Khotbah Jumat

Nabi Muhammad saw: Rahmat Bagi Semesta Alam

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

16 Desember 2016 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Kita pada hari-hari ini melewati bulan Rabi-ul Awal menurut kalender Islami. Di dunia Islam, terutama umat Islam di Pakistan-India, bulan ini adalah sangat penting. Sebab, pada hari ke-12 bulan Rabiul Awal [bertepatan dengan 20 Agustus 570], di sana dirayakan kelahiran Nabi Muhammad saw dengan penuh semangat. Menurut salah satu penelitian – Hadhrat Shahibzadah Mirza Bashir Ahmad ra telah menulis dalam bukunya ‘Sirat Khatamun Nabiyyin’ bahwa menurut seorang ilmuwan Mesir (Mahmud Pasha), tanggal lahir Rasulullah saw adalah hari ke-9 bulan Rabi-ul Awal [bertepatan dengan 20 April 571]. Yang mana pun yang benar, dalam bulan Rabi’ul Awwal ini Pemimpin dan Junjungan yang kita taati, Muhammad Rasul Allah saw lahir ke dunia ini. Namun, alangkah disayangkannya umat Islam saat ini yang gembira memperingati hari ini untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad saw yang merupakan dermawan kemanusiaan dan rahmat bagi seluruh alam, tetapi dalam kenyataannya mereka adalah perwujudan dari قُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ  “hati mereka terpecah belah” (Surah Al-Hasyr, 59:15) padahal tentang hubungan diantara kaum Muslim mereka sendiri, Allah menjelaskan keistimewaan mereka رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ “lembut diantara mereka sendiri.” (Surah al-Ahzab, 48:30). Namun, mereka bukannya bersikap saling menyayangi satu dengan yang lain malahan haus darah untuk membunuh satu sama lain.

Setiap hari berita datang bahwa ratusan orang Muslim dibunuh oleh Muslim lainnya. Ini adalah hal yang sangat dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad) saw. Jika mereka itu memang berbuat kekejaman, hendaknya atas nama diri mereka sendiri, mereka melakukannya. Tapi, mereka melakukan itu semua atas nama Allah dan Rasul-Nya.  Muslim membunuh Muslim yang lain atas nama Allah dan Rasul-Nya. Dengan menyebut nama Allah Yang merupakan Rabbul ‘alamin (Tuhan alam semesta), ar-Rahmaan (Yang Maha Pemurah) dan ar-Rahiim (Maha Penyayang) dan atas nama Rasul yang merupakan rahmat bagi seluruh alam. Atas nama Allah dan Rasul-Nya mereka menyodorkan contoh buruk kekejaman dan kebrutalan dengan membunuh orang-orang yang diduduki daerahnya, merebut miliknya, mengusir keluar para wanita malang dan anak-anak tak berdosa dari rumah mereka, menyebabkan penderitaan kelaparan dan ketidaktersediaan pakaian atas mereka serta mengambil kehidupan mereka.

Alhasil, semua hal itu dengan lancang dan tanpa rasa malu itu mereka lakukan itu dalam nama Allah dan Rasul-Nya padahal Allah berfirman, “Membunuh seseorang secara sengaja akan membawa Anda ke neraka. Dengan membunuh orang yang tidak bersalah, Anda tidak bisa lari dari api neraka.” Namun, mereka yang menyebut diri para pembela agama itu dan para pemimpin yang hanya mementingkan diri sendiri ini melemparkan orang-orang yang berpikiran sederhana dari kalangan Muslim kedalam api neraka dengan memikat mereka akan surga agar melakukan perbuatan-perbuatan tersebut.

Mereka telah mencemarkan dan memfitnah nama baik Islam sedemikian rupa sehingga sekarang hal pertama yang para kaum non-Muslim dengan cepat pikirkan ketika mereka mendengar atau menyebut ‘Islam’ ialah mengasosiasikan Islam dengan kekejaman dan kebuasan. Tetapi, ada satu hal yang membuat para ulama Muslim dan mereka yang disebut pemimpin Muslim untuk bersepakat bersama-sama dan menunjukkan persatuan – yaitu pada sesuatu hal yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Nabi Muhammad saw bersabda: “Ketika umat Islam berada dalam keadaan ‘hati mereka terpecah-belah’ (terpecah-belah dan melawan satu sama lain), mereka akan memancung leher satu sama lain, mereka akan pergi kepada yang mereka sebut sebagai ulama untuk dibimbing karena mereka pikir para ulama itu mempunya petunjuk. Namun, para ulama mereka juga akan berada dalam kondisi yang sama atau bahkan lebih buruk daripada orang Muslim biasa.”

Nabi Muhammad saw telah bersabda, عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ  ‘Ulamaa-uhum syarru man tahta adiimis samaa-i.’ “Para ulama mereka akan menjadi orang-orang terburuk di bawah kolong langit.”[1]  Mengapa? Karena مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةِ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ ‘Min ‘indihim takhrujul fitnah wa fiihim ta’uudu.’ – “Dari mereka akan diciptakan kekacauan atau perselisihan akan datang dari mereka dan beralih balik lagi ke mereka.” Ini adalah apa yang kita lihat pada ulama-ulama saat ini yang bukannya memadamkan api, malah jusru menyalakan dan mengobarkannya. Nabi Muhammad saw bersabda menggambarkan situasi yang demikian dan bersabda bahwa orang-orang Muslim yang benar-benar peduli tentang Islam tidak boleh putus asa. Sebab, Hadhrat Rasulullah saw menubuatkan bahwa Al-Masih yang dijanjikan dan Al-Mahdi yang ditunggu akan tiba pada saat itu. Ia yang penuh ketaatan terhadap pemimpin dan majikannya yaitu Nabi Muhammad saw, akan memberitahukan kepada kaum Muslim dan non-Muslim tentang ajaran Islam yang benar dan sejati. Dia akan menerangi dunia dengan ajaran-ajaran Islam yang cemerlang dan murni. Dengan cara ini ia akan menjadikan kaum Muslim sebagai ummatan wahidah (Satu Umat). Namun, seperti yang telah saya katakana, justru inilah hal yang ditolak oleh para Ulama. Mereka melakukan kekacauan dengan membangkitkan amarah kaum Muslim dengan kebohongan-kebohongan mereka yang tak berdasar dan dusta. Mereka memainkan emosi masyarakat dan memberitahukan mereka dengan hal-hal yang sesungguhnya tidak ada guna menciptakan suasana rusuh.

