27 September 2016

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato di hadapan lebih dari 5.000 Pemuda Muslim dari seluruh Inggris Raya.

ijtima ahmadiyah

Pada 25 September 2016, pimpinan Jemaat Muslim Ahmadiyah seluruh dunia, Khalifah ke-5 Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato yang menggugah keimanan untuk menutup Ijtima (perkumpulan) Nasional Majelis Khuddamul Ahmadiyah Inggris Raya (Perkumpulan Pemuda Muslim Ahmadiyah).

ijtima pemuda ahmadiyah

Tujuan Ijtima, yang diadakan pertama kalinya di Old Park Farm, Kingsley, ialah untuk mempelajari serta mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang mengandung kedamaian yang hakiki dan untuk mengusung semangat perdamaian, persatuan dan cinta kasih kepada negara dimana ia berada. Di tahun ini, lebih dari 5000 pemuda Muslim Ahmadi menghadiri acara ini.

ijtima-ahmadiyah-3

Pada sesi terakhir, Hudhur memimpin pembacaan janji pemuda Muslim Ahmadi dimana mereka menguatkan kembali kesetiaan mereka terhadap bangsa dan agamanya.

ijtima-ahmadiyah-4

Seraya mengulas janji ini pada pidato penutupan tersebut, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Janji yang telah kalian ucapkan ini merupakan suatu upaya yang sungguh-sungguh.  Oleh sebab itu, janji yang senantiasa kalian ulangi ini hendaknya tidak menjadi sesuatu yang hampa melainkan bermakna dan senantiasa diingat setiap saat. Amalkanlah janji ini secara zahir melalui tingkah laku kalian.”

ijtima-ahmadiyah-5

Hudhur menasehati bahwa hendaknya para Ahmadi Muslim mempelajari Al-Quran secara dawam untuk dapat memahami makna hakiki dari mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan dunia.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Adalah kewajiban kita untuk menelaah Al-Quran karena ini merupakan jalan yang akan membawa kita menuju kesuksesan dan keselamatan. Al-Quran adalah cahaya rohani yang telah menunjukkan kepada kita makna hakiki dari mendahulukan kepentingan agama di atas kepentingan dunia. Al-Quran merupakan sarana bagi kita untuk belajar dan hidup.”

Selanjutnya, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad membicarakan beberapa persoalan yang merusak para pemuda masa ini menurut ajaran Al-Quran.

ijtima-ahmadiyah-6

Hudhur menekankan perintah Islam untuk mendirikan shalat lima waktu secara berjamaah dengan kerendahan hati dan kekhusyuan

Khalifah menyampaikan berkenaan dengan pentingnya menghindari pembicaraan yang sia-sia dan pergaulan yang buruk. Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menasehati:

“Jadikanlah saat kalian berkumpul itu menjadi waktu untuk saling mendorong dalam hal ketakwaan dan kebaikan, alih-alih saling membawa kepada kesesatan. Bahkan para Khuddam yang masih muda dan Athfal yang sudah dewasa hendaknya senantiasa memperhatikan hal ini dan memelihara pertemanan dan pergaulan yang baik setiap saat.”

ijtima-ahmadiyah-7

Hudhur menyampaikan secara rinci mengenai keutamaan kesucian sebagaimana disebutkan di dalam Al-Quran Surah 23 ayat 6 yang menyatakan bahwa tanda seorang mukmin hakiki itu ialah yang menjaga kesuciannya.”

Seraya menjelaskan ayat ini, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Menjaga kesucian ini tidak hanya berarti seseorang harus menghindari hubungan suami-istri di luar nikah. Hadhrat Masih Mau’ud as juga mengajarkan kita bahwa hal tersebut juga berarti agar seorang mukmin hendaknya senantiasa menjaga kesucian mata dan telinganya dari segala hal yang tidak pantas dan tidak sopan.”

ijtima-ahmadiyah-8

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan:

“Di dalam Al-Quran, bahkan sebelum memerintahkan para wanita untuk berpardah, Allah telah perintahkan kaum laki-laki mukmin untuk menundukkan pandangannya serta menjaga hati dan pikirannya tetap suci.”

Hudhur menguraikan hikmah di balik ajaran Al-Quran mengenai menundukan pandangan:

“Dengan memerintahkan kepada kaum laki-laki mukmin untuk menundukkan pandangan, Islam sebenarnya mengajarkan pengendalian diri karena biasanya perasaan dan hasrat manusia akan terpancing melalui pandangan. Ingatlah, kesederhanaan merupakan pekerti utama seorang pemuda Muslim Ahmadi. Oleh sebab itu, Jauhilah segala hal yang menodai kesucian perintah Islam.”

ijtima-ahmadiyah-9

Hudhur juga membicarakan tentang alkohol dan judi yang memberikan pengaruh negatif yang besar, lalu menjelaskan bahwa kedua keburukan itu adalah jalan yang membuat seseorang jauh dari Allah Ta’ala.

