بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Kasyaf dan Mimpi-mimpi Benar dari Para Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 11 Sulh 1392 HS/Januari 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

ْ

Di zaman ini Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam untuk menegakkan keagungan dan kedudukan tinggi  Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia. Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Allah Ta’ala tidak mengurangi sedetail pun sempurnanya hujjah (dalil, penjelasan) mengenai Nabi Karim s.a.w.. Beliau datang seperti sebuah matahari dan memanifestasikan cahayanya dari setiap segi. Oleh karenanya, orang yang berpaling dari matahari sejati ini tidak akan ada padanya kedamaian. Kita tidak bisa menganggapnya sebagai orang yang memiliki niat baik.”

      Bersabda: “Ingatlah, bahwa nabi adalah ibundanya ketauhidan yang darinya muncul ketauhidan, dan Wujud Tuhan diketahui darinya”.

     Bersabda: “Siapakah yang lebih mengetahui dibandingkan Allah  Ta’ala dalam hal itmaam hujjah (penyempurnaan dalil-dalil kebenaran)? Dia telah memenuhi tanda-tanda keagungan di langit dan di bumi  untuk membuktikan kebenaran Nabi Karim-Nya (s.a.w.), dan sekarang di zaman ini juga Tuhan telah mengutus hamba yang tidak berarti ini untuk membenarkan Hadhrat s.a.w.. dengan menampakan ribuan tanda yang turun seperti hujan. Kalau semua tanda-tanda ini telah sempurna maka keraguan apa lagi yang masih tersisa.”[2]

     Memang benar bahwa tanda-tanda ini pada hari ini nampak dalam berbagai macam bentuk, akan tetapi Jemaat akhirin ini  yang telah mendapat kabar gembira siraman karunia-karunia dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Allah Ta’ala telah  memberikan bimbingan kepada mereka, memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda dan menampakkan kepada mereka jalan petunjuk melalui jalan mimpi-mimpi, maka mereka telah dan sedang memberikan segala macam pengorbanan demi datang untuk baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Dari antara mereka ada juga orang-orang yang kepada mereka diperlihatkan [dalam mimpi] oleh Allah Ta’ala bahwa Hadhrat [Muhammad] s.a.w. dan pencinta sejati beliau, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam gambaran corak keadaan satu jiwa.

      Pada hari ini saya akan menyampaikan beberapa mimpi-mimpi mereka. Allah Ta’ala telah membimbing mereka dalam berbagai macam corak bimbingan. Kemudian ada juga yang seperti ini, yaitu mereka yang melihat Hadhrat s.a.w. dalam mimpi-mimpinya dan Hadhrat s.a.w. bersabda kepada sebagian mereka mengenai Masih-nya, yaitu bagaimana kedudukan Masih Mau’ud a.s. dan bagaimana pahlawan Allah ini datang yang bekerja di zaman ini untuk penyebaran agama Hadhrat s.a.w.? Terdapat beberapa  contohnya.

Mimpi 3 Hari Berturut-turut Lalu Mencari Mahdi   

     [1] Hadhrat Mirza Muhammad Afdhal Sahib r.a., putra dari Tuan Mirza Muhammad Jalalud Din. Beliau baiat [via surat] pada tahun 1895 dan baiat secara langsung ketika mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di tahun 1904. Beliau menceritakan, “Sekitar tahun 1876 Masehi ketika saya masih sangat muda, ayah saya, Hadhrat Munshi Muhammad Jalalud Din Sahib, yang awal dari para sahabat Badr Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ketika tinggal di Nosyehrah Chaoni.

       (mengenai Masih/Isa yang akan datang, beliau akan memiliki 313 orang Sahabat. Oleh karena itu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di berbagai tempat, di dalam buku ’Ainah Kamaalaati Islaam(Cermin Keistimewaan Islam) dan ‘Anjaam Atham’ (Akhir Nasib Atham) menyebut nama-nama 313 orang Sahabat ini. Sesuai dengan hadits Rasulullah s.a.w., mereka disebut dengan julukan Ash-haab al-Badr (Para Sahabat Badr) yang termasuk di dalamnya juga ialah ayahanda dari Mirza Muhammad Afdhal ini yaitu Tn. Munshi Muhammad Jalalud Din.)

     Ketika itu beliau tinggal di Nosyehrah Chaoni. Beliau melihat sebuah mimpi yang memberi kabar suka kepadanya [mengenai Mahdi] selama tiga malam berturut-turut. Sebagai akibatnya, beliau menitipkan saya (anaknya yakni Mirza Afdhal yang masih muda, masih anak-anak) kepada seorang teman tepercaya pergi keluar [wilayah] untuk mencari Mahdi Mau’ud setelah mendapatkan ijin dari tempat bekerja. Di Jhelum beliau mendapatkan selebaran dari suatu karya tulis Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Setelah selebaran itu ditelaahnya maka berangkatlah beliau ke arah tujuan yang dimaksud.

     Saat itu Qadian tidak dikenal, setelah bertanya kepada orang-orang kesana-kemari akhirnya beliau sampai di Batala akan tetapi di sini atas saran Imam Mia Sahib Batala (mungkin seorang di sana telah melarangnya atau muncul prasangka buruk di hatinya dan kembali, pendek kata) beliau pulang kembali. Setelah itu (ketika beliau masuk tentara dan) dikirim ke Kabul untuk berperang. Setelah kembali dari sana beliau datang ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dengan perasaan menyesal. Ketika  melihatnya, Hadhrat Shahib a.s. langsung bersabda, ‘Apakah  anda Munsyi Jalaluddin yang suratnya selalu datang dari Kabul?’[3]

    Beberapa kali Allah Ta’ala memberikan bimbingan pada beliau akan tetapi dikarenakan para penentang senantiasa mengganggunya, waktu itu beliau tidak mendapatkan taufik untuk menerimanya, (yaitu menerima kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s. –  pent), akan tetapi niat yang telah keluar dari hatinya dan juga karena keberuntungan beliau, maka setelah itu Allah Ta’ala memberikan kesempatan pada beliau [menerima kebenaran  Hadhrat Masih Mau’ud a.s.].

Terbang dan Melihat Wajah Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

      [2] Hadhrat Muhammad Abdullah Sahib r.a., penjilid buku, putra dari Muhammad Ismail Shahib yang baiat di bulan Mei 1902 dan secara pribadi bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada tahun 1903. Beliau menceritakan, “Apapun yang saya miliki, semua itu adalah akibat doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Ketika masih kecil saya melihat di dalam ru’ya wajah beberkat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Saya lihat saya terbang ke arah timur seperti burung. Setelah beberapa saat, saya melihat seorang suci yang rambut dan janggutnya dicelup dengan inai (pewarna). Ketika saya mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud a.s di tahun 1903, saya mendapati wajahnya persis seperti yang telah saya lihat ketika saya terbang dalam mimpi, dan itu adalah Hadhrat Masih Mauud a.s.”.[4]

Perkataan Terucap Dalam Keadaan Mengantuk

      [3] Hadhrat Rahmatullah Sahib r.a. yang baiat pada tahun 1901 melalui surat meriwayatkan, “Pada suatu ketika Jalsah sudah dekat, saya yang lemah shalat istikharah maka dalam keadaan mengantuk beberapa kali perkataan itu keluar dari lidah:

“بَكوشِيد أيْ جَوانانْ تا بَه دِينْ قُوتْ شَوَد بَيدا”

‘Bakosyid ai jawaanan ta bah din quwwat syawad baida.’

