Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz 

Tanggal 13 Juni 2014 di Karlsruhe, Jerman.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

Hazrat Khalifatul Masih menyampaikan Khutbah Jumat beliau hari ini di Jerman. Jalsah Salana Jerman diawali dengan khutbah. Hudhur mengekspresikan harapan bagi pengkhidmatan Jalsa yang baik, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) berulangkali menarik perhatian kepada keberkatan datangnya Jalsah. Hingga, sekalipun kita harus mengalami ketidaknyamanan, kita harus berusaha yang terbaik untuk menyambut Jalsah ini. Para Ahmadi yang tinggal di negara barat beruntung bahwa mereka dapat mengadakan Jalsah dan pertemuan lainnya. Mereka harus bersyukur dengan kesempatan ini dan dalam rasa syukur itu mereka harus sepenuhnya berfaedah bagi acara jalsah tersebut. Para Ahmadi di Pakistan menghadapi pelarangan dalam masalah ini dan menelan penderitaan yang dalam serta merindukan untuk dapat menyelenggarakan Jalsah dan ingin menjadi orang yang memperoleh keberkatan yang dijanjikan tersebut. Beberapa pengunjung Jalsah Jerman dari Pakistan bertemu Hudhur dan menangis dengan kepiluan yang mendalam atas ketidak-berdayaan yang mereka hadapi di Pakistan. Hudhur mengulang kembali nasihatnya bahwa para Ahmadi di Pakistan harus kembali kepada Tuhan dengan gairah yang tinggi guna melihat perubahan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda bahwa tujuan dari Jalsah Salanah adalah untuk meraih keimanan dengan kesabaran dan semata-mata untuk mencari keimanan dari jalsah tersebut.

Hudhur menarik perhatian kepada para panitia Jalsah untuk menjalankan tugas mereka dengan kesabaran dan ketabahan demi mencari ridho Tuhan. Dan Hudhur pun menarik perhatian kepada para tamu yang ada bahwa kehadiran Jalsah semata-mata untuk belajarmengenai keimanan dan bekerjagunamembangunkeruhanian.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda bahwa beliau berkali-kali menasehati untuk menjernihkan mata dan menjadikan mata tersebut terang secara rohani sebagaimana terang secara zahir. Beliau juga bersabda bahwa keselamatan (najat) itu dicapai oleh mereka yang sadar dan bebas dari sentimen duniawi. Beliau bersabda bahwa selain sujudnya qalbu dengan kerendahan hati di hadapan Tuhan, sujudnya fisik di hadapan Tuhan tidak mempunyai arti sama sekali.

Masih Mu’ud (as) bersabda bahwa qiyamnya qalbu merupakan keteguhan pada perintah Ilahi, rukunya adalah untuk kembali kepada Tuhan, dan sujudnya qalbu yaitu untuk menyerahkan dirinya demi Tuhan. Beliau pun mendoakan bahwa semoga Allah mensucikan qalbu orang-orang Jemaat, dan dengan rahmat serta karunia-Nya yang luas semoga Tuhan mengembalikan qalbu mereka tertuju kepada-Nya.

Ketika mata lahir kita luka maka kita akan pergi dan mencari dokter dan berusaha untuk membuatnya lebih baik serta dalam hal ini melakukan tindakan pencegahan. Apakah kita melakukan upaya yang sama bagi mata ruhani kita? Kita menyimak ceramah-ceramah pada tiga hari Jalsah ini, namun segera sesudah jalsah berakhir kita kembali ke dunia luas dan kembali kepada kebiasaan kita yang lama. Tiga hari Jalsah adalah penyembuhan bagi mata ruhani yang sakit dan sisanya adalah waktu untuk pemulihan.

Santapan ruhani pada Jalsah membantu kita guna memenuhi hak-hak Tuhan serta hak-hak manusia dan tanpa adanya ini menyebabkan penderitaan. Sebagai contoh ketikawanita muda dari Pakistan dan dari tempat lain setelah menikah datang ke negara barat, mereka merasa kangen kepada orangtuanya dan orang tua mereka pun mengkhawatirkan mereka. Suami dan mertua mereka berlaku tidak adil kepada mereka, dan disamping itu wanita tersebut harus menghadapi penilaian dari masyarakat. Orang-orang yang tidak adil dalam masalah tersebut disebabkan oleh ego pribadi dan lain sebagainya. Takutlah kepada Tuhan. Pada saat para pengurus tidak takut kepada Tuhan maka mereka pun terlibat di dalam ketidak adilan.

