Pembaca yang budiman, di zaman ini banyak berita yang dapat kita peroleh dengan mudah, bahkan terkadang berita itu datang dengan sendirinya. Sebagai seorang mukmin kita diingatkan agar jangan menelan mentah-mentah setiap cerita, terlebih berita tentang Ahmadiyah. Sering terjadi kebencian, antipati, hingga tega mengadakan perusakan masjid-masjid, rumah-rumah dan penjarahan terhadap harta hingga penganiayaan dan pembunuhan terhadap pengikutnya, hanya karena terpengaruh oleh berita. Padahal, tindakan tersebut dapat merugikan saudaranya sendiri yang akhirnya menyebabkan penyesalan dan merusak citra Islam sendiri serta bangsa dan negaranya sendiri. Oleh karena itu Allah mengingatkan kita dalam Kitab suci-Nya, Al-Quran:

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنوا إِن جاءَكُم فاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنوا أَن تُصيبوا قَومًا بِجَهالَةٍ فَتُصبِحوا عَلىٰ ما فَعَلتُم نادِمينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang durhaka dengan membawa suatu berita, maka selidikilah, supaya kamu tidak menimpakan musibah terhadap suatu kaum karena kebodohan, lalu kamu menyesal atas apa yang telah kamu kerjakan. (Al-Hujurat 49: 7)

Guna mendapatkan berita yang sebenarnya tentang Ahmadiyah, kami paparkan kepada para pembaca tentang AHMADIYAH dengan selayang pandang, baik berdasarkan Al-Quran, Hadits maupun sabda Pendirinya dengan harapan pembaca tidak keliru dalam memahami Ahmadiyah yang kini telah diselimuti berbagai kedustaan dan fitnah dari orang lain, semoga Allah taala merahmati pembaca yang budiman, aamiin!

Apakah Ahmadiyah itu?

Jawabannya kami kemukakan definisinya (ta’rifnya) yang sudah dibakukan secara internasional sebagai berikut ini:

اَلْاَحْمَدِيَّةُ هِيَ جَمَاعَةٌ اِسْلاَمِيَّةٌ دِيْنِيَّةٌ غَيْرَ سِيِاسِيَّةٍ, هَدَفُهَا الْعَوْدَةُ بِالْاِسْلَامِ اِلَى صُوْرَتِهِ الْاَصْلِيَّةِ الَّتِيْ جَآءَ بِهَا سَيِّدُ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ثُمَّ نَشَرَهُ فِى كُلِّ الْعَالَمِ. وَقَدْ اَسَّسَ حَضْرَةُ مِرْزَا غُلاَمُ اَحْمَدَ الْقَادِيَانِيُّ عَلَيْهِ السَّلاَمُ الْجَمَاعَةَ الْاسْلاَمِيَّةَ الْاَحْمَدِيَّةَ بِاَمْرٍ مِنَ اللهِ تَعَالَى سَنَةَ  ۱۸۸۹  م فِىْ مَدِيْنَةِ قَادِيَانَ فِى الْهِنْدِ وَقَدْ أَعْلَنَ أَنَّهُ الْمَسِيْحُ الْمَوْعُوْدُ وَالْمَهْدِيُّ الْمَعْهُوْدُ

Ahmadiyah adalah Jamaah Islam yang bergerak di bidang keagamaan, tidak berpolitik.  Tujuannya adalah mengembalikan Islam kepada bentuknya yang asli sebagaimana Islam itu dibawa oleh Pemimpin semua umat manusia, yakni Pemimpin kita Muhammad Al-Mushthofa saw kemudian disiarkan ke seluruh dunia. Dan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiyani as telah mendirikan Jamaah Islam Ahmadiyah dengan perintah Allah Ta’ala pada tahun 1889 M di Qadian, India serta beliau telah memproklamirkan diri sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi yang dijanjikan. [1]

Di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Jamaah Islam Ahmadiyah tersebut menggunakan nama ‘Jemaat Ahmadiyah Indonesia’ yang diakui sebagai Badan Hukum oleh Menteri Kehakiman tertanggal 13 Maret 1953 No. J.A 5/23/13/

 

Terpecahnya Umat Islam

Tiga puluh tahun sesudah wafatnya Nabi Muhammad, Rasulullah saw umat Islam mulai terpecah. Kini, umat Islam terpecah pecah menjadi ratusan firqah (golongan). Fakta ini menunjukkan bahwa Hadits Rasulullah saw yang mengabar-gaibkan umat beliau akan pecah menjadi 73 golongan itu adalah benar, karena sudah menjadi kenyataan. Jadi berdasarkan Hadits itu, apapun nama golongan Islam itu diakui sebagai umat Islam. Mereka itu bersaudara dan diharamkan mengganggu kehormatan harta dan jiwanya. Agar lebih mantap kami kutipkan Hadits-Hadits Rasulullah saw berikut:

