Sayyidina Amirul Mu’minin 

Khotbah Jum’at

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 11 Hijrah 1391 HS/Mei 2012

Di Masjid Baitul Futuh, London (UK).

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 Di dalam Butir Ke-10 Syarat Baiat, Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam telah menetapkan keharusan standar (ukuran) hubungan, kecintaan dan persaudaraan dengan beliau as hingga mencapai suatu ikatan erat yang tidak ada misal (contohnya) dalam perhubungan-perhubungan di dunia. [2] Mengapa kedudukan ini penting yang harus diberikan setelah baiat kita kepada beliau as? Demikianlah, hal tersebut karena di akhir zaman ini, hanya beliaulah ‘asyiq shadiq (pecinta sejati) Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; yang sesuai nubuatan (kabar) dari Hadhrat saw, beliau as telah membawa iman dari bintang Tsurayya turun ke bumi. Beliau as menghilangkan (menjauhkan) segala macam bid’ah yang telah masuk kedalam ajaran Islam lalu menyajikan di hadapan kita ajaran Islam yang murni dan bersinar (mencerahkan). Beliau as membuat kita mengenal kembali maqam hakiki (kedudukan sebenarnya) Hadhrat Rasulullah saw mempertemukan hamba dengan Tuhan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda di satu tempat,

“Saya memahami dari ilmu sempurna dan ilmu sejati saya bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mencapai Tuhan dan memperoleh bagian dari ma’rifat kaamilah (ilmu ruhani yang sempurna) tanpa mengikuti Nabi saw ini.” [3]

Jadi, penghambaan dan ketaatan yang sempurna kepada Hadhrat Rasulullah Saw itulah sumber utama keberhasilan beliau as dalam memperoleh qurb, kedekatan Ilahi. Sehingga, sebagai imbalannya, Allah Ta’ala pun menyatakan: Adalah penting untuk menjaga ikatan tali persaudaraan dan pengkhidmatan kepada beliau as. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Tatkala manusia mencintai Allah dengan sebenar-benarnya, maka demikian pun Allah Ta’ala dalam mencintai mereka. Makbuliyat menjadi keniscayaan bagi insan semacam itu di muka bumi ini. Kecintaan kepadanya ditanamkan kepada ribuan demi ribuan orang. Ia dikaruniai daya pikat luar biasa. Nur cahaya Ilahi dikaruniakan kepadanya, dan akan senantiasa bersamanya.” [4]

[1] Hadhrat Allah Yar Shahib ra meriwayatkan, “Disebabkan kecintaanku yang sedemikian dalam kepada [setelah bermulaqat dan bermajlis irfan bersama] Hadhrat Masih Mau’ud as, maka saya pun menyatakan hijrah ke Qadian, dan memulai kembali profesiku sebagai perajin kayu. Namun, tabunganku habis, sehingga untuk menyambung hidup terpaksa saya berjualan ‘halwa’, yang tempatnya tepat berada di bawah tempat tinggal Hadhrat Masih Mau’ud as Mendengar teriakan-teriakanku menawarkan dagangan, Hadhrat [Ummul Mukminin] Amaan Jan r.ha. berseru keras kepada Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai pilihan profesiku yang baru ini, yang seharusnya dicarikan yang lebih layak. Hadhrat Masih Mau’ud as menerangkan kepada beliau r.ha mengenai keterbatasan keterampilanku sebagai perajin kayu. Pembicaraan beliau-beliau itu terdengar olehku hingga ke bawah tempat saya berjualan. Belakangan Hadhrat Masih Mau’ud as memerintahkan agar saya diberi order 20 (dua puluh) stel berbagai komponen dipan.[tempat tidur] dari seberapa pun kayu yang dapat diperoleh.” [5]

