Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 6 Desember 2013 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

Dalam Khotbah Jumat yang lalu dengan mengutip Khotbah Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. Jemaat telah diingatkan terhadap perbaikan amal. Dan telah diuraikan peristiwa-peristiwa tentang uswah hasanah Hadhrat Rasulullah saw dan cara serta sikap beramal Hadhrat Masih Mau’ud as dimana telah diterangkan sebuah mutu akhlaq mengenai “kebenaran atau kejujuran”. Betapa tingginya mutu akhlaq yang telah ditegakkan oleh Hadhrat Rasulullah saw bersama abdi setia beliau, Hadhrat Masih Mau’ud as Kemudian ketinggian mutu akhlaq para Sahabah juga berkat mengikuti jejak teladan beliau-beliau itu telah meningkatkan martabat mereka ke peringkat yang sangat luhur.

Sebagai contoh perkara yang telah dibahas adalah tentang kebenaran atau kejujuran. Sesungguhnya setiap kebaikan yang Allah Ta’ala telah perintahkan untuk melakukannya dan setiap keburukan yang Allah Ta’ala telah perintahkan untuk mencegahnya, bahkan bukan hanya mencegah melainkan membencinya, merupakan akar bagi perbaikan amal. Maka kita akan layak disebut Muslim sejati, kita akan menjadi anggota sejati dari Jemaat, apabila kita akan menerapkan akhlaq tinggi pada diri kita. Yang untuk melakukannya telah diperintahkan Allah Ta’ala kepada kita. Segi lain, kita harus membenci keburukan dengan rasa jijik. Seakan-akan seorang mu’min sejati adalah manusia yang selalu tekun mencari-cari kebaikan dan menerapkan pada dirinya dan lari menjauhkan diri dari keburukan-keburukan, agar dia dapat menyelesaikan perkara-perkaranya secara moderat. Bukan berlaku seperti orang yang keadannya ditengah-tengah antara baik dan buruk, namun dia mengaku dirinya sangat suci.

Dalam Khotbah Jumat yang lalu telah diterangkan juga bahwa kepercayaan kita mempunyai dalil-dalil sangat kuat yang Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberi kita bagi kebenaran Agama Islam dan kebenaran Ahmadiyah dan semua dalil itu selalu dirasakan berat oleh para penentang dan musuh kita. Keras kepala, marah dan disebabkan sempitnya hati, jika tidak mau percaya lain perkara, namun sebenarnya mereka, para penentang Islam itu menolak karena tidak memiliki dalil-dalil itu. Oleh sbab itu mereka segan atau malu diajak diskusi. Dalam MTA program Bahasa Arab ‘Al-Hiwar al Mubasyar’ (Siaran langsung soal jawab/interaktif) banyak orang-orang Kristen juga yang mengaku bahwa Ahmadiyya memiliki dalil-dalil sangat kuat dan akurat. Begitu juga kita memiliki banyak sekali dalil-dalil tentang kebenaran Jemaat Ahmadiyah, di satu sisi kita menjelaskan kebenaran Islam terhadap Non Muslim, di sisi lain membantah tuduhan-tuduhan orang Islam terhadap Jemaat Ahmadiyah. Jika para penentang tidak bersikeras kepala dan tidak mengemukakan secara simpang siur dan menyalahgunakan atau tidak melihat arti sebenarnya dari kalam Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai dalil, tidak ada jalan lain bagi mereka kecuali mengakui kebenarannya. Akan tetapi demi kepentingan pribadi, para Ulama cenderung memilih kedustaan dan membuat masyarakat umum jadi sesat. Apabila tidak mendapat suatu dalil, mereka mulai mencaci-maki Hadhrat Masih Mau’ud as dengan kata-kata tidak pantas bahkan sangat kotor.