سَيَأْتِيْ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيْلَ مِثْلاً بِمِثْلٍ حَذْوَ الَّعْلِ حَتَّى لَوْ كَانَ فِيْهِمْ مَنْ نَكَحَ أُمَّهُ عَلاَنِيَّةً كَانَ فِيْ أُمَّتِيْ مِثْلَهُ إِنَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ تَفَرَّقُوا عَلَى اثْنَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَسَتَفْتَرِقُ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهَا فِىْ النَّارِ غَيْرَ وَاحِدَةٍ قِيْلَ وَمَا تِلْكَ الْوَاحِدَةٌ؟ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ

“Akan datang pada umatku apa yang telah datang pada Bani Israil, satu persamaan demi satu persamaan bagai setentang terompah (sandal), bahkan seandainya di kalangan mereka ada yang menikahi ibunya dengan terang-terangan, maka seperti itu pula terjadi dalam umatku. Sungguh Bani Israel setelah pecah menjadi 72 millah, sedangkan umatku akan pecah menjadi 73 millah. Semuanya berada dalam api, selain yang satu. Ditanyakan: Apakah yang satu itu? Beliau menjawab: Apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari itu.[2]

اِفْتَرَقَتِ الْيَهُوْدُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُوْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِيْ نَفْسِ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِيْ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ فِرْقَةً، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُوْنَ فِيْ النَّارِ,  قِيْلَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ: اَلْجَمَاعَةُ

“Telah pecah umat Yahudi menjadi 71 firqah, maka yang satu dalam Surga dan yang 70 dalam Api; dan kaum Nasrani terpecah menjadi 72 firqah, maka yang 71 dalam api dan yang satu dalam Surga; dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada ditangannya! Sungguh umatku akan pecah menjadi 73 firqah! Maka yang satu dalam surga dan yang 72 dalam api. Ditanyakan: Wahai Rasulullah ! Siapa mereka itu? Beliau menjawab, Al-Jama’ah. [3]

Kemunduran Umat Islam

Dalam Hadits Rasulullah  dikabar-gaibkan bahwa umat Islam yang paling baik itu hanya terjadi dalam tempo 3 abad saja, lalu disusul dengan masa kemunduran nya selama seribu tahun (32: 6). Di masa kemunduran Islam, umatnya dikabar-gaibkan sebagai umat yang hanya namanya saja Islam, tetapi kebanyakan mereka tidak mengerti petunjuk Al-Quran, sehingga mereka terjauh dari Hidayah Allah Ta’ala, akibatnya mereka dipermainkan oleh bangsa-bangsa kafir sampai-sampai mereka diibaratkan seperti kera dan babi yang hina. Sebagaimana dilukiskan dalam Hadits berikut:

سَيَأْتِىْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ مَا يَبْقَ مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ وَلاَ مِنَ الْاِسْلاَمِ إِلاَّ اسْمُهُ يَتَسَمَّوْنَ بِهِ وَهُمْ أَبْعَدُ النَّاسِ مِنْهُ, مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى, فُقَهَاءُ ذلِكَ الزَّمَانِ شَرُّ فُقَهَاءِ تَحْتَ ظَلِّ السَّمَآءِ مِنْهُمْ خَرَجَتِ الْفِتْنَةُ وَإِلَيْهِمْ تَعُوْدُ

“Akan datang kepada manusia suatu zaman yang tiada Al-Quran kecuali tinggal tulisannya, dan tiada Islam kecuali namanya, mereka menamakan diri dengan Islam itu, padahal mereka itu orang-orang yang paling jauh dari Islam itu. Masjid-masjid mereka sunyi dari petunjuk, Ahli Fiqih mereka seburuk-buruk Fuqaha (Ahli Fiqih) di bawah kolong langit, dari mereka keluar fitnah dan kepada mereka fitnah itu akan kembali.”[4]

Dalam Hadits lain umat Islam dikabar-gaibkan oleh Rasulullah saw sebagai berikut:

يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِىْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ الْاِسْلَامِ اِلاَّ اسْمُهُ وَلاَ يَبْقَ مِنَ الْقُرْآنِ اِلاَّ رَسْمُهُ مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى عُلَمَآءُهُمْ شَرُّمَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمآءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ

“Hampir-hampir datang kepada manusia satu zaman yang tiada Islam kecuali tinggal namanya, dan tiada Al-Quran kecuali tinggal tulisannya, masjid-masjid mereka ramai namun sunyi dari petunjuk, Ulama mereka seburuk-buruk orang yang berada di bawah kolong langit, dari mereka keluar fitnah dan di kalangan mereka fitnah itu akan kembali.”[5]

لَيَبِيتُنَّ اَقْوَامٌ مِنْ اُمَّتِى عَلَى عَقْلٍ وَلَهْوٍ وَلِعْبٍ ثُمَّ لِيُصْبِحُنَّ قِرَدَةً وَخَنَازِيْرَ

“Sungguh beberapa bangsa dari kaumku di waktu malam akan melakukan pesta-pora,  bersenang-senang dan bermain-main, kemudian mereka menjadi kera-kera dan babi-babi.[6]

تَكُوْنُ فِيْ اُمَّتِىْ الْقَزَعَةُ فَيَصِيْرُ اِلَى عُلَمَآئِهِمْ فَاِذَا قِرَدَةٌ وَخَنَازِيْرُ

“Akan tetapi dalam umatku anak zina, lalu ia mendatangi ulama mereka, ternyata mereka itu adalah kera-kera dan babi-babi.”[7]

Kondisi umat Islam yang demikian itu telah disaksikan oleh Pendiri Jamaah Islam Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiyani (1835-1908 M). Fenomenal umat Islam itu beliau lukiskan dengan sabdanya sebagai berikut:

اَفَلَا يَنْظُرُوا اِلَى مَفَاسِدَ الْاَرْضِ فَتَكُوْنُ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا وَلَكِنَّهُمْ قَوْمٌ يَسْتَكْبِرُونَ – أَيَكْفُرُونَ بِآدَمَ هذَا الزَّمَانِ وَقَدْ خُلِقَ عَلَى الْاَرْضِ مِنْ كُلِّ نَوعٍ دَابَةٌ أَفَلَ يَنْظُرُونَ وَتُرَى بَعْضُ النَّاسِ كَلْكِلاَبِ وَبَعْضُهُمْ  كَالذِّيَابِ وَبَعْضُهُمْ كَا لْخَنَازِيْرِ وَبَعْضُهُمْ كَا لْحَمِيْرِ وَبَعْضُهُمْ كَالْاَفَاعِىْ يَدْلَعُونَ وَمَا مِنْ حَيَوَانٍ اِلاَّ وَظَهَرَ كَمِثْلِهِ حِزْبٌ مِنَ النَّاسِ وَهُمْ كَمِثْلِهَا يَعْمَلُونَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan kepada kerusuhan-kerusuhan bumi, mereka memiliki hati yang dengan itu mereka berpikir, akan tetapi mereka itu kaum yang sombong – apakah mereka mengafiri Adam zaman ini? Dan berbagai macam binatang melata diciptakan di atas bumi ini? Apakah mereka tidak memperhatikan, sedangkan sebagian orang terlihat seperti anjing,  sebagian mereka seperti anjing hutan, sebagian mereka seperti babi dan sebagian mereka seperti keledai dan sebagian mereka seperti ular yang menjulurkan lidahnya. Dan bukanlah mereka itu binatang kecuali golongan manusia menampak diri sepertinya dan mereka berperilaku seperti binatang-binatang itu. [8]

Visi Ahmadiyah

Adalah terwujudnya satu Jamaah umat Islam, seperti Jamaah umat Islam di masa Nabi Agung Muhammad saw, dimana Kerajaan Allah ditegakkan dalam kehidupan mereka. Visi Ahmadiyah ini dirumuskan dari firman Allah Ta’ala, Sabda Rasul-Nya dan Sabda Imam Mahdi as berikut:

Allah Ta’ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مالِكَ المُلكِ تُؤتِي المُلكَ مَن تَشاءُ وَتَنزِعُ المُلكَ مِمَّن تَشاءُ

“Katakanlah, “Wahai Allah, Pemilik Kerajaan, Engkau memberikan Kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau mencabut Kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki.” (Ali-Imran 3: 27)

وَلِلَّهِ مُلكُ السَّماواتِ وَالأَرضِ وَما بَينَهُما

“Dan kepunyaan Allah, Kerajaan seluruh langit dan bumi serta apapun yang ada antara keduanya.” (Al-Maidah, 5: 18)

