Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khutbah Jumat ini.

Ringkasan Khutbah Hudhur aba
KHALIFATUL MASIH II ra : MUTIARA HIKMAH
Baitul Futuh, London – 26 Februari 2016

Setelah mengucapkan salam, shalawat, tasyahud dan surah Al-Fatihah, Hudhur aba bersabda:

Ada banyak orang di dunia ini yang senantiasa terlibat dalam obrolan yang sia-sia. Beberapa orang bercanda dengan saling mengatakan hal-hal yang tiada gunanya yang mengakibatkan perbedaan pendapat dan perselisihan. Membicarakan hal-hal yang tiada gunanya, sia sia dan tanpa difikirkan terlebih dahulu yang tidak memberikan manfaat apapun hanya menciptakan berbagai kesulitan dan perselisihan. Al-Quran melarang orang-orang mukmin ikut serta dalam hal-hal seperti ini karena tidak ada sedikit pun tujuan dan manfaat yang bisa diperoleh. Mengenai hal ini, Hadhrat Muslih Mau’ud ra menyebutkan sebuah permisalan yang sering disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Difirmankan di dalam Al-Quran:

وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“… Apabila mereka melalui sesuatu hal yang sia-sia, mereka berlalu dengan sikap yang mulia.” [Al-Furqan, 25: 73]

Ciri-ciri seorang mukmin adalah bahwa ketika melihat hal yang sia-sia, mereka menghindarinya tanpa memberikan perhatian. Permisalan yang diberikan ialah mengenai kaum wanita karena mereka lebih condong kepada hal-hal yang sia-sia, meskipun sekarang hal ini juga banyak dilakukan oleh kaum pria. Contohnya, para wanita suka menanyakan berapa harga barang-barang tertentu atau dimana barang-barang tersebut dibuat. Ini semua adalah contoh obrolan yang sia-sia dan tidak berarti yang jelas-jelas bersifat duniawi belaka dan tidak bermanfaat sedikit pun. Sungguh terkadang hal ini dapat menimbulkan dampak buruk bagi wanita lainnya yang duduk di dekatnya. Beliau ra bersabda bahwa wanita tersebut tidak akan puas sebelum mengetahui sepenuhnya mengenai barang tersebut.

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa meriwayatkan bahwa ada seorang wanita yang telah membuat sebuah cincin yang indah namun tak ada seorang pun yang memujinya karena cincinya itu. Ia menjadi begitu kesal sehingga ia membakar rumahnya. Ketika orang-orang datang bertanya apakah ada harta yang selamat, ia pun menjawab tidak ada kecuali cincin ini. Seorang wanita kemudian menghampirinya dan bertanya “Kapan cincin ini dibuat? Cincin ini sungguh sangat indah.” Wanita tersebut menjawab “Andai saja engkau menanyakan hal tersebut lebih awal, maka apa perlunya saya membakar rumah ini.”

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa kebiasaan ini tidak khusus hanya terjadi pada kaum wanita saja namun juga pada kaum pria. Setelah saling mengucapkan salam, kaum pria biasanya mulai bertanya darimana anda berasal, mau kemana anda dan berapa gaji anda. Apa perlunya pertanyaan seperti ini? Kemudian beliau ra bersabda seraya memberikan contoh bangsa-bangsa eropa bahwa di sana beliau ra tidak pernah melihat seseorang bertanya mengenai gaji, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya. Oleh sebab itu, hendaknya kita menghindari segala hal yang sia-sia, tidak hanya yang menyebabkan kerugian namun juga yang tidak memberikan manfaat sedikit pun.

Hadhrat Masih Mau’ud as mendefinisikan hal yang sia-sia itu sebagai segala hal yang tidak memberikan kerugian dan tidak pula manfaat. Ini adalah kesia-sian yang hendaknya dihindari oleh seorang mukmin. Kondisi seorang mukmin adalah hendaknya segala obrolannya memiliki tujuan dan ia hendaknya menghindari setiap hal yang sia-sia dan yang tidak bermanfaat. Akan tetapi, jika kita mengadakan survei, kita akan menemukan bahwa banyak orang terlibat dalam pembicaraan yang sia-sia seperti ini.

