Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Disampaikan tanggal 17 Tabligh 1391 HS/Februari 2012

Bertempat di Masjid Baitul Futuh, Morden, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Tuhan Yang Maha Hidup dan Agama yang Hidup

Agama yang hidup adalah agama yang di dalamnya Qudrat Allah Ta’ala senantiasa terlihat menampakkan manifestasinya.  Dan sekarang ini yang tidak hanya menyatakan diri agama yang hidup bahkan membuktikan secara amalan hanya dan hanya Islam saja. Tuhan Islam adalah Tuhan itu yang sekarang juga dapat menyampaikan kalam-Nya kepada yang Dia ingini. Sekarang pun Dia masih berbicara, mendengar doa-doa, menjawabnya dan memperlihatkan manifestasi Qudrat-Nya. Dan di zaman ini untuk memperlihatkan Qudrat-Nya, berdasarkan janji-Nya sendiri, Dia mengutus Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam yang kedatangannya di zaman ini telah dikabarkan oleh Hadhrat [Muhammad] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di kalangan kaum Muslimin juga saat ini Jemaat Ahmadiyah-lah golongan yang meyakini Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Maha Berkuasa dengan semua sifat-Nya. Keyakinan atas hal itu tetap teguh bahwa sebagaimana saat ini Tuhan Maha Kuasa dan memperlihatkan qudrat-Nya seperti sejak zaman azali Dia senantiasa memperlihatkannya. Akan tetapi Hadhrat Muhammad saw yang merupakan khatamul anbiyaa, setelah kedatangan beliau saw, Allah Ta’ala telah menetapkan bahwa sekarang ini sarana untuk meraih segala macam dan jenis karunia dan jalan untuk mencapai Allah Ta’ala hanya dapat ditemukan dengan melalui Hadhrat Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani ‘alaihis salaam, Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud yang adalah ‘asyiq shaadiq’ pecinta sejati Hadhrat Nabi saw, yang diutus oleh Tuhan di zaman ini untuk kejayaan Islam kedua kalinya. Selanjutnya dengan melalui beliau as ‘takmiil tabligh hidaayat’ (penyempurnaan penyampaian petunjuk) juga telah dijanjikan. Beliau as bersabda mengenai Tuhan yang Maha Hidup ini di salam satu tulisan beliau as,

“Jiwa-jiwa dan setiap dzarrah (atom, partikel) dari keberadaan kita bersujud kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Yang Maha Benar dan Maha Sempurnya itu; yang dengan tangan-Nya terciptalah setiap dzarrah dari makhluk-makhluk dengan semua kekuatan mereka, yang dengan keberadaan-Nya semua wujud menjadi ada. Tidak ada sesuatu pun yang di luar pengetahuan-Nya, di luar kontrol (kendali)nya, di luar rancangan-Nya dan diluar ciptaan-Nya. Ribuan doa shalawat, salam, rahmat dan berkat semoga turun kepada Nabi saw itu yang dengan perantaraannya kita tertuntun menuju Tuhan Yang Maha Hidup itu yang dengan kalam-Nya Dia menganugerahkan kepada kita tanda-tanda keberadaan-Nya dan Dia menunjukkan kepada kita dengan tanda-tanda yang diluar kebiasaan lalu memperlihatkan terang-benderangnya kemampuan dan kekuatan-Nya yang Qadim (semenjak lama sekali) dan Kamil (sempurna) kepada kita. Jadi kita menemukan seorang utusan yang memperlihatkan Tuhan kepada kita; Dia yang kita temukan itu adalah Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu dengan kekuatan sempurna-Nya. Alangkah agung Kudrat-Nya yang tanpa-Nya sesuatu apa pun tidak akan dapat terwujud (menjadi ada). Sesuatu apa pun takkan tegak tanpa bergantung kepada-Nya. Dia adalah Tuhan kita yang sebenarnya, pemilik keberkahan yang tidak terhitung. Kekuasaan-Nya tidak terbatas, keindahan dan kebaikan-Nya juga tidak berhingga. Tidak ada Tuhan selain Dia.” [2]

Jadi, inilah Tuhan kita Yang Maha Hidup; yang Nabi Karim [Muhammad] shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan kepada kita dia.

Nabi Yang Hidup, Nabi Kesayangan Tuhan dan Tertinggi derajatnya diantara semua nabi dan makhluk ialah Nabi Muhammad saw

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersabda mengenai maqam (kedudukan) Nabi Karim [Muhammad] saw,

“Ketika kita melihat dengan pandangan adil, maka yang berderajat tertinggi dari antara semua silsilah nubuwwah (mata rantai kenabian) dan nabi yang hidup, nabi kesayangan Tuhan yang memiliki derajat tertinggi; hanya satu yang kita kenal. Yakni, beliaulah pemimpin para nabi, kebanggaan para Rasul dan mahkota para utusan; yang namanya adalah Muhammad Mustafa dan Ahmad Mujtaba shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang apabila ada seseorang mengikuti bayangan beliau selama sepuluh hari tentu dia akan mendapatkan cahaya yang sebelumnya tidak pernah bisa didapat selama jangka waktu seribu tahun.” [3]

Selanjutnya, beliau as menyeru seluruh dunia kearah Islam:

“Wahai penduduk bumi! Wahai jiwa-jiwa manusia di bagian Timur dan Barat! Saya menyerukan kepada Anda semua dengan penuh ketegasan ke arah hal ini bahwa sekarang ini agama yang benar di muka bumi ini hanyalah Islam, dan bahwa Tuhan sebenarnya adalah Tuhan itu yang dijelaskan tentangnya oleh Alqur’an. Dan nabi yang kehidupan rohaninya senantiasa ada seterusnya dan yang duduk diatas takhta kemuliaan dan kekudusan adalah Hadhrat Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kita temukan bukti kehidupan rohani dan keagungan kesuciannya sehingga dengan mengikuti dan mencintainya kami mendapatkan karunia Ruhul Qudus, percakapan dengan Tuhan dan tanda-tanda Ilahi. ” [4]

Hadhrat Masih Mau’ud as, Berperan sebagai Jenderal Islam dan Pembungkam Mulut Pengkritik Nabi Muhammad saw

