Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Hakikat Shalat

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
di Masjid Baitul Futuh 
London, 15 April 2016

Di berbagai tempat, Al-Quran menarik perhatian ke arah pendirian shalat. Terkadang Allah Ta’ala berfirman bahwa peliharalah shalat kalian dan adakalanya juga difirmankan bahwa tegakanlah shalat kalian secara dawam dan tepat waktu. Pendek kata, Allah Ta’ala berkali-kali telah memerintahkan ke arah penegakan shalat serta keutamaannya. Oleh sebab itu, Dia berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Adz-Dzariyat, 51:57].

Namun manusia malah menjauh dan tidak mengenal hal ini. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Allah Ta’ala telah menciptakan kalian untuk menyembah kepada-Nya. Mereka yang tidak mengikuti firman-Nya ini menyerupai binatang yang hanya makan, minum lalu tidur saja lalu hilang dari karunia-Nya. Sebaliknya, seseorang yang menyatakan bahwa ia memiliki keimanan di dalam hatinya hendaklah mengerahkan upaya terbaiknya agar menjadi seorang penerima karunia Ilahi.

Bagaimana caranya agar seseorang dapat memenuhi tujuan penyembahan kepada Allah Ta’ala? Untuk hal ini, Islam telah memerintahkan agar mendirikan shalat 5 waktu. Sebuah Hadits meriwayatkan bahwa shalat merupakan intisari dari beribadah kepada-Nya. Kita adalah orang-orang yang beruntung karena telah berbaiat kepada Hadhrat Imam Zaman as yang telah mengajarkan kita jalan yang benar untuk beribadah kepada-Nya dan yang telah memberikan kita hikmah dibalik kewajiban mendirikan shalat. Beliau as berulang-ulang kali menarik perhatian para Ahmadi terhadap hal ini sehingga kita dapat memahami betul pentingnya mendirikan shalat serta akan memperindah ibadah kita kepada-Nya.

Kadangkala kehadiran dalam shalat subuh bisa menjadi sedikit disebabkan oleh cuaca buruk atau waktu malam yang lebih singkat. Orang-orang juga terkadang menjamak shalat Dhuhur dan Ashar. Jadi, orang-orang kadang-kadang melewatkan shalat mereka atau menjamaknya disebabkan oleh cuaca buruk, atau kurang tidur karena waktu malam yang lebih singkat, atau karena sibuk dalam pekerjaan. Saat ini, waktu shalat di beberapa negara menjadi mundur dan terjadi pengurangan makmum pada shalat subuh hingga satu setengah saf di mesjid. Jumlah itu terkadang menjadi meningkat karena kedatangan tamu dari luar negeri. Namun demikian warga setempat yang tinggal di dekat mesjid hendaknya datang ke mesjid secara dawam khususnya untuk mendirikan shalat subuh. Nasehat ini tidak hanya bagi di sini saja [UK] namun juga di setiap tempat di seluruh dunia. Jika para pengurus dan waqfeen zindegi memberikan perhatian terhadap hal ini, maka akan banyak terjadi perbaikan dan perubahan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa dirikanlah shalat secara teratur. Ada orang-orang yang merasa cukup dengan melakukan shalat hanya sekali dalam sehari. Mestinya mereka menyadari bahwa tidak ada manusia yang dikecualikan dari ketentuan tersebut, tidak juga para Nabi. Ada diutarakan dalam sebuah Hadits bahwa sekelompok orang yang baru saja baiat ke dalam Islam, memohon kepada Hazrat Rasulullah saw agar dibebaskan dari kewajiban melakukan shalat. Beliau saw bersabda: ‘Agama yang tidak menuntut suatu kewajiban, bukanlah suatu agama sama sekali.’ [Intisari Ajaran Islam, Vol. II, hal. 297]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa ada orang-orang yang lebih menekankan kepada kebersihan bahwa jika tidak mengamalkannya lalu bagaimana ia bisa memperoleh manfaat dari ketakwaan. Namun perlu dicatat bahwa terkadang sarana-sarana duniawi seperti obat-obatan dan ilmu kesehatan tidak berguna sedikitpun untuk memperoleh kesehatan yang baik. Akan tetapi, jika Allah Ta’ala menghendaki maka kondisi sebaliknya pun malah bisa memberikan manfaat. Jadi yang paling utama adalah karunia Allah Ta’ala. [Disadur dari Malfuzhat, Vol. I, hal 263]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Allah Ta’ala sungguh melakukan apa yang Dia kehendaki. Kota Babylonia dimana manusia berencana untuk mendudukinya malah menjadi hancur. Sedangkan ada suatu tempat [yakni Mekkah] yang ingin dihancurkan malah menjadi pusat bagi manusia di seluruh dunia.

Renungkanlah bahwa meninggalkan Allah Ta’ala lalu bergantung pada rencana serta sarana lainnya merupakan suatu tindakan yang bodoh. Ciptakanlah perubahan di dalam kehidupan kalian serta carilah ampunan-Nya sebanyak-banyaknya. Mereka yang disibukkan dengan urusan duniawi sehingga hanya memiliki sedikit waktu untuk shalat hendaknya lebih berhati-hati daripada yang lainnya. Para pekerja biasanya menjadi lalai dalam memenuhi kewajiban mereka kepada Allah Ta’ala. Oleh sebab itu, dalam keadaan terpaksa, mereka diizinkan untuk menjamak shalat Dhuhur dan Ashar. Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda bahwa hendaknya para majikan memberikan izin untuk mendirikan shalat dan janganlah hal ini dijadikan alasan untuk meninggalkan shalat. [Disadur dari Malfuzhat, Vol. I, hal 265]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa jika seluruh tenaga dihabiskan untuk urusan dunia, lalu apa yang dapat disisihkan untuk kehidupan Akhirat? Bangunlah untuk shalat tahajud dan dirikanlah dengan penuh ghairat yang luar biasa. Terkadang, kesibukan dalam bekerja mengakibatkan timbulnya kesulitan untuk mengerjakan shalat di siang hari. Namun hanyalah Allah Ta’ala Yang Maha Pemberi Rezeki. Oleh sebab itu, dirikanlah shalat tepat pada waktunya. Terkadang shalat Dhuhur dan Ashar dapat dijamak. Allah Ta’ala mengetahui orang-orang yang lemah sehingga Dia memberikan kemudahan seperti ini. Namun demikian, menjamak shalat tidak dapat dilakukan terhadap 3 waktu shalat. [Disadur dari Malfuzhat, Vol. I, hal. 6]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa shalat merupakan bentuk doa yang khas. Namun orang-orang menganggapnya seperti pajak yang dibebankan oleh pemerintah. Mereka yang beranggapan demikian adalah orang-orang yang bodoh yang tidak memahami bahwa Allah Ta’ala tidak memerlukan siapapun untuk mengagungkan-Nya dan untuk mengklaim bahwa tiada yang patut disembah kecuali Dia. Sebaliknya, ini adalah demi kebaikan dan faedah bagi manusia sendiri.

Hadhrat Masih Mau’ud as sedih melihat orang-orang pada hari ini tidak memberikan perhatian untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan tidak ada lagi ketakwaan dan kecintaan terhadap agama di dalam diri mereka. Ini merupakan akibat dari pengaruh tradisi yang telah membekukan kecintaan mereka kepada Allah Ta’ala. Orang-orang tidak memperoleh kenikmatan dalam beribadah kepada-Nya sebagaimana seharusnya.

Tidak ada sesuatupun di dunia ini dimana Allah Ta’ala tidak berikan unsur kenikmatan dan kelezatan di dalamnya. Seperti halnya seseorang yang sedang sakit, ia tidak bisa menikmati makanan yang lezat bahkan malah merasakan pahit atau hambar. Oleh sebab itu, bagi yang bisa tidak merasakan kenikmatan di dalam ibadah kepada Allah Ta’ala, maka perhatikanlah penyakit rohani kalian. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya, jadi bagaimana mungkin tidak terdapat unsur kelezatan dan kenikmatan di dalamnya! Kenikmatan itu sungguh ada hanya jika ada orang-orang yang menikmati dan merasakan kelezatannya. Allah Ta’ala telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan, tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [Adz-Dzariyat, 51:57]

Karena manusia diciptakan untuk menyembah kepada-Nya, maka penting adanya kelezatan dan kenikmatan di dalam ibadah tersebut. Hal ini dapat dipahami dengan baik melalui pengalaman setiap hari. Makanan yang memberikan kenikmatan dan kelezatan telah disediakan bagi manusia dan untuk bisa merasakannya, manusia pun diberikan indra perasa. Demikian pula bahwa manusia dapat memperoleh kenikmatan dengan melihat keindahan alam, hewan dll dan dengan mendengar suara yang merdu. Lalu apalagi yang diperlukan untuk membuktikan adanya kenikmatan dalam beribadah kepada-Nya!

Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia telah menciptakan laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan dan telah memberikan kelezatan di dalam hubungan mereka. Jika tujuannya hanya untuk memperoleh keturunan, maka hal tersebut tidak akan terpenuhi. Allah Ta’ala telah memberikan kelezatan di dalamnya bagi laki-laki dan perempuan. Allah Ta’ala berkehendak untuk menciptakan manusia dan oleh sebab itu, Dia menciptakan hubungan antara laki-laki dan perempuan dan meletakan kelezatan di dalamnya, meskipun bagi beberapa orang yang kurang akal, hal ini menjadi satu-satunya tujuan mereka. Sejalan dengan itu, pahamilah bahwa tidak ada beban dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Beribadah kepada-Nya ini merupakan hal yang menyenangkan dan penuh kenikmatan. Kelezatan yang ada di dalamnya jauh lebih besar daripada segala kenikmatan dan kelezatan duniawi. Seperti halnya seorang yang sakit yang tidak dapat merasakan kenikmatan makanan yang lezat, demikian juga keadaan orang-orang yang tidak beruntung tersebut yakni yang tidak dapat merasakan kenikmatan dan kelezatan di dalam ibadah kepada-Nya.  [Disadur dari Malfuzhat, Vol. I, hal 159-160]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa orang-orang lalai dalam mendirikan shalat karena tidak mengetahui kenikmatan dan kelezatan yang telah Allah Ta’ala letakan di dalamnya. Beliau as bersabda bahwa muncul pertanyaan mengapa orang-orang tidak menyadari hal ini dan mengapa mereka tidak merasakan kenikmatan ini! Beliau as  bersabda bahwa orang-orang sibuk dalam urusan mereka ketika azan dikumandangkan dan orang-orang juga tidak ingin mengetahui kenikmatan ini. Ada para penjaga toko yang tokonya berada di dekat mesjid namun tidak hadir shalat ke mesjid. Dengan demikian, panjatkanlah doa dengan sepenuh hati kepada Allah Ta’ala agar Dia menganugerahkan kelezatan dalam beribadah kepada-Nya seperti halnya Dia memasukan kelezatan dan kenikmatan di dalam makanan dan dalam berbagai hal lainnya.

Mereka yang tidak mendirikan shalat selalu menganggap shalat itu sebagai beban yang membuat mereka harus bangun pagi, mengambil wudhu dalam cuaca dingin, meninggalkan tidur nyenyak serta kenyamanan lainnya. Orang-orang seperti itu merasa bosan dan tidak mengenal kelezatan dan kenikmatan yang bisa ditemukan di dalam shalat. Seorang pemabuk tidak akan berhenti minum karena ia tidak bisa mabuk, bahkan ia akan terus minum hingga ia mulai merasakan pengaruh serta kenikmatan yang ia inginkan dari meminum minuman keras itu. Seorang yang bijak bisa mengambil pelajaran dari hal ini dan akan senantiasa terus mendirikan shalat hingga ketika ia dapat merasakan kelezatan itu. Seperti halnya seorang pemabuk yang mencari kenikmatan dari minumannya dan memang itulah tujuannya, maka condongkanlah perhatian penuh kalian untuk meraih kenikmatan di dalam shalat lalu berdoalah dengan ketetapan dan keteguhan hati seperti seorang pemabuk yang gelisah dan penuh derita yang belum mendapatkan kenikmatannya. Dengan kondisi seperti ini, seseorang akan benar-benar memperoleh karunia untuk merasakan kenikmatan yang dimaksud.

Selain itu, fokuslah untuk meraih faedah dari shalat ketika sedang melaksanakannya dan sadarilah bahwa:

وَأَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ

“Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan pada beberapa bagian malam. Sesungguhnya kebaikan-kabaikan menghapuskan keburukan-keburukan. Ini adalah suatu peringatan bagi orang-orang yang penuh perhatian.” [Hud, 11:115]

Jadi hendaknya seseorang memperhatikan kebaikan-kebaikan serta kenikmatan dengan mendirikan shalat dan berupayalah untuk mendirikan shalat seperti shalatnya orang-orang mukhlis dan muhsin. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

“… Sesungguhnya kebaikan-kabaikan menghapuskan keburukan-keburukan…” [Hud, 11: 115]

Dia juga telah berfirman:

إِنَّ الصَّلاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“… Sesungguhnya shalat mencegah dari kekejian dan kemungkaran …” [Al-Ankabut, 29: 46]

Meskipun demikian, kita mencatat bahwa ada orang yang berbuat kejahatan walaupun telah mendirikan shalat. Hal ini adalah karena meskipun mereka mendirikan shalat, mereka tidak melakukanya dengan ruh dan kebenaran. Mereka hanya mengikuti gerakan-gerakannya sebagai suatu tradisi dan melakukannya dengan terpaksa. Jiwa mereka telah mati dan Allah Ta’ala tidak menyebut shalat mereka sebagai kebaikan. Shalat yang menghapuskan kemungkaran adalah yang di dalamnya terkandung ruh kebenaran dan memiliki pengaruh untuk menimbulkan kebaikan. Shalat yang seperti itulah yang akan menghapuskan segala macam keburukan. Shalat itu bukanlah mengenai melakukan gerakan-gerakan saja. Intisari dari shalat adalah doa yang di dalamnya terdapat kelezatan dan kenikmatan. [Disadur dari Malfuzhat, Vol. I, hal 162-164]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa adalah adalah penting untuk memperhatikan bacaan shalat serta gerakan shalat saat bacaan itu diucapkan. Bacaan shalat itu sesuai dengan gerakan shalatnya. Gerakan shalat ketika seseorang berdiri seraya mengagungkan dan memuji Allah Ta’ala disebut Qiyyam [dalam bahasa urdu, artinya untuk menegakkan]. Sungguh, posisi yang tepat untuk menyampaikan pujian adalah dalam posisi berdiri. Pujian bagi seorang raja pun disampaikan pada posisi berdiri. Dengan demikian, selama dalam posisi qiyyam, rohani kita sedang berdiri di hadapan Allah Ta’ala. Pujian itu baru disampaikan ketika ia memiliki keyakinan terhadap hal tersebut. Dengan demikian, seseorang yang mengucapkan Alhamdulillah [segala puji bagi Allah] pada hakikatnya hanya akan menyebutkannya ketika ia benar-benar yakin bahwa segala bentuk pujian hanyalah bagi Allah semata. Ketika ia meyakininya dengan sepenuh hati dan pikirannya, maka inilah yang disebut kondisi qiyyam itu secara rohani.

Kemudian di dalam shalat, ada juga gerakan membungkuk yang disebut ruku’. Pada saat itu seseorang menegaskan سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ “Maha Suci Tuhan Yang Maha Agung.” Pada hakikatnya, ketika seseorang mengakui kebesaran seseorang, maka ia akan membungkuk kepadanya. Begitu pula posisi ruku’ itu, seseorang menyatakan  سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ“Maha Suci Tuhan Yang Maha Agung” seraya membungkukkan badannya. Dengan demikian, bacaan dan gerakan tubuh ketika shalat itu bersesuaian. Kemudian seseorang menyeru  سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى“Maha Suci Tuhan Yang Maha Tinggi.” Ucapan ini menghendaki posisi sujud. Inilah kenapa ketika mengucapkannya, tubuh seseorang berada dalam posisi sujud saat shalat yakni melakukan gerakan tubuh yang sesuai dengan ucapannya.

Inilah 3 kondisi jasmani ketika shalat yang sesuai antara bacaannya. Sebagai tambahan, shalat tidak pantas dilakukan ketika hati seseorang tidak sedang berada di dalam shalat itu. Oleh sebab itu, juga penting untuk menegakan hati seseorang saat qiyyam sehingga Allah Ta’ala mengetahui bahwa seiring dengan berdirinya jasmaninya untuk menganggungkan-Nya, jiwanya juga ikut serta di dalamnya. Lalu tatkala ia mengucapkan سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ “Maha Suci Tuhan Yang Maha Agung”, Allah Ta’ala melihat bahwa ia tidak hanya mengakui kebesaran-Nya saja namun jiwa dan raganya juga senantiasa membungkuk di hadapan-Nya. Ketika ia bersujud di hadapan-Nya seraya merenungkan kemuliaan-Nya, maka Allah Ta’ala juga melihat jiwanya juga ikut bersujud di singgasana-Nya. Walhasil, janganlah merasa puas sebelum kondisi seperti ini tercapai karena inilah maksud dari وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ . Lalu timbul pertanyaan bagaimana seseorang dapat mencapai kondisi tersebut? Jawabannya adalah dirikanlah shalat secara dawam dan jauhkanlah segala keraguan dan was-was. Pada mulanya, seseorang akan berperang melawan keraguan dan was-was di dalam dirinya dan obatnya adalah janganlah merasa lelah dan terusnya dirikan shalat dengan penuh keteguhan hati dan kesabaran lalu berdoalah kepada Allah Ta’ala hingga kondisi yang disebutkan di atas itu dapat diraih. [Disadur dari Malfuzhat, Vol. I, hal. 433-435]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa penting diingat bahwa shalat yang hakiki itu dapat diraih melalui doa. Meminta kepada wujud lain selain Allah Ta’ala sungguh bertentangan dengan ghairat dan kehormatan seorang mukmin sejati. Sebelum seseorang meminta kepada Allah Ta’ala dengan kerendahan hati yang sempurna dan hanya meminta kepada-Nya, maka ia tidak layak disebut sebagai mukmin dan muslim sejati. Hakikat Islam ialah bahwa segala kemampuan lahir dan batin tunduk di hadapan Allah Ta’ala. Seperti halnya suatu mesin yang besar yang dapat menggerakan seluruh komponen mesin, begitu pula bahwa sebelum seseorang menjadikan segala amal perbuatannya di bawah mesin yang Maha Agung, yakni Allah Ta’ala, lalu bagaimana ia bisa yakin sepenuhnya terhadap Kekuatan Allah Ta’ala dan benar-benar menganggap dirinya sebagai hanif [orang yang condong kepada Allah Ta’ala] tatkala mengucapkan:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi…”

Jika ia condong kepada Allah Ta’ala ketika mengucapkannya, lalu tidak diragukan lagi bahwa ia adalah seorang muslim. Ia adalah seorang mukmin sejati dan juga hanif. Namun, ingatlah bahwa orang yang berpaling kepada wujud lain selain kepada Allah Ta’ala adalah orang yang sangat tidak beruntung dan akan tiba masanya ketika ia tidak bisa kembali kepada-Nya dengan kepura-puraan.

Satu alasan orang-orang meninggalkan shalat adalah bahwa ketika ia berpaling selain kepada Allah Ta’ala, maka hati dan jiwanya tertarik kepada sumber tersebut seperti halnya cabang pohon yang tumbuh ke suatu arah tertentu. Hatinya kemudian menjadi keras terhadap Allah Ta’ala seperti batu dan dingin lalu ia tidak dapat mengubah arahnya. Walhasil, hati dan jiwanya menjadi jauh dari Allah Ta’ala dari hari ke hari. Jadi meninggalkan Allah Ta’ala lalu berpaling kepada wujud lain merupakan perkara yang berbahaya dan menakutkan. Inilah mengapa mendirikan shalat secara dawam begitu penting sehingga pondasi ini menjadi tegak sebagai suatu kebiasaan yang abadi dan perhatian seseorang akan senantiasa tertarik untuk berpaling kepada-Nya. Lambat laun, seseorang akan sampai pada suatu tahapan dimana ia benar-benar mewakafkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan menjadi pewaris karunia-karunia-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa tidak ada lagi kata-kata untuk mengungkapkan betapa buruknya kondisi orang yang berpaling kepada wujud lain selain Allah Ta’ala. Ini senantiasa membangkitkan ghairat kehormatan Allah Ta’ala lalu Dia akan membuang orang yang seperti itu. Meskipun tidak sama seutuhnya, namun kondisi ini bisa dijelaskan dengan apa yang terjadi di dalam kehidupan ini yakni ghairat kehormatan seorang pria akan terpancing dan tidak dapat menerima ketika melihat istrinya memiliki hubungan dengan orang lain. Begitu pula-lah ghairat kehormatan Allah Ta’ala. Segala bentuk kesetiaan hanyalah bagi Allah Ta’ala dan hanya kepada-Nya segala permohonan doa dipanjatkan. Dia tidak menyukai keberadaan wujud lain yang dianggap layak disembah. Dengan demikian, ingatlah dengan baik bahwa berpaling kepada wujud lain selain Allah Ta’ala berarti memutuskan hubungan dengan-Nya. Tidak ada berkat dan manfaat yang diperoleh melalui shalat dan keyakinan terhadap keesaan Allah Ta’ala sebelum ada kerendahan hati dan kecenderungan terhadap Allah semata. [Disadur dari Malfuzhat, Vol. I, hal 166-168]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa merupakan suatu perkataan yang batil yang mengatakan bahwa menangis di dalam shalat itu tidak berguna dan tidak akan menghasilkan apa-apa. Orang itu tidak meyakini kekuasaan Allah Ta’ala. Sungguh ia tidak akan berani berkata demikian meskipun di dalam hatinya hanya terdapat sedikit keyakinan terhadap kekuasaan Allah Ta’ala. Ketika ia bertaubat dari hal ini dan kembali kepada-nya, maka Dia akan menganugerahkan karunia-Nya kepadanya.

Allah Ta’ala menghendaki agar kita datang dengan hati yang suci. Oleh sebab itu, berupayalah untuk menciptakan perubahan di dalam diri dan ciptakanlah kesucian di dalam hati. Ciptakanlah kecintaan sejati terhadap Allah Ta’ala dan dengan demikian, Allah Ta’ala akan senantiasa mendengarkan doa-doa dan menolong kita.

Ada orang yang berkeberatan bahwa Allah Ta’ala tidak mendengarkan doanya. Orang seperti itu kebanyakan shalat 5 waktu pun tidak dikerjakan dengan benar. Terkadang ia hanya shalat ketika ditimpa musibah. Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia akan senantiasa mendengarkan doa-doa kita jika kita melaksanakan perintah-Nya. Oleh sebab itu, introspeksilah diri kita apakah kita telah melaksanakan segala perintah-Nya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa terdapat 700 perintah di dalam Al-Quran dan kemudian renungkanlah berapa banyak perintah yang telah kita lakukan.

Ini merupakan ihsan Allah Ta’ala bahwa Dia senantiasa mengampuni dosa-dosa kita. Terkadang Dia mengabulkan doa orang-orang yang tidak dawam dalam shalat dan adakalanya Dia mengabulkan keinginan kita tanpa kita harus meminta kepada-Nya. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi kita untuk merasa ragu terhadap Allah Ta’ala. Berupayalah untuk berjalan di atas perintah Allah Ta’ala dan sesuai dengan itu, penuhilah kewajiban ibadah kepada-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda sebelum manusia berjalan di atas ketauhidan Ilahi, maka tidak mungkin akan timbul keagungan dan kemuliaan Islam di dalam dirinya. Ia tidak mungkin bisa merasakan kelezatan di dalam shalat. Kekhusyukan dan kerendahan hati di dalam shalat tidak akan dapat diraih selama rencana-rencana buruk dan kesombongan serta keangkuhan masih ada di dalam dirinya. Dalam kondisi demikian, seseorang tersebut belum bisa disebut sebagai hamba Allah yang sejati karena guru yang terbaik dan sarana yang paling luar biasa untuk menanamkan kecintaan yang sempurna hanyalah shalat. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa beliau as akan mengatakannya sekali lagi bahwa jika ada kehendak untuk menjalin persahabatan dan hubungan sejati dengan Allah Ta’ala, maka ia hendaknya mendirikan shalat dengan suatu cara yang tidak hanya dilakukan oleh gerakan tubuh dan lidah saja melainkan seluruh niat dan hasrat di dalam jiwanya ikut serta mendirikan shalat. [Disadur dari Malfuzhat, Vol. I, hal. 170]

Penerjemah: Hafizurrahman

(Visited 299 times, 1 visits today)