Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز – ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 03 Agustus 2018 (Zhuhur 1397 HS/21 Dzul Qa’idah 1439 HQ) di Hadiqatul Mahdi, Alton, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Alhamdulillah hari ini sekali lagi kita mendapat taufik (kesempatan) untuk mengikuti Jalsah Salanah (Pertemuan Tahunan). Sebagian orang ada yang baru pertama mengikuti Jalsah. Banyak juga yang dengan mudahnya mengadakan perjalanan ke sini dan tiap tahun mengikuti Jalsah. Ada juga orang-orang yang memang tinggal di sini (UK atau Inggris) dan baru pertama mengikuti Jalsah. Mereka belum lama datang ke sini, tinggal di sini atau ada juga anak-anak yang baru menikmati manfaat suasana Jalsah.

Namun, yang terpenting adalah semua peserta hendaknya berusaha mengambil faedah dari suasana ruhani Jalsah Salanah dalam tiga hari ini. Dengan memperhatikan setiap program Jalsah Salanah dengan diam dan perhatian barulah kita bisa mengambil faedah Jalsah Salanah. Pada saat itulah mereka menjadi orang yang memenuhi tujuan mengikuti Jalsah Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Sebagaimana telah semua ketahui, kepanitiaan Jalsah 100 persen atau 95 persen anggota Jemaat bekerja secara sukarela sehingga sedikit banyak pasti ada kelemahan dan kekurangan namun kita semua yang hadir harus ikut serta membetulkan kelemahan tersebut atau menjauhkannya.

Pada satu segi para panitia mengevaluasi kelemahan diri mereka dan berusaha memperbaikinya sementara pada segi lain para tamu pun hendaknya melihat kelemahan mereka sendiri dan dimana saja melihat para panitia mengalami kesukaran, mereka dapat bekerjasama dan membantu. Jika ada tamu yang memerlukan bantuan, panitia harus membantunya. Begitu juga sebaliknya. Persatuan barulah akan kita dapatkan ketika kita saling memikul beban bersama-sama dan membantu satu sama lain. Hal pokok dan mendasar ini harus diingat oleh Mezbaan (tuan rumah) dan Mehmaan (tamu).

Biasanya satu minggu sebelum Jalsah saya membicarakan perihal tanggungjawab dan kewajiban-kewajiban para panitia dan tuan rumah sedangkan di hari Jumat saat Jalsah saya membicarakan kewajiban-kewajiban para tamu. Inilah keistimewaan Jalsah kita bahkan keistimewaan Nizham Jemaat kita atau ketika setiap dari kita secara baik menunaikan hak dan kewajiban masing-masing dan memahaminya sehingga di sana akan menetap kehidupan yang saling menyayangi satu dengan yang lain. Pada pokoknya, pada hari ini saya ingin membicarakan kepada keduanya dan mengarahkan perhatian mereka (saling menunaikan hak kewajiban kita, baik itu tamu maupun panitia).

Pada khotbah Jumat lalu saya tidak mengatakan apa-apa perihal kepanitiaan tapi pada hari Senin lalu saat rapat umum panitia Jalsah, saya telah mengarahkan perhatian terhadap bagaimana seharusnya mereka dan pekerjaan mereka. Suatu karunia dari Allah Ta’ala bahwa kebanyakan panitia ialah orang-orang yang telah tertarbiyati (terlatih dan terdidik). Mereka paham tugasnya dengan baik. Mereka yang baru bergabung menjadi panitia pun pernah bekerja sebelumnya. Demikian pula para Officer (pimpinan panitia) telah berpengalaman. Namun, saya ingin mengarahkan perhatian pada hal-hal yang harus lebih ditegaskan lagi dan dituntut untuk lebih banyak diperhatikan. Maka dari itu, pada khotbah kali ini saya ingin mengingatkan para tamu dan juga tuan rumah.

