Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 4 Februari 2011/4 Tabligh 1390 HS di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

[آمين. ]

Terjemah dari ayat ini adalah, “Kalian adalah umat terbaik yang dibangkitkan untuk memberikan manfaat kepada seluruh umat manusia. Kalian memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Dan jika sekiranya para ahli kitab beriman, niscaya hal ini akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada juga yang beriman, tetapi sebagia besar dari mereka adalah orang-orang yang fasiq.

Ayat yang baru saja anda simak ini, saya telah menjelaskan berkenaan dengannya pada berbagai kesempatan sebelumnya. Akan tetapi ini merupakan sebuah tema, nasihat dan pengingat yang harus berulang kali disampaikan dan dijelaskan dari berbagai sisi. Allah Ta’ala di dalam ayat ini telah memberikan tanggung jawab yang sangat besar kepada orang-orang mukmin. Yaitu mereka yang tidak hanya mendakwakan keimanan mereka, bahkan juga menjaganya. Seiring dengan menjaga keimanannya itu, mereka senantiasa terus memperkuatnya. Disamping menjaga dan memperkuat keimanan mereka sendiri, mereka pun senantiasa berusaha untuk menjaga dan memperkuat keimanan anak keturunan mereka. Kemudian tidak hanya menjaga dan memperkuat keimanan anggota keluarga dan sanak kerabat mereka, mereka pun berusaha untuk memberikan nasihat kepada orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar mereka – yaitu mereka yang merupakan penganut dari agama-agama lainnya, bahkan yang tidak beragama sekalipun – supaya mereka juga melakukan kebaikan-kebaikan semata-mata demi Allah Ta’ala dan menjadi orang-orang yang beriman kepada-Nya. Mereka adalah orang-orang mukmin yang menyatakan telah beriman kepada imam zaman ini dan ghulam-e-shaadiq (hamba sejati) serta ‘aasyiq-e-shaadiq (pecinta sejati) Hadhrat Rasulullah saw, dan telah menyatakan keimanan mereka yang kuat kepada wujud Allah Ta’ala. Jadi, sebagaimana kaum muslimin di masa-masa awal yang senantiasa mengedepankan perintah-perintah dan petunjuk-petunjuk al-Quran serta sabda-sabda Hadhrat Rasulullah saw, dan berusaha untuk menyelaraskan kehidupan mereka dengan syari’at dan hukum-hukum al-Quran sehingga mereka dapat menjadi orang-orang yang meraih keridhaan Allah Ta’ala, dan dengan karunia-Nya mereka meraih kesuksesan dalam hal ini, maka pada zaman ini adalah merupakan kewajiban kita para Ahmadi yang mendakwakan keimanan kita yang sempurna dan kuat kepada Quran Karim dan Hadhrat Rasulullah saw. Kita telah berbai’at kepada imam zaman Masih Mau’ud as untuk menciptakan revolusi di dalam kehidupan kita dan menyelaraskan kehidupan kita dengan perintah-perintah al-Quran, dan akan mengintrospeksi diri kita, sejauh mana kita telah menunaikan kewajiban kita selaku khairu ummat, dan sejauh mana kita telah menunaikan kewajiban kita untuk memberikan faedah bagi umat manusia. Sejauh mana kita menasihati orang-orang kepada kebaikan dengan perkataan dan contoh amalan kita. Sejauh mana kita dengan amalan dan nasihat-nasihat kita telah berusaha untuk menyelamatkan dunia dari keburukan-keburukan. Dalam melakukan introspeksi diri ini, kita tidak bisa menentukan standar tolak ukur kita sendiri. Introspeksi diri ini harus kita lakukan dengan mengedepankan standar tolak ukur yang telah Rasulullah saw tetapkan bagi diri kita. Berkenaan dengan standar ini saya akan menjelaskannya lebih lanjut nanti. Dan selama kita melakukan introspeksi diri ini, kita berusaha untuk menciptakan perubahan-perubahan suci di dalam diri kita dan senantiasa terus melangkah maju. Insya Allah.

                Kemunduran kaum-kaum terdahulu senantiasa dimulai pada saat mereka mengedepankan standar yang dibuat oleh mereka sendiri, mereka terjebak dalam hawa nafsu dan melupakan maksud dan tujuan utama mereka. Quran karim telah menceritakan kisah-kisah nabi-nabi terdahulu dan mengisyaratkan kepada kita bahwa ketika kaum-kaum terdahulu melupakan ajaran-ajaran mereka dan mulai berpaling dari tujuan mereka, maka mereka mengalami kehancuran. Di kalangan mereka timbul kerusakan yang sedemikian rupa parahnya sehingga timbul bid’ah-bid’ah dan perbuatan-perbuatan laghau di dalam ajaran mereka yang merupakan suatu bentuk kehancuran rohani dan akhlak. Dalam pandangan mereka keburukan-keburukan menjadi kebaikan-kebaikan. Mereka menganggap kesucian dan rasa malu sebagai ajaran kuno. Mereka membuat sendiri penjelasan-penjelasan mengenai masalah agama sekehendak hati mereka dan menjadikannya sebagai pengganti dari ajaran nabi-nabi mereka. Mereka berbuat pelanggaran atas nama ajaran nabi-nabi, dan ajaran-ajaran yang merupakan kehendak mereka sendiri dijadikan sebagai bagian dari kitab suci yang dinisbatkan kepada sang nabi, yang akibatnya di dalam hati mereka tiada lagi tersisa kesucian wujud Allah Ta’ala dan nabi-nabi-Nya, dan secara rohani mereka telah mati.

                Hal ini dapat anda lihat dalam masyarakat barat di masa sekarang ini. Selain itu, agama-agama lain manapun sebelum Islam – kepada nabi mana pun mereka menisbatkan diri mereka – keadaan mereka pun seperti itu. Adalah merupakan sebuah ihsan dari Allah Ta’ala bahwa sesuai dengan janjinya Dia telah menjaga kitab syari’at yang terakhir ini. Dan meskipun sebelum kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as ada seseorang yang telah memberikan gambaran mengenai keadaan kebanyakan umat Islam dengan kata-kata sebagai berikut:

‘Raha diin baaqi, nah Islam baaqi’

“Agama masih lah tersisa, tetapi tidaklah ada yang tersisa dari Islam”

                Akan tetapi di setiap zaman senantiasa muncul satu golongan yang senantiasa berusaha mengamalkan ajaran al-Quran dan menjaganya. Kemudian di akhir zaman ini Allah Ta’ala sesuai dengan janji-Nya telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud as. Dan hari ini kita semua para Ahmadi menyatakan telah mengakui Masih yang dijanjikan ini, dan kita telah mengikat bai’at dengan wujud yang telah mengambil kembali iman dari bintang Tsuraya. Kita telah menjalin hubungan dengan seseorang yang telah berjanji untuk menegakkan kembali agama Muhammad saw seperti keadaannya semula di seluruh pelosok dunia ini, dan kita pun telah bergabung dengan jema’at yang akan memenuhi janji Hadhrat Masih Mau’ud as ini. Kita sungguh sangat beruntung karena Allah Ta’ala sendiri telah mengambil tanggung jawab untuk menyampaikan pesan agama Islam ini dengan perantaraan Masih Muhammadi. Dia telah berfirman kepada kita, “Jadilah kalian bagian dari taqdir ilahi ini.” Allah Ta’ala berfirman:

(Mee teri tabligh ko zamin ke kinaarong tak phoncaungga)

“Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh pelosok dunia”

                Dan carilah oleh kalian ganjaran dengan menjadi bagian dari janji ilahi ini. Bagaimana kita bisa menjadi bagian dari taqdir ilahi ini? Ciptakanlah perubahan suci di dalam diri kita sehingga kita dapat meraih keridhaan Allah Ta’ala. Kita harus membersihkan diri demi Allah Ta’ala, jauhkanlah segala macam keburukan dari diri kita dan ciptakanlah keselarasan antara perkataan dengan amalan kita.

