Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

pada 29 Juli 2016 di Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

 

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Saat ini, situasi di dunia semakin memburuk dengan begitu cepatnya dan sayangnya yang menjadi penyebab di balik semua itu adalah beberapa organisasi Islam. Bahkan, para pemimpin negara-negara Islam pun tidak memahami bahwa kekuatan-kekuatan penentang Islam tengah berupaya agar mereka terperangkap ke dalam jebakan yang dibuat oleh para penentang Islam tersebut.

Kekejaman yang dilakukan atas nama Islam dan Jihad sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam. Begitu juga dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh pemerintah, itu pun tidak ada kaitan sedikit pun dengan ajaran Islam. Dimanakah ada tertulis di dalam Islam bahwa kalian diperbolehkan untuk membunuh orang-orang tidak berdosa?

Orang-orang semacam ini yang melakukan penyimpangan terhadap makna Islam itu sendiri, tidak hanya membunuh non Muslim saja dengan mengatasnamakan agama, melainkan lebih buruk dari itu, juga membunuh sesama Muslim, termasuk yang tidak berdosa seperti anak-anak, orang tua, laki-laki dan perempuan. Kekuatan negara-negara Islam mengalami kemerosotan sangat cepat dan inilah sebenarnya yang paling diinginkan oleh negara-negara anti Islam. Mereka menghendaki agar jangan sampai negara-negara Islam menjadi negara yang aman dan damai serta memiliki kekuatan dari segi keuangan.

Para pemimpin negara-negara Islam dan tokoh-tokoh agama tidak mengerti ajaran Islam yang sebenarnya dan juga tidak mau mengerti ajaran Islam itu. Mereka menolak dengan sangat keras untuk mendengar suara orang yang telah diutus Allah Ta’ala sebagai Imam Zaman, yang diutus berdasarkan janji Allah Ta’ala dan sesuai dengan nubuatan dari Hadhrat Rasulullah saw. Mereka menolak utusan Allah Ta’ala yang ditunjuk untuk zaman ini guna memperkenalkan ajaran Islam yang sejati di dunia ini. Apakah dampak dari penolakan terhadap utusan Allah ini? Akibatnya, sebagaimana telah saya sebutkan – Islam yang merupakan pembawa bendera terbesar pesan kedamaian dan keadilan di dunia – negara-negara Islam hendaknya senantiasa ingat bahwa mendirikan kedamaian dan keadilan adalah tanggung jawab terbesar mereka, namun justru mereka-lah yang tengah menghancurkan kedamaian dan keadilan.

Kekacauan yang kalian lihat di setiap negara Islam di dunia saat ini yang dipertontonkan secara menyedihkan untuk mendapatkan keuntungan dari kondisi-kondisi perseteruan dan permusuhan terutama karena para pemerintah memilih motif-motif mereka sendiri – alih alih bekerja untuk perbaikan dan kemajuan bagi umat manusia. Umat Muslim saling membunuh satu sama lain. Tidak tersisa lagi sifat kesabaran dan kelunakan hati diantara para pemimpin Muslim tersebut.

Aksi percobaan kudeta yang baru-baru ini terjadi di Turki sama sekali tidak justified (dibenarkan) oleh ajaran Islam. Namun, tindakan yang saat ini diambil oleh pemerintah Turki [dibawah Recep Tayyib Erdogan terhadap para pelaku kudeta atau pemberontak] pun dilandaskan oleh kekejaman. Tindakan keras tersebut dilakukan terhadap para penentang pemerintah, baik yang mempunyai peranan dalam peristiwa itu ataupun tidak sama sekali.

Tindakan pemerintah ini akan berdampak sebaliknya berupa pembalasan [dari anti pemerintah], yang akan timbul di masa ini atau di kemudian hari. Kekuatan-kekuatan penentang Islam akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Kekuatan-kekuatan besar menjual senjata mereka dan menjadi pendukung dari kedua kubu tersebut [pihak pemerintah dan anti pemerintah]. Semua orang melihat hal ini di Irak, Libya, Suriah dan lain-lain. Tetapi, meski demikian, para pemimpin Islam tidak memahami hal ini.

Jika mereka tidak mengikuti ajaran Al Quran dan hidup layaknya seperti seorang Muslim, maka setidaknya akal mereka menuntut untuk berpikiran agar segera mengambil tindakan-tindakan dengan penuh kesadaran dan pertimbangan matang. Setidaknya mereka harus merenungi siapakah yang mendapatkan keuntungan dari pertikaian antara Muslim dan juga kerusuhan yang terjadi di negara mereka tersebut? Tetapi mereka tidak menyadari hal itu. Jadi, di masa kini, perlu sekali mendoakan negara-negara Muslim ini. Kita pun hendaknya berdoa agar Allah Ta’ala menganugerahi mereka kebijaksanaan untuk memahami hal ini.

Kelompok-kelompok teroris di negara-negara Barat membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan melakukan tindakan-tindakan brutal yang menyebabkan nama Islam menjadi buruk. Tidak salah apabila dikatakan bahwa untuk memfitnah Islam, para penentang Islam di negara-negara asing bertanggungjawab atas segala tindakan brutal yang membuat nama Islam menjadi buruk. Dengan mengatasnamakan bantuan dan perlindungan kepada orang-orang dari segala tindak terorisme, negara-negara ini bisa mendapatkan alasan untuk mempunyai satu kedudukan yang kuat di negara-negara Islam.

