Allah adalah nama Dzat Maha Agung, pemilik tunggal semua sifat kesempurnaan dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab kata “Allah” itu tidak pernah dipakai untuk benda atau Dzat lain apa pun. Tiada bahasa lain memiliki nama tertentu atau khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain, semuanya nama-penunjuk-sifat atau nama pemberian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak; akan tetapi, kata “Allah” tidak pernah dipakai dalm bentuk jamak. Kata “Allah” dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an. Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat, kata “Allah” itu, nama wujud bagi Dzat yang wajib adanya menurut Dzatnya sendiri, memiliki segala sifat kesempurnaan, dan huruf al adalah tidak terpisahkan dari kata itu. (Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Alquran Dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat, 1997, hal. 5)

Wujud Allah Taala amatlah tersembunyi dan jauh dari jangkauan, teramat rahasia dan tidak akan bisa ditemukan melalui penalaran manusia semata dan tidak ada argumentasi yang dapat membuktikan eksistensi-Nya secara konklusif. Masalahnya karena logika hanya bisa mengantar manusia sampai kepada tahapan perasaan bahwa kemungkinan ada yang namanya sosok Pencipta. Hanya saja perasaan ‘mungkin’ tidak sama dengan kepastian bahwa memang eksis.’

Mengingat jalannya logika manusia itu tidak sempurna, tidak lengkap dan diragukan maka seorang ahli filosofi tidak akan dapat menemukan Tuhan semata-mata hanya melalui penalaran. Kebanyakan manusia yang berusaha menemukan eksistensi Tuhan melalui logika pada akhirnya akan menjadi ateis. Perenungan atas penciptaan langit dan bumi saja tidak akan memberikan manfaat banyak sehingga pada akhirnya mereka kemudian mencemoohkan dan menertawakan orang-orang yang menyembah Tuhan.

Salah satu argumentasi adalah karena mereka berpendapat ada beribu-ribu hal di dunia ini yang tidak ada gunanya dan adanya hal tersebut tidak menjadi indikasi adanya sesosok perancang. Hal-hal tersebut ada di dunia hanya semata-mata sebagai barang yang mubazir dan tidak berguna. Orang-orang seperti ini tidak menyadari bahwa kurangnya pengetahuan mereka mengenai sesuatu tidak harus menjadikan hal itu sebagai hal yang tidak berguna.

Ada berjuta-juta manusia di dunia ini yang merasa dirinya sebagai seorang filosof yang amat bijak dan menyangkal eksistensi daripada Tuhan. Sebenarnya jika mereka memang bisa menemukan dasar pemikiran yang kuat yang mendasari eksistensi Tuhan, pasti mereka juga tidak akan menyangkal Wujud tersebut. Kalau saja mereka berhasil menemukan argumentasi yang konklusif yang mendukung keberadaan Tuhan, mereka juga pasti tidak akan menolaknya mentah-mentah. Dengan demikian jelas bahwa mereka yang mengikuti jejak langkah masuk dalam bahtera para filosof semata, tidak akan memperoleh pencerahan dari badai keraguan dengan akibat mereka akan tenggelam dan mereka tidak akan sempat menyaksikan mukjizat Ketauhidan. (Mirza Ghulam Ahmad, Inti Pokok Ajaran Islam, Jld.1)

Allah Ta’ala menerangkan dalam Al-Qur’an tentang kewajiban beriman kepadaNya:

Ali Imron 19

Artinya: ”Allah memberi kesaksian bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Dia dan demikian pula malaikat-malaikat dan orang-orang berilmu, yang berpegang teguh pada keadilan; tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”. (QS Ali-Imran [3]: 19)

Dalam kaitannya dengan bagian dari rukun Iman, Rasulullah saw bersabda dalam suatu kesempatan:

Tirmidzi_ImanIslam

Artinya: Dari ‘Umar bin Khaththâb r.a, ia berkata: ‘Kami sedang duduk-duduk di sisi Rasulullah saw lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan, dan tidak ada seorangpun dari kami yang mengenalnya. Hingga dia mendatangi Nabi s.a.w, lalu menyandarkan lututnya pada lutut beliau dan meletakan kedua telapak tangannya pada paha beliau, kemudian dia bertanya: ‘Apa iman? Rasulullah saw menjawab: ‘Kamu beriman kepada Allah dan malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, dan takdir baik dan buruk.” (HR. Tirmizi, Kitab Iman, bab Jibril menggambarkan tentang Iman dan Islam kepada Rasulullah saw)

