بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 16 Fatah 1390 HS/Desember 2011

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

            Anak-anak kita pada umumnya, masya Allah, sejak kecil telah menamatkan tilawat Alqur’an. Ibu-ibu mereka yang selalu banyak memikirkan agar anak-anak mereka secepat mungkin dapat menamatkan tilawat Alqur’an yang untuk itu mereka sangat giat sekali. Di sini dan di beberapa Negara juga ketika saya mengadakan lawatan ke sana, anak-anak dan juga para orang tua mereka sangat ingin sekali untuk mengadakan acara Aamin (acara khatam Alqur’an) di hadapan saya dan di waktu itu anak-anak membacakan beberapa buah surah terakhir dari Alqur’an di hadapan saya. Akan tetapi saya sempat menyaksikan situasi setelah menamatkan Alqur’an, pada umumnya orang-tua kurang perhatian bahkan tidak ada usaha yang sungguh-sungguh agar anak-anak mereka mengulangi dan membaca Alqur’an secara tetap atau dawam setiap hari, tidak seperti usaha keras yang dilakukan sebelumnya untuk menamatkan Alqura’nul Karim. Ketika saya secara langsung bertanya kepada anak-anak mereka apakah tilawat Alqur’an dilakukan setiap hari atau tidak? Maka pada umumnya mereka memberi jawaban yang tidak pasti bahwa mereka melakukan tilawat setiap hari. Padahal setelah anak-anak mereka menamatkan Alqur’an juga ibu bapak mereka harus mengawasi dengan sungguh-sungguh dan harus menjadi pemikiran bagaimana agar anak-anak mereka membiasakan diri membaca Alqur’an dengan dawam setiap hari.

Maka janganlah memikirkan hanya sebatas untuk menamatkan Alqur’an saja melainkan sesudah menamatkannya pun harus melakukan pengawasan dan bimbingan agar anak-anak membiasakan diri untuk membacanya setiap hari. Sungguh, dalam satu waktu mengajarkan Alqur’an dan membuatnya khatam adalah satu pekerjaan yang penting sekali. Banyak para Ibu berusaha mengajar anak-anak mereka untuk menamatkan Alqur’an di waktu anak-anak mereka masih kecil baru berumur empat atau lima tahun dan sungguh pekerjaan itu menuntut semangat dan usaha keras. Dan sebagaimana telah saya katakan, membiasakan anak untuk terus membacanya secara permanen (tetap dan terus-menerus) adalah lebih penting lagi. Beberapa hari yang lalu saya menerima sepucuk surat dari seorang Ibu yang menceritakan kisah Ibu saya katanya, “Saya sangat bersyukur sekali kepada beliau (ibunda Hudhur V atba) yaitu ketika saya membawa anak saya kepada beliau dan dengan rasa bangga saya memberitahu beliau bahwa saya telah berusaha keras mengajar anak ini untuk menamatkan Alqur’an dalam umur enam tahun. Mendengar perkataan saya itu beliau berkata, ‘Menamatkan Alqur’an pada umur enam atau lima tahun bukanlah suatu perkara yang sempurna. Sampaikanlah kepada saya seberapa banyak usaha anda untuk menanamkan rasa cinta kepada Alqur’an di dalam hati anak ini.’ Jadi, hakikatnya adalah sambil mengajar membaca Alqur’an menciptakan kecintaan kepada Alqur’an adalah sangat penting sekali. Barulah didalam hati anak itu akan timbul semangat dan rasa ingin untuk selalu membaca Alqur’an. Dan di zaman sekarang ini banyak sekali benda-benda yang dapat memikat perhatian anak-anak, misalnya TV, internet dan bermacam jenis buku-buku bacaan. Di tengah-tengah kehadiran beraneka ragam benda yang menarik perhatian itu, membaca Alqur’an secara dawam setiap pagi setelah shalat subuh dengan sendirinya akan membangkitkan pengertian akan pentingnya Alqur’an.

Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah mengingatkan kita bahwa di zaman sekarang ini dimana terdapat berbagai jenis benda yang memikat hati, seperti berbagai jenis buku yang menarik, munculnya penemuan-penemuan tentang berbagai jenis ilmu pengetahuan atau sains, membaca Alqur’an setiap hari secara dawam akan dirasakan sangat penting sekali. Jadi dalam situasi demikian kita harus meningkatkan perhatian untuk membaca Kitab Suci Alqur’an sebanyak mungkin. Kecintaan anak-anak terhadap Alqur’an baru akan timbul apabila kedua orang tua mereka sudah betul-betul terbiasa membaca Alqur’an sambil merenungkan pengertian dan ajaran-ajarannya secara dawam. Dengan sendirinya anak-anak pun akan ikut menaruh perhatian terhadap pentingnya membaca Alqur’an. Apabila setiap rumah keluarga Ahmadi setiap pagi setelah shalat subuh atau jika di musim dingin karena harus segera pergi ke tempat kerja, membaca Alqur’an dapat dilakukan sebelum shalat subuh secara dawam, maka rumah itu akan penuh dengan berkat-berkat yang ditimbulkan oleh Kitab Suci Alqur’an, dan hati anak-anak-pun akan tergerak menaruh perhatian kearah itu. Anak-anak juga akan berusaha melangkahkan kaki mereka diatas jalan kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang mukmin. Dan semakin besar pertumbuhan fisik anak itu akan semakin meningkat timbulnya perasaan di dalam kalbu mereka terhadap nilai keagungan dan kecintaan terhadap Alqur’an. Dan jika kita membaca Alqur’an secara dawam sambil memahami dan merenungkan ajaran-ajarannya, dan di rumah-rumah orang Jemaat dimana suami isteri membaca Alqur’an karena Allah Ta’ala dan dengan penuh kecintaan disana setiap orang akan menyaksikan berkat-berkatnya bahwa anak-anak mereka itu menjadi wujud-wujud yang berguna bagi Jemaat. Tarbiyyat mereka juga akan bernilai tinggi. Sungguh hal itulah yang harus diusahakan dengan penuh perhatian oleh setiap orang Ahmadi dan menjadikannya bahagian dari kehidupannya.

Pada zaman ini Hadhrat Masih Mau’ud as telah berusaha sangat keras untuk menciptakan hal seperti itu di kalangan kita dan itulah juga maksud kedatangan beliau ke dunia, agar kita dapat menampilkan Alqur’an sebagai Kitab yang paling luhur dan paling mulia. Dan itulah Kitab yang sangat terhormat yang tidak ada tadingannya. Kita menghormati Alqur’an tidak hanya sebatas menyimpannya di dalam lipatan kain yang sangat indah, ditempatkan di dalam lemari yang indah atau didalam kotak khas yang indah seperti yang biasa dilakukan oleh orang-orang Islam lain. Penghormatan dan kecintaan terhadap Alqur’an yang paling utama adalah berusaha mengamalkan ajaran-ajarannya dengan penuh perhatian, membuat perintahnya dan larangannya menjadi bahagian dari kehidupan kita. Perkara apa pun yang dilarang Allah Ta’ala harus kita tinggalkan dan apa yang diperintahkan untuk mengamalkannya kita harus berusaha mengamalkannya dengan segala kekuatan dan kemampuan kita. Kita harus menilawatkan Alqur’an disertai dengan perasaan takut didalam hati kita kepada Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan pentingnya Kitab Suci Alqur’an baik dalam berbagai buku beliau as, di dalam Malfuzat maupun dalam majelis-majelis yang beliau selenggarakan. Dan beliau menjelaskan harapan-harapan beliau seperti itu dari setiap orang yang baiat kepada beliau atau setiap orang Ahmadi.

      Pendeknya, sangat diperlukan sekali agar setiap rumah orang-orang Ahmadi dipenuhi dengan keberkatan-keberkatan tilawat Alqur’anul Karim. Dan sangat penting sekali membaca Alqur’an sambil menelaah terjemahannya agar hukum-hukumnya dapat dipahami dengan baik. Di rumah-rumah orang Ahmadi harus diusahakan membaca Alqur’an dengan terjemahannnya dan bukan hanya membiasakan tilawatnya saja bahkan di dalam rumah hendaknya dibentuk sebuah majlis kecil untuk menjelaskan perkara-perkara yang mudah dan sederhana dari Alqur’an di hadapan anak-anak, hal itu pasti akan menimbulkan semangat di dalam hati anak-anak untuk membaca Alqur’an. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyatakan betapa pentingnya memahami terjemah shalat dan membaca terjemah Alqur’an. Akan tetapi beliau tidak mengizinkan hanya membaca terjemah-nya saja tanpa membaca tulisan atau teks Arabnya. Beliau as bersabda,

