Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 05 Fatah 1393 HS/Desember 2014

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

 وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا[ (النساء: 60)

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang memegang kekuasaan diantara kamu. Dan jika kamu berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu memang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.” (Surah an-Nisa; 4:60)

Ayat ini mengandung satu prinsip agar diikuti oleh seorang beriman yang sejati, yaitu mereka harus menitikberatkan perhatian mereka pada ketaatan serta harus unggul dalam hal itu, yaitu taatlah kepada Allah, Rasul-Nya atau mereka yang memegang kekuasaan. Jika mereka yang memegang kekuasaan atau pemerintah mengarahkan kalian untuk melakukan sesuatu yang jelas melawan perintah Tuhan dan Rasul-Nya, maka perintah Tuhan dan Rasul-Nya harus didahulukan. Namun jika ada kebebasan beragama, maka haruslah menaati para memegang kekuasaan, baik dia Muslim ataupun non-Muslim.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Al-Quran memerintahkan kalian, أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ‘…Taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya serta mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian…’ Ayat ini dengan sangat jelas memerintahkan untuk menaati para memegang kekuasaan, dan menjadi sangat tidak benar jika seseorang yang mengatakan pemerintah tidak termasuk kedalam مِنْكُمْ ‘mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian’. Apapun yang pemerintah katakan yang sejalan dengan syariah termasuk kedalam ‘mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian.’ Siapa pun yang tidak melawan pemerintah adalah dari kalangan kita. Hal ini jelas terbukti dari Al-Quran bahwa pemerintah harus ditaati dan apapun yang pemerintah katakan hendaknya diterima.”[2]

Ringkasnya, Hakam dan Adal zaman ini secara jelas telah menyatakan hukum negara harus dipatuhi secara sempurna dengan pengecualian terhadap sesuatu yang bertentangan dengan apa yang Tuhan dan Rasul-Nya katakan. Jika orang-orang Muslim menerapkan dasar ini, maka segala kekacauan yang terjadi di berbagai negara Islam dapat sangat berkurang. Saya sampaikan sebuah kutipan panjang tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as yang meliputi pokok-pokok bahasan: Bagaimana seharusnya standar (ukuran) ketaatan itu, seberapa pentingnya ketaatan itu, kerugian di dalam ketidaktaatan, dan peranan ketaatan dalam penyebaran Islam. Di masa ini, hanya orang-orang Ahmadi sajalah yang dapat menggambarkan ketaatan sejati dan dapat menunjukan kepada dunia bagaimana martabat umat Islam dapat dibangun. Bagaimanapun juga, yang paling utama adalah kita harus meninggikan standar ketaatan kita terlebih dahulu.

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis bahwa “Itu artinya, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka yang memegang kekuasaan. Jika ketaatan itu dilakukan dengan tulus, maka hati akan memperoleh sinar sedangkan jiwa akan mendapatkan kebahagiaan serta cahaya. Bentuk sikap keagamaan lainnya tidak perlu ditunjukan sebanyak ketaatan. Ketaatan harus ditunjukan dengan tulus terlebih dahulu dan itulah bagian yang sulitnya. Adalah penting untuk meleburkan keakuan kedalam ketaatan karena tidak mungkin untuk menjadi seseorang yang taat tanpa hal ini. Sedangkan ego merupakan emosi yang dapat menciptakan suatu berhala bahkan di dalam hati para penganut Tauhid Ilahi.

Betapa penuh berkatnya para sahabat ra, mereka segolongan orang yang benar-benar mengabdikan diri dalam ketaatan kepada Rasulullah saw. Memang benar bahwa tidak akan menjadi suatu golongan serta tidak akan memiliki semangat kebangsaan dan kerukunan jika suatu golongan itu tidak mengamalkan prinsip ketaatan. Jika perbedaan serta perselisihan pendapat merupakan hal yang lazim terjadi, maka pandanglah hal ini sebagai pertanda kondisi yang buruk dan mundur. Dengan berbagai alasan, pertentangan serta konflik internal pun juga terjadi di balik lemahnya serta mundurnya kondisi umat Islam.