Hadhrat Masih Mau’ud as berperan sebagai seorang jenderal yang memenangkan Islam dan membungkan mulut para penentang Islam. Bukan hanya dengan bukti-bukti dan dalil-dalil saja, bahkan juga mempersembahkan di hadapan dunia penampakan tanda-tanda dan dukungan khas dari Allah Ta’ala. Dan beliau as menyampaikan ke hadapan dunia nubuatan-nubuatan yang selain Tuhan ‘Aalimul Ghaib tidak ada satu pun yang dapat mengetahuinya. Dan kemudian dunia telah menyaksikan bahwa nubuatan-nubuatan itu yang telah beliau dapatkan pemberitahuannya dari Tuhan, bagaimana Allah Ta’ala telah menyempurnakannya  disertai tanda-tanda dukungan yang besar. Bagaimana beliau as telah menderita untuk Islam dan bagaimana beliau telah berbicara dan memberikan pemahaman kepada para penentang Islam dan mereka yang merendahkan kedudukan Nabi saw, dan bagaimana beliau banyak berdoa dengan hati pedih di hadapan Allah supaya menutup mulut para penentang Islam.  Secara jelas hal itu dapat ditemukan di dalam sirah (biografi) beliau yang dicatat oleh para sahabat beliau. Di dalam buku-buku dan tulisan-tulisan beliau juga terlihat jelas keistimewaan-keistimewaan itu. Dapat kita temukan doa-doa beliau yang tidak terhitung banyaknya untuk dukungan tanda-tanda dan untuk menutup mulut para penentang Islam yang beliau as panjatkan di hadirat Allah Ta’ala. Bukan untuk kebaikan diri beliau sendiri bahkan beliau as memprioritaskan untuk membuktikan keunggulan Islam dan Nabi saw, untuk itu di dalam diri beliau terdapat semangat jiwa dan keprihatinan (kepedulian) luar biasa; yang disebabkan hal itu beliau as biasa memanjatkan doa-doa. Diantara tanda-tanda itu terdapat satu tanda bahwa dikarenakan doa-doa beliau, Allah Ta’ala memberikan kepada beliau petunjuk, ‘Pergilah ke Hosyiarpur dan lakukanlah i’tikaaf di sana untuk beribadah!’.” [5]

Didalam masa i’tikaf ini, Allah Ta’ala telah memberikan satu tanda kepada beliau perihal seorang anak yang dijanjikan yang setiap Ahmadi mengetahuinya sebagai nubuatan tentang Mushlih Mau’ud.  Ini adalah nubuatan (kabar gaib) besar yang menyatakan bahwa seorang anak akan lahir dalam jangka waktu tertentu dan ia akan memiliki kualitas tampilan tertentu yang juga disebutkan dalam nubuatan tersebut. Ia akan mencapai umur panjang. Semua tanda-tanda ini menunjukkan satu keagungan nubuatan ini, dan sungguh nubuatan ini bagi mereka yang akan datang kemudian menjadi pembangkit dan penyegar keimanan; yaitu mereka yang menyaksikan penyempurnaan nubuatan ini huruf demi huruf. Dan berbagai macam jasa (karya agung) anak yang dijanjikan itu; yang Hadhrat Masih Mau’u as telah menjelaskannya di dala nubuatan ini; semuanya telah dapat sempurna dalam pribadi Mushlih Mau’ud.

Nubuatan Mengenai Mushlih Mau’ud

Sesungguhnya, sekarang saya hendak membacakan kata-kata nubuatan itu. Berkali-kali sebelumnya kita telah mendengarnya dan juga dalam beberapa hari mendatang di mana pertemuan akan diselenggarakan pada kesempatan peringatan nubuatan ini, yang akan diadakan pada tanggal 20 Februari, saudara-saudara juga akan mendengarkannya. Di dalam Majmu’ah Isytihaarat beliau as menulis:

“Bi ilhaamillaahi Ta’aala wa i’laamihii (Dengan perantaraan ilham dan pemberitahuan dari Allah Ta’ala) Tuhan ‘Azza wa Jalla yang Rahiim (Maha Penyayang), Kariim (Maha Mulia) dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu (jalla syaanah wa ‘azza ismuhuu) Dia berfirman kepada saya lewat ilham, ‘Aku anugerahkan sebuah Tanda Rahmat kepada engkau sesuai dengan permohonan engkau kepada-Ku. Maka telah Aku dengar rintihan doa engkau dan dengan kasih-sayang-Ku permohonan doa engkau telah Aku kabulkan. Dan perjalanan engkau [seperti telah saya (Hudhur V) sebutkan, perjalanan ke Hoshiarpur dan Ludhiana] telah diberkati bagi engkau. Maka telah diberikan kepada engkau tanda Qudrat (Kekuasaan) dan Rahmat –(kasih-sayang) serta Qurbat (kecintaan, kedekatan). Tanda Fadhl (Karunia) dan Ihsaan (Kebaikan) telah dianugerahkan kepada engkau dan engkau mendapat kunci Fath (kemenangan) dan kunci Zhafr (kejayaan, pertolongan). Hai Muzhaffar (0rang yang berjaya)! Salaam (selamat sejahtera) atas engkau!’ Tuhan Yang telah berfirman ini, ‘Supaya mereka yang menghendaki kehidupan terselamat dari cengkeraman maut dan mereka yang terbenam di dalam kubur agar keluar dari padanya, dan supaya nampak kepada manusia kemuliaan agama Islam dan derajat tinggi Kalam Allah. Dan supaya kebenaran tegak bersama semua berkat-berkatnya dan supaya kebatilan jauh sirna bersama kesialannya. Dan supaya manusia paham bahwa Aku ini Qaadir (Maha Kuasa) Aku berbuat sesuai dengan keinginan-Ku. Supaya manusia menjadi sangat yakin bahwa Aku ada bersama engkau. Dan supaya orang-orang yang tidak beriman kepada Wujud Tuhan dan memandang dengan pandangan ingkar dan kedustaan terhadap Tuhan dan terhadap agama Tuhan dan terhadap Kitab-Nya dan terhadap Rasul Suci-Nya Muhammad Mustafa (shallallahu ‘alaihi wa sallam) mendapat Tanda yang sangat terbuka (jelas, terang-benderang) dan supaya nampak jelas jalan orang-orang berdosa. Maka kabar sukalah bagi engkau! Seorang anak lelaki yang bersih dan suci akan dianugerahkan kepada engkau. Engkau akan mendapat seorang anak lelaki yang suci. Anak itu akan lahir dari benih keturunan engkau. Seorang anak lelaki yang tampan dan suci akan datang sebagai tamu engkau. Namanya Emanuel dan Bashir juga. Kepadanya diberikan ruh suci. Dia suci bersih dari dosa. Dan dia adalah Nur Allah. Penuh keberkahanlah dia yang datang dari langit. Dia didampingi Fadhl (karunia) yang turun bersama-sama kedatangannya. Dia memiliki syakwah (kehormatan, wilayah), ‘izhmat (keagungan) dan daulat (kemakmuran, kekayaan). Dia akan datang ke dunia dan melalui berkat-berkat Masihi Nafs (jiwa, ruh Masih) dan Ruhul Haqq-nya dia akan menyembuhkan banyak orang dari penyakit-penyakit mereka. Dia adalah Kalimatullah, sebab dia telah dikirim oleh Rahmat dan Ghairat Tuhan dengan kalimah Tamjid-Nya (pujian-Nya). Dia akan sangat pandai dan sangat cerdas sedangkan hatinya sangat lembut. Dan dia akan dibekali penuh dengan ilmu-ilmu pengetahuan zhahiri (ilmu-ilmu lahiriah, benda-benda fisik) dan bathini (kerohanian, agama, kejiwaan). Dan dia akan merubah 3 menjadi 4 … Hari Senin dan beberkatlah hari Senin itu! Anak cemerlang, mulia dan terhormat, مَظهر الأول والآخِر، مَظهر الحق والعلا، كأن الله نزل من السماء ‘mazhharul awwali wal aakhiri, mazhharul haqqi wal ‘alaa, ka-annallooha nazala minas samaa’ Mazhhar al-Awwal wal Akhir (manifestasi Yang Maha Awwal dan Akhir), Mazhhar al-Haqq wal ‘Alaa (manifestasi Yang Maha Benar dan Maha Tinggi), seakan-akan Allah turun dari langit. Kedatangannya sangat penuh keberkahan dan menjadi sebab penampakan kegagahan Ilahi. Nur datang. Wahai Nur, yang mana Tuhan telah sirami dengan air harum keridhaan-Nya. Akan Kami titiskan ruh Kami kedalamnya dan naungan Tuhan akan selalu diatas kepalanya. Dia akan cepat sekali mengalami kemajuan (cepat besar dan agung). Dan dia akan menjadi pembebas para tawanan. Dan dia akan masyhur sampai ke pelosok-pelosok dunia. Dan bangsa-bangsa akan mendapat banyak berkat dari padanya. Sampai titik jiwanya diangkat kearah langit. وكان أمرًا مقضيًّا Maka sempurnalah seluruh pekerjaan.” [6]