المُلكُ يَومَئِذٍ لِلَّهِ يَحكُمُ بَينَهُم

“Kerajaan pada hari itu kepunyaan Allah. Maka Dia akan menghakimi diantara mereka. (Al-Hajj, 22: 57)

Rasulullah saw bersabda:

يَنْزِلُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَبْلَ الْقِيَامَةِ فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيْرَ وَيَجْتَمِعُ النِّاسَ عَلَى دِيْنٍ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

“Isa Ibnu Maryam turun sebelum kiamat, lalu ia memecahkan salib dan membunuh babi dan menghimpun manusia dalam satu agama, serta ia meletakkan pajak (upeti).”[9]

Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as bersabda:

اَجْمَعُ مَنْ فْى الْاَرْضِ مِنَ المُسْلِمِيْنَ لِيَجْتَمِعُوا عَلَى دِيْنٍ وَاحِدٍ

“Himpunlah orang Islam di bumi ini agar mereka bersatu di atas satu agama Islam.[10]

Misi Ahmadiyah

Misi Ahmadiyah itu memberikan keputusan yang adil diantara umat yang sedang berselisih agar terwujud kehidupan yang damai, memberikan penjelasan tentang kesalahan akidah umat Nasrani dan memberikan petunjuk yang sebenarnya, membunuh sifat-sifat babi yang menghinggapi manusia dengan keterangan yang meyakinkan, tidak berpolitik sehingga tidak memerlukan pajak dalam kegiatannya, tapi dengan menegakan infaq yang diajarkan Al-Quran, membunuh Dajjal, memanfaatkan teknologi sehingga tidak memerlukan tenaga unta serta memberikan penerangan yang jelas dan meyakinkan kepada umat; sehingga kebencian,  permusuhan dan iri hati akan lenyap dan mereka hidup tidak materialis. Bahkan mereka junjung tinggi urusan agama dengan mengalahkan urusan duniawinya, sebagaimana dikabar-gaibkan dalam Hadits berikut:

وَاللهِ لِيَنْزِلَنَّ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدَلاً فَلَيَكْسِرَنَّ الصَّلِيْبَ وَلَيَقْتُلَنَّ الْخِنْزِيْرَ وَلَيَضَعَنَّ الْجِزْيَةَ وَلِيُتْرَكَنَّ الْقِلاَصُ فَلاَ يُسْعَى عَلَيْهَا وَلَتَذْهَبَنَّ الشَّحْنَاءُ وَالتَّبَاغُضُ وَالتَّحَاسُدُ وَلَيَدْعُوْنَ اِلَى الْمَالِ فَلاَ يَقْبَلُهُ اَحَدٌ

“Demi Allah, sungguh Isa Ibnu Maryam pasti turun sebagai hakim yang adil, lalu ia akan memecahkan salib, membunuh babi, menghilangkan pajak, unta-unta akan ditinggalkan tidak untuk dipekerjakan, saling bermusuhan, saling membenci dan saling iri hati akan lenyap dan mereka diajak menuju harta, tapi tiada seorangpun yang menerimanya.”[11]

لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَ عِيْسَى نَبيٌّ وَاِنَّهُ نَازِلٌ، فَاِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَعْرِفُوهُ، رَجُلٌ مَرْبُوعٌ اِلَى الْحَمْرَةِ وَالْبَيَاضِ، يَنْزِلُ بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ كَاَنَّ رَاْسَهُ يَقْطُرُ وَاِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ، فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الاِسْلاَمِ فَيَدُقُّ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الخِنْزِيْرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ وَيُهْلِكُ اللهُ فِى زَمَانِهِ الْمِلَلَ كُلُّهَا اِلاَّ الْاِسْلاَمَ وَيُهْلِكُ الْمَسِيْحُ الدَّجَّالَ فَيَمْكُثُ فِى الْاَرْضٍ اَرْبَعِيْنَ سَنَة ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّى عَلَيْهِ الْمُسْلِمُوْنَ

“Tidak ada Nabi antara aku dan Isa, dan sungguh ia pasti turun; maka jika kalian melihatnya, maka kenalkanlah ia! Seorang laki-laki yang tingginya sedang, warna kulitnya sawo matang, dua pakaiannya dicelup debu merah (berwarna kuning), kepalanya senantiasa pusing yang terus menerus (migraine), lalu memerangi manusia atas Islam, lalu ia menghancurkan salib,  membunuh babi, menghilangkan pajak. Dan Allah menghancurkan pada zamannya semua agama kecuali Islam dan Al-Masih menghancurkan Dajjal, maka ia tinggal di bumi selama 40 tahun, kemudian ia diwafatkan dan kaum muslimin menshalatkannya.” [12]

