Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

25 Januari 2008 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

 

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلاً مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيْهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ اْلعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

Artinya : Ya Tuhan kami ! Bangkitkanlah ditengah-tengah mereka seorang Rasul dari antara mereka yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka dan yang akan mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka dan akan mensucikan mereka. Sesungghuhnya Engkau-lah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al Baqarah : 130)

Pada hari ini ayat yang saya tilawatkan adalah ayat 130 dari Surah Al Baqarah, didalamnya akan saya jelaskan tentang do’a Nabi Ibrahim a.s. yang beliau panjatkan kepada Allah swt mengenai jenis keempat dari kemuliaan Rasul Agung s.a.w. yang ajarannya akan terus berlaku sampai Hari Qiamat. Dan beliau menghendakinya agar Rasul Agung itu seorang Khataman Nabiyyin. Dan do’a yang dipanjatkan oleh Hadhrat Ibrahim a.s. itu adalah وَيُزَكِّيْهِمْ dan (Nabi agung itu) akan mensucikan mereka, yang beriman kepada beliau.

Jika kita perhatikan maka setiap Nabi yang diutus oleh Allah swt kedunia, memang tugas kewajiban-nya untuk mensucikan para pengikutnya. Dan untuk mengajak umatnya agar melakukan amal saleh yang dapat meraih keridhoan Allah swt. Sekarang kita harus mengerti macam kesucian bagaimana yang secara istimewa harus dilakukan, seperti telah saya jelaskan didalam khotbah yang lepas, pensucian (tazkiyah) ini melalui Tanda-tanda yang turun kepada Rasul Agung, Rasulullah saw yang mempunyai nilai-nilai keimanan yang khas. Tanda-tanda yang turun kepada beliau itu demikian tegasnya, yang tidak pernah disebutkan didalam syariat yang turun kepada Nabi-nabi sebelumnya. Syariat yang turun kepada beliau itu adalah sebuah Kitab, yang sampai sekarang keadaannya tetap murni seperti keadaan diwaktu ia turun kepada Rasulullah saw. Dan ajaran yang telah turun kepada Hadhrat Rasulullah saw itu sangat penuh dengan hikmah dan setiap perintah mengandungi semua dalil yang diperlukan. Hikmah yang terkandung didalam Kitab ini tidak dapat kita jumpai didalam kitab-kitab lain sebelumnya.

Jadi didalam do’a ini standard tazkiyah yang diminta oleh Hadhrat Ibrahim a.s. yang tiga bahgian dari do’a itu telah diminta sebelumnya oleh beliau yaitu ajaran yang telah diturunkan yang stiap perkataannya penuh dengan hikmah yang merupakan Ayaat atau Tanda-tanda Ilahi. Jika ajaran itu diterapkan maka ia akan nampak begitu tinggi mutunya sehingga tidak dapat ditandingi oleh ajaran-ajaran yang pernah turun sebelumnya. Dengan ajaran ini sarana untuk tazkiyah itu akan tetap berlaku sampai Hari Qiamat. Usaha Tazkiyah akan berjalan terus tiada hentinya sampai Hari Qiamat. Didalam ta’lim (ajaran) ini terdapat sarana untuk menanggulangi berbagai macam keburukan yang timbul pada setiap zaman. Dan Allah swt telah mengabulkan bahgian dari pada do’a ini juga.

Dan sambil mengabulkan do’a ini Dia berfirman وَيُزَكِّيْكُم yakni hai Nabi ! Apabila engkau telah diutus maka Akulah Yang mensucikan engkau ! Apabila engkau telah menerima Ayaat yang agung yang mengandungi ajaran penuh dengah hikmah yang sangat lengkap dan sangat diperlukan untuk masa sekarang maupun dimasa yang akan datang sampai pada Hari Qiamat, maka tidak mungkin ajaran tazkiyah bahagian yang sangat penting tidak disertakan didalamnya atau akan terlupakan. Jadi, Hadhrat Rasulullah saw adalah Muzakki (orang yang melakukan tazkiyah) terhadap manusia yang akan lahir kemudian sampai Hari Qiamat. Dan sekarang tidak akan ada seorangpun yang dapat memperoleh tazkiyah (pensucian diri) jika tidak beriman kepada beliau dan berpegang teguh kepada ajaran yang telah beliau sampaikan, kemudian dia harus berusaha mengamalkannya juga.

Sebelum menceritakan masalah tazkiyah saya akan membritahukan artinya menurut lughat (Kamus Bahasa Arab) supaya dapat diketahui betapa luas-pengertiannya. Zaka (زَكَى) salah satu artinya adalah bertambah, mendapat pertumbuhan atau perkembangan, Kedua artinya, membersihkan atau mensucikan . Dan arti pertama : bertambah atau mendapat pertumbuhan atau perkembangan mengandungi dua macam cara : pertama : dirinya bertambah banyak, kedua : barang-barangnya atau sarana-sarananya bertambah banyak. Tat-hiir (pembersihan) juga ada dua macamnya, pertama kebersihan dan kesucian zahir (jasmani) dan keduanya, kebersihan dan kesucian ruhani (kebersihan dan kesucian didalam).

Maka dari segi perkataan, Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. telah memberi penjelasan bahwa, dia akan membersihkan bukan hanya kepada akal pikiran saja melainkan kepada kalbu manusia juga. Dan sebagai hasil dari pada pembersihan atau pensucian ini maka hati manusia akan penuh dengan kecintaan terhadap Allah swt. Sehingga orang-orang yang sungguh-sungguh beriman akan menarik dan menerapkan sifat-sifat Allah swt kedalam diri mereka. Keadaan mereka itu akan nampak kepada manusia biasa, akan tetapi mereka bukan nampak seperti manusia biasa melainkan wajah dan perangai mereka akan menampakkan gambaran sifat-sifat Allah swt. Dari dalam wujud mereka akan memancar bayangan cermin sifat-sifat agung Allah swt. Setiap orang yang memandangnya akan menganggap bahwa dia adalah manusia Ilahi. Sehingga orang yang bergaul dengannya juga akan mendapat pengaruh kesucian dan kemurnian iman dari padanya sehingga iapun akan menjadi hamba Allah yang sejati.

