Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad

Khalifatul Masih Ar-Rabbi ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

22 Februari 2002

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dalam khutbah Jumaah hari ini tengah mulai topik baru sifat عزيز aziyzTuhan. Secara ringkas saya akan paparkan di hadapan saudara-saudara bahwa sebutan sifat عزيزsecara total/keseluruhan kurang lebih 88 datang dalam Al-Quran. yang di dalamnya kurang lebih 47 kali bersama sifat عزيز sifat حكيم hakiym juga diterangkan. Dan di tempat-tempat lain beserta sifat عزيز ada disebutkan sifat-sifat ذو انتقام –dzu intiqaam, قويُ -qawiyyun, عليم -Aliymun, حميد –hamiydunحَيٌّ-hayyun,غفور-gafuwrun, وهّاب -wahhab,غفّار -gaffar,مقتدر –muqtadir dan sifat جبّارُ-Jabbaar.Ada satu lagi hal yang layak disebut bahwa dari sebelas yang ada dalam surah شعراء/Syu’ara’delapan rukuk berakhir pada العزيزالرحيم.Sesudah keterangan yang singkat ini saya mau memaparkan arti عزيز dari segi lughat.

Dalam Lughat Mufradat Imam Ragib :العزيز disebut untuk Zat yang unggul di atas semuanya dan tidak ada yang bisa menjadi pemenang terhadapnya. Dan di dalam عزيزtidak hanya menjadi pemenang saja,bahkan termasuk menjadi terhormat juga. Kemengan itu punjuga ada,tetapi karena kemuliaan dan keagungan-Nya. Dan maksud ayat suci اَنَّه لَكِتَابُ عَزِيْزُ innhu lakitabun ‘aziyz adalah kitab yang tidak tertandingi dan tidak mungkin menampilkan semisalnya.

Tertulis dalam Lisanul’Arab bahwa العَزِيزُ Al-Aziyz adalah sifat Tuhan dan bagian sifat asmaulhusna/اسماءالحسني/nama-nama sifat-sifat Tuhan. Dan menurut pendapat Zajjaz bahwa عزيز digunakan/sebutan untuk wujud yang tidak bisa ditaklukkan,yakni yang tidak bisa yang lain menaklukkannya. Menurut pendapat sebagian bahwa العزيزُ disebut untuk wujud yang kuat dan wujud yang ungul di atas segala sesuatu. Dan dikatakan pula bahwa maksud العزيز adalah Zat yang seperti Dia tidak ada lagi yang lain. Jadi, benar juga bahwa dari segi duniawi siapapun saudara katakan عزيز ,baik itu raja atau siapapun juga, ,namun sedemikian rupa unggul dan memiliki kemuliaan dan kehormatan,ini tidak tidak mungkin di dalam manusia. Oleh karena itu ini hanya digunakan untuk wujud Tuhan.

Dari nama-nama Tuhan itu ada sebuah nama yaitu معزّ -mu’izzun yang maksudnya adalah Zat Yang menganugerahkan kehormatan kepada yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya.

Di dalam Munjid untuk raja disebut juga ­العزيزُ ,karena dia memiliki keunggulan diatas rakyatnya. Salah satu arti عزيز-aziyz adalah yang memiliki kemuliaan dan yang didekatkan.

Kini saya memaparkan ayat Al-Quran di hadapan saudara-saudara yang dimana ini disebutkan. رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(129) Hai Tuhan kami,bangkitlah dari mereka Rasul agung yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka kitab dan mengajarkan kepada mereka hikmat dan mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Maha Maha unggul dan Maha bijaksana.

