Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat
oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
di Masjid Baitul Futuh 
London, 18 Maret 2016

BEBERAPA orangtua memarahi anak-anak mereka begitu keras mengenai berbagai hal sementara yang lainnya malah bersikap begitu lunak ketika anak-anak mereka melakukan kesalahan. Sikap seperti ini akan membuat mereka tidak memahami mana yang benar dan yang salah. Kedua cara tersebut memberikan pengaruh buruk dalam mendidik anak. Terlalu ketat dan berulang kali memarahi anak-anak akan membuat mereka menjadi nakal. Bahkan mereka tidak peduli lagi terhadap mana yang benar. Memiliki kegemaran terhadap hal yang tidak ada gunanya juga berdampak negatif terhadap anak-anak, khususnya para remaja. Kebanyakan yang terjadi adalah bahwa sikap para ayah yang membuat masalah semakin buruk. Anak-anak di usia remaja butuh penjelasan dengan alasan yang masuk akal. Terutama pada zaman sekarang dimana mereka tidak hanya dipengaruhi oleh apa yang ada di sekitar mereka namun juga rentan terpengaruh dari berbagai hal, tidak hanya di tingkat nasional namun juga internasional. Dalam kondisi demikian, para ayah perlu memberikan perhatian khusus untuk melihat kapan anak-anak itu seharusnya diperlakukan dengan ketat dan kapan mereka diperlakukan dengan lembut. Ini merupakan tanggung jawab para ayah dan seharusnya tidak diberikan begitu saja para ibu sendiri yang menangani masalah ini.

Berkenaan dengan bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan tarbiyat kepada anak-anak, Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan beragam hewan untuk berbagai tujuan. Ada yang indah untuk dipandang, ada yang memiliki suara merdu dan ada pula yang untuk dimakan. Artinya seseorang tidak harus memakan semua hewan yang halal. Dengan contoh tersebut, beliau ra menjelaskan bahwa mungkin saja seekor hewan tersebut memakan serangga yang berbahaya dan akibatnya, daging hewan itu yang meskipun dikatakan halal, tetapi tidak baik bagi  manusia.

Beliau ra ingat suatu pelajaran yang diajarkan kepada beliau ra sewaktu kecil. Beliau ra berburu seekor burung kakak tua dan membawanya pulang. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Mahmud, memakan daging burung tersebut tidaklah dilarang. Akan tetapi Allah Ta’ala tidak menciptakan semua hewan untuk dimakan saja.” Beliau as menjelaskan bahwa beberapa hewan indah untuk dipandang, sedangkan ada juga yang memiliki suara yang merdu untuk didengar. Dengan demikian, Allah Ta’ala menciptakan beraneka ragam hewan untuk memberikan beragam kenikmatan bagi indra manusia dan janganlah seluruh hewan itu hanya untuk dikonsumsi saja. Lihatlah, betapa indahnya burung kakak tua dan ia tampak begitu elok ketika bertengger di atas pohon.

Tarbiyat seperti ini tidak hanya berdampak ke dalam hati anak-anak bahkan juga tertanam di dalam diri mereka perintah Ilahi yang menyebutkan bahwa meskipun apa yang halal dan toyyib itu dapat dimakan namun perlu juga kehati-hatian dalam hal ini. Makna dari toyyib di sini di beberapa tempat bisa berubah. Beberapa hewan dan burung itu toyyib di suatu tempat namun menjadi tidak toyyib lagi di tempat lainnya meskipun halal karena hewan dan burung tersebut memberikan manfaat yang lebih besar dari sisi lain daripada hanya sekedar dikonsumsi saja.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as datang ke dunia ini untuk menjauhkan dan menghilangkan bid’ah serta untuk memperlihatkan ajaran Islam yang indah. Oleh sebab itu, tidak mungkin wujud beliau as itu melakukan atau menyebarkan bid’ah. Naudzubillah. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menceritakan suatu riwayat bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as meminta seseorang untuk mengambil foto beliau as. Namun, ketika diperlihatkan kepada beliau as sebuah kartu pos yang menampilkan foto beliau as, beliau as bersabda bahwa hal tersebut tidaklah diizinkan. Beliau memerintahkan bahwa hendaknya tidak ada seorang pun yang membeli kartu pos itu. Walhasil, tidak ada seorang pun yang berani mengulangi hal tersebut.