Sebelum membahas hal lainnya, hal pertama yang hendaknya para panitia ingat ialah mereka datang ke sini untuk mengkhidmati para tamu. Para tamu tersebut menghadiri Jalsah sesuai perintah Hadhrat Masih Mau’ud (as), bahkan perintah Allah Ta’ala. Mereka tidak datang demi kecenderungan duniawi bahkan datang ke Jalsah demi memperbaiki tolok ukur ruhani, keilmuan dan akhlaknya. Saya harap setiap orang yang menghadiri Jalsah harus mencamkan hal tersebut. Jika tidak, berarti sia-sia dan tidak ada tujuannya datang ke Jalsah ini.

Selanjutnya, para panitia hendaknya ingat untuk menampakkan teladan akhlak tertinggi serta memperhatikan perasaan dan senantiasa memperhatikan keperluan tamu meski bagaimanapun perlakuan para tamu. Jika ada tamu yang bersikap kurang baik, para panitia harus mengendalikan emosinya dan janganlah menjawab yang serupa dengan perkataan buruknya. Jika setiap panitia demi ridha Allah Ta’ala harus menahan emosi dalam pengkhidmatan terhadap para tamu maka lakukanlah itu. Saat itu barulah kalian akan dapat memperoleh kesukaan dan ridha Allah Ta’ala.

Kita mengimani Nabi Muhammad (saw) sebagai uswah hasanah (teladan terbaik). Bagaimanakah sikap dan perilaku beliau (saw) kepada para tamu?

Kita mengetahui bahwa mereka yang datang (bertamu atau menjumpai) kepada Nabi Muhammad (saw) bukanlah setahun sekali seperti pada kesempatan Jalsah ini. Bahkan, mereka tinggal satu kota dan berjumpa sehari-hari. Ada saja mereka yang mengunjungi beliau (saw) setiap hari disebabkan kemiskinan, mereka diundang makan oleh Nabi (saw). Sebagian dari mereka duduk-duduk sambil berbincang-bincang lama di tempat Nabi (saw). Hal ini membuat tersita waktu istirahat Nabi (saw). Meskipun begitu, beliau (saw) bersabar dan tidak bilang apa-apa demi menjaga perasaan mereka. Tidak pernah kita dapati beliau (saw) satu kali pun – meskipun beliau banyak kesibukan – lalu mengatakan kepada para tamu tersebut, “Saya sibuk. Janganlah datang lebih awal!” atau “Segera setelah makan, cepatlah pergi! Karena Anda di sini, pekerjaan saya jadi tertunda.”

Namun, Allah Ta’ala Maha melihat keadaan orang-orang itu dan bagaimana Nabi (saw) menahan diri atas para tamunya dengan sabar. Dia berfirman kepada orang-orang beriman, فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ وَاللَّهُ لَا يَسْتَحْيِي مِنَ الْحَقِّ ‘fastahyi mingkum waLlahu laa yastahyi minal haqq – “karena dia malu terhadap kalian tapi Allah tidak malu untuk menyampaikan kebenaran”. (Surah al-Ahzab, 33:54) Artinya, “Dia (Nabi saw) menjaga perasaan kalian sehingga malu untuk melarang kalian.” Namun, Allah Ta’ala berfirman mengenai hal ini supaya jangan mengganggu orang lain dengan duduk-duduk lama di rumahnya – dalam ayat ini rumah Nabi – tanpa ada keperluan penting.

Jadi, di satu sisi, Allah Ta’ala menyebutkan memang Rasulullah (saw) memperlihatkan teladan pengkhidmatan tamu yang luar biasa dan beliau (saw) disebutkan mempunyai akhlak luhur. Namun, di sisi lain, para tamu juga harus tahu diri berkenaan dengan hal itu yaitu dengan memenuhi kewajibannya. Mereka hendaknya tidak melampaui batas sehingga justru bisa mengganggu waktu orang lain. Dalam keadaan sebagai tamu, tamu hendaknya tidak membuat ketidakmanfaatan (kerugian) pada orang lain.

Selanjutnya, tolok ukur mehman nawaasi (pengkhidmatan terhadap tamu) terhadap orang-orang yang selain Muslim yang Nabi (saw) lakukan demikian membuat takjub. Ada suatu peristiwa yang dengannya kita dapat membayangkan betapa Hadhrat [Nabi Muhammad] (saw) demikian tingginya sikap berkhidmat kepada tamunya. Seorang tamu non Muslim (Yahudi atau Kristen) yang bermalam di rumah beliau (saw), pagi-pagi sekali ia sudah pergi tanpa pamit, lalu ditemukan kemudian bahwa ia meninggalkan kotoran di tempat tidurnya disebabkan sakit perut.