Jika perbedaan pendapat ditinggalkan dan hanya ada satu orang yang ditaati, yaitu kepada siapa Allah Ta’ala perintahkan untuk taat kepadanya, maka kesuksesan di dalam segala hal pun dapat diperoleh. [Hadits] يَدُ الله مَعَ الْجَمَاعَة ‘YaduLlahi ma’al Jamaa’ah’ ‘Tangan Allah Ta’ala menyertai al-Jama’ah’ (orang-orang yang bersatu-padu dalam satu imam, pimpinan)[3]; di sanalah terletak rahasianya. Allah Ta’ala menyukai persatuan, sedangkan kesatuan tidak dapat dibangun jika ketaatan tidak diterapkan. Pada masa Rasulullah saw., para sahabat merupakan orang-orang tegas yang memiliki pemikiran yang hebat. Jadi Tuhan telah memberikan mereka kemampuan kecakapan dalam politik. Kompetensi serta kecerdasan Hadhrat Abu Bakar ra, Hadhrat Umar ra serta para sahabat lainnya ketika mereka memegang kekuasaan menjadi khalifah, dengan sangat jelas menunjukkan betapa mampunya mereka untuk bersikap tegas dan memiliki pemikiran yang hebat.

Namun di hadapan Rasulullah saw, mereka memandang tidak berarti segala pemikiran dan ketajaman pandangan yang mereka miliki. Apapun yang Rasulullah saw katakan, mereka anggap harus dilaksanakan. Begitu setianya mereka di dalam ketaatan sehingga mereka mencari keberkatan di sisa air wudhu beliau saw dan menganggap mulut beberkat beliau patut dimuliakan. Jika mereka tidak memiliki semangat ketaatan dan pengabdian serta memandang pemikiran mereka adalah yang terbaik, maka akan ada pertentangan diantara mereka dan mereka tidak akan memperoleh derajat yang tinggi.

Menurut saya, satu penjelasan berikut ini sudah cukup untuk mengakhiri pertentangan antara Syiah dan Sunni, yaitu bahwa para sahabat Nabi saw tidak pernah saling berselisih dan bermusuhan. Hal demikian karena kemajuan dan capaian-capaian keberhasilan yang mereka peroleh menunjukkan bahwa mereka itu satu dan tidak ada permusuhan antara satu dengan yang lainnya. Para penentang Islam yang kurang dalam pemahamannya mengatakan Islam disebarkan dengan kekerasan dan paksaan, tetapi di sini saya katakan bahwa hal itu tidak benar. Hal yang sebenarnya ialah hati mereka dibasahi dengan semangat ketaatan dan sebagai buah dari ketaatan dan persatuan, mereka telah memenangkan hati orang-orang. Keyakinan saya adalah mereka menarik pedang hanya sebagai upaya untuk membela diri. Bahkan jika mereka tidak menarik pedang, mereka tetap akan memenangkan dunia dengan kata-kata mereka. Ada suatu perkataan, ’sahn kaz dil aid nasyind la jarm bar dil’ ‘Kata-kata yang keluar dari hati, tak diragukan lagi, bahwa itu akan dapat menyentuh dan meluluhkan hati yang lain!’

Para sahabat menerima suatu kejujuran dan kebenaran. Mereka menerimanya dengan ketulusan hati, tanpa keterpaksaan dan tanpa adanya kepura-puraan. Hanya kebenaran merekalah yang menjadi sarana dari kesuksesan mereka. Sungguh benar bahwa orang yang benar hanya menggunakan kekuatan kebenarannya. Air muka dan jasmani penuh berkat Rasulullah saw memancarkan cahaya tawakkal (penyerahan diri) kepada Allah dan mengandung corak jamaali (kecantikan, keindahan) dan jalaali (keagungan). Wajah beliau saw yang bercahaya ini mempunyai daya tarik dan kekuatan yang dapat menarik hati orang-orang kepadanya. Dan Jemaat sahabat beliau saw merupakan teladan yang patut dicontoh dalam hal ketaatan kepada Rasulullah saw, dan terbukti, استقامت ‘istiqamat’ (kemantapan, keteguhan, integritas) mereka dalam ketaatan ini sedemikian rupa فوق الكرامة fauqal karaamah’ (berada pada martabat kehormatan, sangat luar biasa) sehingga siapa pun yang melihat mereka, tidak dapat untuk tidak tertarik kepada mereka.