Hadhrat Khalifatul Masih V aba bersabda sebagai berikut:

Bagaimanapun juga, saat ini aku telah melihat Twitter dan Whatsapp bahwa beberapa orang berupaya untuk mengedarkan kartu pos yang lama tersebut. Mereka telah memperolehnya dari orang-orang tua mereka ataupun dengan membelinya dari suatu toko yang menjual barang-barang lama. Hal ini adalah keliru dan hendaknya dihentikan. Hadhrat Masih Mau’ud as meminta agar beliau as difoto sehingga orang-orang yang berada di tempat-tempat yang jauh, khusunya orang-orang Eropa yang bisa menilai watak seseorang melalui ciri-ciri wajah, mereka akan melihatnya dan foto itu akan membawa mereka pada kebenaran. Namun, ketika melihat bahwa orang-orang malah menjadikannya sebagai sarana bisnis lalu menjual-belikan foto beliau as yang ada di kartu pos, maka Hadhrat Masih Mau’ud as merasa hal ini bisa menimbulkan bid’ah-bid’ah buruk dan kemudian melarangnya dengan keras. Terkadang di tempat lain, beliau as meminta agar kartu-kartu pos tersebut untuk dihancurkan.

Orang-orang yang memiliki bisnis berjualan foto-foto dan menjualnya dengan harga yang tinggi hendaknya memberikan perhatian terhadap hal ini. Ada juga beberapa orang yang memberikan warna terhadap foto Hadhrat Masih Mau’ud as walaupun sebenarnya foto tersebut tidak berwarna. Hal ini benar-benar keliru dan hendaknya juga dihindari. Selain itu, penggunaan foto para Khalifah secara tidak benar hendaknya juga dihindari.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa tidaklah benar dengan mengatakan bahwa bioskop dan fonograf itu mengandung hal-hal yang buruk. Fonograf adalah alat perekam suara yang pernah digunakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as untuk merekam syair beliau as. Dengan demikian, bioskop itu sendiri bukanlah hal yang buruk. Namun pada hari ini, apa yang ditayangkan di bioskop itu adalah tayangan yang tidak bermoral. Jadi, tidak ada salahnya jika menayangkan film yang mengandung unsur tabligh dan tarbiyat dan tidak tontonan yang aneh-aneh di dalamnya. Beliau as bersabda bahwa tontonan yang aneh-aneh itu adalah tetap saja salah walapun digunakan untuk pertablighan.

Hadhrat Khalifatul Masih V aba bersabda bahwa hendaknya hal ini menjadi jelas bagi mereka yang menyarankan bahwa tidak masalah jika ada sedikit musik di program-program MTA atau tidak masalah jika ada sedikit musik di radio Voice of Islam yang baru saja dimulai. Hadhrat Masih Mau’ud as telah datang untuk menghentikan bidah-bidah yang berbahaya ini dan kita harus menyatukan pemikiran kita dengan misi pengutusan beliau as ke dunia ini. Tidak dilarang untuk mengambil manfaat dari berbagai penemuan baru. Akan tetapi penggunaan yang salah akan menjadikannya berbahaya. Beberapa orang berpandangan bahwa perkara tabligh dan tarbiyat hendaknya disampaikan dengan cara yang didramatisir. Hendaknya senantiasa diingat jika kita mempersembahkan sesuatu yang salah, maka ratusan bid’ah yang berbahaya akan mengikuti di belakangnya.