Jika mereka sadar akan ajaran Islam yang sebenarnya maka mereka seyogyanya mengetahui bahwa tidak ada satupun ajaran dalam Islam yang mengizinkan membunuh orang-orang tidak bersalah. Tidak diizinkan sama sekali membunuh mereka yang tengah dalam perjalanan di airport (bandar udara) dan stasiun kereta api atau halte bus; tidak juga diizinkan membunuh anak-anak, kaum perempuan, orang tua dan pasien (orang sakit). Tidak juga diizinkan untuk membunuh orang-orang dan para pendeta yang sedang beribadah di gereja.

Ketika Hadhrat Rasulullah saw mengirimkan tentaranya ke medan perang, mereka diperintahkan dengan tegas untuk tidak membunuh anak-anak, kaum perempuan, para orang tua, para musafir dan para pemimpin agama.[1] Dan setiap orang yang tidak mengangkat senjata atau yang tidak termasuk ke dalam peperangan melawan umat Muslim, tidak boleh disakiti.[2]

Jadi, itu bukanlah ajaran Al-Quran dan juga ajaran Rasulullah saw Tindakan-tindakan brutal semacam itu tidak juga dibenarkan oleh para khalifah rasyidin dan sahabat beliau ridhwaanuLlahi ‘alaihim. Allah Ta’ala telah menamai agama kita dengan ‘Islam’ yang berarti menolak segala konsep terorisme dan ekstrimisme. Justru agama Islam memberi pesan perdamaian dan harmoni, sebagaimana arti kata Islam itu sendiri, yaitu hidup dengan damai dan memberi kedamaian kepada orang-orang selainnya.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman, وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى دَارِ السَّلامِ “Dan, Allah menyeru kearah keselamatan dan kedamaian.” (Surah Yunus, :26) Seorang Muslim sejati saat shalat akan meminta rahmat dan karunia kepada Allah. Namun, orang-orang yang bertindak lalim itu tidak beriman kepada Al-Qur’an, tidak juga mengikuti ajarannya, dan juga tidak shalat [secara hakiki]. Mereka telah membuat-buat agama dan syariat mereka sendiri. Bagaimanapun juga, ketika seorang Muslim sejati mendirikan shalat dan meminta kepada Allah agar dia menganugerahinya kedamaian, maka ia akan menjauhi diri dari setiap jenis keburukan, kesombongan, kefasikan dan dosa, sebagaimana Allah berfirman, إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ “Shalat dapat mencegah dari tindakan keji dan munkar.”

Selanjutnya, Islam juga mengajarkan agar kalian menyebarkan salam dan menyampaikan ajaran yang penuh kebahagiaan ini kepada orang lain. Mengucapkan salam tidak hanya terbatas kepada umat Muslim saja. Tetapi, saat ini keadaan di Pakistan berbeda. Berdasarkan hukum yang berlaku di sana, yang berada di bawah pengaruh para pemimpin agama dan dikendalikan serta dimonopoli oleh mereka, hanya umat Muslim saja yang diizinkan untuk mengucapkan salam. Non Muslim tidak boleh. Orang Ahmadiyah [yang mereka nilai bukan Islam], tidak diizinkan untuk mengucapkan salam. Padahal, di zaman Hadhrat Rasulullah saw, salam diucapkan kepada setiap orang tanpa pengkhususan [tanpa membeda-bedakan agama atau etnis].[3]

Beberapa keutamaan yang telah disebutkan berkaitan dengan Islam bertujuan untuk menciptakan perdamaian. Jika kalian mengamatinya lebih cermat dan melihatnya dari berbagai sudut pandang, Islam adalah agama yang damai dan mengajarkan kebaikan. Islam tidak menyebarkan paham terorisme.

Islam hanya dapat tersebar ke seluruh dunia melalui keindahan ajarannya dan bukan melalui ajaran yang dibuat-buat sendiri oleh kaum ekstrimis dan para ulama. Jalan ini hanya dapat diperlihatkan oleh seseorang yang telah dijadikan Imam di zaman ini. Keadilan hanya dapat diciptakan oleh orang yang memang diutus untuk menciptakan keadilan dan ia diutus sebagai satu-satunya orang yang dapat memberi keputusan. Dia dapat mengamalkan ajaran Islam yang sesungguhnya dikarenakan dialah yang telah ditunjuk untuk kedudukan tersebut.

Kita, para Ahmadi, sangat beruntung dengan telah beriman kepada Imam Zaman ini yang merupakan Masih Mau’ud dan juga Imam Mahdi sehingga kita terselamatkan dari ikut serta melakukan segala bentuk kekejaman di dunia ini. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Islam telah membagi ajarannya ke dalam dua bagian. Pertama, kewajiban kepada Allah dan kewajiban kepada manusia. Kewajiban kepada Allah adalah dengan beriman kepada-Nya dan menaati-Nya. Sedangkan kewajiban kepada manusia yaitu dengan berlaku baik kepada sesama manusia. Sangatlah tidak benar apabila seseorang dilukai atau disakiti karena perbedaan agama. Berlaku baik kepada seseorang adalah satu hal dan perbedaan agama adalah hal yang lain lagi. Mereka yang dikarenakan tidak memahami konsep jihad, memperbolehkan untuk merampas kekayaan orang-orang yang tidak beriman.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Mereka pun bahkan membuat fatwa tentang saya, bahwa harta saya dapat dirampas.”

