Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 16 Mei 2014 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

Di dalam Khotbah Jum’ah yang lalu telah dijelaskan bahwa setelah Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam membenamkan diri dalam lautan kecintaan terhadap Hadhrat Muhammad Rasulullah shallAllahu ‘alaihi wa sallam beliau memahami Al-Qur’an, memahami hukum-hukum Al-Qur’an dan memahami Tauhid Allah Ta’ala. Sebab, manusia tidak dapat memahami Tauhid Hakiki tanpa melalui wasilah (sarana) Hadhrat Rasulullah saw. Begitu juga tidak dapat memahami Al-Qur’an tanpa melalui wasilah beliau saw. Sebab itu, setelah memahami betul kalimat “لا إله إلا الله” manusia penting sekali harus memahami “محمد رسول الله” . Hanyalah Nabi Muhammad Rasulullah saw orang yang faham betul hakikat kalimah “لا إله إلا الله” dan amaliahnya juga.

Sekarang saya akan mengemukakan beberapa intisari dari sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s tentang Tauhid Ilahi hakiki atau sejati dan bagaimana manusia bisa disebut موحد (muwahhid, yang beriman kepada Satu Tuhan).

Mengenai Surah An-Nas, bersamaan dengan menjelaskan tafsir atas “إله الناس” Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Saya ingin menjelaskan bahwa di dalam Surah ini Allah Ta’ala memulai dengan menyebutkan “رب الناس” ‘Tuhan manusia’ kemudian “مَلك الناس” ‘Raja manusia’ dan pada akhirnya menyebutkan “إله الناس” ’Sembahan manusia’ yang menjadi tujuan utama manusia dan yang dicarinya. Yakni “إله الناس” adalah yang utama sekali dimaksud dan yang dicari. Dan “إله” (ilah) artinya: yang dimaksud, yang disembah dan yang dicari. Dan arti dari “لا إله إلا الله” adalah لا معبود لي ولا مقصود لي ولا مطلوب لي إلا الله Laa ma’buuda lii wa laa maqshuuda lii wa laa mathluuba lii illaLlahu artinya, “Bagi saya, tiada yang disembah, tiada yang dimaksud atau yang menjadi tujuan dan tiada yang dicari selain Allah.” Itulah Tauhid yang benar dan sejati. Yakni tidak ada yang berhak dipuji dan dihormati selain Allah Ta’ala.”[2]

Beliau as bersabda, ”Tauhid Ilahi baru dapat sempurna apabila Zat Maha Esa (Tunggal) dijadikan semua maksud utama yang cemerlang dan obat penawar bagi semua penyakit rohaniah. Itulah arti sejati dari pada “لا إله إلا الله”. Para Sufi sudah memahami lafaz “إله” artinya mahbub (yang dicintai), maksud (yang dimaksud, yang dituju) dan ma’bud (yang disembah). Selama manusia tidak berpegang teguh kepada semua itu secara sempurna maka kecintaan dan keagungan Allah Ta’ala tidak akan tertanam di dalam lubuk hatinya.” Yakni, apabila manusia berpegang teguh kepada “لا إله إلا الله” dan menjiwainya sedalam-dalamnya maka kecitaan dan keagungan Islam akan tetap tertanam di dalam kalbu-nya, jika tidak hanya ucapan mulut belaka.

Berkaitan dengan keindahan ajaran Islam Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as bersabda, ”Karunia Allah Ta’ala diterima orang-orang Muslim melalui Islam yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah saw Dari segi apa saja memandangnya, orang-orang Muslim merasa kagum dan bangga. Tuhan orang-orang Muslim bukanlah batu, pohon, haiwan, bintang atau manusia sudah mati. Melainkan Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Pencipta langit dan bumi dan apapun yang terdapat diantara keduanya. Dia adalah Hayyu Qayyum Yang hidup dan menghidupkan serta Berdiri Sendiri serta Menegakkan semua yang lain.

Rasul orang-orang Muslim adalah Hadhrat Muhammad saw, yang kenabiannya berlaku sampai Hari Kiamat. Kerasulan beliau tidak mati, melainkan buahnya dan berkat-berkatnya yang segar di peroleh di setiap zaman, yang menjadi dalil bukti kebenarannya di setiap zaman. Maka, di zaman sekarang juga Allah Ta’ala telah melanjutkan memberi bukti-bukti, berkat-berkat dan ni’mat-ni’matnya dan memberikan bukti kebenaran Kenabian beliau saw dengan mengutus Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as dan Missi beliau untuk seluruh dunia. Di dalam Al-Qur’anul Karim Allah Ta’ala berfirman قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا Katakanlah (Muhammad): Hai manusia sesungguhnya aku adalah Rasul Allah telah diutus kepada kamu sekalian dari Yang mempunyai karajaan seluruh langit dan bumi. (Al ‘Araf, 7 : 159). Dan firman-Nya lagi, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Hai Muhammad !) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. (Al Anbiya ayat 108) Kitab orang-orang Muslim begitu sangat sempurna dan meyakinkan sehingga firman-Nya لَا رَيْبَ فِيهِ tidak ada keraguan di dalamnya. Dan firman-Nya lagi, فِيهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ yakni di dalamnya mengandung perintah-perintah kekal abadi. Firman-Nya lagi, آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ yakni ayat-ayatnya muhkam, قَوْلٌ فَصْلٌ dan مِيزَان timbangan, selanjutnya مُهَيْمِنْ yakni penjaga. Jadi, Agama orang-orang Muslim adalah sempurna, lengkap dalam segala seginya dan telah dijamin sebagai berikut, الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا Yakni: Hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamamu, dan telah kulengkapkan ni’mat-Ku atasmu dan telah Ku-sukai bagimu Islam sebagai agama. (Al Maidah: 4). Jadi sudah di beri sertifikat bahwa hanya Islam sebagai Agama terakhir yang kamil yang dapat memenuhi semua keperluan. Betapa disesalkannya, orang-orang Muslim, Agama begitu kamil dan sempurna yang menyebabkan keridhaan Allah Ta’ala, namun mereka tetap bernasib malang. Sekalipun mereka dinisbahkan kepada Agama sempurna seperti itu, namun mereka bernasib malang, tidak beruntung. Mereka tidak mengambil bagian dari berkat-berkat dan ni’mat Agama ini. Padahal Allah Ta’ala telah menegakkan sebuah silsilah (Jemaat) untuk menghidupkan berkat-berkat dan ni’mat-ni’mat itu, namun kebanyakan mereka bangkit untuk menolaknya dan meneriakkan seruan “لستَ مرسَلا” lasta mursala – “engkau bukanlah seorang Rasul” dan “لستَ مؤمنا” lasta mu-mina – “engkau bukanlah orang beriman”. Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Mahdi Mau’ud as yang merupakan berkat dari Nubuwat Hadhrat Rasulullah saw mereka bukan menerima melainkan mengingkari beliau, dan mereka mulai menyerukan slogan: engkau bukan seorang Rasul Allah. Mereka mulai menyerukan slogan : kamu bukan orang muslim!