Hudhur aba bersabda bahwa beliau akan menyampaikan beberapa pelajaran penting lainnya dari Hadhrat Masih Mau’ud as sebagaimana yang diriwayatkan oleh Hadhrat Muslih Mau’ud ra.

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa meriwayatkan kisah berikut bahwa suatu kali seseorang yang miskin sedang berjalan di sekitar Lahore dan bertemu dengan sekelompok orang yang sedang ribut sambil menangis. Ketika ditanya, ternyata hal tersebut adalah karena kewafatan Maharaja Ranjit Singh. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa meskipun ada beberapa raja yang kejam pada pemerintahan itu namun beliau ra pernah mendengar dari Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa Maharaja Ranjit Singh bertanggung demi terciptanya perdamaian dan keburukan hingga batas tertentu berhasil dihapuskan di masa pemerintahannya. Ia mencintai kedamaian dan bersikap baik terhadap umat Islam. Banyak umat Islam bekerja di bawah pemerintahannya termasuk ayah beliau as yang juga memberikan pengabdian yang besar kepadanya. Orang-orang begitu merasakan dan mengingat kedamaian yang ada pada saat itu dibanding pada pemerintahan sebelumnya. Oleh karena itulah orang-orang menangis pada saat kewafatannya. Akan tetapi orang miskin itu heran melihat orang-orang begitu sedih dan bertanya-tanya apalah artinya kewafatan Maharaja Ranjit Singh jika dibandingkan dengan kewafatan ayahnya. Pelajaran yang ingin Hadhrat Masih Mau’ud as tarik dari kisah ini adalah bahwa segala hal yang seseorang senangi dan hargai itulah yang berharga di matanya.  Meskipun Maharaja Ranjit Singh telah memberikan pengaruh kepada ribuan orang, namun orang ini tidak peduli karena baginya, yang terpenting adalah ayahnya sendiri, yakni yang telah mencurahkan perhatiannya kepadanya.

Bahkan beberapa benda kecil akan tampak besar bagi kita jika kita membutuhkannya. Akan tetapi karena kurangnya pengetahuan, kita senantiasa menganggap benda yang besar menjadi kecil. Meskipun kepada seorang anak kecil diberikan perhiasan yang mahal, lalu apakah mereka akan mempedulikannya?

Kita hendaknya fokus untuk menghormati masyarakat secara keseluruhan, bukan hanya terbatas di lingkungan kita saja. Ketika seorang ahmadi melakukan kebaikan di masyarakat, hal tersebut akan memberikan dampak tidak hanya pada dirinya saja namun juga terhadap Jemaat. Oleh sebab itu, jika kita memperlihatkan kasih sayang pada lingkungan yang lebih luas maka sarana pertablighan pun akan terbuka. Dunia akan menyadari bahwa hanya ajaran Islam sejati lah yang dapat memberikan kedamaian yang hakiki.

Beberapa orang memberikan pengorbanan yang kecil lalu beranggapan bahwa mereka telah melakukan ihsan yang besar.

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menyebutkan suatu perkara berkenaan dengan orang-orang yang seperti ini. Diriwayatkan bahwa seseorang menerima kehadiran seorang tamu di rumahnya. Ia memberikan pelayanan yang luar biasa. Ketika tamu itu hendak pulang, ia meminta maaf kepada tamunya bahwa karena istrinya sedang sakit dan karena alasan lainnya, ia tidak dapat sepenuhnya memberikan pelayanan yang baik. Ia berharap agar dimaafkan atas kekurangannya tersebut.

Tamu tersebut kemudian berkata, “Saya tahu bahwa dengan berkata demikian, engkau ingin saya memuji engkau. Namun seharusnya engkau berterima kasih kepada saya.” Tuan rumah itu berkata bahwa ia tidak berniat demikian. Tamu itu kemudian berkata bahwa ia sepenuhnya tahu akan nianya, lalu melanjutkan bahwa “Lihatlah, hendaknya engkau tahu bahwa saya dapat membakar rumah engkau ketika engkau mempersiapkan makanan. Namun saya tidak melakukannya. Bukankah itu suatu ihsan yang besar? Maka hendaknya engkau berterima kasih kepada saya.” Tuan rumah itu kemudian berterima kasih kepadanya karena tidak membakar rumahnya.

