Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad
Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz
14 Agustus 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ ، آمين

Dengan karunia Allah Ta’ala Jalsah Salanah Jemaat UK akan dimulai minggu depan. Para sukarelawan (panitia) telah sibuk selama beberapa minggu ini di Hadiqatul Mahdi untuk mempersiapkan Jalsah. Persiapan ini semakin dipercepat oleh para khudam dan relawan lainnya dalam 10 hari terakhir ini. Bukanlah suatu hal yang biasa untuk membuat suatu pengaturan untuk mengadakan Jalsah di area perhutanan. Para khudam dari berbagai daerah di UK serta para sukarelawan lainnya melakukan tugas mereka dengan segenap kemampuan luar biasa mereka serta tidak ditemukan contoh seperti ini di dalam suatu organisasi manapun di seluruh dunia.

Ini merupakan karunia Allah Ta’ala bahwa Dia telah menanamkan gejolak semangat demikian di dalam diri para khudam serta para sukarelawan lainnya setelah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Baik dalam keadaan terik panas maupun hujan, para pemuda ini senantiasa berkhidmat tanpa pamrih untuk Jalsah Salanah sebagaimana yang diawali dan didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Dan selama hari-hari Jalsah, ribuan para sukarelawan lainnya akan ikut serta mengkhidmati para tamu dan membuat Jalsah Salanah berjalan dengan lancar. Kemudian setelah Jalsah juga diperlukan banyak waktu untuk mengemas seluruh sarana prasarana yang telah digunakan. Para sukarelawan ini terdiri dari kaum bapak, kaum ibu, para pemuda/pemudi, anak-anak bahkan para sesepuh. Demikianlah gejolak semangat yang luar biasa untuk mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as yang tidak dapat ditemukan dimana pun di luar Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as ini.

Di sebagian dunia barat, orang-orang sibuk dalam urusan duniawi dan materialisme. Akan tetapi di dalam dunia semacam inilah para pemuda Ahmadi ini secara sukarela dengan tulus melakukan pengkhidmatan-pengkhidmatan demikian. Hendaknya kita senantiasa mendoakan mereka semoga Allah Ta’ala memungkinkan mereka untuk dapat menyelesaikan tugas-tugas mereka dengan sebaik-baiknya dan semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi mereka dari keburukan dan masalah.

Sebagai biasanya, pada khotbah hari ini, saya (Hadhrat Khalifatul Masih atba) berbicara mengenai pengkhidmatan terhadap tamu seraya bersabda bahwa sungguh hal ini merupakan suatu keperluan zaman yang harus dilaksanakan. Tidak diragukan lagi bahwa semua sukarelawan senantiasa berusaha melayani para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as dengan segala upaya dan perhatian. Namun karena ada beberapa orang baru serta anak-anak yang untuk pertama kalinya ikut mengkhidmati para tamu, maka merupakan hal yang penting untuk mengingatkan mereka, selain juga para panitia yang sudah pernah berkhidmat sebelumnya, bagaimana ajaran Islam, bagaimana suri teladan serta sunnah Hadhrat Rasulullah saw dan amalan pecinta sejati beliau saw yakni Hadhrat Masih Mau’ud as dalam hal ini agar standar pengkhidmatan kita terhadap tamu senantiasa meningkat.

Al-Quran menyebutkan tentang pengkhidmatan yang diperlihatkan oleh Hadhrat Ibrahim as. Setelah menerima tamu, sikap beliau pertama kali setelah menyambut dan memberikan salam adalah mempersiapkan makanan bagi mereka. Perhatian dan perlindungan Hadhrat Luth terhadap para tamunya juga disebutkan di dalam Al-Quran agar umatnya tidak menyulitkan mereka. Jadi hendaknya ketidaknyamanan bagi para tamu tidak menjadi sesuatu yang terlupakan. Ketidaknyamanan yang dirasakan oleh para tamu dalam bentuk apapun merupakan suatu kondisi yang memalukan bagi tuan rumah. Inilah mengapa Islam memerintahkan untuk menghormati dan menghargai para tamu. Banyak kualitas dari Hadhrat Rasulullah saw yang disebutkan satu per satu oleh Hadhrat Khadijah ra pada saat beliau saw menjadi gelisah setelah menerima wahyu pertamanya, termasuk kualitas beliau saw dalam pengkhidmatan yang luar biasa terhadap para tamu.[1] Terdapat ratusan contoh di dalam kehidupan beberkat beliau saw dimana beliau saw menampilkan cara menghargai dan menghormati yang luar biasa terhadap para tamu. Beliau saw juga mengajarkan kualitas ini kepada para sahabatnya sehingga bagaimana kita menjadi terheran-heran membaca riwayat-riwayat pengkhidmatan luar biasa yang mereka lakukan terhadap para tamu yang mana di dalamnya senantiasa terdapat keberkatan dari Allah Ta’ala.

