Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis–ayyadahul-Laahu Ta’aalaa binashrihil-‘Aziiz pada 5 Juni 2015 di Jerman

“Assalaamu‘alaikum wa rahmatul-Laah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ
أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ
الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ
نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ
أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ
آمين

Dengan karunia Allah Ta’ala, hari ini Jalsah Salanah Jerman dimulai. Jalsah Salanah merupakan bagian penting dari program Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia dimanapun Jemaat ini berdiri. Pada masa itu banyak orang, bahkan yang berada di India mengalami kesulitan untuk membiayai perjalanan ke Qadian guna menghadiri Jalsah Salanah, bahkan bagi sebagian orang lagi merupakah hal yang mustahil untuk menghadiri Jalsah Salanah. Atas hal itu, Hadhrat Masih Mau’ud (as) mendesak para Ahmadi tersebut untuk menabung selama setahun itu, guna membiayai perjalanan ke Qadian agar bisa menghadiri Jalsah.

Namun demikian, pada hari ini, dengan karunia Allah Ta’ala, Jemaat sudah demikian berkembang dan maju di negeri India dan negeri sekitarnya sehingga karena jumlah mobil para Ahmadi yang tinggal di negara maju yang melakukan perjalanan Jalsah begitu banyak maka para panitia sibuk mengatur tempat parkirnya.

Banyak dari Anda sekalian [yang menghadiri Jalsah ini], yang para leluhur orangtua atau kakek-neneknya dahulunya mengalami kesulitan dalam rangka menempuh perjalanan guna menghadiri Jalsah kala itu, dan bahkan mustahil bagi mereka menghadiri Jalsah di tiap tahunnya, namun adakah setiap orang yang hadir hari ini berpikir dan merenungkan atas nikmat dan kesejahteraan yang mereka miliki, dan Anda sekalian dikaruniai kemudahan dalam perjalanan, diberikan kemampuan dan taufik lalu menjadikan itu semua dengan penuh syukur kepada Tuhan dan meningkatkan keimanan Anda? Apakah derajat keimanan dan hubungan kita kepada Tuhan setara dengan yang dimiliki oleh para pendahulu (kakek-nenek atau orang tua) kita?

Beberapa pendahulu kita yang hidup di masa Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan yang beriman kepada beliau sangat berhasrat untuk berjumpa dengan beliau namun tidak dapat terlaksana karena terkendala keuangan. Sementara itu pada hari-hari ini, orang-orang bahkan datang dari luar negeri (luar Jerman) dengan biaya sendiri ke Jalsah hari ini yang dihadiri oleh sang khadim (pelayan) Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan Khalifah beliau. Disamping itu para pencari kebenaran yang belum menerima Ahmadiyah, juga menempuh perjalanan dari negara-negara yang berbeda ikut berpartisipasi dalam Jalsah untuk mengenal kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as.

Kendati hal ini sungguh menggembirakan karena Allah telah merubah keadaan menjadi lebih baik dan Dia menjadikan pesan Hadhrat Masih Mau’ud as tersebar cepat ke seluruh dunia, namun keluarga para pendahulu Jemaat tersebut harus bertafakur (merenungi) perihal diri mereka sendiri bahwa sejauh mana jalinan hubungan mereka dengan Tuhan, bagaimana keimanan mereka dan kepatuhan mereka kepada semua perintah Tuhan. Perlu adanya perhatian apabila ada kemerosotan dalam perkara-perkara tersebut. Kita mungkin sukses dari segi duniawi, namun kondisi keruhanian kita bisa jadi seperti cincin yang berlubang. Pada saat seseorang begitu tenggelam dengan keduniawian maka ia berakhir dalam pangkuan setan dan kedatangannya di Jalsah hanya menjadi sebuah ritual (adat kebiasaan) belaka.

Saat Jalsah, berbagai usaha harus dilakukan untuk mengidentifikasi kelemahan kita dan segala upaya harus dilakukan supaya diri kita menjadi lebih baik. Kita harus berdoa supaya kita maupun generasi kita yang akan datang terhindar dari murka Ilahi. Jemaat akan terus berkembang karena Tuhan membukakan hati dan mengizinkan orang-orang untuk bergabung dengan Jemaat. Semoga orang-orang yang bergabung dengan Jemaat dapat memperbaiki keimanan mereka, juga dapat memenuhi syarat (mendapat kesempatan) untuk menghadiri Jalsah!

