Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 6 Wafa 1391 HS/Juli 2012

di International Center, Mississauga, Canada pada Jalsah Salanah Kanada

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Setelah membaca Surah Al Fatihah, Hudhur (ayyadahullahu ta’ala binashrihil ‘aziz, aba) memulai khotbah dengan mengucapkan syukur kepada Allah Ta’ala yang mengizinkan terlaksananya Jalsah Salanah oleh Jemaat Ahmadiyah Kanada.

Jalsah adalah sumber dari diterimanya begitu banyak berkat bagi kehidupan para Muslim Ahmadi, karena merupakah sarana yang diadakan bagi orang banyak semata mata untuk berkumpul dalam keperluan keagamaan, dimana para individu dapat mengingat Allah, dan juga dilakukan untuk mendapatkan keridhoan-Nya. Semua alasan ini memang sesungguhnya menjadi sumber keberkatan dari Allah Ta’ala. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda bahwa para peserta dari acara acara dan perkumpulan seperti ini – yang mana dilaksanakan untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala – adalah merupakan pewaris dari ridho Allah Ta’ala yang akan membawa mereka menuju surga. Nabi Muhammad (saw) bersabda: “Berusaha keraslah untuk berjalan di dalam kebun-kebun surga”. Saat para sahabat meminta beliau untuk menjelaskan hal ini, Hadhrat Muhammad saw mengatakan bahwa acara-acara perkumpulan yang diadakan untuk mengingat Allah sejatinya adalah merupakan kebun kebun surga yang dimaksud.

Tujuan dari jalsah di dalam kenyataannya adalah untuk mengingat Allah Ta’ala dan untuk berusaha keras dalam menuju cinta Allah Ta’ala, dengan berfokus dan memberikan perhatian pada sholat dan doa doa dan untuk mendidik diri sendiri lebih jauh tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Dengan kadar yang sama dan seimbang, kita juga harus memberikan perhatian khusus dalam memenuhi kewajiban kita kepada sesama umat manusia, dimana pada akhirnya, adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Selanjutnya, fokus akan sholat dan doa doa serta kewajiban dan penyembahan akan menghantarkan kita kepada kebun kebun Surga. Malahan, memenuhi kewajiban-kewajiban kita terhadap sesama umat manusia mempunyai dua aspek: yang pertama adalah orang yang memenuhi kewajiban tersebut akan menuai pahala, dan yang kedua adalah bahwa orang yang kewajibannya sudah terpenuhi tersebut juga mengakui dan menyadari akan keberkatan dari konvensi spiritual seperti ini – dimana yang merupakan hak hak merekapun akan diberikan pahala. Hal ini seharusnya menjadi gambaran pastidari acara acara perkumpulan seperti itu; dimana perasaan syukur kepada Allah, hubungan yang saling bertimbal balik dan keunggulan dalam ibadah dapat berkembang dan maju. Beruntunglah diantara kita yang datang ke Jalsah dengan semangat dan tujuan serta melaksanakan hal hal ini. Dan sebagai hasilnya, mereka membuka kunci gerbang Surgawi tidak hanya untuk mereka sendiri tapi juga memungkinkan orang orang lain untuk berjalan di kebun kebun surga ini. Satu tindakan takwa menghasilkan banyak tindakan takwa lainnya, yang mengumpulkan pahala dari Allah Ta’ala bagi orang orang yang memulai tindakan tindakan takwa tersebut.