Orang non-Ahmadi mungkin saja beranggapan bahwa boleh membaca Al-Quran disertai dengan musik. Akan tetapi, para Ahmadi harus berjihad menentang bid’ah dan harus berupaya sebisa mungkin agar terhindar hal-hal ini. Seorang non-Ahmadi menulis sebuah cerita lucu di sebuah yang juga menunjukan kebodohan para maulwi. Dengan demikian, kita mengetahui cara berfikir mereka. Ia menulis bahwa seorang maulwi sedang terbuai mendengarkan nyanyian seorang penyanyi wanita Arab. Ia juga terus mengucapkan Subhanallah dan Masha Allah. Ketika seseorang bertanya kepadanya mengapa ia begitu terbuai, maulwi itu menjawab, “Apakah engkau tidak dapat melihat betapa indahnya wanita itu membacakan Al-Quran!” Jadi karena nyanyian tersebut dalam bahasa Arab, jadi maulwi itu menganggap bahwa itu adalah Al-Quran. Seperti inilah bagaimana pola fikir itu terpengaruh seiring dengan menyebarnya bid’ah-bid’ah yang berbahaya.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa para dokter, khususnya dokter-dokter India, beranggapan bahwa ketika mengobati pasien, mereka bisa mengobatinya sendiri tanpa harus merujuk dan meminta saran-saran kepada orang lain. Hudhur ra bersabda bahwa 99% dokter India akan menganggap bahwa meminta saran dari orang lain itu sebagai suatu kehinaan. Tidak diragukan lagi bahwa Dr. Hashmat Ullah Sahid, yang merupakan dokter pribadi beliau ra pada saat itu, adalah seorang dokter yang, menurut beliau ra, memiliki pengalaman yang lebih banyak daripada dokter-dokter lainnya. Namun hal ini bukan berarti bahwa beliau tidak perlu meminta saran-saran dari dokter lain. Beliau ra berkata bahwa adalah sunnah Hadhrat Masih Mau’ud as yang senantiasa beliau ikuti bahwa ketika beliau ra sakit pada tahun 1918, beliau ra mengumpulkan dokter dan tabib dan meminum obat baik yang dari dokter dan yang dari  tabib. Tidak diketahui dari mana Allah Ta’ala akan memberikan faedah, apakah dari dokter ataukah dari tabib. Ada orang yang beranggapan bahwa dokter itu adalah tuhan akan tetapi kita menganggap bahwa dokter itu juga merupakan hamba Allah Ta’ala.

Terkadang pengobatan herbal lebih memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap suatu penyakit daripada pengobatan biasa. Beberapa orang memiliki resep obat herbal tertentu yang dapat berkerja dengan sangat baik. Hadhrat Muslih Mau’ud ra menceritakan bahwa ada luka di hidung Syed Ahmad Noor Sahib yang tidak kunjung membaik meskipun sudah diobati dengan beragam cara. Pada akhirnya, ia pergi ke Peshawar dan bertemu dengan seorang tukang cukur yang kemudian memberinya obat. Setelah 3 hari memakan obat itu, lukanya menjadi sembuh.
Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa ada banyak ahli yang memiliki keterampilan yang mestinya ilmunya dapat dikembangkan lagi, misalnya dengan mengadakan penelitian dari tanaman herbal tersebut. Akan tetapi, apa yang terjadi adalah bahwa di negara-negara berkembang, mereka tidak mengupayakan diadakannya penelitian yang lebih lanjut terhadap tanaman-tanaman seperti itu sehingga pengetahuan dan keterampilan tersebut tidak bertambah maju. Jika perhatian khusus diberikan terhadap hal ini, maka mungkin penemuan-penemuan baru bisa muncul dari tanaman-tanaman herbal itu.

Terkadang para tukang cukur atau pegulat profesional dapat mengobati berbagai keluhan berkenaan dengan tulang dan penyakit-penyakit yang sudah lama. Keterampilan ini hendaknya dipelajari lalu disebarkan. Pada zaman dulu, orang-orang tidak mau memberikan ilmunya dan pada akhirnya ilmu tersebut hilang begitu saja. Mereka beranggapan bahwa jangan sampai orang lain mengetahui ilmu yang mereka miliki. Akan tetapi tidak demikian yang terjadi di Eropa, bahwa mereka malah menurunkan ilmu dan keterampilan mereka kepada yang lain.

Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menceritakan bahwa seorang tukang cukur memiliki pengetahuan tentang ramuan yang dapat menyembuhkan luka yang parah. Anaknya meminta resep ramuan tersebut seraya berkata bahwa hendaknya ada 2 orang yang tahu resep ramuan tersebut. Akan tetapi, tukang cukur itu menolak memberikan resep rahasianya. Ketika ia sudah tua dan sakit parah, anaknya kembali meminta resep tersebut. Tukang cukur itu berkata, “Jadi, apakah engkau fikir saya akan mati dan akan berbagi rahasia resep ramuan tersebut? Namun, bagaimana jika saya sembuh! Akhirnya ia tidak memberitahukan resep ramuan tersebut kepada anaknya dan bahkan membawa resepnya itu ke dalam kuburannya. Tidak berbagi hal-hal semacam itu malah akan menjadi sumber yang mendatangkan kehinaan, bukan kemajuan. Oleh sebab itu, hendaknya ilmu-ilmu seperti itu diwariskan kepada orang lain.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah menerima banyak wahyu berkenaan dengan gempa yang terjadi pada 4 April 1905. Sesuai dengan firman Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud as kemudian pindah ke kebun. Beberapa orang yang kurang akal berkata bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah pindah ke kebun itu karena takut wabah pes yang sedang tersebar pada saat itu. Namun demikian, mengherankan sekali bahwa beliau as juga mendengar perkataan demikian keluar dari mulut beberapa Ahmadi walaupun sebenarnya Hadhrat Masih Mau’ud as tidak pernah meninggalkan rumah beliau karena adanya wabah tersebut. Beliau as telah menerima banyak sekali wahyu mengenai gempa bumi pada saat itu sehingga beliau as merasa perlu untuk tinggal di kebun selama beberapa hari untuk menghindari gempa itu. Beliau as juga meminta beberapa sahabat untuk tinggal bersama beliau as. Karena semuanya terjadi cukup cepat, beberapa orang tinggal di tenda-tenda dan yang lainnya menggelar tikar di atas bebatuan dan membuat gubuk-gubuk.

Seraya mengingat saat ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan Khutbah Ilhamiyahnya, Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa itu adalah saat ketika Allah Ta’ala berfirman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as agar menyampaikan khubah ied beliau as dalam bahasa Arab dan untuk itu beliau as akan diberikan ilmu pengetahuan. Beliau as sungguh tidak pernah secara resmi berbicara dalam bahasa Arab sebelumnya. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa pada saat itu beliau ra masih kecil sehingga beliau ra sama sekali tidak mengerti khutbah tersebut. Akan tetapi beliau ra ingat sedang mendengarkan seluruh khutbah tersebut dengan penuh perhatian yang menunjukan ketinggian kerohanian Hadhrat Masih Mau’ud as.

Suatu kali orang-orang tidak yakin mengenai mesjid mana yang disebutkan pada selebaran yang ada pada khutbah ilhamiyah tersebut. Oleh sebab itu, Hadhrat Muslih Mau’ud ra meminta agar selebaran tersebut dibawa kepada beliau ra. Setelah membacanya, beliau ra menjelaskan bahwa mesjid yang dimaksud adalah Masjid Mubarak yang telah didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau ra kemudian meriwayatkan bahwa suatu kali Hadhrat Ummul Mukminin jatuh sakit selama hampir 40 hari. Karena ada wahyu berkenaan dengan hal ini, maka Hadhrat Muslih memutuskan untuk memberikan obat kepada Hadhrat Amman Jaan. 2 hari setelahnya, Hadhrat Amman Jaan menjadi sembuh!