Pendek kata, sekarang ini perlu sekali untuk mencontoh kondisi serta persatuan para sahabat, karena Allah Ta’ala telah menghubungkan Jemaat di bawah tangan Hadhrat Masih Mau’ud as dengan Jemaat di bawah tangan Rasulullah saw. Kesuksesan suatu golongan hanya tergantung pada teladan orang-orang seperti itu. Karena itu, diantara kalian yang dikenal sebagai golongan Hadhrat Masih Mau’ud as dan ingin bergabung dengan golongan para sahabat, tanamkanlah kondisi para sahabat di dalam diri kalian, tirulah ketaatan mereka, contohlah kecintaan dan kesatuan mereka. Pendeknya, terapkanlah akhlak para sahabat dalam segala bentuk.”[4]

Hadhrat Masih Mau’ud telah menjelaskan dengan gamblang berbagai aspek dalam kutipan ini. Pertama, seperti telah saya uraikan, “Taatlah kepada Allah Ta’ala!” lalu “Taatlah kepada Rasul Allah Ta’ala!” Dan selanjutnya, “Taatlah kepada ulil amri, yaitu para pemimpin dan pemerintah kalian!” Termasuk di dalam ulil amri ialah نظامُ الحكومة ‘Nizham al-Hukuumah’ administrasi pemerintahan dan juga نظام الجماعة ‘Nizham al-Jama’ah’ (Nizam atau administrasi Jemaat). Ketaatan kepada Khilafat berada diatas dua administrasi/Nizham ini karena Khilafat menegakkan perintah Tuhan dan Rasul-Nya dan Nizham Jemaat adalah tabi’ (pengikut, berjalan di bawah) Khilafat. Ini merupakan keindahan Khilafat bahwa jika ada suatu masalah atau perselisihan diantara mereka yang ditunjuk untuk menjalankan administrasi Jemaat dengan anggota Jemaat, maka Khalifa-e-Waqt dapat menyelesaikannya. Sungguh, ini merupakan salah satu tugas seorang Khalifa-e-Waqt. Dengan jelas telah saya katakan, ketaatan kepada Khilafat hendaklah berada di atas ketaatan kepada pemerintah. Namun, janganlah salah paham dalam hal ini karena Khalifah-e-Waqt adalah orang yang paling terdepan dalam menaati hukum negara dimana beliau berada serta memastikan anggota Jemaat lainnya pun melakukan hal yang sama.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda di suatu tempat: “Istilah Ulil Amr (mereka yang memegang kekuasaan) dalam terminologi jasmani berarti raja sedangkan dalam terminologi rohaniah berarti Imam Zaman.”[5] Di dalam kerangka sistem pemerintahan duniawi, suatu sistem rohaniah pun dapat menjalankan fungsinya dan memang telah berjalan. Berbahagialah kita yang telah menjadi bagian dari sistem rohaniah ini. Allah telah mendirikan dan menjalankan Nizham Khilafat, pelanjut Nizham Imamuz Zaman yang bertujuan untuk mendirikan pemerintahan Allah dan Rasul-Nya di dalam hati serta pikiran. Dalam situasi adanya perselisihan, Khalifah mengambil keputusan sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Ini merupakan karunia-Nya bahwa kita memiliki sistem Khilafat. Jika tidak karena karunia ini, berbagai perpecahan golongan dan para ahli fiqh yang berbeda memiliki pelbagai pandangan yang berbeda pula mengenai {فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ} “maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya”. Bukannya memecahkan masalah, malahan lebih jauh memperumitnya. Seterusnya, pandangan yang berbeda dapat menciptakan berbagai masalah yang berbeda pula dengan pemerintah. Dengan demikian, pemecahan masalah-masalah itu hanya dapat diperoleh melalui Khilafat. Para Ahmadi hendaknya tidak cukup hanya bersyukur saja tetapi hendaknya rasa syukur itu dapat disampaikan dengan menunjukan ketaatan yang sempurna kepada Khilafat.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai sesuatu yang cukup penting: “Ketaatan yang diterapkan dengan ketulusan melahirkan cahaya di dalam hati serta kebahagiaan dan kelezatan di dalam jiwa.” Tentu yang dimaksud di sini adalah ketaatan kepada Nizham rohaniah. Ini juga menjadi sarana pengukur ketaatan, yaitu apakah ada cahaya di dalam hati? Apakah ruh mengalami kebahagiaan dan kelezatan? Perhatikanlah standar ketaatan kalian sendiri, dan nilailah seberapa tinggi ketaatan kalian kepada Allah, Rasul-Nya dan Khilafat yang didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketaatan kepada pemerintah membawa keamanan dan ketenangan sementara cahaya dan kelezatan rohaniah hanya didapat dengan ketaatan kepada sistem rohaniah.