      ”Sekali-kali kami tidak memberi fatwa membaca Alqur’an hanya terjemahnya saja. Dengan cara demikian kehormatan Alqur’an akan menjadi batil. Orang-orang yang berkata demikian (cukuplah membaca Alqur’an hanya terjemahnya saja) berarti mereka menghendaki agar Alqur’an lenyap dari atas muka bumi.” [2]

Mu’jizat Alqur’an terletak pada bentuk dan wujudnya yang asli. Begitulah mu’jizat Alqur’an dan ia sangat  besar kedudukannya. Dan memang telah diumumkan oleh Allah Ta’ala,  إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Inna nahnu nazalnadz dzikra wa inna lahu lahaafizhun artinya Kamilah yang telah menurunkan zikir (Alqur’an) ini dan sesungguhnya Kamilah pula yang menjaganya.

      Mu’jizat Alqur’an ini sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda adalah, terus berjalan sampai sekarang dalam tulisan asli Arabnya. Bagaimanapun kerasnya para pengkritik dan para penentang Islam, mereka tidak dapat membantah kenyataan bahwa wujud Alqur’an ini dalam bentuk dan tulisan aslinya sampai sekarang tetap terpelihara dengan utuh, tidak mengalami perobahan sedikitpun. Jika orang-orang mulai bersikeras membaca Alqur’an hanya terjemahannya saja, kita sekarang telah menyaksikan banyak sekali terjemahannya yang berbeda-beda. Dan apabila kita menyampaikan terjemahan Alqur’an yang kita lakukan kepada dunia, mereka mengakui bahwa terjemahn ini sungguh baik dan berbeda dari yang lain. Sebab para penterjemah lain tidak melakukannya dengan benar dan tepat. Seorang Pendeta besar dan terkenal di Amerika yang keras mengkritik Alqur’an telah banyak memperoleh berbagai macam terjemah Alqur’an bersama teks Arabnya, dan dia mengajukan banyak protes dan mengkritik apa yang telah diajarkan oleh Islam dan oleh Alqur’an. Namun ketika kami mengirimkan tafsir Alqur’an kepadanya, ia diam tidak memberi jawaban apa-apa. Setelah lama didesak iapun berkata, “Apa yang telah saya terjemahkan orang-orang Muslim juga menterjemahkannya demikian.”

      Alhasil, Hadhrat Masih Mau’ud-lah yang telah menerjemahkan Alqur’an bagi kita yang dekat dengan matan (teks) bahasa Arab. Dan beliau as telah mengajarkan makna dan ma’aarif (pengetahuan-pengetahuan) Alqur’an yang sungguh tepat dan benar kepada kita.

      Di sini sambil lalu saya ingin memberitahu para hadirin bahwa beberapa hari yang lalu ada seseorang yang mengkritik Ahmadiyah katanya, “Jika benar tuan Mirza adalah seorang Nabi, mengapa beliau berkata kepada para pengikut beliau, ‘Ikutilah Imam Abu Hanifah?’” Jawaban berdasarkan tulisan beliau as terhadap kritikan ini terdapat di banyak tempat. Secara pasti sama sekali beliau tidak mengatakan, “Ikutilah [paham Imam Abu Hanifah]!” Akan tetapi, saya berkata sesuai dengan ajaran Alqur’an dimana terdapat sebuah referensi tentang itu. Di dalam sebuah Majelis Hadhrat Masih Mau’ud as seseorang telah menyebutkan bahwa di dalam Madzhab Abu Hanifah membaca terjemahan Alqur’an saja dianggap sudah cukup. Atas pernyataan itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Jika hal itu merupakan madzhab Imam A’zham (Imam Besar) maka beliau telah melakukan kesalahan. [3]

      Perkataan beliau [Imam Abu Hanifah, sumber madzhab Hanafi] adalah salah. Tidak diragukan lagi, beliau seorang Imam, telah banyak melakukan pengkhidmatan besar terhadap Islam; beliau telah mengumpulkan banyak sekali masalah agama, akan tetapi jika [benar] beliau telah mengatakan membaca terjemahan Alqur’an saja sudah cukup, beliau telah berbuat kesalahan.