Maka sejauh mana mengenai bukti-bukti dan dalil-dalil yang kita miliki, sangat berat timbangannya bagi para penentang Islam dan Ahmadiyah. Dari antara kita yang terus-menerus menela’ah kitab-kitab Hadhrat Masih Mau’ud as dan berusaha untuk memahaminya tidak bisa dilawan oleh siapapun dari pihak penentang. Bahkan terdapat penda’waan Hadhrat Masih Mau’ud as juga bahwa jika kalian membaca buku-buku yang saya tulis tidak akan ada yang berani melawan kalian.[2]

Akan tetapi jika kita melihat dari sisi lain, perubahan amal perbuatan yang dikehendaki Hadhrat Masih Mau’ud as dari kita, sampai di mana keadaannya? Maka timbullah pikiran terhadap itu. Timbullah pertanyaan, apakah setiap orang dari kita sedang berusaha mengalahkan setiap keburukan yang timbul dikalangan masyarakat? Setelah masyarakat sangat terkesan melihat akhlaq orang sekeliling mereka, apakah ada hubungannya dengan akhlaq setiap orang dari kita disana? Ataukah sebaliknya kita yang terkesan lupa kepada ajaran-ajaran Islam dan kebiasaannya oleh masyarakat sekeliling? Apakah setiap orang dari kita sedang berusaha keras untuk mengadakan perubahan amal kebaikan sesuai dengan ajaran yang telah disampaikan Hadhrat Masih Mau’ud as kepada kita? Apakah kita telah menegakkan mutu kejujuran dimana sedikitpun penipuan atau dusta tidak menyentuhnya? Apakah sambil melaksanakan urusan-urusan duniawi menaruh perhatian terhadap kehidupan ukhrawi juga? Apakah betul kita menjadi orang-orang yang mendahulukan kepentingan Agama dari pada urusan dunia? Apakah kita menjadi orang-orang yang betul-betul menjauhkan diri dari keburukan dan amal buruk? Apakah kita orang-orang yang terhindar dari perbuatan merampas hak-hak orang lain dan terhindar dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan? Apakah kita orang-orang yang menunaikan salat lima waktu dengan dawam? Apakah kita orang-orang yang selalu memanjatkan do’a dan mengingat Tuhan sambil merendahkan diri? Apakah kita orang-orang yang meninggalkan setiap persahabatan buruk dan setiap kawan yang memberi kesan buruk kepada kita ? Apakah kita menjadi orang yang mengkhidmati Ibu Bapak dan menghormati mereka dan menta’ati perintah-perintah kepada kebaikan dari mereka? Apakah kita berlaku ihsan dan lemah lembut terhadap keluarga isteri serta saudara-saudaranya? Tidakkah kita berlaku intoleran terhadap tetangga tetangga dengan membiarkan mereka luput dari kebaikan-kebaikan walau sekecil apapun? Apakah kita pema’af terhadap orang yang berbuat salah? Apakah hati kita bersih dari setiap jenis kedengkian dan dendam kesumat terhadap orang lain? Apakah setiap suami dan setiap isteri memenuhi hak-hak satu sama lain? Apakah kita selalu menaruh perhatian terhadap keadaan diri pribadi kita sehubungan dengan perjanjian Bai’at? Apakah majlis-majlis kita (apabila kita berkumpul) bersih dari ghibat dan fitnah terhadap orang lain? Apakah kebanyakan dari majlis-majlis kita membicarakan kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala atau orang-orang yang berzikir kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya?

Jika jawaban semua pertanyaan itu : Tidak ! Maka kita jauh dari ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan harus memikirkan semua keadaan amal-amal kita. Jika jawaban semua pertanyaan itu : Ya ! Maka sangat beruntunglah orang-orang yang mendapat jawaban seperti itu! Bahwa dengan menaruh perhatian terhadap keadaan amal-amal baik, menjadi orang-orang yang telah menyempurnakan hak-hak Bai’at.

Akan tetapi jika kita melihat dengan mata kita sendiri melihat keadaan sebenarnya, maka jawaban yang nampak kepada kita adalah kadang-kadang kita tidak mengikuti beberapa perkara yang telah disebutkan diatas itu dan kadang-kadang kesalahan dalam pergaulan dengan masyarakat berulangkali mempengaruhi kehidupan kita, dan kadang-kala kitapun terpaksa menyerah. Tidak ragu-ragu lagi 99.99% dari antara kita mendawakan diri bahwa akidah dan iman kami kuat, tidak ada orang yang dapat menggoncangkan iman kami. Akan tetapi kita harus selalu ingat bahwa karena kelemahan amal-amal kita, jika terjadi serangan-serangan dari pengaruh pergaulan masyarakat, menggoncang akar-akar iman, setanpun secara perlahan mulai menyerang, akibatnya mulai jauh dari Nizam Jemaat dan membawa jauh dari Khilafat juga.

