Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 4 Hijrah 1391 HS/Mei 2012

Di Masjid Baitul Futuh, London (UK).

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Hari ini saya telah memilihkan peristiwa-peristiwa para Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud ‘alahish shalaatu wassalaam yang di dalamnya menyebut-nyebut mengenai semangat, perasaan cinta dan keinginan yang mendalam dalam diri mereka yang atas dasar itu mereka biasa pergi untuk ziyarah (mengunjungi) Hadhrat Masih Mau’ud as dan kegemaran berkunjung ini tertanam kuat dalam diri mereka.

 

[1] Hadhrat Mian Zhuhuruddin Shahib ra menceritakan, “Pada suatu hari ketika saya sedang duduk-duduk tiba-tiba timbul keinginan dalam hati saya untuk pergi ke Qadian. Hal ini saya ceritakan kepada Maulwi Munsyi Sirajuddin Shahib bahwa saya mempunyai iradah untuk pergi ke Qadian sedangkan pada waktu itu saya tidak mempunyai uang. Maulwi Munsyi Sirajuddin Shahib sambil memberikan uang satu Rupee berkata kepada saya, ‘Saat ini saya hanya mempunyai satu Rupee saja jika ada pasti saya tambah lagi.’ Kemudian saya cerita kepada Qadhi Manzoor Ahmad Shahib bahwa saya sudah siap untuk pergi ke Qadian. Beliau berkata, ‘Saya juga mau pergi bersama anda.’ Pada hari berikutnya kami berdua berangkat ke Qadian. Dengan berjalan kaki dari Batala kami sampai di Qadian pada waktu Zuhur. Betapa tentaram hati saya setelah berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Alhamdulillahi ‘alaa dzalik![2]

Kemudian beliau menulis, “Zaman Hadhrat Masih Mau’ud as adalah zaman yang sangat menyenangkan karena apabila kita berada di hadapan beliau as semua kesusahan terlupakan. Hati merasa enggan untuk berpisah dengan beliau as. Setelah saya sampai di Qadian lalu melihat-lihat keadaan kesana-kemari maka saya melihat mertua saya Qadhi Zainal Abidin Shahib sudah sampai pula ke Qadian. Kami gembira sekali ketika mulaqat (perjumpaan) dengan Hudhur as. Dalam kunjungan kali ini kami tinggal selama 4 atau 5 hari. Allah Ta’ala telah memberi kesempatan kepada kami untuk shalat berjamaah bersama Hadhrat Masih Mau’ud as. Hal ini semata-mata karunia Allah Ta’ala bahwa Dia telah menciptakan kami yang penuh kelemahan di zaman ini dan mempertemukan kami dengan wujud mubarak (pribadi penuh keberkahan). Walhamdulillahi ‘ala dzalik!

           

[2] Kemudian Haji Muhammad Musa Shahib ra menceritakan, “Pada zaman itu dusturul ‘amal (kebiasaan tetap) saya selama bertahun-tahun lamanya setiap hari Jum’at apabila saya pergi naik Kereta Api dari Lahore ke Batala saya menitipkan sepeda di ‘nayaa station’ (nama stasiun) Stasiun Kereta Api Batala kepada seseorang. Dari Batala saya naik sepeda itu ke Qadian. Selesai shalat Jum’at saya balik lagi naik sepeda itu ke Batala. Dari sana saya kembali naik Kereta Api ke Lahore.” [3] (Itulah kebiasaan beliau, secara teratur pergi dari Lahore untuk menunaikan shalat Jum’at di Qadian; beliau naik sepeda sejauh 11 atau 12 mil bahkan 22 mil jaraknya pergi-pulang (sekitar 33 km).

[3] Kemudian Hadhrat Doktor Sayyid Ghulam Ghaos Shahib ra menjelaskan, “Mula-mula sekali pada bulan Februari tahun 1901 saya pergi ke Qadian dan baiat secara pribadi walaupun pada bulan Agustus 1900 saya telah baiat melalui surat. Selanjutnya saya bertanya kepada Hadhrat Maulwi Abdul Karim Shahib, ‘Sampaikanlah wazhifah (bacaan doa secara rutin, wirid) dari silsilah (jemaat) kita!’ Maka beliau menjawab, ‘Wazhifah silsilah adalah anda harus sering datang ke Qadian.’ Mendengar jawaban beliau itu tiba-tiba timbul dalam pikiran saya untuk membangun sebuah rumah di Qadian supaya kedua orang tua, istri dan anak-anak saya semua tinggal di Qadian dan di waktu cuti saya dapat langsung pergi ke Qadian dan tinggal di sana. Oleh sebab itu ketika saya kembali ke tempat bekerja di Afrika, Afrika Timur, saya mengirim uang sebanyak 600 rupees kepada Maulwi Abdul Karim Shahib ra untuk membangun sebuah rumah untuk saya. Akan tetapi tiga tahun kemudian ketika saya kembali Maulwi Shahib mengembalikan uang itu kepada saya sambil meminta maaf katanya, ‘Saya tidak mempunyai kesempatan untuk itu.’ Pada waktu itu Maulwi Shahib tinggal di (ruangan) bagian atas rumah Hadhrat Aqdas. Sambil mengembalikan uang itu beliau berkata kepada saya, ‘Rumah yang besar-besar di sini adalah kepunyaan orang-orang Ahmadi. (yakni tentang rumah-rumah kepunyaan orang ghair orang-orang Hindu pada masa itu, beliau berkata, ‘Ini akan menjadi kepunyaan orang-orang Ahmadi.’) Khususnya beliau menunjuk rumah Deputi orang Hindu yang sekarang kita gunakan untuk kantor-kantor.” Beliau menulis, “Hadhrat Maulwi Abdul Karim Shahib berbicara dengan penuh irfan.” [4] Beliau telah berkata-kata dan Allah Ta’ala telah menyempurnakannya. Sesungguhnya hal-hal itu telah terjadi yaitu yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Dampaknya, beliau ra dalam hal keimanan atas hal itu sedemikian sangat kuatnya sehingga meyakini, “Segala hal yang kita temui ini selanjutnya Allah Ta’ala akan memperlihatkan bahwa itu kita peroleh [akan kita miliki, bukan dengan merampas hak melainkan dengan jual-beli, red.].”

