Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

tanggal 20 Zhuhur 1389 HS/Agustus 2010

di Masjid Baitul Futuh, London-UK

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ                    

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

شَہۡرُ رَمَضَانَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ فِیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ ہُدًی لِّلنَّاسِ وَ بَیِّنٰتٍ مِّنَ الۡہُدٰی وَ الۡفُرۡقَانِ ۚ فَمَنۡ شَہِدَ مِنۡکُمُ الشَّہۡرَ فَلۡیَصُمۡہُ ؕ وَ مَنۡ کَانَ مَرِیۡضًا اَوۡ عَلٰی سَفَرٍ فَعِدَّۃٌ مِّنۡ اَیَّامٍ اُخَرَ ؕ یُرِیۡدُ اللّٰہُ بِکُمُ الۡیُسۡرَ وَ لَا یُرِیۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ ۫ وَ لِتُکۡمِلُوا الۡعِدَّۃَ وَ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ 

 

Terjemahan dari ayat-ayat ini adalah sebagai berikut: “Bulan Ramadan ialah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan  keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk, dan Furqan yakni pembeda yang haq dan yang batil. Maka, barangsiapa di antaramu hadir pada bulan ini, hendaklah berpuasa di dalamnya. Tetapi barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka hendaklah berpuasa sebanyak bilangan itu pada hari-hari lain. Allah menghendaki keringanan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, dan Dia menghendaki supaya kamu menyempurnakan bilangan itu dan supaya kamu mengagungkan Allah, karena Dia memberi petunjuk kepadamu dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah, 2:186).

Allah Ta’ala didalam ayat ini mengemukakan keistimewaan Al-Qur’an seiring dengan bulan suci Ramadan. Yakni bulan ini adalah bulan yang diberkati yang didalamnya Al-Qur’anul Karim diturunkan. Permulaan Al-Qur’anul Karim diturunkan dimulai di bulan ini. Di bulan yang beberkat ini setiap tahun Jibril as mengulangi Al-Qur’anul Karim waktu itu sebatas yang telah turun pada Hadhrat Rasulullah Saw. [2]

Maka bulan ini adalah bulan khusus untuk membaca dan memahami kalam suci Allah Ta’ala. Seakan-akan dari sudut pandang ini  bulan ini adalah bulan yang sangat penting. Tidak hanya sebatas kewajiban berpuasa dan menyempurnakan kewajibannya saja yang penjelasannya telah dijelaskan pada ayat-ayat yang lalu. Bahkan kepentingannya lebih jauh sangat luas karena didalam bulan yang diberkati ini Allah Ta’ala menurunkan Al-Qur’anul Karim yang  merupakan kitab agung yang merupakan kitab syariat yang sempurna yang diturunkan kepada manusia yang paling sempurna; yang diutus untuk  seluruh umat manusia seperti Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’anul Karim, قُلْ يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّىْ رَسُوْلُ اللّٰهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعَا ‘Qul yaa ayyuhan naasu innii Rasulullah ilaikum jamii’a’ – ”Katakanlah, ‘Hai manusia! Sesungguhnya aku adalah Rasul Allah bagi kamu sekalian…” (Al-Araf, 7:159), dan di tempat lain Allah Ta’ala juga berfirman,وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَآفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ‏ ’Wa maa arsalnaaka illaa kaaffatan (l) lin naasi basyiiraw wa nadziira walaakinna aktsaran naaasi laa ya’lamuun’ – “Kami tidak mengutus engkau melainkan untuk segenap manusia sebagai pembawa kabar suka, dan pemberi peringatan, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Saba, 34:29).

Pendek kata, mengenai Hadhrat saw, Al-Qur’anul Karim menerangkan di berbagai tempat dengan berbagai macam bentuk panggilan. Yang diutus untuk seluruh umat manusia dan hingga Kiamat nanti tidak akan datang suatu kitab syariat, tidak akan datang Pembawa syariat. Amanat Al-Qur’anul Karim adalah amanat untuk seluruh dunia dan beliau Saw adalah nabi untuk seluruh umat manusia  hingga Kiamat. Al-Qur’anul Karim menda’wakan, bahwa beliau Saw adalah yang terakhir untuk seluruh umat manusia. Inilah pesan utama Al-Qur’an. Untuk itu keagungannya jelas terang benderang seperti di siang hari dan akan terus bertambah terang.

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda ;

“Kita adalah pewaris nabi seperti ini; yang datang sebagai rasul untuk رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ rahmatal lil aalamiin (rahmat bagi semesta alam) dan كَآفَّةً لِّلنَّاسِ kaaffatal linnaas (seluruh umat manusia) yang kitab-Nya dijaga oleh Tuhan dan yang kebenaran-kebenaran dan ma’rifat-ma’rifatnya adalah paling unggul.” [3]

Dalam Al-Qur’anul Karim, beliau saw pun disebut رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ rahmatal lil aalamiin. Maka beliau saw ini adalah Nabi Agung yang kini darinya memancar mata air rahmat untuk manusia dan terus memancar. Orang-orang yang mengamalkan secara hakiki Kitab yang turun kepada beliau saw ini; mereka berjalan diatas sunnah keagungan Rasulullah saw yang merupakan rahmat bagi dunia. Seandainya kaum Mullah ekstrimis mau menyadari hal ini, Rasulullah saw dan ajaran Al-Qur’an Karim adalah rahmatan lil ‘aalamin, yang tidak akan merampas ketenteraman dan keselamatan ataupun menganiaya kehidupan orang-orang yang tak berdosa. Pendek kata, di bagian ayat ini  yang merupakan referensi rujukan Al-Qur’anul Karim. Allah Ta’ala berfirman bahwa didalam Qur’an itu ada petunjuk bagi seluruh umat manusia. Di dalamnya diterangkan tanda-tanda yang nyata. Di dalamnya dijelaskan yang membedakan antara yang hak dengan yang batil. Al-Qur’an adalah sumber petunjuk bagi seluruh umat manusia dengan berbagai Tandanya yang nyata. Sebagai alFurqan atau pembeda antara yang haq dengan yang batil. Maka adalah kewajiban orang-orang mu’min yaitu dengan ajaran yang penuh dengan cahaya dan petunjuk yang terkumpul didalam kitab Qur’an yang membedakan diantara yang hak dengan yang batil  didalam bulan ini yang dikatakan bulan Ramadhan  yang dikatakan juga bulan  untuk meningkatkan derajat kerohanian. sambil berpuasa manusia berusaha mendapatkan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Dimana di bulan Ramadhan seorang mu’min berusaha meningkatkan derajat ibadahnya. Dimana ia meletakkan Al-Qur’anul Karim di depannya, inilah pembimbingmu. Renungkanlah di bulan ini Al-Qur’an itu. Untuk mendapatkan qurb Ilahi, mempergiat ibadah kepada Allah, dan juga untuk memahami dan merenungkan kandungan isi Al-Qur’an ketika membacanya. Allah Ta’ala berfirman هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ “…inilah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa,” (Al-Baqarah, 2:3). Pertama firman-Nya adalah petunjuk untuk seluruh umat manusia. Namun, petunjuk di sini sangat bervariasi. Oleh karena itu disebutkan di dalamnya: hudan (l) lil muttaqin, yakni petunjuk bagi orang-orang yang muttaqi, karena petunjuk hidayah yang haqiqi tidaklah pernah terputus hanya setelah sekali beriman atau bertaqwa. Melainkan, [petunjuk Ilahi] ini merupakan suatu proses yang sifatnya terus menerus berkelanjutan. Yakni jika mereka yang mengatakan bahwa dirinya muttaqi, yang menganggap  dirinya berada dalam perasaan takut dan cinta pada Allah Ta’ala. Kalau pernyataan penda’waan orang-orang ini adalah pernyataan penda’waan yang benar  maka wajiblah bagi mereka itu untuk menjalankan ajaran [Al-Qur’an] ini hingga yang sekecil-kecilnya. Jika tidak, sebagaimana telah disabdakan oleh Hadhrat Rasulullah saw, “Orang yang tidak merenungkan; yang tidak berusaha berjalan pada ketaqwaan maka bangun malamnya orang seperti ini hanyalah bangun saja dan puasa orang seperti ini  juga hanyalah derita lapar dan haus saja. [4]

