Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Disampaikan tanggal 3 Tabligh 1391 HS/Februari 2012

Bertempat di Masjid Baitul Futuh, Morden, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Terjemahan ayat ini adalah “Sungguh! Allah beserta orang-orang itu, yang berusaha bertakwa dan mereka yang berbuat ihsaan (kebaikan yang lebih).” (Surah an-Nahl, 16 : 129).

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam bersabda, “Di dalam Al Quran Syarif, perintah untuk beramal-shalih dan bertakwa lebih ditekankan dibandingkan dengan perintah lainnya.” [2]

Jadi, ketakwaan inilah yang merupakan perkara mendasar untuk mengarahkan kepada qurb [kedekatan] Ilahi. Di dalam ayat yang telah saya tilawatkan seperti telah disimak oleh semuanya dan terjemahannya pun telah saya jelaskan, Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh! Allah beserta orang-orang itu, yang mengupayakan ketakwaan dan mereka yang berbuat ihsaan (kebaikan yang lebih).” Hal pertama, telah dijelaskan bahwa Allah beserta orang-orang itu, yang mengupayakan jalan-jalan itu, jalan yang membawa mereka kepada ketakwaan. Jadi, dari hal itu maka ini menjadi jelas bahwa di dunia ini ada dua corak manusia; pertama ialah mereka yang menjalani hidup diatas ketakwaan dan beramal shalih demi untuk memperoleh keridhaan Tuhan; dan ia berupaya melakukan setiap perbuatan baik atau setiap kebajikan agar mereka meraih ridha Allah Ta’ala; supaya mendapatkan qurb (kedekatan) Allah Ta’ala. Kedua, adalah mereka yang meskipun melakukan sebagian kebaikan atau mengerjakan kebajikan-kebajikan, tetapi ketika mengerjakannya tidak menganggap bahwa Allah Ta’ala ada di hadapan mereka; atau saat melakukan perbuatan tersebut mereka tidak berpikir bahwa Tuhan tiap waktu mengawasi kita, menyaksikan kita.

Di antara jenis kedua ada orang-orang yang meyakini keberadaan Tuhan atau sekurang-kurangnya percaya bahwa ada Satu Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Namun, ketika mereka melakukan suatu pekerjaan, tatkala melakukan suatu perbuatan, mereka tidak mempertimbangkan keridhaan Allah. Mereka juga terus-menerus melakukan perbuatan baik akan tetapi tidak mempunyai maksud dan tujuan agar Allah Ta’ala ridha kepada mereka.

Dan jenis kedua dari golongan kedua, adalah mereka yang tidak meyakini Tuhan. Mereka tidak meyakini wujud (keberadaan) Allah Ta’ala.

Namun sekalipun demikian, sifat Rabbubiyyat Allah Ta’ala tidak hanya mencakup mereka yang tidak menjalani kehidupan atas dasar ketakwaan; banyak hal dan banyak nikmat dianugerahkan [kepada mereka] seperti kepada seorang muttaqi, namun ini hanya sebatas benda-benda duniawi saja. Contohnya, sinar matahari, udara. Dari benda-benda ini baik mereka yang muttaqi maupun mereka yang atheis, sama-sama mendapatkan faidh atau manfaatnya. Atau benda-benda duniawi seperti berbagai hasil kemajuan duniawi, penemuan baru, kemajuan dan pencapaian baru dalam ilmu pengetahuan, baik yang atheis maupun yang bertakwa sama-sama mendapatkan buah-buah hasil usahanya sesuai kekuatan usaha mental [kerja-keras] mereka. Kaum petani, baik yang atheis maupun yang bertakwa, sama-sama mendapatkan hasil yang sesuai dengan usahanya.

Mereka yang tidak menjalani kehidupan takwa atau seorang dahriyah (atheis), tidak beriman kepada Tuhan, seandainya sifat Rabbubiyyat dan Rahmaniyyat Ilahi tidak bekerja atas mereka maka sungguh mustahil mereka melewati kehidupan bahkan hanya untuk sedetik saja dan juga satu detik saja tidak dapat ada kehidupan di dunia ini. Ringkasnya, bagi manusia yang ada di dunia ini Allah Ta’ala telah menetapkan adanya dua jalan, yakni kebaikan dan keburukan. Namun demikian, dalam berbagai aspek kehidupan, Dia memberikan takaran yang sama; menyertakan kedua macam manusia yang beramal itu dalam nikmat-nikmat-Nya.

Sesungguhnya, di sini perihal ini begitu jelas bahwa Allah Ta’ala telah memberlakukan qanun qudrat (hukum-hukum dan kekuasaan-Nya) bagi tiap-tiap diri. Namun, di sini saya hendak menjelaskan hal ini bahwa untuk memperlihatkan qanun qudrat-Nya, pada beberapa waktu di beberapa kesempatan, Allah Ta’ala mengaruniai orang yang muttaqi hasil yang lebih dari usahanya dibandingkan orang pada umumnya dalam kondisi yang sama.