                Hal-hal yang dalam ayat ini perhatian kita ditarik kepadanya, adalah hal-hal yang apabila itu ada di dalam diri kita dan kita menyampaikannya, maka hal itu akan menarik perhatian orang-orang yang berfitrat suci kepada kita. Apa-apa yang disampaikan ketika bertabligh itu tidaklah harus hal-hal yang berkenaan dengan masalah-masalah agama saja. Sampaikanlah juga hal-hal yang Allah Ta’ala telah jelaskan yang sekiranya akan menarik orang-orang dunia sekalipun dan penganut agama mana pun kepada kita, dengan syarat dia memiliki ketertarikan terhadap keluhuran akhlak dan di dalam dirinya terdapat suatu fitrat suci yang menginginkan akhlak yang baik dan hal-hal yang baik. Bahkan seorang yang tidak beragama atau atheis sekalipun akan mengatakan baik terhadap akhlak yang baik. Mereka akan mengatakan baik terhadap hal yang baik dan akan mengatakan buruk terhadap hal yang buruk. Walhasil, Allah Ta’ala berfirman bahwa, “Pahamilah tanggung jawab kalian ini, dan untuk memberikan faedah kepada dunia dan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala, berilah manusia nasihat kepada kebaikan dan cegahlah mereka dari keburukan. Berilah perhatian terhadap pemenuhan huquuqul ‘ibaad (hak-hak hamba) dan tunjukanlah kebencian kepada orang-orang yang merampas hak-hak hamba dan cegahlah mereka. Tariklah perhatian mereka untuk dapat memenuhi huquuqul ‘ibaad. Akan tetapi sebelum melakukan semua itu – sebagaimana yang telah saya katakan – kita harus mengintrospeksi diri kita terlebih dahulu. Kita harus memperbaiki diri kita terlebih dahulu, barulah perkataan kita itu akan berkesan dan berpengaruh. Dan untuk memperbaiki diri kita dalam hal ini kita harus senantiasa ingat dan sadar bahwa Allah Ta’ala senantiasa melihat segala perkataan dan perbuatan kita. Dia melihat segala amalan kita. Sebelumnya kita hanya mengajarkan kepada dunia akhlak duniawi dan memberi mereka nasihat kepada kebaikan. Dan kita memberitahu mereka hal-hal apa saja yang buruk lalu mencegah mereka daripadanya. Namun sekarang kita akan melakukannya dengan berlandaskan firman Tuhan:

 “Kami beriman kepada Allah.”

Bahwa kita sebagai orang-orang yang memberikan nasihat adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan keimanan yang hakiki itu baru dapat diraih ketika kesenangan dan kecintaan kita terhadap Allah Ta’ala melebihi kesenangan dan kecintaan kita terhadap hal-hal yang lainnya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman lebih besar kecintaannya terhadap Allah.” (al-Baqarah: 166)

Ketika seorang manusia mencintai sesuatu, maka hal itu akan menjadi sesuatu yang paling ia pikirkan. Walhasil, ketika kita mendakwakan bahwa kita mencintai Allah Ta’ala, maka kecintaan kepada Allah Ta’ala akan menjadi yang paling utama diantara semuanya dan ketika telah mencintai Allah Ta’ala maka melaksanakan segala perintahnya pun menjadi hal yang paling diberikan perhatian. Jadi dengan mengintrospeksi diri, kita akan menyadari bahwa untuk menjadi khairu ummat tidak cukup hanya dengan menyatakan keimanan kita saja. Hanya dengan itu saja maksud dan tujuan kita tidak akan tercapai. Akan tetapi dengan melangkah maju menuju kecintaan Allah Ta’ala lah kita akan termasuk ke dalam golongan khairu ummat. Untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala kita harus memberikan nasihat kepada kebaikan dan mencegah orang lain dari keburukan, barulah kemudian kita bisa dikatakan khairu ummat. Dan ketika seorang mukmin hakiki hendak melangkah maju untuk melaksanakan hal ini, maka yang yang pertama-tama harus dia lihat adalah apakah kebaikan yang dia nasihatkan itu terdapat di dalam dirinya? Apakah keburukan yang dia mencegah orang daripadanya itu tidak terdapat di dalam dirinya? Dia harus merenungkan bahwa, dikarenakan keimanannya ia telah menyatakan kecintaannya kepada Allah Ta’ala, dan ketika seorang insan menyatakan rasa cintanya kepada yang lainnya, maka dia akan mengemukakan segala macam keadaannya di hadapan orang yang terkasihnya itu dan satu sama lain akan saling mengetahui rahasia masing-masing. Sedangkan Allah Ta’ala adalah ‘alim al-ghaib wa al-syahadat (Maha Mengetahui yang ghaib dan Maha Menyaksikan). Dia tidak perlu diberitahu karena Dia Maha Mengetahui segala yang tersembunyi maupun yang zahir. Allah Ta’ala berfirman, “Di satu sisi kalian menyatakan keimanan dan rasa cinta kalian, dan di sisi lain Aku yang mengetahui hati kalian, Aku melihat ada keburukan di dalamnya. Apa yang kalian katakan kalian tidak mengerjakannnya.”

                Walhasil, jika seorang mukmin yang hakiki memiliki keyakinan bahwa Allah Ta’ala Maha Melihat serta ‘Aalimul-ghaib wasy syahadah, maka potensi penjagaan diri yang ada di dalam dirinya akan dengan sendirinya membimbingnya ke jalan yang lurus, dengan syarat keimanan itu ada di dalam dirinya. Jadi jika ada di antara kita yang merasa potensi penjagaan diri yang ada di dalam kita itu tidak bekerja, maka kita perlu merenungkan, bisa jadi standar keimanan yang kita miliki itu belumlah sebagaimana mestinya. Setiap dosa dan keburukan masyarakat nampak kepada kita. Akan tetapi semua keburukan itu barulah akan nampak ketika kecintaan terhadap Allah Ta’ala bergejolak di dalam hati. Jika hal ini tidak dirasakan dan kecintaan terhadap Allah Ta’ala tidak unggul di atas semua kecintaan yang lainnya, dan justru kecintaan terhadap duniawilah yang unggul, maka standar keburukan dan kebaikan itu akan berubah.

Terdapat banyak riwayat di dalam jema’at. Hadhrat Masih Mau’ud as dan para khalifah beliau as telah menyampaikannya kepada jema’at dengan meninjaunya dari sudut pandang ajaran Islam. Dengan menggabungkan diri ke dalam jema’at ada beberapa perkara yang dilarang keras. Sangatlah penting bagi seorang mukmin hakiki untuk melakukan amal ma’ruf dan kebaikan-kebaikan dalam meraih tujuan hidupnya. Tanpa hal itu ia tidak bisa menasihati orang lain untuk melakukan kebaikan-kebaikan dan tidak pula ia dapat mencegah orang lain dari keburukan-keburukan. Jadi ketika kita telah menjalin ikatan dengan Imam zaman ini dan berjanji bahwa kita akan menciptakan perubahan suci di dalam diri kita serta akan berusaha menjadi khairu ummat, maka kita terpaksa harus meninggalkan kesibukan-kesibukan duniawi kita. Kita tidak bisa menetapkan sendiri standar kebaikan-kebaikan kita. Bahkan yang bisa menjadi standar dari kebaikan-kebaikan itu adalah yang telah diajarkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as di zaman ini berdasarkan ajaran-ajaran Islam setelah beliau sendiri mendapatkan petunjuk langsung dari Allah Ta’ala, dan beliau telah berusaha untuk melazimkannya di dalam jema’at ini serta menasihatkannya. Ini merupakan suatu hal penting yang harus dipahami oleh para Ahmadi.