 Hal ini tertulis semuanya di dalam Majmu’ah Isytihaarat jilid awal. Pemenuhan atas nubuatan ini seperti yang telah saya katakan sebelumnya ialah pada Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani ra. Beliau ra sendiri menyatakan dirinya pada tahun 1944, ketika diberitahu oleh Allah bahwa beliau adalah ‘Mushlih Mau’ud’ – “pembaharu yang dijanjikan.” Untuk merayakan kegembiraan atas pemenuhan nubuatan ini akan diadakan ‘Jalsah Yaumi Mushlih Mau’ud’ – “Pertemuan Peringatan Hari Pembaharu Yang Dijanjikan”. Seperti telah saya katakan, Jalsah ini akan diselenggarakan dalam beberapa hari mendatang juga di berbagai Jemaat. Oleh karena itu, setiap anggota Jemaat harus mengetahuinya bahwa ini adalah nubuatan yang agung yang sempurna dalam segala kehebatan dan keagungannya.

Peringatan Hari Mushlih Mau’ud bukan Perayaan Ulang Tahun (Hari Kelahiran)

Di sini saya ingin memberikan penjelasan hal yang lain kepada orang-orang yang terpengaruh keduniaan, mereka yang tidak cukup dalam hal ilmu agama, meskipun saya telah menyebutkan sebelumnya juga berulang kali akan tetapi mereka tetap saja selalu menyampaikan pertanyaan [serupa]. Mereka yang menginginkan merayakan hari kelahiran (hari ulang tahun); mereka itulah yang atas dasar hari kelahiran meminta hal ini, “Biarkanlah kami merayakan hari kelahiran (hari ulang tahun) kami juga.” Dan sebagaimana saya juga telah mengatakan, mereka yang dibawah pengaruh keduniaan yang juga mengatakan hal ini, “Apabila kita merayakan hari Mushlih Mau’ud, mengapa pula tidak merayakan hari kelahiran para khalifah lainnya dan mengapa pula kita tidak merayakan hari kelahiran?” Yakni, mereka ingin masuk ke pembicaraan soal merayakan hari kelahiran para khalifah padahal ingin merayakan hari kelahirannya sendiri. Saya ingin menjelaskan di sini bahwa kita tidak merayakan kelahiran Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad. Hari kelahiran Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani adalah tanggal 12 Januari 1889. Dan nubuatan ini yang merupakan nubuatan agung telah ada tiga tahun sebelum kelahiran beliau. Hari pemenuhan nubuatan ini diperingati yang dilakukan pada tanggal 20 Februari 1886 dan nubuatan ini adalah untuk menghidupkan kembali Islam kedua kali; nubuatan ini dipandang dari segi itu bernilai sebagai sebuah batu pondasi (tonggak baru).

Dua Pokok Pembicaraan Khotbah Ini, Siapa dan Bagaimanakah Keadaan Mushlih Mau’ud

Setelah penjelasan ini saya kembali ke jantung pembicaraan bahwa nubuatan ini memiliki sangat banyak segi yang perlu dijelaskan; akan tetapi saat ini saya hanya akan menjelaskan dua hal saja [pertama:] siapakah yang ditetapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai Mushlih Mau’ud; dan [kedua], bagaimanakah keadaan Mushlih Mau’ud itu sendiri, kesan hati beliau mengenai Islam, mengenai Nabi [Muhammad] saw dan umat Muslim. Dikarenakan tidak mungkin dalam waktu singkat ini untuk membawakan seluruh penjelasan dalam kata-kata nubuatan ini satu per satu. Sebab, kata-kata nubuatan ini mengandung sekitar 52 poin. Sesungguhnya, karenanya seperti telah saya sampaikan saya hanya akan menjelaskan dua hal saja.

Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri juga telah menetapkan pembenaran atas nubuatan mengenai Mushlih Mau’ud terhadap Hadhrat Mirza Bashiruddin dan anda sekalian telah memahami hal ini. Beliau as dalam buku beliau as Tiryaqul Quluub, dalam Ruhani Khazain jilid 15 halaman 219 bersabda:

“Mahmud, putra sulung saya yang mengenai kelahirannya telah ada pengumuman yang diterbitkan pada tanggal 10 Juli 1888 dan dalam pengumuman yang tercetak pada kertas berwarna hijau pada tanggal 1 Desember 1888; telah dikabarkan (dinubuatkan) dan didalam pengumuman kertas berwarna hijau (selebaran hijau) juga tertulis bahwa anak yang akan lahir ini akan dinamai ‘Mahmud’ dan pengumuman ini telah disebarluaskan kepada ratusan ribu orang sebelum kelahiran Mahmud. Tidak ragu lagi bahwa sampai sekarang masih ada ratusan pengumuman tercetak pada kertas hijau (selebaran hijau) di rumah-rumah para penentang kami. Begitu pula di rumah-rumah penentang kami juga ada selebaran pengumuman yang diterbitkan dalam pada 10 Juli 1888. Selanjutnya, keterkenalan nubuatan ini lewat perantaraan pengumuman telah mencapai derajat sempurna dan tidak terlewatkan untuk dikabarkan kepada kaum Muslim, Kristen dan Hindu. Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, ‘Mahmud’ lahir pada hari Sabtu 12 Januari 1889 sama dengan 9 Jumadil Awwal 1306 Hijriyah. Kelahirannya saya kabarkan didalam di sebuah selebaran (pernyataan tertulis) dengan judul ‘Takmil Tabligh’ – “Penyempurnaan Penyampaian” tertulis dengan tulisan yang panjang dan didalamnya tercantum sepuluh kondisi (syarat) dari janji kesetiaan (baiat); dan pada halaman 4 terdapat ilham mengenai anak yang dijanjikan:

Wahai kebanggaan para Rasul! Maqam kedekatan di sisi Tuhan engkau telah Aku ketahui. Engkau datang dari jarak waktu yang lama karena engkau datang dari jalan (tempat) yang jauh.” [7]

Selanjutnya di dalam buku beliau as ‘Siraaj Muniir’ tercantum didalam Ruhani Khazain jilid 12 halaman 36, beliau as menulis,

“Di dalam nubuatan kelima saya telah menyebut-nyebut mengenai kelahiran anak saya Mahmud bahwa sekarang ia akan lahir dan akan dinamai Mahmud. Dan untuk menyebarluaskan nubuatan itu, selebaran kertas pengumuman berwarna hijau telah dicetak yang sampai sekarang masih ada dan telah didistribusikan kepada ribuan orang. Anak itu telah dilahirkan dalam kurun waktu nubuatan dan sekarang sudah berusia sembilan tahun..”  [8]

Selanjutnya di dalam buku beliau as, ‘Haqiqatul Wahyi’, tercantum dalam Ruhani Khazain jilid 22 halaman 373, beliau as menulis,

“Demikian pula ketika putra saya yang pertama meninggal, maka para maulwi yang tuna ilmu dan para pengikutnya, orang-orang Kristen dan orang-orang Hindu menampakkan sukacita yang besar atas kematian itu. Mereka telah diberitahu berulang kali bahwa nubuatan yang diterbitkan pada 20 Februari 1886 meliputi (tercantum juga akan adanya) kematian beberapa anak. Maka pasti akan ada anak laki-laki yang meninggal di usia masih kecil. Segera waktu itu, mereka tetap tidak henti-hentinya mengajukan keberatan. Saat itulah Tuhan memberikan kabar suka kepada saya mengenai satu lagi anak laki-laki. Karenanya, di halaman 7 dari Deklarasi (Selebaran Pengumuman) Hijau terdapat kabar suka mengenai kelahiran anak laki-laki kedua itu. Bashir kedua akan dianugerahkan yang nama keduanya Mahmud; meskipun ia belum lahir sampai dengan tanggal satu September 1888, akan tetapi pasti akan lahir dalam jangka waktu yang telah ditentukan sesuai dengan janji Tuhan. Langit dan bumi bisa lenyap, akan tetapi tidak mungkin janji-janji-Nya akan lewat tidak terpenuhi. Menurut pernyataan ini pada halaman 7 dari Deklarasi Hijau yang sesuai dengan itu ia lahir pada Januari 1889 dan kami menamainya ‘Mahmud’ dan sampai sekarang masih hidup berkat karunia-Nya Yang Mahatinggi dan sekarang berumur tujuh belas tahun.” [9]

Lalu dalam Tiryaqul Quluub yang termasuk dalam Ruhani Khazain jilid 15 halaman 214, beliau as bersabda,

“Putra pertama saya yang masih hidup, yang bernama Mahmud belum lahir tatkala saya melalui perantaraan kasyaf diberi kabar [oleh Allah Ta’ala) mengenai kelahirannya dan saya melihat nama ‘Mahmud’ tertulis di dinding masjid. Segera sesudah itu saya mengumumkan kabar nubuatan ini pada lembaran kertas berwarna hijau tercetak. Tanggal penerbitannya pada 1 Desember 1888 dan pengumuman tertanggal 1 Desember 1988 ini disebarkan kepada ribuan orang dan sampai sekarang saya masih memiliki salinannya dalam jumlah banyak. ” [10] 

Lalu dalam Zhamimah Anjam-e-Atham yang termasuk dalam Ruhani Khazain jilid 11 halaman 299, beliau as bersabda,

“Kemudian ada satu tanda lain yakni demikian bahwa tiap-tiap dari 3 orang anak laki-laki tersebut telah dikabarkan sebelum kelahiran mereka masing-masing mengenai kedatangan mereka. Walaupun demikian,  berkaitan dengan kelahiran Mahmud putra yang sulung, dengan jelas namanya ‘Mahmud’ ada disebutkan dalam selebaran hijau ini yang dicetak dan disebarluaskan terkait kewafatan anak laki-laki yang sebelumnya. Selebaran dalam kertas berjumlah banyak dalam bentuk risalah diterbitkan pada kertas berwarna hijau .” [11]

Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menganggap benar (membenarkan) bahwa putranya, Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad adalah anak yang dijanjikan yang akan menciptakan inqilaab (revolusi) baru di dunia. Sampai sekarang pun masih banyak orang yang mengajukan keberatannya; oleh karena itu saya jelaskan masalah ini. Periode khilafat Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani al-Mushlih al-Mau’ud selama 52 tahun telah berbicara jelas sebagai bukti kesempurnaan nubuatan agung ini. Tulisan-tulisan beliau ra, pidato-pidato beliau ra, yang penuh dengan rasa perih di dalam hati beliau adalah untuk menegakkan kedudukan Islam dan Hadhrat Nabi saw. Ilmu pengetahuan dan irfaan beliau juga bukti yang jelas bahwa Allah Ta’ala telah mengisi beliau dengan ilmu-ilmu zhaahiri dan baathini.

Singkatnya, 52 atau dari segi lain 58 buah keistimewaan telah dipersembahkan yang untuk dipastikan kebenarannya maka di dalam kabar suka juga sedemikian banyak menyebutkan keistimewaan-keistimewaan itu, semua itu bisa kita saksikan dalam kehidupan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Seperti yang telah saya sebutkan bahwa saya akan berbicara mengenai rujukan ini maka saya akan menyajikan kutipan rujukan dari beliau as yang berasal dari tulisan-tulisan beliau as dan ceramah-ceramah beliau as yang dengan itu semua keagungan tekad beliau demikian bersinar yang memberitahukan bagi kita bagaimana ulul azmi beliau (memiliki ‘azam, tekad yang tinggi).