Fatwa dan keputusan ini bahkan juga berlaku hingga hari ini kepada setiap Ahmadi. Mereka membuat fatwa bahwa harta kekayaan orang-orang Ahmadi dapat dirampas.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Mereka bahkan membuat fatwa bahwa istri-istri orang Ahmadi dapat dirampas. Padahal, ajaran-ajaran kotor semacam itu tidak ditemukan dalam agama Islam. Islam adalah agama yang murni dan adil. Sebagai contoh, seperti layaknya seorang ayah yang mendambakan hak-hak sebagai kepala keluarga, maka begitu juga dia ingin agar semua anggota keluarganya saling memperlakukan dengan baik. Sang ayah tidak menyukai apabila mereka saling membunuh. Islam mengajarkan bahwa tidak ada sekutu bagi Allah dan seluruh manusia diberikan ajaran tentang keharmonisan, saling mencintai dan persaudaraan. Persatuan harus diciptakan.”[4]

Inilah ajaran agama Islam yang jika diikuti oleh umat Muslim, maka mereka akan dapat menegakkan kejayaan Islam di dunia ini untuk kedua kalinya. Mereka harus mengetahui hak-hak Allah dan juga hak-hak orang lain. Mereka juga hendaknya menciptakan keharmonisan dan cinta kasih diantara sesama manusia, tanpa memperdulikan agama mereka. Daripada berlaku zalim dan membunuh mereka yang tidak berdosa, justru seharusnya menyebarkan ajaran Islam yang sesungguhnya. Mereka harus merebut hati orang-orang dan mengajak mereka mengingat Allah Ta’ala. Alih-alih mendapatkan murka dari Allah Ta’ala dengan berlaku zalim dan menyakiti sesama manusia, mereka justru akan mendapatkan kecintaan Allah Ta’ala.

Naungan asuhan Islam harus mereka jadikan seperti halnya naungan kasih sayang orangtua; bukan membuat perilaku mereka yang darinya timbul kezaliman dan kekacauan yang justru memberikan peluang para penentang Islam untuk mengkritik. Jika mereka tidak berhenti dari tindakan-tindakan yang buruk semacam itu, maka mereka harus ingat bahwa cara-cara duniawi tidak akan dapat menyebarkan ajaran Islam di masa ini.

Kita para Ahmadi, harus selalu ingat bahwa setiap serangan yang dilakukan atas nama Islam oleh orang-orang yang tersesat itu, harus membuat kita lebih bersemangat lagi dalam memenuhi kewajiban dan tanggung jawab kita. Kita harus melaksanakan tugas-tugas kita dengan perhatian lebih dibanding sebelumnya.

Setelah tindakan-tindakan semacam itu yang menyebabkan timbulnya fitnah terhadap Islam, kita harus mengatakan kepada dunia, “Pondasi agama saya ialah berdasarkan kepada perdamaian. Jika ada seseorang diantara pengikut Islam yang melakukan sesuatu yang menghancurkan perdamaian dan keharmonisan dari kehidupan beragama, maka orang atau kelompok tersebut memiliki kepentingan sendiri atau demi meraih keuntungan mereka sendiri. Itu sama sekali bukanlah ajaran Islam. Yang bertanggung jawab atas tindakan-tindakan tersebut adalah mereka sendiri, yaitu orang-orang yang melampaui batas. Agama Islam sama sekali tidak boleh disalahkan untuk hal-hal tersebut.”

Merupakan karunia dari Allah Ta’ala bahwa Jemaat Ahmadiyah tengah bekerja keras untuk tujuan ini di seluruh dunia dan saat ini, dengan karunia Allah Ta’ala, pengaruh yang sangat positif sedang dibuat dengan perantaraan media, dan hal ini juga diakui oleh beberapa penulis di surat kabar. Setelah peristiwa pembunuhan yang brutal terhadap seorang pendeta di Perancis, salah satu wartawan menulis bahwa tindakan tersebut telah menarik perhatian kita bahwa peperangan agama telah dimulai di dunia ini. Kemudian, dia sendiri menulis bahwa tetapi faktanya tidaklah demikian. Peperangan ini sebenarnya dimulai oleh orang-orang yang mengatasnamakan Islam demi meraih keuntungan pribadi dan orang-orang yang suka berbuat keonaran dan kekacauan.

Paus juga telah mengeluarkan pernyataan yang bagus, “Tidak diragukan lagi, ini sebuah peperangan internasional, tapi ini bukanlah peperangan agama. Ini adalah peperangan yang bertujuan untuk mencari keuntungan sendiri dan dilakukan oleh orang-orang yang ingin meraih tujuan mereka masing-masing. Sebab, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan keaniayaan.”

Hingga sekarang ini di kalangan orang-orang non Muslim terdapat orang yang memberi pemahaman situasi pada kalangan mereka sendiri. Tetapi saat ini, dengan makin maraknya tindak kekejaman tentu menimbulkan berbagai macam reaksi. Melihat hal itu, tanggung jawab kita menjadi semakin meningkat untuk menyebarkan pesan damai Islam kepada setiap orang dimanapun kita berada di dunia. Bagaimanapun juga, inilah situasi yang berlangsung pada satu segi.

Namun, di pihak lain ada sekelompok orang yang telah kita sampaikan tentang pesan kita, tetapi mereka berusaha untuk mengartikannya secara negatif dari apa yang kita sampaikan itu. Seseorang menulis kepada saya bahwa ada seseorang yang telah keluar dari Islam, dengan mengambil referensi dari saya, kemudian memposting sebuah pesan di Twitter dan juga memasang foto saya sambil menulis, “Islam adalah agama yang cinta damai dan Hadhrat Rasulullah saw telah melarang tindakan yang dzalim dan brutal.”