Nah, disini sayogianya diambil perhatian bahwa ini merupakan doa Hadhrat Ibrahim. Dan di dalam Al-Quran dimanapun doa ini ada tertera yang dinisbahkan pada Hadhrat Ibrahim a.s. , disana difirmankan bahwa Engkau menganugerahkan kemuliaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan menganugerahkan kemenangan kepada siapa yang dikehendaki. Dan apabila Engkau menganugerahkan pengertian tentang keunggulan, kebijaksanaan dan kehormatan kepada orang-orang itu baru kemudian mensucikan mereka. Yakni pertama,dari Tuhan dibacakan ayat-ayat kemudian dianugerahkan pengertian mengenai kebijaksanaan. Dan apabila semua telah dimengerti baru Dia mensucikannya. Di setiap tempat dengan susunan inilah doa-doa ini terdapat dalam Al-Quran. Akan tetapi, merupakan keagungan Al-Quran bahwa dimanapun Allah telah menerangkan sendiri sebutan Rasulullah saw bahwa Rasulullah saw yang telah bersabda, disana tidak berfirman bahwa pertama dia memberikan pengertian mengenai hikmah/kebijaksanaa kemudian mensucikan يَتْلُوْاعَلَيْهِمْ عَلَيْهِْمْ وَيُزَكّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ, bahwa segera sesudah membacakan ayat-ayat pada mereka dia mensucikan mereka dan baru mengajarkan kepada mereka ilmu dan hikmah. Di dalam ini ada lagi hal yang indah dan menarik bahwa dari Tuhan apabila terjadi pensucian baru akan mengerti mengenai perkara hikmah dan kebijaksanaan . Kalau tidak jika tidak ada pensucian, maka perkara hikmah sama sekali tidak akan bermakna. Jadi, merupakan kebesaran Al-Quran bahwa dalam hal fasahat dan balaghat/kefasihan dan keindahan bahasa tidak ada yang menandinginya.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa kami menanyakan:Ya Rasulullah saw, apabila kami berada berserta Tuan, maka hati kami menjadi khusyuk dan kami menjadi tidak tertarik pada dunia dan kami menjadi ahli-ahli akherat. Dan apabila kami berpisah dengan Tuan, maka kami saling melepaskan rindu dengan keluarda dan sanak famili kami dan kami menyayangi anak-anak kami dan lalai terhadap diri kami sendiri. Maka Rasulullah saw bersabda,” Jika kamu tetap dalam kondisi dimana kamu datang kepada saya, maka malaikat-malaikat menziarahi kamu di rumah-rumah kamu. Dan jika kamu melakukan dosa, maka Allah akan mendatangkan makhluk serupa itu dari permulaan supaya mereka berbuat dosa lalu Allah memaafkan mereka. Kemudian bersabda:Ada tiga wujud yang doa-doanya tidak ditolak: Satu, imam yang yang adil, kedua,orang berpuasa yang berdoa tatkala berbuka,ketiga, doa orang teraniaya sampai ke langit dan untuknya pintu langit dibukakan. Rabb Yang Maha Mulia dan Maha luhur berfirman : Demi kemuliaan-Ku, Saya akan menolong kamu,meskipun Saya melalukan itu tidak lama kemudian.”. Disini hal yang secara khas layak direnungkan bahwa Allah berfirman, “Saya mendatangkan makhluk serupa itu yang berbuat dosa lalu kemudian Saya memaafkannya”. Itu seyogianya dimengerti bahwa Allah tidaklah merasa senang bahwa orang-orang berbuat dosa. Maksud sebenarnya adalah bahwa pada hakekatnya di dalam diri manusia ada kecenderungan untuk melakukan dosa. Dan jika di dalam diri manusia tidak hal ini, maka cukuplah hanya malaikat-malaikat saja, tidak ada lagi tujuan diciptakannya manusia. Dan sifat Tuhan gafuwr-غَفورُ itu itu tidak ada kaitannnya dengan malaikat. Itu berkaitan dengan makhluk serupa yang sesudahnya dilanda berbagai kesalahan. Jika kamu telah kehilangan maksud kelahiran kamu, maka kamupun akan mondar-mandir seperti malaikat di dunia ini. Kemudian, apa perlunya Saya dengan kalian,malaikat saja sudah cukup jadinya.

Hadhrat Abu Said Khudri r.a. meriwayatkan bahwa saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Iblis berkata kepada Tuhan-nya, demi kemuliaan dan kegagahan Engkau, saya akan terus menyesatkan dan menjerumuskan anak Adam.Maka Allah berfirman,” Demi kemuliaan dan kegagahan-Ku, Saya akan terus memaafkan mereka,selama mereka terus memohon ampunan kepada Saya”.

Diriwayatakan dari Hadhrat Ibni Abbas r.a. bahwa Rasulullah saw selalu berdoa :اَعُوْذُ بِعِزَّتِكَ اللَّذِيْ لااِلَهَ اِلَّا اَنْتَ اللَّذي لاَيَمُوْتُ وَالجِنُّ والْاِنْسُ يَمُوْتُوْنَ, yakni, hai Allah, dengan perantaraan kemuliaan Zat Engkau saya berlindung kepada Engkau. Selain Engkau tidak ada sembahan, Engkau adalah sembahan/Tuhan yang tidak akan pernah fana, sedangkan jin dan manusia akan menemui ajalnya .

Hadhrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa tatkala dalam keberadaan Rasulullah saw, seorang berkata lancang kepada Hadhrat Abu Bakar Siddik r.a. Rasulullah saw terus tersenyum dengan rasa heran atas ucapan tidak senonohnya. Ketika orang itu telah mencaci maki kelewat batas, maka Hadhrat Abu Bakar. membalikkan ucapannya caci makiannya itu kepadanya. Karena itu Rasulullah saw marah lalu bangun dan pergi. Maka Hadhrat Abu Bakar Siddik r.a. bangun mengikuti sambil berkata, hai Rasul Allah, dia mencaci maki saya dalam keberadaan Tuan dan ketika saya mengembalikan beberapa ucapannya sendiri padanya, maka Tuan pergi sambil marah. Beliau bersabda: Ketika kamu terus diam,maka pada waktu itu malaikat tetap menyertai kamu, dia memberikan jawaban dari pihak kamu. Akan tetapi, ketika kamu mulai membalikkan beberapa ucapannya, maka syaitan duduk di tengah-tengah dan saya bukanlah seorang yang duduk bersama syaitan. Kemudian beliau bersabda: Hai Abu Bakar,ada tiga hal yang mutlak kebenarannya. Seorang yang dizalimi dan demi karena Tuhan dia tidak memberikan jawaban. maka Allah memberikan kemuliaan padanya dan menolongnya. Dan barangsiapa yang demi untuk menjalin tali silaturrahmi dia mulai membuka pintu sedekah-sedekah /memberikan sumbangan/infak-infak. maka Allah akan menganugerahkan lebih banyak lagi padanya.Dan barangsiapa karena menginginkan banyaknya harta mulai membuka pintu meminta-meminta, maka Allah akan menambahkannya lagi menjadi orang yang serba kekurangan.

Inipun merupakan kenyataan yang umum diketahui setiap orang bahwa orang yang sekali membuka pintu meminta pada manusia. maka laparnya pun tidak pernah hapus dan kemiskinannya tidak melepaskannya. Jadi, yang paling banyak adalah qanaat /rasa berkecukupan. Yang paling penting seyogianya seorang merasa puas kepada Tuhan dan mintalah karunia-Nya ,maka dengan karunia-Nya Dia menjadikan manusia menjadi sangat kaya. Oleh karena itu, orang yang ditimpa kesulitan dalam rezeki hendaknya memperhatikan hal ini bahwa mintalah rasa berkecukupan kepada Tuhan. Pada dasarnya seberapa pun banyaknya rezeki itu tetap saja tidak pernah memenuhi keinginan dan hasrat manusia. Anak Adam jika diberikan sebidang lembah lagi. maka ia akan mengatakan, berilah selain ini sebidang lembah lagi. Jadi,ini merupakan sebuah tamsil Jahannam. Jahannamnya ketamakan dan keinginan manusia tidak pernah dingin/padam. Diberikan suatu alam, maka alam lain lagi yang diminta darinya.Galib juga mengatakan sebuah syair sebagai tamsil: donow jahan dekke woh samjhe yeh khusy raha ya a pri syarem ke tekrar keya kare-Setelah melihat ke dua alam ini manusia memandang bahwa dengan memberikan ini Tuhan menjadi senang.Namun, disini manusia yang kenal malu ini ingin meminta berkali-kali (?),padahal ini benar-benar merupakan sikap dungu.Di hadapan Tuhan ke dua alam raya sama sekali tidak ada nilainya. Dan manusia jika terus menerus meminta berkali-kali di hadirat Tuhan sedikit pun hazanah-Nya tidak akan berkurang. Pada satu kali,Rasulullah saw sebagai misalnya pada suatu kesempatan beliau mencelupkan lobang jarum di air lalu mengeluarkannya. Dan serupa itu jika Tuhan menganugerahkan nikmat dan hadiah-hadiah yang tidak terhitung, maka tetesan yang menempel di lobang jarum setelah dikeluarkan dari air sebegitupun karunia Tuhan dari samudera-samudera tidak berkurang. Jadi, kepada Tuhan hendaknya meminta tampa batas. Seterusnya itu terserah kehendak Tuhan Dia mengerti bahwa sampai batas mana Dia seyogianya memberi hamba-Nya.

Ada ayat-ayat dalam surat Al-Baqarah 209-210:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ(208)فَإِنْ زَلَلْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Terjemah:

Hai orang-orang yang beriman,masuklah kamu sekalian dalam kawasan kepatuhan seutuhnya dan janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan;esungguhnya dia merupakan musuh yang nyata bagimu. Jadi, jika kamu sesudah itu tergelincir sesudah datang kepadamu tanda-tanda yang nyata, maka ketahuilah bahwa Allah Maha perkasa Maha bijaksana.

Hadhrat Khalifatul Masih I bersabda: ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً-udkhuluw fissilmi kaaffah.Masuklah kamu sekalian dalam kepatuhan,karena kepatuhan membawa manusia pada kesuksesan. Dari sejak permulaan pelajaran ini kita mulai. Pertama diberitahukanوَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ, kemudian berfirman اِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًي اُعبدُوا رَبَّكُم ،kemudian memerintahkan berjalan ke arah Ibrahim. Kemudian berfirman ,jika di jalan ini jiwa sekalipun yang diperlukan,maka janganlah enggan karena Allah beserta orang yang bersabar.