Kita harus menaruh perhatian pada apa yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) jelaskan kepada kita perihal tujuan Jalsah Salanah. Tujuannya adalah untuk membangun hubungan dengan Tuhan, menjalani kehidupan sesuai perintah Tuhan, menunaikan hak-hak saudara-saudara kita dan menyebarkan pesan Tuhan ke seluruh Dunia. Semua ini menuntut jiwa pengorbanan. Jalsah Salanah bukanlah perayaan duniawi dan bukan suatu sumber atau sarana untuk meraih motif dan tujuan yang bersifat duniawi. Orang-orang yang datang ke Jalsah harus mengarahkan perhatian pada berdzikir kepada Allah karena hal itu sangat penting demi menguatkan jalinan dengan Allah dan meraih karunia-karunia-Nya. Hal kedua, dengan mengingat hal ini tak diragukan lagi akan menjadikan kita menghiasi diri dengan kebaikan-kebaikan dan menjadikan kebaikan-kebaikan yang Allah perintahkan kita untuk dilaksanakan sebagai bagian dari kehidupan kita sepanjang waktu.

Terkait berdzikir kepada Allah, ada hal yang ingin saya sampaikan bahwa majelis-majelis dzikir – meski setiap dari mereka melakukannya dengan coraknya dan sendiri – membentuk dengan corak warna Jemaat, juga pada tingkatan perorangan dapat memperoleh manfaat dari itu, dan menjadi peraih karunia-karunia Ilahi. Berdzikir kepada Allah jika dilakukan di tingkat perorangan, juga memiliki arti bagi tingkat komunal (menyeluruh, masyarakat) karena manfaat yang dapat diambil baik oleh masing-masing individu, sama halnya juga oleh Jemaat. Oleh karena itu, kita harus melewatkan hari-hari ini dalam dzikir Ilahi di sela-sela berjalannya Jalsah, saat berdiri dan duduknya. Manfaat lain berdzikir kepada Allah adalah dapat menarik perhatian orang lain agar ikut terlibat di dalam dzikir tersebut sehingga hari-hari menjadi bermanfaat baginya. Daripada menghabiskan waktu dengan mengobrol yang sia-sia lagi tanpa tujuan. Dengan rahmat Allah Ta’ala, pelaksanaan yang dilakukan selama Jalsah meninggalkan jejak untuk beberapa lama dan apabila difokuskan, jejak tersebut dapat bertahan dalam waktu yang lama.

Hari Jalsah harus dirayakan sebagaimana yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) jelaskan dan harapkan kepada kita. Yaitu untuk menjalin ikatan dengan Tuhan, dan memenuhi hati kita dengan kasih sayang terhadap ciptaan Tuhan. Kesalahpahaman diantara setiap orang harus dihapus saat Jalsah. Kita akan dapat menyampaikan pesan Tuhan kepada orang lain dalam arti yang sesungguhnya hanya jika kita membangun hubungan dengan-Nya. Akan tetapi semua jalan ini memerlukan ketekunan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda bahwa dunia ini fana (sementara) dan akan hancur satu hari nanti. Dunia ini dirancang untuk batas waktu tertentu saja. Oleh karena itu kita harus bergerak kearah pemahaman dalam menjalin hubungan dengan Tuhan. Jika kita melangkah sedikit saja kearah Tuhan, maka Dia akan melangkah lebih besar kearah kita, akan tetapi, yang pertama harus melangkah adalah kita.

Beberapa orang mengeluhkan bahwa mereka telah mengusahakan mengamalkan segalanya, mulai dari shalat sampai puasa, hingga bentuk-bentuk ibadah serta amal ibadah lainnya namun mereka bilang tidak memperoleh hasil apa-apa. Inilah yang melahirkan sifat prasangka. Tidaklah mungkin Tuhan membiarkan segala sesuatu yang dilakukan dengan tulus ikhlas demi Dia menjadi terbuang dan tidak mendapatkan ganjaran di dunia ini. Jika amalan kita demi untuk mencari ridha Tuhan maka kita akan memperoleh karunia-Nya.

