Menjadi Hamba-Hamba Hakiki Allah Ta’ala

Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

  Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 10 Zhuhur 1391 HS/Agustus 2012

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Hadhrat Khalifatul Masih menilawatkan ayat Alqur’an berikut ini di awal khotbah Jum’at:

]وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ[ (البقرة: 187)

‘Wa idzaa sa-alaka ‘ibaadii ‘annii fa-innii qariibun ujiibu da’watad daa-I idzaa da’aani fal yastajiibuu lii wal yu-minuu bii la’allahum yarsyuduun.’ – “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah: ‘Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka menyambut seruan-Ku, dan beriman kepada-Ku, supaya mereka mendapat petunjuk.” (Surah Al-Baqarah, 2:187)

Dua puluh hari pertama bulan Ramadhan telah berlalu begitu cepat dan tidak terasa. Kini, periode sepuluh hari terakhir dimulai. Banyak surat yang Hadhrat Khalifatul Masih terima, menanyakan bagaimana kiat memperoleh faedah Ramadhan ini, yang sebagian menyampaikannya secara langsung per pribadi. Begitulah seharusnya seorang beriman, hendaknya senantiasa ingin mendapatkan faedah maksimal dari bulan Ramadhan. Jika seorang Ahmadi tidak bersikap demikian, tujuan utama menerima Hadhrat Masih Mau’ud (Imam Mahdi) as tentulah tidak tercapai. Beliau as datang ke dunia ini adalah untuk mengadakan revolusi rohani agar umat manusia memperoleh qurb (kedekatan) Allah Ta’ala. Kedatangan beliau as adalah untuk membawa hal-hal berikut ini: untuk mengarahkan pikiran dan perhatian kepada penggemblengan ta’alluq billah (hubungan dengan Tuhan); meneguhkan keimanan dan membawanya menuju ke tingkat yang lebih tinggi; meningkatkan pemenuhan kewajiban sesama manusia seiring dengan peningkatan derajat kerohanian kita; menarik perhatian untuk membawa kearah perubahan suci dalam diri kita dan selalu mawas diri dalam hal tujuan utama ini. Beliau datang untuk menimbulkan revolusi rohani yang memikat perhatian mereka untuk mendapatkan kiat serta sarana untuk mencapai tujuan utama tersebut di atas. Adalah semata karunia dan rahmat Allah Ta’ala, Dia berkenan untuk menyediakan kembali berbagai kesempatan untuk memperoleh derajat ketaqwaan tersebut, yang dalam hal ini, bulan Ramadhan adalah peluang yang terbesar dan paling diberkati di antara berbagai kesempatan lain tersebut.

Maka sungguh beruntunglah mereka yang berhasrat untuk mengadakan perubahan rohani di dalam diri mereka, yang tercipta di dalam bulan Ramadhan ini, yang untuk itu mereka berusaha keras. Akan tetapi, usaha tersebut baru akan berhasil apabila dikerjakan sesuai dengan kiat dan sarana sebagaimana yang telah diajarkan oleh Allah Ta’ala. Sedangkan cara-cara bikinan sendiri tiada berguna. Sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya, qurb Ilahi tidak akan dapat diperoleh dengan mengandalkan Shalat secara ragawi saja, meskipun berbagai amal secara jasmani tersebut penting dan iman tidak akan memperoleh qurb Ilahi tanpa hal tersebut, seperti misalnya makan Sahur dan Iftar [berbuka puasa] dan amal lain sejenisnya yang wajib dikerjakan. Namun, adalah keliru dengan mengatakan, bahwa seseorang menemukan Allah Ta’ala dengan cara mengadakan ‘Dzikir’ secara beramai-ramai’ atau seseorang memenuhi pengabdian kepada Tuhan dengan cara itu. Tidak, sama sekali tidak begitu. Untuk mendapatkan hal itu seseorang harus melaksanakan Sunnah Hadhrat Muhammad Rasulullah Saw, sebagaimana beliau telah memerintahkan ummat untuk melaksanakannya. Sebagai tambahan dari amal perbuatan sisi luar (jasmaniah, yang terlihat), seseorang juga harus mengadakan perubahan ketakwaan di sisi dalam diri (batin, hati, kerohanian) hingga derajat yang tertinggi. Hal ini pun merupakan perintah yang penting, yang perlu ditimbulkan semangat untuk itu.