      Walhasil, pada zaman ini Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai sarana untuk menjaga keaslian Alqur’an. Beliau as telah memerintahkan kepada Jemaat beliau as di berbagai tempat tak terhitung banyaknya untuk memahami dan mencintai Alqur’anul Karim. Di satu tempat beliau as bersabda, “Qur’an Syarif, adalah hukum Ilahi dan sarana najat (keselamatan).” [4]

      Konteks pembicaraan sebelum dan sesudah kutipan kalimat diatas ialah beliau as sedang bersabda mengenai pembuktian telah wafatnya Nabi Isa as berdasar rujukan dari Alqur’an akan tetapi poin-poin yang umum ialah bahwa Alqur’an Syarif adalah Qanuuni Aasmaani (undang-undang Samawi, undang-undang Ilahi) dan dari segi itu merupakan sarana keselamatan. Kita telah menyaksikan undang-undang duniawi, hanya dengan menjadikan undang-undang saja ia tidak memberi faedah apapun jika tidak diterapkan dan tidak diamalkan berdasar itu. Begitu juga undang-undang Alqur’an akan membawa faedah dan akan memberi keselamatan apabila ia diamalkan. Jika tidak diamalkan ia tidak dapat menjadi sarana petunjuk keselamatan. Jika hanya membaca saja dan tidak mengamalkan ia tidak bisa selamat. Ia juga tidak akan mendapat keridhaan Allah Ta’ala. Kita tidak akan bisa menjadi pewaris nikmat-nikmat dan anugerah-anugerah Allah Ta’ala. Jadi, memahami ajaran-ajaran Alqur’anul Karim dan mengamalkannya adalah sangat penting sekali.

      Di satu tempat beliau as bersabda,

      ”Ingatlah, Alqur’an Syarif adalah sumber keberkatan hakiki dan sarana keselamatan. Orang-orang yang tidak mengamalkan Alqur’an Syarif telah melakukan kesalahan bagi dirinya sendiri. Segolongan manusia dari antara mereka yang tidak mengamalkan ajarannya dikarenakan tidak meyakininya dan mereka menganggap Alqur’an bukan kalam Ilahi. Mereka itu telah terhempas jauh dari kebenaran. Akan tetapi orang-orang yang beriman dan yakin bahwa Alqur’an adalah Kalam Allah Ta’ala dan Alqur’an adalah sarana untuk meraih syafa’at dan keselamatan, namun jika mereka itu tidak mengamalkan ajarannya tentu sangat mengherankan dan sangat disesalkan sekali. Diantara mereka itu banyak sekali orang-orang yang tidak pernah membaca Alqur’an sepanjang hidup mereka. Orang yang lalai dan tidak menghiraukan Kalam Ilahi seperti itu, keadaannya adalah seperti orang yang sudah tahu betul ada sumber mata air yang sangat jernih dan bening, berkhasiat dan dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit, ia sudah mengetahuinya dengan yakin, namun ia tidak juga pergi ke tempat itu untuk mengambil air sekalipun dia sedang ditimpa banyak sekali penyakit dan ditimpa kehausan. Hal itu menunjukkan betapa malang nasibnya dan bodoh orang itu. Seharusnya ia meletakkan mulutnya ke dalam air itu dan meminum serta menikmati sekenyangnya air yang dapat menyembuhkan penyakit dan membawa kehidupan kepadanya. Namun sebaliknya, sekalipun mengetahuinya ia tetap menjauh dari mata air itu seperti orang yang sama sekali tidak mengetahuinya.” [5]

      Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita, setelah memahami dengan penuh kepedihan atas kata-kata yang demikian jelas dalam amanat ini, untuk mengamalkan ajaran-ajaran Alqur’anul Karim. Tuntutan baiat sejati kita akan dapat terpenuhi apabila kita menerapkan ajaran-ajaran Alqur’an diatas diri pribadi kita dan inilah ajaran Alqur’anul Karim, seperti telah dijelaskan sebelumnya, yaitu menjauhkan diri dari setiap keburukan yang dijelaskan mengenainya oleh Alquranul Karim dan berusaha mengamalkan setiap kebaikan yang telah disebutkan di dalamnya serta berupaya sesempurna mungkin mengusahakannya.

      Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

      ”Alqur’an asy-Syarif tidak menginginkan hanya karena telah menjauhkan diri dari keburukan, seseorang telah menganggap dirinya sudah sempurna. Bahkan, Alqur’an menginginkan agar manusia memperoleh derajat kesempurnaan tertinggi dan menyandang akhlak fadhilah sehingga dengan itu melakukan kebaikan-kebaikan bermutu tinggi yang dapat menciptakan rasa simpati di kalangan sesama umat manusia sehingga natijahnya Allah Ta’ala ridha kepadanya.”[6]

       Jadi, jika seorang mukmin mempunyai kecintaan hakiki terhadap Alqur’anul Karim maka dengan sendirinya ia akan berusaha untuk meraih standar itu dan ia juga akan berusaha membawa anak-anaknya sampai ke tingkat itu. Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Mencegah keburukan dan kejahatan bukan suatu keistimewaan. Berhenti dari suatu gerak-gerik yang buruk, berhenti dari suatu keburukan bukanlah suatu hal yang sempurna. Dan jangan hanya sampai di situ yang menjadi target kita melainkan harus jauh lebih besar dari itu. Dan kita harus berusaha untuk meraihnya, yakni semua kebaikan yang telah dikemukakan oleh Alqur’an kita harus menerapkannya diatas diri kita. Tatkala setiap laki-laki, setiap perempuan hingga anak-anak semua berusaha menerapkannya maka sebuah masyarakat yang suci pasti akan berdiri. Dan akan berdiri sebuah kelompok masyarakat yang dikehendaki oleh Islam. Sehingga di masa yang akan datang mulut orang-orang yang selalu melemparkan tuduhan dan kritikan terhadap ajaran Alqur’an dan Islam akan bungkam.

      Di sini (Inggris) ada dua orang perempuan terkenal yang dalam mengajukan keberatannya terhadap hukum-hukum Islam demikian melampaui batas. Mereka menyampaikan ceramah-ceramah di berbagai tempat di negeri ini. Beberapa hari yang lalu melalui Khuddamul Ahmadiyah UK telah diadakan sebuah pertemuan untuk membahas hal itu di UCL (Universitas College London). Acara semacam perdebatan [antara 2 khadim Jemaat] dengan mereka diselenggarakan oleh pengelola Universitas itu. Di dalam perdebatan tersebut, kedua perempuan itu telah mengemukakan keberatan dan tuduhan-tuduhan yang melampaui batas terhadap undang-undang Islam menurut pendapat mereka sendiri. Kedua khuddam kita salah satunya berasal dari Pakistan yang sedang belajar [mahasiswa] di Jamiah Ahmadiyah UK dan yang kedua seorang Ahmadi baru [baiat] berkebangsaan Inggris. Keduanya memberi jawaban yang sangat akurat dan positif berdasarkan dalil-dalil dan sesuai ajaran Alqur’anul Karim. Mendengar jawaban yang diberikan berdasarkan ajaran Islam yang hakiki itu kedua perempuan tersebut tersipu-sipu sambil menunjukkan perangai kemarahan, sehingga para pendukung mereka juga memperlihatkan penyesalannya atas keadaan itu seperti tuduhan-tuduhan mereka yang sangat melampaui batas itu. Dengan karunia Allah Ta’ala ajaran Islam telah menunjukkan kemenangannya melalui para pemuda Ahmadi.

Jadi, kita harus banyak berusaha untuk memahami ajaran-ajaran Islam dan kita harus berusaha keras untuk mengamalkannya supaya rumah tangga kita menjadi nampak sebagai surga. Dan kita akan menjadi orang-orang yang mampu menunaikan tugas tabligh di tengah masyarakat dan di lingkungan tempat kita tinggal.