Maka, kita harus ingat bahwa sebuah kelemahan bisa menyebabkan kelemahan lainnya lagi. Akhirnya hancurlah segala-galanya. Kita tahu bahwa keindahan Ahmadiyah terletak dalam untaian Nizam Jemaat dengan Nizam Khilafat dan inilah dasar kekuatan itikad atau iman kita dan kekuatan amaliah kita juga. Oleh sebab itu Khalifah-e-Waqt selalu mengingatkan Jemaat terhadap berbagai jenis kelemahan-kelemahan, untuk mencegah seorang Ahmadi melangkah jauh dari Jemaat sehingga susah mencari jalan untuk kembali lagi. Seraya membaca beristighfar ia merenungkan kelemahan-kelamahan amalnya dan ia berusaha untuk menyingkirkan kelemahan-kelemahannya itu dan mengingat-ingat kebaikan atau ihsan-ihsan yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya.

Di waktu lawatan ke negara-negara Timur Jauh, saya mendapat kesempatan untuk berjumpa dengan beberapa orang sekuler dan pemimpin Agama dari Indonesia di Singapura. Sebagaimana telah saya terangkan sebelumnya, kebanyakan orang-orang mengatakan bahwa Ulama-ulama kita harus mendengarkan apa yang disampaikan oleh Imam Jemaat Ahmadiyah. Di dalam menjawab sebuah pertanyaan dari mereka, saya katakan bahwa sekarang diatas dunia ini Jemaat Ahmadiyah adalah satu-satunya Jemaat yang skopnya bukan hanya satu Negara atau daerah, melainkan di seluruh dunia dikenal sebagai satu kesatuan yang didalamnya berdiri sebuah Nizam yang dipimpin oleh seorang Imam. Setiap orang dari setiap Bangsa dan keturunan di seluruh dunia masuk menjadi anggotanya. Hal ini sebuah dalil sangat besar bagi kebenaran sabda dan nubuatan Hadhrat Rasulullah saw bahwa dari antara Ummat Muslim akan ada sebuah Jemaat yang berdiri diatas jalan yang lurus.[3]

Ini sebuah dalil bagi kebenaran abdi setia Hadhrat Rasulullah saw yakni Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud as bahwa orang-orang yang berakal dan berfitrat baik bahkan orang-orang yang memusuhi Jemaat juga terdiam lalu berpikir mendengar hal itu. Akan tetapi untuk tetap menegakkan dalil ini setiap orang dari kita harus menaruh perhatian penuh terhadap keadaan amal perbuatan kita setiap waktu. Sebab di zaman ini godaan setan lebih keras dibanding dengan di masa lalu.

Sekarang keburukan-keburukan amal yang sangat berbahaya adalah keburukan-keburukan lingkungan yang tidak terkontrol dan kecenderungan penyebarannya. Di sini (di Inggris atau di Barat) hal ini diberi kebebasan bahkan beberapa perbuatan buruk sekalipun yang sangat memalukan telah diberi perlindungan undang-undang atas nama kebebasan berekspresi. Sebelum zaman ini jumlah keburukan-keburukan dan tendensinya sangat terbatas. Yakni keburukan di suatu lingkungan terbatas hanya disekitar lingkungan itu, keburukan disuatu kota hanya terbatas di kota itu, atau keburukan di suatu Negera terbatas hanya di Negara itu. Atau sebanyak-banyaknya hanya menular terbatas disekitar wilayah tetangga terdekat. Namun zaman sekarang disebabkan kemudahan-kemudahan sarana transportasi, TV, Internet dan berbagai jenis Media setiap keburukan individu dan kawasan tertentu telah tersebar luas menjadi keburukan Internasional. Melalui Internet berjarak ribuan kilo meterpun jauhnya dihubungi untuk menyebarkan keburukan-keburukan serta berbagai macam perbuatan ma’siyat lainnya. Banyak wanita muda lemah iman ditipu atau dijatuhkan kedalam perangkap moral rendah sehingga mereka terlempar jauh dari Agama.

