بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala  binashrihil ‘aziiz [1]

1 Pebruari 2013

Di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Jumat terakhir yang lalu adalah tanggal 12 Rabiul Awal. Mengenai wiladat (kelahiran) Hadhrat shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya mengatakan bahwa di Pakistan sedang diselenggarakan acara dan peringatan maulid Nabi s.a.w.. Saya mengatakan bahwa berdasarkan pengalaman yang lalu-lalu, secara khusus di Pakistan, dalam peringatan tersebut sedikit sekali membahas mengenai sirat (perjalanan hidup) dan ‘isyq (kecintaan) terhadap Rasul.

      Secara khas di Rabwah, akan lebih menampakkan penentangan kotor dan caci-maki terhadap Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam dan Jemaat beliau. Oleh karena itu, [berdasarkan] laporan yang masuk, tepat seperti itulah yang terjadi.

     Acara-acara diselenggarakan, iring-iringan orang berkonvoi di jalan-jalan di Rabwah, mereka mengucapkan caci-maki kotor. Mereka bebas mengatakan segala sesuatu, sedangkan orang-orang Ahmadi untuk menyebut nama Rasul [Nabi Muhammad] pun tidak ada kebebasan. Ini adalah pekerjaan para ulama su’u (ulama yang buruk). Semoga Allah Ta’ala  mengasihi bangsa [Pakistan], sehingga bisa terbebas dari cengkeraman orang-orang yang dinamakan ulama seperti itu.

     Caci-maki demikian ini adalah pekerjaan para ulama tersebut, mereka terus melakukannya. Caci maki yang dilontarkan dan rintangan-rintangan yang diberikan tidak akan bisa menghalangi kemajuan Jemaat, bahkan setiap penentangan akan meningkatkan derap langkah kemajuan Jemaat lebih dari sebelumnya.

Siapakah Nabi yang Afdhal dan ‘Azhim?

      Saat ini, saya akan mengemukakan beberapa tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di hadapan Anda. Dari tulisan-tulisan itu nampaklah keagungan dan maqam (kedudukan) Hadhrat s.a.w. serta kecintaan, kasih sayang dan ghairat (penghormatan) Hadhrat Masih Mau’ud a.s. terhadap majikannya yang ditaati. Kita juga mendapati contoh-contohnya. Di satu pihak para penentang ini tengah melontarkan caci-maki. Di pihak lain, sedemikian rupa Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan keagungan Hadhrat s.a.w.. Seraya menerangkan perihal keunggulan Hadhrat s.a.w., Hadhrat Masih Mau’ud a.s.bersabda:

      “Hakikat sesungguhnya, yang afdhal (paling unggul) di antara semua nabi adalah nabi yang merupakan murabbi a’zham (pendidik yang paling agung), yakni orang yang dengan tangannya terjadi perbaikan dunia dari fasad a’zham (kerusakan yang paling besar.)

     Ia yang telah menegakkan kembali Tauhid yang telah hilang sirna dan lenyap di dunia. Ia yang telah mengalahkan semua keyakinan yang keliru dengan argumentasi dan dalil, lalu menghapuskan keragu-raguan setiap orang yang tersesat, yang telah menjauhkan keraguan orang-orang yang mulhid (tak beragama), dan ia telah menyediakan wasilah-wasilah (sarana prasarana, jalan-jalan) keselamatan dengan ajaran yang merupakan pokok-pokok yang benar dalam corak baru.

     Jadi, berdasarkan dalil ini, [barangsiapa] yang manfaat dan faedahnya paling banyak, maka derajat dan kedudukannya pun adalah yang paling tinggi. Sejarah mengatakan dan kitab samawi menjadi saksi, serta orang-orang yang memiliki mata pun menyaksikan bahwa nabi yang berdasarkan kaidah ini ditetapkan sebagai yang afdhal dari antara semua nabi adalah Hadhrat Muhammad Musthafa s.a.w..”[2]

      Kemudian, berkenaan dengan keagungan akhlakul karimah Hadhrat S.a.w., Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda :

      “Dalam hal kesabaran dan kelembutan, Nabi Musa mengungguli semua nabi Bani Israil. Di antara nabi-nabi Bani Israil, baik Nabi Isa ataupun nabi yang lain, tidak ada yang sampai pada kedudukan tinggi Hadhrat Musa. Terbukti dari Taurat bahwa dalam hal kelemah-lembutan, kehalusan, dan akhak fadhilah, Nabi Musa adalah yang paling baik dan paling unggul dari semua nabi Bani Israil.

     Sebagaimana tertulis dalam Bilangan 12:3 bahwa Musa adalah orang yang sangat lembut hatinya lebih dari setiap manusia yang ada di atas bumi.[3] Jadi, di dalam Taurat Tuhan telah memuji nabi Musa dengan kalimat-kalimat pujian yang tidak digunakan untuk memuji semua nabi Bani Israil.

     Bagaimanapun, apa yang disebutkan mengenai akhlak fadhilah Hadhrat Khaatamul Anbiya dalam Al-Quran adalah ribuan kali lebih tinggi dari pada Nabi Musa. Karena Allah Ta’ala  berfirman bahwa Hadhrat Khaatamul Anbiya s.a.w. merupakan kumpulan dari seluruh akhlak fadhilah yang dijumpai secara terpisah-pisah di antara para nabi. Mengenai Hadhrat s.a.w. Allah Ta’ala  juga berfirman  وَاِنَّكَ لَعَلَّى خُلُوْقٍ عَظِيْمِ (القلم : 5) – “Dan sungguhnya engkau berada di atas akhlak yang azhim (agung).”

Makna Kata ‘Azhim dan Ketinggian Derajat Nur  Hadhrat Rasulullah  s.a.w.

      Sesuatu yang dipuji dengan kata ‘azhim, dalam ungkapan bahasa Arab adalah mengisyaratkan kepada puncak kesempurnaan sesuatu. Sebagai contoh, jika dikatakan, “Pohon ini ‘adzim”, maka maknanya adalah: tinggi dan besar maksimal yang mungkin dimiliki suatu pohon, semua itu dimiliki oleh pohon tersebut. Demikianlah pula maksud dari ayat tersebut, sejauh akhlak fadhilah (akhlak yang terutama) dan syamailah hasanah (sifat-sifat yang baik) yang bisa diraih oleh manusia, semua itu  terdapat dalam keseluruhan akhlak sempurna pada diri Muhammad.

     Jadi, pujian ini merupakan pujian yang sangat tinggi derajatnya, dimana tidak mungkin  ada  yang lebih dari itu. Ke arah ini pulalah firman Allah pada tempat yang lain meberikan isyarat, yakni ayat وَكَانَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا (النسا : 144) – Dan  karunia Allah   atas engkau  adalah yang  paling besar, dan tidak ada nabi yang dapat sampai pada kedudukan engkau.”

     Pujian ini terdapat di dalam Mazmur pasal 45, sebagai nubuwatan mengenai keagungan Hadhrat s.a.w.. Seperti difirmankan, “Tuhan, yang adalah Tuhan engkau telah mengurapi engkau dengan minyak kesukaan, melebihi sahabat-sahabat engkau.”[4] Ini juga referensinya dari Barahin Ahmadiyah.

        Kemudian mengenai nur berderajat tinggi yang diperoleh oleh Hadhrat shalallaahu ‘alaihi wa sallam, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:

        “Itulah nur paling berderajat tinggi yang diberikan kepada manusia, yakni kepada Insan kamil (manusia yang sempurna). Nur itu tidak ada pada malaikat, tidak ada pada bintang, tidak terdapat pada bulan, tidak pula pada matahari. Tidak pula pada samudera dan lautan di bumi. Tidak pula nur itu terdapat pada batu merah delima, atau yaqut (batu merah delima), atau zamrud, atau berlian, atau permata.

