Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Disampaikan tanggal 20 Syahadat 1391 HS/ April 2012

Bertempat di Masjid Baitul Futuh, Morden, London.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Pada hari ini saya akan menyampaikan lagi beberapa kisah para Sahabat radhiyallahu anhum diantaranya yang pertama adalah sebagai berikut:

Hadhrat Mian Abdullah Khan Shahib ra yang baiat di zaman Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalaam namun beliau tidak pernah melihat [berjumpa dengan] Hadhrat Masih Mau’ud as; beliau menerangkan, “Di tahun penyakit tha’un mulai berjangkit di Kecamatan Zafar Wal pada tahun itu saya pergi ke Sialkot. Pada waktu pagi Choudry Muhammad Husain Shahib penduduk Talwani Inayat Khan bertanya kepada saya, ‘Apakah engkau percaya Hadhrat Isa as hidup diatas langit?’ Saya menjawab kepadanya, ‘Dari segi sains tidak! Saya tidak percaya. Di dalam hati saya sedikitpun tidak mempunyai perasaan ta’ashshub [fanatik dalam hal benci maupun suka terhadap sesuatu] dalam bentuk apa pun.’ Beliau berkata, ‘Hadhrat Masih Mau’ud as, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani Shahib telah da’wa (menyatakan) bahwa beliau adalah Al-Masih yang ditunggu-tunggu akan datang itu dan Al-Masih Israili sudah wafat. Saya pada waktu itu juga menulis surat baiat kepada Hudhur dan mengakui beliau sebagai Nabi Allah Ta’ala. Setelah itu saya pergi ke Karachi untuk bekerja dan dari  sana saya pergi ke Afrika. Ayah saya ghair Ahmadi. Di waktu saya baiat beliau sama sekali tidak menentang. Namun orang-orang Wahabi yang menguasai daerah itu telah menghasut beliau. Orang-orang menghasut beliau dan berkata, “Anak tuan sudah menjadi Mirzai.” Pada tahun 1911 beliau menulis surat kepada saya yang berada di Afika. “Sampaikanlah kata-kata saya kepada Hadhrat Shahib dengan perkataan saya (yakni apapun yang beliau tuliskan )  jika tidak engkau katakan maka engkau akan kehilangan hak waris. Ketika itu saya bekerja sebagai Master Station di Sulthan Hamud Station di Kenya. Saya simpan surat itu selama 8 – 10 hari. Pada suatu malam setelah shalat Isya saya ceritakan kepada istri saya dan ia ini buta huruf. Istri saya bilang, “Orang-orang itu tidak bersedia menerima Hadhrat Shahib sebagai Mahdi mengapa mereka mendesak kita agar berkata buruk mengenai beliau [diminta mencaci-maki Hadhrat Imam Mahdi]? Allah Ta’ala lebih dulu telah mengatur kita untuk beriman kepada beliau. Sedikitpun kita tidak merasa khawatir. Tulislah kepada beliau (ayah mertua) bahwa kita tidak bersedia untuk melakukan demikian. Jangan ragu-ragu, silahkan beliau menghapus hak waris kita.” Katanya, ‘Demikianlah saya menulis surat seperti ini. Kemudian ayah saya menjawab, “Engkau anak tunggal ayah. Engkau adalah pewaris ayah. Atas desakan orang-oranglah ayah telah menulis surat seperti itu kepada engkau.” Lalu saya menulis surat kedua kalinya kepada beliau. Maka seperti itulah pula jawaban yang beliau berikan kepada saya. Ketika saya datang untuk cuti kira-kira waktu menunjukkan pukul 9.00. Pada waktu itu saya bersama Husain Shahib dan Muhammad Alim Shahib Marhum bertukar pikiran bersama almarhum Ayah kami. Keadaan diskusi sedang memanas. Ayah saya bilang, “Saya mengenal Mirza Shahib semenjak beliau bekerja di Sialkot. Saya sering berjumpa dengan beliau. Beliau orang yang sangat baik. Saya masih ingat ketika seorang petani dari Sialkot datang berjumpa dengan beliau kemudian berkata kepada Hadhrat Shahib, yakni berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Mirza Jee!! [Jayalah/Hidup Mirza!] Saya pikir tuan adalah Mahdi  yang dikenal akan datang itu.’ Pada waktu itu umur Mirza Shahib sekitar 20-22 tahun dan umur saya juga kurang lebih seperti itu.” Katanya, ‘Ketika kata-kata itu keluar dari mulut ayah saya, maka saya berkata kepada ayah saya, “Kata-kata seperti demikian yang keluar dari mulut petani itu di hadapan ayah berkaitan dengan Hadhrat Shahib, Allah Ta’ala telah menetapkannya sebagai hujjah bagi Ayah.” Namun Ayah saya berkata, “Sekalipun Hadhrat Shahib benar. Ayah tidak akan percaya.” Mendengar perkataan beliau itu kami beristighfar dan bangkit berdiri pergi dari sana.’” [2]

          Kemudian satu riwayat lain Hadhrat Syaikh Abdur Rasyid Shahib ra menerangkan, “Maulwi Muhammad Ali Bopri Shahib datang ke Batala dan beliau tinggal di tempat saya. Pada waktu itu kedua orang tua sudah mengusir saya dari rumah. Pada suatu hari teman ayah saya bernama Mehr Ali Shahib bertemu dengan saya dan berkata, ‘Pergilah dengan saya. Berbicaralah dengan Maulwi Muhammad Ali supaya kita tahu apa yang akan tuan katakan dan apa yang beliau katakan.’ (Maulwi Muhammad Ali yang bukan Ahmadi mulai berdebat dengan dia dan dengannya). Pada waktu itu saya sedang bersemangat sekali untuk tabligh. Kami segera pergi ke rumah Maulwi Muhammad Ali Shahib. Ketika sampai dan bertemu dengannya maka ia berkata, ‘Meher Shahib kenapa orang kafir ini dibawa ke hadapan saya?’ Perkataannya itu sangat janggal dan tidak mengenakkan hati Meher Ali dan begitu juga saya tidak merasa senang mendengarnya. Namun demikian, saya bermaksud untuk menyempurnakan hujjah (dalil-dalil yang kuat). Meher Ali Shahib juga mendukung maksud saya itu, [yakni ia berkata], ‘Maulwi Shahib! Jika tuan tidak dapat membuat bocah ini mengerti, bagaimana mungkin tuan dapat membuat orang Mirzai [Ahmadi] lainnya mengerti juga?’ (bila bocah ini tidak mendapat pemahaman dari anda maka siapa yang dapat membuatnya mengerti?) Setelah mendengar perkataan ini ia mengemukakan hadits “كيف أنتم إذا نزل ابن مريم فيكم وإمامكم منكم”  ‘kaifa antum idza nazala bnu maryama fiikum wa imaamukum minkum’ – “Bagaimana keadaan kamu jika (Isa) putra Maryam turun diantara kalian dan menjadi imam dari antara kalian?” mulailah ia menjelaskan menurut pendapatnya sendiri sambil memberi nasihat. Setelah ia banyak berbicara maka saya berkata, ‘Dengarkanlah penjelasan saya. Dari bentuk kata-katanya hadits ini memerlukan ta’wil (penafsiran).’ Kemudian saya mulai menjelaskan maksud Hadis itu yang membuat pikirannya kacau. (Hadis tersebut ada didalam Kitab Hadis Bukhari, Muslim dan juga di Musnad Ahmad. Riwayat Hadhrat Abu Hurairah ra. Perkataannya adalah “كيف أنتم إذا نزل ابن مريم فيكم وإمامكم منكم”،  ‘kaifa antum idza nazala bnu maryama fiikum wa imaamukum minkumdan dalam riwayat-riwayat lain  “فأَمَّكم منكم”.‘fa ammakum minkum’ “Betapa akan rawannya keadaan kalian tatkala Ibnu Maryam yaitu Matsil Masih (Persamaan Al-Masih) diutus ke dunia yang akan menjadi Imam kamu dan dia dari antara kamu.” Seperti saya katakan, dalam riwayat yang lain juga ada bahwa oleh karena beliau (Ibnu Maryam itu) dari antara kamu (umat Islam) maka beliau akan menjadi Imam kamu. Hadits itu disampaikan oleh Maulwi itu tetapi saya katakan padanya, engkau salah dalam menjelaskan). Selanjutnya saya sampaikan ayat مَا الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ مَرۡیَمَ  اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ dan ayat    وَ مَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ Kemudian saya bacakan hadist Fa aquulu kamaa qoola al abdush shoolihu(ini juga sebuah hadis yang panjang) [3] dan tafsirnya saya jelaskan kepadanya sehingga ia menjadi kalang kabut dan marah-marah. Ia segera berkata kepada Meher Shahib, ‘Tidakkah saya telah berkata kepadamu bahwa dia ini tidak akan mendengar perkataanku? Orang Mirzai ini sangat keras dan tidak tahu adab dan kesopanan. Saya tidak akan bercakap lagi.’ Maka Meher Ali Shahib pun menjadi sangat malu, nampak dari air muka beliau dengan sabar menahan rasa malu. Sebab, Maulwi itu tidak dapat memberi jawaban yang masuk akal dan ia tidak dapat menyampaikan tablighnya yang benar kepada kami. Akhirnya kami pergi dari sana dan Meher Ali Shahib menceritakan semua kisah itu kepada ayah saya bahwa Maulwi Muhammad Ali tidak mampu memberi penjelasan yang sempurna dan masuk akal kepada Abdur Rasyid dan Maulwi Shahib sangat marah sekali sambil berkata, ‘Ia masih muda nanti juga akan paham.’” (Ilmu para Maulwi tidak dapat menandingi ilmu Anak-anak muda kita, dengan karunia Allah Ta’ala, ilmu mereka lebih banyak dari pada ilmu para Maulwi. Mereka tidak mampu melawan anak-anak muda kita. Tetapi para Maulwi itu keras kepala.) [4]