[4] Hadhrat Mian Zhuhurud Din Shahib ra menceritakan kisah beliau, “Pada suatu hari timbul dalam pikiran saya, ‘Hamba (utusan) Allah Ta’ala! Tuan Mirza telah datang dan kita tidak beriman kepadanya lalu bagaimana akibatnya bagi kita?’ Satu hari saya ceritakan hal ini kepada saudara sepupu (putra paman) saya Munsyi Abdul Ghafur Shahib dan berkata bahwa besok pagi atau sore hari saya telah memutuskan untuk pergi ke Qadian. (kisah sebelum baiat) Dia berkata, ‘Jangan engkau beri tahu kepada siapapun kepergian engkau ke sana, saya juga akan pergi bersama engkau.’ Mendengar dia mau ikut pergi hati saya merasa senang sekali. Pagi-pagi sekali hari berikutnya kami berdua pergi menuju Qadian. Pada waktu itu sedang musim panen gandum. Ketika sampai di Stasiun dan mulai naik dokar (Kereta kuda) seorang penumpang sudah duduk lebih dulu diatas dokar itu. Beliau adalah Mian Noor Ahmad Shahib Kabuli. Dengan menaiki dokar itu akhirnya kami sampai ke Qadian pada waktu Zuhur. Setelah berwudhu sampailah kami berdua ke Masjid Mubarak. Pada waktu itu Masjid Mubarak nampak kecil saja. Sebelum kami sampai sudah ada empat-lima orang duduk di dalam Masjid. Saya melihat mereka satu per satu dengan penglihatan yang serius, namun orang yang ingin saya lihat itu tidak nampak di situ (yakni beliau hendak melihat wajah Hadhrat Masih Mau’ud as namun tidak nampak diantara orang-orang yang duduk.) Lima belas menit kemudian datanglah Hadhrat Maulwi Nurud Din Shahib (Khalifatul Masih Awwal) yang masuk melalui sebuah pintu yang sempit dan berdiri. Sayapun langsung berdiri dengan segera. Saya berpikir didalam hati, ‘Bila ada wujud agung barangkali inilah orangnya.’ Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra bersabda kepada saya, ‘Duduklah tuan! Nanti sekejap lagi Hadhrat Masih Mau’ud as akan datang.’ (Sungguh tajam firasat beliau/Hudhur I ra bahwa orang itu salah paham lalu mengatakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as akan datang.) Atas perintah beliau itu saya pun duduk dan saya berpikir orang yang akan datang dan ditunggu ini tentu segalanya akan lebih [agung] dari Hadhrat Khalifah Awwal. Lima atau enam menit kemudian seorang khadim (pelayan) Hadhrat Masih Mau’ud as memberi tahu bahwa Hadhrat Aqdas sedang datang. Kira-kira setelah dua atau tiga menit terbukalah pintu Masjid Mubarak dan masuklah Hadhrat Masih Mau’ud as ke dalam Masjid. Saya melihat muka beliau begitu cemerlang laksana suuraj nishfun nahaar (matahari bersinar diatas zenitnya, matahari di tengah siang hari dengan cahaya penuhnya). Gambaran [wajah agung] yang hati ingin sekali melihatnya; demi Tuhan! Ternyata saya menemukannya melebihi itu [keagungan wajah mubarak Hudhur as melampaui gambaran dan perkiraan Mian Zhuhurud Din Shahib, Red.]. Dengan tibanya Hadhrat Aqdas, kami semua berdiri demi hormat kepada beliau. Setelah melihat nuraanii cehrah mubaarak (wajah penuh berkah beliau yang disertai dengan pancaran nur/cahaya) beliau as, hati saya merasa tentram dan sebaik apapun muka orang tidak dapat menandingi muka beliau yang cemerlang itu.” [5]