Ayat Al Quran Surah Al Baqarah ayat 187 tersebut menyampaikan tentang metode memperoleh kecintaan Allah Ta’ala dan berbicara tentang statusnya manakala sudah dapat menjadi seorang mukmin hakiki. Sementara di ayat ini kecintaan Allah bagi hamba-hamba-Nya telah dinyatakan, kita pun memperoleh pendalamannya lebih lanjut di dalam sebuah Hadith [Qudsi] yang meriwayatkan, bahwa Allah Ta’ala menyatakan: ‘Barangsiapa yang setapak  mendekati-Ku, Aku pun menyambutnya dengan dua tapak; dan barangsiapa yang melangkah satu depa kepada-Ku, Aku dating menyambutnya dengan dua depa; dan bagi mereka yang melangkah mendekati-Ku, Aku pun berlari menyambutnya.’ [2]

Begitulah kecintaan Allah Ta’ala kepada mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk berbakti dengan ikhlas kepada-Nya.

Meskipun kata ‘ibaadi’ (hamba-hamba-Ku) di dalam ayat [Al Quran] tersebut mengindikasikan kecintaan Allah Ta’ala kepada para hamba-Nya, namun hal ini tidak menunjukkan bahwa Dia mengatakan ’fa-inni qariib, atau ‘Aku dekat’ kepada seruan setiap  orang. Seseorang yang tidak mendekat kepada Allah meskipun barang sejengkal, tentulah tidak dapat dikategorikan kepada ‘ibaadi’ itu. Di dalam ayat ini Allah Ta’ala tidak menggunakan istilah kata ‘basyar (manusia), melainkan ‘ibaadi’. Hal ini menunjukkan, bahwa orang yang dimaksudkan di sini adalah mereka yang sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi ‘abd’ (atau hamba Allah yang hakiki). Bagaimanakah caranya untuk menjadi seorang ‘abd’ Allah yang hakiki? [Pertanyaan] ini akan membawa kita kepada suatu perintah yang di dalamnya Allah Ta’ala telah menarik perhatian kita kepada tujuan utama kita diciptakan-Nya, yakni,  sebagaimana yang telah dinyatakannya, bahwa setelah mereka mengenali atau menyadari tujuan utama diciptakannya itu, mereka pun siang malam berusaha dengan berbagai cara untuk dapat mencapainya.

Sebagaimana diketahui, tujuan utama penciptaan kita, seperti dinyatakan oleh Allah, وما خلقتُ الجن والإنس إلا ليعبدون ‘Dan tidaklah Aku menciptakan Jinn dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.’ (Surah Adz-Dzaariyaat, 51:57), Jadi. Allah Ta’ala telah menyatakan, bahwa untuk menjadi ‘abd’-Nya yang hakiki, artinya perlu terus menerus meningkatkan standar peribadatan. Juga tidak hanya teringat akan tujuan utama diciptakannya ini hanya sebatas di bulan Ramadhan, melainkan – bagi mereka yang sungguh-sungguh ingin menjadi ‘abd’ Allah yang hakiki – haruslah mengingat hal ini setiap saat. Allah Ta’ala menyatakan: Jika keberkatan berpuasa membawa peningkatan rohani, katakanlah: Barangsiapa yang bertanya tentang Aku, Aku datang mendekat di bulan Ramadhan. Sebagaimana telah saya sampaikan sebelumnya hadits yang menyebutkan bahwa pintu-pintu surga dibukakan.[3]

Dan katakanlah: Bagi mereka yang sudah tertarik mendekat kepada-Ku, Aku bahkan lebih dekat lagi di bulan Ramadhan. Allah Ta’ala datang ke lapis langit yang paling bawah kepada mereka yang beribadah kepada-Nya di shalat Tahajjud di luar bulan Ramadhan.[4]

Di bulan Ramadhan rahmat dan syafaqat (kecintaan) Allah Ta’ala lebih meningkat lagi.