     Pendek kata, nur itu tidak terdapat dalam benda-benda bumi maupun langit. Hanya ada pada manusia, yakni dalam diri insan kamil, yang merupakan manusia paling sempurna, paling tinggi dan luhur, yakni sayyid dan maula (tuan dan majikan) kita, Sayyidul Anbiya, Sayyidul Ahya (sayyid para makhluk hidup), Muhammad Musthafa shalallaahu ‘alaihi wa sallam. Jadi, nur itu diberikan kepada insan itu, dan sesuai dengan tingkatannya, [diberikan] juga kepada semua orang yang mewarnai dengan warna yang sama, yakni kepada orang-orang yang sampai batas tertentu mewarnakan dirinya dengan corak warna [nur] itu. … kedudukan yang paling tinggi, paling sempurna dan lengkap ini dijumpai di dalam diri sayyid (tuan) kita, maula (pengayom) kita, hadi (pembimbing) kita, nabi ummii, shadiq dan mashduq Muhammad Musthafa s.a.w..[5]

Sebagaimana Allah Ta’ala  sendiri berfirman di dalam Quran Karim:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ * لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ ،

 وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ،

 فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ للهِ ،

 وَأُمِرْتُ أَنْ أُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ.

Qul inna shalaati wa nusukii wa mashyaaya wa mamaatii lillaahi rabbil ‘alamiina, Laa syariika lahu wa bi dzaalika umirtu wa ana awwalul muslimin. (QS Al-An’am: 163-164); wa anna haadzaa shiraathi mustaqiiman fa it-tabi’uu hu, wa laa tattabi’u as-sabiila fatafarraqa bikum ‘an sabiilihii. (QS. Al-An’am: 154); Qul inkuntum tuhibbuunallaaha fattabi’uunii yuhbibkumullaahu yaghfirlakum dzunuubakum, wallaahu ghafuurur rahiim. (QS. Ali Imran: 32); Fa qul aslamtu wajhiya lillaahi. (QS. Ali Imran: 21); wa umirta an aslima li rabbil ‘alamiin (QS. Al-Mu’min: 67).

“Katakanlah kepada mereka, sesungguhnya shalatku dan pengorbananku dan kehidupanku serta kematian ku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, Tidak ada sekutu bagi-Nya dan untuk itulah aku diperintah dan akulah orang pertama yang menyerahkan diri.” (QS Al-An’am: 163-164).

Yakni, semenjak permulaan dunia, sampai akhir, tidak ada manusia sempurna seperti diriku yang [menunjukkan] fana fillaah tingkat tinggi, yang mengembalikan segala amanat yang diberikan Tuhan kepada-Nya.

“Yang mengembalikan seluruh amanat Tuhan” artinya adalah, apapun pekerjaan dan tanggung jawab-tanggung jawab yang diamanatkan Tuhan kepada manusia, yang dapat menunaikan amanat itu sampai puncaknya adalah beliau s.a.w..

Ungkapan “Kerendahan Hati” Hadhrat Rasulullah s.a.w.

       Bersabda, “Ayat ini menjawab para muwahhid yang berpikiran dangkal, yang memiliki itikad bahwa tidak ada bukti mengenai keutamaan Nabi s.a.w. atas nabi-nabi yang lain. Mereka mengemukakan hadits-hadits yang dhaif (lemah) dan mengatakan bahwa Hadhrat s.a.w. telah melarang hal berikut dengan bersabda, “Janganlah mengatakan aku diberi keunggulan lebih diatas Yunus bin Matta.”

     Orang-orang bodoh ini tidak memahami bahwa kalaupun itu hadits shahih…”  —  tidak diketahui hadits itu shahih atau tidak, tetapi sekalipun dianggap shahih —  “…itu adalah [ungkapan] kerendahan hati yang senantiasa menjadi sifat khas majikan kita s.a.w.. Setiap hal memiliki kesesuaian dengan tempat dan kondisi. Jika ada seorang shaleh menulis di dalam suratnya “أحقرُ عبادِ الله” ‘Ahqar ‘ibadullaah’ (yang paling hina dari antara hamba-hamba Allah), [jika diartikan secara harfiah] ini berarti orang itu sungguh lebih buruk dari orang-orang di seluruh dunia, bahkan dari para penyembah berhala dan orang-orang fasik, dan ia sendiri menyatakan bahwa ia adalah ‘Ahqar ‘ibadullaah’ (yang paling hina dari antara hamba-hamba Allah). Betapa bodoh dan jahatnya [anggapan itu].

      Hendaklah dilihat dengan seksama, bahwa dalam kondisi ketika Allah Ta’ala  menyebut Hadhrat s.a.w. sebagai awwalul muslimiin, dan menetapkan beliau sebagai penghulu dari semua orang yang taat dan patuh, serta menetapkan Hadhrat s.a.w. sebagai orang yang paling pertama menunaikan amanat, maka apakah setelah itu ada peluang bagi orang yang meyakini Al-Quranul Karim untuk dapat melukai keagungan luhur Hadhrat s.a.w.?

      Dalam ayat diatas, Allah Ta’ala meletakkan beberapa kedudukan untuk Islam dan menetapkan bahwa kedudukan yang dianugerahkan kepada fitrat Hadhrat s.a.w. sebagai yang paling tinggi dari semuanya. سبحان الله ما أعظمَ شأنَك يا رسول الله! Subhaanallaahi maa a‘zhama sya’naka yaa rasulallaah (Maha suci Allah, betapa agungnya kedudukan engkau wahai Rasul Allah).”

      Beliau a.s. bersabda dalam sebuah syair Farsi :

موسى وعيسى همه خيل تو اند

جمله درين راه طفيل تو اند

Musa-o-Isa hamah khaili tu and

 jumlah darin raah thufail tu and

أن موسى وعيسى كلاهما من حزبك أنت، ولكنهما سلكا هذا المسلك بفضلك أنت.

Musa dan Isa, semuanya termasuk ke dalam kelompok engkau. Akan tetapi, di jalan ini, keduanya [berjalan] dengan karunia engkau. [karena kebaikan engkau.]“

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud bersabda:

      “Kemudian terjemahan bagian selebihnya [dari ayat-ayat diatas] adalah, Allah Yang Maha Agung berfirman kepada rasul-Nya, ‘Katakanlah kepada mereka, jalanku adalah jalan yang lurus. Maka kalian ikutilah itu dan janganlah berjalan di jalan lain, karena jalan-jalan lain itu akan menjauhkan kalian dari Tuhan.’         ‘Katakan kepada mereka, “Jika kalian mencintai Tuhan, maka kemarilah. Berjalanlah di belakang ku, yakni melangkahlah di atas jalan ku yang merupakan hakikat luhur dari Islam. Maka Allah Ta’ala  juga akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.”’

‘Katakanlah kepada mereka, “Jalanku adalah ini, yakni aku diperintahkan untuk menyerahkan seluruh wujudku kepada Allah Ta’ala  dan memurnikan jiwaku untuk Rabbul ‘aalamiin (Tuhan semesta alam).”’ Yakni memfanakan diri di dalamnya sebagaimana Dia merupakan Rabbul ‘aalamiin dan aku menjadi khaadimul ‘aalamiin dan seutuhnya menjadi milik-Nya dan berada di jalan-Nya. Karena itu aku telah menjadikan seluruh wujudku dan segala yang kumiliki menjadi kepunyaan-Nya. Sekarang, sedikitpun aku tak memiliki apa-apa, apapun yang menjadi milikku adalah kepunyaan-Nya.”[6]

Kutipan yang saya baca ini adalah dari Ainah Kamalat-e-Islam.

       Jadi, inilah kedudukan Hadhrat s.a.w. dan ini adalah uswah (suri tauladan) yang telah ditegakkan oleh Hadhrat s.a.w.. Sekarang lihatlah, contoh yang diperlihatkan para penentang kita, apakah mereka datang membawa rahmat atau merupakan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mengucapkan kalimah?

Keluasan Karunia dan Nubuwwat   Hadhrat S.a.w.,

     Kemudian mengenai luasnya karunia dan nubuwwat beliau s.a.w., Hadhrat Masih Mau’ud a.s.bersabda:

      “Tuhannya Musa, Isa dan Hadhrat s.a.w. adalah satu, bukanlah tiga. Tetapi dengan penampakkan rupa yang berbeda-beda, dalam Tuhan yang satu itu muncul tiga keagungan. Karena himmah (spirit, ruh, semangat) Nabi Musa hanya terbatas pada Bani Israil dan Fir’aun, karena itu penampakan Qudrat Ilahi hanya terbatas sampai batas itu,  dan jika pandangan Nabi Musa tertuju kepada seluruh umat manusia pada masa itu dan masa yang akan datang, maka ajaran Taurat pun tidak akan seterbatas dan tidak sempurna seperti sekarang ini.

