Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 14 November 2014 di Masjid Baitul Futuh, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Pada Khotbah hari ini saya hendak menjelaskan beberapa peristiwa yang disampaikan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud رضي الله عنه radhiyAllahu ‘anhu tentang berbagai segi kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud عليه السلام ’alaihis salaam yang dengan itu menampakkan juga beberapa segi dari kehidupan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda tentang diri beliau as, “Secara ilmiah saya tidak memercayai Hadhrat Masih Mau’ud as hanya karena beliau sebagai bapak saya. Melainkan ketika saya berumur 11 tahun dengan kuat saya bertekad, jika natijah dari penyelidikan saya ternyata membuktikan beliau itu dusta, والعياذ بالله, wal ‘iyaadz biLlaah, pasti saya keluar dari rumah. Tetapi, saya memahami betul kebenaran da’wa beliau dan iman saya semakin bertambah kuat. Sehingga ketika beliau wafat, keyakinan saya semakin bertambah kuat.”[2] Beliau ra juga bersabda, “Ketika saya Baiat secara langsung pada umur 10 tahun, di waktu umur relatif masih muda timbul gejolak iman di dalam hati sanubari saya yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.”[3]

Hadhrat Masih Mau’ud as selalu mengajar dan memberi nasihat kepada putra-putri beliau as untuk banyak memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala di waktu mereka masih kanak-kanak. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: “Utusan Allah Ta’ala, yaitu Masih Mau’ud as yang kepadanya Allah Ta’ala berfirman,  ‘ujiibu kulla du’aaika illa fi syurakaa-ika. ’ – ‘Aku akan mengabulkan semua doa engkau kecuali mengenai orang-orang lain dari kaum keluarga engkau, tidak dikabulkan. (Tadhkirah, hal. 21) meminta saya berdoa kepada Allah Ta’ala pada waktu sedang berlangsung sidang pengadilan dalam kasus Henry Martyn Clark, saat umur saya baru 9 tahun. Beliau as juga meminta semua penghuni rumah, para pekerja dan pembantu rumah juga, baik laki-laki maupun perempuan diminta untuk berdoa. Jika orang yang telah dijanjikan doa-doanya akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala, begitu banyak meminta bantuan doa dari orang-orang lain juga, tentu kita sebagai orang biasa harus lebih banyak menaruh perhatian terhadap hal ini. ”[4]

Boleh jadi dari antara saudara Jemaat belum mengetahui latar belakang dari ilham yang telah saya bacakan tadi, “أجيب كل دعائك إلا في شركائك” yang turun kepada Hadhrat Masih Mau’ud as ini. Penjelasannya ialah demikian, beliau as menerima ilham ini ketika beliau as sedang berdoa terkait sidang tuntutan di Pengadilan yang diajukan oleh kerabat beliau as melawan keluarga beliau as karena mereka menginginkan bagian dari harta tetap (perkara tanah, properti kakek moyang) keluarga beliau as. Abang beliau as, Mirza Ghulam Qadir Sahib, atas nama keluarganya mengurus tuntutan itu di sidang-sidang pengadilan. Di sisi lain, ada seorang lain dari keluarga beliau yang menjadi officer di salah satu kantor Pemerintah. Pendeknya, Mirza Ghulam Qadir Sahib merasa yakin ia akan menang di Pengadilan. Sebabnya, tanah properti itu sudah lama dalam penguasaan kami. Tetapi ketika Hadhrat Masih Mau’ud as memanjatkan doa, beliau menerima ilham itu “أجيب كل دعائك إلا في شركائك” Setelah menerima ilham ini beliau as memberi tahu keluarga beliau itu supaya tidak melanjutkan kasus tuntutan itu agar tidak membuang-buang biaya untuk pengacara dan sebagainya sebab mereka akan mengalami kekalahan. Namun mereka tidak menghiraukannya, karena yakin akan menang. Memang keputusan di pengadilan rendah telah dimenangkan oleh saudara Hadhrat Masih Mau’ud as itu, Mirza Ghulam Qadir Sahib. Namun ketika kasus itu dihadapkan kembali ke Pengadilan Pusat (Chief Court), akhirnya Mirza Ghulam Qadir Sahib kalah. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Bagaimana mungkin memenangkan sidang itu padahal sebelumnya juga Alllah Ta’ala telah mengabarkan dengan jelas kepadaku melalui ilham yang bertentangan dengan itu?”[5]

Setelah itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra, Khalifatul Masih II ra menjelaskan ada satu hal lain lagi mengenai doa, namun tujuan beliau memberi nasihat kepada para dokter. Anda lihat di negeri ini, pada zaman sekarang jika ada suatu masalah yang serius sebuah tim dokter duduk bermusyawarah. Begitu juga di Pakistan dan juga di Negara-negara lain di dunia. Tetapi kadangkala beberapa dokter berpendapat bahwa mereka tidak memerlukan musyawarah dari dokter lain. Mereka merasa merekalah yang bertanggung jawab atas pasien yang sedang mereka rawat itu dan pengobatan serta perawatan mereka sudah cukup jadi tidak perlu saran atau bantuan orang lain. Hadhrat Sarah Begum Sahibah, istri Hadhrat Mushlih Mau’ud ra wafat di waktu melahirkan. Berkenaan dengan peristiwa itulah beliau ra menjelaskan bahwa para dokter harus bermusyawarah jika keadaan serius. Jika sendainya diadakan musyawarah mungkin saja jiwa seseorang dapat diselamatkan. Itulah sebabnya beliau ra bersabda bahwa jika Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah menerima kabar bahkan telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala kepada beliau bahwa doa beliau akan dikabulkan, namun beliau juga meminta bantuan doa dari orang-orang lain, kita juga dalam menjalankan tugas atau pekerjaan kita, jika diperlukan musyawarah dan diperlukan banyak berdoa, kita harus melakukannya demikian. [6]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mencerikan peristiwa yang juga berkaitan dengan diri beliau sendiri, “Ketika beliau as berada di rumah Dr Muhammad Husain Shah Sahib (dalam perjalanan yang beberapa waktu setelahnya beliau as wafat), pada suatu hari Dr Mirza Yaqub Baig Sahib datang dan memberi kabar tentang kedatangan seorang retired (pensiunan) pakar hukum beragama Hindu untuk berjumpa Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as bersabda: ‘Hari-hari ini saya sedang sakit dan Mahmud juga sakit, Dokter Sahib harus mengobati Mahmud dengan sebaik-baiknya sebab penyakit Mahmud sangat memprihatinkan saya. ’”[7]

Hadhrat Masih Mau’ud as melupakan penyakitnya sendiri dan memikirkan putra beliau karena beliau sudah paham putra beliau adalah putra yang dijanjikan akan menjadi Mushlih Mau’ud.