Beliau as bersabda: “Ingatlah! Menyatakan Tauhid Allah Ta’ala hanya dengan mulut sekali-kali tidak dapat menarik berkat-berkat yang di-ikrarkan dengan perasaan yag timbul karena amal saleh. Yakni, Tauhid Ilahi hanya pernyataan lisan belaka tidak akan dapat menarik berkat-berkat seperti yang diikrarkan dengan kewajiban-kewajiban lainnya, yakni dengan melakukan amal-amal saleh. Berkat-berkat Tauhid akan diperoleh apabila manusia melalui Hadhrat Rasulullah saw melakukan amal-amal saleh dengan mengikuti tauladan Hadhrat Masih Mau’ud as Benarlah bahwa Tauhid adalah aspek yang sangat tinggi kedudukannya, yang setiap Muslim sejati dan yang takut kepada Tuhan harus berusaha meraihnya, akan tetapi untuk menyempurnakan Tauhid itu mempunyai aspek lain lagi, yaitu mohabbat Ilahi yakni menyintai Allah Ta’ala. Maksud dan tujuan utama ajaran Al-Qur’anul Karim, yaitu sebagaimana Allah Ta’ala adalah Tunggal tanpa sekutu, begitu juga dari segi kecintaan, Allah Ta’ala harus diyakini Tunggal tanpa sekutu. Dan itulah yang selalu menjadi kehendak utama ajaran semua para Nabi. Maka, sebagaimana salah satu aspek dari “لا إله إلا الله” adalah mengajarkan Tauhid Ilahi, ia juga mengajarkan untuk meraih puncak paling tinggi dalam keintaan Tauhid Ilahi. Yakni, “لا إله إلا الله” memberi ajaran Tauhid juga dan memberi petunjuk untuk menyempurnakan kecintaan terhadap Tauhid juga. Dan sebagaimana telah saya katakan juga bahwa ia adalah kalimah yang sangat menawan hati dan sarat dengan pengertian-pengertian berbobot, tidak terdapat tandingannya di dalam Taurat maupun Injil, dan tidak ada pula kitab lain diatas dunia ini yang telah memberi ajaran sempurna seperti itu. “إله” artinya Kekasih atau Pujaan hati yang disembah. Jadi, sejatinya Islam itu menerapkan secara sempurna pengertian cinta. Ingatlah, Tauhid Ilahi tanpa kecintaan adalah tidak sempurna dan mengecewakan. Jadi, kecintaan Allah Ta’ala dapat diperoleh dengan menaati Hadhrat Muhammad Rasulullah saw Oleh sebab itu Allah Ta’ala berfirman, “فاتبعوني يحببكم الله” Rasulullah saw bersabda: Ikutilah daku maka Allah Ta’ala akan menyintai kamu. (Ali Imran:32)

Mengenai hakikat Tauhid dan bagaimana standar orang Mu’min berkenaan dengan Tauhid Ilahi, Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as bersabda, ”Di dalam hati orang-orang yang tunduk kepada penguasa atau mencari balas jasa dan pangkat dari mereka timbul perasaan ru’ub (takut) seperti orang merasa ru’ub terhadap Tuhan. Maka, jadilah mereka penyembah penguasa. Faktor inilah yang dapat melenyapkan kedudukan dan standar Tauhid Ilahi pada manusia dan membuat manusia terlempar jauh dari tujuan hidup sejati mereka. Para Nabi telah mengajarkan agar tidak terjadi bentrokan antara Tauhid Ilahi dengan sarana duniawi, melainkan setiap aspek harus ada pada tempatnya masing-masing, dan akhirnya semua harus bertumpu kepada Tauhid Ilahi. Para Nabi ingin mengajar manusia bahwa Tuhan-lah selaku Pemberi semua kehormatan, semua kesenangan dan semua keperluan. Jika kedudukan seseorang disamakan dengan Tuhan maka jelaslah bahwa apabila dua kekuatan itu saling bertabrakan maka salah satu dari padanya pasti binasa. Itu artinya, jika kedua kelompok itu bertabrakan maka salah satu diantaranya akan binasa. Oleh sebab itu pastilah Tauhid Allah Ta’ala akan berdiri.

Sarana dunia harus dipergunakan sesuai aspeknya, namun janganlah dijadikan tumpuan utama seolah-olah jadi sembahan. Yakni barang-barang dunia yang telah disediakan oleh Allah Ta’ala gunakanlah sesuai fungsinya, akan tetapi jangan dianggap keramat sebagai tuhan. Utamakanlah Tauhid. Dengan Tauhid itulah timbul perasaan cinta terhadap Allah Ta’ala, apabila manusia menganggap bahwa keberuntungan dan kemalangan atau kerugian ada ditangan-Nya. Dia-lah Muhsin Sejati, setiap partikel urusan berasal dari pada-Nya, tidak ada sesuatu yang berasal dari yang lain. Apabila manusia telah berhasil meraih kedudukan suci itu, dia disebut موحد (muwahid, yakni percaya kepada Satu Tuhan). Jika kedudukan seperti itu telah diperoleh, semua bergantung sepenuhya kepada Allah Ta’ala, tidak ada tumpuan lain lagi, barulah dapat disebut موحد (muwahid).

Jadi, salah satu keadaan Tauhid adalah, manusia jangan membuat tuhan dari batu, manusia atau dari suatu benda apapun, melainkan harus menjauhkan diri bahkan membenci perbuatan demikian. Dan keadaan kedua Tauhid adalah, jangan terlalu banyak bertumpu kepada sarana duniawi. Yakni jangan terlalu mempercayakan diri terhadap sarana duniawi atau jangan terlalu bergantung kepada sarana-sarana dunawi itu. Beliau as bersabda :” Keadaan ketiga Tauhid adalah, manusia melenyapkan keinginan-keinginan dirinya dan hawa nafsunya. Yakni untuk menegakkan Tauhid keadaan ketiga adalah melenyapkan keinginan nafsunya, menghapuskan maksud-maksud pribadi atau nafsani dan menentangnya. Kadangkala manusia menimbang kekuatan dan kemampuan pribadinya. Yakni dalam suatu pekerjaan ia sangat bertumpu hanya kepada kekuatan dan kemampuan pribadinya dan berkata bahwa ia telah memperoleh suatu keberhasilan karena kelebihan dan kemampuan pribadinya. Manusia begitu bangga kepada kekuatan dirinya sehingga setiap pekerjaan dinisbahkan hanya kepada kemampuan dirinya belaka. Manusia baru mencapai tingkat موحد (muwahid) apabila ia membantah kekuatan-kekuatan pribadinya sendiri.

Di sini timbul pertanyaan bahwa dari pengalaman menunjukkan bahwa pada umumnya manusia sedikit banyak melakukan sesuatu dosa. Kebanyakan orang terlibat dalam dosa besar, kebanyakan orang terlibat dalam dosa menengah dan kebanyakan orang terlibat dalam dosa sangat kecil dan halus, misalnya kedekut (kikir), ria atau pamer dan dosa-dosa lainnya lagi. Selama manusia tidak terlepas dari semua dosa itu, ia tidak dapat meraih kembali cahayanya yang sudah hilang.

