5. Menunaikan Ibadah Haji

Allah Taala berfirman dalam Alquran Karim tentang keagungan Baitullah dan kepentingan sejarah Baitullah:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ فِيهِ آيَاتٌ بَيِّـنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَن دَخَلَهُ كَانَ آمِناً

Yakni, rumah paling pertama yang dibangun untuk manfaat semua orang terletak di Mekah. Itu merupakan tempat beberkat bagi seluruh alam dan sarana petunjuk. Di dalamnya terdapat beberapa tanda yang terang. Itu merupakan tempat tinggal Ibrahim. Orang yang masuk ke dalamnnya, ia berada dalam keadaan aman. (Ali Imran: 97-98)

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ

Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Ismail meletakkan pondasi rumah tersebut, mereka berdua berkata: “Wahai Tuhan kami! Terimalah pengkhidmatan ini dari kami. Engkau-lah Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Wahai Tuhan kami! Kami memohon kepada Engkau supaya Engkau jadikan kami berdua sebagai hamba-hamba Engkau yang taat, jadikanlah diantara keturunan kami sebuah Jemaat Engkau yang taat, beritahukanlah kepada kami cara ibadah yang sesuai dengan keadaan kami dan perhatikanlah kami dengan karunia Engkau. Sesungguhnya Engkau memperhatikan para hamba Engkau dan terus mengasihani. Wahai Tuhan kami! Kami memohon kepada Engkau supaya Engkau membangkitkan diantara mereka seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Engkau pada mereka, mengajarkan kitab dan hikmah pada mereka dan mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Mahaunggul dan Maha Bijaksana. (Al-Baqarah: 128-130)

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَن لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئاً وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan ketika Kami memberikan kesempatan kepada Ibrahim untuk tinggal di Baitullah dan mengatakan: “Jangan jadikan sesuatu sebagai sekutu Kami dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, tegak beribadah, rukuk dan sujud”. (Al-Haj: 27)

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan ingatlah ketika Kami menjadikan rumah ini (yakni Ka’bah) sebagai tempat untuk berkumpul berulang kali dan tempat yang aman bagi orang-orang dan memerintahkan supaya kalian menjadikan tempat berdiri Ibrahim sebagai tempat shalat. Kami menegaskan kepada Ibrahim dan Ismail supaya mensucikan dan menjaga kebersihan rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, itikaf, rukuk dan sujud. (Al-Baqarah: 126)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَـَذَا بَلَداً آمِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُم بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَن كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلاً ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Dan ingatlah ketika Ibrahim mengatakan: “Wahai Tuhan-ku! Jadikanlah tempat ini sebagai kota yang penuh keamanan dan anugerahkanlah segala macam buah kepada para penduduk yang beriman kepada Allah dan hari yang akan datang”. Allah Taala berfirman kepadanya: “Barangsiapa yang ingkar, maka Aku akan memberikan manfaat untuk sementara waktu. Lalu, Kupaksa dan Kubawa dia ke azab neraka. Ini merupakan akhir yang sangat buruk”. (Al-Baqarah: 127)

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ الْفَقِيرَ ثُمَّ لْيَقْضُوا تَفَثَهُمْ وَلْيُوفُوا نُذُورَهُمْ وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dan umumkanlah kepada semua orang supaya mereka selalu datang kepada engkau dengan niat haji dengan berjalan kaki dan kendaraan-kendaraan yang melelahkan akibat perjalanan yang jauh. Kendaraan-kendaraan seperti ini akan datang dari jauh melalui jalan yang curam. Supaya mereka (orang-orang yang datang) menyaksikan manfaat-manfaat yang ditetapkan untuk mereka dan mengingat Allah pada beberapa hari yang ditetapkan dengan nikmat-nikmat yang Kami berikan kepada mereka. Yakni, dari jenis hewan-hewan besar, seperti unta, sapi/lembu dan lain-lain. Jadi, mereka hendaknya memakan dagingnya dan memberi makan orang-orang tak mampu yang kesusahan. Lalu menjauhkan kotoran mereka dan memenuhi nadzarnya serta tawaf di rumah yang lama (Ka’bah). (Al-Haj: 28-30)

وَلِلّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلاً وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ الله غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Dan Allah telah mewajibkan atas orang-orang supaya menunaikan haji ke rumah ini, yakni siapapun yang mendapatkan taufik untuk pergi ke sini. Siapa yang ingkar, maka ingatlah bahwa Allah tidak peduli pada semua alam. (Ali Imran: 98)

Falsafah Haji

Haji adalah suatu ibadah yang mengasyikan. Ketika ada seseorang yang mencintai seseorang dan menjadi kekasihnya, maka dia melakukan berbagai macam cara untuk menyenangkan kekasihnya, tidak memperdulikan keadaannya, mondar-mandir seperti orang mabuk, berputar-putar di sekeliling rumah kekasihnya, menyayangi barang-barang yang berhubungan dengannya, mulai menciumnya dan memilih semua cara yang mengasyikan ini supaya kekasihnya senang kepadanya. Melihatnya dengan pandangan cinta, akan muncul keadaan untuk hubungan dan pertemuan. Dikarenakan kekasih sejati seorang mukmin adalah Allah Taala, maka ada beberapa contoh yang diletakkan dalam ibadah haji untuk melukiskan rasa cintanya dan menampakkan kasih sayangnya. Dia mengenakan 2 cadar yang tidak dijahit. Kepalanya dibiarkan terbuka. Kakinya memakai sandal. Rambutnya dibiarkan tidak rapih, karena tidak ada izin untuk menyisir. Dia menghadap ke rumah Allah sambil mengatakan ‘labbaik-labbaik’ (aku hadir-aku hadir), mencium Hajar Aswad, mengelilingi sekitar Baitullah. Semua ini merupakan cara untuk menzahirkan kecintaan.