Kita harus merefleksikan kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang menyentuh hati ini. Bisakah kita berkata jujur bahwa kita berhenti dari semua keburukan? Dapatkah kita ucapkan, sumpah demi Tuhan bahwa kita menghentikan semua bentuk kekejian dan tidak menimbulkan kerugian pada siapapun? Apakah kita menunaikan hak-hak Tuhan dan manusia? Apakah qalbu kita dibersihkan atau kita berusaha untuk membersihkannya? jika tidak, maka hal ini merupakan masalah besar yang harus diperhatikan. Apakah kita bersujud dengan kerendahan hati supaya diterima Tuhan? Al-Quran jelas menyatakan mengenai mereka yang shalat untuk pamer belaka: فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ “Maka celakalah bagi mereka yang Shalat.” (Al-Ma’un, 107:5) Semoga tidak ada satu pun dari kita yang mendatangkan ketersinggungan Tuhan!

Kita harus melakukan qiyam, ruku, dan sujud dalam cara yang Tuhan sukai serta menjadi model yang dibawa Hadhrat Masih Mau’ud (as). Qiyamnya qalbu adalah untuk mengukuhkan perintah-perintah Tuhan yang terdapat dalam al-Quran dan berpegang erat kepadanya supaya kita tidak jatuh. Rukunya qalbu adalah agar kembali kepada Tuhan dalam setiap kesulitan serta tidak bergantung pada sarana-sarana duniawi, dan sujudnya qalbu adalah agar mengorbankan semuanyademi Tuhan, mengorbankan egonya, kehormatannya dan mengikuti perbuatan yang dapat mensucikan qalbu. Hadhrat Masih Mau’ud (as) berdoa bagi rahmat Tuhan supaya qalbu para pengikut beliau kembali kepada-Nya,dan beliau kemudian bersabda bahwa mereka yang tidak melakukan upaya terhadap hal ini, mereka bukan bagian dari kita. Semoga Tuhan tidak pernah membuat kita melanggar perintah ini dan semoga kita semua mendapatkan kekuatan yang lebih dalam mematuhi itu semua.

Insya Allah, Ramadhan dimulai diakhir bulan ini, ini adalah bulan ruhaniah guna melatih amalan kita. Jika kita tautkan/hubungkan keberkatan tiga hari ini dengan keberkatan Ramadhan yang agung, maka sebuah perubahan ruhani bisa terjadi. Jika tiga hari Jalsah ini tidak membawa perubahan pada siapapun, maka sama seperti mereka tidak pernah menghadiri Jalsah. Sebenarnya, pada saat itu kehadirannya dapat menyebabkan kerugian.

Hazrat Khalifatul Masih II (ra) mengisahkan sebuah kejadian dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengenai hal tersebut. Suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) tiba di Masjid dan segera orang-orang berhamburan mendekati beliau supaya bisa mengambil faedah dari keberadaan beliau dan para sahabat. Seorang pria masuk ke masjid tempat terjadinya pertemuan itu dan mulai melaksanakan shalat Sunah. Shalatnya begitu lama dan panjang, orang-orang yang ingin mendekati Hadhrat Masih Mau’ud (as) mulai gelisah. Beberapa dari mereka mulai merangsek mendekat dan mungkin dalam keadaan mereka berdesak-desakan tersebut sikut seseorang mengenai pria yang sedang shalat sunah itu. Pria itu komplen dan berkata jenis Nabi atau Mahdi macam apa seperti ini yang orang-orang di majelisnya mendorong orang lain. Dia menjadi tidak senang, murtad dan pergi. Tentunya hal ini merupakan kemalangannya sendiri. Di suatu majelis yang sama dimana seseorang mendapati ruhaninya menjadi sumber ketersandungan tersendiri. Maka Perbuatannya menunjukan bahwa qiyam, ruku dan sujudnya hanya untuk pamer belaka!

Meskipun majelis Hadhrat Masih Mau’ud (as) tidak ada lagi, namun ceramah-ceramah yang disampaikanberisi ajaran-ajaran beliau, dan tentunya berisipula penjelasan mengenai Al-Quran, juga berisi keteladanan beberkat dari Rasulullah saw. Kita harus ikut serta dalamshalat dan Tahajjud tepat pada waktunya, namun jika untuk beberapa alasan shalat kitaluput (ketinggalan), maka kita harus beranjak ke sudut,dan tidak semua tempat terganggu orang lain. Pekerja yang baik adalah mereka yang melakukannya sesuai waktu dan keadaan. Seseorang yang meringkas shalatnya dan ikut hadir dalam majelis itu, akan membuatnya benar-benar berbeda. Ketabahan dan kesabaran menolong iman kita dari kesia-siaan. Mereka yang menghadiri Jalsah harus mengabaikan beberapa ketidaknyamana dengan kesabaran dan ketabahan.