Beberapa hari yang lalu telah diberitakan di Pakistan dan di beberapa Negara lain, perempuan-perempuan setelah dibujuk untuk dikawini kemudian betul-betul dijadikan pelacur. Setelah perkawinan hanya untuk sementara waktu kemudian dipaksa menjadi sex worker (pekerja seks). Penipuan seperti ini dilakukan oleh sebuah geng International. Perbuatan jahat seperti itu betul-betul sangat mengerikan yang membuat bulu roma kita berdiri. Seperti itu juga terjadi terhadap para pemuda, mereka telah diperlakukan dengan berbagai cara sehingga membuat mereka bukan hanya lumpuh dibidang moral bahkan iman mereka juga menjadi berantakan. Maka selain berdo’a semoga Allah Ta’ala melidungi setiap Ahmadi dari kejahatan-kejahatan seperti itu, setiap Ahmadi juga harus berjihad untuk menyelamatkan diri dari kejahatan-kejahatan seperti itu sambil memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala. Mengambil faedah dari barang-barang penemuan baru itu tidak dilarang, akan tetapi setiap Ahmadi harus selalu ingat bahwa mereka harus menjadi penolong untuk menyempurnakan penyebaran Missi Hadhrat Masih Mau’ud as dengan menggunakan sarana kemudahan-kemudahan zaman sekarang itu. Dengan sarana-sarana itu bukan terpengaruh oleh perbuatan yang memalukan, yang menjauhkan diri dari Agama, yang melemahkan iman kemudian menyerahkan diri kepada musuh.

Keadaan dan situasi seperti ini patut direnungkan oleh setiap orang Ahmadi. Orang-orang senior yang lebih tua harus menunjukkan teladan yang indah agar keturunan yang akan datang terhindar dari pengaruh keburukan-keburukan dunia seperti itu dan dari serangan-serangan musuh. Para pemuda juga harus berjuang keras sambil memohon perlindungan dari Allah Ta’ala agar selamat dari serangan-serangan jahat pihak lawan atau musuh-musuh Jemaat. Musuh-musuh itu melakukan serangan dengan cara yang tidak dapat disadari oleh seseorang. Musuh-musuh itu mendatangi rumah-rumah orang Jemaat dengan berpura-pura bertamu atau untuk main-main padahal tujuannya untuk menanamkan pengaruh buruk terhadap para anggota Jemaat dan para pemuda yang lemah iman agar mereka terperangkap kedalam jaringan kejahatan mereka.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa para Khalifah terdahulu telah sering mengingatkan Jemaat perihal perbaikan-perbaikan amal, dan saya juga melalui khotbah-khotbah Jumat acapkali mengingatkan Jemaat agar menjauhkan diri dari semua keburukan itu. Berdasarkan petunjuk-petunjuk itu Nizam badan-badan dan Nizam Jemaat sendiri juga membuat program agar setiap tingkatan umur para anggota Jemaat berusaha untuk menyelamatkan diri dari serangan-serangan akhlaq seperti tersebut diatas dari pihak yang memusuhi Jemaat. Jika setiap anggota Jemaat menaruh perhatian terhadap reformasi perbaikan amal kehidupan masing-masing, siap menggagalkan serangan-serangan pihak yang memusuhi agama dan Jemaat, maka bukan hanya sampai di situ bahkan harus siap untuk memperbaiki sikap orang-orang yang memusuhi yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Bukan hanya mempertahankan diri melainkan melakukan serangan berupa upaya untuk memperbaiki mereka dan supaya berhasil dalam perjuangan itu, kita harus menjalin hubungan yang khas dengan Allah Ta’ala. Kita bukan hanya menggagalkan serangan-serangan musuh Agama melainkan memperbaiki mental dan sikap mereka kemudian berusaha mendidik mereka menjadi para pemelihara keamanan dan kesejahteraan dunia. Bahkan mereka akan menumpas fitnah dan kekacauan serta menyelamatkan generasi yang akan datang dari kesan-kesan keburukan yang pernah mereka lakukan. Dengan perantaraan mereka kita akan menjadi penyelamat genarasi yang akan datang. Kita akan menjadi pelindung orang-orang yang lemah iman dan pada suatu hari reformasi amal ini akan berlanjut dari seorang kepada orang lain sampai hari Qiamat. Melalui perbaikan amal praktis ini jalan-jalan pertablighan akan semakin terbuka. Penemuan-penemuan barang baru akan menjadi sarana untuk menyebarkan nama Allah Ta’ala kesetiap tempat di seluruh dunia.