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda seraya memberikan isyarat pada hikmah haji:

“Dalam nuansa cinta, ruh manusia berputar disekitar kekasih-Nya setiap waktu dan mencium singgasana-Nya. Demikian pula, Ka’bah dijadikan contoh bagi kekasih-kekasih sejati secara jasmani. Tuhan berfirman: “Lihatlah! Ini adalah rumah-Ku dan Hajar Aswad adalah batu singgasana-Ku”. Dia memerintahkan demikian supaya manusia memperlihatkan gejolak rasa cinta dan kasih sayangnya secara jasmani. Jadi, orang-orang yang menunaikan haji mengitari-Nya di tempat haji secara jasmani. Menjadikan keadaan seperti ini, seolah-olah mereka mabuk dalam kecintaan kepada Tuhan. Mereka meninggalkan perhiasan, mencukur rambut, mereka termagnetis dan melakukan tawaf yang mengasyikan di sekitar-Nya, membayangkan batu tersebut sebagai batu singgasana Tuhan dan menciumnya. Gejolak jasmani ini melahirkan rasa panas dan cinta secara rohani. Tubuh melakukan tawaf di sekitar rumah-Nya dan mencium batu singgasana-Nya. Pada saat itu ruh pun tawaf di sekitar kekasih sejati-Nya dan mencium singgasana rohani-Nya. Dan cara ini tidak menimbulkan syirik. Seperti seorang sahabat mencium surat yang ia dapat dari temannya. Seorang muslim tidak menyembah Ka’bah dan tidak meminta kebutuhan-kebutuhan kepada Hajar Aswad, bahkan hanya ketetapan Tuhan semata yang dianggap sebagai contoh jasmani. Seperti halnya kita bersujud di bumi. Akan tetapi, sujud itu bukan untuk bumi. Demikian pula, kita mencium Hajar Aswad. Akan tetapi, ciuman itu bukan untuk batu tersebut. Batu adalah batu yang tidak memberi manfaat pada seseorang dan juga tidak merugikannya. Akan tetapi, di situ ada tangan Tuhan yang ditetapkan sebagai contoh singgasana-Nya. (Casymah Ma’rifat; Ruhani Khazain, jilid 23, halaman 100)

Hadhrat Ibrahim as. telah meletakkan dasar untuk mukim di suatu tempat yang sunyi sesuai perintah Allah Taala dimana dia menempatkan istri beliau ( Hadhrat Hajar) dan putra beliau (Hadhrat Ismail) di sana. Pada saat itu, di sana tidak ada air dan tidak ada orang yang lewat. Tujuan pengorbanan yang tiada tara bandingannya ini adalah supaya di masa mendatang tempat ini menjadi pusat petunjuk sedunia. Dari antara keturunan Hadhrat Ismail as. yang tinggal di sini, dibangkitkanlah seorang nabi agung (saw.) yang karenanya ala mini diciptakan dan juga sebagai rahmat bagi sekalian alam. Ajaran yang dibawanya adalah untuk seluruh dunia dan zaman. Jadi, meskipun tiada sarana apapun, apa yang diharapkan oleh Hadhrat Ibrahim as. dari Maula/Tuhan-nya, begitulah yang telah nampak/zahir. Di sana Tuhan telah menyediakan air dalam keadaan yang luar biasa. Tempat ini lambat-laun menjadi berpenduduk dan disebut dengan Bakah atau Mekah. Di sini Hadhrat Ibrahim as. mencari jejak-jejak yang dibangun untuk menyembah Allah Taala yang telah hilang ditelan zaman, membangun kembali tempat ini bersama dengan putranya dan untuk menjadikannya sebagai Matsabatan Linnas (tempat berkumpul semua orang)’, mereka memohon ke hadapan Allah Taala sambil berdoa.

Inilah rumah pertama yang dibangun untuk menyembah Allah Taala. Namanya adalah Baitullah, Baitul ‘Atiq, Baitul Ma’mur dan Ka’bah. Semua orang Islam di dunia mengerjakan shalat dengan menghadap ke arahnya. Ringkasnya, rumah ini adalah kota dan tempat-tempat di sekelilingnya terdapat tempat-tempat dimana ratusan tanda agung Allah Taala telah nampak/zahir, dimana jejak-jejak langkah ini juga memberi kesaksian bahwa orang-orang yang berkorban demi Allah Taala tidak pernah disia-siakan. Untuk menyegarkan ingatan terhadap tanda-tanda Ilahi ini dan mendapatkan keyakinan bahwa Dia adalah Pejanji yang sejati, orang-orang Islam diperintahkan supaya mengunjungi Ka’bah dan tanda-tanda Ilahi yang lain dan menyaksikan bahwa apa yang telah dikatakan oleh Tuhan, itu sempurna dalam corak yang begitu indah.