      Begitu juga himmah  (spirit, ruh, semangat) Nabi Isa hanya terbatas pada beberapa golongan Yahudi yang ada di hadapannya, dan kasih sayang beliau sedikitpun tidak bertalian dengan kaum-kaum lain atau zaman mendatang. Karena itu penampakkan qudrat Ilahi di dalam agama beliaupun terbatas hanya seperti himmah (spirit, ruh, semangat) beliau, dan ilham serta wahyu Ilahi di masa mendatangpun tertutup. Demikian juga karena ajaran Injil juga hanya untuk memperbaiki kerusakan amalan dan akhlak orang-orang Yahudi, dan tidak menaruh pandangan terhadap kerusakan-kerusakan seluruh dunia, maka Injil juga tidak mampu untuk perbaikan secara menyeluruh, melainkan Injil hanya untuk memperbaiki perilaku buruk orang-orang Yahudi yang nampak saat itu, tidak memandang kerusakan-kerusakan di seluruh dunia, karena itu Injil juga tidak sanggup untuk perbaikan secara menyeluruh, melainkan ia hanya memperbaiki akhlak buruk kaum Yahudi pada masa itu.

      Begitu juga Injil tidak mengurusi (berkaitan) dengan keadaan-keadaan para penduduk di bangsa lain atau orang-orang di masa mendatang. Dan jika Injil menaruh perhatian kepada ishlah (perbaikan) untuk semua firqah dan tabiat yang bermacam-ragam, maka ajarannya tidak akan seperti yang ada sekarang ini.

      Akan tetapi patut disesalkan, di satu sisi ajaran Injil itu tidak sempurna dan di sisi lain kesalahan-kesalahan yang dibuat sendiri [oleh umat Kristiani] telah menimbulkan kerugian besar, yang menjadikan seorang manusia lemah sebagai Tuhan, dan mengemukakan masalah penebusan dosa yang dibuat-buat sendiri lalu menutup seluruh pintu untuk ishlah (perbaikan) secara amalan.

     Saat ini, kaum Kristen terjerumus ke dalam dua macam kemalangan. Yang pertama, mereka tidak bisa memperoleh pertolongan dari Tuhan melalui wahyu dan ilham karena atas mereka ilham sudah dicapkan [dinyatakan] tertutup. Yang kedua, secara amalan mereka tidak bisa maju ke depan, karena penebusan dosa telah menghentikan mujahadah dan usaha.

Keluasan Penampakan Qudrat Ilahi kepada Hadhrat Rasulullah S.a.w. dan  Makna Khaatamul-Anbiya

      Tetapi orang yang kepadanya turun Al-Quran al-Karim, pandangannya tidak terbatas dan tidak ada kekeliruan dalam simpati dan empatinya [terhadap] khalayak umum. Bahkan sangat sesuai dengan waktu dan sesuai dengan tempat. Dalam diri beliau s.a.w. terdapat rasa simpati yang sempurna, karena itu beliau s.a.w. mendapatkan bagian yang sempurna dan penuh dari penampakkan-penampakkan qudrat. Ia menjadi Khaatamul Anbiya (nabi yang paling sempurna).

     Tetapi bukan dalam arti bahwa di masa mendatang tidak akan ada orang yang mendapatkan berkat kerohanian darinya, melainkan dalam arti bahwa ia adalah sahib-e-khatam (pemilik cap, otoritas pengesahan), tanpa cap (pengesahan) darinya maka seseorang tidak bisa memperoleh karunia itu. Dan untuk umatnya, sampai hari kiamat pintu mukalamah dan mukhatabah Ilahiah (wawancakap dengan Tuhan) tidak akan pernah tertutup. Selain ia, tidak ada nabi yang menjadi sahib-e-khatam.

     Salah satunya adalah yang dengan capnya (pengesahannya) bisa juga diperoleh kenabian yang mesti menjadi ummati (pengikutnya). Dan upaya serta simpatinya tidak   menghendaki untuk meninggalkan umat dalam keadaan yang tidak sempurna (berkekurangan). Dan tidak ingin menutup pintu wahyu yang merupakan pokok mendasar untuk memperoleh ma’rifat.

      Ya, untuk menegakkan tanda khatam-e-risalah menghendaki bahwa karunia wahyu dapat diperoleh dengan perantaraan mengikutinya, dan orang yang tidak mengikuti  maka baginya pintu wahyu Ilahi akan tertutup.

       Jadi, dalam makna inilah Allah Ta’ala  telah menepatkan beliau sebagai Khaatamul anbiya. Oleh karena itu hal ini telah tegak sampai Hari Kiamat, bahwa barang siapa yang tidak membuktikan diri menjadi pengikut sejati beliau dan tidak memfanakan seluruh wujudnya dalam mengikuti beliau, maka sampai Hari Kiamat ia tidak bisa memperoleh wahyu yang sempurna dan tidak akan bisa menjadi mulham (penerima ilham) yang sempurna, karena kenabian mustaqil (berdiri sendiri) itu telah tertutup (sempurna) atas Hadhrat s.a.w..

     Tetapi  kenabian  dzilli (bayangan) yang maksudnya adalah memperoleh berkat Muhammadi, itu akan tetap ada sampai Hari Kiamat, agar pintu [untuk meraih] kesempurnaan [bagi] manusia tidak tertutup dan agar tanda ini tidak lenyap sirna dari dunia, bahwa himmah Hadhrat s.a.w. menghendaki hal ini bahwa pintu mukaalamah dan mukhatabah ilahiah tetap terbuka sampai Hari Kiamat, dan ma’rifat Ilahi yang merulakan pilar bagi najat (keselamatan) tidak hilang. Tidak akan dijumpai dalam hadits shahih manapun bahwa setelah Hadhrat s.a.w. akan datang nabi yang bukan ummati (pengikut), yakni yang memperoleh berkat dengan tanpa mengikuti beliau.”[7]

 

Tawajjuh dan Rintihan Doa Hadhrat Rasulullah s.a.w.

      Berikut ini adalah kutipan dari Haqiqatul Wahyi. [Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menulis]:

     “Kemudian karena doa-doa dan tarbiyat dari Hadhrat s.a.w., di dalam hati para sahabat tercipta gelora kecintaan Ilahi. Dan pengaruh tawajjuh (perhatian) suci Hadhrat shallallaahu ‘alaihi sallam dzahir dalam hati mereka. Mereka menyerahkan diri mereka di jalan Tuhan seperti biri-biri dan kambing yang dipotong kepalanya. Apakah sebelumnya di kalangan umat ada yang bisa memperlihatkan atau dapat memberikan tanda bahwa mereka juga memperlihatkan kebenaran dan kesucian?”

       Kemudian beliau juga memberikan contoh bahwa dalam diri kaum Nabi Musa tidak nampak,  bersabda:

       “Simaklah keadaan para sahabat Al-Masih….sedemikian rupa [keadaan] para Hawari, mereka melarikan diri setelah melihat waktu musibah [ujian, kesulitan, yaitu ketika penangkapan dan penyaliban Nabi Isa] dan salah seorang di antaranya telah memperlihatkan ketidakteguhan (tidak istiqamah) dan tidak tetap pada langkah yang teguh, dan kepengecutan mengalahkan mereka.

      Para sahabat Nabi kami s.a.w. memperlihatkan istiqamah (ketetapan hati) [meski] di bawah ancaman pedang. Mereka telah ridha untuk wafat, yang dengan membaca kisahnya air mata menetes. Jadi, wujud apakah yang telah meniupkan ruh kecintaan ke dalam diri mereka, dan tangan manakah yang telah menciptakan perubahan sedemikian rupa di dalam diri mereka?

      Pada masa jahiliyah keadaan mereka adalah bagai serangga (ulat) dunia. Tidak ada jenis kemaksiatan atau kedzaliman yang tidak nampak dari diri mereka. Namun setelah mengikuti Nabi itu (Nabi Muhammad s.a.w.), mereka ditarik kepada Tuhan, seolah-olah Tuhan telah bersemayam di dalam diri mereka.