Berkenaan dengan alkohol, Hudhur menyatakan bahwa Al-Quran dengan jelas menyebutkan akibat negatif alkohol ini jauh lebih besar dari pada kelebihannya yang terbatas.

Beliau juga menyebutkan contoh ketaatan para sahabat Rasulullah saw saat mereka megetahui bahwa Islam melarang meminum alkohol. Tanpa pikir panjang, para sahabat ini segera memecahkan gentong dan bejana yang berisi minuman keras ini.

Terkait judi, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menasehati:

“Judi dilarang karena perbuatan ini membuat penghasilan dan kekayaan seseorang yang diperoleh dengan jujur dan adil menjadi terbuang sia-sia. Alih-alih memperoleh uang dengan cara yang mudah melalui judi, kalian sebaiknya berusaha mencari nafkah dengan cara yang wajar dan jujur. Ingatlah, seorang Khadim hakiki ialah orang yang senantiasa bekerja keras, dengan kejujuran dan integritas.”

ijtima-ahmadiyah-10

Hudhur juga berbicara mengenai perintah Al-Quran untuk berjalan di atas kerendahan hati dan menjauhi kesombongan yang menjadi ciri khas para mukmin sejati.

Hudhur menyampaikan bahwa para pengurus Jemaat Muslim Ahmadiyah harus secara khusus memberikan perhatian untuk mengamalkan hal ini.

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan:

“Satu hal yang saya ingin tekankan bahwa setiap pengurus, tanpa pandang usia atau kedudukan, harus menanamkan sikap rendah hati dalam diri mereka. Oleh karena itu, meskipun kalian merupakan seorang Qaid lokal, Muhtamim, Sadr Nasional atau pengurus apapun, kalian harus tetap rendah hati setiap saat. Di dalam Al-Quran surah 25 ayat 64, Allah Ta’ala berfirman suatu ciri khas Ibadurrahman ialah mereka senantiasa berjalan di muka bumi dengan merendahkan hati dan tidak sedikit pun meninggalkan jejak kesombongan dan kebanggaan diri.”

ijtima-ahmadiyah-11

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Jika setiap Ahmadi memiliki kewajiban untuk bersikap rendah hati, berbudi dan lemah lembut, tentu para pengurus memiliki tanggung jawab khusus terkait dengan ini.

Para pengurus Khuddam harus memiliki suatu standard yang sedemikian rupa sehingga meskipun mereka diprovokasi dan diajak berdebat, mereka senantiasa membalas hanya dengan sikap yang damai dan tenang, melalui ucapan ‘salam’ sebelum dengan tenang meninggalkan lingkungan seperti itu.”

ijtima-ahmadiyah-11 ijtima-ahmadiyah-12

Seraya menutup acara, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad mengatakan:

“Ingatlah selalu prinsip Al-Quran yang tercantum dalam surah 2 ayat 149 dimana Allah Ta’ala berfirman agar setiap orang memiliki tujuan dan cita-cita dan hendaknya orang-orang mukmin memiliki target untuk unggul dalam kebaikan dan saling berlomba dalam amal saleh. Dengan demikian, semua Khuddam dan Athfal hendaknya ingat bahwa mereka harus memiliki keinginan untuk unggul dalam segala jenis kebaikan dan secara terus-menerus berusaha memperbaiki kondisi akhlak dan rohani mereka supaya mereka dapat termasuk ke dalam golongan orang-orang mukmin sejati.

Sebelumnya, Sadr Nasional Majelis Khuddamul Ahmadiyah, Mirza Waqas Ahmad menyampaikan laporan yang mana beliau memberitahukan berbagai kegiatan selama acara yang berlangsung 3 hari ini.

Selama Ijtima tersebut, para pemuda Muslim Ahmadi yang berasal dari lebih 100 majelis lokal dari seluruh Inggris raya berlomba dalam beragam kompetisi keilmuan dan olahraga.

Pemuda Muslim juga bisa mengunjungi ‘The Hub’ dimana mereka berpartisipasi dalam sejumlah pameran dan memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan secara empat mata mengenai permasalahan agama atau sosial.

22 Deer Park Road, London, SW19 3TL UK
Tel/Fax: (44) 020 8544 7678 Email: media@pressahmadiyya.com


Ahmadiyya Muslim Community
Press & Media Office

URL sumberpressahmadiyya.com

(Visited 17 times, 1 visits today)