اجتهدوا كثيرا أيها الفتيان لكي يتقوى الدين، أي اهتمّوا بخدمة الدين.

Yakni “Wahai pemuda! Berusahalah supaya tercipta kekuatan dalam agama. Yaitu berikanlah perhatian kepada agama.”

      Alhamdulillah, dengan karunia Allah, pada setiap Jalsah hamba senantiasa dapat hadir bersama saudara-saudara Jemaat lainnya di masa adanya Hudhur (Hadhrat Masih Mau’ud a.s.).”[5]

Melihat Ahmadi Yang Ditunjuk sebagai Ahli Surga

     [4] Hadhrat Khanzada Amirullah Khan Sahib r.a. Beliau baiat pada tahun 1904 melalui surat dan mendapatkan kehormatan mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada tahun 1905 atau 1906. Beliau menceritakan sebuah mimpi yang beliau lihat sebelum mengunjungi Qadian berupa perbincangan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., “Di suatu siang hari saya bermimpi bahwa kami tiga Ahmadi, yaitu Ajiz (saya yang lemah ini), Amirullah Ahmadi, Babu Alimgir Khan marhum dan ghair mubayyi Dalawar Khan, sedang berdiri di sebuah antrian sebelah Selatan. Di depan kami ada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Hadhrat Khalifatul Masih I r.a.  sedang berdiri di sebelah utara. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengulurkan tangan beliau dan menunjuk ke dada saya lalu berkata kepada Hadhrat Khalifatul Masih I, ‘Dia ahli surga.’

     Kemudian beliau mengisyaratkan kepada anggota Ahmadi yang kedua, “Ini juga”. Tetapi beliau tidak mengatakan sesuatu terhadap Ahmadi yang ketiga. Dikarenakan dari arah Masih Mau’ud terhalang oleh tiang maka saya tidak dapat membedakan kepada siapakah isyarat Masih Mau’ud di antara kedua orang Ahmadi itu. Setelah itu tiba-tiba pemandangan berubah. Saya melihat  kami menjadi  4 orang Ahmadi, pertama Raqim (penulis) ini, Maulvi Athaullah marhum, ‘Alimgir Khan dan ghair mubayyi Dalawar Khan duduk bersama.

      Seperti halnya mereka yang sedang duduk untuk memakan roti. Kami satu dengan yang lainnya berbincang-bincang. Ada yang berkata, “Aku adalah Baz” (nama seekor burung buruan. pent). Yang lain berkata, “Aku adalah kaaus” (nama seekor burung lainnya. Pent). Yang satu lagi berkata, “Aku adalah burung merpati.” Yang lainnya berkata, “Aku adalah burung bangau”.

      Ketika itulah Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. datang dan berkata, ‘Anda sekalian tidak diciptakan untuk mengatakan, “Saya itu burung Baz, burung Kaaus, burung merpati atau burung bangau itu, tetapi katakanlah: “لا إله إلا الله محمد رسول الله” Laa ilaaha illallahu Muhammadur Rasulullaah (Tidak ada Tuhan yang layak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah). Ketika mengulang membaca kalimah untuk yang ketiga kalinya saya terbangun dari mimpi. Waktu itu adalah waktu Zhuhr. Beliau menceritakan bahwa ketika beliau pergi ke Qadian tahun berikutnya, beliau mendapati rupa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. tepat seperti yang telah beliau lihat di dalam mimpi. Alhamdulillaah.

     Mimpi kedua katanya, “Selama masa Khilafat Khalifah yang pertama r.a. Hakimul ummah, saya pergi ke Qadian dan menerima perawatan dari Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. selama 22 hari juga dirawat oleh dokter Khalifah Rasyiduddin almarhum, dokter Mirza Yaqub Beg dan dua orang dokter yang lainnya. Mereka menyarankan  saya untuk dioperasi.  Saya bergembira.

     Kemudian saya melihat sebuah mimpi di malam hari dimana saya melihat saya berada di kamar tamu dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berdiri di samping kepala saya memberi nasehat, ‘Jangan dioperasi ini adalah penyakit tha’un (pes).’ Saya pun secara otomatis paham ta’birnya yaitu makna dari thaun itu adalah kematian. Di pagi hari saya menceritakan mimpi saya kepada Hadhrat Khalifatul Masih I r.a.. Beliau (Khalifah Awal) mengatakan, ‘Masih Mau’ud berkata benar, operasi tidak jadi.’”

      Beliau menceritakan mimpi ketiga yang beliau lihat. Beliau berkata, “Saya melihat mimpi di rumah saya yaitu saya ingin pergi ke Jalsah di hari yang kedua. Hadhrat Masih Mau’ud bersabda, ‘Pikirkan jugalah Hamid Ali.’

      Ketika saya pergi ke Qadian untuk Jalsah, saya memberikan uang satu rupee kepada Hamid Ali Sahib, khadim (pembantu) Hadhrat Masih Mau’ud a.s…” – (cerita ini terjadi setelah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. wafat di masa Hudhur II).

      Kata beliau, “Saya menulis kepada Hamid Ali, khadim Masih Mau’ud, ‘Di dalam mimpi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memerintahkan saya supaya saya memperhatikan Hamid Ali, maka uang satu rupee ini saya kirim untuk tuan.’ Hamid Ali menangis setelah mendengarnya dan berkata, ‘Betapa mulia dan penyayangnya para nabi. Mereka memikirkan khadim-khadimnya. Mungkin beliau tidak memikirkan anak-anak  kesayangannya karena di Lahore seseorang yang tak bermalu dengan tidak etis mengecam ahli bait (keluarga) Masih a.s..’” [6]

       Pada waktu itu ghair mubayyiin (mereka yang tidak baiat pada Hudhur II r.a.) yang bermarkas di Lahore, datang dalam pikiran beliau mengenai mimpi itu, apakah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tidak akan memikirkan anak-anaknya? – Beliau mengisyaratkan kepada Hadhrat Khalifatul Masih II r.a.. Beliau  bertambah yakina pada hal ini, karena di zaman itu cukup fitnah yang dialami pada Khilafat Hadhrat Khalifatul Masih II r.a..

Melihat  Orang Suci sedang Membaca Izalah Auham

      [5] Hadhrat Mian Meeran Bakhs Sahib r.a.. Taylor Master menerangkan, (beliau baiat pada tahun 1900). Beliau menceritakan, “Kami terinspirasi untuk baiat menjadi seorang Ahmadi ketika saudara kami, Ghulam Rasul, yang telah  menjadi seorang Ahmadi akan tetapi ia buta huruf.  Ketika sedang berjalan pulang dari toko saya ke rumah saya di jalan bertemu dengannya. Bersamanya berbincang-bincang tentang Jemaat. Dikarenakan waktu itu saya seorang penentang karena itu saya berkata bahwa beliau adalah pendusta. Akan tetapi ketika sampai di rumah saya berpikir bahwa walaupun ia (Ghulam Rasul) buta huruf tetapi saya tidak dapat membantah  jawabannya.