[5] Hadhrat Sheikh Abdul Karim Shahib ra menulis katanya, “Pada tahun 1903 saya menjadi seorang Ahmadi melalui Hakim Ahmad Husain Shahib Lyalpuri. Sekalipun Hakim Shahib seorang penduduk kota Lahore, tetapi oleh karena beliau bekerja di Lyalpur dan di sana beliau wafat beliau terkenal dengan panggilan Lyalpuri [orang Lyalpur]. Beliau datang ke Karachi dalam urusan pekerjaan beliau. Maka melalui tabligh beliaulah saya telah menjadi Ahmadi. Pada tahun 1904 ketika saya pergi ke Lahore saya tinggal di rumah beliau. Ketika saya pergi ke Masjid Gumbad untuk shalat Jum’at di sana diumumkan bahwa Hadhrat Aqdas as akan datang dan akan menyampaikan sebuah pidato di sini. Maka setelah mendengar pengumuman ini sayapun tetap tinggal di sana. Ketika Hadhrat Aqdas tiba rumah Mirajuddin Shahib sedang dipersiapkan untuk beliau dan beberapa buah kamar lainnya sudah selesai dipersiapkan. Hadhrat Aqdas as menyukai tinggal di rumah itu dan di situ juga shalat Jum’at dilaksanakan. Khotbah dan imam shalat Jum’at dilakukan oleh Hadhrat Maulwi Abdul Karim Shahib. Saya sedang tergila-gila dengan wujud Hadhrat Aqdas dan dengan cara bagaimanapun saya sangat ingin sekali mulaqat dengan beliau as. Sementara itu Hadhrat Doktor Yaqub Beg Shahib memegang tangan saya dan dengan kuat beliau menarik saya ke depan. Saya berada di shaf terdepan di sebelah kiri Hadhrat Aqdas as. Ketika saya sedang duduk membaca Attahiyyat teringatlah saya akan semua dosa dan terpikir untuk menggesekkan pundak saya dengan pundak mubarak Hadhrat Aqdas as. Namun tiba-tiba saya menangis tersedu-sedu sambil mencucurkan air mata sehingga nafas terasa sesak. melihat keadaan saya demikian Hadhrat Aqdas menenangkan hati saya dengan mengusap-usap punggung saya dengan tangan penuh berkah beliau. (Setelah selesai sembahyang. Setelah selesai membaca at-tahiyyat kemudian salam lalu tangan beliau as yang penuh kasih mengusap pundak beliau. Bukan di dalam shalat.) Ketika Hadhrat Aqdas telah berangkat [pulang] ke Qadian hamba yang lemah juga pergi bersama beliau as. Sesampainya di Qadian beliau langsung pergi ke Gurdaspur dan sayapun pergi bersama beliau as. Suatu kali setelah shalat Asar Hudhur Aqdas as bersabda, ‘Orang-orang menganggap, “Kami telah berjumpa dengan Masih Mau’ud dan baiat kepadanya. Hal demikian cukuplah bagi kami untuk mendapat keselamatan.” (Yakni kebanyakan orang beranggapan bahwa dengan baiat saja semua perkara sudah beres.) Sedangkan beliau as bersabda, ‘Yang paling utama adalah doa ini Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin-“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”. Inilah intisari yang dapat menyelamatkan manusia, kami hanya datang untuk menunjukkan manusia ke jalan yang lurus dan kami pun telah menujukkannya.’” [6] (Maka seseorang hendaknya berkeinginan keras diatas hal itu, [yaitu] beribadah dan memohon pertolongan Allah Ta’ala dan untuk itu harus ada usaha yang keras. Inilah dia hal yang utama yang membawa dirinya kearah a’la mi’yaar (standar yang setinggi-tingginya dalam hal ibadah dan memohon pertolongan kepada Allah) dan sempurnalah tujuan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

[6] Hadhrat Shahib Din Shahib ra menulis, “Kira-kira pada tahun 1904 saya mendengar berita dari Ahmadiyah Jemaat Lahore bahwa Hadhrat Aqdas as telah sampai di Lahore dengan Kereta Api. Kami pun pergi ke Stasiun Kereta Api untuk berjumpa Hudhur. Pada waktu itu Dokar yang dihela oleh dua ekor kuda sedang banyak dipergunakan oleh orang-orang dan kamipun sudah mempersiapkannya. Ketika Hudhur as telah naik keatas dokar itu maka menurut kebiasaan pada waktu itu kedua ekor kuda itu dilepaskan dari dokar itu dan kami sendiri bermaksud untuk menghela (menarik) dokar itu. (orang-orang itu melepas ikatan kedua ekor kuda pada dokar dan ingin menarik sendiri dokar tersebut.) Melihat perilaku kami demikian Hudhur as bersabda, ‘Kami datang demi memajukan umat manusia sehingga menjadikan manusia sampai ke tingkat yang paling tinggi bukan sebaliknya menjatuhkan martabat manusia menjadi penarik dokar seperti binatang.’ Mendengar sabda beliau as itu segera kami para khadim meninggalkan rencana itu dan kami segera memasang (mengikatkan) kembali kedua ekor kuda pada dokar itu. Saya segera berdiri di belakang Hudhur as sambil memegang payung menaungi Hudhur as dan saya merasa bangga mendapat kesempatan seperti itu.” [7]

[7] Hadhrat Choudhri Ghulam Rasul Shahib Basra ra menulis, “Pada Jalsah Salanah bulan Desember 1907 pada hari Kamis petang saya mendengar bahwa esok hari Hudhur as akan pergi berjalan-jalan pagi. Sesuai peraturan pada waktu itu apabila terdapat banyak orang maka dibentuklah sebuah lingkaran dengan cara saling berpegangan tangan di sekeliling Hudhur as. (peristiwa ini mungkin pernah dijelaskan.”

Di suatu tempat pernah saya (Hudhur V aba) pernah menceritakannya akan tetapi ringkasnya dari peristiwa itu terlihat bagaimana orang-orang itu/para sahabat nampak dzauq (rasa batin nan penuh kebahagiaan), syauq (gelora rasa hati penuh kerinduan dan cinta) dan khidmat mereka kepada beliau as).

“Hudhur as berjalan di tengah-tengah lingkaran itu supaya beliau tidak terdorong oleh orang-orang yang sedang ramai pada waktu itu. Maka saya berkata kepada teman-teman Maulwi Muhammad Gondal Shahib Amir Jemaat Chak No 99 Shumali, dan Choudry Mian Khan Shahib Gondal, ‘Apabila tuan-tuan pergi esok untuk berjalan pagi maka kita akan membuat sebuah lingkaran dengan saling berpegangan tangan di sekeliling Hudhur as dengan cara demikian selain kita dapat menjaga Hudhur kita juga dapat melihat langsung wajah mubarak Hudhur as dari dekat.’ Pagi-pagi ketika selesai shalat fajar orang-orang pun mulai berkumpul di tepi jalan menunggu kedatangan Hudhur. Kami tidak tahu pasti kearah mana Hudhur as akan berjalan pagi. Namun begitu terdengar suara Hudhur as akan pergi keluar untuk jalan pagi maka orang-orang segera beredar laksana laron (anai-anai). Untuk beberapa lama orang-orang berjalan ke sana-kemari tidak tahu kearah mana mau pergi. Akhirnya diketahui bahwa Hudhur akan pergi ke arah utara ke jalan yang berpasir. Maka saya bersama teman-teman siap membentuk sebuah lingkaran. Apabila Hudhur keluar dari pintu berjalan melalui arah Bazar (pasar), maka kami akan segera melingkari Hudhur sehingga beliau berada di tengah-tengah lingkaran. Ketika kami betul-betul sudah siap, apa gerangan yang kami lihat, Hudhur datang diantara (dikelilingi) sekelompok orang banyak sekali jumlahnya, dengan demikian gagallah keinginan kami. Orang-orang begitu banyak sehingga mendekati [beliau pun] kami gagal. Kami berjalan sambil melompat-lompat terus maju ke depan. Selesai berjalan-jalan Hadhrat Aqdas istirahat sambil berdiri di bawah sebatang pohon dan beliau as mulai berjabatan tangan dengan setiap orang. Ada seorang berkata, ‘Bawakanlah sebuah kursi untuk Hadhrat Aqdas as duduk!’ Mendengar hal itu beliau as bersabda, ‘Sejak awal Allah Ta’ala telah memberitahukan saya, “Akan banyak sekali orang yang datang kepada engkau! Akan tetapi (wahyu itu didalam Bahasa Punjabi yang artinya) ‘tu akke nah aur tahkee nah.’  [8] Yakni, Hendaknya engkau tidak takut (cemas) dan hendaknya engkau jangan merasa tidak senang (bosan) serta hendaknya tidak merasa lelah karena hiruk-pikuk orang banyak dan bertemu dengan orang ramai.” Mereka (perawi dan kawan-kawannya) berjumpa dengan beliau as.

