1. Syahadat

Rukun Islam yang pertama ialah mengucapkan dua kalimah syahadat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an :

B-1. Syahadat

Artinya: Allah swt. memberi kesaksian bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Dia dan demikian pula malaikat-malaikat dan orang-orang berilmu, yang berpegang teguh pada keadilan; tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

“Ringkasan dan intisari pendirian kami adalah Lā ilāha illAllāh Muḥammad-ur-Rasūlullah”, kami beriman bahwa jika sekiranya ada seseorang yang mengurangi sedikit saja dari syariat Islam ini atau sedikit saja merubahnya atau meninggalkan perkara-perkara yang telah diwajibkannya dan mengerjakan perkara yang dilarangnya, mereka itu adalah termasuk ke dalam golongan yang tidak beriman dan sesat dari agama Islam.”.  ”Kami menasehati Jamaah kami supaya beriman dengan sepenuh hati terhadap dua kalimah Lā ilāha illAllāh Muḥammad-ur-Rasūlullah dan mati di dalam keimanan tersebut. Walhasil semua akidah atau amalan yang dilaksanakan secara ijma’ oleh ahli sunnah adalah kewajiban bagi Jamaah kami untuk menerimanya. Bumi dan langit akan menjadi saksi bahwa inilah pendirian kami.” (Ruhani Khazain, Jld 14, Ayyamul Suluh, h. 323)

Sehubungan dengan Rukun Islam pertama, beliau bersabda, “Aku ingin memperkenalkan diriku kepada mereka sebagai saksi keberadaan Tuhan.” (Malfuzhat, Vol. I, hal. 307, Cet.Add. Nazhir Isyaat 1984)

“Diriku yang lemah telah diutus ke dunia menyampaikan pesan Tuhan untuk menyatakan bahwa di antara semua agama yang ada saat ini satu-satunya yang benar dan sesuai dengan kehendak Tuhan adalah yang dikemukakan oleh Alquran dan Lā ilāha illAllāh Muḥammad-ur-Rasūlullah – Tidak ada Tuhan, kecuali Allah – adalah pintu untuk memasuki Rumah Keselamatan.” (Malfuzhat, Vol. II, hal. 132, Cet. Add. Nazhir Isyaat 1984)

Patut selalu diingat mengenai makna dari Kalimah Syahadat yang kita ucapkan setiap hari. Dengan Kalimah itu seseorang mengikrarkan secara lisan dan bersaksi dengan hatinya bahwa baginya sang Maha Esa yang patut disembah dan dikasihi adalah Wujud Tunggal yang menjadi tujuan hakiki adalah Allah swt dan tak ada sesuatu apa pun selain Dia. Arti kata ilāha dalam Kalimah tersebut mengandung makna ‘yang terkasih’, ‘wujud yang menjadi tujuan hakiki’ dan ‘wujud yang disembah dan dihormati.’ Pernyataan itu merupakan inti keseluruhan ajaran Al-Qur’an dalam bentuk paling padat yang diajarkan kepada umat Muslim. Karena tidak mudah menghafal kitab yang demikian tebal dan rinci, Kalimah ini diajarkan agar setiap orang tetap bisa memelihara esensi ajaran Islam secara konstan dalam pikirannya. Sesungguhnya sebelum semua realitas itu berakar dalam kalbu manusia, maka tidak ada keselamatan baginya. Karena itulah Hazrat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallām menyatakan: ‘Barangsiapa yang mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, ia akan masuk surga.’ Dengan kata lain, seseorang yang sepenuhnya mengimani ‘Lā ilāha illAllāh’ maka ia akan masuk ke dalam surga.

Sebenarnya manusia menipu dirinya sendiri jika mengira bahwa mengulang-ulang suatu kata seperti burung beo, akan memberi mereka kemudahan masuk surga. Jika realitas memang demikian adanya maka semua amal akan menjadi mubazir dan sia-sia dan Shariah bisa dianggap, naudzubillah, tidak relevan. Nyatanya tidak demikian adanya. Yang patut diperhatikan ialah makna yang terkandung di dalamnya haruslah meresap ke dalam hati saat pengamalannya. Jika hal ini bisa tercapai maka benar bahwa yang bersangkutan telah masuk surga, bukan setelah kematian, tetapi sekarang juga dalam kehidupan kini yang bersangkutan telah memasuki surga. (Malfuzat, vol. 9, h.102 – 104)

(Visited 697 times, 1 visits today)