Keberkatan Doa (Barakatud Du'a)

Judul              : keberkatan doa
Penulis          : Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s
Judul Asli    : Barakatud-Du’a (Urdu)
Penerjemah : H. Abdul Basit Sy.
Edisi               : Cetakan I, Januari 2015
Ukuran         : 14.8 x 21 cm.
Isi                    : xii+66 halaman
Penerbit        : Neratja Press
ISBN              : 978-602-70788-3-3

Sinopsisi Buku Keberkatan Doa

Sir  Sayyid  Ahmad  Khan  (yang namanya telah disebutkan di dalam buku Aainah  Kamalati-Islam) menerbitkan sebuah buku berjudul ‘Ad-Du’a  wal Istijaba‘ untuk memperlihatkan bahwa pengabulan doa bukanlah sesuatu yang nyata, melainkan hanya suatu perasaan tertentu di dalam hati si pendoa bahwa doanya sudah terkabul. Dikarenakan pendapatnya itu sangat bertentangan dengan akidah Islam mengenai pengabulan doa sebagaimana yang tercantum di dalam Alquran dan juga hadits, maka Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (Hadhrat Masih Mau’ud) pun segera menerbitkan buku ini sebagai bantahan atas paham Sir Sayyid Ahmad tersebut. Jadi, buku Keberkatan Doa (Barakatud Dua) ini adalah reaksi atas perkara itu.

Sir  Sayed  Ahmad juga menulis sebuah buku lain mengenai kaidah penafsiran  Al-Quran dan menurut Hadhrat Masih Mau’ud buku ini pun mengandung prinsip-prinsip yang salah. Maka beliau memasukkan pandangan beliau tentang penafsiran Alquran dalam buku Keberkatan Doa (Barakatud Dua). Sir Sayyid  berpendapat bahwa wahyu bukanlah suatu pesan yang berasal dari sumber lain, melainkan sesuatu yang dirasakan seseorang sebagai ide/pikiran yang sedemikian kuat tertanam. Maka Hadhrat Masih Mau’ud  pun menerangkan hakikat wahyu sebenarnya.

Di dalam buku Keberkatan Doa (Barakatud Dua) beliau mengatakan:

“Aku telah menyaksikan, manakala sebuah wahyu turun kepadaku – yakni wahyu walayat – aku merasakan diriku berada di dalam dekapan seseorang yang dekapannya begitu kuat dan terkadang karena sedemikian kuatnya membuat diriku serasa melebur dalam cahaya dari wujud tersebut. Akupun merasakan tarikan ke arah-Nya dan saya sama sekali tidak bisa menahannya. Maka pada kondisi yang demikian itulah aku mendengar suatu suara yang sangat jelas.”

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud juga meyakinkan Sayyid Ahmad, bahwa jika ia ingin mendapatkan bukti pengabulan doa, beliau siap menunjukkannya, namun dengan syarat apabila sudah nyata terbukti Sayyid Ahmad  haruslah bersedia meninggalkan pendapatnya yang keliru itu. Sebelum menutup bukunya, Hadhrat Masih Mau’ud menyampaikan salah satu doa beliau yang telah dikabulkan oleh Allah taala yaitu terkait dengan Lekhram. Beliau meminta supaya Sayyid Ahmad berdoa kepada Allah Taala agar pandangannya yang keliru mengenai kemakbulan doa dapat diperbaiki dan hal ini hanya bisa dilakukan melalui perantaraan doa itu sendiri.

Dalam bukunya Sir Sayyid Ahmad menyampaikan dasar-dasar penafsiran Alquran. Hadhrat Masih Mau’ud mengemukakan pendapat beliau mengenai tujuh dasar penafsiran Alquran dan beliau menegaskan bahwa Sayyid Ahmad sebenarnya tidak tahu menahu tentang tafsir Alquran. Tujuh prinsip yang disebutkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud adalah:

  1. Alquran menafsirkan ayat-ayatnya sendiri, yakni, setiap ayat dijelaskan oleh ayat lainnya dan dan tidak ada sedikitpun yang saling bertentangan.
  2. Penafsiran kita harus sesuai dengan penafsiran Rasulullah saw.
  3. Penafsiran kita harus sesuai dengan penafsiran para sahabat Rasulullah saw.
  4. Kita harus memsucikan diri terlebih dahulu, barulah kemudian menelaah Kitab yang suci lagi murni itu. Hanya orang-orang seperti itu yang benar-benar dapat memahami Alquran, sebagaimana Alquran mengatakan: Laa yamassuhu illal muthahharuun, yakni, tidak ada ada yang dapat menyentuhnya, kecuali orang yang suci. ‘Menyentuh’ disini artinya adalah memahami.
  5. Kita harus menguasai kamus bahasa Arab.
  6. Harus memperhatikan bahwa tatanan dunia kerohanian sejalan dengan hukum alam semesta.
  7. Kita juga tidak mengabaikan kasyaf dan wahyu orang-orang suci/waliullah. Karena mereka juga banyak menebarkan nur cahaya kerohanian.