Kasus pagar tembok sangat terkenal dalam sidang pengadilan, yang dipersengketakan di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as. Beberapa orang dari keluarga beliau yang menentang telah membangun pagar tembok untuk menutup jalan orang-orang menuju Masjid. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menerangkan mengenainya: “Pada waktu itu saya masih kanak-kanak. Namun saya ingat sekali beberapa orang dari keluarga Hadhrat Masih Mau’ud as yang anti sering menancapkan banyak paku di jalan, supaya di waktu gelap jika terinjak akan melukai kaki orang-orang yang berjalan menuju Masjid. Begitulah yang terjadi. Ketika paku-paku itu sedang dicabuti dan dibersihkan dari jalan itu, mereka memprotes dan mulailah mereka mengajak bertengkar. Begitu juga saya masih sangat ingat bahwa para penentang membangun pagar dinding yang terletak di depan Masjid Mubarak, akibatnya beberapa Ahmadi terpancing oleh kemarahan dan ingin merobohkan pagar dinding tembok itu. Tetapi, Hadhrat Masih Mau’ud memberi nasihat dan bersabda: ‘Tugas kita adalah bersabar dan berbuat sesuai dengan undang-undang. ’

Saya masih ingat ketika saya masih kanak-kanak, dengan karunia Allah Ta’ala saya sudah mulai melihat ru’ya yang sahih. Saya melihat dalam ru’ya atau mimpi dinding tembok itu sedang diruntuhkan dan orang-orang membuang bata-bata dari sana dan tampaknya pada waktu itu turun hujan gerimis. Dalam keadaan seperti itu saya melihat di dalam mimpi itu Hadhrat Khalifah Awwal ra sadang datang dari arah Masjid. Ketika pengadilan memutuskan dinding tembok itu dirobohkan, keadaannya persis seperti di dalam mimpi itu. Waktu itu hujan gerimis pun turun. Ketika Hadhrat Khalifah Awwal ra kembali dari Masjid setelah daras, dinding tembok itu sedang dirobohkan. Saya juga berdiri di situ. Oleh karena mimpi itu telah diceritakan sebelumnya kepada Hadhrat Khalifah Awwal, begitu melihat saya beliau ra bersabda: ‘Mian, lihatlah hari ini mimpi engkau sudah sempurna!’”[8]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan hal lain tentang hari-hari itu, “Ketika di zaman kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as, para penentang menutup jalan masuk ke Masjid dengan membangun dinding tembok. Beliau as terpaksa memasang tabir di dalam rumah beliau untuk memberi jalan orang-orang masuk ke Masjid melalui rumah beliau. Maka, beliau membawa orang-orang masuk Masjid melalui bagian dalam rumah beliau yang sudah dipasang pardah atau tabir. Pintu jalan itu tertutup selama enam bulan atau sampai satu tahun lamanya. Akhirnya kasus itu diajukan ke Pengadilan dan Allah Ta’ala memberi jalan untuk merobohkan dinding penutup itu. ”[9] [keputusan pengadilan merobohkan dinding tersebut]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan suatu peristiwa yang menerangkan mengenai bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as berlaku santun dan menanamkan keberanian dan percaya diri kepada anak-anak beliau: “Saya masih ingat sebuah peristiwa ketika saya masih kecil, kadang-kadang ibu kami berbicara sambil marah dan berkata kepada saya: ‘Kepalamu kecil!’ Atas perkataan ibu itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ‘Kecil juga tidak apa, tidak masalah! Seorang lawyer (pakar hukum) bernama Rattigan sangat masyhur. Kepandaiannya terkenal ke seluruh negeri India. Kepalanya juga kecil.

Dengan memiliki kepala besar tidak dijamin ia orang berakal atau cerdas. Orang yang membiarkan anaknya luput dari pendidikan dan tidak mengajarkan ilmu kepadanya, sekalipun jika kepalanya besar, tetap saja ia akan bodoh tidak akan berakal. Orang yang tidak mempunyai pengertian tentang Tuhan dan Rasul-Nya dan juga tentang Al-Qur’an bagaimana ia akan memperoleh ilmu keruhanian?’”[10] Hal yang paling mendasar adalah kita harus mengerti tentang hukum-hukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, merenungkannya dan berusaha memahami betul mengenai Zat-Nya dan memahami Al-Qur’an, dengan semua hakikat itulah akal kita akan menjadi cemerlang.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pernah bersabda mengenai kesetiaan kepada pemerintah dan menaatinya, “Ketika saya masih kanak-kanak dan akal saya sudah sadar, saya mendengar perintah Hadhrat Masih Mau’ud as untuk menjadi orang yang patuh kepada Pemerintah. Sedemikian rupa patuhnya saya berpegang kepada ketaatan itu sehingga saya pernah berbeda pendapat dengan kawan-kawan dekat saya, sampai-sampai saya berbeda pendapat dengan beberapa pembesar Jemaat kita juga. ”[11]

Sebagian orang mengambil keuntungan dari hal ini dan mengatakan, ‘Kita harus tidak menaati pemerintah karena begini dan begitu. ’ Sementara bagi kita adalah suatu keharusan untuk menaati pemerintah kecuali saat mereka melarang kita mengerjakan suatu perintah syariat. Beliau ra menambahkan lagi, “Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Pemerintah Britania juga merupakan sebuah rahmat dari Allah Ta’ala bagi kita. ’ Hal itu bukan berarti orang-orang Inggris itu sangat baik dan shaleh dan sangat dekat dengan ajaran Islam. Diantara mereka juga banyak orang yang aniaya, ghasib (perampok), fasiq, fajir atau penjahat, pendeknya terdapat berbagai jenis karakter manusia di kalangan mereka. Di dalam bangsa-bangsa lain juga sama keadaannya seperti itu. Di dalam bangsa Britania ini banyak juga orang-orang baik seperti di kalangan bangsa-bangsa lain juga terdapat orang-orang baik. Yang dimaksud dengan rahmat di sini adalah, pemerintah ini sangat sedikit sekali campur tangan dalam kebebasan urusan pribadi rakyatnya. Karena tidak adanya campur tangan pemerintah itu kita mendapat kesempatan untuk mengembangkan ajaran-ajaran Islam. Maka dari hal ini merupakan karunia Allah Ta’ala, bahwa Dia menetapkan bangsa seperti itu untuk memerintah kita. ” (Perlu diketahui beliau ra membahas mengenai zaman dimana Inggris memerintah atau menjajah India dan pemerintahan mereka tidak mencampuri kebebasan pribadi rakyatnya kecuali sedikit urusan saja. )

Beberapa hari yang lalu kita juga mengadakan ‘Peace Conference’ (konferensi perdamaian) di sini (Inggris), seorang reporter media berkata kepada saya, “Keadaan di sini pun mirip. ” Saya menanggapi, “Pemerintah di sini tidak mencampuri urusan pribadi rakyat. Keadaan di sini tidak seperti di Pakistan atau negeri lainnya dimana rakyat terutama Ahmadi dikenai peraturan-peraturan yang membatasi urusan pribadi mereka. ”

