بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad

Khalifatul Masih V ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 10 Ihsan 1390 HS/Juni 2011

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

            Pada khotbah tanggal 27 Mei dengan rujukan Alqur’anul Karim dan dengan rujukan nubuatan-nubuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan rujukan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud alaihish shalaatu wassalaam, saya menyampaikan tentang Nizam Khilafat yang berlaku dalam Jemaat. Dalam kaitan itu kini saya dengan referensi para Mujaddid  juga saya ingin sampaikan  namun karena topik ini memerlukan sedikit penjelasan karena itu juga dan saya ingin tambah melihat referensi  karena itu pada hari itu saya tidak terangkan, berkaitan dengan itu saya akan terangkan.

Kelihaian Orang Munafik Di Balik Pertanyaan tentang Mujaddid dan Bedanya dengan Khilafat [2]

Beberapa waktu yang lalu dalam kelas Waqf-e-Nou  seorang anak melontarkan sebuah pertanyaan bahwa apakah di masa yang akan datang Mujaddid  bisa datang. Dari itu terpikir oleh saya bahwa soal ini muncul dari sebagian rumah karena di benak anak–anak tidak bisa muncul pertanyaan seperti itu. Atau sebagian orang-orang yang ingin menciptakan keresahan di kalangan anak-anak  dan para pemuda  warga Jemaat, mereka itu yang menyuruh untuk membuat pertanyaan, sesuai dengan Hadits  Rasulullah saw beliau telah bersabda akan datangnya Mujaddid  di awal setiap seratus tahun  dan di dalam Jemaat pertanyaan ini senantiasa mucul di berbagai waktu, bukan di kalangan mukhlis warga Jemaat, bahkan orang-orang yang seperti itu yang ingin memasukkan gap (lobang) di dalam Jemaat dari pihak orang-orang itu pertanyaan ini senantiasa disuruh dimunculkan.

 Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani (II) radhiyallahu ta’ala ‘anhu  juga berkaitan dengan itu telah jelaskan dalam berbagai kesempatan. Kemudian di dalam masa Khilafat kedua juga pertanyaan ini dengan sangat kerasnya dimunculkan, dan Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaalits (III) rahimahullahu ta’ala telah membahas ini dengan sangat detail. Kemudian di zaman Khilafat Rabi’ah (keempat) kepada Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’ (IV) rahimahullahu ta’ala juga pertanyaan ini dilontarkan. Walhasil ini merupakan sebuah urusan yang secara sporadis diungkit atau lahir (muncul) di dalam benak atau tengah muncul di dalam benak. Dan orang yang bersifat munafik inilah niat mereka selalu, dengan cara bagaimanapun diciptakan rasa tidak nyaman di dalam Jemaat bahwa apa perbedaan diantara Khilafat (kekhalifahan) dan Mujaddidiyyat (hal-ihwal pembaharuan agama)? Di dalam hal ini kadang dengan sangat lihai (licik) dengan alasan untuk mencari ilmu hal ini dibicarakan. Tetapi sesudah itu terbukti bahwa niatnya itu lain. Khususnya di zaman Khilafat yang ketiga itu terbukti di belakangnya ada satu fitnah. Akan tetapi sudah merupakan janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa sesudah beliau as, untuk Khilafat beliau yang berjalan juga Dia akan memperlihatkan tangan kekuasaan-Nya yang luar biasa.[3]  Oleh karena itu, kapan saja fitnah seperti itu bangkit, Allah Ta’ala dengan karunia-Nya menghilangkannya karena Jemaat secara mayoritas tidak menyertainya. Kendati sekarang memang fitnah ini tidak seperti itu yang kondisinya menyakitkan, yang diupayakan dimunculkan untuk Hadhrat Khalifatul Masih III rha, namun disebabkan diangkatnya satu dua pertanyaan [mengenai hal itu] oleh karena itu, sedikit banyak saya akan jelaskan.

Di dalamnya tidak ada keraguan terkait Hadits Rasulullah saw bahwa dalam setiap abad untuk memperbaharui agama  Mujaddid  akan datang. [4]  Dan kata–kata di sana di dalamnya tidak hanya digunakan shighah wahid (singular, tunggal) bahkan bisa artinya juga jamak (plural, banyak) dan Hadhrat Masih Mau’ud as mengemukakan itu sebagai bukti kebenaran beliau. Saat ini saya ingin menyuguhkan di hadapan saudara-saudara referensi Hadhrat Masih Mau’ud as. Berkaitan dengan itu tidak terhitung kutipan-kutipan tertulis dan sabda-sabda yang tidak mungkin untuk menerangkannya semua, namun sebagian referensi sebagaimana telah saya katakan akan saya sajikan. Jika [kutipan-kutipan] ini diperhatikan dengan seksama maka berkaitan dengan para Mujaddid yang akan datang juga perkara ini akan menjadi jelas.

Penjagaan terhadap Islam

Beliau as di satu tempat bersabda,

“Tuhan tidak memperlakukan Islam seperti itu dan karena Ia menginginkan agar taman ini senantiasa hijau dan subur  karena itu dalam setiap abad Dia mengairi taman ini dari sejak permulaan. Dan tujuan melindungi itu supaya jangan menjadi kering karena itu dalam setiap abad Dia mengairi taman ini dari sejak permulaan supaya  menyelamatkan ini dari kekeringan. Kendati dalam penghujung setiap abad  kapan saja ada hamba pilihan  Tuhan maka orang-orang jahil senantiasa melakukan penentangan dan mereka sangat tidak menyukai  ada suatu kesalahan yang telah merasuk di dalam adat kebiasaan mereka  diperbaiki.” Orang-orang yang berteriak ini sebelumnya juga mereka berteriak kemudian mereka juga melakukan permusuhan walhasil beliau as telah bersabda, ”Tetapi Allah tidak meninggalkan sunnahnya hingga akhir zaman yang merupakan zaman peperangan terakhir antara kesesatan dan petunjuk Allah pada akhir  abad ke empat belas  dan di akhir ribuan terakhir  setelah mendapatkan umat Islam dalam kelalaian kemudian kembali Dia mengingat akan janji-Nya. Dan Dia memperbaharui agama Islam namun agama lain setelah nabi kita saw tidak pernah mendapat pembaharuan (peremajaan). Oleh karena itu, semua agama itu mati. Di dalam diri mereka kerohanian itu  tidak ada lagi dan banyak sekali kesalahan-kesalahan yang menjadi membatu di dalam diri mereka seperti halnya kain yang digunakan yang tidak pernah dicuci dan manusia-manusia yang tidak pernah kenal dengan istilah kerohanian yang nafsu ammarahnya tidak pernah bersih dari kehidupan yang rendah hina-dina lalu setelahnya mereka memasukkan (mewarnai) dalam agama-agama itu sesuai dengan keinginan-keinginan pribadi mereka itu dan sedemikian rupa corak (wajah agama)nya telah dirubah sehingga menjadi bentuk lain.” [5]

