Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

tanggal 29 Ikha 1389 HS/Oktober 2010

di Masjid Baitul Futuh, London-UK

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

اِنَّ اللّٰہَ لَا یَغۡفِرُ اَنۡ یُّشۡرَکَ بِہٖ وَ یَغۡفِرُ  مَا دُوۡنَ ذٰلِکَ لِمَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَقَدِ افۡتَرٰۤی  اِثۡمًا عَظِیۡمًا ﴿۴۸﴾

‘Innallaaha laa yaghfiru ay yusyraka bihii wa yaghfiru maa duuna dzaalika li may yasyaa-u wa may yusyrik billaahi fa qadif taraa itsman ‘azhiimaa’

Ayat ini terjemahannya adalah: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni jika sesuatu dipersekutukan dengan-Nya dan Dia akan mengampuni selain dari itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan, barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah mengada-adakan dosa besar.” (QS.4:49)

Kemajuan Zaman, Penemuan-Penemuan Baru dan Diantara Dampak dari segi Negatifnya

Dikarenakan penemuan-penemuan baru, manusia menjadi sedemikian dekat satu sama lain. Penduduk satu negara memanfaatkannya untuk berkomunikasi dengan penduduk negara lainnya yang berjarak ribuan mil. Jalan kemajuan untuk saling mengontak pun terbuka namun juga dengan cepatnya keburukan satu dengan yang lain saling bertukar. Dikarenakan terdapat banyak sekali jenisnya dalam hal keburukan, kesia-siaan dan kesenangan yang menarik yang karenanya manusia tertarik kearahnya dan menerimanya dengan cepat. Yakni, cepat upayanya dan beberapa kali muncul semangat [untuk mengadopsinya].

Hal demikian memiliki dampak sampai-sampai ia lupa siapa dirinya? Tradisi dalam masyarakat yang harus diikutinya? Dari agama mana ia berasal? Apakah dalam hal ini Tuhan suka atau tidak? Jika dia seorang muslim, apakah yang telah disampaikan Allah terkait tujuan penciptaannya?

Pendek kata, terdapat banyak perkara-perkara buruk yang bahkan dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecondongan kepada agama disebabkan dalam diri mereka terdapat kegilaan duniawi dan keinginan menjadi modern. Bahkan, lebih dari itu, sebagian orang Ahmadi yang menganggap perkara itu sebagai hal yang sepele dan biasa, maka dia akan cenderung terseret di jalan ini, sehingga menyebabkan akibat yang sangat buruk.

Diantara keburukan-keburukan yang berlangsung dan yang tidak dapat dirasakan yang menjebak manusia dalam perangkapnya, satu yaitu syirk, yang di sisi Allah bukan hanya keburukan saja, bahkan ia adalah dosa yang tidak patut diampuni oleh-Nya. Sebagaimana kita telah melihatnya dari ayat yang telah saya bacakan tadi. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menerima, baik itu dengan jelas maupun dengan tersembunyi, sesuatu jenis apa pun yang mencederai Keesaan-Nya.

Oleh karena itu, seorang Muslim yang menyatakan dirinya teguh beriman kepada Tuhan dalam ketauhidannya, yang membaca kalimah laa ilaaha illallah’ — jika tauhid ini bisa dimengerti akan kehalusan atau peliknya konsep Ketuhanan Maha Esa maka halus atau peliknya syirik pun akan dimengerti dengan baik serta mengambil langkah nan penuh kehati-hatian yang serius dalam dunia yang berkembang dengan cepatnya ini.

Secara khusus, kita para Muslim Ahmadi selalu tertanam dalam pikiran kita bahwa kita berdiri diatas syarat baiat kepada Imam Zaman, dan syarat tersebut ditempatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di posisi paling awal. Kata-katanya adalah sebagai berikut : ”Orang yang baiat berjanji dengan hati yang jujur bahwa, di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.”

Jadi, demikianlah janji yang pertama untuk masuk Ahmadiyah, Islam sejati itu. Boleh jadi ada orang yang mengatakan bahwa orang-orang Muslim itu semenjak dulu sudah secara lisan mengakui Tauhid ke-Tuhan-an Yang Esa, dengan mengucapkan Kalimah ‘Laa ilaaha illallah’. Meskipun telah biasa membaca kalimah ini, akan tetapi Ahmadiyah dalam hal ini mengantarkan orang-orang Muslim kepada Islam sejati, juga membawa orang-orang non-Muslim, para penganut kepercayaan lain dan orang-orang yang tidak beragama menuju Islam hakiki. Untuk itu, syarat pertama dari baiat ialah tidak akan pernah melakukan syirik.

Seorang Muslim yang mengucapkan Kalimah Syahadat, menolak syirk  dengan sangat penuh semangat dan tegas, tetapi meskipun demikian, kita masih melihat diantara orang-orang Muslim bahwa tindakan yang serius tidak diambil terkait syirik latent atau syirik tersembunyi.

Tiga Syirik Terselubung dan Tuduhan Pihak Hindu

Janji baiat yang pertama itu, oleh karenanya bukanlah merupakan sebuah syarat yang besar dan berat bagi seorang Muslim untuk masuk ke dalam Ahmadiyah. Tetapi dengan memperhatikannya secara seksama, kita melihat banyak diantara orang-orang Muslim yang tidak mengerjakan syirik yang terlihat jelas, namun mereka mengerjakan syirik latent (tersembunyi, syirik yang tidak kelihatan).

Ada segolongan dari mereka yang bersujud menyembah di depan kuburan para Pir (wali, petapa); segolongan kedua, kendatipun tidak melakukan sujud di hadapan kuburan, mereka mempersembahkan sembelihan (persembahan) dan menyembunyikan sesuatu perasaan syirk dalam hati mereka; dan derajat ketiga ada yang melakukan wuquf di kuburan lalu berdoa meminta-minta kepada penghuni kuburan, bukannya kepada Allah.