Sejatinya, Allah Ta’ala telah memberi banyak sekali hukum-hukum. Banyak diantaranya yang tidak dapat dilakukan oleh setiap orang. Misalnya ibadah Hajji, diwajibkan hanya kepada mereka yang mempunyai kemampuan, aman di jalannya, mempunyai persediaan bekal cukup bagi keluarga yang ditinggalkan. Tidak benar seseorang pergi naik Hajji sedangkan keluarganya di rumah dibiarkan terlantar atau menderita kesusahan. Jika hal itu dan syarat-syarat lainnya dipenuhi baru Hajj dapat dilaksanakan. Begitu juga Zakat, wajib atas orang yang mempunyai cukup nisaab (memenuhi ukuran). Dan mengenai Salat juga, di waktu tertentu dapat dirobah, dapat diqosor, dapat diringankan empat raka’at menjadi dua raka’at dan dapat di jama’ juga, dua waktu Salat digabung menjadi satu waktu Salat. Akan tetapi ada perkara hal yang sama sekali tidak dapat dirobah yaitu kalimah toyyibah “لا إله إلا الله محمد رسول الله”. Inilah intisari Agama, yang lainnya merupakan rinciannya. Tauhid Ilahi tidak dapat disempurnakan jika ibadah tidak dilaksanakan. Jika ibadah dilaksanakan sesuai dengan perintah Allah Ta’ala maka Tauhid Ilahi dapat disempurnakan. Itulah maknanya bahwa orang yang mengucapkan “لا إله إلا الله محمد رسول الله” akan dianggap benar pernyataannya apabila ia buktikan secara amaliah, sebab baginya tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah Yang Maha Esa, Yang patut dimaksud dan patut dimohon. Jika keadaan iman dan amaliahnya sudah terbukti demikian maka pernyataannya itu tidak dapat dianggap dusta di hadapan Allah Ta’ala. Semua benda madiah (material) sudah hangus baginya dan imannya semakin kuat dan mantap yang membuat dirinya fana, hingga keluarlah selalu ucapan “لا إله إلا الله” dan bagian kedua “محمد رسول الله” terucap sebagai contoh. Sebab dengan menunjukkan contoh dan gambaran setiap perkara menjadi lebih jelas. Yakni, dengan menunjukkan contohnya semua perkara menjadi mudah dan jelas. Dan sebagai contoh utama adalah Hadhrat Rasulullah saw, dengan mengamalkan setiap ajaran Al-Qur’an beliau menunjukkan uswah hasanah kepada kita. Para Anbiya diutus ke dunia sebagai contoh tauladan. Dan Hadhrat Rasulullah saw adalah contoh tauladan yang paling sempurna dalam semua aspek sebab semua contoh tauladan para Anbiya terhimpun pada beliau saw

Pada suatu ketika dalam sebuah Majlis timbul sebuah pertanyaan, didalam Agama Yahudi juga diajarkan Tauhid Ilahi, sekarang apa kelebihan Islam dalam mengajarkan Tauhid itu? Dalam menjawab pertanyaan itu Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan, ”Tidak ada ajaran Tauhid di dalam Yahudi, namun hanya ada sekedar kulit Tauhid saja pasti ada dan hanya semata-mata kulit saja tidak membawa faedah sedikitpun. Tauhid mempunyai banyak martabat atau kedudukan. Tanpa mengetahui hal itu Tauhid tidak akan dapat dipahami. Tidak cukup hanya semata-mata mengucapkan “لا إله إلا الله” saja, syaitan juga bisa mengucapkan demikian. Selama tidak disertai dengan amaliah hakikat mengucapkan “لا إله إلا الله” tidak membawa kesan mendalam di dalam diri manusia. Adakah kesan-kesan demikian dikalangan orang Yahudi? Mengapa anda tidak memberi tahu kami? Si penanya itupun diam. Martabat Tauhid Ilahi yang paling utama adalah, manusia tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan firman Allah Ta’ala, dan tidak ada amal perbuatannya yang menentang kecintaan Allah Ta’ala. Jadi, ia harus betul-betul terbenam dan fana dalam menyintai Allah Ta’ala. Itulah sebabnya ialah “لا معبود لي ولا محبوب لي ولا مطاع لي إلا الله” yakni tiada yang patut disembah, tiada yang harus dimaksud dan tiada yang dita’ati selain Allah.

Ingatlah, syirik ada banyak macamnya. Diantaranya dikatakan syirik ja’li dan kedua syirik khafi. Contoh syirik ja’li adalah manusia menyembah patung berhala, pohon kayu dan benda-benda lain. Benda-benda tersebut dianggap sembahan mereka. Dan syirik khafi adalah manusia hormat atau tunduk kepada suatu benda seperti hormat atau tunduk kepada Allah Ta’ala. Menghormati sesuatu secara berlebihan yang tidak semestinya seperti harus menghormati Allah Ta’ala. Atau menyintai suatu benda seperti menyintai Allah Ta’ala, atau ia takut kepada suatau benda atau menggantungkan harapan-harapan kepadanya. Pikirkan dan renungkanlah baik-baik, apakah hakikat ini tidak terdapat secara sempurna di dalam para pengikut Taurat? Di zaman Hadhrat Nabi Musa as sendiri telah terjadi hal itu. Jika ajaran Taurat cukup, maka seharusnya orang-orang Yahudi sudah mensucikan diri mereka. Akan tetapi mereka tidak berbuat demikian. Bahkan mereka sangat berhati keras dan tidak menaruh hormat terhadap Nabi Musa as Hanya Kitab Suci Al-Qur’an yang memberi kesan terhadap kalbu manusia, dengan syarat semua arti dan maksud yang jelas dan penting diikutinya, bukan dibantah. Dan contohnya dapat disaksikan di setiap zaman, sekarang juga dapat disaksikan. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’anul Karim, قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ Yakni: Hai Rasul katakanlah kepada mereka! Jika kamu menyintai Allah maka ikutilah aku, Allah Ta’ala akan menyintai kamu (Ali Imran:32). Mengikuti Hadhrat Muhammad Rasulullah saw dengan sempurna dapat menyampaikan manusia menjadi kekasih Allah Ta’ala.

Dari itu jelaslah bahwa beliau saw adalah contoh yang sempurna sebagai موحد (muwahhid, yakni percaya kepada Satu Tuhan). Jika orang-orang Yahudi beriman kepada Tauhid Ilahi, tidak ada alasan bagi mereka untuk menjauh dari موحد (muwahhid) seperti itu. Harus ingat bahwa mereka juga harus beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw Dan mereka harus ingat bahwa mengingkari dan memusuhi Khotamur Rusul Allah Ta’ala adalah perkara yang sangat berbahaya sekali. Akan tetapi mereka tidak mempedulikannya. Dan sekalipun nubuatan itu telah tertulis di dalam kitab mereka namun mereka telah menolaknya. Tidak ada alasan lain mengapa mereka telah berlaku demikian melainkan “قستْ قلوبهم.” hati mereka sudah sangat keras.