     Suatu kali saudara saya memberi saya beberapa selebaran,  setelah saya baca selebaran itu memberikan pengaruh besar terhadap saya. Saya  mulai berdoa di hadapan singgasana Allah.  Suatu malam saya melihat sebuah mimpi saya bangun dari tempat tidur saya untuk pergi buang air akan tetapi saya melihat bahwa jendela terbuka. Saya merasa heran mengapa hari ini jendela terbuka. Ketika saya pergi ke jendela maka saya melihat  ada seorang suci yang di tangannya terdapat sebuah kitab yang sedang dibaca.

     Saya bertanya, ‘Buku siapa yang sedang tuan baca? Beliau menjawab, ‘Ini adalah buku Mirza Sahib dan kami membawa untuk engkau.’ Ketika orang suci itu memberikan kitab tersebut  maka  ia mengatakan bahwa buku ini hurufnya kecil. Saya melihat selebaran, sedangkan ukuran huruf di selebaran-selebaran itu besar-besar. Orang suci itu berkata, ‘Buku Mirza Sahib ini dicetak dengan huruf kecil.’ Mata saya terbuka [bangun tidur] karenanya.

      Saya berpikir mungkin malam hari, saya berdoa dan tertidur dalam pikiran itu, mungkin dikarenakan pengaruh inilah. Maka ketika saya hendak pergi ke rumah [dari toko] untuk mengerjakan shalat Zuhr, saya melihat di tokonya Ghulam Rasul, seseorang sedang duduk sambil membaca sebuah buku. Saya berkata, ‘Buku siapa yang sedang anda baca?’ Mia Ghulam Rasul Sahib mengambil buku itu dari tangannya dan memberikannya ke tangan saya sambil berkata, ‘Buku yang engkau pinta, buku ini saya bawa untuk engkau. Ambillah oleh engkau.’

     Setelah saya lihat kitab itu saya berkata, ‘Kitab ini telah saya dapati dalam mimpi di malam hari.’ Saya membaca kedua  bagian buku Izalah Auham (Menghilangkan Keraguan) dengan penuh perhatian, dan hati saya bertanya, ‘Apakah sekarang masih ada sisa keraguan?’ Hati saya menjawab, ‘Sekarang tidak ada suatu sisa keraguan lagi.’ Oleh karena itu saya menulis surat baiat.”[7]

    Jadi, dalam waktu beberapa jam saja mimpinya telah sempurna dan Allah juga memberikan taufik padanya masuk dalam baiat pada Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Menelan Air Ludah Beberkat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

       [6] Hadhrat Muhammad Fadhil Sahib r.a., putra dari Nur Muhammad, beliau baiat pada tahun 1899. Beliau menceritakan, “Suatu hari ketika saya berada di rumah, Mlv. Syekh Muhammad yang adalah saudara ipar saya, datang untuk menemui saya, dan beliau memberikan saya sebuah risalah   dengan judul, “Syahaadatul Quran ‘ala Nuzulil Masihil Mau’udi fii Akhiril Zamani.” (Kesaksian Al-Quran tentang turunnya Al-Masih Mau’ud di Akhir Zaman).

     Saat itu malam hari, saya sangat berharap kapan siang tiba dan saya dapat membacanya. Esok paginya setelah selesai shalat, dengan terpisah di halaman sambil  tidur-tiduran bersandar di atas dipan saya mulai membaca buku itu. Mungkin telah membaca 3 halaman kitab itu,  setelah itu saya mengantuk.

      Apa  yang saya lihat? Hadhrat Masih Mau’ud a.s. datang dan duduk di atas tempat tidur saya sebelah ujung, beliau mengambil air ludah dari mulut beberkatnya dengan tangannya dan menaruhnya di mulut saya maka pada waktu itu saya menelannya. Pada waktu itu saya merasa ada yang hal  yang  telah terjadi, yaitu dari hati saya memancar air mancur dan dada penuh dengan kegembiraan. Kemudian saya terbangun. Peristiwa ini mempertinggi keyakinan  saya dan memperkuat kecintaan  di dalam hati saya kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan terhapuslah semua ketidakyakinan, dan jika saya berjalan sendiri kebanyakan dari lidah saya mengalir syair ini:

            [8]

أسير في فراق حبيبي كالمجنون وأبحث عنه في كل مدينة وقرية وزقاق وبيت.

“Bagai orang hilang ingatan, aku tertawan dalam perpisahan dengan kekasihku

             Dan, kubicarakan mengenainya di tiap kota, di tiap desa, di tiap jalan dan di tiap rumah.”

     Kitab yang disebut adalah ‘Syahaadatul Qur’an’. Di dalamnya dikemukakan seseorang yang keberatan mengenai Hadhrat Masih Mau’ud a.s., yaitu: “Bagaimana dibuktikan dari hadits-hadits bahwa tuan adalah benar? Hadits-hadits  sebagiannya ada yang seperti ini yaitu yang tidak layak untuk diyakini.” Maka Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis hal ini dan menjauhkan segala macam keraguan. Orang itu tidak memperoleh ketenangan (tidak puas), tetapi singkatnya dari kitab itu banyak sekali memberikan manfaat pada yang lainnya.

Dalam Mimpi Membuang Surat Ajakan Masuk Islam, Ratu Victoria Tidak Akan Menerima Islam

    [7] Hadhrat Sheikh Atha Muhammad Sahib r.a, eks pengurus tanah di desa Wanjan. Beliau menceritakan bahwa beliau melihat sebuah mimpi, “Hadhrat Masih Mau’ud a.s sedang berjalan-jalan di jalan lebar di Batala dan memberi saya 1 rupee. Harga rupeenya tertera pada gambar Ratu (Victoria) yang sedang mengangkat duri, membuang surat, lalu berkata, ‘Simpanlah ia (surat itu) di tempat penyimpanan barang berharga.’ Belakangan, ketika mimpi ini diperdengarkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. beliau bersabda, Sang Ratu tidak akan menerima Islam.”[9]

Mimpi Melihat Arloji Milik Nabi Muhammad s.a.w.

      [8] Hadhrat Mian Abdul Aziz Mughal Sahib r.a.  Beliau baiat pada tahun 1892., menceritakan, “Chawdhry Abdul Rahim Sahib ketika itu masih ghair Ahmadi. Beliau melihat sebuah mimpi, ‘Kepada saya diberikan sebuah arloji (jam tangan) milik Nabi Karim s.a.w.. untuk diperbaiki.’”

      Beliau (yakni Mian Abdul ‘Aziz Mughal) berkata, “Bersamaan dengan hal itu [di waktu yang berdekatan setelahnya], saya  memberikan arloji ini untuk beliau [Chawdhry Sahib] perbaiki.”

      (Jam tangan itu milik Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Hadhrat Amaa Jaan [istri Hadhrat Masih Mau’ud a.s.] memberikan pada beliau [Mughal Sahib]. Yang melihat mimpi tersebut (Chawdry Abdul Rahim Sahib) adalah ghair Ahmadi, pada waktu itu belum menjadi Ahmadi. Beliau [dalam mimpi] melihat arloji Hadhrat s.a.w. dibawa kepadanya untuk diperbaiki.