[2] Hadhrat Malik Khan Shahib ra meriwayatkan, “Pada tahun 1902 saya datang ke Qadian Darul Amaan bersama Shahibzada Abdul Latif Shahib Marhum radhiyallahu ‘anhu. Saya tidak ingat apakah saat saya datang saya baiat hari itu atau pada hari keduanya. Ya, yang saya ingat ialah kami baiat setelah shalat Zuhur. Pertama, Hadhrat Syahid Marhum ra terlebih dulu yang mengulurkan tangannya ke tangan Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as kemudian selanjutnya tangan hamba yang lemah ini. Lalu, kami pun tinggal di Qadian selama beberapa hari hingga Shahibzada syahid berkata kepada saya agar cepat kembali ke kampung sebelum Pemimpin Khost menjadi berang. Lama sebelumnya, Shahibzada syahid ini biasa berkata: Dengan karunia Allah Ta’ala semata, saya belum pernah menjumpai seorang Ulama besar yang lebih mumpuni dibanding diriku. Maksudku, seandainya pun ada, saya akan mencium kakinya.’ Maka setelah Baiat itulah, saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, Shahibzada syahid mencium kaki Hadhrat Masih Mau’ud as yang beberkat.” [6]

[3] Hadhrat Maulwi Sakandar Ali Shahib ra menjelaskan, “Suatu hari dalam kunjungan saya ke Qadian sebelum bandah (hamba, saya) memutuskan untuk tinggal di sini. (Suatu hari saat datang ke Qadian sebelum beliau menetap di Qadian) hamba berjalan pagi mengikuti (menyertai) Hadhrat Aqdas as. Saya masih teringat hingga sekarang, sembari berjalan beliau as bersabda, ‘Barangsiapa yang tidak sanggup meninggalkan hal-hal kecil yang dengan meninggalkannya orang-orang tidak akan marah (terganggu) seperti menghisap huqqah (semacam merokok atau menghisap tembakau), opium, bhank, cars atau hal-hal lainnya, bagaimana mungkin orang semacam itu dapat menghindari berbagai perkara besar yang dapat membuat ayah-ibu, saudara-saudari, teman-temannya marah? Seperti perubahan keyakinan’ Waktu itu, saya masih suka menghisap tembakau (Hukkah). Maka seketika itu juga saya berhenti total dari kebiasaan buruk saya itu.” Jadi, kecintaan hakiki dan taat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as itulah yang sanggup membuat dirinya untuk segera meninggalkan kebiasaan buruk.” [7]

[4] Hadhrat Syukur Ilahi Ahmadi ra meriwayatkan, “Ketika saya masih berusia remaja 12 atau 13 tahun dan tak peduli agama, Hadhrat Masih Mau’ud as sering ‘datang mengurus perkara di Pengadilan tak jauh dari sekolahku. Saya suka bolos hanya untuk dapat menyaksikan wajah Hadhrat Masih Mau’ud as yang penuh berkat. Kemudian, saya pun terheran-heran menyaksikan salah seorang sahabat beliau yang membawa kipas angin besar, lalu sigap mengipasi Hadhrat Masih Mau’ud as dengan kekuatan luar biasa, layaknya digerakkan oleh tenaga listrik. Sebagai seorang pemuda belia, saya tercengang-cengang oleh kekuatan magis sahabat tersebut yang kuat mengipasi Hadhrat Masih Mau’ud as hanya dengan satu tangan. Belakangan saya memahami, bahwa berkat kecintaan hakiki kepada Hadhrat Masih Mau’ud as itulah beliau-beliau sanggup berkhidmat seperti itu.” [8]