Maka dari itu, kita seyogianya harus beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas demi Dia dan menciptakan jalinan dengan-Nya. Jika kita berbuat dengan niat meraih ridha Allah, maka kita akan memperolah karunia-karunia-Nya. Kita harus berusaha keluar dari kegelapan materialistis dan berupaya dengan tulus ikhlas untuk mencari ridha Allah Ta’ala. Hal ini merupakan karunia Tuhan bagi kita bahwa Dia mengirim para utusan-Nya, orang-orang yang dikasihi-Nya ke dunia dan sungguh merupakan keberuntungan bagi kita bahwa kita telah menerima seorang utusan Tuhan pada zaman ini. Ia datang dan mengajarkan kita tentang pokok-pokok dan cara-cara menyintai-Nya, menyintai Rasul-Nya (Nabi Muhammad saw), mengarahkan kita pada pengamalan perintah-perintah-Nya, membimbing kita agar memenuhi hak-hak ciptaan-Nya sesuai petunjuk-Nya, dan menarik perhatian kita untuk mencegah dan menghindarkan diri dari dosa individu maupun kelompok atau bangsa, dan menuntun kita memperelok keadaan kita secara kepercayaan maupun amal perbuatan.

Apabila sesudah bai’at, kita tidak menaruh perhatian kepada perkara-perkara tersebut kita tidak akan dapat memenuhi tanggungjawab kita. Para nabi Allah datang ke dunia untuk membawa perubahan yang revolusioner. Allah memperlihatkan Hadhrat Masih Mau’ud (as) sebuah kasyaf bahwa beliau as akan membuat bumi baru dan langit baru dan kemudian difirmankan oleh-Nya, “Mari kita membuat/membentuk manusia baru!” Maksud dari penciptaan bumi baru, penciptaan langit baru dan manusia adalah perwujudan perubahan revolusioner yang terjadi dalam pengikut beliau as.

Contoh (tampilan) sempurna penciptaan bumi baru dan langit baru tentu saja dapat kita pelajari dari apa-apa yang diperlihatkan oleh Hadhrat Rasulullah saw (Baginda Nabi Muhammad saw). Bagaimana beliau saw menciptakan bumi baru dan langit baru? Beliau membuktikan Ketauhidan di kalangan orang-orang yang memusuhi Tauhid. Orang-orang yang menolak Allah nan Esa mulai bersikap aniaya dikarenakan ucapan para pengikut Nabi saw,”أحد”، “أحد” ‘Ahad’ ‘Ahad’ –‘Yang Esa, Yang Esa’ Mereka dianiaya namun tidak mau mengingkari Tauhid. Beliau saw muncul di tengah-tengah orang-orang yang tidak memiliki konsep Ketauhidan dan berdasarkan perubahan revolusioner yang beliau bawa maka peribadahan kepada Tuhan yang Tunggal menjadi lebih terasa disantap dengan nikmat bagi orang-orang tersebut dibandingkan makanan lahiriah. Mereka memenuhi siang hari dengan puasa dan malam hari dengan ibadah dan nafal. Kaum wanita pada masa itu pun berlomba-lomba dalam beribadah kepada Tuhan. Salah satu sahabat wanita mengikatkan seutas tali ke tubuhnya dan menggantungkannya ke langit-langit guna mengingatkan dirinya agar bangun untuk beribadah kepada Tuhan.