      Beberapa waktu kemudian datang Mughal Sahib memberikan kepada beliau sebuah jam tangan untuk diperbaiki. Ketika beliau membuka jam tangan untuk memperbaikinya, beliau berkata, “Ini adalah jam tangan Nabi Karim s.a.w.. Arloji itu sama persis seperti kepunyaan Nabi Karim S.a.w. yang saya lihat dalam mimpi.”)[10]

Melihat Mesjid Mubarak dalam Bentuk Benteng

     [9a] Hadhrat Amir Khan Sahib r.a., yang baiat pada tahun 1903 menceritakan, “Saya melihat mimpi pada tahun 1902 dimana saya melihat mesjid Mubarak dalam bentuk sebuah benteng bulat yang di dalamnya terdapat banyak sekali makhluk. Setiap orang memegang sebuah bendera merah kecil. Orang paling suci di antara mereka berada di tingkat atas memegang sebuah bendera merah besar. Seseorang bertanya kepada saya, ‘Apakah tuan  tahu orang itu?’ Saya jawab, ‘Tidak tahu.’ Kemudian ia memberitahu, ’Itu adalah saudara tuan dari Kabul.’

     Tembok benteng itu punya lubang-lubang yang melaluinya  musuh-musuh di luar bisa diincar, tapi mereka tidak bisa mengincar orang yang di dalam. Begitu banyaknya asap dan debu di luar benteng hingga untuk mengenali manusia sangat sulit. Suara-suara bagal, keledai dan unta hiruk-pikuk membuat suasana mencekam. Ketika  saya  keluar dari benteng (hal ini sedang diterangkan dalam mimpi) maka apa yang saya lihat? Saya melihat mayat bergelimpangan dimana-mana, dan mayat-mayat itu diangkati dan dibawa ke dalam benteng. Ketika saya sedikit keluar dari benteng dan mendapati suara hiruk-pikuk itu mengganggu saya, maka dalam keadaan merasa takut saya berusaha kembali ke dalam benteng dan mencari pintu untuk masuk ke dalam benteng akan tetapi tidak dapat menemukan pintu masuk. Saya tengah berusaha dalam pencarian itu maka pada waktu itu saya melihat orang yang berpenampilan miskin dan berakhlak baik. Ia juga sedang berusaha untuk masuk ke dalam benteng akan tetapi ia pun tidak mendapatkan pintu.

     Saat kami sedang berbahas mengenainya maka diketahui bahwa di tingkat teratas benteng di sana ada Nabi Karim (yang mulia) s.a.w. – demi beliau s.a.w., ayah dan ibu saya rela korbankan – sedang mengerjakan shalat berjamaah dengan. (yakni shalat berjamaah sedang dilaksanakan di sana). Melihat hal ini kami berdua menjadi gelisah dan tidak berdaya. Dalam keadaan gelisah, setelah saya meletakkan kedua tangan saya di leher teman saya lalu  berzikr, ‘Allah Huwa’ (Dia-lah Allah)  yaitu cara yang dikatakan pada saya oleh Pir (guru) saya, Sayyid Ghulam Syah. Berkat lantunan ini kami berdua terbang ke angkasa dan setelah terbang bisa bergabung dalam shalat di shaf awal sebelah kanan Rasulullah s.a.w.., dan di sana hanya ada dua tempat yang kosong untuk dua orang yang setelah berdiri kami dapat mengikuti sujud bersama.

       Hati saya demikian lembut dan begitu kerasnya mengucapkan Allahu Huwa hingga saya terbangun dalam keadaan demikian maka air mata saya mengalir dengan deras. Air mata terus mengalir dan bernafas dengan berat hingga penghuni rumah terbangun setelah mendengar demikian beratnya nafas saya itu, dan menanyakan pada saya apa yang terjadi? Akan tetapi dikarenakan saya masih terus mengucapkan ‘Allahu Huwa’ dan bernafas yang keluar terus menerus berat sehingga saya tidak dapat mengucapkan sesuatu kepada mereka. Untuk itu untuk meredakan suasana dan untuk menutupi kegelisahan saya pergi ke halaman dari dalam rumah. Ketika keadaan telah normal maka saya kembali ke dalam rumah dan tiduran di atas dipan.” [11]

      Selanjutnya beliau menerangkan bahwa beliau terkesan oleh pengalaman ini dan beberapa waktu kemudian Allah memberikan taufik pada beliau untuk baiat pada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

 

Dua Orang Suci Berjanggut Hitam dan Merah

      [10] Hadhrat Mian Muhammad Ibrahim Sahib r.a.. Sejak lahir beliau seorang Ahmadi. Beliau melihat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. secara langsung pada tahun 1903. Beliau berkata, “Pertama kali saya melihat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu adalah ketika beliau mengunjungi Jelhum, juga melihat beliau ketika beliau sedang pulang. Kemudian tahun 1904 di Lahore, lalu tahun 1905 di Qadian.

      Sebelum mengunjungi Qadian saya melihat sebuah mimpi   yaitu saya melihat di alam mimpi ayah saya keluar rumah, dan di rumah hanya saya dan adik perempuan saya. Saya melihat dua orang menghampiri pintu, mengetuk pintu dan memanggil. Saya pergi keluar dan membuka pintu. Atas permintaan saya keduanya masuk ke dalam. Saya melihat di halaman rumah kami ada permadani dengan tiga buah kursi yang telah disiapkan. Di depannya juga ada sebuah meja. Saya mempersilahkan duduk di kursi. Dalam mimpi itu saya berkata kepada adik perempuan saya, ‘Siapkanlah cae (minuman teh susu khas India) untuk mereka!’ Adik saya naik ke loteng untuk mengambil kayu bakar untuk membuat cae. (cara di zaman itu belum ada gas dan lain-lain, kayu-kayu atau benda-benda yang dapat dibakar telah tersedia di atas, ia pergi untuk mengambilnya).

     “Maka ketika ia sedang naik tangga seekor banteng hitam besar kuat masuk ke dalam rumah tetapi ketika melihat dua orang tersebut segera berbelok dan mulai menaiki tangga. Saya mulai berteriak bahwa banteng itu akan membunuh adik saya. Mendengar teriakan ini pertama tamu yang berjanggut hitam berdiri tetapi tamu yang berjanggut merah berkata, ‘Karena engkau telah mempercayakan tugas ini kepada saya maka tugas sayalah untuk melakukannya.’

      Selanjutnya ia pergi dan saya mengikuti di belakangnya. Kami pergi ke atas. Adik perempuan saya bersandar di dinding tembok. Adik saya selamat dan hanya mendapat beberapa goresan. Banteng yang berada di sebelah barat tembok rumah kami berubah bentuknya menjadi mesin, dan berjalan maju-mundur di tembok. Ketika sampai di ujung belokan tembok maka tamu itu memukulnya dengan tongkat dan mesin itu jatuh berantakan. Kami kembali dan tamu-tamu tadi kembali duduk di kursi dan meminum cae. Mereka juga memberikan saya minum. Setelah minum cae, cukup lama duduk terus berbincang-bincang. Kemudian berkata, ‘Saudaraku kami sudah terlambat, ijinkanlah  kami untuk pergi.’ Saya bertanya, ‘Saya memohon supaya anda memberitahukan pada saya siapakah anda sebenarnya? Supaya saya bisa sampaikan kepada ayah saya.’

