Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 26 September 2014 di Masjid Maryam, Galway, Irlandia.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللهِ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (التوبة: 18)

“Sesungguhnya, yang pantas memakmurkan masjid-masjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan hari akhir, dan mendirikan shalat, dan membayar zakat, dan tidak takut kepada siapapun kecuali Allah; mereka inilah yang paling mungkin termasuk diantara orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Surah at-Taubah; 9:18)

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, pada hari ini, kita dapat menunaikan ibadah shalat Jum’at di masjid yang pertama dibangun oleh Ahmadiyah di Irlandia. Semoga Allah Ta’ala menjadikan masjid ini penuh berkah di segala aspeknya. Aamiin. Walaupun masjid ini berukuran kecil, namun dari masjid ini, para pengikut dari Masih Muhammadi akan mengumumkan keesaan Tuhan sebanyak 5 kali dalam sehari. Mereka akan datang ke masjid ini dan akan beribadah menyembah Allah Ta’ala 5 kali setiap harinya. Mereka akan mengumandangkan dengan suara lantang bahwa masjid ini merupakan tempat untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan juga umat manusia dan bukan tempat untuk membuat kekacauan dan huru-hara.

Masjid ini didirikan sebagai tempat untuk menyembah Allah Ta’ala yang merupakan Rabbul ‘Aalamiin, Tuhan semesta Alam. Dia menampakkan sifat Rabbubiyat-Nya kepada setiap orang di setiap zaman. Di masa lalu pun, Allah Ta’ala juga telah menyediakan segala macam sarana baik itu sarana spiritual maupun jasmani kepada manusia melalui sifat Rabbubiyat-Nya. Pada hari ini pun, Allah Ta’ala senantiasa menjaga dan memelihara dunia ini dengan Rabbubiyat-Nya. Begitu pula di masa yang akan datang, Dia akan senantiasa memberikan manfaat serta menyempurnakan dunia ini melalui sifat Rabbubiyat-Nya. Sifat Rabbubiyat-Nya tidak terbatas hanya kepada satu orang atau satu kaum tertentu saja. Tetapi, sifat Rabbubiyat Allah Ta’ala tersebut berlaku untuk seluruh dunia dan semua makhluk ciptaan-Nya di sepanjang masa.

Pendek kata, dari sudut pandang tersebut, masjid dari para pengikut Masih Muhammadi ini dibangun untuk menegaskan, jika seseorang ingin meraih makrifat dan ilmu sejati dari sifat Rabbubiyat Allah Ta’ala, mereka yang telah bergabung dengan Jemaat inilah yang akan dapat meraihnya. Masjid ini dibangun agar dapat mengumumkan bahwa untuk menghilangkan kekacauan di muka bumi ini yaitu dengan cara memahami ajaran Agama Islam yang begitu indah yang merupakan ajaran yang penuh dengan cinta, kasih sayang, dan perdamaian. Masjid ini dibangun untuk mengumandangkan kepada dunia bahwa yang dibutuhkan saat ini adalah cinta, harmoni dan persaudaraan, bukannya peperangan dan konflik. Masjid yang kita bangun ini didirikan untuk menegaskan kepada seluruh dunia bahwa barangsiapa yang memasuki masjid ini untuk beribadah, ia harus terbebas dari segala macam pikiran-pikiran untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak adil ketika tengah memenuhi hak-hak orang lain. Masjid kita merupakan simbol dan pusat yang menunjukan bahwa siapa saja yang datang hendak beribadah harus bersiap untuk melakukan pengorbanan-pengorbanan demi memenuhi hak-hak umat manusia. Untuk membuat pengorbanan semacam itu dan guna memenuhi hak-hak orang lain, hendaknya ia harus senantiasa diliputi oleh rasa cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Di sisi lain, bahkan kebencian dari penentang kalian sekalipun tidak dapat menghentikan kalian untuk selalu berlaku adil.

Masjid ini kita bangun guna menegaskan bahwa standar yang paling tinggi berkenaan dengan kebebasan beragama dan tolerasi adalah Islam. Oleh karena itu, untuk mewujudkannya, pintu masjid ini terbuka untuk siapa pun. Barangsiapa yang menyembah Tuhan Yang Maha Esa, baginya tidak ada halangan apapun untuk dapat masuk ke dalam masjid kita ini, baik seorang Muslim ataupun non-Muslim. Masjid yang didatangi oleh orang-orang Ahmadi menegaskan bahwa sesuai dengan ajaran dari Al-Qur’an, merupakan tanggung jawab setiap Muslim sejati untuk menjaga dan melindungi tempat-tempat ibadah semua agama. Tanggung jawab ini sangat penting juga bagi seorang Muslim sebagaimana ia bertanggung jawab melindungi dan menjaga masjid-masjid mereka sendiri.

Masjid ini pun menarik perhatian kita kepada satu kenyataan bahwa kecintaan kepada tanah air merupakan bagian dari keimanan seorang mu’min. Seorang mu’min tidak dapat dikatakan sebagai seorang mu’min sejati sebelum ia menunjukkan jiwa dan semangat patriotisme dan kesetiaan kepada negaranya. Tentu, ada banyak sekali perkara yang hendaknya dipenuhi oleh seseorang dalam hubungannya dengan masjid, dan ia baru dapat dikatakan telah benar-benar memenuhi hak-hak masjid apabila ia telah memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan umat manusia pada umumnya dengan cara yang semestinya.

Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita untuk melakukan hal-hal tersebut sebagaimana yang tercantum dalam ayat Al-Qur’an. Hadhrat Rasulullah saw pun telah berkali-kali memberikan kita petunjuk dan nasihat untuk berlaku demikian. Melalui akhlak, perilaku serta contoh teladan yang telah dipraktekkan oleh beliau saw, beliau Saw telah memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan juga umat manusia. Untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan, cinta dan kasih sayang, perdamaian dan harmoni, Rasulullah saw telah memberikan contoh teladan beliau di hadapan kita. Hal ini bukanlah pernyataan lisan semata. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa dalam satu kesempatan, Rasulullah Saw mengizinkan beberapa orang Kristen untuk beribadah di dalam masjid Nabawi ketika waktu ibadah mereka datang.[2] Peristiwa ini mencerminkan ajaran Islam yang sejati yang diinginkan oleh pencinta sejati dari Rasulullah Saw, yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as agar kita pun dapat mengamalkannya. Ini merupakan gambaran dari ajaran Islam yang sebenarnya dan juga merupakan pegangan hidup kita dari sedikit contoh yang telah saya sampaikan tadi.

Agar kita dapat melakukan hal tersebut dan kemudian menyebarkannya, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menasehati kita. Beliau as bersabda, “Dengan memiliki pandangan seperti itu, maka setiap kali kalian membangun masjid yang baru, pintu pertablighan untuk mengenalkan Islam pun akan semakin terbuka. Perhatian orang-orang yang datang akan tertarik kepada Islam dan ajaran-ajarannya yang indah sehingga hal tersebut akan merebut hati mereka. Dengan begitu, jumlah kalian pun akan semakin bertambah. Ringkasnya, dengan tujuan inilah kita hendaknya membangun masjid kita.”[3]

Inilah ajaran yang ketika mereka mulai mengetahuinya melalui media dan atau internet, mereka akan semakin tertarik kepada kita, baik itu dari kalangan biasa, hingga politikus. Ketika mereka mengetahui hal tersebut, di satu sisi, ada kelompok/organisasi yang gemar membunuh dan menumpahkan darah. Namun di sisi lain ada pula golongan yang senantiasa berusaha untuk menyebarkan cinta, kasih sayang dan perdamaian serta harmoni ke seluruh dunia. Di satu sisi, ada masjid yang digunakan oleh mereka yang mengaku Islam tetapi melontarkan fitnah-fitanh keji atas nama Allah dan Rasul-Nya. Namun di sisi lain, kita juga temukan ada golongan yang hanya menampakkan rasa cinta dan perdamain.

Slogan “Love For All Hatred For None” terus berkumandang dari masjid ini dengan suara yang lantang dan jelas. Hal inilah yang menarik perhatian orang-orang dan menumbuhkan rasa keingintahuan dari mereka tentang mengapa ada perbedaan diantara kedua kelompok Islam tersebut? Rasa ingin tahu mereka ini akan membimbing mereka untuk lebih mencari lagi informasi tentang Islam dan Jemaat ini baik melalui media maupun internet. Dua hari yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Dublin Parlemen dan berjumpa dengan beberapa orang angggota Parlemen. Diantara mereka ada yang berkata, “Metode yang dilakukan oleh Ahmadiyah adalah senantiasa berusaha untuk menegakkan nilai-nilai kemanusian dan menciptakan perdamaian. Kami tidak temukan usaha yang serupa di kalangan umat Islam lainnya.” Ia berkata bahwa ia mengetahui hal tersebut setelah mempelajari dan mengkaji dengan seksama ajaran Ahmadiyah dan setelah ia melakukan pengkajian secara detail tersebut, ia memiliki keinginan yang sangat kuat agar Jemaat Ahmadiyah segera membangun masjid di Dublin, sehingga ajaran yang penuh cinta kasih ini serta usaha-usaha penegakkan nilai-nilai kemanusian dapat menyebar di kota tersebut, yang tak lain adalah kotanya sendiri.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada dunia bahwa jangan memilih pandangan yang salah yang didasarkan kepada satu sisi saja. Haruslah melihat sisi-sisi lain dari gambaran tersebut yang justru merupakan gambaran yang sebenarnya.

Hari ini, Jemaat dari pecinta sejati Hadhrat Rasulullah Saw telah mengemukakan gambaran yang sebenarnya dari Islam. Tetapi, bagaimanapun juga, kita tidak boleh merasa bangga hanya karena kita telah mendirikan masjid ini dan orang-orang di seluruh dunia kini tengah menyaksikan masjid ini melalui MTA. Saat ini, kalian bisa saja mengatakan kepada dunia, “Lihatlah, kini kami telah memilki masjid!” Insya Allah pada sore ini, akan ada pertemuan dan orang-orang dari berbagai kalangan akan datang dan melihat masjid kalian ini. Mereka akan mengagumi serta memuji keindahan masjid ini walaupun sebenarnya pujian terhadap keindahan masjid ini pun sudah dimulai. Di berbagai kesempatan lainnya pun, akan ada beberapa orang lagi, baik itu yang berasal dari dalam kota maupun luar kota yang akan mengunjungi masjid ini. Kalian mungkin saja merasa bangga karena dengan melihat banyaknya orang dari berbagai kalangan yang datang berkunjung ke masjid kalian ini dan itu mungkin membuat kalian merasa bahwa tujuan dari pembangunan masjid ini telah tercapai. Tetapi, itu bukanlah tujuan utama.