                Beberapa hari yang lalu di suatu jema’at terjadi pelanggaran terhadap ajaran jema’at dalam hal pernikahan yang karenanya saya memberikan sangsi kepada mereka. Beberapa diantara mereka ada yang memang tidak mengetahui ilmu agama dan tidak juga mengetahui riwayat-riwayat, sehingga mereka menganggap seolah-olah tidak ada salahnya melakukan hal itu. Dalam hal ini setiap Ahmadi harus menyempurnakan keimanan mereka yang hakiki dan berusaha untuk meraihnya. Akan tetapi ada juga beberapa diantara mereka yang mengetahui ilmu agama, mereka melakukan pengkhidmatan di jema’at ini dan mengetahui juga riwayat-riwayat dan ajaran-ajaran di dalam jema’at. Mereka pun hadir dalam pernikahan itu dan memperlihatkan kemunafikan serta kelemahan mereka. Di satu sisi mereka mencegah orang dari keburukan, namun dalam kesempatan itu mereka hanya duduk di sana menyaksikan semua hal yang sia-sia itu. Bukannya mereka melaksanakan tanhauna ‘anil munkar (Mencegah dari keburukan) justru mereka malah menjadi bagian dari keburukan itu. Dan barulah belakangan mereka menulis surat kepada saya yang mengatakan bahwa, “Kami pun telah ikut ambil bagian dalam melakukan ishlah (yakni memperbaiki dan meluruskan) mereka.” Ini merupakan suatu ishlah yang aneh, tidaklah mereka memiliki perhatian untuk mencegah dari keburukan, tidak pula mereka memberikan nasihat kepada kebaikan. Jika pun nasihat kepada kebaikan itu ada mereka lakukan, nasihat itu berhubungan dengan tema lain. Ini merupakan suatu ishlah yang mengherankan, ketika suatu corak keburukan sedang terjadi, mereka hanya melihatnya dan bergabung di dalamnya, lalu mengatakan bahwa, “Kami telah memberikan nasihat,” yang tidak diketahui apakah pada kenyataannya mereka benar-benar melakukannya atau tidak. Akan tetapi jika sekalipun mereka melakukannya, tetap saja mereka tidak melakukan pencegahan terhadap keburukan-keburukan yang sedang berlangsung, bahkan malah memberikan nasihat terhadap kebaikan-kebaikan dalam corak lain. Ini seperti seseorang yang melihat seorang pencuri tengah melakukan aksi pencurian, dan bukannya mencegahnya dan menangkapnya, alih-alih menyelamatkan yang lainnya dari kerugian akibat pencurian itu, dia justru menolong pencuri itu, lalu belakangan mengatakan kepadanya bahwa berkata jujur untuk mengakui perbuatannya adalah hal yang sangat baik. Berkata jujur tentu saja merupakan suatu hal yang baik, akan tetapi jika ia memberikan nasihat dan mencegahnya langsung pada saat itu juga pada saat pencurian itu berlangsung, maka pencuri itu akan jera dari perbuatan mencurinya. Walhasil, jika seorang Ahmadi benar-benar memiliki iman terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, maka seharusnya ia tidak takut terhadap masyarakat. Bahkan ia harus mendahulukan agama. Hadhrat Masih Mau’ud as telah berdoa untuk anak keturunan beliau dan para pengikut beliau supaya mereka terhindar dari rasa takut terhadap dajal. Apa jadinya jika para Ahmadi yang tinggal di negeri-negeri barat ini terpengaruh oleh ru’ub dajal. Banyak orang yang terseret dalam kasus yang disebutkan tadi. Dikatakan kepada saya bahwa dikarenakan begitu banyaknya orang yang terlibat maka akan timbul suatu kegelisahan di dalam jema’at ini. Berkenaan dengan hal ini saya memberikan jawaban kepada mereka bahwa bagaimana pun mereka akan mendapatkan sangsi. Jika timbul kegelisahan di dalam jema’at ini dan beberapa orang akan terpecah belah, biarlah itu terjadi, saya tidak peduli terhadap hal itu. Islam yang telah diajarkan kepada kami, yang ajarannya Hadhrat Masih Mau’ud as telah ajarkan kepada kami adalah untuk menyelamatkan dari keburukan-keburukan dan perbuatan-perbuatan laghaw. Inilah yang akan kami senantiasa pegang.

                Ketidakselarasan antara perkataan dan perbuatan tidak disukai oleh Allah maupun Rasul-Nya. Sebelumnya pun telah berkali-kali saya katakan, para khalifah sebelum saya pun telah mengatakan bahwa jika pernikahan-pernikahan dan pesta-pesta seperti ini berlangsung di rumah seorang Ahmadi, maka kalian harus pergi dan beranjak dari sana. Jika tidak maka sikap pengecut ini, kecintaan terhadap masyarakat ini, akan menutupi kecintaan terhadap Allah Ta’ala dan melakukan hal ini sama saja dengan membantu dalam melakukan keburukan tersebut. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada para Ahmadi untuk dapat memahami hal ini.

                Sekarang saya akan menyampaikan sebuah hadis Hadhrat Rasulullah saw yang darinya diketahui bagaimana hendaknya standar yang harus dimiliki seorang mukmin? Setelah mendengar hadis ini bulu kuduk menjadi berdiri karena takutnya. Hadhrat Abdullah bin Umar ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ada empat ciri, barangsiapa yang di dalam dirinya terdapat semua ciri itu, maka dia sepenuhnya munafik, dan barangsiapa yang di dalam dirinya terdapat satu saja dari keempat ciri itu, maka bagaimana pun di dalam dirinya telah terdapat sifat kemunafikan selama ia tidak meninggalkannya. Ciri yang pertama adalah, jika diberikan amanat kepadanya ia akan berkhianat. Ciri yang kedua adalah, ketika dia berbicara dia berdusta. Ciri yang ketiga, ketika dia berjanji dia mengingkari. Dan ciri yang keempat adalah ketika ia berkelahi ia suka mencaci-maki.”[2]

                Hadhrat Sayyid Waliullah Syah Sahib – seorang Jemaat Ahmadiyah yang telah menulis syarh atas Shahih al-Bukhari – dalam menjelaskan hadits ini beliau menulis sebagai berikut, “Tujuan dari dibahasnya tentang sifat munafiq dalam pembahasan keimanan adalah sama dengan tujuan dibahasnya masalah kekafiran, syirik dan hal-hal yang menunjukkan ketidakwajaran dan ketidaksopanan lainnya, yakni, kemunafikan itu merugikan bagi keimanan.” Kemudian beliau menulis, “Seseorang yang di dalam dirinya terdapat salah satu dari tanda-tanda itu maka kemunafikan di dalam dirinya menjadi bertambah dan imannya menjadi berkurang. Arti dari nifaq adalah ketidaksesuaian antara zahir dengan batin.” (Yakni, lain di hati, lain pula yang terlihat secara zahir) “atau bertentangan dengan kenyataan.” (Yakni kenyataannya lain, dan yang ia bicarakan pun lain lagi). Dan inilah tafsir yang benar dari ciri-ciri kemunafikan yang telah Rasulullah saw jelaskan tersebut. Berdusta adalah berhubungan dengan perkataan manusia, mengingkari janji berhubungan dengan perbuatan manusia dan berkhianat serta membangkang adalah berkaitan dengan niat di dalam hati, hal ini semua bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya. Melanggar janji dan mencaci-maki pun bertentangan dengan kenyataan yang sebenarnya. Jadi, contoh-contoh besar ini adalah untuk menjelaskan hakikat dari kemunafikan. Keimanan yang hanya di bibir saja dan tidak ada di dalam hati, ini juga bertentangan dengan kenyataan. Atau iman itu ada, namun ia tidak mau meyatakan keimanannya itu, ini pun bertentangan dengan kenyataan.” (Sebagian orang mengatakan bahwa ia sangat menganggap baik Hadhrat Masih Mau’ud as, akan tetapi ia tidak bisa mengikrarkannya di hadapan dunia, ini pun adalah sebuah kemunafikan) “Atau iman itu ada, namun amalannya tidak menggenapi dan membuktikan keimanannya itu” (Ia beriman akan tetapi amalannya bertentangan dengan keimanannya itu. Bertentangan dengan ajaran Islam) “Ini juga merupakan nifaq. Jadi semua hal yang bercorak seperti ini adalah nifaq.” Inilah makna dari nifaq atau kemunafikan.[3]

