Khutbah tanggal 18-5-2001. Khu-12

SurahAt-Taubah ayat 27-28 tanpa terjemah.

Bahasan sifat-sifat Tuhan yang telah saya mulai, merupakan samudera yang tidak bertepi. Seiring  sifat-sifat itu silih berganti, sifat mana yang didahulukan, sifat mana yang dibahas kemudian  merupakan topik yang sangat dalam, yang tidak akan mengenal nama berakhir.Yakni, meskipun   tidak juga kita akan berusaha  untuk menghabiskannya–insyaallah. Dan perlu diketahui bahwa topik ini  manusia tidak memiliki potensi untuk menghabiskannya. Tapi saya gembira,bahwa sebagaimana Hazrat Khalifatul-Masih 1 bersabda,”Pekerjaan sejati seorang Khalifah adalah mengajarkan Al-Quran dan menyampaikan dares Al-Quran”.Maka karena penyakit saya yang lalu,saya tidak mendapat taufik untuk menyampaikan dares. Kini seiring dengan berjalannya bahasan topik ini, saya terus mendapat taufik untuk menyampaikan dares.Ini merupakan dares yang disebut dares mini .Namun lewat refrensi ini banyak topik –topik Al-Quran dan banyak masaalah-masaalah yang akan terus saudara-saudara ketahui.

Di dalam ayat Al-Quran suci yang baru saya tilawatkan di hadapan saudara-saudara, Tuhan berfirman,”Kemudian Dia menurunkan ketenangan di dalam hati Rasul dan hati orang-orang yang beriman.’wa anzala junudan lam tarauha-dan untuk kamu Dia menurunkan lasykar yang kamu tidak bisa lihat wa ‘adzdzaballadziyna kafaruw – dan Dia menimpakan bencana kepada orang kafir”.Disini lasykar yang diturunkan kepada Rasul atau yang karena kharismanya musuh menjadi takut, itu tidak nampak pada orang-orang mukmin,tapi gejala-gejalanya nampak .Maka benda  dikenal karena gejala-gejalanya. Kalau tidak, bisa dikatakan, itu begitu saja didakwakan. Meskipun seberapa pun peperangan Rasulullah saw.telah  terjadi dengan orang-orang lain(melawan musuh) hal yang  sangat nampak menonjol adalah bahwa orang lain/musuh luar biasa terpengaruh /ketakutan. Kenapa itu terjadi ? Kepada siapapun itu tidak  nampak,namun terlihat” ketakutan” itu nampak jelas. Maka dari ini dapat diketahui bahwa kalam Al-Quran betapa lengkap/meliputi dalam kata-katanya sehingga siapapun tidak mempunyai kesempatan untuk mengatakan ,”Itu ucapan kosong belaka.yang disampaikan. Dikatakan, lasykar diturunkan,padahal tidak nampak.” Kepada siapa itu nampak ? Karena jumlah lasykar malaikat tidak terhitung dan mutlak tidak bisa  terlihat. Gejala-gejalanya yang nampak. Dan Tuhan tidak nampak. Makhluk yang Dia ciptakan dan gejala-gejala/tanda-tanda yang Dia letakkan di dalamnya, itu yang nampak. Yang melihat ,setelah melihat kemudian tidak nampak olehnya,maka dia hendaknya yakin atas hal itu. Jadi dari segi ini  Al-Quran berfirman,”Itu adalah lasykar, yang sebagai hasilnya ada satu hal lain lagi yang kamu lihat adalah di atas orang-orang kafir azab itu sedang turun. Mereka terbunuhi di tangan kalian dan karena kharisma lasykar itu .juga mereka terbunuh Wadzaalika jazaaul kaafiriyn- dan inilah selalu hukuman orang-orang kafir Tsumma yatuwbullah min ba’di dzaalika -kemudian Tuhan  menerima taubah kamu  ‘ala man yasya’- kepada siapa yang Dia cintai(kehendaki) bahwa ini layak untuk taubahnya diterima wallahu gafuwrurrahiym- dan Allah Maha Pengampun Maha penyayang .

Kemudian di tempat lain lagi Al-Quran menganggap orang-orang itu terpaksa yang karena sakit dia tidak bisa ikut serta dalam peperangan atau karena penyakitnya dia tidak bisa pergi di sariah(perang yang Rasul tidak ikut di dalamnya).Berfirman,”Tidak ada kesalahan bagi  orang –orang yang lemah dan tidak pula bagi  orang-orang yang sakit dan tidak pula salah bagi orang yang tidak memperoleh sesuatu untuk dibelanjakan. Pada zaman Rasulullah saw harus  terpaks beperjalanan jauh,di dalam itu harta  harus dibelanjakan, karena perjalanan sedemikian rupa dimana tampa tunggangan tidaklah mungkin .Maka sambil menyinggung orang-orang yang serupa ini Tuhan berfirnman,”Mereka telah menyerahkan jiwa mereka,tapi ketika engkau tidak menerima nya, maka mereka kembali dengan penuh linangan air mata.” Keagungan/keistimewaan  ini selain terdapat dalam diri para sahabat siapapun tidak akan bisa peroleh. “Pergi untuk mengorbankan jiwa, jiwa tidak diambil dan mereka kembali sambil menangis. Jadi ini adalah merupakan keagungan para sahabah, yang di dunia sahabah Rasul manapun tidak meraihnya”la yajiduwnama yunfiquwna harajun idza nasahuw lillahi wa rasuwlihi- namun syaratnya adalah agamanya murni untuk Allah dan Rasul, niatnya  baik maa ‘alal muhsiniyna min sabiil- untuk melawan orang-orang yang berbuaat baik kamu tidak akan mendapatkan jalan.wallahu gafuwrurrahiym -dan Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

