Download

Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)

19 Juli 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة: 186)

 

“Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk agung bagi umat manusia sebagai tanda-tanda nyata yang di dalamnya terdapat penjelasan tentang petunjuk dan pembeda antara hak dan batil. Maka, barang siapa di antara kamu melihat bulan ini, berpuasalah di dalamnya. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, hendaknya menyempurnakan bilangannya pada hari-hari lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, dan ingin supaya kamu bisa menyempurnakan bilangannya dengan mudah, dan supaya kamu mengagungkan Allah karena telah memberi petunjuk kepadamu dan supaya kamu bersyukur.” (2:186)

Bulan Ramadhan datang berkali-kali dalam kehidupan seorang Muslim. Seorang Muslim yang beramal tahu bahwa wahyu Al-Qur’an mulai (turun) pada bulan ini. Seorang Muslim yang beramal dan memiliki pengetahuan tahu bahwa selama kehidupan Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap tahun selama bulan Ramadhan Hadhrat Jibril selalu mengulangi Al-Qur’an yang telah diwahyukan sampai saat itu dengan beliau, dengan pengecualian tahun terakhir kehidupan Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika Al-Qur’an telah diwahyukan secara keseluruhan dan beliau telah menerima kabar suka

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا (المائدة: 4)

‘… hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu dan telah Ku-lengkapkan atasmu nikmat-Ku dan telah Ku-pilih Islam sebagai agamamu … ‘(Al-Maidah 5: 4).

Menurut hadist yang diriwayatkan oleh Hadhrat ‘Aisyah ra. pada Ramadhan tahun terakhir ini Jibril Al-Qur’an diulangi dua kali.

Al-Qur’an memiliki kedekatan khusus dengan bulan Ramadhan. Setiap tahun Ramadan menarik perhatian kita bahwa Al-Quran memang diwahyukan selama bulan ini. Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa beliau akan membahas bagian pertama ayat tersebut dan bukan bagian akhirnya.

Setiap tahun bulan Ramadhan mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an adalah ajaran petunjuk dan ia membedakan antara kebenaran dan kebatilan dengan tanda-tanda yang bersinar. Ini mengingatkan kita tentang pentingnya keistimewaan puasa dan bagaimana puasa harus dijalankan. Ramadhan juga mengingatkan kita bahwa ajaran Al-Qur’an adalah lengkap dan meliputi semuanya.. Memang, pengingat ini hanya bermanfaat bila kita memahami ruh dan intinya. Jika tidak, Ramadhan datang setiap tahun dan ia akan terus datang dan akan terus mengingatkan tentang hal-hal itu, dan kita hanya akan senang untuk mendengarkan mengenai pentingnya. Manfaatnya akan disadari sepenuhnya ketika kita melaksanakan pentingnya (bulan ini) dalam amalan kita. Ketika, segera setelah kami begitu kita mendengar شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ ‘Ramadhan adalah bulan  di mana Al-Qur’an diturunkan …’ kita mengambil Qur’an untuk membacanya. Tujuan pengingat ini akan terpenuhi ketika kita berusaha untuk memahami makna Al-Qur’an sehingga kata-kata “هدى للناس.” ‘… petunjuk bagi umat manusia …’ benar-benar jelas bagi kita.

Pengingat kedekatan antara Ramadhan dan Al-Qur’an akan jelas bagi kita ketika kita berusaha dan melakukan upaya khusus di bulan ini untuk mencari perintah-perintah Al-Qur’an. Ramadhan mengingatkan kita, menarik perhatian kita untuk mencari perintah-perintah dalam Al-Qur’an dan kemudian mengamalkannya dan menjadikannya bagian dari kehidupan. Berdasarkan ajaran Alquran, Ramadhan mengingatkan kita untuk terus mengingat Allah dan terus meningkatkannya dan kewajiban ini dipenuhi dengan ibadah kepada Allah, dengan mengerjakan Shalat dengan penuh perhatian, tepat waktu dan untuk mencari keridhaan Allah, serta dengan sungguh-sungguh mengerjakan shalat-shalat nafal dan sibuk dalam dzikir Ilahi. (pemenuhan) hak (Allah) ini mendekatkan diri kita kepada Allah dan membuat Dia dekat dengan kita sehingga jarak antara manusia dan Tuhan akan hilang.