Setiap Muslim berkeyakinan bahwa Nabi Muhammad saw adalah Khatamun Nabiyyiin, dan bahwasanya Syariat telah selesai pada diri beliau.  Tidak ada Muslim yang dapat dianggap sebagai Muslim tanpa menerima bahwa beliau saw adalah Khatamun Nabiyyiin. Tapi ulama-ulama itu memancing amarah umat Islam kepada Jemaat Ahmadiyah dengan kebohongan bahwa Ahmadiyah tidak percaya pada akidah ‘Khatamun Nubuwwah’ (finalitas kenabian).  Akan hal ini kita hanya dapat menunjukkan kekecewaan kita. Tidak ada yang dapat kita katakana kecuali, “لعنة الله على الكاذبين” “Kutukan Allah bagi para pembohong”. Seseorang yang disebut Ahmadi lalu tidak percaya Nabi Muhammad sebagai Khatamun Nabiyyiin, ia adalah orang yang Faasiq (rusak), faajir (pendosa), keluar dari wilayah Islam dan Jemaat Ahmadiyah tidak memiliki hubungan dengan orang semacam ini. Namun demikian, memang benar bahwa Ahmadiyah mendefinisikan Khatamun Nabiyyiin “Kenabian Terakhir” seperti yang ditafsirkan oleh Nabi Muhammad saw sendiri dan juga oleh Al-Quran, yaitu tidak ada Nabi yang dapat datang di luar Syariat Nabi Muhammad saw dan tanpa mengikuti beliau saw.

Satu waktu Nabi Muhammad saw bersabda, أبو بكر أفضل هذه الأمة إلا أن يكون نبيا ‘Abu Bakrin afdhalu haadzihil ummati illa ay yakuuna nabiyya.’ – “Abu Bakar adalah orang yang terbaik dari umatku sampai seorang Nabi datang.”[2] Ini berarti bahwa beliau saw tidak menutup pintu kenabian. Kalimat itu berarti bahwa tidak ada seorang Nabi yang bisa datang di luar lingkup kalangan Nabi Muhammad saw, dan tidak akan ada Syariat baru yang bisa datang. Dan jika kita mengimani Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian sebagai Nabi dalam keadaan beliau sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi, maka kita mengimaninya mengingat beliau as sebagai bawahan sempurna (pengikut sejati) dari Nabi Muhammad saw. Ini persis merupakan keyakinan para ulama (orang bijak) umat Muslim zaman dahulu juga. Sebagaimana Shah Waliullah ad-Dahlawi mengatakan dalam bukunya التفهيمات الإلهية Tafhimaat-e-Ilahiya, وخُتم به النبييون..أي لا يوجد من يأمره الله سبحانه بالتشريع على الناس. إنما مراده بأنه لن يأتي نبي بشرع جديد ولكن يمكن أن يأتي من دونه “Sabda beliau saw (Nabi Muhammad saw) yang menyebutkan bahwa kenabian ditutup pada beliau artinya tidak akan ada seorang pun yang ditugasi oleh Allah untuk membawa Syariat bagi umat manusia. Tidak akan ada Nabi yang membawa Syariat baru. Namun Nabi yang bukan pembawa Syariat masih mungkin untuk bisa datang.”[3]

Demikian pula, Hadhrat Aisyah ra berkata, قُولُوا : ” خَاتَمُ النَّبِيِّينَ , وَلا تَقُولُوا : لا نَبِيَّ بَعْدَهُ  ‘Quuluu khaatamun nabiyyiina wa laa taquuluu laa nabiyya ba’dahu.’  “Katakanlah bahwa beliau saw (Nabi Muhammad saw) adalah khatam para nabi tetapi janganlah mengatakan tidak akan pernah ada Nabi setelah beliau.”[4] Jadi, jika kita memberikan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dengan status Nabi maka ialah sebagai berkat ketaatan penuh beliau as kepada Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, para ulama yang terus menghasut umat Islam terhadap masalah sensitif ini dengan mengatakan, “Para Ahmadi, (mereka menyebut kita sebagai Qadiani) mengimani Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian sebagai Nabi”, pembicaraan mereka ini tidak lebih dari sekadar untuk memancing perselisihan.

Pemerintah Pakistan sangat bangga mengatakan telah berhasil memecahkan “masalah” (Jemaat Ahmadiyah) yang berusia 90 tahun (Pada saat keputusan Majelis Nasional itu, Jemaat berusia 90 tahun tetapi kini berusia 125 tahun). Akan hal ini, para ulama dan pejabat pemerintah Pakistan terus manghasut dan membakar emosi umat Islam. Faktanya, ini adalah sesuatu yang telah dinubuatkan oleh Nabi Muhammad saw.

Dan orang orang Muslim biasa ini, bukannya hanya mendengarkan saja apa yang disebut sebagai ulama mereka, harusnya menganalisis bagaimana situasi saat ini membutuhkan seorang pembaharu dan membuat umat Muslim menjadi “Umat yang Satu.” Tentunya di masa dan era ini, Allah telah memenuhi janji-Nya dan nubuatan Nabi Muhammad saw telah juga terpenuhi. Namun ulama-ulama ini tidak akan menerima karena kampanye kebencian ini memberi mereka kenyamanan keuangan.

Mereka akan terus mengipaskan dan membangkitkan amarah kaum Muslim terhadap kaum Ahmadi. Terlebih lagi, undang-undang di Pakistan telah memberikan mereka keleluasaan. Oleh karenanya, sewaktu-waktu mereka terus memuaskan nafsu dalam perilaku kejam terhadap para Ahmadi yang mencakup prosesi kekerasan dan kutukan terhadap para Ahmadi. Maka, Mubarak [selamat! Sindiran sarkas] bagi mereka yang disebut ulama yang memiliki perilaku tidak bermoral dan memalukan seperti itu. Para Ahmadi tidak bisa bersaing dengan mereka dalam hal ini.