Sedemikian rupa beberapa kali terjadi peristiwa bahwa kaum ibu terdengar mengatakan, “Kami meminta kepada Tuhan untuk kelahiran seorang anak laki-laki tapi tidak lahir juga, tetapi ketika memintanya kepada “Data” [yaitu Hadhrat Data Ganj Bukhsh, seorang suci yang hidup pada abad ke-11th] di kuburannya, maka lahirlah anak laki-laki.” Kaum perempuan biasanya lemah dalam keimanannya, dan sedikit atau kurangnya kecenderungan atau perhatian diantara orang-orang Muslim ini untuk beribadah kepada Tuhan; inilah rupanya, mengapa kaum perempuan terutamanya, dan juga umumnya kaum prianya memperlihatkan adanya kelemahan dalam imannya.

Seringkali bahkan iman telah benar-benar kosong. Mereka itu memiliki keimanan yang lebih besar kepada Hadhrat Data Ganj Bukhsh atau para wali lainnya daripada kepada Tuhan. Dalam hal ini sama saja bagi kaum wanita maupun pria. Salat yang lima kali sehari itu nampaknya bagaikan beban saja bagi mereka. Maka jalan  yang mudah bagi mereka ialah demikian, yaitu datan memohon kepada penghuni kuburan dan mempersembahkan sembelihan (sesaji) agar masalah-masalah mereka dipermudah. Dikarenakan praktek ini terus berlanjut dari satu generasi ke generasi lainnya, maka keimanan kepada Tuhan itu akan terus bertambah lemah bahkan selangkah demi selangkah menghilang.

Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah syair karya seorang Hindu. Dalam hatinya timbul keberanian untuk menulis sebuah syair setelah menyaksikan bid’ah-bid’ah diantara kaum Muslimin. Ia menulis, “Kami orang-orang Hindu itu memuja-muja dewa-dewi, sementara kalian orang-orang Muslim pergi ke kuburan-kuburan dan bersujud di depan para pir dan faqir, menyembah mereka.”

Ia (penyair Hindu itu) terus melontarkan tuduhan yang mengerikan sampai-sampai mengatakan, na’uudzubillaah min dzaalik, “Kalian telah menjadikan Rasulullah s.a.w. sebagai Tuhan.” Sebuah tuduhan keji dan makruuh (dibenci) dalam pandangan seorang mu’min hakiki.

Tidak ada dan tidak akan ada yang bisa  lebih mengetahui perihal ketauhidan dibanding beliau s.a.w.;  tidak ada orang yang memberikan ajaran yang lebih bagus dalam hal tauhid, atau yang memiliki wawasan dan persepsi yang lebih baik dalam hal tauhid Ilahi serta tidak ada orang yang mengamalkan tauhid di dalam kehidupannya lebih baik daripada beliau s.a.w..  Tidak ada dan tidak akan ada yang bisa.

Pribadi itulah yang dapat memahami akan hakikat tentang Tauhid, yaitu yang mengutamakan Allah Ta’ala dalam segala segi. Siapakah orangnya yang lebih besar dari beliau s.a.w. dalam hal mengutamakan Allah Ta’ala dan senantiasa risau untuk dapat meraih kedekatan-Nya? Sejarah sebelum masa kenabian beliau s.a.w. pun memberikan kesaksian, beliau s.a.w. sudah menghabiskan waktu berjam-jam dan berhari-hari lamanya mengasingkan diri dalam beribadah menyembah kepada Tuhan Yang Satu.

Doa Rasulullah S.a.w.

Beliau mempunyai satu doa yang mengilustrasikan bagaimana hasrat hati beliau yang mendalam untuk mendapatkan kecintaan dan kedekatan Allah Ta’ala. Di hadapan Maula (Maha Pengayom) beliau, dengan sangat merendahkan diri beliau memohon:

«اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يَنْفَعُنِي حُبُّهُ عِنْدَكَ اللَّهُمَّ مَا رَزَقْتَنِي مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لِي فِيمَا تُحِبُّ اللَّهُمَّ وَمَا زَوَيْتَ عَنِّي مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ لِي فَرَاغًا فِيمَا تُحِبُّ».

‘Allahumma rzuqnii hubbaka wa hubba may yanfa’uni hubbuhu ‘indak. Allaahumma maa razaqani mimmaa uhibbu faj’alhu quwwatal lii fimaa yuhibbu. Allahumma wa maa zawaita ‘annii mimmaa uhibbu faj’alhu lii faraaghan fiima tuhibbu.’

“Wahai Allah, berikanlah kepadaku kecintaan Engkau dan kecintaan seseorang, yang kecintaannya itu memberikan manfaat bagiku oleh Engkau. Wahai Allah, jadikanlah apa-apa yang aku sukai yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, sebagai sumber kekuatan bagiku, sebagai sumber untuk meningkatkan kecintaan Engkau kepadaku, sebuah sumber untuk mengembangkan keimanan. Dan berikanlah kepadaku apa-apa yang Engkau ridhai pengganti dari yang aku sukai tetapi yang membuat Engkau jauh daripadaku.” [2]

Jadi, jika beliau s.a.w. meminta sesuatu yang disukai kepada Tuhan, maka sesuatu itu adalah apa-apa yang akan menyenangkan Tuhan, dan setiap kesukaan dunia yang beliau s.a.w. inginkan maka beliau s.a.w. memanjatkannya bersama dengan doa dan permohonan itu, “Semoga semua hal ini juga menjadi sarana peningkatan dalam hal agama dan kecintaan kepada Tuhan juga meningkat.”

Pandangan Keliru  Berkenaan Para Pir Faqir dan

Bahaya Riya (Pamer) secara kerohanian

Sebagian orang mengatakan, alasan mereka yang  berkunjung kepada kuburan para Pir ini adalah karena para pir itu kata mereka disayangi Tuhan, sementara Kitab Suci Al-Quran memberikan keterangan serupa oleh mereka yang menyembah berhala-berhala itu. Sebagian orang yang menyembah berhala juga menyatakan, “Dengan cara seperti ini kami bisa sampai kepada Allah Ta’ala.” Ini jelas pandangan yang salah.[3]

Apabila inilah orang-orang yang berdoa kepada kuburan para pir dan faqir itu, jika mereka suci dari syirk, jika mereka baik di dalam hakikatnya maka seharusnya kehidupan para pengikut penyembahan kuburan tersebut memperhatikan [mempelajari] kehidupan para pir dan faqir dan hendaknya mereka berdoa menjadikan itu supaya dapat menjadi sarana pencapaian kedekatan dengan Allah Ta’ala.” Bukannya menantang Tuhan dengan pandangan yang salah dengan mengatakan, “Faqir itu yang memberikan kami anak-anak [bukan Tuhan].” Selanjutnya orang-orang non-Muslim mendapatkan kesempatan mengkritik Islam, dengan demikian mereka mendapat kesempatan mengkritik pribadi Hadhrat Rasulullah s.a.w.