Kemudian, beliau (saw) sendiri yang membersihkan tempat itu sedangkan para sahabat berkata ketika mengetahui hal itu, “Wahai [Rasul] kesayangan kami, yang bagi engkau kami bersedia mengorbankan ibu-bapak kami, biarlah kami saja yang mengerjakan hal itu!”

Namun Rasulullah (saw) bersikeras kepada para Sahabat, “Tidak! Ia adalah tamu saya. Biar saya sendirilah yang membersihkannya.”[1]

Inilah tolok ukur keteladanan luhur yang tidak ada bandingannya. Di Jalsah kita juga datang orang-orang Ahmadi dan yang bukan Ahmadi (baik Muslim atau non Muslim. Mereka semua yang datang ke Jalsah ini telah meraih atau memliki suatu keluhuran akhlak tersendiri. Mereka datang untuk mempelajari agama atau ingin mencari tahu soal Islam dan Ahmadiyah.

Tiap orang toh mempunyai kelemahan manusiawi. Jika ada seseorang dari mereka yang berbuat tidak tepat atau bersikap tidak pantas, kita tidak bisa katakan akhlaknya buruk atau niatnya tidak baik. Ini kelemahan manusiawi yang karenanya terkadang membuat kita harus toleran. Mutlak benar bahwa para Ahmadi – apakah itu tuan rumah maupun tamu – harus memperlihatkan akhlak yang mulia.

Setiap panitia apapun bidangnya, harus menunjukkan akhlak yang mulia dibandingkan orang-orang selain mereka. Jika para panitia berakhlak mulia, orang-orang pun akan menjadi malu. Jadi, tiap anggota panitia – apa pun bidangnya – hendaknya menampakkan akhlak luhur. Hal ini adalah sebuah tantangan besar.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an, قُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا “Bicaralah kepada orang-orang secara baik dan dengan lemah lembut” (Surah al-Baqarah, 2:84) Kelemah-lembutan dan pembicaraan secara baik ialah hal mendasar yang dapat menghilangkan pertengkaran. Memperlihatkan akhlak luhur ialah suatu keharusan. Namun, prinsip ini bukan hanya untuk sementara di event-event khusus, tapi juga selamanya harus terus berusaha diamalkan. Jika orang-orang berpegang teguh pada prinsip ini, pasti tidak akan tersisa pertengkaran dan keributan. Para tamu dan para panitia hendaknya mengarahkan perhatian pada arahan Ilahi ini senantiasa sekarang dan seterusnya.

Kedua pihak semuanya wajib memperhatikan hal ini secara khusus pada tiga hari Jalsah ini. Semua pihak hendaknya menjadikan lingkungan ini lingkungan yang berbahagia dan beruntung supaya tercapai tujuan yang demi itu pertemuan ini diselenggarakan. Tujuan itu ialah membuat lebih baik lagi keadaan akhlak dan keruhanian. Akhlak ini akan mengikat mereka dari kalangan non Muslim yang datang ke Jalsah dengan ikatan akhlak Islam nan mulia. Ini akan menyebar di kalangan para tamu dan panitia serta berperan sebagai Khamusy Tabligh (tabligh secara diam-diam).

Nabi Muhammad (saw) bersabda, مَا مِنْ شَىْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ “Tidak ada timbangan yang lebih berat selain kebagusan akhlak.”[2]

Kita perhatikan bahwa demi penciptaan akhlak luhur secara kontinyuitas memerlukan penegakan shalat dan puasa juga. Artinya, hal-hal itu mengarahkan pada pencapaian kebaikan-kebaikan khususnya pencapaian kebaikan yang demi ridha Allah lalu hal itu menimbulkan perhatian pada ibadah. Syukur demi Allah juga bahwa tampak akhlak mulia ini tengah diamalkan sesuai perintah Allah. Kesyukuran ini membuat tercipta perhatian pada ibadah. Artinya, suatu kebaikan mendatangkan kebaikan lain yang lebih tinggi lagi mutunya. Suatu kebaikan akan beranak (melahirkan) kebaikan-kebaikan lain.

