بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 23 Fatah 1390 HS/Desember 2011

Di Mesjid Baitul Futuh, Morden, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

َ

            Setiap manusia yang lahir ke alam dunia ini pada suatu hari ia harus meninggalkannya kembali. Itulah hukum alam yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Di banyak tempat didalam Alquranul Karim juga Allah Ta’ala berfirman, كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ‘Kullu nafsin dzaaikatul maut’ – “Setiap jiwa pasti akan merasai maut.” (Surah Ali Imran, 3 : 186) Firman Allah Ta’ala ini telah mengingatkan manusia agar selalu ingat terhadap maut. Dengan demikian perhatian manusia akan selalu tercurah kepada Allah Ta’ala. Bahkan, Allah Ta’ala menerangkan bahwa hanya wujud-Nya sendiri yang kekal sedangkan setiap makhluk-Nya baik yang terdapat diatas muka bumi ini maupun yang berada di alam semesta bahkan yang berada di alam-alam semesta telah diberi kabar tentang kepunahan mereka semua. Maka jika hanya Zat Tuhan saja yang kekal dan Allah Ta’ala telah mengarahkan perhatian seorang mukmin akan pentingnya kehidupan di akhirat yang merupakan kehidupan hakiki dan kehidupan yang kekal. Disebabkan hidup dengan menjalani perintah-perintah Allah Ta’ala manusia menjadi pewaris nikmat-nikmat-Nya. Dan disebabkan membangkang terhadap perintah-Nya ia dapat menerima hukuman. Alangkah beruntung (bahagianya) nasib orang dari antara kita yang memprioritaskan dunia yang akan datang (akhirat) dibanding dunia ini dalam menjalani kehidupannya. Ia berusaha untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Ia selalu berusaha menggunakan sebagian besar kehidupannya untuk membuat Haqiqi Dildaar (Kekasih hati yang Hakiki, Tuhan) itu selalu ridha kepadanya atau ia selalu menempatkan dirinya dalam setiap langkah perbuatannya agar Sang Kekasih hatinya ridha kepadanya. Ia mendahulukan urusan agama dari kepentingan dunia dan untuk itu ia selalu siap mengorbankan setiap harta apapun yang ia miliki. Ia berbuat demikian sampai pada batas ia melihat bahwa selain mengkhidmati agama tidak ada lagi yang dapat menarik perhatiannya. Ia tidak memandang sesuatu lebih penting dari pada urusan agama. Ia memenuhi hak-hak orang lain sebab ia merasa hal itu juga perintah Allah Ta’ala, “Penuhilah hak-hak hamba Allah Ta’ala karena ini bagian dari agama juga!” Ia menunaikan kewajibannya itu demi meraih keridhaan Allah Ta’ala dan untuk menjalankan kewajibannya itu ia tidak menghiraukan penghalang-penghalang yang akan merintangi pekerjaannya itu. Di hadapannya semua kesulitan, kemudahan, kesempitan, kelapangan, dalam keadaan sakit maupun sehat, tidak ada artinya sedikitpun, hanya satu yang ditargetkannya, “Apa yang telah aku janjikan kepada Allah Ta’ala aku harus dapat menyempurnakannya. Apapun amanah yang dipercayakan kepadaku aku harus berusaha untuk melaksanakan dengan sebaik-baiknya.” Orang seperti ini termasuk kelompok orang-orang yang telah difirmankan Tuhan dalam Alqur’anul Karim,  وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاةِ اللهِ

‘wa minan naasi may yasyrii nafsahu btighaa-a mardhaatillaah’ – “Dan diantara manusia ada yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah, dan Allah Maha Penyantun terhadap hamab-hamba-Nya (Surah Al-Baqarah, 2 : 208) Dari air muka mereka nampak jiwanya tenang dan mantap, seakan-akan ia menjadi gambar dari nafsu mutmainnah.

            Beberapa hari yang lalu seorang terhormat kita yang menyandang semua sifat-sifat tersebut diatas telah berpulang kerahmat Allah Ta’ala. Yang sungguh merupakan aset besar dan agung bagi Jemaat, yang bernama Sayyid Abdul Hayyi Shahib.

 إنا لله وإنا إليه راجعون ‘Inna lillaahi wa inna ilaihi raajiu’un’ – “Sesungguhnya kita semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.” Semoga Allah Ta’ala memberi tempat kepada beliau bersama orang-orang yang dikasihi-Nya. Semoga Allah Ta’ala semata-mata dengan karunia-Nya menutupi kehilangan aset Jemaat yang sangat besar ini. Semoga Dia menciptakan penggantinya dengan jumlah yang tidak terhitung banyaknya supaya Kafilah Silsilah Ahmadiyah ini senantiasa berjalan dengan laju cepat sampai kepada titik akhir tujuannya.

            Pada saat ini saya akan menguraikan sejumlah kebaikan-kebaikan Muhtaram Sayyid Abdul Hayyi Shahib. Mukarram Shah Sahib lahir pada 12 Januari 1932 di Kril, daerah Atatnag, Kashmir. Ketika sudah dewasa dari sana beliau datang ke Qadian dan dari sanalah beliau datang ke Pakistan waktu terjadi ‘partition’  atau pembagian Negara Hindustan atau India dan Pakistan [pada 1947 oleh pemerintah Inggris]. Sedangkan ibunda beliau tetap tinggal di Kashmir. Setelah empat puluh tahun berpisah beliau dapat bertemu kembali dengan ibunda beliau. Selama empat puluh tahun beliau berpisah dengan ibunda beliau demi menjalankan kewajiban terhadap agama.[2]

Ringkasan riwayat hidup beliau adalah demikian, kakek beliau Muhtaram Sayyid Muhammad Hussein Shah Sahib adalah salah satu keluarga Sayyid Gailani berasal dari Mahallah Khanyar Srinagar, Kashmir. [3] Disebabkan perselisihan paham tentang agama keluarga ini meninggalkan tempat kelahiran leluhur beliau dan bermukim di daerah Narwad. Seorang anak beliau bernama Sayyid Abdul Manan Shah Shahib telah baiat masuk Jemaat Ahmadiyah diwaktu umur masih muda, bahkan diwaktu masih kanak-kanak beliau masuk Ahmadiyah. Beliau telah mengorbankan kedudukan sebagai murid Pir demi Ahmadiyah. Beliau menjalani kehidupan sangat sederhana, sangat merendahkan diri dan lemah lembut sekali. [4]

            Di dalam Tarikh Ahmadiyah Jammu dan Kashmir tertulis tentang Muhtaram Sayyid Abdul Hayyi Shah Shahib, ”Mukarram Sayyid Abdul Hayyi Shahid Shahid datang ke Qadian pada tahun 1941 dan pada tahun 1945 beliau mewaqafkan diri untuk Islam dengan masuk Madrasah Ahmadiyah Qadian. Pada tahun 1949 setelah pembagian negara beliau masuk kembali Jamiah Ahmadiyah di Ahmad Nagar Distrik Jhang, Pakistan. Pada tahun 1953 beliau dinyatakan lulus di Punjab University Lahore dengan rangking 1 dengan gelar Maulvi Fadil (HA). Pada tahun 1955 beliau lulus dengan gelar Shahid dari Jami’tul Mubashirin. Setelah itu beliau lulus ujian bahasa Arab dengan gelar MA.” [5]