Terkadang, beberapa orang di jalsah tidak sabar hingga menyebabkan kekerasan dan bahkan melahirkan perselisihan. Kemudian ketika sikap disiplin ditegakan,hal itumengakibatkan orang-orang seperti initersandung, hal ini disebabkan ego mereka menguasai diri mereka, dan agaknya Jalsah bukannya menjadi sumber kebaikan malah menjadi sumber kerugian bagi iman mereka.

Dengan karunia Tuhan kini Jalsah diselenggarakan di seluruh dunia. Para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud (as) memiliki banyak latar belakang suku dan bangsa, sehingga ajaran-ajaran beliau tersebar di dunia. Jika satu orang malang kehilangan keyakinannya, ribuan orang akan bergabung ke dalam Jemaat ini.

Hudhur menceritakan sebuah contoh mengenai ini. Mubaligh kita di Sierra Leon menulis bahwa ada seorang kepala Imam dan ia seorang penentang Jemaat. Mualim lokal kita mengundangnya ke Jalsah. Walaupun kepala Imam tidak datang, wakil Imam tersebut datang. Dia ingin mengetahui mengapa orang-orang Ahmadiyah mengeluarkan begitu banyak biaya untuk melaksanakan Jalsah. Meskipun demikian, pada hari pertama saat ia datang untuk melaksanakan Tahajjud dengan yang lainnya, dan melihat orang-orang ahmadi melaksanakan Shalat dengan kerendahan hati yang mendalam, hatinya pun luluh dan ia menyatakan bahwa orang-orang Ahmadiyah adalah orang-orang yang tulus ikhlas. Ketika mubaligh kita bertanya mengenai kesan-kesannya, sang wakil berkata bahwa ia amat kagum dengan anggota Jemaat dan tradisi Jemaat serta sekarang ia telah menjadi seorang Ahmadi! Dia kembali ke daerahnya dan mulai bertabligh. Sang Imam memecatnya namun sang wakil Imam berkata bahwa dia akan meninggalkan segalanya untuk Jemaat. Karena tablighnya itu maka banyak yang bergabung dengan Jemaat. Hingga sekali Jalsah ia menjadikan satu orang Ahmadi dan karena upayanya, ratusan orang bahkan lebih telah menjadi Ahmadi. Nama wakil Imam itu adalah Sheikh Adam dan ia merubah namanya menjadi Sheikh Adam Jalsah Salanah! Dengan berubah dirinya Tuhan menciptakan langit baru dan bumi baru! Kita yang lahir sebagai seorang Ahmadi juga harus memperhatikan mengenai hal ini. Jika kita datang ke negeri barat disebabkan penganiayaan Jemaat di Pakistan, maka penting bagi kita untuk menjadi duta Jemaat di sini dan jangan sampai diri kita hilang dari dunia!

Hudhur bersabda dunia Ahmadiyah adalah tempat dimana kini semua orang berlomba dalam kebaikan dan setiap orang harus berusaha keras agar tidak tertinggal dibelakang. Pada tahun-tahun permulaan, kota-kota digunakan untuk bersaing satu dengan yang lainnya, kini negara-negara digunakan untuk bersaing guna melakukan kebaikan!

Hudhur kemudian menyampaikan kepada mereka yang bertugas di tempat penginapan selama Jalsah. Hudhur bersabda bahwa hal ini harus ingat bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as)telah diberikan wahyu: “وسِّعْ مكانك” ‘wassi’ makaanaka’ [dan perluaslah tempat tinggal-mu][1] karena beliau telah menerima banyak tamu bahkan sebelum pengakuan beliau,serta beliau pun begitu ramah kepada mereka. Beliau sering sekali menerima wahyu ini, dan wahyu ini pun berlaku bagi para pengikut beliau. Tempat penginapan kita akan diperluas, karena memang perlu perluasan. Sebagai Jemaat yang sedang tumbuh di Jerman, penginapan pun mesti tumbuh. Para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud (as) jangan sampai lelah mengenai hal ini. Hadhrat Masih Mau’ud (as) begitu murah hati dan Tuhan telah berkata pada beliau agar tidak lelah dalam mengkhidmati para pengunjung dan tamu. Hal ini pun berlaku bagi para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud (as); baik yang berada di dekat beliau maupun mereka yang datang setelanya. Kita harus membuka lebar hati kita untuk para tamu tersebut.