      Sungguh-sungguh saya katakan, bahwa inilah tawajjuh (perhatian penuh) Nabi itu, yang telah menarik dan membawa orang-orang itu dari kehidupan yang kotor kepada suatu kehidupan suci. Dan orang-orang yang masuk Islam dengan berduyun-duyun, sebabnya bukanlah karena pedang, melainkan karena pengaruh (hasil) dari doa-doa yang terus-menerus dipanjatkan Hadhrat shalallaahu ‘alaihi sallam dengan rintihan dan tadharru’ selama tiga belas tahun di Mekkah.

Beda Memuji dengan Menghina Rasulullah s.a.w. dalam hal penafsiran ayat Khataman Nabiyyin

     Dan tanah Mekkah berkata, ‘Saya berada di bawah telapak kaki yang beberkat itu, yaitu ia yang hatinya telah menanamkan gempita tauhid sedemikian rupa, ia yang langit telah dipenuhi oleh rintihannya. Tuhan itu tidak memerlukan apapun. Ia tidak perlu pada suatu petunjuk atau kesesatan.’  — yakni baik ada yang mendapat petunjuk atau pun tersesat, Dia tidak membutuhkannya.

     “Jadi, inilah nur hidayah yang muncul di jazirah Arab secara luar biasa, dan telah menyebar di dunia. Ini merupakan hasil dari kepedihan hati Hadhrat s.a.w..” – yakni ini merupakan doa-doa beliau yang bergejolak dari dalam dada agar dunia mendapatkan petunjuk.

      Bersabda lagi, “Setiap kaum telah jauh dan melupakan tauhid, tetapi dalam Islam, mata air tauhid senantiasa mengalir. Semua berkat ini merupakan hasil dari seluruh doa Hadhrat s.a.w.. Sebagaimana Allah Ta’ala  berfirman, لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ (la’allaka baakhi’un nafsaka ‘alla yakuunuu mu’miniina.” (QS. Asy-Syu’ara :4). Yakni, “boleh jadi engkau akan membinasakan diri engkau dalam kesedihan, karena mereka tidak mau beriman.”

     Jadi, tidak terciptanya kesalehan dan ketakwaan yang seperti demikian di dalam umat para nabi terdahulu sebabnya karena di dalam diri para nabi tersebut tidak terdapat tawajjuh (perhatian penuh) dan simpati untuk umat setinggi itu [seperti yang diperlihatkah Hadhrat s.a.w.].

     Sungguh sayang, keadaan dan orang-orang Muslim yang tuna ilmu tidak menghormati Nabi Mukarram (yang mulia) itu dan tersandung dalam setiap hal. Mereka mengartikan khaataman nabiyyiin dalam arti yang memburuk-burukan Hadhrat s.a.w., bukannya memuji. Seolah-olah di dalam diri suci Hadhrat s.a.w. tidak terdapat kekuatan untuk penyempurnaan diri, lalu beliau datang hanya untuk mengajarkan syariat yang kering.”

      Yakni, orang-orang Muslim beranggapan begitu. Yakni, hal itu nampak dari amal perbuatan mereka, selanjutnya bersabda, “Padahal, Allah Ta’ala  mengajarkan doa ini kepada umat, “Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim (tunjukilah kami pada jalan yang lurus, jalan orang-orang yang   telah Engkau beri nikmat – QS. Al-Fatihah: 6).  Jadi, jika umat ini bukan pewaris para nabi terdahulu dan tidak mendapatkan bagian dari karunia itu, maka mengapa doa ini diajarkan?”[8]

Mukjizat Pada Martabat Liqa dengan Allah Ta’ala

      Hal berikut ini juga dikutip dari Haqiqatul Wahyi. Kemudian seraya menyebutkan mengenai beberapa mukjizat unggul Hadhrat s.a.w., beliau (Hadhrat Masih Mau’ud a.s.) bersabda:

       “Dalam derajat liqa itu terkadang timbul dari diri manusia, hal-hal yang melampaui kekuatan manusia…”  — dan ia sampai kepada maqam (martabat) dimana mukjizat juga terjadi, yang secara lahiriah tidak mungkin, bahkan sangat melampaui kekuatan-kekuatan manusia, dan berada di luar kekuatan manusia – selanjutnya bersabda, “yang nampak melampaui kekuatan-kekuatan manusia, dan di dalamnya terkandung corak kekuatan-kekuatan Ilahi seperti pasir (kerikil)  yang dilemparkan oleh Sayyid dan Maula kita Hadhrat Khaatamul Anbiya s.a.w. dalam perang Badr.

      Pasir itu tidak karena suatu doa [yang dipanjatkan sebelumnya], melainkan beliau lemparkan dengan kekuatan rohaniah beliau sendiri. Tetapi pasir itu memperlihatkan kekuatan Ilahi, dan akibat dari mukjizat yang sedemikian itu terkena kepada pasukan musuh, dimana tidak ada seorangpun dari antara mereka yang matanya tidak terkena pengaruhnya…”

      Tidak syak lagi, memang setelah pasir tersebut [dilontarkan] secara hukum alam datang angin topan, tetapi pasir itulah yang telah menciptakan sebab terjadinya topan tersebut. Selanjutnya beliau  bersabda, ”Mereka semua telah menjadi seperti orang buta, di dalam diri mereka timbul rasa takut dan khawatir sehingga mereka mulai melarikan diri seperti orang-orang yang kehilangan kesadaran.

      Mengisyaratkan kepada mukjizat ini, Allah Ta’ala  berfirman dalam ayat وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللهَ رَمَى  (wa maa ramaita idz romaita walaakinnalloha romaa.” Yakni, bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah Ta’ala  lah yang melempar (QS. Al-Anfal: 18).   — karena di belakang debu tersebut, bekerja kekuatan Allah — “yakni secara tersembunyi, kekuatan Ilahi telah bekerja. Ini bukanlah kerja dari kekuatan manusia.”

       Kemudian bersabda lagi,  “Mukjizat lain dari Hadhrat s.a.w. adalah terbelahnya bulan.”  — yakni peristiwa terbelahnya bulan menjadi dua bagian —  “hal itu terjadi karena kekuatan Ilahi, tidak ada suatu doa yang turut serta di dalamnya, karena itu terjadi hanya karena isyarat jari yang dipenuhi dengan kekuatan Ilahi. Selain itu masih banyak mukjizat lain yang Hadhrat s.a.w. perlihatkan semata-mata sebagai keunggulan pribadi, dan di dalamnya tidak ada doa  [yang dipanjatkan sebelumnya].

      Beberapa kali, hanya ada sedikit air di dalam sebuah gelas, dengan memasukkan jari tangan beliau ke dalam gelas tersebut, sedemikian rupa telah menjadikannya banyak sehingga semua lasykar, unta-unta dan kuda juga meminum air itu dan tetap saja air itu ada sesuai dengan kadar [kebutuhan].

      Pada beberapa kesempatan, dengan meletakkan tangan di atas beberapa potong roti, beliau telah membuat kenyang banyak sekali orang-orang yang kelaparan dan kehausan. Dan kadang-kadang, setelah memberkati sedikit susu dengan bibir beliau, beliau membuat kenyang perut jamaah (sekumpulan orang).

      Terkadang dengan memasukkan ludah beliau ke dalam sumur yang berair asin, beliau menjadikan air sumur itu manis. Terkadang dengan meletakkan tanggan beliau di atas luka-luka yang parah, beliau menyembuhkan luka-luka itu.

      Kadang dengan tangan beliau yang beberkat, beliau meletakkan kembali bola mata yang keluar akibat luka dalam peperangan.” — yakni beliau meletakkannya kembali dan demikianlah, mata menjadi baik lagi —  “begitulah, banyak juga hal lain yang beliau lakukan karena keagungan pribadi beliau sendiri, yang di dalamnya terkandung kekuatan Ilahi secara tersembunyi.”[9]

Makna “Hidupnya Para Nabi Allah di Langit”

           Kemudian berkenaan dengan selalu hidupnya Hadhrat s.a.w. di langit, dikatakan bahwa Nabi Isa hidup di langit. Beliau a.s. bersabda bahwa kehidupan di langit adalah milik Hadhrat s.a.w.. Beliau a.s. bersabda, “Secara sepakat, terbukti dari seluruh kitab Ilahi bahwa para nabi dan wali hidup kembali setelah wafat. Yakni kepada mereka diberikan suatu jenis kehidupan yang tidak diberikan kepada yang lain. Ke arah inilah isyarat dari hadits yang disabdakan Hadhrat s.a.w., yakni Allah Ta’ala  tidak akan membiarkan aku  tetap menjadi mayat di kuburan, Dia akan menghidupkan dan mengangkatku kepada-Nya.”[10]

       Yang telah saya baca ini referensinya dari Izalah Auham (Menghilangkan Keraguan). Penjelasannya akan saya sampaikan. Dalam menjelaskan perkara itu  beliau [s.a.w.] bersabda: “Yakni dalam jangka waktu itu saya akan dihidupkan dan dibawa ke langit.” —   beliau saw, yang bersabda seperti itu, tetapi tidak ada seorang Muslim pun yang mengatakan bahwa beliau s.a.w. hidup di langit dengan tubuh beliau s.a.w..

      Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Sekarang perhatikanlah, dalam hal hidupnya beliau s.a.w. di dalam kubur lalu diangkat ke langit,  dengan diangkatnya Nabi Isa ke langit siapakah yang lebih baik? Bahkan yang sebenarnya adalah, dalam derajat kehidupan Isa ibnu Maryam lebih di bawah derajat kehidupan Nabi Musa. Pendirian yang benar, yang atasnya para salafush shalih (orang-orang saleh terdahulu) sepakat, dan juga saksi atas hadits mengenai mi’raj, adalah bahwa para nabi itu serupa dalam kehidupan badani, mereka hidup dengan kehidupan badani dan duniawi” Yakni, dari segi ini serupa, tetapi secara amalan tidak seperti itu.

     Kemudian bersabda, “Dan dibandingkan dengan para syuhada, kehidupan mereka lebih sempurna dan unggul.” Sekarang beliau bersabda mengenai para syuhada, janganlah mengatakan bahwa mereka itu mati, tetapi mereka itu hidup. Namun, para nabi jauh melebihi hal itu.

    Selanjutnya beliau bersabda, “Kehidupan yang paling sempurna, agung, dan mulia adalah kehidupan Sayyid dan Maula kita, [Muhammad] s.a.w.. Hadhrat [Isa] al-Masih hanya tinggal di langit kedua dengan saudara dari paman beliau [sepupu] dan juga mursyid beliau, Hadhrat Yahya.

   Tetapi Sayyid dan Maula kita, Hadhrat s.a.w. ada pada tingkat yang paling tinggi di langit. Di atas itu tidak ada tingkatan yang lain. عند سدرة المنتهى في الرفيق الأعلى ‘inda sidratil muntaha bir rafiiqil  a’laa (dekat pohon Sidrah tertinggi dengan Sahabat Yang Mahatinggi). Dan salam serta shalawat dari umat disampaikan ke hadapan Hudhur s.a.w.. اللهم صلّ على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد أكثر مما صليتَ على أحد من أنبيائك وباركْ وسلِّم Allaahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammadin wa ‘alaa aali sayyidina Muhammadin aktsara mimmaa shallaita ‘alaa ahadin min anbiyaaika wa baarik wa sallim.”[11] Ini juga adalah kutipan dari Izalah Auham, yang baru saja saya bacakan tadi.

 

Sanjungan kepada Hadhrat Rasulullah S.a.w.

      Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda dalam menerangkan bahwa kita mendapatkan Tuhan dengan perantaraan Rasulullah s.a.w., Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Jiwa kami dan setiap zarrah tubuh kami bersujud kepada Tuhan yang Qadir, benar, dan sempurna itu, yang dari tangan-Nya setiap ruh dan setiap zarrah makhluk beserta segala kemampuannya mewujud, dan yang karena Wujud-Nya, setiap wujud (bisa) tegak. Tidak ada satu benda pun yang di luar pengetahuan-Nya, atau kepemilikannya, atau di luar ciptaan-Nya. Semoga ribuan shalawat, salam, rahmat, dan berkat turun kepada Nabi suci Muhammad Musthafa s.a.w. yang dengan perantaraannya kita menemukan Tuhan Yang hidup, Yang memberikan kepada kita bukti keberadaan-Nya melalui firman-Nya, dan Yang memperlihatkan kepada kita melalui tanda-tanda yang luar biasa Wajah-Nya yang bercahaya yang memiliki kekuatan yang kekal dan sempurna. Jadi, kita telah mendapati Rasul yang memperlihatkan Tuhan kepada kita, dan kita telah mendapati Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu dengan kekuatan-Nya yang sempurna. Betapa agung kekuatan-Nya, yang tanpa dukungan-Nya tidak ada benda yang bisa tetap tegak. Tuhan kami yang benar adalah pemilik berkat yang tidak terhitung, pemilik kekuatan yang tidak terhitung, keindahan dan kebaikan yang tidak terhitung. Tidak ada Tuhan lain selain Dia.”[12]

        Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Apapun yang saya peroleh, saya peroleh melalui perantaraan Rasulullah s.a.w., kalian (para penentang) berkata bahwa saya merendahkan maqam (martabat) Rasulullah s.a.w.. Apapun yang saya peroleh, itu saya peroleh dari pintu beliau.” Ini adalah frase bahasa Arab dari Minanur Rahmaan.  Saya  menterjemahkannya.

      Beliau bersabda lagi: “Keberhasilanku ini adalah dari Tuhanku. Jadi aku memuji Tuhanku dan mengirimkan shalawat kepada (nabi-Nya dari) Arab. Dari-Nyalah segala berkat turun dan dari-Nyalah semua jaringan dan saripati [kerohanian] berasal. Dia telah menyediakan untukku akar dan cabang, dan Dialah yang telah menumbuhkan biji dan ladangku, dan Dia adalah sebaik-baik penumbuh.”[13]

     “Segala yang kuperoleh, kuperoleh dengan perantaraan Rasulullah s.a.w.”. Dalam menerangkannya lebih lanjut, beliau bersabda: “Saya berkata dengan bersumpah kepada-Nya bahwa sebagaimana Dia telah bermukalamah dan bermukhatabah dengan Ibrahim a.s. lalu dengan Ishaq, Isma’il, Ya’qub, Yusuf, Musa, Masih ibn Maryam, kemudian setelah itu bercakap-cakap dengan Nabi kami s.a.w. sedemikian rupa sehingga paling banyak menurunkan wahyu yang cemerlang dan suci kepada beliau, seperti itu pula Dia telah menganugerahkan kehormatan mukalamah dan mukhatabah (wawancakap) kepadaku.

      Tetapi kehormatan ini aku peroleh hanya semata-mata dari mengikuti Rasulullah s.a.w. jika aku tidak menjadi umat Rasulullah s.a.w. dan tidak mengikuti beliau, maka sekalipun amal-amalku sama dengan semua gunung di dunia, tetap saja aku tidak akan mendapatkan kehormatan mukalamah dan mukhatabah ini.”

      Yakni berbicara dengan Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala  befirman kepada beliau. Beliau tidak akan pernah mendapatkan kedudukan ini, “Sebab sekarang selain kenabian Muhammad semua kenabian telah tertutup. Tidak ada nabi pembawa syariat yang bisa datang, dan nabi bukan pembawa syariat bisa datang, tetapi yang ummati  (pengikut Rasulullah s.a.w.)”[14]

 

Sanjung Shalawat  kepada Rasulullah S.a.w.

       Kemudian mengenai memuji Allah Ta’ala  dan menyampaikan shalawat pada Nabi s.a.w., beliau bersabda:  “Ya Allah, beribu-ribu syukur kepada Engkau karena Engkau telah menunjukkan jalan kepada kami untuk mengenal Engkau, dan menyelamatkan kami dari kesalahan dan kekeliruan  pemikiran dan akal dengan menurunkan kitab Engkau.

       Shalawat serta salam kepada Hadhrat pemimpin para nabi Muhammad Musthafa s.a.w. serta keluarga dan sahabat beliau, yang melalui mereka Allah telah memberi petunjuk dari kondisi tersesat kepada jalan lurus. Beliau adalah murabbi dan dermawan yang membawa makhluk yang lupa kembali ke jalan yang lurus.

      Beliau adalah muhsin dan pemilik kebaikan yang melepaskan orang-orang dari musibah syirik dan berhala. Beliau adalah nur dan penyebar cahaya  yang menyebarkan cahaya tauhid di dunia. Beliau adalah hakim dan tabib zaman yang meneguhkan hati yang rusak pada kebenaran.