Kebulatan Tekad Mushlih Mau’ud

Beliau ra berkata pada suatu kesempatan pidato,

“Setiap kali utusan Allah datang pada waktu setiap orang yang masuk menjadi Jamaahnya menganggap hal ini, “Selain saya tidak ada yang akan (mau) mengerjakan pekerjaan mengkhidmati agama!” Ketika ia benar-benar berpikiran seperti ini maka ia hanya sungguh-sungguh mengerjakan dengan segenap kekuatannya untuk menyelesaikannya (memanfaatkan segenap kekuatan dalam menyelesaikan tugas ini). Bahkan, seolah-olah dapat dikatakan bahwa ia menjadi gila. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as wafat saya mendengar suara-suara [pembicaraan] yang mengatakan kewafatan beliau bukan pada waktunya. Seolah-olah orang yang berkata tersebut mengatakan  bahwa na’udzu billaah beliau telah berdusta.” (Sebab, mereka mempercayai hal ini. Dari kalangan Ahmadi suara-suara ini juga terdengar) “Bahkan, mereka mengatakan bahwa beliau telah wafat di waktu sedemikian rupa sementara beliau as belum menyampaikan amanat-amanat Tuhan dengan sebaik-baiknya dan juga bahwa beberapa nubuatan belum sempurna (terjadi). Saya pada waktu itu berumur 19 tahun. Ketika saya mendengar kata-kata ini saya pergi dan berdiri di sisi kepala beliau as dan berdoa kepada Allah Ta’ala dengan berkata, ‘Wahai Tuhan! Kekasih engkau ini tatkala masih hidup telah melakukan pengorbanan yang tak terhitung untuk tegaknya agama. Sekarang tatkala Engkau telah memanggilnya orang-orang mengatakan bahwa beliau wafat sebelum waktunya. Boleh jadi orang-orang yang berkata seperti itu atau selainnya yang ditujukan untuk teman-teman mereka sendiri; perkataan semacam itu dapat menjadi batu sandungan yang mengelincirkan dan menjadikan organisasi Jemaat dalam kontroversi yang memecah-belah. Oleh karena itu, wahai Tuhan! Saya berjanji kepada Engkau bahwa sekiranya seluruh Jemaat juga kemudian melarikan diri dari agama maka saya sendiri yang akan memperjuangkannya dengan jiwa saya. Pada saat ini saya paham bahwa saya harus mengerjakan tugas ini, dan pada usia sembilan belas tahun di dalam hati saya dipenuhi dengan gejolak api [semangat dan tekad] saya akan menekuni seluruh kehidupan saya dalam pengkhidmatan agama dan dengan meninggalkan semua tujuan lain hanya inilah satu-satunya tujuan (target) yang saya letakkan di depan saya bahwa saya harus mengerjakan tugas Hadhrat Masih Mau’ud as yang untuk itu beliau as datang [di dunia].’ Itulah tekad kuat yang tercipta dalam diri saya saat itu; sampai sekarang dari dalamnya (dari tekad itu) saya terus-menerus menemukan hal-hal baru dari manis dan pahitnya (beraneka rasa) dan janji itu yang saya ikrarkan di depan kepala jenazah beliau as waktu itu menjadi senantiasa lekat menyertai saya. Itulah dia janji saya yang sampai sekarang menguatkan saya dengan menegakkan kemauan saya sehingga tatkala ratusan taufan penentangan para musuh yang bangkit menentang saya akan tetapi mereka berhadapan dengan batu yang memecahkan kepala mereka sehingga mereka hancur berkeping-keping yang dengan begitulah Tuhan telah membuat saya tetap tegak berdiri. Selanjutnya setiap upaya, persekongkolan dan kejahatan para penentang yang mereka datangkan ke hadapan saya untuk menentang saya dan Tuhan dengan karunia-Nya yang khas kepada saya di tiap tempat dan keadaan telah memperlihatkan keberhasilan. Orang-orang itu yang sedemikian rupa sampai mengatakan pada waktu kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa beliau as wafat bukan pada waktunya; setelah menyaksikan keberhasilan misi beliau as nampak keheranan.” [12]

Tanggung Jawab Setiap Anggota Jemaat

Inilah pidato beliau di satu majlis pertemuan yang mana telah saya jelaskan. Selanjutnya pidato tersebut masih berlanjut. Setelah itu beliau ra juga mengarahkan perhatian Jemaat pada hal-hal berikut:

“Setiap anggota Jemaat juga memiliki tanggungjawab bahwa ia harus telah menciptakan didalam dirinya semangat ini yaitu ia harus menjalankan tugas mengkhidmati agama. Tiap-tiap dari mereka menganggap sebagai berikut: ‘Sekarang tanggungjawab melakukan pekerjaan agama, tugas membawa kemajuan misi Hadhrat Masih Mau’ud as adalah tugas tanggungjawab saya!’ Oleh karena itu, lakukanlah sebuah janji dan ia akan berjanji seperti ini, ‘Di setiap keadaan saya akan mendahulukan pengkhidmatan terhadap agama!’” Beliau ra bersabda, “Hendaklah memahami hal ini bahwa tujuan menerima Hadhrat Masih Mau’ud as diperoleh dengan cara menjadikan kalian mengamalkan hal itu [mendahulukan pengkhidmatan agama]. Sebab, tujuan itu adalah demikian yaitu membawa kemajuan misi beliau as.” Kemudian bersabda lebih lanjut, “Jika didalam diri kita ruh ini ditimbulkan maka bagi kita semua kesulitan tidak akan tampak sebagai sebuah kesulitan. Semua jalan-jalan kesulitan bagi kita akan nampak sebagai jalan yang biasa saja.” [13]

Tegaknya Bendera Islamistan (Negara Islam)

Selanjutnya, semangat untuk Islam dan Nabi saw di satu tempat beliau ra menjelaskan demikian. Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani ra bersabda,

“Hal yang penting di dunia adalah penegakan Islamistan (beliau bersabda mengenai hal-hal yang berhubungan dengan nama Islam. Hal yang penting di dunia adalah penegakan Islamistan) Kita seharusnya telah menyatukan semua umat Islam di satu tangan. Kita harus menaikkan bendera Islam di seluruh negara di dunia. Kita harus menyebarluaskan kemuliaan nama Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan kehormatan ke penjuru-penjuru dunia. Kita juga bersukacita ketika bendera Pakistan adalah berkibar tinggi. Kita juga bergembira ketika melambaikan bendera Mesir yang tinggi. Kita juga bersukacita ketika mereka mengibarkan bendera Arab Saudi di tertinggi, akan tetapi kita lebih bersukacita ketika negara-negara Islam semuanya bersatu dan meletakkan dasar berdirinya Islamistan. Kita harus memulihkan kemuliaan Islam masa lalu. Kita harus menegakkan pemerintahan Allah Ta’ala. Kita harus menegakkan pemerintahan Muhammad Rasulullah saw di dunia ini. Kita harus menegakkan keadilan di dunia ini. Kita akan membuat Pakistan, yang akan menegakkan keadilan dan pemerataan tingkat pertama dalam hirarki pembentukan Uni Islam. Inilah Islamistan yang akan menegakkan perdamaian hakiki di dunia.”