Hadhrat Rasulullah s.a.w. memberikan perhatian secara khusus berkenaan tentang tarbiyat kerohanian bagi para sahabat beliau, beliau s.a.w. bersabda berkenaan penegakan tauhid  dimana  beliau saw selalu mengatakan bahwa: “Dengan sedikit saja ada riya itu adalah syirik. Jika kalian terdapat riya dalam ibadah-ibadah, juga ada riya dalam menunaikan salat-salat maka ini juga syirik.

Beliau s.a.w. bersabda, “Hindari syirik, karena syirik ini adalah lebih lembut daripada bekas jejak kaki semut hitam.” — Yakni jejak-jejak kaki diatas tanah, jauh lebih samar dari itu —  Para Sahabat bertanya tentang bagaimana mereka dapat menghindarkan diri dari syirik ini? Dalam jawabannya, beliau saw menasehatkan untuk membaca doa ini: Allaahumma inna na’uudzibaka min an nusyrika bika syai-aan na’lamhu wa nastaghfiruka lima laa na’lamu    –   “Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari mempersekutukan Engkau dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon perlindungan (penjagaan) kepada Engkau dari apa saja [melakukan hal-hal syirk] yang kami tidak ketahui.”[4]

Pendek kata, beliau senantiasa menyampaikan bahwa seorang Muslim harus menghindarkan diri dari syirik, dan untuk itu (untuk menjauhkan orang Muslim dari syirik mendewakan beliau) beliau bersabda dan selalu menyatakan demikian “Saya hanyalah sebagai seorang manusia, seorang manusia yang lemah”. Ketika ada seseorang yang demikian gentar di hadapan beliau s.a.w. maka beliau s.a.w. bersabda, “Saya hanyalah anak dari seorang perempuan sebagaimana umumnya manusia.”

Allah Ta’ala juga telah menyatakan dalam Firman-Nya: اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ ‘Ana basyarum mitslukum’ (Al Kahfi:111) berkaitan dengan beliau saw yang maksudnya, “Saya seorang manusia seperti kalian.” Oleh karena itu, salahlah orang Hindu itu yang menuliskan, na’uudzubillaahi, “Kalian [orang Muslim] telah menjadikan Nabi s.a.w. diberikan status sebagai Tuhan. Ada pun memangnya kenapa kalau kami telah menjadikan Dewata dan Dewi sebagai Tuhan, [sedangkan kalian sendiri demikian]. Atau kami menjadikan Krishna dan lainnya sebagai Tuhan. Akan tetapi, ini adalah benar bahwa kalian [orang Muslim] menganggap kuburan-kuburan sederajat dalam hal martabatnya dengan Tuhan.”

Kewajiban Para Ahmadi Menjaga Tauhid

Hal itulah yang perlu dijadikan kekhawatiran bagi orang-orang Muslim atas perbuatan syirik yang dituduhkan kepada mereka. Orang-orang Muslim umum tidak dapat menjauhkan tuduhan perbuatan syirik ini, tetapi merupakan kewajiban seorang Muslim Ahmadi untuk membuat perubahan  dalam diri dan amalan mereka. Menjadikan ibadah-ibadah mereka sehingga dapat memanifestasikan aspek Tauhid (Keesaan Tuhan).

Katakanlah kepada dunia, bahwa kedatangan Hadhrat Rasulullah s.a.w. itu adalah terjadi karena untuk menegakkan Tauhid. Hanya dengan mengamalkan ajaran beliau s.a.w. Tauhid dapat ditegakkan. Dikarenakan keadaan orang-orang Muslim ini sudah mengalami degradasi maka sekarang Tauhid itu hanyalah dapat benar-benar ditunaikan hak-haknya dalam corak hakiki dengan keikutsertaan dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud a.s., yang adalah Asyiq Shadiq (pencinta sejati) dan Ghulam Shadiq (pengikut setia, tulus dan sejati) dari Hadhrat Rasulullah s.a.w..

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis dalam bukunya ‘Al Wasiyat’:

“Tuhan menginginkan menarik kearah Tauhid, yaitu semua orang yang memiliki  berfitrat saleh yang tinggal di berbagai belahan dunia, apakah di Eropa atau Asia, dan mempersatukan hamba-hamba-Nya di bawah satu diin (agama, corak keimanan). Sesungguhnya inilah tujuan yang untuk itu aku dikirimkan ke dunia. Oleh karenanya kalian juga harus mengejar tujuan ini, tetapi harus dengan menerapkan kelembutan hati, kebagusan akhlak dan doa sebanyak-banyaknya.”[5]

Walhasil ini merupakan termasuk kewajiban orang-orang Ahmadi untuk mengerti kehendak Tuhan, memahami perintah Tuhan, serta memahami tanggungjawab yang dibebankan kepada kita. Dengan demikian kita menjadi penolong bagi Imam Zaman. Kita harus berusaha keras untuk menegakkan Tauhid ini dengan perkataan dan perbuatan kita masing-masing. Kita berupaya menghimpun dalam satu diin tidak  hanya orang-orang Muslim saja, bahkan juga para pengikut agama-agama lain, melalui pesan-pesan tauhid.

Oleh karena itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menerangkan dalam sabdanya, “Perlihatkanlah perkataan yang lemah lembut, akhlak yang baik juga harus dipancarkan, sehingga orang-orang dengan sendirinya akan menyaksikan akhlak kalian dan berpaling kepada kalian. Diatas itu semua, bertekunlah dalam doa-doa.”

Harap diingat selalu bahwa ketika bid’ah-bid’ah sudah lazim terjadi, maka hal ini membuat orang menjadi jauh dari ajaran agama yang asli. Manusia melupakan ajaran asli yang dikirim oleh Tuhan. Bid’ah ini telah berulang kali merusak agama dan menjadikan manusia yang mengerjakannya berdiri menentang Allah Ta’ala.