Kita harus selalu ingat bahwa kita tidak dapat menghindari kenyataan. Sebab Bangsa-bangsa yang maju dan Bangsa-bangsa yang memperbaiki keadaan dunia, Bangsa-bangsa yang menimbulkan revolusi, mengadakan introspeksi terhadap kelemahan-kelemahan mereka sendiri. Jika sambil menutup mata kita berkata: “Semuanya keadaan kita sudah baik.” Maka itu akan menjadi penghalang terhadap pekerjaan kita. Sesungguhnya kita harus jeli terhadap kenyataan dan memang kita harus jeli. Kita tidak akan gembira jika ‘islah’ atau perbaikan baru mencapai 50 %. Atau perbaikan sudah mencapai sekian persen. Melainkan jika kita hendak menciptakan revolusi ruhani besar diatas dunia ini maka kita harus menentukan target reformasi 100%.

Saya ingin mengatakan bahwa, jika dalam upaya perbaikan amal kita berhasil mencapai 100%, maka pertengkaran, percecokan dan perkelahian serta usaha merugikan harta orang lain, keserakahan terhadap harta, menyaksikan program-program TV dan media lain yang merugikan moral, kurang hormat terhadap sesama yang lain, menganggap hina terhadap yang lain, semua keburukan-keburukan itu pasti akan habis. Suasana mohabbat atau kecintaan, kasih sayang satu sama lain, dan persaudaraan harus ditegakkan yang akan menciptakan dunia laksana Surga. Keburukan-keburukan tersebut selalu kita saksikan dihadapan mata kita. Di dalam Jemaat juga sering timbul masalah-masalah seperti itu. Itulah sebabnya saya mengingatkannya.

Jika tertanam perasaan tanggung jawab di dalam hati setiap orang, maka pengkhidmatan terhadap agama itu akan dianggap sebagai karunia dari Allah Ta’ala. Akan tetapi 100% dari Anggota Pengurus atau Para pengurus tidak menganggap demikian. Seringkali masalah-masalah dihadapkan kepada saya yang membuktikan bahwa para Anggota Pengurus tidak mampu mengontrol emosi dan toleransi. Jika seseorang berkata kepada mereka dengan suara keras maka timbul ego dan keras kepala mereka, ada juga yang menunjukkan kehormatan palsu dan kesombongan. Oleh karena itulah, orang yang menganggap mengkhidmati agama itu sebagai karunia Ilahi akan sabar dan tabah menghadapi setiap masalah demi keridhaan Allah Ta’ala. Ia tidak dirasuk oleh kehormatan pribadi melainkan karena lafaz “العزة لله” ‘Al-izzatu lillah’ – “Semua kehormatan milik Allah” telah memaksanya berlaku lemah lembut dan merendahkan diri.

Maka jika secara halus mengadakan peninjauan terhadap diri masing-masing, maka dapat diketahui bahwa ‘badter bano har eik se apne khayaal me’ yakni anggaplah dirimu lebih buruk dari setiap orang dalam pikiranmu’ tidak diamalkan. [4]

Kadang-kadang dan dimana-mana ego dan takabbur juga muncul dalam bentuk penampilan tertentu. Memang kami menghargai wahyu Hadhrat Masih Mau’ud as’Teri ajizanah rahen tujhe pesand aai’, “Dia merasa senang terhadap sikap kamu yang merendahkan diri.”[5] Kami memberi contoh, bahwa kita telah Bai’at kepada orang yang telah menerima wahyu ini ‘teri ajizanah rahen tujhe pesand aai’ “Dia merasa senang terhadap sikap kamu yang merendahkan diri” Akan tetapi didepan kita tidak melihat bahwa ini juga ajaran beliau a.s yang diberikan kepada orang-orang yang telah bai’at kepada beliau as

Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda kepada kita,: Aku datang untuk menghidupkan kembali amanat Hadhrat Rasulullah saw.[6] Dan beliau telah meletakkan teladan indah di hadapan kita sehingga budak sahaya beliaupun berkata; Beliau saw tidak pernah menggunakan kata-kata kasar kepada saya. Apabila seseorang ketakutan karena pengaruh keagungan ru’ub beliau maka beliau bersabda kepadanya sambil membesarkan hatinya: ‘Tidak usah takut, saya bukan seorang Raja yang lalim, saya hanya anak dari seorang perempuan yang biasa memakan daging kering.’[7]