Tetapi, kemudian dia juga menambahkan komentarnya sendiri atas postingannya itu, “Perintah ini tidak berlaku untuk perempuan dan orang-orang yang telah keluar dari agama Islam.”

Ketika mereka menyaksikan orang lain terkesan dengan ajaran Islam yang penuh kedamaian ini, ada sekelompok orang yang melakukan tindakan-tindakan seperti itu, dikarenakan ingin menghapus pengaruh positif tentang Islam yang sedang dibuat oleh kita. Metode seperti ini sangat umum dewasa ini media-media seperti Twitter, Facebook dan media lainnya digunakan oleh banyak orang untuk menyebarkan ajaran ini. Kita harus mengawasi orang-orang ini dan juga menanggapi hal tersebut.

Ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan untuk menyebarkan ajaran Islam yang sejati ke seluruh dunia. Walaupun Jemaat sudah dikenal dengan sangat baik, tetapi kita tidak dapat mengatakan pekerjaan ini telah dilakukan dengan sangat memuaskan. Dalam situasi penentangan, yaitu penentangan dari pihak non-Muslim terhadap Islam dan juga penentangan pihak Muslim non Ahmadi terhadap Jemaat, kita harus menjalaninya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan.

Tidak diragukan lagi, Islam adalah agama yang akan tersebar di seluruh penjuru dunia. Insya Allah. Tidak diragukan lagi, kebangkitan Islam yang kedua kali akan terjadi dengan perantaraan Jemaat Ahmadiyah. Inilah yang telah ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah Ta’ala. Tetapi, tanggung jawab dan tugas kita juga untuk senantiasa berdoa agar kemajuan ini dapat terlihat dalam kehidupan kita dan segala kelemahan-kelemahan dan kekurangan kita serta kecerobohan kita tidak menjauhkan kita dari kemajuan dan kesuksesan ini.

Demi mendapatkan tutupan atas kelemahan-kelemahan kita dan mendapatkan karunia Allah Ta’ala, kita perlu untuk senantiasa berdoa terus menerus. Seperti telah saya sebut, kita menghadapi penentangan dari mereka yang anti Islam dan juga dari kalangan umat Muslim mengikuti orang-orang yang mereka sebut sebagai ulama. Tetapi, kita harus menghilangkan segala bentuk ketakutan dalam pikiran kita dan kita harus memenuhi tujuan dari diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud as. dengan melakukan segala sesuatu yang dapat kita lakukan.

Sekarang di beberapa tempat, para jurnalis dan reporter, mereka mempertanyakan isu ini. Selama kunjungan saya terakhir ini ke Swedia, pertanyaan itu pun muncul, “Anda ditentang oleh golongan yang menyukai kekerasan dan hidup anda berada dalam bahaya, jadi bagaimana anda dapat menjalankan tugas-tugas anda?”

“Bagaimanapun juga tidak dapat dipungkiri bahwa kekhawatiran itu memang ada dan anggota Jemaat pun memiliki perasaan tersebut. Tetapi, perasaan khawatir ini tidak akan dapat menghalangi dan menghentikan kami untuk melaksanakan tugas-tugas kami. Bahaya ada dimana-mana dan setiap orang pun menghadapi bahaya. Sebagaimana yang anda katakan, ini juga sangat berbahaya untuk Anda. Tidak ada perbedaan antara Ahmadi dan non Ahmadi. Setiap orang yang tidak melakukan hal yang sesuai dengan kehendak dari kaum radikal itu, yang bertindak demi untuk tujuan mereka sendiri, dan orang-orang yang tidak sependapat dengan kaum radikal itu, maka mereka semua benar-benar dalam bahaya. Tetapi, kaum Ahmadi juga bahkan ditentang oleh kaum rasialis dan orang-orang yang menentang Islam. Jadi sebenarnya, kami menghadapi penentangan dari dua arah. Tetapi, meskipun demikian, seorang mukmin sejati tidak akan perduli akan hal tersebut dan akan senantiasa teguh dalam keimanan mereka, begitu juga dengan setiap Ahmadi. Insya Allah.”

Dengan memperhatikan kondisi dunia akhir-akhir ini, setiap Ahmadi perlu melindungi dirinya dari segala bentuk keburukan. Oleh karena itu, kita harus memberikan perhatian penuh akan pentingnya doa dan juga memberikan, agar kita semua, sebagai sebuah Jemaat terhindar dari segala perilaku keji dari orang-orang ini. Khususnya akhir-akhir ini, kita perlu berhati-hati karena kondisi dunia setiap harinya semakin memburuk.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari segala kejahatan dan dari orang-orang yang berlaku kejam dengan mengatasnamakan Islam. Dengan melakukan tindakan-tindakan seperti itu, mereka akan menyebabkan nama buruk terhadap Islam. Semoga Allah Ta’ala menangkap orang-orang tersebut dan kemudian menghukum mereka segera. Semoga Allah Ta’ala menghapuskan segala bala bencana dan kesulitan-kesulitan dari kita.