Maka hal ini semua hendaknya menjadi target bagi kehidupan kita. Dan untuk itu kita harus berusaha dengan giat secara terus-menerus. Maka barulah kita akan berhasil memperoleh berkat-berkat kesucian yang sesungguhnya dari ajaran-ajaran yang dibawa oleh Muzakki haqiqi (Rasul agung itu). Bentuk rupa pensucian dan pembersihan Didalam kehidupan Hadhrat Rasulullah saw nampak sangat cemerlang pada wujud para sahabah beliau, dan hal itu merupakan Tanda yang sangat istimewa. Dan perobahan (revolusi ruhani) yang sangat agung yang telah terjadi di zaman kehidupan orang-orang Arab pada waktu itu merupakan mu’jizah yang agung dari Hadhrat Rasulullah saw.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : Rasul itulah yang telah merubah khaiwan buas menjadi manusia, merubah manusia menjadi insan berakhlaq, yakni menegakkan mereka diatas akhlaq yang baik dan terpuji. Dan beliau telah merubah insan berakhlaq menjadi insan Ilahi yang diwarnai dengan sifat-sifat-Nya. Selanjutnya beliau a.s. bersabda : Jelaslah bahwa Al Qur’an penuh dengan peribahasa yang mengatakan bahwa “dunia sudah mati” dan Allah swt dengan mengutus Hadhrat Khataman Nabiyyin ini dunia menjadi hidup kembali seperti semula. Sebagaimana firman-Nya Artinya : Ketahuilah bahwasanya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. (Al Hadid : 18)

Maka sesuai dengan itu Allah swt berfirman tentang para sahabah Rasulullah saw : وَأَيَّدَهُم بِرُوْحٍ مِّنْهُ Artinya : Dan Dia (Tuhan) telah menolong mereka dengan Ruhul Kudus. (Mujadalah : 23) Ruhul Qudus artinya Tuhan, Yang menghidupkan hati manusia dan menyelamatkan mereka dari kematian ruhani dan memberikan kekuatan dan perasaan yang suci serta ilmu pengetahuan yang bersih kepada mereka. Dan dengan anugerah pengetahuan yang meyaqinkan dan dengan dalil-dalil yang jitu membawa mereka sampai kepada martabat yang sangat dekat dengan Allah swt. Jadi, itulah pengaruh quwati qudsiyah dan kesan serta pengaruh dari ajaran Muzakki (Pensuci, yakni Rasulullah saw).

Mereka itulah yang dahulu sebagai manusia-manusia laksana khaiwan-khaiwan buas yang hati mereka penuh sesak dengan kebencian dan permusuhan, yang besimbah dengan minum-minuman keras, permainan judi dan perzinahan, yang berebut mewarisi isteri-isteri bapak-moyang mereka, yang berjiwa keras dan buas, cepat marah dan lekas terhasut sehingga medan pembunuhan sewaktu-waktu menjadi sangat panas. Keadaan seperti itu barjalan bertahun-tahun lamanya. Akan tetapi apabila mereka telah menggabungkan diri kedalam Agama Islam mereka itulah yang mulanya terbiasa mengambil pengurbanan dari orang-orang menjadi insan-insan yang mabuk dalam memberikan berbagai macam pengurbanan. Mereka itulah yang hati mereka penuh dengan kedengkian dan permusuhan menjadi orang-orang pema’af dan pencinta kasih-sayang terhadap oran lain. Mereka itulah yang peminum arak seperti meminum air, begitu mendengar larangan tentang minuman keras itu mereka telah mencampakkan cawan-cawan berisi arak sekalipun mereka sedang asyik dan sibuk meminum arak dengan cawan-cawan yang masih melekat pada bibir-bibir mereka. Mereka itulah yang telah mengisi guci-guci air dengan arak, setelah mendengar adanya larangan minum arak itu semua guci-guci berisi arak itu segera dipecahkan dengan memukulinya sehingga arak itu tumpah mengalir seperti air membanjiri lorong-lorong kota Madinah. Mereka itulah yang siang-malam menghabiskan waktu untuk memuaskan hawa nafsu dalam kancah kejahatan dan dosa-dosa menjadi insan-insan yang melewatkan waktu siang mereka untuk berkhidmat kepada Agama dan waktu malam mereka lewatkan untuk beribadah kepada Allah swt, mereka bersujud merebahkan diri dihadapan Tuhan sambil menangis tersedu-sedu mencucurkan air mata dihadapan-Nya.

Maka terjadilah perobahan yang sangat besar dikalangan mereka karena mereka telah memperoleh berkat-berkat dari quwat-qudsiyah dan ajaran suci dari Muzakki, Muhammad Rasulullah s.a.w. Dengan perasan ikhlas dan mawas diri mereka telah berusaha keras untuk meraih keridhoan Allah swt. Dan untuk itu Allah swt pun telah memberi kekuatan dan kemampuan yang luar biasa kepada mereka . Sehingga cara berfikir dan bertindak didalam kehidupan mereka sama-sekali telah berobah. Perasaan dan pikiran mereka yang buruk mulanya tidak dianggap buruk, sekarang mereka telah berubah demikian rupa sehingga selalu mencari peluang untuk melakukan setiap amal kebaikan yang setinggi mungkin. Mereka itulah yang pernah tenggelam didalam lumpur kejahilan sekarang menjadi pemegang khazanah ilmu-pengetahuan yang luas dan mendapat kedudukan yang tinggi dan terhormat. Berkat pergaulan didalam Majlis-majlis Suci Rasulullah saw bukan hanya hati mereka yang menjadi suci-bersih bahkan mereka juga menjadi penyebar luas tazkiyah, cara-cara untuk mensucikan kalbu kepada yang lain.

Mereka telah menemukan Zat Allah swt dengan keyakinan yang sempurna. Dan mereka telah mengenal Tuhan mereka dengan menyaksikan Tanda-tanda-Nya yang sangat cemerlang. Mereka campakkan sejumlah 360 buah patung sebagai sembahan mereka setiap hari, kemudian beralih beriman kepada Tuhan, Zat Yang Maha Tunggal dan setiap hari keimanan mereka semakin kokoh-kuat. Setiap hari mereka menyaksikan penampakan Tuhan yang cemerlang dan memahami benar keagungan Wujud Tuhan mereka. Dan apabila kalbu-kalbu mereka sudah menjadi suci-bersih seperti itu maka Allah swt mengumumkan dengan firman-Nya : وَأَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ Artinya : Dan Dia (Tuhan) telah menolong mereka dengan Kalam dan dengan Ruhul Kudus. (Mujadalah : 23)

Maka itulah revolusi ruhani agung (perobahan yang amat besar) yang dibangkitkan oleh Rasul Agung, Muhammad saw ditengah-tengah orang Arab jahil pada zaman itu. Beliau saw melakukan tazkiyah (pensucian) demikian rupa hebatnya sehingga tidak dapat dijumpai tandingan-nya didalam lembaran sejarah manapun. Dan sebagaimana kita semua tahu bahwa masa berlakunya zaman Rasul Agung ini sampai Hari Qiamat. Oleh sebab itu dengan ajaran beliau ini tazkiyah (pensucian) jiwa akan berlaku terus sepanjang masa bagi mereka yang betul-betul ingin meraih berkat daripadanya dan ingin mengamalkan ajaran itu dengan sebik-baiknya.