Oleh karena itu maka waktu pentingnya berpuasa adalah sama juga dengan waktu pentingnya Al-Qur’anul Karim. Penting ta’lim ajarannya yang telah Allah Ta’ala turunkan. Berusahalah untuk mengamalkan ajarannya. Karena Allah Ta’ala telah menekankan didalam keduanya akan pentingnya kesucian jiwa yang kita dapat mengetahuinya dari Al-Qur’anul Karim. Jika seorang mu’min berhasil melaksanakan hal ini, cukuplah memadai untuk baginya mengajarkan ajaran yang indah ini kepada dunia. Maka kita dapat mengatakan kepada dunia, “Kearah mana kamu pergi melangkah jalan itu adalah jalan yang sangat berbahaya. Jalan itu adalah jalan kebinasaan. Itu adalah jalan kebinasaan dan kehancuran dunia dan akhirat kamu. Kalau kamu mau abadi di dunia dan di akhirat maka datanglah, kami akan tunjukkan jalan petunjuk kepadamu.” Al-Qur’anul Karim tidak hanya menda’wakan Hudal linnaas ‘petunjuk bagi seluruh umat manusia.’ Bahkan kalau kamu mengamalkan ajarannya maka pengaruh pemandangan petunjuk dari ajaran itu akan nampak di dunia. Yakni seperti  saya telah katakan, contoh perilaku kaum Muslimin adalah yang utama dan pertama-tama. Yang melaluinya dunia dapat melihat. Namun sangat disayangkan, sekarang ini justru praktek kehidupan kaum Muslimin-lah yang memberi peluang kepada mereka untuk menentang Islam dan berkeberatan terhadap Al-Qur’an berkeberatan dengan  ajarannya.

Baru-baru ini sebuah gereja di Amerika Serikat [Florida] membuat upaya untuk mencitrakan buruk ajaran Islam dan Al-Qur’an. Sebagaimana sudah banyak dipublikasikan oleh media, mereka mempunyai rencana buruk akan membakar Al-Qur’an pada tanggal 11 September 2010. Keberatan gereja itu berdasarkan 10 keberatan ajaran yang terdapat di dalamnya. Keberatan yang sangat sia-sia dan bodoh. Kalau masalah keberatan, sebetulnya banyak keberatan yang dapat kita tujukan terhadap ajaran Bibel, namun bukanlah pekerjaan kita yaitu hendak menimbulkan keonaran. Tetapi berbagai bentuk diskusi ilmiah hendaknya diadakan berkaitan dengan hal ini dan inilah cara yang senantiasa kita tempuh. Akan tetapi bukanlah hak orang-orang muslim siapapun bahwa disebabkan beberapa perkataan Bibel bahkan beberapa bagiannya bertentangan dengan Tauhid Ilahi maka mereka mulai membakar Bibel. Sedangkan Al-Qur’anul Karim justru sejak awal hingga akhir mengajarkan mengenai ketauhidan. Inilah pekerjaan kita dan merupakan maksud kedatangan semua nabi. Ajaran yang paling besar adalah ajaran Al-Qur’anul Karim yang telah mengajarkan ketauhidan. Inilah hakikatnya yakni mengajarkan ajaran ketauhidan itu. Yang tanpanya agama apapun juga tidak mendapatkan dasar. Untuk abad ini, hamba Allah yang telah diutus Allah Ta’ala untuk menzahirkan ajaran Al-Qur’an dengan cara yang sangat memikat Hamba  yang telah  dijadikan Tuhan  utuk tugas itu. Mereka mengumumkan, “Jangan berdiskusi soal agama dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani as dan orang-orang yang menerimanya.” Ajaran Kristen sekarang ini berdasarkan konsep tatslits (trinitas), yang ajaran dasarnya jauh dari ketauhidan. Hadhrat Masih Mau’ud as telah membuktikannya berdasarkan ajaran Bibel itu sendiri dan juga perkataan Yesus Kristus, bahwa beliau as (Yesus) bukanlah anak Tuhan dan tidak ada seorang pun manusia yang dapat menjadi anak Tuhan. Inilah dia keberatan terbesar Gereja ini yang mana mereka sedang menyebarkan pemahamannya menentang ajaran Al-Qur’an. Demikianlah keberatan pertama yang mereka tulis dan keberatan kedua yang mereka ketengahkan yaitu bahwa Al-Qur’anul Karim tidak mempercayai Hadhrat Isa as sebagai anak Tuhan. Hal itu karena katanya (Al-Qur’an), keselamatan adalah oleh amal saleh perbuatan manusia itu sendiri bukan oleh karena sesuatu yang lain. Yakni bukan karena dinaikannya Hadhrat Isa as keatas Palang Salibnya. Akal pikiran mereka [yakni kaum Kristen] yang tidak sehat itu tidak mampu memahami bahwa Hadhrat Isa as sendiri meyakini akan hal ini akan tetapi dengan mengatasnamakan beliau as ajaran beliau as kemudian dibuat berantakan dan dengan menentang Allah, mereka menjadikan seorang manusia lemah sebagai saingan Tuhan. Begitulah jika suatu kaum sudah terdesak kalah, sudah tidak memiliki lagi dalil yang dapat dipertahankan, tidak ada pilihan lain selain melakukan kekerasan. Gereja itu yang namanya adalah Dove World Outreach Center Church tengah melakukan hal ini. Disebutkan di dalam Bibel di satu tempat bahkan di beberapa tempat Hadhrat Isa as telah mengatakan. Di satu tempat disebut ‘Aqidah yang paling utama,’ jawaban Yesus Kristus, ‘adalah ini: ‘Dengarkanlah, wahai Bani  Israil, Allah itulah Tuhan kita. Dia Yang Tunggal. Maka cintailah Allah Tuhanmu itu dengan segenap hati dan jiwa, dengan segala akal pikiran dan daya kekuatanmu.’ [5] Selain itu, masih banyak lagi lembaran-lembaran Kitab Bibel yang menolak uluhiyyat al-Masih (Ketuhanan Yesus Kristus). Jadi, Bibel sendiri telah menolaknya.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah membuktikan hakekat pembahasan ini yang penuh dengan dalil-dalil dan penjelasan hakiki dari Al-Qur’anul Karim dan dengan itu telah terbukti keunggulannya dan telah membantah setiap dalil-dalil Kristen dan hingga kini Jemaat Ahmadiyah terus menerus mengerjakan pekerjaan ini. Inilah ajaran indah Al-Qur’anul Karim yaitu sampaikanlah kebenaran. Katakanlah pada dunia; قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَىِّ ‘qad tabayyanar rusydu minal ghayyi’ – “…Sesungguhnya, jalan yang benar itu nyata bedanya dengan kesesatan…;” (Al-Baqarah, 2:257). Namun, tidak perlu ada paksaan dalam hal menjelaskan perbedaan dalam menjadikan seseorang agar beriman. Yakni, terserah bagi mereka sendiri barangsiapa yang mau beriman siapa yang mau tidak beriman, menolaknya. Berfirman, “Wahai Nabi! Pekerjaan kamu hanyalah menyampaikan kalaam itu, amanat itu kepada mereka yang turun kepadamu dalam bentuk Al-Qur’anul Karim. Memberikan hidayah (petunjuk) kepada dunia adalah pekerjaan Allah Ta’ala.” Pendeknya, mereka ingin menjalankan usaha (rencana jahat) untuk menyalahkan ajaran yang indah ini. Siapakah yang mendasarkan ajarannya yang menyukai kekerasan dan mengajarkan merusak kedamaian; Gereja itu ataukah orang-orang Muslim?

