Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

12 Mei 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ ()

Hai orang orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah, 2:154)

Manusia menghadapi banyak kesulitan di masa hidupnya. Ada banyak kesukaran dan penderitaan di dunia yang dialami manusia termasuk hilangnya kekayaan, anak- anak, maupun bekal perlengkapan duniawi. Tidak ada pilihan kecuali menunjukkan kesabaran dan ketahanan. Banyak orang duniawi meratap dan menangis serta menyatakan kata-kata keingkaran dan keluhan terhadap Allah Ta’ala atas kerugian-kerugian yang mereka hadapi. Beberapa dari mereka yang sama sekali tidak kuat, terkadang kehilangan pikiran.

Namun, ada juga hamba-hamba Allah yang menghadapi kekurangan harta, kehilangan jiwa dan menanggung kesakitan hati dan raga karena mereka menyambut seruan Tuhan mereka sehingga mengimani utusan-Nya. Hal itu artinya mereka menanggung kehilangan harta atau jiwa demi meraih wajh (ridha) Allah Ta’ala. Namun, meski dengan ini semua, mereka melewati kesengsaraan-kesengsaraan yang demikian tanpa satu pun kata keluhan.

Tapi, mereka berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengucapkan: “Ya Tuhan kami, ketika semua ini dibebankan kepada kami karena kami telah mengimani utusan Engkau, maka tingkatkanlah kesabaran kami, dan semoga Engkau sendirilah yang menolong dan melindungi kami dari penindasan orang-orang zalim ini. Karuniakanlah kami keteguhan untuk cobaan yang kami lalui ini demi Engkau”.

Orang-orang lain di dunia membaca atau mendengar sejarah para Nabi Allah. Orang-orang Muslim lainnya pun membaca dalam Al-Qur’an dan mendengarkan tentang kisah-kisah para Nabi dan para pengikut mereka. Dari para ulama mereka, mereka baca atau dengar bagaimana peristiwa-peristiwa dan ketertindasan yang dialami oleh para Muslim awal. Namun, para Muslim Ahmadi – disebabkan secara amal perbuatan mengimani Al-Masih Muhammadi, yang merupakan abdi sejati Nabi Muhammad saw, yang merupakan orang yang dipilih Allah Ta’ala bagi menghidupkan lagi Islam di zaman ini – mereka (Muslim Ahmadi) mengalami sendiri fase ini yaitu suatu fase yang bagi orang-orang lain dipandang peristiwa-peristiwa dan kisah-kisah masa lalu perihal ketertindasan berlatar belakang agama.

Meskipun kelompok-kelompok dan aliran-aliran lain juga mengklaim menderita penganiayaan karena agama, namun jika ada kesempatan, semua orang ini, komunitas atau kelompok-kelompok ini membalas dendam dengan cara penindasan sama yang dulu pernah dikenakan pada mereka.

Sebaliknya, para Ahmadi yang tidak pernah menentang hukum, bahkan menunjukkan karakteristik sejati orang yang beriman kepada Allah, meminta pertolongan kepada-Nya, bersabar dalam menghadapi kekejaman dan penindasan dengan bersujud di hadapan Allah Ta’ala mencari pertolongan-Nya. Dengan demikian, inilah perbedaan besar antara Muslim Ahmadi dengan orang-orang lain di dunia.

Kita ialah kaum yang demikian dan seharusnya demikian karena kita telah mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as, yaitu tidak pernah meninggalkan kesabaran ketika dihadapkan dengan fitnah orang-orang duniawi dan permusuhan para penentang kita. Kita juga tidak bergeser dari keimanan kita akibat tekanan ini. Kita harus demikian.

Kita adalah orang-orang yang betul-betul berpemahaman Allah Ta’ala-lah Satu-Satunya Yang mempunyai obat penyembuh yang meringankan kesakitan kita. Selama berlangsungnya kesulitan, kita tidak tunduk di hadapan orang-orang duniawi, namun bersujud di hadapan Allah, Pemilik segala kekuatan. Kepada-Nya-lah kita mencari pertolongan. Dia, Juru Selamat kita dan Yang dengan seizin-Nya akan menganugerahi kita keselamatan dari kesengsaraan dan kesulitan dikarenakan kesabaran dan doa-doa kita. Insya Allah.

Sesungguhnya, Dia tidak akan menolak orang-orang yang dengan ikhlas kembali kepada-Nya sehingga mereka hampa tangan selamanya. Dia memberikan pahala bagi mereka yang mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan demi meraih ridha-Nya dan demi tetap berdiri Jemaat-Nya. Kita mengamalkan wasiat Hadhrat RasuluLlah saw dengan memahami sepenuhnya makna sabda beliau saw: عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.  “Sungguh menakjubkan perkaranya orang yang beriman, karena segala urusannya adalah baik baginya. Dan hal yang demikian itu tidak akan terdapat kecuali hanya pada orang mukmin; yaitu jika ia mendapatkan kebahagiaan, ia bersyukur (yaitu ia memuji Allah atas hal itu dan bersujud kepada-Nya), karena seolah-olah hal tersebut merupakan yang terbaik untuknya. Dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, karena (ia mengetahui) hal tersebut sarana kebaikan bagi dirinya.”