Ramadhan mengingatkan untuk berpegang teguh pada tali yang salah satu ujungnya yang ada di tangan Allah dan Dia telah menggantung ujung lainnya di bumi bagi mereka yang mencari kedekatan-Nya. Orang yang menggenggamnya akan menemukan Tuhan.

Ramadhan mengingatkan kita bahwa Tuhan menyatakan: “فإني قريب” fainnii qariib “… Aku dekat … ‘(2:187). Kita harus meningkatkan tingkat ibadah kita dan mendapatkan kedekatan ini.

Ramadhan mengingatkan kita untuk berusaha dan membayar hak-hak hamba, umat-Nya, lebih dari sebelumnya. Sungguh, Allah telah menarik perhatian pada (membayar) hak orang lain, seperti hak-hak antara umat Muslim, Dia telah menyatakan: رحماء بينهم ruhamaau bainahum ‘… berkasih sayang di antara mereka sendiri … “(48:30)

Beberapa orang mengabaikan hak-hak mereka sendiri, bahkan sebagian mengabaikan hak-hak keluarga. Hadhrat Khalifatul Masih kadang-kadang menerima surat dari para wanita muda yang mengatakan bahwa orang tua membedakan antara putra dan putri. Kadang-kadang, jika pembagian harta (warisan) dilakukan oleh orang tua ketika mereka hidup, sebagian keluarga memahrumkan anak perempuran dan mewariskan segalanya kepada anak laki-laki. Untuk menutupi diri mereka, mereka bertanya kepada anak perempuan apakah mereka keberatan, dan anak perempuan menyerahkan (haknya) karena malu, dan orang tua berpikir mereka telah berbuat adil. Ini bukan keadilan bahkan ini adalah pelanggaran dan melawan perintah jelas dari Al-Qur’an. Sungguh mengherankan ada orang tua seperti di masa sekarang ini yang sangat tidak adil. Hal ini juga baik bahwa ada wanita muda seperti ini di masa sekarang ini yang mengorbankan hak mereka untuk kebahagiaan orang tua mereka. Namun, mereka harus ingat bahwa jika pengorbanan mereka tidak tulus maka mereka membuat orang tua mereka berdosa melalui hal itu. Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa beliau akan mengatakan kepada orang tua yang kejam seperti itu sekali lagi untuk merasa takut kepada Allah, dan saudara-saudara yang melampau batas dalam keegoisan dan menekan orang tua untuk menyerahkan harta kepada mereka dengan memahrumkan saudara perempuan, mereka mengisi perut mereka dengan bola api. Mereka hendaknya takut kepada Allah dan memberikan perhatian pada perbaikan diri mereka. Detail ini disampaikan karena hal ini penting.

Melanjutkan subyek apa yang Ramadhan ingatkan kepada kita, Hadhrat Khalifatul Masih bersabda ketika kita merasakan Ramadhan, ia mengingatkan kita bahwa menurut ajaran Al-Qur’an setiap muslim harus menanamkan ruh pengorbanan. Kita harus mengintrospeksi diri mengenai janji yang kita buat demi Allah dan Jemaat dan demi Khilafat Ahmadiyah untuk mengorbankan hidup, harta dan waktu kita. Kita harus memenuhi janji, dan mengntrospeksi diri berapa banyak semangat yang kita miliki untuk memenuhi janji tersebut dan mencari perintah-perintah Al-Qur’an mengenai hal ini, dan juga mencari perintah (Alquran) tentang satu sama lain.

Ramadhan juga menarik perhatian kita pada kepedihan yang Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam rasakan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kemurkaan Allah. Dan betapa khusyuk dan sedih beliau berdoa kepada Allah mengenai hal ini dan apa yang harus kita lakukan untuk membayar hak-hak tersebut.

Ramadhan datang untuk mengingatkan kita tentang misi yang Tuhan berikan kepada junjungan kita, Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di gua Hira dan kemudian meminta beliau untuk mencapainya di luar gua, dan bagaimana kita harus melaksanakan tugas menyebarkan ajaran tersebut sesuai dengan teladan beberkat dan petunjuk beliau. Bagaimana mestinya kita harus mengikuti perintah untuk menyebarkan Keesaan Tuhan dan pesan Islam dan membuat pesan ‘… petunjuk bagi umat manusia …’ tersebar luas.