       Keduanya tersenyum  simpul mendengar permohonan saya. orang yang berjenggot hitam berkata, ‘Nama saya adalah Muhammad dan nama beliau ini adalah Ahmad.’ Ketika mendengar hal ini saya memegang Nabi Karim s.a.w. dan meminta  untuk menasehati saya. Beliau bersabda suatu kalimat dalam bahasa Arab yang saya tidak ingat, tetapi maksudnya yang saya pahami dalam pemikiran saya adalah beberapa hari dalam kehidupan saya akan dilewatkan dengan sangat damai. Kemudian saya menyalami beliau, beliau bersabda, ‘Sampaikanlah assalamu ‘alaikum kami pada ayah anda.’ Kemudian mereka pergi. Saya mengantarkan mereka. Setelah kepergian mereka [masih dalam mimpi] ayah saya datang. Saya menceritakan seluruh peristiwa tadi kepada ayah saya. Maka beliau segera keluar rumah.

      Saya pun terbangun tidur karena ayah saya membangunkan saya untuk salat. Saya menceritakan mimpi itu seluruhnya kepaa ayah saya. Waktu itu hari Jumat. Di waktu Jumat saya memperdengarkan mimpi itu pada Munshi Ahmad Din. Beliau menulis surat kepada Hadhrat Aqdas [menceritakan mimpi itu]. Beberapa hari kemudian beliau berkata, ‘Hadhrat Sahib menulis datanglah sambil membawa anak itu di waktu Jalsah.’

       Selanjutnya saya pergi ke Jalsah. Ketika kami pergi ke mesjid Mubarak maka telah duduk 2-3 orang saleh berwibawa. Kami bersalaman dengan mereka. Beberapa waktu kemudan Hadhrat Aqdas datang. Kami berdiri dan bersalaman. Kemudian Hudhur duduk. Tn. Munshi Ahmad Din berkata, ‘Hudhur, anak inilah yang telah melihat mimpi itu.’

     Hudhur mendudukkan saya di atas paha beliau dan bersabda, ‘Perdengarkanlah mimpi itu.’ Selanjutnya saya memperdengarkan mimpi itu. Kemudian makanan pun muncul dari dalam [rumah]. Hudhur memakan makanan dan para tamu juga makan. Ketika Hudhur telah selesai makan maka kami membagi-bagikan makanan bekas beliau sebagai ‘Tabarruk’.”[12]

Melihat Nabi Muhamad s.a.w. dekat Mesjid Ahmadiyah

        [11] Hadhrat Sayyid Saifullah Syah Sahib r.a.. Beliau baiat pada tahun 1906 dan berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud pada tahun 1908. Beliau berkata, “Ketika saya berumur 12 – 13 tahun saya melihat sebuah mimpi. Saya mendapatkan diri saya di Yaripura, pada waktu itu saya tidak tahu tempat itu. Saya melihat ribuan orang berkumpul dan tempat itu adalah sebuah mesjid Ahmadiyah. Di tempat itu juga ada bukit kecil setinggi sekitar 6-7 meter yang seseorang duduk diatasnya. Orang-orang dari bawah bukit kecil itu berziarah kepadanya dan melewatinya dengan penuh adab. Saya bertanya pada orang-orang, siapakah orang itu? Maka dikatakan pada saya, ‘Ini adalah Hadhrat Rasul Karim [Muhammad] s.a.w..  yang sedang duduk di sini.’ Saya  berusaha memanjat keatas bukit kecil dan setelah berdiri di hadapannya mengucapkan, ‘Assalamu ‘aalaikum’ dan Hudhur [yang mulia] menjawab, ‘Wa ’alaikum Salam’. Saya duduk setelah berada di dekatnya.

       Inilah satu keinginan yang selalu datang teringat di hati saya. Kemudian hati saya berkata, sekarang tidak mungkin ada tempat yang lebih baik atau lebih tinggi lagi bagi saya.  Saya ingin  baiat pada beliau. Saya memohon, ‘Wahai yang mulia, saya ingin baiat.’   Hudhur bersabda,  Baik, ulurkanlah tangan engkau.’ Lalu saya mengulurkan tangan saya, kemudian Hudhur menggenggam tangan kanan saya di tangan kanan beberkat beliau dan bersabda,   ‘Katakanlah, Allahu Rabbi!’, maka saya berkata, ‘Allahu Rabbi’. Ketika itu saya terbangun.

      Saya sangat sedih karena terbangun. Saya sedang berjumpa dengan Rasul Karim s.a.w.. akan tetapi disayangkan cepat terbangun. Wajah suci itu selalu terbayang di hadapan saya, dan pantulan wajah beliau yang bercahaya tidak pernah hilang dari hati saya seakan-akan lukisan itu telah terpatri kuat di hati saya.”

      Selanjutnya beliau menulis, “Ta’bir ru’ya (penyempurnaan mimpi) itu terbuka jelas di masa kemudian. Selanjutnya waktu yang sangat lama berlalu…”  — beliau menerangkan bermacam-macam keadaan yang telah dilalui pada masa itu. Beliau berkata, “Akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk pergi ke Qadian. Di sana melihat wajah Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Ketika saya   memandang wajah beberkat Masih Mau’ud a.s. maka saya teringat akan mimpi yang lukisannya telah terpatri di hati saya.  Yakni dengan melihat langsung wajah Hadhrat masih Mau’ud a.s. yang sama dengan saya lihat dalam mimpi yang telah saya singgung mengenai wajah Rasul Karim S.a.w..[13]

 

Melihat Mimpi Penampilan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Sama dengan  Nabi Muhammad s.a.w.

      [12] Hadhrat Chaudry Ghulam Ahmad Khan r.a.. menceritakan bahwa beliau mengunjungi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada tahun 1908 tapi tidak baiat. Beliau baiat pada 1909 di tangan Hadhrat Khalifatul Masih I r.a..

     Beliau berkata, “Tahun 1905 di musim dingin ketika itu saya masih pelajar di kelas 8 kecamatan Jalandhar, saya melihat  ru’ya dimana saya dan seorang teman lain bernama Abdullah yang juga sekelas dengan saya berjalan dari  tempat bermain yaitu dari lapangan tempat senam ke tempat tinggal saya..” — di boarding house (asrama yang biasanya berada di kota dekat pasar raya —   “Karena lapangan itu berada di bagian selatan kota untuk itu kami memasuki kota dari arah selatan.

      Dalam perjalanan kami melihat Hadhrat Muhammad Rasulullah s.a.w.. di jalan. Beliau nampak dari kota, untuk itu saya berjalan ke arah kota dan saya mengarah ke arah selatan dan mendatangi Rasulullah s.a.w. dan mengucapkan salam lalu menjabat tangan beliau dengan kedua buah tangan.

      Rasulullah s.a.w. mengenakan di kepala sorban putih sederhana, berjubah hitam panjang dan bercelana putih longgar. Warna kulit beliau coklat muda, beliau berdahi lebar, hidung lurus, mata indah, dan rambut beberkat beliau lurus dan hitam. Tinggi beliau rata-rata dan wajah beliau tidak ada suatu cacatnya bahkan indah bercahaya cemerlang.