                Keburukan-keburukan yang Hadhrat Rasulullah saw telah terangkan dengan jelas di dalam hadits ini begitu nampak kepada kita di zaman ini. Dan pengaruh-pengaruh dari budaya masyarakat tersebut bagaimana pun beberapa diantaranya telah mempengaruhi sebagian dari kita. Sesuai dengan sabda Hadhrat Rasulullah saw, jika ada satu saja dari keempat ciri itu terdapat di dalam diri seseorang, maka hal itu akan menjerumuskan sebagian dari hari kita ke dalam kemunafikan. Untuk mengisyaratkan kepada keburukan-keburukan itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Jika orang-orang munafiq pada zaman Hadhrat Rasulullah saw hidup di zaman ini, mereka akan dianggap orang yang paling suci dan beriman. Karena ketika keburukan-keburukan begitu merajalela, maka di saat seperti itu kebaikan yang sekecil-kecilnya pun akan sangat dihargai. Orang-orang yang dikatakan munafiq pada zaman Hadhrat Rasulullah saw, pada dasarnya mereka disebut munafiq karena bandingan dan tolak ukur mereka adalah sahabat-sahabat besar Hadhrat Rasulullah saw.” Akan tetapi kita haruslah ingat bahwa dengan kita beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, hendaknya standar kita lebih tinggi dibanding orang-orang Islam pada umumnya. Yang menjadi uswah (suri teladan) bagi kita bukanlah orang-orang yang lemah keimanannya dan memperlihatkan kelemahan-kelemahannya dalam beberapa perkara pada zaman itu, akan tetapi yang menjadi uswah bagi kita adalah para sahabat, yang telah mencapai standar yang begitu tinggi dan Allah Ta’ala telah memberikan khabar suka kepada mereka mengenai surga dan keridhaan-Nya. Jadi, kita harus meraih standar tinggi yang disenangi oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

                Standar kita dalam menjaga dan memegang amanat juga haruslah tinggi. Kita harus menunaikan kewajiban kita untuk menjaga setiap amanat yang diberikan kepada kita, baik itu amanat negara, amanat jema’at, maupun amanat yang sifatnya pribadi. Ketika kita bekerja di suatu kantor pemerintahan, selain kita mengerjakan tugas-tugas seperti para pegawai lain pada umumnya, standar etos kerja kita pun harus yang paling tinggi dibanding yang lainnya. Ketika bekerja di perusahaan swasta, maka suri teladan yang diperlihatkan oleh seorang Ahmadi harus lebih baik dibanding yang lainnya. Sekarang kita bisa mengatakan dengan bangga kepada para ghair Ahmadi bahwa standar para Ahmadi dalam menjaga amanat lebih baik dibanding yang lainnya. Namun hanya sekedar lebih baik saja bukanlah hal yang patut dibanggakan, akan tetapi yang menjadi kebanggaan itu adalah standar yang tinggi itu sendiri. Di negara-negara dunia ketiga, di mana kecepatan kemajuan tidak merata, bahkan di beberapa tempat kemajuan itu tidak ada sama sekali, yang menjadi penyebab hal itu terjadi di sana adalah karena di setiap wilayah atau daerah amanat itu dikhianati. Misalnya Pakistan dengan sangat bangga menyatakan, “Kami adalah negara Islam,” akan tetapi berdasarkan perhitungan yang baru, peringkatnya di antara negara-negara yang paling korup telah meningkat dibandingkan sebelumnya. Demikian juga beberapa negara Islam lainnya, atau beberapa orang Islam yang memegang tampuk kekuasaan di suatu negara, mereka terus meningkat dalam melakukan pengkhianatan terhadap jabatan. Apakah dengan menjadi muslim saja akan cukup untuk menjadi khairu ummat? Apakah hanya dengan menyatakan sebagai suatu negara yang menjalankan hukum-hukum Islam saja sudah cukup untuk menjadi khairu ummat? Persoalannya bukanlah hanya satu-dua keburukan saja yang terdapat di dalam diri mereka, bahkan semua keburukan, namun tetap saja mereka mengaku orang yang beriman. Dan orang-orang mukmin yang hakiki, justru dalam pandangan mereka kafir. Demikianlah berkenaan dengan orang-orang mukmin yang sekedar nama di zaman ini tersebut, dikatakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa, orang-orang munafik di zaman Hadhrat Rasulullah saw masih lebih baik dibandingkan orang-orang mukmin yang sekedar nama tersebut.

                Walhasil, hanya para Ahmadi lah yang bisa menegakkan standar sikap amanah dan menjaga amanat yang telah diberikan kepada Hadhrat Rasulullah saw dalam corak yang sebenarnya, dan ini memang kewajiban yang harus kita laksanakan sehingga termasuk ke dalam khairu ummat. Kita harus memperlihatkan contoh dan teladan kita di kalangan masyarakat yang telah rusak ini dan memberikan nasihat kepada lingkungan sekitar. Amanat yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah dan pesan tauhid yang harus beliau sampaikan serta pemenuhan terhadap hak-hak hamba-Nya, inilah amanat yang menjadi tanggung jawab para Ahmadi. Jadi para Ahmadi-lah yang harus paling depan dalam menjaga amanat ini. Dan untuk meraih tujuan ini kita harus berusaha menunaikan kewajiban untuk menjaga dan menjalankan amanat ini dengan terlebih dahulu memperbaiki diri kita sendiri. Amanat ini akan dapat dijalankan apabila kita memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak hamba. Amanat ini akan dapat kita laksanakan dengan terlebih dahulu memberikan tarbiyat kepada anak-anak kita, sehingga ruh dari pemenuhan kewajiban-kewajiban ini dapat berlangsung hingga ke generasi-generasi selanjutnya.

                Selanjutnya Hadhrat Rasulullah saw menjelaskan bahwa salah satu ciri orang munafik adalah berkata dusta. Apa yang dikatakannya mengandung kebohongan di dalamnya. Ada sebuah peringatan yang sangat keras terhadap orang-orang yang berkata dusta. Jika diperhatikan ini adalah ketidak sesuaian antara perkataan dan perbuatan, dan ketidak sesuaian ini lah yang merupakan kemunafikan. Di satu sisi mendakwakan keimanan kepada Allah Ta’ala, di sisi lain ia berdusta. Seolah-olah dengan berdusta ia berdiri menentang Tuhan. Dengan sebab inilah Allah Ta’ala telah menjelaskan masalah syirik dan berkata dusta di satu tempat di dalam al-Quran, yakni Dia telah menyatukan antara syirik dan berkata dusta. Ini adalah dua hal yang apabila terdapat di dalam diri seseorang, atau pun dia itu hanya berbohong saja, maka dia itu musyrik. Dan jika bersamaan dengan menyatakan keimanannya kepada Allah Ta’ala ia pun berdusta, maka semua orang akan tahu bahwa ini adalah pernyataan yang salah dan jelas-jelas merupakan nifaq. Yakni dengan berkata dusta, seorang insan alih-alih beriman kepada Allah Ta’ala, justru dia lebih dekat kepada syirik. Memang di mulut ia menyatakan sebagai seorang mukmin, akan tetapi amal perbuatannya menafikan hal itu. Sungguh sangat disayangkan, sebagian besar orang-orang Islam di masa sekarang ini telah lupa akan perbedaan antara kebohongan dan kebenaran. Walhasil, jika hari ini para Ahmadi tidak berjihad untuk melawannya dan tidak berusaha untuk membersihkan dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya dari hal itu, maka mereka akan menjadi orang yang membiarkan noda itu melekat di dalam hati dan tidak memiliki hubungan dengan Islam dan jema’at Hadhrat Masih Mau’ud as. Tujuan dari kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah untuk melakukan ishlah (perbaikan), menegakkan syari’at dan mengenalkan corak keindahan Tuhan. Beliau mengikuti jejak majikan beliau Hadhrat Rasulullah saw secara sempurna. Jika di dalam diri kita sebagai orang-orang yang telah menyatakan beriman kepada beliau masih terdapat sifat dusta, maka bagaimana mungkin syari’at itu bisa ditegakkan? Bagaimana kita bisa memenuhi pendakwaan kita sebagai pengikut beliau? Jadi kita sangat perlu untuk mengintrospeksi diri kita. Janganlah dulu melihat orang lain, lihatlah terlebih dahulu diri kita, sejauh mana kita telah memperbaiki diri kita.