[5] Hadhrat Madad Khan Shahib ra meriwayatkan, “Saya baru masuk dinas militer, tetapi saya sangat berhasrat berziarah ke Qadian sebelum diterjunkan ke medan tugas, yakni Baiat secara langsung di tangan Hadhrat Masih Mau’ud as, sebab sebelumnya saya baru Baiat via surat saja. Ini dikarenakan saya khawatir jika sudah ditugaskan, sangat boleh jadi saya tak mendapat kesempatan untuk bermulaqat dengan Hadhrat Masih Mau’ud as. Sesampainya saya di Qadian dan menyaksikan wajah aqdas Hadhrat Masih Mau’ud as, seketika itu juga saya merasakan: Seandainya pun seluruh kedaulatan negara Kashmir diserahkan kepada saya, saya tidak akan sudi meninggalkan Qadian. Demi menyaksikan wajah aqdas Hadhrat Masih Mau’ud as, sungguh sulit bagiku untuk meninggalkan Qadian. Saya menjadi lupa segala hal yang lain, dan merasa: Seandainya pun saya digaji 1.000 Rupees, namun saya tak dapat menyaksikan wajah yang memancarkan nur rohani, tiadalah artinya. Dan seandainyapun saya mati di Qadian, tentulah Hadhrat Masih Mau’ud as akan mengimami Shalat Jenazahku. Maka tercapailah tujuan utama kehidupanku. Setiap hari tersedia sepucuk amplop [surat] dariku untuk Hadhrat Masih Mau’ud as, namun belum yakin apakah perbuatanku itu benar ? Namun, suatu hari Hadhrat Masih Mau’ud as membalasnya, bahwa: Adalah jaiz untuk mengingatkanku agar mendoakan secara dawam. Saya telah mendoakan tuan, dan begitu seterusnya hingga ke masa yang akan datang.” [9]

[6] Hadhrat Muhammad Ismail Shahib ra meriwayatkan, “Saya baru berusia 20 tahun ketika Hadhrat Masih Mau’ud as ‘datang ke Gurdaspur untuk menghadiri suatu perkara di Pengadilan. Saya ‘datang bersama ayahku. Saya melihat Hadhrat Masih Mau’ud as ‘datang beserta rombongan, dan melihat ayahku [bergabung menjadi] sebagai salah satu di antaranya. Kemudian saya mulai mengipasi tubuh  Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as tersenyum kepada ayahku sambil berkata: ‘Mian Ismail pun tak mau ketinggalan mengambil sawab-nya.’ Dan saya senantiasa merasa bahagia manakala teringat peristiwa tersebut.” [10]

[7] Hadhrat Sheikh Asghar Ali Shahib ra meriwayatkan, “Biasanya, manakala para sahabat yang berziarah ke Qadian permisi pulang, Hadhrat Masih Mau’ud as akan menasehati mereka agar sering-sering ‘datang kembali. Bahkan, kepada beberapa orang yang beliau as rasakan dapat tinggal lebih lama, beliau pun meminta mereka agar menginap beberapa hari lagi. Pendek kata, setiap tamu meninggalkan Qadian setelah permisi dan bersalaman dengan Hadhrat Masih Mau’ud as Namun, adakalanya giliran untuk dapat bersalaman tersebut cukup lama, sehingga sangat boleh jadi akan ketinggalan kereta. Tetapi seringkali pula kereta apinya yang ‘datang terlambat. Hal ini terjadi pada diriku. [Setelah permisi dan bersalaman itu], maka saya pun berjalan cepat-cepat, bahkan setengah berlari agar bisa tepat waktu ‘datang di Stasiun. Tetapi ternyata, kereta api itu ‘datang terlambat.” [11]

[8] Hadhrat Master Nazir Husain Shahib ra menulis, “Adalah kebiasaanku yang dawam, manakala saya berkesempatan berada di dalam majelis yang berberkat bersama Hadhrat Masih Mau’ud as saya selalu membawa buku catatan dan pensil agar dapat mencatat segala macam sabda beliau as yang perlu segera dilaksanakan, dan juga berbagai hikmah faedah lainnya.” [12]

[9] Hadhrat Allah Ditta Shahib ra meriwayatkan: ‘Sekira tahun 1901 atau 1902 seorang ‘nawab Shahib’ beserta beberapa pengawal pekerjanya ‘datang berobat kepada Hadhrat Maulana Nuruddin ra, Namun, waktu itu juga mereka mendapat kabar, bahwa seorang ‘viceroy’ (Gubernur Jendral) sedang dalam perjalanan untuk meninjau daerahnya. Maka nawab Shahib itu pun harus segera pulang kembali. Oleh karena itu ia memohon untuk dapat membawa serta Hadhrat Maulana Nuruddin Shahib ra. Tetapi beliau berkata: ‘Kehidupanku sekarang bukan milik saya lagi. Tuan tanyakan sajalah kepada majikanku. Maka para inang ‘nawab Shahib’ itu pun memohon kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, yang beliau jawab: ‘Memang tak diragukan lagi, jika saya tempatkan ‘Maulwi [Nuruddin] Shahib’ ini di dalam api, beliau akan taat. Begitupun seandainya saya tempatkan di dalam air. Namun, beliau sangat dibutuhkan di Qadian sehingga dapat melayani fakir miskin. Maka jika ‘nawab Shahib’ memerlukan pengobatan beliau, bolehlah ia tinggal di sini.’ Hadhrat Maulana Nuruddin ra sangat senang mendengar sabda  Hadhrat Masih Mau’ud as, mengenai diri beliau tersebut, sehingga beliau pun hanya terdiam saking gembiranya atas ungkapan kata junjungannya tersebut.” [13]