Sebagaimana yang telah saya sampaikan, ada banyak perkara yang harus dipenuhi setelah kalian membangun masjid ini. Semua hal-hal tersebut harus mendapat perhatian yang besar karena ini merupakan tanggung jawab yang besar kepada kalian. Setiap Ahmadi yang tinggal di sekitar masjid ini harus memperhatikan hal-hal tersebut. Sejauh mana kalian telah memenuhi tanggung jawab kalian tersebut? Saya telah menyebutkan sebelumnya tentang apa peranan atau fungsi dari sebuah masjid? Apa tujuan kita ketika mendirikan masjid? Bagaimana kita seyogyanya memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan juga umat manusia? Jika kita tidak menaruh perhatian kepada tanggung jawab ini, pernyataan kita hanyalah isapan jempol belaka. Slogan dan pernyataan kita hanya akan mengkhianati dan menipu dunia. Dalam hal ini, kita membuat dunia senang dengan perantaan proganda dan pernyataan kita saja, tetapi kita melupakan tujuan hidup yaitu meraih ridha Allah Ta’ala dengan cara senantiasa berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.

Di dalam ayat yang saya tilawatkan di awal, Allah Ta’ala telah menerangkan dengan rinci ciri-ciri orang yang memenuhi dan meramaikan masjid. Masjid ini mencakup juga Ka’bah dan kemudian tersebar ke seluruh masjid di seluruh dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang tercantum dalam ayat tersebut. Mereka yang termasuk diantara orang-orang yang memiliki keimanan yang teguh kepada Allah Ta’ala telah disebut oleh-Nya di satu tempat dengan sebutan أشد حبا لله ‘asyaddu hubba liLlaah’ – “Mereka yang beriman memiliki kecintaan yang lebih kuat kepada Allah Ta’ala.” Tidak ada kecintaan-kecintaan kepada hal-hal duniawi yang menguasai mereka. Dengan konsisten mereka berusaha untuk menjalani kehidupan ini dengan tujuan demi meraih ridha dan kecintaan Allah Ta’ala. Mereka tidak akan mengesampingkan kecintaan kepada Allah Ta’ala demi kecintaan terhadap hal-hal duniawi lainnya. Kecintaan kepada Allah Ta’ala menuntut manusia untuk senantiasa mentaati segala perintah-Nya.

Kecintaan kepada Allah Ta’ala menuntut manusia untuk senantiasa beribadah menyembah-Nya. Seyogyanya tidak ada alasan yang dapat dibuat-buat seperti misalnya, “Kami sangat sibuk dalam pekerjaan dan tugas-tugas kami”, sehingga ia melupakan kewajiban untuk shalat berjamaah. Begitu pula dalam mempeoleh perkara-perkara duniawi, ia tidak boleh melakukan kedustaan dan kebohongan. Ketika seseorang sedang mengerjakan suatu pekerjaan atau tugas apapun, ia hendaknya berfikir, “Apakah saya lebih mencintai Allah atau duniawi ini?” Jika hal-hal duniawi membuat manusia menjauh dari Allah, itu berarti hal-hal duniawi tersebut telah menguasai orang itu. Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Hendaknya diketahui kehormatan Allah Ta’ala tidak menghendaki seseorang mencintai-Nya tetapi juga mencintai sesuatu selain diri-Nya. Keimanan kita hanya dapat terjaga dan terpelihara jika kita tidak menyekutukan sesuatu apapun dalam hal kecintaan dengan Allah Ta’ala.”[4]

Jadi, ini adalah perkara yang sangat perlu kita perhatikan. Setiap Muslim mengaku bahwa ia menyintai kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan bahkan ia siap untuk membunuh atau dibunuh demi kecintaannya tersebut. Kita tidak pernah mendengar dari mulut seorang Muslim bahwa ia tidak menyintai kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, berapa banyak diantara mereka yang benar-benar berperilaku sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya? Kita ambil contoh saja mengenai shalat. Kita perlu memeriksa diri kita sendiri, apakah kita telah melaksanakan shalat sesuai dengan ajaran dari Allah Ta’ala? Banyak diantara kita yang menjawab bahwa ia hanya mengerjakan 3-4 kali shalat dalam sehari. Selain itu, ada pula yang mendirikan shalat dengan begitu cepat seolah-olah mereka ingin segera melepaskan beban yang begitu berat di pundak mereka.