Seorang mukmin hendaknya berterima kasih kepada yang lain alih-alih meminta orang lain agar berterima kasih kepadanya.

Suatu kali seorang raja yang begitu condong dan terkesan dengan seorang Pir dan selalu berkata kepada salah seorang mentrinya bahwa ia harus pergi menemuinya. Namun karena sang mentri mengenal Pir tersebut, maka ia selalu berupaya menghindar untuk tidak pergi ke sana. Namun suatu kali ketika raja hendak mengunjungi Pir tersebut, raja juga mengajak mentri tersebut untuk ikut bersamanya. Pir itu kemudian memberikan referensi yang sangat keliru mengenai sejarah dan sang mentri itu berkata seraya mencela kebodohan yang diperlihatkannya. Akhirnya sang raja pun kehilangan rasa hormatnya terhadap Pir tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menyebutkan hal ini lalu bersabda bahwa hendaknya seseorang memperhatikan serta mengenal lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu kemanapun kita pergi, adalah penting untuk memahami kebiasaan-kebiasaan serta praktik-praktik yang ada di sana.

Sekarang ini, para mubaligh kita ditanya mengenai kondisi dunia. Semua mubaligh hendaknya memiliki pengetahuan yang luas tentang sejarah, geografi, kedokteran, tatakrama dalam berpidato dan di dalam majelis – paling tidak hingga suatu tingkatan sehingga dapat ikut dalam majelis yang dihadiri oleh orang-orang terhormat. Hal ini tidaklah sulit untuk diperoleh. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit usaha. Oleh sebab itu, bacalah buku-buku dasar berkenaan dengan pengetahuan di bidang ini. Terlepas dari hal ini, terkadang ketika mubaligh-mubaligh kita ditanya mengenai peristiwa yang terjadi saat ini, mereka tidak dapat menjawabnya dengan memadai karena mereka tidak berupaya mencari tahu atau tidak begitu mendalami apa yang sedang terjadi di dunia saat ini. Dalam kondisi seperti ini, terkadang orang-orang dunia berlalu dengan kesan buruk dan terkadang juga diterima pengaduan berkenaan dengan hal ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa ada seseorang yang memiliki 2 orang putra. Ia membagikan hartanya kepada mereka berdua. Putra yang paling muda mengambil hartanya lalu kabur dan menyia-nyiakan hartanya. Ketika ia kehilangan segalanya, ia akhirnya menjadi seorang buruh. Namun melihat ketidakmampuannya bahkan untuk memberi makan dirinya sendiri meskipun sudah bekerja dan juga melihat bahwa ayahnya mempekerjakan begitu banyak karyawan serta juga peduli terhadap mereka, maka ia memutuskan untuk kembali ke ayahnya dan meminta pekerjaan. Ayahnya dengan senang menolongnya serta merayakannya dengan menyemblih seekor hewan untuk menghormati putranya yang telah kembali dan sebagai bentuk ungkapan kebahagiaan.

Ketika putra lainnya pulang, ia tidak menyukai perayaan untuk adiknya dengan cara seperti ini. Adiknya itulah yang telah membuang-buang hartanya. Ia kemudian berkata kepada ayahnya bahwa ia selalu mentaatinya namun tidak pernah diperlakukan begitu baiknya seperti yang dilakukan terhadap adiknya. Sang ayah menjawab, “Engkau selalu berada bersama saya dan segala yang saya punya sesungguhnya adalah milik engkau. Namun kebahagiaan ini dirayakan karena putra saya yang hilang dan mati, sekarang telah ditemukan lagi dan hidup kembali.”