Kemudian dalam menyebut orang Badui(gurun) Allah berfirman,”wa minal a‘araabi man yu’minu billahi wal yaumil akhir wa yattakhidzu ma yun fiqu qurubaatin indallahi wassalwatirrasuwl alaa innahaa qurbatun lahum wa yudkhiluhumullahu fi rahmatih innallaha gafuwrurrahim. Berkenaan dengan orang-orang Badui sebagaimana   diketahui dari ayat-ayat yang lain, berkali-kali disebutkan bahwa dari antara banyak  orang-orang yang munafik juga . Tapi Al-Quran sungguh sangat bersikap adil dan berfirman bahwa dari orang-orang Badui juga ada orang-orang yang  di dalamnya diri mereka tidak ada kemunafikan. Mereka dengan penuh ikhlas mengitaati Rasulullah saw dan wayattakhidzu ma yunfiqu qurubaatin ‘indallahi -dan orang-orang Badui membelanjakan di jalan Allah.Untuk apa ?Untuk meraih kedekatan dengan Allah wa salawaatirrasuwl- dan untuk memperoleh selamat(doa) dari Rasul alla innaha qurbaatun lahum -Perhatikanlah,sesungguhnya pengorbanan-pengorbanan mereka ini adalah merupakan tanda kedekatan atau akan menjadi penyebab kedekatan (dengan Allah)sayudkhiluhumullahu fi rahmatih- Allah pasti akan memasukkannya dalam rahmat-Nya.Innallaha gafuwrurrahim –sesungguhnya Allah Maha Pengasih Maha Penyayang.

Kemudian dalam surah Attaubah 104 di dalam itu berfirman,”alam ya’lamu annnallaha hua yaqbaluttaubata ‘an ‘ibadihi wa ya’khudzussadaqat wa annallaha huwattawwaburrahim -apakah mereka tidk mengetahui bahwa sesungguhnya Allah menerima taubah yang benar dari hamba-Nya. Dari kata ”‘an ‘ibaadihi” jelas bahwa mereka yang menjadi hamba-hamba syaitan,jika mereka  bertaubah dengan dustapun, taubah  itu tidak akan diterima. “‘a ‘ibaadihi”- dari hamba-hambaNya pasti Dia menerima taubah wa ya’khudzussadaqaat dan mengambil sadaqat wa annallaha huwattawwaaburraahiym-apakah mereka ini tidak mengetahui bahwa Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

Disini perlu direnungkan bahwa sedekah-sedekah yang Allah ambil ini jelas Allah tidak memperolehnya, ini diperoleh oleh hamba-hamba Allah dan sadaqah-sedekah yang diberikan kepada hamba-hamba Allah demi untuk Allah, itu pasti Allah akan terima. Yang demi untuk dirinya dan demi untuk kebesaran egonya/keakuannya atau demi untuk suatu sebab yang lain sadaqah-sadakah itu diberikan itu terus akan menjadi sia-sia.Tidak Tuhan yang dapat dan tidak pula kepada sekutu yang manapun.Namun sedekah-sedekah yang diberikan demi untuk Tuhan, itupun di dunia orang-orang miskinlah yang dapat dan kepada Allah saudara-saudara tidak akan bisa berikan secara langsung ,karena Dia adalah ganiyyu qadiim-Maha kaya dan kekal abadi.Dia tidak memerlukan segala sesuatu dan Dia tidak memerlukan harta benda manusia.