Semua agama terdahulu sudah kehilangan keadaan asli mereka, karena sesuai dengan perubahan zaman maka bid’ah-bid’ah baru pun dimasukkan kepada mereka dan tidak ada orang yang datang untuk berusaha menghilangkannya. Sebab, hanya Islam-lah yang akan tegak dalam keadaan aslinya hingga Kiamat, dan orang yang mendatangkan Islam adalah ‘Aakhiri Nabi’ (Nabi terakhir) Hadhrat Rasulullah s.a.w. yang dengan perantaraan ajaran hakiki, beliau telah menjauhkan segala macam bid’ah dan adat istiadat yang salah dalam agama..

Bid’ah: Berlebihan dalam Menekankan Wirid dan Wazhifah

Sekarang, ada bid’ah-bid’ah yang merugikan, yang masuk di jalan Islam di antaranya adalah yang menyerupai syirik. Bukan hanya syirik khafi (makhfi, tersembunyi) bahkan sudah termasuk syirik nyata yang terlihat pada beberapa tempat. Namun, sesuai dengan janji-Nya, AllahTa’ala telah mengirimkan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. untuk menjaga dan memelihara Islam dari syirik dan bid’ah-bid’ah yang merusak, dan Insya Allah agama Islam akan tetap aman dan terjaga.

Inilah bid’ah-bid’ah yang akan dibersihkan dari wajah Islam, kaum Muslimin dan disingkirkan dari jalan-jalan Islam, pada satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa:

“Cara dan jalan kami adalah benar-benar cara dan jalan yang dikerjakan oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan para Sahabat beliau nan mulia. Dewasa ini para faqir (sebutan untuk pengamal Tasawur di India) itu telah memasukkan banyak bid’ah-bid’ah yang merusak. Kami tidak menyukai hal-hal yang berlebihan dalam membiasakan chilla (i’tikaaf, khalwat, mengasingkan diri), wirid, wazhaaif. Jalan yang benar dari Islam adalah membaca Al-Quran Suci dengan penuh tadabbur (pemahaman, pendalaman makna) kemudian mengamalkan apa-apa yang terkandung di dalamnya, mengerjakan salat dengan penuh khusyu’, berdoa dengan tawajjuh (konsentrasi) dan senantiasa inabah (kembali) kepada Tuhan. Ringkasnya, salatlah sesuatu yang dapat menyampaikan kearah martabat-martabat mi’raaj (ketinggian rohaniah). Inilah maka segala sesuatunya.” (Jika menetap salat semacam ini maka menetap segala sesuatunya)

Pendek kata, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bahkan menganggap terlalu menekankan pada wirid dan wadzaif (bacaan-bacaan khusus) itu juga sebagai bid’ah. Ini karena praktek-praktek yang demikian itu membuat orang tidak memperdulikan lagi pada aspek aslinya (asalnya). Salatlah yang merupakan ibadah asli, mereka telah melupakannya. Mereka meninggalkan salat dan mulai memperhatikan secara serius terhadap wirid dan wadzaif (wadzifah/bacaan). Dan selanjutnya melakukan satu perbuatan yang termasuk perbuatan-perbuatan setan juga.

Kisah Saudari seorang Wali: Setelah Membiasakan Diri Berlebihan dalam hal Wirid, Meninggalkan Fardhu kemudian Selamat melalui doa kalimah Laa hawla wa laa quwwata illa bilLaah

Ada sebuah kisah mengenai seorang saleh, bahwa saudarinya adalah seseorang [perempuan] yang selalu berbuat kebaikan, rajin salat, melewatkan malam dengan tahajjud, salat-salat nafal lainnya dikerjakannya. Setelah dia mendatangi beberapa majlis pengajian, dikarenakan terpengaruh oleh orang banyak dan akhirnya mulailah memperhatikan secara berlebihan kearah dzikir dan wadzaif. Hal ini berlangsung lama. Dan kemudian sedikit demi sedikit ia meninggalkan ibadah-ibadah nafal keagamaan.

Dia menyimpan keraguan kepada orang saleh tadi maka beliau pun menanyakannya. Dia [perempuan tadi] menjawab dan berkata: “Benar, saya telah banyak melakukan wirid dan wadzaif” — Beliau memberikan pemahaman, “Ini adalah cara yang salah.” Namun ia tidak dapat mengerti. Ia  mengatakan, “Saya melakukan yang baik.” Perlahan-lahan dia mulai meninggalkan tahajjud, dan menggantinya serta mulai dengan dzikir.

Beliau mengatakan, “Lihatlah engkau telah melakukan dzikir sedemikian rupa sehingga langkah setan pun telah kautempuh. Oleh karena itu tinggalkanlah! Ini bukan perintah Tuhan. Jika engkau ingin menyemalatkan diri darinya maka engkau bisa membaca ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billaah’ untuk meminta pertolongan.”

Setelah sekian lama berlalu, perempuan ini menyadari bahwa ia itu sudah jauh menyimpang, bahkan juga sudah meninggalkan salat fardhunya kepada Tuhan [karena berlebihan dalam dzikir-dzikirnya itu]. Ia berkeinginan selamat dari setan dan mulai membaca ‘Laa hawla wa laa quwwata illa bilLaah’ (Tidak ada kekuatan untuk menghindarkan diri dari dosa atau untuk berbuat baik, kecuali melalui Allah). Kemudian sesudah itu barulah mulai perhatian lagi terhadap salat-salat fardhu dan dia merasa nyaman. Kemudian mulai perhatian terhadap tahajjud dan perhatian terhadap salat-salat nafal lainnya.

[Dari kisah ini terlihat] bahwa sebagian manusia dalam tidak memahami beberapa hal dengan ilmu yang sempurna. Dia merasa sudah mengerti dengan berkata, “Saya telah mendapatkan banyak faedah dari berbagai kebaikan yang sedang saya lakukan. Dengan dzikir, wirid dan wazhifah, kita dapat mencapai kedudukan yang agung. Karena dzikir adalah kebaikan yang sangat besar, maka saya harus banyak-banyak berdzikir.” Hendaklah melakukan dzikir Ilahi dengan lisan! Akan tetapi dengan terlebih dahulu memenuhi ibadah-ibadah wajib terhadap Allah Ta’ala seperti telah diperintahkan-Nya, dan menegakkan [kebiasaan mengamalkan] nafal-nafal dan tahajjud sesuai dengan apa Yang Mulia Rasulullah s.a.w. contohkan dalam sunnah (kebiasaan beliau) kepada kita. Mengamalkan hal itu secara bersamaan, itulah hal yang benar. Namun apabila hanya melakukan satu hal dengan penuh perhatian dan penekanan dengan meninggalkan hal-hal yang diwajibkan, juga meninggalkan sunnah, ini merupakan jalan yang menyimpang.