[8] Hadhrat Doktor Umaruddin Shahib ra menulis, “Saya begitu haus rasanya ingin sering-sering berjabat tangan dengan Hadhrat Aqdas as sehingga saya maju berdesak-desakan didalam kerumunan orang-orang untuk berjabat tangan dengan beliau namun perasaan saya tidak pernah merasa puas.” [9]

[9] Hadhrat Doktor Abdullah Shahib ra menulis, “Pada suatu ketika saya hendak berangkat dari Batala menuju Qadian. Seorang Ahmadi tua tuna netra juga sudah siap untuk berangkat ke Qadian. Beliau berkata, ‘Adakah tempat duduk untuk saya didalam sebuah dokar?’ Saya bilang kepada beliau, ‘Tempat duduk ada, marilah duduk bersama di dalam dokar kami.’ Dia menjawab, ‘Tidak usah begitu, saya punya uang untuk ongkos dan saya akan pergi ke Qadian dengan membayar ongkos.’

            Yakni, beliau (Doktor) telah menawarkan kepadanya secara free (gratis), “Mari silakan. Ada ruang [kosong]. Tuan duduklah bersama kami.” Maka beliau (Ahmadi yang sudah tua dan tuna netra itu) berkata, “Saya memiliki sejumlah uang. Saya hanya akan pergi (masuk dokar dan ikut bersama) bila telah membayar.” Dari hal ini dapat diketahui bahwa demi menjaga kehormatan dan ghairat serta tidak suka meminta-minta, sekalipun dalam keadaan miskin beliau datang berulang kali ke Qadian. [10] Yakni, seorang tuna netra yang memiliki ghairat (rasa harga diri), beliau tidak meminta-minta kepada orang lain, tidak suka meminta-minta. Keduanya, beliau tekun mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk ongkos datang berulang kali ke Qadian supaya memperoleh banyak berkat dari pergaulan dengan Hadhrat Masih Mau’ud as.

 

[10] Hadhrat Mian Chiragh Din Shahib ra menceritakan, “Ketika Hakim Ahmad Din Shahib ra mau berangkat ke Lahore untuk bertemu dengan Hudhur as saya berkata sambil bercanda kepada beliau. Maka Hakim Shahib berkata, ‘Hai kawan! Engkau telah bercanda kepada kawan sendiri?’ Mendengar perkataan beliau itu saya merasa malu dan hati saya menjadi lembut. Karena ajakan beliau saya pergi menyertainya untuk bertemu dengan Hudhur. (pada waktu itu beliau ini belum menjadi Ahmadi dan beliau bercanda kepada Hakim Ahmad Din Shahib ketika mau berangkat berjumpa Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun Hakim Ahmad Din Shahib telah menjawab perkataan Hadhrat Chiragh Din Shahib itu sehingga beliau paham, timbul rasa malu dan hati beliau menjadi lembut. Katanya, saya pin lalu menyertainya.) ”Namun demikian, tidak memiliki keingingan untuk baiat. Ketika sampai di rumah Khawaja Kamaluddin Shahib [dimana Hudhur as tinggal], kami mendapat kabar bahwa kesehatan Hudhur as sedang terganggu. Orang-orang sudah berkumpul ramai tidak terhitung. Seseorang telah berkata kepada Hudhur as, ‘Orang-orang telah berkumpul ramai sekali. Mereka ingin berjumpa dengan Hudhur.’ Maka Hudhur as menampakkan wajah mubarak beliau melalui jendela. Pada waktu itu saya melihat wajah mubarak (penuh berkah) beliau dan saya menganggap bahwa orang berwajah seperti ini tidak mungkin berdusta. Maka sayapun langsung baiat.” [11]

 