Kalam Hadhrat Khalifatul Masih I biasa selalu singkat,oleh karena itu setiap orang tidak segera mengerti. Daripada saya memerlukan waktu yang panjang untuk menerangkannya,maka saya sebagaimana apa yang Hadhrat Khalifatul Masih I sabdakan di dalam kata-kata itulah saya paparkan di hadapan saudara-saudara..

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s. bersabda: Hai orang-orang yang beriman, rebahkan leher kalian di jalan Allah, dan janganlah kalian memilih jalan syaitan karena syaitan merupakan musuh kamu. Di tempat ini maksud syaitan adalah orang-orang yang memberikan pelajaran keburukan . Dan seyogianya harus diingat bahwa manusia itu sendiri disertai/ada syaitan yang mengajarkan keburukan. Kemudian menganggap bahwa syaitan itu datangnya dari luar , yakni mengajarkan keburukan, tidaklah benar.Allah menetapkan syaitan menyertai setiap manusia,yakni orang-orang yang berbicara selaras dengan sifat pembicarannya, dan kadang-kadang ada juga syaitan yang sama sekali berlawanan dengan sifat seseorang dan sebagaimana hal dampak ruhani itupun menimbulkan pengaruh juga. Satu kali di hadapan Hadhrat Khalifatul Masih I seorang murid beliau hadir. Dia berkata,” Jika saya duduk di majlis Tuan, maka sama sekali tidak terfikir untuk ragu pada wujud Tuhan; tetapi, apabila saya shalat di mesjid Nur, ,maka disana timbul berbagai macam was-was di dalam hati saya. Firasat Hadhrat Khalifatul Masih I segera dapat mengerti bahwa temannya itu ada yang atheis. Beliau bersabda: “Siapa yang shalat bersama kamu ? Kamu menyingkirlah dari dia dan jauhkanlah dirimu darinya. Kemudian, seperti itulah yang dia lakukan. Maka, sesudahnya dengan karunia Tuhan di benaknya tidak ada lagi was-was yang timbul. Jadi, was- was pun syaitanlah yang menciptakan dan syaitan maksudnya bukan hanya syaitan yang dalam khayal kita,bahkan dari manusia itulah syaitan-syaitan begitu banyak yang menciptakan was-was.

 وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(220) Dan mereka bertanya kepada engkau mengenai anak-anak yatim.Katakanlah, memperbaiki nasib mereka adalah sangat baik dan jika kamu bergaul dengan mereka maka tidak ada salahnya sebab mereka itu adalah saudara-saudara dan Allah mengetahui perusuh dan orang yang berusaha memperbaiki nasib anak yatim. Dan sekiranya Allah menghendaki niscaya itu akan menyukarkan kamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa Maha bijaksana.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan dari Rasulullah saw bahwa Rasulullah saw bersabda:

 خَيْرُبَيْتً فَي المُسْلِميْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُحْسَنُ اِمَيْهِ وَشَرُّبَيْتٍ فِي الْمُسلِميْن بَيْتٌ فِيْهِ يَتٍيْمٌ يُسَاءُ اِلَيْهِ Hadhrat Abu hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: Rumah-rumah orang muslim yang terbaik adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim dan dia diperlakukan dengan baik dan rumah-rumah orang Islam yang terburuk adalah rumah yang dimana ada anak yatim dan kemudian diperlakukan buruk kepadanya.

Di dalam Sunan Nasai Hadhrat Abu Said Hudri r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya harta dunia adalah subur manis dan teman yang baik untuk orang Islam ini ialah yang memberikan juga pada anak yatim, musafir dan orang miskin. Dan orang yang mengambil harta yang tidak benar adalah seperti orang yang terus makan, namun perutnya tidak penuh dan harta ini akan menjadi saksi menetang dia pada hari kiamat.

Amar bin Syu’aib dari kakeknya menerangkan bahwa ada seorang yang menanyakan kepada Rasulullah saw:Saya tidak memiliki harta, tetapi saya sebagai penanggung jawab seorang anak yatim. Maka Huzur saw bersabda: Makanlah dari harta anak yatim dibawah peliharaan engkau yang jangan sampai berlebihan dan tidak juga dengan pembelanjaan sia-sia dan tidak pula memperbanyak hartamu dari hartanya. Dan janganlah pula kamu menyimpan hartamu dari hartanya. Yakni, dimana tempat berbahaya,khawatir jangan menjadi rusak, maka bukannya memberikan hartamu sendiri,tatapi kamu mulai menggunakan harta mereka. Ini sama sekali tidak boleh. Harta anak yatim merupakan pertanggung-jawaban yang ada pada manusia dan disebabkan dia penanggung jawab, maka dia yang bertanggung jawab. Dan jika dia miskin, maka dia hanya bisa memakan yang hanya dapat menghilangkannya dari lapar. Kalau tidak, harta anak yatim yang ada pada seseorang itu merupakan amanat. Seyogianya jangan berkhianat pada hartanya.