Empat hari lalu, sesuai dengan 12 Rabi-ul Awal dan atas nama kehormatan Nabi Muhammad saw dan membela Khatamun Nubuwwah, Para Mullah (ulama) Pakistan dan para bandit menyelenggarakan sebuah pertemuan di Dulmial – sebuah kota di Pakistan. Lalu, mereka menyerang masjid kita. Para Ahmadi yang berada di dalam masjid, tidak mengizinkan mereka masuk dan menutup pintu-pintu masjid. Pintu-pintu ini menghalangi orang orang tersebut untuk memasuki masjid. Namun setelah adanya jaminan keselamatan Masjid dari kepolisian, mereka membuka pintu.

Ketika mereka membuka pintu masjidnya, para penghasut itu masuk dan membanjiri masjid setelah polisi memberi mereka ruang. Mereka melemparkan keluar barang-barang yang ada di dalam masjid dan membakarnya. Dengan cara ini mereka menganggap bahwa mereka melakukan layanan terbaik bagi Islam. Namun, kita tidak peduli tentang barang-barang duniawi. Memang, itu merupakan sebuah kerugian – tetapi kerugian yang tidak berarti. Sejauh menyangkut keimanan kita yang mencakup keimanan dan menghormati Nabi Muhammad saw dan Tauhid, untuk itu kita siap untuk mengorbankan hidup kita. Kita memang selalu mengatakan dan juga telah berkorban untuk hal itu, dimana kita tidak akan tidak akan memalingkan diri dari pernyataan, لا إله إلا الله محمد رسول الله “Tidak ada Tuhan selain Allah, Muhammad Rasul Allah.”

 Mereka yang berkumpul untuk merayakan Maulidun Nabi saw (kelahiran Nabi Muhammad saw) hanya merayakan secara dangkal saja dan berkerumun secara lahiriah saja. Sebagian besar isi pidato dan penceramah di Pakistan memberikan pidato cacian menentang Ahmadiyah. Untuk saat ini mereka membiarkan frustrasi mereka keluar dengan mengucapkan pernyataan-pernyataan buruk yang memuakkan dan berpikiran telah melayani Islam dengan baik. Tapi para Ahmadi-lah yang melakukan tugas nyata melayani Islam sejak awal ketika Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan untuk menghidupkan kembali Islam. Beliau as bersabda, “Allah telah memilihku untuk mengimplementasikan Tauhid Allah dan untuk membangun pemuliaan terhadap Nabi Muhammad saw. Kebangkitan Islam akan berlangsung melalui diriku.”

Kemudian, para Ahmadi mengambil tugas melayani Islam ketika selama Khilafat kedua beberapa penulis non Muslim mulai menerbitkan buku dan tulisan yang sangat menghina Nabi Muhammad saw. Pada saat itu, Hadhrat Khalifatul Masih II ra memprakarsai kampanye mengadakan konferensi tentang kehidupan Nabi Muhammad saw di berbagai pelosok India dalam jangkauan yang luas. Beliau ra mengundang umat Muslim baik Ahmadi maupun non Ahmadi dari berbagai aliran untuk sama-sama menulis dan berpidato tentang kehidupan Nabi Muhammad saw. Beliau mengatakan bahwa sekarang adalah waktunya untuk melepaskan perbedaan dan berkumpul serta membela kehormatan Nabi Muhammad saw dan Islam. Beliau ra memulai kampanye ini pada skala besar. Beliau bahkan mengundang para pimpinan non Muslim untuk menulis tentang kehidupan dan karakter Rasulullah saw.

Tidak ragu lagi, akidah setiap Muslim untuk percaya penuh kepada Nabi Muhammad saw dan membela kehormatan beliau saw. Tapi seperti yang Hadhrat Khalifatul Masih II ra katakan bahwa kasih sayang Rasulullah saw ditujukan untuk seluruh dunia dan beliau adalah rahmat bagi seluruh umat manusia. Oleh karena itu, orang-orang mulia yang berkedudukan tinggi dari kalangan non-Muslim juga perlu menghadiri konferensi ini dan memberikan pidato telaah tentang karakter dan riwayat hidup beliau isaw. Oleh karena itu, banyak orang non Muslim, seperti orang Hindu yang berpendidikan tinggi juga membacakan esai mereka tentang kehidupan dan karakter Nabi Muhammad saw.

Pada konvensi pertama jenis ini yang diadakan di Qadian pada tahun 1928, dua Qashidah dalam menghormati Nabi Muhammad saw dilantunkan oleh dua orang Hindu juga. Di seluruh India, konferensi Siratun Nabi Muhammad saw diadakan dari satu pelosok ke pelosok lain sebagai hasil dari Dakwah Hadhrat Khalifatul Masih II ra. Meskipun ada beberapa non Ahmadi dan ulamanya yang menentang upaya ini karena ada perbedaan teologis. Namun, banyak juga dari mereka termasuk ulama mereka membantu dalam membuat upaya ini berhasil. Banyak surat kabar meliput konvensi-konvensi tersebut dan menerbitkan beritanya.

Sebuah surat kabar dengan nama Mashriq diterbitkan dari Gorakhpur pada edisi tanggal 21 Juni 1928 menulis, “Tanggal ini akan selalu dipelihara dalam sejarah India selamanya. Pada tanggal ini, saat itu semua golongan Muslim menjelaskan kebagusan Junjungan kita yang mulia, pemimpin kedua dunia yaitu Muhammad RasuluLlah saw dalam satu atau lain cara. Setiap penduduk kota mencoba untuk mengalahkan kota-kota lain dalam upaya ini. Meskipun beberapa pihak menerbitkan poster dan menyampaikan pidato menentang konvensi tersebut dan mengirimkan pada kita artikel mereka yang sangat tidak bijaksana untuk menentang konvensi tersebut. (Selalu ada orang-orang seperti ini yang suka menentang). Mereka tidak mengetahui keyakinan kami. Keyakinan kami adalah bahwa setiap orang yang percaya لا إله إلا الله محمد رسول الله ‘tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasul Allah’, maka mereka telah terselamatkan.”

