kalian mengatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengamalkannya, karena itu merupakan dosa”.

Jadi, sebagaimana telah saya sebutkan dengan terperinci, orang-orang yang memanggil [orang lain] kepada Allah Ta’ala harus menyelaraskan antara perkataan dan perbuatannya. Dan menjadikan dirinya mengikuti kehendak Allah Ta’ala secara sempurna. Inilah contoh paling luhur dari ajaran Islam, yakni tidak ada perkataan yang paling besar dan paling baik melebihi menyeru orang kepada Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala sangat menyukai hal ini. Tetapi untuk menyeru orang kepada Allah Ta’ala, buatlah amal kalian menjadi amal shalih. Amal shalih adalah amalan yang sesuai dengan perintah Allah Ta’ala, amalan yang menyebarkan kebaikan-kebaikan, yang sesuai dengan waktu, dan menjadi sarana islah (perbaikan). Di sini saya akan memberikan satu contoh amal shalih. Memang tidak ada kaitan secara langsung dengan itu, tetapi penting untuk menjadikan jelas kepada Saudara-saudara. Contoh yang telah saya sebutkan sebelumnya, yakni memaafkan sebagai amal shaleh. Allah Ta’ala berfirman, biasakanlah untuk memaafkan. Tetapi memaafkan orang yang sudah terbiasa mencuri, atau terbiasa membunuh bukanlah pekerjaan yang baik dan bukan pula amal shalih.

Amal shalih dalam kasus ini adalah hendaknya orang seperti itu diberi hukuman untuk menyelamatkan lingkungan masyarakat dari kerugian-kerugian dan untuk menghentikan keburukan yang dilakukan oleh orang tersebut berulang kali dan dengan sengaja. Banyak lagi contoh-contoh yang lain, bagaimana pun, Allah Ta’ala berfirman bahwa tidak ada yang lebih baik dari orang yang melakukan da’wat ilallaah (memanggil orang kepada Allah). Ini adalah pekerjaan yang sangat disukai Allah. Tetapi orang yang melakukan da’wat ilallaah hendaklah ingat, bahwa hanya sekedar menyeru kepada Allah tidaklah cukup, tetapi setiap amal perbuatannya juga hendaklah menjadi amal yang shalih.

Tidak bisa jika ada seseorang yang di satu sisi dia mengatakan bahwa dia adalah hamba Allah yang istimewa sehingga menyampaikan pesan Allah Ta’ala merupakan kewajibannya, tetapi di sisi yang lain ia tidak memenuhi hak istri dan anak-anaknya, atau seorang wanita (istri) yang tidak memberikan perhatian terhadap pengawasan rumahnya dan tarbiyat anak-anaknya, atau ia tidak melakukan perintah-perintah yang lain dalam agama Islam, atau bersemangat untuk bertabligh tetapi tidak memperhatikan pakaian yang diperintahkan Islam kepada kaum perempuan untuk kesopanan dan kesucian. Ketika dengan pertablighan orang-orang seperti itu ada orang yang masuk Islam dan membaca Al-Qur’an al-Karim, maka ia akan mengatakan, “Engkau telah menabligi saya, tetapi Al-Qur’an al-Karim memerintahkan kesopanan dan pardah, sedangkan engkau tidak mengamalkan perintah itu.”

Demikianlah, banyak lagi keburukan-keburukan lainnya. Dusta, fitnah, dan banyak lagi perbuatan-perbuatan yang salah lainnya. Hal ini tidak bisa dimaafkan hanya karena seseorang bagus dalam bertablig. Allah Ta’ala berfirman bahwa orang yang mengatakan ahsan qoul (perkataan yang terbaik) ia hendaknya menjadi orang yang shalih, dan menjadi orang yang menunjukkan bahwa ia adalah orang yang patuh dah taat secara sempurna, dan dalam semua perintah ia mengucapkan sami’naa wa atho’na (kami mendengar dan kami taat). Inilah tanda seorang Muslim sejati.

Dengan referensi (rujukan) ini, saya juga ingin mengingatkan Jemaat Australia, hendaklah selalu diingat bahwa Allah Ta’ala sangat senang terhadap da’wat ilallaah (menyeru kepada Allah), tetapi untuk itu, bersama dengan itu, dan untuk melakukan tugas itu haruslah menjadikan amalan Saudara-saudara sesuai dengan perintah-perintah Allah Ta’ala. Dan harus juga memperlihatkan contoh kepatuhan dan ketaatan yang sempurna. Negara ini berpenduduk sekitar 23 juta orang meskipun dari segi wilayahnya sangat luas, bahkan merupakan sebuah benua. Penduduknya tidak terlalu banyak, dan terbatas di beberapa kota. Memang jarak beberapa kota sangatlah jauh, tetapi sebagaimana telah saya katakan pada saat Jalsah juga, hendaklah Lajnah, Khuddam, Anshar, dan Jemaat memberikan perhatian penuh terhadap tabligh.