Allah kita adalah Allah yang Maha Pengasih, yang memberikan pahala bagi perbuatan baik beratus bahkan beribu kali lipat. Karena itu, setiap orang harus bekerja keras untuk mencari Kasih Sayang dari Tuhan kita Yang Maha Pengasih ini. Peresmian acara acara Jalsah oleh Hadhrat Masih Mau’ud (‘alaihissalaam, as) telah memberikan kita kesempatan untuk meraih tujuan ini: yaitu menjelajahi kebun kebun surga. Karenanya, beruntunglah mereka yang akan meraih berkat pahala dan rahmat Allah Ta’ala dengan mencapai tujuan sejati dari konvensi dan pertemuan seperti ini. Setiap peserta Jalsah Salanah, baik laki laki, perempuan, tua dan muda harus bekerja keras untuk mencapai tujuan ini.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) merasakan penderitaan (keprihatinan) yang luar biasa bagi para anggota Jemaat, dan biasanya berdoa dengan penuh kesedihan dalam kata kata berikut: “Aku berdoa sampai akhir nafasku agar Allah Ta’ala menyucikan hati dari para anggota Jemaat dan semoga Ia berkenan untuk memperluas pengampunan-Nya sehingga hati mereka mengarah kepada-Nya. Dan semoga Dia menghilangkan segala kedengkian, kebencian dan kejahatan dalam hati mereka, dan semoga Ia mengisi hati mereka dengan kasih sayang dan kesucian. Aku mempunyai keyakinan yang teguh bahwa doaku akan diterima, dan Allah Ta’ala tidak akan membiarkan doa doaku menjadi sia sia. Aku juga berdoa bahwa jika ada orang di Jemaat ini yang tidak memiliki niat untuk mencapai kedekatan dengan Allah Ta’ala, maka orang tersebut seharusnya tidak lagi berada di dalam Jemaat dan sebagai gantinya, jiwa yang suci akan menggantikannya, dimana hatinya lembut dan cenderung kepada Ilahi”.

Ini adalah kata-kata yang menggambarkan keadaan hati dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan selayaknya membuat hati para pengikut beliau menjadi berempati dan mendorong mereka ke arah Istighfar dan Taubat, dan membuat mereka cenderung untuk selalu bersujud dan menyembah Tuhan dan memohon pengampunan dan belas kasih. Kata kata ini seharusnya membuat mereka sadar akan kewajiban dan tugas tugasmereka terhadap sesama umat manusia. Karenanya, selama hari hari ini, setiap orang dari kita harus kembali kepada Taubat, Istighfar, mengingat Allah dan durood (shalawat kepada Nabi Muhammad saw). Semoga Allah Ta’ala melindungi iman kita, dan malah semoga Ia meningkatkan iman kita dan membuat kita maju dalam hal ketakwaan. Semoga Istighfar kita menjadi suci dan menyeluruh. Semoga doa-doa dan penyembahan kita menjadi benar benar diabdikan dengan ikhlas dan setia. Semoga tujuan dari tugas tugas kita kepada sesama umat manusia dapat benar benar dicapai untuk mendapatkan ridho Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan: kecuali jika sujud kita dipenuhi dengan pengabdian yang menyeluruh, maka doa-doa dan permohonan kita tidak akan berbuah. Seperti layaknya daging dan darah qurban yang tidak sampai kepada Allah Ta’ala, demikian pula halnya bahwa sujud kita tidak akan berpahala sampai hati kita dipenuhi dengan Takwa. Kecenderungan hati (kepada Takwa) berarti seseorang harus mematuhi perintah perintah Tuhan, tunduknya hati berarti manusia harus berserah kepada kehendak-Nya, dan kebersujudan hati berarti  manusia harus meninggalkan keinginannya sendiri untuk mendapat ridho Allah Ta’ala.

Ini adalah hasrat (keinginan) dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) untuk menyaksikan para pengikut beliau mantap dalam Takwa, dan untuk hal ini beliau berdoa dengan sungguh sungguh dan teramat sangat. Semoga Allah mengaruniai kita untuk dapat meraih keadaan ini. Mari kita berharapagar kecenderungan kita terhadap hal hal duniawi tidak akan menjadi halangan dan rintangan di dalam jalan menuju revolusi keagamaan yang merupakan tujuan dari kedatangannya Hadhrat Masih Mau’ud (as). Agar dapat meraih ridho Allah Ta’ala dan menjadi penerima dari berkat berkat doa Hadhrat Masih Mau’ud (as), setiap Ahmadi harus memperbaharui sumpahnya dengan energi dan semangat dimana ia akan melakukan semua usaha untuk meningkatkan standarnya dalam meraih ketakwaan. Al Alqur’an Suci membimbing orang orang beriman menuju jalan untuk meraih ketakwaan dalam berbagai tempat.

