Brosur Baiat Sunnah Rasulullah

 إِنَّ الَّذينَ يُبايِعونَكَ إِنَّما يُبايِعونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوقَ أَيديهِم ۚ فَمَن نَكَثَ فَإِنَّما يَنكُثُ عَلىٰ نَفسِهِ ۖ وَمَن أَوفىٰ بِما عاهَدَ عَلَيهُ اللَّهَ فَسَيُؤتيهِ أَجرًا عَظيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang bai’at kepada engkau sebenarnya mereka bai’at kepada Allah. Tangan Allah berada di atas tangan mereka. Maka siapa yang melanggar (janjinya), sesungguhnya ia memutuskan untuk kerugiannya sendiri; dan siapa yang menyempurnakan apa yang dia telah janjikan kepada Allah, maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar.” (QS.Al-Fath, 48 : 11

Baiat Syari’at Islam

Baiat berasal dari kata “baa’a – yabii’u – bay’an – wa bay’atan بَاعَ – يَبِيْعُ – بَاعًا – وَبِيْعَةً artinya menjual diri dan hartanya, sedangkan pembelinya adalah Allah swt. Adapun penggantinya (bayarannya) berupa surga.” Ajaran bai’at demikian ini, terdapat dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Quran (QS 9: 112[1]). Jadi, bai’at itu merupakan ajaran setiap agama yang ditegakkan kembali dan dilestarikan oleh Islam melalui sunnah Rasulullah saw dan dilanjutkan oleh para Khulafaa-ur-Rasyidin beliau, meskipun para sahabat sudah bai’at kepada beliau, karena baiat itu ikrar kesetiaan kepada seorang pemimpin (imam) orang-orang yang beriman. Baiat merupakan alat pengikat ketika seseorang memasuki pintu gerbang Jamaah Islam yang dikehendaki oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Berkat bai’at perjuangan dan pengorbanan setiap orang akan lebih bermanfaat, bahkan akan menjalin persatuan yang mendatangkan kekuatan dan keindahan Islam dan umatnya. Karena itu, orang yang mati tanpa ikatan baiat berarti mati tuna ilmu sebab potensinya tidak dipersembahkan untuk keperluan Jamaah Islam yang didirikan atas perintah Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw bersabda:

وَمَنْ مَتَا وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهٖ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَةً

“Siapa yang mati, padahal tidak ada bai’at di atasnya, maka berarti ia wafat seperti kematian orang yang tidak mengerti.” (HR Ahmad bin Hanbal, dan Kanzul-Umal, Juz I/463, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989)

Pada hakikatnya, baiat itu ditujukan kepada Allah swt karena Dia yang memiliki surga sebagai sarana untuk membeli orang-orang beriman yang telah menyatakan baiat. Namun, dalam prakteknya Allah swt mewakilkan penerimaan baiat itu kepada Nabi Besar Muhammad saw sebagai wakil-Nya (Khalifatullah) di bumi pada saat itu, sebagaimana tersurat dalam QS 48: 11

إِنَّ الَّذينَ يُبايِعونَكَ إِنَّما يُبايِعونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوقَ أَيديهِم ۚ فَمَن نَكَثَ فَإِنَّما يَنكُثُ عَلىٰ نَفسِهِ ۖ وَمَن أَوفىٰ بِما عاهَدَ عَلَيهُ اللَّهَ فَسَيُؤتيهِ أَجرًا عَظيمًا

“Sesungguhnya orang-orang yang bai’at kepada engkau sebenarnya mereka bai’at kepada Allah. Tangan Allah berada di atas tangan mereka. Maka siapa yang melanggar (janjinya), sesungguhnya ia memutuskan untuk kerugiannya sendiri; dan siapa yang menyempurnakan apa yang dia telah janjikan kepada Allah, maka Dia segera akan memberinya ganjaran yang besar.”

Penerima Baiat Sesudah Rasulullah saw Wafat

Setelah Rasulullah saw wafat, tugas penerimaan bai’at diwariskan kepada pengganti beliau saw sebagai Khalifah Rasulullah. Yaitu, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, Umar bin Al-Khathab ra, Usman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib karramahullaahu wajhah. Karena itu, walaupun telah bai’at kepada Rasulullah saw, para sahabat Rasulullah saw berbai’at lagi kepada Abu Bakar ra setelah terpilih menjadi Khalifah Rasulillah (HR Al-Harits, Ibnu Jarir, Bukhari dan Muslim; dan Kanzul-Umal, Juz V/14109, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989).