Tingkat tinggi pengorbanan mereka pada sesama mereka yang lain ialah sampai sedemikian rupa sehingga terdapat dari antara para sahabat (kalangan Anshar, Madinah) yang menawarkan harta benda mereka kepada sahabat yang lain (dari kalangan Muhajir/pengungsi dari Makkah), bahkan telah membawakan/memperlihatkan harta tersebut. Sementara mereka yang ditawari harta tersebut juga telah mengalami revolusi rohani dalam dirinya sehingga mereka berterima kasih atas tawaran tersebut, menolaknya dan lebih memilih bekerja keras untuk memenuhi hidupnya dengan mengatakan, بَارَكَ الله لَكَ فِي أَهْلِكَ وَمَالِكَ، وَلَكِنْ دُلَّنِي عَلَى السُّوْقِ “Selamat sejahtera dan keberkahan dari Allah Ta’ala atas keluarga dan harta kalian. Yang kami harapkan sebagai bantuan hanyalah tunjukkanlah kepada kami arah jalan menuju pasar. Kami ingin makan dari hasil keringat kami sendiri daripada kami menjadi tanggungan orang lain.” Perihal tampilan teladan kejujuran dan dapat dipercaya yang luar biasa dapat dilihat dalam riwayat Sahabat Nabi saw yang menawar harga kuda yang bagus dan gagah dengan harga yang lebih tinggi dari tawaran si penjual. Mereka itu adalah yang dahulunya merupakan orang-orang yang sangat menyintai harta benda dan suka mencari keuntungan dari orang lain lewat cara menipu. Mereka telah mencapai standar atau tingkat kejujuran yang sedemikian rupa hingga menawar harga barang yang dibeli dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga tawaran penjual.

Semua ini berdasarkan perubahan revolusioner yang dibawa oleh Hadhrat Rasululah saw. Bahkan, beliau begitu menghormati para wanita dan menegakkan hak-hak mereka serta memberikan mereka status yang tidak mereka dapati sebelumnya di masyarakat.

Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) bersabda mengenai perbandingan masyarakat sekarang dengan masyarakat yang ada pada masa itu. Pada zaman dulu laki-laki yang melakukan pelecehan dan kekerasan fisik terhadap wanita dianggap sesuatu yang sah (lumrah). Para pria terus menerus melakukan tindakan pelecehan kepada wanita, bahkan di Eropa tempat dimana kebebasan begitu dielu-elukan. Perbedaan antara zaman dulu dengan zaman sekarang adalah kendati melakukan pelecehan dan kekerasan fisik terhadap wanita, para pria zaman sekarang dengan tegas menyatakan tidaklah dibenarkan melakukan pelecehan terhadap wanita. Akan tetapi pada prakteknya tetap sama meskipun pernyataannya nampak berubah.

Rasulullah saw membawa perubahan yang revolusioner di segala bidang dalam setiap lininya. Sungguh ini merupakan sebuah mukjizat agung yang dibawa oleh beliau tatkala orang-orang yang fasik menjadi begitu mukhlis. Inilah bumi baru dan langit baru yang terwujud setelah kedatangan beliau. Pada zaman ini Tuhan meminta kepada Khadim Rasulullah saw untuk menciptakan bumi baru dan langit baru. Apakah kondisi orang-orang hari ini sama seperti orang-orang yang ada di sekitar Rasulullah saw? Tentu saja tidak, faktanya masa kejahiliyahan pra-Islam nampaknya bangkit kembali, dan inilah sebabnya mengapa Tuhan mengutus Hadhrat Masih Mau’ud (as) sesuai dengan janji-Nya tersebut.

Pada suatu masa umat Islam sedemikian rupa mempersembahkan jiwanya demi Tauhid, juga mengorbankan hal-hal lainnya, menyebarkan Islam, dan sebagai buahnya, terjadilah perubahan di dunia, namun hari ini umat Islam datang menyembah kuburan, bukannya meneguhkan Tauhid, mereka meminta kepada orang-orang yang sudah mati agar memenuhi hajat kebutuhan mereka, mereka mengamalkan syirik. Mereka tetap mengaku: “لا إله إلا الله” ‘Tidak ada Tuhan kecuali Allah…’ namun ucapan tersebut hari ini tidak memberikan inspirasi akan adanya perubahan yang positif dalam diri mereka. Sebab atas hal itu ialah karena mereka tidak memahami kandungan dari ucapan itu. Mereka umat Islam hanya namanya saja.