Jadi, senantiasa perlu diingat bahwa majlis dzikir ‘Allah Huwa’, dan majlis-majlis dzikir lainnya itu adalah sangat baik dan tidak diragukan lagi merupakan sebuah majlis suci, tetapi bila [dzikir-dzikir itu] melampaui batas (berlebihan) maka itu akan mengantar menuju setan [keburukan].

Jadi, kesalehan (kebaikan) sejati adalah apa-apa yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala dan itu semua merupakan sesuatu yang penting untuk menegakkan ketauhidan. Jadi, jika apa-apa yang sudah jelas sebagai kebaikan saja dapat membawa orang pada bid’ah-bid’ah — ketika hal tersebut dilakukan secara berlebihan (di beberapa waktu tertentu) – maka apa lagi dengan bid’ah-bid’ah lainnya yang pengaruhnya sangat besar. Bid’ah-bid’ah umum yang merasuk kedalam masyarakat secara luas pun semakin menjadi besar.

Namun amal-amal yang nampaknya membawa orang pada kebaikan ini padahal termasuk bid’ah-bid’ah, hal ini juga memahrumkan (meluputkan) manusia dari pemenuhan faraa-idh (ibadah-ibadah yang bersifat fardhu atau pokok, wajib). Oleh karena itu, seorang Ahmadi harus bersikap sangat hati-hati dalam hal ini, perhatikan ibadah-ibadah wajibnya, nafal-nafalnya, tahajjud dan semua perkara penting lainnya yang telah dipesankan oleh Hadhrat Rasulullah s.a.w. untuk kita amalkan, dan keteladanan serta sunnah-sunnah beliau yang beliau perlihatkan kepada kita selama hidupnya. Selanjutnya, doa-doa dan dzikir-dzikir juga. Setelah itu semua, barulah seseorang melangkah maju kearah menjadi mukmin sejati. Bagi seorang Ahmadi hendaknya berusaha dengan menerapkan semacam jihad untuk menghindarkan diri dari bid’ah-bid’ah yang berkembang dalam masyarakat.

Sebagaimana telah saya katakan di awal, bahwa kemajuan zaman modern itu memainkan peranan dalam menyebarkan berbagai keburukan yang terus berkembang. Banyak orang, baik anak-anak maupun dewasa yang mulai masuk kedalam keburukan dengan tanpa berpikir panjang tetapi hanyalah karena ikut-ikutan saja. Di dalamnya mereka mengikuti tanpa ilmu, apa hakekat darinya? Apa ruh yang ada di dalamnya? Tahu-tahu mengalir saja larut dalam budaya masyarakat.

Jika kita memperhatikan doa yang Hadhrat Rasulullah s.a.w. telah ajarkan kepada kita, yaitu: Allaahumma inna na’uudzibaka min an nusyrika bika syai-aan na’lamhu wa nastaghfiruka lima laa na’lamu    –   “Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari mempersekutukan Engkau dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon perlindungan (penjagaan) kepada Engkau dari apa saja [melakukan hal-hal syirk] yang kami tidak ketahui.” Maka kita akan mampu untuk menjauhinya ketika doa tersebut kita panjatkan dengan niat baik dan Allah Ta’ala dengan kurnia-Nya mengabulkannya maka manusia bisa terhindar juga dari keburukan tersebut.

Perayaan Halloween

Pendek kata, saya hendak menyampaikan tentang keburukan yang dirayakan dengan sangat populer di Barat dan pesta ini akan dirayakan dalam beberapa hari mendatang. Perayaan ini dinamakan pesta Halloween. Sebagaimana telah saya katakan, bahwa beberapa orang Ahmadi juga dengan secara ceroboh, mengijinkan anak-anaknya ikut dalam pesta ini. Padahal jika mau memperhatikan asal muasalnya maka pesta semacam inilah suatu bid’ah yang merusak yang datang dari antara orang-orang Kristiani, yang membuat orang mendekati pada syirik. Padahal, Bible juga melarang permainan hantu perempuan yang mati karena hamil, persekongkolan dengan jin dan praktek-praktek setan. Walaupun ajaran ini dimengerti di kalangan Kristiani namun tetap saja kebiasaan tersebut menetap karena [ajaran Bible] tidak diamalkan. Halloween umumnya dianggap sebagai hiburan iseng (penggembira) bahwa senang melihat anak-anak bermain dengan asyiknya, haruslah selalu diingat bahwa ‘hiburan iseng’ apa pun yang didasarkan pada syirik atau segala jenis hal yang merugikan haruslah dihindari oleh para Ahmadi.

Saya mengamati masalah tersebut ketika seorang penanggungjawab dari tim riset kami menerangkan bahwa anak perempuan kecilnya mengatakan, “Saya tidak akan merayakan Halloween. Tetapi paling tidak saya diizinkan untuk mengenakan pakaian kostum tertentu.” Tetapi beliau pun melarangnya. Seorang anak perempuan kecil, beliau melarangnya. Ketika beliau ini mengadakan riset mengenai hal ini, ditemukan fakta-fakta yang aneh nan janggal di hadapannya tersebut, maka saya katakan padanya bahwa saya juga menemukan fakta yang mengherankan.

Berbagai Pengaruh Buruk Pesta Halloween

Apapun adanya saya akan menyampaikan intisari dari fakta-faktanya itu di sini. Karena seringkali anak-anak mempersoalkannya dan menanyakannya melalui surat bertanya, “Apa salahnya [apa ruginya] kami untuk ikut acara Halloween? Mengapa orang tua kami tidak mengizinkan kami ikut serta dalam Halloween itu, sementara di sisi yang lain, para anak Ahmadi lainnya mendapatkan izin dari orang tuanya untuk ikut dalam pesta itu.”