Gereja itu sendiri tidak mengamalkan ajarannya yang adalah ajaran Bibel. Bibel tersebut berkata, “Jika ada yang menampar pipi kananmu, berikanlah juga sebelah pipimu yang lain [untuk ditampar].”[6]

Bibel tidak mengatakan, “Kamu bencilah agama yang lain!” Walaupun demikian banyak organisasi Gereja lainnya yang mengutuk rencana buruk mereka tersebut dan dengan keras menolaknya, sekaligus juga menyatakan tidak akan mendukungnya. Orang-orang yang berakal dan manusia yang menyukai kedamaian hendaknya menolak pekerjaan ini. Jemaat Ahmadiyah pun sudah mencoba mengadakan pendekatan dengan mereka melalui media dan cara lainnya untuk menghentikan rencana jahat gerakan Dove Church ini. (Adapun arti kata ‘dove’ [yang artinya merpati putih], adalah lambang Ruhul Kudus dalam agama Kristen ini yang mengatakan bahwa akan Ruhul Qudus turun dalam bentuk burung merpati kepada Hadhrat Isa.) Singkatnya saya telah memerintahkan Jemaat Amerika agar menangani masalah ini sebagai suatu proyek pekerjaan mereka. Diharapkan Jemaat lain di seluruh dunia juga dapat melakukan hal yang sama. Sebab, tindakan kaum Kristen ‘the Dove Church’ ini dapat menimbulkan kerusuhan di seluruh dunia. Dari pada kita menghadapinya dengan kedengkian dan permusuhan kita akan berdiri menghadapinya dengan kecintaan. Tampaknya mereka ini tak memahami derajat mulia yang diberikan oleh Al-Qur’an berkenaan dengan derajat Hadhrat Isa ‘alaihish shalaatu was salaam dan juga ibunda beliau, Hadhrat Maryam. Al-Qur’anul Karim menghormati setiap nabi. Pendek kata seperti yang saya katakan, aksi mereka itu akan menimbulkan kebencian di mana-mana. Orang-orang Muslim itu yang sayangnya tidak menerima Imam Zaman ini lalu mereka menjadi keras kepala; atau kekerasan hati mereka sayangnya ada pada mereka yang ingin meraih kepentingan pribadi; orang-orang Muslim itu memberikan reaksi salah yang sama buruknya. Sekarang ini dunia membutuhkan perdamaian, cinta kasih, persaudaraan serta hidup yang harmonis; menghindari bencana perang yang menghancurkan, menyerap kasih sayang Allah Ta’ala supaya terhindar dari kebinasaan. Untuk mendapatkannya adalah penting bagi orang-orang Kristen untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya. Orang-orang Muslim juga harus memperlihatkan reaksi yang benar. Berdiskusilah dengan saling memberikan argumentasi. Berdiskusilah dengan cara ilmiah. Akan tetapi, hendaklah satu dengan yang lain memperhatikan perasaan keberagamaan masing-masing. Kaum Muslimin dewasa ini kalau mereka benar-benar menyatakan diri mencintai Rasulullah saw dan mencintai Al-Qur’an maka sambil memahami perintah-perintah Allah Ta’ala seharusnya untuk tuntunan mereka sendiri mereka mencari pembimbing yang diutus mengikuti sesuai perintah dan nubuwatan Allah dan rasul-Nya. Di bulan Ramadan ini yang mengenainya Allah Ta’ala berfirman bahwa di bulan inilah Al-Qur’anul Karim diturunkan yang adalah sumber petunjuk bagi seluruh umat manusia maka haruslah mengikuti jalan-jalan petunjuk yang telah ditetapkan Al-Qur’anul Karim. Harus mengupayakan mencapai standar tinggi hidayah yang telah dibuat oleh Al-Qur’anul Karim. Perlu berdoa dengan hati yang tulus agar mendapatkan Haadi (orang yang memberikan petunjuk). Allah Ta’ala telah mengajari kita doa اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ ‘ihdinash shiraathal mustaqiim’ – “Tunjukilah kami jalan yang lurus” (Al-Fatihah, 1:6). Seandainya doa permohonan kepada Allah ini dipanjatkan dengan tulus, niscaya Allah Ta’ala pun akan memberikan bimbingan-Nya. Dengan doa ini Allah Ta’ala juga akan memberi bimbingan-Nya kepada ghair Muslim; orang-orang Muslim harus mengamalkannya. Semoga saudara-saudara kita sesama Muslim setelah mendengar pesan tanggung jawab dan penuh semangat ini berusaha mau mengikuti seruan ini dan memperbaiki dunia dan akhirat mereka.

Hadhrat Masih Mau’ud as di satu tempat bersabda,

“Ingatlah Al-Qur’an asy-Syarif adalah perantaraan yang benar bagi berkat-berkat yang hakiki sumber mata air kerohanian dan keselamatan. Dan ini adalah kesalahannya orang-orang itu yang tidak mengamalkan Al-Qur’an asy-Syarif. Satu golongan orang yang tidak mengamalkannya itu adalah yang tidak yakin atasnya  dan ia tidak menganggap sebagai kalam perkataan Tuhan. Orang-orang ini terlempar sangat jauh. Akan tetapi  bagi orang-orang yang beriman, bahwa Al-Qur’an itu adalah Kalam Tuhan dan adalah tulisan yang memberikan penyembuhan bagi keselamatan. Kalau ia tidak mengamalkannya maka ini adalah suatu hal yang betapa  mengherankan dan disesalkan. Diantara mereka banyak orang-orang yang seperti ini yaitu yang sepanjang umurnya tidak pernah membacanya.  Maka bagi orang seperti ini yang  dengan kalam Allah Ta’ala berlaku lalai dan tidak peduli,  misal mereka adalah seperti halnya seorang yang mengetahui ada satu sumber mata air di suatu tempat yang sangat bersih dan menyegarkan serta memiliki khasiat dapat  menyembuhkan.” (shaaf aur mitha aur thandha paani – air yang bersih, segar/manis dan dingin). Banyak sekali sakit yang sembuh dengan air itu. Pengetahuan tentang ini meyakinkan bagi dirinya, akan tetapi walaupun ia sudah mengetahuinya  dan walaupun ia merasa kehausan dan ia sudah terjerumus dalam berbagai  macam penyakit ia tidak jua pergi ke sana. Maka ini adalah betapa ketidakberuntungan dan kebodohannya. Seharusnya ia telah meletakkan mulutnya di mata air tersebut dan setelah puas meminumnya dengan penuh kelezatan ia mendapatkan karunia kesembuhan berkat air yang nikmat dan mengandung obat penyembuh itu.  Akan tetapi walaupun ia mengetahuinya, ia menghindari melakukan demikian seakan-akan ia adalah seorang tidak mengetahui. Hingga waktu itu ia tinggal jauh darinya yang akhirnya maut datang menghampirinya. Demikianlah keadaan orang-orang Muslim dewasa  ini. Mereka mengetahui, bahwa kunci semua kemajuan dan kesuksesan ada pada Al-Qur’an asy-Syarif yang hendaknya kita mengamalkannya. Akan tetapi tidak. Ia (Al-Qur’an) tidak dipedulikannya. Seseorang (yakni mengatakan tentang diri beliau as sendiri) Seseorang yang dengan sangat penuh simpati dan juga tidak hanya dengan kelemahlembutannya bahkan sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan isyarah-Nya menyeru [umat manusia] kepada-Nya maka ia dikatakan kadzdzaab (sangat pendusta) dan Dajjal. Maka yang lebih dari itu kondisi apakah yang layak dikasihani bagi kaum itu.” [7]

Inilah hakikat keadaan sekarang ini, jangankan merenungkan kandungan isi Al-Qur’an, sebagian besar kaum Muslimin ini sudah tidak mengindahkan lagi pentingnya membaca Al-Qur’an dengan penuh perhatian dan perenungan. Mereka hanya menuruti apa kata orang-orang yang disebut ulama mereka yang berkata, “Al-Qur’an berkata bahwa Rasulullah saw adalah Khataman Nabiyyin dan Mirza Ghulam Ahmad Qadiani as mendakwakan dirinya sebagai Nabi.” Seandainya mereka itu mau merenung dan bertanya pada kita apa sebenarnya pendakwaan beliau as itu? Mereka menuju pada mengenali kebenaran. Karena mereka tidak memiliki dasar pemikiran yang dapat mendukung pendapat mereka itu, maka berbagai negara Muslim memaksakan berbagai pelarangan terhadap Jemaat terutama di Pakistan. Dikatakan kepada orang-orang Muslim, “Mendengar perkataan mereka juga adalah kafir!” Bahkan sampai mengatakan, “Memberi salam kepada mereka (kaum Ahmadi) adalah kafir!” Sikap ekstrim yang serupa ini juga kalau diperlihatkan oleh orang Kristen [terhadap orang-orang Muslim], maka dalam hal ini terhadap orang-orang Ahmadi pun dilakukan oleh orang-orang Muslim itu sendiri. Bahkan pada umumnya ada satu golongan yang sangat besar, satu golongan orang yang seperti ini yang memperlihatkan  sikap kesukaannya yang kuat akan hal seperti ini [kekerasan] maka hal ini juga menciptakan keberanian pada orang-orang Kristen untuk berbuat hal yang sama. Inilah keadaan orang-orang itu.  Tampaknya orang-orang Muslim tidak begitu yakin pada dirinya sendiri sebab kalau orang Ahmadi itu salah aqidahnya maka silakan perbaiki. Apakah mereka merasa begitu takut? Apakah mereka merasa iman mereka begitu lemah? Sehingga kalau mereka berdialog dengan kaum Ahmadi, mereka takut keimanan mereka akan menjadi lemah dan akan meninggalkan Islam. Pendek kata, inilah ucapan-ucapan ulama-ulama mereka yang dengan mengikutinya, mereka merusak dunia dan akhirat umumnya orang-orang Muslim. Demikian juga, kita yang adalah orang-orang Ahmadi, kewajiban kita adalah berikanlah hak-hak masing-masing. Adalah juga tanggungjawab kita menjadi contoh orang yang mengamalkan jalan mereka yang telah memperoleh petunjuk sebagaimana telah dijelaskan didalam Al-Qur’anul Karim.