Merupakan sunnah Hadhrat Rasulullah saw bahwa ketika banyak tamu yang datang, beliau saw senantiasa membagi-bagikan para tamu kepada para sahabat [untuk menginap di rumah masing-masing] serta juga membawa beberapa tamu di rumah beliau saw sendiri. Seorang sahabat meriwayatkan bahwa beliau merupakan salah seorang para tamu yang tinggal dan dikhidmati oleh Hadhrat Rasulullah saw. Beliau saw membawa beberapa tamu ke rumah beliau saw dan bertanya kepada Hadhrat Aisyah ra apakah ada makanan yang dapat disajikan. Hadhrat Aisyah ra berkata bahwa hanya ada sedikit makanan yang disimpan untuk buka puasa beliau saw. Kemudian Hadhrat Rasulullah saw meminta Hadhrat Aisyah ra untuk menyajikannya. Hadhrat Rasulullah saw mencicipinya sedikit terlebih dahulu dan kemudian memberikannya kepada para tamu. Mereka makan dengan lahap dan hingga merasa kenyang. Kemudian Hadhrat Rasulullah saw bertanya apakah ada sesuatu untuk diminum. Hadhrat Aisyah ra menyajikan minuman yang sebelumnya dicicipi terlebih dahulu oleh Hadhrat Rasulullah saw. Para tamu kembali merasa puas. Alasan mengapa Hadhrat Rasulullah saw sendiri mencicipi terlebih dahulu makanan atau minuman tersebut adalah bahwa pasti beliau saw telah berdoa untuk memberkati makanan dan minuman tersebut agar bisa cukup bagi semua tamu. Terdapat belasan riwayat lainnya dimana Hadhrat Rasulullah saw memberkati makanan melalui doa.

Terkadang para tamu menciptakan situasi yang sangat menjengkelkan bagi tuan rumah. Akan tetapi teladan luhur Hadhrat Rasulullah saw adalah sedemikian rupa bahwa suatu kali seorang tamu yang bermalam di rumah beliau pergi begitu saja di pagi hari dengan meninggalkan kotoran di atas kasur beliau saw yang mungkin ia lakukan karena ada gangguan di perut atau karena rasa kebenciannya. Alih-alih mengeluh, beliau saw sendiri mulai mencuci kasur tersebut.

Melihat sikap yang mengagumkan tersebut, para sahabat juga memberikan pengorbanan besar bagi para tamu mereka. Ada suatu peristiwa yang merupakan riwayat yang sangat luar biasa dimana seorang sahabat rela menidurkan anak-anaknya terlebih dahulu dalam keadaan lapar demi untuk mengkhidmati tamu supaya jangan sampai tamu ini merasa kurang dengan makanan yang tersedia. Sahabat ini meriwayatkan bahwa ketika Hadhrat Rasulullah saw mengirimkan beberapa tamu ke rumahnya, beliau bertanya kepada istrinya apakah ada makanan. Istri beliau menjawab bahwa hanya ada makanan untuk anak-anak. Setelah sumi istri ini berdiskusi, mereka memutuskan untuk menidurkan anak-anak mereka terlebih dahulu agar dapat menyajikan makanan kepada para tamu. Mereka kemudian mematikan lampu dengan beberapa alasan dan berpura-pura makan dalam kegelapan sementara para tamu sedang menikmati makanan yang disajikan.