Shalat merupakan sarana untuk mengungkapkan kecintaan kita kepada Allah Ta’ala dan juga untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Ta’ala. Jadi, jika kita tidak memperbaiki penunaian hak-hak shalat dengan sebagaimana mestinya, kita tidak akan dapat memenuhi syarat untuk kecintaan dan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Kemudian, berkaitan dengan mereka yang memiliki keyakinan yang teguh kepada Allah Ta’ala, Allah Ta’ala berfirman, “Ketika mereka mendengar segala petunjuk dan perintah dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, mereka menjawab, “سمعنا وأطعنا” ‘Kami dengar dan kami taat!” Kita harus menginstrospeksi diri kita masing-masing apakah kita telah memenuhi standar tersebut? Hal ini harus menjadi rutinitas kita dalam memeriksa bagaimana keadaan kita masing-masing.

Terdapat begitu banyak perintah yang terdapat di dalam Al-Quran. Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyebutkan di satu tempat bahwa ada 700 hukum (perintah) yang terdapat di dalam Al-Quran. Mereka yang tidak menerima dan lalai serta tidak berusaha untuk berakhlak sesuai dengan setiap perintah-perintah yang terdapat dalam Al-Quran tersebut, mereka akan menjauh dariku dan akan memutuskan hubungan denganku. Oleh karena itu, keimanan kita kepada Allah Ta’ala akan menjadi sempurna hanya apabila kita memiliki akhlak dan perilaku yang sesuai dengan perintah Allah Ta’ala.

Kemudian, kita menyatakan, kita beriman kepada hari akhir. Tetapi, banyak diantara kita yang hanya mengatakan hal tersebut sebagai perkataan lisan belaka. Jika keimanannya kepada hari akhir benar-benar sempurna, ia akan terbebas dari dosa dan akan mulai mengkhidmati orang lain. Terkadang, dikarenakan takut kepada hukum-hukum dunia, kita takut untuk melakukan banyak hal. Kita khawatir akan apa yang akan terjadi nanti, bagaimana jika nanti tertangkap, dan sebagainya. Kita menaatinya karena kita takut kepada hukum-hukum dunia tersebut. Akan tetapi banyak sekali pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh sekelompok orang hanya karena meskipun ia menyatakan bahwa ia beriman kepada hari akhir, tapi ia tidak memikirkan akibat dari apa yang dilakukannya itu.

Ada banyak diantara kita yang, walaupun telah mengerjakan shalat dengan dengan penuh kerendahan hati dan ketaatan, tetapi Allah Ta’ala memasukkannya ke dalam golongan orang-orang yang mengerjakan shalat hanya karena ingin memperoleh hal-hal duniawi semata. Ada banyak diantara kita yang datang ke masjid hanya karena khawatir apa yang akan dikatakan oleh orang-orang nantinya karena ia sudah lama tidak datang ke masjid. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman bahwa barangsiapa yang meramaikan masjid, mendirikan shalat dengan dawam dan berjamaah hanya demi meraih kecintaan dan ridha Allah Ta’ala. Mereka berbuat demikian semata-mata berusaha ingin membuat Allah Ta’ala senang dan ridha. Pengorbanan harta yang mereka berikan juga hanya demi menyenangkan Allah Ta’ala semata. Mereka tidak takut kepada apapun kecuali Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang seperti itulah yang tidak hanya menyatakan dirinya telah beriman, bahkan pertolongan dan perlindungan dari Allah akan senantiasa bersama mereka. Setiap langkah yang mereka ambil senantiasa berdasarkan petunjuk dari Allah Ta’ala. Sebagai balasannya, Allah Ta’ala akan senantiasa menganugerahkan kepadanya pintu kesuksesan, kejayaan dan kesejahteraan. Petunjuk ini akan membimbing manusia menuju kejayaan dan kesuksesan dan mereka pun senantiasa akan mendapatkan kesuksesan.

Merupakan karunia dari Allah Ta’ala semata kepada Jemaat Ahmadiyah bahwa Dia telah menganugerahi jemaat ini orang-orang beriman yang bukan hanya mengaku beriman kepada Allah Ta’ala saja, akan tetapi juga menjadikan ridha Allah sebagai tujuan hakiki mereka. Inilah sebabnya mengapa Jemaat Ahmadiyah terus melangkah maju kearah kemajuan dan juga kesuksesan. Jadi, untuk mendapatkan karunia dan anugerah tersebut dan untuk memenuhi hak-hak masjid, sebagaimana yang saya sampaikan, setiap diantara kita hendaknya senantiasa menginstrospeksi keadaan diri kita masing-masing sehingga tidak ada seorang Ahmadi pun baik laki-laki maupun perempuan yang luput dari dari karunia serta anugerah dari Allah Ta’ala. Kita hendaknya tidak merasa takut kepada perkara-perkara duniawi. Apabila kita merasa takut terhadap sesuatu, rasa takut itu pun harus diliputi juga oleh rasa kecintaan dan kekhawatiran, jangan-jangan Allah Ta’ala marah kepada kita.