Hadhrat Muslih Mau’ud ra memberikan nasehat kepada para dokter untuk ikut terlibat dalam mengkhidmati agama. Beliau ra bersabda bahwa orang-orang yang sakit itu lebih cepat terpengaruh oleh kebenaran. Ketika seorang dokter bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bagaimana ia bisa mengkhidmati agama, maka beliau as memintanya untuk bertabligh kepada pasiennya karena pasien memiliki hati yang lembut. Hendaknya pemikiran seperti ini dimiliki oleh setiap dokter. Dengan demikian, seiring dengan mencari nafkah dunia, dokter tersebut juga mendapatkan kesempatan untuk mengkhidmati agama serta menarik karunia Allah Ta’ala.

Saat ini, masalah pardah muncul di negara-negara Barat. Mereka mengangkat isu ini baik atas nama hak wanita, atau untuk menghapuskan terorisme atau untuk melancarkan keberatan terhadap Islam. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran berkenaan dengan pardah:

إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“… Kecuali apa yang dengan sendirinya nampak darinya…” [An-Nur, 24:32]

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa hal ini berarti bagian tubuh yang dengan sendirinya tampak dan yang tidak dapat disembunyikan, contohnya tinggi seseoreng atau ketika dokter memeriksa bagian tubuh seseorang. Hadhrat Masih Mau’ud as biasa berkata bahwa adalah mungkin saja seorang dokter meminta seorang wanita untuk tidak menutupi wajahnya karena akan mengganggu kesehatannya. Dalam kondisi demikian, adalah boleh bagi wanita untuk keluar rumah tanpa menutupi wajahnya. Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda bahwa jika ada kebutuhan yang mendesak bagi dokter pria untuk membantu proses kelahiran, maka itupun hendaknya dilakukan. Seorang wanita yang mengingkari kemudahan ini dan kemudian meninggal adalah sama saja dengan melakukan bunuh diri dalam pandangan Allah Ta’ala. Juga, terkadang para wanita pergi bertani di ladang bersama dengan keluarga mereka, inipun boleh boleh saja. Semua hal ini termasuk kategori:

إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“… Kecuali apa yang dengan sendirinya nampak darinya …” [An-Nur, 24:32]

Jadi Islam memberikan kebebasan dalam hal ini dan juga menetapkan batas-batasnya.

Berkenaan dengan tafaqqahu fi din, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa pondasi islam adalah pada tafaqquh. Jadi terdapat berbagai hikmah di dalamnya. Sebelum ini dipahami dengan baik, manusia terkadang tertipu dan menuju kesesatan.

Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud as pernah bersabda di suatu majelis bahwa jika seseorang bersikap atas dasar ketakwaan, maka ia boleh menikah 100 kali. Kemudian pemahaman ini disebarkan. Ada orang yang beranggapan bahwa bahwa menurut keyakinan Hadhrat Masih Mau’ud as, batasan menikah itu tidak hanya 4 istri saja tetapi boleh sebanyak mungkin yang diinginkan.

Perkara ini kemudian dibawa ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as menjelaskan bahwa apa yang beliau as sampaikan berarti bahwa jika seorang istri meninggal atau ia telah cerai dengan istrinya, maka ia bisa menikah lagi. Dalam beberapa agama berpandangan bahwa seseorang sama sekali tidak dapat menikah lagi sedangkan Hadhrat Masih Mau’ud as memiliki pandangan yang berbeda. Jika Jika sabda-sabda beliau as tidak dijelaskan secepatnya, maka hal tersebut akan dipahami bahwa seseorang dapat menikah sebanyak mungkin yang diinginkan sepanjang ia berjalan di atas ketakwaan.