Dengan demikian, para panitia hendaknya, bagaimanapun keadaan para tamu harus tetap memperlihatkan senyum kepada mereka. Penampakkan keadaan lahiriah penuh senyum ini akan memberi kesan pada hati mereka. Tidak menimbulkan kekerasan hati. Jika hati tanpa sebab menjadi keras (kasar), tentu hal itu mengarah pada kemarahan.

Demikian luhurnya akhlak Rasulullah (saw) sampai-sampai ada seorang Sahabat ra berkata, مَا رأينا أَحَدًا أَكْثَرَ تَبَسُّمًا مِنْ رَسُولِ اللهِ “Kami tidak pernah melihat satu pun orang yang banyak tersenyum sebagaimana Rasulullah (saw).”[3]

Selanjutnya, Rasulullah (saw) bersabda, مَنْ يُحْرَمْ الرِّفْقَ يُحْرَمْ الْخَيْرَ “Orang yang jauh dari kelemah-lembutan akan jauh dari kebaikan.” [4]

Kini, jika para panitia dan para tamu memahami hal ini maka keberkatan lingkungan ini akan penuh dengan tarikan-tarikan kebaikan dan berkah. Para sukarelawan (panitia) mengkhidmati para tamu dengan keikhlasan hati, dengan karunia Allah. Bersamaan dengan itu, jika ada tamu yang merasa diperlakukan tidak adil atau misalnya menganggap si Fulan dari kalangan tamu lebih dihormati darinya, para panitia harus berusaha memperbaiki pemikiran ini. Artinya, jika dalam pemikiran siapa saja terdapat hal ini maka para panitia harus membuat hilang pemikiran seperti itu.

Namun, seiring dengan itu, saya ingin berkata kepada para peserta Jalsah juga bahwa ketertiban Jalsah yang cakupannya luas – dengan karunia Allah – terwujud melalui sarana para panitia yang sukarelawan juga. Para panitia bukanlah pembantu kita. Sebagian mereka ialah pejabat di sebuah instansi atau lembaga. Mereka mengajukan diri demi mengkhidmati tamu-tamu Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan simpati dan semangat.

Demikian pula, para panitia juga terdiri dari para pemuda/i yang merupakan pelajar sekolah menengah dan mahasiswa peguruan tinggi. Anak-anak juga berkhidmat dengan penuh semangat. Oleh karena itu jika ada kesalah-pahaman yang sepele dan kekurangan-kekurangan kecil dalam kepanitiaan maka ingatlah satu hal, “Saya datang ke sini berkumpul di Jemaat dalam rangka mendengarkan firman Allah Ta’ala dan sabda Rasul-Nya (saw) saja.” Apabila hal ini yang dikedepankan, maka Insya Allah semua kesalah-pahaman dan pengaduan-pengaduan akan hilang.

Terdapat suatu Nizham khas (pengaturan tertentu) demi menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dan mengorganisasi Jalsah. Demi penyempurnaan hal itu secara mudah, ada berbagai bagian dan bidang yang dikerjakan. Jika ada dari antara tamu melihat kekurangan panitia di bagian tertentu atau berpikiran si panitia tidak menyambut tamu dengan hormat, maka jangan bicara dengan panitia tersebut, tapi langsunglah tulis kepada officer (atasan) mereka. Jika tidak bisa diperbaiki tahun ini maka tahun depan akan diperbaiki. Merupakan keistimewaan Nizham Jemaat kita – itu harus demikian – kelemahan-kelemahan yang diadukan kepada kita maka kita berusaha menghilangkannya.

Bagian penting dari Dhiyafat ialah masak-memasak di langgar khanah Jalsah dan penyediaan makanan. Langgar Khanah (dapur umum) Jalsah memasak masakan tertentu. Ada masakan yang ditemukan di bagian dunia lain di Jalsah-Jalsah hingga sekarang atau sekurang-kurangnya di mayoritas kalangan Pakistani dan India. Selain itu, ada makanan khusus bagi orang-orang asing saja di luar dua negara atau kebangsaan itu. Dua Negara yang saya maksud ialah regional Pakistan dan India. Di kedua Negara ini ada masakan khusus kentang, daging dan daal dan juga roti di Langgar Khanah.