Sambil mengajar cara-cara tilawat Alqur’anul Karim Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Hendaknya membaca Alqur’anul Karim dengan tadabbur (penelitian), tafakkur (pemikiran) dan penuh perhatian. Terdapat riwayat dalam sebuah hadis, ’rubba qaarin yal’anuhul qur’anu’ [7]– “Banyak sekali pembaca Alqur’an yang bersamaan dengan itu Alqur’an pun melaknatnya.” Barangsiapa yang membaca Alqur’an namun tidak mengamalkan ajarannya, maka Alqur’an mengirimkan laknat kepada mereka itu. Apabila sedang [mendengar atau membaca] tilawat Alqur’anul Karim terdapat ayat yang menjelaskan tentang rahmat maka mohonlah rahmat dari Allah Ta’ala dan jika menyebutkan tentang azab atas suatu kaum maka mohonlah perlindungan kepada Allah Ta’ala dari azab-Nya itu. Bacalah [Alqur’an] dengan tadabbur dan menaruh perhatian lalu beramallah sesuai hal itu.” [8]

Kesadaran seperti itu akan tercipta apabila pentingnya ayat-ayat yang sedang dibaca itu dapat dirasakan betul-betul dan terjalin hubungan yang erat dengannya. Jadi,  pentingnya hal ini dan hubungan yang khas dengannya harus diciptakan dalam hati kita. Banyak orang yang mengemukakan alasan, sangat susah sekali memahami Alqur’an. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Banyak orang yang tuna ilmu biasa berkata, ’Kami tidak mampu memahami Alqur’an.’ (Oleh sebab itu) ‘janganlah menaruh perhatian terhadapnya karena sangat sulit.’ Inilah kesalahan mereka. Alqur’anul Karim telah menjelaskan masalah-masalah kepercayaan dengan sangat jelas sehingga tidak dapat dicari tandingannya dan dalil-dalilnya sangat memberi kesan di dalam hati manusia. Alqur’anul Karim ini demikian jelas dan mengesankan sekali sehingga penduduk Arab yang tinggal di pedalaman padang pasir dan betul-betul buta huruf pun dapat memahaminya lalu sekarang mengapa orang-orang itu tidak mampu memahaminya.” [9]

Pada zaman ini Allah Ta’ala telah berlaku sangat ihsan, sangat baik sekali terhadap kita, Dia telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as ke dunia, yang telah menjelaskan Alqur’anul Karim secara terbuka kepada kita bukan hanya arti secara zahir saja melainkan arti atau makna secara ruhani yang sangat dalam juga. Beliau as telah menyampaikan kepada kita keberkatan ayat,

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ Wa aakhiriina minhum lamma yalhaquu bihim. Kita harus mengumpulkan permata-permata indah dari sumber khazanah yang telah dikemukakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as kepada kita. Hal itu tidak akan dapat diperoleh sebelum kita menjadi para pencinta hakiki Alqur’anul Karim. Banyak sekali orang Muslim di luar Jemaat Ahmadiyah yang menilawatkan Alqur’an dengan suara merdu dan karenanya mereka mendapat banyak hadiah, banyak sekali kaset berisi rekaman mereka yang beredar di dunia. Namun demikian, diantara para Qari yang bersuara bagus itu banyak sekali yang tidak memahami makna dan maksud Alquranul Karim. Bahkan, para ulama besar pun tidak memahaminya sehingga di kalangan Islam pembahasan nasikh-mansukh ayat-ayat Alqur’an terus berlangsung sampai sekarang dan  sampai sekarang juga mereka tidak memahami sebagian ayat suci Alqur’anul Karim, salah satunya ialah masalah kewafatan Nabi Isa as. Walhasil, mereka tidak mengerti ayat-ayat tertentu dari Alqur’anul Karim. Tentang keadaan demikian terdapat sebuah Hadis yang mengancam yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abbas bin Abdul Muthalib ra,

عن العباس بن عبد المطلب قال: قال رسول الله: يأتي من بعدكم أقوام يقرءون القرآن. يقولون: قد قرأنا القرآن، مَن أقرأ منا؟ ومن أفقه منا؟ أو مَن أعلمُ منا؟ ثم التفت إلى أصحابه فقال: “هل في أولئك مِن خيرٌ؟” قالوا: لا. قال: “أولئك منكم من هذه الأمة، أولئك هم وقود النار”  (مسند أحمد بن حنبل، مسند العباس بن عبد المطلب)

Dari al-‘Abbas bni ‘Abdil Muthallib berkata, Rasulullah saw bersabda, “Akan tiba masanya setelah kalian apabila orang-orang yang membaca Alqur’an di muka bumi akan membanggakan diri sambil berkata, ‘Adakah Qari yang lebih baik dari aku? Siapa orang yang lebih faqih (paham agama) dibanding aku?’ Lalu beliau saw bertanya kepada para sahabat beliau, “Apakah kalian dapat melihat suatu kebaikan dari orang-orang itu?” Para sahabat menjawab, “Tidak!” Beliau saw bersabda, “Mereka itu berasal dari kalian yang muncul dari umat ini juga. Akan tetapi mereka itu akan menjadi bahan bakar api neraka.” [10]

Jadi, untuk menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala, sarana petunjuk untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan penyelamat dari api neraka; perkara utama yang harus diperhatikan adalah memahami ajaran Alqur’an sambil merendahkan diri lalu beramal sesuai itu. Bukan untuk tujuan keuntungan materi melainkan karena kecintaan terhadapnya. Dan sekarang ini adalah kewajiban kita setiap Ahmadi dan harus memberi perhatian terhadapnya. Hendaklah berusaha untuk meraihnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah bersabda dalam Kisyti Nuh,

            ”Oleh karena itu berhati-hatilah dan janganlah melangkahkan kaki biarpun hanya  selangkah  tetapi  bertentangan dengan ajaran Tuhan dan petunjuk Quran Syarif. Aku berkata dengan sungguh-sungguh, bahwa barangsiapa yang mengabaikan satu perintah sekecil-kecilnya di antara sejumlah 700 buah perintah Quran Syarif, ia  menutup pintu keselamatan bagi dirinya sendiri dengan tangannya sendiri. Jalan keselamatan yang sempurna dan hakiki dibukakan oleh Quran Syarif, sedang semua jalan lainnya adalah bayangannya. Oleh karena itu bacalah Quran Syarif dengan seksama dan hendaknya kamu sangat mencintainya, dan dengan demikian rupa cintanya, sehingga kamu belum pernah mencintai sesuatu yang lain dari itu, karena sebagaimana Tuhan berfirman kepadaku:  Al-khayru kulluhu fil-qur‘aan yakni, bahwa segala macam kebaikan terdapat di dalam Quran Syarif, itu sungguh benar! Alanglah sayangnya orang-orang  yang lebih mengutamakan sesuatu selain Quran Syarif. Sumber segala kebahagiaan dan keselamatan bagi kamu terdapat di dalam Quran Syarif.  Tidak sebuah pun keperluan agama kamu yang tidak terdapat di dalam Quran Syarif.  Saksi yang membenarkan maupun yang mendustakan keimanan kamu pada  Hari Kiamat  adalah Quran Syarif. Di bawah kolong langit ini tidak ada sebuah   Kitab pun  yang secara langsung memberikan petunjuk kepada kamu kecuali Quran syarif. Allah Ta’ala telah berkenan berbuat banyak kebajikan kepada kamu dengan menganugerahkan kepada kamu sebuah Kitab Suci seperti  Quran Syarif. Aku berkata dengan sesungguh-sungguhnya kepada kamu sekalian, bahwa Kitab yang telah dibacakan kepada kamu itu seandainya dibacakan kepada kaum  Kristen, mereka tidak akan binasa. Dan nikmat serta petunjuk yang dilimpahkan kepada kamu itu andaikan  diberikan kepada kaum Yahudi sebagai pengganti  Kitab Taurat maka sebagian firqah (aliran) mereka tidak akan mengingkari Hari Kiamat. Oleh karena itu hargailah nikmat yang dilimpahkan kepada kamu. Nikmat tersebut sungguh  berharga sekali. Nikmat kesayangan itu merupakan suatu harta-pusaka yang besar nilainya. Jika sekiranya  Quran syarif tidak diturunkan maka seantero dunia ini tak ubahnya hanya  laksana  segumpal daging yang menjijikkan belaka. Quran Syarif adalah sebuah  Kitab agung, dan semua petunjuk tandingannya tidak berarti.” [11]