Takwa berarti bahwa setiap Ahmadi sejati harus melakukan setiap usaha untuk menjauhi dosa dan pelanggaran susila. Karena itulah Allah bersabda bahwa ibadah dan penyembahan yang dilakukan dalam esensi/intisarinya yang sejati akan menjaga kita dari segala bentuk keburukan dan kejahatan. Agar menjadi jelas bahwa ibadah dan persembahan di dalam esensi/intisari sejatinya, menanamkan rasa takut terhadap Allah dalam hati manusia, tapi rasa takut ini adalah akibat dari rasa cinta yang dirasakan oleh orang yang benar benar beriman kepada Allah Ta’ala, yang membimbing mereka untuk mendapatkan ridho Allah Ta’ala, yang merupakan tujuan utama dari penciptaan (manusia) itu sendiri. Allah Ta’ala bersabda bahwa “Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia, selain untuk beribadat kepadaKu”

Hudhur (aba) mengatakan bahwa tujuan-tujuan hidup yang dibuat sendiri oleh manusia adalah yang teramat sia sia, karena tujuan tujuan ini menyembunyikan tujuan dari penciptaan (manusia) seperti yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Hanya tujuan dan keinginan keinginan keduniawian–lah yang ada pada manusia manusia yang mengikuti tujuan tujuan yang dibuat oleh manusia sendiri ini. Padahal sesungguhnya, tujuan yang ditetapkan yang ada di Al Alqur’an adalah pengakuan dan pengabdian serta penyembahan kepada Allah. Manusia tidak mempunyai kontrol atau kuasa akan kelahiran dan kematiannya; hany Tuhanlah yang punya. Sama halnya, Tuhanlah yang telah menetapkan tujuan dari kehidupan manusia seperti yang sudah diterangkan di atas. Ini adalah standar yang harus diusahakan untuk dicapai semua Ahmadi.

Saat ini, negara-negara barat telah menemukan banyak sekali cara untuk meraih kesenangan duniawi yang menuntun kepada kebejatan dan tindak asusila, yang secara bergiliran ditampilkan ke seluruh dunia. Kebejatan ini ‘diberi merek’ sebagai kesenangan dan kenikmatan. Ini adalah orang orang yang tidak mengerti dan tidak mempunyai mata atau hati untuk melihat kebenaran dan tujuan yang sudah ditetapkan Tuhan kepada mereka. Mereka tidak menghiraukan perintah Tuhan, dan mengikuti insting jasmaniah mereka, yang membuat mereka bahkan lebih buruk daripada binatang, apalagi manusia. Mereka telah sesat dan mengikuti hasrat hasrat keduniawian.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa orang orang ini telah melupakan Tuhan dan perintah perintah-Nya, dan berusaha untuk mencari dan menetapkan tujuan tujuan dan maksud mereka sendiri dalam hidup. Tempat tinggal terakhir bagi orang orang ini adalah neraka.

Hudhur (aba) menerangkan lebih lanjut bahwa belas kasih dan rahmat Allah meliputi segalanya; tetapi banyak orang yang tidak mendapatkan manfaat dari rahmat Allah Ta’ala dan menarik mereka lebih jauh dalam aktivitas aktivitas keduniawian sampai pada tahap dimana mereka binasa secara spiritual. Jalan menuju akhir yang tragis adalah ketika manusia tidak menaati perintah Tuhan, dan tidak menyembah-Nya sebagaimana seharusnya Dia disembah. Manusia telah melibatkan mereka sendiri di dalam aktivitas-aktivitas yang sia-sia dan bejat. Video-video pornografi tersedia begitu bebasnya sehingga manusia merubah diri mereka menjadi binatang dengan menyaksikan video-video ini. Hudhur (aba) mengatakan bahwa kadangkala beliau menerima keluhan bahwa para Ahmadi berusia muda atau tengah baya juga terlibat dalam menyaksikan video-video seperti itu, atau mungkin bukan sepenuhnya video porno namun yang pastinya film-film yang sia-sia. Aktivitas aktivitas ini menuntun kepada hancurnya keluarga dan terjadinya perceraian. Hudhur (aba) memperingatkan seluruh anggota Jemaat untuk takut kepada Allah Ta’ala yang telah menetapkan dengan jelas bahwa orang-orang yang demikian telah sesat dan akan terikat pada neraka. Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menerangkan bahwa jika kita ingin tetap berada dalam Jemaat, maka kita harus meninggalkan hasrat dan keinginan yang sia-sia. Jika tidak, menjauhlah dari Jemaat. Hudhur (aba) mengatakan bahwa orang-orang seperti ini biasanya jauh dari Jemaat dan tidak berpartisipasi dalam Jalsah-Jalsah. Namun, jika memang mereka kemudian menghadiri Jalsah dan mendengarkan ajaran-ajaran ini, maka mereka harus berusaha untuk memperbaiki diri, jika tidak, mereka harus memisahkan diri dari Jemaat sebelum Jemaat mengambil tindakan terhadap orang-orang yang demikian.