Ketika seseorang mengakui kelemahannya di hadapan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berpaling kepada mereka dengan kasih sayang dan menerima pertaubatan mereka. Oleh karena itu, belajarlah untuk memaafkan saudara kalian yang datang kepada kalian dengan hati yang bersih untuk mengakui kekurangan mereka. Juga doakanlah mereka yang tidak meminta maaf.

Hendaknya kalian memiliki karaktek kepribadian yang teguh dalam segala kondisi dan tidak plin-plan [ragu-ragu]. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa meriwayatkan sebuah kisah bahwa seorang raja suka makan terung. Ketika pelayannya mendengar hal ini, ia mulai sangat memuji terung tersebut. Setelah beberapa hari raja tersebut menjadi sakit karena makan terung itu dan berkata bahwa ia tidak menyukai terung. Mendengar hal ini, pelayannya mulai mengatakan hal yang buruk mengenai terung.

Seseorang yang melihatnya melakukan hal tersebut berkata, “Beberapa hari yang lalu engkau memuji terung ini namun sekarang engkau menyebutkan hal-hal yang buruk mengenainya.” Pelayan tersebut berkata, “Lihatlah, saya adalah pelayan raja, bukan pelayan terung tersebut.”

Inilah karakter yang kita lihat pada diri umat Islam hari ini. Umat Islam hendaknya menunjukan karakter dan akhlak yang paling kuat. Namun kita menyaksikan bahwa umat Islam saat ini lah yang menunjukan karakter dan akhlak yang paling buruk. Dimanapun mereka melihat adanya keuntungan bagi diri mereka meskipun hanya sedikit, barulah mereka berpaling ke arah tersebut, baik pemimpinnya ataupun masyarakat biasa, keduanya sama saja.

Menjalin perhubungan dengan Allah Ta’ala menciptakan keteguhan bagi seseorang dalam segala urusannya. Perhubungan ini dapat meningkat hanya melalui ketakwaan. Kita, para ahmadi yang mendakwakan bahwa telah menerima kedatangan Masih Mau’ud as, harus menjalankan ajaran Islam serta mengadakan perbaikan di dalam diri mereka. Kita harus menjalin ikatan dengan Allah Ta’ala dan menjalani kehidupan kita sesuai dengan hal tersebut. Jika kita adalah orang yang bertakwa dan takut kepada Allah Ta’ala, maka barulah kita dapat menyaksikan kesuksesan. Para malaikat senantiasa menolong kita. Insya Allah.

Kita semua perlu memikirkan bagaimana cara mendirikan ketakwaan dan menjalin ikatan dengan Allah Ta’ala. Ketika seorang duniawi bisa memperoleh manfaat dari hubungan duniawi dengan seorang duniawi lainnya, maka hubungan dengan Allah Ta’ala bisa memberikan pertolongan kepada kita ribuan hingga ratusan ribu kali lebih besar.

Ada seseorang yang akan melakukan perjalanan dan meninggalkan beberapa uang dengan seorang hakim sebagai amanat. Namun ketika ditagih kembali sewaku pulang, sang hakim malah beralasan, “Uang mana yang pernah kamu titipkan.”

Akhirnya orang tersebut mengeluh kepada raja dan raja memutuskan untuk menolongnya. Sang raja memintanya untuk mengikuti serangkaian tindakan yang sedemikian rupa sehingga orang akan berfikir bahwa ia memiliki hubungan yang baik dengan raja. Raja tersebut mulai mengobrol lama dengan orang tersebut. Ketika orang yang diberi amanat untuk memegang uang tersebut melihat kedekatan orang ini dengan sang raja, ia pun kemudian memutuskan untuk mengembalikan uang itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda kenapa kita harus khawatir dengan penentangan dunia? Semuanya adalah milik Allah Ta’ala. Jika Allah Ta’ala menghendaki agar jangan menyerang orang ini, lalu siapakah yang mampu menyerangnya? Oleh karena itu, hendaknya seorang hamba senantiasa berupaya meningkatkan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Kesuksesan yang hakiki adalah dengan menyerahkan dirinya di singgasana ilahi.

Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan suatu permisalan yakni seorang mukmin sejati merupakan sahabat bagi seorang teman yang setia. Suatu kali seorang ayah berkata kepada anaknya, “Tidak seorang pun teman kalian yang setia. Mereka di sini hanya memanfaatkan engkau.” Sang ayah melanjutkan, “Saya hanya menemukan seorang teman yang jujur sepanjang hidup saya.” Ayah tersebut ingin agar anaknya menguji teman-temannya. Ketika teman-temannya tahu bahwa anak tersebut tidak lagi diberi uang oleh ayahnya, mereka mulai menjauh darinya kemudian meninggalkannya. Anaknya itu mendekati mereka namun tak seorang pun yang ingin menemuinya. Anak tersebut berkata kepada ayahnya bahwa mereka semua tidak setia.

Sang ayah kemudian berkata bahwa ia akan memperkenalkan temannya kepada anaknya. Mereka tiba di rumah temannya tersebut di tengah malam lalu mengetuk pintunya. Akan tetapi temannya tersebut lama keluar. Anaknya berfikir bahwa teman ayahnya ini pun juga sama. Namun setelah beberapa saat, teman ayahnya keluar. Kemudian ia menjelaskan bahwa ia telat keluar karena berfikir bahwa ia mungkin perlu menolong temannya ini. Oleh karena itu, ia keluar dengan membawa pedang, satu tas uang dan juga istrinya agar bisa menawarkannya bantuan apa yang diperlukan.

Ia membawa pedang kalau-kalau temannya berada dalam bahaya. Ia membawa sejumlah uang agar bisa menolongnya dari segi keuangan. Ia membawa istrinya kalau-kalau temannya sakit. Sang ayah berkata bahwa ia tidak bermaksud mengganggu. Ia di sana hanya ingin memberikan suatu pelajaran kepada anaknya. Inilah contoh persahabatan yang baik. Oleh sebab itu, hendaknya persahabatan kita dengan Allah Ta’ala semakin meningkat.

Orang-orang mukmin hendaknya berdoa kepada Allah Ta’ala dengan sungguh-sungguh. Allah Ta’ala telah memberikan berbagai macam sarana demi kenyamanan kita. Allah Ta’ala senantiasa memenuhi keinginan kita tanpa pamrih. Dan jika Dia tidak memenuhi satu keinginan, maka janganlah kita malah menjadi cemas dan berburuk sangka. Mereka yang tidak memberikan perhatian terhadap huququl ibad, hendaknya mengintrospeksi diri mereka. Mereka yang gagal mendahulukan kepentingan agama hendaknya mengintrospeksi diri mereka. Mereka yang telah datang ke negara-negara eropa karena Jemaat Ahmadiyah, namun belum memberikan perhatian untuk mengkhidmati Jemaat ini, atau bahkan terkadang lupa dan berkeberatan terhadap hal ini, hendaknya juga mengintrospeksi diri mereka. Orang-orang seperti ini adalah yang tidak setia.

Kesetiaan sejati tersebut ialah seperti yang disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ia senantiasa menunjukan kesetiaannya baik kondisi senang maupun susah. Ia siap memberikan pengorbanan kapanpun demi Allah Ta’ala. Hadhrat Muslih Mau’ud ra telah menggambarkan dengan sangat indah sekali bahwa dimana ada kecintaan sejati maka tidak perlu adanya dalil atau alasan di baliknya. Ketika kita menyatakan ketaatan, maka tidak perlu adanya penjelasan mengenai hal ini. Demikianlah kondisi para nabi yakni tatkala turun firman Allah Ta’ala, maka mereka senantiasa menerimanya dengan sepenuh hati lalu memikirkan bagaimana cara untuk memenuhi rencana Allah Ta’ala tersebut.