Maka sungguh beruntunglah mereka yang dapat memanfaatkan sepenuhnya peluang ini, lalu berjanji akan senantiasa berusaha mengerjakan Tahajjud dan shalat Nawafil lainnya yang telah memberinya kesempatan mengalami kedekatan dengan Allah Ta’ala, sehingga mereka pun akan menjaga kedawaman Shalat maupun tilawat Al Qur’an-nya. Allah Ta’ala Yang Maha Mengetahui keadaan qalbu manusia memfirmankan kepada Hadhrat Rasulullah Saw: Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, bila mereka memohon kepada-Ku dengan disertai janji akan berusaha meneruskan kewajiban keikhlasan ibadahnya dengan dawam, maka Aku pun akan tetap dekat dengan mereka, baik di bulan Ramadhan maupun sesudahnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Allah Ta’ala menciptakan manusia agar mereka dapat mengenali ilmu dan qurb kedekatan Ilahi, yakni: ‘Dan tidaklah Aku menciptakan Jinn dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.’ Seseorang yang tidak mengingat tujuan utama [diciptakannya] ini, yakni siang malam hanya sibuk memburu keinginan duniawi: Bagaimana caranya bisa membeli tanah atau gedung atau rumah ini itu. Atau memiliki harta benda ini itu; apalah lagi obatnya bagi orang semacam ini jika bukan Allah Ta’ala menyerunya untuk kembali setelah diberi tangguh beberapa saat ?’

Beliau juga bersabda:

‘Manusia hendaknya memiliki tekad di dalam qalbunya untuk memperoleh qurb Ilahi, sehingga mereka pun menjadi bernilai dalam pandangan Allah Ta’ala. Jika mereka tidak memiliki tekad ini, yakni hanya nafs duniawi saja, maka tentulah mereka pun akan binasa, setelah diberi tangguh barang sejenak.’ [5]

Hal ini bukan berarti tidak boleh mengerjakan berbagai kewajiban duniawi. Sebab, Hadhrat Masih Mau’ud as telah menerangkan di tempat lain, bahwa, barangsiapa memiliki sesuatu ladang atau perniagaan tetapi tidak digarap dengan serius, artinya tidak melaksanakan kewajibannya dengan baik. Pekerjaan duniawi maupun rohani haruslah dilaksanakan dengan berimbang. [6]

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menerangkan kepada kita, bahwa kita ini haruslah memiliki tekad untuk mendekati Allah Ta’ala, serta penting pula untuk memiliki ilmu tentang-Nya.

Allah Ta’ala telah menyatakan: bahwa: Bila daya upaya untuk mendapatkan qurb Ilahi telah dilakukan dengan tekad yang kuat, maka ghairah semangatnya pun akan mewujud dalam bentuk pelaksanaannya. Hal ini akan terjadi ketika iman telah meningkat. Dan bila insan tersebut berusaha dan mendengar semua seruan Allah Ta’ala dengan niat yang ikhlas. Manusia memang dijadikan lemah dan bersifat pasang surut. Akan tetapi hendaknya ia pun dapat segera menyadari berbagai kesalahannya tersebut, bertaubat dan banyak istighfar (memohon ampun Allah Ta’ala), lalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk menjauhi berbagai kelemahannya itu. Namun, amal shalih tersebut tidak hanya dikerjakan selama di bulan Ramadhan saja, lalu sibuk kembali oleh urusan duniawi belaka,

dengan pikiran akan dilanjutkan lagi upaya untuk menjadi ‘abd’ (hamba) Allah pada bulan Ramadhan berikutnya. Seiring dengan perintah berpuasa, Allah Ta’ala pun memerintahkan untuk mendengar seruan-Nya, yang berlangsung terus dari satu Ramadhan ke bulan  Ramadhan berikutnya. Hanya dengan cara itulah yang akan menghasilkan berbagai macam ganjaran pahalanya. Maka jika kita tidak berpikir kearah ini, dan juga tidak berusaha untuk mencapai tujuan ini, tentulah tidak dapat dikategorikan sebagai ‘abd’.