Dahulu, Jemaat ini masih kecil dan anggota satu sama lain seringkali bertemu di Qadian, maka ketika mendengar suatu perkara, mereka pun mendiskusikannya dengan teliti. Ada itikaq yang diyakini oleh Hadhrat Khalifatul Masih I ra hingga suatu masa lalu suatu kali bersabda bahwa hanya menikahi 4 orang istri saja tidak terbukti dari syariah. Beliau ra mengutip riwayat Abu Daud bahwa Hadhrat Imam Hassan telah menikah 18 atau 19 kali. Hal ini kemudian diputuskan untuk dibawa ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as. Seseorang menghadap Hadhrat Masih Mau’ud as dengan penuh ghairat seraya membawa buku yang mengutip riwayat Abu Daud itu.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan Hadhrat Muslih Mau’ud ra. Ketika ditanya, ia berkata bahwa Hadhrat Khalifatul Masih I ra memberikan referensi ini untuk diperlihatkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa melihat betapa bahagianya orang tersebut, beliau ra pun menunggu orang tersebut pulang setelah berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Akan tetapi tingkah lakunya telah berubah dengan kepala tertunduk setelah pulang dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika ditanya, ia menjawab bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa coba tanyakan ke Maulwi Sahib [Khalifatul Masih I ra] bahwa dimana dalam riwayat ini tertulis bahwa Hadhrat Imam Hassan menikah 18-19 kali dalam satu waktu! Tentu pernikahan tersebut tidak terjadi dalam satu waktu dan untuk itu juga ada syaratnya.  Dan syarat terbesar untuk menikah lebih dari satu itu adalah ketakwaan.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa seruan orang-orang tidak berarti dibandingakan dengan seruan seorang Imam. Adalah wajib bahwa ketika orang-orang mukmin mendengar suara seorang nabi Allah Ta’ala, maka mereka dengan segera menjawabnya dan bersegera melaksanakan apa yang dikatakan. Meskipun jika pada saat itu seseorang sedang melaksanakan shalat, maka ia hendaknya meninggalkan shalatnya dan menjawab seruan nabi Allah Ta’ala. Dengan karunia Allah Ta’ala, teladan demikian dapat ditemukan di dalam Jemaat. Suatu kali Hadhrat Khalifatul Masih I ra mengamalkan hal ini dan hadir di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beberapa sahabat lainnya juga mengamalkan hal ini di lain kesempatan. Ketika seseorang merasa keberatan terhadap hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud as mengutip ayat Al-Quran berikut:

لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ ()

“Janganlah kamu memperlakukan seruan dari Rasul di antara kamu, seperti seruan seseorang di antara kamu kepada yang lain. Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang di antara kamu yang meloloskan diri dengan sembunyi-sembunyi. Maka hendaklah hati-hati orang-orang yang menyalahi perintah-Nya supaya jangan  sampai cobaan menimpa mereka atau azab yang pedih menimpa mereka.” [An-Nur, 24:64]

Dan juga ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ()

“Hai orang-orang yang beriman, sambutlah seruan Allah dan Rasul-rasul-Nya apabila ia menyeru kamu supaya ia menghidupkan kamu, dan ketahuilah bahwa Allah swt.  menjadi pembatas di antara manusia dan hatinya dan bahwa kepada-Nya kamu akan dihimpun.” [Al-Anfal, 8:25]

Hadhrat Muslih Mau’ud ra bersabda bahwa amalan ini merupakan tanda yang luar biasa di antara tanda-tanda keimanan. Beliau ra bersabda bahwa seorang mukmin bahkan merasa cukup hanya dengan satu isyarat saja. Dan orang-orang menganggap mereka yang memiliki keyakinan seperti ini adalah gila. Seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as yakni Maulwi Yaar Muhammad Sahib memiliki kecintaan yang begitu dalam terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga ia membayangkan bahwa beliau as menganggap dirinya sebagai putra rohani beliau as. Ketika berbicara, terkadang Hadhrat Masih Mau’ud as biasa menggerakan tangannya sedemikian rupa seolah-olah sedang memberikan isyarat kepada seseorang. Pada saat seperti itu, Maulwi Yaar Sahib segera melompat dan duduk di samping Hadhrat Masih Mau’ud as. Kemudian, seseorang bertanya mengapa ia melakukan hal tersebut. Ia menjawab bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan isyarat kepadanya untuk datang. Kecintaannya yang berlebihan tersebut adalah positif dan tidak menimbulkan aspek negatif. Menjelaskan hal ini beliau ra bersabda bahwa hanya dengan melakukan gerakan tersebut, seorang sahabat langsung menganggap hal itu sebagai isyarat terhadap dirinya. Akan tetapi dalam hal lain, Allah Ta’ala secara jelas telah memberikan perintah kepada kita namun kita malah tidak memberikan perhatian terhadap hal tersebut.