Keesokan harinya ketika sahabat ini menceritakan kisahnya kepada Hadhrat Rasulullah saw, beliau saw pun tersenyum dan bersabda bahwa rencana yang mereka buat agar dapat memberi makan para tamu semalam adalah sedemikian rupa sehingga membuat Allah Ta’ala pun tersenyum. Allah Ta’ala begitu ridhanya kepada mereka sampai-sampai Dia memberitahukan seluruh kejadian tersebut kepada Hadhrat Rasulullah saw bahwa bagaimana sahabat ini lebih mengutamakan tamu daripada anaknya sendiri. Bagaimana orang-orang seperti ini meraih keridhaan Allah Ta’ala dan menjadi pewaris nikmat-nikmat dunia dan alam semesta. Semangat pengkhidmatan ini timbul setelah melihat teladan yang ditunjukan oleh Hadhrat Rasulullah saw dan sebagai buah dari ajaran yang beliau saw berikan kepada mereka.

Hadhrat Rasulullah saw pernah bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ.

‘Man kaana yu-min biLlaahi wal yaumil aakhiri fal yaqul khairan au liyashmut wa man kaana yu-min biLlaahi wal wal yaumil aakhiri falaa yu-dzi jaarahu wa man kaana yu-min biLlaahi wal yaumil aakhiri falyukrim dhaifahu.’

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya mengatakan perkataan yang baik atau tidak, tetaplah diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya tidak menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir hendaknya menghormati para tamunya.”

Jadi inilah standar yang hendaknya dimiliki oleh seorang mukmin. Ketika ia melangkah kepada kesempurnaan keimanan maka keridhaan Allah Ta’ala juga akan mengikutinya dan ketika keridhaan-Nya telah diraih, maka barulah kenikmatan dunia dan akhirat ini dapat didapatkan.

Hadhrat Rasulullah saw juga biasa bertanya kepada para tamu bagaimana pengkhidmatan yang dilakukan para sahabat terhadap mereka. Pada suatu kesempatan kedatangan para delegasi dari kabilah Abd Qais, Nabi saw menghimbau para sahabat Anshar untuk memperlakukan dengan baik para tamu. Beliau saw bertanya keesokan harinya kepada para tamu, كَيْفَ رَأَيْتُمْ كَرَامَةَ إِخْوَانِكُمْ لَكُمْ وَضِيَافَتَهُمْ إِيَّاكُمْ ‘Kaifa ra-aitum karaamatu ikhwaanikum lakum wa dhiyafaatahum iyyakum?’ – “Bagaimana pendapat kalian perihal penghormatan saudara-saudara kalian terhadap kalian dan pelayanan tamu dari mereka terhadap kalian?” Para tamu menjawab, خَيْرَ إِخْوَانٍ، أَلَانُوا فِرَاشَنَا وَأَطَابُوا مَطْعَمَنَا وَبَاتُوا وَأَصْبَحُوا يُعَلِّمُونَا كِتَابَ رَبِّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَسُنَّةَ نَبِيِّنَا. “Mereka sebaik-baik saudara, wahai Rasulullah, mereka memberikan kami kasur yang lembut untuk tidur dan makanan yang enak untuk makan. Mereka juga mengajarkan kami Kitab Tuhan kita (Al-Quran) dan Sunnah Nabi kita.” Demikianlah kewajiban seorang tuan rumah. Mereka yang mengharapkan agar para tamu Jalsah menginap di rumah mereka janganlah melewati malam dengan percakapan yang sia-sia melainkan adakanlah diskusi rohani dan tanamkanlah ilmu-ilmu agama.

Selain tamu Ahmadi, tamu-tamu non-Ahmadi juga menghadiri Jalsah. Mereka menginap di berbagai tempat penginapan Jalsah. Maka hendaklah para panitia memperlihatkan contoh yang baik ketika mereka bertugas supaya para tamu berfikir bahwa memang mereka sedang menghadiri suatu pertemuan rohani bukan pertemuan duniawi. Dan hendaklah para panitia memperlihatkan corak akhlak dan sikap yang luhur. Adakanlah diskusi tentang masalah kerohanian setiap kali ada waktu luang baik siang atau malam, alih-alih dihabiskan dengan percakapan yang sia-sia. Hal ini akan memberikan pengaruh yang baik terhadap para tamu dan mereka akan menyadari bahwa para Ahmadi datang dalam pertemuan 3 hari ini dengan benar-benar memutuskan hubungan mereka dengan urusan dunia. Para sahabat Hadhrat Rasulullah saw tidak hanya merupakan tuan rumah yang luar biasa bagi para tamu dalam menyediakan sarana-prasarana, makanan dan minuman yang terbaik, namun beliau saw juga memenuhi kebutuhan rohani para tamu sehingga ketika pulang, para tamu dapat menyiarkannya kembali ajaran tersebut kepada yang lain.