      Beliau adalah orang mulia dan tanda kemuliaan yang meminumkan air kehidupan pada orang-orang yang telah mati. Beliau adalah pemurah dan pengasih yang menanggung kesedihan dan kepedihan demi umat.

     Beliau adalah pemberani dan pahlawan yang mengeluarkan kita dari mulut kematian. Beliau adalah orang yang rendah hati dan tanpa pamrih yang menundukkan kepala beliau dalam penghambaan dan menganggap diri beliau  tidak ada artinya.

     Beliau adalah muwahhid (yang meyakini satu Tuhan) sempurna dan lautan makrifat yang hanya mengakui kejalalan Tuhan dan memandang yang lainnya tidak berharga. Beliau adalah mukjizat kekuatan Sang Ar-Rahmaan yang walaupun buta huruf mengungguli semuanya dalam ilmu kebenaran, dan menyatakan salah setiap kesalahan dan  dosa setiap kaum.[15]

        Sesuai perintah Allah Ta’ala , mengirimkan shalawat kepada Rasulullah s.a.w. adalah perkara wajib bagi setiap Mukmin, Muslim, yang tanpanya standar kecintaan itu tidak sempurna dan tidak akan bisa sempurna, yang seharusnya dimiliki seorang Mukmin kepada Rasulullah s.a.w., tidak pula ada doa yang mencapai derajat pengabulan  atau dapat mencapainya, yang di dalamnya tidak disertakan shalawat.   Tetapi kita juga harus ingat bahwa tujuan pokok shalawat kita hendaknya adalah kecintaan kita kepada Rasulullah s.a.w. dan kecintaan itu hendaknya meliputi semua perkara lainnya.”

       Dalam menerangkan tujuan shalawat tersebut Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Sebagaimana telah saya terangkan…” — sebelumnya beliau sedang menerangkan, sedang berbicara dalam majelis – “bahwa hendaknya membaca (shalawat) dengan maksud supaya Allah Yang Pemurah menurunkan berkat-Nya yang sempurna kepada Nabi Karim s.a.w. dan menjadikan beliau sumber mata air berkat-berkat bagi seluruh alam, dan menzahirkan kesucian dan keagungan beliau di alam ini dan di alam nanti.”

Cara Menyampaikan Shalawat

     “Doa ini hendaknya dipanjatkan dengan penuh kesungguhan seperti seseorang berdoa dengan penuh kesungguhan ketika sedang dalam musibah.”  — yakni hendaknya doa shalawat ini dipanjatkan dengan sepenuhnya dari kedalaman hati, seperti kamu berdoa untuk diri kamu sendiri — beliau bersabda, “Bahkan hendaknya dengan lebih merendahkan diri dan permohonan yang sangat, dan jangan memikirkan diri sendiri sedikitpun.” Bahkan doa-doa itu hendaknya dengan cara lebih merendahkan diri daripada doa yang manusia panjatkan untuk dirinya sendiri, dan hendaknya dia tidak memikirkan dirinya sendiri sedikitpun..

      Selanjutnya beliau bersabda, “Hendaknya dia tidak memikirkan dirinya sendiri, bahwa dengan itu (yakni dengan membaca shalawat) ‘saya akan mendapat pahala atau akan mendapatkan kedudukan anu’, melainkan hendaknya semata-mata dengan maksud supaya berkat-berkat Ilahi yang sempurna turun kepada Hadhrat Rasul yang makbul s.a.w. dan jalaliyah (kegagahan) beliau bersinar di dunia dan akhirat, dan hendaknya meneguhkan tekad untuk tujuan ini. Hendaknya memberikan perhatian secara dawam siang-malam, sehingga tidak ada maksud yang lebih  besar dari itu di dalam hatinya.”[16]  Inilah kecintaan kepada Rasul.

       Kemudian dalam salah satu surat yang beliau tulis untuk Mir Abbas Ali Syah Sahib, yang di waktu kemudian berpaling [berbalik menentang], beliau a.s. bersabda: “Anda hendaknya memberikan perhatian penuh pada shalawat, dan seperti seseorang benar-benar mengharapkan berkat untuk orang yang dicintainya, dengan kesenangan dan keikhlasan seperti itu pula hendaknya mengharapkan berkat untuk Nabi Karim s.a.w. dan hendaknya mengharapkannya dengan penuh kerendahan diri.

      Hendaknya dalam kerendahan diri dan doa itu tidak dibuat-buat, melainkan memohonkan berkat-berkat yang terdapat dalam shalawat itu untuk Hadhrat Nabi Karim s.a.w. dengan persahabatan dan kecintaan sejati kepada Rasulullah s.a.w. serta dengan penuh kesungguhan jiwa….. dan tanda kecintaan sejati adalah manusia tidak pernah lelah, bosan, dan tidak memasukkan maksud-maksud pribadi, dan dia membacanya hanya dengan maksud supaya berkat-berkat Allah yang Maha Pemurah zahir kepada Rasulullah s.a.w.[17]

Shalawat Terbaik dan Timbal-balik Shalawat

        Kemudian dalam sebuah majelis beliau bersabda: “Dengan perantaraan duruud syarif (shalawat)….. saya melihat bahwa karunia-karunia Allah Ta’ala dalam bentuk nur yang mengagumkan pergi ke arah Rasulullah s.a.w. kemudian meresap masuk ke dalam dada beliau. Lalu dari sana keluar dalam cabang-cabang yang tidak terhingga dan sampai kepada yang berhak sesuai kadarnya. Sungguh, tidak ada karunia yang bisa sampai kepada seseorang tanpa perantaraan Rasulullah s.a.w. Apakah shalawat itu? Menggoncangkan ‘arsy (singgasana) Rasulullah s.a.w. yang darinya keluar cabang-cabang cahaya ini. Orang yang menginginkan berkat dan karunia Allah Ta’ala ini, wajib baginya untuk terus sebanyak-banyaknya membaca shalawat supaya karunia itu bergerak.”[18]

       Kemudian dalam satu surat beliau mengenai jumlah, yakni berapa kali hendaknya membacanya atau, ada jumlah atau tidak, beliau kadang-kadang juga memberitahukan jumlah, tapi mengenai itu memberitahukan, “Shalawat yang lebih baik adalah yang keluar dari mulut beberkat Rasulullah s.a.w., dan itu adalah… “   — yakni pertama adalah shalawat mana yang lebih baik, kemudian berapa banyak membacanya. Beliau bersabda bahwa yang lebih baik adalah yang keluar dari mulut beberkat Rasulullah s.a.w. dan itu adalah:

“اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعلى آل محمد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ…”

Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa shallaita ‘alaa Ibrahiima wa ‘alaa aali Ibraahiima innaka hamiidum majiid. Allahumma baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kamaa baarakta ‘alaa Ibrahiima wa ‘alaa aali Ibraahiima innaka hamiidum majiid.’

       Beliau bersabda, “Inilah shalawat yang paling beberkat dari semua shalawat. Inilah wirid (hamba) yang lemah ini dan tidak perlu terikat pada jumlah tertentu. Hendaknya membacanya dengan keikhlasan, kecintaan, perhatian, dan kerendahan hati dan hendaknya terus membacanya sampai timbul kelembutan, kehusyukan, dan pengaruh, dan didapati kelegaan serta kesenangan dalam hati.”[19]

       Kemudian dalam menjelaskan apa hikmah perintah menyampaikan shalawat kepada Rasulullah s.a.w. beliau bersabda: “’Meskipun Rasulullah s.a.w. tidak memerlukan doa siapapun, tetapi di dalamnya ada rahasia yang halus (rahasia yang sangat dalam) orang yang mengharapkan rahmat dan berkat untuk seseorang karena kecintaan sejati, karena hubungan kecintaan sejati itu dia menjadi bagian wujud orang tersebut..” —  yakni ketika memiliki kecintaan sejati dengan seseorang, dan karena kecintaan sejati mengharapkan rahmat dan berkat, maka dia menjadi bagian darinya.