Allah Ta’ala telah menjadikan bulan Ramadhan ini sarana mempermudah untuk memperbaiki keadaan kerohanian kita supaya lebih baik lagi dan dalam pengamalan Al-Qur’anul Karim serta untuk merenunginya.  Hendaknya kita mengambil faedah sepenuhnya darinya dan berusaha semaksimal mungkin. Kita dapat mengambil faedah sepenuhnya apabila kita menjadi orang yang setiap hari secara teratur membacanya dan merenungkan perintah-perintahnya. Saudara-saudara siap mengamalkannya. Berusaha untuknya. Di sebagian tempat Allah Ta’ala memberikan perintah-Nya, laksanakanlah perintah-perintah-Nya itu. Sebagian tempat terdapat kebaikan-kebaikan yang diperintahkan untuk mengamalkannya yang dengan mengamalkannya ditemukan jalan petunjuk. Di sebagian tempat lain ada keburukan-keburukan, dikatakan kepadanya hindarilah! Kalian dapat berjalan di jalan-jalan itu, jalan yang akan sampai pada tingkatan tujuan dan tingkat tujuan seorang mu’min apa lagi selain mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala?

Langkah pertama yang telah Allah Ta’ala ciptakan untuk mendapatkan jalan-jalan petunjuk adalah iman bil ghaib (beriman kepada yang ghaib). Ini bukannya hal sepele. Iman bil ghaib inilah yang menciptakan timbulnya kemajuan dalam hal keimanan. Dan kemajuan dalam hal keimanan ini membawa kearah jalan-jalan petunjuk; yang adalah jalan-jalan bertemu dengan Allah. Jalan untuk memahami berbagai macam ajaran Allah Ta’ala. Jalan menambah ikatan dengan Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud as di satu tempat menjelaskannya demikian. Beliau bersabda,

“Dalam keadaan muttaqi dikarenakan belum sampai pada derajat-derajat  ru’ya Bari Ta’aala, mukalamaat dan mukaasyafaat (orang melihat Allah Ta’ala bercakap-cakap denganNya dan orang yang melihat kasyaf) oleh karena itu pertama-tama penting baginya beriman kepada yang ghaib. Dan itu pada umumnya adalah derajat  penderitaan keimanan karena beriman setelah melihat dengan latar belakang yang kuat yang letaknya diantara ragu dan yakin.” (yakni hal ini berada diantara keragu-raguan dan keyakinan)

Bersabda, “…Orang Muttaqi adalah yang beriman kepada Allah Ta’ala sebagaimana Allah Ta’ala berfirman يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ ‘yu-minuuna bil ghaib’ – “Orang-orang yang beriman kepada Yang Ghaib.” (Al-Baqarah, 2:4) Beliau as bersabda, “Hendaknya tidak menganggap ini sebagai tahapan yang rendah atau derajatnya kurang”. Kemudian beliau as bersabda, “Iman bil ghaib ini adalah keadaan pertama bagi orang muttaqi yang dalam pandangan Allah Ta’ala banyak nilai kebaikannya. Ada dalam Hadits bahwa Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat. Beliau saw bersabda, “Apakah kalian mengetahui siapakah yang keimanannya yang paling  tinggi?” Sahabat-sahabat menjawab, “Engkau, wahai Rasul Allah.” Beliau saw bersabda, “Bagaimana saya mendapatkan hal ini? Saya setiap hari melihat Jibril dan setiap saat melihat tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala.” Kemudian Sahabat menjawab, “Bagaimanakah keimanan kami?” Beliau bersabda, “Bagaimana keimanan kamu? Kamu juga melihat tanda-tanda Allah Ta’ala.” Akhirnya Rasulullah saw sendiri bersabda, “Akan ada orang-orang yang datang beberapa abad setelah saya keimanan mereka yang ajaib. Sebab, mereka tidak melihat tanda-tanda Ilahi seperti halnya yang kamu lihat namun mereka tetap beriman. Pendek kata, kalau Allah Ta’ala mewafatkan orang muttaqi itu di masa awal keimanannya maka ia akan dimasukkan kedalam golongan ini [para sahabat Nabi saw].” Bersabda, “Mereka belum pernah mendapatkan sedikit saja kelezatan dan kenikmatan itu.” (sesudah melihat tanda-tanda itu). “Akan tetapi kemudian ia memperlihatkan suatu kekuatan yaitu ia tidak hanya beriman kepada Allah Ta’ala bahkan ia meneguhkan keimanannya itu  dengan amal perbuatannya yaitu یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ Yuqiimuunash shalah’ – inilah amal mereka yaitu menegakkan shalat.” Bersabda, “Dalam keadaan bertaqwa ada perasaan was-was. Di dalam shalat-shalat mereka tercipta berbagai macam khayalan dan keraguan yang menggelisahkan. Walaupun demikian mereka tidak meninggalkan shalatnya dan tidak cape dan kalah. Sebagian orang ada juga yang demikian yaitu beberapa hari ia shalat dan dilalui dengan  keraguan, kekacauan dan kegelisahan pikiran.” (Mulai timbul pikiran buruk. Khayalan kotor mulai  melintas kemudian ia meninggalkan shalat dan mendapatkan kekalahan.) “Akan tetapi orang-orang muttaqi tidak kalah semangat, ia mendirikan shalatnya, shalatnya jatuh dan ia berulang-ulang mendirikannya. Dalam keadaan taqwa ada 2 zaman yang datang.  Pertama di zaman awal kedua di zaman terpilih. Sebab, datangnya zaman ujian adalah supaya kamu dapat mengenal sampai dimana tingkat derajat dan kelayakanmu dan akan menjadi nampak siapa yang beriman kepada Allah Ta’ala dengan benar. Oleh karena itu kadang kala kepadanya datang khayalan yang mengganggu dan keraguan yng menimbulkan kesedihan dalam hatinya. Kadang kala kepadanya mulai timbul keberatan dan pikiran buruk pada Dzat Allah Ta’ala. Orang yang shiddiq (lurus, benar) dalam keimanannya janganlah merasa takut dan gelisah dalam posisi ini. Bahkan, teruslah melangkah ke depan.” Bersabda, “Pekerjaan setan adalah kotor. Ia tidak akan rela sebelum membuat manusia mengingkari Dzat Allah Ta’ala dan tidak tunduk pada risalah Rasulullah Saw. Ia terus-menerus memasukkan perasaan was-was. Ratusan ribu orang sedang dibinasakan setelah mereka memasukkan dirinya kedalam perasaan was-was. Mereka (setan) berkata, “Sekarang laksanakanlah keburukan kemudian akan diperlihatkan akibatnya.” Walaupun manusia tidak mengetahui akan hal ini yaitu apakah besok masih bernapas ataukah tidak? (maksudnya perasaan was-was yang timbul didalam hati atau pikiran salah yang tercipta biarkanlah demikian kemudian, setelah itu akan diperbaiki). Bersabda, ”Akan tetapi setan demikian beraninya hingga ia berani memberikan harapan-harapan bohong dan memperlihatkan kebun hijau. Inilah pelajaran pertama Setan akan tetapi orang muttaqi itu sangat pemberani dan ia memberikan perlawanan kepadanya yaitu melawan segala macam perasaan was-was dari setan. Oleh karena itu dikatakan یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ Yuqiimuunash shalah’ berfirman, “Yakni, dalam derajat tersebut mereka tidak merasa hina dan letih dan sejak awal mereka tidak mengerjakannya tanpa uns (kelekatan, cinta), syauq dan dzauq dan tanpa memberikan hati kepadanya (kepada shalat). Mereka itulah yang juga tetap terus-menerus shalat dalam keadaan tidak diberikan kegembiraan dan tidak diberikan hati sehingga segala macam perasaan was-was dan pikiran kotor menjauh. Setan mendapatkan kekalahan dan orang-orang mu’min menjadi menang. Pendek kata zaman muttaqi bukan zamannya malas tetapi zaman terus-menerus tegak berdiri. Melawan kemalasan dengan jantan.” [8]