Dalam Nizam Jemaat, kita mempunyai Departemen Tabligh dan Tarbiyat. Menyediakan makanan rohani juga – disamping hal-hal lainnya – yang merupakan tugas dan kewajiban para panitia. Hendaknya tugas tersebut dijalankan dengan sebaik-baiknya. Hendaknya tidak membatasi pengertian kepanitiaan Jalsah hanya pada mengkhidmati tetamu saja, melainkan senantiasa memperhatikan keteladanan. Ucapan dan sikap baik para sukarelawan juga bagian dari pengkhidmatan terhadap tamu.

Di masa ini, pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw yakni Hadhrat Masih Mau’ud as juga menunjukan teladan pengkhidmatan yang luar biasa terhadap para tamu. Seorang tamu berkunjung ke Qadian. Beliau telah berbaiat dan memiliki hubungan sebagai pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as. Pada saat itu, sebagai bentuk rasa hormatnya, beliau memijat kaki beliau as. Seketika itu, seorang Hindu mengetuk pintu. Sahabat tersebut bangun hendak membukakan pintu namun Hadhrat Masih Mau’ud as dengan tergesa-gesa bangkit dan terlebih dahulu sampai di pintu. Beliau as bersabda bahwa sahabat tersebut merupakan seorang tamu dan Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda bahwa para tamu hendaklah dihormati.[2] Di sini, kita melihat dua aspek. Beliau as telah mengizinkan sahabat tersebut untuk memijat kaki beberkat beliau as karena ia (sahabat tersebut) merupakan seorang pengikutnya namun tetap dalam kapasitas sebagai seorang tamu, Hadhrat Masih Mau’ud as begitu menghormatinya dan beliau as sendiri membukakan pintu serta menyapa seorang Hindu yang datang tersebut.

Suatu kali, seorang tamu Ahmadi berpergian ke Qadian selama musim dingin untuk bertemu Hadhrat Masih Mau’ud as. Hari itu sedang hujan dan beliau sampai di malam hari. Beliau mendapatkan santap malam dan kemudian tidur. Ada yang mengetuk pintu beliau di tengah malam. Beliau terheran ketika melihat Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berada di depan pintu seraya memegang segelas susu hangat di satu tangan dan lampu di tangan lainnya. Beliau as bersabda bahwa ada seseorang yang telah mengirim susu kepada beliau as oleh sebab itu beliau as berfikir untuk menawarkannya kepada tamu tersebut karena ia terbiasa minum susu. Tamu tersebut sungguh sangat tersentuh dan menangis melihat seseorang yang diutus oleh Allah Ta’ala sedang mengkhidmatinya.

Hadhrat Masih Mau’ud as senantiasa memperhatikan makanan bagi orang-orang dari berbagai daerah [misal, makanan bagi orang-orang dengan tradisi makan yang berbeda-beda seperti nasi atau orang lain biasa makan roti dari gandum dan sebagainya] . Karena alasan manajemen, hanya ada satu jenis makanan yang dipersiapkan pada saat Jalsah. Namun saat ini, Jemaat telah mengalami kemajuan dalam bidang manajemen serta sarana-prasarana. Sebuah Langgar Khana senantiasa beroperasi dan juga telah menyediakan beragam makanan. Beberapa orang mengajukan keberatan yang tak beralasan bahwa mengapa harus disediakan makanan yang berbeda-beda untuk beragam orang. Akan tetapi, hendaklah mereka menampilkan toleransi karena tamu yang datang pun berbeda-beda.

Agar para tamu dari luar, seperti para tamu Tabshir, tahu apa yang pada umumnya dihidangkan pada saat Jalsah, maka kepada mereka pun dihidangkan makanan Langgar Khana. Beberapa orang menikmatinya dengan lahap. Pada awalnya, pengaturan seperti ini yakni menyediakan makanan khusus tidak mungkin untuk dilakukan. Akan tetapi sekarang pengaturan demikian dapat dilaksanakan dan beragam makanan pun dihidangkan dengan mengikuti teladan Hadhrat Rasulullah saw untuk mengkhidmati para tamu baik yang berasal dari luar negeri maupun lokal. Pengaturan seperti ini biasanya juga ada di Rabwah. Namun demikian, para Ahmadi hendaknya memakan apa saja yang dihidangkan oleh panitia bagi setiap orang dan hendaknya pula para panitia juga memakan apa yang dihidangkan bagi para tamu pada umumnya kecuali apabila ada alasan kesehatan atau karena sedang bertugas dengan para tamu khusus, maka barulah mereka dapat menyantap hidangan khas bersama tamu khusus tersebut.