Allah Ta’ala membangkitkan Hadhrat Rasulullah saw untuk memberikan petunjuk bagi manusia dan beliau saw memikirkan bagaimana cara mencapai tujuan beliau saw. Sekarang telah berlalu 126-127 tahun sejak dimulainya Era Baru [sejak masa diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud as, red]. Berapa banyak dari kita yang senantiasa mengintrospeksi dirinya kenapa kita memperoleh kebahagiaan ini yakni kita dapat baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as? Sedangkan banyak orang yang menunggu kedatangan Masih Mau’ud as namun lebih dulu meninggal. Hari kesuksesan serta kebahagiaan ini hendaknya mengingatkan kita terhadap keberkatan dari kedatangan seseorang yang dulunya dianggap hina oleh dunia dan tidak memiliki apapun, namun kemudian dibangkitkan oleh Allah Ta’ala. Lalu Hadhrat Masih Mau’ud as berkata, “Wahai Allah Ta’ala, sekarang aku sudah bangkit.” Inilah pencahiran kecintaan terhadap Allah Ta’ala dan Dia pun menganugerahkan kasih sayangnya.

Tangisan, tertawaan dan olok-olokan itu jauh dari sifat Allah Ta’ala. Namun dalam hal kecintaan yang besar, Dia senantiasa dapat memperlihatkan-Nya. Jika Allah Ta’ala bisa tertawa, maka Dia akan tertawa pada saat melihat seseorang yang Dia telah tegakan itu berdiri, yakni Hadhrat Masih Mau’ud as, untuk mengadakan ishlah di dunia ini dan tidak berfikir sedikitpun bagaimana beliau as akan mampu melakukan pekerjaan yang begitu berat ini. Dan jika Allah Ta’ala bisa menangis, maka Dia akan menangis melihat seseorang yang memiliki kecintaan yang begitu dalam kepada-Nya. Tidak ada contoh persahabatan yang sebanding dengan persahabatan para nabi dengan Allah Ta’ala. Hubungan para nabi dengan Allah Ta’ala berada pada tingkatan yang jauh lebih tinggi.

Dalam hal kecintaan, teman yang miskin itu keluar dengan pedang, harta dan istrinya untuk menolong temannya. Ketika ia benar-benar jatuh cinta, maka ia akan mengesampingkan akal sehatnya. Ketika seseorang merasa khawatir, maka ia pun akan mengabaikan akal sehatnya. Sebenarnya, hasrat dan kecintaan inilah bentuk kesetiaan sejati tersebut.

Ketika Allah Ta’ala berkata kepada para utusannya bahwa Tuhan yang melihat seluruh dunia ini meminta mereka untuk memberikan pertolongan, maka mereka tidak mengatakan, “Bagaimana kami bisa menolong Engkau sementara Engkau adalah pemelihara dan penjaga seluruh alam semesta? Apalah artinya kami yang miskin dan tidak dapat melakukan apapun ini.” Sungguh mereka tidak akan berkata demikian melainkan akan berdiri tegak dan berseru, “Labaik, kami hadir!”

126 tahun yang lalu, Allah Ta’ala mengangkat suara-Nya dan menyeru seseorang yang mengasingkan dirinya di Qadian. Allah Ta’ala berfirman, “Dunia telah merusak nama-Kua. Aku sangat putus asa, wahai ciptaanku! Tolonglah aku.” Orang tersebut tidak berfikir, “Allah Ta’ala itu Maha Kuasa. Bagaimana saya bisa menolongnya?” Akan tetapi, ia malah berdiri dan berkata “Wahai tuhanku, aku hadir, aku hadir. Aku akan menyelamatkan dunia dengan keimanan ini.”

Ketika kita menyatakan berada di dalam jemaat seorang pecinta Hadhrat Rasulullah saw, ketika kita yakin bahwa Islam telah memasuki kembali era kebangkitannya dan akan sampai ke seluruh penjuru dunia, dan ketika kita telah masuk ke dalam jemaatnya menjadi penolong Hadhrat Masih Mau’ud as, maka katakanlah ‘labaik’ dan persembahkanlah diri kita.

Ungkapkanlah kecintaan kalian kepada Allah Ta’ala, kepada utusan-Nya dan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Introspeksilah diri kalian dan tingkatkanlah standar kalian kerohanian kalian. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat mengamalkannya. Amin.

Penerjemah: Hafizurrahman