            Beliau mengerjakan tugas dengan penuh ketelitian dan penyelidikan. Beliau berkhidmat di Khuddamul Ahmadiyah dalam waktu yang cukup lama. Pernah menjadi Editor Majalah bulanan Ansarullah dan Majalah Jamia selama 2 atau 3 tahun. Selama 12 atau 13 tahun bertugas di Printer Khalid Tasyhidzul Azhan. Menjadi Manajer dan Printer Ziaul Islam Press. Menjabat Managing Director Al Shirkatul Islamiyah untuk beberapa lama. Sadr Board (pemimpin Redaksi) Al Fazal  dan pernah menjadi Managing Director MTA Pakistan, Direktor Fadhli Umar Faundation dan Tahir Foundation dan beliau menjadi Nazir Isha’at dan pernah menjadi anggota beberapa komite dalam Jemaat. Pernah bertugas sebagai pejabat Nazir A’la dan Amir Maqami. Beliau mendapat taufik untuk mengoreksi Terjemahan Alqur’an dalam Bahasa Kashmir, Sebagai Nazir Isha’at beliau mempersiapkan dan mengawasi pelaksanaan penerbitan buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as Ruhani Khazain dengan menggunakan komputer yang modern dan canggih, membuat indeks berbagai jenis buku dan menyusun naskah perkenalannya. Beliau banyak melakukan pengkhidmatan berkenaan Terjemahan Alqur’anul Karim karya Hadhrat Khalifatul Masih lV rahimahulloohu ta’ala ‘anhu. Beliau berusaha keras membantu menghimpun ceramah Hadhrat Khalifatul Masih lV rha mengenai Homeopathy dan menyusunnya berupa buku.

            Beliau sangat broad minded (berwawasan pikiran sangat luas) namun sangat sederhana dalam cara hidup beliau, berjiwa mulia, memahami berbagai masalah, bertabiat penyantun, peneliti, sedikit bicara dan berbicara seperlunya dengan sangat hati-hati sekali. Dengan latar belakang ilmu pengetahuan sangat luas beliau mengadakan research berbagai masalah kemudian memberi saran-saran yang sangat bermanfa’at. Melakukan penyelidikan dan pemeriksaan dengan sempurna karangan-karangan berupa ilmiah yang diterima dari Imam e Waqt dan berusaha menyelesaikannya dalam waktu yang sesingkat mungkin. Persiapan dan penyusunan buku-buku sampai ke tingkat penerbitannya selalu memberi bimbingan dan pengawasan terhadap para petugas bawahan beliau, sambil memberi saran-saran yang sangat penting dan mengesankan. Demikianlah pekerjaan-pekerjaan yang beliau laksanakan.

            Beliau juga adalah Nazir Isha’at. Nazarat Isha’at sangat memerlukan seorang pakar (tenaga ahli) yang berpengalaman seperti beliau tentang printing apparatus dan harus memiliki banyak pengetahuan tentang penggunaan mesin-mesin seperti yang dilakukan pada penerbitan dan printing Al Fadhal dan majalah-majalah lainnya. Beliau sangat mahir dalam melakukan checking kertas yang digunakan untuk percetakan, setiap mesin yang dipergunakan di dalam printing press, jenis-jenisnya, pengetahuan tentang teknisnya dan sebagainya beliau sangat menguasai seluruhnya. Demikian juga dalam pencetakan buku-buku atau pencetakan surat-surat kabar beliau memberi bimbingan dengan sangat ketat sekali. [6]

            Didalam Surat kabar Al Fadhal telah dimuat suatu berita tentang Muhtaram Sayyid Abdul Hayyi Shah Sahib bahwa beliau telah berniat untuk mewaqafkan kehidupan beliau (waqaf zindegi) pada bulan April tahun 1945 akan tetapi formulir (formulir) waqaf zindegi tidak beliau isi, baru pada tanggal 11 November 1950 formulir itu beliau isi. Sebelumnya telah saya sampaikan bahwa setelah beliau berhasil menuntut ilmu sampai middle (menengah) kemudian beliau masuk Jamiah Ahmadiya. Di waktu belajar di Jamiah beliau mengikuti ujian Matriculation di Universitas dan lulus dengan posisi ke-4. Dan dengan karunia Allah Ta’ala beliau setiap tahun di Jamiah Ahmadiyya memperoleh prestasi rangking 1. Demikian juga dalam ujian Maulvi Fadil beliau memperoleh posisi 1 di seluruh provinsi.

            Pada bulan Februari 1956 mulai pengangkatan beliau yang pertama kali sebagai karyawan Jemaat dan beliau melakukan pengkhidmatan di berbagai bidang. Pada tanggal 29 Juni 1982 beliau diangkat sebagai Nazir Isha’at oleh Hadhrat Khalifatul Masih lV rha. Beliau mendapat peluang sangat baik sekali untuk membantu menyediakan referensi bagi Darsul Qur’an Hadhrat Khalifatul masih lV rha yang penuh dengan rahasia ilmu pengetahuan. Setiap hari sampai pukul 03.00 pagi duduk bersama tim beliau menyelesaikan tugas ini. Dan beliau tidak istirahat dengan tenang sebelum menyelesaikan semua pekerjaan dan mengirimkannya melalui faks ke London. Beliau membantu referensi ilmu pengetahuan untuk khutbah-khutbah dan juga yang lainnya. Terjemahan Kitab Suci Alqur’an karya Hadhrat Khalifatul Masih lV rha dan untuk penyusunan Buku Homeopathy juga beliau bersama tim telah menyelesaikannya dengan cara yang sebaik-baiknya. Di bawah program terjemahan Alqur’an dalam berbagai bahasa, terjemahan Alqur’an dalam bahasa Punjabi, Shindi, Pushto dan Saraiki, beliau mendapat taufik untuk merampungkan dan menerbitkan semuanya itu. [7]

            Hadhrat Khalifatul Masih lV ra menyatakan penilaian yang baik atas segala karya beliau itu dalam Khutbah Jum’ah tanggal 26 Setember 1997 beliau bersabda, “Saya menyaksikan sendiri kelebihan Sayyid Abdul Hayyi Shah Sahib, bila saja dijelaskan kepada beliau suatu perkara tertentu, sekalipun beliau sendiri tidak memiliki ilmu pengetahuan tentang itu, beliau sendiri langsung mencari orang yang memiliki ilmu pengetahuan tentang itu, dan bila saja saya memberi arahan tentang sebuah buku beliau tidak pernah gagal mempersiapkan buku yang dimaksudkan itu. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau memiliki firasat yang sangat dalam dan tajam. Beliau melakukan penelitian segala sesuatu dengan pandangan yang sangat halus dan sangat dalam sekali.” [8]

            Pada tahun 2008 saya katakan kepada beliau agar Ruhani Khazain (kumpulan karya tulis Hadhrat Pendiri Jemaat) harus diterbitkan secara computerized (sistim atau format komputer bukan hanya format kertas cetakan biasa, tradisional). Maka tugas ini beliau laksanakan dengan semangat dan giat sekali. Ruhani Khazain yang telah dicetak dengan computerized yang sangat indah, beliau berusaha mencetak halaman-halamannya itu sesuai betul dengan nomor-nomor halaman aslinya agar di masa yang akan datang para pencari referensi mendapat kemudahan. Selain dari itu kebanyakan tajuk-tajuk pembicaraan Hadhrat Masih Mau’ud as dan qasidah-qasidah berbahasa Arab dan yang lainnya yang sebelumnya tidak dicantumkan disebabkan alasan-alasan tertentu, sekarang telah dicantumkan dengan rapi.