Setiap bangsa dan agama memiliki pusat persatuan. Dimana orang-orang bangsa ini berkumpul dan menyembah Tuhan. Mereka menyaksikan banyak budaya dan peradaban. Orang-orang yang beragama saling mengenal. Mereka memahami kesulitan satu sama lain dan berencana untuk menjauhkannya serta mencoba bersatu untuk meraih tujuan-tujuan.

Sebagaimana difirmankan:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ

Bagi setiap bangsa, Kami telah jadikan pusat, dimana orang-orang berkumpul untuk mengingat Allah-nya dengan gejolak kepercayaannya. (Al-Haj: 35)

Untuk gambaran inilah, ibadah haji dijadikan sebagai sebuah contoh. Supaya orang-orang Islam yang berkumpul untuk haji bersatu dan menyanjung keindahan Pemilik dan Pencipta-nya. Mereka mensyukuri karunia-karuniaNya. Mereka memanjatkan doa dengan merendahkan diri di hadapan-Nya untuk menjauhkan kesulitan-kesulitan. Orang-orang Islam yang tinggal di segala penjuru dunia saling mengenal. Mereka mengokohkan pondasi kepercayaan yang menyeluruh, memberikan peluang untuk saling memberi saran dan berjuang keras bersama-sama. Semua ini dan beberapa manfaat lain termasuk bagian dari hikmah haji.

Tempat-Tempat Haji

Baitullah

Ribuan tahun yang lalu, atas perintah Allah Taala, telah dibangun sebuah tempat untuk beribadah di suatu tempat yang sunyi. Kita tidak dapat mengatakan dengan yakin, siapa yang telah membangunnya? Akan tetapi, hal ini tidak diragukan lagi bahwa tempat ibadah tersebut merupakan tempat ibadah paling pertama di dunia dari segi kebangsaan dan keagamaan. Tuhan Yang Maha Mengetahui yang gaib memberitahukannya dengan firman-Nya:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ

“Sesungguhnya bait pertama yang dibangun untuk umat manusia adalah yang berada di Mekah”. (Ali Imran: 97)

Selanjutnya difirmankan:

جَعَلَ اللّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَاماً لِّلنَّاسِ وَالشَّهْرَ الْحَرَامَ

Allah menjadikan Ka’bah, rumah suci itu sebagai sarana kemajuan yang kekal bagi manusia dan juga bulan suci. (Al-Maidah: 98)

Ringkasnya, sampai waktu yang cukup lama orang-orang terus menyebut nama Allah Taala di tempat ibadah ini. Akan tetapi, tidak diketahui apa perubahan-perubahan yang terjadi sehingga tempat tersebut menjadi sunyi dan orang-orang yang beribadah menjadi bubar. Akan tetapi, Allah Taala menyukai tempat ini. Jadi, Dia berkehendak supaya tempat itu dihuni kembali dan menjadi pusat petunjuk dunia untuk selamanya.

Oleh karena itu, untuk memakmurkannya, Allah Taala telah memilih seorang insan suci yang keturunannya telah menerangi dunia sampai saat ini dengan sinar-sinar rohaninya.

Insan ini lahir di sebuah rumah tangga penyembah berhala. Dia tinggal di kota Irak (Kadim/Ur). Keluarganya menjalani hidup dengan sesajen berhala dan menjual berhala. Ayahnya meninggal pada saat ia masih kecil dan ia dipelihara oleh paman yang telah menyuruhnya untuk bekerja sebagai penjual berhala. Paman yang belum mengenal hakikat tidak tahu, hati siapa yang telah sang Pencipta pilih. Tempat apa yang cocok untuk berhala. Pada waktu dulu, ada seorang pelanggan yang sudah tua dan kaya, datang untuk membeli berhala. Anak laki-laki paman penjual berhala senang bahwa hari ini akan ada jual beli dengan harga yang bagus. Orang tua yang kaya tersebut mulai memilih berhala yang bagus dan memberi harga, sehingga pandangan anak ini tertuju pada pelanggan dan bertanya kepadanya: “Kek! Kamu sudah bau tanah (akan segera meninggal), apa yang akan kamu lakukan terhadap berhala ini?”. Dia menjawab: “Aku akan membawanya ke rumah, meletakkannya di tempat yang suci dan bersih dan menyembahnya”. Anak yang bersih ini tidak dapat menahan emosinya dalam pikiran demikian. Dia berkata kepada orang tua tersebut: “Kek! Berapa usiamu?”. Dia memberitahu usianya dan anak tersebut menertawakannya dan berkata dengan nada menghina: “Kamu sudah tua dan patung ini memang telah paman saya buat beberapa hari yang lalu. Apakah kamu tidak malu sujud di hadapannya?”. Tidak tahu, apakah pada hati orang tua tersebut muncul pancaran tauhid atau tidak? Akan tetapi, pada saat itu ia kesulitan membeli patung tersebut. Dia membuang patung tersebut di sana dan pulang. Jadi, ketika melihat seorang pelanggan yang baik pulang tidak membawa apa-apa, saudaranya sangat marah dan dia memberitahu bapaknya yang telah mengurus anak tersebut dengan baik.