Hadhrat Rasulullah saw telah menarik perhatian kita terhadap doa. Di satu kesempatan, beliau bersabda, مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ  “Seseorang yang untuknya pintu doa telah dibukakan, pintu karunia juga terbuka untuknya. Apapun yang kalian minta dari Allah, yang paling disukai-Nya ialah meminta perlindungan dari-Nya. ”[5]

Kemudian, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ  “Doa yang dipanjatkan di saat turun ujian atau cobaan, apakah telah terjadi atau yang akan datang itu sangat bermanfaat. Ini merupakan kewajiban dari setiap hamba Allah Ta’ala untuk senantiasa memanjatkan doa.”[6]Di satu kesempatan, beliau saw bersabda, لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الدُّعَاءِ “Tidak ada yang lebih mulia dalam pandangan Allah Ta’ala selain doa.”[7]

Hadhrat Rasulullah saw bersabda mengenai sedekah bahwa untuk melindungi diri kita dari ibtila (ujian) dan api neraka, kita harus senantiasa bersedekah.[8] Bahkan, beliau saw bersabda, عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ “Memberi sedekah merupakan kewajiban bagi tiap Muslim.” Para sahabat bertanya, يَا نَبِيَّ اللَّهِ ، فَمَنْ لَمْ يَجِدْ ؟ “Wahai Nabi Allah! Bagaimana jika seseorang tidak mempunyai apa-apa maka apa yang dapat diberikan olehnya sebagai sedekah?” (ditanyakan sampai tiga kali) Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Maka, dia harus melakukan perbuatan-perbuatan yang ma’ruf. Dia harus bertingkah laku sesuai dengan hukum-hukum Islam. Mengamalkan perbuatan-perbuatan baik dan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Ini akan menjadi sedekah bagi dirinya.”[9]

Namun, hal ini bukan berarti jika seseorang yang telah memberikan sedekah berupa harta, tidak lagi berkewajiban melakukan perbuatan-perbuatan baik dan tidak perlu lagi menjauhi perbuatan-perbuatan buruk. Tidak seperti itu maksudnya. Melainkan, Allah Ta’ala memandang dengan penuh rahmat semata kepada hamba-hamba-Nya sehingga jika ia dalam kondisi sulit dan tidak punya harta, Allah Ta’ala menggolongkan perbuatan baiknya dan penghindaran dirinya dari perbuatan-perbuatan yang buruk, sebagai sedekah bagi dirinya.

Tetapi, jika dia tidak berbuat baik dan juga tidak menjauhi hal-hal yang buruk, maka sedekah hartanya akan menjadi sia-sia. Seperti halnya shalat yang dikerjakan untuk pamer, maka shalatnya itu tidak memiliki faedah apapun dan akan dilemparkan ke wajah mereka sendiri. Begitu juga dengan sedekah harta yang dilakukan dengan niat seperti itu (untuk riya) maka sedekahnya itu tidak akan diterima dan tidak memiliki nilai apapun di pandangan Allah Ta’ala.

Setiap mukmin sejati diharapkan agar ketika ia memberikan sedekah dan berdoa kepada Allah Ta’ala, maka hendaknya ia dapat menjalani hidupnya sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan itu dilakukan guna meraih ridha-Nya. Ketika ia mengamalkan hal ini, maka orang itu akan mampu menyerap karunia Allah Ta’ala dan akan terhindar dari segala Mushibah dan kesulitan-kesulitan. Berkaitan dengan hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dalam satu kesempatan, “Sedekah dan doa dapat menghapuskan kesulitan-kesulitan.”[10]

Dan sehubungan dengan syarat-syarat pengabulan doa, beliau bersabda, “Untuk meraih pengabulan doa, penting bagi seseorang menciptakan perubahan suci dalam dirinya. Jika ia tidak dapat menjauhkan dirinya dari sifat-sifat buruk dan melewati batas-batas yang telah Tuhan tetapkan, maka tidak akan ada pengaruh doa orang-orang seperti itu.”[11] Jadi, sambil tetap berada dalam batas-batas yang telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala, kita pun hendaknya memberi perhatian kepada doa dan sedekah sehingga kita dapat menyerap karunia-karunia dari Allah Swt.

Sembari menarik perhatian kita kepada doa, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Saya selalu berdoa, tetapi kalian juga harus berdoa. Semakin kalian larut dalam memanjatkan doa dan memohon ampunan kepada Allah Ta’ala, maka Dia pun akan melindungi kalian. Jika ada seorang saja di dalam rumah kalian yang melakukan hal tersebut, maka Allah Ta’ala akan melindungi seluruh anggota keluarganya yang lain.”

Selanjutnya sabda beliau as, “Allah Ta’ala akan condong kepada orang-orang yang memiliki keimanan yang istimewa dan Dia sendiri yang akan menjaga mereka.”

 Tuhan tidak akan pernah tidak setia pada orang-orang yang benar. Jika semua orang di dunia berdiri menentang dan memusuhinya, maka sekali-kali mereka tidak akan dapat menimpakan kerugian kepadanya. Tuhan itu Maha Kuasa dan mempunyai segala kekuatan. Seseorang dengan karunia iman yang dimilikinya akan berada di bawah lindungan Allah Ta’ala dan dia akan melihat keajaiban dari kekuasaan-Nya. Dan, ia takkan tertimpa ketergelinciran.