Suratkabar tersebut selanjutnya menulis, “Setelah keberhasilan Muktamar tanggal 17 Juni tersebut, kami mengucapkan selamat kepada kepada Imam Jemaat Muslim Ahmadiyah, Janab Mirza Mahmud Ahmad. Jika Syiah, Sunni, dan Ahmadi bisa berkumpul bersama tiga atau empat kali dalam setahun untuk mengadakan konvensi-konvensi yang demikian, maka tidak ada kekuatan yang dapat bersaing dengan umat Islam di negeri ini (India dsk).”

Tulisan berbahasa Bengali yang diterbitkan di Kalkuta, ‘Sultan’, menulis pada edisi tanggal 21 Juni, “Jemaat Ahmadiyah melangsungkan konvensi-konvensi secara Nasional di India dalam rangka menjelaskan riwayat hidup Nabi Muhammad saw. Kami telah menerima kabar bahwa hampir semua konvensi di tiap tempat itu dilaksanakan dengan sukses. Ini adalah fakta bahwa di daerah ini Ahmadiyah memiliki sukses luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Jemaat Ahmadiyah mengalami kemajuan dari hari ke hari dan memenangkan hati rakyat. Kami juga mengakui keberhasilan mereka dan antisipatif atas prestasi dan pencapaian mereka.”

Jadi inilah yang ditulis oleh orang-orang dan suratkabar-suratkabar non-Ahmadi dan ini adalah bagaimana mereka mengambil keputusan soal kehormatan Nabi Muhammad saw. Jemaat Ahmadiyah tidak memerlukan pujian dari siapa pun. Hadhrat Khalifatul Masih II ra membuat upaya ini supaya mereka yang memusuhi Islam dan mengejek Nabi Muhammad saw dapat merasakan kedudukan agung beliau saw. Selain itu, beliau ra melakukannya supaya mereka tahu bahwa semua Muslim adalah bersama-sama bersatu jika mengenai kehormatan Nabi Muhammad saw.

Di Qadian, beberapa orang Hindu menyampaikan pidato yang mengagumi Nabi Muhammad saw. Setelah itu, suratkabar Ahmadiyah ‘Alfazl’ menerbitkan Edisi Khatamul Nabiyyeen saw sesuai dengan konvensi. Sejak saat itu, Jemaat Ahmadiyah telah mengadakan konferensi-konferensi tersebut setiap tahun secara teratur. Termasuk skema dari Hadhrat Khalifatul Masih II ra untuk menyelenggarakan Jalsah Siratun Nabi saw (membahas kehidupan dan karakter Rasulullah saw ) sepanjang tahun di waktu-waktu yang berbeda tidak hanya pada 12 Rabiul Awal saja.

Ringkasnya, inilah sejarah Jemaat yang menyelenggarakan konferensi-konferensi tersebut. Dimana pun Jemaat kita didirikan, konferensi seperti itu diadakan. Insya Allah, hanya para Ahmadi-lah yang dan (akan selalu tetap) merupakan orang-orang yang memahami maqam (status yang sebenarnya) Khatamun Nabiyyiin dari Nabi Muhammad saw. Mereka tidak akan lelah menerangi dunia tentang kedudukan luhur yang sebenarnya Nabi Muhammad saw. Hal ini karena Imam Zaman ini, Hadhrat Masih Mau’ud yang juga merupakan Imam Mahdi ‘alaihis salaam telah mengabarkan, “Jika Anda ingin mencapai Allah maka Anda harus berpegang teguh pada ajaran Nabi Muhammad saw. Karena sekarang hanya beliau-lah sarana dan jalan menuju penyelamatan. Tidak ada jalan lain.” Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan, “Rasulullah saw adalah segalanya, apalah artinya saya.”

Faktanya, Hadhrat Masih Mau’ud as tidak pernah memandang diri beliau as lebih baik daripada Hadhrat Rasulullah saw. Beliau selalu menganggap dirinya adalah bawahan Nabi Muhammad saw. Bahkan, beliau as selalu menerangkan keutamaan-keutamaan Nabi Muhammad saw.

Menanggapi kesalahan pemahaman orang-orang yang menuduh kita tidak menganggap Nabi Muhammad saw adalah خاتم النبيين (Penghulu para Nabi), beliau bersabda, “Anda harus ingat bahwa kritik pada Jemaat saya dan saya sendiri bahwa kami tidak menganggap Nabi Muhammad saw sebagai Khatamun Nabiyin adalah tuduhan yang sungguh tidak benar. Kami percaya dan meyakini finalitas Kenabian Nabi Muhammad saw dengan keyakinan, persepsi dan keakuratan yang sedemikian kuat yang bahkan orang-orang selain kami tidak mencapai 1/100.000 bagian darinya. Mereka bahkan tidak memiliki keberanian yang demikian untuk memahami realitas dan rahasia yanga terkandung dalam makna finalitas Kenabian dari sang Khatamun Nabiyyiin (Nabi Muhammad saw).

Mereka hanya mendengar istilah dari nenek moyang mereka tetapi tidak menyadari kenyataannya. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya dimaksud dengan Finalitas Kenabian (Khatamun Nubuwwah) dan apa pengertian beriman kepada beliau saw. Namun, kami mengimani bahwa Nabi Muhammad saw adalah Khatamun Nabiyyiin dengan ketepatan pandangan (hal mana diajarkan oleh Allah Ta’ala). Dan Allah telah mengungkapkan pada kita mengenai realitas sesungguhnya atas Khatamun Nabiyyiin sehingga mata air pemahaman yang menyeluruh diminumkan untuk konsumsi kita, sehingga kita mendapatkan perasaan suka cita yang unik. Tidak ada yang bisa punya pemikiran tentang hal itu kecuali bagi mereka yang diairi oleh mata air ini.”