[10] Hadhrat Master Wadaway Khan Shahib ra meriwayatkan, “Suatu ketika saya sedang berada di Qadian, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda sambil menunjuk kepada Hadhrat Maulana Nuruddin ra, ‘Beliau ini adalah pecinta dan abdi-ku yang sejati.’” [14]

[11] Hadhrat Master Maula Bakhsh Shahib ra putra ‘Umar Baksh Shahib meriwayatkan, “Suatu kali saya berziarah ke Qadian di musim liburan. Ketika harus pulang kembali,  dan sudah mencapai batas desa, timbul suatu keengganan di dalam diriku. Maka saya pun hanya duduk saja di tengah lapangan, memelas, kemudian menangis. Lalu, saya putuskan untuk kembali ke Qadian [Darul Amaan], dan baru pulang setelah masa liburan sekolah berakhir.” [15]

[12] Hadhrat Maulwi Muhibbur Rahman Shahib ra meriwayatkan, “Saya berziarah ke Qadian bersama ayahku pada tahun 1899. Begitu pedati kami tiba di muka Guest House, ayahku langsung melompat turun lalu berlari masuk. Barang-barang bawaan kami diurus oleh Hafiz Hamid Ali Shahib yang muncul dari rumah tersebut. Keesokan harinya ba’da Shalat Fajr, kami berkunjung ke rumah Hadhrat Masih Mau’ud as Beliau sendiri yang menyambut salam kami dan membukakan pintu. Kemudian beliau duduk di atas dipan yang dikelilingi banyak buku. Ayahku dan Hadhrat Masih Mau’ud as berbincang lama membahas berbagai perkara. Kemudian ayahku berkata: Sengaja saya membawa serta anak saya Mohib ini agar supaya ia pun Baiat.’ Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: ‘Baiat tuan sudah termasuk di dalamnya.’ Namun ayahku berkata: Tapi saya ingin agar anak saya ini pun Baiat juga [tersendiri] agar dapat didoakan secara khas. Maka saya pun Baiat saat ba’da Shalat Maghrib itu. Kemudian saya pun menyadari mengapa ayahku kemarin langsung melompat dari kuda pedati begitu tiba, ialah, disebabkan cintanya yang besar kepada Hadhrat Masih Mau’ud as sedemikian rupa.” [16]

[13] Hadhrat Haji Muhammad Musa Shahib ra meriwayatkan, “Suatu kali, anak lelakiku yang baru berusia empat tahun menyampaikan hasratnya ingin memeluk Hadhrat Masih Mau’ud as Karena ia merengek-rengek terus, maka besoknya kami berangkat ke Qadian naik kereta api. Lalu, dikirimlah pesan kepada beliau as, bahwa: Ada seorang anak kecil yang ingin memeluk Hudhur Aqdas. Maka ketika Hadhrat Masih Mau’ud as muncul kemudian, anak kami ini pun memeluk kaki beliau. Belakangan ia berkata dengan terbata-bata: Saya merasakan ketenteraman ketika memeluk beliau as” [17]