Meskipun begitu, untuk mereka juga harus diperhatikan makanannya. Jangan memasak sesuka hati. Misalnya kemarin saya memeriksa daging kurang matang, maka yang semacan ini harus segera ditanggulangi. Karena pada hari kemarin tamu belum banyak maka tidak ada keluhan yang datang. Saya harap tidak datang pengaduan dari para tamu, insya Allah. Namun bila pun datang pengaduan, itu boleh, hanya saja bukan dengan kemarahan tapi dengan kesantunan dan kecintaan menyampaikan kepada para panitia, “Ini sebuah kelemahan yang harus disempurnakan. Sebab, jika demikian (makanan tidak matang), makanan akan tersia-siakan. Menjaga rezeki ialah sesuatu yang diperintahkan kepada kita.”

Para peserta Jalsah hendaknya memperhatikan hal ini bahwa Rasulullah (saw) pernah bersabda, مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ “Salah satu akhlak baik yang merupakan keistimewaan Islam ialah seorang Mu’min meninggalkan hal-hal yang laghau (sia-sia).”[5]

Oleh karena Jalsah ini adalah pertemuan ruhani maka jangan nodai dengan hal-hal yang laghau. Perhatikan (ikutilah) setiap program-program Jalsah. Penceramah, apakah itu kalian sukai atau tidak, kalian harus tetap memperhatikannya. Pasti ada hal-hal yang bisa mempengaruhi dan bermanfaat bagi kalian dari antara tema atau isi pidato yang dibahas. Jangan pergi dari Jalsah Gah kecuali untuk keperluan-keperluan mendesak.

Keikutsertaan dalam Jalsah dan kehadiran dalam program-programnya berperan dalam membentuk pemikiran pada anak-anak dan para pemuda untuk menjalin ikatan dengan agama. Di tengah-tengah lingkungan materialistik pada masa ini, para pemuda dan anak-anak perlu diarahkan perhatian ke arah pentingnya agama dan menjalin hubungan dengan agama. Hal itu teramat maha penting dan para orangtua secara khusus harus memperhatikan hal ini. Setiap ibu dan setiap bapak harus berusaha ke arah ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik untuk semua.

Dari segi tarbiyat, hal terpenting dalam jalinan atau ikatan dengan agama ialah ibadah-ibadah. Anda sekalian harus perhatian terhadap Shalat lima waktu berjamaah. Dikarenakan kesibukan program Jalsah dan keadaan Musafir, shalat-shalat kita jamak. Suatu keharusan untuk disiplin melaksanakannya.

Anak-anak pun perlu didatangkan ke Hadiqatul Mahdi ini di waktu-waktu shalat. Jika tidak dapat datang kemari saat shalat Shubuh, waktu Maghrib dan Isya; mereka dapat mengatur shalat berjamaah di rumah masing-masing atau di Shalat Center (Mushalla) atau di Masjid dan bagi yang jauh dari Masjid atau Mushalla, mereka dapat shalat berjamaah di rumah masing-masing. Hendaknya hal ini diperhatikan.

Demikian pula, para panitia termasuk koordinator bidang di kepanitiaan harus memperhatikan pelaksanaan shalat-shalat di waktu-waktu tugas. Bagi yang longgar waktunya dari tugas dapat datang kemari (Jalsah Gah, Hadiqatul Mahdi) atau jika tidak punya waktu yang longgar karena kesibukan, ia shalat sebelum menyelesaikan tugasnya.

Bagi para panitia yang bertugas hendaknya melakukan pengaturan pekerjaan mereka dengan memperhatikan waktu-waktu shalat. Jangan sampai waktu shalat lewat dengan alas an tengah bekerja di kepanitiaan. Hendaknya ada shift (giliran), supaya masing-masing shift mengalami shalat berjamaah. Jika kita tidak memperhatikan Shalat, maka semua pekerjaan akan sia-sia dan tidak berguna.