Ramadhan mengingatkan kita bahwa kita akan mampu memahami ruh sejati mendahulukan agama di atas hal-hal duniawi jika kita merenungkan kesendirian (beliau di) gua Hira.

Ramadhan mengingatkan kita bahwa jika kita menyatakan mencintai Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kita harus memperhatikan setiap segi teladan beberkat beliau dan berusaha dan menirunya.

Bulan ini telah datang untuk mengingatkan kita untuk mancari tahu bagaimana para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meraih kedudukan yang dengan itu mereka layak mendapatkan salam “رضي الله عنهم ورضوا عنه” radhiyallaahu ‘anhum wa radhuu ‘anhu’ – “Allah ridha kepada mereka, dan mereka ridha kepada Allah”. Memang, para sahabat juga teladan bagi kita.

Bulan ini juga mengingatkan kita untuk berusaha dan membawa diri kita kembali ke zaman Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja, kita tidak dapat melakukan perjalanan kembali secara waktu tetapi ajaran Al-Qur’an ada di hadapan kita dalam bentuknya yang asli yang memberikan bayangan dan pemahaman  tentang zaman itu.

Bulan ini ada di sini untuk mengingatkan kita untuk memberitahu dunia bahwa hanya ajaran Al-Qur’anlah yang akan menegakkan perdamaian. Teladan beberkat, sempurna dari Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah satu-satunya yang akan menegakkan perdamaian di dunia.

Bulan ini datang untuk mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an adalah Kitab yang memberikan semua perintah dengan dalil, oleh karena itu kita harus membaca dengan penuh perenungan supaya kita dapat termasuk di antara orang-orang yang mengenainya Allah telah menyatakan:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلاوَتِهِ

“orang-orang yang telah Kami beri Kitab mereka menilawatkannya sebagaimana seharusnya… ‘(2:122) Artinya, mereka membayar hak membaca sebagaimana seharusnya dibaca, mereka merenungkannya sebagaimana seharusnya, dan membayar hak apapun yang telah mereka membaca, dengarkan dan renungkan. Jika kita tidak mengikuti hal ini maka pendakwaan kita sebagai Muslim adalah pengakuan lisan belaka dan kita akan termasuk di antara orang-orang yang mengenainya Allah telah menyatakan:

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

 “Dan Rasul itu akan berkata, ‘Ya Tuhanku, sungguh kaumku telah memperlakukan Al-Qur’an ini sebagai sesuatu yang ditinggalkan. “(25:31)

Sementara bulan ini memberi banyak kabar suka kepada kita ia juga menempatkan banyak tanggung jawab pada kita, ia mengingatkan kita untuk mengintrospeksi diri berapa banyak kita mengamalkan ajaran-ajarannya dan berapa banyak yang kita lakukan untuk meredakan kekhawatiran Rasulullah (damai dan berkah Allah padanya). Jika tidak, Al-Qur’an tidak akan memberikan manfaat apapun dan tidak pula Ramadan.

Allah telah memberikan ratusan perintah mengenai bagaimana Dia ingin melihat mukmin sejati dan di zaman ini perhatian telah ditarik ke arah perbaikan/ishlah melalui Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam. Hadhrat Khalifatul Masih bersabda beliau hanya menunjukkan secara singkat hal-hal yang Ramadhan dan Al-Qur’an ingatkan kita, tetapi Alquran mengandung ratusan perintah yang perlu dicari dan diamalkan. Hal ini tidak dapat dicapai tanpa karunia Allah dan Allah menyatakan bahwa karunia-Nya harus dicari melalui doa. Hadhrat Khalifatul Masih ingin menyampaikan dua di antara ratusan perintah Al-Qur’an hari ini, karena itu sangat penting mengenai hubungan diantara kita dan keamanan masyarakat, selain manfaat sejatinya, yakni untuk mencari kedekatan dengan Tuhan dengan mematuhi perintah-Nya.