Tugas kita adalah menyampaikan, sedangkan hasilnya ada di tangan Allah Ta’ala. Jika bersamaan dengan pekerjaan kita, kita juga berdoa kepada Allah Ta’ala, maka insya Allah hasil akan didapat. Jangan ada orang yang mengatakan kepada kita bahwa mereka tidak mengetahui Jemaat Ahmadiyah.

Secara kebetulan, saya menyaksikan tayangan ‘Id yang diproduksi oleh studio MTA di sini. Di dalamnya Naib Amir [Australia], yakni Khalid Saifullah Shahib, mengatakan bahwa pada tahun 1889 Hadhrat Khalifatul Masih ar-Rabi rh mengimami shalat ‘Id dan shalat Jumat di sini. Mesjid nampak sangat besar dan paling banyak sekitar 250 orang hadir di sini waktu itu. Sesuai dengan perkiraan, saat ini di sini hadir sekitar 2500 orang. Pada waktu itu reaksi saya juga segera mengucapkan Alhamdulillaah. Kita harus bersyukur kepada Allah Ta’ala karena Dia telah menambah jumlah.

Tetapi ketika saya berpikir, maka bersama dengan itu terpikir juga oleh saya bahwa setelah kira-kira 24 tahun pertambahan jumlah yang paling banyak adalah dari para Ahmadi yang datang dari Pakistan dan Fiji. Dari hasil pertablighan mungkin ada beberapa yang menjadi Ahmadi, dan itupun tidak terperhatikan. Dalam waktu 24 tahun, bahkan 24 orang lokal pun tidak dijadikan sebagai Ahmadi [dengan pertabligan]. Yakni satu tahun, satu orang pun tidak menjadi Ahmadi. Pertambahan jumlah yang besar di sini adalah karena berkurangnya jumlah anggota di Pakistan dan Fiji, bukan karena kerja keras Jemaat Australia.

Jadi, janganlah kita menutup mata dari kenyataan, dan hendaklah senantiasa menghadapinya. Ini adalah perkara yang harus dipikirkan. Setidaknya bagi saya hal ini menjadi sangat terpikirkan. Selain kepada orang lokal, tabligh juga perlu dilakukan kepada orang-orang yang datang semenjak awal dan menetap di sini serta menyebut diri mereka sendiri sebagai orang Australia, selain itu kepada orang-orang Arab dan bangsa-bangsa lain yang menetap di sini. Buatlah rencana yang tepat dan lakukanlah gerakan tabligh. Saya melihat bahwa orang-orang Australia juga memiliki semangat untuk mendengar dan berkeinginan untuk berdiskusi. Jika dijalin hubungan dan rabtah dengan mereka kemudian disampaikan kepada mereka [pesan Ahmadiyah] maka ada saja orang berfitrat baik yang akan menerima agama yang sejati. Merupakan tugas kita untuk menyampaikan pesan damai, cinta, dan persaudaraan dalam Islam kepada setiap tingkatan orang.

Beberapa orang yang saya jumpai di Melbourne mengetahui orang-orang Ahmadi yang merupakan teman mereka, tetapi mereka tidak mengetahui tentang ajaran Islam yang sejati. Mereka mengenal orang-orang Ahmadi sebagai sebuah organisasi, sebagai orang-orang yang memiliki akhlak yang baik, tetapi pesan Islam yang mendasar tidak tersampaikan kepada mereka. Jadi, haruslah ada perhatian terhadap hal ini. Seorang sahabat yang mukhlis diberikan hadiah pada saat Jalsah, karena meskipun cacat ia telah membagikan 20.000 pamflet tentang pesan damai Islam. Ia mengatakan bahwa sekarang ini di seluruh Australia ada sekitar 4000 orang anggota. Menurut saya jumlahnya lebih dari itu. Jika setengah dari jumlah itu yakni 2500 orang — jika ada 5000 anggota — membagikan pamflet, maka 10 juta pamflet bisa dibagikan. Dengan begitu dalam jangka waktu satu tahun pesan damai Islam dan gambaran yang benar mengenai Islam bisa disampaikan kepada setengah penduduk Australia.