Kemudian berfirman dalam  surat Attaubah ayat 101-102 “wa min man haulakum minal a’rabi munafiquwn -dan orang-orang Badui/gurun yang ada di lingkungan kamu  ada orang-orang munifiq wa min ahlil madiynati -dan dari orang-orang Madinah juga. Yakni,orang-orang  munafik bukan hanya  di dapatkan dari antara orang-orang Badui/gurun, bahkan di Madinah juga banyak sekali orang-orang munafik yang siang malam menyakiti Rasulullah saw.dan khususnya dari kalangan orang-orang Yahudi   yang selalu terdepan.Berfiman,”maraduw ‘alannifaaq – mereka bertekad bulat dalam kemunafikan. Inilah arti “maraduw “. Kamu tidak mengenal mereka, kami mengenal mereka. Kami akan mengazab mereka dua kali, kemudian mereka akan dikembalikan pada azab yang besar. Pertanyaan adalah,mereka bagaimana di azab dua kali.Yang pertama,adalah  diazab ketika mereka menyerang Madinah. Maka di tangan orang-orang Islam mereka selalu mendapat kehinaan dan mereka tidak pernah mendapatkan taufik meraih kesuksesan menyerang orang-orang Islam. Sebagai akibat dari setiap serangan mereka memperoleh kehinaan dan kemudian taufan yang dikirim dari  Tuhan,yang merupakan taufan yang luar biasa. Sebagai hasilnya dari pihak Tuhan juga, di dunia ini juga mereka mendapatkan azab yang kedua. Begitu juga orang-orang Yahudi yang dikeluarkan dari Madinah, mereka mendapatkan satu azab ini, yaitu  ketika mereka meneruskan makar/kenakalan mereka, maka di tanah air mana mereka mengambil perlindungan, disana orang-orang Islam memperoleh kemenangan yang besar.Dengan demikian ada dua  hukuman yang mereka dapatkan. Jadi, dua hukuman itu adalah azab dunia dan satu lagi azab akhirat yang merupakan azab yang  sangat besar, dan ini merupakan yang lain dari itu. Tapi sungguhpun demikian   ada yang lain yang  mengakui dosa-dosa mereka.

Nah,dari semua orang-orang itu, baik yang melakukan kenakalan ,mereka yang  ingkar,dan ada yang berkali-kali mereka melakukan kezaliman,kemudian ada juga yang mengakui dosa-dosa mereka,mereka mencampur aduk amal-amal baik dan amal buruk,ada amal  baik, ada amal buruk, ke dua-duanya mereka terjerat di dalamnya. Tidak jauh (dari kemungkinan) Allah akan menerima taubah-taubah mereka. Kini maksud dari “tidak jauh (dari kemungkinan) “adalah bahwa taubah semuanya   tidak akan (mesti) dikabulkan,Allah akan melihat  hati mereka,akan melihat kondisi mereka. Jika  mereka layak taubahnya diterima maka Allah akan menerimanya. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih Maha Penyayang.

Hazrat Imam Bukhari dalam kitab beliau Sahih Bukhari dalam menyebut tafsir ayat surah Attaubah berkata,”Hazrat Samrah bin Jundub r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw. kepada kami bersabda,”Hari ini ada dua malaikat datang kepada saya dan membangunkan saya. Kami sampai di satu kota yang terbuat dari batu-batu emas dan perak. Disana kami bertemu dengan orang yang sebagian badannya sangat cantik sekali dan satu bagian sangat buruk sekali bentuknya inkhalathuw  ‘amaalahum-mereka telah mencampur aduk amal-amal mereka.Malaikat berkata kepadanya,”Masuklah ke dalam sungai yang itu”.Maka dia masuk di dalam sungai itu.Dan ketika kembali kepada kami maka rupa buruknya telah hilang. Dan sungai ini adalah sungai istigfar dan taubah. Malaikat memerintahkan padanya ,mandilah kamu dengan air taubah dan istigfar. Ini  merupakan mandi yang karennya keburukan-keburukan dan wajah buruk kamu menjadi hilang/jauh. Bersabda,”Mereka  menjadi sangat cantik/cakep. Malaikat berkata kepada saya ,“Ini adalah surga Adn.” Dia tidak mengatakan surga orang-orang itu, surga And, yang taubahnya diterima,bahkan di surga mana Rasulullah saw. dimasukkan yang mengenai itu diberikan habar suka,  berkenaan dengan itu bersabda. Oleh karena itu bersama itu pula bersabda,”Dan inilah rumah beliau”.Orang yang menterjemahkan,ketika Tuhan berfirman kepada Rasulullah saw.,maka dia menggunakan kata aap(beliau/tuan)dan ini tidak layak(sesuai).Ini keagungan Tuhan. Dia (si penterjemah)berkata.”Dan inilah rumah engkau,” Yakni hai Muhammad, ini adalah  penzahiran cinta yang  sangat.dalam daripada  mengatakan,”aap”(Tuan) Dan orang-orang yang setengah badannya bagus dan setengah  badannya buruk, itu adalah orang yang mencampur adukkan amal baik dan amal yang buruk,namun Allah pun mengampuninya.

Di dalam surah Attaubah ayat 117 Allah berfirman laqad taaballahu ‘alannabiyyi wal muhaajiriyna wal ansarilladziyna ttaba’uwhu fi saa’atil usrati mim ba’di makada yazigu qulubu fariqinminhu tsumma taaba ‘alaihim innhu bihim rau’furrahim.Kini, inilah  ayat yang bukannya “gafuwrurrahiym” yang difirmankan,bahkan” rauwfurrahiym”difirmankan. Dan di dalam ini juga ada satu hikmat Terjemahnya,”Sesungguhnya Allah telah menerima taubah  nabi, muhajiriyn dan  Ansar, yang telah mengikutinya waktu kesulitan. Jadi, yang telah membantu Muhammad saw pada waktu kesulitan dan mengkutinya ,karena disini tidak difirmankan “gafuwrurrahiym”,bahkan “rauwfurrahiym” difirmankan Allah sangat sayang pada mereka,memperlakukan mereka dengan penuh lemah lembut.tsumma taaba ‘alaihim ma kada yaziigu quluwbu fariqim minhum-mereka  menerima kesulitan meskipun sebagian diantara mereka  hatinya  siap untuk menjadi bengkok,yakni cobaan itu sangat dahsyat dan dikhawatirkan bahwa orang-orang (akan lari)karena dilanda oleh cobaan itu. Meskipun demikian tsumma taabaa ‘alihim-kemudian Tuhan menerima taubah mereka.innahum rauwfurrahiym-Dia adalah Maha  lemah lembut/kasih  kepada orang yang membantu Rasulullah saw. pada waktu kesulitan dan Maha Penyayang.