Pada suatu peristiwa berkenaan dengan pendirian yang salah tentang Hadhrat Isa as Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda:“ Islam telah membawa Tauhid yang sangat bersih dan murni yang tidak terdapat contoh maupun tanda-tandanya yang serupa di dalam agama-agama lain. Sehingga saya yakin bahwa sekalipun di dalam kitab-kitab terdahulu Tauhid telah dikemukakan dan tujuan kebangkitan semua para Nabi Allah Ta’ala juga untuk menyebarkan Tauhid Ilahi, akan tetapi cara yang dikemukakan oleh Hadhrat Khatamul Anbiya tentang Tauhid Ilahi dan cara yang dijelaskan secara terbuka martabat Tauhid Ilahi oleh Kitab Suci Al-Qur’an, sama sekali tidak terdapat di dalam kitab-kitab lain. Kemudian jika mereka bermaksud untuk mengotori mata air yang bersih itu, yakni mereka yang menentang Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as dan tidak percaya Nabi Isa as sudah wafat, mereka telah berdusta atas nama Allah, kemudian mereka menamakan diri sebagai Muslim juga, tentang mereka ini Hadhrat Masih Mau’ud as bersada: “Apabila mereka (yang menamakan diri Muslim) itu telah mengotori sumber mata air yang bersih dan murni ini, tindakan apa lagi yang mereka tinggalkan dalam menghina Islam? Natijahnya, nasib buruk mereka adalah, ketika Islam sejati yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah saw dihadapkan kepada mereka, dan dibuktikan dengan Kitab Suci Al-Qur’an bahwa pendapat kalian salah, maka mereka menjawab; Inilah yang telah dipercayai Nenek moyang kami.

Namun saya bertanya, apakah dengan hanya menjawab demikian mereka telah terlepas dari kesalahan? Tidak! Melainkan sesuai dengan Qur’an Syarif dan sesuai dengan sunnah Allah Ta’ala semenjak dulu sebuah dalil menjadi sempurna, bila saja seorang Nabi atau Utusan Tuhan datang ke dunia, maka setelah mendengar ajarannya para penentangnya berkata, مَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ Artinya, “Tidak pernah kami mendengar ajaran seperti ini dari bapak-bapak kami semenjak dulu.” (Al Mu’minun, 23:25)

Berkenaan dengan Tauhid fil asbab Hadhrat Masih, Mahdi Mau’ud as bersabda, “Tauhid bukan hanya sekedar mengatakan dengan mulut, واشھد ان محمد رسول اللہ اللہ اشھد ان لا الہ الا Melainkan makna Tauhid adalah bahwa Keagungan Allah Ta’ala tertanam sedalam-dalamnya di dalam kalbu. Jangan menempatkan kebesaran sesuatu yang lain di dalam kalbu. Setiap amal, setiap gerak dan ketenangan semata-mata hanya karena Allah Ta’ala. Dan harus percaya penuh kepada-Nya dalam setiap urusan. Jangan menaruh pandangan, tawakkal ataupun pengharapan kepada yang lain selain kepada Allah Ta’ala. Jangan menyekutukan sesuatu apapun dengan Zat Allah Ta’ala dan Sifat-sifat-Nya.

Pada zaman ini hakikat syirik berupa penyembahan terhadap makhluk sudah jelas dan manusia sedang mulai sadar. Yakni orang-orang Kristen juga yang sebelumnya menganggap Yesus sebagai Tuhan sekarang mereka mulai meninggalkannya, mulai menyadari. Oleh sebab itu orang-orang Kristen di Eropah dan di semua Negara setiap hari sedang mulai meninggalkan Agama mereka dengan rasa benci. Maka, hal ini sedang diselidiki setiap hari di dalam surat-surat kabar dan majalah-majalah serta selebaran-selebaran yang dibaca di sini. Sekarang begitu cepatnya jumlah orang-orang yang meninggalkan Agama mereka, ribuan kali lipat dari sebelumnya. Bahkan banyak sekali orang yang menamakan diri mereka Kristen sudah tidak percaya lagi bahwa Hadhrat Isa as masih hidup. Sebabnya mereka-pun sudah tidak percaya lagi kepada Tuhan.”

Beliau as bersabda; “Pendeknya sekarang manusia tidak percaya lagi penyembahan terhadap makhluk. Namun pemujaan terhadap sarana duniawi adalah semacam syirik yang tidak dipahami oleh banyak manusia. Misalnya seorang petani berkata:” Jika ia tidak bekerja di ladang dan tidak membawa hasil buahnya, maka ia tidak bisa hidup. Begitu juga setiap orang yang mempunyai usaha lain bergantung kepada usahanya dan ia menganggap, jika tidak melakukan ini maka kita tidak mungkin bisa hidup. Hal itu namanya ‘asbabe peresti’ artinya penyembahan terhadap barang-barang duniawi. Dan hal itu terjadi, karena mereka tidak beriman kepada qudrat atau kekuatan Allah Ta’ala.

Jangankan kepada suatu usaha, bahkan makanan, air, udara, barang-barang yang menjadi sarana kehidupan juga, tidak dapat memberi faedah kepada manusia, jika tidak ada izin dari Allah Ta’ala. Yakni jika tidak ada izin Allah Ta’ala apapun tidak dapat memberi faedah. Itulah sebabnya apabila manusia hendak minum air, ia harus ingat bahwa air ini telah diciptakan oleh Allah Ta’ala.

Dan air-pun tidak dapat memberi manfa’at jika tidak ada izin dari Allah Ta’ala. Dengan izin Allah Ta’ala, air bisa memberi faedah kepada manusia. Air itu juga jika tidak ada izin Allah Ta’ala akan mendatangkan bahaya. Kisah seorang sedang berpuasa, ketika berbuka puasa ia meminum seteguk air. Segera setelah minum air ia jatuh tidak berdaya, sebab air telah menjadi racun baginya. Segera setelah minum air dia merasa sakit, jatuh terbaring sehingga tidak bisa bangun lagi. Itulah air yang memberi kehidupan, di sana telah menjadi tacun baginya. Setelah berbuka puasa orang-orang banyak minum air yang kadang-kadang membahayakan juga. Kita harus selalu waspada. Selanjutnya beliau as bersabda:” Pekerjaan, apakah yang bersifat kemasyarakatan, atau bersifat lainnya lagi, tidak mengandung berkat jika tidak ada keridhaan dari langit.