[11] Hadhrat Malik Barkatullah Shahib ra putra Hadhrat Malik Nayaz Muhammad Shahib menjelaskan, “Pada suatu hari di waktu Asar tahun 1905 kami di Rahun Distrik Jalandhar menerima sebuah Post Card (Kartu Pos) memberitahukan bahwa Hudhur as akan pergi ke Delhi dan pagi-pagi pukul 08.00 atau pukul 09.00 Kereta Api akan melewati Stasiun Bhagwara. Haji Rahmatullah Shahib, Choudry Feroz Khan Shahib marhum memberi tugas kepada saya sambil berkata, ‘Kamu anak muda pergilah sekarang juga dan umumkanlah kepada Jemaat Keriam.’ Maka saya segera pergi setelah shalat Maghrib dan sampai ke Jemaat Keriam. Saya mengumumkan tentang kedatangan Hudhur as kepada Jemaat. Saya juga membawa beberapa kawan dari sana. Setelah berjalan kaki menempuh jarak 30 mil (sekitar 70-80 km) sampailah kami semua di Stasiun Bhagwara kemudian kami menunaikan shalat Shubuh. Di Stasiun, Munsyi Habiburrahman Shahib marhum telah mempersiapkan sebuah tempat tinggal bagi para anggota Jemaat yang datang dari Hajipur. Pada waktu siang makanan dikirim dari keluarga beliau. Ketika Kereta Api tiba kemudian berangkat lagi baru diketahui bahwa hari keberangkatan Hudhur as telah berubah. Diberitahukan bahwa tanggal keberangkatan Hadhrat Masih Mau’ud as telah berubah dan beliau akan datang pada suatu hari kemudian. Kami semua terdiam dan merasa sedih sekali. Disebabkan kecintaan yang meluap-luap sepanjang malam berjalan kaki dalam jarak jauh sedikitpun tidak merasa susah dan tidak pula merasa lelah. Namun sekarang selangkah saja berjalan susah sekali. Karena semangat dan haus sekali untuk melihat dan berjumpa beliau as berpuluh mil jauhnya berjalan kaki tidak merasa susah sedikitpun. Namun ketika mengetahui Hadhrat Masih Mau’ud as tidak jadi datang maka kaki yang bengkak dan terasa sakit mulai teringat dan perasaan sedihpun semakin terasa berat; untuk kembali ke rumah kakipun mulai terasa kaku.” [12]

 