            Terjemah Alquranul Karim dalam Bahasa Urdu karya Hadhrat Khalifatul Masih lV rha yang sudah diterbitkan, di halaman awal beliau uraikan pernyataan syukur dan terima kasih,

            “Terjemahan Alqur’anul Karim yang dipersembahkan ini, untuk mempersiapkannya saya bersama sebuah tim para ulama Jemaat di London dan bersama-sama bekerja terus-menerus. Demikian juga sebuah tim kumpulan ulama silsilah markazi di Rabwah yang dipimpin oleh Muhtaram Sayyid Abdul Hayyi Shah Sahib (Nazir Ishaat) mengadakan pemeriksaan terus-menerus dengan cermat dan menolong saya dengan menyampaikan pendapat-pendapat dan saran-saran yang sangat berharga. Jika tidak ada bantuan dari mereka ini tidak mungkin bagi saya untuk melaksanakannya  sendirian.” [9]

            Dalam sebuah surat, Hadhrat Khalifatul Masih lV rha telah menulis pada tahun 1997 kepada Shah Sahib menyebut-nyebut mengenai penerbitan buku Mahzharnaamah yang disampaikan dalam rapat National Asembly (Majelis Nasional Pakistan),

            “Buku Mahzharnaamah sudah diterbitkan dengan sangat baik. Saya sangat gembira sekali. Masya Allah tuan sudah bekerja dengan rajin serta sangat trampil sekali untuk itu.” [10]

            Sesudah itu dalam sebuah surat Hadhrat Khalifatul Masih IV rha kepada Shah Sahib, beliau rha menulis,

            “Kiriman laporan tuan (10-5-93/file nomor 562) sudah saya terima. Masya Allah tuan sedang bekerja semangat sekali dan sangat produktif. Dengan karunia Allah Ta’ala tuan satu-satunya Nazir yang tidak pernah perlu menerima teguran. Jazakumullah ahsanal jaza. Allahumma zid wa baarik. [11]

            Allah Ta’ala telah memberinya taufik untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besar. Dengan menerima ucapan-ucapan penghargaan yang sangat baik itu Shah Sahib semakin merendahkan diri dan semakin giat menunaikan penghkhidmatan beliau terhadap Jemaat. Tidak terjadi bahwa setelah mendapat pujian malah pekerjaan berkurang.

            Di zaman Hadhrat Khalifatul Masih lV rha Malfuzhaat (sabda-sabda) Hadhrat Masih Mau’ud as yang terdiri dari 10 jilid di Pakistan telah dirubah menjadi 5 jilid oleh Shah Sahib (dirubah jumlah penjilidannya bukan dirubah isinya, Red). Semua referensi ayat-ayat Alqur’an dalam semua jilid (volume) itu telah dituliskan. Sesuai keperluan tajuk-tajuk baru telah disusun, demi memudahkan para pembaca telah disusun Indeks tentang tajuk-tajuk (judul-judul), referensi ayat-ayat, nama-nama tokoh tertentu dan nama-nama tempat. Akan tetapi ketika Shah Sahib datang di London untuk Jalsah tahun ini saya katakan kepada beliau bahwa dari pada mencetak menjadi 5 Jilid (volume) lebih baik kembalikan kepada bentuk asal yaitu menjadi 10 jilid lagi dan jika dicetak di sana akan lebih baik bagi Jemaat. Beliau tidak segera memberi jawaban dan beliau tidak berkata apa-apa, yang mungkin beliau pikir dalam hati, baru saja kami menyusun dalam lima buah jilid dan kami telah membuat Indeks, merubah kembali kepada keadaan asal mungkin mengalami kesulitan. Namun tanpa pikir panjang beliau segera memberi jawaban, ”Baiklah kami akan menyusun kembali 10 jilid seperti bentuk asal.’’ Sebetulnya dalam bentuk jilid kecil-kecil orang-orang akan merasa mudah menelaah Malfuzat dari jilid ke jilid, yang semata-mata mengandung nasihat-nasihat Hadhrat Masih Mau’ud as itu. Dalam perjalanan pun orang-orang akan mudah membawanya kemudian sambil duduk atau berbaring mereka dapat menelaahnya. Menurut pendapat saya dalam bentuk jilid yang kecil-kecil akan lebih banyak memberi faedah kepada para peminat untuk membaca dan lebih memudahkan membawanya dibanding dengan jilid-jilid yang besar. Alhasil, beliau segera mulai mengerjakannya.

            Demikian juga Tafsir Kabir Hadhrat Khalifatul Masih II ra yang mengandung banyak sekali khazanah ilmu pengetahuan terdiri dari beberapa jilid (volume) dan sudah lama tidak dapat diperoleh lagi. Hal itu juga yang telah dicetak dalam bentuk 10 jilid, dan demi kemudahan para pembaca beliau telah membuat indeks yang sangat komprehensif untuk semua jilid, mengandung nama-nama, nama-nama tempat sesuai dengan petanya, mengenai lughat dan lain-lain secara sempurna telah disusun.

Beliau mendapat karunia untuk menjadi anggota berbagai macam komite, panel musyawarah seksi Tarikh Ahmadiyah, Majlis Ifta (majlis fatwa), komite Khilafat Library (perpustakaan Khilafat), komite perencanaan, komite pemeliharaan kaset Audio dan Video, komite pemeliharaan tabarrukaat, komite Sad Salah Jubilee dan beliau juga pernah mendapat kehormatan menjadi tahanan penjara karena Allah Ta’ala.

            Sayyid Abdul Hayyi Shah Sahib dalam mengenang peristiwa pertemuan pertama dengan Hadhrat Khalifatul Masih III rahimahullahu ta’ala berkata, ”Saya ingat betul bagaimana jati diri beliau yang anggun dan luhur sebagai Khalifah ketika akan menyerahkan tugas penting kepada saya. Pertama kali saya berjumpa beliau dalam keadaan tangan saya gemetar tak terkuasai, Hudhur dengan suara lembut dan lembut bersabda kepada saya, ‘Engkau tak perlu gugup, pahamilah tugas-tugas yang saya serahkan kepada engkau dan kerjakanlah dengan giat dan penuh semangat.’ Kemudian beliau memegang tangan saya sehingga keadaan saya menjadi tegar. Hudhur rha tidak cepat menaruh kepercayaan terhadap seseorang, namun apabila beliau sudah percaya betul kepada seseorang, beliau menaruh sangat cinta-kasih kepadanya dan memberi bimbingan dengan penuh kasih-sayang serta penuh maaf kepadanya.” [12]