Saya (Hudhur V aba) teringat kepada suatu kejadian. Mukarram [almarhum] Tsaqib Zirvi Shahib pernah menulis, “Beberapa waktu sebelum Maulwi Ataullah Syah Bukhari terkenal sebagai seorang Maulwi (Ulama) besar. Pada suatu ketika ia  sedang  berpidato di satu tempat dan suaranya terdengar juga di telinga saya karena secara kebetulan saya sedang berada di tempat itu. Tuan Maulwi itu berkata, ‘Saya ini adalah Athaullah Syah Bukhari seorang aaliim (ulama) besar. Seandainya pun Tuhan sendiri yang datang kepada saya dan memberitahukan bahwa Mirza Shahib adalah benar seketika itu pua saya tidak akan menerimanya.’ Demikianlah keadaan iman mereka.”

            Selanjutnya ada satu riwayat lain, Ali Muhammad Shahib menerangkan tentang keadaan Hadhrat Maulana Abul Hassan Shahib, “Beliau seorang ‘Alim kualitas tinggi. Melalui tabligh beliau seluruh kawasan Dhera Ghazi Khan telah mengenal nama Hadhrat Aqdas dan penda’waannya. Para penentang sangat banyak melakukan penganiayaan terhadap beliau. Namun demikian, beliau menghadapi semua keadaan dengan penuh tabah dan sabar. Beliau tidak menghiraukan penentangan dan penganiayaan para penentang. Tabligh terus menerus beliau laksanakan sambil menghadapi berbagai macam rintangan.” [5]

            Hadhrat Hafiz Ghulam Rasul Wazirabadi ra telah menceritakan, “Pada suatu ketika saya sangat gelisah menghadapi penentangan pihak musuh Jemaat lalu saya pergi ke Qadian. Maka beliau as bertanya kepada saya, ‘Hafiz Shahib kenapa gelisah sekali?’ Dari perkataan Hudhur as nampak keinginan beliau untuk memberi bantuan keuangan kepada saya. Namun saya datang bukan dengan pemikiran seperti itu, (yakni kedatangan saya berjumpa beliau bukan untuk maksud itu). Maksud saya tiada lain untuk mendapat ketenteraman hati saya. Hati menjadi tenteram dan tidak sampai merasa takut atau gelisah menghadapi penentangan para penentang. (Sebab, berkat pergaulan dengan seorang Nabi manusia memperoleh kekuatan. Berkat dari quwwat qudsi beliau as, saat itu Allah Ta’ala memberi kekuatan kepada manusia. Pendek kata katanya, “Saya datang ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as untuk menguatkan hati saya). Kita hendaknya tidak datang berjumpa dengan utusan Allah Ta’ala untuk mendapat bantuan keuangan bahkan sebaliknya kita harus menyerahkan sesuatu hadiah kepada beliau sesuai taufiq atau kemampuan kita.” Selanjutnya beliau menulis, “Hadhrat Shahib banyak sekali telah mendoakan saya dan telah memberi nasihat-nasihat yang sangat menenteramkan hati saya. Dengan karunia Allah Ta’ala walau hanya satu menit tidak pernah timbul didalam hati saya suatu keraguan sedikitpun tentang kebenaran beliau as.”  [6]