Suatu kali pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as, karena kesalahan manajemen, para tamu tidak mendapatkan pelayanan yang baik dalam menghidangkan makanan. Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai hal ini dan beliau as bersabda bahwa Allah Ta’ala telah memberi kabar kepada beliau as bahwa tadi malam, ada kemunafikan dan riya (pamer) dalam menghidangkan makanan bagi para tamu. Pengurus/panitia penerima tamu tersebut menyajikan makanan untuk tetamu yang kerabat keluarganya sedangkan yang bukan kerabat, tidak mendapatkannya. Hadhrat Masih Mau’ud as memecat para pekerja Langgar Khana tersebut selama 6 bulan. Terlepas dari sifat rendah hati beliau as, beliau as tidak menolerir (tidak menerima) kelemahan dan kemunafikan dalam melayani para tamu. Beliau sendiri kemudian langsung mengawasi jalannya Langgar Khana. Jadi panitia pengkhidmatan terhadap tamu perlu sangat hati-hati. Hendaknya tidak ada seorangpun yang menyampaikan keluhan dalam hal apapun.

Pengkhidmatan terhadap tamu tidak hanya dalam urusan menghidangkan makanan saja. Hal itu juga mencakup manajemen Langgar Khana, menghidangkan makanan, penyimpanan dan persediaan makanan. Sungguh, jika adanya kelemahan dalam persediaan makanan maka dapat mengakibatkan tertundanya penghidangan makanan. Pengkhidmatan terhadap tamu juga meliputi sarana-prasarana yang hendaknya disediakan dengan baik. Selain itu, termasuk juga kebersihan, baik secara umum maupun kebersihan di toilet. Fasilitas untuk parkir kendaraan juga termasuk pengkhidmatan terhadap tamu. Adanya kekacauan dalam hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi para tamu serta dapat mengganggu program-program Jalsah. Hendaknya juga ada perhatian terhadap jalan yang akan dilalui apabila hujan. Juga hendaknya disediakan kendaraan khusus untuk membawa para sesepuh dan juga bis yang akan mengangkut para tamu dari luar area parkir ke Hadiqatul Mahdi.

Pendek kata, ada begitu banyak pekerjaan pengkhidmatan terhadap tamu. Jika pekerjaan-pekerjaan ini dilakukan dengan baik, maka segala sesuatunya juga dapat berjalan sendirinya dengan baik pula. Memberikan pengobatan juga termasuk pengkhidmatan terhadap tamu. Setiap orang hendaknya ingat bahwa hal ini bukan hanya pekerjaan mereka yang mengenakan lencana panitia. Pengkhidmatan terhadap tamu merupakan tugas semua panitia.

Hari ini adalah tanggal 14 Agustus yang merupakan hari kemerdekaan Pakistan. Dalam hal ini, hendaklah kita senantiasa memanjatkan doa semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kemerdekaan sejati kepada Pakistan dan senantiasa melindunginya dari para pemimpin dan ulama yang egois. Semoga Allah Ta’ala memberikan pengertian kepada masyarakat untuk memilih para pemimpin yang jujur dan yang akan menghormati kebenaran! Semoga mereka memamahi bahwa keberlangsungan suatu negara terletak pada keadilan, memenuhi hak-hak orang lain dan berpaling kepada Allah Ta’ala. Kekejaman dilakukan atas nama Rabbul ‘Alamin, Al-Rahman dan Al-Rahim, atas nama Allah Ta’ala dan Rasulullah saw yang merupakan rahmat bagi seluruh manusia. Kekejaman senantiasa terjadi di seluruh dunia, terhadap para Ahmadi yang memainkan peran vital dalam membangun negara dan telah memberikan banyak pengorbanan! Namun, para Ahmadi Pakistan senantiasa setia terhadap tanah airnya dimanapun mereka berada. Semoga Allah Ta’ala senantiasa melindungi negara ini! Negara ini lebih terancam bahaya yang timbul dari dalam negeri bukan ancaman dari luar, yakni dari para ulama dan pemimpin yang egois. Jika mereka menjalankan negara ini dengan rasa takut terhadap Allah Ta’ala, maka tidak akan ada kekuatan luar yang dapat merugikan negera ini. Para Ahmadi Pakistan hendaklah senantiasa memanjatkan doa sebanyak mungkin bagi negera ini semoga Allah Ta’ala selalu menjaganya agar tetap aman dan damai.