Ingatlah! Allah Ta’ala adalah Maha Perkasa diatas wujud-wujud lain yang perkasa dan Dia berkuasa lebih dari siapapun juga. Segala sesuatu berada di bawah kendali Allah Swt. Dirikanlah shalat dengan penuh khusyu dan sibukkanlah diri kalian dalam doa serta ajarkan hal yang sama kepada seluruh anggota keluarga dan kerabat kalian dan berpalinglah sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Tidak ada seorang pun yang menderita karena mengamalkan semua hal tersebut. Hendaknya kalian berpaling kepada Allah dan kalian tidak akan mengalami penderitaan sedikit pun. Kerugian terjadi karena dosa dan lemahnya iman.”[12]

Oleh karena, suatu keharusan bagi kita untuk dengan tulus merendahkan diri kepada Allah dan memohon pertolongan-Nya untuk menyingkirkan bala bencana, kesulitan dan mengecewakan para musuh dan membuat mereka merugi. Semoga Dia juga menggagalkan segala rencana dan makar dari para penentang Jemaat.

Allah Ta’ala telah mengajarkan kita sebuah doa di dalam Al Quran yang harus dipanjatkan dengan penuh pemahaman. Berkenaan dengan doa-doa  dalam Al Quran, Hadhrat Masih Mau’ud as telah membimbing kita dan hal penting yang perlu kita perhatikan adalah doa-doa yang diajarkan kepada kita dalam Al Quran, bertujuan agar ketika seorang mukmin sejati memanjatkan doa-doa tersebut dengan penuh kerendahan hati, Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa mereka. Kalian harus mengutamakan doa-doa ini agar dosa-dosa kalian dapat diampuni dan kalian dapat terhindar dari segala sifat buruk dan kejahatan.

Ada sebuah doa dalam Al Quran yang biasanya kita panjatkan dalam shalat dan Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah mengingatkan serta menarik perhatian kita agar kita senantiasa memanjatkan doa tersebut. Doa itu sebagai berikut, رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Ya Tuhan kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat, dan hindarkanlah kami dari azab Api” (2:202)

Di suatu tempat pada satu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Manusia bergantung pada dua hal untuk kesejahteraan pribadi. Pertama, aman dari segala Mushibah, kesulitan dan kesengsaraan di kehidupan dunia yang singkat ini. Kedua, dia mendapatkan keselamatan dari kefasikan, dosa-dosa dan penyakit-penyakit rohaniah yang menjauhkannya dari Tuhan. Maka, ‘hasanah’ di dunia ini, artinya, manusia senantiasa terjaga secara jasmaniah dan rohaniah, dari segala bencana, kehinaan dan kehidupan yang penuh dengan kekotoran dosa.”

“Kebaikan dunia ini adalah ketika seseorang dapat terhindar dari segala musibah, kehidupan yang kotor dan keburukan-keburukan, baik itu ruhani maupun jasmani. Dan begitu juga kehidupan akhirat. Jika kebaikan-kebaikan duniawi diberikan kepada seseorang, maka itu akan bermanfaat juga bagi dirinya di kehidupan akhirat nanti.”

Sabdanya lagi: “Api yang dimaksud tidak hanya api yang muncul setelah kiamat, bahkan orang yang telah berumur lama di dunia ini juga menyaksikan bahwa ribuan api yang ada di dunia ini juga. Pengalaman membuktikan bahwa di dunia ini banyak terdapat jenis api. Berbagai keadaan azab adalah ketakutan, darah (pembunuhan), keadaan sangat miskin, kelaparan, penyakit-penyakit, kegagalan dalam hidup, kehinaan dan di bawah penindasan orang, ribuan jenis kesedihan, kesusahan karena anak-anak dan istri serta kekisruhan berkaitan dengan kerabat. Perhatikanlah, itu semua adalah api, maka seorang mukmin perlu berdoa demikian, وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Selamatkanlah kami dari segala jenis api ini. [selamatkanlah kami dari segala hal yang menjadikan kehidupan menjadi pahit yang bagi manusia berkedudukan seperti neraka.]”[13]

Allah Ta’ala juga mengajarkan kita doa untuk memperoleh keteguhan ketika kita memperoleh kerugian dan mendapatkan cobaan serta ketika kita berhadapan dengan musuh. Selain itu, doa ini bertujuan juga untuk mendapatkan cinta dari Allah Ta’ala. Doa itu sebagai berikut, رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbuatan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami, dan teguhkanlah langkah-langkah kami dan tolonglah kami terhadap kaum kafir” (3:148) Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Jika Allah Ta’ala bukan Maha Pengampun atas dosa-dosa kita, Dia tidak akan mengajarkan doa ini kepada kita.”[14]

Ada sebuah doa di dalam Al Quran sebagai berikut, رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ “Rabbi Inni lima anzalta ilayya min khairin faqiir” Ya Tuhanku, saya sangat memerlukan kebaikan apa saja yang Engkau turunkan” (28:25) Doa ini harus dibaca secara teratur. Doa ini dan juga ada banyak doa lain dalam Al-Quran yang harus dibaca agar mendapatkan karunia dari Allah Ta’ala.

Sebagaimana yang saya katakan, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Allah Ta’ala telah menyebutkan doa-doa ini di dalam Al Quran dengan tujuan agar kita memanjatkan doa-doa tersebut secara dawam dan dengan penuh kerendahan hati agar Allah Ta’ala mengabulkannya.”