Maka di hari-hari ini kalau pada setiap orang sudah timbul  perhatian kepada shalat dengan karunia Allah Ta’ala masjid-masjid  juga penuh. Hendaknya ketika berperang dengan setan harus dengan kekuatan penuh. Kalau corak ini tercipta yakni dalam berperang dengan setan terus meminta pertolongan dari Allah Ta’ala. Terus mengangkat kaki kearah penciptaan ikatan yang kuat dengan Allah Ta’ala. Ketika ikatan dengan Allah Ta’ala bertambah kuat. Ketika usaha ini dikerjakan maka Dia akan memberikan bimbingan pada jalan-jalan semua petunjuknya yang telah Allah Ta’ala jelaskan didalam Al-Qur’anul Karim. Jalan-jalan petunjukNya itu akan nampak yang akan ditandai dengan cahaya bersamanya. Hendaknya diingat juga disini bahwa penekanan beriman kepada yang ghaib yaitu beriman kepada semua nubuwatan kabar-kabar ghaib yang dijelaskan oleh Allah Ta’ala didalam Al-Qur’anul Karim. Ketika perhatian ditujukan kepada shalat-shalat  juga akan nampak dalam pengamalan bersama beriman kepada yang ghaib. Yang mengenainya diingatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Yakni didirikannya shalat-shalat dan didalamnya diiringi dengan doa-doa untuk dihindarinya dari serangan setan. Kemudian doa-doa inipun akan terus berlangsung yaitu  Allah Ta’ala  terus tambahkan lagi keadaan kekuatan keimanan kepada yang ghaib kami dengan tanda-tanda keagunganNya. Dan inilah tuntutan keimanan kepada Allah Ta’ala dan  doa seorang mu’min kepada-Nya. Yaitu seperti halnya utusan Mu  telah Engkau utus  untuk  perbaikan dan petunjuk manusia sejak zaman dahulu dan juga sekarang.  Karena keadaan zaman menuntut akan hal ini  yaitu  memerlukan seorang utusan. Hal ini sesuai dengan nubuwatan di dalam Al-Qur’an: وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ‌ “Dan begitu pula kepada kaum lain yang belum pernah berhubungan dengan mereka.” (Al-Jumu’ah 62:4). Namun hendaknya janganlah ada kesalahpahaman di sini terhadap sabda Rasulullah saw bahwa keimanan kaum akharin yang tidak melihat berbagai Tanda kebenaran yang diperlihatkan langsung oleh beliau saw lebih tinggi. Melainkan, itu merujuk kepada masa kegelapan sebagaimana yang beliau saw sabdakan. Ya, ada Mujaddid-mujaddid di tempat-tempat yang kecil yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaanNya atau orang-orang itu yang setelah itu juga belum sampai amanat dari utusan yang  datang dari Allah Ta’ala. Mereka  ini kalau keadaan keimanannya berdiri teguh  maka orang inilah yang telah menjaga dengan baik keimannya pada yang ghaib. Kemudian setelah melihat tanda-tanda kebenarannya yang datang dari Allah Ta’ala dan menerimanya bahkan Hadhrat Masih Mau’ud as menulis, bahwa orang yang beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw mereka tidak meminta suatu tanda. Banyak sekali diantara mereka semua yang yakin akan keimanan kepada yang ghaib.” [9]

Dengan hanya melihat keadaan lahiriah beliau saw, mereka pun meyakini bahwa apapun yang beliau saw katakan adalah benar.  Kemudian bersamaan dengan kedatangan Masih dan Mahdi maka mulailah masa tanda-tanda. Juga terdapat nubuwatan akan dimulainya masa tanda-tanda dan dengan karunia Allah Ta’ala Jemaat Ahmadiyah sedang melihat tanda-tanda [kebenaran] itu. Dikarenakan iman bil ghaib (keimanan kepada Yang Gaib) maka tegaklah kita diatas keyakinan ini bahwa janji-janji dan nubuwatan-nubuwatan yang sampai sekarang belum terlihat; itu semua akan Allah sempurnakan, Insya Allah. Was-was setani tidak dapak menggoyahkan berdirinya kaki kita. Di zaman ini seluruh serangan setan dilancarkan untuk melemahkan keimanan para Ahmadi. Akan tetapi kita sekarang dalam keadaan ini yaitu bahwa ketika tanda-tanda sudah nampak berada di depan mata dan kalau ada suatu periode ujian maka ini pun sebelumnya sudah dinubuwatkan oleh Al-Qur’anul Karim. Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam Al-Qur’anul Karim. Ujian ini datang kepada jemaat-jemaat Ilahi dan Imam zaman ini telah mempersiapkannya untuk kita. Seperti telah saya katakan hendaknya kita berusaha dalam mengangkat karunia dari berkat-berkat Ramadhan. Karunia-karunia itu diperoleh dengan perantaraan doa-doa saudara-saudara. Shalat-shalat Saudara, dan hendaknya juga dengan kedekatan saudara pada Allah Ta’ala dan doa-doa kekuatan iman saudara. Hendaknya memohon pertolongan pada Allah Ta’ala dengan doa-doa untuk menyempurnakan janji saudara. Bulan ini juga adalah bulan bagi pengabulan doa-doa. Di dalamnya di bulan ramadhan kalau kita terus menerus memohon doa pada Allah Ta’ala untuk pemerintahan Al-Qur’anul Karim dan keagungan-Nya di seluruh dunia dan untuk berdiri tegak perintah-Nya. Maka sesungguhnya Allah Ta’ala akan mulai tampakan satu tanda silsilah dan zaman yang baru. Akan diperlihatkan kepada kita pemandangan ajaran Al-Qur’anul Karim dengan seluruh keagungan-Nya berdiri tegak dan kebatilan lari tunggang-langgang. Orang-orang akan mulai memperhatikan suara pencinta dan hamba sejati Imam zaman Hadhrat Saw dan utusan Allah Ta’ala. Dan sesuai dengan ajaran Al-Qur’an mengundang dunia kepada petunjuk dan kebenaran. Dewasa ini kalau ada orang yang berdiri untuk menjaga Qur’an dari Allah Ta’ala maka beliau adalah Masih Mau’ud. Jikalau dewasa ini ada suatu jemaat yang dapat memikul  pekerjaan  ini  dengan warna yang baik dan sedang diberikan maka itu adalah Jemaat Ahmadiyah. Yang untuknya kita perlu  siapkan persiapan yang lebih besar dari sebelumnya. Yang untuknya penting menciptakan kekuatan doa-doa kita. Kalau tidak mungkin kita akan lalai akan kewajiban-kewajiban kita. Atau mungkin kita akan menjadi orang-orang yang lalai. Maka adalah kewajiban bagi setiap orang Ahmadi berusaha seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya untuk menjadi gambaran bagi orang yang mengamalkan ajaran Al-Qur’anul Karim.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ada janji dalam Al-Qur’an asy-Syarif bahwa Allah Ta’ala akan menjaga agama Islam di waktu banyaknya fitnah dan bahaya seperti firman-Nyaاِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَه لَحٰـفِظُوْنَ “Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang akan menjaganya.” Dengan ini Tuhan menyatakan adanya 4 jenis janji perlindungan atas kalam-Nya itu.

Pertama, melalui para hafizh (penghapal) Al-Qur’an, mereka telah hafal lafaznya dan tertibnya dan pada setiap abad ribuan orang yang telah dilahirkan yang menjaga kalam suci-Nya didalam dada-dada mereka. Hafizh yang seperti ini; jika orang bertanya kepadanya satu ayat, mereka mengetahui bacaan selanjutnya, dimana letaknya, dan lain sebagainya. Inilah salah satu cara Allah Ta’ala melindungi Al-Qur’an dari campur tangan manusia pada setiap zaman.