Demikian pula Umar bin Khatab ra menyuruh manusia supaya bai’at kepadanya, lalu mereka bai’at (HR Bukhari dan Muslim; dan Kanzul-Umal, Juz V/14135). Bahkan, Sa’ad bin Ubadah ra diperintah Abu Bakar Ash-Shiddiq ra untuk memberitahukan kepada umat manusia dan kaumnya, lalu mereka berbai’at kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra sebagai Khalifah Rasulillah saat itu. (HR Ibnu Sa’ad; dan Kanzul-Umal, Juz V/14108, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989). Demikian juga sahabat Ali bin Abi Thalib ra dan sahabat Zubair berbai’at kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. (HR Al-Mahamili; dan Kanzul-Umal, Juz V/14124, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989)

Sehingga, dengan bai’at itu umat Islam tetap terjaga dalam satu jamaah yang dipimpin oleh satu Imam. Sebaliknya, tanpa bai’at umat Islam akan mudah berpecah-belah dan saling bertentangan yang bisa menimbulkan permusuhan dan peperangan yang menyebabkan rusaknya keindahan Islam dan lemahnya kaum Muslimin, sehingga bencana demi bencana menimpa kehidupan mereka. Sebagaimana fakta sejarah kaum muslimin sejak terbunuhnya Khalifah Rasulilah Ali bin Abi Thalib ra, hingga zaman akhir sekarang ini. Sampai-sampai dalam suatu Hadits, kaum Muslimin dinubuatkan akan menjadi seperti Bani Israil laksana sepasang sandal dan akan pecah menjadi 73 golongan (HR Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”, dan Ibnu Asakir-dari Amrra.; dan Kanzul-Umal, Juz I/1060). Dimana, golongan Yahudi dikutuk oleh Allah swt karena mereka berupaya membunuh dan mendustakan Nabi yang diutus kepada mereka dan golongan Nasrani hidup tersesat karena mereka setelah menerima Nabi yang benar, kemudian mereka menobatkannya sebagai Tuhan, bahkan mengalihkan pujian yang seharusnya diperuntukkan Allah swt, malah diberikan Yesus, seorang manusia ciptaan-Nya.

Guna menyelamatkan kaum Muslimin yang telah berpecah-belah dan saling berselisih pendapat pada zaman akhir ini, maka Rasulullah saw memerintahkan kaum Muslimin bersatu kembali dalam satu jamaah Islam yang telah didirikan oleh Imam Mahdi as sebagai wakil Rasulullah saw dan Khalifatullah, Al-Mahdi di zaman ini, dengan cara bai’at kepada beliau as. Dan apabila beliau as wafat, maka bai’at harus ditujukan kepada Khalifatul-Masih yang menggantikannya. Rasulullah saw bersabda:

فَاِذَ رَاَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَاِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِىِّ

“Maka, apabila kamu sekalian memahaminya (Imam Mahdi), maka bai’atlah kamu kepadanya, meskipun kamu merangkak di atas salju, karena ia Khalifatullah, Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah, dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”-dari Tsauban radhiyallaahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38658)

Perlu diketahui bahwa Hadits ini, menurut Ibnu Majah: isnad-nya Shahih, rijal-nya tsiqat (para perawinya kuat hafalannya dan adil) serta kesahihannya berdasarkan syarah Bukhari dan Muslim. Dengan demikian, sangat meyakinkan bahwa bai’at itu adalah Sunnah Rasulullah saw dan Sunnah Khulafaur-Rasyidin ra dan pada zaman akhir ini telah ditegakkan kembali oleh Imam Mahdi as semata-mata untuk mengikuti perintah Rasulullah saw. Berkat bai’at ini, insya Allah, umat Islam akan segera menjadi satu ikatan jamaah Islam dalam skala internasional yang menjadi rahmat bagi bangsa-bangsa di dunia ini.

Jaminan Bagi Orang yang Baiat

Orang Islam yang telah berbai’at kepada Imam Mahdi atau Khalifatul-Masih yang telah mewarisi kepemimpinannya dalam memimpin jamaah Islam yang telah beliau dirikan sejak 23 Maret 1889 M, akan dijamin selamat dari pengaruh fitnah Dajjal yang selalu berupaya merusak imannya. (HR Ibnu Addiy dalam “Al-Kamil”, Ibnu Asakir, dan Ibnu An-Najjar; dan Kanzul-Umal, Juz XIV/38630). Bahkan, imannya akan bertambah mantap dan ia akan mendapatkan berkat bai’atnya serta ia akan bersikap sopan santun, selalu berupaya memperbaiki diri karena hubungannya dengan Allah swt terjalin sangat kuat, sehingga shalat, pengorbanan, hidup dan matinya diperuntukkan kepada-Nya karena ia menyadari bahwa dirinya dan hartanya telah menjadi milik-Nya. Allah swt berfirman:

قُل إِنَّ صَلاتي وَنُسُكي وَمَحيايَ وَمَماتي لِلَّهِ رَبِّ العالَمينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, pengorbananku dan kehidupanku serta kematianku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am, 6 : 163)

Bahkan, Allah swt akan memberikan pertolongan dalam mengatasi persoalan mereka di samping Dia akan memberikan surga bagi mereka. Allah swt berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشتَرىٰ مِنَ المُؤمِنينَ أَنفُسَهُم وَأَموالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ

“Sesungguhya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa mereka dan harta mereka bahwa bagi mereka tersedia surga.” (QS. At-Taubah, 9 : 111)

Menurut Imam Mahdi as apabila seseorang menyadari bahwa dirinya dan hartanya telah dibeli Allah swt, maka hubungan seseorang dengan hal-hal duniawi, jika diwarnai oleh hubungan dengan Allah swt, dan kecintaan kepada hal-hal tersebut diwarnai oleh kecintaan kepada-Nya, maka pergesekan pada saat demikian itu akan menghanguskan kecintaan terhadap ghairullaah (wujud selain Allah), dan sebagai gantinya akan dipenuhi oleh cahaya dan nur. Lalu keridhaan Allah menjadi keridhaannya, dan keridhaannya menjadi kehendak keridhaan Allah swt. Setelah mencapai kondisi demikian, maka kecintaan kepada Tuhan menjadi nyawa baginya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kegembiraan dan kesenangannya terletak dalam hubungannya dengan Tuhan. Dan jika menurut pandangan dunia bahwa dia mengalami kesedihan dan kesusahan, maka baginya hal itu biarlah terjadi, sebab yang sebenarnya ialah orang ini dalam “kesedihan dan kesusahan” tersebut dia dengan penuh ketenangan dan kelezatan, ketentraman meneguk kelezatan Ilahi yang nilainya tidak dapat dibandingkan dengan yang dirasakan oleh orang-orang yang berpandangan duniawi. Dan demikian kedudukan dan pengaruh duniawi yang begitu besar.” (Malfuzhat, Add. Nazir Isya’at, London, 1984, Jilid 2 halaman 101-102)

Orang yang Mengaku Beriman Pasti Diuji

Menurut sabda Rasulullah saw yang termaktub dalam kitab-kitab ulama salaf bahwa orang yang mengaku beriman kepada Allah swt pasti akan diuji keimanannya (QS 29 : 3) dengan berbagai macam musibah seperti rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa dan kekayaan yang bernilai tinggi baginya (QS 2 : 156) atau akan diuji dengan limpahan kenikmatan agar dengan itu diketahui apakah ia menjadi orang yang bersyukur dengan berjuang sekuat tenaga dan bersabar (QS 47 : 31), sebab menurut Rasulullah saw indikasi orang beriman itu ada dua macam saja, yaitu: bersabar dan bersyukur. Rasulullah saw bersabda:

اَلْاِيْمَانُ نِصْفَانِ فَنِصْفٌ فِى الصَّبْرِ وَ نِصْفٌ فِى الشُّكْرِ

“Iman itu ada 2 bagian, maka separuh berada dalam kesabaran dan separuh berada dalam syukur. (HR Al-Baihaqi dalam Syi’abil-Iman dari Anas ra, dan Kanzul- Umal, Juz I/61). Orang-orang beriman yang sedang diuji oleh Allah swt dengan berbagai musibah harus bersikap sabar dan berprasangka baik kepada-Nya, karena dibalik musibah itu Dia akan membukakan khazanah Ma’rifat Ilahi yang akan menambah manisnya iman dan kecintaan kepada- Nya. Bahkan, para malaikat akan menyampaikan salam atas kesabaran mereka dan mereka akan dikaruniai tempat tinggal terakhir yang mulia yang penuh berkat dan rahmat- Nya. Allah swt berfirman:

وَالمَلائِكَةُ يَدخُلونَ عَلَيهِم مِن كُلِّ بابٍ * سَلامٌ عَلَيكُم بِما صَبَرتُم ۚ فَنِعمَ عُقبَى الدّارِ

“Dan para Malaikat akan masuk kepada mereka dari setiap pintu. ‘Selamat sejahtera atas kamu, yang terhadapnya kamu bersabar; maka (lihatlah) betapa baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d, 13:24-25)

أُولٰئِكَ عَلَيهِم صَلَواتٌ مِن رَبِّهِم وَرَحمَةٌ ۖ وَأُولٰئِكَ هُمُ المُهتَدونَ

“Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah, 2 : 158)