Jadi mereka yang menganggap diri mereka sendiri sebagai orang-orang yang tidak beriman terhadap Khataman Nabiyyin, mereka adalah buta dan hati mereka tuli. Mereka tidak memiliki apa-apa selain slogan kosong belaka, hasutan, kerusakan, kekacauan dan kehancuran. Belum cukupkah bahwa pesan Islam yang disebarkan Jemaat Ahmadiyah di dunia itu sebagai bukti yang jelas bahwa jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as merupakan satu-satunya Jemaat yang mendapatkan bagian dari doa-doa Nabi Muhammad saw yang beliau mohonkan untuk umat beliau saw?

Tentang hakikat finalitas kenabian (Khataman Nabiyyin), Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Allah Ta’ala telah menganugerahi kita dengan Nabi yang merupakan خاتم المؤمنين (yang terbaik dari orang-orang beriman), خاتم العارفين (yang terbaik dari semua orang arif berpengetahuan) dan خاتم النبيين (Penghulu para Nabi). Demikian pula, kitab yang diturunkan kepada beliau merupakan cakupan komprehensif dan yang terbaik dari semua kitab (jami’ul kutub dan khatamul kutub).  Jadi, kenabian termateraikan pada Nabi Muhammad saw yang merupakan خاتم النبيين (Penghulu para Nabi). Tapi, itu tidak berakhir seperti halnya seseorang dihabisi dengan mencekik tenggorokannya. Akhir yang demikian tidaklah layak dibanggakan. Makna Khatamun Nubuwwah pada Nabi Muhammad saw artinya bahwa sifat-sifat kesempurnaan kenabian secara alami berakhir pada beliau. Berbagai mukjizat yang secara individual diberikan pada para nabi dari Adam as sampai Nabi Isa (Yesus) putra Maryam as semua terkumpul dalam pribadi Nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, Nabi Muhammad saw secara alami menjadi layak atas gelar Khataman Nabiyyin. Begitu juga, bahwa kumpulan ajaran, bimbingan dan pengetahuan yang ditemukan dalam kitab-kitab sebelumnya berakhir dengan diwahyukannya Al-Quran. Ini adalah bagaimana Al-Quran kemudian menjadi خاتم الكتب khatamul kutub (yang terbaik dari semua Kitab).”

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentang martabat dan status Nabi saw, yang merupakan Nabi yang hidup abadi adalah Muhammad RasuluLlah saw saja, “Apakah ada nabi dariantara orang-orang Yahudi dari Bani Israil atau diantara orang-orang Kristen yang menyebut Yesus sebagai Tuhan, yang dapat bersaing denganku dalam tanda-tanda ini? Saya katakan dengan keras tidak ada, tidak satu pun”. Ini adalah dalil terang benderang atas kemampuan Rasul kita saw menampilkan mukjizat-mukjizat yang dimungkinkan terjadi karena arahan-arahan beliau. Karena ini adalah perkara yang dapat diterima bahwa mukjizat-mukjizat yang tampak dari seorang Nabi pengikut pada hakikatnya merupakan mukjizat nyata dari seorang Nabi yang diikuti. Mukjizat-mukjizat yang luar biasa dan tanda-tanda yang luar biasa dari nubuatan yang saya terima adalah dalam kenyataannya merupakan mukjizat hidup dari Nabi Muhammad saw. Saat ini, tidak ada pengikut dari Nabi lain yang memiliki keyakinan demikian sehingga ia secara terbuka dapat menunjukkan juga mampu menunjukkan tanda-tanda yang luar biasa karena kekuatan Ilahiyah Nabinya. Hanya Islam yang memiliki keyakinan seperti itu. Hal ini menjelaskan bahwa nabi abadi yang hidup hanyalah Muhammad RasuluLlah saw yang dengan keberkatan nafas murni beliau saw dan kekuatan kesucian beliau saw, di setiap zaman pasti ada hamba Allah Ta’ala yang menampilkan wajah Allah Ta’ala.”

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud as menulis menjelaskan martabat Nabi Muhammad, kerendahan hati beliau saw dan keharusan fana dalam menyintai beliau saw agar meraih kasih sayang Allah,

“Menurut sebuah hadits, keselamatan tidak akan mungkin dapat diraih seseorang tanpa karunia Allah. Ini juga dijelaskan dalam Hadis [setelah sabda Nabi saw itu], Hadhrat Aisyah rha bertanya kepada Nabi saw, “وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ” ‘Wahai Rasul Allah, apakah tidak demikian bagi Anda juga?’ Nabi saw meletakkan tangannya di kepalanya dan berkata, “وَلا أَنَا” ‘Tidak juga bagi saya (Iya)’.”[5]

Ungkapan beliau saw ini adalah mutu atau nilai ‘ubudiyyat (penghambaan) beliau saw guna menyerap atribut Rabbubiyyat (sebagai pencipta dan pemelihara) Allah Ta’ala.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Kami juga telah berpengalaman, beberapa kali menganalisa dan selalu melihat bahwa setiap kali kondisi kerendahan hati dan kelemahlembutan mencapai puncaknya dan jiwa saya mencair dalam keadaan ‘ubudiyyat dan kerendahan hati sempurna dan sampai ke ambang pintu Allah Sang Penganugerah hadiah-hadiah, maka cahaya demi cahaya turun dari atas. Dan, itu tampak seolah-olah air murni melalui satu pipa ke pipa yang lain. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus, kondisi Nabi saw tampaknya telah mencapai puncak kerendahan hati dan lemah lembut. Maka, kita saksikan dalam sirah Nabi saw, jiwa beliau saat mencapai puncak kerendahan hati dan merendahkan diri dalam berbagai tempat dan kesempatan, kita mendapati beliau didukung dengan terang dan tercerahkan oleh dukungan Ruhul Qudus dan cahayanya senilai kerendahan hati dan merendahkan diri beliau saw. Hal demikian sebagaimana yang beliau saw tunjukkan dan teladankan dengan perbuatan beliau hingga wilayah jangkauan cahaya dan keberkatan beliau saw amat luas sampai-sampai kita lihat contoh-contoh dan bayangan-bayangannya bersinar terang hingga berabad-abad. Sesungguhnya setiap karunia dan aliran berkat Ilahiyah tersebut yang turun di zaman ini juga diraih berkat ketaatan dan mengikuti beliau saw.