Sebagaimana sudah kita lihat didalam kamus bahasa Arab bahwa arti dari pada وَيُزَكِّيْهِمْ (yuzakkihim) adalah : jumlahnya akan bertambah, yakni disebabkan kesan yang sangat baik dan luas dari kalam (firman) ini yang telah turun kepada beliau, tidak akan putus-putusnya manusia akan terus-menerus menerima dan mengabulkan ajaran ini. Dan nanti akan tiba waktunya apabila Agama Rasul Agung ini yakni Islam akan menang diatas semua agama diseluruh dunia. Perobahan besar yang beliau timbulkan didalam tabi’at manusia, perobahan yang beliau timbulkan didalam akal dan pikiran mereka, bukan hasil dari pekerjaan satu atau dua hari, memerlukan masa yang cukup panjang dan lama. Pada hari-hari permulaan seluruh orang Arab, memang belum menunjukkan adanya sebarang perobahan. Namun berkat berlakunya ajaran ini secara perlahan-lahan mulai timbul perobahan akhlak dikalangan mereka. Mula-mula banyak diantara mereka yang bertabiat keras dan kasar, sama sekali tidak dapat dilakukan tazkiyah terhadap jiwa mereka. Sehingga Allah swt sendiripun telah memberitahukan bahwa tazkiyah (pensucian) jiwa mereka sudah tidak dapat dilakukan lagi. Mereka memang telah menjadi mangsa turunnya azab dari Allah swt.

Di Mekah telah terjadi perlawanan hebat terhadap ajaran ini, maka Allah swt sendiri telah membuka jalan untuk menyebarkan ajaran ini dikota Madinah. Dan secara perlahan-lahan seluruh tanah Arab menerima dan mengabulkan Ajaran Islam ini. Apabila Allah swt sesuai dengan janji-Nya telah mendengar do’a Ibrahim a.s., maka dengan perantaraan Rasul Allah yang agung ini generasi yang sudah mengalami berbagai macam kerusakan itu dapat dipulihkan kembali keadaan mereka. Hindah yang telah mencongkel dan mengunyah jantung hati salah seorang paman Rasulullah saw yang telah syahid di medan perang, setelah masuk Islam kemudian hatinya telah menjadi suci-bersih, ianya menjadi seorang wanita yang sangat tekun beribadah dan dengan perasaan hati yang luluh banyak berdo’a sambil merendahkan diri dihadapan Allah swt.

Maka dikala kita melihat kenyataan ini dan mendengar kisah-kisah seperti ini, kita yakin sepenuhnya bahwa sekarang juga kita akan dapat menyaksikan sempurnanya janji-janji Allah swt dihadapan mata kita, kerana untuk zaman ini Allah swt telahpun mengutus Masih dan Mahdi-Nya kedunia dan Tuhan-pun telah mengumumkan akan sempurnanya missi Rasulullah saw dizaman ini. Maka jika sekarang dimana-mana terjadi hambatan-hambatan terhadap Jema’at Ahmadiyah ini, hal itu janganlah menyebabkan hati kita risau dan putus asa. Sejarah permulaan Islam telah menjadi saksi bahwa selama kita berpegang teguh kepada ajaran Muzakki, Rasulullah yang Agung ini, dan menjadi pengamal yang sesungguhnya ajaran-ajaran itu, berusaha memenangkan hati manusia dan menarik mereka kedalam Agama Allah ini, serta giat berusaha menyediakan sarana untuk melakukan tazkiyah kalbu-kalbu manusia, maka sekarang dizaman Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. ini juga kita sedang menyaksikan pemandangan yang sama. Sekarang kita harus mengadakan perobahan pada diri masing-masing, mengadakan tazkiyah terhadap diri sendiri, dan kita harus menerapkan semua ajaran itu diatas diri kita sendiri. Betapapun kerasnya tekanan yang dilakukan dunia terhadap Jema’at Ahmadiyah, hal itu tidak akan dapat membatalkan janji Allah swt bahwa agama Islam pasti akan menang diatas semua agama diseluruh dunia, melalui Jema’at Ilahi ini, yaitu Jema’at Ahmadiyah.

Di Pakistan, disebabkan telah dikeluarkannya undang-undang anti Ahmadiyah, apakah di sana Jema’at Ahmadiyah berhenti tidak berkembang ? Setiap orang Ahmadi tahu, tidak ada peluang bagi Jema’at Ahmadiyah ini untuk berhenti. Dengan karunia Allah swt dalam situasi demikian kerasnya perlawanan terhadaap Jema’at Ahmadiyah, disana (di Pakistan) Jema’at ini terus melambung dan melambung tinggi dengan sangat cepat sekali. Siapapun tidak dapat membayangkan sebelumnya bahwa akan terjadi kemajuan yang begitu drastic disana. Maka, di negara manapun sedang terjadi perlawanan terhadap Jema’at Ahmadiyah, disana mereka tidak perlu khawatir, tidak perlu cemas dan kecil hati. Jika sebuah jalan telah ditutup, maka beribu-ribu jalan lain akan dibukakan oleh Allah swt bagi Jema’at ini, Insya Allah !!

Sekarang di Indonesia disebabkan adanya desakan-desakan dari pihak para Mullah, pemerintah disana sedang melakukan tekanan-tekanan keras terhadap Jema’at Ahmadiyah. Diantaranya mereka sedang memaksakan pendirian dan pengertian mereka sendiri yang sebenarnya tidak ada sedikitpun sangkut-pautnya dengan pandangan dan pendirian kita. Saya pun mengatakan kepada saudara-saudara Jema’at di Indonesia, jika pemerintah Indonesia disebabkan pengecut dan takut kepada mereka yang menamakan diri Ulama, jika mereka hendak mengeluarkan larangan terhadap Jema’at Ahmadiyah, biarkanlah mereka melakukannya !Tengoklah! Jema’at orang-orang suci-bersih ini akan semakin berderap maju sehingga akan tampil dengan megah didepan mata dunia. Tenangkanlah pikiran anda sekalian, tindakan mereka semua tidak akan mendatangkan kerugian apapun terhadap Jema’at ini, Insya Allah ! Sampai sekarang sejarah Jema’at menjadi saksi, jika setiap sudut jalan dibendung untuk menghadang dan menghalang-halangi Jema’at ini, sesungguhnya hal itu memberi kesempatan bagi Jema’at ini untuk terbang tinggi dan akan terus terbang lebih tinggi lagi.