Ini semua dilakukan demi untuk kemajuan, kebaikan dan keindahan Islam sebagaimana Sabda Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as berikut:

وَأَعِدْبِيْ سَحْنَتَهٗ وَحِبْرَهٗ وَسِبْرَهٗ

“Dan wahai Tuhanku, kembalikanlah dengan perantaraanku kemajuannya Islam, kebaikannya dan keindahannya.” [13]

Guna memajukan dan memperbaiki umat Islam supaya tampak indah, Hadhrat Imam Mahdi as dan para Khalifatul-Masihnya senantiasa menarbiyati para pengikutnya agar menegakkan syariat Islam dan menghidupkan agama Islam ini dalam kehidupan mereka sehari-hari,  sebagaimana sabda beliau as berikut:

يَا عِبَادَ اللهِ رَحِمَكُمُ اللهُ اِعْلَمُوا أَنِّي عَبْدٌ مِنْ عِبَادِاللهِ الْمُلْهَمِيْنَ الْمَاْمُوْرِيْنَ بَعَثَنِى رَبِّى لِاُقِيْمَ الشَّرِيْعَةَ وَأُحْيِ الدِّيْنَ وَأُتِمَّ الْحُجَّةَ عَلَى الْمُنْكَرِيْنَ (لجة النور الخزائن الروحاني مجلد ٦۱ ص ۳٤٣)

“Wahai semua hamba Allah, semoga Allah merahmati kalian! Ketahuilah bahwa aku adalah salah seorang hamba Allah yang dikaruniai ilham dan perintah; Tuhanku telah membangkitkan aku untuk menegakan syariat Islam ini dan menghidupkan agama Islam ini, serta menyempurnakan argumentasi untuk mengatasi orang orang yang ingkar.”[14]

Berdirinya Jamaah Islam

Di saat umat Islam sedang dijajah bangsa-bangsa kafir dan mereka terpecah-pecah menjadi berbagai golongan serta mereka saling bermusuhan, maka Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani sebagai pengikut setia Nabi Agung Muhammad saw, mendapat perintah dari Allah Ta’ala untuk membuat sebuah BAHTERA, untuk mengangkut umat Islam agar selamat dari fitnahnya Dajjal yang telah menjelaskan iman umat Islam dalam lautan fitnah. Bahtera itu dalam bentuk sebuah Jamaah Islam yang diberi nama AHMADIYAH. Nama ini diambil dari nama Rasulullah saw yang tercantum dalam surat Ash-Shaf ayat 7. Adapun wahyu yang memerintahkan pendirian sebuah Jamaah itu berbunyi sebagai berikut:

اِصْنَعِ الْفُلْكَ بَأَعْيُنِنَ وَوَحْيِنَ – اِنَّهُ مَعَكَ وَمَعَ أَهْلِكَ – إِنِّ أُحَافِظُ كُلَّ مَنْ فِى الدَّارِ- إِلاَّ الَّذِيْنَ عَلَوْا مِنِ اسْتِكْبَارٍ

“Buatlah bahtera dengan pengawasan dan wahyu Kami – sesungguhnya Dia bersama engkau dan bersama keluarga engkau – sesungguhnya Aku menjaga setiap orang yang berada dalam rumah engkau (Jamaah Ahmadiyah yang beliau dirikan peny.), kecuali orang-orang yang tinggi hati karena kesombongan.”[15]

وَقَدْ اَوْحٰى اِلَيَّى مِنْ رَبِّى قَبْلَ اَنْ يُنَزِّلَ الطَّاعُوْنَ اَنْ اَصْنَعِ الْفُلْكَ بَأَعْيُنَنَا وَوَحْيِنَا وَلاَ تُخَاطِبْنَى فَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا اَنَّهُمْ مُغْرَقُوْنَ

“Dan sungguh saya telah diberi wahyu dari Tuhanku sebelum Dia menurunkan (wabah) ta’un: ‘Buatlah Bahtera dengan pengawasan Kami dan wahyu Kami, dan janganlah kamu mengadukan kepada-Ku tentang orang-orang yang telah berbuat aniaya, sebab sesungguhnya mereka itu kaum yang ditenggelamkan.”[16]

Sebagai Muslim dan Mukmin, harus hidup dalam satu Jamaah agar terhindar dari kematian jahiliyah dan terjauh dari pengaruh setan serta mendapat pertolongan Allah Ta’ala dalam segala urusannya, sebaliknya orang yang memisahkan diri dari Jamaah akan berada dalam api dan terpisah dari Islam, sebagaimana Hadits Rasulullah saw berikut:

وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ عَلَيْهِ اِمَامُ جَمَاعَةٍ فَاِنَّ مَوْتَتَهُ مَوْتَةً جَاهِلِيَّةً

“Dan siapa yang mati, sedangkan tidak ada di Imam Jamaah atasnya, maka sesungguhnya kematiannya itu seperti kematian orang yang tidak mengerti.”[17]

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرً دَخَلَ النَّارَ

“Siapa yang memisahkan diri dari Jamaah satu jengkal, berarti ia memasuki api (neraka).” [18]

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرً فَارَقَ الْاَسْلاَمَ

“Siapa yang memisahkan diri dari Jamaah satu jengkal, berarti ia telah memisahkan diri dari Islam.”[19]

يَدُ اللهِ عَلٰى الْجَمَاعَةِ وَالشّيْطَانُ مَعَ مَنْ خالَفَ الْجَمَاعَةَ يَرْكُضُ

“Tangan Allah berada diatas Jamaah sedangkan setan berlari menemani orang yang meninggalkan Jamaah.” [20]

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رض قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْاِسْلَامِ مِنْ عُنُقِهِ

“Dari Abu Dzar ra, Rasulullah saw bersabda: ‘Siapa yang memisahkan diri dari Jamaah satu jengkal, sungguh ia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya.”[21]

Cara Memasuki Jamaah Muslim Ahmadiyah

Pada awalnya, orang yang ingin bergabung ke dalam Jamaah Islam Ahmadiyah harus menyatakan bai’at di tangan Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as sebagai Khalifatullah setelah ia menyetujui syarat Bai’at yang telah beliau tentukan. Namun setelah beliau as wafat, maka orang yang ingin bergabung ke dalam Jamaah itu harus menyatakan bai’at ke hadapan Hadhrat Khalifatul-Masih yang menggantikan beliau as dalam memimpin Jamaah itu. Kini Imam yang sedang memimpin Jamaah tersebut adalah Khalifatul-Masih Al-Khamis, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba, sebagai Amirul Mukminin setelah menyetujui Syarat Bai’at dan mengisi formulir pernyataan Bai’at. Bai’at kepada Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as itu adalah semata-mata untuk menaati perintah Rasulullah saw berikut:

فَاِذَ رَاَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَاِنَّهُ خَلِيْفَةُ اللهِ الْمَهْدِىِّ

“Maka apabila kamu melihatnya, berbai’atlah kamu kepadanya meskipun merangkak di atas salju, karena dia itu Khalifatullah, Al-Mahdi.[22]

Adapun Syarat Bai’at dan Formulir Pernyataan Bai’at ke hadapan Khalifatul-Masih Al-Khamis atba itu seperti berikut ini:

Janji Atau Syarat Bai’at

JANJI (SYARAT BAI’AT DALAM JEMA’AT AHMADIYAH

OLEH: HADHRAT IMAM MAHDI, MASIH MAU’UD AS.

Orang yang berbai’at berjanji dengan hati yang jujur bahwa:

  1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur akan menjauhi syirik.
  2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, mendekati zina,  memandang orang lain dengan nafsu birahi, menjauhkan diri dari segala macam kedurhakaan, kejahatan, aniaya dan khianat; tidak membuat huru-hara dan memberontak, serta tidak akan tunduk kepada keinginan hawa nafsu meskipun demikian kuatnya dorongan terhadapnya
  3. Akan senantiasa menegakkan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah swt dan Rasul-Nya yang mulia saw; dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa menegakkan shalat Tahajud; memohonkan rahmat atas Nabi saw (shalawat); memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa (istighfar); akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus (tasyakkur); serta memuji dan menyanjung-Nya dengan hati yang penuh rasa cinta (tahmid).
  4. Tidak akan menyakiti seorang pun dari makhluk Allah, teristimewa kaum muslimin karena terdorong hawa nafsu, baik dengan tangan, lisan, maupun cara-cara lainnya.
  5. Akan tetap setia kepada Allah swt dan senang menerima keputusan-Nya dalam segala keadaan – baik susah maupun senang, baik sulit maupun mudah, baik musibah ataupun nikmat; dan bersedia menerima caci maki, kehinaan dan penderitaan di jalan-Nya;  tidak akan memalingkan muka dari Allah di saat menderita, bahkan akan terus berjalan maju untuk mendekati-Nya.
  6. Akan berhenti dari kebiasaan buruk dan menuruti hawa nafsu serta lamunan palsu dan menerima setiap hukum dan ajaran Al-Quran yang agung di atas dirinya, serta menjunjung tinggi firman swt Allah dan sabda Rasul-Nya saw sebagai pedoman semua langkah hidupnya
  7. Akan menjauhkan diri dari kesombongan, sebaliknya akan hidup dengan rendah hati, bergaul dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik, lemah lembut dan sopan santun
  8. Akan menjunjung tinggi dan memuliakan agama Islam, melebihi jiwa, harta dan anak-anaknya serta dari setiap yang dicintai.
  9. Akan memberi pertolongan kepada semua makhluk Allah swt dengan belas kasih semata-mata untuk mencari ridha-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan membelanjakan setiap kekuatan dan nikmat pemberian Allah itu untuk kebaikan dan manfaat bagi mereka.
  10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” dengan ikatan persaudaraan yang tulus karena Allah swt, dalam menaati setiap perkara kebaikan yang diperintahkan; berdiri di atas perjanjian ini sampai mati; dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.