Kesabaran seorang hamba dan doa-doanya kala menderita kesengsaraan parah dan kesakitan pedih di jalan Allah menjadi sarana kebaikan baginya. Allah Ta’ala, Sang Pemberi limpahan anugerah kepada para hamba-Nya tidak akan meninggalkan seorang beriman dengan tangan kosong bahkan ketika ia dihadapkan dengan kesakitan cobaan yang sekecil apapun. Karena itu, ketika menyebutkan hal ini di salah satu kesempatan, Rasulullah saw bersabda, مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا “Tidaklah suatu musibah (penyakit, kesedihan, kesengsaraan dan lain sebagainya) yang menimpa seorang Muslim bahkan duri yang melukainya sekalipun melainkan Allah akan memaafkan sebagian kesalahannya.”

Inilah Tuhan kita yang Maha Penyayang dan Maha Mulia yang tidak meninggalkan orang beriman tanpa ganjaran sampai-sampai termasuk pengorbanan sekecil apa pun. Orang beriman yang sabar dan bertobat kepada Allah maka Dia akan memberinya kabar suka demi kabar suka.

Selanjutnya, Nabi saw bersabda di lain kesempatan menjelaskan pentingnya kesabaran dan doa serta pahala yang Allah Ta’ala berikan atas itu, مَا مِنْ قَطْرَتَيْنِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَةٍ فِي سَبِيلِهِ , أَوْ مِنْ قَطْرَةِ دُمُوعٍ قَطَرَتْ مِنْ عَيْنِ رَجُلٍ قَائِمٍ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ “Ada dua tetesan yang lebih Allah cintai dibanding tetesan lainnya, tetesan darah yang tumpah di jalan-Nya atau tetesan air mata seseorang yang beribadah nafal di waktu malam hari karena takut akan Allah.”

وَمَا مِنْ جُرْعَتَيْنِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ جُرْعَةٍ مُحْزِنَةٍ مُوجِعَةٍ رَدَّهَا صَاحِبُهَا بِحُسْنِ صَبْرٍ وَعَزَاءٍ , أَوْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَ عَلَيْهَا “ “Ada dua tegukan yang lebih Allah cintai, yaitu tegukan menelan kesedihan dengan kesabaran. Artinya, seseorang bersabar pada saat mengalami kesulitan dan dalam rasa duka dan ia bersabar demi Allah Ta’ala semata maka Allah Ta’ala amat menyukai kesabaran yang demikian. Kedua, tegukan menelan kemarahan sebagai bekas (dampak) menahan amarah. Bukan tegukan kemarahan melainkan tegukan menekan kemarahan-lah yang Allah Ta’ala sukai.” Ada banyak peristiwa yang mana seseorang menahan amarahnya, bersabar dan demi ridha Allah Ta’ala semata ia bersabar yang membuatnya menjadi orang yang meraih ridha-Nya.

Dengan demikian, apakah seseorang disakiti karena perkara pribadi atau karena ia merupakan bagian dari Jemaat, maka Rasulullah saw telah menggariskan prinsip bagi yang menginginkan mendapatkan ridha Allah Ta’ala, – yaitu bersujud di hadapan Allah dan bersabar yang membawa seseorang lebih dekat kepada-Nya. Dalam sebuah riwayat lain dikatakan Allah Ta’ala menyimpan ghirah (penghormatan) besar bagi para hamba-Nya yang dekat dengan-Nya dan mencengkram para musuh mereka yang menyakiti mereka dan merugikan mereka.

Keputusan yang Allah ambil dengan tangan-Nya saat diperlukan karena orang tersebut berpegang teguh pada tangan-Nya. Bukan hal terbatas pada Allah Ta’ala untuk membalaskan para musuh orang-orang yang bertobat kepada-Nya dan bersabar saja, bahkan Nabi saw bersabda di kesempatan lain bahwa jika seseorang dizalimi kemudian ia bersabar atas penzaliman tersebut maka Allah Ta’ala akan memuliakannya. Orang yang memperoleh kemuliaan dari Allah, baginya tidak ada kehormatan yang lebih dari itu.

Karena itu, dalam kondisi-kondisi sulit, penuh tekanan dan permusuhan yang dihadapi oleh para anggota Jemaat di berbagai negara di dunia pada hari-hari ini, membuat kita harus menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala seiring mencari pertolongan-Nya dengan sabar dan doa. Adalah Dia, yang paling mampu merenggut para pemimpin orang-orang ingkar dan menjaga kita dari mereka; dari rencana-rencana dan rancangan-rancangan jahat mereka.

Dalam sejarah Jemaat, kita telah terus-menerus menemukan aspek ini yaitu meskipun pihak-pihak yang memusuhi memiliki semua kekuatan dan sumber daya, mereka tidak berhasil dan menghadapi kegagalan – dan Jemaat terus maju dan berkembang.

Ketika Hadhrat Rasulullah saw dan para Sahabatnya dikaruniai keberhasilan setelah harus menghadapi periode kesengsaraan, kesulitan dan tekanan, lantas memangnya kita siapa yang mengira dan berharap bisa berhasil tanpa menghadapi kesengsaraan dan kesulitan?

Berkaitan dengan periode kesengsaraan yang dihadapi oleh Rasulullah saw, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar. Bahkan, bukan pekerjaan yang mudah untuk menyebutkan kesengsaraan yang harus diderita Rasulullah saw selama periode ini. Pada satu segi, setiap upaya dibuat oleh orang-orang untuk menyebabkan tekanan dan memberikan kesakitan terhadap beliau saw. Pada waktu yang sama, Allah Ta’ala memerintahkan beliau saw berulang-ulang untuk menjalaninya dengan sabar dan tabah. (artinya, kaum beliau terus membuat penindasan dan kesakitan terhadap beliau saw dan Allah Ta’ala berulang kali menyuruh beliau berpegang teguh pada jalan-jalan kesabaran). Suatu kali Dia berfirman: فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ ‘fashbir kama shabara ulul ‘azmi’ – ‘Bersabarlah sebagaimana para ulum azmi bersabar.’

Dengan demikian, Rasulullah saw menanggung semua penderitaan ini dengan puncak kesabaran dan tidak menjadi lalai dalam kaitannya dengan Tabligh malahan beliau selalu maju dengan lebih jauh. Hal yang sebenarnya, kesabaran beliau saw tidak seperti kesabaran para Nabi terdahulu karena mereka telah diutus untuk kaum tertentu saja dan kesakitan mereka pun terbatas atas umat itu saja. Sementara itu, Hadhrat RasuluLlah saw mempunyai kesabaran yang bandingannya sangat agung. Sejak awal kaum beliau menyusahkan beliau, kerabat beliau juga menyakiti beliau dan orang-orang Nashrani juga memusuhi beliau.”

Singkatnya, ketika kita telah berbaiat kepada orang yang diutus demi kebangkitan kedua kali Islam dalam sifat beliau as sebagai ghulam shadiq (pelayan sejati) Hadhrat Rasulullah saw, untuk membuktikan bahwa lebih unggul dari semua agama dan demi menjadikan orang-orang Muslim sebagai umat nan satu dengan menghimpun mereka dalam satu tangan (satu kepemimpinan) dengan menghapuskan perpecahan mereka maka dalam rangka itu kita terpaksa harus menghadapi penentangan dari orang-orang kita sendiri (umat Muslim) dan juga dari kaum non Muslim.

Saat ini, para non Muslim di kebanyakan negara di dunia tidak menentang seperti penentangan yang harus dihadapi oleh umat Mulim pada periode awal Islam. Namun, penentangan mereka ini dilakukan dengan ilmu kebijaksanaan dan perenungan. Mereka melakukan penyerangan terhadap Islam lewat sarana-sarana yang menguatkan diri mereka sendiri dengan berkata, “Lihatlah! Kami tidak melakukan sesuatu kekejaman.” Padahal keadaan mereka ialah dalam penentangan. Maka, kita harus membela Islam seperti  cara-cara mereka itu sendiri. Oleh karena itu, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Senjata yang digunakan para penentang Islam terhadap kita, harus pula kita pakai sarana-sarana yang mereka gunakan tersebut yaitu publikasi literatur (buku-buku dan tulisan-tulisan) dan Tabligh.”

Ketika Islam mulai menyebar di negara-negara non Muslim maka negara-negara non Muslim juga akan menentang Jemaat. Itu mereka lakukan ketika sadar orang-orang dari negara mereka banyak yang menerima Islam. Malahan, di beberapa tempat, telah terjadi peristiwa-peristiwa sebagai berikut: pada awalnya beberapa gereja terbuka hati menawari kita tempat-tempat mereka untuk mengadakan acara-acara kita. Namun, ketika mereka mengetahui kecenderungan orang-orang meningkat dengan cara ini, penentangan pun dimulai dan mereka menolak untuk menawarkan kita tempat mereka.

Mereka telah mengetahui bahwa Islam sejati yang diterbitkan oleh komunitas Muslim Ahmadiyah dan menyeru untuk itu akan mencapai hari kemenangan pada suatu hari. Telah ditakdirkan bahwa publikasi Islam yang benar ini secara eksklusif ialah oleh komunitas Muslim Ahmadiyah. Tapi, banyak orang Muslim dan para tokoh mereka di era saat ini aktif dalam penentangan di mana-mana karena takut kehilangan mimbar mereka. Mereka melakukan penekanan dalam cara yang musuh-musuh agama di masa lalu melakukannya.

Para politisi juga membebek kepada mereka demi ketamakan akan suara pemilih, keterkenalan dan takut berbaliknya suara mereka yang mengikuti para Ulama. Jika seseorang secara pribadi tidak memahami abjad (hal-hal besar dan hal-hal kecil) agama, dan mungkin sebagian dari mereka tidak shalat atau jarang juga menghadiri Jumat, dan puas hanya dengan shalat Idul Fitri saja. Tapi mereka menyerang para Ahmadi dengan mengatasnamakan kehormatan Islam atau mengusahakan di parlemen untuk membuat undang-undang anti terhadap Ahmadiyah.

Di Azad Kashmir, Parlemen mengikuti gaya Pakistan, rancangan resolusi telah disampaikan hari-hari ini – dari pihak para politisi yang terkena pengaruh ulama dan politisi Pakistan – untuk mengeluarkan keputusan Ahmadiyah non-Muslim. Saya katakan: biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Tetapi pertanyaan yang harus ada di sini adalah: Apakah Anda akan berhenti memajukan Jemaat setelah pengumuman parlemen Pakistan yang menyebutkan bahwa Ahmadiyah itu non-Muslim? Tidak sama sekali! Bahkan, Jemaat, dengan karunia Allah, masih dan terus membuat kemajuan demi kemajuan dengan terus-menerus. Para anggota Jemaat harus ingat bahwa tugas setiap mereka untuk dawam berdoa bagi turunnya pertolongan Allah, kembali kepada-Nya, memelihara shalat-shalat dan ibadah, dan ini adalah apa yang membuat mereka menerima karunia-karunia yang lebih banyak dari Allah.

Kemudian di Aljazair, Jemaat menghadapi penentangan juga sebagaimana saya sebutkan dalam beberapa khotbah terakhir. Sejumlah Ahmadi dipenjarakan karena menjadi Ahmadiyah dan keputusan hukum pemerintah memutuskan melawan mereka dengan penjara dari satu tahun sampai tiga tahun. Deklarasi dikeluarkan bahwa puluhan Ahmadi dihukum meski mereka tidak dikirim ke penjara dan bisa ditangkap setiap saat dan dipenjarakan. Berbagai pembatasan yang diberlakukan [oleh pemerintah] bertujuan agar Jemaat terhalang untuk maju di sana yang mana itu sulit bagi para Ulama untuk melakukannya, mereka tidak mampu.

Demikian pula, penentangan terus terjadi di Bangladesh, Indonesia dan di negara-negara Arab. Belum lama ini, seorang Mubaligh Jemaat di Bangladesh, tepatnya di Sohaghi, sebuah daerah kecil di wilayah Maimon Singh, masjid kita diserang oleh sekelompok ulama dan Mubaligh kita yaitu Tn. Mustafizur Rahman diserang dengan pisau-pisau dan belati-belati. Beliau terluka parah sampai-sampai semua tubuh beliau terluka dan parah sekali.

Orang-orang melaporkan beliau menderita tusukan-tusukan sampai-sampai perut beliau ditusuk sampai ginjalnya keluar. Bagian leher beliau pun ditikam tapi tidak sampai memutuskan pembuluh darah. Namun, orang-orang yang melihat mengatakan darah keluar dari tubuh beliau seperti air yang memancar deras. Singkat kata, polisi datang ke tempat kejadian menyelamatkan beliau sehingga bisa cepat dibawa ke rumah sakit. Para anggota Jemaat dan anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyah sampai ke tempat itu untuk menyumbangkan darah. Dengan karunia Allah, beliau mendapat ambulans cepat dan sampai ke rumah sakit tepat pada waktu para dokter telah siap mengadakan operasi. Beliau dioperasi dalam beberapa jam. Ringkasnya, menurut laporan, sekarang beliau sudah mulai stable (membaik) meskipun masih dalam keadaan kritis.

Dalam keadaan seperti itu beliau tidak bisa berbicara maka beliau meminta pena dan kertas lalu menuliskan beberapa kalimat: “Tolong kalian atur penjagaan terhadap Mubaligh yang lain karena mereka dalam kondisi berbahaya juga.” Dalam keadaan seperti itu sekalipun beliau masih bisa menunjukkan keagungannya sebagai seorang beriman yang mencemaskan lainnya. Beliau juga mengkhawatirkan orang tuanya. Semoga Allah Ta’ala mengaruniainya kesehatan, umur yang panjang dan hidup yang damai. Juga memberikannya kesembuhan yang segera dan paripurna.

Alhasil, Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengabarkan pada masa dahulu mengenai penentangan ini, “Jika kalian menerima Ahmadiyah, pasti kalian akan menghadapi kesulitan-kesulitan.” Beliau bersabda khusus perihal ini:

“Jemaat kita juga menghadapi kesulitan-kesulitan yang ditanggung oleh orang-orang Islam di zaman Nabi Muhammad saw. Musibah pertama ialah tiap kali seseorang masuk ke Jemaat maka kawan-kawan dan kerabat-kerabatnya segera menghinanya, orangtuanya memusuhinya kadang-kadang.