Suatu kali, Hadhrat Muslih Mau’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu memiliki lahan pertanian di [Provinsi] Sind [Pakistan], Beliau menunjuk beberapa orang untuk mengurusnya sejak dari awal, yang salah satu di antaranya, adalah seorang sesepuh yang bernama Tuan Maulwi Qudratullah Sanauri. Suatu kali sebelumnya juga pernah saya sampaikan, ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pergi melakukan daurah (rangkaian perjalanan). Beliau ra meninjau perkebunan kapas beliau dan bertanya kepada tuan Maulwi yang juga seorang sahabat, “Berapa banyak hasil panen yang tuan prakirakan dapat diperoleh?” Tuan Maulwi menjawab dengan suatu jumlah prakiraan; Hadhrat Mirza Bashir Ahmad dan anggota rombongan lainnya yang menyertai menyangka bahwa perkiraan tersebut salah. Maka beliau beserta tuan Dard, keduanya bercakap-cakap, “Perkiraan tuan Maulwi terlalu tinggi.” Tuan Maulwi mendengar percakapan keduanya. Beliau berkata, “Tuan Mia! Perkiraan yang telah saya sampaikan tersebut, insya Allah Ta’ala, paling sedikit (minimal) akan memperoleh jumlah tersebut, karena saya telah melakukan [Shalat] Nafal di keempat penjuru lahan itu. Saya memperoleh keyakinan, shalat-shalat nafal saya akan membantu bertambahnya hasil [panen].” Ternyata kemudian, begitulah hasil yang diperoleh. [3]

Jadi, adakalanya meskipun dalam musim yang sama, pemupukan dan benih yang sama, dan sebagainya, tetapi Allah Ta’ala memperlihatkan bukti keberadaan-Nya berkat doa-doa, sehingga hasil panen pun berlipat ganda.

Di dalam urusan-urusan duniawi juga ada ditemukan bukti-bukti kebersamaan Allah Ta’ala kepada seorang muttaqi. Namun demikian, selain kehidupan materi ini, orang-orang yang memegang keyakinan kepada Tuhan; juga ada satu dunia rohani bagi mereka yang beriman dan yakin sempurna kepada-Nya, yang faedah dan kelezatannya tidak terlihat oleh orang-orang duniawi. Pemikiran orang-orang itu sangat tinggi, yaitu mereka yang berjalan diatas ketakwaan. Mereka juga memikirkan perkembangan selanjutnya dari dunia ini. Mereka beriman kepada yang ghaib. Mereka meyakini akhirat. Mereka meyakini dan mengimani dengan sempurna berbagai janji Ilahi. Manakala mereka mengangkat tangan untuk berdoa, mereka pun menyaksikan berbagai tanda pengabulannya. Di zaman ini, Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengajari kita tentang pokok-pokok dan cara-cara menciptakan hubungan yang benar dengan Allah Ta’ala. Banyak orang Ahmadi yang mengalami [pembuktian] hubungannya dengan Allah. Sebagai dampak dari hubungannya dengan Allah Ta’ala, Dia mengabari mereka mengenai berbagai perkara yang akan terjadi dan bagaimana peristiwa itu akan terjadi dalam bentuk [melalui] mimpi-mimpi, ru-ya, kasyaf dan yang lainnya. Kebersamaan (ma’iyyat) ini maknanya juga ialah Allah Ta’ala akan menyempurnakan nikmat-nikmat kehidupan sesudah mati sebagaimana yang dijanjikan-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Apabila engkau meneguhkan ketakwaan maka engkau akan memperoleh berbagai kenikmatan di dunia ini dan juga [kenikmatan] kehidupan ukhrawi.” Jadi, inilah janji Allah Ta’ala, orang muttaqi tatkala beramal semata-mata demi memperoleh keridhaan Allah Ta’ala maka ia akan menemukan kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat. Sebagaimana telah saya jelaskan bahwa orang yang melakukan amal-amal saleh semata-mata demi memperoleh keridhaan Allah Ta’ala adalah seorang muttaqi. Ini adalah satu hal yang sangat penting bahwa orang yang benar-benar mengerjakan amal-amal kebaikan, mereka betul-betul mengerjakan amal-amal saleh demi keridhaan Allah Ta’ala semata; mereka itulah yang berjalan diatas ketakwaan. Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan mengenai ta’rif (pengertian) orang bertakwa, yaitu mereka yang harus menghindarkan diri dari berbagai macam dosa besar maupun kecil; bukan hanya harus menyelamatkan dirinya dari keburukan bahkan harus memajukan diri dalam kebaikan-kebaikan dan akhlak berderajat tinggi, dan selanjutnya harus menjalin hubungan yang setia dan benar dengan Allah Ta’ala. Bila hal-hal ini ada maka ia dapat disebut orang bertakwa (muttaqi). Dan apakah itu ketulusan dan kesetiaan kepada Allah Ta’ala? Inilah dia yang berusaha menunaikan hak ibadah kepada-Nya dan mengaktifkan berbagai kemampuan untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dengan segenap kemampuan dan kerja keras dan jika hal yang pertama ini sudah tercapai tahap berikutnya dari ketakwaannya itu, disebutkan dalam firman-Nya (muhsinun).

Berfirman, والذين هم محسنون makna kata ‘muhsin’ adalah orang yang memberikan hadiah; tanpa kerja (usaha) seseorang ia memberikan anugerah kepadanya atau memperlakukan seseorang dengan baik. Orang yang memberikan anugerah seperti itu disebut muhsin. Makna kata muhsin juga berarti seseorang yang meraih derajat kesempurnaan dalam pekerjaannya. Mendapatkan ilmu sebaik-baiknya mengenai pekerjaannya dan setiap perbuatannya sedemikian rupa sehingga dilakukan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan keadaan dan tempat. Namun, muhsin ada dua macam. Pertama, adalah mereka yang setiap saat bersedia untuk mengkhidmati orang lain atas dasar simpati [tersentuh hatinya kepada sesama manusia]. Tanpa memandang ia [orang yang ditolongnya] berhubungan dengan kepercayaan dan golongan mana, atau berasal dari bangsa mana. Pengkhidmatannya menyala-nyala berusaha agar mengkhidmati kemanusiaan. Dan kemudian [macam kedua] juga mereka yang membantu orang lain sedemikian rupa dan tepat pada saat yang diperlukan, sehingga memudahkan kehidupan mereka.