                Hadhrat Rasulullah saw memberitahukan bahwa ciri orang munafik yang ketiga adalah apabila ia berjanji ia mengingkari dan tidak memenuhinya. Inilah keadaan dunia di masa sekarang ini. Orang-orang melanggar janji dalam berbisnis, demikian pula dalam perkara-perkara sehari-hari. Di level nasional pun sedemikian rupa diliputi oleh sifat pengkhianatan dan pelanggaran terhadap janji, sampai-sampai sangat sulit untuk digambarkan. Ketika mereka melakukan perjanjian dagang, mereka begitu curang dan khianatnya sehingga sulit untuk digambarkan. Seseorang memberitahukan kepada saya, bahkan yang memberitahukan kepada saya itu adalah seorang pebisnis, ia mengatakan bahwa, “Beras basmati [4]dengan kualitas baik yang biasa kami ekspor ke berbagai negara di dunia, ke dalamnya kami biasa mencampurkan beras berkualitas rendah yang merupakan beras jenis berbeda, suatu jenis beras yang ukurannya agak sedikit lebih besar. Beras itu dicampurkan dengan cara tertentu sehingga tidak ada seorang pun yang akan mengetahuinya.”

Mereka tidak peduli, jika pun ada yang mengetahui hal tersebut maka itu tidak akan berpengaruh terhadap bisnis mereka, dan yang pertama-tama terjadi adalah nama negara yang akan menjadi buruk. Demikian juga hal ini banyak dilakukan dalam pekerjaan-pekerjaan lainnya. Yakni tidak hanya berupa kecurangan dan pelanggaran terhadap janji, bahkan juga pengkhianatan dan kedustaan. Hanya demi uang beberapa rupiah saja mereka berlaku curang dan mengingkari janji. Lalu standar seperti apa yang Hadhrat Rasulullah saw harapkan dari kita. Beliau saw sendiri bukan hanya dalam berdagang, bahkan ketika melakukan perjanjian-perjanjian perang dan perjanjian-perjanjian umum lainnya pun beliau saw selalu menegakkan uswah (suri teladan)nya dan beliau memenuhi perjanjian itu dengan begitu memperhatikan sampai hal yang sekecil-kecilnya, sehingga misal seperti ini tidak bisa didapati di dalam suatu perjanjian mana pun di dunia ini. Misalnya dalam perjanjian Hudaibiyah, ketika perjanjian itu sedang ditulis dan syarat-syarat baru disepakati secara lisan, seorang sahabat yang datang dari Mekah telah dipulangkan kembali atas permintaan kaum kufar. Beliau tidak mengatakan kepada mereka bahwa syarat-syarat itu belum ditulis, oleh karena itu sahabat tersebut tidak akan dipulangkan ke Mekah. Akan tetapi dikarenakan perjanjian itu secara lisan telah disepakati dan sedang ditulis, maka beliau saw tetap menyuruh sahabat itu pulang, meskipun beliau saw mengetahui bahwa kepulangannya kembali ke Mekah akan membahayakan jiwanya. Inilah standar yang beliau miliki. Di masa sekarang pun sebagai pengikut dari hamba sejati beliau kita harus berusaha meraih standar ini. (Kemudian suatu ketika) Hadhrat Rasulullah saw lewat di pasar. Beliau saw memasukkan tangan beliau saw ke dalam suatu tumpukan gandum dan mendapati ternyata di bagian tengah tumpukan itu terdapat gandum yang basah. Beliau saw berkata kepada penjual gandum tersebut, “Kamu telah melakukan penipuan dan hal ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim.” Kita harus berusaha meraih standar yang seperti ini, barulah kita mendapatkan iman yang sempurna dan bisa menjadi seorang pemberi nasihat yang hakiki.

                Kemudian ciri seorang munafik yang lainnya adalah apabila ia berdebat maka ia mengucapkan kata-kata yang keji dan melontarkan caci-maki. Di masa sekarang ini kita melihat sifat seperti ini begitu nampak di dalam diri para penentang kita. Hal ini nampak dengan sendirinya dari stasiun-stasiun televisi dan website-website milik mereka yang terus melancarkan penentangan terhadap jema’at. Walhasil, adalah menjadi kewajiban seorang Ahmadi untuk menghindarkan diri dari hal semacam ini. Tanda-tanda kemunafikan yang nampak dalam diri para penentang ini adalah bagian dari karakter mereka. Seorang Ahmadi hendaknya selalu terhindar daripadanya dan janganlah sekali-kali membalas kekerasan dengan cara yang bisa menimbulkan caci maki dan kata-kata kotor dari pihak penentang. Kita harus selalu mengedepankan suri teladan yang telah dicontohkan oleh junjungan kita Hadhrat Muhammad Mushthafa saw. Kemudian hamba sejati Hadhrat Rasulullah saw, yakni Hadhrat Masih Mau’ud as telah memperlihatkan kepada kita, bagaimana orang-orang mengatakan hal-hal yang buruk terhadap beliau as, akan tetapi beliau as tidak pernah membalasnya dengan cara yang sama, bahkan beliau as berpaling dan tidak mengindahkan mereka. Hadhrat Rasulullah saw adalah rahmatan lil ‘alamiin, rahmat bagi sekalian alam. Setiap orang mendapatkan rahmat dari beliau tidak hanya pada saat beliau membalas suatu kelembutan, bahkan pada saat beliau saw membalas suatu tindakan yang keras pun orang-orang mendapatkan rahmat dari beliau saw. Semoga Allah Ta’ala menjaga setiap Ahmadi dari penyakit-penyakit rohani yang merusak keimanan dan tatanan masyarakat ini. Semoga kita senantiasa menjadi orang yang senantiasa mengamalkan ta’muruuna bil ma’ruf (memerintahkan kepada kebaikan) dalam corak yang sebenar-benarnya.