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

            “Ada pula bagi kamu sekalian suatu Ajaran penting, yaitu bahwa kamu hendaknya jangan meninggalkan  Quran Syarif seperti benda yang   dilupakan, sebab justru di dalam Quran Syarif-lah terdapat kehidupan kamu. Barangsiapa memuliakan Quran Syarif akan memperoleh kemuliaan di langit. Barangsiapa yang lebih mengutamakan Quran Syarif di atas segala Hadits dan segala ucapan lain akan diutamakan di langit. Bagi bagi umat manusia di atas permukaan bumi ini kini tidak ada Kitab lain kecuali  Quran Syarif,  dan bagi seluruh Bani Adam kini tidak ada seorang Rasul juru syafaat selain Muhammad Musthafa saw., maka berusahalah untuk menaruh kecintaan yang setulus-tulusnya kepada Nabi agung itu, dan janganlah meninggikan seseorang selain beliau dalam segi apa pun, agar di langit kamu dicatat dalam daftar orang-orang yang memperoleh najat (keselamatan).  Dan ingatlah, bahwa najat bukanlah hal kamu sekalian akan nampak  nanti sesudah mati (di  akhirat), melainkan najat yang hakiki ialah yang   memperlihatkan cahayanya di alam dunia ini juga. Siapakah yang beroleh najat itu? Ialah dia yang berkeyakinan  bahwa Tuhan benar-benar ada  dan bahwa Muhammad saw. adalah Juru-Syafaat yang menjadi penengah (washilah, perantara) antara Tuhan dan seluruh makhluk, bahwa di bawah bentangan langit ini tidak ada Rasul lain semartabat dengan beliau, dan tidak ada Kitab lain semartabat dengan Quran Syarif, bahwa Tuhan tidak menghendaki siapa pun untuk hidup selama-lamanya, akan tetapi Nabi pilihan ini hidup untuk selama-lamanya. Untuk menjadikan beliau tetap hidup selama-lamanya, Tuhan telah meletakkan dasar demikian, ialah Dia mengalirkan keberkataan-keberkatan syariat dan keberkatan rohani terus hingga Kiamat. Dan pada akhirnya  karena  berkat ruhani beliau saw. Dia mengutus Masih Mau’ud ke dunia ini, yang kedatangannya sangat diperlukan guna menyempurnakan pembangunan gedung Islam,  sebab hal demikian itu diperlukan karena dunia ini jangan habis sebelum kepada umat Muhammad saw. seorang Masih diutus, seperti halnya telah diutus seorang Masih kepada umat Musa. Hal itulah yang diisyaratkan oleh ayat berikut: اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ “Tunjukilah  kami pada jalan yang lurus, yaitu  jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat…” – (Surah Al-Fatihah, 1 :6-7). [12]

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita dan anak-cucu kita dan generasi yang akan datang seterusnya hingga kiamat yang beriman kepada Masih Muhammadi,  mencintai Alqur’an dengan corak hakiki dan menerapkan ajaran-ajarannya diatas diri mereka. Dan semoga menjadi orang-orang yang selalu memperoleh keberkatan-keberkatan dari padanya setiap waktu. [Aamiin]

Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri, Shd

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang agung

[2] Malfuuzhaat jilid som (III) halaman 265, edisi 2003, cetakan Rabwah

[3] Malfuuzhaat jilid som (III) halaman 265, edisi 2003, cetakan Rabwah

[4] Malfuuzhaat jilid cehaaram (IV) halaman 130, edisi 2003, cetakan Rabwah

[5] Malfuuzhaat jilid cehaaram (IV) halaman 140, edisi 2003, cetakan Rabwah

[6] Malfuuzhaat jilid cehaaram (IV) halaman 208, edisi 2003, cetakan Rabwah

[7]  “رُبَّ قارئ للقرآن والقرآن يلعنه” Salah satu riwayat hadits kami temukan ’rubba qaari-in lil qur’aani wal qur’anu yal’anuhu’ terjemahan sama, Red.

[8] Malfuuzhaat jilid pancjam (V) halaman 157, edisi 2003, cetakan Rabwah.

[9] Malfuuzhaat jilid pancjam (V) halaman 177, edisi 2003, cetakan Rabwah

[10] Majma’uz Zawaaid wa Manba’ul Fawaaid Kitab al-‘Ilmi bab karaahiyatud da’waa hadits 876 jld 1 h. 251-252, Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut-Lebanon. Musnad Ahmad bin Hanbal, Musnad al-‘Abbas bni ‘Abdul Muthallib j. 2 h. 218

[11] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazaain jilid 19 halaman 26-27

[12] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazaain jilid 19 halaman 26-27