Pendeknya, harus yakin bahwa dalam setiap pekerjaan terdapat kinerja tangan Tuhan. Jika tidak mempunyai keyakinan demikian maka di dalamnya terdapat pengaruh atheisme atau dahriyat. Mula-mula barang-barang itu diputuskan di langit kemudian berlangsung prosesnya di atas bumi. Tauhid Ilahi tidak mempunyai aspek kesombongan. Tengoklah keadaan para maulwi, pandai memberi nasihat kepada orang lain, mereka sendiri tidak melakukannya sedikitpun, dan sekarang mereka tidak dipercaya lagi.

Pada suatu ketika, seorang maulwi sedang memberi ceramah tentang sedekah, isterinya juga ada di sana. Maulwi itu telah menjelaskan tentang pentingnya sedekah atau derma dan dikaitkan dengan pengampunan Allah Ta’ala. Ada seorang perempuan sangat terkesan sekali mendengar ceramahnya itu sehingga ia mengorbankan sebuah perhiasan yang sedang ia pakai dikakinya. Maulwi itu berkata kepadanya, engkau telah mengorbankan sebuah perhiasan dari sebelah kakimu. Apakah kakimu yang kedua mau dibiarkan masuk neraka? Setelah mendengar perkataan maulwi itu, ia serahkan perhiasan dari kakinya yang kedua. Setibanya di rumah isterinya-pun sangat terkesan dan ingin memberi sedekah atau derma seperti perempuan itu. Namun maulwi itu berkata: “ Nasihat itu hanya untuk disampaikan bukan untuk diamalkan. Jika tidak berbuat seperti itu dari mana kita bisa memenuhi keperluan hidup kita.” Begitulah keadaan para maulwi pada zaman ini.

Pada suatu kesempatan dalam menjelaskan tentang seorang mu’min sejati yang berpegang teguh kepada Tahuid Ilahi, bagaimana seharusnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Mu’min adalah manusia yang tidak peduli terhadap dirinya, ia hanya menginginkan keridhaan Allah Ta’ala. Dan setiap waktu ia selalu ingat untuk itha’at kepada-Nya. Apabila setiap perkara-nya diserahkan kepada Allah Ta’ala, maka ia tidak merasa takut akan terjadi kerugian atau keuntungan. Apabila manusia memasukkan wujud lain di dalam pikirannya selain Allah Ta’ala, maka ia terlibat di dalam perbuatan ria, kemunafikan, kesombongan serta perbuatan dosa. Ingatlah, perbuatan menyekutukan seperti itu adalah racun dan disangkal di bagian pertama dari “لا إله إلا الله” yaitu “لا إله” artinya tiada tuhan. Apabila seorang manusia tidak dapat melaksanakan perintah Allah Ta’ala demi kepentingan orang lain, maka akhirnya ia sedikit banyak terlibat dalam menyekutukan salah satu sifat Allah Ta’ala, karena itu ia tidak dapat melakukan perintah Ilahi. Allah Ta’ala mempunyai banyak sekali hukum atau perintah-Nya. Orang yang tidak mengamalkan perintah Allah Ta’ala, ia meninggalkannya. Yakni ia menyekutukan sesuatu dengan sifat Allah Ta’ala. Maka pekerjaannya tidak akan berhasil. Oleh sebab itu diwaktu mengucapkan “لا إله” artinya tiada tuhan, ia menyangkal wujud tuhan-tuhan (sembahan) seperti itu. Seorang mu’min sejati apabila mengucapkan “لا إله” ia menyangkal wujud tuhan-tuhan (sembahan) seperti itu, yakni tidak menyekutukan sifat-sifat Allah Ta’ala dengan sifat sesuatu apapun. Itulah hakikat kalimah “لا إله”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:” Ada beberapa kisah tertulis di dalam beberapa buku. Terdapat sebuah kisah seorang yang sedang berpuasa. Seorang Maulwi bertamu kerumah salah seorang kawannya dengan tujuan secara tidak langsung hendak memberi tahu kawannya itu bahwa dia sedang berpuasa. Ketika yang punya rumah mau menghidangkan makanan kepadanya, dia menjawab: Ma’af saya sedang ada uzur!! Dia bukan langsung mengatakan dirinya sedang berpuasa, melainkan dia memberitahukannya dengan cara agar kawannya itu terkesan dan memuji bahwa dia susah payah sedang menahan nafsu karena puasa itu, padahal kawannya itu ingin menghidangkan sesuatu baginya. Alhasil, dia tidak langsung mengatakan dengan jelas bahwa dirinya sedang berpuasa, namun mencari jalan untuk mengatakan alasan: Saya tidak akan makan atau minum apapun!

Pendeknya, banyak sekali dosa-dosa tersembunyi dibalik tabir, yang menghancurkan amal saleh. Seperti, berpura-pura atau dibuat-buat, atau dengan cara lain yang tujuannya untuk memperlihatkan kebaikannya. Itu semua adalah dosa tersembunyi. Dengan itu lambat laun amal saleh menjadi hancur, sehingga manusia menjadi jauh dari Tauhid. Orang-orang kaya-raya pada takabbur dan sombong, yang menghancurkan amal mereka. Oleh karena itu orang-orang miskin yang tidak memiliki pikiran seperti itu, mereka meraih kedudukan rohaniah lebih tinggi dari mereka, sebab takabbur dan kesombongan membuat manusia jauh dari Tauhid Ilahi. Sebab ria, nifaq (kemunafiqan) dan sebagainya seumpama seekor tikus, yang selalu memakan amal dari dalam. Allah Ta’ala Maha Mulia, akan tetapi untuk datang mendekat kepada-Nya diperlukan sifat merendahkan diri. Jika manusia merendah diri, maka ia dapat mendekat kepada-Nya. Orang yang tinggi hati atau ego, baik dari segi ilmu maupun dari segi harta kekayaan atau keturunan, akan tertinggal jauh di belakang. Itulah sebabnya sudah tertulis di dalam banyak kitab-kitab bahwa wali-wali Allah sangat sedikit yang timbul dari kalangan orang-orang berada. Sebab ketinggian martabat keluarga menjadikan mereka takabbur dan sombong. Ketika pikiran demikian timbul dikalangan orang-orang setelah zaman qurun permulaan Islam, mereka tertinggal jauh di belakang. Tabir hambatan seperti itu membuat manusia bernasib malang. Sangat sedikit sekali manusia demikian yang mendapat keselamatan dari padanya. Kekayaan dan kepemimpinan juga merupakan tabir penghalang.

Hadhrat Masih Mau’ud as menerima sebuah Ilham, “أنت مني وأنا منك” yakni; engkau dari pada-Ku dan Aku dari pada engkau. Banyak orang mengajukan keberatan bahwa ilham ini bertentangan dengan Tauhid Ilahi.