                Sungguh sangat disayangkan, pada masa sekarang ini mayoritas umat Islam terjangkit oleh penyakit-penyakit ini dan membuat buruk citra Islam. Berkata dusta, berkhianat terhadap amanat, mengingkari janji dan tidak menghormatinya, ini semua adalah hal-hal yang merusak kedamaian negara. Peperangan yang terjadi di negara-negara muslim antara para pejabat pemerintah, para politisi maupun masyarakat umum, ini semua terjadi dikarenakan sifat nifaq itu, yang ciri-cirinya telah dijelaskan oleh Hadhrat Rasulullah saw. Kemunafikan yang timbul di negara-negara muslim ini digunakan oleh orang-orang non muslim untuk menghina Islam dan mereka mendapatkan kesempatan untuk mendiskreditkan Islam. Seorang Yahudi menulis di sebuah surat kabar Israel bahwa ajaran Islam tidaklah cinta damai dan ini nampak jelas dari perilaku orang-orang Islam. Lebih lanjut dia menulis bahwa ajaran damai itu hanya ada dalam agama Yahudi dan Kristen, dan hanya segelintir minoritas muslim yang berbicara tentang perdamaian. Ini sangatlah tragis. Mereka yang ajarannya jelas-jelas adalah ajaran yang bengis dan keras menuduhkan telunjuknya menyalahkan orang-orang Islam atas perilaku mereka dan mengajukan keberatan terhadap ajaran Islam. Kita sebagai Ahmadi tidak akan bisa merasa senang hanya karena minoritas yang dimaksud itu diisyaratkan kepada kita atau suatu kelompok Islam lainnya, dan merasa setidaknya ada sekelompok minoritas kecil muslim yang tidak ternoda. Kita baru akan merasa senang apabila dikatakan berkenaan dengan mayoritas umat Islam bahwa mereka memberikan pesan cinta, kasih sayang dan perdamaian dikarenakan ajaran Islam. Tuduhan keji yang sedang terus dilontarkan oleh mereka ini, yang mana orang-orang Islam pada umumnya tidak memperdulikannya, ini adalah merupakan suatu hal yang sangat menyakitkan bagi kita. Kita orang-orang Ahmadi baru akan merasa senang apabila dunia mengatakan bahwa ajaran Hadhrat Rasulullah saw adalah ajaran yang damai, penuh cinta dan kasih sayang. Inilah satu-satunya ajaran indah yang tanpanya perdamaian tidak bisa ditegakkan di muka bumi ini.

                Jadi, sekarang ini menjadi kewajiban kita untuk berdoa, semoga Allah Ta’ala memberikan pengertian kepada umat Islam dan mereka menjadi orang-orang yang menunaikan kewajiban-kewajiban mereka sebagai khairi umat dalam corak yang sebenar-benarnya, dan semoga kita sendiri pun bisa melaksanakan kewajiban kita dalam corak yang sebenar-benarnya.

                Pada khotbah yang lalu saya menyampaikan sebuah kutipan dan saya ingin memberikan penjelasan berkenaan dengannya. Kutipan itu adalah tentang kisah dari Abu lahab yang memperlakukan Hadhrat Rasulullah saw dengan hina, yang karena perbuatannya itu ia mati dicabik-cabik oleh kawanan serigala. Ada kesalahan dalam kutipan ini dan sekarang saya akan meralatnya. Biasanya saya selalu mengecek sendiri kutipan-kutipan dari al-Quran, Hadis dan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as atau menyuruh orang lain untuk mengeceknya. Akan tetapi salah seorang ulama kita menulis mengenai hal ini di dalam literatur kita dan saya mengutip darinya. Saya beranggapan bahwa ini adalah kutipan yang benar, namun ternyata ada kekeliruan di dalamnya.

Akan tetapi tetap ada sisi baik dari kekeliruan ini, ternyata kisah ini tidak berkenaan dengan Abu Lahab, melainkan berkenaan dengan kematian anaknya, yakni ‘Utaibah, yang ia sendiri menghina Hadhrat Rasulullah saw. Terdapat sebuah riwayat di dalam Ruhul Ma’ani yang menyatakan bahwa nubuatan berkenaan dengan kematian Abu Lahab telah sempurna tujuh hari setelah perang Badar. Ia mati disebabkan oleh tha’un dan selama tiga hari mayatnya mengeluarkan bau busuk. Keluarganya dikarenakan takut akan kehinaan lalu mereka menggali sebuah lubang dan dengan sepotong kayu mereka menyeret mayatnya itu masuk ke dalam lubang tersebut. Kemudian mereka melemparkan batu-batu di atasnya hingga kuburan itu tertutup penuh.[5] Demikianlah Allah Ta’ala telah membalas penghinaan yang ia lakukan terhadap Rasulullah saw.

Terdapat sebuah riwayat lain dalam Tarikh Thabari, bahwa ia menderita semacam bisul yang menyebabkan ia mati. Kedua anaknya tidak menguburkannya sampai dua atau tiga malam, sampai-sampai mayatnya membusuk di rumah dan mulai mengeluarkan bau yang menyengat, dan ia pun dikuburkan dalam kondisi seperti itu. Singkatnya akhir kesudahan dia sendiri sangatlah buruk, demikian juga anaknya. [6]

                Maksud saya adalah dikarenakan kekeliruan dalam pengutipan ini – bukannya satu – justru malah kita mendapatkan dua riwayat (yakni berkenaan dengan Abu Lahab dan anaknya). ‘Utaibah menikah dengan seorang putri Hadhrat Rasulullah saw. Terdapat sebuah riwayat bahwa sebelum pergi ke Syam ia menemui Hadhrat Rasulullah saw dengan tujuan untuk menyakiti beliau saw. Ia berkata bahwa ia mengingkari surat An-Najm. Kemudian dengan cara yang sangat lancang dan menjijikan ia meludah di hadapan Rasulullah saw dan mentalaq putri beliau saw. Rasulullah saw sendiri tidak berkata apa-apa bahkan beliau saw berdoa buruk terhadapnya. Dalam perjalanan menuju Syam itulah ia menemui ajalnya diterkam serigala atau singa. Riwayat-riwayat ini dapat ditemukan dalam literatur-literatur lain.[7]

                Selain khotbah ada pula hal lainnya, yaitu setelah shalat jum’at saya akan menyalatkan jenazah almarhum Mukaram Rasyid Ahmad Bath Sahib Ibnu Mukaram Mia Muhammad Sahib. Beliau meninggal pada tanggal 18 Oktober 2010 pada usia 71 tahun karena sakit liver. Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un. Pada saat peristiwa penyerangan di Baitul Zikr tanggal 28 Oktober 2010 beliau berada di sana dan beliau pun terluka terkena tembakan. Orang yang menyelamatkan beliau meninggalkan beliau di rumah sakit dan hampir selama satu hari beliau di sana tanpa tindakan apa-apa. Beliau banyak mengeluarkan darah sehingga beliau menjadi sangat lemah. Hal ini pun berpengaruh terhadap hati beliau. Pengkhidmatan beliau di dalam jemaat adalah sebagai Sekretaris Rishtanata, Sekretaris Ishlah-o-Irsyad dan Za’im Ansharullah. Beliau seorang yang sangat soleh, rajin melaksanakan tahajud dan banyak memperoleh karunia melihat ru’ya dan kasyaf. Beliau sangat bersemangat dalam melaksanakan khidmat khalq dan da’wat ilallah, serta seorang Ahmadi yang mukhlis dan memiliki semangat dalam memberikan pengorbanan. Beliau juga ahli dalam Homeopathy. Beliau membuat sebuah medical camp (posko pengobatan) di rumahnya dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Ribuan orang mendapatkan manfaat darinya. Beliau memiliki ikatan kesetiaan yang sangat kuat dengan khilafat. Beliau senantiasa menghubungkan setiap keberhasilan yang dicapainya dengan do’a khalifah-e-waqt.

                Setelah peristiwa 28 Mei, beliau menceritakan satu kasyaf yang beliau alami, dikatakan bahwa, “Saya melihat sebuah singgasana terbang yang berputar-putar di langit. Lalu saya ingin tahu ada apa di atas singgasana itu. Lantas singgasana terbang tersebut condong ke arah saya. Dan saya melihat di atas singgasana itu ada bintang-bintang yang berkilauan. Kemudian tidak berapa lama singgasana terbang itu naik ke langit. Ke dalam hati saya diresapkan pemahaman bahwa ini adalah para syuhada yang menyerahkan jiwa mereka pada peristiwa 28 Mei dan mereka telah abadi.” Dikatakan bahwa beberapa hari setelah itu, ketika saya menceritakan tentang kasyaf beliau tersebut di dalam khotbah saya, beliau telah lebih tenang. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau dan semoga orang-orang yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran. Amin.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman, bab alamatul munafiq (tanda-tanda orang munafik)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ». غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ سُفْيَانَ: «وَإِنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ».