Hadhrat Khalifatul Masih I bersabda: Apabila peperangan mulai maka ada juga yang terbunuh juga dan anak-anak yang terbunuh juga menjadi anak yatim, karena itu berfirman:

اِصْلاحٌ لَهُ خِيْرٌ -memikirkan perbaikan nasib mereka merupakan kebaikan yang sangat besar. Disini Hadhrat Khalifatul Masih I perkara ini beliau alihkan pada peperangan pembelaan diri yang terjadi di zaman Rasulullah saw. Dan beliau bersabda: Ketika Rasulullah saw melakukan peperangan untuk membela diri,maka banyak orang-orang menjadi syahid juga dan kemudian anak-anak mereka menjadi anak yatim. Jadi untuk memelihara mereka secara khusus diperintahkan dari Tuhan.

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Jika diantara kalian ada yang kaya, yang belum matang /sempurna akalnya,misalnya, yatim dan belum baligh serta dikhawatirkan dia akan menyia-nyiakan hartanya karena kebodohannya,maka kamu sebagai pengolah dan pengawas, ambillah semua harta sebagai di bawah tanggung jawabmu dan semua harta yang berjalan dalam corak perdagangan janganlah serahkan kepada orang-orang bodoh itu. Jadi, Al-Quran betapa penuh dengan kebijaksanaan,yakni harta yang meskipun secara zahir merupakan harta si yatim,berfirman,bahwa itu merupakan hazanah bangsa. Jika kalian menyerahkan kepada orang-orang dungu dan mereka menyia-nyiakannya maka seluruh bangsa akan merugi. Karena itu merupakan harta ummat maka jagalah itu. Selama mereka tidak berakal maka sampai pada waktu itu sesuai kebutuhan belanjakanlah itu pada mereka/berilah sesuai dengan keperluan. Dan jika mereka berakal dan mereka mulai mengerti dan kalian menjadi yakin bahwa harta yang Allah berikan pasti mereka tidak akan menyia-nyiakan, maka kembalikanlah hartanya kepadanya.

Bersabda: Jangan serahkan kepada orang-orang yang dungu itu harta mereka. Berilah kepada mereka dari harta itu sesuai kebutuhan untuk makanan dan pakaian mereka.Dan katakanlah perkataan yang baik pada meareka ,yakni hal-hal yang yang dapat menambah akal mereka dan dari satu sisi sesuai dengan kondisi akan mendidik mereka dan jangan mereka menjadi tetap jahil dan tidak menjadi orang yang tidak berpengalaman. Jika mereka anak seorang pedagang,maka ajarkanlah kepada mereka cara-cara berdagang. Dan jika mereka mempunyai profesi maka sesuai kondisi itu kukuhkanlah itu. Ringkasnya sambil jalan/berlalu ajarkanlah kepada mereka. Dan kadangkala ujilah apa yang kalian telah ajarkan kepada mereka . Apa yang kamu telah ajarkan pada mereka apakah mereka telah mengerti atau tidak. Dan apabila mereka telah layak untuk menikah yakni umurnya kurang lebih telah sampai delapan belas tahun,maka kalian lihatlah apakah mereka telah mempunyai akal untuk mengurus hartanya ? Serahkanlah harta mereka kepadanya .Dan janganlah membelanjakan harta mereka secara berpoya-poya/berlebih-lebihan, janganlah kamu merusak hartanya karena takut bahwa jika dia ini besar maka dia akan mengambil hartanya. Mereka yang mempunyai harta seyogianya dia jangan mengambil keuntungan dari hartanya Tetapi jika seorang yang memerlukan dan dengan cara yang baik ingin mengambilnya,maka dia bisa mengambilnya.

Surah Abaqarah ayat 229

 وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّه

ِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(228)-Dan perempuan-perempuan yang ditalak harus menahan diri mereka tiga kali haid;dan tidaklah halal bagi mereka menyembunyikan apa yang telah diciptakan Allah dalam kandungan mereka,jika mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian ;dan suami-suami mereka lebih berhak merujuki mereka dalam masa idah itu,jika mereka menghendaki penyelesaian secara damai.dan mereka mempunyai hak yang sama dengan laki-laki atas mereka dalam keadilan;tetapi laki-laki mempunyai derajat lebih atas mereka. Dan Allah maha Perkasa Maha bijaksana.