Hudhur (aba) juga membahas tentang anak muda, dengan mengatakan bahwa mereka tidak familiar (akrab) dengan aturan-aturan Jemaat dan tidak bisa membedakan antara yang benar ataupun yang salah. Karenanya, mereka juga harus menahan diri dari pertemanan dengan orang orang yang terlibat dalam kebejatan dan tindakan asusila, dimana orang bisa menjadi kecanduan sekalinya mereka mencoba. Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa Allah bersabda bahwa banyak manusia yang diciptakan dan kemudian menjadi bahan bakar neraka; namun neraka ini diciptakan oleh tangan tangan dari manusia manusia ini sendiri. Mereka diundang ke dalam Surga dengan hati yang bersih dan suci, namun mereka tidak mengindahkannya. Banyak orang berpikir bahwa mereka cerdas dan mencoba untuk membangun sendiri jalan mereka ke ‘Surga’. Namun mereka tidak mencapai kemanapun kecuali ke neraka. Untuk orang orang seperti ini, dunia ini juga dapat menjadi sepeti neraka, dan tujuan akhir mereka pun pada akhirnya adalah neraka.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menyatakan: jangan berpikir bahwa kemewahan-kemewahan dan hubungan hubungan duniawi adalah sumber dari kepuasan dan ketenangan batin. Sama sekali tidak. Kepuasan dan ketenangan batin tidak datang dari benda-benda atau materi keduniawian; namun hanya dapat tercipta ketika seseorang meleburkan diri dalam cinta kepada Allah. Rasa haus terhadap benda benda keduniawian tidak akan pernah terpuaskan; malahan akan semakin menjadi jadi, sampai pada keadaan dimana orang orang yang mengejar hal hal ini pada akhirnya akan menjadi binasa. Api ini seperti layaknya api neraka, yang tidak akan membiarkan orang untuk istirahat, namun sebaliknya menciptakan kelaparan yang amat sangat terhadap hal hal tersebut yang semakin menjadi jadi sampai mereka menyerah kepada hasrat mereka. Karenanya, para sahabatku, mari kita memperhatikan ajaran dan perintah perintah ini. Api yang membakar hati dan merubahnya menjadi kegelapan, seperti layaknya batu bara, adalah api yang menghabisi semuanya, adalah merupakan kecintaan terhadap materi duniawi.

Hudhur (aba) mengatakan bahwa orang beriman yang sejati (sebenar-benarnya) harus memberikan perhatian akan bagaimana caranya mendapatkan ridho Allah di dalam setiap tindakannya, dan menghancurkan berhala/pujaan lainnya dalam hatinya yang membuat dia cenderung pada hasrat hasrat duniawi. Hanya dengan demikianlah seorang Muslim dapat menjadi seorang mukmin (orang beriman yang benar). Maka dari itu, selama hari hari Jalsah ini, Tuhan telah memberikan kita kesempatan untuk membuat perubahan perubahan, sehingga setiap orang dari kita seharusnya berfokus pada kondisinya sendiri dan berusaha untuk meningkatkannya, tidak peduli seberapa besar atau kecilnya ketidaksempurnaan yang ada. Kadang kadang perbuatan-perbuatan salah yang kecil-lah yang membawa seseorang ke dalam keburukan yang lebih besar. Tetaplah sibuk dalam mengingat Allah. Raihlah kedekatan dengan Allah dengan beristighfar dan durood (shalawat). Sucikan hati kita dari berhala dan pujaan yang tersembunyi. Bersyukurlah kepada Allah, yang akan menanamkan cinta kepada Allah dalam hatimu.