Beliau as bersabda, “أنت مني” sungguh jelas, manusia tidak bisa mengajukan suatu kritikan. Kedatangan saya semata-mata karunia Allah Ta’ala dan saya dari pada-Nya. Segala apa yang telah saya capai adalah, karena karunia Allah Ta’ala, Dia Yang telah memberi. Harus diingat bahwa, sebagaimana telah berulang kali dinyatakan di dalam Al-Qur’an bahwa وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ yakni, Dia Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, baik bagi Zat-Nya, maupun bagi Sifat-Nya atau bagi kinerja-Nya. Sebetulnya adalah, iman terhadap Tauhid Ilahi tidak dapat sempurna, apabila manusia tidak suci-bersih dari setiap jenis syirik. Tauhid Ilahi seseorang akan sampai ketingkat sempurna apabila manusia percaya bahwa Allah Ta’ala tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu, baik dari segi Zat-Nya, sifat-siat-Nya atau dari segi kinerja-Nya. Orang-orang bodoh mengajukan keberatan terhadap Ilham-ku ini dan mereka tidak paham apa hakikatnya. Sekalipun telah ikrar bahwa Tuhan adalah Tunggal atau Esa, namun mereka menisbahkan sifat Allah Ta’ala kepada seseorang. Misalnya mereka percaya bahwa Hadhrat Nabi Isa as adalah muhyi (Pemberi kehidupkan) dan mumit (Pemberi kematian) yakni, mereka percaya bahwa Hadhrat Nabi Isa as bisa menghidupkan dan mematikan, bahkan mereka percaya beliau sebagai‘alimul ghaib, beliau mengetahui perkara ghaib. Mereka percaya beliau Al Hayyu Qayyum. Apakah itu bukan syirik? Ini adalah syirik sangat berbahaya sekali, yang telah menghancurkan Agama Kristen. Sekarang orang-orang Muslim memasukkan keyakinan itu kedalam aqidah mereka. Maka, sifat-sifat Allah Ta’ala seperti itu, jangan dinisbahkan kepada seseorang sekalipun kepada seorang Nabi atau Wali Allah Ta’ala, begitu juga terhadap kinerja-kinerja Allah Ta’ala jangan dimasukkan kedalam kinerja manusia. Banyak orang yang mulai banyak bergantung kepada sarana duniawi demikian kuatnya sehingga mereka lupa kepada Kekuasaan Allah Ta’ala. Sedangkan hakikat Tauhid Ilahi adalah, sekelumitpun jangan melakukan syirik fil asbab yakni syirik terhadap suatu sarana atau benda. Jangan terlalu banyak menaruh keyakinan terhadap keistimewaan benda-benda dunia, atau memandang benda-benda itu berkhasiat dengan sendirinya, melainkan harus diyakini sekuat mungkin bahwa Tuhan-lah yang telah menciptakan khasiat atau keistimewaan benda itu. Misalnya, beberapa jenis akar tetumbuhan mengandung obat untuk menyembuhkan diare, untuk menyembuhkan berbagai penyakit lainnya atau bisa dibuat sebagai racun pembunuh. Semua kekuatan atau keistimewaan benda-benda itu bukan timbul dengan sendirinya, melainkan Allah Ta’ala telah menanamkan di dalamnya. Jika Allah Ta’ala mengeluarkan khasiat atau keistimewaannya itu maka benda-benda itu tidak akan ada nilainya lagi. Pendeknya, janganlah memandang keistimewaan suatu benda itu terlalu berlebih-lebihan, jangan menyekutukan sesuatu dengan sifat Allah Ta’ala dan kinerja-Nya. Itulah kepercayaan yang benar dalam Tauhid Ilahi dan orang yang berbuat demikian disebut موحد (muwahhid). Akan tetapi jika seseorang menisbahkan sifat Allah Ta’ala dan kinerja-Nya terhadap benda lain, maka bagaimanapun kerasnya dia mengakui Tauhid Ilahi, dia tidak dapat dikatakan موحد (muwahhid). موحد (muwahhid) seperti itu terdapat di dalam orang-orang yang beragama Arya juga, yang menyatakan dengan mulutnya beriman kepada Satu Tuhan, namun sekalipun telah ikrar demikian mereka percaya bahwa badan dan ruh manusia tidak diciptakan oleh Allah Ta’ala. Mereka tidak memerlukan Allah Ta’ala untuk kehadiran dan kehidupan mereka. Seakan-akan ruh dan badan jasmani mereka adalah kekal dengan sendirinya. Adakah syirik yang lebih besar dari ini? Begitu juga banyak sekali manusia yang tidak dapat membedakan antara syirik dengan Tauhid Ilahi. Mereka melakukan suatu perbuatan atau berpegang kepada akidah yang secara jelas terdapat syirik di dalam diri mereka. Misalnya seseorang berkata: Jika tidak ada si Fulan, tentu kami sudah binasa atau pekerjaan kami tidak berjalan dengan baik. Jadi, janganlah hendaknya manusia terlalu berlebih-lebihan dalam menaruh keyakinan terhadap kekuatan sarana-sarana duniawi dan janganlah menyekutukan sifat-sifat Ilahiyah kepada siapapun. Kekuatan dan kemampuan yang Allah Ta’ala tanamkan di dalam diri manusia, fungsi-fungsinya tidak akan melampaui batas. Misalnya mata, diciptakan untuk melihat, kuping untuk mendengar, lidah untuk berbicara dan alat perasa. Seseorang tidak dapat berkata bahwa mata dapat digunakkan untuk mendengar dan kuping untuk melihat atau untuk bicara dan alat untuk perasa. Semua organ itu keistimewaan dan kemampuannya terbatas. Akan tetapi kinerja dan sifat-sifat Allah Ta’ala tidak terbatas. Dia adalah “ليس كمثله شيء” laisa kamitslihi syaiun (Dia tidak dapat diserupakan dengan sesuatu). Pendeknya Tauhid ini baru akan sempurna apabila diyakini bahwa Allah Ta’ala itu Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan manusia harus menganggap hakikat dirinya adalah halikatuz zat dan batilatul hakikat, yakni saya dan semua wujud saya bukan wujud yang berarti.