Saya juga ingin menambahkan beberapa hal terkait kepengurusan (intizhaam, pengaturan) Jalsah. Mereka yang memarkir kendaraannya hendaknya bekerjasama dengan para panitia dan memarkir kendaraan di tempat yang ditunjukkan panitia kepada mereka. Kadang-kadang orang-orang yang memarkir kendaraan bersikap keras kepala sehingga menimbulkan masalah dan dan pertengkaran dengan panitia. Hal demikian karena mereka parkir sesuka hati. Hal ini menyebabkan kerusakan dalam kepanitiaan [karena panitia Jalsah tidak dianggap], bahkan hal ini dapat membahayakan karena membuat kecemasan kepada orang lain.

Demikian pula, ada juga para tamu yang datang untuk shalat ke selain Jalsah Gah yaitu ke Masjid Fadhl, perhatikanlah mengenai parkir mobilnya. Pada hari Ahmad saya telah tegaskan soal ini kepada para panitia Jalsah di sana. Parkirkanlah kendaraan mereka di tempat yang tidak mengganggu tetangga karena menuju jalan ke rumah mereka. Dari antara mereka (lingkungan tetangga kita) ada yang keberatan. Pada hari Ahad yang lalu, ada tetangga yang sampai berkata kepada panitia, “Kalian memarkir kendaraan di depan rumah kami sehingga membuat jalan tertutup. Kami tidak bisa mengeluarkan mobil kami dan juga memasukkannya ke garasi rumah”

Bahkan, ada yang sampai mengatakan, “Sebagaimana yang kalian katakan bahwa Khilafat adalah pembimbing kalian. Itu yang kalian katakan ketika menjalin komunikasi dengan para tetangga lingkungan kalian tiap tahun kala shalat Id. Kalian juga mempersembahkan hadiah-hadiah untuk para tetangga. Begitu juga yang kalian lakukan pada hari-hari Jalsah.

Kalian bilang supaya kami menerima Khalifah. Kalian banyak bicara tentang Khilafat dan kata kalian, kalian menaati Khalifah. Tapi amal perbuatan kalian seperti ini? Apa kalian tidak dapat tarbiyat (didikan) dari Khalifah kalian tentang menghormati hak-hak tetangga? Ataukah kalian tidak menaati beliau?”

Kata-kata semacam ini tentang kita patut bagi tiap orang dari kita untuk merasa malu karena seorang bukan Ahmadi sampai mengungkapkan kata-kata seperti ini disebabkan kelakuan orang kita. Saya pun merasa malu. Kata-kata orang itu boleh-boleh saja dan benar.

Jika kita menghalangi jalan, dua hal yang terjadi. [secara khusus pasti membuat susah internal kita juga dan kedua membuat susah para tetangga.]

Perhatikanlah hal ini secara khas. Renungkanlah hal itu secara khusus. Mungkin antara satu dengan yang lain diantara Anda sekalian (sesama Ahmadi) dapat saling menyusahkan tapi janganlah sekali-kali menutup jalan ke rumah tetangga dan membuat susah mereka.

Islam yang mengajarkan untuk menghormati hak-hak tetangga dan tidak ada yang sepertinya dalam kejelasan mengajarkan hal ini namun meskipun demikian, sebagian dari kita tidak mengamalkan hal itu. Hal ini yang patut untuk membuat kita malu. Orang-orang yang berbuat seperti ini adalah pendosa.

Secara khusus saya katakan ini kepada mereka yang datang dari luar London, datang dari Eropa, orang-orang yang membawa mobil seperti dari Jerman dan sebagainya, mereka harus memperhatikan hal ini. Sebagian ada yang tidak perhatian dan sesuai laporan petugas kepada saya, ketika panitia berusia muda memperingati mereka, justru mereka keras kepala dan berkata yang tidak baik. Jika sampai seperti itu, berarti mereka sudah melakukan kesalahan. Satu, dosa mengganggu hak tetangga. [karena parkir bukan di tempat yang tepat]. Kedua, menghilangkan rasa hormat di dalam hati para pemuda dan anak-anak terhadap orang-orang dewasa.