Proses untuk dapat menjadi ‘abd’ tidak dapat dicapai dalam waktu hanya beberapa hari atau sebulan, melainkan, proses ini harus berkelanjutan. Sebab, seorang mukminin hakiki tertarik secara khas ke dalam perkara ini selama Ramadhan, sehingga inilah mengapa sebabnya perhatian kepada masalah ini terkait dengan ibadah puasa. Allah Ta’ala telah mengajarkan bagaimana untuk meningkatkan derajat kerohanian dan menjadi ‘abd’, sebagaimana dinyatakan-Nya di dalam Al Qur’an: صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ “Katakanlah, ‘Kami menganut agama Allah; dan siapakah yang lebih baik dari Allah dalam mengajarkan agama, dan kepada-Nya kami menyembah.” (Surah Al-Baqarah, 2:139).

Mengikuti rona [ajaran agama] Allah Ta’ala artinya menyerap Sifat-sifat Allah Ta’ala ke dalam diri pribadi, yang adalah sangat penting untuk menjadi seorang ‘ibad’ yang hakiki. Di dalam kehidupan duniawi, jangankan hubungan berdasarkan tali cinta, atau hubungan darah, bahkan hubungan seorang tuan dan hambanya pun, si hambanya itu menyerap segala keinginan tuannya. Sebagaimana dalam kisah anekdot antara seorang Raja dengan inangnya: Arkian, pada suatu hari ada seorang Raja menerima kiriman hadiah sayuran terong. (aubergines atau egg-plants), yang sangat disukainya, sehingga ia pun memakannya setiap hari. Maka si inangnya ini pun memuji-muji khasiat buah terong sedemikian rupa. Tapi pada suatu hari sang Raja jatuh sakit dikarenakan terlalu banyak makan terong. Sehingga ia pun mulai mengkritik sayuran terong itu. Dan sang inang pun ikut-ikutan mencercanya. Maka sang Raja menanyainya: Bagaimana mungkin kamu mencerca terong padahal sebelumnya kamu sangat memuji-mujinya ?! Sang inang menjawab: Begitulah Sri Baginda, aku ini adalah hamba seorang Raja, bukan hamba terong.’

Akan tetapi, dalam hal ini, orang yang menyerap rona Sifat-sifat Allah Ta’ala maka ia pun ia pun berbahagia kehidupannya di dunia ini maupun akhir kesudahannya. Sebab, insan yang menerapkan Sifat-sifat Ilahi, ia pun memperoleh kedekatan-Nya. Jika seorang beriman berhasil menyerap rona sifat Ilahi, maka ia pun telah mencapai tujuan utama diciptakannya. Ia senantiasa berusaha untuk mempraktekkan segala amal yang disukai oleh Allah Ta’ala, serta berusaha menjauhi semua perbuatan yang tidak disukai Allah. Adapun perintah: صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ ‘shibghatallaah…..’, yakni, ‘Katakanlah, ‘Kami menganut agama/corak warna Allah! artinya Allah Ta’ala telah menanamkan di dalam diri manusia kemampuan untuk menyerap Sifat-sifat-Nya sesuai dengan ruang lingkupnya, yang kemudian diperlihatkannya. Contohnya, manusia dapat menerapkan Sifat-sifat Allah: Malikiyyat (Yang Maha Memiliki), Rahmaniyyat (Yang Maha Pemurah), Rahimiyyat (Yang Maha Penyayang) dan Rabbubiyyat (Yang Maha Pemelihara) dalam ruang lingkupnya sebagai manusia. Manusia pun dapat menerapkan sifat Sattar (Yang Maha Menutupi aib orang lain), dan juga sifat Al Wahab (Maha Pemberi), yang pada kenyataannya kadangkala Sifat-sifat Ilahi tersebut justru terlihat pada kalangan orang biasa.

Adapun orang mukmin hakiki menerapkan Sifat-sifat Allah ini demi untuk menarik kecintaan Ilahi kepadanya. Maka adalah sangat penting untuk memperlihatkan Sifat-sifat Ilahi ini untuk menarik kecintaan-Nya dan juga untuk menyelamatkan manusia dari dosa, serta untuk mencapai tujuan utama diciptakannya manusia. Pendek kata, memperlihatkan Sifat-sifat Ilahi ini dapat menjadi sumber ganjaran pahala dalam pandangan Allah Ta’ala.

Adapun ayat yang memerintahkan untuk agama/warna Allah, maksudnya adalah perintah agar kaum beriman menyerukan: إِيَّاكَ نَعْبُدُ ‘…Hanya kepada Engkaulah kami menyembah…’ Ini karena tujuan utama [kehidupan] adalah untuk memperoleh keridhaan Allah, dan mengisinya sesuai dengan segala perintah-Nya.

Maka perintah ini bukanlah hanya untuk sebulan saja, melainkan, setiap saat di dalam kehidupannya, mukmin hakiki senantiasa mengikutinya. Maka kita perlu bertafakur tentang hal ini di bulan Ramadhan untuk berusaha melakukan perubahan suci dalam diri sendiri dengan merujuk kepada Sifat-sifat Allah dalam upaya untuk mempraktekkannya; yakni dengan memenuhi kewajiban beribadah kepada Allah serta berjanji akan menghubungkannya dengan bulan Ramadhan berikutnya. Maka jika hal ini dapat terjadi, niscaya kita pun dapat menjadi penerima kabar suka ‘…fa inni qariib…’ – “Sesungguhnya Aku dekat” yang sekaligus juga perwujudan dari ‘…ujibu da’watad-daa’i idzaa da’ani, yakni, ”Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia berdoa kepada-Ku.”

Pusat perhatian doa-doa kita seharusnya tidak hanya kebutuan-kebutuhan duniawi kita saja. Melainkan, setelah menerapkan Sifat-sifat Allah, kita pun senantiasa lekat di dalamnya sebagaimana yang telah diperintahkan Allah. Kemudian atas seruan ‘…fal yastajibuli…’, yakni, ‘maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku’, artinya Allah Ta’ala meminta perhatian kita kepada berbagai perintah-Nya, yang sudah seharusnya orang mukmin senantiasa menyadari tanggung-jawabnya ini.

Hadhrat Khalifatul Masih mengemukakan mengenai tanggung jawab moral dan tanggung jawab orang-orang yang telah menyambut seruan Ilahi sebagaimana yang dinyatakan Allah: تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ‘….ta’muruuna bil ma’ruf wa tanha’una anil munkar….’ ‘…kamu menyuruh berbuat kebaikan, dan melarang berbuat keburukan, serta beriman kepada Allah…’ (Surah Ali Imran, 3:111). Maka mereka yang melaksanakan perintah ini dengan sungguh-sungguh, menyuruh kepada kebaikan dan melarang keburukan serta mawas diri sehingga menarik minat dirinya untuk menerapkan Sifat-sifat Allah. Inilah tanggung jawab yang dibebankan kepada orang mukmin.

Qalbu manusia semakin terpikat kepada sikap takut dan takjub kepada Allah di bulan Ramadhan yang terlihat di dalam amalan salehnya. Jika ia memikirkan secara mendalam mengenai standar yang telah Allah Ta’ala telah tetapkan bagi mereka yang rindu dan berdoa kepada-Nya, ialah harus menjadi mukmin hakiki terlebih dahulu, maka ia pun akan mengadakan perubahan suci atas dirinya. Yakni senantiasa mengingat pernyataan Ilahi ini:كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ ‘Adalah sesuatu yang paling dibenci Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.’ (Surah Ash-Shaf, 61:4).

Ada keharusan yang besar untuk mawas diri di hari-hari ini. Hadhrat Khalifatul Masih menyampaikan kepada para pengurus di tiap tingkatan, khususnya lagi bagi para Pengurus, baik di tingkat pusat maupun cabang-cabang dan juga para Waqfin Zindegi bahwa mereka perlu mawas diri. Namun hal nasehat ini pun berlaku bagi kaum Ahmadi pada umumnya bahwa bila mereka memberikan sesuatu nasehat, hendaknya juga terlihat di dalam kehidupan pribadi mereka sendiri. Yakni jika perintah menganjurkan kebaikan dan melarang keburukan ini ditujukan bagi seluruh kaum Muslimin pada umumnya, apalah lagi bagi mereka yang telah ditunjuk secara khusus untuk menjalankan tugas ini, bukankah harus senantiasa ingat akan kewajibannya? Jika standar peribadatan para Pengurus hanya meningkat di bulan Ramadhan saja, tentulah akan bertentangan dengan selarasnya ucapan dengan perbuatan, yang sangat tidak disukai Allah.

Hadhrat Khalifatul Masih telah menyampaikan pada berbagai pertemuan bahwa seandainya para Pengurus di tiap tingkatan maupun Badan-badan dapat meningkatkan standard peribadatan mereka, tentulah jamaah yang hadir [Shalat] di Masjid akan meningkat dua hingga tiga kali lipat. Begitu pula berbagai perintah Ilahi lainnya, perlu diperhatikan. Ada perintah untuk berbuat adil meskipun harus memberikan kesaksian yang bertentangan dengan kepentingan dirinya sendiri, orang tua maupun sanak saudara; yang jika menganalisanya [secara jujur] pada umumnya kita belum melihat standar [moral] ini. Di satu pihak kita mencari Tanda-tanda pengabulan doa-doa dan dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Tuhan, akan tetapi ketika harus memberikan kesaksian, mencari-cari celah untuk menyelamatkan diri dari kesalahan. Dan berusaha menimpakan kesalahan kepada orang lain. Beberapa kali ada yang mengirim surat [kepada saya], yang mengemukakan [perbuatan] seseorang Pengurus atau mengapa sesuatu kekurangan terjadi pada suatu Jalsah, dlsb. Namun, bukannya Pengurus atau Seksi Panitia terkait itu memperbaiki dirinya, penyelidikan pun mereka lakukan untuk mencari siapa yang melapor tersebut. Seharusnya tidak begitu; hal ini bukan urusan mereka. Bila berbagai kekurangan tersebut memang terjadi, berusahalah untuk menghilangkannya. Bahkan jika pun sebenarnya tidak ada, banyak-banyaklah beristighfar agar Allah Ta’ala menyelamatkan mereka dari hukuman dosa yang tidak mereka perbuat.

Kemudian, kirimkanlah segera laporan yang sebenarnya. Terserah kepada Hadhrat Khalifatul Masih apakah akan menjawab atau tidak kepada orang yang melapor tersebut. Bagaimanapun juga suatu laporan atau keluhan tanpa nama si pengirim (anonim) tiada artinya. Maka wajiblah bagi Pengurus untuk menyempurnakan janji atau amanat yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya. [Sari pati] kesaksian yang benar adalah memperhatikan aspek perbaikan diri bukan berusaha mencari-cari orang yang melaporkannya. Bila Hadhrat Khalifatul Masih berkenan untuk menyebutkan nama si pelapor, ia akan melakukannya, sebagaimana seringkali dilakukan. Akan tetapi, berdasarkan pengamatan, seringkali juga terjadi usaha gangguan atas orang yang melapor tersebut. Hal itu merupakan sikap yang jauh dari Taqwa; bukan cara yang benar dalam melaksanakan amanat dan janji, serta tidak sesuai dengan perintah Allah.