Kemudian disiapkan pamflet berikutnya untuk tabligh. Bahkan jika kita membagikan seperempat atau sepersepuluhnya saja maka media akan tertarik dan akan mengangkat pesan itu di surat kabar-surat kabar. Di beberapa negara terjadi seperti demikian, bahkan di negara seperti Amerika terjadi demikian. Tidak diragukan lagi, saya melihat hubungan dengan media terjalin baik dan perhatian media juga ada, tetapi hendaklah media ini digunakan untuk menyampaikan pesan hakiki Islam.

Di sini banyak sekali orang usia pensiun yang datang ke sini, dan ke negara-negara yang lain. Saya mengatakan kepada mereka dan di sinipun saya akan mengatakan bahwa mereka ini tidak lagi bekerja, mereka duduk di rumah. Hendaklah mereka juga mewakafkan waktunya untuk membagikan pamflet atau yang lainnya. Bawalah literatur-literatur Jemaat dan bagi-bagikan, bertablighlah. Jumlah dan bilangan yang saya kemukakan ini hanya sebagai perkiraan. Saya tahu, mungkin saat ini Jemaat Australia tidak bisa menanggung biaya untuk pencetakan dan yang lainnya. Jika setiap literatur dicetak dengan harga 5-10 sen, jika dicetak secara borongan, maka untuk 10 juta pamflet memerlukan biaya sekurang-kurangnya 500.000 dolar. Tetapi jika dicetak hanya dalam jumlah ratusan ribu saja, maka banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, dan ini bisa dilakukan, bukan suatu masalah. Maka seperti yang telah saya katakan, hubungan dengan media akan menjadi berguna.

Saya pun mendengar Saudara-saudara juga mengadakan gerakan blood donation (donor darah), tetapi hendaknya ini dihubungkan dengan nama Islam, maka ajaran mengenai pesan damai Islam juga akan menjadi jelas kepada dunia. Insya Allah akan timbul perhatian, dan lebih banyak jalan akan terbuka. Dan seperti telah saya sebutkan, yang paling penting dalam pekerjaan itu adalah, Allah Ta’ala berfirman, “Amalan kalian harus shaleh, hendaklah kalian menjadi orang yang mengembankan kebaikan-kebaikan, dan keimanan kepada Allah Ta’ala pun hendaklah sempurna.”

Hendaklah memberi perhatian terhadap doa, semoga Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam hamba-Nya yang beramal shaleh dan meningkat dalam kebaikan serta ketaatan. Semoga kita juga bekerja sesuai dengan keridhaan-Nya, dan semoga Allah Ta’ala menciptakan hasil-hasil yang baik. Semoga Allah menambah jumlah kita dengan orang-orang setempat/lokal di sini juga.

Setelah shalat saya juga akan mengimami shalat jenazah gaib, yakni untuk jenazah muhtaromah Shahibzadi Amatul Matin Shahibah, putri dari Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a., dan merupakan istri dari Mukarom Sayid Mir Mahmud Ahmad Nasir Shahib. Beliau meninggal pada tanggal 14 Oktober sekitar jam 12 malam. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau dimakamkan pada hari ‘Id kemarin lusa. Beliau lahir di Qadian Daarul Masih pada tanggal 21 September 1936. Pada waktu itu Hadhrat Ama Jaan r.a. dan Khalifat Tsani r.a. banyak berdoa untuk beliau. Beliau adalah putri dari Hadhrat Sayyidah Maryam Shiddiqah Shahibah, beliau adalah satu putri dari istri Hadhrat Mushlih Mau’ud yang ini dan merupakan cucu dari Dr. Mir Muhammad Ismail Shahib ra.

Dr Mir Ismail juga merupakan paman Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a. dari pihak ibu. Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. juga telah menulis beberapa syair untuk putri beliau ini, yang di dalam Kalam-e-Mahmud dicetak dengan nama Taranah Athfalul Ahmadiyah. Salah satu bait syairnya sebagai berikut:

Meri raat din bas yehi ik shada he

Keh is aalime kaun ka ik khuda he

Hanya inilah yang kau ucapkan sepanjang siang dan malam yakni Siapakah Tuhan lain untuk sekalian alam selain Tuhan yang satu ini