Saya berharap rakyat Pakistan; para pemimpinnya dan para ulamanya pada masa sekarang yang menyatakan diri hendak menjunjung tinggi Pakistan dapat menyadari hal ini. Beliau ra bersabda,

“Hak-hak setiap orang diperhatikan. (Menegakkan keamanan hakiki dan akan memperhatikan hak-hak setiap orang) Dimana Amerika dan Rusia telah gagal, hanya Mekkah dan Madinah saja yang insya Allah akan berhasil. Hal-hal yang saya sampaikan ini mungkin dipahami sebagai pemahaman seorang gila, tetapi banyak sekali orang yang membuat perubahan besar di dunia; mereka senantiasa disebut gila. Apabila orang-orang menyebut saya orang gila bagi saya panggilan demikian tidak membuat saya malu sedikit jua pun. Didalam hati saya terdapat sebuah api, sebuah pembakaran dan sebuah gejolak yang tetap menjadi pemikiran saya sepanjang hari. Saya ingin mengangkat Islam dari keterpurukan supaya berada dalam kedudukan yang penuh kemuliaan. Saya ingin menyebarluaskan nama Muhammad Rasulullah saw di seluruh penjuru dunia. Saya ingin menegakkan (pemerintahan) peraturan Alqur’an di dunia ini. Saya tidak tahu apakah ini akan dicapai dalam hidup saya atau setelah saya. Akan tetapi saya mengetahui hal ini bahwa saya ingin meletakkan dengan tangan saya sendiri satu dari batu bata pembangunan gedung Islam yang tinggi atau Tuhan memberi saya taufik untuk meletakkan sedemikian banyak batu yang saya inginkan. Saya ingin menyempurnakan bangunan yang agung ini atau saya ingin mengangkat bangunan itu setinggi-tingginya sesuai taufik yang Allah Ta’ala kehendaki bagi saya untuk melakukannya. Dengan karunia Allah Ta’ala saya akan mendayagunakan setiap dzarrah (atom) dari badan saya dan setiap kekuatan dari jiwa saya didalam pekerjaan ini dan dan tidak akan ada kekuatan di dunia juga kekuatan besar apa pun yang dapat mencegah keinginan saya ini. ” [14]

Ringkasnya, inilah dia putra yang dijanjikan pemilik ‘azam (tekad kuat membaja), yang menyatakan kesan-kesan hatinya secara terbuka kepada kita. Sekarang ini tatkala kita memperingati hari Mushlih Mau’ud (pembaharu yang dijanjikan) maka itu akan menjadi Hari Mushlih Mau’ud yang hakiki tatkala dari antara kita hari ini menciptakan banyak-banyak keprihatinan dalam diri kita masing-masing bahwa tujuan-tujuan kita sangat lah tinggi, sangat mulia yang untuk meraihnya kita harus menampakkan semangat yang tinggi dan harus melakukan perubahan yang luhur dalam diri masing-masing; harus melakukan perubahan suci dalam diri masing-masing. Harus menjalin hubungan yang erat dengan Tuhan kita; harus menciptakan keperihan dalam hati kita untuk Islam. Harus memperlihatkan keprihatinan dalam hati penuh asyik dan cinta kepada Hadhrat Nabi [Muhammad] saw. Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dengan kabar gembira berupa putra yang memiliki keistimewaan-keistimewaan tak terhitung. Disampaikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, “Silsilah (mata rantai) engkau tidak hanya terbatas pada diri engkau saja. Misi  (tugas) engkau tidak akan tetap terbatas dalam masa hidup engkau tetapi akan terus berlanjut kepada anak lelaki engkau yang serupa dengan engkau dan memiliki tekad dan semangat yang tinggi yang dalam hal keprihatinan dalam hati untuk menyebarkan Islam di seluruh dunia akan menjadi seperti engkau. Dia yang untuk menancapkan bendera Muhammad Rasul Allah di dunia dengan hati penat dan selanjutnya tidak terbatas pada anak laki-laki itu saja; bahkan, setelah itu untuk membawa misi ini ke seluruh penjuru dunia Allah Ta’ala juga telah menjanjikan qudrat tsaaniyah (Qudrat kedua) kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang akan terus berlanjut sampai hari kiamat, melanjutkan misinya; beliau-beliau yang akan menjalankan pekerjaan itu kearah kemajuan dan qudrat tsaaniyah juga akan Dia anugerahi sulthaan naashir (kekuatan yang menolong) yang akan menambah kemajuan misi ghulam shaadiq Hadhrat Rasulullah saw; mereka akan menjadi penolong qudrat tsaaniyah dalam corak Khilafat yang akan senantiasa berjalan.”

Nilai Nubuatan Mushlih Mau’ud

Jadi, sekarang nubuatan Mushlih Mau’ud bagi kita di satu sisi memperlihatkan kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as secara dalil; di sisi yang lain juga mengarahkan perhatian kepada hal ini bahwa putra pemilik keistimewaan-keistimewaan yang Allah Ta’ala telah kabarkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as tersebut dan yang dengan semangat dan tekad kuatnya anak itu telah memperlihatkan jalan-jalan kemajuan kepada Jemaat; Dia telah menganugerahi sebuah nizam yang indah. Untuk menyampaikan pesan Islam yang indah di penjuru-penjuru dunia dengan disertai nizam tarbiyat Jemaat; sebuah nizam sedemikian kuat yang telah dibuat yang dampak-dampaknya berupa senantiasa berjalannya keagungan baru yang sempurna di tiap-tiap hari. Untuk lebih memperkuat nizam itu tiap-tiap Ahmadi harus menjadikan diri mereka masing-masing sebagai pelaksana tugas masing-masing. Sekarang ini dengan karunia Allah Ta’ala nizam ini tegak di negara-negara Arab. Di Afrika nizam ini juga tegak. Nizam ini juga tegak di Eropa. Di Amerika nizam ini juga tegak. Di Australia juga nizam ini tegak dan di pulau-pulau [negeri-negeri kepulauan termasuk Indonesia, Red.] juga tegak.