Demikianlah teladan yang harus diikuti dan diamalkan secara nyata oleh setiap anggota pengurus Jemaat di dalam menjalankan kehidupannya. Harus diamalkan oleh setiap petugas di dalam Jemaat bahkan oleh setiap orang Ahmadi di dalam menjalankan kehidupannya. Maka jika seseorang mendapat kedudukan atau mendapat karunia untuk berkhidmat di dalam Jemaat maka ia harus selalu menjunjung tinggi sabda Hadhrat Masih Muhammadi berikut ini:

Me tha ghariib-u bee kes o gum naam o be huner –

Dahulu saya sangat miskin dan tidak berdaya, tak dikenal dan tanpa kecakapan – .[8]

Apabila kita dalam memenuhi hak kewajiban berkhidmat dalam agama sambil merendahkan diri dan lemah lembut, maka boleh mengharapkan akan masuk kedalam golongan orang-orang yang mendapatkan hak dalam berkhidmat. Dan mungkin orang-orang yang akan mengharap mendapat hak dalam berkhidmat.[9] Jika tidak demikian maka pengakuan kita mungkin benar telah beriman kepada Imam Zaman, akan tetapi sebetulnya kita memperolok-olokkan pengakuan itu. Permusuhan pihak Ghair tidak akan merugikan kita, namun sebaliknya penipuan diri sendiri membuat diri kita sendiri aib akhirnya kemarahan Allah Ta’ala akan menimpa kita.

Pendek kata, setiap orang yang telah ditunjuk atau dipilih untuk berkhidmat kepada Jemaat perlu mengadakan peninjauan terhadap diri sendiri khususnya dan secara umum setiap Ahmadi harus mengadakan introspeksi terhadap diri mereka. Sebab hak kewajiban bai’at tidak dapat terpenuhi hanya dengan pengakuan secara lisan atau hanya dengan menerima saja. Melainkan selama kekuatan amal nyata kita belum cemerlang tidak ada faedahnya sedikitpun.

Maka kalau kita mengumumkan kepada dunia bahwa Nabi Isa as sudah wafat sebab semua makhluk berjasad tidak kekal, kita mengumumkan bahwa Tuhan dapat mengutus seorang Nabi sebagai abdi setia Hadhrat Rasulullah saw dan sekarang juga Dia bisa bercakap-cakap dengan siapapun yang Dia kehendaki dan bisa menurunkan wahyu, sebab tidak ada satupun dari sifat-sifat Ilahi terbatas untuk waktu tertentu. Dan kami berkata bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani as telah diutus oleh Allah Ta’ala sebagai seorang Nabi ghair Syar’i dan kita telah percaya kepada beliau. Kita yakin bahwa Alqur’an adalah Kitab Syari’at terakhir yang semenjak 1400 tahun yang lalu tetap terpelihara seutuhnya. Sebab Allah Ta’ala sendiri telah mengambil tanggung jawab untuk menjaganya, dan tidak ada kitab syari’at lain yang terpelihara keasliannya secara utuh, kecuali Al Qur’an. Kita beritahukan kepada dunia, biarpun dunia dengan berani mengatakan Al Qur’anul Karim bukan asli melainkan telah ditulis beberapa abad yang lampau. Kami Jemaat Ahmadiyah membuktikan bahwa tuduhan kalian itu tidak betul. Sebagaimana sekarang para penentang Islam melalui program-program TV dan melalui tulisan-tulisan sedang berusaha membuktikan bahwa Al Qur’anul Karim, na’uzu billah, tidak diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, melainkan telah ditulis 600 – 700 tahun yang lalu. Sekarang Jemaat Ahmadiyah telah menantang mereka dan menutup mulut mereka dengan bukti dan dalil-dalil. Dan dalil-dalil kita telah menimbulkan kesan bahwa orang yang telah membuat pernyataan dan di dalam program TV juga dia lakukan, bahwa Al Qur’anul Karim bukan Kitabullah, ketika ditantang untuk diskusi, justru dia menolak tidak mau melayani.