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda: “Tidak ada sesuatu keharusan untuk mujahadah (perjuangan rohaniah) yang senilai dengan tuntutan untuk melakukan ketaatan.” Tanpa ketaatan, kita tidak dapat merasakan kebahagiaan dan kilauan ruhani atau kedamaian di dalam kehidupan kendatipun seberapa banyak mujahadah telah dilakukan. Orang-orang yang membanggakan banyaknya shalat mereka dan menggantungkan diri pada ibadah mereka kepada Allah tetapi tidak menampilkan ketaatan maka mereka tidak bisa menjadi orang yang memperoleh berkat dari Allah.

 Aspek lainnya dari memperoleh standar yang baik dari ketaatan sebagaimana yang disabdakan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah: “Adalah penting untuk menghilangkan ego (keakuan) kalian dalam ketaatan”. Untuk menunjukan ketaatan tersebut, seseorang harus membawa segala keinginannya sejalan dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya katakan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa berhala-berhala bisa diciptakan bahkan di hati para pemuja ketauhidan Ilahi, yang akibatnya bahkan dapat membuat seseorang tidak mampu lagi untuk taat terhadap hal yang sangat kecil sekalipun. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa para sahabat ra dapat memperoleh standar ibadah yang tinggi kepada Tuhan hanya setelah mereka menunjukan ketaatan. Memang hadits pun meriwayatkan اِسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنْ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ bahkan jika seorang budak hitam menjadi pemimpin kalian, maka kalian harus mendengar dan menaatinya. Dalam riwayat lain bahkan disebutkan, كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ ‘ka-anna ra-sahu zabiibah’ bahkan jika kepala pemimpin kalian hanya sebesar kismis, kalian tetap harus menaatinya.[6]

Hadhrat Masih Mau’ud as menghubungkan kemajuan suatu bangsa dengan ketaatan seraya bersabda, “Suatu bangsa tidak dapat dinamai sebagai sebuah bangsa jika tidak dihembuskan di dalam diri mereka روح الجماعة والوحدة ruhul jama’ah wal wahdah (jiwa kebersamaan dan kesatupaduan) dan tidak menjalani pokok-pokok kepatuhan, karena di sanalah terletak kemajuan itu.” Hadhrat Rasulullah saw menyatakan bahwa kemajuan itu ada di dalam hubungan yang tetap terjaga dengan al-Jama’ah (Jemaat) dan di dalam menyimak perkataan Imam dan menaatinya. Jika saja umat Islam memahami hal ini, mereka akan menjadi suatu kekuatan besar dengan tidak ada saingannya di dunia ini! Kita, para Ahmadi, haruslah meraih standar ketaatan yang tinggi. Tuhan menyatakan ketaatan adalah cara yang terbaik untuk memperoleh hasil yang baik bagi suatu Jemaat ruhani.

Bagaimanapun juga, ketaatan selalu menunjukan hasil yang luar biasa bahkan dalam masyarakat duniawi sekalipun. Kita lihat dalam sejarah, Napoleon berkuasa di Prancis ketika negara tersebut sedang mengalami kehancuran.[7] Dia berkata kepada negara itu, “Jika kalian tidak berhenti dari perselisihan, maka kalian tidak akan memperoleh kemajuan. Jika kalian menghiasi diri dengan ketaatan, kalian peroleh kemajuan dan kemenangan.” Orang-orang yang bertabiat baik di negara tersebut menerima etos ini, mengangkatnya sebagai pemimpin, serta menunjukan ketaatan dan kepatuhan yang begitu luar biasa, sehingga Napoleon pun mengalami suatu perubahan di dalam hidupnya.

Namun kemudian Napoleon harus diasingkan ke [pulau Elba di] Italia setelah kalah dalam sebuah pertempuran besar [dengan negara-negara Eropa lainnya]. Ketika dia kembali ke tanah Perancis [setelah melarikan diri dari pengasingan pertama di pulau Elba, atas bantuan para sahabatnya], seorang Raja baru sedang berkuasa [Raja Louis XVIII]. Raja tersebut mengumpulkan para pendeta, pemimpin militer dan ahli politik serta mengambil sumpah setia mereka di atas Injil karena sang raja merasa Napoleon telah demikian menanamkan ruh ketaatan kepada orang-orang sehingga mereka akan mengikutinya seketika ia muncul kembali. Sekembalinya ke daratan Perancis, Napoleon langsung mengumpulkan orang-orangnya meskipun mereka yang menyertainya saat itu bukanlah tentara berpengalaman. Raja baru itu mengirimkan seorang Jenderal (Delessart) bersama pasukannya dan berdiri menghadang rombongan Napoleon.