Jika anak-anak meniru keburukan yang mereka katakan maka itu akan menjadi contoh buruk. Mengapa memasukan mereka yang belum dewasa kedalam cobaan dan ujian? Tidak ada gunanya menghabiskan biaya begitu besar untuk menghadiri Jalsah jika perilakunya demikian. Orang-orang yang seperti ini sebaiknya tidak datang ke Jalsah supaya mereka hanya tidak merugikan diri mereka sendiri tapi juga mereka melawan Allah Ta’ala, di samping itu mereka juga merusak tarbiyat anak-anak sebagaimana telah saya katakan. Oleh karena itu kita harus memperhatikan hal ini di masa mendatang.

Saya juga ingin menarik perhatian bagian kebersihan dalam kepengurusan mereka. Kita harus selalu ingat bahwa kebersihan ialah sebagian dari iman. Perihal kebersihan toilet. Terdapat keluhan terkadang air kurang. Kebersihan jalan-jalan, lapangan dan lain-lain.

Hari-hari ini, tidak ada hujan. Jadi ada kemungkinan bahaya kebakaran. Baik para tamu dan panitia harus perhatikan benda-benda yang menimbulkan bahaya api. Ini adalah hakikat bahwa ada yang suka merokok, mereka harus memperhatikan hal ini. Bagaimanapun juga di Hadiqatul Mahdi tidak boleh merokok. Jika mau merokok pergilah keluar dari Hadiqatul Mahdi. Tapi jangan kalian beranggapan saya mengizinkan merokok (Urdu: sigaret pina). Walau bagaimana pun, merokok adalah suatu keburukan dan seseorang hendaknya berusaha menghilangkan kebiasaan itu serta menyelematkan diri dari hal itu. Saya telah menyampaikan dalam beberapa khotbah bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as) memang tidak mengharamkannya tapi beliau tidak menyukainya bahkan dalam beberapa kasus beliau menampakkan ketidaksukaannya itu di depan orang-orang. Bersamaan dengan itu beliau juga menekankan untuk meninggalkan merokok.[6]

Jika ada yang punya kebiasaan meminum minuman keras karena pengaruh buruk kebiasaan jelek sebagian masyarakat, hal ini tidak bisa ditoleransi. Ini adalah salah, terlarang dan dosa.

Terkait pengawasan keamanan lingkungan Jalsah, baik di dalam maupun di luar ruangan Jalsah, hendaknya perhatikan apa-apa saja unsur yang membahayakan, benda atau tindakan yang perlu dicurigai, jika melihatnya, segeralah laporkan hal itu kepada para panitia terdekat.

Secara khusus bagi kaum perempuan, janganlah menutup wajahnya (termasuk mulut) saat di tempat Jalsah Gah. Tidak memakai niqab di tempat Jalsah. Di pintu gerbang atau di tempat screening secara benar wajah mereka dapat terlihat. Di dalam tempat Jalsah bukalah wajah masing-masing [tidak bercadar]. Jika memang harus menunggu melewati x-ray atau scanning di pintu gerbang, tunggulah dengan sabar. Langkah antisipasi (kehati-hatian) dan keamanan ialah hal yang perlu dan suatu keharusan.

Terkadang terdapat keluhan mengenai kaum ibu yang mempunyai anak-anak. Jika anak-anak ribut masih bisa dimengerti karena lebih kecil keributannya dibanding ibu-ibu jika ribut. Jika para ibu yang mempunyai anak-anak di tenda memberikan sesuatu kepada anak-anak itu atau anak-anak itu dalam kesibukan terus bermain atau diberikan sesuatu makanan tentu mereka akan sibuk dalam hal itu dan bermain dalam diam.

Tapi, setelah anak-anak itu diam, para ibu ini yang berpikiran, “Sekarang waktunya kami yang membuat keributan (bising).” Maka dari itu, mereka pun mulailah mengobrol satu sama lain. Terkadang mereka mengobrol di sela-sela pidato tengah disampaikan. Bila ada yang bising, kaum ibu lain yang ingin menyimak pidato Jalsah jadi terganggu. Panitia dari Lajnah yang bertugas harus menaruh perhatian terhadap hal ini.