Alhasil, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, ”Jika orang-orang Nazi (Jerman) atau kaum Fascist (Italia) memerintah India mungkin mereka akan lebih baik dari pada pemerintah Inggris dalam beberapa hal lain. Mungkin perasaan takut mereka kepada Allah Ta’ala dan keadilan mereka lebih banyak dari pada orang-orang Inggris. Tetapi mereka tidak akan memberikan kebebasan pribadi seperti yang dilakukan oleh orang-orang Inggris. Mungkin mereka lebih baik dan menguntungkan bagi sebagian masyarakat kita secara pribadi namun merugikan bagi kita secara Jemaat. Itu artinya, dari segi hubungan perorangan mungkin saja baik dengan mereka namun bagi Jemaat secara keseluruhan akan merugikan. Dari segi itu Jemaat akan terbatas sekali untuk mengembangkan ajaran-ajaran Islam selama pemerintahan Islami tidak bisa berdiri. Dari segi itulah, bukan dari segi lainnya, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyatakan Pemerintah Inggris sebagai rahmat. ”

Sebagian orang mengkritik bahwa Ahmadiyah adalah pohon yang ditanam oleh Inggris. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda menanggapinya: “Oleh sebab mengapa Hadhrat Masih Mau’ud as memuji Bangsa Inggris itu dan mengakui mereka sebagai rahmat ialah karena mereka memberikan kebebasan berkeyakinan kepada rakyatnya. Namun, itu tidak berarti beliau as menganggap bangsa Inggris lebih jujur dan lebih adil dari bangsa lain. Melainkan, mungkin saja dalam segi keadilan terdapat pemerintah lain yang lebih baik dari Inggris. Yang patut dipuji dari kebudayaan bangsa Inggris adalah mereka tidak memberikan kekuasaan kepada Pemerintahnya untuk mencampuri urusan pribadi rakyatnya. ”[12]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda mengenai jihad dengan pena: “Hati para Nabi sarat dengan rasa syukur. Terhadap kebaikan yang sekecil apapun menganggapnya sebagai ihsaan (jasa) yang sangat besar. Ketika buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a. s sedang dicetak siang malam, sekalipun beliau tidak tidur untuk beberapa malam, namun apabila datang orang membawa proof buku yang akan dicetak, beliau sendiri langsung berdiri menerima dari orang itu, mengucapkan جزاك الله أحسن الجزاء ‘jazakaLlah ahsanal jaza’ kepadanya atas kerja keras yang telah dilakukan olehnya. Padahal beliau as sendiri tidak tidur sepanjang malam.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: “Saya berkali-kali menyaksikan Hadhrat Masih Mau’ud as bekerja menulis buku setiap malam tanpa tidur, sampai saya sendiri yang tertidur. Apa bila mata saya terbangun, saya lihat beliau masih sedang menulis bahkan terus sampai subuh. Orang lain yang sekalipun rela bekerja karena Allah, namun beliau as sangat memperhatikan dan merasakan kesusahan mereka. Mengapa begitu? Sebab di dalam hati para Nabi tertanam perasaan ihsan yang sangat halus.”[13]

Para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as sangat menghormati adab dan tatakrama serta kedudukan beliau as dan mereka tidak melakukan demikian terhadap siapapun kecuali hanya kepada beliau as. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menceritakan kisah beliau sendiri dan bersamaan dengan menceritakan kisah itu beliau juga mengingatkan agar para pemuda Jemaat kita harus tahu betul bahwa Islam memiliki akhlaq dan adab sendiri yang harus kita perhatikan sepenuhnya. Di dalam suatu Khotbah beliau bersabda: ”Saya tidak melihat adanya perhatian untuk mengajar adab Islam kepada para pemuda Muslim. Saya melihat mereka berjalan-jalan dengan bebas sambil merangkulkan tangan pada leher mereka, sehingga di depan saya pun mereka tidak merasa malu berbuat seperti itu. Sebab mereka sedikit pun tidak merasa perbuatan demikian suatu keburukan. Ibu bapak dan guru-guru mereka tidak menaruh perhatian tarbiyat terhadap mereka. Padahal hal itu semua memberi kesan buruk yang sangat dalam. Saya menyaksikan kebanyakan orang masih terpengaruh oleh kesan-kesan seperti itu sampai mereka meningkat dewasa. Apabila teringat terhadap peristiwa itu maka segera saya memanjatkan doa bagi mereka itu. Pada suatu ketika saya melihat saat masih seorang anak, saya sedang berdiri sambil meletakkan sikutnya diatas pundak seorang anak laki-laki lain dan Master Qadir Buksh Sahib ayah dari Maulwi Abdur Rahim Dard Sahib melarangnya sambil berkata kepadanya bahwa perbuatan itu tidak baik. Pada waktu itu umur saya sekitar 12 atau 13 tahun. Tetapi apabila teringat kepada peristiwa itu maka hati saya penuh dengan ratapan doa bagi Master Qadir Sahib.

Begitu juga saya teringat kepada seorang Subedar Muhammad Ayyub Sahib penduduk Murad Abad. Ibu kami berasal dari Delhi dimana perkataan Bahasa Urdu yang biasa dipergunakan ialah ‘tum’ “تُمْ” (أي: أنت) artinya kamu. Sedangkan untuk memanggil orang yang lebih tua biasa dipergunakan perkataan ‘aap’ “آپ” (أي: أنتم) artinya Tuan atau bapak. Karena ibu kami tidak mempunyai saudara atau orang yang lebih tua dari beliau di Qadian, tidak menggunakan perkataan ‘aap’ supaya kami juga bisa belajar menggunakan kata panggilan ‘aap’. Maka sampai umur 10 atau 11 tahun sudah biasa menggunakan perkataan ‘tum’ kepada Hadhrat Masih Mau’ud as di waktu bercakap-cakap dengan beliau. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dan meninggikan derajat Subedar Muhammad Ayyub Sahib, penduduk Murad Abad, mendengar saya berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as menggunakan kata ‘tum’ (artinya kamu), Subedar Sahib membawa saya ke satu tampat dan berkata kepada saya: ”Anda adalah putra Hadhrat Masih Mau’ud as dan beliau patut kita hormati. Tapi ingat, perkataan ‘tum’ dipergunakan hanya kepada orang yang sebaya, bukan kepada orang tua atau orang terhormat. Saya tidak tahan mendengar perkataan ‘tum’ untuk memanggil Hadhrat Masih Mau’ud as.