Ringkasnya, dimana pun para Ahmadi mendirikan sebuah Jemaat, setelahnya mereka harus menjadi bagian dari nizam itu; di sisi lain mereka juga harus menaruh perhatian secara khusus bahwa tugas mereka tidak terbatas memperbaiki pribadi mereka masing-masing, tetapi adalah juga tugas mereka untuk menjaga generasi mereka yang akan datang, dan dalam hati mereka hal ini juga harus mereka teguhkan, “Kalian setelah menjadi bagian dari nizam (sistem) ini tidak akan pernah lupa akan tujuan agung kalian dengan menaikkan bendera Muhammad Rasulullah di dunia untuk menegakkan tauhid (keesaan Tuhan); yang untuk itu kalian senantiasa siap-sedia untuk melakukan segala jenis pengorbanan. Dan hingga saat itu kalian tidak akan merasa nyaman sampai kalian mencapai tujuan ini. Ruh ini akan kalian tanamkan dalam diri keturunan yang akan datang supaya tujuan agung itu tidak akan pernah mati.” Jadi, sebagaimana saya telah mengatakan saat ini di setiap sudut bumi telah dan sedang berdiri Jemaat Ahmadiyah dan seruan nyaring dari Qadian telah mencapai seluruh sudut bumi dan dalam penyebarannya ke pojok-pojok dunia meskipun kondisi yang tidak menguntungkan dapat terjadi dengan karunia Allah Ta’ala pada masa (periode, kehidupan) agung Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Maka ketika merayakan penyempurnaan nubuatan Mushlih Mau’ud ini maka di dalam tekad dan program kita masing-masing hendaknya tercipta suatu ruh sedemikian rupa yang menjadi pembaharu (penyegar) dengan keseluruhan semangat beliau ra dan mempersembahkan harapan-harapan yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Dan sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya bahwa para Ahmadi yang tinggal di negeri-negeri Muslim harus berusaha melakukan hal ini “Kami harus telah mendirikan Islamistan (Negeri Islam). Itu adalah pembentukan Negara Islam yang penegakannya harus sesuai kehendak Aqa dan Maula (Junjungan dan Majikan) kita Hadhrat Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam yang juga adalah Rahmatun lil ‘aalamiin. Pendirian Islamistan tersebut dengan memenuhi hak-hak pihak sendiri dan hak-hak pihak lain, menjadi penjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sehingga dunia tahu bahwa Hadhrat saw adalah muhsin insaniyyat (Pemberi Kebaikan bagi Kemanusiaan)  dan ini adalah satu pekerjaan yang besar yang harus kita ajarkan kepada dunia; yang di hadapan dunia kita harus menyajikannya. Kita harus membuat setiap negara Islam mempercayainya. Ini adalah maksud tujuan kita. Ini adalah hal-hal penting yang dibawa oleh Hadhrat Nabi saw dengan kedatangan beliau dan ini adalah misi tersebut yang untuk menyempurnakannya Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as dan inilah pekerjaan yang hari ini telah, sedang dan akan dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah; dan kita harus meyakinkan setiap umat Islam dan setiap negara Islam bahwa ini adalah tujuan-tujuannya.

Doa dan Nasehat untuk Negeri-Negeri Muslim

Apabila di kalangan para penentang kita terdapat orang-orang yang tidak pernah mendengar pendapat-pendapat kita (Ahmadiyah) maka hendaklah mendoakan untuk mereka dengan hati yang penuh keprihatinan dan simpati. Toh tidak ada yang dapat menghentikan kita untuk berdoa supaya mereka menjadi orang-orang yang memahami hal ini. Apakah itu kepada orang-orang Pakistan atau Arab Saudi atau Mesir atau Syam (Suriah dsk) atau Iran, atau Indonesia atau Malaysia atau Sudan atau negara-negara Islam lainnya, kita harus memberitahukan kepada orang-orang itu, “Kalian tidak akan menjadi penuh kewibawaan bila kalian terpisah-pisah (terpecah-belah). Kebesaran dan juga kekekalan kalian akan terjadi bila kalian menjadi bersatu padu bersama-sama lalu peduli akan keagungan Islam.” Tatkala mereka bersahabat dan meninggalkan semua perbedaan di dalam negara mereka dan dengan tetangga mereka. Ini adalah pesan yang juga harus kita sampaikan kepada negara-negara itu. Hari ini kita juga harus berusaha untuk Mesir dan Suriah juga, kita harus menyampaikan pesan ini kepada mereka yang sudah berkuasa yang ada di Libya “Jika kalian terus-menerus bersikap zalim (aniaya, tidak adil) dengan lebih memilih (mengutamakan) suku bangsa kalian dan partai kalian dan kalian memungkinkan (mendiamkan, membolehkan) ketidakadilan dalam corak demikian maka kalian dengan tangan kalian sendiri tengah melemahkan negara kalian dari dalam. Didalam diri kalian tidak akan muncul kekuatan apapun baik di tingkat negara maupun di tingkat Muslim ummah (umat Islam), namun semakin lemah dan pihak lain akan meletakkan kalian di bawah mereka. Selanjutnya – semoga Allah tidak menjadikan, semoga Allah tidak menjadikan demikian – bahwa beberapa negara itu dicengkeram oleh belenggu perbudakan.” Kita harus menyampaikan kepada mereka pesan ini, “Renungkanlah baik-baik! Janganlah memusatkan perhatian pada meraih kepentingan pribadi kalian! Janganlah bersikap partisan dengan mementingkan kelompok dan suku bangsa kalian sendiri! Bila tidak, kalian akan kehilangan segalanya. Alih-alih mempertahankan identitas individu masing-masing negara melainkan hendaklah berusahalah menegakkan kebesaran Islam! Perhatikanlah! Simaklah baik-baik kata-kata orang yang diutus oleh Allah Ta’ala untuk menegakkan keagungan [Islam] ini.