Maka adalah kewajiban setiap orang Ahmadi untuk mengkhidmati orang lain atas dasar sikap seperti itu. Dengan karunia Allah Ta’ala banyak orang Ahmadi berkhidmat berdasarkan perasaan itu, mereka sedang melakukannya. Tidak diragukan lagi, mereka adalah muhsin namun mereka bukan orang yang menyebut-nyebut kebaikan mereka. Golongan muhsin bukanlah mereka yang membesar-besarkan kebaikan mereka. Sebab, jika membesar-besarkan kebaikan berarti akan tidak menampakkan ketakwaan dan akhlak yang baik.  Ketakwaan ialah setelah melakukan ihsan (kebaikan) kemudian tanpa membesar-besarkan kebaikan mereka.

Saya memberikan contoh. Para insinyur kita, para dokter, dan para pemuda dan anak-anak dari berbagai macam bidang, yang berangkat ke Afrika sebagai voluntir (sukarelawan); di sana mereka berkhidmat dalam berbagai proyek yang sedang dibangun. Misalnya, seperti menyediakan hand pump (pompa air minum) di berbagai daerah yang kurang beruntung (susah mendapatkan air). Mereka menyediakan pembangkit listrik [untuk penerangan]. Mereka sedang membangun sekolah-sekolah supaya orang-orang mendapat kemudahan memperoleh kesempatan pendidikan. Mereka membangun rumah sakit dan klinik sebagai sarana kesehatan supaya menciptakan kemudahan bagi mereka dan menjauhkan kesusahan. Para dokter dan guru kita telah memberikan pengkhidmatan selama bertahun-tahun. Mereka dalam kondisi sarana dan prasarana yang tidak mendukung. Banyak dalam kondisi tempat-tempat yang belum ada aliran listrik ataupun air pamnya; namun, mereka tetap pergi ke sana, tetap berkhidmat dengan semangat, mereka pergi ke sana agar termasuk ke dalam golongan orang-orang itu, golongan muhsiniin. Maka inilah dia pengkhidmatan dan perlakuan baik yang tidak untuk sesuatu pamrih apapun, melainkan atas sikap ketakwaan dan keikhlasan dalam hati karena Allah; demi mengkhidmati sesama manusia.

Begitupula manakala angin topan, gempa dan [berbagai bencana] yang lainnya menerpa di seluruh dunia, para dokter dan sukarelawan kita pergi ke sana. Mereka bahu-membahu memberikan pertolongan di bawah koordinasi Humanity First, yang beramal semata-mata untuk memperoleh keridhaan Allah Ta’ala. Banyak orang lain juga melakukan pengkhidmatan seperti itu, namun keridhaan Allah Ta’ala tidak menjadi dasar pemikiran mereka. Maka, mereka yang tengah melakukan pengkhidmatan, melakukan perlakuan baik, mendatangkan faedah bagi orang lain melalui perbuatan dan pengetahuan mereka dan yang hanya semata-mata agar Tuhan meridhai mereka; mereka itulah yang disebut juga muttaqi dan muhsin juga.

Sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya juga di dalam satu khotbah, para insinyur Ahmadi telah membangun suatu ‘model village’ (desa percontohan) di Burkina Faso yang dilengkapi dengan sarana kemudahan instalasi listrik dan air pam. Jalan-jalan yang diberi penerangan, community centre (pusat kegiatan masyarakat) yang dapat memenuhi berbagai kebutuhan mereka; di situ mereka berkumpul dan memanfaatkannya. Begitu pula green house yang kecil (pusat persemaian kecil) dimana ditanam berbagai tanaman sayuran dan yang lainnya yang dapat mencukupi kebutuhan. Sistem irigasi pertanian pun dikelola dan disediakan bagi mereka. Sejumlah pompa air tangan dibangun di sejumlah tanah-tanah pertanian desa. Tatkala pekerjaan (pembangunan) ini sedang dilakukan dan sudah sempurna maka para penduduk di tempat itu yang berbahagia dan dapat disaksikan. Tatkala gambar dan foto mereka didapatkan dan diperhatikan maka betapa tak terkirakan pekerjaan besar ini. Kita mungkin menganggapnya sebagai hal biasa namun bagi orang-orang itu sangat penting. Wajah-wajah mereka demikian bahagia. Seorang anak yang sebelumnya harus bolak-balik berjalan hingga 5 miles (8 km) dengan suatu tempat air yang diangkat dan dibawa diatas kepalanya baginya ini sungguh suatu karunia yang besar karena baginya ada air bersih bening ditemukan di rumahnya. Para sukarelawan kita tersebut berkhidmat tanpa mengharapkan imbalan jasa apapun. Bahkan pada kenyataannya, ketika para pemuda dan para insinyur kita tatkala pekerjaan selesai dan pulang, mereka mengirim surat rasa syukur kepada saya karena telah memperoleh kesempatan tersebut, lalu berjanji siap untuk berkhidmat lagi.