Diterjemahkan dari “Isytihar Takmil Tabligh”

Pernyataan Bai’at

Orang yang ingin masuk Jemaat Ahmadiyah harus menyetujui Janji (syarat) Bai’at dan mengisi dan menandatangani formulir bai’at yang telah disediakan untuk disampaikan kepada Amirul Mukminin, Imam Jemaat Ahmadiyah International berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ نَحْمَدُهٗ وَنُصَلِّيْ وَنُسَلِّمُ عَلَى مُحَمَّدٍ رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ

PERNYATAAN BAIAT

Kehadapan Imam kami yang mulia

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad,

Khalifatul Masih Al-Khamis Ayyaadahullahu ta’ala bi nashrihil aziiz

السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Dengan segala kerendahan hati, secara tertulis pernyataan bai’at ini dipersembahkan ke hadapan yang mulia, dengan permohonan semoga saya/kami diterima masuk ke dalam Jema’at Muslim Ahmadiyah dan kami mohon didoakan.

أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهٗ لاَ شَرِيْكَ لَهٗ   وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ

أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهٗ لاَ شَرِيْكَ لَهٗ   وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ

Hari ini saya bai’at di tangan Masroor Ahmad masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah dalam Islam. Dengan teguh dan keyakinan yang penuh, saya beriman bahwa Hadhrat Muhammad Rasulullah saw adalah Khataman Nabiyyin. Saya mengakui bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani as, dialah Imam Mahdi dan Masih Mau’ud (Al-Masih yang dijanjikan), yang kedatangannya telah dikabar-gaibkan oleh Hadhrat Muhammad Rasulullah saw.

  • Saya berjanji bahwa saya akan senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk mematuhi sepuluh syarat bai’at, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud
  • Saya akan mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan dunia.
  • Saya akan senantiasa memelihara hubungan yang setia dengan Khilafat Ahmadiyah dan sebagai Khalifatul Masih, saya akan berusaha mengamalkan segala petunjuk-petunjuk yang ma’ruf dari yang mulia, in syaa Allah.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّى مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّى مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبِّى مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

“Saya mohon ampun kepada Allah, Tuhanku terhadap semua dosaku dan (hamba) bertobat kepada-Nya.

رَبِّي اِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاعْتَرَفْتُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْلِيْ ذُنُوْبِيْ فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ اِلاَّ اَنْتَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berlaku aniaya terhadap diriku dan aku mengakui dosaku itu, maka ampunilah dosa-dosaku, sebab sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau, Amin.

 

Contoh Mukmin dan Muslim Yang Diinginkan Ahmadiyah

Mukmin dan Muslim yang diinginkan Ahmadiyah adalah Mukmin dan Muslim yang dicontohkan oleh empat Sahabat Nabi Agung Al-Musthafa, Hadhrat Muhammad  Rasulullah saw, yakni: Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, sahabat Umar Bin Khattab Al-Faruq ra, sahabat Utsman bin Affan Dzu Nurrain ra dan sahabat Ali Bin Abi Thalib Karramahullahu wajhahu, sebagaimana sabda Pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah, Hadhrat Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as berikut:

اِنَّنِيْ اَعْلَمُ اَنَّ الْمَرْءَ لاَ يُصْبِحُ مُؤْمِنًا وَمُسْلِمًا مَا لاَ يَصْطَبِغُ بِصِبْغَةِ اَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ رِضَوَانَ اللهِ عَلَيهِمْ اَجْمَعِيْنَ. فَلَمْ يَكُونُوا يُحِبُّونَ الدُّنْيَا بَلْ كَانُوْا قَدْ وَقَفُوْا حَيَاتَهُمْ فِى سَبِيْلِ اللهِ