Mereka dikabari oleh utusan Napoleon bahwa rombongan Napoleon hendak ke ibukota, Paris, agar jangan dihalangi. Namun, mereka mengatakan telah bersumpah setia kepada raja baru (Louis XVII) diatas kitab Injil. Napoleon memerintahkan orang-orangnya untuk maju tetapi mereka dibunuh oleh pasukan kerajaan. Dia mengirim lagi lebih banyak yang juga ditembaki dan tewas. Melihat situasi itu, Napoleon tidak percaya pasukannya yang dulu [pasukan Raja Louis XVIII adalah pasukannya dulu.] sudah tidak lagi menaatinya. Dia merasa telah menanamkan ketaatan dan kesetiaan kepada mereka. Yakin terhadap kesetiaan yang pernah dia tanamkan di dalam bangsa itu, kemudian dia sendirian maju dan berkata: “Para prajurit, aku adalah kaisar kalian. Kenalilah aku. Jika diantara kalian ada yang ingin membunuhku, bunuhlah aku ini.” Para prajurit merasa tidak tahan dan kemudian berlari ke arah Napoleon. Dikisahkan, banyak dari mereka pun menangis seperti anak kecil seraya berteriak-teriak di sekeliling Napoleon, “Vive l’Empereur!” – “Hidup Kaisar!”. Jenderal (Delessart) pun, [seraya berlinang air mata] menunjukan kesetiaannya pada Napoleon [dengan memberikan pedangnya].

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengutip kisah kembalinya kekuatan Napoleon: “Napoleon atau para pemimpin lain seperti dia tidak memperoleh pertolongan Allah seperti yang dimiliki oleh orang yang memiliki iman sejati namun mereka membawa perubahan. Keadaan mereka yang berbaiat adalah berbeda. Sungguh, tujuan utama baiat adalah untuk mengabdikan dirinya secara sempurna melalui ketaatan. Tujuan ini begitu halus sehingga ketaatan dalam urusan duniawi tidak akan pernah dapat menyainginya. ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya serta kepada mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian’ merupakan suatu konsep yang jika tidak diterapkan oleh suatu bangsa — baik oleh mereka yang merupakan pengikut keimanan sejati ataupun tidak — maka bangsa tersebut tidak akan memperoleh keberhasilan.”

Kita hendaknya selalu merenungkan perkataan Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa adalah penting untuk membangun kesatupaduan dan ketaatan untuk menjadi sebuah negara atau golongan. Tanpa hal itu, hanya akan ada penurunan dan kemunduran. Al-Quran menyatakan mengenai hal ini:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (آل عمران: 105). “Dan, berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah Ta’ala dan janganlah bercerai-berai serta ingatlah akan nikmat Allah atas kalian ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hati kalian dengan kecintaan antara satu sama lain sehingga dengan nikmat-Nya kalian menjadi bersaudara; dan kalian dahulu berada di tepi jurang Api, kemudian Dia menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu mendapat petunjuk.” (Surah Ali Imran; 3:105)

Amat disayangkan, meskipun telah ada pesan yang jelas dari Allah, namun umat Muslim telah sampai pada kemunduran yang paling rendah karena saling berselisih, melupakan karunia yang mereka peroleh dan berada di titik kegelapan dan kemunduran yang menakutkan. Telah terjadi kemunduran sejak masa Hadhrat Masih Mau’ud as. Tapi kini bahkan mencapai titik terendahnya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tinggalkanlah perbedaan diantara kalian dan taatilah satu orang – yakni Imam Zaman – dan barulah kalian akan merasakan bagaimana segala hal yang kalian lakukan akan senantiasa diberkati.” Semoga Tuhan memberikan pengertian kepada mereka.”

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda: “يَدُ الله مَعَ الْجَمَاعَة ‘YaduLlahi ma’al Jamaa’ah’ ‘Tangan Allah Ta’ala menyertai al-Jamaah’ perihal mana ini adalah juga sabda Nabi Muhammad saw, tanpa hal ini, kesuksesan tidak akan dapat diraih dan Allah tidak akan dapat dijumpai. Allah dapat ditemukan hanya oleh mereka, yang memiliki pandangan dan pemahaman yang benar mengenai ketauhidan Ilahi serta dalam diri mereka terdapat kesatupaduan. Kita hendaknya tidak dengan mudah merasa senang karena telah baiat. Kita perlu untuk meraih standar baiat yang berarti harus menjual diri kita sebagaimana secara jelas dipahami dari kata ‘baiat’ itu sendiri. Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan dengan menyebutkan contoh secara khusus Hadhrat Abu Bakar ra dan Hadhrat Umar ra, dan menyebut para sahabat Nabi saw umumnya bahwa mereka merupakan orang-orang tegas yang berpandangan hebat serta kualitas yang mereka miliki bersinar dengan terang pada masanya, dan mereka juga menjalankan pemerintahan. Namun, selama masa hidup Rasulullah saw, mereka seolah-olah tidak mengetahui apapun. Pada saat itu, mereka menganggap semua pendapat dan ketajaman pikiran mereka sebagai sesuatu yang tak berarti. Kemudian, dunia menyaksikan bagaimana mereka membimbing dunia. Kita melihat model ketaatan yang patut dicontoh selama masa Khilafat Rasyidin.

Ada suatu peristiwa dalam sejarah yang menunjukan ketajaman pikiran, kerendahan hati, sikap pengorbanan, mendahulukan kepentingan bangsa dibanding mementingkan diri sendiri dari salah seorang Sahabat Nabi saw, Hadhrat Abu Ubaidah ra. Peristiwanya demikian, selama peperangan, beliau menerima surat dari Hadhrat Umar ra berisi kabar telah baru wafatnya Hadhrat Khalifah Abu Bakr ra, kabar bahwa beliau ra sebagai khalifah setelahnya, serta perintah beliau ra memberhentikan Khalid bin Walid sebagai Komandan seluruh pasukan dan menunjuk Abu Ubaidah sebagai penggantinya. Mengingat kepentingan nasional yang lebih luas, Abu Ubaidah tidak memberitahu Khalid bin Walid mengenainya hingga sempurnanya perdamaian dengan orang-orang Damaskus dalam wujud surat perjanjian damai yang ditandatangani bersama secara resmi.

Ketika Khalid bin Walid mengetahui hal sebenarnya, dia mencela Abu Ubaidah karena tidak segera memberitahukan hal itu, tapi Abu Ubaidah beralih pembicaraan dan malahan meyakinkan Khalid bin Walid dengan menyebutkan prestasi heroiknya. Khalid bin Walid menunjukan ketaatan yang baik sekali terhadap Khilafat dengan mengatakan, “Wahai kalian para pasukan! Orang yang terpercaya dari umat ini telah ditugasi oleh Khalifah sebagai Amir (pemimpin) kalian. Rasulullah saw telah menggelari Abu Ubaidah sebagai ‘Amiin haadzihil ummah’ (yang dipercaya oleh umat ini).” Abu Ubaidah berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa Khalid salah satu pedang Tuhan dan lelaki yang luar biasa dari bangsa ini.”[8] Dengan demikian, perintah Khalifa-e-Waqt diterima dengan senang hati. Pada umumnya, dengan karunia Allah Ta’ala, Jemaat ini memiliki semangat ketaatan tetapi terkadang jika ada seseorang diberhentikan dari jabatan [Jemaat], mereka mempertanyakan, “Mengapa dia diberhentikan? Untuk apa? Apa kekurangannya? dan lain-lain.” Jika teladan dalam sejarah tadi direnungkan maka pertanyaan tersebut tidak akan pernah muncul.

Kita hendaknya saat ini merenungi, dengan Al-Qur’an yang sama dan Nabi yang sama, namun lihatlah bagaimana kondisi umat Muslim saat ini! Mereka terlibat dalam kekacauan dan mereka mengemis kepada dunia. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa perselisihan antara Syiah dan Sunni – juga bertambah banyak golongan dan gerakan di masa kini – terjadi karena mereka meninggalkan ketaatan. Ini adalah kemunduran dan kejatuhan. Apa yang dibutuhkan adalah persatuan. Secara khusus beliau as telah meminta Jemaatnya untuk menanamkan teladan para sahabat ra, sehingga pedang kebenaran kalian dapat meluluhkan para musuh. Hal ini akan terjadi ketika setiap orang diantara kita akan senantiasa berusaha serta menanamkan ketaatan dan kepatuhan di dalam diri kita. Dengan ketaatan yang sejati terhadap Allah dan Rasul-Nya, kita dapat mengambil bagian dari cahaya yang telah diberikan kepada Rasulullah saw.