Inilah penderitaan pertama yang wujud suci telah tanggung demi tauhid. Akan tetapi, meskipun usianya masih kecil, hukuman ini tidak mendinginkan semangat tauhid, bahkan menjadi sumber untuk menyalakannya. Hukuman telah membuka pintu pemikiran dan pikiran telah membuka pintu-pintu makrifat. Sehingga kegembiraan alami masa kanak-kanak menjadi akidah masa muda yang kuat dan akhirnya cahaya Allah Taala jatuh pada cahaya mental pemuda serta menjadi sumber untuk melahirkan sinar ilham.

Akhirnya, anak ini terkenal dengan nama Ibrahim di dunia. Karena sakit hati terhadap keadaan kota, insan yang agung ini keluar dari sana, berhijrah dari Irak menuju Palestina bersama istrinya, Sarah dan lama tinggal di negara ini. Akan tetapi, di rumahnya tidak ada keturunan, anak laki-laki atau perempuan. Akhirnya, Sarah berkata kepada Ibrahim bahwa di rumah kita tidak ada keturunan. Aku ingin bahwa anak yang diberikan ke hadapan kita oleh raja Mesir, engkau jadikan istri, mudah-mudahan Allah Taala menganugerahi kita keturunan darinya. Pada hakikatnya, perempuan yang saleh dan suci ini merupakan seorang putri dari keluarga raja Mesir. Dikarenakan dia melihat kekuatan mukjizat pada pribadi Ibrahim, maka dia menyertakannya ke hadapan beliau dengan tujuan mendapatkan doa-doa beliau. Nama putri tersebut adalah Hajar. Ibrahim menerima perkataan istri beliau ini dan menikahi Hajar. Allah Taala menganugerahi Abram pada masa tua dengan seorang anak yang diberi nama Ismail. Yakni, Allah Taala telah mendengar doa kita. Karena kelahiran anak ini, Allah Taala mengganti nama Abram menjadi Abraham. Karena beliau telah dijanjikan nikmat-nikmat lebih dan keberkatan-keberkatan samawi. Pelapalan Abraham dalam bahasa Arab adalah Ibrahim. Oleh karena itu, orang-orang Ibrani menyebutnya Abraham dan orang-orang Arab menyebutnya Ibrahim. Sarah yang telah menyarankan Ibrahim untuk menjadikan Hajar sebagai istri, sakit hati karena kelahiran anak tersebut, mulai menyakiti Hajar dan anaknya karena kelemahan alami. Meskipun keadaan ini menyakiti hati Ibrahim, akan tetapi beliau tidak dapat berkata sedikit pun karena memperhatikan pengkhidmatan istri yang bertahun-tahun dan keikhlasannya. Bahkan beliau mengatakan bahwa Hajar adalah pelayanmu. Apa yang kamu inginkan, perlakukanlah ia. Wah, Ibrahim benar-benar tahu bahwa semua hal ini untuk tujuan lain. Semua peristiwa ini adalah gelang dari silsilah hijrahnya Ibrahim.

Pada hari-hari ketika Ismail sudah berpemahaman dan mulai berlari-lari dengan ayahnya, Ibrahim melihat sebuah mimpi bahwa beliau mengorbankan Ismail demi Allah Taala. Pada saat itu, pengorbanan manusia sudah menjadi tradisi dan dianggap sebagai sarana untuk meraih karunia Allah Taala. Ibrahim berpikir bahwa Allah Taala hendak menguji keikhlasanku. Oleh karena itu, beliau siap untuk mengorbankan keturunannya yang paling tua dan berkata kepada anak dengan penuh kecintaan: “Apa pendapatmu?”.

Meskipun anak tersebut masik kecil, akan tetapi sinar kenabian memancar dari keningnya. Karena tarbiyat seorang bapak yang saleh, meskipun belum memahami pokok-pokok agama, akan tetapi dia tahu bahwa hukum Allah Taala tidak boleh diingkari. Dia berkata: “Apa yang kamu mau, sempurnakanlah hukum Allah!”. Bapak menutupi matanya, siap untuk menyembelih anak dan membaringkannya pada kening. Akan tetapi, maksud mimpi tersebut lain dan tabirnya juga akan nampak lain. Oleh karena itu, pada saat itu Allah Taala mengilhamkan kepada Ibrahim bahwa kini tidak perlu menyembelih anak secara lahiriah. Karena untuk meraih kedekatan kepada Tuhan, cara pengorbanan manusia telah dibatalkan selamanya. Di masa mendatang, pengorbanan akan diterima dalam corak nyawa, harta, kehormatan dan waktu dikorbankan demi keridhaan dan agama Tuhan. Namun, untuk tanda lahir ikrar ini, pada tanggal 10 Dzulhijah setiap tahunnya, hewan yang bagus dan berharga dikorbankan sebagai kenangan.