Shahih Muslim, Kitab al-Iman, bab bayaan Khishali Munafiq

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَلَّةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ». غَيْرَ أَنَّ فِي حَدِيثِ سُفْيَانَ: «وَإِنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ».

Dari Abdullah bin Amru dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada empat perkara, barangsiapa yang empat perkara tersebut ada pada dirinya maka dia menjadi orang munafik sejati, dan apabila salah satu sifat dari empat perkara tersebut ada pada dirinya, maka pada dirinya terdapat satu sifat dari kemunafikan hingga dia meninggalkannya: jika berbicara selalu bohong, jika melakukan perjanjian melanggar, jika berjanji selalu ingkar, dan jika berselisih licik.” Hanya saja dalam hadits Sufyan, ‘Apabila dalam dirinya terdapat salah satu sifat tersebut maka dia memiliki salah satu sifat kemunafikan’.

[3] Dikutip dari Syarh Shahih Bukhari yang disusun oleh Hadhrat Syah Waliyullah Syah Sahib, jilid awal, halaman 81

Hadhrat Sayyid Zainul Abidin Waliullah Syah Sahib putra dari Hadhrat Dr. Sayyid Abdus Sattar Shah Shahib menulis terjemahan dan syarh atas Shahih al-Bukhari, diterbitkan oleh Nazharat Ishaat Sadr Anjuman Ahmadiyah, Rabwah, Pakistan. Beliau adalah saudara Hadhrat Sayyidah Maryam Begum, istri Hudhur II ra dan ibunda Hudhur IV rha. Beliau termasuk sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Baiat saat masih kanak-kanak pada tahun 1903. Buku yang beliau susun ini terdiri dari 5 jilid, lebih dari 50 kitab, ratusan bab, berisi terjemahan dan bahasan hadits-hadits dalam Shahih al-Bukhari.

[4] Salah satu jenis beras di India yang memiliki kualitas yang sangat baik.

[5] Ruuhul Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani (Semangat makna dalam Tafsir al Qur’an dan al Sab’ al Masani/Al-Fatihah) karya Mahmud bin Abdullah al-Husaini al-Alusi, Syihabuddin, Abu al-Tsana. Beliau dilahirkan pada hari Jumat tanggal 14 Sya’ban tahun 1217 H/1802 M, di dekat daerah Kurkh, Baghdad, Irak. Pada tanggal 25 Dzulqa’dah 1270 H/1854 M al-Alusi meninggal dunia dalam usia 53 tahun dan meninggalkan karya tulis yang cukup banyak.

فما أكيل ايبع راجع وهلك أبو لهب نفسه بالعدسة بعد وقعة بدر لسبع ليال فاجتنبه أهله مخافة العدوى وكانت قريش تتقيها كالطاعون فبقى ثلاثا حتى نتن فلما خافوا العار استأجروا بعض السودان فاحتملوه ودفنوه وفى رواية حفروا له حفرة ودفعوه بعود حتى وقع فيها حتى وقع فيها فقذفوه بالحجارة حتى واروه

[6] Tarikh al-Umam wal Muluuk (Sejarah Bangsa-bangsa dan Para Raja) karya Imam Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir ath-Thabari, disingkat Tarikh ath-Thabari (Tarikh Tibri), dzikri al-waqt alladzi ‘amala fiihit Tarikh, bahasan tentang apa-apa yang terjadi saat tahun kedua Hijrah. Terbitan Darul ‘ilmiyyah, Beirut, tahun 1407 Hijriyah. Teks Arab yang membahas akhir masa hidup Abu Lahab ialah sebagai berikut:

عن عكرمة مولى ابن عباس قال قال أبو رافع مولى رسول الله صلى الله عليه و سلم كنت غلاما للعباس بن عبدالمطلب وكان الإسلام قد دخلنا أهل البيت وأسلمت أم الفضل وأسلمت وكان العباس يهاب قومه ويكره أن يخالفهم وكان يكتم إسلامه وكان ذا مال كثير متفرق في قومه وكان أبولهب عدو الله قد تخلف عن بدر وبعث مكانه العاص بن هشام بن المغيرة وكذلك صنعوا لم يتخلف رجل إلا بعث مكانه رجلا فلما جاء الخبر عن مصاب أصحاب بدر من قريش كبته الله وأخزاه ووجدنا في أنفسنا قوة وعزا قال وكنت رجلا ضعيفا وكنت أعمل القداح أنحتها في حجرة زمزم فوالله إني جالس فيها أنحت القداح وعندي أم الفضل جالسة وقد سرنا ما جاءنا من الخبر إذ أقبل الفاسق أبو لهب يجر رجليه بشر حتى جلس على طنب الحجرة فكان ظهره إلى ظهري فبينا هو جالس إذ قال الناس هذا أبو سفيان بن الحارث بن عبدالمطلب قد قدم قال فقال أبو لهب هلم إلي يا بن أخي فعندك الخبر قال فجلس إليه والناس قيام عليه فقال يابن أخي أخبرني كيف كان أمر الناس قال لا شيء والله إن كان إلا أن لقيناهم فمنحناهم أكتافنا يقتلوننا ويأسرونا كيف شاؤوا وايم الله مع ذلك ما لمت الناس لقينا رجالا بيضا على خيل بلق بين السماء والأرض ما تليق شيئا ولا يقوم لها شيء قال أبو رافع فرفعت طنب الحجرة بيدي ثم قلت تلك الملائكة قال فرفع أبو لهب يده فضرب وجهي ضربة شديدة قال فثاورته فاحتملني فضرب بي الأرض ثم برك علي يضربني وكنت رجلا ضعيفا فقامت أم الفضل إلى عمود من عمد الحجرة فأخذته فضربته به ضربة فشجت في رأسه شجة منكرة وقالت تستضعفه أن غاب عنه سيده فقام موليا ذليلا فوالله ما عاش إلا سبع ليال حتى رماه الله عز و جل بالعدسة فقتلته فلقد تركه ابناه ليلتين أو ثلاثا ما يدفنانه حتى أنتن في بيته وكانت قريش تتقي العدسة وعدوتها كما يتقي الناس الطاعون حتى قال لهما رجل من قريش ويحكما ألا تستحيان أن أباكما قد أنتن في بيته لا تغيبانه فقالا إنا نخشى هذه القرحة قال فانطلقا فأنا معكما فما غسلوه إلا قذفا بالماء عليه من بعيد ما يمسونه ثم احتملوه فدفنوه بأعلى مكة إلى جدار وقذفوا عليه الحجارة حتى واروه

Menurut Abu Rafi’ seorang pembantu Abbas bin Abd Muththalib, paman Rasulullah Saw yang lain, bahwa sejak sebelum peristiwa Perang Badar, sebenarnya Abbas sudah masuk Islam. Ia kaya raya, hartanya tersebar di antara kaumnya. Karena itu dia takut menghadapi sesama orang Quraisy, dan ia sembunyikan keislamannya. Dia pun ikut di pihak Quraisy ke medan Badar yang kemudian tertawan dan dibawa ke Madinah.

Abu Rafi’ dan istri Abbas, Ummul Fadhl, juga sudah memeluk Islam. Ketika mendengar bahwa pihak Quraisy kalah di perang Badar, Abu Rafi’ merasa senang dan muncul harga dirinya. Abu Rafi’ berkata: “Saya orang yang lemah, bekerja membuat gelas. Ketika saya duduk bekerja mengukir gelas, di dekat saya ada Ummul Fadhl. Saat itu kami gembira dengan berita yang datang dari medan Badar. Tiba-tiba datanglah orang fasiq, Abu Lahab dengan menarik-narik kedua kakinya dengan ribut, sampai dia duduk di ujung ruangan yag tertutup tenda. Dia duduk berpunggungan dengan saya. Tiba-tiba ada orang yang berseru: Ini dia Abu Sufyan bin Harits bin Abdul Muththalib telah datang. Abu Lahab berkata: Wahai keponakanku, kesini mendekat. Apakah ada kabar? Saat itu banyak orang yang merubungnya. Abu Sufyan berkata: Tidak ada apa apanya! Tidak ada cara lain kecuali kita menemui mereka, kemudian kita menyerahkan diri kita, silahkan hendak membunuh atau menawan kita sekehendak mereka. Demi Allah, saya tidak menyalahkan siapa siapa. Kami telah bertemu dengan para pemuda berkuda turun dari langit ke bumi tidak ditopang sesuatu dan tidak berpijak pada sesuatu.