Bagaimanapun, di antara putra-putri Hadhrat Mushlih Mau’ud r..a, secara khusus di antara putri-putri beliau, saya melihat semuanya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah Ta’ala, dan dawam mengerjakan shalat, tidak hanya dawam, bahkan mengerjakannya dengan sangat haru dan khusyuk, semuanya mengerjakan shalat dalam waktu lama. Karena Mukarom Mir Mahmud Ahmad Nashir adalah seorang mubalig, seorang pewakaf zindegi, pernah menjadi mubalig Spanyol dan Amerika juga, Sahibzaadi Amatul Matin mendapat kesempatan untuk tinggal bersama beliau, dan menjalankan kewajiban sebagai istri mubalig. Ketika dibangun mesjid Basyarat di Spanyol, pada waktu itu beliau-beliau ini di sana. Pada waktu itu beliau bekerja sangat keras untuk persiapan dan pekerjaan-pekerjaan memasak dan menyiapkan makanan. Hadhrat Khalifatul Masih rabi menceritakan bahwa beliau mengatakan, pada malam-malam ketika baru selesai dari pekerjaan pukul 3, kemudian tidur, beliau sangat gembira karena hari itu Allah Ta’ala memberikan kesempatan untuk tidur sejenak.[6]

Beliau bekerja sampai larut malam. Berkat karunia Allah Ta’ala acara [peresmian] di mesjid Mubarak berlangsung sangat sukses. Makanan untuk para tamu dan untuk Hadhrat Khalifatul Masih Rabi pun dimasak dalam pengawasan beliau sendiri, karena belum ada pengaturan langgar khana. Beliau juga tinggal di Kalifornia cukup lama, keadaan Jemaat di sana pada waktu itu pun adalah demikian, yakni tidak ada mesin cuci dan yang lainnya, maka beliau juga mencuci pakaian, mengerjakan pekejaan-pekerjaan rumah yang lainnya. Jika ada orang yang menawarkan bantuan, beliau tidak menerimanya. Beliau terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah sendiri.

Beliau juga berkhidmat dalam berbagai bidang sekretaris di Lajnah Imailah Markaziah Pakistan. Memiliki hubungan yang sangat setia dengan Khilafat. Beliau adalah bibi saya dari pihak ayah, namun setelah saya menjadi Khalifah, penghormatan dan kecintaan beliau kian bertambah besar. Bahkan ketika pertama kali beliau datang ke London pada saat awal [saya menjadi Khalifah], beliau mengatakan kepada seseorang bahwa kini beliau tidak bisa lagi berbincang secara terbuka. Tahun lalu pun beliau datang ke Jalsah, meskipun beliau agak sakit tetap saja beliau datang ke London untuk jalsah dan saya bertemu dengan beliau.

Beliau memiliki 4 orang putra dan seorang putri. Sebagaimana telah saya katakan, suami beliau Mir Mahmud Ahmad Shahib Naasir dan dua orang putranya adalah pewakaf zindegi. Dr. Ghulam Ahmad Farrukh yang meraih Phd dalam bidang Sains Komputer di Amerika, sekarang berkhidmat di kantor Sadr Anjuman Rabwah. Putra kedua yang wakaf zindegi adalah Muhammad Ahmad Shahib, dulu di Amerika. Setelah meninggalkan pekerjaannya beliau datang ke London, bersama saya di sana. Beliau juga datang ke sini, tetapi karena kewafatan Ibunya, beberapa hari lalu beliau pergi ke Rabwah. Kedua bersaudara ini adalah pengkhidmat yang sangat ikhlas. Semoga di masa yang akan datangpun Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada beliau. Dan semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhumah.

Beliau memiliki seorang putra yang tinggal di Belanda, salah seorang putra beliau yang lain adalah dokter di Dubai, dan seorang lagi di Amerika. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada semuanya untuk menjalin hubungan setiap dengan jemaat dan Khilafat. Mukarom Mir Mahmud Ahmad Shahib juga saat ini merasa cukup sendiri, semoga Allah Ta’ala juga menganugerahkan kedamaian kepada beliau dengan karunia-Nya. Allah Ta’ala lah yang dengan karunia-Nya dapat mengisi rasa kehilangan beliau. Bersama-sama dalam jangka waktu yang lama meninggalkan perasaan seperti itu [kehilangan]. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhumah. Seperti yang telah saya katakan, setelah shalat akan dilaksanakan shalat jenazah gaib.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] dikutip dari Jangg-e-Muqodas, Ruhani Khazain jilid 6, hal. 146

[3] Malfuzat jilid awal, hal. 42-43, edisi 2013, terbitan Rabwah

[4] Malfuzat jilid 3, hal. 630-631, edisi 2003, cetakan Rabwah

[5] dikutip dari Malfuzat jilid 2, hal. 139, edisi 2003, cetakan Rabwah

[6] Dikutip dari Khuthbaat-e-Tahir jilid awal, hal. 139, Khotbah Jumat tanggal 10 September 1982, Cetakan Rabwah