Download

Bulan Ramadhan Yang Beberkat

 Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 28 Agustus 2009/Zhuhur 1388 HS

Di Baitul Futuh, London, U.K.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ ﴿۱۸۶﴾

 

Wa idzâ sa-alaka ‘ibâdî ‘annî fa-Innî qorîb, Ujîbu da’watad-dâ’i idzâ da’ân, fal-yastajîbû Lî wal-yu-minû Bî la’allahum yarsyudûn –

 

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau mengenai Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam petunjuk.” (Al-Baqarah:186)

Tidak terhitung ihsan Allah Ta’ala yang Dia telah anugerahkan kepada kita untuk melihat satu lagi bulan suci Ramadhan yang diberkati. Hari ini semata-mata hanya dengan karunia-Nya, kita tengah melewati hari yang ke-enam bulan suci Ramadhan ini. Jika manusia merenungkan, maka tidak terhitung karunia-karunia dan ihsan-ihsan Allah Ta’ala. Tatkala Allah Ta’ala berfirman ini:

وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪۶۹﴾

— Walladzîna jâhadû fî-Nâ la-Nahdiyannahum subula-Nâ, wa innal-Lôha lama’al-muhsinîn —

“Dan orang-orang yang sepenuhnya berusaha berjumpa dengan Kami, maka Kami pasti akan menganugerahkan taufik kepada mereka untuk datang di jalan-jalan Kami.” (Al-Ankabut:69)

Dia berfirman bahwa barangsiapa yang berusaha datang, maka Allah Ta’ala akan menganugerahkan taufik untuk datang kepada-Nya. Tetapi Allah Ta’ala tidak akan membiarkan usaha hamba-hamba-Nya menjadi sia-sia. Carilah sendiri jalan untuk datang kepada-Ku, jika mendapatkan sendiri jalan yang benar maka hal itu baik. Aku akan pegang dan Aku akan lindungi kalian dari agar tidak terjerumus ke dalam api. Tidak, bahkan Allah Ta’ala di setiap zaman –sebagaimana sunnah-Nya, dan dengan perantaraan para nabi-Nya‑ Dia telah memperlihatkan jalan yang membawa manusia kepada Allah Ta’ala tatkala potensi-potensi manusia telah mencapai masa puncaknya. Sesungguhnya ‑dengan karunia Allah Ta’ala‑ melalui evolusi praktis yang telah dicapai manusia, Allah Ta’ala membangkitkan Rasulullahsaw.. Dan setelah membangkitkan beliausaw, lalu dengan perantaraan syariat-Nya yang sempurna, Dia memperlihatkan jalan untuk datang kepada-Nya, agar manusia terhindar dari kehancuran dan jatuh ke dalam jahannam, kemudian mereka sukses menapaki jalan-jalan yang membawa menuju kepada Allah Ta’ala. Dan salah satu diantara jalan-jalan itu adalah bulan suci Ramadhan.

Bulan suci Ramadhan ini membawa berkat-berkat yang tidak terhitung. Sebagaimana yang tercantum dalam Al-Quran Karim, kita dapat mengetahui dari ayat yang telah saya tilawatkan ini dan dari ayat-ayat yang sebelumnya. Ada juga dalam satu ayat disebutkan bahwa sarana untuk mendekatkan pada-Nya adalah puasa. Allah Ta’ala juga telah mewajibkan puasa untuk kaum para nabi sebelumya dan juga wajib atas orang-orang Islam hari ini. Tetapi sebagaimana Islam adalah agama yang sempurna, Allah Ta’ala telah memberikan gambaran puasa di dalam Islam dalam corak yang terbaik dan Dia telah memberikan pelajaran tentang hal itu, yakni adanya penetapan waktu-waktu makan sahur dan berbuka puasa. Selain itu telah disebutkan beberapa keringanan-keringanan dimana dalam kondisi sakit dan dalam keadaan perjalanan telah diberikan kebebasan untuk tidak melakukan puasa, kemudian menyempurnakan bilangan itu sesudahnya. Namun, jika mampu maka terdapat perintah juga untuk membayar fidyah. Dan dikarenakan penyakit yang permanen/tetap, ada perintah juga untuk membayar fidyah. Tetapi perhatian terhadap ibadah-ibadah dan tilawat Al-Quran, bagaimana pun juga Allah Ta’ala telah mewajibkannya kepada seorang muslim dan Dia telah menarik perhatiannya ke arah itu.

Karena ini merupakan bulan yang penuh berkat, oleh karena itu seorang mukmin hendaknya senantiasa ingat bahwa penyakit-penyakit ringan dan rasa lemah hendaknya jangan dijadikan alasan untuk meninggalkan puasa. Ketaatan sempurna seorang mukmin baru dapat diketahui, manakala demi untuk Allah Ta’ala ia meninggalkan makan minum dan sebagian pekerjaan yang jaiz (dibolehkan) sampai satu waktu yang ditentukan. Dan demi untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala ia melakukan usaha sebanyak-banyaknya karena pada hari-hari itu Allah Ta’ala memaafkan dosa-dosa hamba-Nya. Untuk menganugerahkan kedekatan-Nya Dia menciptakan sarana khusus, salah satu di antaranya Dia berfirman: لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا

— La-Nahdiyannahum subula-Na —

Kemudian setiap saat, setiap musim, setiap zaman, dan kepada manusia di setiap negara, Dia berfirman bahwa ‘Kami memperlihatkan jalan untuk datang kepada Kami, sehingga setiap orang bisa berusaha dengan segala upayanya untuk datang kepada Kami’.

Seolah-olah ini merupakan pengumuman umum dan setiap saat, siapapun yang dengan niat baik lalu pergi kepada Allah Ta’ala, maka ia akan menjadi orang yang memiliki bagian dari karunia-karunia Allah Ta’ala. Tetapi bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang didalamnya Dia telah mengalirkan satu mata air karunia khusus akibat dari pengurbanan-pengurbanan yang seorang hamba lakukan untuk Allah Ta’ala dan atas perintah-Nya. Selain itu, untuk kemajuan kerohanian hamba-hamba-Nya, Dia telah memperhatikannya secara khusus. Dia telah menyediakan lingkungan yang sedemikian rupa memberikan bantuan kepada manusia dalam menempuh jalan-jalan kebaikan-kebaikan dengan cepat. Allah Ta’ala telah menciptakan sarana-sarana kemudahan-kemudahan bagi hamba-hamba-Nya yang berusaha untuk meraih keridhaan-Nya. Untuk pengabulan doa-doa hamba-Nya, Dia telah mengubah semua kejauhan itu menjadi kedekatan-kedekatan.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh  Hadhrat Abu Hurairahra. bahwa Rasulullah  saw bersabda:

ِاذَاجَاءَ َرمْضَانُ فُتِحَتْ اَبْوَابُ اْلجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ اَبْوَابُ الَّناِر وَصُفِّدَتِ الَّشيَاطِيْنُ

(صحيح مسلم كتاب الصيام باب فصل فضل شهر رمضان حديث نمبر 2384)

— Idzâ jâ-a romdhônu futihat abwâbul-jannah wa ghulifat abwâbun-nâr wa shufidatisy-syayâthîn —

Artinya:

Rasulullahsaw bersabda: “Manakala bulan suci Ramadhan itu tiba, maka pintu surga dibukakan dan pintu neraka ditutup dan syaitan dibelenggu.”