[14] Hadhrat Mian Abdul Ghaffar Jarraah Shahib ra meriwayatkan, “Suatu kali, ketika saya berada di klinik Hadhrat Maulana Nuruddin Shahib bersama ayahku, tiba-tiba saya melihat Hadhrat Masih Mau’ud as muncul di Alun-alun Ahmadiyah. Maka saya pun berteriak: Ayah-ayah, lihat itu Hadhrat Masih Mau’ud as berada di situ ! Seketika itu juga ayahku memberi isyarat agar bicara perlahan-lahan supaya jangan terdengar banyak orang, lalu mereka berkumpul mengelilingi beliau as sehingga kita tak dapat berdekat-dekat dengan Hadhrat Masih Mau’ud as dan mendengarkan segala perkataan beliau. Lalu kami pun segera memburu dan menyalami tangan beliau. Hadhrat Masih Mau’ud as bicara akrab dengan ayahku, lalu minta diceritakan mengenai  Amritsar. Namun ayahku berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud as: Tetapi orang-orang ini berusaha menyela pembicaraan kita.’ Maka beliau as pun bersabda: Berilah kesempatan kepada tuan ini untuk berbicara.’ Beberapa saat kemudian ketika beliau-beliau berjalan, ada lagi seorang ikhwan yang meminta ayahku untuk berhenti bicara. Namun Hadhrat Masih Mau’ud as berkata: ‘Biarlah hari ini hanya Ghulam Rasul yang berbicara. Tiada yang lainnya.’[18]

[15] Hadhrat Sheikh Zainul Abidin Shahib ra mengisahkan, “Adik saya laki-laki yang adalah seorang pelajar Kelas-8 (SMP Kelas-2) sakit keras. Ketika sudah tidak ada lagi pengharapan untuk sembuh, keluarga kami membawanya ke Qadian. Sementara itu, Hadhrat Masih Mau’ud as telah mendapat ilham, bahwa beliau harus mengimami Shalat Jenazah seorang anak, yang beliau pikir, itu adalah salah seorang anak beliau sendiri. Ketika adik saya yang sakit itu tiba di Qadian, Hadhrat Masih Mau’ud as memperoleh ilham Ilahi lainnya, yang mengatakan bahwa: Anak laki-laki itu tak akan dapat diselamatkan. Bawa saja kembali ke rumahnya. Maka kemudian, persiapan untuk pulang kembali ke rumah pun kami lakukan. Tetapi adik saya menolak: ‘Saya ingin tetap berdekat-dekat dengan Hadhrat Masih Mau’ud as’ katanya Ketika hal ini disampaikan, beliau as tersenyum sambil berkata: ‘Tak mengapa, silakan tinggal di sini.’ Kemudian beliau as menyampaikan kepada keluarga kami, bahwa: Anak ini akan meninggal juga di antara sembuh dan sakitnya.’ Suatu petang, ketika ia pulang [dari bermain] berkata kepada ibunda: ‘Umi, lentera saya sudah akan padam.’ Maka ibunda pun memeluknya; lalu adik saya menghembuskan nafasnya yang terakhir ketika ia memeluk ibunda. Hadhrat Masih Mau’ud as mengimami Shalat Jenazahnya. Prosesinya panjang, hingga membuat jamaah kelelahan.” [19]

[16] Hadhrat Mian Abdur Razzaq Shahib ra meriwayatkan, “Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as ‘datang ke Jhelum untuk menghadiri suatu sidang pengadilan yang terkenal, demikian banyak orang yang berkumpul, berebutan untuk dapat menyaksikan wajah beliau as Sehingga tak jarang pihak kepolisian harus saling berhadapan dengan massa publik. Keprihatinan kami yang utama adalah Hadhrat Masih Mau’ud as dapat kembali ke rumah dengan selamat.” [20]

[17] Hadhrat Mian Wazir Muhammad Khan Shahib ra meriwayatkan, “Ketika untuk pertama kalinya saya menyaksikan wajah aqdas Hadhrat Masih Mau’ud as, jiwa raga saya terpana. Ketika itu, saya Shalat Jum’at berdekatan dengan Hadhrat Masih Mau’ud as, beliau menyadari bahwa saya menatapi wajah beliau, oleh karena itu memberi saya kesempatan sedemikian rupa. Sehingga saat-saat tersebut mengharukan diriku, sayapun menangis terisak-isak, bahkan hingga setelah selesai Shalat.” [21]