Walhasil, maksud dari pembicaraan ini adalah kami percaya bahwa Hazrat Isa as sudah wafat. Kami percaya bahwa Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai kebangkitan kedua kali Nabi Isa as di zaman ini. Kami percaya bahwa Kitab Syariat terakhir yang diwahyukan kepada Hadhrat Rasulullah saw sampai sekarang terpelihara dalam keadaan aslinya. Apakah segala macam itikad atau kepercayaan itu akan menolong sampai berhasil dalam maksud kita? Jawabannya adalah: Tidak ! Sebab jika setelah membuktikan kewafatan Nabi Isa as, kita tidak menciptakan perobahan suci didalam diri masing-masing seperti yang telah dilakukan oleh para Sahabah Rasulullah saw, وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ maka hanya berpegang pada akidah saja, bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani as adalah betul-betul Masih Mau’ud (Nabi Isa yang dijanjikan), yang kedatangannya telah dikabarkan oleh Hadhrat Rasulullah saw, tidak ada faedahnya.

Ketika kita mengumumkan, bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani as adalah Masih Mau’ud (Nabi Isa yang dijanjikan), yang kedatangannya telah dikabarkan oleh Hadhrat Rasulullah saw. Dan beliau as bercakap-cakap dengan Allah Swt kemudian pengaruh ajaran beliau as secara lahiriah akan mempengaruhi kita. Kalau tidak hanya keyakinan yang tidak memiliki makna.

Jika kita percaya bahwa Alqur’an terpelihara keasliannya sampai sekarang, akan tetapi kita tidak mengamalkan ajarannya dan perintah-perintahnya yang sangat penting bagi kehidupan kita, maka penjagaan kita terhadap Al-Qur’an hanya berupa pengumuman lisan, tidak memberi faedah apapun kepada kita. Pengumuman ini akan berkesan penuh jika ajarannya itu terus menerus diterapkan dalam amal kehidupan kita.

Maka akidah-akidah yang memberi beban kewajiban amal praktis diatas kita, harus terus diusahakan dibuktikan penyempurnaannya. Meluruskan keadaan amal pribadi kita merupakan tanggung jawab yang sangat besar, yang harus kita lakukan.

Hadhrat Masih Mau’u as bersabda: ”Ingatlah bahwa hanya pernyataan secara lisan saja tidak berguna, jika tidak disertai dengan amal nyata. Hanya bicara saja tidak mempunyai berat timbangan.[10]

Beliau bersabda lagi : “Timbanganlah keimanan kalian. “Timbanglah keimanan kalian. Amal adalah perhiasan iman. Jika keadaan amal manusia tidak betul maka iman juga hampa. Orang Mu’min adalah Hasiin“. Manusia cantik rupawan (handsome). “Sebagaimana seorang manusia cantik rupawan jika memakai sedikit saja perhiasan maka ia nampak bertambah cantik dan manis. Demikian juga amal seorang mu’min sejati membuat dirinya sangat cantik rupawan. Jika dia berbuat keburukan atau dosa dia hampa, habis kecantikannya, tidak punya nilai sedikitpun. Jika di dalam diri manusia tertanam keimanan yang hakiki, maka dia merasa lazat dalam beramal dan pandangan mata ruhaninya terbuka, dia menunaikan salat sebagaimana mestinya harus dilaksanakan dan dia merasa benci terhadap dosa. Dia membenci pertemuan atau pergaulan yang tidak bersih. Didalam lubuk hatinya timbul semangat dan kecintaan yang khas dalam menyatakan keagungan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw.[11]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ”Dalam menjawab sebuah pertanyan Hadhrat Rasulullah saw bersabda, bahwa Surah Hud telah membuat aku tua, disebabkan ruh perintah-perintah yang terdapat di dalam surah itu banyak sekali mengandung tanggungjawab sangat berat yang harus dipikul, meluruskan diri sendiri dan mematuhi sepenuhnya hukum-hukum Allah Ta’ala itu. Sejauh mana keadaan jati diri manusia, mungkin saja dapat mematuhi dan mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala itu, namun membuat manusia lain sama seperti itu bukan pekerjaan mudah. Dari hal itu kita menyadari betapa tangguh dan agungnya quwwat qudsiyah Hadhrat Rasulullah saw. Maka bagaimana perkasanya beliau telah berhasil mengamalkan semua perintah itu dan telah membuat jiwa Jemaat para Sahabah suci murni. Beliau saw telah menciptakan sebuah Jemaat para Sahabah yang dikatakan: كُنْتُم خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ Kalian sebaik-baik ummat telah diciptakan demi faedah ummat manusia (Ali Imran:111) dan mereka telah mendengar suara berkumandang: رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ Allah telah ridha kepada mereka dan merekapun telah ridha kepada-Nya (Al Bayyinah: 9). Selama dalam kehidupan beliau saw tidak ada seorangpun Munafik tinggal di Madinah. Pendeknya, keberhasilan yang diperoleh Hadhrat Nabi Muhammad saw demikian luhurnya, tidak dapat ditandingi oleh para nabi-nabi lain selama hidup mereka. Jadi kehendak Allah Ta’ala dalam masalah iman tidak hanya sebatas pernyataan melalui kata-kata belaka, sebab jika hanya sekedar pernyataan lisan saja dan dengan cara pamer belaka maka apakah perbedaan antara kita dengan orang-orang lain, dan apa kelebihan kita dari mereka? Beliau bersabda, ; “Tunjukkanlah oleh mu hanya contoh secara nyata amalan kamu dan amal itu harus demikian cemerlang sehingga orang lainpun mengakui dan menerimanya.”