Ringkasnya, saya akan menjawabnya sesuai dengan pengetahuan saya dengan mengatakan bahwa praktek ini adalah salah dan tidak bagus, serta saya mengimbaunya agar menghentikannya. Namun sekarang penjelasan yang secara definitif sudah diperoleh, maka penting bagi anak-anak Ahmadi untuk menghindarinya

Sekilas Asal-Muasal Halloween

Pesta [perayaan] ini menyebar di dan dari dunia Barat yang nota bene dunia Kristiani, corak bid’ah semacam ini  bermula dari praktek-praktek orang Irlandia kuno, pada zaman penyembahan berhala yang mana merupakan zaman praktek ritus-ritus kepercayaan kuno. Di dalamnya praktek-prakteknya didasarkan atas konsep setaniah dan hantu-hantu, konsep paham keagamaan yang rusak dan mengoyak kesucian rumah-rumah.

Tidak jadi soal betapa besar dianggap kelucuan dan hiburannya, dasarnya sungguh salah sekali. Bukan hanya itu, di dalamnya juga terdapat syirk. Sebab, dengan konsep dasarnya ialah, bahwa pada tanggal 31 Oktober itu batas tirai antara orang yang hidup dan yang mati itu berakhir dimana orang yang sudah mati akan hidup dan datang kembali untuk mengganggu orang yang hidup. Mereka mengganggu dan membawa penyakit untuk orang-orang yang hidup dan demikian pula hal-hal mengada-ada lainnya seperti sudah populer [diberitakan tentang Halloween].

Agar tidak diganggu oleh orang yang sudah mati itu dan atas nama penyelamatan dari gangguan arwah-arwah atau hantu-hantu itu maka dengan adanya para tukang sihir, yang dinamakan tukang sihir ini dipanggil, mereka akan mengambil hewan ternak dan hasil panenan dari orang-orang [yang sudah dikumpulkan] serta dijadikanlah kurban (tumbal)  dengan cara tertentu.

Api unggun juga merupakan bagian dari upacara ritual tersebut, yang dimaksudkan untuk menghentikan para arwah  tersebut dengan menakut-nakutinya. Sementara ritual pengorbanan [penyembelihan hewan ternak] ialah untuk menyenangkan mereka [agar tidak mengganggu orang yang masih hidup]. Pakaian kostum yang khusus dan topeng juga dipakai untuk menakut-nakutinya. Orang-orang Kristiani mempraktekkan ritual ini, terutama di Gereja Katolik, kemudian menyebarkannya juga.

Sekarang ini tradisi ikut-ikutan ini tersebar di seluruh dunia dikarenakan kedekatan penduduk dunia karena adanya Kekristenan, karena penyebaran oleh media dan karena interdependensi (hubungan saling mempengaruhi antar) penduduk dunia, terutama di Barat, Amerika, Kanada, di sini di Inggris, Jepang, Selandia Baru, Australia dan di banyak negara Eropa lainnya. Dan sebagaimana yang saya katakan bahwa praktek ini merupakan keburukan yang tersembunyi.

Orang-orang Muslim yang tinggal di Barat juga banyak memilih melakukannya. Anak-anak mengenakan berbagai kostum aneh dan mendatangi rumah ke rumah meminta sesuatu dengan tujuan untuk menyenangkan arwah. Menurut gagasannya jika yang di rumah itu memberikan sesuatu kepada anak-anak yang mengenakan kostum aneh itu, maka orang yang sudah mati itu tidak akan mengganggu rumah tersebut. Ini adalah syirik. Sungguh, semuanya itu dianggap sebagai hiburan, tetapi ide yang ada di belakangnya itu semuanya didasarkan atas syirik. Dan kemudian hal ini juga bertentangan dengan martabat dari seorang anak Ahmadi untuk mengenakan pakaian kostum yang aneh dan asing mendatangi dari rumah ke rumah seperti pengemis, walaupun hanya untuk sebatang coklat, tetapi minta-minta ini juga kesalahan.

Seorang Ahmadi itu harus menjaga martabatnya [kehormatannya] dan menjaga martabat itu harus kita tanamkan sejak anak-anak. Dan selanjutnya, hal-hal tersebut [Halloween] menjauhkan juga dari ajaran agama ini. Selain itu ternyata dalam berbagai fakta bahwa pesan dari Halloween itu adalah tegaknya keyakinan akan adanya tukang-tukang sihir, ruh jahat dan pemujaan kepada setan. Perlu diketahui bahwa, keyakinan yang dibebankan atas makhluk-makhluk yang diada-adakan – atas nama hiburan – pandangan yang sangat salah. Mereka hanya beranggapan bahwa hal ini hanyalah hiburan semata tidak lebih dari itu. Sungguh jelas salah sekali pandangan ini. Intinya ini semua dari segala sesuatunya bernuansa setaniah. Kita menghendaki bukan hanya mengimbau bagi anak-anak kita bahkan kita melarang keras untuk ikut serta di dalamnya. Sampai baru-baru ini, para penduduk kampung [yang merayakan Halloween] itu biasa memberikan sesuatu kepada anak-anak yang meminta-minta di pintu-pintu rumah dengan kepercayaan bahwa mereka pikir hal itu akan dapat menyelamatkan mereka dari kejahatan ruh orang-orang yang sudah meninggal.

Dikarenakan anak-anak menanyakan kepada saya mengenai hal-hal ini, begitu pula orang-orang dewasa meneruskan pertanyaan anak-anak tentang hal ini, karena itu selalu saya sampaikan bahwa ini adalah perilaku kebiasaan buruk dan sedemikian buruknya sehingga akan membawa ke arah syirik. Kemudian juga membuat anak-anak berani melakukan hal yang salah dengan mengatasnamakan keisengan yang lucu, mengatasnamakan hiburan. Mereka [anak-anak yang mengamalkan tradisi Halloween] memperlakukan orang tuanya dan lingkungan sekitarnya dengan keburukan akhlak — baik perbuatan maupun perkataannya juga —  sehingga kebiasaan buruk ini akan terbawa sampai dewasa sampai menjadi biasa. Ini adalah tindakan keburukan sampai-sampai bertambah menjadi tindakan kriminal [kejahatan]. Ia menimbulkan keberanian untuk melakukan jenis kejahatan dalam kebiasaan itu.

Di Barat, setiap hal yang buruk itu diperbolehkan dengan mengatasnamakan iseng yang lucu dan dengan atas nama hak dari anak-anak. Namun suara-suara yang menentangnya (Halloween) ini mulai timbul dari sini juga. Karena mereka merasakan kemerosotan akhlak dari praktek-praktek seperti itu.