Ada lagi dalam surah Attaubah ayat 118 wa ‘ala tstsalaatsatilladziyna khullifuw hatta dhaqat ‘alaihimul ardhu bima rahubat wa dhaaqat ‘alaihim anfusuhum wa zhannuw an laa maljaa a minallah illa ilaih tsumma taaba ‘alihim liyatuwbu innallah huwattawwaburrahiym –dan kepada yang tiga juga Allah menerima taubah mereka, yang tertinggal di belakang dalam peperangan,atau yang ditinggalkan di belakang. khullifuw maksudnya adalah yang ditinggalkan di belakang .Sehingga ketika bumi meskipun luasnya menjadi sempit dan jiwa mereka mulai merasa sempit dan mereka menyangka bahwa tidak ada jalan untuk menghindar dari Allah dan hanya kepada-Nyalah dan kemudian Dia coindong untuk menerima taubahnya supaya mereka bisa bertaubah. Seungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.

Perincian  peristiwa ini yang isyarahnya terdapat  dalam surat Attaubah, tiga orang itu siapa mereka, dan apa peristiwanya, dalam penjelasan itu Hzrat Imam Bukhari  menulis satu hadis.Hazrat Abdullah bin Kaab r.a menerangkan bahwa saya mendengarkan dari Kaab bi Malik berkenan dengan peristiwa wa ‘ala tstsalaatsatilladziyna khullifuw, bahwa dia memohon kepada Rasulullah saw. bahwa dari syarat-syarat  taubah saya,yaitu saya membelajakan harta saya semuanya demi untuk Tuhan. Yakni, syarat-syarat  Taubahnya itu bukanlah Rasulullah saw. yang menetapkannya, dia sendiri yang menetapkan syarat ini untuk dirinya. Dan berkata,”Saya untuk diri saya telah menetapkan syarat ini, yakni saya menyedekahkan semua harta saya.”Hazrat Rasulullah saw. bersabda,”Simpanlah sebagian hartamu juga untuk kamu ini adalah lebih baik untuk kamu.

Nah, topik ini  hendaknya saudara-saudara  ingat bahwa kecuali beberapa peristiwa yang dikecualikan Hazrat Rasulullah saw. lebih dari spertiga beliau tidak mau menerima. Satu adalah berkenaan dengan Hazrat Abu Bakar yang semua hartanya beliau terima,yang satu adalah berkenaan dengan Hazrat Umar yang setengah hartanya beliau terima. Selain itu, dari semua orang-orang, semua harta di rumahnya beliau tidak mau terima. Dan inipun merupakan syarat wasiat bahwa lebih dari satu pertiga wasiat itu tidak bisa. Jadi dijalan Tuhan inilah juga cara Rasulullah saw. bahwa beliau tidak mengambil harta lebih dari satupertiga. Meskipun seseorang telah menetapkan syarat sekalipun untuk dirinya, yang merupakan semacam satu janji,namun tetap saja beliau bersabda,tidak.Kamu tinggalkanlah untuk kamu dan untuk anal istri kamu. Dan di satu kesempatan bersabda,”Lebih baik  anak istri kamu jangan mati kelaparan. Bayarlah penuh haknya. jika kamu tidak memberikan, maka dari itu akan tersebar kerusakan.Dan kerusakan-kerusakan itu sampai hari ini di dunia, bahwa karena  tipuana sebagian orang-orang jahat, hal itu tersebar di kalangan anak-anak keturunan.