[18] Hadhrat Doktor Ghulam Ghaus Shahib ra menulis, “Mir Mehdi Husain Shahib meriwayatkan: Suatu kali saya ditugaskan dari Qadian ke Amritsar untuk mengambil es [balok]. Dalam perjalanan pulang naik kereta api, kepala saya mendongak ke luar jendela untuk melihat sesuatu, maka kopiahku pun terbang tertiup angin. Ketika tiba kembali di Qadian, Mir Nasir Nawab Shahib menanyaiku, ‘Apakah seseorang telah memukuli tuan, hingga kepala tuan pun tak bertutup?!’ Saya menjawab, ‘Kopiahku terbang ditiup angin!’ Maka Mir Nasir Nawab Shahib menceritakan hal ini kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, yang langsung menjawab akan memberi kopiah penggantinya. Karena saya tak mengharapkan sesuatu, maka saya pun membeli sebuah kopiah biasa. Namun, sekira enam bulan kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as memberiku sebuah peci, jaket wool yang masih bagus, dan sepatu. Saya memakai peci dan jaket tersebut. Sedangkan sepatunya kuberikan kepada ayahku. Ketika pulang ke rumah, ada seseorang yang berkata, ‘Pecinya kelihatan bekas pakai. Saya akan belikan yang baru untukmu dari Amritsar.’ Saya menjawab: ‘Peci yang saya pakai ini sukar dicari di bumi maupun di langit. Ini disebabkan kopiah ini telah berada di atas kepala Hadhrat Masih Mau’ud as selama bertahun-tahun!” [22]

[18] Hadhrat Maulwi Aziz Din Shahib ra meriwayatkan, “Saya telah [mengunjungi Qadian untuk] berjumpa dengan Hadhrat Shahib as sekitar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) kali. Setiap kali saya bertemu beliau as, segera saya membuka dan menurunkan sorban saya dan meletakkannya pada (di samping) Hadhrat Shahib as lalu saya menggapai kedua belah tangan beliau as dan mengusapkannya ke kepala saya. Selama saya tidak berhenti, beliau as tidak pernah berusaha menarik kedua tangan beliau as. Hasilnya, di usia saya yang 81 tahun ini, saya tidak pernah sakit kecuali dua penyakit ringan yang pernah saya alami di Qadian.” [23]

[19] Hadhrat Sheikh Muhammad Ismail Shahib ra meriwayatkan, “Bila Hadhrat Masih Mau’ud as tetap berada di Masjid Mubarak ba’da Shalat, para jamaah pun sangat bersuka-cita. Mereka berghairah menatapi dan mendengarkan sesuatu majlis irfan ilmu rohaniah yang dapat mengikis karat-karat yang ada di dalam qalbu. Mereka terpana dan bersemangat menyaksikan wajah aqdas junjungan yang sangat dicintainya agar dapat sungguh-sungguh memahami apa yang beliau sabdakan. Mereka tak pernah merasa lelah untuk mendengarkan, dan Hadhrat Masih Mau’ud as pun tak pernah melarang mereka untuk bertanya.” [24]

[20] Hadhrat Chiragh Bibi Shahibah r.ha, adalah seorang putri dari salah seorang murid Shahibzada Abdul Latif syahid. Badruddin Ahmad Shahib menuliskan kisahnya, sebagai berikut: ‘Suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud as sedang berjalan pagi di suatu Taman. Sebagai anak gadis kecil ketika itu, saya mengikuti beliau dari belakang. Disebabkan rasa cinta saya kepada beliau as, sampai-sampai langkah-langkahku kutempatkan persis di tapak langkah-langkah Hadhrat Masih Mau’ud as Ini karena saya menyadari, bahwa ada suatu keberkatan di dalamnya. Mendengar suara-suara langkahku yang mengikuti langkah beliau, beliau as pun hanya menoleh kepada saya, kemudian melanjutkan lagi jalan pagi beliau.” [25]