Hadhrat Aqdas Masih Mauud a.s.bersabda: Sebagaimana halnya Islam melindungi hak-hak perempuan, mazhab manapun tidak ada yang melakukan serupa itu .Hal itu diterangkan dalam kata-kata yang singkat وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ Dan sebagaimana hak laki-laki pada perempuan serupa itulah hak perempuan pada laki-laki. Kadang –kadang didengar kondisi sebagian orang yangmana mereka mengenal perempuan-perempuan itu sebagai sepatu dan mereka mengambil pengkhidmatan yang hina dari mereka.Mereka mencaci maki mereka, melihat dengan pandangan hina dan perintah pardah pun mereka terapkan dengan cara yang sama sekali tidak benar seolah-seolah mereka menguburkannya hidup-hidup.Jalinan suami dengan istri sedemikian rupa hendaknya sebagaimana diantara dua teman yang sejati. Saksi pertama akhlak mulia manusia dan saksi pertama adanya hubungan dengan Tuhan adalah perempuan-perempuan itu. Jika dengan mereka ikatannya tidak baik, maka bagaimana mungkin bisa damai dengan Tuhan..

Rasulullah saw bersabda: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِا َهْلِهِ -Diantara kalian yang terbaik adalah yang baik pada keluarganya. Dan seterusnya adalah وَاَنَاخَيرُكُمُ لِاَهْلِيٍ-Dan saya adalah orang terbaik diantara kalian yang memperlakukan keluarganya. Jadi contoh Rasulullah saw berkenaan dengan istri-istri suci beliau,dari itu dapat diketahui bahwa meskipun ada perintah memukul ini telah diartikan salah. Orang yang berperangai baik, yang benar-benar memperhatikan hak-hak istrinya,tidak mungkin bahwa istrinya sedemikian rupa berani kepadanya yang karenanya dia terpaksa harus memukulnya. Para istri-istri suci, ummulmu’miniyn di hadapan Rasulullah saw kadang-kadang mereka mengatakan sesuatu yang menyakiti Rasulullah saw.Namun, beliau tidak pernah memukul istri-istri beliau. Satupun tidak ada peristiwa terbukti bahwa beliau memukul istri beliau. Dari itu dapat diketahui bahwa contoh kita kini seyogianya hanya contoh Rasulullah saw. Dan orang yang menafsirkan salah ayat Al-Quran mereka menganggap bahwa ada izin untuk memukul, ini merupakan hal yang tidak benar.Sepengetahuan saya, ada sebagian ahmadi mengambil alasan bahwa Tuhan telah mengizinkan untuk memukul , sehingga mereka sangat bersikap keras dan aniaya terhadap istri-istri mereka dan mereka mengaggap bahwa mereka bersikap seperti itu adalah sesuai dengan syareat. Ini sama sekali haram. Syareat adalah apa yang dimengerti oleh Rasulullah saw dan sebagaimana Rasulullah saw telah menerapkan syareat pada dirinya dan beliau terapkan juga pada istri-istri suci beliau,membuat syareat terpisah dari itu sama sekali tidaklah benar.

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda:

Dengan merenungkan apa yang ada dalam Al-Quran dapat diketahui dengan jelas bahwa disisi Tuhan sesuatu yang sangat tidak disenangi ikatan suami istri yang sejak lama itu dilepaskan lalu mereka menjadi berpisah. Inilah sebabnya untuk talak Dia telah menetapkan syarat-syarat ketat yang sangat banyak.Sesudah tenggang waktu memberikan tiga talak, dan tinggalnya pada satu tempat, semua perkara ini adalah untuk supaya hilang kesedihan-kesedihan hatinya lalu mereka kembali menjadi berdamai. Kebanyakan dilihat bahwa kadang-kadang ada diantara keluarga dekat yang berselisih . Dan pada waktu emosi alami mereka melonjak, mereka pergi ke pengadilan membawa masaalah perceraian mereka ke pengadilan dan akhirnya pengadilan yang bijaksana mengatakan kepada mereka, datanglah sesudah seminggu.Maksud sebenarnya adalah supaya diantara keduanya akan berdamai dan emosinya menjadi hilang. Maka kemudian perlawanannya tidak akan tersisa. Pada waktu itu mengambil permohonan mereka, dipandang sebagai hal yang bertentangan dengan kebijaksanaan.. Karena mereka/hakim mengetahui bahwa ini tengah dalam keadaan emosi. Dan kalau marah sudah hilang,maka bawalah permohonan kemari. Begitu juga untuk terpisahnya/bercerainya laki dan perempuan Allah telah meletakkan banyak kesempatan dan ini merupakan kesempatan dimana kedua belah pihak dapat memikirkan keburukan dan kebaikan mereka bersama. Dan Tuhan berfirman الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ aththalaqu marrtaan bahwa sesudah dua kali talak,atau dia ditahan dengan baik ,atau dilepaskan dengan cara yang baik.Yakni, di dalam talak setelah dua kali talak juga, jika tanbeatnya cenderung, maka tahanlah dengan baik dan kemudian jangan timbul talak berkali-kali. Dan jika tetap ingin menceraikan maka perlakukanlah dengan baik ,pisahkalah/ceraikanlah dengan menyenangkannya.

 وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(240)– Dan orang-orang yang meninggal dunia diantara kalian dan meninggalkan istri-istri,hendaklah mewasiatkan untuk istri-istri mereka perbekalan untuk setahun tampa menyuruh mereka keluar dari rumah. Tetapi, jika mereka kuluar sendiri,maka tidak ada dosa atasmu tentang apa yang patut mereka lakukan terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa Maha bijaksana.

Hadhrat Khalifatul Masih I bersabda: Inipun juga merupakan masaalah jihad karena pada akhirnya orang Islam-lah yang terbunuh dan istri-istri mereka tertinggal dibelakang. Untuk mereka diwasiatkan bahwa sampai setahun mereka jangan dikeluarkan. Yakni, menurut Hadhrat Khalifatul Masih I ini bukanlah bersifat umum, bahkan merupakan perintah dimasa jihad. Dan memang merupakan kenyataan bahwa ajaran yang kebaikan yang bersifat umum itu seyogianya jangan dijadikan khas untuk suatu waktu. Seberapa luas ruang lingkupnya diperluas, maka itu akan menjadi tambah lebih baik. Jadi, perintah ini, kinipun masih berjalan,padahal kini jihad belum zahir. Orang-orang yang terpaksa berpisah dengan istri-istri mereka, mereka hendaknya menasehatkan kepada keluarga dan sanak famili mereka bahwa mereka sekurang-kurang sampai satu tahun biarkan tinggal di rumahnya. Jika dengan keinginan sendiri pergi maka biarkanlah pergi. Akan tetapi jika tidak ingin meninggakan rumah maka benar-benar merupakan haknya bahwa sekurang-kurangnya satu tahun tinggal di rumah, yang dimana dia telah tinggal bersama-sama dengan suaminya.

 وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ(260)-Dan Ingatlah, ketika Ibrahim berkata,”Ya Tuhanku,bagaimana Engkau menghidupkan yang mati.”Dia berfirman,” Tidakkah engkau percaya?”. Berkata ia,”Ya, namun supaya tenteram hatiku.”Berfirman dia,”Maka jika demikian ambilllah empat ekor burung dan buatlah hati mereka lekat kepada engkau, Kata فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ yang diterjemahkan dari sebagian ulama sama sekali salah dan dari segi gremer bahasa Arab sama sekali salah. Maksud فَصُرْهُنَّ adalah potong-potonglah dia,namun bersama itu tidak akan ada kata إِلَيْكَ. Dan bahasan cincang-cincanglah ke arah kamu,ini bahasa Arab tidak mengizinkan untuk menterjemahkan seperti ini. Mafhum kedua dari فَصُرْهُنَّ adalah melekatkan bersama diri sendiri. Ini dikaitkan dengan إِلَيْكَ yang persis tepat dan benar. kemudian tangkaplah empat ekor burung dan jangan mencincang-cincang itu , bahkan jinakkanlah itu bersama dengan engkau.Yakni, sebagaimana manusia menjinakkan anjing dan burung-burung,jinakkanlah itu bersama kalian, maka jika yang lainpun yang dipanggil maka dia akan datang dengan berlaari-lari. Jadi seperti inilah perintah itu.Dia berkata tangkaplah empat ekor burung dan kemudian jinakkanlah itu bersama kamu dan letakanlah tiap-tiap burung itu diatas sebuah bukit kemudian panggillah mereka,niscaya mereka akan datang kepada engkau berlari-lari. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha perkasa Maha bijaksana.

Hadhrat Khalifatul Masih I bersabda: Allah memberitahukan kepada Hadhrat Ibrahim sebuah dalil atas pertanyaannya bahwa bagaimana yang mati bisa akan hidup.Maka Dia berfirman. Lihatlah, hewan-hewan yang merupakan kumpulan dari jisim dan nyawa, dengan sebab sedikit pemeliharaan engkau karena panggilan engkau akan datang berlari-lari dengan cepatnya dari gunung-gunung setelah mendengar suara engkau .Maka,apakah Saya yang merupakan Rabb hakiki, pemelihara mereka yang hakiki, karena panggilan Saya zarrah-zarrah dan hewan-hewan ini tidak akan bisa berkumpul ? Terhadap pemandangan dan perbuatan ini, apa keberatan engkau ?

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Di akhirnya, sifat Allah عَزِيزٌ dan -حَكِيمٌ hakim yang diterangkan.Yakni, kemenangan keperkasaan-Nya sedemikian rupa, yang mana segala sesuatu kembali kepadanya. Dan apabila manusia meraih kedekatan Tuhan,maka ke arah manusia itu juga timbul daya tarik, yang buktinya terdapat dalam surah اَلْعَادِيَات—Al-‘adiyaat. Dari عَزِيْز dan حَكِيْم juga diketahui bahwa kemenangan-Nya penuh dengan hikmah,tidak menyakiti tampa alasan yang tidak benar.