      Bertemu beliau s.a.w.. dalam mimpi memenuhi saya  dengan kebahagiaan dan kegembiraan yang tetap saya  rasakan bahkan setelah  saya bangun.  Goresan mimpi demikian melekat di dalam hati saya yang dalam hingga hari ini ketika menulis mimpi ini pemandangan kegembiraan suci itu  masih bisa dirasakan dan tidak mungkin hilang dari hati.

      Saya telah ditablighi Ahmadiyah — yakni beliau telah ditablighi akan tetapi belum  menjadi Ahmadi — “Saya sudah ditablighi Ahmadiyah dan saya sudah beriman pada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan dalam keadaan banyak ujian pun sudah teguh dalam beriman kepadanya.” (ketika sudah baiat)

        Tetapi karena beberapa sebab saya berbalik menjadi penentang. (Sebelumnya beliau baiat tetapi beberapa waktu kemudian memilih ingkar dan katanya, “Saya kemudian kembali jadi penentang”), hingga datang mimpi dua setengah tahun kemudian, ketika pertama kali saya melihat langsung Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada tanggal 18 Mei 1908 di Lahore maka tiba-tiba saya teringat akan mimpi saya yang telah saya singgung.  Hal demikian karena dalam mimpi orang yang dahulu saya lihat yaitu Hadhrat Muhammad Rasulullah s.a.w. sama persis dengan orang yang nampak saya lihat langsung itu, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani.

      Bahkan pakaiannya pun persis sama. Kepalanya sama tidak ada suatu perbedaan. Seluruh badan, warna kulit coklat muda itu, rambutnya itu yang lurus, sorbannya itu, dahinya yang lebar, hidungnya yang lurus, matanya yang indah, wajahnya yang tidak bercacat bahkan indah bercahaya nan cemerlang, pendek kata orang itulah yang saya lihat dalam wujud Hadhrat Muhammad Rasulullah s.a.w...

      Singkatnya, satu-satunya perbedaan [antara mimpi yang dulu dilihat dan saat kenyataan ketika bertemu Hadhrat Masih Mau’ud a.s.] adalah yang semestinya teman pendamping saya adalah Abdullah, akan tetapi yang bersama saya adalah Tn. Choudry Abdul Hayy Khan, Ahmadi Thagori yang sekarang sudah pensiun dari kepala kantor pos. Pada dasarnya Abdul Hayy mengambil tempat Abdullah karena pada waktu itu ia memberikan isyarat kepada saya, ‘Bersalamanlah!’ Selanjutnya atas perkataannya itu saya mengucapkan, ‘Assalamu’alaikum’ dan saya mendengar jawaban beliau a.s., ‘Wa’alaikum salaam.’

      Dikarenakan diantara saya dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ada beberapa orang yang duduk karena itu setelah saya berdiri mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan tangan saya tidak dapat sampai pada Hudhur maka Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bangkit di atas lutut beliau a.s. untuk menjabat tangan saya. Assalamu ’alaikum dan wa ’alaikum salaam telah terjadi saling berbalasan dalam berjabatan tangan”.[14]

 

Melihat Rasulullah S.a.w. Berseragam Militer

      [13] Hadhrat Mia Abdul Aziz Sahib r.a al-Ma’ruf Mughal Shahib (dikenal dengan Tuan Mughal). Beliau berkata, “Mirza Ayyub Begh Sahib datang kepada saya di waktu subuh dan memanggil, ‘Abdul Aziz!  Abdul Aziz! Turunlah ke bawah [dari loteng rumah] saya baru saja datang.’ Katanya lagi, ‘Dengarkanlah mimpi saya, saya datang untuk menceritakannya. Saya sedang mengerjakan shalat Subuh kemudian kondisi  saya berubah.

      Saya melihat Rasulullah s.a.w. berjalan dengan cepat ke arah saya dan berhenti setelah sampai di depan saya. Saya bertanya, ‘Ya Rasulullah! Tuan mau pergi ke mana?’ Beliau bersabda, ‘Saya sedang pergi ke Qadian untuk melindungi Mirza Ghulam Ahmad.’ Setelah itu Ayyub Beg berkata, ‘Tuhan Yang Lebih Mengetahui,   apa yang terjadi di Qadian?’

       Sore harinya diketahui bahwa rumah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. digeledah oleh polisi hari itu sehubungan dengan pembunuhan Lekh Ram.” — penggeledahan dilakukan oleh polisi dan lain-lain  — “Orang-orang itu tidak mengetahui kalau beliau telah diberitahukan sebelumnya oleh Allah Ta’ala dalam mimpi.”[15]

     Riwayat yang diceritakan oleh Hadhrat Sayyid Muhammad Syah Sahib r.a. juga seperti ini. Beliau berkata, “Di hari-hari dalam hal penggeledahan rumah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. atas pembunuhan  Lekh Ram. Hari itu kami sedang berada di Lahore, di masjid Langge Mandi Wali, saya sedang shalat subuh di belakang Mirza Ayyub Beg. Usia almarhum Mirza Sahib pada waktu itu berkisar diantara 17 – 18 tahun.” — pemuda yang baik, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga memuji Mirza Beg.  “Setelah salam (selesai shalat) beliau (Mirza Ayyub) menerangkan, ‘Ketika sujud saya melihat Nabi Karim s.a.w.. mengenakan seragam militer, di tangannya beliau memegang pedang, dan beliau  pergi berlari-lari.  Saya bertanya, ‘Yang mulia, apa yang terjadi?’ Ketika ditanya beliau bersabda, ‘Hari ini Mirza Ghulam Ahmad akan digeledah. Saya sedang pergi ke Qadian untuk melindunginya.’”[16]

Raja-Raja Menyerahkan Kerajaan kepada Para Ahmadi

       [9b] Hadhrat Amir Khan Sahib r.a.  Beliau menceritakan sebuah mimpi, “Pada tanggal 31 Januari 1915 saya mendengar para raja berbicara kepada para Ahmadi dan mengatakan, ‘Sekarang kami tidak bisa menjadi raja lagi dan kerajaan diserahkan kepada orang-orang Ahmadi. Tetapi para Ahmadi sebelumnya harus berusaha melalui tabligh untuk membuat masyarakat umum memiliki pemikiran yang sama dengan kita, akibatnya  pekerjaan ini dapat dikerjakan dengan mudah.’

      Oleh sebab itu saya berdasarkan hal itu (dalam mimpi itu) pergi ke kampung-kampung orang-orang Hindu dan bertabligh kepada mereka menjelaskan keadaan-keadaan para Avatar (para nabi dan orang-orang suci) dan sebab-sebab turunnya azab, sebagai contoh saya berkata, ‘Perhatikanlah bagaimana pada zaman Krishna ‘alaihis salaam telah terjadi perang dan kehancuran pun datang.’”[17]

     Maka hal inilah yang pada hari ini juga tengah tegak (terjadi) yaitu memperoleh hukumatei’ (pemerintahan-pemerintahan).  [Akan tetapi berdasar mimpi diatas] Dengan perantaraan pertablighan dan doa-doa diperoleh kemenangan-kemenangan.

