Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

pada 22 Juli 2016 di Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

 

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu berbicara tentang Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam dan rutinitas sehari-harinya, “Hadhrat Masih Mau’ud as bekerja keras untuk mempertahankan kesehatan dan menjaga tubuhnya agar sangat aktif. Beliau as tidak malas atau tidak aktif sama sekali. Sebaliknya, beliau as bekerja sangat keras dan sangat menyukai menyendiri. Beliau as tidak pernah gentar dengan kerja keras. Sering kali terjadi setiap kali beliau as harus melakukan perjalanan maka kuda disertai pelayan beliau as sudah beliau as suruh untuk berjalan di depannya sedangkan beliau as berjalan kaki, kadang-kadang mencapai 20 sampai 25 mil sampai tujuan. Bahkan, amat sering terjadi pula beliau as biasa berjalan kaki dalam perjalanan dan sangat jarang beliau as naik kendaraan (binatang tunggangan). Kebiasaan berjalan kaki tetap sampai akhir hidupnya dan ketika beliau as berusia lebih dari 70 tahun dengan sejumlah penyakit namun beliau as biasa untuk pergi keluar mencari udara segar dan berjalan sekitar 4 sampai 5 mil, bahkan 7 mil.

Beliau as biasa menyebutkan bahwa pada saat sebelum usia tuanya beliau as biasa bangun pagi sebelum shalat Fajar/Shubuh dan akan melakukan jalan kaki dari Qadian ke Wadala. Sementara pada saat berjalan, panggilan adzan untuk shalat Fajar biasa terjadi di desa Wadala, sekitar 5,5 mil dari Qadian di jalan menuju Batala, tempat biasa melaksanakan shalat tersebut.[1]

Jadi ini adalah contoh bagi kita dan terutama untuk mereka yang telah dipercayakan menerima tanggung jawab berbagai pekerjaan pengkhidmatan agama, pertama dari mereka adalah para Muballigh. Mereka harus berolahraga atau setidaknya berjalan-jalan kaki untuk menanamkan kebiasaan trampil bekerja keras dan menjaga kesehatan dengan baik.

Jika tidak mampu pergi keluar untuk berjalan-jalan karena kendala sempitnya waktu atau alasan lain, setidaknya mereka harus secara khusus menetapkan waktu untuk berolahraga. Ada beberapa Muballigh yang masih muda namun tampak dari tubuh mereka bahwa mereka tidak melakukan olahraga apapun. Ketika ditanya, mereka akan menjawab, “Kami biasa melakukannya di masa lalu tapi telah berhenti sejak beberapa waktu sekarang.”

Pekerjaan penting dan paling menuntut tanggung jawab yang dipercayakan kepada para Muballigh membuat kita memerlukan makhluk yang sangat aktif sehingga untuk itu berolahraga sangat penting dan harus diperhatikan. Para Muballigh dan mahasiswa Jamiah yang telah lulus dari berbagai tempat di seluruh dunia berkunjung ke Rabwah untuk pelatihan, yang mana tes medis dilakukan bagi mereka. Tn. Dr Noori, spesialis jantung telah menulis laporan kepada saya, “Alhamdu lillah! Masya Allah, para Murabbi sangat baik dalam setiap aspek, dengan karunia Allah, tapi ada banyak diantara mereka yang dari segi obesitas (kegemukan) sampai ke zona mengkhawatirkan.”

Oleh karena itu, mereka perlu memperhatikan hal itu (berolahraga). Ketika mereka pergi ke medan tugas, itu menjadi lebih penting bagi mereka untuk mempertimbangkan aspek ini.

Jadi pertama, penting bagi para Muballigh dan mereka yang membaktikan kehidupannya untuk Jemaat (Waqifin Zindegi) supaya berolahraga. Kedua, di negara-negara Barat, makanan yang tidak sehat dan junk food (cepat saji) juga sangat umum yang mana itu harus dihindari. Faktor-faktor ini harus dipertimbangkan dan diperhatikan! Jika mereka hidup sendiri karena tinggal di rumah misi tanpa disertai keluarga, mereka setidaknya dapat menemukan beberapa waktu untuk berolahraga dan harus tahu teknik memasak secara sehat.

Saya tidak hanya menasihati anggota Jemaat, saya juga biasa berolahraga secara teratur dengan sepeda otomatis atau mesin-mesin olahraga lainnya dengan karunia Allah Ta’ala, Dia memungkinkan saya untuk melanjutkannya secara teratur hingga sekarang. Kami memerlukan Muballigh dan Murabbi yang betul-betul sehat dan aktif. Oleh karena itu, mereka harus menjaga kesehatan mereka dan tidak boleh mengabaikan aspek penting dari hidup sehat dalam rangka menyempurnakan tugas mereka dengan cara yang terbaik.

Ada peristiwa lain dengan mengacu pada perjalanan hidup Hadhrat Masih Mau’ud as yang diceritakan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, “Dalam dunia sekarang ini kita dapat dengan mudah menyampaikan suara kita ke semua tempat melalui alat pengeras suara karena sebagian besar dari kita tidak terbiasa berbicara sangat keras sehingga tidak dapat berbicara dengan suara keras dalam batas tertentu. Namun, terutama bagi para Muballigh yang hendak pergi ke medan tugas dan menyampaikan tabligh harus berlatih berbicara secara jelas dan keras yang diperlukan.