Pokoknya, sebagai akibat dari pengorbanan-pengorbanan dan doa-doa ini, Hadhrat Ibrahim as. mendapatkan kabar suka bahwa Aku akan meningkatkan keturunan anak ini dan orang-orang akan mendapatkan berkat dengan perantaraannya. Oleh karena itu, berdasarkan isyarat Tuhan dan keadaan yang ada, Hadhrat Ibrahim as. meninggalkan istri beliau (Hadhrat Hajar ra) dan putra tercinta beliau (Hadhrat Ismail as) di Mekah. Pada zaman dahulu, namanya adalah Bakah. Tujuan sebenarnya dari meninggalkan Hadhrat Ismail as. dan ibunya di sini dan meramaikan tempat ini adalah dibangunnya kembali pusat kehidupan kekal “Bait Al-‘Atiq”, yang batu pertamanya tersembunyi sejak berabad-abad yang lalu dalam gundukan pasir.

Ringkasnya, setelah tinggal beberapa lama di sini, atas petunjuk Tuhan, Hadhrat Ibrahim as. membangun rumah (kiblat dunia) dengan bantuan anaknya (Hadhrat Ismail as). Rumah ini terkenal dan termasyhur dengan nama Ka’bah dan Baitullah. Rumah ini berdiri diantara Masjidil Haram. Rumah ini diselimuti dengan selendang sutra.

Bentuk Ka’bah sekarang adalah persegi panjang. Panjang 44 kaki, lebar 33 kaki dan tinggi 45 kaki.

 

Hatim

Di samping utara Ka’bah terdapat tempat kosong berbentuk busur. Di sekitarnya terdapat dinding-dinding kecil. Akan tetapi, di atasnya tidak ada langit-langit. Konon, sebelum kebangkitan Rasulullah saw., ketika orang-orang Quraisy membangun Ka’bah kembali, maka bagian ini dibiarkan terbuka tanpa langit-langit karena tidak didapatkannya kayu yang pas. Bagian ini termasuk dalam tawaf. Akan tetapi, ketika shalat di Masjidil Haram hanya menghadap ke arah bagian ini, maka shalat tidak dibenarkan. Pipa emas Kabah Mizabur Rahmat jatuh ke Hatim.

 

Hajar Aswad

Di sebelah tenggara Ka’bah terletak sebuah batu berwarna hitam yang disebut dengan Hajar Aswad. Batu ini dianggap sangat beberkat. Batu ini mungkin merupakan bagian yang sangat besar dari komet yang jatuh di gunung Abu Qubais di dekat Mekah. Pada waktu pembangunan Ka’bah, Hadhrat Ibrahim as. mengangkat batu yang indah ini dari sana dan meletakkannya di dinding ini sebagai tamsilan “Batu Penjuru” dan kenangan yang agung. Kini, orang yang tawaf di Ka’bah diperintahkan supaya pertama-tama mencium “Batu Kenangan” ini. Batu ini termasuk diantara tanda-tanda Ilahi Taala dan merupakan lambang khusus Sang Pencipta dan Pembenar Janji. Orang yang mencintainya akan dicintai oleh barang-barang khusus yang berhubungan dengannya. Inilah falsafah mencium Hajar Aswad. Jika tidak, pada substansinya batu ini tidak merugikan dan menguntungkan seseorang dan seorang muslim tidak dapat menganggapnya bermanfaat dan memudharatkan dalam satu corak.

 

Multazam

Bagian dinding utara antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah disebut Multazam. Orang-orang yang melaksanakan haji memeluk bagian Ka’bah ini pada waktu pulang, yang disebut dengan ‘Mu’anaqah’ (merangkul). Ini merupakan cara perpisahan dengan Baitullah dan ziarah terakhirnnya.

 

Rukun Yamani

Dikarenakan sebelah barat daya Ka’bah adalah arah Yaman, maka itu disebut Rukun Yamani. Menyentuhnya dengan tangan pada waktu tawaf dan menciumnya adalah mustahab (disukai).

 

Mathaf

Di sekitar Ka’bah terdapat sebuah lingkaran yang terbuat dari batu Marmer. Di sini, orang-orang tawaf di sekitar Baitullah. Tawaf adalah ibadah yang dilakukan dengan mengelilingi Baitullah 7 kali.

 

Maqam Ibrahim

Di depan pintu Baitullah dan Multazam terdapat bangunan yang berkubah. Di dalamnya terdapat sebuah batu yang di atasnya Hadhrat Ibrahim as. berdiri dan memilih dinding-dinding Ka’bah. Tempat terletaknya batu tersebut disebut Maqam Ibrahim.

 

Melaksanakan 2 rakaat setelah tawaf 7 keliling adalah wajib. Melaksanakan 2 rakaat ini di Maqam Ibrahim menjadi sumber banyak pahala. Allah Taala berfirman:

وَأَمْناً وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Yakni, jadikanlah Maqam (tempat berdiri) Ibrahim sebagai Mushola (tempat untuk shalat). (Al-Baqarah: 126)

 

Zamzam

Di sebelah kiri Maqam Ibrahim dan sebelah timur Ka’bah terdapat sebuah sumur yang nampak sebagai tanda perjalanan Hadhrat Ismail as. akibat kehausan. Sumur ini disebut Zamzam sebagai kenangan saat itu. Air zamzam diminum dengan sangat hormat sambil berdiri menghadap Kiblat dengan tujuan mendapatkan berkat.

 

Masjidil Haram

Di sekitar Ka’bah terdapat sebuah mesjid yang luas dan lebar dengan halaman yang bulat terbuka. Dimana orang-orang dapat membuat barisan dalam bentuk lingkaran dan mengerjakan shalat dengan menghadap ke arah Baitullah. Dalam Alquran Karim, mesjid tersebut disebut Masjidil Haram. Sebagaimana Dia berfirman:

لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِن شَاء اللَّهُ آمِنِينَ

Sungguh kalian yang memasuki Masjidil Haram insya Allah berada dalam keadaan aman. (Al-Fath: 28)

Sekarang luas mesjid yang ada saat ini lebih dari 100.000 m2 . Pada tiang-tiang batu sekitar, terletak beranda-beranda dengan langit-langit yang berkubah. Orang-orang yang shalat dapat berdiri di beranda-beranda tersebut. Pada zaman Rasulullah saw., bentuk dan rupa mesjid ini sangat sederhana dan jauh berbeda.

 

Safa dan Marwah

Di arah selatan dekat Masjidil Haram di Mekah terdapat 2 bukit kecil. Sekarang sudah sedikit rata dan berbentuk seperti halaman rumah dan beranda. Ketika kita keluar dari Masjidil Haram, maka pertama kali nampak bukit Safa. Setelah itu, bergeser ke arah timur nampak bukit Marwah. Hadhrat Hajar ra. mengelilingi bukit ini sebanyak 7 kali berkeliling dalam keadaan mencari air dan kuatir. Beliau mendaki Safa, berlari ke arah Marwah dan kembali lagi ke Safa. Untuk mengenang karunia-karunia Allah Taala yang nampak akibat keadaan gelisah, orang-orang yang menunaikan haji dan umrah diperintahkan untuk mengelilingi Safa dan Marwah sebanyak 7 kali. Ibadah tersebut disebut Sa’i antara Safa dan Marwah.

Allah Taala berfirman dalam Alquran Karim:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَآئِرِ اللّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا

Sesungguhnya Safa dan Marwah termasuk diantara tanda-tanda Allah. Jadi, barangsiapa yang menunaikan haji atau umrah ke rumah ini (Ka’bah), maka dia tidak berdosa untuk berjalan cepat diantaranya. (Al-Baqarah: 159)

 Tempat-Tempat Yang Berada di Luar Mekah

 Mina

Sebuah lapangan luas dengan jarak 3 mil dari arah timur Mekah. Di lapangan ini, terdapat 3 buah batu yang terkenal dengan nama jumrah atau setan. Ketiga nama batu tersebut adalah Jumratul Ula, Jumratul Wustha dan Jumratul ‘Aqabah. Setelah kembali dari Muzdalifah, jumrah ini dilempari dengan kerikil pada tanggal 10-14 Dzulhijah yang disebut lempar jumrah. Orang-orang yang menunaikan haji tiba di Mina dari Mekah pada tanggal 8 Dzulhijah. Mereka mengerjakan shalat Zhuhur sampai shalat Isya di sini. Shalat Subuh tanggal 9 Dzulhijah dilaksanakan di sini juga. Di salah satu bagian lapangan ini terdapat tempat pengorbanan, dimana setiap tahun ratusan ribu hewan disembelih untuk mengenang pengorbanan Hadhrat Ibrahim as. dan Hadhrat Ismail as. Allah Taala berfirman sambil mengisyaratkan pada pentingnya pengorbanan ini:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Dan Kami menebusnya (Ismail) dengan pengorbanan yang sangat besar. (Al-Shaffat: 108)

حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ

Sebelum hewan korban sampai ke tempatnya. (Al-Baqarah: 197)

Maksud dari mahillah di sini adalah tempat yang dikatakan Mina.

 

Arafah

Sebuah lapangan besar dengan jarak kira-kira 8 mil dari arah timur laut Mekah, dimana semua orang yang menunaikan haji berkumpul di sini pada tanggal 9 Dzulhijah. Lapangan tersebut disebut Arafah. Orang-orang yang melaksanakan haji menetap di sini dari waktu Zhuhur sampai terbenam matahari, yang disebut wukuf Arafah. Allah Taala berfirman dalam Alquran Karim:

فَإِذَا أَفَضْتُم مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُواْ اللّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

Ketika kalian kembali dari Arafah, maka ingatlah Allah di sekitar Masy’aril Haram. (Al-Baqarah: 199)

ثُمَّ أَفِيضُواْ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ

Kemudian kembalilah kalian dari tempat orang-orang kembali. (Al-Baqarah: 200)

Jabal Rahmah adalah nama sebuah bukit yang ada di lapangan ini.