Abu Rafi’ menyingkapkan penutup ruangan bertenda seraya berkata: Itu adalah Malaikat. Mendengar ini, Abu Lahab mengayunkan tangan ke atas kemudian meninju muka saya dengan hantaman yang sangat kuat. Saya melompat kepadanya, kemudian dia mengangkat tubuhku dan membantingnya ke tanah. Dia menduduki tubuhku dan memukuli diriku. Padahal saya orang yang berbadan lemah.

Kemudian Ummul Fadhl berdiri, mengambil salah satu tiang penyangga tenda dan memukul kepala Abu Lahab yang membuatnya luka menganga di kepala. Ummul Fadhl berkata: ‘Terlalu! engkau memukulinya dan menyakitinya, mentang-mentang majikannya (Abbas) tidak ada!’ Abu Lahab berdiri dan pergi dengan terhina. Saat itu ia masih bertahan hidup selama tujuh malam berikutnya sampai Allah mengirimkan adasah (bisul) yang menyebabkan kematiannya. Anak-anaknya membiarkan jasadnya selama 2 atau 3 hari sampai membusuk di rumahnya. Mengapa? Karena orang Quraisy takut kepada adasah tsb seperti halnya mereka takut kepada wabah penyakit sampar. Sampai akhirnya ada orang Quraisy yang menasehati anak Abu Lahab: Tidakkah kalian malu, bapakmu membusuk menebarkan bau yang sangat tak sedap di rumah kalian dan kalian tidak mau menguburnya.

Kedua anaknya menjawab: ‘Kami takut kepada nanah dan luka di tubuhnya.’ Orang Quraisy tsb berkata: ‘Ayo kita kerjakan, saya bersama kalian.’ Mereka tidak memandikan jasad Abu Lahab, kecuali menyiramnya dengan percikan air dari kejauhan, mereka tidak menyentuh jasadnya, kemudian membawanya ke Makkah bagian atas, mereka lemparkan jasadnya dan menguburnya dengan bebatuan sampai menutupi seluruh jasadnya. Disebutkan demikian pula dalam tafsir Surah Lahab (nama lainnya Surah al-Masad) dalam al-Jami’ li Ahkam al-Quran karya al-Qurtubi, yang dikenal dengan Tafsir al-Qurtubi. Penulis tafsir al-Qurtubi bernama Abu ‘Abd Allah Ibn Ahmad Ibn Abu Bakr Ibnfarh al-Anshari al-Khazraji Syamsy al-Din al-Qurtubi al-Maliki yang wafat pada 671 H di kota Maniyya Ibn Hisab Andalusia (Spanyol). Disebutkan demikian pula dalam Sirah Rasulullah karya ibn Hisyam.

[7] Ruuhul Ma’ani Fi Tafsir al Qur’an al Azim wa al Sab’ al Masani, Tafsir Surah al-Lahab dan Surah Abasa menyebutkan demikian.

أخرج أبو داود عن عائشة مرفوعا أن أطيب مايأكل الرجل من كسبه وان ولده من كسبه وروى أنه كان كان يقول ان كان مايقول ابن أخى حقا فانا أفتدى منه نفسى بمالى وولدى وكان له ثلاثة أبناء عتبة ومعتب وقد أسلما يوم الفتح وسر النبى عليه الصلاة و السلام باسلامهما ودعا لهما وشهدا حنينا والطائف وعتيبة بالتصغير ولم يسلم وفى ذلك يقول صاحب كتاب الباء كرهت عتيبة اذ أجرما وأحببت عتبة اذ أسلما كذا معتب مسلم فأحترز
وخف أن تسب فتى مسلما وكانت أم كلثوم بنت رسول اله صلى الله تعالى عليه وسلم عند عتيبة وأختها عند أخيه عتبة فلما نزلت هذه السورة قال أبو لهب لهما رأسى ورأسكما حرام ان لم تطلقا ابنتى محمد صلى الله تعالى عليه وسلم فطلقاهما الا ان عتيبة المصغر كان قد أراد الخروج الى الشام مع أبيه فقال لآتين محمدا عليه الصلاة و السلام وأوذينه فأتاه فقال يامحمد انى كافر بالنجم اذا هوى وبالذى دنا فتدلى ثم تفل تجاه رسول الله صلى تعالى عليه وسلم ولم يصبه عليه الصلاة و السلام شىء وطلق ابنته أم كلثوم فاغضبه عليه الصلاة و السلام بما قال وفعل فقال صلى تعالى عليه وسلم اللهم سلط عليه كلبا من كلابك وكان أبو طالب حاضرا فكره ذلك وقال ما أغناك باأبن أخى عن هذه الدعوة فرجع الى أبيه ثم خرجوا الى الشام فنزلوا منزلا فأشرف عليهم راهب من دير وقال لهم ان هذه أرض مسبعة فقال أبو لهب أغيثونى يامعشر قريش فى هذه الليلة فانى أخاف على أبنى دعوة محمد صلى اله تعالى عليه وسلم فجمعوا جمالهم وأناخوهم حولهم خوفا من الاسد فجاء أسد يتشمم وجوههم حتى أتى عتيبة فقتله وفى ذلك يقول حسان من يرجع العام الى أهله

Ketika turun Surah Al Lahab, Utaibah dipaksa menceraikan Ummu Kultsum oleh Abu Lahab, karena isi surah yang mencela sikap Abu Lahab ini.

Berbeda dengan saudaranya, Utbah yang menyesali perintah ayahnya, Utaibah justru mendukungnya. Bahkan setelah menceraikan, ia mendatangi majelis Nabi SAW tanpa adab dan sopan santun, kemudian mencaci dan menghina Nabi SAW dengan meludahi wajah Nabi saw walau tidak terkena. Karena sikapnya yang keterlaluan ini, Nabi SAW berdoa, “Ya Allah, hendaknya Engkau siksa dia dengan anjing dari anjing-anjingmu…!”

Abu Thalib yang mendengar peristiwa ini, ia berkata kepada Utaibah, “Kamu tidak akan mati sebelum doa Muhammad itu terlaksana atasmu.”

Utaibah sendiri merasa khawatir atas doa Nabi SAW, walau tidak percaya dengan kenabian beliau. Suatu ketika ia melakukan perjalanan dagang ke Syam bersama kafilah ayahnya, Abu Lahab, ia berkata, “Aku sangat khawatir dan cemas dengan doa Muhammad itu, karena itu setiap orang di kafilah ini hendaklah berjaga-jaga!!”

Ketika kafilah dagang ini bermalam di suatu tempat, mereka membentuk lingkaran dengan barang dagangan yang dibawanya, Utaibah tidur di tengahnya, dan anggota lainnya tidur mengelilinginya. Tengah malam ketika mereka tidur nyenyak, datanglah seekor singa, dan setiap orang wajahnya diciumnya. Ketika tiba giliran Utaibah, singa itu menerkamnya dan memisahkan kepalanya dari tubuhnya, setelah itu sang singa berlalu. Sebagian riwayat menyebutkan, Utaibah ini yang masuk Islam dan Utbah yang mati diterkam singa. Yang jelas salah satu dari putra Abu Lahab ini memang memeluk Islam, dan satunya tewas diterkam singa, sebagai pengabulan doa Nabi SAW.