Pertimbangannya, alat pengeras suara tidak tersedia secara memadai di sebagian besar negara-negara miskin. Di zaman dahulu, alat pengeras suara untuk kerumunan besar tidak tersedia bahkan sangat sulit. Seseorang harus membuat upaya untuk berbicara benar-benar keras dan menyampaikan pesan ke banyak orang. Dengan demikian, selanjutnya orang-orang biasa melakukan praktek berbicara keras dan jelas demi tujuan pidato ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as biasanya dalam kehidupan sehari-hari berkomunikasi dan berbicara secara lembut (bersuara pelan) tapi bagaimana keadaan beliau ketika kesempatan menuntut harus menyampaikan ajaran Islam kepada orang-orang? Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menggambarkan, “Suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud as berdiri menyampaikan pidatonya di sebuah ruangan terbesar di kota Lahore yang penuh dengan orang-orang. Ada begitu banyak orang sehingga pintu harus tetap terbuka supaya suara bisa mencapai orang-orang di luar yang juga banyak dan sedang duduk di tenda-tenda. Di awal sesuai dengan rutinitasnya, beliau as bersuara rendah dan lembut.

Kerumunan membuat beberapa kebisingan juga. Tapi, kemudian ternyata beliau as berbicara seperti terompet yang dimainkan dari langit. Orang-orang yang duduk terdiam dengan konsentrasi besar. Oleh karena itu, nada suara tinggi demi pengkhidmatan agama dan pada waktu yang tepat merupakan hal yang sangat penting.”[2]

Kadang-kadang diperlukan untuk menaikkan nada suara untuk pelayanan agama. Oleh karena itu, setiap orang yang diserahi tanggung jawab tersebut harus memberikan perhatian khusus untuk aspek ini.

Kadang-kadang, beberapa orang menyatakan keprihatinan besar tentang tingkat kesalehan dan kebaikan mereka yang tidak tetap sepanjang waktu dan sangat banyak khawatir tentang hal itu. Ini hal yang sangat baik dari sudut pandang seseorang harus melakukan muhasabah an-nafs (analisis diri, memeriksa diri), “Keadaan ini tingkat rendah kesalehan dalam diri saya”, atau “Dedikasi dan semangat yang saya miliki dalam ibadah seperti sebelumnya sudah tidak ada lagi”.

Seseorang harus menganalisis latar belakang yang menyebabkan kondisi tersebut dan harus mencoba untuk menyembuhkan dan memperbaikinya sehingga tidak harus tetap seperti itu untuk waktu lama. Bagaimana pun, ini jalan yang sangat baik dan keadaan ini tidak berkaitan dengan sesuatu yang buruk tetapi hanya soal antara berkurang dan bertambahnya kesalehan. Kondisi seperti itu datang dan pergi. Seorang Sahabat datang kepada Nabi Muhammad saw dan mengatakan, “Wahai Nabi Allah! Saya telah menjadi munafik. Ketika saya duduk di pertemuan Anda, kondisi saya benar-benar berbeda dengan ketika saya pergi ke tempat lain.” Itu maksudnya, kondisi kesalehan dan kesucian hatinya tidak sama seperti ketika ia bersama Nabi saw. Nabi saw bersabda, “Sebenarnya itu adalah kondisi orang beriman. Anda tidak munafik.”[3]

Dari peristiwa itu, terbukti dengan sendirinya, kebersamaan dengan Nabi saw menghasilkan pengaruh dan kesan pada orang-orang yang duduk-duduk menyertai beliau saw dengan hati suci-murni dan bertujuan belajar dari beliau saw serta meningkatkan tingkat hubungan mereka dengan Allah Ta’ala. Ketika para Sahabat ini meninggalkan kebersamaan dengan Nabi saw, maka tingkat keadaan mereka yang tadi sedikit turun. Demikianlah, para Sahabat senantiasa memiliki keikhlasan dan rasa takut kepada Allah sehingga  mengkhawatirkan pada mereka terjadi penurunan kesalehan dan kebaikan dalam beberapa waktu lama yang berakibat menjauhkan diri dari agama dan timbul kemunafikan. Hal ini menjadi perhatian utama mereka. Dan ketika perasaan ini ada pada seseorang maka ia memperhatikan reformasi diri dengan doa dan istighfaar.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menjelaskan hal ini, “Hadhrat Masih Mau’ud as biasa mengatakan bahwa kesehatan anak-anak tertentu sangat baik karena perhatian ibu mereka. Jika anak memiliki masalah sekecil apa pun, ibu mereka segera mengenalinya yang hasilnya sang ibu selalu mengurus pengobatan dan anak diselamatkan dari dampak buruk penyakit yang semakin kronis. Namun, beberapa ibu mengenal kondisi kesehatan yang merugikan anak mereka ketika penyakit telah menjadi kronis dan berbahaya. Tapi, bagaimana pun kecemasan seorang ibu demi kesehatan anaknya adalah hal yang baik.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Kekhawatiran khusus kaum ibu ini sangat baik untuk kesehatan anak. Demikian juga, adanya kekhawatiran dalam kesadaran seseorang bahwa penyakit rohani tertentu dapat menyebabkan tingkat berbahaya pada dirinya, adalah hal yang sangat baik dan bermanfaat.’ Sebagai contoh, jika ada penurunan rohani, ibadah dan perbuatan baik; dan muncul dalam diri seseorang keraguan apakah ia telah menjauh dari Allah sebagai dampak akhir dari itu semua, maka kesadaran dan perhatian ini sangat berguna. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa seperti itulah seseorang mempersiapkan diri dalam kesiagaan untuk memerangi titik bahaya dan melindungi diri dari serangannya.[4]

Jadi, hal yang sebenarnya ialah orang-orang yang maju dalam jalan perbuatan baik mereka dan menerima seruan perintah-perintah Allah seperti para ibu yang menjaga keadaan anak mereka, khawatir kesehatan rohani mereka dan semoga tidak ada penurunan atau kelambanan dalam shalat mereka dan tidak muncul suatu kelemahan tertentu atau dosa. Hal mana itu menjadikan mereka sebagai orang sakit rohani yang sulit diobati akibat dari penyakit tersebut telah sangat lama.