Saya mengatakan dengan keyakinan dan kebenaran bahwa sampai seseorang memfanakan diri dalam ketaatan Nabi saw, suatu hal yang mustahil baginya untuk dapat menjalankan kebajikan sejati, benar-benar mencapai ridha Allah dan mendapatkan keuntungan dari nikmat-nikmat, berkat-berkat, makrifat-makrifat, hakikat-hakikat dan kasyaf-kasyaf, yang ditemukan setelah mencapai tingkat tertinggi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Hal inilah yang ditegaskan dalam firman Allah dalam firman-Nya, قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ  ‘Katakanlah, “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni kesalahanmu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”’ (03:32) Jadi, Allah menyuruh Nabi saw mengumumkan, ‘Jika engkau mengikutiku maka engkau akan meraih kecintaan-Nya.’”

Hadhrat Masih Mau’ud as kemudian menjelaskan tujuan turunnya Al-Qur’an,

“Saya telah menyebutkan beberapa kali sebelumnya, dan bahkan sekarang saya sebutkan faedahnya. Oleh karena itu, saya ingin katakana sekali lagi apa tujuan Allah mengirim para Nabi-Nya dan pada akhirnya ia mengirim Nabi Muhammad saw untuk bimbingan umat manusia dan Dia menurunkan Al-Quran?

Setiap orang yang melakukan sesuatu pasti memiliki alasan di balik itu. Pandangan bahwa tidak ada tujuan dalam munculnya Nabi Muhammad dan dalam turunnya wahyu Al-Qur’an adalah memalukan dan kebodohan yang besar. Karena hal itu mengaitkan tindakan sia-sia terhadap Allah Yang Maha Kudus, Maha Suci dan Maha Luhur. Dzat-Nya adalah Maha Kudus dan Kedudukan-Nya Maha Luhur.

Ketahuilah! Allah telah menginginkan dengan Dia turunkan wahyu Al-Qur’an dan munculkan Nabi saw bahwa Dia menunjukkan teladan megah Rahmat Agung di dunia ini sebagaimana firman-Nya, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ ‘Dan tidaklah Kami telah mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.’ (Surah Al-Anbiya, 21: 108) dan juga, Dia menggambarkan alasan di balik turunnya wahyu Al-Qur’an, هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ ‘…petunjuk bagi orang-orang bertakwa.’ (Surah Al-Baqarah, 2: 3). Ini adalah tujuan agung yang tidak memiliki persamaan yang ada.”

Kemudian, tentang kemuliaan luhur Al-Qur’an yang berisi semua keistimewaan berbagai Kitab yang beraneka ragam dan itu bukan cerita belaka tetapi ada tujuan di dalamnya yang seorang beriman beramal atas dasar itu, Hadhrat Masih Mau’ud as menulis,

“Sebagaimana semua keajaiban yang beraneka ragam yang terdapat dalam diri berbagai nabi dikumpulkan dalam Nabi Muhammad saw. Demikian pula, semua kebaikan dan keistimewaan yang ditemukan dalam berbagai buku dikumpulkan di dalam Alquran. Demikian pula semua keajaiban yang ditemukan di berbagai bangsa dikumpulkan dalam umat ini (umat Islam). Jadi Allah ingin kita menerima kebaikan dan keistimewaan tersebut. Kita juga harus tidak lupa bahwa sebgaimana Dia ingin kita untuk menjadi penerima keistimewaan agung ini, Dia juga memberikan kita dengan kemampuan-kemampuan yang sesuai dengan keistimewaan yang Dia berikan tersebut. Tanpa itu maka mustahil mendapatkan keistimewaan-keistimewaan tersebut dalam berbagai keadaan.

Perumpamaannya jika seseorang mengajak orang-orang lain ke rumahnya dalam perjamuan walimah, mau tak mau ia harus menyiapkan makanan sesuai dengan jumlah undangan. Juga penyediaan tempat bagi mereka. Tidak mungkin ia mengundang 1000 orang tetapi menyediakan tempat kecil untuk duduk. Tidak demikian! Melainkan, ia akan memperhitungkan jumlah mereka dan menyediakan akomodasi sesuai dengan itu. Demikian pula, sesungguhnya Kitab Allah juga sebuah Dhiyafat (pelayanan tamu) yang mana ia mengundang seluruh dunia untuk menginap di dalamnya. (pelayanan tamu dimaksud ialah dengan syariat untuk seluruh dunia). Tempat yang Allah sediakan untuk undangan perjamuan makan-minum itu ialah kemampuan-kemampuan manusia yang Dia telah berikan kepada anak-anak umat ini.” (Artinya, karunia-karunia dan kemempuan-kemampuan yang Allah ciptakan bagi manusia berfungsi sebagai tempat untuk duduk dalam perjamuan tersebut, maka tidak mungkin bahwa seseorang mengatakan tidak mampu mengamalkan perintah tertentu dari sekian perintah Al-Qur’an dengan alasan itu sangat sulit. Hal demikian karena Allah telah menganugerahi manusia kekuatan untuk mengamalkan perintah-perintah tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa kekuatan-kekuatan ini diberikan kepada Muslim hakiki dari kalangan umat yang teguh dalam imannya)

Tanpa kekuatan dan kemampuan, tidak mungkin pekerjaan dapat dilakukan. Jika Anda menjelaskan ajaran Alquran kepada lembu atau anjing atau hewan lain, mereka tidak akan dapat memahaminya. Hal itu karena mereka tidak memiliki kualitas seperti mereka yang dapat memahami ajarannya. Tapi kita telah diberikan kualitas tersebut yang dari itu dapat kita manfaatkan. Maka dari itu, hendaknya manusia tidak menganggap dirinya sebagai hewan dengan mengatakan tidak memiliki kekuatan untuk mengamalkan perintah Alquran. Allah telah memberikan kemampuan ini untuk Muslim sejati. Ini adalah tugas manusia untuk meningkatkan kemampuan mereka sehingga dapat memenuhi perintah Quran.”