Menjurus Kepada Perbuatan Kriminal

Selanjutnya, orang-orang yang bersuara menentang Halloween juga mengatakan hal ini, “Dengan kebiasaan merayakan Halloween, anak-anak menjadi berani dalam hal-hal menakut-nakuti orang lain sehingga menjadi bertambah berani lagi, seperti telah saya katakan, dan untuk melakukan kejahatan kriminal. Di satu segi, anak-anak belajar dari tayangan-tayangan yang salah dalam film-film. Kemudian jika praktek yang sedemikian itu suka dilakukan dengan atas nama iseng belaka, maka masyarakat seluruhanya akan menjadi rusak. Apa yang bisa dilakukan? Dan kemudian bagi kita, masalah yang besar adalah menghidupkan ruh orang yang sudah mati, seolah-olah menyaingi Tuhan dan jadinya dengan memelihara perbuatan itu sama dengan memilih melakukan jalan setan. Merupakan juga perbuatan syirik dengan menyaingi Allah Ta’ala atau begitu pula demikian dengan membiarkan anak-anak mengkhayalkan memberikan hadiah-hadiah itu dimaksudkan untuk menyenangkan ruh-ruh. Atau, menjadi tukang sihir lalu menakut-nakuti dengan sihir. Hal itu adalah yang  konyol dan konsep yang bukan-bukan, selain itu ini merupakan perbuatan yang sia-sia dan gambaran yang tidak masuk akal.

Seorang penulis yang bernama Dr. Grace Ketterman MD menulis di dalam bukunya, ‘You and Your Children’s Problems’ (Anda dan Masalah Anak Anda) sebagai berikut: ‘A Tragic, by-product of fear in the lives of children as early as preadolescence is the interest and involvement in super natural occult phenomenom.’ – “Satu hal yang menyedihkan, hasil dari rasa takut dalam kehidupan anak-anak begitu pula sejak masa remaja ialah ketertarikan dan keterlibatan dalam fenomena klenik supranatural.”

Sekarang ini ritual Halloween tidak hanya berhenti sampai mengenakan kostum aneh dan mengunjungi rumah ke rumah meminta sesuatu, tetapi anak-anak yang lebih tuanya dengan sengaja menakut-nakuti juga orang di rumahnya. Dan masalah lain yang ditimbulkan sebagai akibatnya mengganggu juga terhadap masyarakat di sekitarnya dan sampai tahap merusaknya. Di sana, membuat pusing kedua orangtuanya dan hingga sampai tahap merusak kehidupan mereka sendiri. Untuk itulah saya ingin sekali lagi menasihatkan kepada orang-orang Ahmadi untuk sekuat tenaga menghindarkan diri dari perkara ini. Dengan cara, para Ahmadi baik anak-anak ataupun dewasa lebih meningkatkan lagi hubungannya dengan Tuhan. Pengenalan kepada-Nya itulah tujuan [kehidupan] kita.

Makna Beribadah yang Hakiki

Amalkanlah perkara-perkara yang merupakan hukum [perntah] Tuhan. Janganlah mewarnai diri dalam pengaruh budaya Barat di mana mereka itu menghilangkan perbedaan antara yang baik dan buruk, melupakan Allah Ta’ala dan keagungan Zat-Nya. Berangkat dari jenis syirik yang tersembunyi hingga berakibat menjadi syirik yang nyata juga. Semoga Allah Ta’ala melindungi setiap orang dari keburukan ini.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Orang menyatakan ia sudah menyembah (ibadah) kepada Tuhan, tetapi apakah bisa disebut ibadah hanya dengan melakukan banyak-banyak bersujud, rukuk dan berdiri? Ataukah hanya dengan banyak membaca tasbih bisa sampai pada cahaya Ilahi? Melainkan, sebenarnya yang namanya ibadah itu hanyalah dimungkinkan dengan tertarik kearah kecintaan kepada Tuhan sampai-sampai wujudnya mengalir dari jalan yang rendah.

Pertama, keyakinan yang sempuna akan keberadaan Tuhan, selanjutnya menyadari akan husn (keindahan) dan ihsaan (kemurahan, kebaikan) Tuhan, kemudian terdapat hubungan penuh kecintaan sedemikian rupa sehingga kegelisahannya itu selalu ada di dalam hatinya yang keadaannya itu dapat terlihat dari wajahnya setiap saat. Kebesaran Tuhan terpatri dalam hatinya pada tingkatan yang sedemikian rupa sehingga seluruh yang ada di dunia ini seolah-olah mati bila diperbandingkan, dan setiap rasa takut itu hanyalah yang berkaitan dengan Keberadaan-Nya. Ada kelezatan dalam kepedihan karena-Nya. Kegembiraannya dialami kalau dengan berada menyepi sendiri dan hanya dengan Dia, dan tanpa Dia hatinya tidak memperoleh kepuasan dari siapa pun juga.

Jika keadaan seperti itu sudah diraih, itulah yang dinamakan ibadah. Namun keadaan seperti ini tidak akan bisa dibangkitkan tanpa rahmat karunia yang khusus dari Tuhan. Untuk itulah perlu memanjatkan doa ini “Iyya-Ka na’budu wa iyya-Ka nasta’iin“.(Al Fatihah: 5), yakni “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah (menyembah), namun kami sampai kapan pun takkan memenuhi hak penyembahan kepada Engkatu sehingga datang dari Engkau pertolongan yang khas.”

Sesungguhnya peribadahannya (penyembahannya) kepada Allah setelah ditetapkan sebagai mahbub hakiki (kekasih sejati) oleh-Nya, inilah tingkat yang setelahnya tidak ditemukan adanya derajat lagi. Namun derajat seperti ini tidak akan bisa diraih tanpa pertolongan-Nya. Tanda telah meraih hal ini ialah tertanamnya dalam hati akan keagungan Tuhan, kecintaan Tuhan, tawakkal hanya kepada-Nya, hanya mencintai-Nya dan memilih mengutamakan-Nya dari segala sesuatu. Mereka sedemikian rupa sangat mengerti maksud dan tujuan kehidupan ini.