Para sahabat Nabi Muhammad saw sangat beruntung. Setiap kali mengingat kondisi mereka lalu memeriksa diri mereka sendiri, mereka menjadi khawatir. Kemudian, mereka selalu pergi ke majelis Nabi saw dan menyembuhkan diri melalui keikutsertaan dalam pergaulan dengan Nabi saw. Tapi, kita harus merasa takut senantiasa terkena cedera penyakit-penyakit rohani tersebut ini dan selanjutnya harus bertekun dalam berbadah, doa dan beristighfar dan melalui ini mencoba untuk menyembuhkan diri kita sendiri. Perhatian dan kekhawatiran kehilangan spiritualitas ini jauh lebih baik dibandingkan kecerobohan dan ketidakacuhan yang sewaktu-waktu dapat membawa seseorang jauh dari Allah, dan kemudian perlahan-lahan terus menjauh dari agama serta membuatnya pasien rohani yang tidak tersembuhkan. Jadi dalam hal ini ada keperluan untuk memperhatikan hal ini.

Suatu kali Hadhrat Mushlih Mau’ud menjelaskan kebahagiaan dan kesedihan terkait dengan perasaan seseorang. Sebagai contoh, jika ada perkawinan dalam sebuah keluarga maka demi tujuan kebahagiaan perkawinan, seseorang bahkan bersedia pergi jauh mengambil pinjaman untuk pembiayaannya. Anggota keluarga lainnya juga ikut dalam kebahagiaan ini. Tetapi orang-orang yang tidak berhubungan dengan kegembiraan tersebut, mereka tidak menanggung beratnya perayaan guna kegembiraan orang itu, keluarganya dan kawan-kawannya. Padahal orang itu mengambil pinjaman atau kesulitan lainnya demi kebahagiaan itu. Orang-orang tidak menganggap penting bagaimana orang tersebut merayakan kegembiraan dan mencari pinjaman untuk itu.

Demikian pula jika wali (penanggung, pencari nafkah) sebuah keluarga meninggal maka ada perkabungan di rumah itu. Tetapi bagi orang-orang yang tidak berhubungan dengan keluarga itu, kematian orang tersebut bukan sesuatu yang berarti sehingga tidak mereka perhatikan. Ribuan orang meninggal setiap hari, dan meskipun mendapatkan berita kematian mereka, kita tidak merasakan pengaruhnya hanya karena kita tidak berhubungan dengan (tidak mengenali) mereka. Namun, ketika seseorang yang dekat dengan kita meninggal maka kita merasakan kesedihan yang sangat kuat. Dan ada beberapa orang yang menyebabkan ketidaktentraman besar bagi masyarakat, contohnya perampok kejam dan teroris. Ketika orang-orang seperti itu nanti mati, sebagian dari masyarakat sangat senang atas kematian mereka, tetapi orang-orang yang dekat dengan para penjahat itu merasakan keperihan dan kesedihan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Ini adalah sistem yang sangat unik dan menakjubkan dari perasaan manusia. Jika direnungkan, seseorang pasti benar-benar pernah merasa untuk saat-saat yang seperti itu. Sesuatu peristiwa yang bagi sebagian orang itu adalah saat kebahagiaan dan sukacita, sementara pada saat yang sama, itu waktu berkabung/bersedih bagi orang lain. Dan ada juga banyak orang yang tidak ikut serta dalam kebahagiaan atau dalam suasana berkabung orang lainnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengajarkan saya hal ini hanya dalam satu kalimat saja. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa membaca surat kabar setiap hari secara teratur yang juga itu penting untuk kita lakukan.” (Terutama bagi yang dipercayakan dengan tanggung jawab pekerjaan-pekerjaan agama (Tabligh, Tarbiyat dst), mereka harus mempelajari suratkabar secara teratur dan juga mengenali berita-berita kecil yang dimuat di sana.)

“Pada 1907, di tengah-tengah membaca suratkabar, Hadhrat Masih Mau’ud as memanggil saya dengan nama saya ‘Mahmud’ dan beliau as memanggil saya seolah-olah ada sesuatu hal penting yang mendesak. Ketika saya pergi kepada beliau as, beliau as membacakan sebuah berita kepada saya bahwa seseorang (yang namanya saya tidak ingat) telah meninggal. Saya (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra) hanya tertawa itu dan mengatakan, ‘Apa yang harus saya lakukan dengan itu (Apa kaitannya itu dengan saya)!’ Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Keluarganya akan berkabung dan engkau mengatakan tidak memiliki kepedulian dengan itu.’