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as memberi nasehat mengenai gairah semangat kecemburuan dalam membela kehormatan Nabi Muhammad saw merupakan ibadah terbesar di masa ini:

“Hal ini penting bagi seorang Muslim bahwa ia mengambil bagian dalam menangkis tuduhan fitnah yang telah dilontarkan terhadap Islam pada masa ini. Ini adalah bentuk terbesar dari ibadah yang setiap Muslim harus upayakan untuk menghapus fitnah ini dalam satu dan lain cara. (ibadah terbesar di zaman ini ialah setiap Muslim ambil bagian dalam suatu corak untuk memadamkan fitnah ini) Hari ini, kejahatan dan ketidakbermaluan telah menyebar di dunia. Oleh karena itu, ia harus berusaha dengan setiap kekuatan yang adap padanya baik itu pidatonya atau ilmunya dan harus mencoba dengan ketulusan untuk menghapus kejahatan dari dunia ini. Jika seseorang hanya memiliki kenyamanan dan kesenangan saja di dunia ini maka apa gunanya dari itu semua? Jika ia memiliki jabatan di dunia ini maka apa gunanya dari itu? Capailah imbalan di akhirat yang tidak memiliki batas. Setiap Muslim harus memiliki gairah untuk ketauhidan Allah dan keunikan-Nya sebagaimana Allah juga mempunyai gairah bagi ketauhidan-Nya.”

“Renungkan! Adakah seseorang di dunia ini yang lebih banyak menanggung ketertindasan dibanding Nabi kita saw? Tidak ada tindakan menyakiti, hinaan dan kutukan yang tidak dilontarkan terhadap beliau saw. Apakah ini waktunya umat Islam tinggal diam? Jika saat ini seseorang tidak berdiri dan tidak membungkam para pembohong dengan kesaksian kebenaran ​​dan menganggap dapat diterima bahwa orang-orang kafir terus menuduh Nabi kita saw dan terus menyesatkan orang-orang, maka ingatlah bahwa ia berada di bawah kesalahan yang amat parah. Suatu keharusan bahwa seseorang harus sepenuhnya mendayagunakan semua ilmu pengetahuan dan wawasannya (seberapa banyak yang dia miliki) untuk menyelamatkan orang-orang dari musibah ini.

Disebutkan dalam sebuah hadis bahwa jika Anda tidak membunuh dajjal, ia akan mati dengan sendirinya pula.[6] Dikatakan dalam sebuah pepatah terkenal bahwa segala sesuatu yang naik harus jatuh. Bencana-bencana ini muncul pada abad ke-13 Hijriyah dan sekarang abad itu segera akan berakhir. Oleh karena itu, kewajiban setiap muslim bahwa ia harus mencoba yang terbaik untuk menunjukkan cahaya dan penerangan kepada orang-orang.”

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, untuk menampilkan cahaya ini dan penyebarluasannya, Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as. Termasuk keberuntungan kita yang telah berbaiat kepada beliau as dan sekarang tugas kita untuk meneruskan misi beliau as.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dalam Barahin-e-Ahmadiyya tentang salah satu ilham beliau,

“صَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ سَيدِ ولدِ آدَمَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ” ‘Shalli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammadin sayyidi wuldi Adama wa khaatamin nabiyyiin’ – “Bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, tuan segenap anak keturunan Adam dan Khatam para nabi.”

Ini menunjukkan fakta bahwa semua jajaran (tingkatan kerohanian), karunia-karunia dan inayah (naungan pertolongan) sesungguhnya adalah dengan berkah beliau saw dan hadiah dari kecintaaan saya bagi beliau. سبحان الله!

SubhanAllah! (Maha Suci Allah) Betapa amat tinggi kedudukan yang diraih oleh Sayyidul Kaun (Penghulu makhluk) saw di mata Tuhan Yang Esa dan betapa kedekatan beliau saw di hadapan-Nya sehingga menjadi kekasih Allah Ta’ala dan hamba beliau saw menjadi pemimpin bagi dunia.

“ما من حبيب يماثل حبيبي، فلا وزن للشمس ولا للقمر في مدينة حبيبي
أين الوجه الجميل مثل جمال وجه حبيبي المنير؟ وأين ذلك البستان ذو الربيع مثل ربيع حبيبي” (ترجمة أبيات فارسية)

Dia kemudian menulis berikut bait Persia [yang terjemahan Arabnya]:

Tidak ada kekasih yang seperti kekasihku

Bahkan, bulan dan matahari tidak berharga di hadapan kekasihku

Dimanakah wajah indah yang seperti keindahan wajah yang terpancar dari kekasihku?

Dan di manakah taman yang memiliki musim semi seperti musim semi kekasihku?

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda untuk menarik perhatian kita pada apa yang harus menjadi niat dan tujuan mengirim Durood (shalawat terhadap Nabi Muhammad saw),

“Yang harus menjadi tujuan kita bershalawat atas Nabi Muhammad saw ialah supaya Allah menganugerahkan beliau berkat yang sempurna pada beliau, membuat beliau sebagai sumber berkat bagi seluruh dunia dan Dia menjadikan tampak bersinar kesalehan dan keagungan beliau di kedua alam (dunia ini dan di akhirat). Doa ini harus dimohonkan dengan penuh keyakinan, seperti seseorang memohon doa untuk kebutuhan pribadinya saat tertimpa musibah.” Bahkan, kita harus harus berdoa dengan lebih berkonsentrasi dan kerendahan hati dan tidak menyisakan bagian doa untuk diri sendiri. Hendaknya kita tidak tamak dalam meraih imbalan atas hal itu atau demi akan diberikan pangkat. Sebaliknya niat murni yang harus menjadi tujuan satu-satunya kita dalam bershalawat ialah agar semua berkat Ilahi harus turun atas Nabi Muhammad dan kemuliaan beliau saw harus bersinar di dunia ini dan di akhirat.