            Hadhrat Babu Abdul Rahman Shahib ra menulis, Disebabkan saya bersifat merendahkan diri dan berlaku lemah lembut seperti orang miskin, semua keluarga, kerabat, tetangga dikampung dan teman-teman di kota juga suka dan senang kepada saya. Dan mereka sering memuji kebaikan saya. Tetapi setelah mereka mendengar kabar saya sudah baiat tiba-tiba mereka semua (keluarga kecuali kakek-nenek saya yang dengan karunia Allah Ta’ala telah baiat bersama saya), kerabat, tetangga di kampung, teman-teman menjadi musuh besar bagi saya [memusuhi saya]. (Demikianlah semenjak dulu perlakuan orang-orang terhadap Jemaat para Nabi selalu seperti itu. Kepada orang-orang yang beriman dan kepada pada Nabi itu diperlakukan sama seperti itu. Mereka semua menjadi musuh. Orang-orang yang sebelumnya suka memuji katanya, ‘Orangnya baik, sangat baik.’ -merekalah yang menjadi musuh. Seperti itu pula yang pertama kali saya dengar perlakuan terhadap seorang tokoh Jemaat bernama Muhammad Ahmad Mazhar Shahib, beliau seorang Advokat. Ketika saya pergi ke kampung di Faisalabad, di sana orang-orang Ghair Ahmadi yang sedang duduk-duduk memberi tahu saya, ‘Muhammad Ahmad Mazhar Shahib Advokat orang yang baik hati, saleh, jujur, lemah-lembut dan orang bertaqwa, takut kepada Tuhan, memberi keputusan selalu lurus dan jujur dalam setiap kasus. Orang seperti ini tidak kami lihat. Hanya ada satu noda jelek yang terdapat pada diri beliau yaitu beliau orang Qadiani (Ahmadi).’ Artinya itulah noda beliau yang paling besar dan jelek yang nampak kepada orang-orang kampung itu. Selanjutnya Babu Abdul Rahman Shahib menulis, “Mereka itu semua menjadi musuh saya) dan seperti itulah mereka selalu berusaha keras dengan bermacam cara untuk menyakiti dan menyusahkan saya. Kadang-kadang saluran air minum ditutup, kadang-kadang mereka memanggil para mullah (ulama) untuk berdiskusi dengan saya. Sanak saudara, tetangga, teman-teman semuanya menjadi musuh saya. Seorang pemilik kedai yang biasa tempat saya membeli susu mulai memboikot; dia berhenti menjual susu kepada saya. Para pegawai pun mulai berhenti bekerja. Hubungan keluarga dan persaudaraan terputus. Mereka menasihati orang-orang bahwa kalau ada orang yang melewati dekat rumah orang Ahmadi maka ia akan menjadi kafir. Namun perhatikanlah bagaimana Qudrat Tuhan telah merubahnya. Maulwi yang selalu menasihati masyarakat agar tidak lewat rumah seorang Ahmadi, sekarang justru dia sendiri yang selalu datang ke rumah saya untuk makan. (Jadi, amal perbuatan Maulwi itu bertentangan dengan perkataan mulutnya sendiri. Orang-orang menjadi malu melihat perangai dan amal perbuatan Maulwi itu. Selanjutnya katanya;) Selanjutnya setelah baiat, kebiasaan shalat berjamaah di belakang imam ghair Ahmadi kami tinggalkan atau kami mendirikan shalat berjemaah terpisah dengan imam dari antara kami. Kejadian seperti ini mengundang percekcokan dengan orang-orang di mahallah (lingkungan RT). Akhirnya kami meninggalkan shalat berjamaah di masjid dengan imam kami sendiri rumah untuk menghindari percekcokan. Melainkan, kami mengadakan shalat berjamaah di tempat kami sendiri. Rumah yang kami sewa. Rumah ini juga (dimana kami shalat berjamaah) pemilik rumahnya memerintahkan untuk mengosongkan. Kemudian ketika kami menyewa rumah lain dan memulai shalat berjamaah di rumah itu maka dalam masa keadaan demikian kami berembug bersama seorang Ahmadi yang bernama Ramdhan untuk membangun sebuah Mesjid, membeli tiga buah toko beserta sebidang tanah. Dengan karunia Allah Ta’ala pada waktu itu seorang doktor Ahmadi bernama Dr. Basharat Ahmad Shahib pindah ke tempat kami. Berkat kedatangan doktor Shahib, Jemaat memperoleh kekuatan yang sangat berarti. Beliau sendiri sangat berani dan semangat bertabligh. Shalat Maghrib, Isya dan Fajar berjamaah di toko. Kami menjadikan Doktor Shahib sebagai imam. Toko (kedai) terletak di [pinggir] jalan besar dan ramai, beliau tidak menunjukkan sedikitpun rasa ragu ataupun takut datang ke kedai dan mengadakan shalat-shalat berjamaah. Tuan Doktor setiap waktu sibuk melakukan kegiatan-kegiatan tabligh Jemaat di sana. Dengan berani beliau selalu berkata, ‘Hati saya ini ingin membuat spanduk (banner) dari sehelai kain yang lebar bertuliskan Nabi Isa as sudah wafat dengan huruf besar dan jelas.’ Beliau juga ingin membuat badge (lencana) bertuliskan Nabi Isa as sudah wafat dan lencana itu disematkan di bagian dada baju atau coat (jas) beliau lalu pergi berkeliling.” [7]

            Hadhrat Syaikh Ataullah Shahib ra mengatakan, “Jawaban baiat yang dikirim dari Qadian melalui surat sudah diterima. Disamping itu dikirim juga literatur Jemaat dan suratkabar Al Hakam. Dengan dibagikannya literatur dan suratkabar-suratkabar Jemaat kepada masyarakat maka nama Jemaat Ahmadiyah mulai dikenal luas oleh masyarakat setempat. Namun bersamaan dengan itu penentangan juga mulai muncul dengan sangat keras. Di tempat-tempat tertentu mulai diadakan pertemuan-pertemuan dan mereka menangkapi kami dan dipaksa untuk ‘bertaubat’ di hadapan mereka. (Mereka berkata, “Bertobatlah karena Mirza Shahib tidak benar – kami sekarang bukan muridnya, lebih baik berkata seperti itu.”) Beberapa orang yang keadaan iman mereka lemah mulai tergelincir (Mereka tidak dapat bertahan menghadapi tindak kekerasan pihak musuh Jemaat. Tidak ada istiqamah pada diri mereka) sehingga lambat laun akhirnya dari sekian banyak Ahmadi hanyalah tiga orang yang dapat bertahan yaitu Hadhrat Hafiz Soofi Tasawur Husain Shahib, Syaikh Asadullah Shahib yakni murid beliau dan saya yang lemah ini. Teman-teman lainnya karena takut terhadap para penentang dan tidak dapat bertahan menghadapi tindak kekerasan musuh akhirnya mereka pergi [meninggalkan Jemaat].” (Sekarang selain tiga orang itu semuanya telah meninggalkan Ahmadiyah. Tidak dapat bertahan menghadapi tindak kekerasan. Akan tetapi kendati mereka menganiaya mereka, mereka tetap istiqamah. Selanjutnya beliau menulis,) “Allah Ta’ala memberi kekuatan iman dan istiqamah terhadap Soofi Shahib kemudian beliau pergi ke Qadian dan di sana beliau mendapat pancaran nur nubuwwah (cahaya kenabian dari Hadhrat Imam Mahdi as). Sedangkan, hati saya sendiri dengan hikmat Allah Ta’ala yang sangat khas telah disinari dengan nur-Nya secara ghaib. (Soofi Shahib setelah sampai di Qadian  melihat Hadhrat Masih Mau’ud as. Keimanannya menguat. Namun, saya sampai sekarang belum bisa pergi. Akan tetapi Allah Ta’ala kemudian mengaruniakan kepada saya dan pencerahan kepada hati saya) dengan manifestasi Qudrat-Nya telah membuat hati saya terang sehingga penentangan tidak dapat mempengaruhi saya sedikitpun. Tidak gentar dengan gertakan mereka. Bahkan, sebaliknya karena gertakan dan penentangan mereka itu dengan karunia dan kasih sayang Allah Ta’ala iman dan keyakinan saya semakin bertambah kuat. Mengenai tuntutan mereka [agar ‘bertobat’] saya senantiasa sambil berkata kepada mereka, ‘Dalam hal apa kalian meminta saya bertobat?’” [8]