Sungguh aku mengetahui, bahwa tidak ada tidak akan ada orang yang dapat menjadi Mukmin (orang beriman) atau muslim (orang Islam) yang sebenarnya sebelum ia menyerap semua corak sifat-sifat Hadhrat Abu Bakar ra, Hadhrat Umar ra, Hadhrat Ali ra; mereka ini tidak mencintai dunia melainkan mewakafkan kehidupan mereka di jalan Allah semata. [23]

وَاَنْزَلَ اللهُ عَلَيَّ فَيْضَ هذَا الرَّسُوْلِ فَاَتَّمَهُ وَاَكْمَلَهُ وَجَذَبَ اِلَيَّ لُطْفَهُ وجُوْدَه حَتَّى صَارَ وُجُودِي وُجُودَه فَمَنْ دَخَلَ فِى جَمَاعَتِي دَخَلَ فِى صَحَابَةِ سَيِّدِي خَيْرِ الْمُرْسَلِيْنَ وَهٰذَا هُوَ مَعْنَى وَآخَرِيْنَ مِنْهُمْ

“Dan Allah telah menurunkan kepadaku limpahan karunia Rasul ini, lalu melengkapi dan menyempurnakannya dan menarik ke arahku kelembutannya dan kedermawanannya sehingga wujudku menjadi wujudnya, maka siapa saja yang masuk ke dalam Jemaatku berarti ia telah masuk ke dalam Sahabat Majikanku, yakni sebaik-baik para Rasul. Inilah makna wa Aakhoriina minhum lamma yalhaquu bihim.[24]

[1] Majalah At-Taqwa, jilid 24, No 12 Jumadil-Ula dan Tsaniah 1432 H/April 2012

[2] Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ibnu Asakir dan Kanzul-Umal, Juz I, Hadits nomor 1060, ‘Allamah ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[3] HR Ibnu Majah dari Auf bin Malik ra dan Kanzul-Umal, Juz XI, Hadits nomor 30834, ‘Allamah ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[4] Al-Hakim dalam Tarikhnya dari Ibnu Umar; Ad-Dailami dari Mu’adz ra dan Kanzul-Umal, Juz IX, Hadits nomor 31135, ‘Allamah ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[5] Ibnu Addiy dalam Al-Kamil, Al-Baihaqi dalam Syi’abul Iman dari Ali ra dan Kanzul-Umal, Juz IX, Hadits nomor 31136, ‘Allamah ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[6] Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Abu Umamah ra dan Kanzul-Ummal, Juz XIV, Hadits nomor 38713, ‘Allamah ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[7] Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Abu Umamah ra dan Kanzul-Ummal, Juz XIV, Hadits nomor 38727, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[8] Al-Khutbah Al-Ilhamiya, halaman 237-238

[9] Ibnu Sa’ad dari Abu Hurairah ra dan Kanzul Ummal, Juz XIV/38862

[10] Tadzkirah, hal. 571, 1956

[11] Muslim dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Ummal, Juz XIV, nomor Hadits 38841, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[12] Abu Daud dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Ummal, Juz XIV, nomor hadits 38843, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[13] Ainah Kamalati Islam, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, hal. 6, 1893 M

[14] Lujjatun-Nur, Ruhani Khazain, Jilid XIV, hal. 343

[15] Tadzkirah, hal. 457

[16] Al-Khutbah Al-Ilhamiyah, halaman 31

[17] HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Umar ra dan Kanzul-Ummal, Juz I, Hadits nomor 1035, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[18] HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Mu’awiyah ra, dan Kanzul-Ummal, Juz I, Hadits nomor 1039, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[19] HR An-Nasaai dari Hudzaifah ra, dan Kanzul-Ummal, Juz I, Hadits nomor 1042, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[20] HR Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Arjafah ra, dan Kanzul-Ummal, Juz I, Hadits nomor 1031, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[21] Ahmad bin Hanbal, Abu Daud dan Misykatu Syarif, Juz I, Hadits nomor 175, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[22] Ibnu Majah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dari Tsauban ra dan Kanzul-Ummal, Juz XIV, Hadits nomor 38658, ‘Allauddin Ali Al-Muttaqi bin Hisamuddin Al-Hindi, Muassisah Al-Risalah, Bairut, Libanon 1989

[23] Lecture Ludhianah, Ruhani Khazaain jilid 20 halaman 294

[24]

(Visited 3 times, 1 visits today)