Maka dengan yakin dan sesungguhnya kita mengumumkan bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani a.s. adalah Al Masih dan Al Mahdi yang sama yang kedatangannya telah dikhabarkan jauh sebelumnya oleh Hadhrat Rasulullah saw. Supaya dizaman kegelapan yang pekat ini beliau mensucikan hati manusia dan memberikan cahaya yang terang-benderang kepada mereka dan mempertemukan mereka dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Jadi, kedudukan dan martabat beliau sebagai Al Masih dan Al Mahdi disebabkan telah datang sebagai hamba dari Hadhrat Rasulullah saw beliau diberi kedudukan sebagai Nabi* yang tidak membawa syari’at oleh Allah swt. Oleh sebab itu beliau adalah seorang Nabi**. Dan sekarang untuk proses pensucian hati manusia harus mempunyai kaitan dan hubungan yang erat dengan Ghulam Sadiq Rasulullah saw ini, yaitu Imam Mahdi Masih Mau’ud a.s. Dan inilah satu-satunya Jema’at yang insya Allah akan maju berkembang dari segi anggauta maupun dari segi harta kekayaannya. Dan sememangnya sekarang Jema’at ini sedang maju berkembang dengan pesatnya. Dan tidak akan ada kekuatan apapun di dunia yang akan mampu menghalangi atau menghambat perkembangannya. Sebab Jema’at ini adalah Jema’at Masih dan Mahdi sebagai Asyiq Shadiq Hadhrat Rasulullah saw.

Dimanapun dibelahan dunia ini terjadi perlawanan terhadap Jema’at Ahmadiyah, disana mereka harus mempertingkatkan keberanian, jangan merasa takut menghadapi setiap perlawanan bahkan harus berani maju untuk menghadapi mereka sambil meningkatkan usaha untuk membersihkan diri dan mensucikan hati masing-masing. Harus semakin giat untuk bertambah maju dalam mengikuti ajaran Rasulullah saw dan harus berusaha untuk mendapatkan berkat sebanyak-banyaknya dari pada ajaran beliau itu. Seberapa banyak hati kita menjadi lebih bersih, sebanyak itu pula pertolongan dari Ruhul Qudus akan selalu turun menyertai kita semua. Insya Allah !! Dan sesuai dengan janji-janji Allah swt jumlah anggauta Jema’at Ahmadiyah ini, insya Allah akan terus bertambah banyak. Maka kewajiban setiap orang mu’min, sambil merenungkan makna muzakki (orang yang mensucikan) yakni ia harus berusaha untuk mengamalkannya. Dengan perantaraannya, insya Allah swt, ia akan mendapat kemajuan duniawi dan juga ukhrawi kedua-duanya.

Sehubungan dengan itu perhatikanlah bagaimana hukum-hukum Tuhan telah mengajarkan kepada kita dan nasihat-nasihat apa yang telah diberikan oleh Rasulullah saw kepada kita, semuanya harus selalu disimpan didalam benak kita. Dan hal ini akan dapat terlaksanakan jika kita selalu menela’ah Kitab Suci Al Qur’an setiap hari dan menilawatkannya juga setiap hari.

Sekarang saya akan menyampaikan beberapa perintah Tuhan untuk mensucikan hati . Pertama yang ingin saya sampaikan adalah, keadaan para pemimpin suatu bangsa atau kaum, disebabkan banyaknya harta-kekayaan yang mereka miliki mereka mempunyai kedudukan yang besar dimata masyarakat. Dan bersamaan dengan bertambahnya harta kekayaan, keserakahan mereka juga semakin meningkat. Perhatian untuk memperbesar jumlah khazanah semakin tumbuh didalam benak mereka. Kadangkala karena untuk memperbanyak khazanah kekayaannya seseorang berani merampas hak-hak orang lain dengan cara yang tidak sah (halal). Timbul gara-gara kesalahan sedikit saja mulailah bertindak sambil merampas hak orang-orang miskin. Saya sendiri telah melihat beberapa kejadian yang mencari-cari alasan secara tidak wajar. Misalnya pemimpin perusahaan bertindak dengan cara memotong uang gaji para karyawannya. Tindakan seperti itu tidak disukai oleh ajaran Islam. Bahkan hal itu merupakan perbuatan zalim. Dan perbuatan zalim merupakan dosa yang sangat besar.

Terdapat riwayat dari Hadhrat Jabir r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: “‏ اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ ‏”‏ ‘ittaquzh zhulma fa-innazh zhulma zhulumaatu yaumal qiyaamati wattaqusy syuhha fa-innasy syuhha ahlaka man kaana qablakum  “ Hindarilah perbuatan zalim, sebab pada hari qiamat kezaliman akan tampil di hadapan mata dalam bentuk kegelapan. Sesudah itu hindarilah serakah, kedekut (kikir) dan dendam kesumat, sebab serakah, kedekut (kikir) serta dendamn kesumat telah menghancurkan manusia dizaman lampau. Hal itu semua dapat menimbulkan keberanian bagi manusia untuk melakukan pembunuhan. Dan dengan itu pula manusia bertambah berani untuk melakukan penghinaan terhadap orang yang patut dihormati.

Sebuah hadis lagi yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw telah bersabda: ‏”‏ أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ ‏”‏ ‘A tadaruuna mal muflis?’ Tahukah kalian siapakah yang disebut orang Muflis (miskin)? Seseorang berkata, الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ yaitu orang yang tidak memiliki wang dan tidak pula memiliki sebarang harta. Rasulullah saw bersabda: ‏”‏ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ ‏” orang muflis didalam ummatku adalah orang yang datang membawa amal solat, amal puasa dan ibadah lainnya dihadapan Allah swt, akan tetapi didunia dia telah memaki orang, menuduh orang, atau telah memakan harta orang secara haram, telah membunuh orang atau telah memukul orang secara tidak hak. Maka semua kebaikan orang itu akan diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya itu. Semua perkara amalnya yang baik akan melimpah kepada mereka yang diperlakukan zalim kepada mereka, sehingga sebelum sampai kepada pembayaran hak-haknya sendiri, semua kebaikannya itu sudah habis terkuras untuk membayar kepada orang-orang yang pernah dizaliminya itu. Maka sebagai gantinya dosa-dosa akan dimasukkan kedalam dirinya. Sehingga akhirnya ia bukan dimasukkan kedalam surga melainkan ia dilemparkan kedalam neraka jahannam. Itulah yang seorang muflis yang sebenar.