Ada beberapa orang yang berwasiat satu  pertiga dia belanjakan di jalan Allah. Maka   istrinya yang sial  telah menyesatkan anak-anaknya.Yaitu,”Coba lihatlah,semua harta  dia telah  kirim ke Pusatnya di Qadian-dia (istri)tidak mengatakan ,dia telah kirim untuk Allah dan Rasul,bahkan ketika  menyesatkan/menggelincirkan, mereka mengatakan, dia telah mengirim ke Pusatnya di Qadian .Maka orang semacam itu sedikit pun tidak akan dapat apa-apa. Kemudian (ibu-ibu semacam itu) mengajarkan pada anal-anal mereka. Ini adalah merupakan peristiwa yang saya sendiri menjadi saksi. Sebagian anak-anak mereka yang telah besar menyebutkan hal itu kepada saya. Bahwa serupa itulah ibu-ibu kami telah  menentang bapak-bapak kami. Mereka menyuruh kami menuntut. Katakanlah kepada bapak kamu,”Berikanlah kepada kami sepeda,berikanlah sepeda motor dlsb.,yang memang tidak ada dalam kemampuannya. Dan ketika (bapak)berkata,”Tidak,tidak bisa demikian,jalanilah kehidupan yang sederhana,maka kepada mereka(anak-anak) ibu itu berkata,”Sudah lihat,kan ? Semua uang dia kirim ke Qadian, untuk kamu yang lugu apa yang dia tinggalkan.Maka hendaknya diingat bahwa Rasulullah saw. oleh karena itu tidak mengambil semua harta,bahkan bersabda,”Sebagian harta adalah hak istri dan anak-anak kamu,itu bayarlah. Kemudian yang tersisa dari itu lebih dari satu pertiga saya tidak akan terima. Satu pertigalah sangat cukup. Namun yang nakal,kepada yang satu pertiga pun mereka keberatan. Dan mungkin saja kinipun ada yang (keberatan)serupa itu,tapi saya berbicara mengenai masa sebelumnya, ketika saya mengadakan tourni kepada orang-orang seperti itu,saya bertemu dengan mereka,saya sendiri bertemu dengan mereka.Di setiap tempat saya bertemu dengan orang-orang seperti itu,yang ibu-ibu mereka yang telah menghancurkan mereka.

Ayat surah Attaubah telah selesai dan kini  surah Hud ayat 41-42,ada dua ayat. ”Hatta idzaa jaa amruna wa faarattannuwru. Disini disebutkan mengenai peristiwa Hazrat Nuh,ketika sumber-sumber mata air memancar  dengan derasnya qul nahmi fiiha fi kulli zaujainitsnaini wa ahlaka illa man sabaqa alaihil qaulu waman aamana wamaa aamana ma’ahu illa qaliyl –sehingga ketika datang janji Tuhan,takdirnya zahir,dan tannur /sumber-sumber mata air memancar dengan derasnya ,yakni dari bumipun mata-mata air menjadimengalir dengan derasnya qulnahmil fihaa min kulli zaujaini-kami berkata ,”Naikkanlah setiap pasang dari binatang di dalamnya, sepasang sepasang wa ahlaka-dan keluarga kamu, man sabaqa alaihil qaulu- kecuali yang berkenaan dengannya keputusan kami telah berjalan dan masukkan  pula yang meskipun secara zahir bukan keluagamu,tapi  mereka yang beriman padamu.” Dan kini hendaknya  diingat bahwa anggapan bahwa pasangan-pasangan bintang seluruh dunia yang dimasukkan di dalamnya,ini adalah merupakan anggapan yang dusta. Sebagian ulama mengemukakan riwayat ini dari diri mereka sendiri bahwa ular,kala jengking,macan ,singa,segala jenis binatang domba dan dlsb. Segala jenis binatang domba-domba dlsb pasangannya disana dimasukkan.Jika segala jenis binatang pasangannya dimasukkan disana, maka perahu hendaknya 1000 mil  panjangnya. Tapi itu  perahu itu ukurannya  umum.Maksud dari itu  adalah bahwa pasangan-pasangan yang kamu perlukan, yakni untuk sarana-sarana makan dan minum masukkanlah  sapi, kerbau jantan betikna,  dan begitu juga sebagian pasangan burung-burung, karena sebagian burung-burung juga akan bermamfaat baginya. Maka ketika semuanya  telah selesai dan pasangan-pasangan itu telah dimasukkan di dalam perahu wa qaalarkabu fiiha bismillahi majraeha wamursaaha –Dan berfirman,”Kini duduklah di dalamnya bismillah dengan menyebut nama Allah.Dengan nama Allah lah perahu ini baerjalan, berjalannya perahu ini dan berhentinya inna rabbiy lagafuwrurrahiym-sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun Maha Penyayang.

Kemudian surah Hud ayat 91 wastagfiruw rabbakum tsumma tuwbuw ilahi inna rabbi rahiymun waduwd-Beristigfarlah kamu di hadapan Tuhan-mu tsumma tuwbuw ilaihi -kemudian kembalilah kepada-Nya sambil bertaubah inna rabbi rahiymun waduwd.Disini rahiym yang lebih dahulu datang dan waduwd sesudahnya.Sesungguhnya Allah Maha   Penyayang Maha Mencintai. Jadi, disini orang-orang yang disebutkan itu adalah bersama Hazrat Hud dan mereka dalam mendukung Hazrata Hud mereka banyak berkorban. Dan kaum beliau menganggap beliau hina dan mendustakannya dan menganggap sangat hina  Jadi, meskipun nampak secara zahir dia orang yang hina,namun  dia adalah orang mencintai Tuhan  dan dia adalah orang yang telah meraih kecintaan Tuhan. Oleh karena itu disini tidak hanya berfirman”rahiym”bahkan berfirman juga”waduwd” .