Kedua, melalui perantara Imam-imam dan Ulama-ulama Orang-orang besar yang pada setiap abadnya dianugerahkan pemahaman Qur’an. Mereka yang dengan perantaraan hadist-hadist nabi setelah membuka tafsir keindahan Al-Qur’an asy-Syarif setiap zamannya menjaga arti terjemahan kalam suci Tuhan dan ajaran suci Nya.

Ketiga, melalui para Mutakalimin, yakni orang-orang yang diberi karunia kelebihan ilmu setelah memberikan penjelasan ajaran Qur’an dengan akal (sesuai dengan akal atau dengan dalil-dalil) menyelamatkan kalam suci Tuhan dari pemahaman yang salah para filosof yang tidak merenungkannya.

Keempat, adalah dengan perantaraan mereka yang mendapat nikmat rohani. Mereka yang berhasil mempertahankan Kalam Tuhan dari serangan ornag-orang yang mengingkarinya pada setiap zaman dengan berbagai Tanda-tanda mukjizat Ilahi yang nyata.”

Bersabda, “Maka nubuwatan kabar ghaib ini dengan segala  segi dan sebab menjadi sempurna pada  setiap zamannya. (Nubuwwatan Al-Qur’anul Karim  yaitu Akulah yang telah menurunkan Kitab ini dan Akulah yang akan menjaganya).” Bersabda, Dan di zaman ini yang serangan dari musuh-musuh semakin keras maka sesuai dengan itu,   sesuai dengan ghairah Allah Ta’ala dan perlindungannya telah menciptakan orang yang menjaganya. Namun, zaman sekarang ini dimana kita berada adalah suatu zaman yang didalamnya para penentang menyerang dengan berbagai jenis serangan dari berbagai penjuru. Ini  adalah hari yang satu tiupan angin topannya sangat keras  yaitu dimana sejak Al-Qur’an asy-Syarif disebarkan didunia, keadaan yang berbahaya seperti ini kapanpun tidak pernah dilihat dalam hari-hari Islam. Para penjahat yang buta menyerang  firman-firman Al-Qur’an asy-Syarif. Mereka mencoba dengan berbagai cara untuk menginterpolasi Al-Qur’an, melalui cetakannya, melalui terjemah ataupun tafsirnya yang salah. Orang-orang Kristen Ortodok dan sebagian orang duniawi dan orang-orang Muslim yang kurang pemahamannya menginginkan menukar arti Al-Qur’an asy-Syarif dengan alasan tafsir-tafsir dan terjemahan-terjemahannya yang salah. Dan menekankan akan hal ini yaitu banyak sekali di berbagai tempat dalam Al-Qur’an asy-Syarif dengan mempertentangkannya dengan berbagai ilmu sains, dengan hukum alam, dengan akal sehat, dan lain sebagainya. (sebagian masalah-masalah seperti sudah dibuktikan secara hukum alam dan ilmu sains bertentangan dengannya) Bersabda, ”Selanjutnya banyak doa yang bertentangan dengan penyelidikan atas kebenaran akal dan kemudian akan hal ini juga yaitu ajarannya mengajarkan cara-cara pemaksaan, kezaliman dan ketidakadilan. Kemudian banyak sekali hal-hal yang bertentangan dengan sifat-sifat Ilahiah dan peraturan alam dan faedah fitrah risalah dan banyak sekali diantara para Padri dan orang-orang Aria mengingkari sampai derajat yang paling rendah akan Mujizat-mujizat Nabi kita Hadhrat Muhammad saw, tanda-tanda keagungan Al-Qur’an asy-Syarif dan nubuwwatan-nubuwwatan. Dan setelah menarik dalam bentuk seperti ini pada Kalam Allah Ta’ala dan agama Islam dan nabi kita Hadhrat Muhammad Saw mereka  memperlihatkan kerja dengan kebencian seperti ini  yang dengannya setiap orang yang menuntut kebenaran dengan sendirinya akan membenci. Oleh karena itu zaman ini adalah zaman yang menginginkan orang yang diikuti. Yaitu seperti halnya air bah fitnah penentang  bangkit dengan keras untuk menyerang dari 4 arah. Demikan juga untuk mempertahankannya  dijaga dari 4 arah. Dan pada masa ini sudah dimulai abad 14. Oleh karena itu Allah Ta’ala  tepat di abad 14 seperti janji-Nya; اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَه لَحٰـفِظُوْنَ “Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula yang akan menjaganya.” Untuk mengadakan perbaikan Allah Ta’ala mengutus seorang Mujaddid. Akan tetapi karena setiap mujaddid di sisi Allah Ta’ala memiliki satu nama yang khas dan seperti halnya setiap manusia ketika menulis sebuah kitab  maka nama kitab itu diberikan sesuai dengan topik-topiknya. Demikian juga Allah Ta’ala menamakan mujaddidnya Masih sesuai dengan keadaan tanggungjawab pengkhidmatannya. Karena hal ini telah ditetapkan bahwa di akhir zaman Masih akan mendapat tanggung jawab untuk memperperbaiki umat manusia dari fitnah salib. Karenanya bagi orang yang kepadanya diberi tanggungjawab perbaikan maka penting baginya dinamakan Masih Mauud. Oleh karena itu pikirkanlah tanggung jawab yang telah diberikan yaitu يكسر الصليب Yaksirush shalib mematahkan salib. Apakah itu di zaman sekarang atau di zaman lain? Pikirkanlah semoga Allah Ta’ala memberikan derajat pemahaman kepadamu.” [10]

            Seperti sebelumnya saya jelaskan pada hari ini berbagai keberatan yang diajukan oleh kaum Kristen adalah keberatan lama yang Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan semua jawabannya seratus tahun yang lalu. Keberatan sekarang lebih mirip dengannya. Yaitu yang diajukan oleh Gereja. Dan seperti yang saya katakan, tak ada seorang pun yang sanggup melayani tantangan Hadhrat Masih Mau’ud as  itu. Tetapi sungguh malang, setelah melihat pekerjaan agung yang dikerjakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as yang sebagian peimpin-pemimpin Muslim yang memuji beliau as alih-alih bergabung bersama beliau – sebagaimana diamanatkan oleh kanjeng Muhammad Rasulullah Saw – dimana Hadhrat saw memerintahkan, sampaikanlah salamku ketika datang Masih Mau’ud (Isa yang akan datang). [11]

            Kebanyakan penentangan terhadap beliau as pada hakikatnya disebabkan penolakan beriman kepada yang ghaib. Bahkan, kini disebabkan penentangan mereka yang semakin menjadi-jadi dan ketidakadilan pemerintahan-pemerintahan terus berusaha menjalankan beragam warna kekerasan. Semoga Allah Ta’ala memberikan pencerahan aqli (akal) kepada orang-orang Muslim dan menjadi penolong beliau as setelah mendengar amanat beliau sebagai utusan dalam menjaga Qur’an dan pencinta Quran dan yang datang dari Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik pada kita sesuai dengan kemampuan kita masing-masing menjadi kekuatan penolong pahlawan Allah tersebut dan menjadikan kita penyebab penyebaran amanat Al-Qur’anul Karim  ke seluruh dunia.

Saya telah menyebut penentang-penentang Jemaat  maka hari ini diterima dua buah berita sangat menyedihkan atas kezaliman diatas kezaliman mereka. Di minggu ini di Provinsi Sind terjadi 2 pensyahidan. Satu di Karachi satu lagi di Sangghar. Orang ini tidak melihat, bahwa akibat dari kezalimannya apa yang akan Allah Ta’ala perlihatkan akan taqdir-Nya atas mereka. Mereka sendiri menyadari  dan ditulis dalam surat-surat kabar. Seorang penulis artikel menulis bahwa  disebabkan akan kesalahan-kesalahan kita Azab dari Allah Ta’ala sedang turun pada kita. Akan tetapi setelah mereka menetapkan sasaran yang salah dan melaksanakan cara yang salah. Demikian tertutupnya mata mereka hingga seseorang berkata kepada saya bahwa di satu tempat beberapa orang Mullah yang berfitrat buruk memberikan ceramahnya, “Kita tidak  berusaha dengan sungguh-sungguh menghabisi orang-orang Qadiani dari muka bumi sehingga azab turun pada kita.” إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillahi wa innaa ilahi raajiuunSesungguhnya kita adalah milik Allah dan kembali kepada-Nya. Insya Allah orang-orang Ahmadi akan lulus melalui ujian ini akan tetapi, “Wahai Mullah yang berfitrat buruk! Kalian tengah memberikan ajaran kezaliman atas nama Allah dan Rasul. Kalian yang tengah bermain-main dengan ajaran Al-Qur’anul Karim maka pasti Allah Ta’ala akan mengazab kalian.”