Hapusnya Keraguan Melalui Petunjuk Mimpi

      [14] Hadhrat Dr Muhammad Tufail Khan Sahib r.a.  Beliau baiat pada tahun 1896. Beliau menceritakan, “Setelah perdebatan ‘Jang-e-Muqaddas’ (Perang Suci) yang bertempat di Amritsar antara para pemuka pemeluk agama Kristen dengan Sayyidina Hadhrat Masih Mau’ud a.s., peristiwanya dalam bentuk perdebatan tertulis. Ayah saya memiliki pengalaman yang cemerlang dan setiap hari  berdiskusi  mengenai hal itu.

      Di akhir perdebatan, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menyampaikan nubuwatan tentang Abdullah Atham. Ketika batas waktu nubuwatan hanya tinggal 2 – 3 hari lagi maka para penentang mulai berkata, ‘Semua ini hanyalah dusta belaka. Bagaimana bisa seorang berkedudukan tinggi seperti Atham dijadikan sasaran [nubuatan] seperti ini, dimana untuk menjaga  segala macam barang-barang yang diperlukan akan diperoleh dengan  mudah, dan satu regu polisi telah ditempatkan untuk menjaganya, beliau tidak dapat dijadikan sasaran penentang.’

      Ayah saya merasa persangkaan semacam ini sangat tidak menyenangkan dan menasehatkan kepada orang-orang itu, ‘Hendaknya tidak membuat asumsi sebelum jangka waktu yang ditetapkan habis. Merupakan keyakinan kami bahwa pada hari itu matahari tidak akan terbenam sebelum nubuwatan itu yang merupakan tanda kemenangan Islam sempurna dalam corak yang sebenarnya (sempuna kata demi kata).’

      Ketika hanya tinggal satu hari tersisa kemudian ada berita bahwa hingga kini Atham masih hidup. Ayah  saya menjadi sangat gelisah setelah mendengar berita ini, dan tidak dapat berdaya apa-apa karena nubuwatan yang merupakan tanda kemenangan Islam itu kurang sempurna. Pihak-pihak yang memusuhi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bergembira akan tetapi hati ayah saya berduka seakan sebuah gunung yang pecah.  Beliau mulai melekat dalam berdoa dan pada malam itu Tuhan Yang Karim dan Hakim memperlihatkan pemandangan dalam sebuah mimpi dimana ada sosok seorang wujud manusia yang terutama mulutnya tertutup dengan potongan rumput kering dan seluruh badannya yang lain pada umumnya dipenuhi dengan debu begitu banyak. Sepenuhnya tidak dapat mengenali wajah orang tersebut, dan tidak mungkin pula mengenalinya dari bagian tubuh yang lain.

      Ada seorang lainnya  yang perutnya (badannya) ke arah ayah saya akan tetapi mulutnya (wajahnya) menghadap sosok yang tertutup oleh potongan rumput kering dan debu tersebut, dan dengan sangat hati-hati, sungguh-sungguh dan penuh kasih-sayang mengambili potongan rumput kering  tersebut  helai demi helai dari wujud orang lainnya [yang disebut pertama tadi].

      Setelah beberapa lama orang tersebut membuang semua potongan rumput kering, dan ia membersihkan tubuh orang itu dari debu. Begitu potongan rumput kering dan lain-lainnya semua jatuh beterbangan, dari bawahnya muncullah satu wajah yang bercahaya cemerlang nampak seperti matahari, mata tidak dapat menatapnya.

       Pada waktu itulah dipahami dari mimpi itu bahwa ini adalah manusia suci yang tubuh sucinya dijauhkan dari potongan rumput kering itu adalah Sayyidina Hadhrat Rasul Karim s.a.w.. Sedangkan orang yang membuangi potongan rumput kering adalah Sayyidina Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Pemandangan ini diperlihatkan di malam hari.

      Keesokan paginya mu’anidin silsilah (orang-orang yang memusuhi silsilah Jemaat) setelah berkumpul kemudian datang dan berkata: ‘Lihatlah, kemarin tuan berkata apa? Apakah tuan tidak mengetahui bahwa Atham kini masih hidup, tidak mati dan nubuatan Mirza terbukti salah?’  Ayah saya   memberitahukan, ‘Berita yang kamu terima  itu salah, sesungguhnya Atham tidak akan hidup, dan kalau pun  ia hidup  maka pasti ia sudah mati bagi sanak keluarganya dan juga bagi saudara-saudara seagamanya.’  — sebab dia telah berhenti melakukan kecaman-kecaman yang biasa disampaikannya terhadap Rasulullah s.a.w..’

      Kalau dia tidak bertobat dari perkara itu (mencaci Rasulullah s.a.w.. pent) maka pendek kata ia tidak akan nampak lagi, begitu juga kalau semua perkara-perkara yang hakiki tidak dibuka.   Kemudian mereka hendaknya menyerahkan semua keraguan dan kekhawatiran mereka pada Tuhan.

     Pemandangan yang diperlihatkan pada saya pada malam hari, kalau kalian melihatnya maka kalian akan mengetahui bahwa beliau ini (Rasulullah s.a.w..) yang mengenainya kalian memusuhinya, kedudukan manusia ini seperti apa. Sejak saya dalam mimpi melihat pemandangan itu, dari sana terdapat pengaruh  pada tabiat saya.

      Intinya tanda ini akan sempurna seperti ini yaitu akan diperlihatkan kekuatannya pada dunia. Kemudian ratusan ribu tanda akan muncul dari wujud Sayyidina Hadhrat Mirza [Ghulam Ahmad a.s.] Shahib yang akan mematahkan semua hambatan-hambatan yang telah dibuat oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam.’”[18]   

      Jadi, inilah pekerjaan (misi) Hadhrat Masih Mau’ud a.s., yaitu, ta’lim (pengajaran) Islam yang indah, memperlihatkan wajah Hadhrat s.a.w. yang sebenarnya, dan untuk menjauhkan semua tuduhan jahat yang dialamatkan kepada beliau s.a.w..

      Sekarang perhatikanlah bahwa dalam perdebatan yang terjadi [antara Hadhrat Masih Mau’ud a.s.] dengan Abdullah Atham [pendeta Kristen mantan Muslim] di sana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. membela Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan Islam, sementara orang-orang yang disebut umat Muslim itu dan ulama-ulama mereka memilih berpihak kepada yang lain [memihak Abdullah Atham]. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ingin menampakan kebenaran Islam dan memperlihatkan keindahan wajah Rasulullah s.a.w. akan tetapi orang-orang itu menentang beliau.

Tragis, Pawai Maulid Nabi s.a.w. untuk Mencaci-Maki

      Hari ini mereka mengadakan arak-arakan (pawai) untuk memperingati kegembiraan hari Maulid Nabi s.a.w.., padahal kebahagiaan sejati bukannya mengadakan peringatan kegembiraan arak-arakan (pawai) melainkan dalam hal menyebarkan pesan beliau s.a.w.. ke seluruh dunia.       Kebahagiaan sejati adalah dalam menyampaikan keindahan ta’lim beliau s.a.w.. kepada setiap orang. Menyampaikan shalawat dan salam kepada beliau s.a.w..

      Pertama saya telah membaca satu referensi (rujukan) yaitu ciptakanlah kekuatan dalam agama. Menciptakan kekuatan beragama pada hari ini adalah pekerjaan setiap orang Muslim kalau  memang mereka itu Muslim yang hakiki, dan hal itu hanya bisa didapat dengan mengadakan ikatan dengan pencinta sejati Hadhrat s.a.w. (Hadhrat Masih Mau’ud a.s.) .