Sebenarnya orang-orang seperti itu didunia banyak sekali melakukan ibadah, kadangkala secara Jema’at mereka membayar candah juga dengan rajin, akan tetapi mereka suka merampas hak-hak orang lain secara tidak sah (secara haram), orang semacam itu adalah zalim, tentang orang seperti inilah yang telah dijelaskan didalam hadis ini. Dan disebakan perbuatan zalimnya itu dia akan hadir dihadapan Tuhan dalam keadaan muflis. Jadi kebersihan atau kesucian itu bukanlah hanya sekedar zahiriyahnya saja, melainkan kebersihan yang sesungguhnya adalah memperbaiki kebersihan dan kesucian sampai kedalam lubuk hati. Kebersihan hati dapat dicapai dengan melaksanakan hak-hak sesama manusia disertai dengan melakukan ibadah. Maka orang-orang kaya yang giat memenuhi hak-hak orang miskin dan mengurbankan harta kepada mereka, sesungguhnya amalan-amalan itu akan menjadi sarana untuk membersihkan kalbu mereka. Allah swt berfirman : خُذْ مِنْ اَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا artinya : Ambillah dari harta mereka sedekah supaya engkau membersihkan mereka dan mensucikan mereka dengannya. (At Taubah : 103).

Yakni sedekah ini akan menjadi sarana bagi orang-orang mu’min untuk menerima berkat dari Allah swt. Dan juga akan menjadi berkat bagi perkembangan ruhani mereka. Dengan syarat sedekah itu diberikan kepada orang miskin dengan hati yang tulus ikhlas demi meraih keridhoan Allah swt. Harta itu diberikan oleh Allah swt kepada orang-orang kaya supaya dibelanjakan kepada orang-orang miskin dan lemah keadaan sosial ekonomi mereka. Yang kemudian harta itu dapat menolong orang-orang miskin agar harta merekapun menjadi bertambah banyak. Maka orang-orang yang mula-mula keadaan ekonomi mereka lemah, kemudian berkat pertolongan itu menjadi bertambah kuat sehingga merekapun akan mampu memberi sedekah kepada orang lain, akan mampu membayar zakat dan akan menjadi pembayar candah yang besar.

Demikianlah ajaran yang sangat indah ini dari Allah swt yang telah diturunkan untuk kita semua melalui Rasul-Nya Muhammad saw yang telah disebutkan didalam Kitab Suci Al Qur’an. Dan dari padanya kita semua faham apa yang dimaksud dengan tazkiyah itu. Dan lagi bukan hanya diperintahkan untuk mengeluarkan sedekah dan candah saja bahkan diberitauhukan juga kepada siapa saja harta itu harus dibelanjakan. Sebagaimana firman-Nya didalam surah At Taubah ayat 60 : إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِيْنِ وَالْعَامِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ Artinya : Sesungguhnya sedekah-sedekah itu untuk orang-orang fakir dan orang-orang miskin dan petugas-petugas dalam urusan itu dan orang-orang yang dipikat hatinya dan untuk membebaskan tawanan dan untuk mereka yang berhutang dan untuk mujahid-mujahid dijalan Allah dan orang-orang musafir, yang demikian itu ketetapan dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.

Didalam ayat ini diberitahukan tentang tanggung jawab dan kewajiban Penguasa Islam untuk menyempurnakan hak dan kewajiban terhadap orang-orang yang disebutkan didalam ayat itu. Pertama harta (mal) itu harus dibelanjakan kepada orang-orang fakir, orang-orang sangat miskin yang lebih berhak untuk mendapat bantuan, orang yang sakit yang tidak mampu menyediakan biaya untuk berobat. Orang-orang miskin, yang tidak mempunyai pekerjaan, sekalipun sudah berusaha namun disebabkan kurangnya sarana tetap mereka tidak mendapat pekerjaan yang tetap, atau orang-orang lemah yang sudah tidak mampu lagi untuk bekerja, mereka itu perlu ditolong. Jika mereka dapat ditolong berupa wang tentu mereka akan terselamat dari kemungkinan bahaya-bahaya yang akan ditimbulkan. Dan diharapkan agar mereka kelak akan menjadi komponen masyarakat yang baik dan berguna. Didalam ayat itu dijelaskan bahwa wang zakat dan wang sedekah diizinkan digunakan untuk membantu mereka. Dan digunakan bagi membayar para petugas yang ditentukan untuk menangani pengumpulan dan pengelolaan wang zakat dan sedekah itu dan bagi para karyawan lainnya yang bekerja. Kemudian wang itu dapat digunakan untuk memikat hati orang-orang yang baru masuk Islam. Pada zaman permulaan wang itu digunakan juga untuk menolong orang-orang yang mau masuk Islam. Namun disebabkan beberapa hal yang sangat mendesak merekapun akhirnya tidak dapat masuk Islam. Pemberian bantuan itu bukan dimaksudkan untuk menarik atau membujuk mereka supaya masuk Islam, melainkan disebabkan keadaan mereka yang terpaksa meminta pertolongan untuk dibantu. Diantara mereka ada yang menghadapi masalah kesulitan dalam keuangan, ada yang harus membayar wang tebusan karena sesuatu hal ia tidak dapat membebaskan diri begitu saja dari induk semangnya tanpa membayar sejumlah wang tertentu sebagai tebusan. Maka untuk orang-orang seperti ini wang zakat atau sedekah dapat dibelanjakan. Pada sa’at sekarang juga untuk sarana tabligh diperlukan tenaga. Maka bagi orang-orang yang ditetapkan untuk melaksanakan tugas tabligh itu juga wang zakat atau sedekah dapat digunakan atau dibelanjakan. Untuk kepentingan talif qulub juga wang itu dapat dibelanjakan. Disamping itu untuk membebaskan para ghulam juga wang itu dapat dipergunakan. Pada zaman dahulu terdapat kebiasaan memelihara sahaya (ghulam), sekarang praktek seperti itu sudah tidak ada lagi.