Memang benar, banyak dari antara mereka yang menyatakan peribadatan secara lahiriah dengan shalat lima kali sehari dan bersaksi atas Tauhid, namun amal perbuatan mereka penuh dengan kemusyrikan. Banyak orang yang berpendidikan tinggi di Pakistan, sebagian dari mereka ialah Menteri dan diplomat yang mengunjungi tempat-tempat yang dianggap suci (tempat-tempat orang yang dianggap suci atau petilasan mereka) dan memperlakukan itu semua dengan cara-cara musyrik yang mana mereka seolah-olah seperti menyembah mereka. Banyak dari mereka yang tidak shalat dan beranggapan bahwa dengan mengkafirkan Ahmadiyah serta berdiri mendukung para ulama maka itu menjadikan mereka memenuhi hak sebagai kaum Muslimin.

Sementara itu, terdapat kelompok dan organisasi garis keras yang dibentuk atas nama Islam yang tampaknya hanya mengetahui satu kata: JIHAD, dan itu pun dipahami dalam konteks yang keliru yang ternyata menjauhkan orang-orang di dunia ini dari Islam, bahkan dari agama; bukannya membuat mereka tertarik dan teguh dalam beragama.

Maka dari itulah, kedatangan al-Masih (Imam Mahdi) pada saat seperti ini adalah satu keharusan (satu hal yang sangat perlu dan mendesak) guna menciptakan bumi baru dan langit baru, yang memang beliau perlihatkan dalam corak revolusi rohaniah.

Seseorang pernah bertanya kepada mantan perampok terkenal tentang tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as, dan sang mantan perampok pun menanggapi dengan mengatakan, “Diri saya sendiri lah tanda tersebut, karena hidup saya telah berubah semenjak menerima Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya berubah dari kepala hingga kaki. Biasa rajin merampok menjadi rajin beribadah.”

Memang, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menciptakan bumi baru dan langit baru pada zaman ini dan merubah ratusan ribu jiwa yang menampilkan bagaimana bumi baru dan langit baru dapat diciptakan.

Namun demikian, kasyaf beliau pun menyoroti Jemaat beliau untuk menunjukan upaya dan usaha apa yang telah mereka buat dalam hal ini sesudah mereka bai’at. Apakah kita berusaha mencapai derajat bumi baru dan langit baru yang para sahabat buat dengan melaksanakan ajaran Islam yang sesungguhnya? Apakah jiwa kita tergerak dengan perubahan yang positif sehingga mendorong orang-orang mengatakan bahwa orang-orang tersebut telah menciptakan bumi baru dan langit baru? Jika kita ingin memperlihatkan bumi baru dan langit baru yang telah diciptakan Hadhrat Masih Mau’ud (as), maka bukti terbesarnya harus kita contohkan secara perseorangan! Keyakinan kita kepada Hadhrat Masih Mau’ud as tidak hanya terbatas pada pengakuan, sebaliknya, perubahan positif dalam amalan kita juga harus dinyatakan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda tanda Hadhrat Masih Mau’ud as ada dua macam. Jenis pertama ialah pemenuhan tanda tersebut dilakukan oleh Allah Ta’ala sendiri saja [contoh pengutusan para Nabi], sedangkan jenis tanda yang lainnya (kedua) ialah kita memiliki peranan dan campur tangan guna pemenuhannya, dan akan terpenuhi melalui kita. Tanda kedua ini harus kita upayakan untuk dipenuhi. Sebenarnya, kita harus mencapai derajat yang terbaik guna memenuhi tanda-tanda tersebut.

Ada banyak hal pengetahuan yang hanya nabi Allah yang dapat memahaminya. Hadhrat Masih Mau’ud as menguraikan banyak hal bahwa telah berlalu 14 abad kemunculan Islam yang ada namun umat Islam tidak memiliki pemahaman yang benar mengenai perkara-perkara yang diuraikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as tersebut. Misalnya soal semua agama dunia yang pada dasarnya atau aslinya adalah benar meskipun pada tahap selanjutnya ajaran-ajarannya menyimpang. Budha, Zoroaster dan Khrisna semuanya adalah orang-orang benar. Orang-orang yang mengikuti ajaran yang benar dari pemimpinnya kondisinya jauh lebih baik dibandingkan yang tersisa di belakangnya. Hadhrat Masih Mau’ud as menguraikan bahwa ajaran dari semua nabi Allah sebelumnya adalah melawan setan, dan jika yang terjadi sebaliknya, yaitu ajaran mereka berasal dari setan, tentu tidak ada seorang pun yang akan mengikuti mereka. Poin inilah yang disebutkan dalam al-Quran. Hal mana tidak ada yang mengetahuinya dan menjelaskannya sebagaimana telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Umat Islam hari ini mengakui seluruh agama-agama yang ada dunia berlandaskan kepada kebenaran meskipun mereka tidak menerima Hadhrat Masih Mau’ud as. Cendekiawan mereka dengan bangga menginformasikan kepada orang-orang dari agama lainnya bahwa Islam menerima pendiri agama-agama mereka.