[12] Hadhrat Munsyi Qazi Mahbub Alam Shahib ra menceritakan perihal peristiwa sebelum beliau menerima Ahmadiyah, “Ketika saya masih sekolah duduk di kelas 8 di kota Lahore ini orang-orang Mazhab Hanafi dan orang-orang Mazhab Wahabi sering melakukan perdebatan. Saya sendiri seorang dari Mazhab Hanafi. Saya mempunyai kesukaan untuk pergi ke Masjid orang Wahabi juga. Maka mulailah saya pergi ke Masjid Wahabi di Channiawali. Ketika saya mulai duduk di dalam Majlis mereka maka saya mulai tahu bahwa tidak ada hal lain yang mereka bahas selain Qolallahu Ta’ala (Allah berfirman) dan Qolar Rasul (Rasul bersabda). Perhatian saya telah beralih terhadap Ahlu Hadits (Wahabi). Dalam beberapa pembahasan orang-orang Wahabi itu menyebut-nyebut mengenai Hadhrat Shahib (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as, Pendiri Ahmadiyah). Mereka mengatakan bahwa Hadhrat Shahib adalah kafir dan da’wa kealmasihan (kemahdian) beliau as bertentangan dengan Islam. Secara alami pikiran saya tertuju kearah Jemaat ini. Saya mulai sering menjumpai seorang Ahmadi bernama Hadhrat Waliullah Shahib putra dari Baba Hidayatullah yang tinggal di Cabak Siwaran dan darinya saya memperoleh beberapa informasi tentang Hadhrat Shahib. Beliau menyuruh saya melakukan shalat Istikharah dan setelah saya memahami cara-cara melakukan shalat Istikharah dan telah menghafal doa-doanya saya pun melakukan shalat Istikharah. Pada malam hari dua jam setelah tengah malam (jam 2 dini hari) saya shalat Istikharah dan ketika sedang membaca doa-doa Istikharah tiba-tiba saya tertidur. Di waktu [tidur] itu terdengar oleh saya ada seseorang berkata kepada saya dalam ru’ya (mimpi), ‘Bangunlah dan duduklah engkau sebab Hadhrat Rasul Karim [Muhammad] saw sedang datang ke sini.’ Terdengar dari sebuah tangga suara langkah orang sedang naik. Saya dalam ru’ya itu sedang duduk. Tidak lama kemudian datanglah seorang berpakaian putih bersih sekali. Beliau saw memegang lengan Hadhrat [Mirza Ghulam Ahmad] Shahib dan membawanya berdiri di hadapan saya. Kemudian beliau saw bersabda, “هذا الرجل خليفة الله فاسمعوه وأطيعوا”. ‘Haadzar rajulu Khalifatullahi fasma’uuhu wa athii’u.’ – “Orang ini adalah Khalifatullah maka dengarlah perkataannya dan taatilah perintahnya!” Kemudian beliau saw itu pergi sedangkan Hadhrat Shahib tetap berdiri dekat saya dan sambil memukul dada beliau as sendiri dengan jari telunjuk beliau bersabda dalam Bahasa Punjabi, ‘Eho Rabb Khalifa kita isnu Mahdi jano!’ – ‘Saya ini Khalifah yang dilantik oleh Allah dan harus dikenal sebagai Mahdi.’ Kemudian saya bangun. Pagi-pagi saya bukan pergi ke sekolah tetapi saya berangkat ke Qadian. Kereta api pergi dari Lahore hanya sampai di Batala. Sampai di sana kira-kira sudah petang hari. Waktu Maghrib saya pergi untuk shalat ke sebuah Masjid kecil yang terletak di depan Stasiun [kereta api di] Batala. Selesai shalat Maghrib orang-orang bertanya kepada saya, ‘Dari manakah engkau datang dan mau pergi kemana?’ Saya menjawab, ‘Saya datang dari Lahore dan bermaksud pergi ke Qadian.’ Mereka banyak sekali memaki-maki Hadhrat Shahib dan melarang saya pergi ke Qadian. Ketika saya bertekad bulat untuk pergi ke Qadian mereka mengusir saya dari Masjid itu. Saya pergi ke Stasiun, beberapa orang mengejar saya dari belakang saya dan dengan keras mereka melarang saya pergi ke Qadian. Mereka berkata, ‘Jika engkau seorang pelajar maka kami akan membawa engkau kepada seorang Ustadz besar untuk belajar kepada beliau. Tempat tinggal dan pakaian engkau juga akan disediakan.’ Saya katakan kepada mereka, ‘Saya sudah belajar di Lahore, saya tidak perlu belajar lagi  di sini. Saya bermaksud pergi ke Qadian untuk ziarah kepada Hadhrat Shahib.’ Mendengar jawaban saya ini mereka semakin keras menentang dan memaki-maki Hadhrat Shahib. Akan tetapi saya tidak menghiraukan mereka. Lalu saya berjalan kaki ke arah Qadian setelah lewat waktu Maghrib. Jalan gelap sekali dan sebagian waktu malam sudah berlalu. Jalan yang sedang dilalui ini tidak pernah saya lihat sebelumnya. Saya sudah salah jalan dan sampai ke kampung bernama Masania. Di sana semua orang sudah pulang dari Masjid selepas shalat Isya, kecuali ada seorang sedang duduk sambil berzikir Ilahi. Ia bertanya kepada saya, ‘Engkau hendak pergi kemana dan dari manakah engkau datang?’ Saya menjawab, ‘Saya datang dari Lahore dan mau berjumpa dengan Mirza Shahib di Qadian.’ Ia menjawab, ‘Ini kampung Masania bukan Qadian. Dari sini Qadian masih jauh. Tidurlah engkau di sini dan esok pagi engkau pergi ke sana sebab jalan ke sana tidak baik.’ Maka saya pun menginap di masjid itu. Kira-kira pukul 04.00 pagi dan bulan sudah terbit saya berkata kepada orang itu, ‘Tunjukkanlah saya jalan ke Qadian.’ Maka orang itupun menunjukkan jalan kepada saya kemudian saya berangkat menuju Qadian. Saya kerjakan shalat Fajar (shubuh) di tepi sebuah sungai. Akhirnya sampailah saya ke Qadian kira-kira satu jam setelah matahari terbit. Di sebuah persimpangan jalan di Qadian saya bertanya kepada seseorang, ‘Dimanakah Mirza Shahib (tuan Mirza)?’ Dia bilang, ‘Lihatlah di sana di sebuah rumah ada orang habis mandi duduk bersimpuh diatas dipan sambil menghisap hookah (alat berbentuk seperti selang untuk menghisap tembakau yang dibakar/semacam merokok).’ (orang itu menunjuk kepada Mirza Nizamuddin, terhitung paman dari Masih Mau’ud dan seorang penentang Jemaat.) Saya pergi mengikuti isyarat orang itu dan saya melihat seorang sudah tua habis mandi duduk diatas sebuah dipan sedang menghisap hookah. Badannyapun masih nampak basah dengan tetesan air habis mandi. Saya sangat benci melihatnya dan menyesal datang ke Qadian. (Setelah menempuh perjalanan jauh dan susah sekali saya merasa gelisah dan kecewa mengapa saya datang ke Qadian untuk melihat orang ini.) Dengan putus asa saya kembali dari sana. (Allah Ta’ala memberi bimbingan) Di perjalanan saya berjumpa dengan seorang bernama Syaikh Hamid Ali Shahib dan beliau bertanya kepada saya, ‘Dari mana anda datang dan hendak berjumpa dengan siapa?’ Saya jawab, ‘Orang yang ingin saya jumpai sudah saya lihat dan sekarang saya sedang berjalan kembali pulang ke Lahore.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah anda datang untuk berjumpa dengan Mirza Shahib? Orang yang telah anda jumpai itu bukanlah Mirza Shahib dia orang lain. Mari ikut saya, saya pertemukan anda dengan beliau.’ Mendengar perkataan beliau itu barulah semangat saya timbul kembali dan saya merasa tenang sekali. Hamid Ali Shahib berkata, ‘Tulislah sepucuk surat diatas selembar kertas, siapa nama dan dari mana anda datang dan apa tujuannya, akan saya sampaikan kepada beliau.’ Maka dengan ringkas saya tulis, ‘Saya seorang pelajar, datang dari Lahore ingin ziarah kepada Hudhur dan hari ini juga saya bermaksud kembali ke Lahore.’ Dalam menjawab surat itu Hudhur as menyampaikan pesan tertulis, ‘Tinggallah di Mehman Khana (Guest House, tempat tamu) makanlah makanan dan setelah shalat Zuhur akan mulaqat. Saat ini saya (Hadhrat Masih Mau’ud as) sedang menulis sebuah buku dan urutan pembahasannya sudah ada didalam pikiran saya. Jika sekarang saya beri kesempatan mulaqat mungkin yang sudah ada didalam pikiran saya akan hilang lagi. Oleh sebab itu tunggulah sampai shalat Zuhur.’ Jawaban dari Hadhrat Shahib ini tidak menenteramkan hati saya sepenuhnya. Maka saya kirim surat yang kedua kepada Hudhur as dan saya katakan, ‘Saya sampai di sini setelah menghadapi banyak musibah sepanjang malam dan saya hanya ingin ziarah. Karena Allah Ta’ala saya mohon dengan hormat agar Hudhur memberi kesempatan kepada saya untuk ziarah (berkunjung) pada waktu ini juga.’ Barulah Hudhur as mengirim pesan lagi, ‘Persilakanlah beliau duduk di Masjid Mubarak, saya akan datang untuk berjumpa dengannya.’ Di sana saya duduk selama 15 menit. Setelah itu Hudhur mengirim pesan lagi, ‘Panggillah ia kepada saya.’ Kemudian saya melihat Hudhur as dari rumah beliau as datang melalui lorong sebelah sana dan saya juga datang dari lorong sebelah sini. Dari jauh pandangan saya jatuh kepada wujud Hudhur maka beliau persis seperti wujud yang diperlihatkan kepada saya dalam ru’ya (mimpi) itu. Hadhrat Shahib memegang asha (tongkat) dan memakai pagri (sorban) juga. Seolah-olah semua keadaan sama seperti apa yang saya lihat sebelumnya didalam mimpi saya. Semua yang Hudhur pakai tidak ada bedanya dengan yang saya lihat didalam ru’ya itu. Hadhrat Shahib berjalan kearah saya dan sayapun berjalan kearah beliau. Sedikit ke depan dari pintu kamar yang bundar saya berjumpa dengan Hudhur as. Setelah saya lihat Hudhur as dari dekat saya mengenal beliau, inilah orang suci yang saya lihat didalam ru’ya dan benar. Kemudian saya peluk Hudhur sambil menangis mencucurkan air mata yang tidak dapat ditahan. Saya tidak mengerti dari mana datangnya tangisan saya di waktu itu dan kenapa saya menangis? Namun saya terus-menerus menangis selama beberapa menit lamanya. Hudhur bersabda kepada saya, ‘Sabarlah! Sabarlah!’ Ketika tangisan saya sudah mulai reda dan pikiran saya sudah stabil maka Hudhur bertanya kepada saya, ‘Dari manakah tuan datang?’ Dengan suara berat saya menjawab, ‘Saya datang dari Lahore.’ Bersabda lagi, ‘Kenapa tuan datang ke sini?’ Saya jawab, ‘Hanya untuk ziarah (berkunjung)!’ Bersabda lagi, ‘Adakah sesuatu urusan tertentu?’ Saya menjawab lagi, ‘Hanya semata-mata untuk ziarah!’ Hudhur bersabda, ‘Banyak orang datang untuk memohon doa bagi dirinya sendiri. Apakah  tuan juga mempunyai keperluan seperti itu?’ Saya menjawab, ‘Saya tidak mempunyai keperluan apa-apa seperti itu.’ Maka dengan gembira Hudhur bersabda, ‘Mubarak-lah (selamatlah bagi) anda! Seseorang datang kepada Ahlullah (wali Allah) tanpa suatu keperluan pribadi adalah berfaedah sekali.’ (Hadhrat Shahib mengajukan pertanyaan karena di hari-hari itu Hudhur telah menyebarkan suatu selebaran yang di dalamnya disebutkan, ‘Kebanyakan orang datang kepada saya demi memohon doa bagi maksud-maksud tertentu dari pribadinya.’) [13] Namun Hudhur sangat gembira mendengar jawaban-jawaban dari saya, bahkan beliau mengucapkan Mubarak kepada saya karena tujuan saya hanyalah semata-mata untuk ziarah kepada beliau.”