Pada tahun ini sedang dibangun 5 (lima) desa percontohan lain di beberapa negara lainnya, Insya Allah. Organisasi badan-badan beberapa Negara seperti Majlis Ansarullah USA, UK dan yang lainnya bertanggung jawab atas pendanaan proyek ini. Begitu pula Humanity First pun ikut berperan. Saya telah meminta [Jemaat] Jerman untuk ikut pula berpartisipasi. Mereka yang bersemangat untuk ikut andil dalam proyek ini terhitung sebagai muhsinin. Demikian pula termasuk mereka yang ikut mengorbankan harta bendanya untuk berkhidmat. Seorang Ahmadi yang telah beriman kepada Imam Zaman, juga berjanji untuk menapaki jalan ketakwaan, berupaya segenap kemampuan untuk meraih ketakwaan dan berupaya termasuk ke dalam golongan muhsinin, maka Tuhan menyatakan, “Aku beserta orang-orang seperti itu dan Aku senantiasa beserta orang-orang yang demikian.”

Para sukarelawan muda kita yang setelah melakukan berbagai pekerjaan lalu pulang menceritakan, “Di dalam pekerjaan kami beberapa kali terdapat berbagai kesulitan yang harus dihadapi dan sedemikian coraknya Allah Ta’ala menunjukkan qudrat-Nya dan dengan jalan yang tidak diketahui, tak terduga berbagai masalah yang menghadang terpecahkan sehingga keimanan kami kepada Allah Ta’ala pun meningkat.”

Demikian pula seperti telah saya sampaikan maksud dari kata ‘muhsinin’ juga berarti diri mereka sendiri juga dipikirkan, mereka juga mengupayakan agar ilmu dan irfaan mereka sampai ke puncak kesempurnaan. Mereka menjadikan amal-amal saleh kebaikan mereka menjadi bagian dari kehidupan mereka dan selanjutnya mereka mengembangkannya, ini juga salah satu makna [muhsiniin]. Dan selanjutnya mereka mendapatkan faedah dari ilmu dan makrifat mereka sendiri; dan kemudian dengan cara mempraktekkannya, mereka mendatangkan faedah bagi orang lain. Semakin banyak ilmu dan makrifat yang mereka miliki dan diiringi dengan senantiasa berusaha untuk mendatangkan faedah bagi orang lain, dengan begitu mereka  mendapatkan kenaikan derajat diantara muhsinin (orang-orang muhsin). Satu langkah maju. Satu jalan baru berhasil mereka dapatkan, yang akan membawanya kepada kemajuan rohani dan akhlak yang besar; selanjutnya tatkala rohani dan akhlak telah mengalami kemajuan maka kemudian ma’iyyat (kebersamaan) dengan Allah Ta’ala juga memperlihatkan corak baru. Hubungan kedekatan dengan Allah Ta’ala mengalami kemajuan. Tercipta pemahaman yang lebih mendalam mengenai sifat-sifat-Nya dan terjadi kemajuan dalam hal ketakwaannya. Seumpama sebuah sepeda, roda yang berputar dalam kebaikan, membawanya ke tahapan ketakwaan yang lebih tinggi, yang sekaligus membawanya kepada Allah Ta’ala, lalu taufik [niat, kesempatan dan kemampuan berbuat baik anugerah] dari Allah Ta’ala pun bertambah. Selanjutnya, terjadi kemunculan perhatian yang bertambah kearah kebaikan dan otomatis sebagai dampaknya dengan segala sesuatunya, dengan perkataannya ia pun memperoleh irfaan (kearifan) dalam memenuhi kewajiban حقوق الله huquuqullah dan حقوق العباد huquuqul ‘ibaadnya. Inilah dia ihsaan, yang membuat seseorang menjadi muhsin, yang Allah Ta’ala jadikan seorang insan seperti demikian. Jadi, bukanlah muhsin, orang yang menggembar-gemborkan ihsaan mereka, melainkan, mereka yang bersedia menanggung kesusahan demi pengkhidmatannya kepada orang lain dan mereka meninggalkan hak-hak mereka sendiri; selanjutnya mereka berjalan berdasarkan prinsip-prinsip ini, “Tidak bersikeras mendapatkan hak-hak sendiri bahkan pusatkanlah perhatian untuk memenuhi hak-hak orang lain.”

Saya sudah seringkali mengatakan di hadapan pihak luar [Islam], para pemimpin yang saya temui, pihak yang mengajukan berbagai kritikan terhadap Islam; atau mereka yang tidak memahami sepenuhnya ajaran Islam; saya sampaikan kepada mereka juga bahwa orang-orang duniawi hanya memusatkan perhatian kepada hal ini, “Tunaikanlah hak-hak kami!” niscaya kemudian mereka mengajukan satu ukuran hak-hak mereka [sebanyak atau setinggi mungkin] lalu berbuat dengan segala cara untuk mendapatkannya; dan sebagai dampaknya bukan hanya mereka yang mengajukan permintaan hak-hak melakukannya dengan cara yang tidak adil dan tidak penuh ketakwaan; pihak pemberi hak-hak juga tidak menggunakan ketakwaan dan keadilan dalam memberikan hak; orang-orang Muslim ada juga yang demikian, begitu pun orang-orang non Muslim. Tatkala Islam telah memberikan ajaran ini dan kaum Muslimin harus beramal atas dasar ajaran itu dan apabila mereka mengamalkannya ini maka ketika pada waktu ini di berbagai pemerintahan dan berbagai negara terjadi kekacauan, sekurang-kurangnya di kalangan negeri-negeri Muslim tidak terjadi.