Itulah pelajaran pertama dan berharga yang beliau berikan kepada saya. Maka kita harus menaruh perhatian khusus terhadap adab atau etiket Islam, bagi para petugas MTA juga yang pada umumnya banyak dikunjungi anak-anak muda. Banyak program MTA yang sangat baik, tetapi sebuah program yang tampil dari Rabwah yang dipersembahkan oleh para Murabbi (Muballigh) dan para Waqif Zindegi lainnya, cara duduk mereka dengan kaki terbuka dan duduk berputar-putar menampilkan pemandangan yang kurang hormat. Mereka pun tidak memakai peci. Program seperti itu yang datang dari Rabwah tidak dapat dipertahankan. Karena itu para petugas MTA di Pakistan harus menaruh perhatian terhadap itu semua. Inti program betapun baiknya, namun jika para presenternya tidak baik maka ia tidak akan ditayangkan. Sebab itu untuk waktu yang akan datang program seperti itu tidak akan ditayangkan. Khususnya para Muballigh harus memperhatikan hal itu betul-betul. Kedudukan mereka mempunyai kerhormatan tersendiri. Mereka harus berusaha untuk mempertahankan kehormatan itu. Jika orang biasa berlaku demikian dapat saja diterima atau dimaafkan, namun jika seorang Murabbi berbuat demikian, tidak dapat dimaafkan. Kebanyakan orang telah menyaksikannya dan memberi tanggapan juga, bahkan setiap orang merasa program yang dihasilkan dari Rabwah tidak menunjukkan suatu kehormatan.

Dalam menceritakan sebuah peristiwa Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: ”Kami juga di waktu kecil suka bermain berbagai jenis permainan. Umumnya saya suka bermain sepak bola. Ketika beberapa pemain Kriket datang di Qadian, mereka membentuk sebuah tim Kriket. Pada suatu hari mereka datang kepada saya dan berkata: ‘Pergilah kepada ayah anda mohon kepada beliau untuk bersama-sama bermain Kriket.’ Saya pun pergi ke dalam rumah, di waktu itu beliau sedang menulis sebuah Kitab. Ketika saya menyampaikan maksud saya, beliau meletakkan qalam (pena) dan bersabda: ‘Bola permainan engkau tidak akan keluar dari lapangan. Tapi saya sedang bermain Kriket yang bolanya akan sampai jauh ke pelosok dunia.’ Sekarang tengoklah, apakah bola permainan beliau sudah sampai ke seluruh pelosok dunia atau belum? Pada waktu ini pertablighan beliau sudah sampai ke Amerika, Holland (Belanda), England (Inggris), Switzerland, Midlle East (Timur Tengah), Afrika, Indonesia dan banyak lagi negara-negara lain.

Kami ingin mengirim seorang Muballigh ke Philipina namun pemerintah di sana tidak memberi izin. Tetapi beberapa hari yang lalu sudah mulai berdatangan surat-surat Baiat dari sana. Tiga hari yang lampau telah diterima sepucuk surat dari Philipina yang isinya mengatakan, ‘Anggaplah surat saya ini surat Baiat dan kirimkanlah beberapa buah literatur kepada kami. (Hal ini mengisyaratkan di zaman Hadhrat Khalifatul Masih II ra.) Setiap kali mengetahui di sana ada orang yang melakukan pengkhidmatan terhadap Islam saya akan menulis sepucuk surat. Saya juga menulis sepucuk surat kepada Anjuman Isya’ati Islam dan ke alamat Masjid London dan Masjid Washington juga saya telah menulis sepucuk surat.’

Sekarang lihatlah seorang pun muballigh tidak ada yang pergi ke Philipina, tetapi orang-orang dengan sendirinya menjalin hubungan dengan Jemaat Ahmadiyah. Bola itulah yang telah dipukul oleh Hadhrat Masih Mau’ud as sembari duduk di Qadian, yang sedang sampai ke pelosok dunia. Sekarang sudah banyak sekali jumlahnya, sehingga mengherankan kita. Bagaimana Allah Ta’ala sendiri yang sedang memperkenalkan Hadhrat Masih Mau’ud as kepada dunia.”[14]

Telah saya sampaikan banyak sekali peristiwa khusus dalam waktu yang berlainan, mengenai bagaimana Allah Ta’ala sendiri Yang memberi bimbingan dan petunjuk kepada manusia, bagaimana Dia memperkenalkan Hadhrat Masih Mau’ud as kepada mereka. Banyak orang yang mengenal Hadhrat Masih Mau’ud as dengan melihat foto beliau atau dengan melihat foto para Khalifah beliau as mereka mengenal, bahwa inilah orang yang telah menyampaikan ajaran Islam hakiki kepada kami (di dalam mimpi).

Dalam menceritakan sebuah peristiwa beliau ra bersabda: “Tanpa bekerja keras, manusia tidak dapat meraih kehormatan baik di dalam urusan agama maupun duniawi. Hadhrat Masih Mau’ud as sering bersabda: ‘Di zaman kita Allah Ta’ala telah mengaitkan semua popularitas dengan kita.’ (Artinya, pada zaman sekarang, zaman Hadhrat Masih Mau’ud as semua popularitas atau orang-orang menjadi terkenal berkaitan erat dengan beliau as.) Sekarang orang yang menjadi terkenal namanya baik dari pengikut kita yang mukhlis atau dari orang yang keras menentang kita. (Artinya, para penentang menjadi terkenal nama mereka disebabkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.) Misalnya, seorang Maulwi yang bernama Sanaullah. Dia bukan Maulwi penting atau besar, kedudukannya setara dengan ribuan maulwi lainnya di seluruh Provinsi Punjab. Jika ia sudah terkenal namanya, semata-mata karena telah menentang keras Hadhrat Masih Mau’ud as. Para penentang itu baik mengakui atau tidak, namun buktinya nama seseorang menjadi terkenal karena menjadi pendukung atau penentang kita. Sesungguhnya kitalah yang menjadi poros penyebab orang-orang itu menjadi terkenal.”[15]

Selanjutnya beliau ra jelaskan secara terbuka, “Selama manusia tidak meraih kesempurnaan ia tidak dapat memperoleh ni’mat ni’mat dari Allah Ta’ala. Kesempurnaan jugalah yang memberikan faedah kepada seseorang yang memasuki agama. Hadhrat Masih Mau’ud as selalu bersabda, ‘Orang yang dapat memperoleh banyak faedah dari kami adalah mereka yang mempunyai perhubungan erat dengan kami, baik ia betul-betul menjadi penentang kami seperti para maulwi kecil, contohnya Maulwi Sanaullah dan Maulwi lain yang tidak ada orang yang memperhatikannya; atau ia menjadi pendukung kami.’ Kini maulwi kecil-kecil menjadikan penentangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as di kawasan masing-masing sebagai sarana mencari nafkah. Jika mereka memperoleh kehormatan di mata masyarakat atau memperoleh rezki hanyalah karena menentang Hadhrat Masih Mau’ud as.

Hubungan sederhana dengan kami tidak memberi faedah apapun. Hanya dengan hubungan yang erat dan sempurna, baru dapat diperoleh karunia. Tanpa itu semua, manusia akan luput dari karunia Allah Ta’ala. Jika seorang insan mengatakan, ‘Telah kuletakkan perahu diatas sungai, terjadilah apa yang akan terjadi sekarang’, ia akan berjalan menuju Tuhan. Maka, ia akan diperlakukan sebagaimana orang terdahulu diperlakukan. Tuhan tidak bermusuhan dengan siapa pun, namun adalah keharusan bahwa manusia harus menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala dan merebahkan diri di singgasana-Nya. Dengan cara demikian pasti karunia akan diperoleh dengan sendirinya. Kemajuan yang sangat diperlukan akan datang dengan sendirinya.

Sebab itu, setiap Ahmadi harus selalu ingat, jika benar beriman, harus menyerahkan segala-galanya di hadapan-Nya. Pikirlah bagaimana keadaan tubuh orang yang duduk di dekat api yang menyala-nyala. Semuanya menjadi hangat. Jika kita pegang muka, tangan, kaki, semua terasa hangat. Bagaimana mungkin dengan meninggalkan segala sesuatu kemudian datang kepada Tuhan dan duduk di dekat-Nya, wujud Allah Ta’ala tidak nampak kepadanya? Sebatang besi jika dimasukkan kedalam api yang menyala, lahirlah sifat api pada besi itu, sekalipun ia bukan api. Begitulah juga orang yang meraih  qurb Allah Ta’ala mempunyai keistimewaan tersendiri. Allah Ta’ala menyelimutkan cadar ‘kun fayakun’ kepadanya sehingga orang bodoh mulai menganggapnya Tuhan. Padahal ia hanya menampilkan bayangan dari sifat Allah Ta’ala.

Maka, jika ingin mengambil faedah dari pada iman yang sejati, caranya adalah harus menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Tetapi, jika bangsa demi bangsa melakukan hal demikian, karunia Allah Ta’ala akan turun secara khas kepada mereka dan mereka akan memperoleh kemenangan dalam setiap medan atau bidang lapangan. Langkah demikianlah yang harus diambil oleh Jemaat kita juga. Namun banyak sekali orang yang menganggap cukup hanya dengan pernyataan lisan saja. Padahal kecintaan manusia kepada Allah Ta’ala harus sedemikian rupa sehingga menjadi bagian dari fitratnya. Jangan membuat cinta dusta. Sebab kedustaan dan kecintaan Allah Ta’ala tidak bisa bersatu dalam satu tempat. Dusta adalah sebuah kegelapan, dan kecintaan Allah Ta’ala adalah nur atau cahaya. Maka, mungkinkah kegelapan dapat bersatu dengan nur?”[16]

Maka, kita harus selalu mengadakan koreksi diri sendiri dan saya senantiasa mengingatkan bahwa setelah Bai’at kepada Hadhrat Masih Mau’ud as harus nampak ada perbedaan antara kita dengan orang lain. Perbedaan itu harus jelas di dalam iman dan keyakinan kita terhadap Dzat Allah Ta’ala bahkan harus lebih dari orang lain. Di dalam ibadah juga harus nampak berbeda dengan orang lain. Usaha untuk meraih semua standar paling tinggi dari yang lain juga harus lebih giat dari yang lain terutama dalam segi akhlaq dan dalam menaati undang-undang juga kita harus menjadi contoh bagi yang lain. Pendeknya setiap Ahmadi harus jauh berbeda di dalam segala hal dengan yang lain. Barulah kita dapat mengambil faedah secara benar dari Bai’at kita seperti disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as

Ada suatu peristiwa yang beliau ra ceritakan terkait sifat ihsaan (kebaikan) dan perlakuan baik. Pada suatu ketika seorang Petugas Negara datang kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan mengatakan bahwa orang-orang Ghair Ahmadi dan Ghair Muslim (yaitu orang-orang Hindu dan yang lainnya yang tinggal di Qadian) mengadukan kepada Pemerintah menentang Masih Mau’ud, “Mereka ini penduduk satu kota dengan tuan, berlakulah hormat terhadap mereka.” Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Tanyalah kepada Boodha Shah (seorang penentang) itu, apakah pernah saya melakukan suatu gangguan sangat besar kepadanya? Tanya lagi kepadanya, apakah saya tidak berlaku ihsan ketika ada kesempatan untuk berbuat ihsan kepadanya?” Mendengar jawaban dari Hadhrat Sahib, Petugas Negara itu diam. Itu merupakan sebuah contoh agung dari akhlak beliau as. Jadi, Jemaat kita juga harus menjadi teladan dalam hal akhlaq. Dalam perkara apapun beliau telah memberi contoh yang sangat bersih, sehingga jika di rumah satu sen pun tidak ada uang, amanat tetap dijaga dan dilindungi. Di dalam setiap pembicaraan harus menggunakan kata-kata santun dan lemah lembut penuh kecintaan sehingga mengesankan hati orang yang mendengarnya.[17]

Apabila seseorang telah terbiasa dengan suatu keadaan, ia tidak merasa susah dalam menghadapi kesulitan, bahkan kesulitan pun hilang, karena sudah terbiasa. Jika kesulitan sudah menjadi terbiasa dihadapi, kesulitan itu hilang dengan sendirinya. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Penjelasan Hadhrat Masih Mau’ud as berikut ini telah saya dengar sendiri berkali-kali secara langsung melalui telinga saya, bahwa Allah Ta’ala menguji manusia dengan dua cara. Pertama, ujian yang untuk mengatasinya manusia mempunyai ikhtiar atau pilihan sendiri. Demi kemudahan, Allah Ta’ala menyerahkan kepada manusia untuk mengatasinya sendiri. Misalnya, berwudhu di musim dingin sebelum shalat (terutama di tempat yang dingin sekali dan tidak tersedia water kran yang mengeluarkan air panas), merupakan sebuah ujian bagi manusia. Di sini tidak menjadi masalah di kamar mandi sudah tersedia water heating dan air panas dengan mudah diperoleh. Namun jika tidak ada water heating (pemanas air) dan harus keluar, air pun sangat dingin ditambah lagi tiupan angin yang dingin sekali, dapat dibayangkan betapa susahnya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ‘Terdapat perintah Allah Ta’ala kepada manusia untuk berwudhu sebelum mengerjakan shalat. Kadangkala di musim dingin waktu shalat sudah tiba dan air panas tidak ada, terpaksa menggunakan air dingin mengerjakan wudhu untuk menunaikan shalat. Keadaan seperti itu juga merupakan sebuah ujian yang diciptakan oleh Allah Ta’ala bagi orang-orang mu’min. Akan tetapi manusia telah diberi pilihan untuk mengatasi ujian itu yaitu jika air untuk berwudhu dingin sekali, Allah Ta’ala mengizinkan untuk memanaskannya dahulu kemudian berwudhu dengan air hangat itu.

Banyak lagi contoh ujian yang seperti itu. Di musim dingin sangat sulit bangun di waktu pagi untuk menunaikan shalat fajar. Namun jika manusia memiliki sarana lengkap untuk mengatasinya, ia tidak akan merasa sulit. Misalnya jika seseorang sudah terbiasa menunaikan shalat Tahajjud, pada waktu itu ia dapat menutup semua pintu rapat-rapat supaya kamar tetap hangat dan hawa sejuk tidak dapat masuk kedalam kamar. Begitu juga di waktu pagi pergi ke Masjid untuk menunaikan shalat fajar, jika merasa sangat dingin manusia dapat memakai baju hangat, overcoat atau selimut tebal, supaya dapat menyelamatkan diri dari hawa dingin. Jika orang sangat miskin tidak memiliki baju hangat, ia bisa bertahan sebab sudah terbiasa dengan keadaan demikian. Sudah menjadi peraturan Allah Ta’ala, apabila manusia sudah terbiasa dengan sesutu keadaan, ia tidak merasa susah lagi. ”[18]

Di Pakistan juga di musim dingin kita sering menyaksikan orang-orang miskin hanya memakai baju biasa, tanpa memakai sarung kaki berjalan kesana-kemari tanpa merasakan susah karena hawa dingin, sebab mereka sudah terbiasa dengan keadaan demikian. Sedangkan kebanyakan dari kita berpakaian serba tebal demi mengatasi hawa dingin. Beliau ra bersabda lagi, “Terkadang saya melihat perempuan-perempuan yang bekerja di tempat yang menggunakan kayu bakar dengan arang yang menyala-nyala, mereka mengeluarkan benda panas dari pembakaran itu dengan tangan kosong tanpa menggunakan alat. Mereka tidak merasa sulit dengan api itu, sebab sudah terbiasa demikian. Sedangkan kita orang biasa tidak bisa mendekat pun kepada bara api itu.”[19]

Maka jika sudah terbiasa dengan sesuatu, manusia tidak merasa susah sedikit pun. Jadi jika ada suatu ujian berupa kesulitan harus diatasi dengan sabar demi ridha Allah Ta’ala. Jika mendapat jalan untuk mengatasinya, maka kita harus berusaha mengamalkan apa yang diperintahkan Tuhan. Jika tidak, manusia harus memaksakan dirinya untuk melakukannya sesuai dengan ketentuan, apabila hal itu sudah menjadi kebiasaan maka tidak akan merasa sulit.

Ujian yang kedua, tidak beliau as jelaskan. Namun, saya akan bacakan satu kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud as tentang hikmat ujian itu. Beliau as bersabda: “Lihatlah Allah Ta’ala mempunyai kekuasaan untuk menyediakan semua jenis sarana kesenangan dan kemewahan bagi manusia dan tidak membiarkan manusia dalam kesusahan atau penderitaan di dalam kehidupan mereka. Kehidupan mereka laksana kehidupan raja, setiap waktu disediakan barang-barang keperluan untuk bersenang-senang dan berfoya-foya. Tetapi Dia tidak berlaku demikian dan di situlah terdapat rahasia besar yang tersembunyi di dalamnya. Kedua ibu bapak sangat mencintai anak-anak perempuan mereka. Kecintaan mereka terhadap anak-anak perempuan melebihi kecintaan kepada anak-anak lelaki mereka. Akan tetapi akan tiba waktunya suatu ketika kedua orang tua harus berpisah dengan mereka. Hari perpisahan itu sangat sensitif dan sangat menyentuh perasaan sehingga sangat menyusahkan hati mereka. Keadaan kedua belah pihak, yang pergi dan yang ditinggalkan, patut dikasihani. Di waktu perpisahan itu (di waktu rukhstanah), ibu bapak menangis dan anak-anak perempuan mereka-pun menangis. Perpisahan setelah tinggal bersama-sama selama 14-15 tahun sangat menyedihkan, memerlukan ketabahan dan keteguhan hati. Alhasil, perilaku tertentu dari kehidupan anak perempuan mereka yang berkesan kuat telah berakhir karena bersatunya anak perempuan mereka dengan suaminya, yang menjadi sebab turunnya berkat dan rahmat dari Allah Ta’ala.

Seperti itu pulalah keadaan manusia Ilahi, selama mereka tidak mendapat berbagai kesulitan keadaan ruhani sejati mereka tidak akan nampak. Lihatlah, kita menceritakan akhlaq fadhilah Hadhrat Rasulullah saw dengan semangat dan bangga. Sebabnya adalah, pengalaman hidup Rasulullah saw terbagi dua waktu, yaitu waktu dalam kesulitan dan waktu mendapat kesenangan. Janganlah memandang buruk terhadap zaman kesulitan dan kesusahan. Sebab hal itu suatu kelezatan dari Allah Ta’ala yang dapat menarik kepada qurb-Nya. Untuk meraih kelezatan seperti yang dianugerahkan Tuhan kepada orang-orang pilihan-Nya, kita harus memutuskan hubungan dengan kesenangan dan kemewahan duniawi. Demi menjadi orang yang dekat dengan Tuhan kita harus menghadapi kesulitan dan harus bersyukur, esok hari pun kita harus menghadapi kesulitan baru lagi yang menyerupai kematian. Apabila manusia telah menghadapi suatu kematian dengan memerangi semua dorongan hawa nafsunya secara sempurna, barulah ia akan memperoleh kehidupan baru yang tidak akan pernah mengalami maut lagi. Setelah itu tidak akan mengalami kematian lagi. ”[20]

Itulah penjelasan singkat mengenai hikmah ujian atau percobaan. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda: ”Ketika saya baru berumur antara 9-10 tahun saya sedang bermain-main bersama pelajar lain di dalam rumah. Di situ ada sebuah lemari buku, di dalamnya ada sebuah kitab kuno dari zaman kakek kami. Kami mulai belajar mengenai ilmu pengetahuan yang baru. Di dalam buku itu tertulis bahwa sekarang Malaikat Jibrail tidak turun lagi. Saya bilang salah, Malaikat Jibrail masih tetap turun kepada ayah saya. Kawan saya itu bilang, di dalam buku itu ditulis, Malaikat Jibrail tidak turun lagi. Mulailah kami berbahas satu sama lain. Akhirnya kami menjumpai Hadhrat Masih Mau’ud as Kami menjelaskan kepada beliau pendapat masing-masing. Beliau as bersabda: “Apa yang ditulis di dalam buku itu sudah salah. Sekarang juga Jibrail masih tetap datang. ”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, ”Saya masih ingat peristiwa di masa kecil yang apabila ingat peristiwa ini saya sendiri suka tertawa-geli, dan kadangkala saya menangis sambil berlinang air mata. Namun saya sangat menghargai juga. Dan di samping terjadi peristiwa-peristiwa yang membuat hati bangga, ada juga yang sifatnya menunjukkan kebodohan. Misalnya, suatu malam di zaman Hadhrat Masih Mau’ud kami tidur di halaman belakang. Waktu itu musim panas, di langit datang awan tebal dan bunyi petir dan halilintar mulai terdengar sangat keras sekali. Sebuah petir telah jatuh di sekitar Qadian. Namun suara petir itu begitu kerasnya sehingga orang-orang sekitar mengira petir itu jatuh di rumah mereka. Karena takut suara petir itu semua orang masuk kedalam kamar. Ketika kami sedang masuk ke dalam kamar tiba-tiba suara petir pun berbunyi lagi dengan keras sekali, maka sayapun segera meletakkan kedua belah tangan menutupi kepala Hadhrat Masih Mau’ud as untuk melindungi beliau dari sambaran petir. Seandainya petir jatuh menyambar, jangan sampai kena kepala beliau as biar jatuh kepada saya. Setelah itu ketika saya sadar, sayapun merasa geli dan tertawa sendiri. Seharusnya kita akan selamat dari bahaya petir itu karena beliau, bukan kita menyelamatkan beliau dari bahaya petir. ”[21]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dalam menceritakan kisah wafatnya Hadhrat Maulwi Abdul Karim bersabda, ”Pada tahun 1905 Maulwi Abdul Karim Sahib jatuh sakit. Saat itu umur saya sudah 17 tahun, zamannya saya senang bermain dan berolah raga. Maulwi Sahib sedang menderita sakit sedangkan kami sepanjang hari bermain dan berolah raga. Suatu hari saya membawa sup untuk Maulwi Sahib, selain itu saya tidak ingat lagi tentang kunjungan kepada beliau selama beliau sakit. Sesuai dengan keadaan pada waktu itu saya pikir Maulwi Sahib tidak akan wafat. Beliau akan wafat setelah Hadhrat Masih Mau’ud as. Maulwi Abdul Karim Sahib bertabiat keras, saya hanya belajar sedikit saja dari beliau kemudian berhenti.

Pada waktu itu orang-orang selalu berbahas tentang Malaikat yang mendampingi Hadhrat Masih Mau’ud as siapa Malaikat di sebelah kanan beliau dan siapa Malaikat di sebelah kiri. Banyak orang berkata bahwa Maulwi Abdul Karim Sahib dan Maulwi Nuruddin Sahib kedua-duanya adalah Malaikat. Sebagian orang berkata bahwa Malaikat sebelah kanan adalah Hadhrat Maulwi Abdul Karim Sahib sebagian lagi berkata Hadhrat Ustadzi al-Mukarram (guru saya yang mulia), Khalifah Awwal adalah Malaikat sebelah kanan. Pada waktu itu dari segi ilmu dan pekerjaan, saya tidak mempunyai kekuatan untuk membandingkan, artinya di waktu masih kecil, saya tidak mempunyai pikiran apa-apa tentang itu. Oleh karena kecintaan Hadhrat Khalifah Awwal ra kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, saya salah seorang dari Nuruddiiniy (pengagum Hadhrat Nuruddin Sahib). Suatu hari kami menghadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan bertanya tentang itu kepada beliau dan beliau pun membenarkan pendapat kami (bahwa Hadhrat Nuruddin paling dekat dengan beliau).

Alhasil, saya tidak mempunyai banyak hubungan dengan Maulwi Abdul Karim, kecuali saya sangat memuji khotbah-khotbah beliau yang sangat baik dan bersemangat serta kecintaan beliau terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as sangat meyakinkan. Namun begitu mendengar berita kewafatan beliau keadaan saya sangat berubah. Berita itu laksana arus listrik bergetar masuk kedalam tubuh saya. Di waktu mendengar kewafatan beliau badan saya lemas tidak berdaya untuk bertahan. Saya cepat masuk ke dalam kamar, pintu ditutup kemudian saya berbaring diatas tempat tidur, lemas seperti mayat.

Air mata pun berlinang dan jatuh bercucuran dari mata saya laksana sebuah sungai mengalirkan airnya. Dunia yang fana, pemandangan kecintaan Maulwi Sahib kepada Masih Mau’ud as dan pengkhidmatan beliau kepada Masih Mau’ud as terbayang di depan mata saya. Berulang kali timbul pikiran di dalam hati saya, betapa tinggi semangat beliau dan bekerja keras luar biasa dalam menjalankan pengkhidmatan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as Mungkin sekarang Masih Mau’ud as akan merasa sulit tanpa beliau. Kemudian pikiran-pikiran itu menjadi tirai penghalang sehingga air mata mengalir tak bisa dibendung. Pada hari itu saya tidak dapat memaksakan diri untuk makan makanan bahkan air mata terus bercucuran tanpa putus. Sehingga Hadhrat Masih Mau’ud as sangat heran melihat keadaan saya, dan bersabda, ‘Apa yang terjadi kepada Mahmud ini? Padahal ia tidak mempunyai hubungan khas dengan Maulwi Sahib. Jangan-jangan ia jatuh sakit karena menahan sedih.’”

Kemudian pada tahun 1908 di kala Ayahanda beliau, Hadhrat Masih Mau’ud as wafat, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, ”Bagi saya sangat susah dan sedih sekali. Itulah era baru bukan hanya bagi kehidupan saya pribadi melainkan bagi kehidupan seluruh orang Ahmadi. Pada tahun itu seorang yang berkedudukan sebagai sebuah ruh bagi semua jasad kita, yang menjadi nur bagi mata-mata kita semua, yang menjadi sinar cemerlang bagi hati-hati kita yang gelap gulita, telah berpisah meninggalkan kita untuk selamanya. Itu bukan sekedar perpisahan melainkan kiamat. Bumi telah terlepas dari bawah telapak kaki kita. Dan langit telah pindah dan bergeser dari tempatnya. Allah Ta’ala menjadi saksi, pada waktu itu saya tidak mempunyai pikiran lagi kepada makanan dan kepada pakaian. Melainkan, hanya satu hal pikiran saya tertuju, yaitu jika manusia seluruh dunia meninggalkan Hadhrat Masih Mau’ud as maka saya tidak akan meninggalkan beliau. Kemudian saya akan mendirikan lagi Silsilah (Jemaat) ini di dunia. Saya tidak tahu sampai dimana janji ini akan saya sempurnakan. Namun niat saya ini selalu tertanam selamanya di dalam kalbu saya untuk menjadikan semua perbuatan dan pekerjaan saya sesuai niat dan janji saya ini.”[22]

Dengan karunia Allah, hari ini kita menyaksikan bahkan generasi setelah kita akan menyaksikan juga Hudhur II ra telah memenuhi janji beliau dengan sesempurna mungkin, bahkan beliau membimbing kita agar dapat menepati janji-janji kita. Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua untuk memenuhi semua janji kita dengan sebaik-baiknya. آمين. Aamiin!

Setelah shalat Jumat saya hendak mengimami dua shalat jenazah. Salah satu jenazah telah hadir di sini yaitu jenazah Ny. Tsurayya Begum, istri Tn. Choudhri Abdur Rahim almarhum dari Multan, yang selama beberapa hari terakhir bermukim di Manchester, UK. Beliau wafat pada 11 November 2014 lalu di usia 77 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun.’ Beliau wanita yang baik lagi shalehah, disiplin dalam hal shalat, penyabar dan bersyukur, dan mengikuti Nizham al-Washiyat. Almarhumah meninggalkan 6 anak laki-laki dan 4 anak perempuan. Salah satu putra beliau, Tn. Abdul Matin, berkhidmat di Jemaat sebagai زعيم أنصار الله ‘Zaim Ansharullah’ di Manchester, sementara satu putri beliau, berkhidmat di Jemaat sebagai رئيسة لجنة إماء الله ‘Raisah atau Ketua Lajnah Imaillah di Manchester. Semoga Allah meninggikan derajat almarhumah dan memberi taufik kepada anak-anaknya agar mereka menjaga kebaikan-kebaikan almarhumah. آمين

Jenazah kedua ialah jenazah Tn. Mahmud Abdullah asy-Syabuthi dari Yaman, yang berpulang ke rahmatullah pada 9 November 2014 karena sakit yang lama. إنا لله وإنا إليه راجعون ‘inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun.’ Ayahanda almarhum mengirim almarhum untuk belajar di Jamiah Ahmadiyah di Rabwah, dan lulus dari pendidikan tersebut dengan gelar “شاهد” Syahid, dan diberi tugas sebagai Muballigh di Yaman setelah Tn. Ghulam Ahmad. Almarhum lahir pada 24 Mei 1934 di Yaman. Ayahanda beliau adalah Muslim Ahmadi pertama di Yaman, dan berbaiat berkat pertablighan Tn. Ghulam Ahmad. Ayahanda almarhum mengirim beliau untuk belajar di Jamiah Ahmadiyah Rabwah, Pakistan pada 1952 hingga lulus. Di samping itu, beliau juga meraih gelar “مولوي فاضل” Maulwi Fadhil dari Universitas Punjab. Beliau seorang ajnabi (asing, non warga Pakistan) pertama yang meraih gelar itu. Setelah lulus dari Jamiah Ahmadiyah, beliau pulang ke Yaman pada 1960. Namun, ayahanda beliau menyarankan agar beliau menikah di Rabwah. Departemen Tahrik Jadid mengatur pernikahan beliau dengan al-Muhtaramah (Yth.) Nisrin Syah, putri dari Tn. Sayyid Basyir Ahmad Shah, yang termasuk dari keluarga Hadhrat Dr. Sayyid Abdus Sattar Shah, hal mana istri Hadhrat Khalifatul Masih IV rha juga termasuk dari keluarga ini.

Seorang putra almarhum menulis tentang ayahnya, “Seluruh mahasiswa Jamiah biasa shalat shubuh di masjid Mahmud yang dekat dengan tempat kantor Tahrik Jadid, namun almarhum biasa shalat shubuh di masjid Mubarak dan setelah shalat beliau bersama Hadhrat Mia Basyir Ahmad ra berjalan-jalan. Diantara kawan-kawan dekat almarhum ialah Tn. Yth. Usman Chou ash-Shini, Mln. Abdul Wahhab Adam almarhum dan lain-lain. Almarhum bertugas sebagai Muballigh Jemaat di Yaman sejak awal tahun 1970-an ketika Yaman baru saja merdeka dari pemerintah Inggris dan Partai Komunis berkuasa. Pemerintah Yaman waktu itu melarang segala aktifitas keagamaan dan dakwah. Karena hal itu, Jemaat memberi petunjuk kepada beliau agar menghentikan aktifitas Jemaat tersebut, terkecuali beliau masih dapat melanjutkan kegiatan pengorganisasian Jemaat dan keuangannya. Beliau biasa menyampaikan khotbah dan mengimami shalat Jumat dan dua Id di masjid Universitas Aden (ibukota Yaman). Itu adalah masjid milik seorang Ahmadi. Setelah kewafatannya, keluarganya yang bukan Ahmadi meminta masjid tersebut dan almarhum Tn. Syabuthi memberikannya. Kemudian almarhum Tn. Syabuthi menjadikan rumah beliau sebagai masjid dan di situ shalat-shalat didirikan. ”

Almarhum Tn. Syabuthi tidak pernah meminta uang dari Jemaat. Segala keperluan Jemaat dipenuhi dari kantong uang beliau sendiri. Beliau tidak mengambil sesuatu pun dari budget Jemaat. Seluruh candah beliau kirim ke Markaz tanpa pemotongan dari beliau, bahkan bidang-bidang tanah Jemaat di Rabwah yang khusus diberikan kepada para Muballigh awal; almarhum termasuk yang mendapatkannya namun beliau berikan untuk keperluan Jemaat sebagaimana telah saya pernah sampaikan, Tn. Mln. Abdul Wahhab Adam juga melakukan hal serupa.

Almarhum menanamkan kecintaan kepada Khilafat dan Jemaat di hati anak-anaknya. Almarhum seorang insan pengasih. Beliau pernah datang kemari dan saya menemuinya. Beliau menjalin silaturrahmi dengan keluarganya, baik dia Ahmadi atau bukan, dan mengunjungi mereka semua secara teratur. Almarhum meninggalkan seorang istri, Sayyidah Nisrin Syah, 5 orang putra dan 12 orang cucu. Salah seorang putra beliau bermukim di Kanada. Putra beliau yang lain, Tn. Nashir Ahmad bermukim di sini di Inggris. Semoga Allah meninggikan derajat almarhum dan memberi taufik kepada anak-anak almarhum agar mereka mengikuti jejak-jejak almarhum. [Amin ! Alihbahasa Hasan Basri]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Sawanih Fadhl Umar, jilid 1, h. 96

[3] Yaad Ayyam (Hari-Hari penuh Kenangan), Anwarul ‘Ulum jilid 8, h. 365.

[4] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 14, h. 131-132.

[5] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22, h. 254-255.

[6] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 14, h. 131-132.

[7] Ishlah-e-Nafs, Anwarul ‘Ulum, jilid 5, h. 456.

[8] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 15, h. 206-207.

[9] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 20, h. 574-575.

[10] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 2, h. 174.

[11] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 15, h. 323.

[12] Al-Fadhl nomor 21, Januari 1938, h. 4, jilid 26, nomor 17.

[13] Al-Fadhl nomor 19, Januari 1919, h. 7, jilid 4, nomor 13.

[14] Al-Fadhl, 8 Februari 1956, h. 4, jilid 10/45, nomor 33.

[15] Tafsir Kabir, jilid 8, halaman 614.

[16] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 17, halaman 470-471.

[17] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 10, halaman 277-278.

[18] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 17, h. 669-670.

[19] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 17, halaman 670.

[20] Malfuuzhaat, jilid 5, h. 200-201, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[21] Sawaneh Fadhl Umar, jilid 1, h. 149-150.

[22] Yaad Ayyam (Hari-Hari penuh Kenangan), Anwarul ‘Ulum jilid 8, h. 367-368.