Mengenai أنا منك Aku dari engkau, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:” Untuk memahami hakikat dari Ilham ini harus diingat bahwa setelah manusia mencapai kepuncak martabat fana yang sempurna telah memperoleh kehidupan baru dan suci yang kepadanya Allah Ta’ala berfirman kepadanya: أنت مني yakni: engkau dari Aku, adalah dalil bahwa ia telah mengenal qurub-Nya dan hakikat ma’rifat-Nya. Dan insan ini menjadi sasaran bagi penampakan Tauhid Ilahi, Kehormatan dan Keagungan-Nya serta Jalal-Nya (Kegagahan-Nya). Dan ia menjadi bukti nyata dan hidup bagi Wujud Zat Allah Ta’ala. Dari segi itu seolah-olah manifestasi Allah Ta’ala selalu nampak pada dirinya.” Yakni orang yang selalu terbenam di dalam lautan kecintaan Allah Ta’ala, manifestasi Allah Ta’ala pasti nampak pada dirinya. Penampakan Allah Ta’ala mempunyai sebuah cermin. Dalam keadaan apabila wujud manusia menjadi penampakan cermin wujud Allah Ta’ala. Kepadanya Allah Ta’ala berfirman: “أنا منك” yakni: Aku dari engkau. Orang yang mendengar suara “أنا منك” Aku dari engkau, datang ke dunia ini apabila ibadah kepada Allah Ta’ala sudah ditinggalkan, tanda-tanda ibadah kepada Allah Ta’ala sudah hilang lenyap. Yakni suara “أنا منك” Aku dari engkau datang kepada manusia, apabila manusia sama-sekali sudah meninggalkan ibadah kepada Allah Ta’ala tanda-tanda ibadah-pun sudah hilang lenyap. Pada zaman ini juga karena kejahatan dan keburukan sudah sangat meningkat di atas dunia dan jalan untuk mengenal Tuhan serta jalan-jalan untuk menuju kepada-Nya sudah tidak nampak lagi, maka Allah Ta’ala telah mendirikan Jemaat Ahmadiyya ini. Dan semata-mata dengan karunia-Nya, Allah Ta’ala telah mengutus saya, agar saya memberi tahu kepada orang-orang yang lengah dan tidak mengenal Allah Ta’ala dan bukan hanya memberi tahu melainkan saya perlihatkan Tuhan kepada mereka yang datang dengan patuh ta’at disertai kebenaran dan kejujuran. Atas dasar itu Allah Ta’ala berfirman kepada saya, أنت مني وأنا منك anta minni wa Ana minka Yakni: engkau dari-Ku dan Aku dari engkau. Salah satu jenis lagi Tauhid adalah karena hangatnya cinta kepada Allah Ta’ala semua keinginan nafsi dibuang jauh dan seluruh wujud terbenam di dalam kecintaan-Nya.”

Dalam menjelaskan keikhlasan Sahabah, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:” Keadaan para Sahabah sangat menakjubkan, mereka tidak memandang panas dan tidak pula sejuk (dingin) mereka telah membinasakan kehidupan mereka. Mereka tidak menghiraukan kehormatan dan tidak pula keselamatan jiwa mereka. Mereka laksana kambing rela menyerahkan leher untuk disembelih. Melakukan semua seperti itu tidak mudah. Keikhlasan yang bagaimana lagi sebagai bukti bagi Jemaat ini? Membuktikan keikhlasan dengan mengorbankan nyawa. Nafs mereka sudah betul-betul kosong dari keinginan duniawi. Seperti orang-orang yang betul-betul sudah siap berdiri untuk menempuh perjalanan. Demikianlah orang-orang itu sudah siap meninggalkan dunia untuk menuju alam akhirat. Sebagian besar pekerjaan manusia terlibat dalam urusan dunia dan sibuk memikirkan harus begini-harus begitu. Sekarang sudah tiba waktu yang ditentukan. Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakan siapapun.

Terdapat pengaduan yang salah bahwa kekayaan kita akan hancur. Di zaman Hadhrat Rasulullah saw, kekayaan apa yang dimiliki oleh Hadhrat Abu Bakar r.a. dan lain-lain? Mungkin seseorang memiliki seratus dua ratus Dollar atau lebih, akan tetapi ganjaran yang diterima mereka adalah kedudukan sebagai raja. Dan mereka menjadi waris kedudukan Kaisar kerajaan Kisra (Iran). Akan tetapi ghairat Allah Ta’ala tidak menghendaki bahwa sebagian dari sesuatu diserahkan untuk Tuhan dan sebagian lagi untuk syaitan, sedangkan Tauhid Ilahi menghendaki maut, sebab kematian itulah penyebab kehidupan sejati.”

Selanjutnya beliau as bersabda, ”Pahamillah dengan sesungguhnya bahwa setelah kehidupan dunia ini ada lagi kehidupan akhirat yang tidak akan pernah berakhir. Untuk itu kalian harus mempersiapkan diri. Dunia beserta segala keindahannya akan habis di sini. Saya berkata dengan sesungguhnya bahwa menjauhkan diri dari semua perkara itu kemudian datang kepada Allah Ta’ala, itulah orang mu’min. Apabila seorang manusia menjadi milik Tuhan, tidak mungkin Tuhan Yang Maha Kuasa akan meninggalkannya. Barangsiapa yang menyerahkan sesuatu di jalan Allah Ta’ala, dialah yang akan menerima ganjaran banyak dari pada-Nya. Jika kalian mendahulukan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala dan tidak menginginkan anak keturunan, maka yakinlah kalian akan mendapat anak keturunan. Dan jika tidak menginginkan harta maka Dia pasti akan memberinya kepada kalian. Janganlah kalian melakukan dua macam usaha. Sebab dalam satu waktu tidak dapat melakukan dua macam usaha. Lakukanlah hanya satu usaha, yakni berusahalah betul-betul untuk mendapatkan Allah Ta’ala. Orang yang meninggalkan urusan dunia karena Allah Ta’ala, dunia juga akan dia peroleh dengan syarat, jauhkan diri dari setiap jenis syirik. Saya ingatkan lagi bahwa akar Islam adalah Tauhid Ilahi. Yakni jangan terdapat sesuatu di dalam hati manusia kecuali Allah Ta’ala. Janganlah menjadi seorang yang lupa kepada Allah dan Rasul-Nya, bagaimanapun kerasnya bala atau musibat menimpa. Atau harus menghadapi kesusahan dan kesulitan, akan tetapi jangan keluar keluhan dari mulut kalian.

Bala atau musibah yang menimpa manusia, disebabkan perbuatan nafsinya sendiri. Allah Ta’ala tidak berlaku zalim. Memang kepada orang-orang saleh juga datang musibah, namun lain, menyebutnya musibah padahal sebetulnya ia bukan musibah, melainkan ilham berbentuk ni’mat. Dengan itu hubungannya dengan Allah Ta’ala semakin bertambah dan kedudukannya semakin tinggi. Orang lain tidak bisa memahaminya. Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Allah Ta’ala dan karena perbuatan buruknya ia mendapat bala musibah maka ia akan lebih sesat lagi. Tentang orang-orang seperti itulah Allah Ta’ala berfirman, في قلوبهم مرض فزادهم الله مرضا Yakni: Di dalam hati mereka terdapat penyakit maka Allah menambah parah penyakit mereka. (Al Baqarah: 11). Maka takutlah selalu dan mintalah selalu krunia-Nya kepada Allah Ta’ala. Jangan sampai kalian menjadi orang-orang yang memutuskan hubungan dengan Allah Ta’ala. Orang yang menggabungkan diri dengan Jemaat yang didirikan oleh Allah Ta’ala, dia tidak melakukan suatu ihsan apapun kepada Allah Ta’ala, melainkan sebaliknya Allah Ta’ala telah memberi taufiq, karunia dan ihsan kepadanya.

Allah Maha Kuasa, menghancurkan sebuah kaum kemudian menciptakan kaum lain sebagai gantinya. Zaman sekarang ini serupa dengan zaman Nabi Luth dan Nabi Nuh as. Kecuali jika turun azab yang sangat dahsyat yang menghancur-leburkan dunia sampai lenyap. Allah Ta’ala dengan karunia dan kasih-sayang-Nya menghendaki islah atau perbaikan, maka Dia telah mendirikan Silsilah Ahmadiyya ini.” Kita juga mempunyai tanggung jawab yang sangat besar sekali untuk memahami ajaran ini serta memahami Tauhid hakiki.