.Dan kemudian  dalam surah Yusuf ayat 54 Tuhan berfirman,”wama ubarriu nafsi innannafsa laammaratun bissu’ illa ma rahima rabbi inna rabbi gafuwrurrahiym. Ketika Hazrat Yusuf a.s. menujukkan sepenuh kesuciannya dan dia menghidar dari semua pekerjaan buruk dan demi untuk Tuhan dia menerima untuk pergi ke penjara. Namun meskipun demikian dia berkata,”wama ubarriu nafsi-saya tidak menyatakan diri saya bebas dari kesalahan /tanggung jawab. Apapun yang terjadi  adalah karena belas kasih Tuhan dan karunia-Nya. Sayapun memiliki ego/nafsu ammaratun bissu’-yang terus menerus dan berkali-kali dengan keras mendorong pada kejahatan illa ma rahima rabbi-namun pengaruhnya hanya akan mengena apabila Allah tidak mengasihani illa ma rahima rabbi -namun kepada siapa yang Allah kasihani tidak akan ada yang dapat menyampaikan kerugian pada dirinya. Dan bersabda,”Allah  telah menurunkan belas kasih kepada  saya. Sebagai hasilnya saya terhindar dari keburukan.Inna rabbi gafuwrurrahiym-sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun Maha Penyayang.

Kini dalam tafsir surah Yusuf ayat  54  Hazrat Masih a.s. bersabda,”Badai yang lahir akibat  menangnya hawa nafsu manusiawi ini,  adalah  merupakan topan yang sangat dahsyat dan akan berlangung lama, yang bagaimanapun tampa kasih sayang Tuhan tidak akan bisa jauh dan sebagaimana dari semua bagian anggota badan manusia tulang sangat keras sekali dan umurnyapun sangat panjang sekali dan begitu juga potensi iman yang menjauhkan tofan ini sangat kuat dan juga mempunyai umuryang  panjang, supaya dengan berhasil melawan musuh dalam waktu yang panjang dapat menghancurkannya. Dan itupun dengan belas kasih Tuhan,yakni dengan taufik yang Tuhan anugerahkan manusia dengan teguh tetap tegak dalam jalan yang benar dan mengalahkan egonya/nafsunya illa ma rahima rabbi sebagaimana Hazrat Yusuf bersabda,”namun yang Allah kasihani “. Bersabda,”Itupun dengan belas kasih Tuhan. Karena badai hawanafsu sedemikian mengerikan dan merupakan taufan yang meyusahkan,yang tampa belas kasih Tuhan Yang Esa tidak akan bisa hilang.Gejolak ego dan hawa nafsu manusia, meskipun untuk apa juapun ,apakah untuk ketamakan dunia atau dampak dari gejolak syaitani, apapun coraknya taufan  itu sangat menakutkan.Taufan Hazrat Nuh adalah taufan zahir, adapun taufan batin ini, untuk keluar dengan selamat  dari itu dan  tidak tenggelam, tampa belas kasih Tuhan tidak akan mungkin. Oleh kaarena itu Hazrat Yusuf terpaksa mengatakan wama ubarriu nafsi innannafsa la ammaaratun bissu’ .Hazrat Yusuf pun terpaksa mengatakan bahwa saya tidak mengatakan jiwa /ego saya bebas dari tanggung jawab innannafsa laammaaratun bissu’-Ego/nafsu sungguh berkali-kali dan sangat keras mendorong pada keburukan illama rahima rabbi- kecuali yang Allah kasihani.

Dengan mengatakan ma rahima Rabbi beliau menisbatkan pada diri beliau ,yakni kecuali Tuhan saya belas kasih pada saya. (Dengan sabda beliau ini)Untuk orang lain beliau telah menegakkan contoh,yakni lihatlah saya ,sayapun Tuhanlah yang mengasihani,maka kamupun janganlah putus asa dari rahmat Tuhan.Kepada kamupun Tuhan bisa mengasihani.

Ego/nafsu sangat keras dalam memeritahkan untuk berbuat keburukan dan bebas dari serangannya adalah hal yang tidak mungkin,namun kalau Tuhan sendiri yang mengasihani. Di dalam ayat ini sebagaimana ada kalimah “illa ma rahima rabbi”, pada waktu bahasan taufan Nuh juga ada kata-kata yang mirip dengan  ini. Oleh karena itu taufan Nuh yang saya sebutkan,itu Hazrat Masih Mauud a.s.lah yang bersabda demikian. Bahwa  dalam menyebut taufan Nuh juga, Allah  menerangkan “ma rahima rabbi “ juga. Karena di sana  Allah berfirman,”la ‘aasimal yauma min amrillahi illa man rahim –Hari ini dari taufan ini tidak ada yang bisa selamat, min amrillah-dari takdir Tuhan  illa man rahima –ya, kecuali yang Allah sendiri  mengasihani Dia  dengan takdirnya sendiri bisa menyelamatkan orang-orang.Jadi, ini  mengisyarahkan kepada bahwa taufan hawa nafsu manusia dalam kebesaran dan kedahsyatannya menyerupai taufan Nuh.