     Selanjutnya beliau bersabda, “Dan karena karunia-karunia Wujud Yang Esa kepada Rasulullah s.a.w. tidak terbatas, maka orang-orang yang membaca shalawat, yang mengharapkan berkat untuk Rasulullah s.a.w. karena kecintaan sejati, mendapatkan bagian dari berkat-berkat yang tidak terbatas itu sesuai dengan kadar ghairatnya. Tetapi tanpa ghairat rohaniah dan kecintaan sejati maka karunia-karunia ini sangat sedikit nampak.”[20]

Qashidah Sanjungan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Kepada Hadhrat Rasulullah s.a.w.

      Inilah cara-cara membaca shalawat. Sekarang saya akan membaca sedikit syair-syair bahasa Arab yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tulis untuk Rasulullah s.a.w. Melalui syair itu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menyebutkan mengenai kedudukan, keagungan dan daya penyucian Rasulullah s.a.w., serta kecintaan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kepada beliau s.a.w., dan bagaimana perlakuan kaum kepada beliau a.s. walaupun beliau a.s. sangat mencintai Rasulullah s.a.w., seberapapun penjelasan yang saya baca, tidak ada yang keluar darinya kecuali kecintaan. Tetapi meskipun demikian kebanyakan umat Muslim menentang beliau. Dalam syair-syair tersebut beliau menyampaikan:

لا شكّ أنّ محمّدًا خيرُ الوَرى

رَيْقُ الكـرامِ ونخبةُ الأعيانِ

‘Laa syakka anna Muhammadan khairul wara

Raiqul kiraami wa nukhbatul a’yaani’

Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad s.a.w. adalah makhluk yang terbaik,

pilihan diantara orang-orang mulia, dan wujud terpilih di antara para pemimpin.

Beliau bersabda:

واللهِ إن محمـدًا كــرِدافةٍ

وبهِ الوصولُ بِسُدّة السّلطانِ

‘Wallaahi inna Muhammadan ka ridaafatin

Wa bihil wushuulu bisuddatis sulthaani’

Demi Allah Muhammad s.a.w. adalah wakil (Tuhan)

dan dengan perantaraan beliaulah dapat dicapai singgasana raja.

Beliau bersabda:

إني لقد أُحيِيـتُ مِن إحـيائه

واهًا لإعـجازٍ فما أَحْياني!

Innii laqad uhyiitu min ihyaanihi

Waahan li-i’jaazin famaa ahyaanii

Tidak diragukan lagi bahwa aku hidup karena dihidupkan beliau, Subhanallaah!

Betapa luar biasa, dan betapa dia telah menghidupkanku

Beliau bersabda:

يا سيِّدي قد جئتُ بابَك لاهِفًا

والقـومُ بالإِكفارِ قد آذاني

Yaa sayyidii qad ji-tu baabaka laahiqan

Wal qaumu bil ikfaari qad aadzaanii

Wahai tuanku! Aku datang ke pintu engkau dalam keadaan dizalimi dan mengadu.

Tatkala kaum telah membuatku berduka dengan mengkafirkanku.

اُنظُـرْ إليَّ برحـمـةٍ وتحـنُّنٍ

يا سيّدي أنا أحـقَرُ الغلمانِ

Unzhur ilayya bi rahmatin wa tahannani

Yaa sayyidii ana ahqarul ghilmaani

Pandanglah aku dengan dengan rahmat dan kasih sayang.

Ya tuanku, aku adalah yang paling hina dari antara para hamba.

جسمي يطيرُ إليك مِن شوقٍ عَلا

يا ليتَ كانت قـوّةُ الطَّيَرانِ

Jismii yathiiru ilaika min syauqin ‘alaa

Yaa laita kaanat quwwatuth thairaani

Tubuhku ingin sekali terbang kepada engkau,

Seandainya aku punya kemampuan untuk terbang.[21]

      Pendek kata, inilah beberapa contoh kecintaan  Hadhrat Masih Mau’ud a.s. yang telah saya sampaikan, dan juga menyisipkan penyampaian mengenai kedukaan atas keadaan kaum. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk memahami kedudukan dan ketinggian itu dalam corak yang sebenar-benarnya dan  mengamalkannya.

 

Doa  Untuk  Kebaikan   Umat Islam

      Terakhir saya ingin memohon doa untuk umat Muhammadiyah (umat Islam). Tidak diragukan lagi, apapun perkataan mereka mengenai kita, apapun anggapan mereka, kebanyakan dari mereka, menentang Jemaat kita ini karena tidak tahu dan takut kepada ulama. Tetapi karena mereka menghubungkan diri mereka kepada junjungan dan teladan kita Hadhrat Muhammad Musthafa s.a.w., karena itu saat ini  kita hendaknya berdoa mengenai keadaan mereka yang menyedihkan. Semoga Allah Ta’ala  mengeluarkan mereka dari kondisi tersebut.

      Kebanyakan negara-negara Muslim menjadi mangsa kesulitan. Kerusakan dan pertengkaran intern telah meletakkan mereka di mulut kehancuran. Semoga Allah mengasihi mereka dan mereka keluar dari kondisi ini.

      Dalam diri para politisi dan pemimpin juga tidak ada rasa takut kepada Tuhan dan keadilan, semoga Allah Ta’ala  menciptakannya dalam diri mereka. Dan masyarakatnya, mereka mengikuti pemimpin yang salah dan menzahirkan kecintaan mereka kepada negara dengan cara yang salah, dan menyia-nyiakan kecintaan tersebut, bahkan merugikan negara.

       Mengerikan, yang sedang nampak dengan jelas. Jika keadaan terus seperti ini, jangan-jangan di beberapa negara, sedikit kebebasan yang mereka miliki berubah menjadi tirani total. Karena itu perlu banyak berdoa.

      Nizam-nizam yang salah yang tegak atas nama Islam, orang-orang yang mencemarkan nama Allah dan Rasulullah s.a.w. orang-orang yang mencemarkan nama Islam, semoga Allah Ta’ala segera membebaskan umat Islam dari mereka, membebaskan dunia dari mereka.

      Sekarang mereka ini juga menjadi bahaya bagi dunia. Sebab orang-orang ini berusaha mencemari wajah Islam yang indah, sedangkan usaha-usaha Jemaat, adalah untuk menzahirkan ajaran Islam yang indah. Sementara kita berusaha seperti ini, berseberangan dengan itu mereka melakukan makar-makar yang kemudian ditampilkan oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam lainnya.

      Semoga Allah juga segera membebaskan kita dari mereka. Semoga Allah menambah kecintaan kita kepada Rasul, dan memberikan taufik kepada kita untuk menjalankan kewajiban-kewajiban dan hak-hak kita.

 

Shalat Jenazah Hadhir Almarhum Ihsanullah Sahib

       Setelah shalat Jumat, setelah shalat, saya mengimami dua shalat Jenazah. Yang satu shalat jenazah hadir,  — (di kesempatan ini Hudhur bertanya, “Sudah datang atau belum?”) Yakni jenazah Ihsanullah Sahib Karachi, yang belakangan ini ada di UK. Pada tanggal 19 Januari, dalam usia 57 tahun, beliau meninggal dunia karena penyakit kanker. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau juga cucu Hadhrat Ahmad Din Sahib, sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

     Beliau dawam shalat, banyak berkhidmat, sangat penyayang, empatik, penyabar dan suka bersyukur, mengutamakan agama diatas dunia, berakhlak sangat baik, insan yang baik dan mukhlis. Sangat mengkhidmati kedua orangtua. Selalu memperlakukan anak istri dengan kasih sayang dan tidak bertindak keras, dan jika kadang melakukannya beliau segera merasa lalu berusaha memperbaikinya.

     Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat yang melimpah kepada beliau, dan melindungi anak-anak beliau, yang berada di Pakistan. Dialah satu-satunya Penjamin. Beliau tinggal di UK sejak 10-12 tahun lalu. Beliau datang untuk mencari suaka, dan permintaan beliau dikabulkan 3-4 tahun yang lalu. Beliau juga mendapat taufik berkhidmat kepada Jemaat di bagian Jaidad di Masjid kita. Dalam keluarga beliau, selain istri beliau ada 6 putri dan 1 putra. Sebagaimana saya katakan, semoga Allah menjadi Penjamin mereka.