[21] Hadhrat Mian Muhammad Zahuruddin Shahib ra meriwayatkan, “Sekira 3 atau 4 bulan setelah saya pulang dari Qadian, saya mendengar berita, bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah wafat di Lahore. Ketika itu, mertua saya sedang berada bersama saya, dan kami sangat berduka-cita. Lalu, kami pun pergi ke Stasiun K.A. untuk mengirim telegram mohon konfirmasi ke Lahore mengenai kebenaran berita tersebut. Demi melihat kami sedemikian bersedih hati, banyak kaum ghair-Ahmadi yang menertawakan dan mencemoohkan. Ini adalah saat yang sangat pedih. Ketika Hadhrat [Maulana Hakim Nuruddin ra] terpilih sebagai Khalifatul Masih Awwal (I), kami pun segera mengirimkan surat Baiat; dan selang beberapa waktu kemudian menghadiri Jalsah Salanah. Namun, suatu tempat yang sebelumnya diberkati dengan kehadiran Hadhrat Masih Mau’ud as, kini terlihat kosong, sehingga membuat kami berduka. Pada kesempatan Jalsah tersebut [Shahibzada] Mian [Bashiruddin] Mahmud [Ahmad] ra berpidato, yang antara lain mengatakan: ‘…..Air mata kesedihan yang mengalir dari kaum Bani Israil disebabkan kedzaliman Fir’aun telah menjadi muara sungai yang meluap, lalu menenggelamkan Fir’aun itu…..’ Pidato tersebut membuat seluruh hadirin terpana. Kemudian, tampil Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (I) ra untuk menyampaikan pidato, yang beliau awali dengan kata-kata sebagai berikut: ‘….Mian Mahmud telah membahas suatu perkara cemerlang yang bahkan tak terlintas di dalam pikiranku….” [26]

[22] Hadhrat Sheikh Muhammad Ismail Shahib ra meriwayatkan, “Dengan mendirikan Shalat di Masjid Mubarak, tak pelak lagi orang akan merasakan cinta dan juga takut kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, jika mahrum dari nur Ilahi [Hadhrat Masih Mau’ud as] akan terasa duka dan pedih di hati manakala teringat keberkatan berada bersama beliau as Yakni, hanya dengan melihat nur Ilahi tersebut, orang pun akan lupa atas segala macam permasalahan dirinya. Lalu, jika berada bersama-sama beliau as, akan terasa hidup di dalam surga al-jannah-Nya.  Sedemikian rupanya kami cinta kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, maka seusia muda tersebut, setiap kali sehabis melaksanakan Shalat berjamaah bersama beliau as, kami pun senantiasa menunggu-nunggu kesempatan Shalat berikutnya, dan berusaha mendapat tempat di sebelah kiri, berdekatan dengan beliau as Sedemikian berberkatnya wujud aqdas as itu. Sehingga kami pun tak peduli lagi akan dunia. Ini dikarenakan beliau as telah berhasil memperlihatkan berbagai macam khazanah Ilahi.” [27]

            Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat memenuhi kewajiban baiat kita kepada beliau as dan menganugerahkan taufik kepada kita untuk senantiasa meneguhkan dan menguatkan ikatan cinta, persaudaraan dan hubungan kita dengan beliau (Hadhrat Masih Mau’ud as) sehingga karena dengan hubungan tersebut kita pun dapat menjadi pengikut sempurna Hadhrat Muhammad Rasulullah saw dan pula menjadi orang yang memperoleh kecintaan Allah Ta’ala.

            Selanjutnya di waktu ini setelah shalat Jum’at saya akan memimpin shalat jenazah gaib untuk dua orang wanita mulia di Qadian. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun !

            Pertama, untuk Rasyidah Begum Shahibah yang berusia 85 tahun dan istri seorang Darwisy Qadian serta merupakan seorang putri dari salah seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as  Almarhumah yang pernah berkhidmat sebagai Sadr Nasional Lajnah Imaillah Jemaat India selama 6 tahun ini meninggalkan tiga orang anak laki-laki, yang salah seorang di antaranya telah mendahului.