Pertama adalah kerendahan hati yang menyelesaikan banyak masalah. Allah telah menyatakn kerendahan hati sebagai salah satu sifat khas hamba-Nya yang menyembah-Nya dan mencari kebaikan dari Allah Yang Maha Pemurah. dinyatakan:

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا (الفرقان: 64)

“Dan hamba-hamba (Allah) yang Pemurah adalah mereka yang berjalan di bumi merendahkan diri … ‘(25:64)

Allah juga menyatakan:

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا (لقمان: 19)

” … Sesungguhnya, Allah tidak menyukai setiap pembual yang sombong. “(31: 19)

 Tidak ada orang yang di satu sisi mengaku beriman pada Allah dan di sisi lain mengatakan bahwa ia tidak peduli pada kecintaan Allah. Seorang yang bijaksana, dan cerdas tidak mungkin mengatakan ini. Meskipun demikian, kita lihat dalam prakteknya bahwa penyebab masalah sehari-hari adalah kesombongan. Seseorang yang tidak sombong dan sebagai hasilnya juga tidak egois tidak masalahnya tidak menjadi rumit. Kesombongan mendorong pada kengototan (keras kepala). Banyak masalah yang disampaikan kepada Hadhrat Khalifatul Masih dewasa ini dan sebagian besar dari masalah ini tidak dapat selesai karena kesombongan, egoisme dan kengototan menghalangi sehingga tidak selesai. Jika seorang muslim memerlukan kecintaan Tuhan – dan ketika Hudhur menggunakan istilah Muslim, maksud utamanya adalah Muslim Ahmadi – maka hal-hal ini harus dihindari. Kebaikan Ramadhan dicapai ketika perintah Al-Quran diikuti. Hendaknya jelas bagi mereka yang masalahnya berlarut-larut karena ketakaburan bahwa masalah memang mulai karena ketakaburan. Orang-orang ini harus menunjukkan kerendahan hati selama bulan Ramadhan ini dan mengulurkan tangan perdamaian dan berusaha dan termasuk dalam Ibaadur Rahman (hamba Allah Yang maha Pemurah) yang berjalan dengan rendah hati dan yang selalu berkeinginan untuk membuat Allah ridha meskipun jika itu berarti mereka mengalami kerugian duniawi dalam prosesnya.

Kedua, kesabaran yang saling terkait dengan kerendahan hati. Allah menyatakan:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ (البقرة: 46)

‘Dan mohonlah pertolongan dengan sabar dan Doa …’ (2:46)

 Siapa yang tidak membutuhkan pertolongan Tuhan di setiap langkah? Namun, Allah menyatakan bahwa hanya mereka dapat meraih hal ini, orang yang rendah hati dan untuk orang lain itu adalah masalah yang sangat sulit. Dia menyatakan:

وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ (البقرة: 46)

“… dan ini sungguh sulit kecuali untuk orang yang rendah hati.” (2:46)

Perhatian harus diberikan untuk berdoa dengan kesabaran dan kerendahan hati. Memang kerendahan hati adalah cara orang-orang yang mematuhi perintah-perintah Allah, cara orang-orang yang menyembah Allah. Pertolongan Allah datang ketika hak-hak Allah, seperti yang diberitahukan oleh-Nya, dibayar dengan penuh kerendahan hati pada setiap tingkat dengan doa dan keteguhan, dan ketika manusia berpaling kepada Allah. Demikian pula, kalian juga memohon kekuatan untuk membayar hak-hak hamba – yang diberitahukan oleh Tuhan – dari-Nya dan menunjukkan keteguhan dan ketabahan dan sebagai hasilnya kalian akan menjadi penerima karunia Allah. Allah juga menyelamatkan orang yang rendah hati dari kerugian duniawi, membantunya melawan musuh, memajukannya dalam keruhanian, dan menimbulkan perdamaian dalam hubungan sosial dan dengan demikian karunia Allah diraih. Ini sungguh adalah keinginan dari seorang mukmin sejati dan memang seharusnya demikian.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda kita harus mengintrospeksi diri dalam Ramadhan ini berdasarkan apa yang Hudhur telah beritahukan kepada kita hari ini, merenungkan sampai sejauh mana kita telah merencanakan untuk memperbaiki diri kita sendiri dan mengambil langkah-langkah mengenai hal ini. Jika tidak, Ramadhan akan datang setiap tahun selama kita hidup dan kita hanya akan mendengarkan poin keilmuan tentangnya. Pentingnya ‘… petunjuk bagi umat manusia …’ adalah bahwa perhatian seseorang kepada hal ini bukan hanya di permukaan. Bahkan kita harus merenungkan secara mendalam untuk mencari mutiara petunjuk untuk menghiasi kehidupan kita di dunia ini dan di akherat.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam berkata: “Ingatlah bahwa Al-Qur’an adalah sumber-berkat hakiki dan merupakan sumber sejati keselamatan. Mereka yang tidak mengamalkannya, itu adalah salah mereka sendiri. Satu kelompok orang yang tidak mengikutinya adalah mereka yang tidak mengimaninya dan tidak menganggapnya sebagai Firman Tuhan. Orang-orang ini sangat jauh. Namun, yang paling menakjubkan dan disesalkan adalah jika mereka yang mengimani bahwa itu adalah Firman Tuhan dan sarana penyembuhan dan najat, tidak mengamalkannya. Banyak di antara mereka yang tidak pernah membacanya dalam seluruh hidup mereka. permisalan orang yang sangat lalai dan tidak peduli terhadap Firman Allah Ta’ala adalah seperti orang yang tahu tentang mata air yang sangat murni, dingin, manis dan tahu bahwa airnya adalah obat mujarab dan penyembuh bagi banyak penyakit. Dia tahu ini dengan yakin, namun meskipun mengetahui hal ini dan meskipun merasa haus dan menderita banyak penyakit ia tidak mendatanginya. Betapa malang dan bodohnya dia! Dia seharusnya minum dari mata air itu dan mengenyangkan diri dan menikmati airnya yang lezat dan menyembuhkan. Meskipun dia tahu dia begitu jauh darinya seperti orang yang tidak tahu dan ia tetap jauh darinya sampai kematian mendatanginya. Kondisi orang ini contoh dan nasehat yang sangat jelas.