Akan tetapi sangat disesalkan pada zaman kemajuan seperti sekarang ini masih ada juga beberapa orang kaya yang memberi pinjaman wang kepada orang-orang sangat miskin. Untuk menjamin hutangnya itu mereka dijadikan ghulam untuk beberap waktu tertentu. Mereka itu tidak diberikan waktu yang pasti sebagai ghulam dan tidak pula mereka dijadikan pegawai, tidak tahu sampai berapa lama mereka menjadi ghulam atau sahaya. Kebiasaan buruk semacam ini sangat banyak terjadi di Pakistan. Namun sekarang sudah sering terjadi protes untuk menentang praktek buruk semacam itu sehingga kebiasaan buruk seperti itu sekarang sudah mulai sangat berkurang. Sesungguhnya untuk membebaskan ghulam-ghulam semacam itu merupakan kewajiban Pemerintah. Namun induk semang orang-orang-pun harus dijaga hak-haknya, dan para buruh juga jangan diluputkan hak-hak mereka. Supaya jangan timbul reaksi yang tidak diinginkan akan menjadi lebih menyulitkan, sehingga tujuan semula untuk menciptakan kebersihan hati dan mental menjadi sebaliknya sangat membahayakan suasana. Jangan-jangan hal itu menjadi sebab timbulnya huru-hara.

Selain dari pada itu wang itu dapat dipergunakan untuk menolong orang-orang yang mengalami kehancuran bisnisnya juga. Dan juga wang itu dapat dibelanjakan untuk setiap kegiatan dijalan Allah swt yakni bagi setiap amal baik yang Allah swt telah memerintahkan untuk mengamalkannya. Untuk orang-orang musafir yang sedang didalam perjalanan, yang kadang-kadang disebabkan kehabisan biaya mereka terlantar atau orang-orang yang sedang mencari ilmu pengetahuan, wang itu dapat dibelanjakan untuk mereka. Jadi semua hukum-hukum ini telah diturunkan oleh Allah swt kepada Rasulullah saw, kemudian beliau sampaikan kepada kita dalam bentuk sebuah Kitab untuk kemaslahatan masyarakat umum.

Jika pemerintahan Islam mulai mengamalkan semua hukum-hukum ini dengan niyyat yang baik, maka dunia akan memandang dan menilai Islam dan ummat Islam tidak dapat ditandingi. Dan setiap kritikan serta cemoohan yang telah dilakukan terhadap Islam akan hilang lenyap dengan sendirinya. Sebab ajarannya tidak dapat ditandingi oleh sesuatu agama lain dan tidak pula sisitim kehidupan yang dijalankan oleh Islam dapat ditandingi oleh sistim agama lain pula. Dan sisitim kehidupan didalam Islam, disebabkan tanpa mengguna bunga wang (interrest) dan dengan hati yang bersih mengamalkan hak-kewajiban sesama manusia sehingga tidak menimbulkan sebarang beban bagi yang lain. Jema’at ini, dengan karunia Allah swt, sambil bertahan diatas sarananya sendiri yang masih terbatas tengah mengamalkan semua hukum-hukum tersebut. Akan tetapi, karena sarananya yang masih terbatas, sekalipun mempunyai keinginan yang sangat keras untuk mengamalkannya, namun belum dapat mengamalkan hukum-hukum itu sepenuhnya. Akan tetapi jika sekiranya pemerintahan Islam telah wujud, yaitu pemerintahan yang sedang mereka lakukan, mereka memiliki sarana-sarana yang cukup, tentu mereka dapat melaksanakannya. Jika semua sarana yang ada di Negara Pakistan digunakan dengan sebaik-baiknya dan sarana itu cukup banyak disana, maka disana tidak akan timbul masalah kemiskinan.

Ajaran Islam demikian indahnya sehingga setiap segi kepentingan masyarakat sangat diperhatikan dan dipenuhi. Dan mereka yang tinggal didalam Pemerintahan Islam bukan hanya orang-orang Islam saja melainkan penganut-penganut agama lainpun banyak yang tinggal disana dan merekapun tentu akan dapat merasakan faedah dari sistim kehidupan yang bersih yang dijalankan oleh Islam disana.

Tazkiyah juga maksudnya membersihkan keadaan zahiriah. Allah swt berfirman: إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ Artinya : Allah mencintai mereka yang banyak bertobat dan Dia mencintai orang-orang yang menjaga kebersihan zahir dan bathin dirinya (Al Baqarah :223) Maka orang yang merebahkan diri dihadapan Allah swt sambil bersujud dan bertaubah kepada-Nya, membaca istighfar sambil menyesali dosa-dosanya menjadi sarana untuk kebersihan hatinya. Keduanya Allah swt menyediakan sarana untuk kebersihan zahiriahnya juga. Dan secara khas Allah swt telah memberikan petunjuk berkenaan dengan kebersihan jasmani dan kesucian ruhani didalam ayat tersebut, yakni kebersihan gigi, kebersihan badan, kebersihan pakaian, kebersihan lingkungan dan untuk menunaikan ibadah juga kebersihan jasmani yakni wudhu (mengambil air sembahyang) telah dinyatakan fardhu juga. Akan tetapi muslim diantara kita tidak mempunyai standar seperti yang dinasihatkan didalam ayat tersebut.

Rasulullah saw, khasnya pada hari Jum’ah memerintahkan supaya mandi dan menggunakan minyak wangi. Beliau melarang memakan barang-barang makanan yang berbau sebelum datang kemesjid. Selanjutnya kebersihan lingkungan, kita dan kebanyakan dari orang-orang muslim khasnya dinegara-negara miskin termasuk negeri Pakistan juga, mempunyai anggapan, jika keadaan miskin maka keadaan kotor juga diperlukan. Padahal dengan keadaan lingkungan yang bersih tidak ada hubungan dengan kemiskinan. Hadhrat Rasulullah saw bersabda: “‏ الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ ‏” Artinya : Kebersihan, menjalani kehidupan sambil menjaga kebersihan adalah sebagian dari pada iman.”[1]

Ada sebuah riwayat mengatakan bahwa pada suatu waktu Hadhrat Rasulullah saw sedang duduk-duduk didalam mesjid datanglah seorang dengan keadaan rambutnya sangat kusut, dengan keadaan jenggotnyapun tidak terurus, beliau menasihatinya dan bersabda : Rapikanlah rambut serta jenggot-mu itu. Setelah ia pergi merapikan rambut dan jenggotnya lalu kembali menghadap Rasulullah saw. Lalu Rasulullah saw bersabda kepadanya: “‏ أَلَيْسَ هَذَا خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدُكُمْ ثَائِرَ الرَّأْسِ كَأَنَّهُ شَيْطَانٌ ‏” Apakah keadaan kamu dengan rambut dan jenggot rapi lebih baik atau keadaan seperti semula rambut kusut dan jenggot-pun tidak terurus seperti syetan atau seperti hantu ?”[2]