Pendeknya, oleh karena itu, setelah pembangunan masjid ini, perhatian dunia akan tertuju kepada kita sehingga kita harus berusaha untuk memenuhi syarat-syarat keimanan lebih dari sebelumnya dan senantiasa untuk memeriksa keadaan diri kita sendiri serta berusaha untuk lebih mentaati perintah Allah. Hanya dengan cara inilah kita dapat membimbing orang-orang yang tertarik dan datang untuk melihat masjid ini. Setelah pembangunan masjid ini, pintu pertablighan baru untuk mengenalkan Islam akan terbuka lebar. Sebagaimana yang saya katakan, orang-orang akan datang dan melihat masjid ini. Dimanapun Jemaat membangun masjid di seluruh dunia, orang-orang akan berdatangan dari berbagai golongan, para pelajar, akademisi, dan golongan-golongan lainnya. Sebagai dampaknya, perhatian dunia akan tertuju kepada akhlak dan perilaku dari orang-orang Muslim itu sendiri. Inilah mengapa saya katakan bahwa rasa ingin tahu mereka begitu tinggi. Jika mereka melihat perilaku dan akhlak kita, maka mereka menyatakan bahwa inilah gambaran dari Islam yang sebenarnya dan tentu hal itu akan membawa kesan bagi mereka.

Ringkasnya, setelah pembangunan masjid ini, tanggung jawab Ahmadi yang tinggal di lingkungan masjid ini akan semakin bertambah. Alasan mengapa saya berkali-kali menyampaikan hal ini adalah karena saat ini, kalian tidak lagi tersembunyi. Ada satu masa dimana Jemaat Irlandia ketika itu masih kecil dan tidak ada yang tahu. Namun, saat ini, kalian bukan lagi jemaat yang tidak dikenal oleh orang-orang. Keindahan masjid dan menara ini akan mengenalkan kalian kepada dunia setiap harinya. Sebagaimana yang saya katakan, Insya Allah, pada sore hari ini, akan ada pertemuan dengan non-Ahmadi dan juga non-Muslim. Pertemuan tersebut akan memperkenalkan Ahmadiyah kepada setiap lapisan masyarakat dan akan ada beberapa tulisan yang dibuat oleh media dan Insya Allah mereka pun meliput pertemuan nanti. Hal ini memberikan gambaran jelas kepada masyarakat sekitar tentang Jemaat Muslim Ahmadiyah yang merupakan Islam yang sesungguhnya.

Masjid ini bukan hanya akan menjadi pusat perhatian masyarakat Galway, tetapi juga orang-orang dari kota lain pun akan berdatangan untuk mempelajari Jemaat Ahmadiyah. Apabila mereka memiliki waktu dan kesempatan, mereka pun pasti akan mengunjungi masjid ini. Hal ini sama seperti yang dialami oleh Jemaat Ahmadiyah di tempat lain. Singkat kata, sebagaimana yang saya sampaikan bahwa lahan pertablighan kalian akan semakin berkembang. Oleh karena itu, setiap Ahmadi harus mempersiapkan dan membekali diri mereka dengan pengetahuan, sehingga ketika mereka bertanya tentang satu hal, kita dapat memberikan jawaban yang memuaskan mereka, baik itu jawaban dari segi agama maupun segi akademis. Kalian pun hendaknya memiliki standar akhlak yang tinggi sebagaimana yang diinginkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dari diri kita.

Saya telah mengatakan sebelumnya, apa standar itu? Standar tersebut tidak lain adalah dengan bertingkah laku sesuai dengan perintah-perintah dalam Al-Quran. Kalian harus meningkatkan standar akhlak kalian sehingga orang-orang yang datang ke masjid ini akan otomatis tertarik kepada kalian. Di negara ini, masyarakatnya masih memiliki kecenderungan dan ketertarikan kepada agama. Ini seperti halnya negara-negara di Eropa dimana baik orang kaya, orang miskin, mereka semua mengaku sebagai pemeluk agama Kristen. Mereka berkata bahwa mereka adalah orang-orang yang beragama. Mereka menganggap bahwa agama yang mereka anut akan memberi mereka keselamatan dengan menyembah Nabi Isa as.

Kita harus sampaikan kepada mereka, “Yesus as (Nabi Isa as), adalah Nabi Allah yang benar, berdasarkan ajaran agama kami. Tugas yang diberikan kepadanya telah diselesaikan dengan baik oleh karena itu beliau as telah meninggalkan dunia ini (wafat). Pemilik Kekuatan yang sejati dan Tuhan Semesta alam ini adalah Allah Ta’ala yang Esa dan Yesus as pun menyembah kepada-Nya. Ibunda beliau, Hadhrat Maryam as juga menyembah Allah Yang Esa. Sesuai dengan nubuatan para nabi terdahulu, Hadhrat Muhammad Saw lah yang diutus oleh Allah Ta’ala dengan membawa agama dan syariat yang sempurna. Agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw inilah yang merupakan agama yang sempurna dan membawa keselamatan serta menjadikan manusia semakin dekat kepada Allah Ta’ala. Islam merupakan sarana bagi kehidupan dunia dan akhirat.”

Tetapi, hal tersebut tidak dapat diraih dengan hanya menyatakan secara lisan belaka, tanpa bertingkah laku sesuai dengan ajaran Islam. Kita harus mengatakan kepada mereka, “Inilah bukti bahwa Islam merupakan agama yang hidup. Dengan mengikuti Hadhrat Muhammad saw, Hadhrat Masih Mau’ud as pun datang diutus ke dunia ini. Beliau as menciptakan hubungan dengan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala Yang Maha Mendengar doa-doa kita dan mengabulkannya dimana sesuai dengan kehendak-Nya, Dia senantiasa menampakkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Oleh karena itu, guna memelihara dunia ini dari kekacauan adalah dengan menerima Hadhrat Masih Mau’ud as. Untuk menciptakan hubungan yang hidup dengan Allah Ta’ala, maka hal tersebut dapat diraih hanya dengan menjalin hubungan dengan Hadhrat Masih Mau’ud as.”

Tetapi, dapatkan kita menyampaikan perkara ini kepada orang lain dengan tanpa adanya keraguan? Ataukah kita harus berfikir terlebih dahulu, “Jika nanti ada seseorang meminta saya untuk menunjukkan pengabulan doa, apakah saya siap untuk menerima tantangan tersebut? Apakah saya memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala? Apakah di dalam hati saya terdapat rasa takut kepada Allah Ta’ala? Apakah saya telah berusaha menjalani kehidupan ini sesuai dengan perintah-perintah-Nya?”

Jika tidak, maka kalian belumlah memenuhi tanggung jawab kalian sebagai seorang Ahmadi dan kalian hendaknya menginstrospeksi diri, “Bagaimana mungkin saya bisa mengajak dunia kalau dalam diri saya saja tidak terjadi perubahan? Bagaimana mungkin saya memberitahu kepada dunia bahwa Masih yang ditunggu telah datang? Tidakkah orang-orang akan bertanya kepada saya, ‘Perubahan seperti apa yang dibawa oleh Hadhrat Masih Mau’ud ke dalam dirimu sehingga kamu mengajak saya untuk beriman kepadanya?’”

Orang-orang akan bertanya, “Apakah kelebihannya memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala sehingga kamu mengajak saya untuk memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala? Memang tercantum dalam Al-Quran bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan inilah sebabnya mengapa kalian diciptakan. Jadi, berapa kalikah kalian mengerjakan shalat berjamaah dalam sehari? Kalian telah membangun masjid yang begitu indah ini. Tetapi, keindahan sejati dari masjid ini bukanlah dari segi bangunannya saja tapi justru terletak di dalam orang-orang yang meramaikan masjid ini. Jadi, apakah kalian mengerjakan shalat wajib 5 waktu di masjid ini?

Apakah kalian telah memenuhi hak-hak makhluk Allah Ta’ala? Al-Quran menyatakan kalian adalah khaira ummah, yaitu umat yang terbaik yang pernah diciptakan bagi umat manusia, karena kalian mengajak kepada kebaikan dan juga mencegah keburukan. Apakah tujuan hidup kalian ini dapat dicapai hanya dengan mengajak dan menasehati orang-orang untuk berbuat kebaikan saja? Jika tidak, maka yang pertama yang harus kalian lakukan adalah memeriksa keadaan diri kalian masing-masing, apakah kalian telah melakukan apa yang yang kalian sampaikan kepada orang-orang itu?”

Orang-orang akan bertanya, “Kalian berkata mengenai berbuat baik kepada orang lain dan kaum kerabat, lalu apakah akhlak kalian telah sesuai dengan apa yang kalian sampaikan kepada orang-orang itu? Kalian berbicara tentang kejujuran dan memenuhi janji, lalu apakah kalian selalu berkata jujur dan senantiasa menepati janji-janji kalian? Kalian berbicara tentang pengorbanan dan kemanusiaan, tetapi apakah kalian telah mengamalkannya? Di satu sisi, kalian berkata bahwa Islam selalu mengajarkan untuk berfikir positif terhadap orang lain tetapi di sisi lain, apakah kalian telah mengamalkannya dalam kehidupan kalian sehari-hari? Kalian katakan Al-Quran selalu menekankan untuk senantiasa berkata benar. Tapi, bisa saja mereka menjawab bahwa kadang-kadang demi memperoleh keuntungan duniawi, mereka melihat kalian justru mengungkapkan suatu bentuk kedustaan. Setiap orang dapat berkata seperti itu mengenai akhlak dan perilaku kita. Kalian katakan bahwa Islam mengajarkan untuk menahan amarah dan saling memaafkan. Ini merupakan ajaran yang sangat luar biasa. Tapi pertanyaannya ialah, apakah kalian mengamalkannya dalam kehidupan kalian sehari-hari? Kalian mengatakan kepada saya tentang keindahan ajaran Islam dimana kalian berusaha menegakkan keadilan. Standar kalian harus sedemikian tingginya sehingga para penetang kalian sekalipun tidak dapat membuat kalian untuk berlaku tidak adil. Dalam hal memaafkan dan menciptakan keadilan, apakah kalian telah berusaha untuk mengamalkannya?

Semua perintah dan ajaran yang kalian sebutkan tadi yang didasarkan kepada Al-Quran merupakan ajaran yang sangat luar biasa dan memang kedengarannya sangat indah. Tetapi, apakah kalian sendiri mengamalkannya? Kalian memang telah mengatakan kepada umat Islam lainnya (non-Ahmadi), ‘Kalian telah menolak Hadhrat Masih Mau’ud as. Itulah sebabnya mengapa kalian saling membunuh satu sama lain. Kalian tidak mencerminkan “رحماء بينهم” ruhamaa-u baynahum, sikap saling menyayangi satu sama lain dan perilaku kalian sangat bertentangan dengan hal tersebut.’

Lalu, apakah akhlak dan perilaku kalian, yang notabene telah menerima Imam Mahdi dan Hadhrat Masih Mau’ud as, telah sesuai dengan apa yang kalian nyatakan bahwa akhlak kalian harus sesuai dengan perintah-perintah yang terdapat di dalam Al-Quran? Apakah tingkah laku kalian telah sesuai dengan apa yang kalian sampaikan kepada orang-orang? Jika semua itu tidak ada, lalu perubahan ruhani dan jasmani seperti apa yang kalian inginkan kami untuk mengikutinya? Kalian sama saja seperti kami! Apa perbedaan kalian dengan kami?”

Pendek kata, kita harus senantiasa ingat bahwa ketika seorang Ahmadi dimana saja ia berada dikenal sebagai seorang Ahmadi, maka tanggung jawabnya akan semakin bertambah. Dia tidak lagi menjadi seorang Ahmadi semata, tapi sebenarnya ia telah menjadi wakil dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Inilah sebabnya mengapa Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Jangan menghubungkan diri kalian denganku lalu kemudian kalian membuatku malu.” Jadi, apabila seorang Ahmadi menunjukkan akhlak yang kurang baik, maka hal tersebut bukan saja berpengaruh pada dirinya sendiri tapi juga berpengaruh kepada diri Hadhrat Masih Mau’ud as.

Ini merupakan pokok bahasan yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh setiap Ahmadi tanpa kecuali. Ketika kalian benar-benar memperhatikan perkara ini, setiap kalian akan menjadi duta-duta Ahmadiyah. Kalian akan menjadi wakil dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Kalian akan mengemban tugas tabligh dan kalian akan menjadi seseorang yang akan menolong dunia ini. Kalian akan menjadi orang-orang yang merupakan pewaris dari karunia-karunia Allah Ta’ala. Oleh karena itu, untuk meraih karunia itu, untuk meraih semua itu, kalian harus berupaya sekuat tenaga kalian untuk menunaikan shalat 5 waktu secara berjamaah setiap harinya dengan sebaik-baiknya. Kalian pun harus berusaha untuk memenuhi hak-hak masjid. Bersamaan dengan shalat-shalat wajib, kalian juga hendaknya mendirikan shalat sunah dan nafal guna menciptakan hubungan dengan Allah Ta’ala. Oleh karena itu, untuk memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan juga umat manusia, setiap Ahmadi baik laki-laki maupun perempuan harus mengetahui tanggung jawabnya masing-masing.

Dengan sangat antusias, kita sampaikan kepada orang-orang di sekitar masjid ini bahwa kita telah menamai masjid ini dengan nama ‘Masjid Maryam’ karena orang-orang di sini sangat mengagumi Hadhrat Maryam ra. Kita sampaikan juga bahwa Hadhrat Maryam ra juga sangat dekat dengan kita karena beliau adalah ibunda dari Nabi Isa as. Beliau bukan hanya ibunda Nabi Isa as, bahkan Allah Ta’ala sendiri telah menyebutkan ketinggian akhlak, budi pekerti, ketaqwaan yang dimiliki oleh Hadhrat Maryam ra dan Allah Ta’ala pun memerintahkan kepada umat Islam agar meniru standar akhlak dari Hadhrat Maryam ra tersebut. Hadhrat Maryam ra senantiasa menjaga kesucian dan kehormatan beliau. Beliau ra melakukannya sebagai akibat dari rasa takut yang dimilikinya kepada Allah Ta’ala sehingga beliau berperilaku sesuai dengan perintah Allah Ta’ala. Beliau ra adalah seseorang yang bertaqwa dan benar. Oleh karena itu, setiap Muslim sejati, baik itu laki-laki maupun perempuan harus meniru dan mengamalkan sifat-sifat seorang mu’min tersebut sebagaimana yang dimiliki oleh Hadhrat Maryam ra.

Pada kesempatan ini, saya ingin sampaikan kepada para wanita Ahmadi bahwa jika orang-orang di sini (Irlandia) mengagumi Hadhrat Maryam ra tetapi tidak mencontoh sifat-sifat yang dimilikinya, maka ini merupakan kekurangan mereka. Setiap mu’min sejati baik laki-laki maupun perempuan hendaknya harus seperti Hadhrat Maryam ra dalam hal ketakwaan dan ketaatan kepada perintah Allah Ta’ala dan berusaha untuk berperilaku sesuai dengan perintah Allah Ta’ala. Diantara perintah-perintah Allah Ta’ala tersebut adalah khususnya mengenai kesopanan dan pardah. Allah Ta’ala telah menyebutkan hal tersebut dalam Al-Quran Karim. Jadi, sejalan dengan ibadah kepada Allah Ta’ala, kalian juga harus memperhatikan dan menjaga cara berpakaian kalian. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap Ahmadi untuk bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik untuk menjadi seorang mu’min yang sejati. Di tengah godaan-godaan dunia yang semakin merajalela ini, semoga Allah Ta’ala pun menganugerahkan kemampuan kepada kita agar dapat memenuhi hak-hak satu sama lain.

Di satu tempat, Hadhrat Masih Mau’ud as menasehati kita dimana beliau as bersabda, “Aku katakan sejujurnya bahwa masa ini merupakan masa yang diciptakan oleh Allah Ta’ala untuk orang-orang yang beruntung.”

Dalam kesempatan lain berkenaan dengan kedatangan beliau as, beliau as bersabda, “Beberkatlah orang yang mengambil manfaat dari perkara ini. Kalian yang telah menciptakan hubungan denganku, hendaknya tidak boleh berbangga diri hanya karena kalian telah memperoleh apa yang yang semestinya kalian peroleh. Memang benar, jika dibandingkan dengan para penentang, kalian lebih diberkati dan dikaruniai oleh Allah Ta’ala. Hal ini dikarenakan penolakan dan penentangan yang mereka lakukan yang menyebabkan kemurkaan Allah kepada mereka.

Memang benar juga, dengan menerima Masih Mau’ud, kalian selamat dari murka Allah Ta’ala. Tapi, yang sebenarnya adalah kalian harus senantiasa dekat dengan sumber mata air ini yang Allah Ta’ala telah sediakan untuk zaman ini guna mendapatkan kehidupan yang hakiki. Namun apakah kalian belum meminum dari sumber mata air itu. Oleh karena itu, mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala agar kita senantiasa dapat menjalin hubungan dengan sumber mata air ini karena tanpa adanya pertolongan Allah Ta’ala, tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat yakin bahwa siapapun yang meminum air dari sumber mata air ini, ia tidak akan binasa karena mata air ini adalah mata air pemberi kehidupan dan akan melindunginya dari kehancuran dan akan melindunginya dari godaan-godaan setan. Lalu, bagaimana caranya untuk menjalin hubungan dengan sumber mata air tersebut? Yaitu kalian benar-benar tunduk dan patuh kepada setiap perintah Allah Ta’ala dan berusaha memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan juga hak-hak sesama makhluk lainnya.”[5]

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita agar kita dapat memenuhi hak-hak tersebut. Semoga kita dapat mengambil manfaat dari sumber mata air tersebut sehingga kita menjadi orang yang dapat memberikan manfaat kepada dunia ini.

Ada beberapa rincian informasi terkait dengan masjid ini yang pada umumnya orang-orang ingin mengetahuinya. Saya meletakkan batu pertama pembangunan masjid ini pada bulan September 2010. Masjid ini terletak di area seluas kira-kira 2400 meter persegi, sekitar 3/4 acre. Luas masjid ini adalah 217 m2 (meter persegi). Area masjid ini dibeli pada tahun 2009 seharga 515.000 Euro dan di dalamnya ada sebuah rumah yang telah berdiri di sana. Pembangunan masjid menelan biaya sejumlah 110.000 euro. Di ruang utama masjid dan ruang-ruang lain sekitarnya dapat menampung sekitar 200 orang. Terdapat juga 2 kantor. Seperti telah saya katakan, sudah ada sebuah rumah yang terdiri dari 3 ruangan dan ada juga dapurnya. Area parkir dapat menampung 17 buah mobil.

Lokasi masjid ini sangatlah bagus. Di dekat masjid, ada sebuah landasan pacuan kuda (tempat perlombaan berkuda) dan masjid dapat terlihat dengan sangat jelas dari sana. Ada pameran festival juga disana dimana orang-orang terkenal pun berdatangan untuk melihat balap kuda. Masjid kita nampak sangat indah dari sana. Sekitar 40.000 orang datang menghadiri festival tersebut.

Dengan begitu, tabligh dalam memperkenalkan masjid ini pun akan semakin bertambah luas karena orang-orang dari luar pun akan banyak yang berdatangan. Lingkungan sekitar masjid ini merupakan area yang cukup padat penduduk. Setiap harinya ratusan orang melewati masjid ini. Terdapat juga sarana akomodasi bagi para pelajar dan Galway Airport dapat ditempuh hanya dengan 10 menit perjalanan saja.

Semoga Allah Ta’ala memberkati seluruh komplek masjid ini dalam setiap aspeknya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada orang-orang di sini untuk dapat memenuhi hak-hak masjid. Aamiin. (By: Mln. Irfan HR, Pulau Nias-Sumut

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] As-Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Hisyam, h. 396, perkara as-Sayyid dan al-Aqib (dua pimpinan delegasi Kristen Najran), kisah mengenai Mubahalah, doa mereka menghadap ke timur, Darul Kutubil Ilmiyyah, Beirut, 2001.

[3] Malfuzhat, jilid haftam, halaman 119, edisi 1985, terbitan Inglistan

[4] Maktuubaat Ahmad, jilid dom, h. 534, surat nomor 120, surat kepada Hadhrat Munsyi Rustam Ali shahib, Nazharat Isyaat Rabwah.

[5] Malfuzhat, jilid 3, halaman 184-185, edisi 1985, terbitan Inglistan