Shalat Jenazah Gaib:  Almarhum ‘Alaa Najmi Sahib

      Yang kedua shalat jenazah gaib, yakni jenazah ‘Alaa Najmi Sahib, kakak Mukaram Ikramah Najmi Sahib. Sepuluh tahun yang lalu beliau menderita kanker hati. Setelah itu para dokter berkata bahwa waktunya hanya tinggal 5 bulan. Tapi dengan karunia Allah Ta’ala  beliau tetap hidup sampai 10 tahun. Tanggal 9 Desember 2013, pada hari kewafatannya, beliau di rumah sendirian.

      Ketika putri sulung beliau pulang dari sekolah, beliau berkata kepadanya, ‘Tinggalkan saya sendiri sebentar, karena saya ingin shalat.’ beberapa lama kemudian ketika putri beliau ke kamar, dia melihat bahwa setelah shalat dan berbaring di tempat tidur, beliau telah menghadap kepada Allah Ta’ala . Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

       Almarhum juga sangat baik dan mukhlis. Beliau adalah penduduk Palestina. Bersama-sama saudara-saudara Arab lainnya, beliau menyempurnakan pekerjaan mengontrol program ‘Al-Hiwaar al-Mubaasyar’ [Dialog Langsung acara di MTA 3 berbahasa Arab berisi tanya-jawab narasumber dan para pemirsa berbahasa Arab].

     Begitu pula, beliau juga mengerjakan pengecekan ulang terjemahan-terjemahan khotbah-khotbah Jumat dan kitab-kitab lainnya dari Arabic Desk, dan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Almarhum adalah seorang musi. Dalam keluarga beliau ada kedua orangtua, istri, dua putri dan 1 putra. Putra tunggal beliau lahir pada hari intikhab-e-khilafat (pemilihan khalifah) saya, ketika dilaksanakan pemilihan khalifah kelima. Karena itu beliau juga menamainya Masroor.

      Hani Tahir Sahib menulis mengenai beliau, “Almarhum dan Mukarram Musthafa Tsabit Sahib almarhum serupa dalam hal kecintaan, kesucian, kepatuhan, sabar terhadap penyakit dan tidak mengeluh, dan merendahkan diri. Merupakan mukjizat bahwa penyakit keduanya adalah yang kebanyakan manusia tidak hidup lama karenanya dan tidak bisa melakukan pekerjaan, tetapi keduanya menghadapi penyakit dalam jangka waktu lama dan melakukan banyak pekerjaan.” Dan hal ini sangat benar.

      Almarhum ‘Alaa Sahib melakukan pekerjaan pembacaan dan pengecekan ulang terjemahan buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan khotbah-khotbah Jumat saya [terjemahan dari bahasa Urdu kedalam bahasa Arab). Walaupun sakit keras dan sangat lemah beliau melakukan pekerjaan ini dengan sangat giat.

      Surat terakhir yang saya terima dari beliau, adalah mengenai pengecekan terjemahan pidato para mahasiswa saya di Jamiah Ahmadiyah UK, dan beliau sangat bersyukur karena Allah Ta’ala  memberi taufik untuk itu.

      Tahir Nadim Sahib menulis, “Satu sifat khas Alaa Najmi sahib adalah beliau sangat bersegera melakukan kebaikan. Beliau tahu bahwa umur beliau tinggal sedikit, karena itu beliau ingin memenuhi sebanyak-banyaknya mengisi hari-hari yang tersisa dengan amal-amal saleh.

      Beliau selalu dikirimi terjemahan khotbah Jumat. Tapi jika karena suatu sebab khotbah tidak sampai kepada beliau, maka datang email protes dari beliau bahwa ‘Kenapa kali ini anda tidak mengirim khotbah kepada saya?’ Meskipun penyakit tersebut mempengaruhi penglihatan beliau, beliau menyelesaikan pekerjaan ini dengan cepat.”

     Seringkali beliau mengirim email kepada Arabic Desk mengatakan bahwa ”Kondisi saya sangat buruk karena itu jika ada pekerjaan Jemaat, tolong kirimkanlah.” Yakni untuk mengobati kondisi yang buruk, salah satu obatnya adalah pekerjaan Jemaat. Kadang-kadang juga mengatakan, “Saya hanya menulis untuk mohon doa. Tidak berarti bahwa sekarang kalian berhenti mengirimi saya pekerjaan.”

     Mukmin Tahir Sahib berkata, “Hamba (saya) memiliki hubungan kecintaan yang mendalam dengan almarhum. Ridha dengan keputusan, tawakkal dengan sempurna, kecintaan dan kesetiaan yang kuat kepada khilafat, ketaatan kepada nizam Jemaat, menolong pekerjaan-pekerjaan keilmuan Arabic Desk (bagian bahasa Arab) tanpa kenal lelah, dan pelayanan tamu adalah sifat-sifat beliau yang menonjol. Beliau mengajarkan kepada anak-anak beliau kecintaan yang kuat kepada Jemaat dan khilafat. Beliau berusaha mengajarkan kepada mereka bahasa Urdu. Putri beliau yang terbesar hapal nazm-nazm bahasa Urdu Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

      Beliau selalu berusaha datang setiap Jalsah. Walaupun menderita penyakit berat berupa kanker, beliau tidur di lantai seperti tamu-tamu lainnya. Beliau adalah termasuk penolong-penolong khilafat yang bekerja dengan sangat diam, merendahkan diri dan tanpa lelah sampai nafas terakhir kehidupan beliau. Semoga Allah Ta’ala  senantiasa meninggikan derajat beliau.

      Selama sakit, ketika berbicara tentang anak-anak beliau selalu berkata, “Allah Ta’ala  tidak akan menyia-nyiakan anak-anak saya.” Semoga Allah Ta’ala  mengabulkan harapan baik dan doa-doa beliau mengenai anak-anak beliau, dan menjadi Penjamin mereka. Semoga Allah Ta’ala  menganugerahkan penolong khilafat, sulthan-e-nashir (kekuatan yang menolong) seperti beliau dan yang melebihi beliau di dunia Arab.

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Barahin Ahmadiyah har Charm Hishash, Ruhani Khazain Jild 1, Halaman 97, catatan kaki

[3] Terjemahan bahasa Arab dari ayat dalam Perjanjian Lama, Bilangan, 12:3

“وَأَمَّا الرَّجُلُ مُوسَى فَكَانَ حَلِيمًا جِدًّا أَكْثَرَ مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ الَّذِينَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ”.

[4] Barahin Ahmadiyah, har Char hishash, Ruhani Khazain jilid 1 halaman 605-606, catatan kaki dari catatan kaki

[5] Ainah Kamalat Islam. Ruhani Khazain, Jilid 5, Hal. 160-162-Essence of Islam, Jilid I, Hal. 197

[6] Ainah Kamalat e Islam, Ruhani Khazain jilid 5, halaman 160-165

[7] Haqiqtul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22, hal. 28-30

[8] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22, hal. 101-104, Catatan kaki

[9] Ainah Kalamat-e-Islam, Ruhani Khazain jilid 5, hal. 65-66

[10] Izalah Auham, Ruhani Khazain jild 3, hal. 225

[11] Izalah Auham, Ruhani Khazain jilid 3, halaman 226, catatan kaki

[12] Nasiim-e-Da’waat- Ruhani Khazain jilid 19 hal 363

[13] Minanur-Rahman Ruhani Khazain jilid 9 hal. 186-187

“ووالله إن فوزي هذا مِن يد ربي، فأحمَدُه وأصلّي على نبي عربي، منه نزلتِ البركاتُ، ومنه اللُحْمةُ والسَّداة، وهو هيّأ لي أصلي وفرعي، وأنبتَ كلَّ بذري وزرعي، وهو خير الـمُنبِتين.” (منن الرحمن، الخزائن الروحانية، مجلد 9، ص 186-187)

[14] Tajalliyat Ilahiah, Ruhani Khazain jilid 20, hal. 411-412

[15] Barahin Ahmadiyah, bagian 4, Ruhani Khazain jilid 1 hal. 17

[16] Maktubat-e-Ahmad, jilid awal, hal. 523

[17] Maktubat-e-Ahmad, jilid awal, hal. 534-535

[18] Al-Hakam jilid 7 no. 8 tanggal 28 Februari 1903, hal 7

[19] Maktubat-e-Ahmad, jilid awal, hal. 526

[20] Maktubat-e-Ahmad, jilid awal, hal 535-536

[21] Ainah Kamalat-e-islam, Ruhani Khazain, jilid 5, hal. 590-594

(Visited 121 times, 1 visits today)