Beliau (Sayyid Abdul Hayyi Shah Sahib) menulis, ”Dalam sebuah rangkaian pengadilan menghasilkan keluarnya surat penahanan diri saya.” (di Pakistan sering terjadi keluarnya surat perintah penangkapan kepada editor, printer dan pengurus surat kabar dan kepada beliau pun dikeluarkan surat ini) Ketika Hadhrat Khalifatul Masih III rha mengetahui ini. Beliau memanggilnya begitu juga para wakil (pengurus Tahrik Jadid). Rapat diadakan.  Setelah itu beliau menulis, ”Setelah itu kami berpamitan keluar, tatkala belum lama kami keluar, Hudhur (III rha) mengutus salah seorang putranya untuk menyampaikan pesan, ‘Sampaikan kepada Abdul Hayyi, jangan takut, untuk persoalan ini saya mendoakan engkau.’’’ [13]

Lalu berdasarkan rujukan kisah salah satu putra beliau rha ini, ketika putra beliau ini kembali kepada Hudhur rha setelah menyampaikan pesan itu, ”Hudhur rha memanggil saya dan bersabda, ‘Lihatlah! Shah Shahib dan kawan-kawan baru saja pergi dari sini. Mereka pergi ke Lahore atau Islamabad untuk suatu kasus. Pun, mereka belum pergi. Setelah mereka berangkat katakanlah, ”Baru saja setelah pamit ketika saya dalam keadaan sendu, sedih berdoa Allah Ta’ala menurunkan ilham kepada saya dengan firman-Nya, ‘Kabhi zaa-i’ nehi karta woh apne neik bandong ko’ – ”Dia (Tuhan) tidak menyia-nyiakan terhadap hamba-Nya yang baik”.’” [14]

Oleh sebab itu janganlah ia merasa susah hati. Maka beberapa hari kemudian (setelah menghadapi tuntutan yang sangat berbahaya dan sangat keras itu) semua perkara selesai. Jadi, apa yang Allah Ta’ala telah beritahukan dengan ilham kepada Hadhrat Khalifatul Masih III rha tentang Muhtaram Shah Sahib menunjukkan bahwa di pandangan Allah Ta’ala Shah Sahib termasuk orang-orang yang baik dan saleh, yang berada dibawah perlindungan Allah Ta’ala. Akan tetapi, di waktu lain setelah itu kepada beliau dikenakan sebuah kasus dan beliau juga mendapat karunia dari Allah Ta’ala sebagai Asiir Rahe Maula (orang yang ditahan di jalan Allah, Sang Maula, Pelindung).

Yang menjadi sebab tuntutan pengadilan terhadap Shah Sahib, kemudian beliau ditahan dan dipenjarakan adalah mengenai sebuah pamflet yang mengandung sebuah syair Hadhrat Masih Mau’ud as yang dianggap pelanggaran oleh pengadilan itu yaitu, ‘Yehi he panjatan jin par bana he’. Pamflet itu dicetak atas pesanan dari Lajnah Immaillah. Tatkala diterbitkan maka sekretaris Lajnah, katib Muhammad Arshad Sahib dan Sayyid Abdul Hayyi Shah Sahib diajukan ke pengadilan (dituntut) dan Sayyid Abdul Hayyi Shah Sahib dan Muhammad Arshad Sahib ditahan beberapa hari lamanya lalu persidangan berjalan beberapa bulan lamanya.  [15]

Seorang Murabbi menulis, ”Shah Sahib menceritakan, ‘Pada permulaan pengkhidmatan, sangat sedikit sekali para Waqif Zindegi mendapat allowance (tunjangan keuangan) setiap bulan, sehingga sulit sekali menjalani kehidupan. Suatu ketika mertua saya berkata kepada saya, ‘Engkau telah berpendidikan tinggi di bidang keduniawian oleh sebab itu carilah kehidupan di sektor duniawi, mengapa engkau tidak berbuat demikian?’ Saya katakan kepada mertua saya, ‘Saya telah membuat dua macam perjanjian, pertama saya akan mengawini putri tuan, yang kedua saya akan mewaqafkan kehidupan saya kepada Allah Ta’ala. Sekarang boleh tuan beritahu kepada saya, janji yang mana yang harus saya tinggalkan?’ Tidak lama setelah itu saya berkata lagi kepada beliau, ‘Jika saya penuhi janji yang pertama, apakah saya harus mengingkari janji yang kedua?’ Mendengar pertanyaan itu mertua saya diam tak berbicara lagi. Setelah itu beliau tidak pernah bicara lagi tentang kehidupan saya itu.” Shah Sahib mengatakan, “Setelah itu dengan karunia Allah Ta’ala sepanjang kehidupan Allah Ta’ala menurunkan anugerah-Nya kepada saya tanpa perhitungan.” Sebuah fitrat orang saleh dari antara para leluhur juga nampaknya bahwa mertua beliau yang untuk sementara cenderung memikirkan kehidupan duniawi Shah Sahib sesuai dengan keperluan manusia pada umumnya, namun ketika mendengar jawaban dari beliau, mertua beliau diam tidak pernah berbicara lagi, sebab tidak mungkin seorang Ahmadi berani mengingkari janji dengan Allah Ta’ala. Dan beliau mengetahui bagaimana teguhnya tawakkal Shah Sahib kepada Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala telah menganugerahkan kemantapan ruh tawakkal dan penyempurnaan janji yang teguh kepada Mukarram Shah Sahib, sehingga beliau tidak pernah mengalami kesempitan dalam kehidupan beliau.

Beliau berlaku sangat baik kepada para karyawan yang bekerja dibawah beliau dan menghargai perasaan mereka. Seorang akuntan berkata, “Saya bekerja dengan Shah Sahib selama 15 tahun tidak pernah menyaksikan kemarahan Shah Sahib yang sangat keras kecuali hanya satu kali ketika terjadi salah paham kami memberikan buku-buku ke sebuah kantor tanpa memberitahu Shah Sahib. Ketika seorang kerabat kerja melaporkan hal itu kepada Shah Sahib, beliau sangat marah sekali. Dan disebabkan kemarahan beliau itu saya tidak masuk ke dalam kantor beliau selama dua hari. Dua hari kemudian beliau memanggil saya dan beliau bermuka senyum sambil memberikan sekotak biskuit kepada saya yang terletak diatas meja beliau.”

Seorang lagi karyawan beliau Muhammad Iqbal Sahib menulis katanya, “Saya bekerja selama 20 tahun dengan Shah Sahib dan beliau memperlakukan kami seperti seorang ayah terhadap anak-anaknya. Perlakuan beliau terhadap semua karyawan sangat baik dan ramah dan sifat beliau betul-betul seperti seorang darweisy, lemah lembut dan merendahkan diri. Jika beliau menolong seorang karyawan beliau menjaga agar orang lain tidak mengetahuinya. Demikian juga apabila beliau menyuruh orang lain untuk mengerjakan urusan pribadi beliau, maka beliau penuhi hak orang itu. Apabila ada perkawinan anak salah seorang karyawan, sedapat mungkin beliau berusaha membantunya. Selain dari itu beliau banyak sekali membantu orang-orang yang tidak mampu.”