            Jadi, untuk meraih maksud agung ini dilihat dari segi situasi dan kondisi, setelah memahaminya dan dengan doa-doa juga kita yaitu setiap Ahmadi yang tinggal di tiap negara harus menjalankan pemenuhan kewajibannya masing-masing. Seperti telah saya sampaikan setahun lalu bahwa setiap Ahmadi dari antara kita hendaknya menjadi pelaksana tugas sebagai mushlih (juru perbaikan) yang berupaya melakukan perbaikan bagi dunia supaya kita dapat meraih maksud dan tujuan Mushlih Mau’ud yang pada dasarnya adalah penyempurnaan misi Hadhrat Masih Mau’ud bahkan berkaitan besar dengan pengibaran bendera Hadhrat Nabi [Muhammad] saw di dunia. Jadi, daur (periode, waktu) ini yang didalam hal fasaad (kekacauan, kejahatan) merupakan periode yang terus mengalami kemajuan; yang didalamnya pandangan-pandangan kekuatan-kekuatan besar senantiasa mengarah kepada negeri-negeri Muslim. Dengan berusaha keras dalam hal ini kita para Ahmadi harus memajukan langkah-langkah untuk menyelamatkan negara-negara Islam dan juga Muslim ummah (umat Muslim) dari bencana keserakahan di tempat tinggal masing-masing dan untuk itu yang paling penting dari semuanya seperti telah saya sampaikan ialah doa.

Doa Untuk Para Politisi, Negarawan dan Para Ulama serta seluruh Dunia

             Kita berdoa semoga Allah Ta’ala memberikan akal pikiran dan pemahaman kepada para siyasatdaan (ahli siasat, ahli politik) dan para  pemimpin negara-negara Muslim agar berpikir jauh dari kepentingan pribadi. Semoga para ulama yang dari segi kelimuan dan kerohanian lebih maju dibanding ‘awaamun naas’ – (orang-orang awam, rakyat) memahaminya dan menggunakan akal mereka sehingga alih-alih (bukannya) berusaha mengejar kepentingan-kepentingan pribadi mereka namun lebih berusaha memahami pelajaran Alquran; dan mereka bukannya memicu pertentangan antara masyarakat dengan penguasa untuk mendapatkan kepentingan mereka, tetapi malah menggunakan ketakwaan, dan seperti yang telah saya katakan tadi, hal yang paling indah dari itu adalah mendengar suara (seruan, panggilan) Imam Zaman dan beramal berdasarkan hal itu. Kita juga memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan taufik kepada masyarakat agar berusaha memperkuat  cahaya firasat mereka dan tidak taqlid buta (mengikuti tanpa menggunakan akal sehat) kepada mereka yang berkata-kata kosong penuh kejahilan (tanpa keilmuan, tanpa akal) dan mengabaikan hikmah kebijaksanaan, baik mereka dari golongan pemimpin agama maupun para pemimpin politik. Kita memohon kepada Allah Ta’ala untuk menunjukkan kepada kita keinginan-keinginan (cita-cita) Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, menyaksikan sebuah “Islamistan” yang indah; satu-satunya solusi yang dapat melindungi dunia dari kekacauan. ‘Allah kare dunya ko aql aajae.’ – Semoga Allah mendatangkan akal bagi [penduduk] dunia.

Shalat Jenazah di Lingkungan Masjid Baitul Futuh

Selanjutnya pada hari ini, satu jenazah telah hadir yang setelah shalat saya akan pergi keluar [masjid] untuk memimpin [shalat jenazah]. Saudara-saudara tetap di dalam masjid. [15] Ini adalah jenazah Syaikh Mushawwir Ahmad putra Sheikh Nashir Ahmad dari Jillingham, yang meninggal setelah sakit yang singkat pada 14 Februari 2012 di usia 25 tahun. Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita kembali) Beliau telah terinfeksi penyakit muscular dystrophy (distrofi otot) yang melemahkan otot-otot beliau selama hidupnya. Dengan adanya kelemahannya itu, beliau mendapat taufik untuk berkhidmat di berbagai tugas Jemaat di Jemaat Jillingham. Beliau biasa melakukan tugasnya dengan tanggung jawab sepenuhnya dan penuh perhatian. Beliau seorang cacat yang biasa duduk di kursi roda, walau bagaimanapun dalam keadaan seperti itu beliau tetap aktif, rajin dan menyelesaikan pekerjaan secara aktif tak terbatas. Beliau berkontribusi selalu dalam sumbangan dan berbagai gerakan pengorbanan harta. Seorang yang baik dan memiliki hubungan yang bergairah dengan agama. Memiliki hubungan yang khas dengan Khilafat. Seorang pria muda yang tulus, cerdas dan terampil. Dalam keadaan kecacatannya, beliau menyempurnakan studinya, bekerja di bank, mengalami kemajuan sehingga saat kewafatannya menjabat sebagai Assistant Vice President (asisten wakil presiden). Para karyawan sangat senang dengan beliau. Beliau meninggalkan disamping orang tuanya juga seorang saudara yang juga menderita sakit di ototnya. Almarhum adalah cucu saudara dari muballigh di Inggris, tuan Sheikh Mubarak Ahmad. Saya pikir itu dari jalur ibu juga. Semoga Allah akan mengampuni almarhum dan memberikan tempat didalam surga keridhaan-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkannya, orang tuanya dan saudaranya dianugerahi kesabaran yang indah. [aamiin].

Penerjemahan oleh Mln. Dildaar Ahmad Dartono dari teks Urdu

[1]Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Nasiim Da’wat, Ruhani Khazain jilid 19 halaman 363

[3] Siraaj Muniir, Ruhani Khazain jilid 12 halaman 82

[4] Tiryaqul Quluub, Ruhani Khazain jilid 15 halaman 141

[5] Dikutip dari Tadzkirah halaman 106 edisi cehaaram (IV), cetakan Rabwah

[6] Majmuu’ah Isytihaaraat (Kumpulan Selebaran Pengumuman) jilid awwal halaman 95-96, isytihaar (pengumuman) number 33 ‘isythaar 20 Februari 1886’, Cetakan Rabwah.

[7] Tiryaqul Quluub, Ruhani Khazain jilid 15 halaman 219

[8] Siraaj Muniir, Ruhani Khazain jilid 12 halaman 36

[9] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22 halaman 373-374

[10] Tiryaqul Quluub, Ruhani Khazain jilid 15 halaman 214

[11] Zhamimah Anjame Atham, Ruhani Khazain jilid 11 halaman 299

[12] Qaumi Terqi ke Do Ehem Ushul (Dua Prinsip Penting Kemajuan Bangsa), Anwarul ‘Uluum (kumpulan karya tulis dan pidato Hadhrat Khalifatul Masih II ra) jilid 19 halaman 74-75

[13] Qaumi Terqi ke Do Ehem Ushul, Anwarul ‘Uluum jilid 19 halaman 75

[14] Taqrir (Pidato) Jalsah Salaanah 28 Desember 1947, Anwarul ‘Uluum jilid 19 halaman 387-388

[15] Imam shalat jenazah dan jenazah ada di luar masjid, depan masjid dekat pengimaman. Para makmum mengikuti imam dan tetap berada di dalam masjid.

(Visited 33 times, 1 visits today)