Camkanlah hal ini! Allah Ta’ala melalui perantaraan Rasulullahsaw., telah menggambarkan keadaan itu sedemikian rupa dan menjelaskan bahwa inilah situasi di bulan Ramadhan. Jadi, bukankah hal ini merupakan nasib mujur bagi kita, bahwa Dia telah menyediakan peluang kepada kita untuk mengambil faedah dan meraih karunia Allah Ta’ala dengan menjalani Ramadhan sekali lagi? Sungguh, Allah Ta’ala dalam kondisi biasa sekali pun untuk membalas satu kebaikan, Dia memberikan ganjaran beberapa kali lipat. Sedangkan hukuman dari perbuatan dosa, Dia mengganjar dengan ganjaran yang sama. Tetapi pada hari-hari Ramadhan ini, ‑sebagaimana terbukti dari hadits tersebut‑ terlihat bahwa karunia-karunia Allah Ta’ala itu tidak ada batasnya. Dia tengah menurunkan karunia yang tidak terhingga pada hamba-hamba-Nya; dan ketika kondisi biasa, syaitan dibiarkan bebas. Syaitan dari setiap jalan berusaha menjerumuskan hamba-hamba-Nya. Dan terkadang orang-orang yang melakukan kebaikan juga terperangkap dalam tipu dayanya dan kemudian terjadi kemalasan atau kelambatan dalam langkah maju menuju kebaikan-kebaikan. Pada dasarnya syaitan tengah membawa manusia ke arah keburukan  dalam bentuk tampilan kebaikan. Tetapi di sini Rasulullahsaw. mengumumkan dan sesungguhnya dengan izin Allah Ta’ala beliau mengumumkan bahwa وَصُفِّدَتِ الَّشيَاطِيْنُ – shuffidatisy-syayâthîn –  syaitan-syaitan itu dibelenggu. Dan ketika syaitan menempatkan murid-muridnya di berbagai jalan untuk menyesatkan manusia, maka mereka semuanya itu dibelenggu. Jadi merupakan peluang bahwa dengan mengambil faedah dari lingkungan ruhani Ramadhan ini ‑sambil melakukan segala macam kebaikan-kebaikan‑ seberapa pun banyaknya pintu-pintu surga bisa dimasuki, maka berusahalah untuk itu. Berusahalah untuk meraih ketinggian di mana jangkauan syaitan tidak dapat sampai ke sana. Dan kemudian hendaknya berusaha untuk terus menjadikan standar-standar itu sebagai bagian dalam hidup kita. Buatlah standar ibadah-ibadah itu setinggi-tingginya. Majulah terus dalam sedekah dan infak-infak lainnya, karena kita harus mengamalkan contoh majikan kita,  Muhammadsaw, yang mana tangan beliausaw. untuk bersedekah dalam bulan Ramadhan senantiasa berjalan seperti badai angin yang dahsyat.

Kalian hendaknya senantiasa berusaha mencari standar-standar yang baru dalam melaksanakan akhlak yang mulia, karena ini pun merupakan sarana yang sangat besar untuk mendekatkan kepada Allah Ta’ala. Setelah membaca Al-Quran lalu hendaklah berupaya secara khusus untuk mengamalkan hukum-hukumnya juga. Dan hendaknya harus dilakukan dengan khusuk dan penuh ketekunan, karena ini pun akan menjadi jalan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Jadi kita merupakan orang yang bernasib mujur, jika dalam hari-hari Ramadhan ini kita mengambil faedah sebanyak-banyaknya dari berkat-berkat Ramadhan ini dan dengan mengambil manfaat darinya, maka kita menjadi hamba Allah Ta’ala yang tulus. Supaya kita termasuk di dalam kelompok orang-orang tersebut yang berkenaan dengan itu tertera dalam suatu hadits. Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairahra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Semua amal anak Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa. Jadi puasa dilakukan untuk-Ku. Dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya dan puasa itu adalah tameng. Dan barangsiapa yang berpuasa di antara kalian, maka jangalah membicarakan perkara-perkara yang bersifat syahwat dan jika ada yang mencaci maki dan ada yang mengajak bertengkar, maka dalam memberikan jawaban katakanlah padanya bahwa ‘saya sedang berpuasa’. Demi Dzat yang di tangan kekuasaan-Nya terletak jiwa Muhammad saw. bahwa bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah Ta’ala lebih harum dibandingkan dengan harumnya kasturi. Maha Suci Allah Ta’ala. Ada dua kegembiraan bagi orang berpuasa. Pertama, ketika berbuka puasa dia gembira dan yang kedua ketika dia akan berjumpa dengan Tuhannya, maka dia akan gembira karena puasanya.”[1]

Jadi hendaknya kita menunaikan puasa dengan menjadikan setiap gerak-gerik kita, setiap amal dan perbuatan kita menjadi sarana keridhaan Allah Ta’ala dari dunia ini hingga wafat dan dapat mempertemukan kita dengan Allah Ta’ala. Kita hendaknya ingat bahwa setiap orang berpuasa yang tidak memenuhi semua syarat-syarat puasa, kata-kata Hadits  adalah:

وَاِذَا أَلْقَى رَبَّهُ فَرَحَ بِصَوْمِهِ

Wa idzâ alqô Robbahu faraha bi-showmihi — [2]

Yakni ketika ia berjumpa dengan Tuhannya, maka dia akan gembira karena puasanya. dan berkenaan dengan itu Rasulullahsaw. memperingatkan bahwa hal itu tidak bisa menjadi sempurna jika hanya berpuasa saja. Jika kalian berpuasa, maka kalian akan gembira karena berjumpa dengan Allah Ta’ala. Tetapi untuk pengabulan puasa, syarat-syarat puasa pun harus kalian penuhi.

Berkenaan dengan itu ada sebuah riwayat lagi, Hadhrat Abu Hurairahra. meriwayatkan bahwa “Barangsiapa yang berbohong dalam kondisi puasa dan dia tidak mau meninggalkan berkata dusta, maka Allah Ta’ala sama sekali tidak memerlukan meninggalkan makan dan minumnya.”[3]

Jadi, di dalam hadits pertama, orang-orang yang menghindarkan diri dari keburukan-keburukan, ia diberikan khabar suka oleh Allah Ta’ala dan di dalam hadits itu diberitahukan bahwa puasa orang yang tidak menghindarkan diri dari keburukan-keburukan, hal itu bukanlah puasa melainkan hanya menahan lapar saja. Dan seseorang yang terus menerus menahan lapar tidak ada perhatian terhadap Allah Ta’ala. Sehingga orang yang menahan lapar itu, kebaikan-kebaikannya tidak akan bertambah. Jadi seorang mukmin yang hakiki perlu berusaha untuk senantiasa memohon karunia-karunia-Nya agar menjadi orang yang meraih berkat dari puasa di suasana Ramadhan yang khusus ini. Di sini orang-orang baik dan orang-orang yang melangkah dalam kebaikan-kebaikan serta orang-orang yang berusaha mencari keridhaan Allah Ta’ala juga ada. Kemudian di sini pun ada orang-orang yang tenggelam dalam keburukan-keburukan, tenggelam dalam kekotoran dan terjerumus dalam keburukan-keburukan zina dan meminum minum-minuman keras. Ada juga orang-orang yang sedemikian rupa mereka berpuasa lalu atas nama agama mereka saling membunuh satu dengan yang lain. Ada juga orang-orang yang menganggap bahwa dalam bulan Ramadhan menyakiti orang-orang Ahmadi dan mensyahidkannya merupakan pekerjaan yang mendatangkan pahala. Maka apakah orang yang melakukan kebaikan-kebaikan ini dan orang-orang yang melakukan keburukan-keburukan hanya karena bulan Ramadhan yang penuh berkat mereka akan  menjadi sama. Oleh karena itu untuk orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan, pintu surga dibukakan. Apakah untuk orang-orang yang terjerumus dalam keburukan-keburukan juga pintu surga dibukakan? Sebagaimana bagi orang-orang yang melakukan kebaikan-kebaikan dan orang-orang yang melakukan ibadah mereka terselamatkan dari neraka jahannam dan syaitan-syaitan dipenjarakan? Jika syaitan-syaitan juga dipenjarakan, maka perilaku syaitan tidak akan menjerumuskannya di dalamnya, bahkan tentunya mereka akan melakukan kebaikan-kebaikan.

Jadi sebagian yang berkaitan dengan hal diatas terdapat syarat dengan amal perbuatan. Barangsiapa yang mencari karunia Allah Ta’ala, dia berusaha untuk memperoleh keberkatan dari bulan Ramadhan, maka untuknya Allah Ta’ala akan menyiapkan sarana lebih dari kondisi biasa. Karena orang yang berpuasa dan dia melakukannya dengan niat supaya dia dapat membuat Allah Ta’ala ridha padanya dan demi untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala, dia meninggalkan semua keburukan-keburukan, bahkan perkara-perkara yang jaiz (yang diperbolehkan) pun dia tinggalkan. Jadi untuk mengambil faedah dari kemudahan-kemudahan khusus yang Allah Ta’ala telah berikan itu, dengan memohon karunia-Nya ia perlu tunduk sujud di hadapan-Nya. Amanat yang Allah Ta’ala telah berikan melalui perantaraan Rasulullah saw. atas pertanyaan para sahabat atau kemungkinan ada pertanyaan, maka untuk hal itu senantiasa terpelihara di dalam Al-Quran, sehingga menjadi khabar suka bagi kita.

Ayat yang saya bacakan tadi sebagaimana telah saya beritahukan bahwa diantara perintah-perintah puasa yang tertera di dalam ayat ini, Allah Ta’ala memberikan khabar suka tentang kedekatan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya dan pengabulan doa-doa dari mereka. Dan sebagaimana telah saya kemukakan bahwa di dalam hadits-hadits, disana juga dijelaskan tentang ayat-ayat ini. Di dalam hadits-hadits puasa juga disebutkan berkenaan sebagian perintah dan larangannya. Di sini pun Allah Ta’ala menyatakan bahwa untuk datang dan memperoleh kedekatan kepada-Nya serta pengabulan doa hamba-hamba-Nya terdapat beberapa syarat yang Dia tetapkan. Hal pertama Dia berfirman, سَاَلَکَ عِبَادِیۡ

— Sa-alaka ‘ibâDî —

Hamba-Ku bertanya kepada-Ku. Kemudian Dia berfirman bahwa untuk memperoleh karunia dan berkat dari bulan Ramadhan serta untuk melihat pemandangan pengabulan doa, hal itu tidak diperuntukkan bagi setiap orang. Dia berfirman “Hamba-hamba-Ku”, yakni orang-orang yang ingin menjadi hamba Allah Ta’ala dan memang terdapat orang-orang seperti itu, maka kedekatan-kedekatan inilah yang akan mereka raih. Mereka merupakan hamba-hamba Allah Ta’ala yang istimewa atau mereka ingin menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala yang istimewa. Inilah penzahiran dari setiap amal mereka:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ

— Iyyâ-Ka na’budu wa iyyâ-Ka nasta’în —

Hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan”. (Al-Fatihah: 5)

Di sini Allah Ta’ala telah memberitahukan tanda hamba-hamba-Nya yang istimewa ini bahwa mereka menanyakan – عَنىِّ — ‘an-Nîtentang Aku, yakni Allah Ta’ala berfirman bahwa mereka bertanya tentang Aku, mereka mencari Aku. Keinginan-keinginan mereka bukanlah keduniawian, ketika berjumpa Allah Ta’ala, maka berdoalah untuk kemajuan urusan mata pencaharian. Untuk itu mohonlah kepada-Nya. Berdoalah supaya keinginan-keinginan duniawi lainnya terpenuhi. Tidak, bahkan keresahannya adalah beritahukanlah di mana Tuhanku? Aku resah dalam mencari Tuhanku. Dunia tengah melangkah maju ke arah anti Tuhan. Buku-buku penentangan terhadap keberadaan wujud Tuhan tengah marak diterbitkan di mana-mana. Dalam kondisi demikian, saya juga khawatir terhadap diri saya bahwa saya beriman kepada Allah Yang Esa, hanya satu keinginan saya yaitu saya memperoleh ‘irfan (pengetahuan) tentang Dzat Allah Ta’ala sedemikian rupa, sehingga tidak ada benda duniawi dan kemilaunya anti Tuhan dan tipuan yang bisa membuat saya bergeser dari menjadi seorang Islam Ahmadi. Dan untuk memenuhi keinginan itu saya melaksanakan ibadah puasa dengan penuh perhatian khusus. Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang dengan tulus mencari Aku! Aku dekat denganmu. Yakni siapapun orang Islam yang berusaha untuk menjadi muslim hakiki; yakni muslim yang beriman kepada syariat sempurna yang diturunkan kepada Rasulullahsaw; yang mengamalkan sunnah dan sabda-sabda Rasulullah saw. dalam mencari Allah Ta’ala. Berkenaan dengan orang yang mencintai Rasulullah saw. untuk meraih kecintaan Allah Ta’ala. Dia berfirman bahwa Aku dekat dengan mereka dan kapan saja hamba-hamba-Ku menyeru kepada-Ku, maka Aku menjawabnya.

Jadi manakala ingin memulai rangkaian tanya-jawab dengan Allah Ta’ala, maka yang paling utama adalah perlu mencari Allah Ta’ala dengan tulus. Dan kemudian untuk mencari Allah Ta’ala, Dia sendiri juga telah memberitahukan jalannya ‑yang mana baru saja saya telah sebutkan‑ yaitu menegakkan perintah Al-Quran pada diri sendiri, mengamalkan sunnah Rasul dan mencintai Rasulullahsaw. hingga puncak cinta yang setinggi-tingginya. Setialah dengan Imam di zaman ini yang telah sempurna dari segi tanda-tanda langit dan bumi yang sesuai dengan nubuwatan Al-Quran dan Rasulullah saw. Dengan tulus bai’at di tangan pencinta sejati Rasulullah saw. Jadi, tidaklah cukup hanya menyatakan diri sebagai seorang Muslim saja. Inilah topik yang diterangkan mengenai tidak cukup hanya mengatakan اَسْلَمْنَا – aslamnâkami masuk Islam. Bahkan fahamilah topik:

‑ Yu-minû Bî –

Mereka beriman kepada-Ku.

Sempurnakanlah iman kalian dan untuk menyempurnakan iman janganlah membuat definisi sendiri, tetapi datanglah ke arah iman yang sempurna melalui jalan yang telah Allah Ta’ala dan iman yang telah diberitahukan oleh Rasul-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

وَالْيُؤْ مِنُوْ بِى

wal-yu-minû Bî

dan hendaknya mereka beriman pada-Ku. Bagaimana meraih standar “Iman kepada-Ku? Ini baru akan terpecahkan manakala ada pengamalan:

Fal-yastajîbû Lî —

Mereka menyambut seruan-Ku.

Yakni jika kalian menyambut seruan-Ku, kalian menjadi orang-orang yang mendengar perkataan-perkataan-Ku, dan ini baru akan dapat diamalkan manakala ada upaya mengamalkan semua hukum-hukum Al-Quran. Untuk berjalan di atas jalan-jalan takwa, untuk meraih ridha Allah Ta’ala dan untuk menyambut seruan Allah Ta’ala, perlu adanya usaha untuk menunaikan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak hamba-hamba-Nya dengan tulus. Kalian juga perlu menaruh perhatian dengan tulus pada ibadah-ibadah kepada Allah Ta’ala, maju dalam hal itu serta untuk menunaikan hak-hak hamba-hamba-Nya perlu juga meningkatkan dalam akhlak mulia.

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda: “Orang-orang yang merupakan pengumpul dari dua perkara itu. Yakni haququllah dan haququl’ibad, mereka itulah yang dikatakan muttaqi (orang yang bertakwa). Berkenaan dengan itu dapat dikatakan bahwa mereka sedang mencari Allah Ta’ala. Mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang yang mengucapkan labbaik atas seruan Allah Ta’ala. Jika ada sebagian akhlak dan ada penunaian sebagian hak-hak, tapi sebagian tidak dipedulikan, maka itu tidak bisa dikatakan muttaqi. Jadi agar doa dapat dikabulkan dan untuk meraih kedekatan Allah Ta’ala, maka kita perlu meraih standar taqwa ini. Jadi, kita hendaknya melakukan usaha dengan tulus dalam bulan Ramadhan ini agar kita termasuk orang-orang yang beribadah kepada Allah Ta’ala, menjadi orang-orang yang memahami keesaan Allah Ta’ala dan kita menjadi orang-orang yang berusaha dengan segala macam kemampuan untuk menunaikan hak-hak-Nya dan kita menjadi orang yang menunaikan hak-hak shalat kita.

“Kami telah berusaha menjadi orang-orang yang menunaikan shalat lima waktu. Akan tetapi ada saja shalat yang tertinggal.” Mendengar pernyataan ini, saya juga merasa sangat heran dan juga sedih. Tatkala ada shalat yang tertinggal, maka kemudian bagaimana bisa memohon kepada Allah Ta’ala untuk pengabulan doa-doa?

Begitu juga untuk memiliki semua akhlak mulia perlu ada usaha dengan rasa perih. Jadi dari antara kita hendaknya setiap orang ada usaha bahwa Ramadhan adalah sarana untuk meraih standar taqwa setinggi-tingginya dan kedekatan pada Allah Ta’ala dan darinya mengambil faedah sepenuhnya. Allah Ta’ala yang telah membuka pintu-pintu surga untuk kita, dari antara kita hendaknya setiap orang berusaha masuk sambil memohon pertolongan Allah Ta’ala. Maka baru kita akan dikatakan sebagai orang yang melangkah untuk mencari kedekatan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada kita untuk mengamalkannya.

Hadhrat Masih Mau’ud as. dengan merujuk kepada ayat ini, beliau bersabda: Di satu tempat, Allah Ta’ala berfirman: “Maka hendaknya dengan doa-doa, mereka mencari pertemuan dengan-Ku dan berimanlah kepada-Ku supaya mereka memperoleh kesuksesan.”[4].

Jadi ini merupakan bulan khusus pengabulan doa-doa dan dari semua doa yang paling besar yang hendaknya kita mohonkan adalah supaya mencari pertemuan dengan Allah Ta’ala, mencari kedekatan dengan-Nya, keinginan berjumpa dengan-Nya. Darinya dipanjatkan doa untuk berjumpa dengan Allah Ta’aa. Tatkala berjumpa dengan Allah Ta’ala, maka keinginan-keinginan yang lain akan sempurna dengan sedirinya. Kita berdoa supaya Allah Ta’ala menganugerahkan taufik-Nya kepada kita.

Tetapi di sini ada satu hal yang perlu diingat mengenai definisi doa, dan juga Hadhrat Masih Mau’ud as. pernah bersabda mengenai apa doa itu dan bentuk doa apa saja yang hendaknya dipanjatkan. Berkenaan dengan itu Hadhrat Masih Mau’ud bersabda:

“Janganlah beranggapan bahwa kita setiap hari berdoa dan semua shalat itu adalah doa yang kita baca. Sebab doa yang tercipta dengan sarana karunia dan setelah ma’rifat, doa itu memiliki warna dan kondisi yang berbeda. Doa merupakan sesuatu yang mem-fana-kan (meleburkan). Doa merupakan api yang melunakkan. Doa merupakan rahmat yang menarik satu daya tarik magnet. Doa merupakan maut yang kemudian pada akhirnya dapat menghidupkan. Doa merupakan satu ombak dahsyat yang pada akhirnya menjadi sebuah bahtera. Setiap perkara yang rusak berserakan akan terjadi dari itu dan setiap racun, akhirnya akan menjadi obat karenanya.”[5]

     Kemudian beliau as. bersabda:

“Doa datang dari Allah Ta’ala dan pergi kepada Allah Ta’ala. Dengan doa Allah Ta’ala sedemikian rupa menjadi dekat. Sebagaimana halnya jiwamu dekat denganmu. Nikmat pertama doa itu adalah di dalam diri manusia timbul perubahan suci”. (Pidato Sialkot; Ruhani Khazain, Jld. 20, Hal. 223)

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan makrifat kepada kita yang dengan itu kita dapat memahami hakikat doa dan kita bisa mengerti falsafah memperoleh kedekatan Allah Ta’ala. Semoga setiap amal dan perbuatan kita untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Di dalam Ramadhan akibat daripada doa yang melaluinya Allah Ta’ala datang mendekat dengan hamba-Nya. Perubahan-perubahan itu akan timbul di dalam diri kita yang senantiasa terus menampakkan keistimewaan dari orang lain. Di dalam doa-doa kita, hendaknya juga banyak memanjatkan doa-doa untuk kemajuan Islam & Jama’at, agar kita terhindar dari segala macam keburukan. Doa-doa yang kita panjatkan untuk tegak dan teguhnya agama Allah Ta’ala, hal itu sesungguhnya akan mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala juga menganugerahkan kepada kita taufik untuk berdoa dan semoga perubahan-perubahan suci juga Dia timbulkan di dalam diri kita dan semoga kita menjadi orang-orang yang meraih kedekatan Allah Ta’ala.

Sesudah ini sekarang saya ingin menyebutkan kenangan indah mengenai Hadhrat Maulana Dost Muhammad Syahid(r.h.) yang wafat dua hari yang lalu.

— Innâ lil-Lâhi wa innâ ilayhi rôji’ûn —

Beliau merupakan seorang ulama terkemuka dalam Jama’at. Semoga Allah Ta’ala terus menerus meninggikan derajat beliau. Beliau disebut sebagai ahli sejarah Ahmadiyah. Ada 20 jilid Sejarah Ahmadiyah yang beliau tulis dan sudah diterbitkan. Tetapi saya menganggap bahwa beliau tidak hanya sejarawan Ahmadiyah bahkan beliau merupakan seorang pendahulu sejarah Ahmadiyah. Beliau merupakan seorang wujud yang bersinar sedemikian rupa yang setiap saat, kapan saja mempunyai kesempatan, beliau senantiasa berusaha untuk mengembangkan misi Jama’at Ahmadiyah, yakni cahaya Islam hakiki di dunia. Hafalan beliau sangat baik dan mengatakan hal ini bukanlah tidak pada tempatnya. Bahkan ada juga orang-orang telah menulis surat kepada saya bahwa beliau adalah ensiklopedia. Sebab Hadhrat Khalifatul Masih IV rh. pun telah mengatakannya demikian. Tadinya saya tidak tahu bahwa Hadhrat Khaliafatul Masih IV rh. juga pernah mengatakan ini, tetapi saya senantiasa mengatakan hal ini kepada orang-orang bahwa beliau itu adalah ensiklopedia. Kini ketika saya telah baca, maka saya dapat mengetahui bahwa Hadhrat Khalifatul Masih IV rh. juga telah mengatakan berkenaan dengan beliau bahwa beliau itu adalah sebuah ensiklopedia. Rujukan dari para tokoh lama, para wali dan referensi para mujaddid juga beliau hafal. Beliau memiliki penelaahan yang sangat dalam dan tidak hanya hafal rujukannya saja, bahkan nama kitab-kitab dan halamannya juga beliau hafal. Sebagian orang-orang di dalam surat-surat menulis kepada saya mengenai sebagian keistimewaan-keistimewaan pribadi beliau. Berkenaan dengan beliau, ada beberapa informasi yang telah saya dapatkan melalui putra beliau. Sebagaimana telah saya sampaikan bahwa beliau juga merupakan pendahulu sejarah Ahmadiyah. Semuanya tentu tidak bisa diterangkan di sini. Ada beberapa hal berkenaan dengan beliau yang saya akan terangkan. Beliau bukanlah merupakan tokoh yang sangat egois; beliau tidak mementingkan diri sendiri dan beliau merupakan tokoh yang senantiasa menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya demi untuk agama. Beliau seorang waqaf zindegi (pewakaf diri). Beliau menjalin hubungan dengan Khilafat sampai pada titik penghabisan. Beliau seorang yang sangat suci dan banyak memanjatkan doa. Seseorang telah menulis surat kepada saya bahwa ketika dijelaskan mengenai siapa saja yang meminta kepada beliau untuk berdoa, maka beliau senantiasa mengatakan bahwa jangan mengatakan minta doa kepada saya. Untuk minta doa, maka tulislah kepada Khalifatul Masih.

Dalam kerendahan hati, beliau begitu sempurna. Jika terdapat sesuatu yang baru ketika beliau mutalaah, maka beliau fotocopy halaman-halaman yang berhubungan dengan dalil-dalil yang mendukung kebenaran Jam’aat lalu mengirimkannya kepada saya. Beliau merupakan seorang ulama yang sesungguhnya berhak memperoleh gelar sebagai seorang ulama yang beramal. Dan sebagaimana saya telah katakan bahwa beliau merupakan pekerja yang tidak egois (tidak mementingakn diri sendiri). Dengan kepergian seorang sosok Sulthanan Nasîr seperti itu secara alami timbul juga rasa kekhawatiran. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan kepada Khilafat, Sulthanan Nasîr.

Seorang penulis kita Mubasysyir Iyyaz Sahib menulis kepada saya bahwa ketika ia menghadiri rapat dengan beliau, maka wujud beliau tampak merupakan sosok yang tenggelam dalam sebuah kefanaan yang ajaib, seperti halnya jarum untuk mengetahui arah kutub senantiasa menuju ke arah utara. Seperti itu pula poros pikiran beliau pun senantiasa tertuju kepada Khilafat. Referensi-referensi berharga dan fatwa-fatwa, beliau tidak memberikan kehormatan lebih dari sebesar sehelai daun kering. Dan beliau senantiasa berkata bahwa takala Khalifatul Masih telah menyatakan ini, maka apa pentingnya referensi si fulan dan perkataan si fulan.

Kemudian seorang murabbi menulis kepada saya bahwa Amir Saudi Arabia Sahib datang, lalu ia mengatakan bahwa kita akan menyusun sejarah Ahmadiyah di sana. Kita akan pergi ke Maulana Dost Muhammad. Kemudian mereka pergi ke kantor beliau, maka dalam waktu setengah jam beliau memberikan semua referensi, dan lain-lain, lalu menerangkan sejarah lengkap dan juga membuat salinannya serta memberikan kepada mereka.

Sebagaimana telah saya beritahukan bahwa hafalan beliau sangat kuat dan merupakan raja referensi. Beliau juga memiliki solidaritas yang tinggi terhadap harta Jama’at. Seseorang telah menulis bahwa saya pergi ke kantor beliau untuk suatu referensi. Lalu beliau memberitahukan kepada saya dan memberikan referensi itu di hadapan saya, kemudian saya mengambil pena dari meja beliau, setelah itu saya mulai menulis. Pertama saya mengambil pena, kemudian mengambil kertas, maka pena dan kertas kedua-duanya beliau ambil dari tangan saya sambil berkata “Di sini kamu mengambil referensi untuk kepentingan pribadi. Gunakanlah pena dan buku cacatan kamu sendiri”.

Kemudian Mahmud Muluk Sahib menulis kepada saya bahwa beliau adalah teman Abdul Jalil Asyrat Sahib, bapak beliau. Satu kali beliau pergi kunjungan ke Lahore, lalu beliau mengirim pesan bahwa “saya tidak bisa datang, maka tuan datanglah kemari.” Jadi dikarenakan tali persahabatan dan ada hubungan pribadi, lalu beliau pergi dan menjemputnya dengan menggunakan bajaj. Maulwi Sahib berusaha membayar ongkos bajaj. Baiklah pada waktu itu beliau membayar ongkos. Di sana pada hari berikutnya beliau ingin pergi ke mesjid Daruzzikir, maka beliau berkata pergilah dan bawakan taksi. Ongkos taksi juga saya yang akan bayar, karena Markaz memberikan ongkos taksi kepada saya dan Markaz menghendaki supaya kehormatan ulama kita senantiasa terjaga. Karena itu saya tidak akan duduk di dalam bajaj dan saya akan pergi menggunakan taksi. Maka ini bukan hanya sekedar taat. Darinya banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan bahwa sesuatu yang merupakan haknya, sesuatu yang Markaz telah katakan bahwa tuan yang akan menggunakan, maka pergunakanlah juga hak itu, supaya jangan keluar dari ketaatan macam apapun; dan wibawa para ulama kita yang lainnya juga selalu terasa.

Kewafatan beliau sebagaimana saya telah katakan dua hari sebelumnya pada yakni tanggal 26 Agustus 2009.

Pada tahun 1935 beliau masuk di Madrasah Ahmadiyah dan tahun 1944 beliau memulai pendidikan Jamiah. Pada tahun 1946 beliau lulus ujian HA di Universitas Panjab dan beliau menduduki peringkat ke-3. Lama masa pengkhidmatan beliau dalam Jemaat mencapai 63 tahun. Pada tahun 1952 atas perintah Hadhrat Mushlih Mau’udra. beliau memulai menulis dengan nama kolom “editorial atau catatan pojok” di surat kabar Al-Fazl. Ini berjalan dalam masa yang cukup panjang. Pada tahun 1953 Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. menyampaikan kepada beliau untuk menyusun dan menertibkan sejarah Ahmadiyah. Ada 20 jilid yang telah diterbitkan dan sisanya juga telah lengkap hingga tahun 2004. Sesudah itu beliau meninggalkannya dengan membuat catatan. Seorang putra beliau Dr. Sulthan Ahmad Mubasyar Sahib bertugas di rumah sakit Fazli Umar dan ia memiliki lima anak perempuan.

Ahmadiyah datang di dalam keluarga beliau itu dengan cara demikian bahwa ada seorang kerabat beliau bernama Hadhrat Mia Muhammad Murad Sahib(r.a.) dari Hafiz Abad. Beliau seorang tokoh yang sangat saleh, beliau masuk Ahmadiyah. Ketika kakek Hadhrat Maulwi Sahib mengetahui, maka kakek beliau sangat aniaya kepadanya dan memukul sedemikian rupa kadang-kadang sangat sering, sehingga  mengakibatkan sampai luka parah. Maka Mia Murad Sahib mengatakan bahwa Insya Allah Ta’ala akan ada 3 anak kamu yang bijak pasti masuk Ahmadiyah. Dengan demikian kakek Maulwi Sahib menjadi bertambah marah kepadanya dan memberikan hukuman lebih keras lagi.

Berkenaan dengan itu Maulwi Sahib menceriterakan sebuah peristiwa. Jabah Nakhlakh merupakan sebuah tempat kecil yang Hadhrat Muslih Mau’ud ra. Tempati ketika musim dingin dan pada hari-hari itu beliau tengah menulis Tafsir Saghir. Maulwi Sahib pun pada hari-hari itu pergi ke sana, tetapi sebelum pergi ke sana beliau mengatakan bahwa “saya akan pergi ke kakek saya di kampung dekat Khanqah Dogra”. Pada hari terakhir kehidupan kakek beliau, maka kakek beliau mengatakan bahwa “sampaikanlah satu pesan saya kepada Khalifah kamu bahwa saya mempunyai 6 anak yang dari antaranya seorang adalah Hafiz Quran dan yang dua orang lainnya sangat bijak dan berilmu tinggi. Khalifah kamu telah merampasnya dari saya dan selebihnya tiga orang yang buta huruf dan cacat diserahkan kepada saya. Jika Khalifa kamu ingin memenuhi jumlah, maka anak yang tiga buta huruf ini, ambillah. Dan anak-anak yang berpendidikan itu kembalikan kepada saya’. Maka Maulwi sahib mengatakan bahwa ‘ketika saya pergi ke Jabanakhlah, lalu saya mulaqat dengan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra.. Saya bermaksud menyampaikan hal ini. Ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud mendengar pesan ini, maka beliau ra. tersenyum dan bersabda bahwa “sampaikan pesan ini kepada kakek kamu bahwa pertukaran anak dengan sangat senang hati saya terima. Anak-anak tuan yang bukan Ahmadi serahkanlah mereka kepada saya dan anak-anak tuan yang Ahmadi, saya izinkan, jika mereka meninggalkan Ahmadiyah lalu ingin bergabung dengan tuan maka silakan pergi”’. Maka Maulwi Sahib mengatakan bahwa ‘begitu saya datang menyampaikan ini kepada kakek saya. Maka beliau mengatakan bahwa “Khalifah kamu itu sangat cerdik”. Beliau tahu bahwa mereka tidak akan meninggalkan Mirzaiyyat (Ahmadiyah) dan beliau menangis dan berteriak juga atas hal itu. Ibu Hadhrat Maulwi Sahib juga bergabung ke dalam Ahmadiyah pada tahun 1949 atas dasar sebuah ru’ya.

Pada tahun 1951 beliau ikut serta di dalam kelas syahid Jâmiatul-mubasysyirîn angkatan pertama yang sukses dan ketika pelepasan, Hadhrat Mushlih Mau’ud juga hadir di dalamnya dan sambutan yang Maulwi Sahib sampaikan, atas hal itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. menyatakan kegembiraannya. Sesudah mendapat gelar syahid dari Jâmiatul-mubasysyirîn, beliau menulis sebuah skripsi penelitian tentang “Jemaat Islami”. Judul skripsinya pun Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. sendiri yang mengusulkannya. Dan beliau menulis skripsi ini dibawah bimbingan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. dan Hadhrat Amir Minai(r.a.), sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as., dan dalam waktu yang berbeda Hadhrat Hafiz Sayyid Mukhtar Ahmad dari Jahanpur memberikan bimbingan pada beliau juga. Sebagaimana telah saya katakan bahwa Hadhrat Khalifatul Masih II ra. pada tahun 1953 telah memberikan amanat untuk menyusun sejarah Ahmadiyah, dan sebanyak 20 jilid telah sempurna dan tugas penyusunan sejarah Khilafat ke V pun sedang berjalan. Ada 40 lebih karangan beliau yang telah terbit dalam berbagai topik dan sebagian telah diterjemahkan juga dalam berbagai bahasa.

Beliau merupakan sosok ilmuwan dan sastrawan serta merupakan sosok yang banyak memberikan perhatian pada tradisi dan sejarah. Dalam hal karya tulis dan dalam menyampaikan ceramah, beliau memiliki keahlian yang khusus. Allah Ta’ala juga telah menganugerahkan suara yang sangat merdu. Pada tahun 1974 ketika wakil delegasi Jama’at pergi ke parlemen yang dipimpin Hadhrat Khalifatul Masih IIIrh., Hadhrat Maulwi Sahib termasuk di dalam delegasi itu sebagai wakil. Beliau merupakan anggota yang terakhir wafat. Di sana juga tanggungjawab menyiapkan informasi-informasi dan referensi-referensi diserahkan kepada beliau dan kapan saja beliau mengeluarkan referensi lalu memberikannya, maka para anggota parlemen menjadi keheranan. Bahkan di sana pada saat itu satu kali seorang anggota dewan menzahirkan keheranannya yang luar biasa bahwa “manakala kami memerlukan referensi, para ulama kami akan mencari referensi dengan memakan waktu berhari-hari dan sepertinya terjadi musibah pada mereka. Maulwi orang-orang Mirzai yang kecil ini, tidak tahu bagaimana dalam 15 menit mengeluakan referensi lalu membawanya”.

Dalam waktu yang panjang Allah Ta’ala juga telah menganugerahkan taufik pada beliau untuk menyampaikan pidato di dalam Jalsah-jalsah. Pada Jalsah tahun 1957 dalam pertemuan malam hari, beliau menyampaikan pidato untuk pertama kali dan pada tahun 1958 ceramah beliau diterbitkan. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. sedemikian rupa menyukainya sehingga hal itu disebutkan secara khusus di dalam Syura. Beliau juga bekerja di bidang penelitian. Beliau juga menjabat sebagai Qadhi dan beliau menjadi anggota tetap Majlis Syuro Pakistan sampai wafat. Selain sebagai delegasi khusus Syura, beliau juga merupakan anggota kehormatan yang dipilih Khalifatul Masih agar mendapat kesempatan untuk ikut dalam Syura.

Pada tahun 1992-1993 sebuah Pusat Lembaga Biografi Internasional yang terkenal, Universitas Cambridge telah menganugerahkan kepada beliau gelar kehormatan Man of the Year dan gelar kehormatan ini biasa diberikan kepada cendekiawan khusus yang bekerja di bidang ilmiah yang kemampuannya, kesuksesannya dan kepemimpinannya diakui secara internasional.

Pada tahun 1994 di kota Coimbatore, propinsi Tamil Nadu, India terjadi dialog antara Jama’at Ahmadiyah dan Jemaat Ahli Quran dan Hadits. Dialog ini diadakan di aula sebuah Hotel yang luas di sana dan dialog itu berjalan sampai 9 hari. Atas perintah Hadhrat Khalifatul Masih IV rh., beliau pergi ke sana. Allah Ta’ala telah menganugerahkan kemenangan kepada beliau dan beliau mewakili Jemaat dengan baik. Dan tatkala beliau di sana, seorang anak perempuan beliau menikah. Beliau tidak dapat menghadirinya. Bahkan ketika dua anak perempuannya menikah, saat itu beliau sedang melakukan kunjungan kejemaatan dan sampai pada hari-H pernikahan tersebut sedang dilaksanakan, beliau sama sekali tidak memperdulikan urusan pribadi sedikit pun.

Pada tahun 1982 beliau juga telah memperoleh kehormatan untuk menjadi tahanan di jalan Allah Ta’ala. Beberapa hari beliau menginap di tahanan Polsek Rabwah. Pada bulan April 1988 pun beliau kembali dimasukkan ke dalam penjara distrik Gujranwala. Kemudian pada tahun 1990, hakim membatalkan jaminan untuk beliau dan beliau dihukum dengan kawan-kawan selama dua tahun penjara dan denda lima ribu rupees. Walaupun begitu setelah beberapa lama kemudian beliau bebas dengan jaminan. Di penjara pun beliau terus melanjutkan dars Al-Quran, Hadits dan tabligh Jama’at.

Maulwi Sahib menulis sebuah peristiwa yang terjadi pada beliau sendiri. Beliau mengatakan bahwa ‘pada kesempatan Jalsah Salanah tatkala saya membentangkan tempat tidur di kantor sesuai dengan kebiasaan saya untuk dua minggu pada malam hari, saya duduk menunggu telpon dari kantor sekretaris pribadi Hudhur, maka tidak lama kemudian Saqib Zerwi Sahib, redaktur majalah Lahore datang’. Beliau mengatakan bahwa saya baru saja berjumpa dengan Hudhur.

Hadhrat Khalifatul Masih III rh. mengatakan kepada sekretaris pribadi beliau, “Sekarang telpon! Katakan kepada Maulwi Sahib supaya mengirimkan referensi fulan-fulan itu”. Maka Saqib Sahib mengatakan bahwa ‘saya menyampaikan bahwa kini sudah malam hari, sekarang di mana bisa menjumpai Maulwi Sahib’. Maka Hadhrat Sahib mengatakan bahwa mungkin waktu ini beliau duduk di kantor bagian sejarah. Saqib Sahib mengatakan bahwa ‘saya datang sekedar untuk mengecek bahwa apakah benar Maulwi Sahib di kantor atau tidak’. Jadi merupakan pekerjaan beliau siang malam yakni beliau sibuk dalam berkhidmat pada agama.

Kapan saja ada tugas dari Khalifah, meskipun jam dua malam, pada saat itu juga beliau bangun dan mulai mengerjakan pekerjaan itu. Sampai pekerjaan tersebut selesai beliau tidak mengerjakan pekerjaan lain dan beliau juga tidak istirahat. Bahkan beliau senantiasa mengatakan bahwa ‘mengerjakan pekerjaan lain itu saya anggap tidak jaiz’.

Muhammad Mubasyar Ahmad Sahib memberitahukan bahwa beberapa hari sebelum meninggal, beliau mengatakan bahwa saya mendengar suara DR. Abdussalam Sahib mengucapkan – السلام عليكم – assalâmu ‘alaykum. Dengan demikian terdapat isyarat untuk kembali. Dr. Sulthan Mubasyar Sahib sendiri menulis bahwa kalau beliau ada kerisauan, maka pertama kali beliau katakan ‘tulislah permohonan doa kepada Khalifah’. Kemudian berilah sedekah dan bacalah sholawat serta istighfar sebanyak-banyaknya.

Mutalaah beliau dalam bahasa Inggris, Farsi dan Arab sangat luas. Dan tidak hanya muthalaah saja bahkan pada waktu membaca, beliau membuat poin-poin dan tanda pada jilid buku tersebut dan kemudian beliau selalu membuat catatan-catatan di bagian luarnya. Beliau senantiasa mengatakan bahwa Hadhrat Mia Basyir Ahmad(r.a.) menasehatkan bahwa belilah sendiri selalu buku-buku dan bacalah, maka hal itu senantiasa beliau amalkan. Di rumahnya terdapat perpustakaan pribadi beliau sendiri yang berjumlah hampir 8 ribu buah buku-buku. Kapan saja tatkala beliau pergi keluar dari Rabwah, ketika Khalifatul Masih ada, maka beliau selalu meminta izin. Sesudah [Khalifah hijrah] beliau tidak keluar tanpa seizin Amir Maqami/setempat. Dan manakala beliau pergi untuk pekerjaan-pekerjaan Jama’at ‑maka kadang-kadang bahkan kebanyakan‑ beliau tidak berjumpa dengan keluarga beliau. Anak-anak beliau tinggal di Lahore. Kadang-kadang beliau pergi kunjungan ke Lahore, maka tidak menjadi soal apakah beliau berjumpa dengan anak-anaknya ataupun tidak. Melainkan beberapa kali anak-anaknya mengetahui setelah beliau kembali pulang. Dan jika kadang harus berjumpa, maka dengan izin Amir Sahib beliau berjumpa dengan anak-anaknya. Beliau senantiasa mengatakan bahwa saya adalah prajurit Khalifah dan prajurit tidak boleh meninggalkan posnya. Pada hari Jum’at pun beliau tidak pernah cuti. Di Rabwah pada hari Jum’at kantor-kantor libur. Beliau senantiasa bekerja, sama sekali tidak ada gambaran cuti.

Pakaian beliau sangat sederhana tetapi bersih dan suci, setiap hari mandi dan memakai wangi-wangian. Beliau selalu mengatakan bahwa wakil Jemaat hendaknya senantiasa menjaga kehormatan dan wibawa Jama’at dan hendaknya juga senantiasa membetulkan tampilan lahiriah. Dan setelah mewakafkan diri, kondisi yang sangat sulit sekali pun yang dialami, beliau tidak pernah meminta-minta di hadapan orang lain dan tidak pula secara isyarat menampakan kemiskinan serta keperluannya. Bahkan Dr. Sulthan Mubasysyir Sahib menulis bahwa satu kali ibunda kami menyebutkan bahwa seorang ulama [Jemaat] fulan telah mendapat uang saku dari seorang kaya fulan. Anda pun jika berusaha, maka ini bisa, sehingga keadaan bisa menjadi baik. Lalu beliau berkata bahwa ‘saya tidak bisa melakukan hal yang tidak mengenal malu ini’ dan beliau mengatakan bahwa ‘saya tidak menganggap ini benar bahwa selain kepada Allah Ta’ala, saya meminta kepada seseorang’. Pada satu kali beberapa murabbi datang kepada beliau supaya membubuhkan tanda tangannya di atas sehelai kertas yang di atasnya tertulis bahwa muballigh Tahrik Jadid memperoleh lebih banyak tunjangan, sedangkan para muballigh dan pegawai Sadr Anjuman Ahmadiyah sedikit tunjangannya, maka hal itu hendaknya ditinjau kembali. Lalu beliau mengatakan bahwa ‘saya tidak akan membubuhkan tanda tangan saya di atas kertas itu, karena saya adalah orang yang mewakafkan diri. Apa yang Jemaat akan berikan kepada saya, hal itu saya akan terima dengan ucapan ribuan terima kasih. Dan kita harus mengucapkan terimakasih kepada Jamaat. Jamaat tidak menuntut untuk mengambil dari kita, bahkan Jemaat sedikit banyak telah memberi kepada kita’. Beliau juga tidak pernah menulis kepada Khalifah untuk keperluan pribadi, tidak pernah ada keluhan keluar dari mulutnya.

Satu kali Hadhrat Khalifatul Masih III rh. ada perlu. Hudhur mengatakan panggillah Maulwi Sahib dan bawa kemari. Maka beliau dicari di setiap tempat. Di perpustakaan, di kantor, di rumah, di mana-mana beliau tidak diketemukan. Pada waktu tiba shalat ashar, maka Hadhrat Khalifatul Masih III rh. bertanya, “Saya mencari tuan ada di mana?” Beliau menjawab, “Saya ada di perpustakaan, masalahnya pegawai mengunci perpustakaan dari luar dan pergi, sedangkan saya harus masuk ke dalam. Daripada saya menyia-nyiakan waktu, maka saya melompati dinding lalu masuk ke dalam dan saya duduk mengerjakan pekerjaan”. Jadi disini pun beliau menunaikan kewajibannya dan dengan cara yang elegan beliau mengisyarahkan pada kesalahan pegawai.

Sebagaimana saya telah beritahukan bahwa beliau juga pernah masuk penjara dan di penjara pun beliau dikerja-paksakan. Tetapi selama tinggal di penjara beliau tidak pernah menzahirkan bahwa ‘saya disuruh kerja paksa dan saya merasa sedih’. Ketika beliau bebas, barulah beliau memberitahukan bahwa ‘di sana saya terus dipaksa untuk kerja keras’. Beliau terbiasa melakukan setiap pekerjaan sendiri. Menjilid buku pun beliau sendiri yang melakukannya dan di rumah pun sebagaimana saya telah beritahukan, beliau memiliki perpustakaan sendiri dan maksud perpustakaan itu juga adalah agar pada waktu malam pun kapan saja ada tugas dari Khalifah atau untuk mencari referensi, maka dengan segera saya akan menyediakan dan tidak harus menunggu membuka perpustakaan.

Pada masa permulaan, sepeda pun tidak ada. Ke setiap tempat beliau biasa pergi berjalan kaki. Saya masih ingat tatkala saya dengar, maka terpikir hal ini, yakni ketika diadakan Ijtima Khuddamul Ahmadiyah, maka gedung college itu cukup jauh dari sana, lapangannya itu disebut dengan lapangan balap kuda. Sampai di sana dari perumahan Anjuman beliau biasa berjalan kaki dengan cara jalan yang berwibawa, surban, jubah (aciken) dan di tangan ada tongkat. Padahal pada waktu itu beliau masih Khuddamul-Ahmadiyah. Barangkali beliau belum bisa membeli sepeda. Karena pada waktu itu kondisi Jemaat tidak seperti sekarang. Tunjangan para muballigh dan waqafiin sangat sedikit. Putra beliau menulis surat kepada saya bahwa beliau benar-benar tidak bisa membeli sepeda. Oleh karena itu kemanapun beliau pergi di Rabwah, maka beliau ke mana-mana dengan berjalan kaki. Kemudian pada tahun 1978-1979, beliau mendapat sepeda dari kantor.

Kapan saja beliau duduk di Majlis Irfan para Khalifah, maka beliau senantiasa duduk dengan menundukkan kepala dan beliau senantiasa mengatakan bahwa inilah juga kebiasaan Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra. di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau ra. duduk dengan merundukkan kepala.

Putra beliau menulis bahwa pada suatu kali Hadhrat Maulwi Sahib pulang ke rumah dengan sangat gembira. Kami bertanya, “ada apa?” Hadhrat Maulwi Sahib mengatakan bahwa saya pergi untuk mulaqat dengan Hadhrat Khalifatul Masih III rh., maka beberapa lama Hudhur masuk ke dalam untuk suatu pekerjaan. Sepatu beliau ada di luar, maka saya mendapat kesempatan untuk membersihkannya dengan sapu tangan saya”. Karena hal itu Maulwi Sahib sangat gembira.

Seorang sahabat telah benar-benar menulis secara shahih bahwa untuk suatu pekerjaan yang mana di dunia begitu berat namun Maulwi Sahib mengerjakannya sendirian.

Dari tahun 1982 tidak ada murabbi yang secara tetap bekerja bersama beliau dan beliau sendirian melakukan pekerjaan besar untuk menulis sejarah Ahmadiyah. Beliau mencari referensi, menyalinnya, membuat catatan dan mengerjakan pekerjaan lainnya. Dan dengan karunia Allah Ta’ala beliau menulis seluruh sejarah dengan cara sukses luar biasa. Bagi orang-orang duniawi, kadang-kadang melakukan seperti ini, di mana mereka menggunakan akhir pekan untuk berlibur bersama anak-anak. Anak-anak beliau mengatakan bahwa ‘kami tidak tahu hingga berbulan-bulan kapan ayah kami pulang ke rumah dan kapan pergi dari rumah. Ketika pagi-pagi buta beliau pergi, maka kami masih dalam keadaan tidur dan ketika beliau kembali ke rumah pun kami sedang tidur’.

Hal ini juga bagi para waqfiin dan para muballigh merupakan satu nasehat yang bersejarah. Maulwi Sahib mengatakan bahwa pada tahun 1965 merupakan Jumat pertama janji Khilafat III yang bersejarah. Hadhrat Khalifatul Masih III rh. memanggil Maulwi Sahib dan bersabda bahwa “hari Jum’at adalah hari libur. Akan tetapi saya telah menyusahkan anda”. Maka Maulwi Sahib mengatakan bahwa ini merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan. Kemudian Hadhrat Khalifatul Masih III rh. bersabda bahwa “Untuk itulah Anda dipanggil.” Hadhrat Khalifatul Masih III rh. Mengatakan bahwa tatkala Maulwi Sahib mengisi formulir waqaf zindegi dan mengajukannya di hadapan Hadhrat Muslih Mau’ud ra. maka beliau ra. mengomentarinya sambil bersabda “Hari ini engkau telah menyempurnakan keinginan tersembunyi hati kecilku. Aku menghendaki agar engkau sendiri turut serta menjadi pejuang-pejuang ruhani Tahrik Jadid tanpa anjuranku. Hari ini kebahagiaanku tidak ada batasnya. Namun ingatlah kini engkau telah mewaqafkan kehidupanmu. Sekarang sebelum engkau meninggal, bagi engkau tidak ada libur.” Maulwi Sahib mengatakan “saya telah menyampaikan hal ini. Hudhur, saya juga berjanji bahwa dalam status saya sebagai seorang waqf zindegi, siang malam saya akan selalu sibuk dalam mengkhidmati agama. Dengan karunia Allah Ta’ala, sampai waktu terakhir beliau memenuhi janjinya itu.

Ketika beliau masuk rumah sakit, maka pada saat itu beliau dalam keadaan sakit keras dan manakala sedikit saja rasa lemah itu hilang, maka selama beliau sadar[6] maka dalam keadaan resah beliau mengatakan bahwa ‘cepatlah bebaskan saya dari rumah sakit. Saya mau pergi ke kantor karena Khalifatul Masih telah memberikan beberapa pekerjaan kepada saya yang mana saya harus mengerjakannya dengan segera’. Maka beliau memenuhi janjinya sampai akhir hayatnya. Semoga Allah Ta’ala terus meninggikan derajat beliau dan Allah Ta’ala pun menganugerahkan taufik kepada anak keturunan beliau untuk meneruskan kebaikan-kebaikan beliau. Putra beliau, Dr. Sulthan Mubasyir Sahib, pun juga merupakan waqf zindegi. Mudah-mudahan Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kepada beliau supaya dapat memenuhi janji wakaf beliau dalam arti yang hakiki. Setelah shalat Jum’at, saya akan shalat jenazah ghaib bagi beliau.

Bersama itu ada dua jenazah lain. Satu adalah saudara kecil Maulwi Sahib ‑yang tujuh tahun lebih muda darinya. Kewafatannya satu jam setelah kewafatan Maulvi Sahib. Dan beliau adalah seorang mushi dan tidak mempunyai anak. Beliau ini dimakamkan di Bahesyti Maqbarah. Beliau memperoleh taufik untuk memberikan pengorbanan harta. Dan beliau memperoleh kesempatan untuk melakukan pengorbanan–pengorbanan harta dan memperoleh taufik untuk ambil bagian yang sebanyak-banyaknya dalam pengorbanan harta. Sebelum wafat beliau mewasiatkan dua ratus ribu (200.000) rupees untuk Dana Maryam. Di dalam keluarganya juga beliau telah memberikan untuk pernikahan dua tiga anak perempuan dan juga untuk para janda sebesar dua ratus ribu (200.000) rupees. Dari segi itu, beliau ini pun merupakan orang yang berjalan di atas kebaikan dan orang yang memberikan pengorbanan-pengorbanan. Saudara Maulwi Sahib ini bernama Muhammad Aslam Sahib(r.h.).

Begitu juga jenazah yang lainnya. Nasim Begum Sahibah(r.h.), istri Basyir Ahmad Sahib dari sektor 46 Sargodha Utara. Beliau ini wafat 17 Agustus 2009. Beliau ini adalah ibunda muballigh kita, Muhammad Arif Basyir Sahib yang kini berada di Tanzania. Beliau kini ada di tempat tugasnya karena itu tidak bisa ikut dalam prosesi pemakaman ibunya. Beliau ini mengatakan bahwa ‘ketika saya masuk ke Jamiah, maka ibu saya mewasiatkan dalam bahasa Punjabi [yang dalam dalam bahasa Urdu berarti], “Wahai nak, sekarang belajarlah sampai selesai dan khidmatilah agama.”’ Beliau ini juga adalah seorang musiah dan dimakamkan di Bahesyti Maqbarah. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat mereka semua. Dan juga semoga Allah Ta’ala menyempurnakan berkenaan dengan keinginan-keinginan baik di dalam diri anak-anak keturunan mereka.

Penerjemah: Mln. Qomaruddin Sy

[1] Shahih Bukhari kitabushaum, Bab  hal yaqulu inni shimun idza syi’tum,  Hadits no. 1904

[2] Sahih Bukhari, kitabushaum, Bab  hal yaqulu inni shimun idza syi’tum,  Hadits, No. 190

[3] Shahih Bukhari kitabushaum bab manlam yada’ qaulazzur wal ‘amala bihi fishaum–Shahih Bukhari, Kitab puasa, Bab barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan  mengamalkan  di dalam puasa, No.1903

[4] Falsafah Ajaran Islam; Ruhani Khazain, jilid 10, Hal.396

[5] Pidato Sialkot; Ruhani Khazain, Jld. 20, Hal. 222

[6] dua empat hari terakhir beliau terus dalam keadaan koma