Kemudian, kita juga mempunyai doa-doa yang biasa dipanjatkan oleh Hadhrat Rasulullah saw dan doa-doa dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Masih Mau’ud bersabda mengenai salah satu doa, “Doa berikut ini telah diwahyukan oleh Allah Ta’ala kepada saya. Allah Ta’ala mengajarkan saya doa ini: ” ربّ كل شيء خادمك، ربّ فاحفظني وانصرني وارحمني‘Rabbi kullu syai-in khaadimuka, Rabbi fahfazhni, wanshurni, warhamni’ – ‘Tuhanku, segalanya adalah pelayan Engkau. Tuhanku, jagalah aku, tolonglah aku dan kasihilah aku.’ Allah Ta’ala telah menanamkan doa ini kedalam hati saya bahwa ini ism a’zham (kata-kata agung) dan kalimat yang jika siapa saja mendoa ini akan dijauhkan dari segala bentuk kecelakaan.”[15]

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada Jemaat secara keseluruhan dan kepada setiap orang agar terhindar dari segala bentuk keburukan dan semoga segala upaya-upaya dari para penentang Jemaat berbalik kepada mereka sendiri. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi umat Muslim kebijaksanaan dan kearifan sehingga mereka dapat mendengar seruan dari seseorang yang diutus oleh Allah Ta’ala dan kemudian mampu mendirikan serta menyebarkan ajaran Islam yang sesungguhnya ke seluruh penjuru dunia dalam keadaan menjadi satu umat.

Saya akan mengimami shalat jenazah setelah shalat Jumat untuk tiga almarhum. Pertama adalah Tn. Evon Bernan dari Belize, yang baru saja meninggal pada usia 49 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Beliau Ahmadi pertama di Belize, dan menjabat sebagai sekretaris Tabligh. Beliau menghadiri Jalsah Salanah di Inggris pada tahun 2014. Beliau Ahmadi yang setia, tulus dan sangat antusias. Meskibun baru berbaiat beberapa waktu yang lalu, tapi beliau mempunyai ketulusan dan loyalitas yang luar biasa serta mengikatkan diri dengan Jemaat hingga banyak Ahmadi lainnya yang sudah lama pun tidak memiliki kualitas ini. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat beliau dan memberi Jemaat dengan lebih banyak lagi orang-orang yang setia. [آمين Aamiin]

Jenazah kedua ialah Tn. Sayyid Nadir Sayyidain, penanggung jawab lembaga “Pengkhidmatan Penolong Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan” di Rabwah. Beliau  putra Tn. Sayyid Ghulam Sayyidain. Beliau telah meninggal di rumah sakit, “BMZ” di Islamabad pada 23 Juli 2016 di usia 55 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون

Nenek Almarhum berbaiat pada tahun 1905 melalui surat kepada Hadhdrat Masih Mau’ud as namun keluarga beliau lainnya tidak baiat. Tn. Sayyid Nadir Sayyidain mengambil baiat pada tahun 1982 setelah penelitian dan investigasi, dan kemudian mengambil gelar sarjana di universitas Karachi. Setelah tinggal beberapa tahun di Karachi, kemudian pindah pada tahun 1989 ke Islamabad, di mana dikaruniai berbagai dalam Majlis Khuddamul Ahmadiyah di tingkat provinsi, sebagai Mu’tamad tingkat provinsi, penanggung jawab bidang Khidmat Khalq, dikaruniai tanggungjawab bidang pembentukan tenda-tenda medis (medical camp, tenda pengobatan) di beberapa tempat juga menjabat sebagai seorang pengurus bidang penulisan di Majlis Khuddamul Ahmadiyah di provinsi Islamabad.

Pada tahun 1999 beliau pindah ke Rabwah, dan kemudian mewakafkan hidupnya pada tahun 2000, dan bertanggung jawab atas “Pengkhidmatan Penolong Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan” seperti yang telah saya sebutkan, juga bertanggung jawab untuk kompleks olahraga. Beliau sangat terampil dalam judo dan seni bela diri, dan terkenal di tingkat dunia dalam seni bela diri. Beliau mewakili Pakistan juga di negara lain. Beliau melatih para Khuddam dan anak-anak di Rabwah dalam seni bela diri juga.

Beliau mempunyai ikatan kuat dengan Khilafat dan mengkhidmati Jemaat dengan setia dan tulus. Beliau tipikal sederhana ditandai oleh wajah menyenangkan. Tidak peduli seberapa sakit atau dalam kesulitan yang beliau hadapi, beliau tidak kehilangan memberikan senyum dan kebahagiaan. Kita berdoa kepada Allah Ta’ala untuk memperlakukannya di akhirat juga yang menjadi sarana kebahagiaan padanya dan dalam keturunannya juga. Beliau seorang Mushi, dengan karunia Allah dan dimakamkan di Rabwah. Beliau meninggalkan seorang istri, tiga anak perempuan dan tiga anak laki-laki. Orang tuanya juga masih hidup. Salah seorang putranya menghapal Al-Quran di Madrasatut Tahfizh. Semoga Allah Ta’ala meningkatkan derajat-derajat beliau. [آمين Aamiin]

Jenazah ketiga adalah Tn. Nazir Ahmad Ayaz, ketua Jemaat New York di Amerika, yang meninggal pada 3 Juli 2016 pada usia 69 tahun. Akulah Allah dan kepada-Nya kita kembali. Almarhum lahir di Tanzania pada 23 Mei 1947 dan datang ke New York pada tahun 1977 dan mulai berpartisipasi dalam pekerjaan Jemaat, dan menjabat sebagai sekretaris keuangan dan kemudian sebagai ketua Jemaat New York selama 35 tahun.

Beliau pergi bersama dengan para Muballigh ke shalat center yang berbeda setiap bulan, dan berusaha untuk memenuhi setiap panggilan untuk pengorbanan keuangan. Beliau biasa mengarahkan anggota Jemaatnya melalui email dan surat kearah pengorbanan keuangan, dan melakukan pengkhidmatan dengan rasa bahagia dan tanggung jawab. Beliau juga mendidik orang-orang muda pada umumnya. Kadang-kadang para pengurus tidak mendidik generasi penerusnya tetapi beliau memiliki keistimewaan ini lalu mendidik orang-orang muda yang luar biasa untuk maju dalam mengkhidmati Jemaat.