Ada dua ayat dalam surah Yusuf,ayat 98 dan ayat 99 “qaaluw yaa abaana nastagfirlana dzunuwbana inna kunna khaathiiyn –Mereka berkata,”Hai bapak kami beristigfarlah untuk kami,berdoalah   untuk dosa-dosa kami dimaafkan dan beristigfarlah inna kunna khaathiiyn – kami mengakui kesalahan-kesalahan kami. Sesungguhnya kamilah yang bersalah qaala saufa astagfiru lakum rabbi –Beliau berkata,”saya pasti untuk kamu akan memohonkan ampunan pada Allah innahu huqwal gafuwrurrahiym –sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Kini ada dua ayat surah Ibrahiym 36-37 “wa idz qaala ibrahiym rabbij’al haadzal balada aaminan wajnubni wa baniyya anna’budal asnaam rabbi innahunna adhlalna katsiran minannaas faman tabi’ani fainnahu minni waman ‘asaani fainnaka gafuwrurrahiym –Ingatlah ketika Ibrahim berkata,”Hai Tuhan ku jadikanlah kota ini tempat yang aman dan saya dan anak-anak saya hindarilah dari menyembah berhala.” Disini hendaknya diingat bahwa disini ada dua ayat yang mirip. Di satu tempat tidak berfirman,” kota ini”,bahkan  hadza baladan aaminan-tempat ini, tempat yang ada disini,jadikanlah  ini tempat yang aman. Pada waktu itu tidak ada kota yang telah dihuni dan ini bentuklah menjadi sebuah kota dan kemudian ketika telah dihuni,maka bersabda,”Hai Rabku/Tuhanku, jadikanlah kota ini tempat yang aman dan saya dan anak-anak saya hindarilah kami dari menyembah berhala. Nah, coba lihatlah betapa malangnya bahwa di Mekah itulah, di kota itu,di kakbah itulah,sedemikian banyak berhala yang diletakkan,sehingga seberapa hari dalam saatu tahun sejumlah itulah berhala-berhala terletak disana. Oleh karena itu selainkasih sayang Tuhan dan  perlindungan-Nya berhala tidak keluar dengan sendirinya. Seandainya dikeluarkan sekalipun dan  Ibrahim seorang  pemberani penghancur berhala sekalipun yang mengeluarkan itu,maka tetap saja musuh atau syaitan kembali akan menghuninya.

Jadi, demikianlah keadaan hati. Berhala –berhala hati berapa yang akan kalian hancurkan. Berkali-kali saudara terus hancurkan berhala-berhala baru  akan tumbuh kembali. Beranggapan bahwa kami telah menghancurkan semua berhala-berhala  hati kami, ini hanya khayal. Kecuali saudara berdoa pada Tuhan,semoga Allah terus mengancurkan berhala-berhala kita,berhala-berhala ego kita,berhala-berhala keakuan kita,berhala-berhala hawanafsu kita. Dan kapan saja itu kembali  mengangkat kepalanya  Allah  kembali menghancurkanlah berhala-berhala itu..

Hazrat Ibrahim memohon,”Hai Tuhan kami,sesungguhnya banyak orang-orang yang telah mereka sesatkan, maka siapa yang telah mengikuti saya, sesungguhnya mereka adalah dari saya.Dan mereka yang tidak mengitaati saya.” Disini,siapa yang tidak mengitaati Hazrat Ibrahim. Coba lihatlah, betapa lembut penuh kasih sayangnya hati Hazrat Ibrahim..Beliau tidak bersabda,”Azablah mereka”,bahkan bersabda,”Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Maha Penyayang. Mereka yang tidakmengitaati saya pada merekapun kasihanilah mereka. Saya memohon kepada Engkau, Engkau Maha Pengampun Maha Penyayang. Dari mereka pun, yang ingin Engkau ampuni, ampunilah mereka.Dan  kasihanilah mereka berkali-kali.

Ini beberapa ayat-ayaat yang untuk hari ini saya telah pilih.Kini berhubung waktu sudah banyak , agak sedikit ayat-ayat yang telah saya pilih  hari ini untuk saudara-saudara.Dan untuk yang akan datang kembali topik ini akan kita bahas.Allah yang Maha Tahu,ayat apa yang akan disampaikan di hadapan saudara-saudara.