Diumumkan 2 shalat Jenazah Ghaib: Pertama, Kamal Aftab Sahib dari Huddersfield, UK meninggal dunia karena penyakit Leukimia pada tanggal 7 Agustus 2015 di rumah sakit Leeds pada usia 33 tahun. Beliau mendapatkan taufik untuk dapat mengkhidmati Jemaat dalam berbagai bidang. Pada saat meninggal dunia, beliau sedang berkhidmat sebagai seorang Qaid Wilayah Yorkshire dan juga Sekretaris Tarbiyat di Huddersfield South. Selama sakit, beliau mulai mengadakan ‘Hospital Marathon’ dari ruangan rumah sakit beliau untuk mengumpulkan dana sebesar £ 50.000 untuk meneliti Leukimia. Beliau senantiasa bekerja tanpa pamrih hingga nafas terakhir dalam berbagai proyek untuk mengkhidmati kemanusiaan dan dalam bertabligh. Beliau memiliki hubungan yang sangat tulus dan setia terhadap Khilafat. Meskipun dalam keadaan sakit dan lemah, beliau menghubungkan MTA ke ruangannya di rumah sakit agar dapat menyaksikan secara langsung Khutbah Hudhur di pada acara Ijtima Khudam. Surat kabar Harian Nasional, The Guardian, memberikan beliau penghargaan “Volunteer of the Year 2014”.

Beliau datang mengunjungi Hadhrat Khalifatul Masih beberapa hari sebelum wafat. Walaupun dalam keadaan sakit, beliau tetap tabah dan riang serta tidak menunjukan adanya rasa sakit yang sedang beliau derita meskipun sebenarnya pada saat itu beliau sedang merasakan sakit yang sangat. Beliau senantiasa memiliki hubungan yang sangat tulus dan setia dengan Khilafat.

Saudara laki-laki beliau bernama Farooq Aftab menulis bahwa beliau adalah cicit dari Seth Allah Ditta Sahib, seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Rumah kakek beliau pernah gagal diserang dalam kekacauan pada tahun 1974 dan kakek beliau dipenjara di jalan Allah Ta’ala selama 6 bulan. Kamal Aftab merupakan seorang yang sangat ramah, santun dan berani yang senantiasa menolong orang-orang lain dan disenangi setiap orang. Baik Ahmadi dan non-Ahmadi mengaguminya dan tidak ada satupun yang terdengar perkataan mengenai pribadi beliau melainkan pujian. Beliau terkenal di kalangan para pemuda dan orang tua dan selalu bersikap ramah terhadap setiap orang. Beliau bersikap baik terhadap orangtua dan juga merawat saudara-saudaranya. Beliau taat dalam mendirikan shalat dan terdepan dalam mengkhidmati kemanusiaan. Beliau merupakan pemimpin program Humanity First ‘Gift of Sight’ dan telah berupaya mewujudkan rencana pembangunan klinik mata di Afrika Timur. Beliau merupakan seorang Da’i yang aktif yang tidak melepaskan suatu kesempatan pun untuk bertabligh.

Selama dirawat di rumah sakit, beliau memperkenalkan Jemaat kepada para dokter dan para pekerja lainnya. Beliau memasang MTA di rumah sakit yang menampilkan beragam program kepada orang-orang dan upaya ini membuka jalan untuk bertabligh. Beliau adalah anggota aktif Majelis Anshar Sulthanul Qalam. Beliau memberikan ratusan wawancara lewat radio, TV dan surat kabar seraya menyampaikan pesan Islam kepada ribuan orang.

Saudar Kamal Sahib lainnya bernama Yousaf Aftab menulis bahwa beliau sendiri akan berupaya untuk mendekatkan para khudam dan athfal yang tidak memiliki hubungan yang kuat dengan Jemaat. Beliau berupaya untuk menanamkan kecintaan terhadap Khilafat di dalam hati mereka. Terkadang, beliau membawa para khudam ke mesjid Fazl, London sehingga mereka dapat melaksanakan shalat di belakang Hadhrat Khalifatul Masih serta menjalinkan suatu hubungan dengan hudhur. Beliau menarik perhatian para Khudam secara umum dan anggota Amila khususnya ke arah mendirikan shalat dan juga mengambil langkah-langkah nyata untuk mencapai tujuan ini. Beliau akan membawa beberapa Khudam ke mesjid untuk melaksanakan shalat Subuh.

Dr. Aziz menulis bahwa setelah diagnosa, beliau berkata bahwa beliau menerima apapun yang dikehendaki Allah Ta’ala. Perhatian khusus beliau setelah didiagnosa adalah agar wawancara yang telah dipersiapkan setelah Humanity First bekerja pada gempa Nepal, hendaknya dimuat secara online sehingga dunia bisa mengetahui pengkhidmatan Jemaat terhadap kemanusiaan. Dari sisi medis, penyakit beliau cukup parah namun beliau tetap tersenyum. Selama di rumah sakit, beliau berkata bahwa janganlah ada satu kesempatan bertabligh pun yang hilang karena Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengungkapkan keinginan beliau as bahwa andai saja beliau tahu bahasa inggris, beliau pasti akan banyak bertabligh dalam bahasa tersebut!

Penanggung jawab Pers kita, Abid Waheed menulis bahwa selain berbagai pengkhidmatan yang beliau lakukan terhadap Jemaat, Kamal Sahib telah membuat banyak jaringan media baru untuk kantor Pers kita. Meskipun sedang sakit, beliau tetap mendorong para jurnalis lewat telpon dan email dari tempat tidur beliau di rumah sakit untuk menghadiri Jalsah. Setelah membentuk tim media pusat, beliau akan sering menelpon untuk mengetahui upaya-upaya Adam Walkers. Jika beliau merasa bahwa hasil pekerjaan beliau masih kurang, beliau akan menjadi sangat emosional dan berkata bahwa kita hendaknya memahai pentingnya pekerjaan kita ini.

Beliau akan tampak lebih segar di saat Jalsah daripada istirahat meskipun beliau kurang tidur. Cara pandang beliau yang positif berpengaruh baik terhadap yang lain. Beliau menjalin banyak hubungan yang baru tanpa ragu dan takut. Beliau menjadi sumber masuknya pesan Ahmadiyah ke media bahkan mengenai kewafatan beliau. BBC, ITV, dan Belfast Telegraph dan lain-lain telah mempublikasikan berbagai artikel mengenai kewafatannya. Orang-orang terkenal memberikan penghormatan kepada beliau melalui jejaring sosial. Seorang Jurnalis ITV, Heather Clark, berkata bahwa sebagai seorang jurnalis ia hendaknya tidak kehilangan kata-kata namun setelah kewafatan Kamal Aftab, ia begitu kehilangan sesuatu yang sangat berharga di dunia ini. Ia berkata bahwa seseorang yang baik telah meninggal saat muda dan hendaknya kita senantiasa menjaga nama serta karyanya agar tetap hidup.

Margaret Emsley, kepala berita ITV Yorkshire berkata bahwa Kamal Aftab merupakan seorang yang sangat baik dan ramah. Dengan melihat sosoknya, orang akan merasa bahwa beliau telah melewati kehidupan yang sangat bahagia dan sejahtera. Ia menambahkan bahwa kita akan memberikan penghormatan kepada beliau melalui TV.

Sadr Jemaat Huddersfield menulis bahwa Kamal Sahib sangat taat dan memiliki hubungan kecintaan yang sangat kuat terhadap Khilafat dan Jemaat. Beliau sangat dawam mendirikan shalat Subuh dan memiliki hasrat yang besar dalam mengkhidmati kemanusiaan. Jika laporan terlambat masuk, maka ketika ditanya, beliau akan memohon maaf seraya mengungkapkan penyesalannya.

Muhammad Ali Sahib dari Hartlepool menulis bahwa tahun lalu beliau pergi ke Irlandia bersama Kamal Sahib sebagai Waqf Ardhi. Kamal Sahib merupakan Qaid wilayah sementara Muhammad Ali Sahib adalah Qaid lokal. Namun Kamal Sahib menunjuk beliau sebagai pemimpin perjalanan dan menghormati serta menghargai beliau sepanjang perjalanan. Beliau menyusun rencana khusus untuk tahajud dan bertabligh dengan penuh semangat serta bertanya kepada Mubaligh Irlandia, Ibrahim Noonan Sahib bahwa apa cara terbaik untuk bertabligh kepada umat kristen.

Para khudam yang lain juga menuliskan rasa penghormatan mereka terhadap Kamal Sahib. Mantan Sadr Huddersfield menulis bahwa beliau tahu masa kecil Kamal Sahib. Beliau berbeda dari anak-anak yang lain. Beliau tidak pernah bertengkar dan hormat terhadap para orang tua sejak masih kecil. Beliau sangat berhasrat dalam mengkhidmati Jemaat. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa beliau benar-benar berjalan di atas janji baiatnya.

Seorang khadim menulis bahwa Kamal Sahib gemar berkhidmat dari belakang layar dan tidak ingin menjadi pusat perhatian. Beliau memiliki kecintaan yang mendalam terhadap Al-Quran dan Hadits. Setiap kali diterbitkan terjemahan buku Hadhrat Masih Mau’ud as dalam bahasa inggris, beliau segera akan memberitahukannya kepada yang lain. Beliau adalah orang yang memiliki kualitas yang tak terhitung. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat beliau dan menganugerahkan kesabaran dan ketabahan bagi orang tuanya serta memberikan kegembiraan kepada saudaranya dan orang-orang tercinta dan terdekatnya.

Kedua, Muhammad Naeem Awan Sahib, 36 tahun serta putranya, 12 tahun meninggal dunia akibat tenggelam di sungai Rhine. Naeem Sahib sedang mengunjungi kerabatnya di Jerman bersama dengan istri dan anak-anaknya. Beliau sedang berenang di sungai Rhine ketika datang ombak besar akibat adanya 2 kapal yang sedang lewat. Mereka terbawa arus. Seorang Jerman menolong 3 anggota keluarga namun ketika Naeem Sahib menolong putranya yang berusia 12 tahun yang sedang dalam masalah, keduanya malah terseret ombak yang besar.

Naeem Sahib telah pindah ke UK dari Jerman pada tahun 2005 dan merupakan seorang anggota khudam yang aktif di sini. Beliau telah Umrah pada tahun 2012. Beliau merupakan seorang yang ramah dan baik hati. Beliau meninggalkan seorang janda dan 2 putri. Farooq Aftab Sahib menulis bahwa beliau telah lama mengenal Naeem Sahib. Beliau merupakan seorang yang saleh yang menolong orang lain namun tidak pernah membebani siapapun dalam masalahnya sendiri.

Beliau biasa mengambil cuti sebulan untuk bekerja di Jalsah untuk melaksanakan setiap pekerjaan yang berat. Semoga Allah Ta’ala senantiasa mengangkat derajatnya dan Dia sendiri-lah yang akan merawat kedua putri Naeem Sahib. Amin.


Penerjemah: Hafizurrahman; Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Shahih al-Bukhari. Perkataan Siti Khadijah terhadap suaminya, وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ، وَتَقْرِي الضَّيْفَ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ‏.‏ “Demi Allah, Allah takkan menyusahkan engkau selamanya, engkau menjalin silaturrahim dengan kerabat, membantu orang miskin dan membutuhkan, menghormati dan menghibur para tamu dan menolong orang yang dilanda kesusahan.”

[2] Al-Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Adab (Sopan Santun dan Tata Krama), bab 31, no. 6019

عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ، قَالَ سَمِعَتْ أُذُنَاىَ، وَأَبْصَرَتْ، عَيْنَاىَ حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ‏”‏ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ ‏”‏‏.‏ قَالَ وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ‏”‏ يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهْوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ ‏”‏‏.‏

Dari Abu Syuraih Al ‘Adawi dia berkata; “Saya telah mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan sabdanya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia memuliakan tamunya, dan menjamunya” dia bertanya; ‘Apa yang dimaksud dengan menjamunya wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “yaitu pada siang dan malam harinya, bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah bagi tamu tersebut.” Dan beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata dengan baik atau diam.”

(Visited 9 times, 1 visits today)