Jika anak-anak yang ribut di tenda maka ini dapat ditoleransi. Kalau kaum ibu, hal ini tidak bisa ditolerir [kita tidak bisa tahan].

Ada pengaduan juga dari kaum ibu bahwa terkadang selama pidato Jalsah di tenda kaum itu terdapat orang-orang yang tanpa kepentingan melakukan obrolan. Jika ada panitia gadis (panitia wanita berusia muda) mengingatkan mereka agar diam, mereka berkata-kata yang tidak pantas dan menjawab yang tidak tepat yang mana itu bagaimana pun tidak benar.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada semua supaya menarik manfaat sebanyak mungkin dari Jalsah dan mengamalkan semua petunjuk-petunjuk yang baru saja saya sampaikan itu atau yang tertulis dalam program masing-masing. Namun, satu hal yang harus diingat diantara semua petunjuk itu yang mana merupakan kewajiban dan teramat penting yaitu berdoa supaya Jalsah berlangsung sukses. Berdoalah supaya hanya dan hanya karunia Allah semata sehingga Jalsah mendapat keberkatan-Nya dari setiap segi, terjaga dari semua keburukan dan kita meraih aliran karunia yang demi itu kita datang ke Jalsah ini.

Demikian pula, saya ingin menyampaikan bahwa di bawah supervisi redaksi Review of Religion diselenggarakan pameran kain kafan Turin di marquee (tenda)nya yang telah disediakan. Ada Al-Qalam Project (menulis indah dalam huruf Arab) yang ada di tempatnya sendiri. Bagian archive (arsip) juga mengadakan pameran yang patut dikunjungi dan dapat menambah wawasan informasi. Departeman Tabligh UK juga mengadakan pameran Al-Quran Karim juga. Diharapkan hal itu dapat menambah wawasan pengetahuan orang-orang. Insya Allah.

Hari ini ada launching (peluncuran) dua website, True Islam dan Rational Religion. Departemen Tabligh juga mengadakan lomba pidato mengenai riwayat hidup Rasulullah (saw) secara online. Banyak orang yang sedang mengikutinya. Hal ini pun merupakan termasuk salah satu keistimewaan Jalsah yang dimulai sekarang. Bagaimanapun juga, selain program rutin di Jalsah Gah, masih ada program-program yang lain. Maka dari itu, ambillah faedah sebanyak-banyaknya dari program-program Jalsah Salanah ini. Semoga Allah Ta’ala menjadikan orang-orang yang hadir di Jalsah ini mendapatkan bagian doa-doa dari Hadhrat Masih Mau’ud (as). [Aamiin]

[1] Matsnawi Maulwi Ma’nawi daftar pancjam, h. 20-24, mutarjim Qadhi Sajad Husain al-Faishal, nasyiran Lahore, 2006.

[2] Sunan Abi Daud, Kitab Adab, bab husn khulq, 4798-4799; Sunan at-Tirmidzi, riwayat Abu Darda (أَبي الدَّرداءِ) juga ada Hadits serupa, مَا مِنْ شَيءٍ أَثْقَلُ في ميزَانِ المُؤمِنِ يَومَ القِيامة مِنْ حُسْنِ الخُلُقِ، وإِنَّ اللَّه يُبْغِضُ الفَاحِشَ البَذِيَّ

[3] Sunan At-Tirmidzi, Abwaabul Manaqib, bab qaul ibn juz ma rayat ahad aktsar, no. 3641.

[4] Shahih Muslim, kitab kebaikan dan silaaturrahmi, bab kesantunan (صحيح مسلم، كتاب البر والصلة والآداب) no. 6598. Dalam Sunan At-Tirmidzi no.2013 juga disebutkan, مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ، وَمَنْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ فَقَدْ حُرِمَ حَظَّهُ مِنَ الْخَيْرِ “Orang yang jauh dari kelemah-lembutan, maka dia akan jauh dari kebaikan.”

[5] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang fitnah, bab menahan lidah, no. 3976.

[6] Malfuzhat jilid 5, h. 235.