Nikmat-nikmat duniawi yang telah dilimpahkan kepadamu di negara ini, cobalah menjadikan nikmat nimat tersebut sebagai sumber dalam meraih ridho Ilahi. Allah Ta’ala telah bersabda bahwa “ketakwaanmu akan menjadi sumber dari rasa hormat kepadamu; bukan uangmu ataupun status keduniawianmu”. Allah Ta’ala bersabda bahwa “yang terbaik diantaramu adalah yang terbaik dalam ketakwaan”. Banyak perselisihan yang timbul antara anggota Jemaat yang dapat diselesaikan jika mereka melaksanakan perintah ini.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa pencegahan dari keburukan adalah cara terbaik dalam melindungi seseorang dari keburukan tersebut. Allah Ta’ala akan menganugrahi kita pahala untuk perbuatan perbuatan sekecil apapun yang dilakukan dalam rangka mendapatkan keridhoan-Nya.  Yang paling tinggi dalam hal ini bukanlah mereka yang meraih kemewahan kemewahan duniawi, tapi mereka yang sudah meraih kebenaran. Beliau juga mengatakan agar jangan pernah meremehkan saudara saudara kita yang kurang beruntung. Jangan menganggap diri kalian lebih atau unggul dari yang lain karena kekayaan maupun status atau kasta. Menurut Allah Ta’ala, orang orang yang unggul adalah mereka yang muttaqi (orang-orang yang benar). Beliau menambahkan bahwa keselamatan tidak tergantung dari negara seseorang, ataupun kekayaan, tetapi Allah Ta’ala melihat perbuatan perbuatanmu.

Di tempat lain, Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah memperingati dengan keras dengan mengatakan bahwa di mata Allah Ta’ala, satu satunya orang yang layak dihormati adalah orang yang benar. Tuhan hanya akan menyelamatkan mereka yang benar. Ini adalah sikap yang halus dan seseorang yang benar tidak bisa secara bersamaan menjasi orang yang tidak suci. Allah Ta’ala akan menyelamatkan mereka yang benar dan menghancurkan mereka yang jahat. Hanya Tuhan yang mengetahui siapa yang benar, karena itulah seseorang harus dengan perasaan takut menyadari hal ini. Beruntunglah mereka yang benar dan tidak beruntunglah mereka yang terkutuk.

Perkataan-perkataan dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini selayaknya cukup untuk membangkitkan para Muslim Ahmadi secara spiritual (rohani). Satu satunya cara dalam melindungi diri sendiri dari keburukan adalah dengan memastikan agar yang dikatakannya sama dengan yang dilakukannya sehingga dia disebutkan diantara mereka yang meraih keselamatan. Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menyebutkan tiga cara untuk meraih keselamatan ini. Yang pertama adalah dengan melakukan perbuatan perbuatan yang baik dan benar. Yang kedua adalah setiap langkah yang engkau tempuh haruslah menuju kebenaran dengan mengikuti cara Nabi Muhammad SAW – dimana tindakan-tindakan beliau merupakan pengejawantahan dari ajaran Alqur’an, sehingga pesan dasar yang hakiki adalah untuk kembali kepada ajaran Alqur’an. Yang ketiga adalah untuk memperindah perbuatan perbuatan yang dilakukan dengan berserah sepenuhnya kepada kehendak Allah dan taat kepada Nabi Muhammad SAW. Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa takdir Jemaat adalah mendapatkan keberhasilan dan kemenangan. Karenanya, beruntunglah bagi mereka yang memahami konsep yang paling mendasar ini.