Begitu juga saudara dan saudarinya. Sampai-sampai mereka tidak menyampaikan salam kepadanya dan tidak menyalatkan jenazahnya. Ada banyak musibah dalam hal ini yang ditanggung mereka yang masuk Jemaat. Saya tahu mereka yang bertabiat lemah merasa cemas dengan kesulitan-kesulitan ini. Namun, mereka harus ingat bahwa kesulitan-kesulitan itu juga diperlukan. Kalian tidaklah lebih baik dibanding para Nabi dan para Rasul. Mereka memecahkan kesulitan-kesulitan dan musibah-musibah ini demi memajukan keimanan seseorang kepada Allah dan menjadikan perubahan suci dalam jiwa-jiwa.

Kalian harus tetap sibuk dalam memohon kepada Allah dan berdoa. Suatu keharusan bagi kalian untuk mengikuti keteladanan para Nabi dan para Rasul dan mengikuti jalan kesabaran. Janganlah ada kelemahan kalian dalam hal itu. Kawan kalian yang menghina kalian karena kalian menerima kebenaran bukanlah kawan yang patut dibenarkan. (Janganlan cemas akan pemboikotannya sebab ia bukan sahabat sejatimu). Jika tidak demikian, seharusnya ia bersamamu. Janganlah bertengkar dengan mereka yang mengejekmu karena kamu bergabung dengan Jemaat yang Allah Ta’ala dirikan. Melainkan, secara diam-diam berdoalah bagi mereka yang memusuhi, semoga Allah Ta’ala membimbing mereka dengan bashirah (mata batin memahami kebenaran) dan mengaruniai mereka karunia. (Inilah cara kita, yaitu mendoakan mereka yang memusuhi tanpa sepengetahuannya). Harumkanlah dengan keteladanan sucimu dan jalan-jalan kebajikanmu dengan berjalan di jalan lurus.” (Artinya, penerimaan kalian dalam Ahmadiyah membuat kalian tidak melakukan maksiat dan dalam kekotoran melainkan mengambil jalan kebaikan)

Ini adalah tanggapan yang harus kita tunjukkan setelah serangan ini, tidak ada keraguan bahwa kita mematuhi hukum, namun, bersamaan itu, kita berdoa bagi perbaikan mereka juga. Tapi, kita juga meminta naungan hukum untuk menghukum orang-orang yang jahat dan akan mengetuk pintu hukum, insya Allah, karena itu adalah perintah Allah, tapi jangan kosong dari kesabaran. Jangan menyerah dengan meninggalkan itu. Kita menyungkurkan diri bersujud di hadapan Allah dalam setiap bencana, dan di depan-Nyalah kita akan senantiasa tunduk. Insya Allah.

Namun, terkadang saya menerima keluhan-keluhan tentang beberapa orang yang tidak mampu menanggung hal-hal seperti ini [kesabaran]. Mereka tinggal di sini (di Barat) dan memiliki kesempatan-kesempatan untuk bertabligh. Namun ketika mereka sedang melakukan Tabligh secara pribadi atau lewat media sosial dengan para Maulvi dan orang lain, atau ketika mereka terkadang berdebat dengan orang-orang tersebut, mereka menggunakan Bahasa dan kata-kata yang kasar, yang tidak mencerminkan kepatutan seorang Ahmadi. Beberapa orang menuliskan laporan kepada saya bahwa mereka terganggu dengan penggunaan bahasa yang kasar dan kotor demikian yang diucapkan (dituliskan) beberapa Ahmadi ini kepada para penentang mereka, atau Maulvi-Maulvi Non Ahmadi, atau lawan debat.

Kata-kata tidak pantas seperti itu tidak patut keluar dari seorang Ahmadi mana pun. Allah Ta’ala yang lebih tahu kebenaran perkataan tersebut. Hal ini saya sendiri tidak melihatnya, tapi ada orang-orang yang melaporkan kepada saya bahwa dalam perdebatan tersebut kata-kata orang non Ahmadi malah lebih lembut dan santun dibanding perkataan orang Ahmadinya. Jika hal ini benar maka saya katakan kepada Ahmadi yang seperti ini, lebih baik mereka tidak usah bertabligh karena hal semacam ini bukannya dapat mendekatkan mereka kepada Allah malahan bisa mengundang murka Allah.

Sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Nabi Muhammad saw,  “Allah Ta’ala menyintai orang sabar dan menahan bekas kemarahan.” Kita adalah orang yang telah mendakwakan akan mencampakan jauh-jauh kemarahan. Kita adalah orang-orang yang menyatakan seseorang tidak akan marah-marah kecuali ia yang tidak punya dalil. Jika kita punya dalil maka tidak pantas kita untuk marah.

Kita harus selalu ingat sabda Hadhrat Masih Mau’ud as berikut ini: “Saya telah ditugaskan untuk menasihati kalian berulang kali bahwa kalian harus menjauhi apapun kesempatan yang merusak dan berlaku buruk. Bersabarlah, bahkan jika dilontarkan bahasa yang kasar atas kalian.

Responlah keburukan dengan kebaikan dan jika siapapun akan ikut serta dalam kekacauan, lebih baik kalian diam-diam pergi dari tempat itu dan jawablah dengan kebaikan hati. Banyak terjadi seseorang memusuhi saya dengan semangat luar biasa, ia melakukan kerusakan dan permusuhan. Hal ini menularkan kemarahan dan kejengkelan orang-orang. Namun saat ia menerima jawaban santun lagi lembut dan tidak menanggapi cacian dengan cacian maka ia pun malu dengan kelakuannya sendiri.

Dengan benar dan tulus saya katakan kepada kalian agar janganlah meninggalkan kesabaran dan berbalik arah. Kesabaran ialah sauatu senjata yang dapat menyelesaikan apa-apa yang tidak dapat diselesaikan oleh para pengawal bersenjata. Kesabaran ialah yang membuka hati-hati manusia. Saya sangat sedih apabila mendengar ada Ahmadi yang berkelahi (bertengkar) dengan orang lain. Saya tidak menyukai perilaku itu. Sebagaimana Allah Ta’ala juga tidak menyukainya bahwa Jemaat yang telah Dia tentukan sebagai standar teladan bagi umat manusia berperilaku di jalan yang bukan merupakan jalan ketakwaan. Bahkan, saya katakan, Allah Ta’ala telah menegaskan berulang kali hal ini sangat banyak bahwa seseorang di dalam Jemaat ini yang tidak bisa bersabar, santun dan lapang dada maka ia terhitung bukan termasuk Jemaat ini.

Sesungguhnya hal terbesar yang muncul dalam ingatan kalian ialah kata-kata paling kotor mereka yang menentang saya. Jika para penentang menghina saya maka kalian bersabar dan serahkanlah kepada Tuhan. Kalian tidak boleh main hakim sendiri, melainkan serahkanlah perkara itu pada Tuhan. Bersabarlah ketika mendengar hal-hal itu. Kalian tidak mengetahui, betapa cacian yang dialamatkan kepada saya telah saya dengar. Banyak surat datang kepada saya penuh dengan cacian. Penulisnya memaki saya sepuas hati. Saya menerima surat-surat yang tidak membayar biaya pos maka saya-lah yang membayarnya. Ketika saya buka surat itu, tidak ada selain berisi cacian kasar sampai-sampai cacian seperti itu tidak pernah dialamatkan kepada para Nabi sebelumnya. Bahkan Abu Jahal sekalipun tidak pernah mencaci seperti cacian orang-orang ini kepada saya.

Namun, saya menanggung semua itu. Selama itu saya juga bersabar maka bersabarlah kalian. Sebuah cabang tidak lebih dari akar. Pada akhirnya mereka akan lelah dan berhenti. Tidak mungkin cacian mereka, makar mereka dan kejahatan mereka tidak akan mengalahkan saya selamanya. Jika saya bukan berasal dari Allah, saya akan takut dengan caci-maki mereka. Namun, saya tahu dengan yakin bahwa Allah Ta’ala mengutus saya. Lalu, mengapa saya harus risau dengan hal-hal bodoh seperti ini. Ini tidak mungkin.

Pikirkanlah! Kepada siapa caci-maki mereka mendatangkan kerugian? Kepada saya ataukah mereka? Golongan mereka berkurang dan jumlah Jemaat saya bertambah. Jika usaha caci-maki mereka dapat menghambat jalan saya maka dari mana datang Jemaat ini yang jumlahnya menjadi dua ratus ribu. (Jumlah menurut zaman beliau as. Jemaat sekarang ada di 209 negara di dunia meski seiring itu mendapat caci-maki, dengan karunia Allah) Apakah orang-orang itu datang dari mereka atau dari tempat lain?

Fatwa pengkafiran telah mereka terbitkan terhadap saya. Namun, apakah pengaruhnya pengkafiran dari mereka itu? Jumlah Jemaat saya bertambah. Jika saya sendiri yang merancang semua hal ini maka pasti fatwa mereka akan langsung berpengaruh. Dan jalan saya akan terhambat dengan hebat. Apa pun yang berasal dari Allah, manusia takkan sanggup menolaknya.

Rencana yang mereka rancang menentang saya tidak akan diusahakan oleh orang-orang bijak kecuali mereka akan menyesali kegagalan diatasnya. Dengan jelas saya katakan bahwa mereka yang memusuhi saya ibarat orang yang meletakkan tangan mereka di lautan luas dan menggerakkannya sekuat tenaga. Ia ingin menghentikan aliran lautan dengan tangan mereka. Namun, hasilnya jelas, lautan itu takkan berhenti mengalir. (Para penentang ingin menghambat kemajuan Jemaat melalui caci-maki mereka tapi Jemaat takkan berhenti untuk maju)

Apakah orang-orang mulia akan cenderung melakukan caci-maki? Saya sayangkan atas orang-orang Muslim dan bertanya, ‘Jenis orang Islam apakah itu yang keluar dari lidahnya kata-kata kotor dan kasar?’ Saya katakan, sumpah demi Allah, saya belum pernah mendengar cacian kotor bahkan dari orang tingkat terendah di masyarakat, suatu cacian yang saya dengar dari mereka yang menyatakan diri Muslim. Kita berdoa semoga Allah membuka mata mereka dan merahmati mereka.”

Oleh sebab itu, kita harus selalu ingat, jika memang benar dikarenakan gangguan, para Ahmadi menjawab menggunakan kata-kata kasar, maka hal ini adalah salah. Oleh sebab itu, kita harus selalu ingat, jika benar beberapa Ahmadi menanggapi penentang di media sosial secara kasar dan tidak tepat maka mereka sudah melakukan kesalahan dengan sikap itu.  Mereka dengan melakukan cara mereka itu bukan hanya berdosa satu ini saja, tetapi juga melakukan dosa lain yaitu menjauhkan generasi baru dari Ahmadiyah. Terbayangkan oleh sebagian orang muda, “Mungkin memang kita tidak memiliki bukti untuk ini; oleh karena itu kita jawab dengan keras.” Ini tidak benar. Mereka harus mengubah perilaku dan pendekatan mereka dengan segera. Mereka harus segera mengadakan perubahan diri dan perilaku.

Sebagaimana telah saya katakan, membalas cacian dengan cacian itu artinya kita tidak cukup punya dalil.  Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan nasehat kepada kita berulang kalli dan dengan berbagai cara agar kita harus menerapkan kesabaran terus-menerus. Saya bacakan kutipan sabda beliau as. Harap diketahui saya menyajikan kutipan sabda beliau supaya jelas ajaran beliau bagi semua.

Beliau as bersabda: “Mereka telah mencaci-maki terhadap saya namun tidak saya pedulikan cacian mereka. Saya abaikan mereka karena mereka lemah dari batas-batas dan tidak mampu menyembunyikan kelemahan mereka dan tanpa dasar kecuali hanya dengan cacian dan mengeluarkan maklumat kafir. (mereka lemah dalam dalil dan karena cacat dalam argumentasi maka mereka cenderung hanya mencaci)

Mereka membuat gugatan palsu dan menyulap serangkaian rekayasa dan kepalsuan terhadap saya. Mereka dapat menggunakan segenap kekuatan dan pengaruh mereka terhadap saya, namun saksikanlah siapa yang berhasil pada akhirnya. Jika saya mulai menunjukkan kekhawatiran dan kepedulian akan kata-kata kotor dan tak senonoh mereka, maka akan tetap tidak terpenuhi tugas sejati yang dipikulkan kepada saya oleh Allah Ta’ala.

Karena itu, seperti layaknya tidak saya khawatirkan kata-kata cacian mereka, saya mendesak Jemaat saya untuk bersabar terhadap kata-kata kotor mereka. Jangan pernah membalas kata-kata kotor mereka dengan cacian juga. Karena dalam mmelakukan hal seperti itu, kalian akan kehilangan seluruh berkat dan rahmat. Melainkan, kalian harus menunjukkan teladan kesabaran, menahan nafsu dan akhlak mulia. Ingatlah! Akal dan emosi adalah musuh bebuyutan. Apabila kemarahan datang maka akal menjadi tidak akan bekerja. Namun, mereka yang bersabar dan menahan diri akan dianugerahi cahaya yang menerangi kekuatan kecerdasan dan pemikiran. Inilah yang menciptakan cahaya terang dan menerangi. Sebab, hati dan otak – dalam kondisi marah dan emosional – menjadikan dua kegelapan yang akan menciptakan kegelapan demi kegelapan.”

Jadi, jika Anda ingin meningkatkan kekuatan akal dan pemikiran serta pembentukan cahaya dalam hati dan otak kita maka kita harus mengendalikan kemarahan dan hasutan, sehingga meningkatkan karunia-karunia Allah atas kalian. Kemajuan Jemaat tidak terjadi dengan kemarahan dan ghairat emosional yang tidak jelas. Melainkan itu sesuai dengan apa yang telah Allah janjikan bahwa kemajuan akan Dia anugerahkan atas Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika Dia Yang memberi kemenangan dan berkah atas segala sesuatu yang kita lakukan dalam Tabligh dan lain-lain, kita harus berusaha untuk mencapai ridha Allah.

Kita harus menjalani hidup kita selalu dengan menempatkan kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as di benak kita bahwa orang-orang duniawi ini tergantung pada sarana-sarana dan perkara lahiriah, tetapi Allah tidak dibebani kewajiban untuk memerlukan sarana-sarana. Dia kadang-kadang tanpa sarana apapun menyelesaikan sesuatu hal, dan kadang-kadang Dia ciptakan sarana-sarana untuk menyelesaikan sesuatu urusan, dan kadang-kadang Dia jalankan sarana-sarana yang siap pakai.