Maka jelas apa yang beliau as terangkan bahwa untuk menegakkan cahaya yang Rasulullah saw bawa di dalam Islam Dia telah menciptakan  di dalam berbagai kesempatan berbagai corak wali dan para Mujaddid yang terus  menyebarkan cahaya agama pada lingkungan masyarakatnya masing-masing. Sebab, Allah menghendaki menegakkan agama itu sedangkan (pengawasan) terhadap agama yang lain tidak ada jaminan seperti itu. Oleh karena itu, sedemikian rupa kekotoran-kekotoran yang masuk di dalamnya yang karenanya  agama  itu  menjadi hancur berantakan.

Mujaddid yang Dinanti-nanti Hanya Masih Mau’ud dan Mahdi

 Kemudian beliau as bersabda,

“Kondisi di semua zaman adalah demikian bahwa setiap tempat sedemikian rupa memerlukan ishlaah (perbaikan) yang karena itu Tuhan mengirim Mujaddid pada zaman ini yang Dia menamainya Masih Mau’ud dan yang penantiannya dari sejak lama dan semua nabi telah menubuwatkan berkaitan dengannya dan orang-orang suci pada setiap zaman sebelumnya menginginkan supaya mereka mendapatkan waktunya (mengalami zaman Mahdi dan Masih tersebut-Red).“ [6]

Kini, di sini Mujaddid yang untuknya beliau as bersabda dia adalah Mujaddid yang merupakan Masih Mau’ud as yang tengah ditunggu-tunggu. Tidak ada Mujaddid  yang mengenainya telah dinubuatkan bahwa dia ditunggu-tunggu kecuali Masih Mau’ud as. Dialah wujud yang mana nabi-nabi terdahulu juga telah memberitahukannya dan menubuatkannya, karena zamannya (zaman Masih Mau’ud) adalah aakhiri zamaanah (zaman akhir) yang di dalam zamannya itu ada diin ki isyaa’at (pengembangan, penyebarluasan agama) dan nama Allah Ta’ala disebarluaskan di dunia, amanat tersebar di dunia. Kemudian beliau as bersabda,

‘Tatkala setelah Allah melihat kondisi zaman  sekarang ini dan mendapatkan bumi penuh dengan  berbagai macam kefasikan, maksiat dan kesesatan Dia mengirim saya untuk menyampaikan kebenaran dan  untuk perbaikan.“ Kini di sini renungkanlah kata-kata ini ‘Dia mengirim saya untuk menyampaikan kebenaran dan  untuk perbaikan’. “Dan zaman ini pun sedemikian rupa bahwa …. Orang-orang dunia setelah mengakhiri abad ke-13 Hijriah mereka telah sampai pada ujung abad ke-14. Baru saya karena menaati perintah itu mulai menyeru di kalangan orang-orang umum  dengan perantaraan selebaran tertulis dan ceramah-ceramah bahwa Mujaddid yang akan datang untuk memperbaharui agama dari Tuhan pada ujung abad ini adalah saya supaya iman yang telah terbang dari bumi itu kembali saya tegakkan. “ [7]

Tugas Mujaddid ini, menyampaikan kebenaran dan melakukan ishlah (perbaikan) sebelum ini telah beliau sebutkan. Ia menegakkan kembali iman yang telah hilang. Dan berkaitan dengan iman yang terbang itu  merupakan nubuatan dari Rasulullah saw  bahwa jika iman itu telah terbang ke bintang Tsurayya sekalipun  maka akan lahir seorang laki-laki dari Persia yang akan  datang untuk mengambilnya kembali. Kemudian beliau as bersabda,

“Dan setelah mendapatkan kekuatan dari Tuhan  dengan usaha Tangan (pertolongan Tuhan) itu saya menarik manusia ke arah ishlaah, ketakwaan dan kejujuran dan menjauhkan kesalahan-kesalahan i’tiqad (kepercayaan, keyakinan) dan amal perbuatan mereka dan kemudian setelah lewat beberapa tahun maka melalui wahyu Ilahi  dengan terang dibukakan kepada saya  bahwa Al-Masih (Isa) yang di dalam umat  ini  sejak semula itu telah dijanjikan [kedatangannya]; dan Aakhiri Mahdi (Al-Mahdi Terakhir) yang pada masa  mundurnya  Islam  dan di zaman tersebarnya kesesatan mendapat petunjuk langsung dari Allah; dan yang menyajikan hidangan dari langit dalam corak yang baru itu telah ditetapkan dalam takdir Ilahi; dia yang  kabar gembiranya telah diberikan oleh Rasululah saw sejak 13 abad yang lalu ’woh me hii huu’ – yaitu sayalah orangnya (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as).” [8]

Jadi maqam (kedudukan) beliau as ini  tidak hanya kemujaddidan bahkan kedudukan Mahdawiyyat (kemahdian) dan Masihiyyat (kemasihan) juga dan karenanya kedudukan nubuwwat (kenabian) juga. Kemudian beliau besabda:

“Kepada siapa yang ditujukan itu bahwa zaman Mahdi itu merupakan zaman pembaharuan dan gerhana bulan dan matahari itu adalah sebuah tanda untuk mendukungnya. Maka kini tanda itu telah muncul. Siapa yang mau menerima terimalah.” [9]