      Kematian Abdullah Atham dapat dihindari (ditangguhkan) beberapa saat, akan tetapi 6–7 bulan kemudian, dikarenakan ia melakukan satu macam taubat dan menghindari mengulang-ulang perkataan [menghina Rasulullah s.a.w.] itu, ketika ia tidak menghindar dari hal itu [mulai menghina lagi] maka beberapa bulan kemudian ia mati. Maka inilah nubuwatan yang walaupun untuk beberapa saat ditangguhkan akan tetapi peristiwa ini pasti  akan terjadi dan telah terjadi.

      Dan seperti saya katakan, telah diperdengarkan satu mimpi yaitu kalau ingin mendapat pemerintahan-pemerintahan, menginginkan kemenangan di dunia maka itu semua akan didapat dengan perantaraan tabligh. Penting bagi kita untuk berusaha kesana.

    Wajah indah Hadhrat s.a.w. pada hari ini tidak ada yang dapat memperlihatkannya selain Hadhrat Masih Mau’ud a.s., dan siapapun tidak ada yang dapat memperlihatkannya, dan inilah pekerjaan Jemaat saudara-saudara, maka kita harus memberikan perhatian ke sana.

 

Kedudukan Agung Hadhrat Rasulullah s.a.w.

     Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis tentang Rasulullah S.a.w.: “Saya selalu memandang dengan takjub betapa tinggi kedudukan nabi dari Arab ini, yang bernama Muhammad “shallallahu ‘alaihi wa sallam” (ribuan shalawat dan salam semoga tercurah atas beliau). Seseorang tidak dapat mengetahui batas ketinggian kedudukan beliau dan tidak ada manusia yang diberi kemampuan untuk menilai ketinggian kerohanian beliau.

     Sayang sekali seperti haknya untuk dihargai, kedudukan beliau belum dihargai sebagaimana mestinya. Keesaan Tuhan yang telah hilang dari dunia, beliaulah pahlawannya yang mengembalikannya kembali di dunia.  Beliau sangat mencintai Tuhan dan jiwa beliau meleleh karena kasih-sayang kepada umat manusia. Karena itu Tuhan Yang mengetahui rahasia hati beliau, mengangkat beliau di atas semua nabi dan di atas semua awwalin orang-orang terdahulu di masa lalu) dan akhirin (orang-orang kemudian di masa datang), dan Dia mengaruniakan kepada beliau dalam masa kehidupan beliau semua yang beliau cita-citakan. Beliau adalah sumber mata air segala kemuliaan, dan orang yang mendakwakan keunggulan tanpa mengakui kemuliaan beliau bukanlah manusia, tapi keturunan setan, sebab Rasulullah s.a.w.  telah dianugerahi kunci setiap keagungan. Dan beliau telah diberi khazanah semua makrifat. Orang yang tidak menerima dari beliau akan mahrum (luput) selamanya.

     Kami  bukan apa-apa dan tidak punya apa-apa. Kami  akan sangat tidak bersyukur jika tidak mengakui bahwa kami telah belajar tentang keEsaan sejati Tuhan melalui nabi ini. Kami dapat mengenal Tuhan yang hidup melalui Nabi sempurna ini dan melalui nur beliau s.a.w.. Kehormatan mukalamah dan mukhatabah (berwawancakap) dengan Tuhan, yang dengan itu kita melihat Wajah-Nya, telah dianugerahkan kepadaku melalui nabi agung ini. Cahaya matahari petunjuk ini menerpaku seperti sinar mentari dan aku akan terus diterangi selama aku berdiri dihadapannya.”[19]

     Bersabda lagi: “Manusia itu yang paling sempurna, manusia sempurna, nabi yang sempurna dan datang dengan membawa berkat-berkat yang sempurna, yang dengan perantaraannya berakibat kebangkitan rohaniah dan pemandangan mahsyar sehingga nampak kiamat dunia pertama dan alam yang telah mati satu alam telah hidup dengan kedatangannya, dan nabi yang penuh keberkatan itu adalah Hadhrat Khaatamul Anbiya, Imaamul Ahfiya, Khaatamul Mursaliin, Fakhrun Nabiyyiin, Janab (yang mulia) Muhammad Mushtafa s.a.w..

      Wahai Tuhan yang tercinta kirimkanlah rahmat dan keselamatan atas nabi tercinta itu yang sejak awal dunia ini Engkau buat kepada siapapun juga tidak pernah Engkau kirim.”[20]

      Demikianlah kedudukan agung Rasulullah s.a.w.. sebagaimana yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan dikarenakan ketika orang-orang itu melihat berbagai macam mimpi berupa melihat Hadhrat Muhammad s.a.w. dalam wujud Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Yakni dua wujud menjadi satu jiwa. Maka adalah kewajiban kita bahwa hari ini dan di hari selanjutnya di lidah kita senantiasa mengirimkan shalawat pada Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan terus menerus maju dalam melantunkannya. Kita juga mesti berusaha dan mengikuti uswatun hasanah  suri teladan beberkat beliau dan kita adalah orang-orang yang senantiasa terus maju ke depan.

 

Memperingati Maulid Nabi s.a.w. Harus Menampilkan Ajaran Beliau s.a.w.

      Seperti telah saya katakan, hari ini juga sedang diadakan Jalsah besar, orang-orang sedang mengadakan arak-arakan (pawai). Mereka sedang merayakan Maulid (kelahiran) Hadhrat s.a.w., akan tetapi ajaran beliau tidak ditampilkan di sana.

      Arak-arakan yang pada hari ini sedang mereka adakan di Rabwah, tidak akan ada yang mereka kerjakan selain  melemparkan caci-maki kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.      Mungkin orang-orang tidak menerangkan sejarah singkat riwayat amal perbuatan Hadhrat S.a.w., tetapi mungkin hanyalah memberikan makian pada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Mungkin juga mereka menggunakan bahasa yang salah dalam menentang Jemaat.

     Pendek kata, di satu pihak, ada jalan hidup mereka yang sudah menjadi orang-orang duniawi, yang walaupun disebut orang-orang Muslim akan tetapi sudah jauh dari Islam. Sedangkan di pihak yang lain bagaimana Allah Ta’ala memperlakukan para sahabat dimana Allah Ta’ala memperlihatkan Hadhrat s.a.w. kepada mereka dalam wujud Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam penglihatan mimpi-mimpi mereka dan mereka diberikan ketenangan dengannya.

      Dewasa ini juga di berbagai tempat di dunia, Allah Ta’ala sedang memperlihatkan pemandangan ini pada orang-orang yang berfitrat baik dan saleh. Oleh karena itu mereka sedang memasuki Jemaat, menerimanya. Setelah baiat masuk dalam hamba Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mereka berusaha menjadi hamba hakiki Hadhrat s.a.w..

      Semoga  kepada para penentang ini Allah Ta’ala membukakan matanya dan bukan hanya menjadi sekedar nama Muslim saja tapi menjadi Muslim sejati dan mendengar  suara Tuhan.

 

(Visited 91 times, 1 visits today)