Hadhrat Masih Mauud a.s. selanjutnya bersabda: عَزيْز –aziyz adalah nama Tuhan. Dia tidak menganugerahkan kemuliaan -Nya kepada siapapun,tetapi kepada mereka yang larut dalam cinta-Nya.ظَاهِرْ –zhahir adalah nama Tuhan.Dia tidak menganugerahkan kezahiran-Nya/kemenangan-Nya kepada siapapun ,namun kepada orang yang bermartabat tauhid dan ke- Esaan-Nya. Dan sedemikian rupa dia larut dan fana dalam persahabatan dengan-Nya dan semartabat sifat-Nya. Dia menganugerahnya nur dari nur-Nya ,menganugerahkan ilmu dari ilmu-ilmu-Nya,baru segenap kalbunya, segenap organ tubuhnya,segenap cintanya memuja Tuhan yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan sedemikian rupa dia menginginkan keridhaan-Nya sebagaimana Dia sendiri menginginkannya. Manusia memang menda’wakan menyembah Tuhan,tetapi apakah penyembahan itu bisa dengan banyaknya sujud,rukuk dan berdiri ? Atau orang-orang yang banyak sekali menghitung-hitung biji-biji tasbih bisa dikatakan seorang ‘abid/penyembah Tuhan ? Bahkan, bisa juga dikatakan kepada penyembah yang kecintaan Tuhan sedemikian rupa dia tarik padanya, yang sehingga wujudnya sendiri lenyap dari tengah-tengah/ dari antara dirinya dan Tuhan.

Disini tertera sebutan biji-biji tasbih. Seyogianya diperhatikan bahwa Rasulullah saw, para khalifah rasyidiyn, dan sesudahnya para terkemuka tabi’tabiiyn juga, mereka tidak pernah menghitung biji tasbih. Ini merupakan alasan-alasan yang dibuat-buat kemudian.Perempuan penipu sambil terus menghitung-hitung biji-bji tasbih untuk memberitahukan pada orang –orang bahwa betapa kami ini merupakan perempuan-perempuan yang suci/terhormat. Dan memang pada kenyataannya tatkala menghitung –hitung biji-biji tasbih ataukah dia tengah mencaci maki atau dia tengah omong kosong lainnya, itu semua berjalan beriringan dengan biji-biji tasbih yang terus berputar.Oleh karena itu tradisi menghitung-hitung biji-biji tasbih yang ada di dalam diri orang-orang Islam tidak datang dari Rasulullah saw dan para tabi’-tabiin. Ini merupakan teradisi yang ditemukan jauh sesudahnya.

Kemudian Hadhrat Masih Mauud a.s. dengan terinci bersabda: Yakinilah wujud Tuhan sepenuhnya. Kemudian seyogianya sepenuhnya diketahui akan keindahan dan ihsan/kebaikan Tuhan. Kemudian jalinan cinta Ilahi sedemikian rupa hendaknya sehingga gejolak cinta itu selalu ada di dalam kalbunya;dan kondisi ini di setiap saat selalu menghiasi wajahnya. Dan keagungan Tuhan didalam kalbunya sedemikian rupa sehingga seluruh dunia di hadapan wujud-Nya digambarkan mati olehnya; dan setiap takut/khauf berjalin erat dengan –Nya; dan di dalam keperihan-Nya dia merasakan kelezatan; dan di dalam kesendirian mengingat-Nya kebahagiaan terasa;dan tampa Dia dia tidak merasakan ketenangan. Jika, lahir kondisi serupa ini,maka namanya adalah penyembahan/pengabdian. Menyatakan Tuhan sebagai sembahannya yang hakiki lalu menyembah-Nya,inilah wilayat / tingkat para wali, yang lebih dari itu tingkatan tidak ada lagi. Namun, martabat ini tampa pertolongan-Nya tidak bisa diraih.Tanda meraihnya adalah, keagungan Tuhan tertanam di dalam kalbu, hati hanya bertawakkal pada-Nya, hanya mencintai-Nya dan mengutamakan-Nya melebihi segala sesuatu serta mengingat-Nya dijadikan sebagai maksud kehidupannya. Jika seperti Hadhrat Ibrahim ada perintah untuk menyembelih anaknya sekalipun,atau ada isyarah untuk memasukkan dirinya ke dalam api,maka perintah-perintah yang sedemikian kerasnya itupun dilaksanakannya dengan gejolak cinta. Dan di dalam keridhaan majikannya yang Maha mulia sedemikian rupa dia berusaha sehingga di dalam keitaatan pada-Nya tidak ada lagi upaya-apaya yang tersisa. Ini merupakan pintu yang sangat sempit dan minuman ini merupakan minuman yang sangat pahit. Sangat sedikit orang yang masuk lewat pintu ini dan meminum minuman ini.

Kini sesudah khutbah ini saya membaca khutbah masnunah/yang disunahkan.

Qamaruddin Syahid.