Tuhan kita adalah Maha Esa dalam Wujud-Nya dan dalam Sifat-sifat-Nya. Tidak ada wujud lainnya yang bersifat abadi dan tegak dengan sendirinya seperti Wujud-Nya. Begitu juga sifat-sifat dari wujud lain yang menyamai Sifat-sifat-Nya. Pengetahuan seseorang membutuhkan seorang guru dan itu pun tetap terbatas. Pengetahuan Tuhan tidak memerlukan guru dan tanpa batas. Kemampuan pendengaran seseorang tergantung kepada udara dan bersifat terbatas, tetapi sifat mendengar yang dimiliki Allah Ta’ala bersifat inheren dan tanpa batas. Kemampuan penglihatan manusia tergantung kepada adanya sinar matahari atau sumber sinar lainnya serta bersifat terbatas, sedangkan penglihatan Tuhan adalah berasal dari Nur yang inheren dalam Wujud-Nya dan tanpa batasan. Kemampuan manusia untuk mencipta tergantung pada sarana dan waktu serta bersifat terbatas. Kemampuan Allah mencipta tidak bergantung pada apa pun, tidak juga pada waktu dan bersifat tanpa batas. Semua sifat-sifat-Nya tanpa banding dan tidak ada apa pun yang sepadan dengan Wujud-Nya atau pun sifat-sifat-Nya. Jika ada sifat-Nya yang dianggap cacat maka keseluruhan sifat-Nya juga pasti akan cacat dan karena itu ke-Esaan-Nya tidak bisa ditegakkan sepanjang belum menyadari bahwa Dia itu tidak ada yang menyamai dalam Wujud-Nya. Dia bukan putra siapa pun dan tidak ada siapa pun yang menjadi putra-Nya. Dia itu tegak dengan sendiri-Nya dan tidak membutuhkan ayah ataupun anak. Inilah Ketauhidan yang diajarkan Al-Qur’an dan menjadi dasar dari agama kita. (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 152-155,  London, 1984).

Allah Taala sendiri telah berfirman mengenai bukti-bukti DzatNya Yang Maha Kuat dan mengeni WujudNya Yang Maha Kuasa: “Afillāhi syakkun fāṭiris samāwāti wal arḍi” (QS. Ibrahim [14]: 11). Yakni, apakah masih bisa ragu mengenai Wujud Alah yang merupakan Pencipta langit dan bumi?

Lihat, ini adalah suatu hal yang sangat jelas dan sederhana, yakni dengan menyaksikan suatu ciptaan maka mau tidak mau harus diakui keberadaan penciptanya. Dengan melihat sebuah sepatu yang bagus atau sebuah kotak, maka beriringan dengan itu terpaksa diakui perlunya keberadaan si pembuat barang itu. Lalu, sangat mengherankan, bagaimana mungkin bisa ada dalih untuk mengingkari Wujud Allah Taala? Bagaimana mungkin dapat timbul pengingkaran terhadap wujud Pencipta seperti itu, yaitu pencipta yang dengan ribuan keajaiban-Nya bumi serta langit ini dipenuhi?

Oleh karena itu, pahamilah dengan seyakin-yakinnya bahwa walau setelah menyaksikan keajaiban-keajaiban dan ciptaan-ciptaan qudrat ini yang sedikit pun tidak mengandung campur tangan kekuatan manusia dan kekuatan akal pikiran manusia jika ada orang bodoh yang meragukan Dzat dan wujud Allah, maka berarti manusia malang itu terbelenggu di dalam cengkeraman setan, dan dia harus istighfar.