 

Muzdalifah

Sebuah lapangan ke arah Mina dengan jarak kira-kira 3 mil dari Arafah. Masy’aril Haram (yang adalah sebuah bukit) juga berada di lapangan ini. Para haji yang kembali dari Arafah melewati malam di lapangan ini dan mereka mengerjakan shalat Magrib dan Isya dengan jamak di sini. Shalat Subuh tanggal 10 Dzulhijah juga dilaksanakan di sini. Setelah shalat Subuh, diperintahkan untuk pergi ke dekat Masy’aril Haram dan banyak mengingat Tuhan. Allah Taala berfirman:

فَاذْكُرُواْ اللّهَ عِندَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ

Ingatlah Allah di sekitar Masy’aril Haram. (Al-Baqarah: 199)


Mawaqit

Mawaqit adalah jamak dari miqat. Maksud dari miqat adalah tempat dimana orang-orang yang datang ke Mekah dari pelosok dunia dan tempat-tempat jauh dengan niat haji serta memakai pakaian ihram. Berderap maju dari miqat-miqat ini tanpa memakai pakaian ihram adalah dilarang. Maksud dari ihram adalah melaksanakan haji atau umrah dengan cara yang khusus.

Rincian mawaqit untuk daerah-daerah yang berbeda:

 Dzulhalifah

Sebuah kampung dari Medinah dengan jarak kira-kira 5 mil ke Mekah (ini merupakan sumber mata air bagi Bani Jasyam). Orang-orang yang datang dari Medinah atau arah ini dengan niat haji sampai di sini dan memakai pakaian ihram. Berderap maju dari tempat ini tanpa memakai pakaian ihram tidak dibenarkan.

Juhfah

Sebuah tempat dengan jarak kira-kira 40 mil dari sebelah utara Mekah dan merupakan tempat berhenti bagi orang-orang yang datang dari Mesir, Syam dan Barat, yakni Afrika Utara.

Dzatul ‘Iraq

Sebuah kampung pegunungan dengan jarak kira-kira 30 mil dari Mekah dan merupakan tempat bagi orang-orang yang datang dari Irak, jalan-jalan darat dan daerah-daerah Timur.

Qurn Manazil

Sebuah pegunungan ke arah timur dengan jarak kira-kira 30, 40 mil dari Mekah. Ini merupakan miqat bagi orang-orang yang datang dari Nejad.

Yalamlam

Nama sebuah bukit yang berada di tengah lautan dengan jarak kira-kira 30 mil dari sebelah selatan Mekah. Ini merupakan miqat bagi orang-orang yang datang dari Yaman. Ini juga merupakan miqat bagi orang-orang yang pergi dengan perantaraan kapal laut dari Pakistan.

Tan’im (tempat yang disebut dengan mesjid Aisyah)

Sebuah tempat dekat Mekah. Ini merupakan miqat bagi orang-orang yang tinggal di Mekah. Yakni, barangsiapa yang tinggal di Mekah dan berkeinginan untuk melakukan umrah, maka dia dapat datang ke Tan’im yang berada di luar Mekah, kemudian setelah dia mengikat ihram umrah dari sana, dia masuk ke Mekah supaya untuk melakukan umrah juga telah dilakukan syarat satu kali perjalanan.

Tertera dalam Hadis:

اِنَّ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اَمَرَ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنِ اَبِىْ بَكْرٍ اَنْ يُعَمِّرَ عَائِشَةَ مِنَ التَّنْعِيْمِ

Sesungguhnya Nabi saw. memerintahkan Abdurrahman bin Abu Bakar untuk memakmurkan mesjid Aisyah dari Tan’im. (Tirmidzi, kitabul Haj, babul Umrah Minat Tan’im, jilid 1, halaman 112)

Haram

Batas yang ditetapkan adalah utara Mekah (6 km sampai Tan’im), selatan Mekah (12 km sampai Adha’), timur Mekah (16 km sampai Ju’ranah), timur Mekah (15 km sampai Syamisi), timur laut Mekah (14 km sampai lembah Nakhlah)

 

Waktu-Waktu Haji

Untuk haji ditetapkan bulan-bulan yang khusus yang disebut dengan ‘Asyhur Al-Haj’ (bulan-bulan haji). Allah Taala berfirman dalam Alquran:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Bulan-bulan haji adalah bulan-bulan yang diketahui oleh semua orang. Jadi, barangsiapa yang bertekad kuat untuk haji pada hari itu, ingatlah bahwa pada hari-hari haji tidak diperbolehkan untuk membicarakan perkara syahwat, menentang dan bertengkar. (Al-Baqarah: 198)

Tiga bulan ini (Syawal, Dzulqa’dah, Dzulhijah) disebut Asy’ar Al-Haj karena dimulai dengan rukun amaliah seperti persiapan haji, perbaikan akhlak dan hukum haji yang lain, misalnya ihram dan lain-lain. Manasik haji yang terakhir dilaksanakan pada tanggal 13 Dzulhijah. Akan tetapi, tawaf Ifadhah yang disebut tawaf Ziarah dapat dilaksanakan mulai tanggal 10 Dzulhijah sampai akhir bulan.

Syarat-Syarat Fardhu Haji

Muslim, akil balig, orang yang berharta (selain memiliki biaya pengeluaran rumah tangga, memiliki perbekalan yang sesuai). Sebagaimana Allah Taala berfirman dalam Alquran Karim:

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Dan sediakanlah perbekalan. Sesungguhnya perbekalan yang terbaik adalah takwa. (Al-Baqarah: 198)

Yakni, memiliki uang banyak untuk biaya perjalanan, sehat dan mampu berjalan, aman di perjalanan dan tidak ada halangan untuk pergi ke Mekah.