Islam mengajarkan demikian, “Penuhilah hak-hak orang lain! Sebelum menuntut dari orang lain agar memenuhi hak diri sendiri penuhilah hak-haknya terlebih dahulu! Bahkan, berbuat ihsan kepadanya untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan membuatnya digolongkan sebagai muhsinin. Selalu lebih ingatlah akan kebutuhan-kebutuhan mereka.” Contohnya mengenai para pekerja, mengenai para pembantu di dalam hadits disebutkan, “Berilah mereka pakaian sebagaimana yang engkau pakai dan berilah makan kepada para pekerja engkau sesuai dengan apa yang engkau makan.” [4]

Bila mutiara nasehat ini tampak dilaksanakan di seluruh dunia, tentulah tidak akan ada rakyat yang kelaparan, hak-hak mereka tidak akan pernah dirampas. Mereka tidak akan berpakaian compang-camping. Di televisi dapat disaksikan tayangan berbagai gambar dari berbagai negara Afrika. Anak-anak di sana yang melewati hidupnya dalam kelaparan. Banyak terjadi malnutrisi (kekurangan gizi). Kaum  ibu kelaparan. Mereka tidak dapat menyusui bayinya. Ringkasnya, alih-alih pihak lain [kepentingan asing] berusaha menguasai berbagai sumber alam mereka, cobalah berfokus kepada bagaimana caranya memenuhi hak-hak mereka, dengan menjadi muhsinin membantu mereka dengan cara membangunkan kemampuan mereka. Menjadikan orang-orang miskin berdiri diatas kaki sendiri sehingga berbagai macam persoalan dunia pun terpecahkan. Seandainya pemerintah-pemerintah Muslim juga di dalam negeri-negerinya memusatkan perhatian akan hal ini dan para pemimpin alih-alih hanya memikirkan bagaimana caranya mengisi rekening bank mereka melainkan memikiran rakyat awam, berupaya menjadikan diri mereka termasuk muhsinin, menjalani ketakwaan tentulah setelah ajaran yang indah ini [dilaksanakan] tentu tidak akan pernah dapat ada kemalangan, kemiskinan dan kelaparan di negara-negara Muslim kita. Akan tetapi sungguh malang, justru di sebagian besar negara-negara Muslim begitulah situasinya, sehingga pihak luar pun memanfaatkannya [mencari keuntungan dari situasi tersebut]. Ketika saya menyampaikan hal ini kepada mereka, “Apabila tuan-tuan peduli, dan orang-orang seperti kalian bekerjalah dengan menggunakan keadilan maka masalah-masalah yang muncul di dunia ini tentu satu per satu akan diakhiri.” Atas hal ini, kebanyakan dari mereka berkata demikian, “Sebenarnya inilah dia [pokok permasalahannya] dan beginilah ajaran yang sangat indah dari Islam.” Namun ketika mereka kembali dan bersama orang-orang dalam pertemuan mereka, maka selanjutnya kepentingan pribadi pun didahulukan. Yakni, kepentingan negara dan bangsa mulai dijauhkan. Adalah suatu keharusan bahwa kepentingan negara senantiasa ditegakkan atas dasar kebenaran dan keadilan. Tanpa merampas hak-hak orang lain maka selanjutnya hendaknya beramal atas dasar itu. Secara lahiriah (nampak nyata), manusia memang mendahulukan kepentingannya sendiri. Begitu pula kewajiban negara-negara adalah mendahulukan kepentingan satu dengan yang lain. Akan tetapi, adalah salah jika kepentingan negara didahulukan dengan mengatasnamakan kepentingan negara lalu merampas kekayaan pihak lain. Berusaha mendapatkan (menjaga) hak-hak sendiri dengan terlebih dahulu merampas hak-hak pihak lain adalah suatu kesalahan. Semua hal ini terpampang di hadapan kita, atau hal-hal semacam inilah yang mengarahkan kepada fasaadat (kekacauan).

Ringkasnya, tugas setiap orang Ahmadi ialah menapaki jalan ketakwaan dan terhitung ke dalam golongan muhsinin dan tiap-tiap dari kita memperoleh qurb [kedekatan] Allah Ta’ala yang akan menjauhkan kita dari kecemasan duniawi dan ukhrawi. Berusahalah masuk kedalam kebersamaan (ma’iyyat) dengan Allah Ta’ala dan hanya inilah yang dapat membantu dalam melakukan ishlah dalam diri sendiri dan memudahkan upaya penyelamatan masyarakat dari kekacauan seuai dengan kapasitas kita yang terbatas. Kita hendaknya senantiasa berusaha untuk setelah menjadi صبغة الله sibghatullah (celupan warna sifat-sifat Allah) lalu menerapkan sifat-sifat Allah dalam kehidupan manusiawi kita sesuai dengan batas kemampuan masing-masing; senantiasa siap-sedia untuk memenuhi huquuqul ‘ibaad maka kenikmatan-kenikmatan dunia akan menjadi khadim (pelayan kita, tunduk kepada kita). Di dalam kehidupan duniawi kita nilai benda-benda itu akan menjadi hal penting kedua dan kemudian tatkala manusia selalu mengerjakan hal ini tulus demi Allah Ta’ala tentu selanjutnya akan terjadi kemajuan dalam ketakwaan. Artinya bahwa dengan satu sudut pandangan ini kita melihat, hendaknya keridhaan Tuhan menjadi pusat pemikiran kita. Allah Ta’ala menjelaskan bahasan mengenai bagaimana Dia memberikan karunia kepada orang-orang yang berbuat ihsaan yang tercantum dalam Alqur’anul Karim,

  بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Mengapa tidak, barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah, dan ia berbuat kebaikan, maka bagi dia ada ganjarannya di sisi Tuhan-nya. Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka, dan tidak pula mereka akan bersedih.” (Surah Al-Baqarah, 2 : 113)

Jadi, Allah Ta’ala menyatakan, “Bila Dzat-Ku telah menjadi titik pusat kalian, hanya seputar Diri-Ku kalian berkeliling (sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada-Ku), maka kalian pun akan mencapai keridhaan-Ku.” Secara menyeluruh, tatkala seorang mu’min, hamba yang muttaqi masing-masing dari antara kalian mempercayakan kepada Tuhan maka Allah Ta’ala akan menyediakan segala keperluannya tersebut. Seluruh kesedihannya akan berakhir. Seluruh hal yang menjadi bahan pemikirannya dan kecemasannya akan menjadi tidak bernilai apa-apa. Seseorang mempercayakan (menyerahkan) segalanya kepada Allah dan menjadi orang yang ikhlas tunduk kepada-Nya, menjadi muhsin yang mendaya-gunakan segala kemampuannya untuk mengkhidmati sesama makhluk Allah dan kemanusiaan maka kesedihan dan kecemasan apa pula yang akan menimpanya? Ketakwaan hakiki dapat dikenali dari dua perbuatan ini. Pengkhidmatannya tersebut membawa dirinya ke dalam kecintaan Tuhan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda di satu tempat, “Hal-hal ini harus ada untuk menjadi mukmin haqiqi, yaitu menghilangkan berbagai keburukan seperti zina, mencuri, merampas hak-hak, riyaa (berbuat baik untuk pamer), ‘ujub (senang dan bangga diketahui kebaikannya), menistakan dan menganiaya orang lain, kuat dalam meninggalkan kekikiran. Hilangkanlah semua kerendahan akhlak. Sebaliknya, tingkatkanlah akhlak fadillah. Perlakukanlah orang lain dengan sopan, khuusyi khulq (akhlak menyenangkan atau ramah), dan hamdardi (dermawan, simpati). Perlihatkanlah kesetiaan yang tulus dan benar terhadap Allah Ta’ala. Carilah maqam (kedudukan) terpuji dari pengkhidmatan-pengkhidmatan. Dengan hal-hal demikianlah seseorang dapat disebut muttaqi. Apabila terkumpul hal-hal demikian pada diri seseorang; itulah dia muttaqi yang sebenarnya. (Hanya memiliki salah satu saja di antara itu, tidak dapat disebut muttaqi, melainkan semuanya.) Dan demikianlah untuk orang-orang itu,لاخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ  ’laa khaufun alaihim wa laa hum yahzanuun’ – “Tidak akan ada ketakutan menimpa mereka, tidak pula mereka akan bersedih.” (Surah Al-A’raaf, 7 : 36). Maka apa lagi yang mereka inginkan setelah itu? Allah Ta’ala telah menjadi pelindung mereka, firman-Nya, وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ ‘wa huwa yatawallash-shalihin’  – “Dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.” (Surah Al-A’raaf, 7 : 197).

Bersabda, “Di dalam Hadits Syarif dikatakan: Allah Ta’ala telah menjadi tangan mereka ketika memegang, menjadi mata mereka ketika melihat, menjadi telinga mereka ketika mendengar, dan menjadi kaki mereka ketika berjalan.[5] Di dalam Hadits lainnya dikatakan: Allah menyatakan, barangsiapa yang memusuhi wali (sahabat)-Ku; Aku katakan kepadanya agar bersiap-siaplah untuk menghadapi perang dari-Ku.[6] Satu Hadits lain mengatakan: “Barangsiapa yang menyerang seorang waliyullah, maka Dia pun akan menghantamnya sedemikian keras seumpama singa betina yang berusaha melindungi anaknya dari serangan musuh.” [7]

Ringkasnya, sungguh beruntunglah seorang insan yang telah dapat menjadi waliyullah Ta’ala. Mereka yang telah menjadi wali (kekasih) Tuhan, kesedihan dan kecemasan mereka berakhir. Fokus perhatian mereka ialah berbuat baik untuk masa datang. Bila pun ada perbuatan mereka yang buruk di masa lalu, mereka telah dimaafkan. Manusia sesalu khawatir dengan masa depan. Sebagai contoh saya sebutkan di sini, mereka yang tengah mengajukan permohonan ‘asylum’ seringkali resah menunggu-nunggu hasilnya. Hingga ada sebagian di antara mereka yang pernah saya saksikan sampai turun beberapa kilogram berat badan disebabkan ketakutannya. Kadang ada yang berjumpa dengan saya dalam keadaan wajah mereka penuh cemas. Setengah orang lainnya khawatir akan nasib usaha bisnisnya. Senantiasa cemas karena tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok? Mahasiswa cemas menghadapi ujian mereka. Pendek kata, tentang hal yang akan datang, membuat orang menjadi ketakutan karena mereka tidak mengetahui apa-apa saja dampak (akibat) di masa datang. Begitupula mereka bersedih tentang hal-hal yang telah berlalu. Semakin besar kesedihannya, semakin besar pula ia menjadi nestapa. Sebagian orang duniawi dikarenakan kerugian bisnisnya lalu mereka menjadi demikian dalam kesedihan sehingga mereka menjadi sakit permanen (terus-menerus). Sebagian dari mereka duduk terus menerus karena sakit otak, sebagian dikarenakan serangan jantung lalu tetap melewati hidupnya di ranjang tidur atau menjadikannya meninggalkan dunia ini (wafat). Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman mengenai seorang mu’min yang muttaqi dan orang yang berbuat ihsan,

َلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Barangsiapa menyerahkan dirinya kepada Allah, dan ia berbuat kebaikan, maka bagi dia ada ganjarannya di sisi Tuhan-nya. Dan tak akan ada ketakutan menimpa mereka, dan tidak pula mereka akan bersedih.” Yakni, mereka tidak tertimpa ketakutan juga kesedihan. Seorang diindaar (orang-orang yang menekuni keagamaan) yang telah memahami dengan benar sifat-sifat Tuhan dan ia berusaha menjalani kehidupannya berdasarkan hal itu, ia tidak akan menjadikan kesedihan dunia merusak dirinya. Tidak diragukan lagi, orang-orang yang baik tentu mengalami keadaan kecemasan, keadaan dalam kesedihan datang pada mereka juga; namun demikian, kesedihan duniawi tidak terdapat pada diri mereka. Kesedihan mereka adalah kecemasan dalam usaha untuk memperoleh keridhaan Allah. Mereka takut (cemas) bagaimana menyelamatkan diri dari kemurkaan Tuhan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh, Hadhrat Masih Mau’ud as didalam sebaris syair [Urdu] beliau ini,

Isi fikr me rehte hei’ roz o syab

Keh raazi Woh Dildaar hota he kab

Siang dan malam kuhabiskan untuk memikirkan hal ini

Kapankah kiranya Sang Kekasih Itu ridha kepadaku! [8]

Jadi, ridha dari Sang Kekasih ini (Tuhan) menjadi bahan pemikiran dan kekhawatiran; ketakutan dan kesedihan menjadikannya mengarahkan perhatian kepada doa-doa dan menyibukkan diri dalam dzikir Ilahi dan setelah mendengar suara, أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُKetahuilah, dengan mengingat Allah, qalbu menjadi tenteram.” (Surah Ar-Ra’d, 13 : 29) hati mereka pun menjadi tenang tenteram. Bagi mereka dzikr Allah Ta’ala-lah yang membuat bangkitnya ketenteraman hati mereka, berbagai kesedihan mereka di masa lalu pun terhapuskan dan mereka pun yakin akan lenyapnya ketakutan tentang hal yang akan datang. Ketakutan mereka yang menapaki jalan ketakwaan adalah kecemasan akan cintanya. Yakni sikapnya yang berharap-harap cemas untuk memperoleh ridha Ilahi, sehingga mereka pun terus berusaha untuk itu. Keresahannya itu justru memperteguh qalbunya, yang berlawanan dengan keresahan orang-orang duniawi yang menyebabkan terserangnya jantung hati mereka. Orang-orang yang mengupayakan ketakwaan kepada Allah Ta’ala, orang-orang yang terdaftar dalam golongan muhsinin senantiasa menaruh perhatian kepada pelaksanaan hak-hak Allah dan hak-hak makhluk-Nya dan mereka memperhatikan amal perbuatan mereka sendiri dan kemudian mereka menjadi penerima karunia-karunia Allah. Ringkasnya, inilah perbedaan khauf (ketakuan, kecemasan) dan kesedihan antara dunyadaar (orang-orang duniawi) dan diindaar (orang-orang agama).

Seorang Ahmadi harus menciptakan perubahan suci di dalam dirinya yang dapat membawanya ke jalan ketakwaan dan membuatnya termasuk kedalam muhsinin sehingga setiap dari kita meraih qurb Allah Ta’ala yang dapat menjauhkan kita dari kecemasan dunia dan akhirat. Bila pun ada pada kita kecemasan, hendaknya kecemasan tersebut hanya karena prioritas kecintaan kita kepada Allah Ta’ala. Dengan demikian, rahmat dan karunia Allah Ta’ala kepada kita akan bertambah banyak. Bila kita mencapai standar kecintaan Allah Ta’ala, tentu Dia pun akan beserta kita; kemudian tatkala Allah Ta’ala menyaksikan, “Hamba-Ku sedang menjadi seorang muhsin dan demi untuk mencari keridhaan-Ku, ia tengah menerapkan Sifat-sifat-Ku dalam dirinya selanjutnya kenapa tidak Aku hujani ia dengan hujan ihsaanaat yang deras?” Allah Ta’ala adalah Pemberi Anugerah yang berlipat ganda. Tatkala hujan deras kebaikan dari Allah Ta’ala mengguyur kita maka tidak hanya berbagai beban pemikiran di dunia ini kita yang akan dijauhkan, bahkan seseorang akan kesulitan menahan [derasnya hujan] ihsaanaat (kebaikan-kebaikan) dan in’aamaat (kenikmatan-kenikmatan) dari-Nya. Hadhrat Masih Mau’ud as menulis yang mengarahkan perhatian kepada ketakwaan hakiki bagi seorang beriman,