Pengingkaran terjadap Wujud Allah tidak berlandaskan pada dalil dan kesaksian. Justru, mengingkari Wujud Allah Yang Maha Mulia itu dalam kondisi dimana manusia menyaksikan qudrat-qudrat-Nya dan ciptaan-ciptaan-Nya adalah suatu kebutuhan yang sangat besar. (Malfuzhat, Add.Nazir Isyaat, London, 1984, jld.1,h.52-53)

Ketauhidan Menurut Ajaran Al-Qur’an

Kitab Suci Al-Qur’an terdiri dari petunjuk-petunjuk yang mengarah kepada kasih Allah swt Firman-firman itu menggambarkan keindahan Wujud-Nya dan mengingatkan akan kerahiman-Nya, dimana kecintaan kepada Tuhan tercipta melalui penghayatan keindahan itu atau karena menyadari kerahiman tersebut. Al-Qur’an mengajarkan bahwa dengan memperhatikan segala kemuliaan-Nya maka disimpulkan kalau Tuhan itu Maha Esa tanpa sekutu. Dia tidak memiliki cacat apa pun. Dia merangkum segala sifat yang baik dan memanifestasikan semua kekuatan suci-Nya. Dia adalah sumber dari segala ciptaan dan mata air dari berkat. Dia adalah pemilik dari semua ganjaran dan segala-galanya akan kembali kepada-Nya. Dia itu dekat tetapi juga jauh, Dia itu jauh tetapi juga dekat. Dia berada di atas segalanya, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada seseorang di bawah-Nya. Dia itu lebih tersembunyi dari segalanya tetapi tidak bisa dikatakan bahwa ada yang lebih mewujud dari sosok-Nya. Dia itu ada dengan sendiri-Nya dan segalanya hidup karena-Nya. Dia itu eksis dengan sendiri-Nya dan semuanya eksis melalui-Nya. Dia itu tegak dengan sendiri-Nya dan tak ada satu pun yang menopang-Nya. Tidak ada apa pun yang mewujud atas dirinya sendiri atau bisa hidup sendiri tanpa Dia. Dia meliputi keseluruhan tetapi tidak bisa dikatakan apakah sifat peliputan itu. Dia adalah Nur bagi semua yang ada di langit dan di bumi, setiap sinar memancar keluar dari tangan-Nya dan menjadi refleksi daripada Wujud-Nya. Dia adalah yang menghidupi alam semesta. Tidak ada jiwa yang tidak dihidupi oleh-Nya dan eksis dengan sendirinya. Tidak ada jiwa yang memiliki kekuatan bukan dari Wujud-Nya dan yang eksis dari dirinya sendiri. (Mirza Ghulam Ahmad, Inti Pokok Ajaran Islam, jilid 1)

Jadi, ingatlah selalu, bahwa dengan memisahkan diri dari Allah Ta’ala, seberapa besar pendakwaan yang dilakukan seseorang hanya atas dasar ilmu dan pengalaman dirinya, maka sebesar itu pulalah dia akan mengalami kekalahan. Orang-orang Islam memiliki kebanggaan akan Tauhid. Yang dimaksud dengan Tauhid tidak hanya mengikrarkan Tauhid melalui lidah saja. Melainkan yang sebenarnya adalah, berikanlah bukti secara hakikat dalam bentuk amalan pada perbuatan-perbuatan kalian bahwa kalian itu benar-benar menjunjung Tauhid dan hanya Tauhid-lah prinsip kalian.

Merupakan keimanan orang-orang Islam bahwa segala perkara berasal dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu pada waktu gembira orang-orang Islam mengucapkan alḥamdulillāh dan pada waktu sedih serta berduka mengucapkan innālillāhi wa innā ilaihi rōji‘ūn. Dengan itu orang Islam membuktikan bahwa benar-benar sumber segala pekerjaan mereka hanyalah Allah.

Orang-orang yang memisahkan diri dari Allah lalu ingin mengambil suatu kenikmatan hidup, maka mereka hendaknya ingat bahwa kehidupan mereka itu sangatlah tidak nikmat. Sebab, ketenangan dan ketenteraman hakiki sama sekali tidak dapat diraih tanpa meleburkan diri ke dalam Allah dan tanpa menjadikan-Nya sebagai sumber serta tempat kembali setiap hal. Kehidupan orang-orang seperti itu merupakan kehidupan binatang, dan tidak dapat berupa kehidupan yang memperoleh ketenteraman. Ketenangan dan ketenteraman hakiki diberikan hanya kepada orang-orang yang tidak memisahkan diri dari Allah, dan setiap saat mereka memanjatkan doa-doa dari dalam kalbu mereka kepada Allah Taala.