Rukun-Rukun Haji

  1. Ihram, yakni berniat
  2. Wukuf di Arafah, yakni tinggal di medan Arafah pada tanggal 9 Dzulhijah
  3. Tawaf Ziarah yang disebut dengan tawaf Ifadhah. Yakni, tawaf yang dilaksanakan setelah wukuf di Arafah pada tanggal 10 Dzulhijah atau pada tanggal-tanggal setelahnya

 

Umrah

Tawaf di Baitullah dan sa’i diantara Safa dan Marwah disebut umrah. Untuk itu, kita hendaknya memakai pakaian ihram dari tempat yang berada di luar Mekah. Oleh karena itu, orang-orang yang tinggal di Mekah pergi ke Tan’im untuk ihram umrah dan setelah memakai pakaian ihram dari sana, mereka kembali ke Mekah supaya ibadah ini diamalkan dengan syarat satu kali perjalanan. Untuk umrah tidak ada waktu yang ditetapkan (dapat dilakukan kapan saja). Akan tetapi, memakai pakaian ihram umrah mulai 9 Dzulhijah sampai 13 Dzulhijah tidak dibenarkan. Karena ini merupakan hari-hari untuk melaksanakan haji.

Sehubungan dengan rukun Islam kelima, beliau ‘Alaihis-salaam bersabda: “Lihat, pergi menunaikan ibadah Haji dengan ikhlas dan kecintaan adalah perkara mudah. Namun, kembali dalam kondisi yang seperti itu adalah sulit. Banyak sekali orang yang pulang dalam keadaan gagal dan kalbunya menjadi keras. Penyebabnya adalah mereka tidak menemukan hakikat yang ada di sana. Melihat kekurangan-kekurangan, mereka langsung protes sehingga mereka luput dari karunia-karunia di sana akibat dari perbuatan buruk mereka sendiri, dan karena melontarkan tuduhan pada pihak-pihak lain. Oleh karena itu, adalah penting tinggal menetap bersama Utusan [Ilahi] untuk beberapa lama dengan hati tulus dan teguh supaya manusia menjadi sadar akan kondisi-kondisi batinnya dan supaya kebenaran itu sepenuhnya menyinari.” (Malfuzhat, Jld. V. hal. 177, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)

Masalah ini patut dipahami bahwa ketika seseorang menjauhkan dirinya dari nafsu duniawi maka dirinya itu berharap bisa karam sepenuhnya dalam kasih Ilahi. Gairah dari kasih demikian akan berkembang sampai kepada suatu tingkatan dimana kesulitan perjalanan atau pun mara bahaya atas diri dan harta miliknya atau juga keterpisahan dari yang dikasihinya tidak lagi menjadi sesuatu yang berarti baginya. Sebagaimana seseorang yang siap mengurbankan segalanya bagi sang kekasih, begitu juga halnya dengan orang yang mencintai Tuhan sama siap melakukannya. Contoh simbolis dari bentuk hubungan demikian tergambar dalam laku Haji.

Sebagaimana seseorang yang kasmaran mengitari kekasihnya, begitu juga yang dilakukan orang saat tawaf sekeliling Ka’abah pada pelaksanaan ibadah Haji. Masalah ini pelik dan halus sekali. Sebagaimana ada sebuah Baitullah (Rumah Tuhan) di bumi, begitu juga yang sama ada di atas sana. Kalau kita tidak bertawaf juga pada yang di atas itu maka tidak ada manfaatnya tawaf yang dilakukan di bumi dan karena itu tidak ada ganjarannya. Keadaan tawaf yang dilakukan pada ‘orbit’ yang lebih tinggi itu haruslah sama seperti yang terlihat di bumi dimana orang hanya menggunakan pakaian yang paling mendasar. Mereka yang bertawaf pada Baitullah yang luhur juga sama harus menanggalkan ‘pakaian’ keduniawian dan berlaku merendahkan diri dan lembut hati serta melakukan tawaf dengan hati penuh kecintaan. Tawaf merupakan simbol dari kecintaan kepada Tuhan yang sangat, dimana seseorang melakukan tawaf mengitari wujud keridhaan Ilahi, dan tidak ada tujuan lain dari laku demikian.(Malfuzat, vol. 9, h.122 – 124)

Namun, ada sebagian orang Islam yang berupaya menghalang-halangi orang Islam yang ingin menunaikan ibadah Haji ke Baitullah. Padahal sikap demikian ini sangat bertentangan dengan Hadits Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Hadhrat Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ إِتَّقُوْا اللهَ وَلاَ تمَـْنَعُوْا مِنَ الحْـَاجِّ شَيْئًا ممِـَّا يَنْتَفِعُ بِهِ فَإِنْ فَعَلْتُمْ فَأَنَا خَصْمُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Wahai kaum Quraisy, bertakwalah kepada Allah dan janganlah melarang orang mengambil manfaat dari ibadah Haji, apabila kamu melakukan pelarangan Haji, maka aku menjadi musuhmu di hari Qiyamat.” (HR Abu Nu’aim dari Hadhrat Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhu; dan Kanzul-Umal, Juz V/12361)

(Visited 202 times, 1 visits today)