Sekarang pada umumnya orang-orang beranggapan bahwa sebagai ahlullah (orang yang dekat dengan Allah) keadaan pakaiannya,rambutnya dan janggutnya serta perangainya harus seperti itu tidak terurus. Padahal hadis Rasulullah saw ini menentang pendapat seperti itu. Pada zaman sekarang disini juga saya telah melihat keadaan seperti itu, ada anak-anak Pakistan diantaranya anak-anak Ahmadi juga. Rambut mereka terlihat kusut seakan-akan baru saja bangun tidur lalu mereka pergi kesekolah. Ibu bapa harus memperhatikan keadaan anak-anak mereka dan hendaknya mereka mulai menerapkan tarbiyyat yang baik semenjak umur demikian, pagi-pagi bangunkan, basuh muka dan anggauta badan lainnya, sebelum pergi kesekolah pakaian dan rambut harus dirapikan. Anak-anak harus bangun pada waktu yang telah ditetapkan supaya pada waktunya juga mereka pergi kesekolah. Ibu-bapa sendiri juga harus memperhatikan kebersihan diri mereka sendiri, khususnya orang-orang yang tinggal dinegeri yang iklimnya panas sehingga banyak keluar peluh (keringat) disana mereka harus betul-betul memperhatikan kesehatan dan kebersihan badan mereka. Dimana persediaan air kurang cukup, sekurang-kurangnya sehari satu kali harus mandi dan mebersihkan badan. Kepada perkara demikianlah Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda الطَّهُوْرُ شَطْرُ اْلاِيْمَانِ Kebersihan, atau menjalani kehidupan sambil menjaga kebersihan adalah sebagian dari pada iman.

Selain itu kebersihan hati sanubari yang disebut tazkiyah nafs . Sebagaiman telah saya katakan sebelumnya, bagaimana para sahabah telah melakukan tazkiyah terhadap diri mereka dan membuang semua perkara keburukan. Sekarang saya ingin memberi tahukan beberapa jenis keburukan. Sekalipun terdapat kebaikan tersimpan didalam hati akan tetapi didalam hati kebanyakan orang-orang Jema’at-pun terdapat banyak juga keburukan. Kebaikan dan keburukan tidak bisa tinggal bersama-sama pada waktu yang sama. Harus diingat ! Jika keburukan semakin bertambah banyak atau tetap ada didalam hati, maka ianya sentiasa mengusir kebaikan yang ada didalam hatinya. Oleh sebab itulah posisi kebaikan didalam kita harus kokoh-kuat sehingga mampu mengusir keburukan dari dalamnya. Supaya proses tazkiyah sejati didalam hati dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.

Salah satu dari keburukan adalah hasad, berkata dusta, adat kebiasaan tidak membayar utang. Didalam kehidupan masyarakat zaman sekarang perkara buruk demikian itu banyak sekali menimbulkan masalah. Oleh sebab itu saya menganggap perlu sekali untuk dibicarakan.Untuk terhidar dari hasad, Allah swt telah mengajarkan do’a kepada kita. Bacalah do’a ini sebanyak-banyaknya : مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ artinya : Aku berlindung kepada Tuhan (Yang Empunya fajar) dari pada kejahatan orang dengki apabila ia mendengki.

Jika seorang mu’min membaca do’a ini untuk terhindar dari keburukan, maka orang mu’min yang bersih hatinya akan berusaha mencegah dirinya dari berbuat hasad terhadap orang lain. Diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah r.a. katanya Hadhrat Rasulullah saw bersabda: ‏”‏ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ ‏”‏ ‏ Hindarilah perbuatan hasad, karena hasad bisa membakar kebaikan seperti api membakar kayu bakar atau rumput yang kering.[3] Yakni semua amal-kebaikan yang telah dilakukan bisa habis dibakar oleh perbuatan hasad itu.

Hadhrat Anas ibn Malik r.a. juga meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: ‏ “‏ لاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلاَثٍ ‏”‏ Janganlah berbuat dendam terhadap orang lain, jangan berbuat hasad, jangan saling memutuskan hubungan dengan orang lain, melainkan hiduplah bersama-sama seperti saudara kandung sendiri, tidak diperbolehkan seorang Muslim berbuat marah terhadap saudara Muslim lain lebih dari tiga hari lamanya dan sama-sekali memutuskan hubungan dengannya.[4]

Itulah perkara-perkara yang dapat menjadi sarana untuk kebersihan hati. Jika seseorang bermaksud untuk menegakkan kebersihan hatinya, jika ianya ingin memperoleh hasil baik dari ibadah-ibadahnya, ingin mengambgil faedah dari ajaran Muzakki, Hadhrat Rasulullah saw, maka ianya harus selalu mencegah dirinya dari setiap perbuatan hasad. Jika setiap orang berjanji untuk menunaikan kewajibannya masing-masing, maka tidak mungkin akan timbul perbuatan hasad. Kadangkala seorang manusia secara zahirnya nampak sangat baik, namun didalam hati ia menyimpan rasa hasad terhadap orang lain. Dari dalamnya keluar api yang menyala dan ianya berusaha untuk menyusahkan hati orang lain. Berapa lamanya waktu yang dia pergunakan untuk berfikir demi melakukan perbuatan hasad dan melakukan kecurangan terhadap orang lain, jika selama waktu itu ia gunakan untuk membina dirinya, dia gunakan untuk memanjatkan do’a, mudah-mudahan ia akan terselamat dari perbuatan hasad, dan disebabkan timbulnya hasrat untuk bersaing maka Allah swt-pun akan memberi kemajuan bahkan dengan cepatnya akan memberi kemajuan lebih baik dari pada orang lain.

Setelah itu perkara yang kedua adalah berkata dusta . Saya telah berulang kali mengatakan untuk menghindarkan diri dari membuat pernyataan yang tidak betul. Sesuai dengan hukum Allah swt “berkata dusta” juga sangat dekat dengan perbuatan syirik. Untuk setiap orang mu’mun yang menghendaki tazkiyah jiwanya, sangat penting sekali untuk menghindarkan diri dari pada perbuatan itu.