Selanjutnya ada satu riwayat dari Hadhrat Mian Abdul Majid Khan Shahib ra menjelaskan, “Pada suatu ketika para penentang mengadakan Jalsah dengan suara yang sangat riuh yang membuat suasana sangat kritis (genting, menakutkan). Di Jalsah itu yang menjadi sasaran kedengkian dan kebencian mereka adalah pribadi saya. (Yakni Hadhrat Mian Abdul Majeed Khan Shahib ra beliau dijadikan sasaran kedengkian dan kebencian mereka). Mereka membuat berbagai macam rencana makar untuk menentang saya. Mereka menakut-nakuti dengan pemboikotan, melaporkan tentang saya kepada polisi secara dusta dan menghasut mereka dimana saya dianggap sebagai pemberontak dan pembuat kerusuhan kemudian menghasut orang-orang jahil (tidak tahu apa-apa) sehingga jiwa saya sangat terancam. Dalam situasi demikian berkesan (sembari menjelaskan perlakuan Allah Ta’ala yaitu apa ini?) yaitu pada suatu malam saya pergi ke hutan. Sambil menghadap kearah Qiblat dengan melipat dan meletakkan tangan di dada. Kemudian dengan cara sendiri sambil membayangkan wajah Hadhrat Imam Mahdi as saya berkata, ‘Hudhur! Untuk menghadapi kesulitan ini saya memohon kepada Hudhur untuk menyediakan suatu sarana bagi saya.’ Saya berkata demikian dengan jeritan hati yang tulus dan perih sambil menangis mencucurkan air mata mengemukakan keadaan yang tengah saya hadapi. Allah Ta’ala dengan karunia-Nya telah mendengar jerit dan tangis hati saya itu. (Disini saya [Hudhur] ingin menjelaskan bahwa Hadhrat Mian Abdul Majeed Khan Shahib ra memanggil dan menghadirkan Hadhrat Masih Mau’ud as didalam hati beliau tidak dapat dikatakan syirik demi mengharapkan pertolongan Allah Ta’ala agar selamat dari ancaman para musuh Jemaat. Seperti para Pir (pimpinan ruhani) yang diminta doanya oleh orang-orang fakir. Mereka bersujud dihadapannya atau melakukan sesuatu gerakan sesuai dengan keinginannya. Sebetulnya beliau tidak minta kepada manusia. Sesungguhnya permintaan beliau ra itu ditujukan kepada Allah Ta’ala, sebagaimana beliau katakan, “Allah Ta’ala telah mendengar jerit dan tangis hati saya.” Beliau tidak mengatakan, “Hadhrat Masih Mau’ud as telah mendengar jerit dan tangis hati saya.” Sebagaimana pada umumnya orang-orang yang memuja Pier (pimpinan ruhani) sebagai  orang keramat, mereka mengatakan Hadhrat Pir Shahib telah mengabulkan keinginan mereka, begini – begitu dan sebagainya. Tetapi beliau berkata, “Allah Ta’ala telah mendengar jerit dan tangis hati saya.”) Pendeknya pada malam itu saya telah terbenam didalam pikiran seperti itu hingga saya tertidur. Kemudian saya melihat mimpi bahwa musuh-musuh telah mengepung rumah saya dan terdengar suara dari keempat penjuru yakni, ‘Sekarang bunuhlah orang ini.Pada waktu itu tiba-tiba datanglah Sayyidina Hadhrat Masih Mau’ud as kepada saya dan sambil memegang kedua lengan saya beliau mengarahkan muka saya keatas langit dan bersabda, ‘Terbanglah engkau ke langit!Maka berkat quwwat qudsiah Hudhur as, hamba yang lemah dan tidak berarti ini terbang dari bumi naik kearah langit. Para penentang tidak berhasil menangkap saya dan semua berdiri tercengang menyaksikan saya sedang terbang keatas langit. Setelah mimpi itu pada waktu mata saya terbuka (bangun tidur) hati saya sangat gembira dan saya bertambah yakin bahwa Sayyidina Hadhrat Aqdas adalah seorang utusan Allah Ta’ala yang tulus dan benar. Maka di pagi hari berikutnya para penentang datang dan berkerumun di sekeliling rumah saya. Saya katakan kepada mereka dengan jelas, ‘Sekarang Allah Ta’ala dengan manifestasi qudrat-Nya telah menganugerahkan kekuatan iman kepada saya, sekalipun kalian membelah tubuh saya dengan gergaji maka mulut dan hati saya tidak dapat melepaskan iman saya.’ Malam berikutnya saya melihat mimpi lagi bahwa sekumpulan polisi sedang mengepung rumah saya. (Permusuhan ini kapanpun tidak akan habis, setiap harinya diadakan pertemuan dan demontrasi untuk menentang beliau ra) Polisi-polisi sedang berbincang-bincang satu sama lain tentang saya katanya, ‘Betul dia telah selamat dari kepungan masyarakat, namun sekarang Pemerintah akan mengadakan tindakan terhadap orang ini karena dia pemberontak dan pembuat kerusuhan yang membuat Negara menjadi kacau. Jika ia tidak berhenti dari perbuatannya ini maka ia akan dibunuh.’ Disebabkan pengepungan polisi itu (didalam mimpi) saya merasa gelisah sekali. Namun seperti malam yang lampau tiba-tiba Tuanku Sayyidina Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as datang lagi di hadapan saya dan dengan penuh kasih sayang beliau memegang kedua lengan saya kemudian mengarahkan muka saya ke langit dan bersabda, ‘Terbanglah engkau dari bumi ini ke langit!’ Maka seperti pada malam yang lampau sayapun terbang dari bumi keatas langit dan selamatlah saya dari pengepungan polisi itu. Alhamdulillah. Setelah melihat kedua ru’ya itu saya merasakan iman dan keyakinan saya semakin sangat kuat laksana sebuah gunung karang yang sangat perkasa. Kebenaran sempuna nur Hudhur jatuh terpatri didalam hati dengan warna seperti ini tidak hancur dan tidak patah, (sekarang tidak akan ada orang yang dapat menghancurkan dan mematahkannya). Alhamdulillah, Alhamdulillah, tsumma Alhamdulillah! Sekarang timbullah dalam hati saya keinginan yang sangat kuat untuk berjumpa dengan utusan Tuhan ini, (sampai waktu itu beliau ra belum pernah berjumpa dengan beliau as) Maka saya menulis surat kepada Hudhur as untuk datang ke Qadian. Didalam jawaban surat itu Hudhur Aqdas as meminta saya untuk datang segera ke Qadian.” Maka dengan cara seperti itupun Allah Ta’ala memberikan kekuatan keimanan  dan banyak sekali orang-orang menulis surat seperti ini yaitu Allah Ta’ala menimbulkan didalam diri mereka [kekuatan iman]. [9]

Hadhrat Amir Khan Shahib ra menguraikan kisahnya, “Setelah baiat di Qadian saya kembali ke kampung saya Tehrana, maka seorang Muslim bernama Muhtab Khan sangat sombong dan menganggap dirinya paling besar dari semua padahal ia seorang sederhana tidak banyak memiliki ilmu pengetahuan namun menganggap dirinya tahu segala masalah, dia tampil menjadi penentang saya yang sangat keras. Perkataannya sangat kasar melampaui batas. Namun saya menghadapinya dengan tabah dan penuh kesabaran. Akhirnya di kawasannya penyakit tha’un mulai berjangkit. Demikian hebatnya kehancuran itu hingga istri, ipar dan juga menantu perempuannya dan seorang anak lelaki tunggalnya yang masih muda, semuanya menjadi mangsa serangan penyakit itu hingga semuanya meninggal secara bergantian. Tinggallah ia sendirian tidak ada orang yang mengurus dan memasak makanan baginya. Tinggal seorang anak perempuannya yang menikah dengan penduduk tetangga kampungnya. Karena tidak ada yang mengurus makanannya lagi, maka ke sanalah setiap hari ia pergi untuk mendapat makanan sehari-harinya (yakni pergi ke rumah mertua anak perempuannya   untuk makan roti ). Ia mengangap bahwa  hal ini lebih buruk baginya dari pada maut (kematian). Muhtab Khan baru berumur sedikit diatas 60 tahun dan tidak memiliki harta apapun. Pada suatu hari di waktu pagi setelah sembahyang fajar (shalat Shubuh) ketika saya sedang membaca Qur’an Karim di masjid, maka datanglah ia di hadapan saya dan berkata, ‘Lihatlah bagaimana keadaan saya sekarang.’ Sambil menghadapkan mukanya kearah Ka’bah (kiblat) ia berkata lagi, ‘Saya sedikitpun tidak mempunyai rasa benci atau permusuhan dengan Mirza Shahib [tuan, yang terhormat Mirza Ghulam Ahmad].’” [10] (Tidak ada permusuhan dengannya, demikianlah keadaan yang  timbul dalam pikiran orang yang sudah jatuh.)