            Kedua, adalah untuk Nazarun Nisa Shahibah yang berusia 75 tahun dan seorang Musiyah ini meninggalkan 3 orang anak lelaki yang semuanya anggota  Waqfin Zindigi.

            Semoga Allah Ta’ala meningkatkan derajat-derajat tiap-tiap dari kedua almarhumah ini, dan juga memberi taufiq kepada anak keturunannya untuk dapat mengikuti jejak-jejak beliau-beliau itu; senantiasa setia dan ikhlas.

Penerjemahan : Mln. Dildaar Ahmad Dartono (Urdu)
: Mahmud Ahmad Surahman (Inggris)

Khotbah II

 اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Lengkapnya, orang yang berbaiat berjanji ‘Akan mengikat tali persahabatan dengan hamba Allah Ta’ala ini (Hadhrat Masih Mau’ud as) semata-mata karena Allah, dengan pernyataan taat kepada segala hal yang ma’ruf; dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya. Tali persaudaraan ini begitu tinggi wawasannya, sehingga tidak akan diperoleh bandingannya, baik dalam ikatan persaudaraan dunia, maupun dalam kekeluargaan, ataupun dalam segala macam hubungan antara hamba dengan tuannya.’

[3] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22, halaman 64-65

[4] Haqiqatul Wahyi, op.cit., h. 165

[5] Rejister Riwaayaat Shahabah ra, ghair mathbu’ah, jilid 5, halaman 52-53, riwayat hadhrat Allah Yaar Shahib ra.

[6] Rejister Riwaayaat Shahabah ra, op.cit., h. 82, Hadhrat Malik Khan Shahib ra

[7] Rejister, op.cit., jilid 1, h. 18-19, Maulwi Sakandar Ali Shahib ra

[8] Rejister, op.cit., jilid 3, h. 113, Syukur Ilahi Shahib

[9] Rejister, op.cit., jilid 4, h. 95-96, Madad Khan Shahib

[10] Rejister, op.cit., jilid 4, h. 150, Muhammad Isma’il Shahib

[11] Rejister, op.cit., jilid 4, h. 171-172, Shaikh Ashghar Ali Shahib

[12] Rejister, op.cit., jilid 7, h. 71, Hadhrat Master Nadzir Husain Shahib

[13] Rejister, op.cit., jilid 7, h. 397-398, Hadhrat Allah Dattah Shahib Headmaster

[14] Rejister, op.cit., number 11, h. 26, Hadhrat Master Wadhaway Khan Shahib

[15] Rejister, op.cit., jilid 7, h. 146-147, Hadhrat Master Maula Bakhsh Shahib

[16] Rejister, op.cit., jilid 9, h. 84-85, Hadhrat Maulwi Muhibburrahman Shahib

[17] Rejister, op.cit., number 11, h. 12, Hadhrat Haji Muhammad Musa Shahib

[18] Rejister, op.cit., no 11, h. 39-40, Hadhrat Mia Abdul Ghaffar Shahib Jarraah

[19] Rejister, op.cit., no. 11 7, h. 66-67, Hadhrat Shaikh Zainul Abidin saudara Hafizh Hamid Ali Shahib

[20] Rejister, op.cit., no. 11, h. 158-159, Mian Abdur Razzaq Shahib

[21] Rejister, op.cit., no. 11, h. 179-180, Mian Wazir Muhammad Khan Shahib

[22] Ibid.

[23] Rejister, op.cit., no. 11, h. 218-219, Maulwi Aziz Din Shahib

[24] Rejister, op.cit., jilid 6, h. 94, Hadhrat Shaikh Muhammad Ismail Shahib

[25] Rejister, op.cit., jilid 6, h. 316-317, Hadhrat Siraj Bibi Shahibah dengan bahasa penyampaian oleh Badruddin Ahmad Shahib

[26] Register Riwaayaat Shahabah ghair mathbu’ah register nomor 7, halaman 89, 82-83, riwayat Mian Muhammad Zhuhuuruddin Shahib Delwi

[27] Register Riwaayaat Shahabah ghair mathbu’ah jilid 6, halaman 89, 82-83, riwayat Hadhrat Syaikh Muhammad Isma’il Shahib ra