Kitab Suci Al-Quran penuh sekali dengan segala kebijakan sehingga tercipta keselarasan antara prinsip-prinsip pengobatan keruhanian yaitu prinsip keagamaan, dengan prinsip-prinsip pengobatan jasmani, dimana keselarasan itu sedemikian mulusnya sehingga membukakan pintu kepada ratusan wawasan dan kebenaran. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menafsirkan Al-Quran secara benar yang dapat merenungi prinsip-prinsip yang ditetapkan Al-Quran dan kaitannya dengan sistem pengobatan jasmani. Suatu ketika aku diperlihatkan sebuah kasyaf tentang beberapa buku dari beberapa tabib medikal ahli, yang berisikan diskusi tentang prinsip-prinsip pengobatan jasmani, termasuk di antaranya buku dari tabib akbar Qarshi[1].”

“Disiratkan kepadaku bahwa buku-buku itu mengandung tafsir Al-Quran.”

“Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan erat di antara pengetahuan tentang jasmani dengan pengetahuan tentang agama dimana keduanya saling menopang satu sama lain. Ketika aku meneliti Al-Quran, ternyata di dalamnya memang ada prinsip-prinsip pengobatan jasmani.”


 [1] Yang dimaksud adalah Ala-al-Din Abu al-Hasan Ali Ibn Abi al-Hazm al-Qarshi al-Damashqi al-Misri, hidup dari 1213-1288 M atau 607-678 H. Selain sebagai dokter, ia juga menguasai hukum, literatur dan theologi. Terkenal sebagai dokter yang juga mengajar banyak sekali siswa kedokteran di masa itu pada rumah sakit Nasri di Kairo. Kontribusi utamanya bagi dunia kedokteran adalah penemuannya mengenai sistem aliran darah di tubuh manusia. Buku-bukunya antara lain mengenai ophtalmology (mata) tetapi yang terkenal adalah Mujaz al-Qanun, Al-Shamil fi al-Tibb disamping tafsirnya mengenai karya Hippocrates. (Penterjemah)

Tulisan ini dikutip dari buku “Inti Ajaran Islam Bagian Pertama, ekstraksi dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as”. Neratja Press, hal 475, ISBN 185372-765-2

 

(Visited 38 times, 1 visits today)