“Ketakwaan hakiki dan kejahiliyahan tidak akan dapat bersatu (berjalan bersama). Ketakwaan hakiki senantiasa disertai suatu nur sebagaimana Allah Jalla Syaanah (Yang Maha Agung) berfirman,  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Dia akan mengadakan bagimu suatu pembeda, dan Dia akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu.” (Surah Al-Anfaal, 8 : 30). وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ “Dan bagi kamu sekalian akan ada nur yang kalian berjalan bersamanya.” (Surah Al-Hadid, 29) Yakni, “Hai orang-orang yang beriman, jika engkau terbukti teguh sebagai muttaqi dan tegak dalam sifat ittiqaa (ketakwaan) hanya kepada Allah dan engkau mengupayakan istihkaam, maka Tuhan pun akan menjadikan suatu pembeda antara dirimu dan orang-orang lain. Pembeda (ciri khas) tersebut adalah satu nur akan diberikan bagimu yang dengan nur (cahaya) itu engkau akan menjalani seluruh jalan.  Yakni, engkau akan dikaruniai nur Ilahi yang senantiasa akan menyertai kemanapun engkau pergi. Nur tersebut akan menyinari segala amalmu, perkataanmu, kekuatanmu dan inderamu. Pengetahuannya akan dicerahi, akan senantiasa ada nur Ilahi dalam setiap dambaannya. Mata-mata kalian akan ada nur. Telinga-telinga kalian akan ada nur dan pada lidah-lidah kalian, dalam pembicaraan kalian, dan pada semua gerakan dan diam kalian akan ada nur. Jalan yang kalian tempuh akan menjadi bersinar. Pendek kata, semua jalan kalian, jalan kekuatan (dalam, hati, pikiran) kalian, jalan-jalan indra kalian senantiasa dipenuhi oleh nur dan kalian semua akan berjalan bersama mereka yang diterangi nur.” [9]

Maksudnya, tatkala dalam keadaan demikian terjadi pada seorang hamba Allah Ta’ala atau diusahakan terjadi demikian itu kepadanya, maka para penyerang pun akan menjadi sasaran hukuman Ilahi. Semoga Allah Ta’ala menjadikan demikian bahwa kita menjadi orang-orang yang meraih standar itu, mendapatkan keberkahan itu, menjadi orang-orang yang mendatangkan keberkahan [bagi orang lain] dan kita diselamatkan dai para penentang. Dan semoga pula perbuatan buruk para penentang berbalik menerjang diri mereka. Dan bilamana keadaan ini telah terjadi maka saat itulah kita akan menerima kecintaan Ilahi, kita akan menjadi pengkhidmat kemanusiaan yang murni (tanpa pamrih), menjadi penyampai pesan [ajaran] Islam ke seluruh dunia, maka kita pun insya Allah akan dapat menyaksikan cengkeraman hukuman Allah bagi para penentang. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk dapat banyak berdoa demikian dan memperoleh standar kemuliaan tersebut.

Hari ini saya akan memimpin shalat jenazah gaib untuk yang terhormat Dr. Muhammad Amir (disebut doktor, beliau seorang dispenser). Beliau tinggal di Harnai, Baluchistan, Pakistan. Beliau pada 1 Desember 2011 setelah memasuki kliniknya; beberapa orang tidak dikenal menembakinya hingga beliau syahid.  Disebabkan tidak ada Jamaat di tempat beliau berdomisili tersebut dan istri beliau juga sedang dirawat di rumah sakit Harnai, maka berita pensyahidan beliau pun terlambat diterima. Mereka dimasukkan kedalam Jemaat Qaidabad, wilayah Khusyab. Almarhum adalah satu-satunya Ahmadi di dalam keluarga besarnya. Keluarga beliau ini memiliki hubungan dengan suatu organisasi yang dikenal keras di Pakistan dan sangat boleh jadi mereka tidak bisa menerima jika ada orang mereka yang baiat masuk ke dalam Jamaat Ahmadiyah. Sebenarnya, ini adalah satu penyebab yang bisa terjadi demikian. Keluarga ini tinggal di Muzaffargarh. Beliau baiat pada tahun 1994. Menikah pada tahun 1998. Memiliki 2 orang anak laki-laki yang masih kecil. Seorang yang sangat baik dan mukhlis. Semoga Allah Ta’ala memperlakukannya dengan penuh pengampunan; meninggikan derajat-derajatnya; memasukkannya dalam surga keridhaan-Nya dan menganugerahkan kesabaran indah kepada keluarga yang ditinggalkan.

Penerjemahan :                Mln. Dildaar Ahmad Dartono (teks Urdu)
Mahmud Ahmad Surahman (teks Inggris)

[1]Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Ayyamus Sulh, Ruhani Khazain, jilid XIV, halaman 342

[3] Sirat Ahmad Qudratullah Shahib Sanauri ra halaman 2, terbitan Dhiaul Islam Press, Rabwah, 1962.

[4] Bukhari, Kitabul ‘Itq bab qaulun Nabiyyi shallallahu ‘alaihi wa sallam al-‘abid ikhwaanukum fath’imuuhum mimma takuluun.

[5] أن الله يكون أيديَهم الَّتِي يَبْطِشُون بِهَا وَأبصَارَهُم الَّتي يُبْصِرُون بِها وآذانهم الَّتي يَسْمَعُون بِهِا وَأرجلَهُم الَّتِي يَمْشون بِهَا

[6] “من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب”.

[7] Malfuzat, jilid II, halaman 680-681, edisi 2003, terbitan Rabwah.

 عندما يهاجم أحدٌ وليَّ الله فإن الله ينقضّ عليه كما تنقضّ اللبؤة بغضب على من غصب منها شبلها

[8] Nisyaan Asmaani, Ruhani Khazain jilid 4, halaman 410

[9] Ainah Kamaalaati Islam, Ruhani Khaza’in jilid V, halaman 177-178