Kebenaran suatu agama terdapat dalam hal ini, yakni bagaimana seorang manusia tidak memisahkan diri dari Allah Taala dalam kondisi apa pun. Apalah artinya agama itu, dan apalah artinya kehidupan itu, tatkala sepanjang hidup tetapi tidak pernah disebutkan nama Allah Taala? Sebenarnya, seluruh kepincangan ini timbul hanya akibat gaya hidup yang tidak ingin dikekang dan yang menginginkan kebebasan tanpa kendali. Dan kebebasan tanpa kendali ini jugalah yang mengakibatkan sebagian besar umat manusia menyukai gaya hidup seperti itu. (Malfuzhat, Add.Nazir Isyaat, London, 1984, jld.10, h.345-346)

Allah s.w.t. memiliki empat sifat utama yang dapat dianggap sebagai induk dari semua sifat-sifat lainnya. Setiap jenisnya merupakan kewajiban untuk dipahami bagi sifat kemanusiaan kita. Keempat sifat itu adalah Robubiyat, Rahmaniyat, Rahimiyat dan Malikiyat dari Hari Penghisaban. Sifat Rabubiyat untuk manifestasinya memerlukan ketiadaan atau keadaan yang mendekati ketiadaan sama sekali. Semua bentuk ciptaan, baik yang bernyawa mau pun benda mati, mewujud melalui sifat tersebut. Sifat Rahmaniyat untuk manifestasinya menuntut ketiadaan eksistensi dan pelaksanaan fungsinya hanya berkait dengan mahluk hidup dan tidak dengan benda mati. Sifat Rahimiyat bagi manifestasinya mempersyaratkan ketiadaan dan tidak eksisnya sifat ini dari bagian penciptaan yang memiliki daya nalar dan karena itu hanya berkaitan dengan manusia saja. Adapun sifat Malikiyat dari Hari Penghisaban mensyaratkan permohonan dan kesujudan dengan merendahkan diri agar sifat ini bermanifestasi. Karena itu sifat ini berkaitan dengan kelompok manusia yang menjatuhkan diri sebagai pengemis di hadirat yang Maha Esa dengan mengembangkan jubah ketulusan mereka agar dapat menampung rahmat Ilahi karena mereka menyadari kekosongan tangan mereka dan hanya mengharapkan Malikiyat Ilahi. Keempat sifat ini beroperasi sepanjang masa. Sifat Rahimiyat membawa manusia kepada persujudan. Adapun sifat Malikiyat menyebabkan manusia merasa diselimuti api ketakutan dan keperihan luar biasa yang melahirkan rasa rendah hati yang haqiqi karena sifat ini menegaskan bahwa Allah s.w.t. adalah Tuhan dari pengganjaran dimana tidak ada seorang pun mempunyai hak untuk menuntut apa pun. Pengampunan dan keselamatan bisa diperoleh hanya karena karunia rahmat. (Ayyamus Sulh, Qadian, Ziaul Islam Press, 1899; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 14, hal. 242-243, London, 1984).

Beriman Kepada Allah Melalui Rasulullah saw

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. bersabda: Adalah pendapat yang salah sama sekali mengharapkan bisa beriman kepada Ke-Esaan Allah s.w.t. tanpa melalui bimbingan Yang Mulia Rasulullah saw dan juga tak akan mungkin memperoleh keselamatan tanpa hal tersebut. Bagaimana mungkin bisa muncul keimanan kepada Ketauhidan Ilahi jika tidak yakin sepenuhnya akan eksistensi-Nya? Percaya dan yakinlah bahwa keimanan kepada Ketauhidan Ilahi hanya dapat dicapai melalui seorang Nabi sebagaimana Nabi Suci Rasulullah s.a.w. telah meyakinkan para ateis dan umat pagan di Arabia mengenai eksistensi Allah yang Maha Kuasa dengan memperlihatkan kepada mereka beribu-ribu tanda-tanda samawi. Sampai dengan hari ini, para pengikut yang benar dan sejati dari  Hazrat Rasulullah s.a.w. bisa memperlihatkan tanda-tanda itu kepada para ateis.” (Haqiqatul Wahyi, Qadian, Magazine Press, 1907; Sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, London, 1984, Vol. 222, hlm. 120-121)

(Visited 407 times, 1 visits today)