Orang-orang yang datang selama kehadiran Khalifah dan makan di Langar Khana harus secara khusus diperhatikan. Tentunya mereka pun harus dilayani selama waktu-waktu normal. Al-Quran suci telah memberikan kepada kita sebuah model pengkhidmatan dalam diri Hazrat Ibrahim (as). Kita tidak harus menunggu dan menanyakan tamu bila mereka mengupayakan sesuatu atau tidak, dan kita jangan khawatir mengenai pengeluaran untuk melayani tamu dan juga harus diperhatikan kenyamanan mereka. Memang, nabi (saw) menitikberatkan pada pengkhidmatan dan amat senang tatkala para pengikutnya memperhatikan para tamu. Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengejar para tamu yang pergi dengan rasa kecewa terhadap pekerja di Langgar Khana. Persoalan-persoalan seperti itu tidak hanya sekedar untuk dibaca, didengar dan dinikmati, sebaliknya hal-hal tersebut harus disisipkan dalam pelaksanaannya.

Hudhur menarik perhatian kepada panitia pelaksana Jalsah Jerman untuk menghargai pentingnya pengkhidmatan. Salah satu aspeknya adalah dari segi penyajian makanan bagi para tamu Jalsah, satu hidangan roti disajikan kurang lebih untuk 32 ribu tamu Jalsah. Mereka harus memperhatikan dan menyajikan makanan dengan respect. Sebaliknya, mereka pun dituntut tidak boros namun disini bukan berarti memberi orang-orang itu makanan sisa dalam cuaca panas dan beresiko mereka jatuh sakit. Aspek pengkhidmatan lainnya adalah pada waktu-waktu normal. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyediakan pengkhidmatan kepada orang-orang sesuai kegemaran mereka. Panitia pelaksana Jalsah mesti mencatat hal ini. Kita menerima tamu dari luar Jemaat dan mereka kagum dengan tingkat pengkhidmatan kita. Jemaat Jerman membangun sebuah masjid dan makanan disajikan pada acara peresmian Masjid tersebut. Walaupun sajian yang dihidangkan pada kesempatan itu memadai, penataan tempat duduk menurut Hudhur kurang baik. Hudhur diberitahu bahwa orang-orang Jerman terpaksa duduk di bangku kayu. Hudhur bersabda mereka mungkin tidak keberatan menggunakannya, namun standar pengkhidmatan kita harusnya lebih baik. Hudhur mengintruksikan bahwa anggaran harus dialokasikan untuk pengaturan tempat duduk yang layak bagi tamu. Beliau bersabda cara kita, dimana kita telah diajarkan, harus ditampilkan. Walaupun hidangan teh sebagai minuman tidak masalah, namun hal itu harus disertai dengan makanan yang digemari orang-orang Jerman. Makanan yang disajikan pada perjamuan harus sesuai dengan selera mereka dan sedikit rempah-rempah.

Dalam hal ini Hudhur telah mengamati makanan yang disajikan pada peresmian Masjid kita di Munich. Beliau bersabda meski makananyang dihidangkan di atas meja utama, dimana para orang terkemuka duduk, sedikit lebih baik namun kenapa yang disajikan kepada 250, 300 tamu penting Jerman lainnya yang Hudhur amati, nampak dikerjakan setengah hati. Hudhur bersabda pengkhidmatan yang bagus amat penting pada fungsi-fungsi tersebut. Ini adalah tanggung jawab panitia pelaksana di negara itu guna memberikan pengkhidmatan yang baik. Meskipun fungsinya sudah amat baik namun diperlukan perhatian untuk membayar kekurangan tersebut.

Hudhur bersabda haruslah diingat bahwa wajib memberikan pengkhidmatan yang baik bagi para tamu selama hari-hari dimana Hudhur hadir. Ini adalah tanggung jawab sekretaris dhiafat dan Jemaaat lokal. Setiap macam luka emosional harus dihindari. Hal tersebut merupakan hak tamu yang harus dijaga. Merupakan hal yang sangat tercela apabila satu sisi melayaninya dengan baik kemudian sisi lain menggunjinginya. Hudhur menyinggung fakta bahwa kadang pada batasan ini dialami juga oleh mereka yang berpergian dengan Hudhur. Hudhur bersabda sekarang beliau hanya mengindikasikan kepada masalah ini dan berharap bahwa orang-orang akan mengerti dan menangkap pesannya. Mereka harus menyadari kesalahan mereka dan sibuk beristigfar. Semoga Allah menganugerahi pengertian kepada semua para pekerja!

Hudhur juga bersabda bahwa setiap orang harus waspada dan berjaga-jaga dalam hal keamanan. Semoga Allah menjadikan Jalsah ini sukses dalam segala hal!

[1] Tadhkirah, halaman 65, edisi 2009