 

[13] Hadhrat Malik Ghulam Husain Shahib Muhajir ra menceritakan, “Dua bulan setelah saya kembali ke Tanah Air timbullah keinginan saya untuk pergi ke Qadian akan tetapi ongkos untuk pergi tidak ada. Tetapi hati saya ingin sekali pergi sekalipun harus jalan kaki ke sana. Saya mempunyai uang hanya 2 Rupees. Sekalipun ada kendaraan [kereta api] namun saya berjalan kaki dari kota Rahtas menuju kota Jhelum. Kemudian timbul pikiran untuk terus berjalan kaki. Ketika akan melewati jembatan Jhelum saya menjumpai empat atau lima orang tentara yang masing-masing memiliki dua ekor kuda. Melihat demikian saya berkata kepada mereka, ‘Berilah saya [pinjaman] salah seekor kuda!’ Mereka berkata, ‘Kamu orang Gujarat, kami takut jika seekor kuda diberikan kepadamu nanti kamu bawa lari.’ Saya menjawab, ‘Saya orang dari distrik Jhelum bukan orang Gujarat. Saya datang dari Rahtas.’ Namun mereka tidak percaya dan menolak namun saya tetap ikut bersama mereka karena mereka biasa berjalan malam hari. Ketika sampai di Merala dua orang dari para tentara itu turun dan saya juga tetap ikut tinggal dengan mereka kemudian menghamparkan peralatan untuk tidur. Seorang Sikh [dari antara mereka] berkata, ‘Saudara! Hendaknya tidak berjalan mengikuti kami! Kami takut (khawatir) dengan anda.’ Kala waktu tengah malam mereka berjalan. Saya mengikuti mereka. Seorang Sikh berkata, ‘Sebetulnya kami takut jangan-jangan kamu melarikan seekor kuda kami.’  Saya bilang, ‘Saya terpaksa ikut bersama-sama di belakang kalian karena saya ingin berjalan cepat-cepat.’ Orang Sikh itu berkata kepada kawan-kawannya, ‘Nampaknya perangai orang ini baik dan penurut. Berikanlah kuda seekor kepadanya.‘ Setelah menerima seekor kuda dari mereka maka sepanjang tiga mil saya melanjutkan perjalanan dengan menunggangi kuda itu bersama mereka dan sampailah ke Wazirabad masih pada malam hari. Mereka memberikan saya uang untuk membayar Tax (cukai) melewati jembatan dan mereka juga memberi saya makan malam. Kami bermalam di Kamungki atau Muridakah pada malam berikutnya. Mereka memberi saya makanan. Setelah berjalan pada malam harinya kami sampai di kota Lahore pada pukul 7 atau 8 pagi. (kira-kira menempuh perjalanan sepanjang 150 mil atau sekitar lebih dari 230 km) Ketika sampai di Lahore kami berpisah sebab arah jalan mereka berbeda dengan saya.

Kereta api berangkat dari Lahore pukul 11.00. Saya sudah sampai di Stasiun pukul 8.00 pagi. Karenanya bisa dibayangkan siapa yang bertahan menunggu Kereta Api selama tiga jam? (Karena kerasnya keinginan hati untuk sampai ke Qadian, mana tahan menunggu 3 jam) maka berangkatlah saya dengan berjalan kaki [menuju arah Qadian]. Dalam waktu satu setengah jam saya sampai di Jalwah. Di sana saya bertanya tentang Kereta Api maka dikatakan Kereta Api akan jalan pada pukul 12.15. Kemudian saya mulai meneruskan lagi perjalanan kaki saya. Lalu sampai di Utari. Saya bertanya di sebuah Stasiun yang katanya satu setengah jam lagi Kereta Api akan tiba. Maka tanpa membuang waktu dari sanapun saya berjalan kaki lagi. Apa lagi yang ditunggu. Dua mil lagi sampai di stasiun Khasa, kereta api telah berjalan keluar. Saya bertanya kepada orang Khasa tentang Kereta Api yang katanya, ‘Sekarang Kereta Api berikutnya akan datang pukul 7 petang (19.00).’ Mendengar jawaban demikian kemudian saya pergi berjalan kaki lagi. Akhirnya menjelang petang sampailah saya di Amritsar. Di sana ada seorang Syaikh teman sekampung, saya menjumpainya di rumahnya dan tinggal satu malam dengannya. Pagi-pagi dari sana saya pergi ke stasiun dan naik Kereta Api menuju Batala dengan membayar sejumlah uang sekitar 6 Ana (setengah Rupee). Dari Batala saya berjalan kaki lagi dan sampailah di Qadian pukul 5 petang. Keesokan harinya saya berjumpa dengan Hadhrat Shahib. Saya telah menempuh perjalanan selama 4-5 hari dengan senang hati. Dengan hormat saya minta izin kepada Hudhur as untuk berbicara bahwa di waktu kecil kami sering berkata, ‘Ya Allah, Apabila Imam Mahdi datang berilah taufik kepada kami untuk menjadi tentara beliau.’ Kemudian kisah perjalanan juga semuanya diceritakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, bagaimana lika-liku perjalanan saya yang sebagian besar dilalui dengan berjalan kaki. Sedikit waktu melakukan perjalanan dengan naik kuda. Mendengar semua kisah itu maka Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ‘Anda telah berkeinginan keras [dan berjuang keras sekali] untuk datang ke sini.’ Bersabda lagi, ‘Pekerjaan apa yang dapat tuan lakukan?’ Saya jawab, ‘Hudhur, selain memasak roti saya tidak tahu pekerjaan lain. Itupun hanya tahu sederhana saja.’ Bersabda, ‘Tuliskanlah nama tuan, di waktu perlu tuan akan kami panggil.’ Kemudian sesuai nasihat Hudhur as saya tulis nama saya Ghulam Husain dari Rahtas, Distrik Jhelum.”[14]

            Ini semua adalah riwayat orang-orang yang mempunyai keinginan keras untuk berjumpa dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Untuk itu mereka telah menanggung banyak sekali kesulitan dan penderitaan dan kesulitan serta penderitaan itu sangat kecil sekali artinya bagi mereka bila kesulitan tersebut dibandingkan dengan berkat-berkat yang mereka peroleh dari Hadhrat Masih Mau’ud as dan yang telah meningkatkan dalam hal keimanan mereka terhadap beliau as. Semoga kita tidak hanya menikmati dengan gembira mendengar kisah-kisah itu melainkan semoga Allah Ta’ala menjadikan setiap kisah itu menjadi sarana bagi kita untuk menjadi orang-orang yang bertambah dalam hal keimanan.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar. [15]

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (huru-hara, pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

Hadits-Hadits Mengenai Saling mencintai dan mengunjungi Saudara karena mengharap ridha Allah Ta’ala

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلاَلِي الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلِّي».

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman di hari kiamat, ‘Dimanakah mereka yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku naungi mereka dalam naungan-Ku. Hari kala tak ada naungan selain naungan-Ku.’”

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَّ رَجُلاً زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللَّهُ لَهُ عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ أَيْنَ تُرِيدُ قَالَ أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا قَالَ لاَ غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ. قَالَ فَإِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ»

“Seseorang mengunjungi saudaranya karena mencintainya karena Allah… Maka utusan Allah berupa malaikat berkata kepadanya, ‘Ketahuilah bahwa sebenarnya aku ini utusan Allah untuk menyampaikan kabar kepadamu bahwa Allah juga mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu’.” (Shahih Muslim, Kitabul birri wash shilah, bab fadhlil hubbi fillaah)

Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga? Mereka berkata: “Tentu wahai Rasulullah“, maka beliau bersabda: “Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah maka ia di surga.” (Hadits hasan, diriwayatkan At-Thabrani)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 11, nomor 363-364 riwayat Hadhrat Mian Muhammad Zhuhuruddin Shahib Dauli ra

[3] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 11, nomor 11-12 riwayat Hadhrat Haji Muhammad Musa Shahib ra

[4] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 11, nomor 79-80 riwayat Hadhrat Doktor Sayyid Ghulam Ghauts Shahib ra

[5] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 11, h. nomor 360-362 riwayat Hadhrat Mian Muhammad Zhuhuruddin Shahib Dauli ra

[6] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 1, h. 1-2 riwayat Hadhrat Syaikh Abdul Karim Shahib ra

[7] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 1, h. 10 riwayat Hadhrat Shahib Din Shahib ra

[8] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 1, h. 71 riwayat Hadhrat Choudhri Ghulam Rasul Shahib ra

[9] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 1, h. 184 riwayat Hadhrat Doktor Umaruddin Shahib ra

[10] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 2, h. 109-110 riwayat Hadhrat Doktor Abdullah Shahib ra

[11] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 9, h. 336 riwayat Hadhrat Mian Chiragh Din Shahib ra

[12] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 3, nomor 227-228 riwayat Hadhrat Malik Nayaz Muhammad Shahib Ma’rifat Malik Barkatullah

[13] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 9, h. 120-126 riwayat Hadhrat Munsyi Qadhi Mahbub Alam Shahib ra

[14] Rejister Riwayat Shahabah (ghair mathbu’ah) rejister number 10, h. 319-320 riwayat Hadhrat Malik Ghulam Husain Shahib Muhajir ra

[15] Rujukan pola kata-kata khotbah kedua ini ialah hadits Sunan Abi Daud, Kitab ash-Shalaah, Abwaabul Jumu’ah, Bab ar-Rajulu yakhthubu ‘alal qaum.