Ambillah sebagai contoh, akidah kenaikan Nabi Isa as (Yesus) ke langit, hal ini kini tidak dinyatakan oleh banyak dari kalangan umat Islam dan cendekiawan mereka. Bahkan, ulama Pakistan ada yang mengatakan tidak ada itu akidah kenaikan ke langit atau turunnya mereka ke bumi. Mereka pun mengakui perihal kewafatan Yesus yang mana hal ini merupakan bagian dari bumi baru dan langit baru yang diciptakan Hadrat Masih Mau’ud as.

Kemudian ada perkara-perkara yang harus kita amalkan. Kita menciptakan langit baru dengan mengubah keyakinan kita dengan menerima Ahmadiyah dan baiat kepadanya. Sekarang, untuk menciptakan bumi yang baru diperlukan usaha keras. Rasulullah saw bersabda bahwa qalbu orang mukmin laksana bumi. Kita harus menjadikan hati kita bermanfaat bukan hanya dalam perkara akidah namun juga dalam perkara amalan.

Dengan karunia Tuhan kita menerima Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan kini Tuhan menghendaki amal perbuatan kita menjadi lebih baik melalui Al-Masih yang dijanjikan tersebut sehingga kita menjadikan baik bumi hati kita. Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan kita dengan mencampurkan syarat ini dan itu untuk kita manfaatkan.

Kita perlu merenung. Penting sekali bahwa setiap perintah al-Quran harus membawa perubahan yang positif dalam diri kita dan seperti yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa kita harus menciptakan bumi baru dan langit baru.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa orang-orang membuat rencana dan mengambil langkah-langkah secara perbuatan (rencana dan usaha) namun mengabaikan doa. Orang-orang terlalu bergantung kepada sarana-sarana materi sementara doa ditertawakan. Itu merupakan racun berbahaya yang menyebar di dunia ini. Tuhan menghendaki agar melenyapkan racun tersebut dari dunia dan untuk tujuan inilah Tuhan mendirikan silsilah Masih Mau’ud (al-Masih yang dijanjikan), yaitu Jemaat, supaya dunia mengenal Tuhan mereka dan mereka dapat mempelajari perihal doa dan pengaruhnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan bahwa ini adalah zaman konflik (perang) secara keruhanian. Setan menyerang benteng Islam dengan segala persenjataan dan kekuataannya namun Tuhan telah mendirikan Ahmadiyah guna membendungnya di peperangan akhir ini.

Setiap Ahmadi perlu melangkah untuk tujuan ini dan menciptakan bumi keruhanian baru dan langit keruhanian baru. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa perintah-perintah Ilahi ada dua perkara. Pertama tidak menyekutukan sesuatu apapun dengan Allah baik dalam wujud-Nya, Sifat-Nya maupun penyembahan-Nya, dan yang kedua mengasihi seluruh umat manusia, bukan hanya seseorang yang dekat dan kalian sayangi saja namun semua umat manusia tanpa memandang ras (etnis, suku bangsa) atau agamanya. Tuhan menghendaki kita untuk mempercayakan persoalan musuh kita kepada-Nya dan tidak berusaha untuk membalas dendam. Seorang yang rendah hati memperoleh begitu besar ridha Tuhan.

Semoga kita memenuhi ekspetasi/harapan Hadhrat Masih Mau’ud as dalam hal aqidah dan amal perbuatan. Dan semoga kita menciptakan bumi baru dan langit baru serta semoga kita membantu Hahdrat Masih Mau’ud dengan bumi baru dan langit baru kita!

Penerjemah : Yusuf Awwab & Dildaar Ahmad