Beliau bersabda, ”Yang paling penting sekali bagi Jemaat kita adalah melakukan perbaikan diri yang bersih agar memperoleh ma’rifat Ilahi yang segar. Jika seseorang menda’wakan diri telah memperoleh ma’rifat Ilahi namun ia tidak melakukan perbaikan diri yang bersih, maka penda’awaannya itu hanya semata-mata di mulut belaka. Jangan hendaknya kemalasaan orang lain mempengaruhi Jemaat kita menjadi lalai. Jangan mengikuti langkah orang-orang dunia. Dengan melihat kecintaan mereka kepada dunia jangan mempengaruhi hati kita menjadi keras. Melihat gerak-gerak mereka jauh dari Agama dan tidak menyintai Allah Ta’ala jangan sampai hati kita terpengaruh oleh mereka. Manusia mempunyai banyak sekali cita-cita dan keinginan. Padahal siapakah yang tahu tentang keputusan Ghaib. Kehidupan tidak sesuai dengan keinginan-keinginan. Masalah keinginan-keinginan lain sifatnya dan keputusan taqdir juga lain lagi. Dan yang benar adalah keputusan taqdir. Maka hati kita harus dibangun-bangunkan atau diingat-ingatkan, harus waspada untuk memahami semua itu. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita untuk memahami Tauhid Ilahi yang sejati. Dan semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua amal yang kita lakukan semata-mata demi meraih keridhaan-Nya.

Setelah shalat Jumat, saya akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk Mukarom Abdul Karim Abbas Sahib dari Syria. Yang dengan ketetapan Ilahi telah wafat pada tanggal 5 Mei. إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillahi wa inna ilaihi roji’un. Beliau bai’at pada tahun 2005, namun beliau telah termasuk di antara orang-orang yang berada di garis terdepan. Di dalam keluarga, hanya beliau sendiri yang Ahmadi. Tahun 2009 beliau masuk dalam nizam Alwasiyat. Beliau dawam dalam pembayaran candah. Kondisi krisis keuangan negara yang terjadi tahun lalu, memberi pengaruh juga kepada beliau. Jika beliau sedang berada di tempat yang jauh sekalipun, beliau biasa menitipkan candah ke salah seorang keluarga beliau. Beliau terkena diabetes dan kesehatannya cukup kritis. Badan beliau juga menjadi kurus. Setelah kesehatan kritis dan sakit, beberapa hari lalu beliau menghadap ke Hadirat Allah Ta’ala.

Mulhim al-‘Adas Sahib bertablig kepada beliau, karena sifat shidiq dan keihklasan beliau, maka dengan cepat beliau mendapatkan taufik untuk bai’at. Dikatakan bahwa karena beliau merupakan seorang pencari kebenaran dan memiliki kerohanian tinggi maka beliu banyak muthola’ah, selain itu beliau juga telah menerima kebenaran dan sebulan setelah ditabligi, kemudian beliau bai’at. Setlah bai’at beliau melihat dalam mimpi bahwa beliau sedang shalat bersama Kibar Sahabah (para Sahabat besar) di masjid Quba, dan semuanya mengenakan pakaian putih. Ketika sedang shalat, keadaan beliau penuh dengan nuansa kerohanian. Karena mimpi ini, almarhum sangat senang. Beliau selalu mengatakan bahwa mimpi tersebut merupakan bukti bahwa keputusan beliau untuk bai’at adalah benar. Tetapi karena kerendahan hati beliau, beliau selalu bertanya bahwa apakah beliau ini benar-benar layak termasuk orang-orang yang shalat bersama para sahabat. Dimanapun berada, beliau selalu bertablig. Beliau tidak memperdulikan teror dan kecaman siapapun. Secara khusus perlu juga disampaikan bahwa beliau ini tinggal di tempat yang penduduknya tidak mau mendengar perkataan yang bertentangan dengan akidah dan kebiasan-kebiasaan mereka.

Meskipun sakit keras, beliau tetap mengadakan hubungan dengan jemaat, melakukan muthola’ah dan mempelajari dalil-dalil, serta menjelaskannya dengan lembut di depan. Beliau terkenal berhati lembut dan berpembawaan halus. Beliau selalu membuktikan bahwa penyakit itu bukan halangan, dan beliau senantiasa ambil bagian dalam menyampaikan setiap pesan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam. Ketika menjelaskan berkenaan dengan Hadhrat Masih mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam saat bertablig, maka mata beliau menjadi berkaca-kaca. Dalam hal kebenaran, beliau selalu melakukannya dengan penuh keberanian. Orang-orang yang mendengarkan tidak menyadari kalau-kalau perkataan seperti demikian dapat disampaikan oleh orang yang kurus kering sekalipun.

Karena keluarga beliau bukan Ahmadi, setelah beliau wafat mereka mebawa beliau ke kampung Abai dan orang Ahmadi di sanapun tidak menyembahyangkan jenazah beliau. Namun demikian, setelah itu para anggota melaksanakan shalat jenazah ghaib. Kita juga insya Allah akan melaksanakannya.

Tn. Hani Tahir menulis bahwa almarhum adalah sorang Ahmadi mukhlis. Tahun 2009 beliau mempersembahkan pengerjaan design website untuk saya. Saya telah meminta maaf karena sempitnya waktu saya, maka beliau mengatakan, “Kirimkan saja artikel-artikelnya kepada saya, pekerjaan-pekerjaan lainnya akan saya kerjakan.” Lalu beliau men-design sebuah website yang sangat bagus. berkenaan dengan mengkhidmati jemaat, beliau biasa menunjukkan kecintaan, dan kegelisahan. Majid Amir Shaib juga menulis bahwa almarhum bersama Muhammad al-‘abas mendapatkan taufik untuk mengecek dan meriview terjemahan buku Hadhrat Masih Mau’ud dari bahasa Urdu ke bahasa Arab. Saat-saat itu terasa bahwa beliau melakukan pekerjaan dengan keiklasan yang luar biasa dan terbiasa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Beliau tidak pernah menjadikan penyakit sebagai penghalang, bahkan menyinggung-nyinggung mengenai penyakit pun tidak pernah.

Setelah membaca tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam beliau memperlihatkan kebahagaiaan dan kegembiraan dan sering beliau mengatakan bahwa beliau ingin agar ilmu-ilmu dan ajaran-ajaran Hadhrat Masih Mau’ud segera sampai kepada orang-orang Arab, agar mereka juga mendapatkan faidah dan memperoleh hidayah. Beliau sangat menyintai khilafat. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau, dan mengampuni beliau.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Ruadad Jalsa, Ruhani Khaza’in, Vol. 15, p. 618

(Visited 35 times, 1 visits today)