Mengenai luasnya ilmu pengetahuan beliau Abdul Majid Amir Sahib, Arabic Desk mengatakan, “Semenjak saya memulai terjemahan Ruhani Khazain ke dalam Bahasa Arab saya selalu menjalin hubungan dengan beliau. Saya sering memerlukan bimbingan dan petunjuk dari beliau apabila saya menghadapi perkara-perkara yang sulit. Mukarram Shah Sahib setiap waktu membantu dan membimbing saya secara ilmiyah dengan sungguh-sungguh. Apabila saya bertanya tentang sesuatu beliau selalu meberi jawaban yang sangat tepat dan disertai argumentasi yang jelas dan memuaskan. Setiap pertanyaan dijawab dengan tepat dan detul-betul mencakup setiap aspek pertanyaan disertai perangai kasih sayang dan dipenuhi akhlak yang menyenangkan hati. Apabila saya mengajukan suatu usul maka beliau menerimanya dengan hati terbuka. Kebaikan beliau ini terhadap saya terus berjalan sampai akhir hayat beliau.“

Mubashir Ayyaaz Sahib menulis, “Untuk membagikan hadiah-hadiah pada perlombaan tahunan olah raga Jamiah Ahmadiyah biasa mengundang para tokoh Jemaat. Pada suatu ketika para tokoh Jemaat diundang dan pada waktu para tokoh Jemaat itu diperkenalkan oleh Principal Jamiah Ahmadiyah berkata, ‘Orang-orang yang bekerja mempunyai bermacam-macam cara, diantaranya ada yang satu tangan bekerja dan dengan tangan yang satu lagi ia bertepuk tangan, yakni ia membuat karyanya menjadi masyhur sambil berkata kesana-kemari ia telah mengerjakan ini dan itu. Ada yang bekerja sambil bertepuk tangan dengan kedua belah tangannya. Namun ia sedikit-pun tidak bekerja. Ia banyak  bicara kesana kemari sambil melakukan propaganda. Ada orang yang bekerja dengan kedua belah tangannya dan ia tidak menghendaki orang lain melihat apa yang telah dikerjakannya atau memujinya. Pada hari ini ada seorang Khadim Silsilah tamu terhormat seperti itu di tengah-tengah kita, yaitu Mukarram Sayyid Abdul Hayyi Shah Sahib.’”

Apa yang dikatakan ini sungguh benar. Saya lihat sendiri beliau secara diam-diam melakukan pekerjaan. Beliau sedang sakit, kakipun bengkak-bengkak, suatu hari saya tanya juga kepada beliau, “Apakah kaki anda yang bengkak itu tidak terasa sakit?” Beliau jawab, “Kadang-kadang saya tidak merasakan apa-apa karena sibuk dengan pekerjaan, saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada diri saya.” Saya selalu melihat di dalam pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh Anjuman beliau sangat pendiam tidak banyak bicara. Akan tetapi apabila beliau berbicara sangat jelas, argumentasi kuat dan luas wawasan.

Kemudian Mubashir Ayyaz Sahib menulis, “Apabila saya mendapat kesempatan duduk dekat dengan beliau dan mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai naib (wakil, pembantu) beliau, maka saya jumpai beliau sungguh pendiam, berperilaku darweisy, merendahkan diri, bekerja tanpa lelah bahkan saya jumpai berbagai keistimewaan lain-lainnya yang terdapat pada diri beliau. Begitu sampai di kantor seolah-olah kepala beliau langsung runduk dan mulai bekerja. Disamping membaca surat-surat, proof reading Ruhani Khazain dan proof reading terjemahan Alqur’an pun beliau lakukan sendiri. Begitu asyik dan giat bekerja yang patut dijadikan contoh dan dijadikan irihati, tidak tahu kapan akan berhenti. Para karyawan lain sudah pulang semua namun beliau tetap terpaku asyik dalam pekerjaan beliau. Karena banyaknya bekerja kadang-kadang kaki beliau menjadi bengkak. Akan tetapi hamba Allah ini terus bekerja dan bekerja sampai selesai apa yang dikerjakan beliau. Tidak mengharapkan sesuatu, lupa keadaan diri sendiri, betul-betul berperilaku darweisy (sederhana seperti orang miskin). Saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan keadaan beliau dari dekat sekali. Sama-sekali tidak ada sifat menonjolkan diri dan pamer, sifat lemah-lembut dan pemaaf beliau luhur sekali. Beliau menjadi harta pusaka tarikh (sejarah) Jemaat yang sangat berharga sekali. Sekalipun banyak dan sibuk bekerja beliau tetap bermuka senyum. Saya menyaksikan sendiri beliau sangat berhati-hati terhadap keuangan Jemaat. Beliau membelanjakannya setelah banyak berpikir dan berulangkali melakukan pertimbangan. Beliau sangat berahti-hati jangan sampai rupiah Jemaat sia-sia. Beliau sakit untuk waktu yang lama namun penyakit itu tidak membuat rintangan bagi beliau untuk melakukan pekerjaannya.”

Ada seorang Murabbi Sahib menulis, “Beliau sedikitpun tidak ada mendekati sifat ananiyah (menonjolkan keakuan, ego) atau kibr (angkuh). Beliau manusia yang tidak mementingkan diri sendiri, bertabiat darweisy dan manusia bersifat malaikat.”

Seorang Murabbi Sahib lain menulis, “Ketika pekerjaan tentang Ruhani Khazain sedang sibuk dilakukan, pada waktu itu saya mengetahui pribadi beliau dari satu peristiwa bahwa beliau begitu yakin terhadap Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as Peristiwanya begini: Dalam persidangan dengan (penuduh) Henry Martin Clark, Hadhrat Masih Mau’ud as di setiap tempat menyebutkan bahwa Hakimnya bernama Douglas. Akan tetapi di dalam Ruhani Khazain Jilid 15 Kitab Tiryaqul Qulub halaman 349 hakimnya bernama J.R. Dramon dan nama tempat tertulis Pethan Kot. Untuk pekerjaan ini diminta kepada seksi riset atau peneliti dan juga ditulis surat kepada para petugas Tarikh Ahmadiyyah sambil bertanya bagaimana dengan masalah perbedaan nama ini. Pendapat kedua petugas itu sama bahwa terdapat kesalahan dalam penulisan. Akan tetapi pendapat Mukarram Shah Sahib, “Tidak mungkin terjadi kekeliruan yang begitu besar. Dan tuan sedikitpun tidak menuliskan catatan kaki. Dan hal itu dibiarkan begitu saja.” Akan tetapi ketika pekerjaan Nuzulul Masih dalam Ruhani Khazain Jilid 18 sedang dilakukan, di halaman 578 Hadhrat Masih Mau’ud as menulis, “Setelah satu setengah tahun Abdul Hamid kembali ditangkap, maka perkara itulah dia ditanyai dan iapun tetap berpegang pada pernyataannya semula bahwa atas suruhan dari orang-orang Kristen ia berkata demikian.” (Yakni, ketika ia ditangkap kembali untuk kedua kalinya, pada waktu itu Hakimnya lain lagi yang namanya dari yang telah ditulis pertama kali oleh Hadhrat Masih Mau’ud as) Katanya (Murabbi tersebut), “Saya lihat Shah Sahib tidak gelisah dan beliau selalu berlaku baik dengan rasa cinta-kasih terhadap anak buah yang bekerja dengannya.”

Pustakawan Khilafat Library (Perpustakaan Khilafat) di Rabwah menulis, “Shah Sahib adalah wujud yang banyak memberi faedah kepada manusia. Saya melihat sendiri beliau bekerja dengan tekun dan rajin sekali. Sekalipun dalam keadaan sakit beliau bekerja sepenuh waktu dan dengan semangat sekali. Setiap hari saya lihat kaki beliau bengkak dan sakit dan beliau mengidap penyakit jantung juga. Beberapa bulan sebelumnya datang dari London naskah Barahin Ahmadiyah untuk diperiksa. (Pekerjaan mengecek berbagai edisi naskah itu saya/Hudhur atba percayakan seluruhnya kepada Muhtaram Shah Sahib) Dan Muhtaram Shah Sahib mengirim pesan kepada saya (pustakawan), ‘Berapapun banyaknya naskah Barahin Ahmadiyah harap dikumpulkan menjadi satu kemudian masukkan kedalam sebuah karton.’ Sesuai dengan pesan beliau itu saya kumpulkan semua naskah itu dan dimasukkan kedalam sebuah karton, lalu saya bertanya, ‘Apakah harus saya bawa kepada tuan untuk diperiksa?’ Beliau jawab, ‘Mengapa harus menyusahkan diri sendiri, biarkan saya datang sendiri untuk mengambilnya.’ Sekalipun kaki beliau sakit dan berjalan pun susah beliau datang ke perpustakaan dan mengambil karton berisi naskah itu kemudian beliau sendiri periksa semuanya. Beliau berkata, ‘Saya anggap naskah lama itu penting sekali jangan tersia-sia, maka saya sendiri datang untuk mengambilnya dan memeriksanya sendiri.’ Beliau periksa berjam-jam lamanya.”

Muhammad Ahmad Na’im Sahib seksi Arabic Desk kita menulis, “Untuk mempersiapkan indeks Tafsir Kabir komputer pun pada waktu itu belum tersedia, pekerjaan memerlukan kecermatan, pandangan halus dengan semangat tinggi, maka dengan perlengkapan seadanya beliau telah mempersiapkan semua masalah dengan rajin dan semangat tinggi. Dan bagaimana beliau menunjukkan sifat lemah-lembut beliau ketika dalam Ruhani Khazain yang ada terdapat beberapa kesalahan cetak. Dan pada waktu pekerjaan terjemah sedang berjalan bila saja beliau dihubungi dan di mana ditunjukkan ada kekeliruan, maka beliau dengan lemah-lembut mengakui kesalahan itu. Dimana penjelasan dapat dilakukan disitu beliau memberi penjelasan yang pantas. Dan sangat cepat sekali diterima penjelasan-penjelasan apabila diperlukan dari beliau. Dan beliau melakukan proof reading juga dengan semangat dan rajin sekali. Namun kesalahan-kesalahan juga banyak dijumpai beliau sehingga beliau merasa sedih mengapa telah terjadi banyak kesalahan sedangkan buku itu telah dicetak begitu indah sekali.”

Seorang Murabbi Silsilah kita, tuan Kalim Ahmad Tahir menulis, “Selama 11 tahun saya melihat beliau selalu sibuk dengan berbagai jenis pekerjaan. Beliau pengkhidmat Silsilah yang sangat pendiam sekali. Setiap pekerjaan beliau kerjakan dengan rajin dan penuh tanggung jawab. Sangat menakjubkan sekali, dalam usia yang begitu renta beliau begitu rajin dan semangat bekerja dan setelah jam kantor beliau selalu turut menghadiri rapat Arabic Board (dewan naskah khusus yang berhubungan dengan Arab). Sepanjang waktu menyelesaikan pekerjaan Ruhani Khazain dan beliau sendiri melakukan pembacaan kata demi kata buku-buku yang akan siap dicetak.”

Pendeknya beliau seorang yang banyak ilmunya dan seorang waqif zindegi yang sangat rajin dan giat bekerja. Beliau sering bercerita kepada para mubaligh masa lampau/awwalin, “Saya melihat keadaan Sadr Anjuman Ahmadiyah di masa lampau yang sangat sederhana sekali banyak sekali keperluan penting yang tidak dianggap perlu dan tidak disediakan. Sambil menunjuk kepada sebuah kamar yang dijadikan kantor mengatakan bahwa di situ terdapat sebuah kipas yang dijalankan melalui seutas tali, tidak ada listrik dan tidak ada sarana kemudahan lain.”

Dikatakan bahwa pada suatu waktu Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengirimnya ke Makbuzah Kashmir (Kashmir yang dikuasai India) untuk menyampaikan sebuah pesan. Ketika sampai di Rawalpindi beliau lihat tidak ada sarana angkutan. Jika diusahakan mencari transportasi tentu akan menghadapi kelambatan. Demi ingin mengamalkan perintah Hadhrat Khalifatul Masih pada awal waktu, beliau berangkat jalan kaki dari Rawalpindi dan kembalinya juga jalan kaki setelah menyampaikan amanah dari Hadhrat Khalifatul Masih II ra dengan baik ke tempat yang telah dituju.

Beliau memelihara seorang anak angkat perempuan yang diperlakukan seperti anak kandung sendiri dan dinikahkan dengan seorang Murabbi Silsilah. Di rumah juga beliau berlaku sangat baik terhadap anak-anak dan terhadap isteri beliau. Anak-anak mereka mengatakan bahwa beliau tidak pernah membentak atau bersuara keras terhadap mereka. Mereka diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan sangat diperhatikan semua akhlaq dan budi pekerti mereka. Beliau memberi tarbiyyat berstandar tinggi kepada putra-putri beliau. Memperlihatkan contoh kesederhanaan dalam tiap amal kehidupan. Beliau tidak suka menonjolkan diri. Dalam hal kesabaran beliau menjadi tauladan yang sangat terpuji. Beliau tidak pernah menampakkan kesulitan kepada orang lain, baik dalam menghadapi penyakit ataupun kesedihan. Kadar kesabaran sedemikian rupa sehingga ketika menerima berita melalui sepucuk surat tentang kewafatan ibunda beliau yang tinggal di Kashmir beliau menahan perasaan dengan sabar dan sampai beberapa hari lamanya tidak memberitahukan kepada siapapun tentang hal itu.

Dalam melayani tamu beliau lakukan dengan sangat baik. Pada waktu Jalsa Salana banyak tamu datang dari Kashmir, rumah secara menyeluruh diserahkan kepada para tamu sedangkan beliau beserta anak-isteri tinggal di dalam gudang. Beliau setiap waktu berusaha memenuhi janji-janji wakaf dan beliau berbuat demikian senantiasa setiap waktu sampai akhir hayat beliau. Pada hari tua beliau mengunjungi anak-anak beliau yang tinggal di negara lain. Semua putra-putri beliau tinggal di luar negara Pakistan. Putra sulung beliau bernama Ahmad Yahya menjadi Chairman Humanity First. Apabila beliau mengunjungi putra-putri beliau di luar negeri mereka selalu meminta beliau untuk tinggal bersama mereka pada usia yang sudah tua itu. Namun beliau selalu berkata, “Saya (ayah) sudah ‘wakaf zindegi’ – “mewakafkan diri sepanjang hidup”, bukan mewaqafkan diri untuk sementara waktu.” Kaki beliau selalu terasa sakit dan setiap waktu keadaannya membengkak seperti telah saya sampaikan. Walaupun demikian beliau pergi ke kantor jalan kaki dan keadaan seperti itu tidak menghalangi beliau untuk bekerja. Pada akhir kehidupan beliau pergi ke rumah sakit lima kali. Setiap kali pergi beliau selalu bertanya kepada dokter, “Kapan saya boleh pergi ke kantor saya?” Dua hari sebelum wafat beliau pergi ke kantor dan sampai di sana langsung bekerja bersama anak-anak buah beliau padahal beliau sedang masih dalam keadaan sakit. Dan dari sana beliau langsung pergi ke Rumah Sakit untuk check-up pada jam 12.00 siang. Melihat keadaan kesehatan beliau dokter-pun menyuruh beliau tinggal di Rumah Sakit. Namun dalam keadaan sakitpun beliau memeriksa pekerjaan beliau sambil berbaring diatas tempat tidur. Karyawan kantor beliau selalu disuruh membawa dokumen-dokumen dan diserahkan kepada beliau di Rumah Sakit kemudian beliaupun mulai bekerja sambil berbaring di atas tempat tidur. Pada hari terakhir berkata kepada orang-orang, “Berdoalah semoga Allah Ta’ala menjadi Pelindung dan Penjaga kita.” Sesungguhnya beliau  sudah merasa waktu kewafatan beliau sudah dekat sekali. Beliau berkata, “Waktu ‘flight’ (penerbangan) saya sudah tiba.” Dari sini (London) selalu dikirim faks kepada beliau. Dan beliau selalu menjawab dengan tulisan tangan sendiri. Sampai sekarang surat terakhir yang saya terima ditulis sendiri tidak menyuruh karyawan untuk menuliskannya. Dan tulisan  serta bahasa beliau pun sangat indah sekali. Padahal disebabkan keadaan beliau sangat lemah tangan beliau juga gemetar, namun beliau tulis dengan tangan sendiri secara perlahan-lahan. Pada tanggal 14 Desember 2011 beliau seperti biasa berada di kantor beliau sampai pukul 11.30 pagi. Beliau berkeinginan agar wafat di dalam kantor. Waktu berbaring di Rumah Sakit beliau selalu berkata, “Pemeriksaan Ruhani Khazain ingin segera diselesaikan agar saya segera bebas dari padanya.” Namun beliau tidak mendapat kesempatan untuk itu.

Seorang Murabbi yang bekerja di Nazarat Isha’at menulis, “Saudara semertua dengan Shah Shahib memberitahukan, pada tanggal 17 Desember 2011 Shah Sahib melihat mimpi berjumpa dengan isterinya (yang sudah wafat) dan isterinya itu bertanya kepada beliau, ‘Apakah belum mengambil tiket juga sampai sekarang?’ Shah Sahib menjawab, ‘Ya sampai sekarang belum mengambil tiket.’ Tidak lama kemudian dalam mimpi itu juga Shah Sahib berkata kepada isteri beliau, ‘Ya sekarang tiket sudah dapat bahkan sekarang sudah mendapat boarding pass.’”

Pada hari Shah Sahib wafat kira-kira pukul 10.00 pagi beberapa kawan beliau datang ke rumah sakit untuk menengok. Sesampainya di sana, mereka mengetahui para dokter berkata, “Kami sudah berusaha semampu yang kami lakukan.” Setelah itu, Syah Shahib memanggil putranya Imran dan berkata dengan suara terkulum, “Sekarang flight sudah tiba.” Putra beliau itu tidak paham apa yang diucapkan oleh ayah beliau. Ketika mendekat kepada beliau untuk mendengar lebih jelas, beliau tidak sempat berbicara lagi yang akhirnya beliau pergi berjumpa Khaliq Hakiki beliau untuk selama-lamanya.

Maka, inilah seorang khadim Silsilah yang sampai nafas terakhir mewaqafkan diri untuk Silsilah dan dengan sekuat tenaga telah mendahulukan pekerjaan yang bersangkutan Silsilah Ahmadiyah dari pekerjaan lain. Shah Sahib telah meraih banyak ilmu pengetahuan agama. Membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as dan beramal berdasarkan itu. Tidak hanya memperoleh ilmu saja seperti banyak anggota jemaat dan juga saya telah mengatakannya. Beliau sepanjang hayat selalu berusaha memenuhi kewajiban huquuqullooh dan huquuqul ‘ibaad. Ketika saya menjadi Nazir ‘Ala beliau sebagai Nazir Ishaat. Pada waktu itu juga saya jumpai beliau seorang patuh taat yang kamil. Ketika Allah Ta’ala telah mengenakan Jubah Khilafat kepada saya, Shah Sahib menunjukkan kesetiaan dan ketaatan yang luar biasa, jauh dari yang sebelumnya. Dan memang harus demikian, sebab berkat-berkat hubungan dengan Khilafat lain lagi kesannya. Beliau memahami betul ruh atau intisari baiat dan mengamalkannya dengan sebaik-baiknya. Semoga Alllah Ta’ala meninggikan derajat beliau dan semoga Dia selalu menganugerahkan para pengkhidmat sebagai Sultan Nasir (kekuatan yang menolong) seperti itu kepada Khalifa-e-Waqt dan Khilafat Ahmadiyah. [Aamiin]

Setelah shalat Jum’at saya akan memimpin shalat jenazah untuk beliau. Insya Allah Bersamaan dengan itu ada juga beberapa jenazah lainnya.

Jenazah yang pertama ialah Imtiyaz Begum Shahibah, yang merupakan istri dari Mukarram wa Muhtaram tuan Maulana Muhammad Munawwar almarhum, mubaligh Afrika Timur. Beliau wafat pada 15 Desember. Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun. Beliau lahir pada 1936 dan menikah pada 24 November 1952 dengan tuan Maulana Muhammad Munawwar. Beliau adalah istri kedua tuan Maulwi (Maulana) Munawwar dan sejak waktu pernikahan hingga Tuan Maulwi istirahat (retired, pensiun) dan pulang kembali ke tempat asal, selain 3 atau 4 tahun, semua tahun-tahun itu digunakan oleh almarhumah menyertai suami yang waqif zindegi untuk mendapatkan taufik berkhidmat kepada Jemaat di Kenya, Tanzania, Palestina dan Nigeria. Tuan Maulwi Muhammad Munawwar dalam buku karya tulis beliau “Eik Neik bi bi ki Yaad hei” sangat memuji kedua istrinya yang memperlakukan satu dengan yang lain dengan begitu baik. Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’ (IV) rha juga memujinya sembari bersabda, “Seharusnya memang demikian.” Almarhumah memanggil istri pertama tuan Maulwi Muhammad Munawwar ‘Aapa’ – “Saudari tua”. Tidak pernah beliau menggunakan kata-kata yang tinggi dan keras kepadanya. Hubungan keduanya demikian baik. Keduanya menganggap dan memperlakukan anak-anak keduanya seperti anak sendiri sehingga orang-orang sering bertanya, “Ibumu sebenarnya yang mana?” Guna memenuhi keperluan keuangan yang lain sehingga mengeluarkan uang pensiun masing-masing dan seringkali dipinjamkan kepada yang lainnya sebagai bantuan. Putra beliau yang penuh mubarak, tuan Mubarak Ahmad Tahir adalah Sekretaris Nushrat Jahan Rabwah. Beliau mengatakan, “Ibunda begitu bersemangat dan gemar mengkhidmati agama, tanpa rasa takut, pemberani. Biasa suka membantu kesulitan orang Ahmadi dan orang bukan Ahmadi.” Tuan Mubarak Ahmad ini adalah putra dari istri pertama. Dari istri yang wafat ini, Maulana Muhammad Munawwar mempunyai seorang anak yang bernama Amatun Nur Tahira Sahibah yang merupakan istri dari tuan Abdur Razzaq Butt, seorang murabbi silsilah. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat beliau dan membuat kebaikan-kebaikan beliau tetap ada di dalam anak keturunannya.

Pengumuman kewafatan selanjutnya, Sister Zainab Wasim Shahibah putri Mukarram Kamaluddin Kahlo dari Amerika Serikat yang wafat pada 6 Desember di usia 83 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun’ Beliau adalah Sadr Lajnah Callew Land dan juga mendapat taufik menjalankan beberapa tugas pengkhidmatan lainnya. Demikian tinggi kebaikannya dan wanita yang mukhlis. Seorang Amerika lokal. Meninggalkan seorang suami dan dua putra.

Jenazah selanjutnya, Amatur Rahman Shahibah dari Calgary. Wafat karena penyakit kanker pada umur 61 tahun.

 إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun’. Seorang wanita saleh, disiplin shalat, rajin tahajjud dan bertakwa. Mendapat keberuntungan pernah berumrah (mengunjungi Ka’bah, Makkah). Memiliki keterikatan yang luar biasa dalam membaca Alqur’anul Karim dan buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Almarhumah seorang musi.

Pengumuman telah wafat selanjutnya ialah dari Amerika, Sayyidah Wasimah Begum Shahibah putri dari Hadhrat Sayyid Waliyullah Syah Shahib almarhum. Hadhrat Sayyid Waliyullah Syah Shahib adalah maamuu (paman) tertua dari Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’ (IV) rha. Almarhumah adalah putri tertua beliau. Wafat pada umur 84 tahun dan masya Allah beliau memiliki sifat-sifat kebaikan yang banyak. Setiap selesai khotbah, beliau biasa menelepon saya dan juga berkata, “Hudhur, mohon doakan saya dan doakanlah anak-anak saya agar teguh di jalan yang benar.” Putra beliau, tuan Nadim Faidhi adalah salah satu ketua Jemaat lokal di Amerika. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat beliau dan menegakkan anak keturunan beliau dalam kebaikan-kebaikan.

Selanjutnya jenazah tuan Mia ‘Abdul Qoyyum putra Mukarram tuan Mia Wazir Muhammad berasal dari Kothah. Wafat pada 6 Desember pada umur 88 tahun.  إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun’. Pecinta Hadhrat Masih Mau’ud as yang luar biasa serta memiliki hubungan yang sangat dengan Khilafat. Beliau dinikahkan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra (Khalifatul Masih II) yang sebagai wakilnya dalam akad nikah tersebut.

Kemudian tuan Muhammad Mushthafa dari halqah Aurnagi Town. Wafat pada 27 September.  إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun’. Menerima Ahmadiyah pada 1971, sendirian sebagai Ahmadi di dalam keluarganya. Beliau mengalami banyak sekali musibah dan kesulitan karena masuk Ahmadiyah. Saudara-saudaranya sendiri pernah mengikatnya dan memukulinya di depan penduduk desa. Sebelum baiat, almarhum termasuk penentang keras Jemaat. Namun kemudian, berubah drastis setelah baiat yang kemudian beliau berhubungan dengan Jemaat dengan begitu ikhlas dan setia. Di tempat beliau tinggal, beliau mendapat taufik sebagai sekretaris Ta’limul Qur’an, Murabbi Athfal, Sekretaris Da’wat Ilallah dan muallim lokal. Beliau biasa mengajarkan begitu banyak athfal, anshar, nasirat dan lajnah dalam membaca dan menerjemahkan Alqur’anul Karim. Beliau menghapalkan begitu banyak juz dari Alqur’anul Karim. Beliau meninggalkan selain istri juga seorang putra yaitu tuan Nawed Mushthafa, seorang muballigh Jemaat.

Lalu tuan Malik Nadzir Ahmad dari Cakwal. Wafat pada 21 Juli. Permohonannya adalah agar dishalatkan jenazahnya. Beliau adalah putra dari Hadhrat Malik Karm Din ra, salah seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Orangtua almarhum membawanya ke Qadian pada 1930 dan meninggalkannya agar berkhidmat kepada Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Beliau berkhidmat selama 17 tahun yang dilakukan dengan keikhlasan. Seorang musi, mukhlis dan mencintai Khilafat sampai batas isyq.

Kemudian tuan Fatah Muhammad Khan. Wafat pada 28 November. Seorang yang sangat saleh, berjiwa mulia. Meninggalkan lima orang anak perempuan dan 3 orang anak laki-laki. Putra beliau, tuan Hafiz Burhan Muhammad adalah waqif zindegi sebagai guru (dosen) di Jamiah Ahmadiyah dan menantu beliau, Mir Abdur Rasyid Tabassum almarhum juga seorang murabbi silsilah. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat-derajat para almarhum; menganugerahkan kesabaran, ketabahan dan harapan baik kepada yang ditinggalkan; menegakkan mereka diatas kebaikan, menganugerahkan mereka agar mendapat taufik berkhidmat kepada Jemaat dengan kesetiaan dan keikhlasan.

Seperti telah saya katakan sebelumnya, shalat jenazah ghaib untuk para almarhum dilaksanakan setelah shalat-shalat (Jum’at dan Ashar dijamak).

Terjemahan oleh :     Mln. Hasan Bashri, Shd

                                                                                Redaksi Khotbah Jum’at

[1] Semoga Allah Ta’ala menguatkannya dengan pertolongan-Nya yang perkasa

[2] Harian “Al-Fadhl” jilid 61-96 nomor 285 tanggal 20 Desember 2011

[3] Sayyid (Syed, Sayed) sebutan untuk keturunan Hadhrat Husain ra, sedangkan gelar syarif, untuk keturunan Hadhrat Hasan ra, cucu Nabi Muhammad saw dari putri beliau saw, Siti Fatimah ra istri Hadhrat Ali bin Abi Thalib ra.

[4] Tarikh Ahmadiyyat Jamuu o Kasymir karya Muhammad Asadullah Quraisyi halaman 132, terbitan Zhiaul Islam Press, Rabwah

[5] Ibid.

[6] Harian “Al-Fadhl” jilid 61-96 nomor 285 tanggal 20 Desember 2011

[7] Harian “Al-Fadhl” jilid 61-96 nomor 286 tanggal 21 September 2011

[8] Khotbah Jum’at 26 September 1997, Harian “Al-Fadhl” Rabwah jilid 48-83 nomor 35 tanggal 14 Februari 1998 halaman 3 kolom 1

[9] Quran Karim terjemahan bahasa Urdu oleh Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, “Pernyataan Tasyakkur”, penerbit Islam International, UK, 2002

[10] Maktuub (Surat) Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’ (IV) kepada Mukarram Sayyid ‘Abdul Hayyi Shahib tanggal 14 April 1997

[11] Op. Cit. Maktuub (Surat) tanggal 9 Juni 1993

[12] Harian “Khalid” jilid 30 syumaarah 6-7 “Sayyidina Nashir” April Mei 1983, halaman 156

[13] Ibid. halaman 157

[14] Ibid. halaman 37

[15] Silsilah Ahmadiyah jilid som (III) halaman 534, Nazaarat Isyaat Rabwah