Almarhum telah mengorganisir kegiatan olahraga di lingkungan masjid atau di shalat center agar para pemuda dan pemudi Jemaat tertarik ke shalat center. Perlu juga ada olahraga dan program lainnya sehingga orang-orang muda di masa kini tetap menuju ke masjid dan menyelamatkan diri dari kesia-siaan. Secara tetap, Almarhum mengadakan kelas Ta’lim untuk pria dan wanita dewasa setiap hari Sabtu. Sekarang dikenal sebagai Akademi Tahir. Beliau membersihkan pusat shalat sendiri bila diperlukan dan memindahkan sampah ke kontainer sampah meski posisi beliau ialah ketua. Beliau rajin dalam shalat, ikut nizham al-Washiyat dan dimakamkan di pemakaman para Mushi.

Beliau mempunyai seorang istri dan anak gadis yang dinamai Asma Ayaz. Semoga Allah mengampuni Almarhum dan mengasihinya dan meningkatkan derajat-derajat beliau. [آمين Aamiin]

Hadhrat Khalifah IV rha bersabda kepadanya suatu kali: “Anda seorang Ketua yang bisa jadi teladan di Jemaat Amerika, dan saya berdoa kepada Allah untuk selalu menjadi teladan.” Semoga Allah memperbanyak orang semacam beliau. Beliau diberi taufik berkhidmat sebagai ketua yang mukhlish bagi Jemaat. Amir dan Naib Amir Jemaat Amerika juga menulis bahwa beliau berkhidmat dengan kerendahan hati dan lebih unggul daripada orang lain dalam hal administrasi. Almarhum bekerja dengan orang lain seperti sama-sama karyawan dan bukan sebagai supervisor (atasan). Allah mengangkat nilai dan semua orang akan memaafkan mereka. Aku akan berdoa untuk mereka setelah shalat Jumat, seperti yang saya katakan. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat semua almarhum dan mengampuni mereka. Saya hendak mengimami shalat bagi mereka setelah shalat Jumat, seperti telah saya katakan.

[1] Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi, juz 9, h. 104, Kitab perjalanan, bab biarkan orang yang tidak terlibat perang yaitu para biarawan, orang tua dll, nomor 18666, Maktabah ar-Rusyd Nasyiruun, Edisi 2004. Tercantum dalam Syarh Ma’ani al-Atsar

[2] Sunan Abi Daud, Kitab tentang Jihad, no. 2669 dan Sunan Ibni Majah, Kitab jihad, no. 2842

[3] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Iman. Bab ith’amuth tha’aam  minal Islam, no. 12.

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw:  ‘Bagaimanakah Islam yang paling baik?’ Nabi saw menjawab: تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ  ‘Memberi makan kepada orang-orang, mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.'”

[4] Lecture Ludhiana, Ruhani Khazain jilid 20, h. 281

[5] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang doa-doa, bab tentang doa-doa Nabi saw

[6] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang doa-doa; Mustadrak, al-Baihaqi

[7]Sunan at-Tirmidzi (Jami’ at Tirmidzi), Kitab tentang doa-doa, bab tentang keutamaan doa, no. 3370

[8] Kanzul ‘Ummal fii sunanil aqwaali wal af’aali, kitaabiz zakaah bab as sakha’I wash shadaqah, penerbit Darul Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut (Lebanon), 2004. Sabda-sabda Nabi Muhammad saw dalam kitab tersebut: تصدقوا فإن الصدقة فكاككم من النار
 “Bersedekahlah. Sedekah menghalangimu dari api neraka.” (no. 15979); تسد الصدقة سبعين بابا من السوء “Sedekah menutup 70 pintu keburukan.” (no. 15980); الصدقة تمنع ميتة السوء “Sedekah menghalangi kematian yang buruk.” (no. 15981); الصدقة تمنع سبعين نوعا من أنواع البلاء أهونها الجذام والبرص “Sedekah menghalangi 70 jenis bencana yang terkecil ialah penyakit kusta dan lepra.” (no. 15982).

[9] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Zakat, bab tiap kebaikan adalah sedekah, 6022; Kitab tentang Adab, bab , no. 6022; يَعْمَلُ بِيَدِهِ ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ ،يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ ، فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ ، وَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ “ ‘[Dia harus bekerja dengan tangannya sendiri, memberi manfaat untuk dirinya sendiri lalu bersedekah, jika tidak bisa ia membantu orang tertindas yang memerlukan pertolongan; jika tidak bisa, ia mengamalkan perbuatan baik; jika tidak bisa, ia menahan diri dari keburukan, dan itu menjadi sedekah bagi dirinya sendiri]

[10] Malfuzhat jilid 5, h. 81-82, edisi 1985, terbitan UK

[11] Malfuzhat jilid 5, h. 67-70, edisi 1985, terbitan UK

[12] Malfuzhat jilid 5, h. 67-70, edisi 1985, terbitan UK

[13] Malfuzhat, jilid 3, halaman 145, edisi 2003, Mathbu’ah Rabwah

[14] Casymah Ma’rifat, Ruhani Khazain jilid 23, h. 25

[15] Malfuzhat, jilid 4, halaman 264, edisi 1985, terbitan UK