Begitu juga kondisi umat Islam saat ini. Mereka tahu bahwa Al-Qur’an adalah kunci semua keberhasilan dan harus diikuti. Namun, tidak, bahkan (Al-Quran) itu tidak dipedulikan! … Umat Muslim seharusnya – dan juga penting bagi mereka saat ini –menganggap mata air ini sebagai berkah yang luar biasa dan menghargainya. Menghargai adalah dengan mengamalkannya. Maka Mereka akan melihat bagaimana Allah Ta’ala akan menghilangkan masalah dan kesulitan mereka. Seandainya umat Muslim memahami dan merenungkan bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan jalan kebaikan bagi mereka dan mereka melangkah di atasnya dan mengambil manfaatnya.[1]

Seandainya umat Islam, para pemimpin, dan masyarakat Muslim dewasa ini – yang saling membunuh satu sama lain dan ratusan nyawa melayang – mengamalkan Al-Qur’an dan menerima Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam keburukan ini akan hilang. Semoga Allah memberikan umat Muslim ini akal untuk mengamalkan ajaran Al-Qur’an!

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam juga memberitahu kita untuk merenungkan Al-Qur’an karena ia mengandung semuanya. Beliau bersabda, “Ketahuilah dengan pasti bahwa (Al Quran) ini menyampaikan suatu agama yang tidak ada keberatan bisa ditujukan padanya karena berkat-bekat dan buah-buahnya segar. Injil tidak menjelaskan agama dengan sempurna. Ajaranannya mungkin sesuai dengan masa itu tetapi jelas tidak cocok untuk setiap zaman dan untuk setiap situasi. Keunggulan  ini hanya dimiliki oleh Al-Qur’an karena Allah Ta’ala telah memberikan obat penawar untuk setiap penyakit di dalamnya dan telah memberikan tarbiyat bagi semua kemampuan (manusia). Keburukan apapun telah dijelaskan, cara untuk menghapusnya juga telah diberikan. Oleh karena itu, teruslah baca Al-Qur’an dan teruslah berdoa dan berusaha dan jaga tindakan kalian sesuai dengan ajarannya.[2]

Nasehat ini juga untuk kita, kita hendaknya tidak hanya kritis terhadap orang lain. Kita juga harus mengikuti dan mengamalkan ajaran ini dan berusaha dan menjaga diri kita sesuai dengan ajarannya sehingga kehidupan duniawi dan akherat kita baik. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk menjadikan kitab agung ini bagian dari kehidupan kita dan meraih keridhaan Allah! Semoga Ramadhan ini memberi kita pengetahuan yang lebih besar tentang Al-Qur’an.

[1] Malfuzhat, vol. 7, hal. 181-182

[2] Malfuzhat, vol.9 hal. 122