Setiap pekerjaan hendaklah dilakukan untuk menarik keridhaan Allah Ta’ala, bukan untuk menyenangkan orang lain. Hadhar Muslih Mau’ud ra bersabda Maulwi Ghulam Ali merupakan seorang Wahabi yang kuat. Sekte Wahabi meyakini bahwa shalat jumat dapat dilaksanakan di India, sementara sekte Hanafi malah percaya bahwa hal tersebut tidak bisa dilakukan. Mereka beranggapan bahwa shalat jumat hanya dapat dilakukan ketika penguasa negara tersebut adalah orang islam sedangkan pada saat itu india sedang dikuasai oleh Inggris.

Karena di dalam Al-Quran dikatakan untuk menunaikan shalat Jumat dan meninggalkan segala pekerjaan, maka Maulwi Ghulan Ali ini merasa tidak tenang. Di satu sisi, beliau ingin melaksanakan shalat jumat, tetapi beliau juga tidak ingin sekte Hanafi memberikan fatwa kepadanya. Oleh sebab itu, beliau biasa melaksanakan shalat jumat lalu melaksanakan shalat dhuzur. Beliau beranggapkan bahwa jika nanti timbul masalah baik tentang shalat jumat ataupun shalat dhuzur, beliau akan tetap selamat karena telah menunaikan keduanya. Jadi, shalat dhuhur ini disebut sebagai shalat ‘pencegahan’. Jika Allah Ta’ala tidak menerima shalat Jumat mereka, maka akan dipersembahkan shalat dhuhurnya dan begitu pula sebaliknya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa suatu kali beliau as sedang bepergian ke Gurdaspur pada hari Jumat. Ketika datang waktu shalat, beliau as pergi ke mesjid untuk shalat. Maulwi Ghulam Ali ikut menemani beliau as saat itu. Mereka berdua melaksanakan shalat jumat. Akan tetapi Maulwi Ghulam Ali kemudian melaksanakan shalat dhuhur 4 rakaat. Ketika ditanya, beliau menjawab bahwa sebagai seorang wahabi, beliau tidak melaksanakan 4 rakaat lagi karena takut kalau-kalau shalat jumatnya tidak diterima. Akan tetapi beliau melakukannya agar orang-orang tidak menyalahkan beliau.

Suatu kali seseorang berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa anggota Jemaat kita mencukur jenggotnya. Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab bahwa hal yang paling utama adalah kecintaan kepada Allah Ta’ala. Ketika orang-orang ini memiliki kecintaan yang sejati kepada-Nya, maka mereka akan sungguh-sungguh mengikuti kita.
Kemudian diumumkan shalat jenazah ghaib bagi Abdul Noor Jabi Sahib dari Syiria. Beliau lahir tahun 1989. Pada bulan Desember 2013, seseorang membawa telepon genggamnya untuk menelpon. Jabi Sahib ditahan akibat adanya panggilan tersebut. Ternyata, orang yang meminjam telponnya itu merupakan seorang pemberontak Syiria yang sedang merundingkan transaksi uang dengan rekannya. Pemerintah syiria menyiksa Jabi Sahib dan ia syahid pada hari ketiga penahanan.

Hendaknya kita senantiasa berdoa untuk situasi di Syiria. Penganiayaan yang dilakukan pemerintah menimbulkan pemberontakan dan sekarang penindasan dan kekejaman yang terjadi telah melampaui batas. Selain itu juga ada Daesh, kelompok ketiga, yang melakukan tindakan barbar atas nama Islam. Semoga Allah Ta’ala menurunkan rahmat-Nya dan menghapuskan segala ketidakadilan di negeri tersebut.

Penerjemah: Hafizurrahman.

(Visited 76 times, 1 visits today)