Setelah itu beliau as memberi nasihat kepada Jemaat: “Tunjukkanlah oleh mu hanya contoh secara nyata amalan kamu dan amal itu harus demikian cemerlang sehingga orang lainpun mengakui dan menerimanya. Sebab jika tidak nampak cemerlang seorangpun tidak akan menerimanya. Apakah ada orang yang suka kepada benda kotor? Selama sehelai pakaian terdapat noda padanya, maka tidak akan kelihatan baik. Seperti itu juga jika keadaan dalam diri kalian tidak bersih dan cemerlang tidak akan ada yang mau membeli kalian. Setiap orang suka kepada barang indah, begitu juga jika martabat akhlaq kalian tidak luhur, kalian tidak akan dapat memperoleh suatu kedudukan.[12]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita sema orang-orang yang berakhlaq luhur, semoga Dia menciptakan perbaikan suci bersih di dalam diri kita, yang sinar kemilaunya dapat menarik perhatian dunia kepada kita. Semoga Allah Ta’ala membuka jalan-jalan tabligh lebih luas dibandingkan masa sebelumnya dan semoga kita menjadi pelaksana untuk menyempurnakan maksud Missi Hadhrat asih Mau’ud as Amin !!

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Register Riwayaat (ghair mathbu’ah), Register nomor 7, halaman 49, Riwayat Hadhrat Muhammad ad-Din Sahib ra,

[3] Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-Iman (Kitab tentang keimanan), bab maa jaa-a fii Iftiraaq haadzihil ummah (bab tentang perpecahan umat ini) hadits nomor 2641

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلاَنِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي».

[4] Barahin Ahmadiyyah hishshah pancjam (V), Ruhani Khazain jilid 21, halaman 18

badter bano har eik se apne kheyal me,

 syaid isi se dakhil ho daarul wisaal me.

“احسِبوا أنفسكم أدنى من كل واحد”

“لعلكم بذلك تدخلون دار الوصال”

Ungkapkanlah kerendahan diri sedemikian rupa sampai-sampai engkau menganggap diri engkau lebih buruk dari semua orang lain, karena ini, semoga engkau dapat menjadi orang-orang yang memperoleh belas kasih Allah Ta’ala

[5] Tadhkirah 2009 edition, p. 931

[6] Malfuzat Jilid I halaman 490 Edisi 490, Edisi ke 4 Cetakan Rabwah

[7] Sunan Ibni Maajah, Kitab al-Ath’imah, ‘Hawwin ‘alaika fa-inni lastu bi Malikin innamaa ana bnu mar-atin ta-kulul hadid.’ “هَوِّنْ عَلَيْكَ فَإِنِّي لَسْتُ بِمَلِكٍ إِنَّمَا أَنَا ابْنُ امْرَأَةٍ تَأْكُلُ الْقَدِيدَ”.

[8] Barahin Ahmadiyyah hishshah pancjam (V), Ruhani Khazain jilid 21, halaman 18

“كنت غريبا ومسكينا ومجهولا وعديم الخبرة”

[9] Barahin Ahmadiyah Bagian V Ruhani Khazain Jilid 21 hal 18

[10] Malfuzhaat, jilid awwal, halaman 48, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[11] Malfuzhaat, jilid awwal, halaman 249, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[12] Malfuzhaat, jilid awwal, halaman 115-116, edisi 2003, terbitan Rabwah.