Kerugian Orang yang Tidak Bai’at

Orang yang mengaku beriman tetapi tidak bai’at berarti ia tidak hidup dalam Jamaah Ilahi yang menyebabkan datangnya kebaikan (Ibnu Asaakir, dan Kanzul-Umal, Juz XVI/44282), rahmat (Ad-Dailami dari Jabir ra; dan Kanzul-Umal, Juz III/6480) dan berkat (Al-Baihaqi dari An-Nu’nam bin Basyir radhiyallaahu ‘anhu dan Kanzul-Umal, Juz III/6418). Disamping itu, ia tidak mempunyai ikatan dengan Imam yang sedang memimpin umat Islam di masa hidupnya. Bahkan, seandainya ia membelanjakan hartanya, tidak tersalur melalui prosedur yang telah ditentukan oleh Allah swt dimana menurut Al- Quran infaq itu harus diserahkan kepada Allah melalui baitul maal untuk keperluan Islam dan kemanusiaan, sedang yang mengatur penggunaan kekayaan baitul-maal diserahkan kepada Imam Jamaah yang sedang memimpin saat itu. Hal ini dapat dimengerti dengan mudah jika seseorang membaca awal surat Al-Baqarah bahwa iman itu ditujukan kepada Allah swt yang Maha Ghaib, demikian juga shalat dan infaqnya juga ditujukan kepada-Nya. Semua itu dilaksanakan secara berjamaah yang sedang dipimpin oleh seorang Imam (QS 2 : 4-5; QS 3 : 135; QS 13 : 23). Oleh karena itu, hadits-hadits berikut menjadi bahan renungan bagi kita bersama. Rasulullah saw bersabda:

وَمَنْ مَتَا وَلَيْسَ عَلَيْهِ اِمَامُ جَمَاعَةٍ فَاِنَّ مَوْتَتَهُ مَوْتَةً جَاهِلِيَةً

“Dan Siapa yang mati, padahal tidak ada Imam jamaah atasnya, maka sesungguhnya kematiannya itu seperti kematian orang yang tidak mengerti.” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Umar ra; dan Kanzul-Ummal, Juz I, Hadits no. 1035, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989)

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا دَخَلَ النَّارَ

“Siapakah yang memisahkan diri satu jengkal dari jamaah, berarti ia memasuki api (neraka).” (HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Mu’awiyah; dan Kanzul Ummal, Juz I, Hadits no 1039, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989)

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرً فَارَقَ اْلاِسْلَامَ

“Siapa yang memisahkan diri satu jengkal dari jamaah, berarti ia telah memisahkan diri dalam Islam.” (HR An-Nasaai dari Hudzaifah dan Kanzul Ummal, Juz I, Hadits no. 1042, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989)

يَدُ اللهِ عَلَى الْجَمَاعَةِ وَالشَّيْطَانُ مَعَ مَنْ خَالَفَ الْجَمَاعَةَ يَرْكُضُ

“Tangan Allah Allah berada diatas Jama’ah, sedangkan syaitan berasama orang-orang yang meninggalkan jamaah sambil berlari.” (HR. Ath-thabrani dalam Al-Kabir dari Arafah; dan Kanzul Ummal Juz I hadits 1031, ‘Allamah Alauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Cet. Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989)

Prosedur Bai’at

ahlus-sunnah wal-jamaah baiat ahmadiyah

Setelah mengenal kebenaran Imam Mahdi as dan menerima syarat/janji baiat dan segala akidah Ahmadiyah, yang tidak lain adalah ajaran Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw, segala petunjuk yang penting serta segala kewajiban yang terkait, maka seseorang diizinkan berbai’at melui Jemaat Ahmadiyah setempat atau dengan mengisi Formulir Surat Pernyataan Bai’at yang tersedia untuk itu.

 

Sektab PB JAI, Cet. 1. 2017

 JEMAAT AHMADIYAH INDONESIA

Badan Hukum Penetapan Menteri Kehakiman RI No.JA 5/23 Tanggal 13-3-1953 Jl. Balikpapan I/10 Jakarta 10130 Telp.(021) 6321631, 68737052, Fax. (021) 6321640


[1] Penulisan nomor ayat Al-Quran dalam brosur ini berdasarkan Hadits Nabi Besar Muhammadsaw. riwayat sahabat, Ibnu Abbasra yang menunjukkan bahwa setiap Basmalah pada tiap awal surah adalah ayat pertama dari surah itu.

كَنَا لاَ يَعْرِفُ فَصْلَ السُّوْرَةِ حَتّٰى يَنْزِلَ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Nabi Muhammad saw tidak mengetahui pemisahan antara surah itu sehingga bismillaahirrahmaanirrahiim turun kepada beliausaw..” [HR. Abu Daud, “Kitab Shalat” dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak”]

(Visited 31 times, 1 visits today)