Ringkasnya, inilah tanggung jawab yang sangat besar dari para Ahmadi, yaitu setelah berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, kita harus menunjukan teladan أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ “..Taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya dan kepada mereka yang memegang kekuasaan diantara kalian…” yang akan menarik dunia kepada kita. Inilah satu-satunya cara yang dapat kita tempuh untuk membawa dunia ke haribaan Tuhan dan Rasul-Nya serta untuk dapat membimbing dunia. Ini adalah jalan yang dapat kita tempuh untuk mengakhiri kekacauan dunia.

Sebab, seperti telah saya sampaikan, kita mempunyai perintah Al-Quran yang pantas untuk diamalkan dan pantas untuk ditaati. Kita mempunyai teladan Nabi yang penuh berkat, dan adalah kewajiban kita untuk menaatinya. Dan kita juga mempunyai sistem ruhani dari ‘ulil Amr (mereka yang memegang kekuasaan) diantara kita yang selalu menarik perhatian kita kepada perintah Tuhan dan Rasul-Nya. Tidak ada alasan bahwa kita tidak dapat menciptakan perbedaan yang jelas antara kita dengan yang lainnya. Semoga Tuhan memungkinkan kita untuk berbuat demikian dan semoga kita senantiasa memenuhi harapan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Penerjemah: Hafizurrahman, editor: Dildaar AD

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Journal Al Andaz, hal.69 – Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud Vol.II hal. 246

[3]Sunan at-Tirmizi 6/334. Kitab al-Fitan, bab Luzumis Sunnah, juga diriwayatkan oleh Hakim dalam Mustadrak 1/115, 116 كتاب العلم

[4] Al-Hakam, Vol. 5, no. 5, tgl. 10 Februari 1901, hal. 1-6; Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as, jilid 2, h. 246-248.

[5] Perlunya Seorang Imam Zaman, hal. 37

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Ahkam, bab as-sam’I wath tho’ah, 7142

[7] Napoleon lahir di pulau Korsika, 15 Agustus 1769, lulus akademi militer Prancis pada usia 15 tahun. Bertubuh pendek dibawah ukuran umum orang Eropa. Di akademi, ia sering diolok-olok oleh teman-teman Prancisnya karena logat bahasanya yang kental dengan gaya Korsika-nya. Lulus sekolah elit militer. Karir menanjak dari menjadi perwira. Banyak memenangkan perang. Menjadi konsul perdana (umur 30 tahun). Menjadi kaisar (36 tahun). Menguasai hampir seluruh daratan Eropa, baik dengan perang maupun diplomasi. Kalah perang beberapa kali. Diasingkan dua kali.  Meninggal 5 Mei 1821 pada umur 51 tahun, di pengasingan di pulau Saint Helena.

[8] Tarikhul Umam wal Muluuk, karya Ath-Thabari, juz 4, h. 82, tsumma dakhalat sanah tsalaats ‘asyar (tahun ke-13 Hijriyah, tentang surat-surat Khalifah Abu Bakr), dan sanah sab’ah asyrah, Darul Fikr, Beirut, Lubnan, 2002.

عن علي بن محمد بإسناده عن النفر الذين ذكرت روايتهم عنهم في أول ذكري أمر أبي بكر أنهم قالوا قدم بوفاة أبي بكر إلى الشأم شداد بن أوس بن ثابت الأنصاري ومحمية بن جزء ويرفأ فكتموا الخبر الناس حتى ظفر المسلمون وكانوا بالياقوصة يقاتلون عدوهم من الروم وذلك في رجب فأخبروا أبا عبيدة بوفاة أبي بكر وولايته حرب الشأم وضم عمر إليه الأمراء وعزل خالد بن الوليد

Musnad Ahmad ibn Hanbal, Musnad asy-Syamiyyiin (Penduduk Syam), Hadits Yazid ibn al-A’wam ra, Alimul Kutub, Beirut, 1998, hadits 16869.

عن عبد الملك بن عمير قال استعمل عمر بن الخطاب أبا عبيدة بن الجراح على الشام وعزل خالد بن الوليد قال فقال خالد بن الوليد بعث عليكم أمين هذه الأمة سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول أمين هذه الأمة أبو عبيدة بن الجراح قال أبو عبيدة سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول خالد سيف من سيوف الله