Itulah beberapa peristiwa tentang keteguhan iman dan istiqamah para Sahabat. Jemaat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang sekarang juga menunjukkan iman dan istiqamah yang teguh luar biasa. Banyak sekali surat-surat saya terima dan orang-orang yang bertemu dengan saya dan menceritakan kisah atau kejadian pada diri mereka masing-masing baik laki-laki maupun perempuan mereka telah menunjukkan teladan bagi yang lain. Jadi, bangkitnya semangat yang timbul pada diri para Sahabat berkat adanya quwwat qudsiyah Hadhrat Masih Mau’ud as sampai sekarang terus berjalan. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat para Sahabat yang telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as dan telah menunjukkan istiqamah yang tinggi dan keteguhan langkah. Semoga Allah Ta’ala memberi istiqamah kepada anak-anak mereka juga. Dan kini kepada mereka yang termasuk didalamnya, yang termasuk kita didalamnya dan juga bagi orang-orang yang akan datang kemudian yang juga termasuk didalamnya; semoga Allah Ta’ala memberi kekuatan, keimanan dan istiqamah.

Selain kisah-kisah istiqamah para sahabat saya ingin menyampaikan beberapa kisah lainnya juga. Yaitu diantaranya bagaimana kisah para sahabat yang telah dianugerahi pertolongan oleh Allah Ta’ala secara mu’jizah. Bagaimana perlakuan Allah Ta’ala terhadap mereka. Dan yang pasti akan menjadi sarana untuk memperkuat iman  dan keyakinan kita.

            Hadhrat Mirza Barkat Ali Shahib ra menjelaskan, “Pada tanggal 4 April 1905 hamba ini (saya) terkubur didalam reruntuhan puing-puing bangunan rumah saya yang runtuh di Bhagso Distrik Kangrah tempatnya di Iir Dharamsalah akibat goncangan gempa yang hebat dan dengan susah payah saya dapat dikeluarkan dari padanya. Saksi terhadap kejadian itu adalah Babu Gulab Din Shahib pensiunan mandor sekarang beliau masih hidup di Sialkot. Dua bulan sebelum kejadian Gempa Besar ini Hadhrat Masih Mau’ud as telah menubuatkannya. (Beberapa bulan sebelumnya Hadhrat Masih Mau’ud as telah menubuatkan tentang gempa itu). Ketika itu saya sendiri hadir di Qadian Daarul Aamaan (ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan) kemudian beliau as membuat selebaran. Sambil membawa selebaran Hudhur as itu dari Qadian saya sampai ke Dharamsalah Chauni dan membagi-bagikan selebaran-selebaran itu kepada sejumlah orang di sana. Oleh karena di tempat itu saya bekerja sebagai klerk  dan saya mendapat cuti beberapa hari lamanya dari pekerjaan. Karenanya, saya mendapat kesempatan dari masa ke masa bertemu dengan sahabat Ahmadi bernama Mirza Rahim Baig juga di sana. Mirza Baig Shahib mempunyai hubungan erat dengan keluarga besar Moghulia [dinasti terakhir raja-raja besar Muslim yang menguasai India, Red.] sedangkan saudara beliau yang lainnya bukan Ahmadi. Hanya istri dan anak-anak beliau yang telah menjadi Ahmadi dan semua orang sangat menentang beliau. Semua orang itu yang telah menjadi Ahmadi selamat dan juga Ahmadi lainnya yang datang dari berbagai penjuru ke sana. Mereka datang dari berbagai tempat kemudian tinggal di sana. Semuanya selamat dari bahaya Gempa itu. Padahal menurut perkiraan saya sekitar 90% jiwa manusia telah melayang karena Gempa Bumi itu. Sesungguhnya keselamatan kita orang-orang Ahmadi dari Gempa yang begitu dahsyat merupakan tanda yang sangat agung. Jika peristiwa Gempa itu ditulis secara rinci maka bagi orang yang mencari kebenaran akan melihat bagaimana pertolongan Allah Ta’ala itu beserta orang-orang Ahmadi. (Yakni orang-orang yang mencari kebenaran apabila mendengar peristiwa yang mengerikan ini pasti mereka akan merasa bahwa pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala bersama orang-orang Ahmadi.) Selanjutnya beliau menulis, “Oleh karena anggota keluarga saya dan keluarga Gulab Khan Shahib dan keluarga Allah Bakhsy Shahib mistri (tukang kayu) dari Sialkot dan bersama Ghulam Muhammad Shahib mistri serta Ahmadi-Ahmadi lain telah selamat dari Gempa yang begitu dahsyat maka hal itu merupakan tanda bukti zahirnya kekuasaan Allah Ta’ala terhadap setiap orang secara tersendiri. Khususnya Mistri Allah Bakhsy yang datang sehari sebelum terjadi Gempa secara tiba-tiba pergi dari sana dan anggota keluarga saya beberapa lama sebelum terjadi Gempa telah meninggalkan tempat itu kembali kek ampung asal dan beberapa orang Ahmadi sebelum terjadi Gempa telah keluar dari kedai mereka dengan sarana yang sangat mengherankan dan mereka yang terkubur didalam puing-puing kemudian dapat diselamatkan, semua menjadi tanda yang agung. Adalah keinginan kuat saya untuk menuliskan detail peristiwa itu dan mengirimkannya dalam bentuk surat (Beliau tidak tahu bahwa setelah itu beliau telah dapat menuliskannya, memang tidak tapi menceritakannya dan ditulis orang lain, Red.) Pendeknya, secara ringkas telah diceritakan tentang beberapa tempat dalam kejadian itu (tatkala beliau mendiktekan riwayat ini) beliau menyajikan rangkaian perjumpaan dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beberapa hari kemudian setelah terjadi Gempa saya pergi ke Qadian untuk berjumpa dengan Hudhur Aqdas as. Pada waktu itu Hudhur Aqdas sedang berada didalam tenda dibawah naungan pohon Mangga di kebun Bahisyti Maqbarah. Ketika saya menghadap Hudhur Aqdas as, beliau banyak mengajukan pertanyaan kepada saya. Diantaranya, ‘Bagaimana anda keluar dari tumpukan puing-puing yang menimbun anda.’ Maka saya jawab kepada beliau, ‘Carpay (tempat tidur) Allah Bakhsy Mistri telah menyelamatkan saya yang menahan sebuah dinding (tembok) besar yang jatuh dan dinding itu ditahannya sehingga saya tidak merasa sakit apa-apa.’ Seperti itu juga Hudhur Aqdas mengajukan beberapa pertanyaan kepada saudara-saudara Ahmadi yang lain juga yang terkena musibah dan saya memberi kesaksian tentang selamatnya mereka itu. Padahal sebelum terjadi peristiwa Gempa itu Hudhur as telah mengedarkan selebaran bahwa disebabkan gempa dahsyat yang beliau nubuatkan itu seorang Ahmadi pun tidak akan ada yang menjadi korban. Saya benar-benar meyakini bahwa Hudhur telah mengetahui hal itu semua dari Allah Ta’ala. Jika tidak sebelum saya tidak ada seorang Ahmadi pun yang datang dari Kampung Dharamsala kepada Hudhur as. (Belum ada Ahmadi yang datang dari Dharamsalah untuk hadir di hadapan Hudhur as. Beliau adalah orang pertama dan Hadhrat Masih Mau’ud as mengetahui detail peristiwa itu dari beliau. Akan tetapi dalam selebaran yang telah diedarkan telah dikatakan bahwa tidak akan ada seorang Ahmadi pun yang menjadi korban Gempa itu.) Jadi, di kala saya mulaqat dengan Hadhrat Masih Mau’ud as setelah terjadinya Gempa di Kangra, selamatnya orang-orang Ahmadi beliau nyatakan sebagai sebuah tanda dari Allah Ta’ala. Khususnya mengenai diri saya terselamat dari tumpukan reruntuhan yang telah mengubur saya merupakan sebuah tanda yang telah diumumkan melalui sebuah pengumuman lewat selebaran. Mubaraklah (salam sejahteralah) mereka yang telah mengambil pelajaran dari tanda itu dan beriman kepada orang yang telah diutus oleh Allah Ta’ala di zaman ini.” [11]