Ada sebagian orang menulis surat kepada saya, kapan saja saya mengingatkan kaum mullah seperti ini, keruan saja membuat mereka semakin berang dan akan berbuat sesuatu kepada saya. Namun, pendapat tersebut adalah salah paham dari orang-orang yang naif. Yang benar adalah, apakah saya mengatakan sesuatu kepada mereka, ataupun tidak, tetap saja kaum penentang tersebut mempunyai persekongkolan buruk terhadap kita di Pakistan, dan juga di tempat lainnya. Saya mengatakan apa yang harus saya katakan, sehingga boleh jadi orang-orang yang berfitrat baik mengambil faedah dari nasehat saya lalu mewaspadai keadaan bangsa mereka dari pengaruh buruk segelintir orang dari antara mereka. Pendek kata pekerjaan kita adalah bersabar, bersiteguh dan terus menerus berdoa hingga sampai pada puncaknya dan Insya allah kita akan terus menerus melaksanakanya. Semoga Allah Ta’ala membalikan segala keburukan para menentang dan setiap orang Ahmadi ada dalam penjagaan-Nya dan kita semua terus menerus menjadi pewaris nikmat-nikmat dari Allah Ta’ala.

Berita duka sehubungan dengan adanya dua orang Ahmadi yang disyahidkan itu, satu diantara mereka adalah Dr. Najmul Hasan Shahib dari Karachi. Pada tanggal 16 Agustus kurang lebih jam 11.30 malam untuk kembali dari kliniknya di Orang Town, ketika beliau duduk di mobilnya, seseorang yang tidak dikenal menembaki beliau. Beliau sempat dilarikan ke rumah sakit, namun tidak terselamatkan disebabkan menderita 13 luka tembakan di dadanya. إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillahi wainnaa ilahi raajiuun“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kembali kepada-Nya.”

Kakek moyang Dr. Najmul Hasan Syahid mempunyai pertalian dengan satu kota di Bihar (India) bernama kota Bhaghlpur. Di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as dari Bhaghlpur, Mukarram (yang terhormat) Tuan Mahmud Alim datang ke Qadian dan mendapat taufik baiat di sana. Dengan perantaraan beliau tumbuh Ahmadiyah di Bhaghlpur. Kakek dari tuan Dokter (Najmul Hasan) yaitu tuan Makhdum Hasan dan Yth. Maulwi Abdul Majid Bhaghlpuri masuk Ahmadiyah di era Khilafat Tsaniah. Pada tahun 1956 keluarganya hijrah dari Bhaghlpur datang ke Dhaka. Pada tahun 1971 ketika berdiri negara Bangladesh maka kedua orang tua dokter syahid berhijrah beberapa tahun tinggal di India dan Nepal. Kemudian pada tahun 1975 tinggal permanen di Karachi. Dokter  Najmul Hasan lahir pada tahun 1971 di Dhaka. Beliau mempunyai 7 orang saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan. Beliau nomor dua diantara suadara-saudarinya. Seluruh pendidikannya dilalui di Karachi.  Beliau mengambil gelar M.B.B.S di Sind Medical College. Juga mendapatkan gelar F.C.P.S. Beliau membuka praktek. Beliau juga adalah asisten profesor Dau Universitas bagian kesehatan anak-anak. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau ini adalah seorang Musi. Seperti hari-hari biasa beliau keluar dari kliniknya dan mulai menghidupkan mobilnya maka datanglah orang-orang yang tidak dikenal menembak beliau. Di dekat kliniknya ada toko Medical Store saudaranya yang setelah datang ia melihat bahwa Tn. Dokter telah bersimbah darah. Usia Tn. Dokter 39 tahun. Beliau adalah seorang yang memiliki perasaan tidak takut dan pemberani. Beberapa kali disarankan agar tempat prakteknya pindah ke tempat lain [yang lebih aman] beliau selalu menjawab, “Saya dibesarkan di sini. Adalah hak orang-orang di sini untuk mendapat pengkhidmatan saya maka biarlah saya mengkhidmati masyarakat di sini dengan klinik saya.” Beliau juga memberikan waktunya untuk camps [kamp pengkhidmatan] Khuddamul Ahmadiyah. Akan tetapi orang-orang [penentang] itu tidak ingin diberikan hak-hak [pengkhidmatan]nya. Mereka juga tidak menahan diri untuk menghabisi orang yang bermanfaat bagi manusia ini dengan kezaliman. Beliau kapan, dimana dan kepada siapapun tidak menutupi keahmadiyahannya. Mengenai musinya saya telah sampaikan akan tetapi dalam hal shalat beliau adalah orang yang mengerjakannya dengan khusyu’. Beliau pembayar dawam candah dan mengambil bagian dalam berbagai pengorbanan candah. Beliau meninggalkan seorang istri, dan anak perempuan Syafiah Umar Hasan berusia 5 tahun dan anak laki-laki Muhammad Hasan Umar berusia 2 tahun dan seorang anak peremuan Malihah Hasan 2,5 bulan. Dengan karunia Allah Ta’ala ketiganya ini masuk dalam gerakan Waqf-e-Noe.

Syahid lainnya adalah Mukarram Habibur Rahman sahib, yang berasal dari Sangghar. Ayahanda dari Tn. Habibur Rahman memiliki pertanian dengan Gujarat. Diantara sanak saudaranya salah seorang saudara kakeknya Tn. Hadhrat Dokter Rahmat Ali ra adalah orang pertama di dalam keluarga besarnya yang menerima kebenaran Islam Ahmadiyah. Setelah itu kakeknya Hadhrat Pir Barkat Ali juga baiat masuk dalam jemaat Ahmadiyah. Sebelumnya saudara kakeknya  sudah menjadi orang Ahmadi. Setelah itu kakeknya menjadi ahmadi. Setelah itu kedua saudaranya Hadhrat Pir Iftikhar Ali dan Hadhrat Hafiz Rosn Ali juga tahun 1901 setelah baiat masuk Ahmadiyah. Pada tahun 1912 kakek buyutnya membeli sebidang lahan di Sindh oleh karena itu mereka pindah ke Sindh.

Tn. Habibur Rahman lahir tahun 1950 di Sangghar. Beliau pendidikan Pertanian di Rabwah. Ketika beliau belajar di Rabwah, beliau belajar bersama saya. Orang yang periang ini selalu berusaha berada di dalam pergaulan orang-orang yang shalih.

Tn. Habibur Rahman syahid  pada tanggal 19 Agustus 2010 jam 09.30 sedang pergi dari rumahnya ke kebun pertanian. Di jalan ketika ketika mobilnya berjalan pelan di sebuah belokan, dua orang yang tidak dikenal bertopeng dengan mengendari sepeda motor setelah mendapat kesempatan menembaki beliau hingga syahid. إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillahi wainnaa ilahi raajiuun – Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kembali kepada-Nya.Pada tahun 1990 beliau pindah ke Amerika bersama dengan anak istrinya. Sebelum berangkat ke Amerika beliau adalah Qaid Majlis Khudamul Ahmadiyah Sangghar dan juga mendapat taufik sebagai sebagai Qaid wilayah Sangghar. Di jemaat juga mendapatkan taufik sebagai Sekretaris Maal. Di masa awalnya sebagai karyawan  dan sebagai seorang pekerja yang sangat baik. Dan beliau telah bekerja dan banyak membantu pengelolaan website Jemaat: alislam.org, terutama di Bidang Perekrutan Tenaga Waqaf. Ketika pada tahun 2006 adik beliau Dr. Mujibur Rahmaan disyahidkan, beliau pun pindah ke Sangghar, Pakistan agar dapat mengkhidmati ayahnya yang sudah tua. Setelah beberapa lama pindah tempat tinggal disana, setelah diberikan masukan pada beliau maka beliau  menikahi janda almarhum kakaknya yang di syahidkan. Karena beliau sendiri duda.  Disiplin dalam shalat.  Disiplin dalam pembayaran candah,  orang yang memiliki ikatan yang kuat dengan khilafat. Wujud yang mukhlis, penolong orang-orang miskin yang tertimpa duka. Bapaknya Yth. Tn. Pir Fazlul Rahmaan masih hidup. Usianya 91 tahun. Memiliki 4 orang suadara laki-laki dan 2 orang saudara perempuan. Istri pertama sudah saya katakan sudah wafat diantara anak-anaknya Anisur Rahman usianya 32 tahun.  Khamirah sahibah 23 tahun Aisyah Sahibah 28 tahun. Semua anak-anaknya berada di Amerika dan istrinya yang kedua yang adalah janda dari saudaranya Tn. Mujibur Rahman Syahid.  Anak-anaknya  I’zazul Rahmaan 13 tahun, ma’azur  Rahman 11 tahun, dan Masy’al Umar 7 tahun  ini masuk dalam keluarganya. Semoga Allah Ta’ala memberikan derajat yang tinggi pada beliau dan kepada keluarganya yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketawakkalan.