Jadi apa alasan di balik itu? Alasannya, orang yang kepada siapa Anda tidak peduli, Anda tidak merasakan kesedihan atas kesedihan orang itu atau merasa gembira atas kebahagiaan orang tersebut.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan kejadian ini pada acara pernikahan Mian Abdus Salam, putra Khalifah pertama, Hadhrat Tn. Maulvi Nuruddin ra. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengungkapkan perasaannya pada waktu itu, “Jika Hadhrat Khalifatul Masih I ra masih hidup, beliau ra akan merayakan sukacita dan beliau ra akan telah berdoa begitu banyak untuk kesempatan ini. Dan karena itu semua orang lain akan termotivasi untuk berdoa juga. Jadi, dengan mengajukan contoh-contoh ini dan memikirkan ini maka tercipta perasaan khusus dan gairah semangat di dalam hati kita.” (Dan ketika seseorang yang dekat dengan kita merasa bahagia maka ini menciptakan semacam keharuan dan perasaan di dalam hati kita bagaimana seorang yang kita kasihi ini berdoa untuk orang-orang yang ia sayangi.) “Pada saat itu gelombang kebahagiaan menyebar di dalam diri kita dari ujung kepala hingga ujung kaki.”[5]

Maka dari itu, hal ini harus diingat bahwa kita harus berdoa bagi mereka yang berjasa pada kita dan juga keturunan mereka. Kita juga dapat ikut serta pada saat-saat kebahagiaan dan penderitaan mereka.  Juga, bagi anggota Jemaat kita harus memiliki perasaan seperti itu. Kita harus mengungkapkan kesukaan kita pada saat kegembiraan anggota Jemaat atau menyatakan kedukaan kita pada saat kesedihan mereka karena Jemaat adalah satu tubuh, satu entitas. Perasaan ini bisa lahir di dalam diri kita hanya ketika kita ikut merasakan rasa sakit tiap anggota Jemaat dan juga kesedihan mereka. Dan, inilah hal yang menciptakan kesatuan diantara anggota Jemaat.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menggambarkan sebuah peristiwa yang mencerminkan sifat taat Hadhrat Khalifatul Masih I, “Saya ingat tentang Hadhrat Khalifatul Masih I ra yang dulunya biasa memiliki perasaan yang penuh kecintaan terhadap Tn. Abdul Hakim dari Patiala ketika dia masih seorang Ahmadi. Tn. Abdul Hakim juga dekat dengan Hadhrat Khalifatul Masih I. Perasaan itu begitu kuat sehingga bahkan ketika Abdul Hakim murtad dan menentang Hadhrat Masih Mau’ud as, pada waktu itu ia menulis, ‘Di dalam komunitas dia (Hadhrat Masih Mau’ud as), tidak ada contoh para sahabat Nabi saw selain Tn. Nuruddin.’ Orang ini memang pernah menjadi kebanggaan bagi Jemaat. Dia juga telah menulis sebuah tafsir Al-Qur’an. Ia juga mengambil banyak bantuan dan saran dari Hadhrat Khalifatul Masih I ra.

Namun, ketika Abdul Hakim mengumumkan penolakan terhadap Ahmadiyah, Hadhrat Khalifatul Masih I ra memanggil murid-muridnya dan meminta mereka untuk mengambil keluar buku Tafsir Tn. Abdul Hakim dari perpustakaannya sehingga Allah Ta’ala menjadi tidak marah kepada beliau ra karena itu. Meskipun itu buku Tafsir Al-Qur’an dan beberapa tafsir ayat di sana ditulis dengan berkonsultasi kepada Hadhrat Khalifatul Masih itu I ra, masih saja beliau ra memerintahkan tindakan tersebut karena orang itu telah meninggalkan agama dan Allah begitu murka pada dirinya. Jadi menurut perasaan dan pemikiran pribadi beliau ra buku tertentu mungkin bisa membuat buku-buku lainnya tidak murni juga.”[6]

Ini adalah semangat keagamaan dan takut kepada Tuhan yang beliau ra miliki di hatinya dan memang contoh yang sangat baik bagi kita semua untuk diikuti.

Kemudian, beberapa orang membuat keberatan ketika ada semacam hukuman dari Nizham Jemaat terhadap seseorang atau beberapa tindakan tertentu diberlakukan oleh Nizham Jemaat melawan seseorang, maka orang yang berkeberatan tersebut mengatakan, “Tindakan yang diambil terhadap saya itu tidak tepat.” Lalu, ia menyajikan situasi komparatif/perbandingan tentang orang lain yang belum/tidak diberi sanksi. Tapi, keberatan ini bukan hal yang baru. Di setiap zaman, keberatan tersebut telah muncul. Orang-orang melakukannya hari ini dan telah melakukannya di masa lalu juga. Oleh karena itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyebutkan orang-orang seperti dengan bersabda,

“Faktanya, ada satu lingkaran persatuan dan kesatuan pemikiran dalam rangka menjaga Nizham (sistem). Mungkin saja dalam benak kebanyakan orang tampak perbedaan yang sangat besar tetapi itu tidak menyebabkan fitnah (kerusakan/perpecahan). Dengan demikian, orang yang punya perbedaan pendapat tersebut masih mungkin diperbolehkan dalam Jemaat. Tetapi, kebalikan dari orang lain seperti dia, ada orang yang membuat kontroversi kecil tapi perbedaan pandangannya menyebabkan gesekan dan kesulitan dalam Jemaat maka dia harus dibawa keluar dari Jemaat.”

Selanjutnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Seseorang datang kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan bertanya, ‘Saya baru saja keluar dari Syiah-isme (pemikiran Syiah) dan karena keyakinan saya sebelumnya, saya menganggap Hadhrat Ali ra lebih unggul dari Hadhrat Umar ra dan Hadhrat Abu Bakar ra. Apakah bisa saya lakukan baiat kepada Anda sedangkan saya memiliki kepercayaan ini yang masih ada di dalam hati saya?’ Hadhrat Masih Mau’ud as menulis kepadanya, ‘Anda bisa melakukan bai’at.’ Dibandingkan dengan itu, Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengusir beberapa orang dari Qadian sebagai hukuman bagi mereka. Beliau as juga mencetak selebaran pengumuman tentang mereka. Sebabnya adalah mereka tidak biasa dalam melakukan shalat lima waktu. Beberapa dari mereka biasa menikmati pertemuan untuk hiburan dan hal yang sia-sia serta merokok pipa hookah.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Kini katakan, manakah yang lebih besar pengaruhnya, apakah menganggap Hadhrat Ali ra lebih unggul dari Hadhrat Abu Bakar ra dan Hadhrat Umar ra; ataukah merokok sebuah pipa rokok? Pasti semua orang akan berpikir bahwa mempertimbangkan Hadhrat Ali ra lebih unggul dari Hadhrat Abu Bakar ra dan Hadhrat Umar ra adalah tingkat yang lebih tinggi dalam dosa daripada merokok. Merokok lebih kecil bahaya dosanya. Namun, Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengizinkan seseorang untuk baiat dan bergabung dengan Jemaat meski terdapat perbedaan signifikan, sementara beberapa orang lain diminta keluar dari Qadian karena merokok pipa, tenggelam dalam ejekan dan cemooh.

Sedangkan, dalam kesempatan yang berbeda, beliau as malahan memerintahkan penyediaan rokok [bagi tamu non Ahmadi]. Peristiwa ini terjadi ketika duta Turki, حسين كامي  Husain Kami mengunjungi Qadian dan jamuan makan-minum diatur baginya, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan, “Saya masih muda tapi ingat dengan jelas dalam salah satu pertemuan, Maulvi Abdul Karim Sahib mengatakan, ‘Orang-orang ini (para tamu) gemar merokok dan jika kita tidak mengatur untuk itu maka diplomat mungkin merasa tidak nyaman.’ Karena itu, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Tidak masalah di dalamnya karena merokok bukan diantara hal-hal dilarang yang seperti minum minuman keras.’

Singkatnya, Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengusir dari Jemaat beberapa orang yang telah menggunakan benda-benda bukan haram setara haramnya minuman keras (yaitu rokok), tapi di sisi lain, beliau as mengizinkan orang dengan keyakinan yang berbeda melakukan baiat meskipun ia sendiri memiliki keyakinan Hadhrat Ali ra lebih unggul daripada Hadhrat Abu Bakar ra.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Sebenarnya, hal-hal tertentu menjadi besar dari segi fitnah secara sementara waktu. Ia terhitung sangat signifikan padahal secara lahiriah tampak kecil saja. Sementara itu, sebagian hal adalah kecil dari segi fitnah di sementara waktu, padahal ia besar secara dzatnya. Kadang-kadang tindakan yang diambil dalam cara yang sangat berbeda yaitu kepada hal yang penting dengan perhatian yang menyenangkan sementara terhadap pelanggaran kecil dijatuhkan sanksi dengan melihat fitnah yang muncul pada waktu itu. Tetapi, orang-orang yang mengkritik keputusan tersebut tidak mempertimbangkan hal ini karena mereka hanya bertujuan mengkritik.”[7]

Banyak orang mengusulkan rekomendasi pemaafan bagi orang lain. Sebagian pendukung mereka yang mendapatkan hukuman menyatakan, ‘Mereka yang dihukum ini tidak mengetahui masalah yang sebenarnya dan sebab penghukuman mereka.’ Oleh karena itu, hendaknya tidak perlu campur tangan pada perkara-perkara seperti itu atau tidak perlu untuk membuat rekomendasi apapun untuk siapa pun tanpa pemahaman hal yang sebenarnya.

Sesungguhnya, Nizham Jemaat sendiri tatkala melihat itu tepat untuk mempelajari lagi masalah itu maka permintaan maafnya (orang yang mendapatkan sanksi dari Nizham Jemaat) diterima. Namun, ada pengkritik yang menyampaikan kritikan, bahkan pada masa ini, ketika seseorang dihukum karena melakukan pelanggaran, bukannya menyesal atas hal itu dan memperbaiki diri malahan mulai berbicara menentang lembaga Jemaat. Kemudian, muncullah tuntutan dari mereka bahwa mereka akan tetap dalam keadaan mereka dan meskipun demikian harus dianggap sebagai bagian dari Jemaat serta tidak perlu memperbaiki diri.”

Saya harus menjelaskan lagi hal ini bahwa meskipun Hadhrat Masih Mau’ud as memperbolehkan akomodasi (penyediaan) rokok untuk duta Turki tetapi beliau as sendiri tidak suka tindakan merokok sama sekali dan sering kali menyatakan perasaan ketidaksukaannya untuk kebiasaan ini.

Metode apa yang harus diterapkan untuk menyebarkan firman Allah (tabligh) dan bagaimana itu harus dilakukan? Mengenai ini Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menyebutkan, “Saat ini pekerjaan pengabaran/tabligh dilakukan melalui distribusi pamflet dan brosur tetapi membawa pamflet tersebut tidak dapat dilakukan lama-lama karena beratnya. Pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as, Tabligh dilakukan melalui pengumuman selebaran yang terdiri dari 2 sampai 4 halaman. Melalui itu dulu ada banyak kehebohan di seluruh negeri. Selebaran tersebut diterbitkan dalam jumlah besar. Jumlah banyak pada zaman itu merujuk pada total 1000 hingga 2000 eksemplar. Pada kali lainnya, total 10.000 selebaran juga diterbitkan. Tetapi sekarang Jemaat bertambah 20 kali lebih besar dan penyediaan propaganda untuk menyebarluaskan selebaran harus sekitar 50.000 sampai 100.000 eksemplar. Dan kemudian lihatlah sendiri bagaimana selebaran ini menarik perhatian orang dan mengubah mereka.”

Sekarang dengan karunia Allah, menurut beberapa informasi yang sampai ke kami, jumlah selebaran telah mencapai jutaan orang atau ratusan ribu di beberapa tempat dan ini memiliki dampak pada negara-negara lain juga. Ada informasi dari Amerika Serikat bahwa perwakilan kantor berita atau saluran televisi Swedia telah menghubungi perwakilan kita di Amerika Serikat dengan mengatakan, “Kami ingin melakukan wawancara dengan kalian karena Islam menarik perhatian orang-orang di Swedia sehingga mereka ingin mencari tahu apa itu Islam.” Allah yang lebih tahu atas sebab itu. Bahkan, selama kunjungan saya ke Swedia jutaan orang mendapat pesan Tabligh juga. Dengan demikian melalui selebaran, media cetak dan media suara, pesan kita sedang disampaikan pada skala yang sangat besar dan luas yang mungkin tidak akan dicapai melalui literatur (buku-buku).

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, “Jika pada masa sebelumnya pamflet diterbitkan sejumlah 12.000 dalam setahun kemudian jika diterbitkan sekarang sejumlah 100.000 atau 200.000 eksemplar untuk 3 kali dalam setahun walau itu beberapa halaman.”[8]

Dan kini, kita saksikan aktifitas itu bagaimana selebaran diterbitkan sejumlah ratusan ribu halaman yang menimbulkan efek reaksi. Atas hal itu, beberapa orang mengatakan apa manfaat memuat iklan (pengumuman atau penyebutan tentang Jemaat) di koran-koran?

Saya katakan, ada manfaat melakukan itu karena dengan sirkulasi surat kabar, pesan tentang Ahmadiyah [yang dimuat di suratkabar itu] banyak orang dalam jumlah besar menjadi kenal Ahmadiyah. Secara relatif, pesan tentang Jemaat yang menyebar melalui selebaran saja yang didistribusikan dengan kerja keras besar dalam total waktu 2 bulan, pesan yang sama tersebar di antara lebih banyak orang dalam sehari dengan sebuah suratkabar [yang memuat info tentang Jemaat]. Dalam dunia sekarang ini, dengan karunia Allah, orang-orang menjadi tahu dan kenal Jemaat melalui [pemuatan info tentang Jemaat di] banyak surat kabar di berbagai tempat, seperti telah saya katakan.

Dengan karunia Allah Ta’ala, departemen Pers dan media Jemaat juga memainkan peran yang sangat penting mengenai aspek ini dan itu sedang dilakukan pada jangkauan luas di seluruh dunia. Termasuk diantara tugas departemen tabligh bahwa mereka harus memanfaatkan pendahuluan berupa pengenalan ini dan pesan Islam yang sejati disampaikan kepada orang-orang. Seharusnya mereka tidak merasa cukup menyebarluaskan sesuatu kabar satu kali saja di suratkabar-suratkabar [tentang info pengenalan Jemaat], melainkan tanggung jawab dari departemen tabligh bahwa mereka harus melangkah maju dan menggunakan sarana ini untuk bertabligh. Tidak hanya menggunakan itu saja untuk bertabligh melainkan juga mencari-cari metode baru untuk diadopsi.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menulis sebuah artikel tentang pendidikan anak yang di dalamnya beliau ra menyebutkan sebuah kisah dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau ra menulis, “Imam nan agung ‘alaihish shalaatu was salaam menceritakan kepada saya sebuah kisah berikut pada 5 September 1898 setelah shalat Ashar sesuai permintaan saya. Dari kisah itu dapat kita ketahui bahwa ketergantungan dan kepercayaan kepada Allah menjadikan seseorang layak mendapatkan Allah sebagai Penjaminnya dan memenuhi semua kebutuhannya dengan cara sedemikian rupa yang dia tidak ada tahu tentang hal itu.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Suatu kali seorang saleh bepergian. Ia berjalan melalui sebuah hutan yang dihuni oleh seorang perampok yang akan merampok setiap orang yang akan lewat. Maka, ia pun bermaksud merampok orang saleh tersebut. Orang saleh itu mengatakan dengan mengutip ayat Al-Qur’an, “وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ ‘Dan di Langit ada rezeki kalian, dan juga apa-apa yang dijanjikan bagi kalian. (Surah Adz-Dzaariyaat, 51:23) Syaratnya ialah dengan berpegang teguh pada ketakwaan.’

Rezeki Anda telah ada ditetapkan di langit/rezeki akan datang dari Allah. Anda harus bergantung pada Allah dan takut akan Dia serta tinggalkanlah aksi pencurian dan perampokan ini! Maka, jika demikian, Allah akan memenuhi semua kebutuhan Anda.” Pencuri itu sangat terkesan dengan kata-kata orang saleh itu sehingga ia bertobat dan mengamalkan nasihat orang saleh itu.

(Kisah selanjutnya) Ia telah kaya. Begitu banyak hartanya sehingga berbagai macam makanan enak dan mewah serta hangat berada di wadah yang terbuat emas dan perak. (Pada hari-hari sebelumnya ia mencuri dan merampok, setelah meninggalkan itu semua dan bertawakkal kepada Allah, dalam kisah disebutkan ia menjadikan makanan ditaruh di wadah emas dan perak.) Demikianlah, kisah berlanjut, setelah makan makanan ia akan membuang peralatan itu di luar pondoknya.

Kebetulan sekali lagi orang saleh yang sebelumnya telah dibicarakan itu mengadakan perjalanan dan melalui tempatnya, mantan pencuri itu –yang telah berubah menjadi orang baik dan bertakwa- mengungkapkan seluruh kejadian tersebut kepada orang saleh itu dan meminta agar ia diberitahu lagi beberapa ayat lain dari Al-Qur’an. Orang suci itu mengatakan, ‘فورَبِّ السماءِ والأرض إنه لَحَقٌّ Dan demi Tuhan langit dan bumi, hal ini tentunya benar.’ (Surah Adz-Dzaariyaat, 51:24) Kalimat suci ayat ini membuat perampok itu terkesan orang sehingga ia mengingat gambaran kekuasaan Allah dan keagungan-Nya dan kemudian menghembuskan nafas terakhir di tempatnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as [saat masih anak-anak] mengungkapkan cerita ini ke anak yang pada waktu berumur 8 atau 10 tahun yang kemudian mengatakan kepada anak-anak lain, ‘Perhatikanlah! Betapa bermanfaatnya ketakwaan bagi yang memilikinya sehingga Allah, Sang Pemelihara penduduk langit dan bumi memeliharanya dalam perlindungan-Nya. Adakah keraguan tentang hal itu.’ Dia adalah Tuhan Yang Maha Suci dan Yang Sejati yang mendidik dan memelihara kita serta memenuhi keperluan-keperluan kita. Milikilah rasa takut kepada Tuhan ini. Bergantunglah pada-Nya dan jalanilah jalan-jalan yang benar.”[9]

Demikianlah keadaan kanak-kanak pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as yang pada masa itu diberikan sebuah pelajaran yang bahkan sulit dipahami oleh orang dewasa pada zaman ini. Maka dari itu, kita semua harus selalu ingat untuk harus mengikuti jalan-jalan ketakwaan, dan memiliki keyakinan yang pasti, kuat dan sempurna kepada Allah bahwa Dia-lah Yang Memelihara kita dan menyediakan bagi kita kebutuhan-kebutuhan kita untuk tumbuh dan berkembang.

Dia adalah Tuhan Yang Maha Suci lagi Maha Benar yang hanya kepada-Nya kita harus takut, yang hanya kepada-Nya kita meminta, yang hanya kepada-Nya kita bertobat dan bertawakkal secara terus-menerus. Inilah kebaikan yang mau tak mau harus diimani oleh seorang Muslim dan beramal berdasarkan hal itu.

Sebenarnya, orang dewasa lebih utama dibanding anak-anak untuk mengambil pelajaran dari kisah ini terutama saat ini ketika orang-orang terus melupakan topik tersebut. Maka, mereka seringkali menjauh dari ketakwaan dan bukannya mempercayakan diri pada Allah, mereka cenderung bergantung pada manusia lainnya. Oleh karena itu, ingatlah! Kebebasan atas mereka ialah dengan kepercayaan yang nyata dan bergantung hanya kepada Allah. Saya berdoa semoga Allah memungkinkan kita semua untuk memiliki kualitas ketakwaan ini (Aamiin).

Setelah shalat, saya hendak memimpin shalat dua jenazah ghaib, yang pertama untuk Mukkaram Al-Haaj Tn. Dr. Idris Bagora, Naib Amir dari Sierra Leone yang meninggal dunia pada 3 Mei 2016 setelah sakit baru-baru ini. إنا لله وإنا إليه راجعون

Beliau masuk Ahmadiyah saat belajar di Sekolah Ahmadiyah di kota Bo. Beliau menjadi anggota dari Majlis Amilah nasional pada tahun 1966 dan masih mengkhidmati Jemaat sampai kewafatannya. Beliau masih sebagai Naib Amir I dalam waktu lama.

Beliau dai yang sukses. Telah banyak orang masuk Ahmadiyah di tangannya. rumahnya jauh dari masjid, namun beliau shalat Fajr, Maghrib dan Isya di masjid kelompok. Pada hari cuti itu menghabiskan harinya dari pagi sampai sore hari di masjid sibuk dalam mengerjakan nawafil dan membaca Al-Quran. Beliau teratur menghadiri shalat Jumat dan mendengarkan khotbah Khalifah pada hari Jumat dan program lain yang disiarkan MTA. Kebiasaannya ialah membaca buku Hadhrat Masih Mau’ud as tanpa putus. Beliau biasa membantu setiap orang yang memerlukan. Beliau seorang dokter. Meskipun demikian, kehidupan beliau seperti orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk mengkhidmati Jemaat.

Tn. Aqil Ahmad Muballigh di daerah Bo menulis: “Setiap kali saya menerima beberapa anak-anak Jemaat yang datang kepada saya meminta bantuan keuangan dan saya tidak menemukan di kalangan Jemaat orang yang dapat membantu mereka, saya akhirnya pergi bersama mereka ke tempat Almarhum. Tidak pernah satu kali pun terjadi bahwa saya datang dengan mereka dan Almarhum tidak membantu mereka dengan uang. Almarhum orang yang luar biasa penuh kasih dan banyak berbuat baik. Beliau mengobati para Waqifin dengan hati-hati, dan memberikan mereka obat gratis dari beliau sembari meminta didoakan oleh mereka. Beliau menyembuhkan orang-orang miskin secara gratis, bahkan memberi mereka biaya perjalanan dari kantong beliau sendiri.

Tuhan memberkatinya dengan operasi-operasi yang sukses banyak orang yang terkena penyakit hernia. Setelah kesehatan beliau memburuk, jika pasien datang kepadanya, beliau mengirimnya ke rumah sakit dan membayar upah pengobatannya sendiri.

Dokter Haji Shehu Tamu, salah seorang Ahmadi setia, telah berbaiat melalui pertablighan almarhum, dan menyumbangkan sebidang tanah untuk Jemaat. Ketika almarhum mendengar bahwa Dokter ini telah lebih terdepan dalam mengorbankan uang, segera saja Almarhum memberikan sebidang tanah di pusat kota kepada Jemaat, sebagai sumbangan untuk membangun masjid senilai besar, 35 juta Lyon. Almarhum orang yang saleh dan mencintai Ahmadiyah, dan mendoakan para Khalifah Ahmadiyah dengan ketulusan yang sangat. Beliau ikut serta dengan Nizham Al-Washiyat. Sebagaimana beliau juga berlomba menyumbangkan berbagai dana keuangan bagi Jemaat.

Orang-orang ini hidup di negeri yang jauh, tetapi mereka setelah beriman, tetap terus bertambah dalam iman mereka. Semoga Allah mengangkat derajat-derajat Almarhum, membuat Ahmadiyah terus berlanjut di kalangan keturunannya dan mengaruniai mereka taufik untuk mempertahankan loyalitas dan kesetiaan mereka kepada Jemaat. [آمين Aamiin]

Jenazah kedua adalah Ny. Mansoura Begum istri Tn. Khalid Saifullah Khan, Naib Amir Jemaat kita di Australia yang pada 21 Juli 2016. إنا لله وإنا إليه راجعون Sesungguhnya, kita milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya. Beliau memiliki ketekunan melakukan shalat lima waktu dan bahkan shalat tahajjud dan banyak berdoa. Beliau sangat salehah, sangat pencemburu dalam menjaga kehormatan Jemaat, tulus, setia dan menyintai terhadap Jemaat. Saat beliau berada di rumah sakit gemar berdoa, dan pada sakitnya yang terakhir lupa akan kata-kata shalat maka beliau meminta suaminya supaya beliau bisa mengulangi kata-kata tersebut di belakan suaminya dan shalat. Allah mengaruniai taufik menjadi ketua Lajnah Imaillah di Australia dan di Libya sebelumnya, dan juga di sebuah wilayah di Pakistan, Tarbela dan di Soul Line wilayah Lahore.

Beliau bekerja dalam Jemaat dengan semangat tim. Beliau menyintai Al-Quran dan rajin membaca dengan teratur. anak-anaknya, belajar Al-Quran dari beliau, serta juga anak-anak Muslim non Ahmadiyah. Beliau ikut dalam Nizham Al-Washiyat dan membayar sumbangan dengan perhatian. Beliau telah membayar di muka tagihan candah Washiyat dari jaidadnya hingga Juli 2016. Beliau meninggalkan suaminya, dua putra dan tiga putri, yang semuanya mengkhidmati Jemaat. Salah satu dari dua putranya tinggal di sini, Tn. Omar Khalid, ketua kelompok di daerah London. Dan seorang yang lainnya untuk melayani Jemaat di Australia dalam kapasitasnya sebagai sekretaris Waqf-e-Jadid. Semoga Allah mengangkat derajat-derajat Almarhum dan memperlakukannya dengan pengampunan dan belas kasihan, dan menjadikan generasi keturunan beliau menunjukkan ketulusan dan kesetiaan sepanjang waktu. [آمين Aamiin]

[1] Review of Religions Urdu, November 1916, jilid 15, no. 11, h. 402

[2] Al-Fadhl, 2 Maret 1960, jilid 14/46 nomor 49, h. 2.

[3] Sunan At-Tirmidzi, Abwabul Qiyamah, bab minhu, nomor 2514

[4] Al-Fadhl 7 Agustus 1949, jilid 3 nomor 180, h. 4.

[5] Al-Fadhl 2 November 1922, jilid 10 nomor 35, h. 5.

[6] Al-Fadhl 21 Juni 1944, jilid 22 nomor 143, h. 1.

[7] Al-Fadhl 13 September 1961, jilid 15/50 nomor 211, h. 4.

[8] Al-Fadhl 11 Januari 1952, jilid 6/40 nomor 10, h. 4.

[9] Al-Hakam, 6, 13 September 1898, jilid 2, nomor 26-27, h. 11.