            Hadhrat Chaudhry Abdul Hakim Shahib ra menceritakan, “Secara kebetulan saya bertemu dengan seorang Ahmadi bernama Maulwi Badruddin Shahib yang adalah seorang Kepala Sekolah Dasar (Primary School) di kota. Beliau telah memberi suratkabar ‘Al-Hakam’ untuk dibaca. Saya masih ingat betul bahwa pada halaman pertama suratkabar itu tertulis ‘Taazah Wahyi’ dan ‘Kalimaate Thayyibaaate Imamuz Zamaan’ (Dua heading atau judul besar yaitu wahyu yang terbaru turun kepada Hadhrat Shahib as dan sabda-sabda Imam Zaman yang thayyib, sangat baik. Keduanya adalah judul di halaman pertama). Saya membacanya dan segera didalam hati saya timbul rasa tertarik yang sangat spesifik dan kecintaan, dengan segera sampai di hadapan yang mulia Hadhrat Masih Mau’ud as. Semua keinginan saya itu telah sempurna dan sekalipun mendapat tekanan-tekanan dari para Maulwi Ahli Hadis namun dengan karunia Allah Ta’ala dalam tempo yang singkat saya telah menerima [kebenaran Hadhrat Imam Mahdi as]. Maulwi Badruddin Shahib telah memberi saran kepada saya agar saya segera pergi ke Qadian untuk berjumpa dengan Hadhrat Shahib dan seorang Maulwi Ahli Hadis juga sudah siap untuk ikut bersama saya. Maulwi ini murid khusus dari Maulwi Sultan Mahmud Shahib Ahli Hadis.” Selanjutnya beliau menulis, “Pada waktu itu gaji bulanan saya sebanyak 15 Rupees betul-betul dalam keadaan miskin sekali. Saya ambil cuti dari kantor dan kami mulai berangkat ke Stasiun. Kami berdua hanya mampu membeli tiket sampai ke Amritsar, sebab uang kami tidak cukup untuk sampai ke Qadian. Sampai di Amritsar batas tiket kami sudah habis sedangkan kami harus naik Kereta Api sampai ke Batala namun kami memiliki uang hanya 8 ana (setengah rupee). Oleh sebab itu, kami membeli tiket hanya sampai stasiun terdekat jauh sebelum Batala sesuai dengan keadaan uang. Ketika Kereta Api sampai di stasiun itu batas tiket kami sudah habis namun kami tidak turun. Dan Kereta Api terus berjalan. Di tengah perjalanan menjelang Stasiun berikutnya pemeriksa tiket pun datang dan mulailah ia memeriksa tiket semua penumpang. Sebetulnya kami harus turun di stasiun sebelumnya dan kami sudah tidak mempunyai uang lagi. Kami sangat gelisah tentu kami akan menghadapi kehinaan. Tidak ada jalan lain kecuali kami berdoa kepada Allah Ta’ala supaya kami terlepas dari kehinaan. Maka kami berdua mulailah berdoa sama-sama, ‘Ya Allah, kami dalam perjalanan untuk bertemu dengan Masih Mau’ud-Mu yang benar, kami tidak mempunyai sesuatu apapun. Ya Allah! Selamatkanlah kami dan tutupilah kekurangan kami demi Masih as yang Engkau cintai. Dan lindungilah kami dari kehinaan dan kenistaan.’ Ketika ticket checker pemeriksa tiket itu meminta tiket maka kami berikan tiket stasiun yang sudah terlewat. Saya betul-betul ingat bahwa tiket yang kami berikan kepada ticket checker (pemeriksa tiket, kondektur) itu ia kembalikan lagi tiket itu kepada kami dan sedikitpun ia tidak berkata apa-apa kepada kami kemudian ia pergi ke gerbong berikutnya. Hal itu merupakan mu’jizat bagi kami bahwa Allah Ta’ala demi Masih-Nya yang benar dan suci telah menutupi kelemahan dan kesalahan kami dan Dia telah menyelamatkan kami dari kehinaan dan hal itu menjadi sarana penguat iman bagi kami. Kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as nampak sangat terang kepada kami lebih terang dari sinar matahari. Setelah turun di [stasiun] Batala, kami berjalan kaki sampai ke Qadian Darul Aman pada waktu Zuhur.” [12]

            Hadhrat Allah Ditta Shahib Headmaster ra telah menceritakan, “Allah Ta’ala telah menyelamatkan saya dengan karunia-Nya yang tidak biasa (istimewa) dari ribuan kematian dan berbagai macam bala dan musibah. Saya telah menangkap ular-ular. Saya telah memegang ular-ular berbisa dan ular-ular berbahaya telah melilit ke tubuh saya namun Allah Ta’ala telah menyelamatkan saya di tiap tempat.” [13]

            Hadhrat Master Wadaway Khan Shahib meriwayatkan, “Pada suatu ketika penyakit tha’un sedang berjangkit dengan hebat sekali. Ketika saya pulang ke rumah dari sekolah saya melihat istri saya sedang berdiri di pintu. Saya bertanya, ‘Ada apa gerangan?’ Dijawabnya sambil ketakutan, ‘Ada seekor tikus mati di rumah kita.’ Dengan penuh yakin saya berkata kepadanya, ‘Jangan takut, semua anggota Jemaat kita akan selamat dari bahaya penyakit tha’un dan tidak ada bahaya apapun.’ Kemudian saya bersihkan rumah saya bagian dalam dengan sapu. Pada hari kedua terjadi lagi demikian, ada lagi tikus-tikus mati dan pada tikus-tikus itu terdapat banyak sekali ulat. Sambil membuang dan membersihkannya saya berusaha menenteramkan hati istri saya, ‘Jangan cemas! Jemaat kita akan dilindungi dari bahaya penyakit itu.’ Setelah ketiga-keempat hari pada pukul 12 tengah malam istri saya berkata, ‘Pada tubuh saya timbul bintik-bintik dan membengkak, yaitu bintik-bintik tha’un.’ Dengan yakin dan tenang saya katakan kepada istri saya, ‘Tidak usah kuatir dan gelisah.’ Pagi-pagi sekali saya mengirim sepucuk surat [untuk memohon doa] kepada Hudhur as. Saya pikir surat pun belum sampai ke Qadian namun dengan karunia Allah Ta’ala bintik-bintik yang membengkak itu sudah hilang dan istri saya sehat kembali. Kemudian setelah dua atau tiga hari kemudian bintik-bintik itu timbul pada tubuh anak saya, Abdul Karim yang kira-kira baru akan berumur satu tahun. Kemudian saya menulis surat lagi kepada Hudhur as untuk permohonan doa dan saya tenangkan hati istri saya. Maka binti-bintik itu hilang dengan sendirinya. Pada waktu itu penyakit tha’un sedang berkecamuk dengan keras, setiap hari dua ratus atau dua ratus lima puluh orang mati karena wabah tha’un itu. Jumlah yang mati karena tha’un itu setiap hari diumumkan oleh sebuah komite.” [14]