Saya ingin memaparkan dua  perkara yang berbeda di hadapan saudara-saudara.Berkenaan dengan surat-surat ada dua hal yang ingin saya ingatkan. Hal pertama adalah semua surat-suraat saya sendiri yang membaca. Berkali-kali orang-orang yang  berperasangka bahwa surat-surat kami ringkasan-ringkasannya dibuat ,sekretaris peribadi memberikan pada Huzur,ini sama sekali salah. Ringkasan memang pasti datang,namun dari Pakistan.Dan kadang-kadang dari Jerman. Namun ringkasan itu adalah merupakan ringkasan yang sangat jelas.Di dalam itu diterangkan dengan sejelas-jelasnya hal yang dimaksud,ini  yang inti dan ini hal yang lebih. Namun, aneh sekali orang-orang dengan hobi bahwa saya sendiri yang membaca surat mereka dan membukanya.Yang itu hanya sekedar  surat-surat doa, yang hanya untuk sekedar doa. Di atas itu tertulis:Personal(pribadi),Private(pribadi),Confidential(rahasia). Dan selain itu sedemikian rupa di lem dengan selotip yang seolah-olah akan ada yang rampok di jalan.Dan jangan –jangan sebelum sampai kepada saya jangan ada yang buka.Dan surat yang kemarin yang saya lihat,di dalam surat-surat :Personal,Private,dan convidential ternyata hanya surat-surat pemohonan doa.”Doa”tentu saja confidential,namun itu untuk saya.Di hadapan orang-orang, saya tentu tidak akan berdoa.Tapi sebagian doa ada juga dijadikan umum/di depan orang. Itu bagaimana saudara menyembunyikannya dari sekretaris peribadi.Bagaimana saudara-saudara menyembunyikannya dari pengkhidmat-pengkhidmat kita disini.Surat-surat itu tentu dalam keadaan apapun saya pasti akan berikan kepada sekretaris peribadi. Dalam  jawaban-jawaban sebagian surat saya sendiri yang menanda tangani. Sebagian besar dalam jawaban surat sekretaris peribadi setelah mendengar dari saya sekretaris peribadi menandatangani Karena saya tidak begitu banyak  waktu untuk menandatangani .Tapi di dalam itu tidak ada hal yang disembunyikan,demi untuk Tuhan gunakanlah akal. Jika saudara-saudara melakukan hal seperti itu maka saya terpaksa memberikan semua surat kepada sekretaris pribadi untuk membaca sendiri dan mengeluarkan sendiri ringkasannya.

Selain itu hal kedua yang ingin saya sampaikan adalah, orang-orang dari jauh di tempatnya terus meminta resep homeophaty. Dari Pakistan,dari Rabwah meminta,kirimlah  resep homeophaty untuk penyakit ini. Kadang-kadang saya terpaksa mengatakan kepada bagian departement Homeophaty untuk menjawabnya. Namun ini jelas merupakan hal yang salah.Duduk  begitu jauh bagaimana bisa berobat.Tidak mungkin pengobatan Homeophaty sepenuhnya tampa bicara dan tampa pemeriksaan/penelitian dapat dilakukan dengan baik Jika siapapun yang ingin pengobatan Homeophaty untuknya perlu pergilah kepada dokter dan setelah menerangkan semua permasaalahannya ambillah resep dari dia. Dan di kota Rabwah dengan karunia Allah,selain apotik Waqfi Jadid ,kini ada Apotik Tahir,yang dimana setiap waktu ada dokter yang mewakafkan dirinya,Dan mereka ahli di bidangnya.Mengolah resep saya pun mereka pengalaman.Dan pada zatnyapun mereka memperoleh taufik untuk memutuskan dengan cara yang baik .Maka ambillah obat dari mereka.Begitu juga di Lahore ada ahli Homeophat Ahmadi yang memberikan pengobatan gratis.Di Rawalpindi, di Karaci juga, berobatlah pada  semuanya  dengan menerangkan  keluhan-keluhan pada waktunya.Segala sesuatunya janganlah selalu menulis pada saya,bahwa ini penyakit kami oleh karena itu Huzur berilah resep dengan tangan Huzur sendiri.Sedemikian jauh tinggalnya saya tidak bisa mendiagnosis penyakit/menentukan resep. Ini adalah hal yang bertentangan dengan akal Bagaimana saya bisa memberikan resep pada orang sakit yang saya tidak memeriksa penyakitnya dengan terinci.Jadi dalam urusan inipun bantulah saya.Dan sebagai ganti resep Homeophaty hal inti untuk suatu penyakit adalah doa,itulah tulis.Kami sakit,anak kami sakit,doakanlah untuk kami.Dan dalam hal doa saya selalu lakukan untuk mereka secara teratur.Pasti,satupun tidak ada shalat tahajjud yang di dalamnya untuk semua saya tidak berdoa.Bahwa ya Allah,anugerahilah pada mereka kesehatan yang sempurna dan jangan ada satupun bagian dari penyakit dan keluhan yang masih tersisa.Ini adalah merupakan permohonan.Namun kadang-kadang bagi sebagian orang  ketentun/takdir telah tertulis dan tidak terkabul. Jadi, dampak dari berkali-kali menekankan,/memaksa Tuhan tidak akan mengabulkan. Kadang-kadang keputusan-Nya yang berlaku. Misalnya, penyakit kanker,kini mereka menulis berkali-kali untuk doa,saya juga mendoakan. Sebagian penderita penyakit kanker tampa sebab juga Dia sembuhkan,ini adalah terserah kehendak-Nya dan sebagian ada yang tidak bisa baik.Takdir/ketentuan-Nya telah zahir/tertulis Dan bagaimanapun mereka jelas akan kembali di hadapan Tuhan-Nya. Maka untuk mereka saya hanya berdoa,ya Allah jika disisi Engkau waktu tertentu untuknya telah tiba, dan memang dia harus sampai di hadapan Engkau,maka keluarkanlah nyawanya dengan tenang dan perlakukanlah dia dengan cinta dan kasih sayang. Jadi saudara-saudara pun doakanlah untuk keluarga saudara yang sakit seperti ini. Saya mengharapkan dua nasehat inipun saudara –saudara akan pegang dengan baik.

Qamaruddin Syahid