Jadi, para penentang bisa mengatakan apa pun yang ingin mereka katakan kepada kita. Mereka dapat menuduh kita sesuai yang mereka ingin tapi kecintaan terhadap Nabi Muhammad saw penuh di dalam hati kita. Dan kita mengakui status khatamun nubuwwah Nabi saw lebih dari semua selain kita. Dan Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberi kita semua hal ini. Kita berdoa kepada Allah semoga kita terus meningkat dalam iman setelah setiap ketidakadilan dan setiap serangan dari lawan. Semoga kita mengirim lebih banyak lagi Durood (shalawat) terhadap  Nabi Muhammad saw sehingga umat Islam memiliki pemahaman yang benar tentang status beliau saw. Semoga ini orang-orang Muslim yang kehilangan pandungan kembali ke jalan yang benar. Semoga ajaran yang indah dan benar dari Islam menyebar di dunia juga.

[1] Al-Jaami’ li Syi’bil Iman (Kumpulan mengenai cabang-cabang Iman) karya al-Baihaqi, cabang ke-18, bab nasyril ‘ilmi (penyebarluasan ilmu), pasal berkata, ‘yanbaghi li thalibil ‘ilmi..’, jilid 3, halaman 317-318, hadits 1763, Maktabah ar-Rusyd, Riyadh-Saudi Arabia, 2004.

يُوْ شِكُ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَبْقَى مِنَ الإِسْلاَمِ إِلاَّ اسْمُهُ, وَلاَ يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلاَّ رَسْمُهُ, مَسَاجِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى, عُلَمَاؤُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ أَدِيْمِ السَّمَاءِ, مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةِ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ.  ‘Yuusyika ‘alan naasi zamaanun laa yabqa minal Islami illa ismuhu, wa laa yabqa minal Qur’aani illa rasmuhu, masaajiduhum ‘aamiratun wa hiya kharaabum minal huda, ‘ulamaa-uhum syarru man tahta adiimis samaa-i, min ‘indihum takhrujul fitnati wa fiihim ta’uud.’ “Akan datang suatu zaman, Islam tinggal namanya dan Al-Qur’an hanya tulisannya, masjid-masjidnya ramai akan tetapi kosong dari petunjuk dan para ulama mereka adalah seburuk-buruk orang yang ada di bawah kolong langit, dari sisi mereka keluar fitnah dan fitnah itu akan kembali kepada mereka.”

[2] Hadits riwayat Thabrani. Disebutkan juga hadits semakna dalam Kitab Tarikh al-Khulafa (Sejarah Para Khalifah) karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, pasal tentang Sahabat Nabi yang paling utama dan terbaik. Juga dalam Majma’uz Zawaaid karya Imam Abu Bakr Haitsami, hadits no. 14315. أَبُو بَكْرٍ خَيْرُ النَّاسِ إِلا أَنْ يَكُونَ نَبِيًّا

[3] At-Tafhimati Ilahiyah, v. 2, h. 72

Muslim no. 523 عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « فُضِّلْتُ عَلَى الأَنْبِيَاءِ بِسِتٍّ أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ وَنُصِرْتُ بِالرُّعْبِ وَأُحِلَّتْ لِىَ الْغَنَائِمُ وَجُعِلَتْ لِىَ الأَرْضُ طَهُورًا وَمَسْجِدًا وَأُرْسِلْتُ إِلَى الْخَلْقِ كَافَّةً وَخُتِمَ بِىَ النَّبِيُّونَ ».
Dari Abu Huroiroh. Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Aku diberi keutamaan atas seluruh Nabi dengan 6 keutamaan, [1] Aku diberi Jawami’ul Kalim, [2] Aku ditolong dengan Ar Ru’b, [3] dihalalkan bagiku harta rampasan perang, [4] permukaan bumi dijadikan suci dan tempat untuk sholat bagiku, [5] aku diutus untuk seluruh manusia, [6] dan aku adalah penutup para Nabi.

[4] Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Durrul Mantsur, الدر المنثور للسيوطي ج 6 ص618 الطبعة الأولى عام 1983م دار الفكر للطباعة والنشر والتوزيع بيروت)

[5] Fadhailul Awqaat, karya Imam al-Baihaqi, dalam bab tentang keutamaan malam pertengahan Sya’ban, 27. Mirqatul Mafaatih Syarh Misykatul Mashabih, kitab tentang Shalat, bab qiyam syahr Ramadhan, 1305

Aisyah bertanya, “Wahai Rasul Allah! Apakah seseorang itu tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah?” Nabi saw menjawab, “Seseorang itu tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah.” Aisyah bertanya lagi, “Tidak juga Anda,  Wahai Rasul Allah?” Nabi saw pun meletakkan tangannya di kepala beliau dan bersabda, “Tidak juga saya. Kecuali Allah yang menyelimuti saya dengan rahmat-Nya.” Tiga kali beliau sabdakan itu.

 فَقَالَتْ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلا بِرَحْمَةِ اللَّهِ ؟ فَقَالَ : ” مَا مِنْ أَحَدٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلا بِرَحْمَةِ اللَّهِ ” ، قُلْتُ : وَلا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى هَامَتِهِ ، فَقَالَ : ” وَلا أَنَا إِلا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللَّهُ مِنْهُ بِرَحْمَةٍ ” يَقُولُهَا ثَلاثَ مَرَّاتٍ  

Hadits bermakna senada juga ada di Shahih al-Bukhari kitab ar-riqaq bab al-qashd wal-mudawamah ‘alal-’amal no. 6463, 6464, 6467; dan Shahih Muslim kitab shifat al-qiyamah wal-jannah wan-nar bab lan yadkhula ahadun al-jannah bi ‘amalihi no. 7289-7302.

[6] Sunan Ibni Majah, Kitab tentang Fitnah, bab tentang fitnah dajjal. فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ “…Begitu melihat Isa, si Dajjal meleleh hancur bagaikan garam yang mencair. ..”