Saya (Hudhur V aba) ingin menjelaskan tatkala wabah Tha’un ini ketika ia menyebar; Hadhrat Masih Mau’ud as terus-menerus  memberi beberapa petunjuk sehubungan dengan wabah ini; mungkin petunjuk ini tidak sampai kepada Master Shahib atau beliau tidak memahaminya dengan baik. Para Sahabat ra biasanya berusaha mengamalkan dengan segera apapun petunjuk yang baru diterima. Apapun petunjuk-petunjuk yang diterima dari Hadhrat Masih Mau’ud as apakah petunjuk itu baru datang atau sudah lalu atau peristiwanya telah berlalu atau akan datang [mereka tentu mengamalkannya]. Pendek kata, kejadian itu telah menggambarkan betapa teguhnya keimanan mereka. Allah Ta’ala tidak hanya menguatkan keimanan mereka bahkan keimanan anak istrinya. Akan tetapi waktu itu ketika Tha’un telah tersebar ke seluruh tempat  petunjuk-petunjuk yang beliau as berikan itu adalah demikian, beliau bersabda di satu tempat: “Ini adalah perintah kami: Sebaiknya selebaran ini diedarkan oleh kawan-kawan dari Lahore, apabila seekor tikus mati didalam rumah seseorang atau berdekatan dengan orang yang terjangkit wabah Tha’un maka rumah itu harus ditinggalkan dan mencari tempat perlindungan yang terbuka di luar kota. ‘’(Mungkin orang-orang menganggap petunjuk ini hanya untuk kota Lahore saja, namun sebetulnya petunjuk ini diberikan kepada semua secara umum. Yaitu hendaknya berusaha menghindar dari orang yang sakit dan wabah-wabah yang sedang menyebar. Pendek kata harus ada usaha pencegahan) Beliau bersabda, “Rumah itu harus seketika itu juga segera ditinggalkan dan mencari tempat perlindungan yang terbuka di luar kota. Ini adalah perintah Allah Ta’ala. Hendaknya tidak meninggalkan sarana-sarana lahiriah. Hendaknya tidak tinggal di tempat gelap, kotor dan sempit baik ada Tha’un ataupun tidak ada Tha’un……… harus menjauhkan diri dari setiap barang kotor. Pakaian dan tempat harus bersih dan badan juga harus selalu bersih. Hal itu semua sangat penting. Disamping itu kita harus sibuk membaca doa dan istighfar’’. Selanjutnya beliau as bersabda, “Di zaman Hadhrat Umar ra juga pernah berjangkit penyakit Tha’un dimana Lasykar orang-orang mu’min pergi di sana penyakit berjangkit dengan keras sekali. Ketika berita ini sampai kepada Amirul Mukminin di Madinah maka beliau ra segera mengirim perintah tertulis kepada [orang-orang mu’min] untuk segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke kaki sebuah bukit. Maka semua Lasykar Islam selamat dari bahaya penyakit tersebut. Pada waktu itu ada seorang yang keberatan atas perintah itu dan berkata, ‘Apakah Tuan lari dari taqdir Tuhan?’ Beliau ra bersabda, ‘Saya lari dari Taqdir Tuhan yang satu kepada Taqdir Tuhan yang lain.’ Dan lagi, perkara apakah yang berada di luar Taqdir Tuhan?” [15]

Maka inilah petunjuk umum.  Hal inipun bukan demikian yaitu tip-tiap orang masing-masing memasukkan dirinya sendiri dengan sengaja dalam kesulitan. Selanjutnya beliau as juga bersabda, “Allah Ta’ala telah berjanji dua macam kepada saya melalui wahyu-Nya. Pertama, rumah ini akan diselamatkan dari wabah Tha’un seperti firman-Nya, “إني أحافظ كل من في الدار” ’innii uhaafizhu kulla man fid daar. Janji kedua tentang Jemaat dengan firman-Nya, “إنالذين آمَنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون” ’innal ladziina aamanuu walam yalbisuu iimaanahum bizhulmin ulaa-ika lahumul amnu wahum muhtaduun.’ – “Sesungguhnya barangsiapa yang beriman dan tidak mencampurkan iman mereka dengan kezaliman maka orang-orang demikian akan aman dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” Dalam wahyu ini terdapat janji dari Allah Ta’ala bahwa orang-orang yang betul-betul mengamalkan sepenuhnya petunjuk dari Kami akan diselamatkan dan semua keaiban dan kelemahan-kelemahannya akan dijauhkan dari dalam dirinya. Dia tidak akan tunduk kepada keburukan-keburukan pribadinya. Banyak sekali orang yang baiat namun mereka tidak meluruskan amal perbuatan mereka. Hanya baiat sambil berpegangan tangan apa gunanya?. Sedangkan Allah Ta’ala mengetahui keadaan hati manusia”. [16]

Jadi, itulah dua buah janji Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as untuk menyelamatkan diri dari setiap kesulitan, setiap musibah dan setiap wabah penyakit. Setiap waktu kita perlu sekali memeriksa keadaan iman dan keadaan diri pribadi kita. Sampai sejauh mana kita telah berusaha untuk menyempurnakan keimanan kita?

Hadhrat Maulwi Sufi Ata Muhammad ra meriwayatkan, “Keadaan sulit sekali bagi saya untuk berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as (yakni keadaan waktu itu sangat sulit untuk dapat berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as) sebab susah sekali mendapakan cuti dari tempat saya bekerja. Namun tanpa diduga saya membaca sebuah berita di suratkabar bahwa Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as akan datang ke Jhelum. Saya pun tidak dapat izin untuk pergi ke Jhelum, hati saya sangat gelisah dan saya berkata kepada istri saya, ‘Hadhrat Aqdas as akan datang ke Jhelum dan esok pagi adalah hari Minggu. Saya mau pergi ke sana jangan kasih tahu kepada siapa pun juga.’ Waktu sempit sekali untuk sampai ke Stasiun Kereta Api yang jaraknya 30 Mil. Jalan menuju kesana melalui bukit-bukit dan haripun sudah malam. Di siang hari pun menyelusuri jalan ke sana sukar sekali apalagi malam hari. Sambil tawakkal kepada Tuhan saya berangkat. Di perjalanan tiba-tiba nampak cahaya lampu di depan saya, mungkin kiranya ada orang lain yang sedang berjalan searah dengan saya. Sambil berdoa kepada Allah Ta’ala akhirnya saya sampai ke Stasiun Kereta Api. Ketika sampai di Stasiun, Kereta Api itu sudah hampir berangkat. Setelah membeli tiket saya naik Kereta Api itu dan akhirnya sampailah saya ke Jhelum kemudian berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as.” [17]

Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki ra meriwayatkan, “Pada waktu itu saya betul-betul masih seorang pemuda. Ketika berada di Kapurthala saya melihat seekor gajah didalam mimpi. Saya tertindih di bawah gajah itu. Perutnya ada diatas badan saya. Di waktu pagi Khan Shahib dan Abdul Majid Khan Shahib berkata kepada saya, ‘Maulwi Shahib sekarang Sungai Bias sedang meluap dengan banjir. Sekarang kami sudah siap untuk ramai-ramai menyaksikan pemandangan sungai itu dengan menaiki Gajah. Tuan ikutlah juga pergi bersama kami.’ Saya menjawab, ‘Saya tidak bisa pergi sebab tadi malam saya melihat mimpi yang sangat keras dan mengerikan sekali, yaitu  badan saya ditindih dibawah seekor gajah.’ Namun setelah mendengar mimpi itupun beliau mendesak saya untuk pergi. Saya pun berulangkali menolaknya sebab mimpi itu telah memberi kesan buruk sekali terhadap pikiran saya. Ketika saya mendengar perkataan Khan Shahib, ‘Pergilah untuk menyaksikan pemandangan sungai itu dengan menaiki Gajah!’ Dengan mendengar perkataan Gajah itu pikiran saya terkesan sangat keras dan ngeri sekali. Kemudian saya dengan keras menolak ajakan beliau. Namun Khan Shahib bersama teman-teman beliau mendesak saya. Setelah desakan mereka yang begitu keras terhadap saya akhirnya saya paham barangkali Taqdir Tuhan yang telah ditetapkan akan nampak di hadapan saya. Akhirnya saya dengan hati yang terpaksa pergi juga bersama mereka. Teman-teman telah mempersiapkan sejumlah gajah. Diantaranya tiga atau empat ekor yang ditunggangi oleh teman-teman. Khan Shahib juga telah mepersiapkan seekor gajah untuk [saya yang] ditunggangi berdua bersama beliau. Ketika sampai ke tepi sungai itu keputusan Taqdir seperti didalam mimpi yang menakutkan itu tidak muncul namun telah sempurna dalam bentuk yang lain. Ketika kami turun dari gajah masing-masing dan mulai berdiri menyaksikan pemandangan Sungai Bias itu kami melihat seorang pemuda melompat dari atas jembatan yang dibawahnya memiliki banyak tiang landasan berbentuk kubah, meluncur kedalam arus kuat bergelombang, kemudian ia berusaha keras melawan arus keluar dari landasan tiang terdekat ke landasan tiang yang lain lebih jauh. Saya juga bisa berenang. Saya katakan kepada pemuda itu, ‘Saudara, jika engkau berenang melewati tiang asas yang terdekat akan lebih mudah dari pada melewati yang jauh itu.’ Anak muda itu berkata, ‘Arus sungai deras sekali sekarang tengah terjadi gelombang sangat kuat. Oleh sebab itu berenang dan menyelam dibawah jembatan ini sangat sulit sekali.’ Saya katakan kepadanya, ‘Anda adalah seorang perenang sekarang apa lagi yang anda takutkan.’ Dia bertanya kepada saya, ‘Apakah anda bisa berenang?’ Saya menjawab, ‘Ya. Saya bisa.’ Dia bilang, ‘Cobalah sekarang berenang di depan saya.’ ‘Baiklah!’ Setelah saya ganti pakaian, saya mulai melompat dari atas jembatan meluncur ke bawah tiang asas lalu kembali lagi dengan mudah. Kemudian untuk kedua kalinya melompat dari tempat yang lebih jauh, namun kali ini saya terjun langsung kedalam kisaran air yang berputar sangat deras dan aya terperangkap didalamnya. Saya berusaha sekuat tenaga untuk keluar menyelamatkan diri dari padanya namun sia-sia. Akhirnya saya tenggelam sampai jauh kedalam air di dalam kisaran air itu. Secara fisik tidak mungkin dapat keluar dari kisaran air itu dan semua tenaga dan kekuatan saya mulai tak berdaya lagi sehingga saya merasa dalam tempo tiga menit lagi jiwa saya akan melayang atau musnah. Pada waktu itu semua kawan-kawan yang sedang menyaksikan pemandangan dari atas Jembatan mulai berteriak cemas, ‘Aduhai, Maulwi Shahib sedang menghadapi maut!’ Pada waktu itu apa yang nampak aneh dan ajaib adalah kawan-kawan menyaksikan saya sedang tenggelam namun tidak ada yang berpikir untuk melemparkan sesuatu yang dapat saya pegang untuk menyelamatkan diri saya. Sekurang-kurangnya mereka melemparkan sorban kepada saya agar dapat digunakan untuk usaha menyelamatkan diri saya. Namun tidak ada seorangpun yang berpikir demikian. Sementara keadaan saya sudah hampir sampai kepada nafas penghabisan. Tiba-tiba Qudrat Tuhan telah merubah keadaan. Sarana dari Maha Pencipta sebagai natijah dari mengikuti Hadhrat Masih Mau’ud as saya dalam keadaan timbul tenggelam di kisaran air yang berputar-putar dengan deras akhirnya terasa seolah-olah tangan Tuhan memegang saya dan melemparkan saya dari kisaran air yang sangat deras ke tepi sungai itu sampai terdampar diatas dahan sebatang pokok (pohon) di tepi sungai yang menjolok kedalam sungai itu. Maka dengan ditopang oleh batang pokok kayu dan dengan karunia Allah Ta’ala yang khas saya telah selamat terdampar di tepi sungai itu. Pada waktu itu saya teringat kepada kisah mimpi saya. Itulah ta’wil mimpi saya telah  sempurna bahwa setelah badan saya ditindih oleh seekor gajah didalam mimpi itu saya menghadapi suatu musibah dalam bentuk lain. Saya menyadari bahwa selamatnya saya dari kisaran air yang sangat deras itu berkat dari beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan ijin dan dibawah petunjuk beliau as saya berada di Kapurthala dan bertabligh dalam mengkhidmati Jemaat; dan oleh karenanya selamat dari musibah. Jika tidak, situasi saya pada waktu itu sudah betul-betul krtitis tidak ada harapan untuk selamat.” [18]

Semua peristiwa ini semata-mata telah menunjukkan keadaan iman para Sahabat radhiyallahu ‘anhum dan keyakinan mereka terhadap kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as. Apa yang telah terjadi terhadap Maulwi Shahib jika ada orang duniawi menilai maka ia akan berkata bahwa itu semua hanya kejadian biasa sepintas lalu dan secara kebetulan saja. Akan tetapi Hadhrat Maulwi Shahib mengadakan perjalanan karena agama dan menegaskan dikarenakan doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as beliau bisa selamat. Ringkasnya, itulah peristiwa yang sangat menggugah iman dan harus diciptakan didalam kalbu kita. Semoga Allah Ta’ala memberi kita semua taufiq akan hal itu.

[1]Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Register Riwayaat Shahabah, ghair mathbu’ah, Jilid 9 Halaman 65-66

[3]Hadits itu tercantum dalam al-Bukhari, Kitab Ahaaditsil Anbiyaa, Bab wadzkur fil kitaabi Maryam yang menyebutkan ayat ‘falammaa tawaffaitani’ – “…setelah Dia mewafatkan daku..” disebut oleh Nabi saw untuk diri beliau dan Nabi Isa as, menunjuk jelas maknanya ialah wafat. Terjemahan ayat tersebut ialah “Al-Masih ibnu Maryam itu tidak lain melainkan seorang rasul; sesungguhnya telah wafat rasul-rasul sebelumnya. Dan ibunya adalah seorang yang benar. Keduanya dahulu makan makanan..” (Surah Al-Maaidah 5:76) “Dan, Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sesungguhnya telah berlalu rasul-rasul sebelum nya…” (Surah Ali Imran, 3:145)

[4] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 12 halaman 32 -33

[5] Register Riwayat Sahabat, ghair mathbu’ah, jilid 12 halaman 126

[6] Register riwayat sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 12 halaman 166 -167

[7] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 12 halaman 246 -248

[8] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 12 halaman 312 – 313

[9] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 12 halaman 278 -279

[10] Register Riwayat Sahabat, ghair mathbu’ah, jilid 6 halaman 126 – 127

[11] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 3 halaman 1-3

[12] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 3 halaman 121-123

[13] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 7 halaman 121

[14] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 11 halaman 26 -27

[15] Malfuuzhaat, jilid 9, halaman 248

[16] Badr, jilid 6, nomor 14 halaman 7, tanggal 4 April 1907

[17] Register Riwayat Sahabat ra, ghair mathbu’ah, jilid 11 halaman 209 – 210

[18] Register Riwayat sahabat ra Jilid 10 halaman 19, 25, 28