Apabila mereka diperintah oleh-Nya untuk seperti Hadhrat Ibrahim a.s. yang dengan tangannya sendiri harus menyembelih putra kesayangannya, atau terpaksa dituntut untuk dimasukkan ke dalam kobaran api, maka atas perintah-perintah yang sangat ekstrim ini mereka laksanakan dengan semangat kecintaan dan berusaha keras dalam ketaatan untuk mendapatkan ridha dari Aqa-o-Karim (Sang Majikan Yang Maha Mulia), sehingga tidak sampai terjadi bahwa ada sedikit saja cacat dalam hal ketaatan mereka.

“Pintu yang Sempit” dan “Minuman yang Pahit”

Ini adalah pintu yang sangat sempit dan inilah minuman serbat yang sangat pahit nan pedih. Sangat sedikit orang yang bisa melalui pintu ini dan meminum minuman serbatnya. Dengan enteng (bukan masalah besar baginya) dalam hal menghindari zina, baginya sangat mudah untuk tidak membunuh siapapun yang bukan haknya, ia juga tidak merasa terpaksa ntuk tidak berdusta walaupun dalam ancaman, bahkan, dalam segala hal, ia memilih mengutamakan Tuhan dan oleh karena itu, untuk itu dengan kecintaan yang benar dan semangat yang benar memilih segala kepedihan dan kepahitan dunia karena-Nya, bahkan dengan tangannya sendiri menciptakan berbagai kepedihan maupun kepahitan, inilah martabat yang tidak akan bisa dicapai kecuali oleh orang-orang yang shiddiq (penuh kelurusan dan kebenaran).

Inilah ibadah-ibadah itu yang diperintahkan untuk ditunaikan oleh manusia, dan orang yang bisa membawakan (menjalani) ibadah-ibadah ini, maka secara teratur (tersusun rapi) satu perbuatan dari Allah Ta’ala atas satu perbuatannya, itulah yang dinamakan in’aam (nikmat-nikmat).

Sebagaimana Allah Ta’ala telah mengajarkannya dalam Quran Syarif yakni berupa doa sebagai berikut: اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ  ‘Ihdinash shirathal mustaqiim – shiraathalladziina an’amta ‘alaihim’ (Al Fatihah: 6-7) yang artinya: ‘Wahai Tuhan kami! Tunjukilah kami jalan yang lurus, yakni jalannya orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat atas mereka dan diistimewakan dengan inayah Engkau yang khusus.’

Inilah kaidah di hadirat Ahadiyyat (Tuhan Yang Esa, sunnatullah) bahwa ketika pengkhidmatan (pengabdian, penghambaan) seorang hamba diterima maka pasti turun nikmat yang Dia atur atasnya. Maka adanya keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda yang dialami seseorang yang tidak bisa diusahakan oleh orang lain, ini juga merupakan nikmat-nikmat dari Allah Ta’ala, yang dianugerahkannya kepada hamba-hamba-Nya yang istimewa.”[6]

Semoga Tuhan memberikan taufik kepada kita semua supaya ada kemampuan pada kita untuk dapat memenuhi harapan seperti yang sudah dinyatakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., semoga kita selalu menjadi orang yang senantiasa berusaha keras untuk ini, terus berusaha seberapapun yang bisa kita lakukan dan kita akan terus untuk berusaha keras, maka Insya Allah, Allah Ta’ala akan memberikan karunia-Nya. Semoga Allah Ta’ala mengabulkannya!

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‑ أُذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang agung

[2] Sunan at-Tirmidzi, Kitab ad-Da’waat, bab maa jaa-a fi ‘aqdit tasbih bil yad

Dari Abdullah bin Yazid al-Hathmi al-Anshari dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau saw. seringkali berdoa demikian.

[3] Surah az-Zumar, 39 : 4

وَ الَّذِیۡنَ اتَّخَذُوۡا مِنۡ دُوۡنِہٖۤ  اَوۡلِیَآءَ ۘ مَا نَعۡبُدُہُمۡ  اِلَّا لِیُقَرِّبُوۡنَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  زُلۡفٰی

[4][4] Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad Abu Musa Al’Asy’ari jilid 6, hal 614-615, hadits no 19835, Darul Kutubil ‘Ilmiyah, Beirut edisi th 1998

 عَنْ أَبِي عَلِيٍّ رَجُلٍ مِنْ بَنِي كَاهِلٍ قَالَ: خَطَبَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ. فَقَامَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَزْنٍ، وَقَيْسُ بْنُ المُضَارِبِ فَقَالَا: وَاللَّهِ لَتَخْرُجَنَّ مِمَّا قُلْتَ أَوْ لَنَأْتِيَنَّ عُمَرَ مَأْذُونٌ لَنَا أَوْ غَيْرُ مَأْذُونٍ. قَالَ: بَلْ أَخْرُجُ مِمَّا قُلْتُ، خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ؛ فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ» . فَقَالَ لَهُ: مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ، وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: قُولُوا: «اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ» 

Dari Abu Ali, seorang yang berasal dari Bani Kahil, berkata: “Abu Musa Al-Asy’ari berkhutbah di hadapan kami seraya berkata: ‘Wahai sekalian manusia, takutlah kalian kepada syirik ini, karena ia lebih halus daripada rayapan semut.” Kemudian Abdullah bin Hazn dan Qais bin Al-Mudlarib mendatangi Abu Musa seraya berkata: “Demi Allah, engkau harus menguraikan apa yang engkau katakan atau kami akan mendatangi Umar, baik kami diizinkan atau tidak.” Lalu Abu Musa berkata: “Kalau begitu aku akan menguraikan apa yang aku katakan. Pada suatu hari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam pernah berkhutbah di hadapan kami seraya bersabda: ‘Wahai sekalian manusia, takutlah pada syirik ini, karena ia lebih halus daripada rayapan semut.’ Kemudian orang yang dikehendaki Allah bertanya kepada beliau: ‘Bagaimana kami bisa menghindarinya, sedangkan ia lebih halus dari rayapan semut, ya Rasulullah?’ Beliau menjawab: ‘Ucapkanlah: [yaitu doa tersebut diatas].” (at-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath no. 3503) (at-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath)

[5] Risalah Al Wasiyat; Ruhani Khazain, jilid 20, hal 306-307

[6] Haqiqatul Wahyi; Ruhani Khazain, jilid 22, halaman 54-55