Jika menginginkan hubungan dengan Allah, perlu berusaha mempraktekkan berbagai perintah Ilahi dalam berbagai perkara dan di tiap tingkatan. Nasehat ini tidak hanya untuk para Pengurus saja. Untuk menjadi seorang ‘abd’ Tuhan, setiap Ahmadi hendaknya berusaha mempraktekkan setiap perintah Allah. Berusahalah dan sempurnakanlah imanmu; tanamkanlah sikap rendah hati, dan hancurkanlah berbagai berhala di dalam diri berupa sesuatu kebanggaan dan takabbur; tegakkanlah standar-standar tinggi kejujuran (kebenaran); biasakanlah memaafkan dan mengampuni; jauhilah ghibat; jalankan amanah dan selalulah bersikap adil. Bahkan, bukan hanya adil, lebih dari itu ‘perlakukanlah dengan ihsaan/kebaikan yang lebih’ dan kemudian ‘ita’idzil qurba’ (memperlakukan seperti kepada kaum kerabat). Berbuat baik dan peduli terhadap handai taulan dan tetanggamu. Ini semua adalah ajaran penting Al-Qur’anul Karim. Jika memahami hakekat ‘tetangga’ sebagaimana telah diterangkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, sedemikan luas ruang lingkupnya, sehingga penderitaan bersama kita dapat dihilangkan, karena bukan hanya satu atau dua rumah bersebelahan. Melainkan, hingga mencapai ratusan rumah, atau ke kota tetangga, hingga ke negara lainnya. Maka kita pun akan peduli terhadap hak-hak orang lain, dan menjauhi mencari-cari kesalahan orang lain. Selamat dari perbuatan ghibat (membicarakan orang lain di belakangnya) yang Allah Ta’ala menyamakannya sebagai memakan daging bangkai saudaranya sendiri. Demikian menjijikannya berghibat, tetapi banyak dari kita melakukannya tanpa berpikir (tanpa sadar). Jika diingatkan kepada mereka maka mereka menjawab bahwa mereka hanya mengemukakan apa yang memang nyata di dalam diri orang itu. Adakalanya keluarga duduk-duduk bersama lalu mulai membicarakan sisi keburukan pengurus. Ini pun termasuk berghibat. Response dari orang-orang semacam itu adalah dengan mengatakan bahwa si Fulan itu banyak kelemahannya dan mereka tidak berdusta. Hadhrat Rasulullah Saw bersabda: Bila seseorang saudaramu memiliki beberapa kelemahan dan kamu membicarakannya ketika ia tidak hadir, itulah ghibat. Dan jika ternyata ia tidak memiliki kelemahan tersebut, itulah fitnah.[7]

Maka tugas kita untuk menghindari berbagai penyakit tersebut, ialah menggantinya dengan kesalehan. Sebab, hanya dengan cara itulah kita akan dimasukkan ke dalam kaum yang menyuruh kebaikan dan melarang keburukan.

Hendaknya diingat bahwa menjawab seruan-seruan Tuhan menjadi benar bagi kita hanya bila kita mengamalkan semua hal yang Dia perintahkan kepada kita. Maka pertama-tama hendaknya kita mereformasi diri sendiri, baru kemudian dunia, yang adalah tugas kita. Maka kemudian “berimanlah kepada-Ku” akan menjadi benar; jika tidak, maka iman kita pun menjadi tidak sempurna. Dengan pernyataan ‘…fal-yastajibuu lii…’ – “penuhilan seruan-Ku”, kemudian diikuti dengan ‘…wal yu’minuu bii…’ – “berimanlah kepada-Ku”, Tuhan menyatakan bahwa pelaksanaan setiap perintah dan setiap jenis akhlak mulia-lah yang akan menyempurnakan iman seseorang dan menjadikan seseorang tekun dalam hal pengabdian kepada Tuhan. Pada beberapa hari terakhir di bulan Ramadhan ini, kita berjanji: Setelah meningkatkan rohani dan kondisi akhlak, kita pun akan menjaganya dan berusaha menarik karunia Allah Ta’ala untuk tetap melanjutkannya. Kita akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi ‘abd’-Nya untuk selama-lamanya. Semoga Allah Ta’ala memampukan kita untuk melakukan hal demikian.

Khotbah II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih Bukhari, Kitabut Tauhid, bab qaulillaahi ta’aala wa yahdzurkumullahu nafsah

[3] Shahih al-BUkhari, Kitab ash-Shaum, bab  hal yuqaalu ramadhan au syahr ramadhan

[4] Shahih al-BUkhari, Kitab at-Tahajjud, bab  ad-du’aa wash shalaat min akhiri lail

[5] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 222, edisi 2003, terbitan Rabwah

[6] Malfuuzhaat, jilid 5, halaman 550, edisi 2003, terbitan Rabwah

[7] Sunan at-Tirmidzi, Kitabul birri wash shilah, bab maa jaa-a fil ghiibah.