Beliau as memberikan nasehat: “Sucikanlah amal perbuatan kalian dari kesalahan-kesalahan. Berdzikirlah kepada Allah senantiasa. Janganlah malas. Sebagaimana buruan yang lari di depan ahli pemburu maka dengan tepat akan ia tangkap di tangannya demikian pula jika seorang hamba malas berdzikir kepada Allah maka ia berada dalam cengkraman setan.”

Jika seseorang lalai dalam ibadah, doa dan permohonan pertolongan kepada Allah maka mungkin ia menjadi buruan setan.

Sabda beliau as, “Senantiasa hidupkanlah tobat, jangan biarkan itu mati. Perbanyaklah beristighfar karena anggota badan yang bermanfaat ialah yang digunakan. Sementara yang ditinggalkan dan diabaikan akan tidak berfungsi. Demikian pula kalian harus membuat pertobatan bekerja sehingga tidak menjadikannya tidak berfungsi. Apabila kalian tidak bertobat dengan benar maka sama saja dengan menanam benih diatas batu. Jika pertobatan kalian itu benar maka ibarat menanam benih di tanah subur yang akan berbuah pada waktunya. Di hari-hari ini pertobatan ini dipikul dengan banyak kesulitan.

(Hudhur as menujukan sabda ini kepada delegasi yang datang ke Qadian, “Setelah kepergian kalian kemari niscaya mereka akan mendengarkan banyak hal dan orang-orang membuat-buat perkataan, ‘Kalian telah berbaiat kepada orang-orang gila, kafir dan dajjal.’”)

“Janganlah kalian terbawa emosi dengan orang-orang yang menentang kalian. Allah Ta’ala menyuruh kita bersabar. Justru kalian harus berdoa semoga mereka mendapat petunjuk.  Jauhilah dari mereka yang meski harapanmu kuat agar mereka menerima kebenaran, namun mereka takkan pernah menerima perkataan kalian.”

Beliau as bersabda, “Senjata kita untuk meraih kemenangan adalah istighfar, taubat, memahami ilmu-ilmu agama, mengagungkan Allah Ta’ala dan menunaikan shalat lima waktu. Shalat adalah kunci pengabulan doa. Ketika melaksanakan shalat, berdoalah di dalamnya dan jangan pernah lalai. Hindarkanlah diri kalian dari keburukan-keburukan baik itu yang berhubungan dengan hak-hak Allah Ta’ala (huquuqullah) maupun hak-hak para hamba-Nya (huquuq al-‘ibaad).”

Karena itu, sekarang tugas kita adalah untuk membangun hubungan dengan Allah Ta’ala, selalu berusaha menaati perintah-perintah-Nya dan harus tetap sabar dan tabah ketika melakukan pengorbanan-pengorbanan di jalan-Nya. Semoga Allah Ta’ala mengaruniai kita kekuatan untuk menapaki jalan – jalan yang Dia ridhoi dengan sabar dan shalat dan semoga kita selalu menjadi penerima karunia dan ganjaran dari Allah Ta’ala. [Aamiin]

Setelah Shalat Jumat, saya akan mengimami shalat jenazah Almarhum Tn. P.P. Nazimudin dari Pingardi, di wilayah Kerala, India. Beliau wafat pada tanggal 3 Mei lalu dalam sebuah kecelakaan kereta api. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Beliau sedang bepergian dengan mobilnya ketika kecelakaan terjadi saat kembali dari sebuah pertemuan berkaitan dengan sebuah pameran Qur’an. Beliau adalah pribadi yang sangat tulus dan taat yang selalu mengutamakan agama diatas perkara-perkara duniawi. Beliau kontinyu menghadiri Ijtima-Ijtima di Qadian, Jalsah-Jalsah Salanah dan Majlis Syura. Beliau anggota yang aktif. Beliau Sekretaris Mal di tingkat wilayah. Beliau berkhidmat sebagai Naib Sadr Majlis Ansharullah India.

Beliau lama tinggal di Dubai dan berkhidmat sebagai Amir yang pertama di sana. Beliau mempunyai jejaring yang luas dan menggunakan jaringan tersebut demi kebaikan Jemaat. Beliau mengikuti Nizham Jemaat dan membuat para kawan beliau mengikutinya juga. Beliau rajin beribadah dan banyak membaca Al-Qur’an. Beliau rendah hati. Beliau terhiasi dengan tabiat yang sangat terhormat sebagaimana beliau juga seorang yang memberi manfaat kepada orang-orang. Beliau mendidik putra/inya dengan didikan  yang baik. beliau mengarahkan mereka agar berupaya dalam kebaikan-kebaikan dan mengeratkan ikatan dengan Khilafat.

Beliau adalah seorang Musi. Beliau meninggalkan seorang putri yang tinggal di sini dan seorang putra yang tinggal di Dubai. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau dan semoga Dia mengaruniai anak-anak beliau untuk terus melakukan kebaikan-kebaikan beliau dan tetap terikat dekat dengan Khilafat dan Jemaat. آمين.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono. Bantuan teks terjemahan dari Ratu Gumelar dan Saefullah MA

(Visited 283 times, 1 visits today)