Hudhur (aba) mengatakan bahwa banyak anggota Jemaat yang memang benar-benar menetapkan diri dalam cara-cara yang benar ini, dan sangatlah kentara dari perilaku mereka terhadap anggota-anggota Jemaat lain. Namun demikian selalu ada ruang untuk memperbaiki diri. Semoga Allah Ta’ala menganugrahi setiap diri kita untuk memahami dan melaksanakan mutiara mutiara nasihat emas ini dalam hidup kita. Dan semoga hidup kita menjadi penerima rahmat yang telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka yang benar, yang tidak lain adalah pahala kebaikan. Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa seseorang harus meninggalkan cara-cara yang bejat, asusila, cemburu, dengki, bangga hati, angkuh dan keburukan keburukan lain dan ingatlah bahwa hanya yang saleh-lah yang akan meraih keberhasilan.

Hudhur (aba) mengatakan bahwa lingkungan yang tercipta selama Jalsah menyediakan kita kesempatan yang unik untuk memastikan bahwa kita mangambil langkah langkah ke arah penjagaan diri kita sendiri dari segala macam immoralitas (tindakan asusila) dan kecenderungan akan keburukan dan juga memberi kita kesempatan untuk ambil bagian dalam melakukan perbuatan perbuatan yang menuntun kita kepada ridho Allah dan kemurahan hati-Nya. Usaha-usaha yang dilakukan berjamaah dan bersama-sama di jalan Allah (alih alih usaha yang dilakukan secara individu/perorangan) juga akan menimbulkan berkah dan rahmat serta nikmat Ilahi. Kita akan jadi saksi dari pemenuhan janji janji yang dianugerahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), selayaknya kemenangan yang dilimpahkan kepada Nabi Tuhan. Jika kita ingin  menikmati peristiwa kemengan ini, maka setiap Ahmadi harus bekerja keras dalam meningkatkan kondisi spiritual mereka.  Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengatakan bahwa harus diingat bahwa mereka yang benar diberitahukan mengenai ganjaran pahala di dalam hidup mereka. Beliau mengatakan bahwa pada periode periode awal, Rasulullah SAW mengalami musibah satu demi satu. Namun hasil dari sekian banyak kesulitan dan cobaan itu tidak seberapa dibandingkan dengan keberhasilan yang akhirnya membawa kemenangan. Beliau juga menubuatkan kemajuan Jemaat dalam kata kata berikut: “Aku menerima kabar suka cita tentang keberhasilan Jemaat, sedemikian rupa sehingga nestapa dan kekhawatiranku hilang dariku dan kabar suka cita ini menguatkan imanku. Aku sudah bisa mencium wanginya kemenangan akhir untuk Jemaat.

Hudhur (aba) menekankan kembali bahwa kemajuan dan kemenangan yang sudah ditakdirkan untuk Jemaat. Karena itu kita harus meningnkatkan standar kia akan kebenaran sehingga kita bisa menjadi saksi dari keberhasilan keberhasilan ini. Setiap Ahmadi Muslim seharusnya mendapatkan manfaat selama hari hari dilaksanakannya Jalsah serta akan tibanya bulan Ramadhan dan memperbaiki diri mereka sendiri dengan melakukan segala usaha yang bisa dilakukan oleh seorang manusia. Semoga Allah mengaruniai setiap orang dari kita untuk dapat melaksanakannya dan juga untuk mengumpulkan berkat dan rahmat dari acara yang bermanfaat ini. Semoga kita menjadi pewaris dari doa doa yang dipanjatkan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bagi para peserta Jalsah. Dengarkanlah khotbah khotbah yang disampaikan dengan tenang dan para peserta yang hadir agar tetap terus hadir dalam semua sesi dan melaksanakan instruksi instruksi yang diberikan selama berlangsungnya ceramah yang bersifat mendidik dan spiritual yang diketengahkan selama Jalsah berlangsung. Para peserta seharusnya bekerjasama dengan para panitia, dan para penemban tugas juga harus melaksanakan tugas tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Seluruh peserta dan panitia harus selalu sadar akan lingkungan sekitarnya setiap waktu. Semoga Allah Ta’ala memberi karunia kepada kita semua untuk melakukah ini. Semoga Allah Ta’ala membantu kita semua dalam mengumpulkan rahmat dan karunia dari Jalsah.

Khotbah II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa