Ringkasan Khotbah Jum’at Khalifatul Masih al-Khaamis,

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)

31 Agustus 2012

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala, penyelenggaraaan Jalsah Salanah UK semakin mendekat, yakni, InshaAllah akan dimulai pada hari Jumat yang akan datang. Sebagaimana pada waktu-waktu sebelumnya, dengan karunia Allah Ta’ala pula, para pekerja yang tersebar di berbagai Seksi [Kepanitiaan] banyak mengorbankan waktunya. Yakni,   demi untuk melaksanakan tugas mereka; mereka pun bekerja keras. Setiap tahun, masyarakat di luar Jemaat berdatangan ke Jalsah ini dengan terheran-heran: Bagaimana mungkin sebuah kota kecil ]Hadiqatul Mahdi] yang dibangun temporer untuk penyelenggaraan Jalsah dapat dirampungkan hanya dalam tempo 10 (sepuluh) hingga 15 (lima belas) hari saja. Ada lagi dari pihak ghair itu yang berpikir, bahwa seluruh tugas besar tersebut tentulah dikerjakan oleh para tenaga professional dengan keseluruhan jumlah biaya yang   sangat   besar.   Kemudian   mereka   menjadi   lebih   terheran-heran   lagi   ketika mendapat informasi, bahwa seluruh pekerjaan tersebut dikerjakan oleh para tenaga sukarelawan Ahmadi yang tidak berkaitan dengan profesi mereka sehari-hari. Memang sebagian dari pekerjaan penyiapannya ada yang dikontrakkan kepada pihak luar. Namun, 75% daripadanya dilaksanakan oleh para pemuda [Khuddam], orang tua [Ansar], wanita [Lajnah, Nasirat] dan juga anak-anak [Atfal] yang mengkhidmatkan diri mereka.  Seluruh  tenaga  waqaf  inilah  yang  melaksanakan  semua  tugas  Kepanitiaan Jalsah selama tiga hari, dengan penuh semangat dan berghairah. Sehingga para tamu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pun dapat dilayani dengan baik. Ini adalah kehormatan bagi mereka sebagaimana mereka telah lakukan bertahun-tahun dengan istimewa.

Sebagaimana biasa untuk menasehati seluruh panitia Jalsah pada hari Jumat [seminggu] sebelum  dimulai, maka pada kesempatan ini  saya pun memohon perhatian seluruh panitia untuk memperhatikan tugas kewajiban mereka. Upaya untuk mengingatkan kembali ini akan membuat setiap orang untuk lebih khusyu lagi kepada tugasnya masing-masing dan seringkali pula nasehat yang lebih khas akan menimbulkan ghairah dan semangat yang baru.

Sekarang ini, Jalsah Salanah UK memiliki kekhasannya tersendiri, yakni, menjadi satu- satunya Jemaat yang mendapat nasehat [langsung dari Khalifah Waqt] pada seminggu sebelum pelaksanaannya. Yakni, para panitia Jalsah UK memiliki kekhasannya sendiri dalam hal mendapat nasehat mengenai pentingnya memberikan pelayanan terbaik bagi para tamu. Namun, hal ini bukan karena para panitia Jalsah UK memiliki semangat yang melempem dibandingkan dengan para panitia di negara lain. Sama sekali tidak begitu. Melainkan, hal ini semata-mata disebabkan hikmah penyelenggaraan Jalsah Salanah UK lebih besar dibandingkan Jalsah lainnya di dunia. Yakni, untuk selama 27 hingga 28 tahun terakhir ini, Jalsah UK telah menjadi Jalsah Internasional, sehingga tidak menjadi keharusan seorang Khalifah Waqt untuk menghadiri Jalsah di negara lainnya. Lagi pula sejak  berbagai  larangan  diberlakukan  untuk  menyelenggarakan  Jalsah  di  Pakistan, maka  Jalsah  [internasional]  ini  pun  dilaksanakan  di  [UK]  sini.  Yakni,  disebabkan berbagai larangan  untuk  menyelenggarakan  Jalsah  di  Pakistan,  banyaknya penganiayaan terhadap kaum Ahmadi di sana, Khalifah Waqt telah berdomisili di sini dan  menjadikan London sebagai  Pusat-nya  yang  baru  selama 28  terakhir  ini, maka kehadiran seorang Khalifah Waqt [di Jalsah Salanah] pun menjadi penting. Ini pulalah alasannya mengapa banyak orang berdatangan dari seluruh penjuru dunia untuk menghadirinya. Menurut mereka, Jalsah Salanah UK tidak lagi menjadi sekedar Jalsah [nasional] UK, melainkan telah menjadi Jalsah Pusat [internasional] disebabkan berdomisilinya Khalifah Waqt di sini.

Terkait dengan hal ini, [skala] Kepanitiaannya pun menjadi sangat besar. Pihak tamu berharap lebih banyak. Sehingga Khalifah Waqt dan Panitia Jalsah lebih memusatkan perhatian kepada aspek pelayanan dhiafat di berbagai Bidang agar berjalan ‘lancar dan diusahakan  berbagai  peningkatannya.  Seringkali  pula  jumlah  pembiayaannya meningkat, sementara anggaran Jemaat UK tidak mencukupi. Yakni, meskipun Jamaat UK membiayai sebagian besar biaya Jalsah, namun adakalanya pula Pusat [London] ikut menyumbang 30%-nya atau lebih. Hal ini perlu dikemukakan karena adakalanya ada orang-orang tertentu yang berpendapat, bahwa Jemaat UK dibebani oleh Pusat. Yakni, meskipun sebagian besar anggota Jamaat di sini memberikan pengorbanan mereka sehingga diharapkan dapat berswa-daya dalam menanggung pembiayaan [Jalsah], namun selalu saja ada orang-orang yang menebarkan perasaan was-was tentang hal ini, sehingga Pusat pun merasa patut untuk memberikan sumbangannya.

Kemudian, rasa tanggung jawab para panitia juga meningkat pesat disebabkan Jalsah ini telah  menjadi  Jalsah  Pusat  [Internasional],  sehingga  Khalifah  Waqt  merasa  penting untuk menarik perhatian para panitia sebelum Jalsah dimulai agar senantiasa ingat, bahwa pandangan mata para tamu, termasuk para pemimpin dan tokoh masyarakat, akan tertuju kepada Panitia dan para panitianya. Sehingga, budi pekerti para panitia, kepedulian, dan standar pelayanan terhadap tamu haruslah yang terbaik. Baik kaum pria, wanita maupun anak-anak hendaknya berusaha keras untuk memberikan pelayanan yang terbaik. Setiap tahun, para tamu, utamanya dari kalangan ghair-Jemaat selalu memuji para panitia Jalsah. Namun, hal ini hendaknya dapat memotivasi mereka pada  tahun  ini,  atau  bahkan  selamanya,  agar  standar  ini  jangan  sampai  tergelincir.

Melainkan justru menjadi lebih baik. Karena sikap orang mukmin   adalah senantiasa menapaki jalan kemajuan.

Jadi, pelayanan dhiafat bagi para tamu bukanlah hal yang sepele. Melainkan tercantum di dalam Al Qur’an. Orang-orang duniawi yang bermoral tinggi pun suka melayani tamu. Akan tetapi bagi mereka yang melayani tamu semata-mata lillahi Ta’ala, bukan dikarenakan tamu pribadi ataupun sanak saudara, melainkan ikhlas sempurna demi untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala, niscaya mendapat ganjaran pahalanya dua kali lipat. Al Qur’an Karim mengisahkan peristiwa Hadhrat Ibrahim a.s. dalam memberikan pelayanan terbaik kepada para tamu. Yakni, tidak seberapa lama mereka datang, segera itu pula mereka mendapat hidangan makan yang sangat mencukupi. Kemudian, ketika Hadhrat Rasulullah Saw menerima wahyu pertama [di Gua Hira] lalu menjadi ketakutan oleh pengalaman [rohani] tersebut, salah satu sifat ihsan kebaikan beliau Saw yang mengingatkan Hadhrat Siti Khadijah r.ha. kemudian memberikan   penghiburannya, adalah: ‘Tuhan tidak murka kepada tuan, karena tuan dikenal baik dalam mengkhidmati tamu.’ Jadi, perkara pelayanan kepada tamu ini bukanlah hal yang sepele, melainkan adalah salah satu ihsan kebaikan para Nabiyullah; yang adalah juga merupakan salah satu  tugas besar  yang  telah  diamanatkan  kepada Hadhrat Masih  Mau’ud  a.s.. Yakni, Allah Ta’ala mewahyukan kepada beliau, bahwa: ‘Manusia akan berbondong-bondong ‘datang  untuk menemui engkau. Maka janganlah  merasa jemu  ataupun penat untuk menemui dan mengkhidmati mereka.’

Sesungguhnya, setiap anggota Jemaat kita pun lekat dengan perintah [Allah] yang penting ini. Satu peristiwa dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini memperlihatkan betapa beliau sangat peduli dalam melayani tamu. Suatu kali beliau sedang tidak enak badan, Namun, demi mendengar ada tamu yang ‘datang, beliau pun keluar kamar. Kemudian berkata: ‘Aku ini sedang tidak sehat, tetapi ada tamu yang sudah   bersusah-payah   untuk   ‘datang   menemuiku.   Maka   aku   pun   keluar   untuk memenuhi  hak-haknya.’  Sesungguhnya,  para  tamu  Hadhrat  Masih  Mau’ud  a.s.  biasa ‘datang  untuk  memperoleh  sesuatu  keberkatan  dari  beliau.  Maka  beliau  a.s.  pun memenuhinya. Sekarang ini, para tamu yang akan berdatangan ke Jalsah sesuai dengan apa yang diserukan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., yakni untuk menghadiri kaidah Tarbiyyat yang beliau selenggarakan. Dalam kaitan inilah mereka ‘datang menjadi tamu Hadhrat  Masih  Mau’ud  a.s.,  sehingga  menjadi  kehormatan  besar  bagi  setiap  panitia untuk sungguh-sungguh melayani mereka, agar jangan sampai merasa kecewa.

Para tamu yang ‘datang untuk berJalsah selama tiga hari berasal dari seluruh penjuru dunia dikarenakan Jalsah UK ini adalah Jalsah Pusat [Internasional]. Hadhrat Rasulullah Saw  bersabda:  ‘Penuhilah  hak-hak  tamu,  dan  khidmatilah  mereka  selama  beberapa hari.’ Akan tetapi kenyataannya, pelayanan beliau Saw itu terus-menerus. Sebagaimana diriwayatkan, mereka yang berdiam tidak jauh dari depan pintu rumah beliau untuk memperoleh ilmu diniyah al-Islamiyah adalah menjadi para tamu beliau Saw. Hadhrat Abu Hurairah r.a. adalah salah satu di antaranya. Beliau ini fakir, dan bermukim sebagai tamu [tetap] Hadhrat Rasulullah Saw, sedangkan yang lainnya ‘datang dan pergi hanya di waktu siang atau petang hari saja. Inilah sebabnya mengapa Hadhrat Abu Hurairah lebih banyak meriwayatkan Hadith-hadith dibandingkan para Sahabah lainnya.1 Namun seorang Sahabah seperti beliau ini tentu saja tidak ingin dilayani oleh Rasulullah Saw. Akan tetapi beliau Saw mengkhidmati mereka semua berdasarkan pilihan keputusan pribadi  beliau  sendiri.  Suatu  kali,  Hadhrat  Abu  Hurairah  r.a.  menderita  kelaparan setelah beberapa hari tidak makan. Maka Hadhrat Rasulullah Saw membawa beliau ke rumah, yang kebetulan baru mendapat kiriman hadiah sewadah susu. Hadhrat Rasulullah Saw memerintahkan untuk memanggil seluruh Sahabah yang hadir, lapar dan haus. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah Saw meminta beliau untuk menyuguhi mereka satu persatu dimulai dari yang paling kanan. Hadhrat Abu Hurairah r.a. yang sudah demikian kelaparan mulai berpikir, bahwa dirinyalah yang berhak untuk minum terlebih dahulu. Kalau mendapat giliran yang terakhir nanti, tentulah akan kehabisan. Namun Hadhrat Rasulullah Saw telah mencicipi susu tersebut sebelumnya, sehingga terberkati, dan seluruh Sahabah dapat meminum susu tersebut dengan sekenyang- kenyangnya.

Itulah bagi orang-orang yang telah mengorbankan segalanya demi untuk memperoleh ilmu agama sehingga menjadi tamu tetap Hadhrat Rasulullah Saw. Sekarang ini, kita tidak   mempunyai   tamu   tetap.   Namun,   orang   yang   datang   ke   Jalsah   lalu   ingin mempelajari agama, maka kewajiban kitalah untuk melayaninya. Apalagi hal ini merupakan perintah Allah dan Sunnah Rasulullah, yang telah diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk dipraktekkan. Di zaman sekarang ini, salah satu tugas penting yang telah diamanatkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. adalah juga pelayanan Dhiafat. Jadi, untuk menjadi hamba   Hadhrat Imam Mahdi a.s. dalam setiap seginya, kita perlu melaksanakan  amanat  pelayanan Dhiafat ini dengan cara yang  sebaik-baiknya. Citra teladan  pelayanan  dhiafat  Hadhrat Masih  Mau’ud  a.s. umumnya sudah  kita  ketahui. Akan tetapi, setiap kali disampaikan lagi, selalu saja ada aspek baru yang dapat menjadi sumber tarbiyat bagi panitia Jalsah. Yakni, adakalanya dikarenakan keterbatasan waktu, para panitia menjadi serba tergesa-gesa, utamanya di waktu [akhir] jam makan, para panitia berusaha terburu-buru sehingga membuat para tamu menjadi tidak nyaman. Adakalanya pula hal tersebut terjadi di saat acara Jalsah akan dimulai lagi. Atau waktu Salat yang semakin dekat. Padahal, suatu peristiwa yang terkait dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini dapat mencerahi para panitia dalam mengatasi situasi yang sama.

Hadhrat Khairuddin r.a. meriwayatkan bahwa beliau datang di Qadian setelah mengadakan perjalanan dari desanya. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sedang duduk bersantap   di   suatu   ruangan  yang   bernama  ‘Gol   Kamra’.  Segera  itu   pula  beliau menyambut Hadhrat Khairuddin r.a. dan mengajak makan bersama. Khairuddin Sahib r.a. menjawab bahwa beliau sudah makan tetapi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tetap membujuk bahwa ada sesuatu yang perlu dimakan. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sendiri sudah selesai dan melayani makan untuk Khairuddin Sahib. Hadhrat Khalifatul Masih Tsani r.a. yang pada waktu itu masih belia juga ada, dan ikut makan. Kemudian Hadhrat Masih  Mau’ud  a.s.  menaruh  piring  makan beliau  di depan Khairuddin Sahib. Tetapi setelah itu, ada sahabah lainnya mengangkati piring-piring yang ada dimeja, termasuk piring makan Khairuddin Sahib. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kembali dan mengetahui hal ini, beliau segera memberi peringatan kepada orang itu dengan sangat tegas. Khairuddin Sahib sendiri tidak berdaya untuk berkata bahwa beliau sudah memakannya sampai kenyang. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabdah bahwa sebelum beliau perintahkan agar tidak sekali-kali mengangkati piring-piring [di meja makan selagi tamunya masih ada]!’ Hal ini menunjukkan: ‘Jika tamu masih sedang makan, biarkan  mereka bersantap  dengan tenteram. Jika pun waktu Salat atau  acara Jalsah semakin  dekat, beri  mereka waktu  tambahan untuk menyelesaikannya. Lebih  bagus lagi, umumkanlah [berulangkali] berapa lama lagi waktu Salat atau acara Jalsah akan dimulai. Akan tetapi [tamu yang sedang makan   jangan diburu-buru, atau piring- piringnya diangkati.

Pendek kata, dalam hal pelayanan dhiafat kepada para tamu ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Saya senantiasa   mengingatkan agar tamu jangan sampai merasa tidak nyaman. Oleh karena itulah saya selalu memerintahkan untuk berusaha sekuat tenaga agar para tamu mendapatkan kenyamanan. Kondisi hati seorang tamu itu mudah pecah (fragile) bagai gelas kaca, yang bisa hancur hanya oleh sedikit ketukan. Kemudian, pada waktu-waktu  yang  lalu, saya selalu  menyiapkan diri untuk bersantap  bersama para tamu. Akan tetapi sejak kondisi penyakit saya meningkat, sehingga harus ber-diet khusus, acara tersebut tidak diadakan lagi. Apalagi sekarang ini jumlah tamu meningkat pesat,  sehingga  ruangan  pun  tidak  memadai,  Maka  terpaksa  saya  harus  bersantap secara terpisah. Namun, setiap tamu telah saya perkenankan untuk menyampaikan masalah [diet makanan]-nya. Yakni, bagi sebagian tamu yang kesehatannya tidak prima, penyiapan diet makan yang khusus perlu disediakan.’

Pendek kata, semua [perintah] yang ada di dalam ikhtisar ini hendaknya senantiasa diingat oleh seluruh panitia Jalsah, bukan hanya oleh mereka di Seksi Konsumsi. Ada beberapa nasehat lainnya bagi setiap panitia, yakni: pertama, berilah kenyamanan sebanyak mungkin kepada para tamu. Nasehat ini berlaku juga untuk Seksi Akomodasi, Pengaturan Lalu Lintas dan Perparkiran yang lebih baik. Karena adakalanya para tamu menjadi merasa tidak nyaman di Bidang ini. Adapula yang mengeluhkan harus berjalan jauh dari tempat parkir mobilnya, atau Bus layanan antar jemput tidak berjadwal tetap. Begitupula perlu layanan prima pada Ruang Cuci dan Toilet. Perhatikanlah aspek pemeliharaan kebersihannya.  Pendek  kata,  berbagai  kekurangan  yang  terjadi  pada tahun lalu hendaknya senantiasa diingat untuk diperbaiki pada penyelenggaraan tahun ini. Proses scanning [identifikasi ‘bar-code’ pada tanda pengenal peserta dan barang bawaannya]    haruslah dilakukan sedemikian rupa agar  para tamu ghair-Jemaat dan penyandang  cacat tidak  harus  berlama-lama  menunggu.  Begitupun  kaum  ibu  muda haruslah diberi fasilitas ‘jalur cepat’, khususnya lagi jika hujan turun ataupun cuaca panas menyengat. Aspek lainnya yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kemukakan dan berlaku untuk  semua  orang,  adalah  falsafah:  ‘Kondisi  hati  seorang  tamu  itu  mudah pecah (fragile) bagai gelas kaca.’ Oleh karena itu sangatlah penting untuk menjaga hati yang mudah pecah tersebut. Yakni jika kepedulian dan segala fasilitas telah diberikan, biasanya tidak akan ada keluhan yang timbul. Akan tetapi, jika dikarenakan kebiasaannya, ada orang-orang tertentu masih juga mengeluh atau berkata-kata pedas, dengarkanlah dengan sabar dan tawekal. Khususnya lagi bagi Seksi Keamanan, jalankanlah tugas dengan lugas tetapi disertai dengan rasa cinta dan kehangatan. Penerapan Keamanan yang lugas adalah sangat penting, baik di dalam maupun di luar Tenda. Khususnya lagi pada situasi seperti sekarang ini, menjadi amat sangat penting. Namun, perasaan orang lain pun harus dijaga jangan sampai tersinggung. Yakni, bila masalahnya menjadi serius, cepatlah bawa ke [Pimpinan] Panitia. Utamanya lagi bila berurusan dengan para tamu dari ghair-Jemaat, haruslah dilakukan dengan extra hati- hati. Pada umumnya para tamu ghair sudah diketahui [siapakah mereka itu]. Namun, jika  pun  belum  diketahui  dengan  pasti,  perlakukanlah  sesuai  dengan  lugas.  Hal ini hanya dapat terjadi apabila perlakuan lugas tersebut dilaksanakan di mana-mana. Sikap siap melayani orang lain dapat menjadi sumber Tabligh yang baik.

Di zaman awal dulu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. biasa turun tangan langsung ikut melayani  para tamu. Akan tetapi kemudian, ketika jumlah anggota semakin meningkat, dan beliau a.s. pun harus menjalani diet makan, maka beliau bersantap terpisah. Apalagi sekarang ini jumlah anggota semakin meningkat terus, selaku wakil Masih Mau’ud a.s. tidak mungkin lagi seorang Khalifah Waqt bersantap bersama para tamu dan mengkhidmati mereka langsung secara pribadi. Belum lagi kesibukan pekerjaan yang semakin meningkat. Inilah mengapa sebabnya suatu nizam [Kepanitiaan] telah dibentuk agar setiap Seksi dapat bekerja maksimal dalam memenuhi kebutuhan para tamu, dengan segenap kemampuannya. Khalifah Waqt telah mempercayakan amanat ini kepada seluruh panitia Jalsah, yang oleh karena itu hendaknya mereka pun mengindahkannya.

Para tamu merasa bahwa kehidupan orang-orang yang bekerja berkhidmat di dalam Jalsah ini lebih dekat dengan Khalifah Waqt, sehingga mereka pun berharap banyak dalam segala aspek. Maka standar [akhlak] budi baik para panitia pun haruslah tunggi, yang mencakup standar peribadatan kepada Allah, ketaqwaan dan sikap membantu. Dan perhatian kepada Salat serta peribadatan lainnya adalah yang terpenting sebagaimana pentingnya ketaqwaan dan pelayanan kepada tamu. Semua sifat akhlak fadillah ini hendaknya sudah tertanam, dan akan lebih meningkat lagi di hari-hari ber- Jalsah. Namun, sementara Hadhrat Khalifatul Masih memberikan berbagai nasehat tentang Jalsah ini, beliau pun teringat kepada rangkaian pelaksanaan Jalsah Salanah di [Markaz] Rabwah dahulu dan berbagai nasehatnya yang diberikan oleh [para] Khalifah Waqt   [pada waktu itu], yakni didengar [dan ditaati] oleh tiap-tiap orang Ahmadi di Rabwah.  Akan  tetapi  kini,  disebabkan  berbagai  keadaan,  Jalsah  tidak  dapat  lagi diselenggarakan di sana. Oleh karena itu senantiasalah doakan mereka, semoga Allah Taala memberi hikmah kebaikan atas sesuatu yang hilang dari mereka.

Tidak diragukan lagi, Jemaat UK senantiasa berusaha untuk memenuhi kewajiban pelayanan [terhadap para tamu] Jalsah pada setiap tahunnya. Pernah ada suatu waktu dikatakan   bahwa   Jemaat   UK   tidak   memiliki   kekuatan   atau   kemampuan   untuk menangani Jalsah ini, sehingga perlu meminta bantuan dari Markaz [Rabwah] di tahun- tahun pertama hijrahnya Hadhrat Khalifatul Masih ar-Rabi (IV) rh.a. Akan tetapi kini, dengan karunia Allah Ta’ala, baik Panitia maupun segenap panitia-nya telah terlatih dan dapat melaksanakan tugas kewajiban mereka dengan baik. Namun, meskipun telah mendapat  kemajuan,  hendaknya  tetap  menimbulkan  sikap  lebih  merendah-hati  lagi pada diri tiap-tiap panitia maupun Pengurus-nya. Berdasarkan Laporan Harian yang diterima dari Officer Jalsah Salanah, menunjukkan – Masya Allah – berbagai persiapan telah  sungguh-sungguh  dilaksanakan!  Semoga  Allah  Ta’ala  memberi  taufiq  kepada setiap panitia, baik pria, wanita, maupun anak-anak untuk dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Sebagaimana telah disampaikan, masalah Keamanan adalah amat sangat penting. Tidak boleh ada kompromi sedikitpun. Namun penting pula untuk menjaga perasaan orang lain. Yakni, petugas terkait tidak boleh main hakim sendiri. Melainkan jika menghadapi situasi sulit, atasilah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Sebagaimana biasa, para Ahmadi suka membawa tamu ghair-Jamaat ke acara Jalsah. Namun, sampaikanlah sebelumnya berbagai informasi mengenai hal-ikhwal latar belakang tamu tersebut, dan respons penanganannya telah sungguh-sungguh dilakukan. Sehingga jangan sampai orang Ahmadi yang menjadi tuan rumah menjadi sasaran keluhan karena terjadi suatu ketertundaan, atau kemungkinan ditolak, atau jadi membebankan. Perlu pula diingat, bahwa akan ada penyelidikan tambahan bagi para tamu luar yang belum dikenal baik oleh tuan rumah. Dan proses ini harus dilakukan pada jauh hari sebelumnya. Perintah ini bukan hanya untuk para panitia Jalsah saja, tetapi hal penting untuk diingatkan sejak sekarang karena berbagai persiapannya pun perlu dilakukan jauh hari sebelumnya. Hanya ada sisa waktu seminggu sebelum acara Jalsah dimulai. Maka berbagai persiapan yang perlu dilakukan, haruslah dapat dilaksanakan sekarang ini. Orang menuliskan keluhan mengenai sesuatu setelah Jalsah. Namun seharusnya tidak ada keluhan bila Panitia sudah tegas menolak di muka suatu permintaan mengenai hal [tamu[ ini. Panitia hendaknya  mengatasi  hal  ini  dengan  lugas  tetapi  dalam  koridor  tradisi  pelayanan dhiafat kita terhadap orang lain.

Hadhrat  Khalifatul  Masih  ingin  menyampaikan  secara  terbuka  bahwa  disebabkan situasi dunia sekarang ini pada umumnya dan terkait dengan Jemaat pada khususnya, unsur-unsur   pengacau sedang sangat aktif. Maka oleh karena itu, bagi mereka yang berniat membawa tamu dari luar haruslah berhati-hati. Jangan membawa tamu yang hanya dikenal selewat. Melainkan, bawalah mereka yang sudah dikenal lama dan yakin kebaikannya. Kemudian, beritahulah Panitia.

Pelayanan dhiafat dalam pengertian umum, dan pelayanan tamu Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada khususnya, hendaknya mempertimbangkan aspek karunia Allah Ta’ala, yang oleh karena itu, perlu menawarkan berbagai pelayanannya, yang dilaksanakan dengan sikap  kepedulian  yang  tinggi.  Semoga  Allah  Ta’ala  memberi  taufiq  kepada  seluruh panitia Jalsah  untuk melaksanakannya demikian, utamanya penekanan kepada Salat dan  doa-doa.  Semoga  Allah  Ta’ala  memberkati  Jalsah  ini  dalam  tiap  seginya.  Dan semoga pula semua tugas kewajiban Panitia dapat diselesaikan tepat pada waktunya, dan seluruh panitia dapat berkhidmat dengan sebaik-baiknya.