Terdapat sebuah riwayat dari Hadhrat Abdullah r.a. katanya Hadhrat Rasulullah saw bersabda :

عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا، وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ، حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا ‏”‏‏

“Kalian harus berusaha berkata benar, karena berkata benar membimbing kepada kebaikan dan kebaikan membimbing orang masuk kedalam surga. Seorang yang berkata benar dan berusaha untuk berkata benar sehingga ianya dipanggil siddiq disisi Allah swt. Kalian harus menghindar dari berkata dusta, karena berkata dusta membawa orang kepada fujur (kejahatan) dan fujur membawa manusia langsung kedalam api neraka. Seseorang berkata dusta dan menjadi terbiasa berkata dusta sehingga akhirnya ianya disebut kazzab atau pendusta disisi Allah swt.” [5]

Dalam riwayat lain yang diceritakan oleh Hzrat Abu Bakar r.a. Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda: عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ أَلاَ أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ‏”‏‏.‏ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ‏.‏ قَالَ ‏”‏ الإِشْرَاكُ بِاللَّهِ، وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ ‏”‏‏.‏ وَكَانَ مُتَّكِئًا فَجَلَسَ فَقَالَ ‏”‏ أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ، أَلاَ وَقَوْلُ الزُّورِ وَشَهَادَةُ الزُّورِ ‏”‏‏.‏ فَمَا زَالَ يَقُولُهَا حَتَّى قُلْتُ لاَ يَسْكُتُ‏.‏ “ Maukah kalian aku beritahu sebuah dosa yang paling besar ? Kami berkata : Ya Rasulallah !! Beritahukanlah itu kepada kami ! Beliau bersabda : Menyekutukan Allah swt, durhaka kepada kedua ibu-bapak, ketika itu beliau sedang berbaring diatas bantal, kemudian serempak bangun dan bersabda dengan tegas dan keras : Ingat !! Berkata dusta dan memberi kesaksian yang dusta adalah dosa yang paling besar !! Beliau mengulangi kata-kata itu terus berulang-ulang, sehingga kami menghendaki agar beliau diam.” [6]

Jadi, apakah Rasulullah saw akan sampai hati menyaksikan seseorang dari ummat beliau, dan menisbahkan diri kepada beliau sebagai Rasulullah saw menjadi ahli neraka? Pikiran seperti inilah yang membuat beliau sangat risau dan prihatin. Semoga Allah swt selalu melindungi kita dari pada la’nat seperti itu dan semoga Dia menjadikan kita semua orang-orang yang sejati dalam membersihkan diri.

Perkara ketiga yang pada zaman sekarang sedang sering berlaku dihadapan kita adalah pelunasan hutang. Pada waktu terdesak manusia meminjam sejumlah wang dari orang lain, namun mereka tidak memperhatikan kepada kewajiban pelunasannya. Sebelum melakukan pinjaman keadaan orang pada umumnya nampak baik-baik, namun apabila diminta untuk melunasi utangnya itu maka ianya menunjukkan kelakuan dan pikirannya yang sangat buruk dan kasar terhadap penagih, bahkan sampai kepada perbuatan zalim. Hal seperti itu bukanlah ciri akhlaq orang mu’min. Dan bukan pula akhlaq orang-orang yang menghendaki kebersihan dan kesucian hati mereka. Dan tentunya bukanlah akhlaq orang-orang yang menamakan diri umat dari Muzakki Rasulullah saw.

Maka kita semua haruslah mengambil jalan yang telah ditunjukkan oleh Muzakki Rasulullah saw di hadapan kita semua.

عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَجُلاً، أَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَتَقَاضَاهُ، فَأَغْلَظَ، فَهَمَّ بِهِ أَصْحَابُهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ دَعُوهُ فَإِنَّ لِصَاحِبِ الْحَقِّ مَقَالاً ‏”‏‏.‏ ثُمَّ قَالَ ‏”‏ أَعْطُوهُ سِنًّا مِثْلَ سِنِّهِ ‏”‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لاَ نَجِدُ إِلاَّ أَمْثَلَ مِنْ سِنِّهِ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ أَعْطُوهُ فَإِنَّ مِنْ خَيْرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ قَضَاءً ‏”‏‏.‏

Terdapat didalam sebuah riwayat yang diceritakan oleh Hadhrat Abu Hurairah r.a. katanya seorang telah datang kepada Rasulullah saw dan dia bermaksud untuk menagih hutang seseorang melalui beliau. Dan dia berkata kepada beliau dengan sangat kasar, sehingga para sahabah yang ada disamping beliau sangat marah dan mau membentak dan memarahinya. Rasulullah saw bersabda : Janganlah kalian berkata apa-apa kepadanya ! Dia datang untuk meminta haknya dan dialah yang mempunyai hak untuk berkata ! Beliau bersabda: Berikanlah kepadanya seekor hewan sesuai dengan yang ia minta sebagai pengembaliannya. Sahabah menjawab, Ya Rasulallah ! Pada waktu ini sudah tersedia hewan yang lebih baik dari pada yang dia minta. Beliau saw bersabda : Berikanlah itu kepadanya ! Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang mengembalikan pinjamannya lebih baik dari pada yang ia terima dari orang.[7]

Jadi itulah sebuah tauladan yang harus dilakukan oleh orang yang berhutang pada waktu mengembalikan pinjamannya kepada yang berhak menerimanya. Kecuali, jika peminjam tidak dapat mengembalikan pinjamannya pada waktu yang telah ditentukan ia harus meminta tenggang waktu lagi untuk membayarnya atau ia memberikan jaminan kepadanya. Dan menjadi kewajiban seorang mu’min yang memberi pinjaman agar dia setuju untuk memberi tenggang waktu lagi kepadanya, supaya jangan timbul fitnah ditengah-tengah masyarakat. Dan supaya kedua belah pihak dijauhkan dari pikiran buruk yang tidak dikehendaki sehingga hati mereka tetap bersih. Dan itulah akhlaq baik yang dapat menjadi sarana kebersihan hati masyarakat. Kita berdo’a semoga Allah swt memberi taufik kepada kita smua untuk mengamalkan ajaran suci Rasul Agung saw dan semoga kita termasuk orang-orang yang dimaksud dengan firman Tuhan : قَدْ اَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى yakni berjayalah orang yang mensucikan jiwanya. Semoga Allah swt menggabungkan kita keadalam golongan orang-orang yang suci. Amin !!! Alih Bahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

* ) terjemah sesuai dengan sabda beliau dalam Audio Urdu

** ) terjemah sesuai dengan sabda beliau dalam audio Urd

[1]

[2] Kitab Muwatha karya Imam Malik, Kitab tentang rambut, 51, 7

[3] Sunan Abi Daud, Kitab tentang Adab,

[4] Shahih Muslim, Kitab al-Birri wash shilah wal adab, bab larangan saling dengki, saling membenci dan membelakangi.

Muwatha Imam Malik, Kitab tentang husnul khulq

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ “‏ إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَنَافَسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا ‏”

[5] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Adab,

[6]

[7] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Wakalat, bab wakalat fil qadha