Ada lagi satu orang teman kita yang mukhlis yang akan saya sebutkan; namanya Musa Rustami Sahib, yang shalat jenazahnya saya pikir sudah dilaksanakan bersama dengan jenazah  Tn. Mushthafa Tsabit pada beberapa hari yang lalu. Dikarenakan beliau adalah seorang teman  yang sangat mukhlis. Oleh karena itu saya ingin supaya menyebutnya  di kesempatan ini. Beliau wafat pada 5 Agustus 2010. إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillahi wainnaa ilahi raajiuunSesungguhnya kita adalah milik Allah dan kembali kepada-Nya. Pada Jalsah Salanah di Kosovo tahun ini beliau sempat berpidato mengenai kisah abangnya yang pada tahun 1985 datang ke UK dan bermulaqat dengan Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Raabi rahimahullahu. Ketika saudaranya itu kembali pulang dan menyinggung kenangannya bagaimana ia mulaqat dengan Hudhur Anwar maka tuan Musa sangat terkesan. Selain itu, setelah melihat perubahan cepat pada diri saudaranya yang luar biasa maka mempunyai pengaruh yang  sangat dalam juga padanya. Setelah menyempurnakan sekolah tinggi dan berkhidmat di militer  beliau pergi ke Switzerland. Kurang lebih 4 tahun tinggal di sana. Beliau sendiri, “Kami sangat bergembira setelah berjumpa dengan orang-orang Ahmadi di sana.” Setelah itu untuk beberapa lama beliau tinggal di Holland (Belanda). Setelah pergi dari Holland beliau memutuskan akan mewaqafkan kehidupannya untuk jemaat. Baiatnya itu pada waktu sebelumnya setelah terkesan melihat saudaranya. Pertama kali mulaqat dengan Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Raabi rahimahullahu ta’ala di Holland dan dalam mulakat tersebut beliau menyinggung mengenai waqaf kehidupannya. Hudhur rahimahullahu ta’ala bersabda kepadanya untuk pergi [berkhidmat tabligh] di Albania. Pendek kata disebabkan beberapa hal beliau tidak dapat pergi ke sana. Baru pada tahun 2000 tuan Amir Jerman datang ke Holland dan berkata kepada beliau, “Carilah seseorang yang dapat pergi ke Kosovo.” Maka beliau menjawab, “Menurut pemikiran saya siapapun juga tidak bersedia pergi ke sana akan tetapi saya sendiri akan siap pergi ke sana.”  Pada bulan Mei tahun 2000 atas izin Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Raabi’ rahimahullahu ta’ala beliau jadi berangkat ke Kosovo. Sesampainya di Kosovo pertama kali beliau tinggal di Gjilan di rumah saudaranya. Di sana juga tinggal saudara perempuan bersama keluarganya. Setelah itu saudara perempuannya juga menjadi Ahmadi. Seperti itulah shalat Jumtat pertama dilakukan di rumah itu. Setelah itu pergi ke Prishtna. Beliau menjadi Ketua Jemaat Kosovo selama 10 tahun. Beliau terus berusaha memajukan jemaat dan bermanfaat untuknya. Sangat gemar dalam bertabligh. Menyampaikan kebenaran dalam berbagai bentuk warna. Mengerjakan pekerjaan jemaat dengan hati yang sangat ikhlas. Uang jemaat dibelanjakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam menyelesaikan kesempurnaan Mission House yang pertama pada setiap bagian pengeluarannya dihitung dengan teliti. Banyak sekali bagian-bagian bangunan yang diselesaikan dengan wiqari ‘amal (kerja bakti). Suatu ketika beliau mengetahui bahwa tunjangan hidupnya [dari Jemaat] ternyata lebih besar dari para mubaligh, maka tanpa bertanya dan berkata-kata beliau pun dengan sukarela menguranginya sambil berkata, “Bagaimana bisa terjadi tunjangan saya lebih besar dari pada tunjangan seorang mubaligh.” Meskipun tidak mempunyai mobil, beliau rajin menjalankan tugas Jemaat dengan bersepeda.  Setiap saat berpikir  bagaimana caranya menegakkan dasar tarbiyyat yang benar dan memberikan tarbiyyat pada mubayyiin baru. Beliau memperhatikan dan menjaga mubayyiin baru itu seperti keluarganya sendiri dalam memberikan tarbiyyat pada mereka. Berkat cara Tarbiyyatnya pula dengan karunia Allah Ta’ala sebagian besar anggota Jemaat Kosovo menjadi anggota Musi. Beliau termasuk orang cendikia (berilmu). Berperangai gembira, baik, dawam dalam shalat dan orang yang mengerjakan shalatnya dengan khusyudan khudhu’. Beliau sangat setia dan tulus kepada Khilafat. Dari pandangan matanya terlihat kecintaan mendalam kepada Khilafat. Biasa berjumpa dengan saya (Hudhur) setiap saya berada di Jalsah Salanah Jerman. Satu kali tahun lalu ketika bertemu dengan saya beliau berkata,  “Para penentang Jemaat di Kosovo yang adalah ulama-ulama Muslim; menanamkan [pendapat] di hati orang-orang Muslim, bahwa orang-orang Ahmadi tidak pergi Haji melainkan pergi ke Jalsah. Oleh karena itu sebagian orang tidak mau mendengar perkataan kita.” Maka saya berkata pada beliau, “Laksanakanlah ibadah Haji tahun ini!” Dengan karunia Allah Ta’ala tahun lalu beliau telah menunaikan ibadah Haji. Setelah itu berjumpa dengan saya  maka saya bertanya mungkin keraguan itu sekarang sudah menjauh. Beliau sangat gembira bahwa Allah Ta’ala memberikan taufik kepadanya untuk menunaikan ibadah Haji dan telah dipanggil dengan sebutan Haaji. Pendek kata usia beliau tidaklah terlalu panjang tiba-tiba disebabkan datangnya suatu penyakit yang membuat diri beliau wafat. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat-derajat almarhum; memperlakukan beliau dengan pengampunan dan kasih sayang; menganugerahkan kesabaran kepada keluarganya yang ditinggalkan; menjadikan mereka tetap berada dalam Ahmadiyah. Semoga Allah Ta’ala memberi kepada Jemaat Kosovo pribadi-pribadi yang lebih baik dari beliau dan yang seperti beliau; bahkan, menganugerahi [jemaat] di setiap negara dengan orang-orang yang ikhlas, peduli dan mengkhidmati jemaat-Nya dengan tanpa bersifat egois. [Aamin]

 (Setelah shalat Jumat, Hudhur atba memimpin shalat jenazah ghaib untuk kedua jenazah itu)

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ ‑ أُذْكُرُوا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih al-Bukhari Kitabu Fadhailil Qur’an bab kaana Jibril ya’rudhul qur-an

[3] Al-Hakam Jilid 6 nomor 36  tanggal 10 Oktober 1902 halaman 11

[4] Sunan Ibn Majah, Kitabush Shiyam, hadist nomor 1680

[5] Kitab Perjanjian Baru; Markus; 12:29-30

[6] Kitab Perjanjian Baru; Matius; 5:30

[7] Malfuuzhaat Jilid 4  halaman 140 edisi terbaru Rabwah

[8] al-Hakam, Jilid 6 tanggal 17 Febuari 1901 halaman 201

[9] Dikutip dari Malfuuzhaat, Jilid 2 halaman 644

[10] Ayyamush shulh, Rohani Khazain Jild 14 halaman 288,290

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal Jild 3 halaman 182 Musnad Abi Hurairah hadist nomor 5957, cetakan edisi Bairut 1996