Dan tanda gerhana matahari dan bulan yang berkaitan dengan itu Rasululah saw telah bersabda bahwa dari sejak langit dan bumi diciptakan tidak pernah tanda ini zahir untuk siapapun.[10]

Kedudukan Masih Mau’ud Yang Jauh Lebih Tinggi dari Sekedar Mujaddid

Ini hanya merupakan tanda dari Mahdi kami, Mahdi yang kedudukannya sangat tinggi, tidak hanya sekedar maqam mujaddidiyyat (kedudukan kemujaddidan) bahkan suatu maqam yang sangat tinggi. Dengan memperhatikan hal itu, [perlu dicamkan bahwa] Hadhrat Masih Mau’ud  as tidaklah hanya  Mujaddid abad ke-14 bahkan [lebih dari itu] sebagai Masih dan Mahdi. Dengan diutusnya beliau as untuk melakukan pekerjaan (tugas) tajdid diin dan untuk hidayat (pemberian bimbingan) tetapi kedudukan beliau adalah sangat tinggi dan merupakan kedudukan yang jauh lebih tinggi dari kedudukan kemujaddidan. Kendati beliau as bersabda, “Mujaddid abad ke-14 adalah saya;” tetapi sebagaimana telah saya katakan bahwa itu adalah akibat dari kedudukan ini sehingga beliau juga mendapatkan kedudukan kenabian. Kemudian beliau as bersabda,

“Hendaknya diketahui  bahwa kendati dari Rasulullah saw  Hadits ini secara umum telah terbukti kebenarannya bahwa Tuhan akan terus membangkitkan Mujaddid untuk perbaikan umat ini dalam setiap abad yang akan memperbaharui (menyegarkan) agama-Nya. Namun demikian, untuk abad yang ke-14, yakni berkaitan dengan kabar suka satu sosok Mahdi agung yang akan muncul pada ujung abad ke-14, sedemikian rupa isyarat kenabian itu akan didapatkan yang mana tidak ada pencari kebenaran yang dapat mengingkarinya.“ [11]

“Oleh karena itu, Tuhan telah mengirim Rasul ini, yakni Mujaddid sempurna itu agar di zaman ini membuktikan lalu memperlihatkan, semua agama dan semua ajaran dibandingkan Islam tidak bernilai apa-apa.” [12]

Jadi pertama inilah kedudukan beliau as bahwa beliau adalah Mujaddid agung dan Mujaddid yang sempurna. Beliau as di satu tempat bersabda, “Bahwa Khilafat Hadhrat Musa berakhir pada masa kedatangan Hadhrat Isa as namun untuk menjadikan ajaran Islam senantisa segar kabar suka tentang kedatangan Mujaddid di setiap abad Rasululah saw telah menubuatkan supaya bid’ah yang masuk dalam agama selama 100 tahun atau keburukan-keburukan yang masuk di dalamnya perlu perbaikan itu dapat diperbaiki. Kelemahan-kelemahan yang terjadi di dalamnya  itu terus menerus menjadi hilang. Dan sejarah Islam menjadi saksi bahwa di dalam Islam untuk meneruskan ajaran yang cantik itu, untuk membawanya pada kondisinya semula Mujaddid-Mujaddid terus berdatangan. Hadhrat Masih Mau’ud as mengemukakan pendakwaan beliau bahwa manakala Mujaddid-Mujaddid  sebelumnya  terus datang  maka kenapa di abad ini tidak? Di abad ini juga Mujaddid  hendaknya datang. Selain saya tidak ada yang mendakwakan diri  bahwa saya adalah Mujaddid pada zaman ini  dan sesuai dengan nubuatan Rasululah saw saya adalah Masih Mau’ud karena saya mendapatkan kedudukan nabi oleh  karena itu saya adalah Mujaddid  yang sempurna. Dan karena  status sebagai Mujaddid  abad ke 14  dan karena sebagai Masih dan Mahdi beliau merupakan Mujaddid yang agung yang nubuatan-nubuatannya telah dinubuatkan oleh nabi-nabi  terdahulu  perkataan ini beliau sampaikan kepada para penentang yang mengatakan bahwa pendakwaan beliau tidak benar. Jadi ini merupakan keagungan beliau dan dengan referensi  itu  kita hendaknya membaca semua referensi itu. Kini  jika kita memperhatikan keagungan beliau dan berkaitan dengan penegakan Khilafat Rasulullah saw Hadits dikemukakan itu hendaknya diperhatikan maka urusan para Mujaddid yang akan datang akan menjadi terselesaikan. Bahkan ada lagi satu sabda Hadhrat Masih Mau’ud yang sedemikian jelas. Beliau as di dalam ‘Lekcer Sialkot’ – “Pidato Sialkot” bersabda, “Imam yang dikatakan sebagai Masih Mau’ud dia juga adalah Mujaddid abad ini dan Mujaddid ribuan terakhir juga.“ [13]

Bukan Sekedar Mujaddid Abad ke-14 Bahkan Mujaddid Ribuan Terakhir

Maksud dari alfi akhir adalah ribuan tahun terakhir.  Penjelasannya beliau jelaskan bahwa zaman Adam kita  adalah 7 ribu tahun dan kita sekarang tengah melewati ribuan yang terakhir dan Hadhrat Rasulullah saw telah menyabdakan bahwa sebelum [seribu tahun terakhir] itu adalah zaman gelap seribu tahun [dimulai 3 abad setelah wafat Nabi saw sampai abad ke-13 Hijriyah], akan menjadi zaman kegelapan dan kemudian Masih dan Mahdi akan muncul pada abad ke-14 dan kemudian dengan kemunculan Imam Mahdi akan terjadi kebangkitan Islam kedua kali. Di dalam masa kegelapan seribu tahun itu lahir Mujaddid-Mujaddid pada tiap abadnya. Di berbagai daerah muncul Mujaddid-Mujaddid. Akan tetapi nilai mereka adalah seperti lampu-lampu penerang kecil yang terus menyinari tempat atau wilayahnya masing-masing, terbatas pada waktu dan abad mereka, bahkan pada satu waktu datang beberapa Mujaddid. Tapi kemuliaan ini didapatkan oleh Mujaddid agung karena dia disebut sebagai Mujaddid ribuan terakhir. Kehormatan beliau bukan merupakan Mujaddid untuk seratus tahun tetapi menjadi Mujaddid ribuan yang terakhir. Karena ini merupakan kehidupan dunia yang terakhir. Maka di satu tempat bersabda, ”Dikarenakan ini adalah ribuan yang terakhir oleh karena itu adalah harus bahwa Imam Akhiruz Zaman lahir pada penghujungnya dan sesudahnya tidak ada imam dan tidak ada Masih akan tetapi ada yang sebagai zhilli (bayangan) baginya.” [14]

Dia (mujaddid tersebut) akan berada di bawah beliau as, menjadi pengikut beliau as.  Maka di dalam itu tidak ada keraguan sedikit pun bahwa sesuai dengan petunjuk Hadhrat Rasululah saw, Mujaddid dapat datang di abad ini, sedang datang dan di masa depan juga bisa akan datang namun sebagai bayangan dari beliau as (Imam Mahdi). Dan bayangan, yang beliau telah terangkan dengan sangat jelas dan sesuai dengan hadits Rasulullah saw dan hadits itu adalah: Dari Hudzaifah ra Rasululah saw bersabda,

”Bahwa diantara kalian selama Allah menghendaki  kenabian itu akan tegak atau akan ada; kemudian apabila Dia berkehendak maka Dia akan mengangkatnya; kemudian selama Tuhan menghendaki Khilafat di bawah mekanisme kenabian akan ada; kemudian manakala Dia menghendaki Dia akan mengangkatnya; kemudian kapan Dia menghendaki maka Dia akan mengangkat nikmat itu; kemudian kerajaan yang menyakitkan akan selama Tuhan menghendaki; kemudian Dia akan mengangkatnya kapan Dia menghendaki; kemudian akan berdiri kerajaan yang lebih zalim dari itu selama Tuhan menghendaki kemudian Dia akan mengangkatnya selama Tuhan menghendaki; kemudian sesuah itu aan berdiri Khilafat di bawah cara atau mekanisme kenabian kemudian beliau diam.” [15]

Jadi, Khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah (Khilafat sesuai tatacara kenabian) akan berdiri. Maka inilah pada hakekatnya yang akan mengerjakan tajdid diin (perbaikan pemahaman yang salah dalam agama).  Karena di dalam kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as, ”Aku lahir (ada, tercipta) sebagai suatu kudrat dari Tuhan. Aku adalah kudrat Tuhan yang berjasad. Kemudian sesudah aku akan ada lagi beberapa wujud yang menjadi mazhar (cerminan atau tempat zahir atau manifestasi) Kudrat Kedua.” [16]

Dan perumpamaan kekuatan kedua (Kudrat kedua), beliau as memberikan contoh dengan Hadhrat Abu Bakar radhiyallahu ta’ala ‘anhu bahwa Allah Ta’ala menegakkan) beliau (Hadhrat Abu Bakr ra) sesudah (wafatnya) Rasulullah saw lalu memperlihatkan contoh Kudrat Kedua. Jadi beliau as yang merupakan Mujaddid  ribuan terakhir  dengan perantaraan beliau as akan berdiri Khilafat di bawah mekanisme  kenabian sesuai dengan hadits. Jadi, Khilafatlah yang menjalankan Tajdid Din yang merupakan tugas Mujaddid. Dan di dalamnya tidak ada keraguan bahwa tarbiyyat, perbaikan, tugas tabligh itu tengah terjadi dengan perantaraan Khilafat dan sejak seratus tiga tahun yang lalu (1908-2011) kita terus menyaksikan. Jadi mungkin sekali bahwa di abad-abad yang akan datang juga sesuai dengan hadits ini juga dan apa yang telah Hadhrat Masih Mau’ud as sabdakan, ada yang mengumumkan dirinya sebagai Mujaddid tapi syaratnya, dia adalah pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as. Dan dia merupakan mazhar dari kekuatan kedua (Kudrat Kedua) yang Hadhrat Masih Mau’ud as telah umumkan. Jadi, apabila di pertemuan dua abad (akhir abad menjelang awal abad) Tuhan menghendaki maka siapapun Khalifah dapat Dia anugerahi kedudukan Mujaddid  semacam itu. Siapa yang akan menjadi Khalifah pada saat itu, dia dapat  mengumumkan hal itu. Sebab, para Mujaddid semacam itu terus lahir di dalam umat ini yang sesudah wafatnya orang-orang kemudian mengatakan bahwa mereka adalah Mujaddid. Maka adalah tidak harus bahwa ia mengumumkan diri sebagai Mujaddid. Namun, apabila Allah menghendaki, bisa saja Dia memerintahkan kepada Khalifah tersebut agar mengumumkan, “Saya adalah Mujaddid!” Namun demikian, hal ini adalah jelas bahwa setiap Khalifah pada zamannya adalah Mujaddid karena hal-hal yang merupakan pekerjaan nabi itulah yang dia teruskan; yang  juga merupakan pekerjaan Hadhrat Masih Mau’ud as. Baik dia mengumumkan sebagai Mujaddid atau tidak mengumumkan sebagai Mujaddid karena dengan mengumumkan sebagai Mujaddid atau menjadi Mujaddid tidak akan menjadikannya duduk di status Khilafat. Melainkan, kedudukan Khilafat  adalah sebagaimana sebelumnya telah saya katakan bahwa setiap Khalifah adalah Mujaddid. Tujuan atau maksud Mujaddid sebagaimana sabda Hadhrat Masih Mau’ud as adalah orang-orang yang mengakhiri bid’ah-bid’ah, berpegang teguh menjalankan ajaran yang benar, berusaha membuat ishlah (perbaikan), merencanakan untuk tabligh Islam lalu menyebarkannya lebih jauh. Jadi tugas ini tengah dilaksanakan di bawah pengawasan Khilafat Ahmadiyah. Bahkan tugas ini di bawah nizam Khilafat selain muballigh yang permanen banyak orang-orang Ahmadi juga yang tengah melaksanakannya di lingkungannya masing-masing seolah-olah lampu kecil pembaharuan agama ini tengah bernyala di setiap tempat. Hadhrat Masih Mau’ud as  bersabda, “Untuk tajdid diin di kalangan Bani Israil telah berlalu ratusan nabi dan mujaddid di satu-satu waktu [di waktu yang sama ia nabi sekaligus mujaddid, Red], nabi itu disebut juga Khalifah dan juga dikatakan Mujaddid.” [17]

Mujaddid Bisa Muncul Ribuan dalam Satu Masa di Berbagai Daerah dan Negara

 Di dalam Islam kenapa tidak bisa ribuan [Mujaddid]? Kata-kata atau kalimat saya, mafhum atau pengertiannya kurang lebih adalah demikian. Dan persoalan inilah yang juga muncul bahwa setiap abad ada Mujaddidnya dan sebelum Hadhrat Masih Mau’ud as di dalam 12 abad sebelumnya telah berlalu 12 Mujaddid dan Mujaddid ke-13 untuk abad ke-14 ini adalah beliau as. Terbukti dari sejarah Islam bahwa di setiap daerah lahir para Mujaddid, ini bukanlah masalah 12 bahkan di dalam satu satu waktu ada banyak sekali Mujaddid yang lahir. Untuk perbaikan agama dimana diperlukan, Allah terus membangkitkan orang-orang atau memilih orang-orang menjadi Mujaddid. Tetapi kemudian pertanyaannya disini adalah bahwa di dalam literatur Jemaat Ahmadiyah juga dan Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah menulis bahwa kenapa kita menghitung 12 Mujaddid? Kebanyakan di kalangan orang-orang Arab sedemikian rupa orang-orang yang tidak menerima akan hal itu bahwa Mujaddid itu ada 12, khususnya dengan susunan yang kita orang-orang India hitung. Kebanyakan umat Islam sama sekali tidak mengakui itu.

Pandangan Hadhrat Khalifatul Masih II Soal Mujaddid yang tercantum dalam ‘Tafsir Kabir’

Hadhrat Khalifatul Masih II ra memberikan jawaban yang sangat bagus. Beliau ra satu kali dalam memberikan penjelasan akan hal itu bahwa orang Hindustani yang mengemukakan 12 nama Mujaddid bahwa mungkin ini adalah untuk seluruh dunia padahal ini adalah salah. [18] Beliau ra bersabda,

“Berkaitan dengan para Mujaddid terdapat kesalahpahaman bahwa hanya satu Mujaddid yang dibangkitkan untuk seluruh dunia. Padahal ini sama sekali salah. Pada hakekatnya, di setiap negara dan di setiap wilayah atau tempat, Allah menciptakan Mujaddid akan tetapi dari segi kebangsaan dan dari kenegaraan, orang-orang menganggap Mujaddid di kalangan bangsanya atau negaranya itu sebagai Mujaddid untuk seluruh dunia, padahal manakala Islam untuk seluruh dunia maka adalah harus bahwa para Mujaddid berdiri (ada, muncul, datang) di berbagai belahan dunia dan daerah, di berbagai daerah di dunia dan di berbagai negara. Hadhrat Sayyid Ahmad Barelwi rahmatullah ‘alaihi sesungguhnya tidak diragukan lagi adalah Mujaddid namun beliau bukanlah untuk seluruh dunia tetapi beliau adalah Mujaddid untuk Hindustan. Jika dia adalah Mujaddid untuk seluruh dunia  maka timbul pertanyaan bahwa apakah beliau telah memberikan petunjuk (bimbingan, tuntunan) kepada bangsa Arab? Apakah beliau telah memberikan petunjuk kepada bangsa Mesir? Petunjuk apa yang telah beliau berikan kepada bangsa Iran? Petunjuk apa yang beliau telah berikan kepada bangsa Afghanistan? Beliau (Hadhrat Sayyid Ahmad Barelwi rahmatullah ‘alaihi) tidak melakukan pemberian petunjuk bagi negara-negara tersebut tetapi jika dilihat sejarah negara itu maka di dalam [kalangan mereka] itu nampak orang-orang yang sedemikian rupa menerima wahyu dan ilham lalu mereka melakukan tugas memberikan bimbingan kepada negara mereka. Jadi, mereka pun adalah Mujaddid di tempatnya masing-masing.“ [munculnya pribadi-pribadi Mujaddid di kalangan Arab, Mesir, Iran, Afghanistan dan lain-lain, Red.].  Mereka itu baik mengumumkan atau tidak, seseorang telah mengatakan berkaitan dengan mereka atau tidak, siapapun yang menunaikan kewajiban memberikan bimbingan agama dan menunaikan kewajiban melakukan perbaikan; mereka adalah Mujaddid  di tempat mereka. “Dan inipun pada tempatnya adalah Mujaddid“ yakni orang-orang India. “Perbedaannya hanya ada Mujaddid besar dan ada Mujaddid kecil. Pentingnya Mujaddid-Mujaddid yang datang di Hindustan itu karena mereka itu di negeri di mana Masih Mau’ud akan datang dan dengan demikian wujud mereka sebagai irhash untuk Masih Mau’ud as.” Mereka merupakan sosok yang datang sebelum beliau. Mereka datang untuk memberitahukan bahwa Masih Mau’ud as  akan datang, Mujaddid abad ke-14 akan datang. [Hudhur II ra] bersabda, “Kalau tidak demikian, bukanlah maksud kita bahwa bahwa hanya ini Mujaddid, sementara dunia lain tetap kosong dari Mujaddid. Setiap orang yang dengan disertai ilham melakukan pekerjaan atau tugas tajdid diin dia adalah Mujaddid rohani. Setiap orang yang melakukan pekerjaan tajdid untuk Islam dan untuk umat Islam, dia adalah Mujaddid kendati dia bukan Mujaddid rohani. Sebagaimana saya beberapa kali telah mengemukakan contoh bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as satu kali telah mengemukakan bahwa Aurangzib yang (adalah seorang raja dinasti Mughal) juga adalah Mujaddid, padahal Aurangzib sendiri tidak pernah menyatakan diri menerima ilham.” [19]

Nubuatan Nabi Muhammad saw Mengindikasikan Pentingnya Mujaddid Sebelum Masa Kebangkitan Kembali Khilafat Imam Mahdi

 

            Jadi, inilah hakekat para Mujaddid bahwa di dalam satu satu waktu banyak Mujaddid yang telah berlalu, bahkan bisa jadi sampai ribuan Mujaddid. Sedangkan Khalifah di dalam satu waktu hanya satu. Kini apakah besar status yang dalam satu waktu cuma ada satu atau yang dalam satu waktu bisa beberapa orang atau banyak. Rasulullah saw juga telah memberikan kedudukan kepada Khilafat bahwa itu akan berada di bawah minhaaj (cara, sistem) kenabian. Beliau saw tidak memberikan kepentingan atau keistimewaan kepada kemujaddidan. Terkait dengan hadits dikirimnya Mujaddid kalimatnya adalah sebagai berikut,

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

 إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا ‘innallooha yab’atsu li haadzihil ummati ‘alaa ra-si kulli miati sanatin man yujaddidu lahaa diinahaa’ – “Pada penghujung setiap abad Allah akan mengirimkan Mujaddid yang akan memperbaharui agama umat ini”. [20]

   Sekarang di sini, dalam terjemahan beliau menggunakan kata wahid (singular, tunggal, satu) tetapi di sini bisa untuk beberapa orang atau banyak karena para ahli bahasa Arab mengatakan, di dalam  kata من يجدد لها دينها   (yang memperbaharui agamanya baginya) kata  من (man) ini bisa digunakan untuk plural (jama’, jamak). Maka seorang yang melakukan tajdid diin (penyegaran, perbaikan, pembaharuan agama) di kalangan umat, yakni kerusakan yang mungkin terjadi dalam umat, dia memperbaikinya dan dia meningkatkan ghairat (semangat ketertarikan) dan pengorbanan pada agama untuknya. Nah, sekarang dimanakah Mujaddid di penghujung atau di permulaan setiap abad, atau di manakah Mujaddid di dalam setiap abad, atau dimanakah para Mujaddid; maka manakala [hadits] itu kita hubungkan dengan mempelajari hadits ’khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah’ (Khilafat di bawah mekanisme kenabian) maka di dalam [hadits] itu yang pertama adalah kenabian, kemudian beliau saw menerangkan ’khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah’. Kemudian setelah diangkatnya nikmat [khilafat] itu barulah zaman kerajaan, raja zalim. Kini, pada zaman ’khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah’ dan kemudian setelahnya, para sahabat juga masih hidup, para tabi’iin juga ada, para tabitabi’iin juga hidup, satu abad berlalu di dalam agama tidak terjadi kehancuran yang sedemikian rupa. Sampai waktu itu tidak menyebut-nyebut mengenai untuk [adanya] Mujaddid. Sesudah berlalu seabad [beliau saw] bersabda bahwa Mujaddid akan lahir. Sebab, Mujaddid di abad pertama tidak perlu [karena masih banyak sahabat nabi saw dan generasi didikan mereka, Red.]. Nubuwwah datangnya Mujaddid telah beliau  saw nubuatkan setelah berlalu seratus tahun. Seolah-olah ini merupakan nubuatan akan berakhirnya Khilafat juga dan nubuatan akan masuknya bid’ahbid’ah di dalam Islam juga bahwa akan begitu banyak bid’ah masuk ke dalam Islam.  Akan banyak terjadi golongan-golongan [kelompok-kelompok dalam umat Islam]. Seolah-olah bid’ah ini merupakan sesuatu yang untuk memperbaikinya para Mujaddid  itu  yang akan lahir dan kemudian mata rantai  para Mujaddid ini mulai untuk memperbaiki itu. Dan sebagaimana telah saya katakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah menulis dan sejarah juga telah membuktikan bahwa dalam satu satu waktu banyak para Mujaddid yang lahir. Akan tetapi tatkala Hadhrat Rasulullah saw dalam Hadits ini telah menubuatkan kedatangan Masih Mau’ud, Mujaddid agung dan Mujaddid ribuan yang terakhir dan kemudian beliau saw kembali menubuatkan akan datangnya ’khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah’. Kemudian beliau saw diam. Jadi pentingnya kemujaddidan yang mendapat bimbingan dari Allah dan akan memperbaharui agama dalam lingkungannya yang terbatas atau tadinya akan melakukan itu adalah sampai pada waktu ketika Masih Mau’ud belum lahir. Ketika telah muncul Hadhrat Masih Mau’ud as yang juga Mujaddid  abad ke-14 dan juga merupakan Mujaddid ribuan yang terakhir; maka nizam itu yang akan berjalan, nizam Khilafat ‘alaa minhajin nubuwwah. Dan yang berkaitan dengan itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Itu (Khilafat) adalah kekuatan (Kudrat) yang luar biasa (dahsyat).”

 Allah Ta’ala juga  senantiasa memberikan bimbingan ke arah kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as kepada ruh-ruh yang berbeda-beda. Kepada orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan Jemaat dan mereka berhubungan dengan berbagai mazhab yang berbeda-beda, di dalam ru’ya dengan memperlihatkan para Khalifah kepada mereka Dia memberikan dukungan akan hal itu bahwa kini Nizam Khilafatlah yang merupakan nizam yang sebenarnya dan dengan menyatu dengannyalah tugas pembaharuan agama akan dapat dilaksanakan. Sebab, tidak ada di dalam Al-Quran dan tidak pula ada di dalam hadits yang menyebutkan tentang Mujaddid; ya, Khilafat pasti disebut-sebut didalamnya yang pada sebelum Jum’at lalu, dalam khotbah tanggal 27 Mei sebagaimana telah saya telah sebutkan dengan mengutip ayat istikhlaf.

Kemunculan Mujaddid Sesudah Masa Imam Mahdi dan Para Khalifahnya adalah melalui Nizam Khilafat

Jadi, sekarang kemujaddidan [yang ada] sesudah kemunculan Khatamul Khulafa’ tersebut yang merupakan Mujaddid ribuan yang terakhir, adalah secara zhilli (bayangan) dan bayangannya yang  sejati adalah Nizam Khilafat. Dan inilah kini yang sedang melakukan tajdid diin dan akan melakukan, insya Allah.

 Jadi, daripada terperangkap dalam pembahasan, Mujaddid abad yang akan datang kapan akan datang; atau akan datang atau tidak akan datang; atau bisa datang atau tidak bisa datang kita dengan menguatkan keyakinan kita kepada pendakwaan-pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as harus meneruskan misi Hadhrat Masih Mau’ud as. Harus memperhatikan  pada perbaikan pada diri kita sendiri. Dan juga kita harus menaruh perhatian pada perbaikan generasi muda kita. Harus melindungi  diri kita dan juga generasi-generasi atau anak keturunan kita dari bid’ahbid’ah. Harus mengaplikasikan ajaran Islam yang hakiki dalam kehidupan kita dan juga mengembangkan  atau menyebarkan itu. Dewasa ini tugas penyebaran  dapat dilakukan dengan berbagai sarana. Dengan perantaraan buku-buku, majalah-majalah  dan juga dengan perantaraan TV, karena itulah pada kita dipikulkan tanggung jawab ini supaya kita meneruskan tanggungjawab ini. Hendaknya perhatian kita tertuju sepenuhnya  untuk melaksanakan hal itu.  Hadhrat Masih Mau’ud  as yang telah menjauhkan bid’ahbid’ah dan ajaran-ajaran salah yang masuk ke dalam umat Islam dan Khilafat Ahmadiyah berusaha untuk menyampaikannya. Jadi, setiap Ahmadi perlu   memperhatikan kearah itu. Baru-baru ini atau sehari yang lalu saya melihat (membaca) surat seorang Arab yang menulis, “Amal perbuatan para mullah (ulama); berbagai bid’ah, ajaran-ajaran yang salah dan pandangan-pandangan mereka menjadikan hati saya gelisah, secara kebetulan saya mendapatkan saluran MTA (Muslim Television Ahmadiyya) dan di sana saya melihat ajaran-ajaran Islam yang hakiki. Berkaitan dengan Hadhrat Isa saya mengetahui bahwa beliau telah wafat bukannya hidup di langit dan setelah mendengar ini hati menjadi tenteram.” Orang yang menulis ini mengatakan, “Karena hati saya sejak semula tidak mengimani bahwa ada orang yang telah hidup 2000 tahun dan berada di langit. Setelah itu ia menulis, “Akhirnya saya pun masuk ke dalam Jemaat.”

Jadi, inilah hal-hal yang pada zaman ini dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud as dunia sedang mengetahuinya. Sesudah berlalu seratus tahun tidak perlu Mujaddid baru tetapi kini untuk seribu tahun penuh Hadhrat Masih Mau’ud as-lah Mujaddidnya yang beliau as sendiri telah menyebutkannya. Hal demikian menuntut kita agar menjadi pembantu dan penolong beliau as dengan sempurna menyajikan kepada dunia ajaran asli Islam. Allah Ta’ala telah menyediakan sarana-sarana itu kepada Imam Zaman ini, Masih, Mahdi dan Mujaddid seribu tahun terakhir. Kita hanya menyampaikan kepada dunia sebagai tarbiyat bagi mereka. Jadi, kita harus menaruh perhatian secara agama bahwa semoga kita menambah maju pekerjaan tersebut dan menyaksikan pemandangan kemenangan Islam. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi setiap Ahmadi taufik untuk itu.

Kewafatan Mln. Khairuddin Barus dari Indonesia

 

Saat ini saya ingin menyampaikan kabar duka. Setelah shalat Jum’at saya akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk satu almarhum. Beliau adalah Mukarram tuan Maulana Khairuddin Barus dari Indonesia. Beliau lahir pada tahun 1947 di Medan, Indonesia dan mendapatkan taufik baiat bergabung dengan Ahmadiyah pada tahun 1971.  Pada tahun 1973 beliau masuk belajar di Jamiah Ahmadiyah Rabwah. Masuk ke Fashli Khash (kelas khusus 2 tahun), di mana beliau belajar bahasa Urdu. Kemudian dengan kesungguhan dan kerajinan beliau yang terus-menerus, beliau berhasil meraih gelar “Syahid” dan lulus pada 1982. Setelah lulus diangkat sebagai Muballigh Islam Ahmadiyah, tugas pertama di kota kelahirannya, Medan pada Juni 1982, kemudian dikirim ke Malaysia pada tahun 1983 selama empat bulan di mana beliau mengawasi pembangunan masjid di Kuala Lumpur. Setelah kembali dari Malaysia hingga tahun 1993 mendapat taufik berkhidmat di berbagai tempat Jemaat di Indonesia. Dari 1993 hingga 1998 beliau bertugas sebagai missionary incharge (Raisut Tabligh) di Filipina. Pada tahun 1998, beliau diangkat missionary incharge di Papua Nugini dan terus mengkhidmati masyarakat di sana sampai wafatnya. Beliau meninggal pada tanggal 6 Juni 2011 setelah lama menderita penyakit sesuai ketentuan Allah.إنا لله وإنا إليه راجعون.  ”Sesungguhnya kita semua milik Allah dan kepada-Nya kita kembali.”

Tuan Khairuddin Barus adalah seorang muballigh silsilah yang mengkhidmati agama dengan mukhlis, setia, taat dan mempunyai jiwa wakaf yang tinggi. Rajin dan semangat bertabligh sehingga banyak jemaat didirikan lewat usaha beliau. Membangun sejumlah masjid. Apabila mendapat tugas kepercayaan dari Jemaat maka beliau memenuhinya dengan penuh tanggungjawab dan jiwa yang senang. Seorang musi. Allah Ta’ala memberi karunia kepada beliau dengan melangsungkan beberapa pernikahan; saat ini ada tiga istri, 14 anak-anak terdiri dari 8 orang anak laki-laki dan 6 orang anak perempuan. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik kesabaran kepada semua keluarga yang ditinggalkan dan meninggikan derajat-derajat tuan Barus; dan menjadikan anak keturunan beliau sebagai orang-orang baik, saleh dan pengkhidmat agama. [Aamiin]

Alihbahasa     : Mln. Qamaruddin, Shd

Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Kuffiyyiin (kabar-kabar dari orang-orang Kufah) Musnad An-Nu’man bin Basyir jilid no. 6 halaman 285 Hadits nomor 19596 Alamul Kitab, Beirut-Lebanon, 1998

تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ. (مسند أحمد، مسند الكوفيين)

’Takuunun nubuwwatu fiikum maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu khilaafatun ‘alaa minhaajin nubuwwati fatakuunu maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a Allahu ay yarfa’ahaa tsumma takuunu mulkan ‘aadhdhan fayakuunu maasyaa Allahu ay yakuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu mulkan jabariyyatan fatakuunu maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu khilaafatan ‘alaa minhaajin nubuwwati tsumma sakata.’

Dari Hudzaifah ra Rasululah saw bersabda,
”Bahwa diantara kalian selama Allah menghendaki kenabian itu akan tegak atau akan ada; kemudian apabila Dia berkehendak maka Dia akan mengangkatnya; kemudian selama Tuhan menghendaki Khilafat di bawah mekanisme kenabian akan ada; kemudian manakala Dia menghendaki Dia akan mengangkatnya; kemudian kapan Dia menghendaki maka Dia akan mengangkat nikmat itu; kemudian kerajaan yang menyakitkan akan selama Tuhan menghendaki; kemudian Dia akan mengangkatnya kapan Dia menghendaki; kemudian akan berdiri kerajaan yang lebih zalim dari itu selama Tuhan menghendaki kemudian Dia akan mengangkatnya selama Tuhan menghendaki; kemudian sesuah itu aan berdiri Khilafat di bawah cara atau mekanisme kenabian kemudian beliau diam.”

Kalau Khilafat Rasulullah (nubuwwah) yaitu khulafaaur rasyidiin didahului kenabian, apakah khilafah \’alaa minhajin nubuwwah setelah masa mulkan jabariyyatan juga didahului dengan adanya nabi lagi?

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Judul Khotbah merujuk [tidak mutlak] pada judul khotbah yang tertulis pada website www.alislam.org sedangkan subtitling (pemberian sub judul) dalam khotbah ini adalah dari Redaksi.

[3] Risalah Al-Wasiyyat, Rohani Khazain jilid 20 halaman 304

[4] Sunan Abi Daud, Kitab al-Malaahim bab maa yadzkuru fil qarnil miah.

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا ‘innallooha yab’atsu li haadzihil umati ‘alaa ra-si kulli miati sanatin man yujaddidu lahaa diinahaa’

[5] Pidato Sialkot  Rohani Khazain jilid 2 hal 204-205

[6] Malfuzat jilid 5  hal 82 Edisi 2003

[7] Tazkiratusy Syahadatain, Rohani Khazain jilid 20, halaman 3

[8] Tazkiratusy Syahadatain, Ruhani Khazain jilid 20 hlm 3-4

[9] Hujjatullah Rohani Khazain jilid 12 hlm 160

[10] Sunan Ad-Daru Qutni juz 2 halaman 51 Kitab al-‘Idain bab shifatush Shalat  al Khushufu wal kushuf haiatuhuma Darul Kutubil Ilmiah, Beirut, 2003

[11] Nisyaan Asmani Rohani Khazain jilid 4 hlm 378

[12] Tiryaqul Quluub, Rohani Khazain jilid 15 halaman 66

[13] Pidato Sialkot, Rohani Khazain jilid 20 hlm 208

[14] Pidato Sialkot Rohani Khazain jilid 20 hlm 208

[15] Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Kuffiyyiin (kabar-kabar dari orang-orang Kufah) Musnad An-Nu’man bin Basyir jilid no. 6 halaman 285 Hadits nomor 19596 Alamul Kitab, Beirut-Lebanon, 1998

 تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ. (مسند أحمد، مسند الكوفيين)

 

’Takuunun nubuwwatu fiikum maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu khilaafatun ‘alaa minhaajin nubuwwati fatakuunu maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a Allahu ay yarfa’ahaa tsumma takuunu mulkan ‘aadhdhan fayakuunu maasyaa Allahu ay yakuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu mulkan jabariyyatan fatakuunu maasyaa Allahu an takuuna tsumma yarfa’uha idza syaa-a ay yarfa’ahaa tsumma takuunu khilaafatan ‘alaa minhaajin nubuwwati tsumma sakata.’

[16] Al-wasiat  Rohani  Khazain jilid  20 hlm 306

[17] Tuhfah Golerwiyah,  Rohani Khazain jilid 17 hlm 17 123

[18] Teori tiap satu abad ada satu atau dua orang mujaddid yang dimungkinkan untuk seluruh dunia dikemukakan oleh seorang Hindustan (India) bernama Nawwab Shiddiq Hasan Khan dalam buku ‘Hujajul Kiraamah’, terbitan Mathba’ Syah Jahan, Bhopal-India. Terdapat pula daftar mujaddid (tiap abad satu orang) dengan nama-nama yang berbeda secara lengkap terdapat dalam kitab Taqwim Al Fikri Ad Dini (hal 330-331) oleh Syeikh Mahmud Syarqawi. Juga dalam kita Ad-Dakwah Al-Temmah oleh Syed Abdullah bin ‘Alwi Al-Haddad. Hadhrat Khalifatul Masih II ra telah menyebut ini teori yang salah.

[19] Hadhrat Khalifatul Masih II, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad radhiyallahu ‘anhu dalam karya tulisnya ‘Tafsir Kabir’ jilid 7 halaman 199

[20] Sunan Abi Daud Kitabul Malahim ma yudzkaru fil qarnil mi’ah Hadits 4291